BAB 3 PREFERENSI LOKAL TERHADAP PRIORITAS PEMBANGUNAN KOTA BANDUNG

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB III DATA DAN ANALISIS

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB III DATA DAN ANALISIS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

pembangunan (misalnya dalam Musrenbang). Oleh sebab itu, pemerintah tidak mengetahui secara tepat apa yang sebenarnya menjadi preferensi lokal

BAB 4 UPAYA MEREFLEKSIKAN PREFERENSI LOKAL DALAM PENYUSUNAN PRIORITAS PEMBANGUNAN KOTA BANDUNG

PENILAIAN KEPUASAN TERHADAP FASILITAS NON FISIK PERKOTAAN

BAB VI KEBIJAKAN UMUM

BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH

I. PENDAHULUAN. Pelaksanaan Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang. dan Undang Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan

BAB I PENDAHULUAN. perkapita sebuah negara meningkat untuk periode jangka panjang dengan syarat, jumlah

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Kesiapan Kebijakan dalam Mendukung Terwujudnya Konsep Kawasan Strategis Cepat Tumbuh (KSCT)

PENGEMBANGAN PERMUKIMAN GOLONGAN MASYARAKAT PENDAPATAN MENENGAH BAWAH DI KECAMATAN DRIYOREJO, KABUPATEN GRESIK

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

IDENTIFIKASI TINGKAT KEKUMUHAN DAN POLA PENANGANAN YANG TEPAT DI KAWASAN KUMUH KELURAHAN TANJUNG KETAPANG TAHUN 2016

Tabel 4.3. Prioritas Pembangunan, Program, Indikator dan Target Kinerja SKPD Tahun 2016

PEMERINTAH KOTA SALATIGA DAFTAR INFORMASI PUBLIK RINGKASAN RENCANA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KOTA SALATIGA TAHUN 2017

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Otonomi daerah adalah suatu pemberian hak dan kewajiban kepada daerah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pemberlakuan undang-undang No 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR

NOMOR : 08 Tahun 2015 TANGGAL : 22 Juni 2015 TENTANG : RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA BOGOR TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN

II PENATAAN TAMAN KOTA DALAM KONTEKS RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA KUPANG

BAB IV MEKANISME PENYEDIAAN SET PELAYANAN UMUM PERKOTAAN YANG SESUAI DENGAN PREFERENSI LOCAL BUSINESS DI KOTA DEPOK

persentase. Sedangkan analisis inferensial yaitu analisis yang mengacu pada hasil

BAB II GAMBARAN UMUM RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KOTA SAMARINDA TAHUN 2011

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah dalam menjaga keamanan, keselamatan, kenyamanan, dan

No. Program Sasaran Program Instansi Penanggung Jawab Pagu (Juta Rupiah)

BAB I PENDAHULUAN. Reformasi membawa banyak perubahan dalam kehidupan berbangsa dan

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

5.3. VISI JANGKA MENENGAH KOTA PADANG

Tabel 9.2 Target Indikator Sasaran RPJMD

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 4 PENGARUH PEMBANGUNAN PASUPATI TERHADAP KARAKTERISTIK PERGERAKAN CIMAHI-BANDUNG

IDENTIFIKASI PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN JALAN DAN SALURAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN KUMUH DI KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR

BAB II PERENCANAAN KINERJA

KOTA SURAKARTA PRIORITAS DAN PLAFON ANGGARAN SEMENTARA (PPAS) TAHUN ANGGARAN 2016 BAB I PENDAHULUAN

BAB VI TUJUAN DAN SASARAN

TUJUAN 1. TERWUJUDNYA KOTA BOGOR SEBAGAI KOTA YANG CERDAS, BERDAYA SAING DAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI MELALUI SMART GOVERMENT DAN SMART PEOPLE

SEMARANG. Ngaliyan) Oleh : L2D FAKULTAS

BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. 1.2 LANDASAN HUKUM.

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

DAFTAR ISI. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II Aspek Geografi Dan Demografi... II-2

Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh Di Wilayah Kecamatan Semampir Kota Surabaya Melalui Pendekatan Partisipasi Masyarakat

V BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN

BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH

BERITA DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 18 TAHUN 2008 PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 18 TAHUN 2008 TENTANG

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. daerah otonomi di Provinsi Sulawesi Utara. Ibu kota Kabupaten

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG

Keterkaitan Karakteristik Pergerakan di Kawasan Pinggiran Terhadap Kesediaan Menggunakan BRT di Kota Palembang

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Sejarah Dinas Permukiman Dan Perumahan Provinsi Jawa Barat

BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAERAH

WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. bantaran sungai Bengawan Solo ini seringkali diidentikkan dengan kelompok

I. PENDAHULUAN. Pasar dinyatakan sebagai kumpulan pembeli dan penjual yang melakukan

REVISI PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN. adalah kewenangan untuk mengelola potensi daerah dalam rangka menggali

Pemahaman atas pentingnya Manual Penyusunan RP4D Kabupaten menjadi pengantar dari Buku II - Manual Penyusunan RP4D, untuk memberikan pemahaman awal

Tabel 6.1 Strategi dan Arah Kebijakan Kabupaten Sumenep

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Malang.

INDIKATOR KINERJA INDIVIDU

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Bab VIII Indikasi Rencana Program Prioritas dan Kebutuhan Pendanaan

INDIKATOR KINERJA INDIVIDU

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 3 TAHUN 2012

PEMERINTAH KOTA SALATIGA DAFTAR INFORMASI PUBLIK RINGKASAN EVALUASI KINERJA DINAS CIPTA KARYA DAN TATA RUANG KOTA SALATIGA TAHUN 2017

BAB 4 KARAKTERISTIK DAN PREFERENSI PENGGUNA POTENSIAL KA BANDARA SOEKARNO-HATTA

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Strategi dan Arah Kebijakan

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB 6 STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

6.1. Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB VI PENGUMPULAN DATA

BAB VI PENUTUP VI.1. Temuan Studi

APBD KOTA YOGYAKARTA TAHUN ANGGARAN 2018

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) PEMERINTAH KABUPATEN TANGGAMUS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENYERAHAN PRASARANA, SARANA, DAN UTILITAS PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

TERMINAL BUS KELAS A KOTA SEMARANG

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 KABUPATEN BONE BOLANGO NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET

MEMUTUSKAN : PERATURAN WALIKOTA TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI, DAN TATA KERJA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

INDONESIA MOST LIVEABLE CITY INDEX 2011

SEKILAS TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PASAR KOTA MADIUN

BAB VIII PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 4 TAHUN 2012

BAB II RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD)

RENCANA PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA, SERTA PRASARANA DAN SARANA UMUM

BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN

PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/PERMEN/M/2006 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN MUKOMUKO

BAB I PENDAHULUAN. Pengelolaan pemerintah daerah, baik ditingkat propinsi maupun tingkat

BAB I PENDAHULUAN. berbagai hal, salah satunya pengelolaan keuangan daerah. Sesuai dengan Undang-

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN

Transkripsi:

38 BAB 3 PREFERENSI LOKAL TERHADAP PRIORITAS PEMBANGUNAN KOTA BANDUNG 3.1 Survey Preferensi Lokal Terhadap Prioritas Pembangunan Kota Bandung Penelitian mengenai preferensi lokal terhadap prioritas pembangunan di Kota Bandung dilaksanakan melalui tiga tahapan. Tahapan tersebut terdiri dari desk study, pengumpulan data, dan analisis data hasil survey. Desk study dilakukan untuk menyusun kuesioner dengan tepat melalui pemahaman teori dan konsep yang benar. Selanjutnya, berikut ini akan diuraikan mengenai pengumpulan data dan analisis data. 3.1.1 Pengumpulan Data Pengumpulan data primer dilakukan dengan menyebarkan kuesioner ke resident (penduduk) dan business (industri dan perdagangan) di Kota Bandung. Selain itu, juga dilakukan pengumpulan data sekunder yang diperoleh dengan mendatangi instansi-instansi yaitu Bappeda Kota Bandung, Biro Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung, BPS Propinsi Jawa Barat, Dinas Kependudukan Kota Bandung, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bandung, dan Disperindag Propinsi Jawa Barat. Data sekunder tersebut digunakan sebagai salah satu acuan dalam penyusunan kuesioner, pengambilan sampel dan pelaksanaan survey data primer. Data sekunder yang diperoleh yaitu informasi mengenai kondisi pembangunan di Kota Bandung, daftar populasi penduduk Kota Bandung tahun 2005, dan daftar populasi industri dan perdagangan di Kota Bandung tahun 2006. Data sekunder tersebut tidak seluruhnya dapat diperoleh dengan mudah dari setiap instansi. Selanjutnya, dari daftar populasi resident dan business di Kota Bandung, dilakukan pengambilan sampel dengan menggunakan metode random sampling. Pengambilan sampel juga dilakukan secara acak proporsional berdasarkan

39 pembagian wilayah pengembangan di Kota Bandung. Responden resident yang dipilih adalah penduduk yang berumur 17 tahun ke atas dengan asumsi penduduk tersebut telah memiliki hak sebagai voter. Responden business yang dipilih adalah pemilik industri atau perdagangan yang terdaftar di Disperindag Kota Bandung. Untuk menjaga apabila ada responden yang tidak dapat ditemukan, karena sudah pindah atau meninggal, maka jumlah sampel yang dirun adalah sebanyak 130 untuk sampel resident dan 60 untuk sampel business. Dari 130 sampel resident, 100 diantaranya digunakan sebagai sampel utama dan 30 sisanya dijadikan sebagai cadangan. Dari 60 sampel business, 20 diantaranya digunakan sebagai sampel utama dan 40 sisanya dijadikan sebagai cadangan. Pembagian jumlah sampel resident untuk masing-masing wilayah pengembangan Kota Bandung dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel III. 1 Pembagian Jumlah Sampel Resident Untuk Tiap Wilayah Pengembangan Kota Bandung No Wilayah Pengembangan Jumlah Populasi Jumlah Responden 1 Cibeunying 423.397 20 2 Karees 396.460 19 3 Tegallega 407.084 19 4 Bojonegara 353.600 17 5 Ujung Berung 303.061 15 6 Gedebage 204.756 10 Total 2.088.358 100 Sumber : Data Nominatif Penduduk Kota Bandung Tahun 2005 dan Hasil Analisis 2007 Slovin yaitu : Jumlah sampel resident tersebut ditentukan dengan menggunakan rumus

40 n> ( 1 Z(0.5 α ) ) p p b 2 dengan n : ukuran sampel p : besar populasi sampel terhadap populasi Z ( 0.5α ) : tingkat kepercayaan α b : derajat kepercayaan yang diinginkan : estimasi tingkat kesalahan Karena nilai p tidak diketahui, maka nilai p umumnya dapat dianggap 0,5. Nilai ini adalah nilai maksimum yang mungkin dicapai sehingga diperoleh nilai p(1-p) sebesar 0,25. Dengan tingkat kepercayaan sebesar 95%, nilai ( 0.5α ) adalah 1,96. Nilai b dianggap 0,1 yang berarti kekeliruan dalam menarik kesimpulan dianggap 10%. Dengan demikian, agar sampel bisa dikatakan representatif (mewakili populasi resident), maka jumlahnya harus lebih dari 97 (n > 97). Penentuan jumlah sampel business sebanyak 20 merupakan pengambilan sampel kecil sehingga dalam dsitribusi sampel merupakan distribusi t-student. Pengambilan sampel kecil untuk business dilakukan karena keterbatasan biaya, waktu, dan tenaga surveyor. Selain itu, penentuan sampel business juga dilakukan dengan mempertimbangkan proporsi jumlah populasi resident yang jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah populasi business. Pada kenyataannya, ketika melakukan penyebaran kuesioner di lapangan, terdapat banyak kendala dan kesulitan yang ditemui. Data yang diperoleh dari Disperindag dan Dinas Kependudukan ternyata sudah tidak valid lagi. Banyak resident yang terpilih sebagai responden tidak lagi bertempat tinggal di alamat sebagaimana yang tertulis pada data nominatif penduduk Kota Bandung tahun 2005 karena sudah pindah dan ada juga yang sudah meninggal. Demikian juga banyak business yang terpilih sebagai responden tidak lagi berlokasi di alamat sebagaimana yang tertulis pada daftar industri dan perdagangan Kota Bandung tahun 2006 karena sudah pindah dan ada juga yang sudah bangkrut. Z

41 Selain itu, banyak diantara responden yang terpilih, baik responden resident maupun business, yang menolak untuk mengisi kuesioner. Oleh sebab itu, penyebaran kuesioner pada akhirnya tidak dilakukan murni secara random sampling sebagaimana yang direncanakan semula. Hal ini juga disebabkan karena keterbatasan biaya, tenaga surveyor dan waktu. Akan tetapi, dalam melakukan analisis, data sampel diasumsikan terdistribusi normal dan diambil secara acak sehingga dapat dianggap mewakili populasi dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95 %. 3.1.2 Analisis Data Pengujian data dan analisis data secara statistik dilakukan dengan menggunakan alat bantu software SPSS (Statistical Program for Social Science) dan dengan tingkat kepercayaan 95%. Data yang digunakan diasumsikan terdistribusi normal dan acak sehingga dengan statistik inferensi, sampel dapat ditarik ke populasi. Sebelum melakukan analisis data preferensi, dilakukan uji keselarasan Kendall untuk mengetahui apakah terdapat keselarasan atau kesesuaian pendapat dalam menilai tiap atribut pada masing-masing data preferensi. Selain itu, uji keselarasan Kendall juga dilakukan untuk mengetahui derajat/tingkat keselarasan dan mean rank untuk masing-masing data preferensi yang dianalisis dalam penelitian ini. Uji keselarasan Kendall merupakan uji non parametrik yang tidak mensyaratkan data harus terdistribusi normal. Hipotesis untuk uji keselarasan Kendall tersebut adalah : Ho : tidak ada kesepakatan atau keselarasan di antara para responden dalam menilai atribut yang ditentukan Hi : ada kesepakatan atau keselarasan di antara para responden dalam menilai atribut yang ditentukan Jika statistik hitung < statistik tabel, maka Ho diterima (tidak terdapat keselarasan) dan jika statistik hitung > statistik tabel, maka Ho ditolak (terdapat keselarasan). Nilai statistik hitung dapat dilihat pada tabel hasil analisis dengan bantuan SPSS dan nilai statistik tabel dapat dilihat pada tabel Chi-Square pada tingkat signifikansi 5 % berdasarkan nilai derajat kebebasan (df).

42 Uji keselarasan Kendall juga bisa dilakukan berdasarkan nilai probabilitas. Jika probabilitas atau nilai asymptotic significance (2 - tailed) lebih besar dari 0,5 maka Ho diterima (tidak ada keselarasan) dan sebaliknya. Nilai koefisien konkordansi Kendall menunjukkan besarnya tingkat keselarasan. Jika nilainya jauh dibawah 1 (< 0,5), maka tingkat keselarasannya bisa dikatakan lemah. Analisis data yang dilakukan pada dasarnya merupakan kombinasi dari analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Analisis juga dilakukan dengan mengacu pada teori yang terkait. Secara garis besar, analisis tersebut terbagi atas analisis preferensi local resident terhadap prioritas pembangunan (sebagaimana yang diuraikan dalam sub bab 3.2) dan analisis preferensi local business terhadap prioritas pembangunan (sebagaimana yang diuraikan dalam sub bab 3.3). Metode analisis yang digunakan disesuaikan dengan karakteristik data atau informasi yang diperoleh. Berikut ini akan dijelaskan mengenai metode yang digunakan untuk masing-masing analisis terhadap data atau informasi yang diperoleh tersebut. 1. Karakteristik Sosial Ekonomi Local Resident di Kota Bandung Analisis yang dilakukan diantaranya berupa analisis terhadap data usia, gender, lama tinggal, pendidikan terakhir, status pekerjaan utama dan jumlah penghasilan per bulan. Metode yang digunakan dalam analisisis tersebut yaitu metode analisis statistik deskriptif frekuensi dan inferensi. Selanjutnya, analisis terhadap data lokasi pekerjaan utama, pekerjaan sampingan dan lokasinya dilakukan dengan metode analisis kualitatif. 2. Karakteristik Local Business di Kota Bandung Karakteristik local business di Kota Bandung dapat ditunjukkan oleh variabel lama usaha bisnis, besar modal usaha, dan besar keuntungan usaha per bulan. Analisis terhadap ketiga variabel tersebut dilakukan dengan menggunakan metode analisis statistik deskriptif frekuensi dan inferensi. Di samping itu, dilakukan juga analisis kualitatif terhadap variabel jenis usaha bisnis, jumlah cabang usaha bisnis dan rencana membuka cabang usaha bisnis (di dalam dan di luar Kota Bandung).

43 3. Kecenderungan Mobilitas Local Resident di Kota Bandung Kecenderungan mobilitas local resident di Kota Bandung dapat ditunjukkan oleh variabel tempat tinggal sebelum menetap di Kota Bandung, alasan memilih tinggal di Kota Bandung, dan rencana untuk pindah lokasi tempat tinggal ke kota lain. Metode analisis yang digunakan terhadap ketiga variabel tersebut yaitu metode analisis statistik deskriptif frekuensi dan inferensi. Analisis kualitatif dilakukan terhadap variabel alasan pindah dan kota yang ingin dituju. 4. Kecenderungan Mobilitas Local Business di Kota Bandung Kecenderungan mobilitas local business di Kota Bandung dapat ditunjukkan oleh variabel lokasi usaha sebelumnya, alasan memilih membuka usaha bisnis di Kota Bandung, dan rencana untuk pindah lokasi usaha ke kota lain. Metode analisis yang digunakan terhadap ketiga variabel tersebut yaitu metode analisis statistik deskriptif frekuensi dan inferensi. Analisis kualitatif dilakukan terhadap variabel alasan pindah dan kota yang ingin dituju. 5. Kondisi Pembangunan Sebelum dan Sesudah Otonomi Daerah Menurut Local Resident dan Local Business Kondisi yang diperbandingkan antara sebelum dan sesudah otonomi daerah adalah sebagai berikut : wewenang pemerintah kota dalam pengelolaan keuangan daerah (mencari sumber sumber pemasukan dan menetapkan pos-pos pengeluaran untuk keuangan daerah) tanggung jawab pemerintah kota dalam menyediakan fasilitas/pelayanan perkotaan transparansi penggunaan dana yang berasal dari pembayaran pajak tingkat partisipasi local resident dan local businesss dalam pengadaan dan peningkatan kualitas fasilitas/pelayanan perkotaan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan pelayanan perkotaan

44 jumlah biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk pengadaan fasilitas perkotaan variasi pengadaan fasilitas perkotaan dalam hal inovasi dan pendekatan serta jumlah dan variasi pelaku swasta yang menyediakan fasilitas umum perkotaan tingkat persaingan antara pihak-pihak penyedia fasilitas umum dalam merebut perhatian masyarakat tingkat efisiensi dalam proses pengadaan fasilitas umum perkotaan tingkat ketersampaian penyaluran fasilitas umum perkotaan dari pihak penyedia kepada masyarakat Analisis terhadap perbandingan kondisi tersebut dilakukan dengan menggunakan metode statistik dekriptif frekuensi, inferensi dan analisis kualitatif. 6. Tingkat Kepuasan Local Resident dan Local Business Terhadap Pembangunan di Kota Bandung Analisis ini berupa analisis terhadap tingkat kepuasan dengan pembangunan di Kota Bandung, tingkat kepuasan terhadap pajak dan tingkat kepuasan terhadap pelayanan fasilitas perkotaan. Fasilitas perkotaan yang dimaksud meliputi jalan, drainase, listrik, telepon, air bersih, pengelolaan taman, fasilitas persampahan, pelayanan pemadam kebakaran, fasilitas pendidikan, dan fasilitas kesehatan. Metode analisis yang digunakan yaitu metode statistik dekriptif frekuensi, inferensi dan analisis kualitatif. 7. Karakteristik Local Resident dan Local Business dalam Merespon Pembangunan yang Tidak Sesuai dengan Preferensinya Analisis ini berupa analisis terhadap variabel tingkat partisipasi dalam pembangunan, pentingnya preferensi masyarakat lokal diperhatikan dalam pembangunan, bentuk menyatakan preferensi terhadap pembangunan dan tingkat kepuasan dengan tanggapan pemerintah terhadap aspirasi yang

45 disampaikan. Metode analisis yang digunakan yaitu metode statistik dekriptif frekuensi, inferensi dan analisis kualitatif. 8. Prioritas Pembangunan Menurut Preferensi Local Resident dan Local Business Analisis terhadap jawaban terbuka yang diberikan responden local resident dan local business mengenai bidang yang seharusnya menjadi prioitas pembangunan di Kota Bandung dilakukan secara kualitatif. Selanjutnya, analisis preferensi local resident dan local business terhadap prioritas pembangunan yang dilakukan secara kuantitatif meliputi: aspek pembangunan sumber daya manusia (kependudukan dan sosial budaya) aspek pembangunan ekonomi aspek pembangunan perumahan dan permukiman aspek pembangunan transportasi aspek pembangunan sistem jaringan jalan aspek pembangunan fasilitas umum/sosial aspek pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup Metode analisis yang digunakan yaitu dengan metode rank sum dan metode statistik nonparametrik Uji Keselarasan Kendall. Metode rank sum tersebut pada dasarnya sama dengan metode pilihan berdasarkan pilihan ganda (plurality voting) dalam teori pemungutan suara untuk alokasi sumber daya publik. Variabel yang paling penting diberi angka 1 dan nilai yang semakin besar untuk variabel yang paling tidak penting. Nilai (rank sum) terkecil, menunjukkan prioritas yang paling utama. Selain itu, nilai mean rank yang diperoleh dari hasil uji Keselarasan Kendall (dengan bantuan SPSS) juga dapat menunjukkan hasil yang sama dengan hasil rank sum untuk mengetahui preferensi local resident dan local business. Metode ini juga digunakan untuk mengetahui urutan prioritas pembangunan menurut preferensi local resident dan local business.

46 9. Upaya Merefleksikan Preferensi Local Resident dan Local Business dalam Penyusunan Prioritas Pembangunan Kota Bandung Analisis ini dilakukan secara kualitatif dan dikaitkan juga dengan hasil analisis statistik deskriptif frekuensi dan inferensi terhadap jawaban yang diberikan responden. 3.2 Preferensi Local Resident Terhadap Prioritas Pembangunan Local resident merupakan bagian dari segmen masyarakat Kota Bandung yang secara langsung merasakan dampak pembangunan. Pembangunan akan berimplikasi terhadap kesejahteraan dan keberlangsungan aktivitas local resident tersebut. Agar pembangunan yang dilaksanakan dapat memberikan kepuasan yang maksimal bagi local resident dan tercapai efisiensi dalam alokasi sumber daya publik, maka penting untuk memahami preferensi local resident tersebut. 3.2.1 Karakteristik Sosial Ekonomi Responden Local Resident di Kota Bandung Preferensi local resident terhadap prioritas pembangunan juga tidak terlepas dari karakteristik sosial ekonominya. Sebagian besar local resident di Kota Bandung didominasi oleh gender laki-laki dan sebagian besar aktivitasnya terkonsentrasi di Wilayah Pengembangan (WP) Cibeunying. Mayoritas local resident tersebut berada pada kelompok usia produktif sehingga berpotensi tinggi dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan kota. Berikut ini dapat dilihat persentase local resident di Kota Bandung berdasarkan kelompok umur.

47 Gambar 3.1 Persentase Local Resident di Kota Bandung Menurut Kelompok Umur 27% 10% 21% 23% 19% 17-25 26-34 35-44 45-55 > 55 Sumber : Hasil Analisis, 2007 Selain itu, berdasarkan hasil survey, terdapat indikasi bahwa Kota Bandung memiliki potensi sumber daya manusia yang cukup berkualitas jika dilihat dari dominasi tingkat pendidikan penduduknya. Tingkat pendidikan sebagian besar local resident di Kota Bandung yaitu SLTA dan S1 dan terdapat penduduk yang tingkat pendidikannya yaitu S2 dan S3. Namun demikian, masih ditemui penduduk yang pendidikan terakhirnya hanya sampai pada tingkat SD dan SLTP. Persentase jumlah local resident di Kota Bandung berdasarkan tingkat pendidikannya dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 3.2 Persentase Local Resident di Kota Bandung Menurut Tingkat Pendidikan 29% 7% 4% 14% 38% 8% SD SLTP/sederajat SLTA/sederajat S1 S2 S3 Sumber : Hasil Analisis, 2007 Sebagian besar local resident tersebut telah tinggal di Kota Bandung selama lebih dari 10 tahun. Hanya sebagian kecil yang merupakan pendatang baru yang menetap di Kota Bandung kurang dari 1 tahun. Jenis pekerjaan utama local

48 resident di Kota Bandung cukup bervariasi yaitu wiraswasta, karyawan swasta, TNI/Polri, PNS dan lainnya (ibu rumah tangga, pensiunan, dan mahasiswa) dengan mayoritas pekerjaan utama local resident tersebut adalah wiraswasta. Lokasi pekerjaan utama local resident tersebut sebagian besar berada di WP Cibeunying dan tersebar di WP Karees, Tegallega, Ujungberung dan Gedebage. Terdapat juga local resident yang lokasi pekerjaan utamanya berada di luar Kota Bandung seperti Cimahi, Lembang, Kopo, Garut dan Jakarta. Selain itu, cukup banyak jumlah local resident yang memiliki pekerjaan sampingan yaitu wiraswasta dan sebagian besar lokasi usahanya berada di rumah. Jenis usaha tersebut antara lain jasa wartel, catering, rental Play Station, usaha menjahit, klinik, dan konsultan. Ada juga local resident yang pekerjaan utamanya adalah pegawai negeri sipil (PNS) dan memiliki pekerjaan sampingan sebagai karyawan swasta atau wiraswasta. Tingkat penghasilan local resident di Kota Bandung juga cukup bervariasi. Penghasilan per bulan yang diperoleh sebagian besar local resident tersebut yaitu antara 1-4 juta rupiah. Hanya sebagian kecil local resident yang memiliki penghasilan yang besarnya antara 8 10 juta rupiah dan masih terdapat local resident yang berpenghasilan rendah yakni di bawah 1 juta rupiah. Bagi local resident yang belum memiliki penghasilan, mayoritas pekerjaan utamanya adalah mahasiswa dan ibu rumah tangga. Berikut ini dapat dilihat persentase local resident berdasarkan besarnya penghasilan yang diperoleh setiap bulan. Gambar 3.3 Persentase Local Resident di Kota Bandung Menurut Tingkat Penghasilan 14% 2% 18% belum memiliki penghasilan < 1 juta 44% 22% > 1-4 juta > 4-8 juta > 8-10 juta Sumber : Hasil Analisis, 2007

49 3.2.2 Kecenderungan Mobilitas Responden Local Resident di Kota Bandung Kecenderungan mobilitas local resident perlu untuk diketahui karena mempengaruhi karakteristik prilaku local resident dalam memberikan respon terhadap pembangunan yang tidak sesuai dengan preferensinya. Dari hasil analisis, sebagian besar local resident sudah tinggal di Kota Bandung sejak lahir sehingga sebagian besar local resident telah tinggal di Kota Bandung selama lebih dari 10 tahun, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Hal ini secara tidak langsung akan berimplikasi pada kecenderungan rendahnya tingkat mobilitas resident di Kota Bandung. Kota tempat tinggal resident yang bukan tinggal di Kota Bandung sejak lahir umumnya adalah kota di dalam Pulau Jawa seperti Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Cimahi, Garut, Ciamis, Tasikmalaya, Malang, Kuningan, Kerawang, Cianjur, Semarang, dan Solo. Ada juga yang berasal dari kota di luar Pulau Jawa, diantaranya adalah Padang, Pekanbaru, Medan, dan Makassar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa resident di Kota Bandung merupakan masyarakat yang majemuk yang memiliki beragam karakteristik budaya dan terlihat dapat hidup berdampingan dengan rukun. Selain itu, dapat dikatakan bahwa kemampuan Kota Bandung dalam menarik resident dari kota lain untuk bertempat tinggal di Kota Bandung termasuk tinggi. Alasan resident memilih tinggal di Kota Bandung cukup bervariasi. Akan tetapi, dari hasil analisis, dapat diketahui bahwa faktor pekerjaaan yang lebih menjanjikan dan ketersediaan fasilitas di Kota Bandung bukan menjadi alasan utama resident memilih Kota Bandung sebagai lokasi tempat tinggal. Sebagian besar local resident memilih menetap di Kota Bandung dengan alasan ingin tinggal bersama anggota keluarga yang sudah lama tinggal di Bandung. Selain itu, terdapat sebagian kecil local resident yang memilih tinggal di Kota Bandung karena sedang menjalani tugas belajar/pendidikan atau sedang menjalani tugas dinas dari perusahaan tempat bekerja. Berdasarkan hasil analisis, sebagian besar resident di Kota Bandung tidak berencana untuk pindah lokasi tempat tinggal ke kota lain. Sementara itu, alasan resident yang berencana untuk pindah lokasi tempat tinggal diantaranya yaitu

50 ingin memperoleh pekerjaan yang lebih baik, ingin tinggal bersama keluarga yang menetap di kota lain, ingin mendapatkan fasilitas kota yang lebih memadai dan ingin menambah pengalaman atau mengembangkan diri. Kota yang menjadi tujuan tempat tinggal mereka diantaranya adalah Jakarta, Surabaya, Tasikmalaya, Denpasar, Cimahi, Tegal, Menado, Kuningan, Cianjur, Batam, kota di Papua dan ada juga kota di luar negeri. Sebagian besar resident tidak berencana untuk pindah lokasi tempat tinggal ke kota lain mengindikasikan bahwa tingkat mobilitas resident tersebut termasuk rendah. Selain itu, hal tersebut bisa mengindikasikan bahwa kota-kota di Indonesia tidak cukup kompetitif dalam penyediaan fasilitas perkotaan dan lapangan kerja yang dapat menarik resident untuk menetap di suatu kota. Kotakota lain di Indonesia terutama yang berada di Pulau Jawa tampaknya memiliki karakteristik yang hampir sama dengan Kota Bandung dalam hal ketersediaan fasilitas dan lapangan kerja untuk resident. Gambar 3.4 Rencana Local Resident Untuk Pindah Lokasi Tempat Tinggal 21% 79% Ya Tidak Sumber : Hasil Analisis, 2007 3.2.3 Kondisi Pembangunan Sebelum dan Sesudah Otonomi Daerah Menurut Responden Local Resident Penilaian local resident di Kota Bandung terhadap perbandingan kondisi sebelum dan sesudah otonomi daerah perlu untuk diketahui agar dapat memperoleh gambaran mengenai sampai sejauh mana penyelenggaraan otonomi daerah di Kota Bandung telah mencapai sasaran yang diharapkan.

51 Penyelenggaraan otonomi daerah seharusnya bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Kota Bandung. Perubahan tersebut bisa dilihat dari tingkat akuntabilitas pemerintah daerah yang semakin tinggi, tingkat partisipasi local resident yang semakin tinggi dalam pembangunan, penyediaan fasilitas perkotaan yang semakin bervariasi, pengadaan fasilitas perkotaan yang semakin efisien dan efektif serta tingkat persaingan yang semakin ketat antara pihak-pihak penyedia fasilitas perkotaan sehingga mendorong terciptanya inovasi dalam penyediaan fasilitas. Dari hasil analisis, sebagian besar resident yaitu sekitar 49 % berpendapat bahwa tidak terlihat perbedaan derajat kewenangan pemerintah Kota Bandung dalam pengelolaan keuangan baik sebelum maupun sesudah otonomi daerah. Sekitar 47 % berpendapat derajat kewenangan tersebut terlihat semakin besar. Di samping itu, ada juga yang berpendapat bahwa derajat kewenangan pemerintah Kota Bandung dalam pengelolaan keuangan sesudah otonomi daerah terlihat semakin kecil dibandingkan sebelum otonomi daerah. Padahal, melalui penyelenggaraan otonomi daerah, wewenang pemerintah Kota Bandung dalam pengelolaan keuangan daerah seharusnya terlihat semakin besar. Sebagian besar dari resident di Kota Bandung yaitu sekitar 61 % berpendapat bahwa tanggung jawab pemerintah kota dalam menyediakan fasilitas pelayanan perkotaan sesudah otonomi daerah sama saja dengan sebelum otonomi daerah. Ada juga yang menilai bahwa pemerintah kota semakin tidak bertanggung jawab dalam menyediakan fasilitas pelayanan perkotaan sesudah otonomi daerah karena ketersediaan dan kualitas fasilitas di Kota Bandung masih belum memadai. Hanya sebagian kecil local resident yaitu sekitar 17 % menilai bahwa pemerintah semakin bertanggungjawab. Dari penilaian yang diberikan local resident tersebut, dapat diperoleh gambaran bahwa penyelenggaraan otonomi daerah di Kota Bandung belum dapat mendorong pemerintah kota untuk semakin bertanggung jawab dalam penyediaan fasilitas perkotaan. Sebagian besar dari resident di Kota Bandung (79 %) juga berpendapat bahwa transparansi penggunaan dana yang berasal dari pembayaran pajak sesudah otonomi daerah sama saja dengan sebelum otonomi daerah. Ada juga yang

52 menilai bahwa pemerintah kota semakin transparan dan hanya sebagian kecil (9 %) yang menilai bahwa pemerintah semakin tidak transparan. Penilaian transparansi tersebut dilihat dari faktor perubahan kelengkapan substansi informasi mengenai penggunan dana yang berasal dari pajak daerah dan kemudahan untuk memperoleh informasi mengenai penggunaan dana yang berasal dari pajak tersebut. Dengan demikian, dapat diperoleh gambaran bahwa penyelenggaraan otonomi daerah di Kota Bandung belum dapat mendorong peningkatan akuntabilitas pemerintah kota terutama dalam hal transparansi penggunaan pajak untuk pembangunan. Tingkat partisipasi sebagian besar local resident dalam pengadaan dan peningkatan kualitas pelayanan fasilitas perkotaan sesudah otonomi daerah terlihat semakin rendah dibandingkan dengan sebelum otonomi daerah. Hanya sebagian kecil yaitu sekitar 8 % menilai tingkat partisipasinya semakin tinggi. Hal ini tidak sejalan dengan maksud penyelenggaraan otonomi daerah yang menekankan pada peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Dari hasil analisis, persentase resident yang berpendapat bahwa jumlah biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan pelayanan fasilitas perkotaan setelah otonomi daerah semakin tinggi tidak jauh berbeda dengan yang berpendapat bahwa tidak ada perubahan. Namun ada juga yang berpendapat bahwa jumlah biaya untuk memperoleh pelayanan semakin rendah setelah otonomi daerah. Jumlah biaya yang semakin tinggi untuk mendapatkan pelayanan perkotaan merupakan salah satu implikasi dari upaya pemerintah kota dalam mencari alternatif sumber pembiayaan pembangunan selain dari pemerintah pusat. Selain itu, sebagian besar resident berpendapat bahwa jumlah biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk pengadaan fasilitas terlihat semakin tinggi. Jumlah biaya yang semakin tinggi baik dalam mendapatkan pelayanan maupun dalam pengadaan fasilitas tersebut seharusnya diimbangi dengan peningkatan efisiensi dan efektivitas dalam pengadaan pelayanan atau fasilitas. Akan tetapi, pada kenyataannya, menurut sebagian besar local resident, terlihat tidak ada perubahan tingkat efisiensi dan efektivitas dalam proses pengadaan fasilitas perkotaan dibandingkan sebelum otonomi daerah. Hanya sebagian kecil

53 local resident yang menilai terlihat semakin efisien dan efektif, namun ada juga yang menilai semakin tidak efisien dan tidak efektif. Menurut sebagian besar resident, jumlah dan variasi pelaku swasta serta pendekatan dalam penyediaan fasilitas umum perkotaan semakin banyak dan bervariasi setelah otonomi daerah. Dengan demikian, tingkat persaingan antara pihak-pihak penyedia fasilitas perkotaan terlihat semakin ketat oleh sebagian besar local resident tersebut. Selain itu, menurut mereka, variasi dari inovasi/terobosan baru yang dilakukan pihak-pihak penyedia sarana dan prasarana perkotaan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat juga semakin bervariasi. Namun, hampir sebagian resident berpendapat bahwa setelah otonomi daerah, tidak ada perubahan baik dalam variasi inovasi, pelaku swasta, dan pendekatan dalam penyediaan fasilitas perkotaan dan ada juga yang berpendapat semakin tidak bervariasi. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa penyelenggaraan otonomi daerah di Kota Bandung belum sepenuhnya dapat mendorong variasi dan inovasi dalam penyediaan fasilitas di Kota Bandung. Adanya penilaian local resident yang berbeda-beda terhadap kondisi pembangunan sebelum dan sesudah otonomi daerah bisa disebabkan oleh perbedaan tingkat pengetahuan di antara local resident mengenai otonomi daerah. Di samping itu juga disebabkan oleh perbedaan dampak pembangunan yang dirasakan oleh local resident setelah otonomi daerah diberlakukan. Akan tetapi, secara umum dapat disimpulkan bahwa belum seluruh local resident di Kota Bandung telah merasakan kondisi pembangunan di Kota Bandung yang lebih baik dibandingkan sebelum otonomi daerah. 3.2.4 Tingkat Kepuasan Responden Local Resident Terhadap Pembangunan di Kota Bandung Dengan mengetahui bagaimana tingkat kepuasan masyarakat lokal terhadap pembangunan di suatu kota, dapat diperoleh gambaran mengenai kondisi pembangunan apakah sudah sesuai dengan preferensi lokal. Dari hasil analisis, sebagian besar resident di Kota Bandung merasa kurang puas dengan pembangunan di Kota Bandung dan hanya sebagian kecil yang telah merasa puas.

54 Untuk lebih jelas, tingkat kepuasan local resident terhadap pembangunan di Kota Bandung ditunjukkan pada gambar berikut. Gambar 3.5 Tingkat Kepuasan Local Resident Terhadap Pembangunan di Kota Bandung 70 60 Persentase 50 40 30 20 10 0 puas kurang puas tidak puas Sumber : Hasil Analisis, 2007 Tingkat Kepuasan Faktor penyebab mayoritas resident merasa kurang puas atau tidak puas terhadap pembangunan di Kota Bandung antara lain : penataan kota yang masih semrawut fasilitas yang belum memadai, terutama fasilitas jalan, taman, dan persampahan adanya indikasi ketidaktegasan pemerintah dalam kebijakan terutama dalam pengendalian pemanfaatan ruang kurangnya lapangan pekerjaan pembangunan kota yang belum memperhatikan kesejahteraan masyarakat miskin pembangunan yang belum merata di seluruh bagian Kota Bandung Ketidakpuasan local resident terhadap pembangunan di Kota Bandung juga terlihat dari ketidakpuasan terhadap pelayanan fasilitas perkotaan seperti jalan, drainase, air bersih, persampahan, taman, dan pendidikan. Akan tetapi, pada

55 umumnya, local resident sudah merasa puas terhadap fasilitas tertentu seperti fasilitas pemadam kebakaran, telepon, listrik, dan kesehatan. Local resident yang merasa kurang puas dengan pelayanan fasilitas perkotaan tersebut merasa bahwa jumlah dan kualitas fasilitas yang diperoleh belum sesuai dengan yang diharapkan. Sebagai contoh, masalah kemacetan belum juga dapat teratasi, banyak jalan yang masih rusak dan berlubang, sistem drainase yang belum memadai sehingga kalau hujan sering terjadi banjir, biaya pendidikan yang mahal, air yang jarang mengalir, sampah yang jarang diangkut, dan taman yang tidak terawat dengan baik. Dengan demikian, terlihat bahwa fasilitas perkotaan yang tersedia di Kota Bandung saat ini belum sesuai dengan yang diharapkan para resident yang bertempat tinggal dan menjalankan aktivitasnya sehari-hari di Kota Bandung. Berdasarkan hasil analisis, juga dapat diketahui bahwa sebagian besar resident merasa kurang puas terhadap penetapan pajak di Kota Bandung. Hal ini disebabkan peningkatan pajak tidak diikuti dengan perbaikan fasilitas atau belum terlihat jelas wujud nyata penggunaan pajak dalam pembangunan. Selain itu, terdapat indikasi adanya tindakan penyelewengan penggunaan dana pajak, alokasi dana pajak untuk pembangunan masih belum jelas, serta besarnya pajak termasuk tinggi dan tidak seimbang dengan besarnya penghasilan yang diperoleh resident. Untuk lebih jelas, tingkat kepuasan local resident terhadap penetapan pajak di Kota Bandung ditunjukkan pada gambar berikut ini. Gambar 3.6 Tingkat Kepuasan Local Resident Terhadap Pajak di Kota Bandung Persentase 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 puas kurang puas tidak puas Tingkat Kepuasan Sumber : Hasil Analisis, 2007

56 3.2.5 Karakteristik Responden Local Resident dalam Merespon Pembangunan yang Tidak Sesuai dengan Preferensinya Local resident sebagai bagian dari komponen masyarakat dapat menyatakan preferensinya terhadap pembangunan melalui partisipasi. Tingkat partisipasi resident di Kota Bandung cukup bervariasi namun mayoritas resident merasa bahwa tingkat partisipasinya dalam pembangunan termasuk kurang. Resident menilai bahwa tingkat partisipasinya termasuk tinggi apabila resident tersebut selalu membayar pajak dan terlibat dalam kegiatan musyawarah di RT/RW. Umumnya, bentuk partisipasi sebagian besar resident hanya dalam lingkup RT/RW dan dalam kegiatan membersihkan lingkungan serta perbaikan sarana dan prasarana lingkungan. Ada juga yang menilai telah berpartisipasi dalam pembangunan di bidang pendidikan dikarenakan profesinya di bidang pendidikan. Selain itu, terdapat resident yang merasa bahwa tingkat partisipasinya sedang atau rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan, diantaranya karena kesibukan, kurang bisa bersosialisasi, kurang mengerti dengan pembangunan, dan pemerintah tidak memberikan penyuluhan dan informasi yang jelas bagaimana resident dapat berpartisipasi langsung dalam pembangunan. Local resident di Kota Bandung pada umumnya berpendapat bahwa preferensinya sangat penting untuk diperhatikan dalam pembangunan. Hal ini dikarenakan resident tersebut merasa sebagai bagian dari masyarakat Kota Bandung dan sebagai pembayar pajak yang aspirasinya perlu didengar dan sudah seharusnya memperoleh pelayanan yang sesuai dengan yang diinginkan. Dengan diperhatikannya preferensi resident dalam pembangunan, menurut resident tersebut, dapat terwujud ketentraman/keamanan/kenyamanan kota, tercapai peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan pembangunan dapat berjalan lancar. Bagi resident yang merasa preferensinya kurang penting atau tidak penting untuk diperhatikan, resident tersebut menerima saja hasil pembangunan lagipula menurutnya sudah menjadi tugas pemerintah untuk mengatur jalannya pembangunan. Ada juga yang merasa bahwa preferensinya kurang penting untuk diperhatikan karena beranggapan bahwa aspirasi yang disampaikan tidak akan

57 didengar oleh pemerintah dan preferensi resident tersebut belum tentu sesuai dengan kepentingan orang banyak. Di samping itu, sebagian besar resident tersebut merasa kurang puas dengan tanggapan pemerintah terhadap aspirasi yang disampaikan karena pada umumnya aspirasi yang disampaikan belum direalisasikan pemerintah. Menurut local resident tersebut, pemerintah kota tampaknya tidak begitu memperdulikan aspirasi masyarakat padahal keterlibatan masyarakat sangat penting dalam pengambilan kebijakan pembangunan yang efektif. Bentuk menyatakan preferensi terhadap pembangunan yang dipilih oleh resident di Kota Bandung cukup bervariasi. Mayoritas memilih untuk menyuarakan apa yang menjadi preferensinya kepada pemerintah atau tidak melakukan apa-apa. Hal ini menandakan bahwa kecenderungan mobilitas local resident termasuk rendah karena hanya sebagian kecil yang memilih untuk pindah lokasi tempat tinggal apabila pembangunan tidak sesuai dengan preferensi mereka. Di samping itu, adanya resident yang memilih untuk pindah tempat tinggal namun masih berlokasi di dalam Kota Bandung mengindikasikan bahwa terdapat ketidakmerataan pembangunan antar bagian wilayah Kota Bandung. Gambar 3.7 Karakteristik Local Resident Dalam Merespon Pembangunan yang Tidak Sesuai dengan Preferensinya berniat pindah ke kota lain 36% 8% 4% 52% pindah lokasi tempat tinggal (masih di dalam Kota Bandung) menyuarakan preferensi kepada pemerintah tidak melakukan apa-apa Sumber : Hasil Analisis, 2007

58 Bagi resident yang memilih tidak melakukan apa-apa meskipun pembangunan tidak sesuai dengan preferensi, hampir semuanya menerima saja pembangunan yang dilaksanakan dan tetap mau berpartisipasi atau mendukung pembangunan. Namun ada juga yang menerima pembangunan dan tidak mau berpartisipasi karena kesibukan dan ada yang tidak begitu peduli. Bagi yang memilih untuk menyuarakan preferensinya, sebagian besar menyuarakan preferensi melalui forum RT/RW dan media massa (berupa opini/tulisan/komentar). Hanya sebagian kecil resident yang memilih menyuarakan preferensinya melalui Jaring Asmara atau Musrenbang. Bagi yang berniat untuk pindah lokasi tempat tinggal, kota yang dijadikan sebagai tujuan tempat tinggal diantaranya adalah Tasikmalaya, Garut, Jakarta, Surabaya, kota di luar Pulau Jawa, kota yang bersih dan nyaman dan menyediakan fasilitas yang memadai. 3.2.6 Prioritas Pembangunan Menurut Preferensi Responden Local Resident Berdasarkan hasil analisis sebelumnya, terlihat bahwa local resident merasa masih belum puas dengan pembangunan di Kota Bandung. Selain itu, masalah pembangunan yang terjadi di Kota Bandung cukup kompleks. Oleh sebab itu, mengingat keterbatasan anggaran dana pembangunan, maka perlu diketahui apa yang sebenarnya menjadi prioritas pembangunan menurut preferensi local resident di Kota Bandung. Berdasarkan hasil analisis terhadap jawaban terbuka yang diberikan responden local resident, dapat diperoleh gambaran mengenai bidang yang seharusnya menjadi prioritas pembangunan di Kota Bandung. Bidang tersebut diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Bidang sosial kependudukan, budaya dan hukum Menurut local resident di Kota Bandung, hal yang perlu diprioritaskan dalam pembangunan di bidang ini diantaranya yaitu pendidikan, kesehatan, mental spiritual, peningkatan disiplin masyarakat, penanganan gelandangan/ pengamen/ pengemis/ pedagang kaki lima, peningkatan kualitas mental dan

59 spiritual (keagamaan), peningkatan keamanan lingkungan, serta peningkatan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat. 2. Bidang ekonomi Menurut local resident di Kota Bandung, hal yang perlu diprioritaskan dalam pembangunan di bidang ekonomi diantaranya yaitu pengurangan tingkat pengangguran atau penambahan penyediaan lapangan kerja, pengembangan UKM, pengembangan kegiatan perdagangan dan industri, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. 3. Bidang penyediaan fasilitas umum/sosial Sebagian besar local resident berpendapat bahwa kualitas dan kuantitas penyediaan fasilitas umum/sosial di Kota Bandung harus ditingkatkan. Fasilitas yang dimaksud diantaranya fasilitas kesehatan (dapat dijangkau oleh masyarakat miskin), fasilitas pendidikan (dengan harga yang terjangkau), pengelolaan tempat rekreasi dan taman. 4. Sistem jaringan jalan Hal utama yang perlu diperhatikan dalam pembangunan sistem jaringan jalan diantaranya adalah upaya mengatasi kemacetan, perbaikan jalan, penyediaan penerangan jalan dan trotoar yang memadai. 5. Bidang transportasi Dalam bidang transportasi, hal utama yang perlu diperhatikan dalam pembangunan menurut local resident yaitu penyediaan angkutan umum yang dapat dijangkau masyarakat. 6. Bidang perumahan dan permukiman Dalam bidang perumahan dan permukiman, hal utama yang perlu diperhatikan dalam pembangunan menurut local resident diantaranya yaitu penataan permukiman kumuh, penyediaan perumahan yang harganya dapat dijangkau

60 masyarakat atau perumahan sederhana, peningkatan kualitas penyediaan utilitas permukiman seperti listrik, air bersih, drainase, persampahan dan telekomunikasi. 7. Bidang penataan ruang dan lingkungan Hal utama yang perlu diperhatikan dalam bidang penataan ruang dan lingkungan diantaranya adalah pengendalian pemanfaatan ruang, kebersihan lingkungan, pengendalian polusi, penambahan jumlah ruang terbuka hijau, penataan ruang kota dan pemerataan pembangunan. Selanjutnya, preferensi local resident terhadap prioritas pembangunan yang dianalisis secara kuantitatif meliputi preferensi terhadap aspek pembangunan sumber daya manusia, aspek pembangunan ekonomi, aspek pembangunan perumahan dan permukiman, aspek pembangunan transportasi, aspek pembangunan sistem jaringan jalan, aspek pembangunan fasilitas umum/sosial, serta aspek pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Ketujuh aspek dalam prioritas pembangunan tersebut pada dasarnya telah mencerminkan bidang prioritas pembangunan yang dianggap penting oleh local resident untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berikut ini akan diuraikan mengenai urutan pengalokasian dana untuk tiap-tiap aspek prioritas pembangunan (dari yang paling penting sampai dengan yang paling tidak penting). A. Pembangunan Sumber Daya Manusia Urutan pengalokasian dana untuk pembangunan sumber daya manusia di Kota Bandung menurut preferensi local resident yaitu : 1. pendidikan 2. kesehatan 3. mental dan spiritual 4. laju pertumbuhan penduduk 5. pemerataan penduduk 6. pengembangan seni, budaya, dan olahraga

61 7. lainnya (seperti peningkatan kesadaran bermasyarakat, kemandirian masyarakat, penegakan hukum dan keadilan) Urutan pengalokasian dana dalam pembangunan sumber daya manusia menurut preferensi local resident pada masing-masing Wilayah Pengembangan (WP) dapat dilihat pada tabulasi preferensi berikut. Tabulasi Preferensi III.1 Preferensi Local Resident Terhadap Pembangunan Sumber Daya Manusia Berdasarkan Urutan Pengalokasian Dana WP Cibeunying 1. pendidikan 2. kesehatan 3. mental dan spiritual 4. pemerataan penduduk 5. laju pertumbuhan penduduk 6. pengembangan seni, budaya, dan olahraga 7. lainnya WP Karees 1. pendidikan 2. kesehatan 3. mental dan spiritual 4. laju pertumbuhan penduduk 5. pemerataan penduduk 6. pengembangan seni, budaya, dan olahraga 7. lainnya WP Tegallega 1. pendidikan 2. kesehatan dan mental spiritual 3. laju pertumbuhan penduduk 4. pemerataan penduduk 5. pengembangan seni, budaya, dan olahraga 6. lainnya Sumber : Hasil Analisis, 2007 WP Bojonegara 1. pendidikan 2. kesehatan 3. mental dan spiritual 4. laju pertumbuhan penduduk 5. pemerataan penduduk 6. pengembangan seni, budaya, dan olahraga 7. lainnya WP Ujungberung 1. pendidikan 2. kesehatan 3. mental dan spiritual 4. laju pertumbuhan penduduk 5. pemerataan penduduk 6. pengembangan seni, budaya, dan olahraga 7. lainnya WP Gedebage 1. pendidikan 2. kesehatan 3. mental dan spiritual 4. laju pertumbuhan penduduk 5. pemerataan penduduk 6. pengembangan seni, budaya, dan olahraga 7. lainnya

62 B. Pembangunan Ekonomi Urutan pengalokasian dana untuk pembangunan ekonomi di Kota Bandung menurut preferensi local resident yaitu : 1. penambahan penyediaan lapangan kerja 2. pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) 3. peningkatan daya beli masyarakat 4. peningkatan daya tarik investasi 5. lainnya (diantaranya adalah pengembangan sektor-sektor ekonomi, regulasi ekonomi yang ketat) Urutan pengalokasian dana dalam pembangunan ekonomi menurut preferensi local resident pada masing-masing Wilayah Pengembangan (WP) dapat dilihat pada Tabulasi Preferensi III.2. Preferensi local resident terhadap pembangunan ekonomi terlihat identik untuk setiap WP, kecuali untuk WP Tegallega. Resident yang bertempat tinggal di WP Tegallega menilai bahwa pengembangan usaha kecil dan menengah menempati urutan yang paling atas dalam pengalokasian dana untuk pengembangan ekonomi. Menurut preferensi resident di WP Tegallega, pengembangan usaha kecil dan menengah lebih penting dibandingkan dengan penambahan penyediaan lapangan kerja. Preferensi resident di WP Tegallega tersebut pada dasarnya berkaitan dengan berkembangnya kegiatan perdagangan dan usaha kecil dan menengah yang cukup intensif di WP tersebut.

63 Tabulasi Preferensi III.2 Preferensi Local Resident Terhadap Pembangunan Ekonomi Berdasarkan Urutan Pengalokasian Dana WP Cibeunying 1. penambahan penyediaan lapangan kerja 2. pengembangan UKM 3. peningkatan daya beli masyarakat 4. peningkatan daya tarik investasi 5. lainnya WP Karees 1. penambahan penyediaan lapangan kerja 2. pengembangan UKM 3. peningkatan daya beli masyarakat 4. peningkatan daya tarik investasi 5. lainnya WP Tegallega 1. pengembangan UKM 2. penambahan penyediaan lapangan kerja 3. peningkatan daya beli masyarakat 4. peningkatan daya tarik investasi 5. lainnya Sumber : Hasil Analisis, 2007 WP Bojonegara 1. penambahan penyediaan lapangan kerja 2. pengembangan UKM 3. peningkatan daya beli masyarakat 4. peningkatan daya tarik investasi 5. lainnya WP Ujungberung 1. penambahan penyediaan lapangan kerja 2. pengembangan UKM 3. peningkatan daya beli masyarakat 4. peningkatan daya tarik investasi 5. lainnya WP Gedebage 1. penambahan penyediaan lapangan kerja 2. pengembangan UKM 3. peningkatan daya beli masyarakat 4. peningkatan daya tarik investasi 5. lainnya C. Pembangunan Perumahan dan Permukiman Urutan pengalokasian dana untuk pembangunan perumahan dan permukiman di Kota Bandung menurut preferensi local resident yaitu : 1. upaya penyediaan perumahan yang harganya dapat dijangkau oleh masyarakat 2. upaya penyediaan utilitas yang memadai 3. upaya pengendalian/peremajaan kawasan permukiman kumuh

64 Urutan pengalokasian dana dalam pembangunan perumahan dan permukiman menurut preferensi local resident pada masing-masing Wilayah Pengembangan (WP) dapat dilihat pada tabel berikut. Tabulasi Preferensi III.3 Preferensi Local Resident Terhadap Pembangunan Perumahan dan Permukiman Berdasarkan Urutan Pengalokasian Dana WP Cibeunying 1. upaya penyediaan perumahan yang harganya dapat dijangkau oleh masyarakat 2. upaya pengendalian/peremajaan kawasan permukiman kumuh 3. upaya penyediaan utilitas yang memadai WP Karees 1. upaya pengendalian/peremajaan kawasan permukiman kumuh 2. upaya penyediaan perumahan yang harganya dapat dijangkau oleh masyarakat 3. upaya penyediaan utilitas yang memadai WP Tegallega 1. upaya pengendalian/peremajaan kawasan permukiman kumuh 2. upaya penyediaan perumahan yang harganya dapat dijangkau oleh masyarakat dan upaya penyediaan utilitas yang memadai Sumber : Hasil Analisis, 2007 WP Bojonegara 1. upaya penyediaan perumahan yang harganya dapat dijangkau oleh masyarakat 2. upaya pengendalian/peremajaan kawasan permukiman kumuh 3. upaya penyediaan utilitas yang memadai WP Ujungberung 1. upaya penyediaan perumahan yang harganya dapat dijangkau oleh masyarakat 2. upaya penyediaan utilitas yang memadai 3. upaya pengendalian/peremajaan kawasan permukiman kumuh WP Gedebage 1. upaya penyediaan perumahan yang harganya dapat dijangkau oleh masyarakat 2. upaya penyediaan utilitas yang memadai 3. upaya pengendalian/peremajaan kawasan permukiman kumuh Preferensi local resident terhadap pembangunan perumahan dan permukiman tidak identik untuk setiap WP. Menurut preferensi resident di WP Karees dan Tegallega, pengendalian/peremajaan kawasan permukiman kumuh menempati urutan yang paling utama dalam pembangunan perumahan dan permukiman.

65 Hal ini dapat mengindikasikan bahwa terdapat kawasan permukiman kumuh yang lebih banyak di kedua WP tersebut dibandingkan dengan WP lainnya. Sedangkan menurut preferensi resident di WP Cibeunying, Bojonegara, Ujungberung dan Gedebage, penyediaan perumahan yang harganya dapat dijangkau oleh masyarakat menempati urutan yang paling utama. Resident yang bertempat tinggal di WP Ujung Berung dan Gedebage menilai penyediaan utilitas yang memadai lebih penting daripada pengendalian kawasan kumuh. Preferensi tersebut berbeda dengan preferensi resident yang tinggal di keempat WP lainnya. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa penyediaan utilitas di WP Ujungberung dan WP Gedebage masih belum memadai seperti yang diharapkan. Dalam upaya penyediaan utilitas yang memadai, urutan pengalokasian dana untuk penyediaan utilitas tersebut (dari yang paling penting sampai dengan yang paling tidak penting) adalah sebagai berikut : 1. persampahan 2. air bersih 3. drainase/jalan lingkungan 4. air kotor/limbah 5. listrik/telekomunikasi/energi Urutan pengalokasian dana untuk penyediaan utilitas yang memadai menurut preferensi resident pada masing-masing Wilayah Pengembangan (WP) dapat dilihat pada tabulasi preferensi berikut.

66 Tabulasi Preferensi III.4 Preferensi Local Resident Terhadap Penyediaan Utilitas yang Memadai Berdasarkan Urutan Pengalokasian Dana WP Cibeunying 1. persampahan 2. air bersih 3. drainase/jalan lingkungan 4. air kotor/limbah 5. listrik/telekomunikasi/energi WP Karees 1. air bersih 2. persampahan 3. drainase/jalan lingkungan 4. air kotor/limbah 5. listrik/telekomunikasi/energi WP Tegallega 1. air bersih 2. persampahan 3. drainase/jalan lingkungan 4. air kotor/limbah 5. listrik/telekomunikasi/energi Sumber : Hasil Analisis, 2007 WP Bojonegara 1. persampahan 2. air bersih 3. air kotor/limbah 4. drainase/jalan lingkungan 5. listrik/telekomunikasi/energi WP Ujungberung 1. air bersih 2. persampahan 3. drainase/jalan lingkungan 4. air kotor/limbah 5. listrik/telekomunikasi/energi WP Gedebage 1. persampahan dan drainase/jalan lingkungan 2. air bersih 3. air kotor/limbah 4. listrik/telekomunikasi/energi Preferensi local resident terhadap penyediaan utilitas tidak identik untuk setiap WP. Menurut preferensi resident di WP Karees, Tegallega, dan Ujungberung, air bersih menempati urutan yang paling utama dalam penyediaan utilitas dan persampahan menempati urutan berikutnya setelah air bersih. Sedangkan menurut preferensi resident di WP Cibeunying, Bojonegara dan Gedebage, persampahan menempati urutan yang paling utama baru kemudian air bersih. Selain itu, dapat diketahui bahwa menurut preferensi resident di WP Gedebage, persampahan dan drainase/jalan lingkungan menempati urutan yang sama dalam pengalokasian dana untuk penyediaan utilitas. Hal ini disebabkan kondisi drainase yang buruk di WP Gedebage dan sering terjadi banjir di WP tersebut ketika hujan.

67 D. Pembangunan Transportasi Urutan pengalokasian dana untuk pembangunan transportasi di Kota Bandung menurut preferensi local resident yaitu : 1. penyediaan angkutan yang dapat dijangkau masyarakat 2. angkutan umum 3. terminal 4. lainnya (seperti ketertiban berlalu lintas, leamanan dalam penggunaan angkutan umum, peningkatan kualitas dan jumlah halte, pengendalian jumlah kendaraan pribadi ) Urutan pengalokasian dana untuk pembangunan transportasi menurut preferensi resident pada masing-masing Wilayah Pengembangan (WP) dapat dilihat pada tabulasi preferensi berikut. Tabulasi preferensi III.5 Preferensi Local Resident Terhadap Pembangunan Transportasi Berdasarkan Urutan Pengalokasian Dana WP Cibeunying 1. penyediaan angkutan yang dapat dijangkau masyarakat 2. angkutan umum 3. terminal 4. lainnya WP Karees 1. angkutan umum 2. penyediaan angkutan yang dapat dijangkau masyarakat 3. terminal 4. lainnya WP Tegallega 1. penyediaan angkutan yang dapat dijangkau masyarakat 2. angkutan umum 3. terminal 4. lainnya Sumber : Hasil Analisis, 2007 WP Bojonegara 1. penyediaan angkutan yang dapat dijangkau masyarakat dan peningkatan kualitas/kuantitas angkutan umum 2. terminal 3. lainnya WP Ujungberung 1. angkutan umum 2. penyediaan angkutan yang dapat dijangkau masyarakat 3. terminal 4. lainnya WP Gedebage 1. penyediaan angkutan yang dapat dijangkau masyarakat 2. angkutan umum 3. terminal 4. lainnya