BAB V DISKUSI V.1 DEFECT COATING TIPIS

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V ANALISA HASIL. sebelumnya telah dibahas pada bab sebelumnya (Bab IV). Dimana cacat yang terjadi

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS PADA PROSES PRODUKSI POMPA MINYAK MENGGUNAKAN METODE DMAIC

BAB I PENDAHAHULUAN I.1

a b c d Gambar I.1 Produk PT. ABC (Sumber: Departemen Engineering PT. ABC)

BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Analisa Diagram Sebab Akibat. Setelah penulis melakukan observasi ke lapangan serta wawancara secara

BAB V PENGOLAHAN DATA DAN PERBAIKAN. pada define dan hasil pengukuran (measure) pada permasalahan yang telah

LAPORAN PRODUKSI BULAN JANUARI - APRIL 2008

BAB V ANALISA PEMBAHASAN. metode peta kendali P di atas, maka diperoleh hasil dari data yang telah diproses

BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB VI ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

MINIMASI NG BINTIK PADA PROSES PENGECATAN PART FRONT FENDER 1PA RED MET 7 DENGAN PENDEKATAN SIX SIGMA DI PT. ABC

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN, DAN ANALISIS DATA

BAB 5 SIMPULAN & SARAN

4 BAB V ANALISIS. Bagian kelima dari dari laporan skripsi ini menjelaskan tentang penulis

BAB 4 PEMBAHASAN. Pengumpulan data dilakukan sebagai bahan pengolahan data yang perlu

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. Data jenis cacat yang terjadi pada proses produksi di CV. Abadi Jaya diambil. Tabel 4.1 Pengumpulan Data BULAN

Jadwal Shalat Bulan Januari, 2015 M Denpasar, Bali, Indonesia

LAKUKAN SENDIRI APLIKASI PEREDAM SUARA MOBIL ACOURETE PAINT

Diterima : 19 Agustus 2014 Disetujui : 2 September 2014

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB V ANALISA DAN HASIL

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN

BAB IV PROSES PRODUKSI EASY OPEN END

BAB V ANALISA PEMBAHASAN

Penurunan Tingkat Kecacatan dan Analisa Biaya Rework (Studi Kasus di Sebuah Perusahaan Plastik, Semarang)

UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PRODUK MELALUI ANALISIS JENIS CACAT DENGAN MENGGUNAKAN METODE FMEA PADA PT XYZ

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 6 PENUTUP 6.1 Kesimpulan

BAB V ANALISA PEMBAHASAN. Berdasarkan analisa yang dilakukan dengan mengunakan fish bone diagram dapat dilihat

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB V PEMBAHASAN. lima kategori produk cacat, yaitu Filling Height, No Crown, Breakage Full, Out of Spec,

BAB V ANALISA. Value added time Leadtime. = 3,22jam. 30,97 jam x 100% = 10,4%

BAB II SEJARAH PERUSAHAAN Sejarah Perusahaan

Seminar Nasional IENACO 2016 ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. Globalisasi di dunia bisnis menuntut persaingan yang ketat. Persaingan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam hal ini, perusahaan sering dihadapkan pada masalah masalah yang

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1

BAB I PENDAHULUAN. yang seharusnya dikerjakan dan mengapa harus dikerjakan, memberikan

PENERAPAN METODE SIX SIGMA DENGAN KONSEP DMAIC SEBAGAI ALAT PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK BUSI MOBIL KIJANG 2000cc

BAB V ANALISA HASIL PERHITUNGAN. Equipment Loss (Jam)

ANALISIS DATA. Universitas Indonesia. Peningkatan kualitas..., Wilson Kosasih, FT UI, 2009

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV PENGUMPULAN DAN ANALISA HASIL PENGOLAHAN DATA. Dari hasil pengamatan langsung dan dokumen maintenance didapat datadata

Lakukan Sendiri Aplikasi Peredam Suara Mobil Acourete Paint

BAB V HASIL DAN ANALISA

BAB V ANALISA. 5.1 Problem identifikasi cacat benturan atau dakon. dakonnya sama dengan permukaan yang lain.

Bab I Pendahuluan. Tabel I.1 Total Jumlah Produksi pada Tahun 2011

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. Manjemen rantai suplai merupakan suatu proses untuk mengintegrasi,

BAB V ANALISA DAN HASIL. Dalam bab ini akan dibahas tentang analisis hasil pengamatan proses yang

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI Tahapan Penelitian Mengidentisifikasikan Masalah Dalam Perusahaan

BAB V ANALISA PEMBAHASAN

4 BAB V ANALISIS. Bagian kelima dari dari laporan skripsi ini menjelaskan tentang penulis

BAB V ANALISA. pengambilan keputusan untuk menyelesaikan permasalahan.

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Tahap Define 5.2 Tahap Measure Jenis Cacat Jumlah Cacat jumlah

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN


BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB V ANALISA / PEMECAHAN MASALAH

PROSES PENGECATAN (PAINTING) Dosen : Agus Solehudin, Ir., MT

TROVÄRDIG peralatan masak

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH. Studi Lapangan. Identifikasi Masalah. -Penanggulangan Cacat Bintik. Pengumpulan Data.

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

LAPORAN KEMAJUAN. I b PE KERAJINAN HANDICRAFT DAN TOYS DI KECAMATAN PRAMBANAN KABUPATEN SLEMAN DAN KLATEN

Jurnal PrintPack Vol. 1 No. 1 Februari 2017

III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

USULAN PERBAIKAN KUALITAS PRODUK DUDUKAN MAGNET DENGAN METODE ENAM SIGMA

BAB V ANALISIS. Total Waktu (menit)

Ditulis Guna Melengkapi Sebagian Syarat Untuk Mencapai Jenjang Sarjana Strata Satu (S1) Jakarta 2016

BAB V ANALISA HASIL. membandingkan jumlah kecacatan produk proses produksi Lightening Day Cream

BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB IV PENGUMPULAN DATA. DMAIC yaitu tahap Define dan Measure sebagai kerangka untuk mendefinisikan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Mengetahui cara mengoperasian mesin las GMAW

BAB V HASIL DAN ANALISA

BAB I PENDAHULUAN. berusaha untuk memberikan kepuasan yang terbaik bagi para konsumennya, dengan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Perusahaan telah menetapkan standar kualitas dan telah melaksanakan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA. Dalam rangka peran serta mewujudkan Pembangunan Nasional, khususnya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Teknologi merupakan komponen penting bagi berkembangnya

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB III PROSES PENGECATAN

BAB V PEMBAHASAN. Dari pengolahan data yang telah dilakukan terhadap 3 batch produksi. Lupromax EA 150 ml, didapatkan hasil adalah sebagai berikut :

USULAN PERBAIKAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA BERDASARKAN METODE SWIFT PADA PT KRAKATAU STEEL DIVISI WIRE ROD MILL

Transkripsi:

BAB V DISKUSI V.1 DEFECT COATING TIPIS Berdasarkan data yang diperoleh ditemukan bahwa jenis defect coating tipis dalam rentang waktu 6 bulan antara Juni 2010 November 2010 (Gambar 4.14 sampai dengan Gambar 4.19) yang tertinggi terjadi pada tanggal 4 Agustus 2010. Jenis defect coating tipis pada tanggal 4 Agustus 2010 mencapai 76.49 m 2. Bebagai faktor penyebab problem coating tipis antara lain terdiri dari mesin, metode dan manusia. Potensi problem dari mesin diantaranya disebabkan oleh setelan angin dan atau powder kurang, speed conveyor dan speed reciprocating tidak seimbang, skala angin kurang dan grounding. Potensi problem dari metode/cara diantaranya disebabkan oleh jarak antar material pada saat racking powder coating terlalu dekat, jarak semprot untuk gun manual terlalu jauh dan setting jarak gun terlalu jauh untuk gun automatic. Potensi problem dari manusia diantaranya disebabkan oleh pembersihan contact grounding yang tidak benar, gerakan tangan tidak stabil ketika menyemprotkan powder dan kelelahan operator. Menurut catatan produksi di bulan Agustus 2010, terjadinya defect coating tipis tersebut dipengaruhi oleh mesin kompresor yang mengalami gangguan. Gangguan kompresor menjadi panas dan ada bagian pendingin yang mampat sehingga menyebabkan tekanan angin menjadi kecil. Tekanan angin yang kecil menyebabkan powder tidak jalan. 51

V.2 SOLUSI UNTUK DEFECT COATING TIPIS Solusi untuk potensi problem dari mesin adalah dengan melakukan perbaikan langsung, melakukan perawatan dan perbaikan rutin terhadap mesin, melakukan pengecekan dan perawatan yang benar, tidak mengabaikan waktu perawatan dan perbaikan yang sudah dijadwalkan dan meningkatkan kemampuan/skill dari operator dengan memberikan pelatihan. Solusi untuk potensi problem dari metode/cara dengan memberikan pelatihan cara melakukan racking powder coating dan penyemprotan yang benar, menentukan jarak semprot yang distandarkan dengan melakukan ujicoba terlebih dahulu. Sedangkan solusi untuk potensi problem dari manusia adalah dengan memberikan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan/skill sumberdaya manusia dan untuk menghindari kelelahan operator dilakukan pergantian operator yang melakukan penyemprotan. V.3 DEFECT COATING KASAR Untuk jenis defect coating kasar dalam rentang waktu 6 bulan antara Juni 2010 November 2010 (Gambar 4.21 sampai dengan Gambar 4.26) yang tertinggi terjadi pada tanggal 19 Agustus 2010. Jenis defect kasar pada tanggal 19 Agustus 2010 mencapai 191.31 m 2. Berbagai faktor penyebab problem hasil coating kasar antara lain terdiri dari material, mesin, metode dan manusia. Potensi problem dari material diantaranya disebabkan oleh permukaan material aluminium/besi yang kasar, jenis powder fresh/recycle dan granule powder yang kasar dari supplier. Potensi problem dari mesin diantaranya disebabkan oleh semprotan angin kurang, saluran selang powder kotor, oven kotor, dan kejatuhan rontokan dari flight bar/conveyor. Potensi problem dari metode diantaranya disebabkan oleh tidak melakukan pengayakan powder atau pengayakan yang dilakukan tidak benar. 52

Potensi problem dari manusia diantaranya disebabkan oleh pembersihan yang tidak benar. Menurut catatan produksi di bulan Agustus 2010, terjadinya defect kasar tersebut dipengaruhi oleh kompresor yang mengalami gannguan. Gangguan kompresor menjadi panas dan ada bagian pendingin yang mampat sehingga menyebabkan tekanan angin menjadi kecil yang berarti semprotan angin kurang. V.4 SOLUSI UNTUK DEFECT COATING KASAR Solusi untuk potensi problem dari mesin adalah dengan melakukan perbaikan langsung, melakukan pembersihan selang powder dan oven dengan benar. Solusi untuk potensi problem dari metode/cara dengan memberikan pelatihan cara melakukan pengayakan powder dengan benar. Solusi untuk potensi problem dari material adalah dengan melakukan pengecekan granule powder dan jenis powder terlebih dahulu sebelum digunakan. Solusi untuk potensi problem dari manusia adalah dengan memberikan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan/skill sumberdaya manusia dan memberikan penghargaan dan hukuman terhadap sumberdaya manusia. 53

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN VI.1 KESIMPULAN Jenis-jenis defect yang terjadi pada proses pengerjaan powder coating adalah coating tipis, defect warna, material jatuh di oven, kontaminasi, minyak, pulau, coating gumpal, bekas lem, coating kasar, tergores, pin hole, dan lain-lain. Hasil analisa meyimpulkan bahwa defect dominan yang terjadi adalah defect coating tipis dan defect coating kasar. Frekuensi total defect coating tipis untuk masing-masing bulan sebesar 155.66 m 2 (Juni 2010), 288.48 m 2 (Juli 2010), 328.38 m 2 (Agustus 2010), 65.05 m 2 (September 2010), 42.33 m 2 (Oktober 2010), dan 69.94 m 2 (November 2010). Frekuensi total defect coating kasar untuk masing-masing bulan sebesar 144.1 m 2 (Juni 2010), 191.79 m 2 (Juli 2010), 463.86 m 2 (Agustus 2010), 78.11 m 2 (September 2010), 123.05 m 2 (Oktober 2010), dan 5.62 m 2 (November 2010). Critical to quality yang mempengaruhi penurunan defect hasil coating tipis adalah dengan memperhatikan jarak semprot (gun manual), jarak gun (gun automatic), jarak antar material pada saat racking powder coating, kebersihan contact grounding, keseimbangan kecepatan conveyor dengan kecepatan reciprocating, dan setelan skala angin dan powder. Solusi untuk menurunkan defect coating tipis adalah dengan cara merencanakan dan melakukan perbaikan dan perawatan mesin dengan baik, meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia dengan memberikan pemahaman dan pelatihan kerja, menentukan jarak semprot yang distandarkan dengan melakukan ujicoba terlebih dahulu, dan untuk menghindari kelelahan operator dilakukan pergantian operator yang melakukan penyemprotan. 54

Critical to quality yang mempengaruhi penurunan defect hasil coating kasar adalah dengan memperhatikan kebersihan gun spray dan selang powder, setelan skala angin, dan jenis powder (fresh/recycle). Solusi untuk menurunkan defect coating kasar adalah dengan cara merencanakan dan melakukan perbaikan dan perawatan mesin dengan baik, melakukan pembersihan selang powder dan oven dengan benar, melakukan pengayakan powder dengan benar, melakukan pengecekan terhadap granule dan jenis powder sebelum digunakan, memberikan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan/skill sumberdaya manusia dan memberikan penghargaan dan hukuman terhadap sumberdaya manusia. Berdasarkan data dan analisa, penyebab tinggi rendahnya defect hasil coating dari PT. XYZ dipengaruhi oleh faktor kurangnya pemahaman sumber daya manusia terhadap mutu proses yang diharapkan pelanggan. Faktor kurangnya pemahaman dapat diminimalisasi dengan adanya peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan, pemberian penghargaan dan pemberian hukuman. Dan untuk mencapai keunggulan bersaing, maka PT. XYZ harus melakukan peningkatan kualitas dalam produk/jasa yang dihasilkan dengan terlebih dahulu meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang digunakan dan perlu adanya komitmen manajemen untuk berusaha terus menerus melakukan perbaikan untuk meningkatkan mutu dan kepuasan pelanggan. Dengan meningkatnya kualitas sumberdaya manusia dan adanya komitmen dari manajemen, maka diharapkan dapat meningkatkan mutu proses powder coating, meningkatkan kepuasan pelanggan dan dapat membantu mencapai keunggulan bersaing. 55

VI.2 SARAN Perlu dilakukan penelitian, pengaruh hasil dari pelatihan yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas SDM terhadap peningkatan kualitas dari produk/jasa yang dihasilkan. Perlu dilakukan penelitian terhadap perawatan dan perbaikan mesin yang menunjang kualitas dari produk/jasa yang dihasilkan. 56