BAB I PENDAHULUAN 1.1 Sejarah Perusahaan PT Pindad (Persero) adalah salah satu BUMN industri strategis berbentuk perseroan, berkantor pusat di Bandung. PT Pindad (Persero) memiliki tugas pokok mencapai tujuan perusahaan secara berhasil guna, berdaya guna dan ekonomis. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, PT. Pindad (Persero) dibagi menjadi sebelas area fungsional yang digabung dalam tiga kelompok utama sebagai berikut : 1. Produk Pemasaran dan Penjualan Segala usaha dan kegiatan yang menyangkut pemasaran dan penjualan dalam arti seluas-luasnya atas barang dan jasa. Alih Teknologi Segala usaha yang pemilihan, penelitian, dan penemuan teknologi serta penelitian dan pengembangan produk. Produksi Segala usaha dan kegiatan yang menyangkut persiapan, perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian produksi. Manajemen Mutu Segala usaha dan kegiatan yang menyangkut perencanaan dan penyusunan spesifikasi mutu, pencapaian tingkat mutu, kegiatan pemeriksaan dan pengujian guna tercapainya mutu yang diminta pelanggan serta diakui baik secara nasional maupun internasional. 2. Sumber daya Manajemen Material Segala usaha dan kegiatan yang menyangkut perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, pemeliharaan, pengendalian, persediaan dan distribusi material.
Manajemen Keuangan Segala usaha dan kegiatan yang menyangkut perencanaan, perolehan, pegamanan dan pemanfaatan dana secara optimal, akuntasi keuangan serta perhitungan dan pengendalian biaya. Manajemen Sumber Daya Manusia Segala usaha dan kegiatan yang menyangkut perencanaan kebutuhan, penyediaan dan pemisahan, pengembangan dan pelayanan kesejahteraan pegawai. Pengelolaan Fasilitas Segala usaha dan kegiatan yang menyangkut perencanaan, pengembangan dan pemeliharaan sarana dan prasarana perusahaan. Manajemen Informasi Segala usaha dan kegiatan yang menyangkut perencanaan, pengorganisasian, pemanfaatan serta pengendalian informasi. 3. Management Planning and Control Perencanaan dan Pengendalian Perusahaan Segala usaha dan kegiatan yang menyangkut perencanaan strategis, pengorganisasian, pemantauan, evaluasi terhadap pelaksanaan termasuk pengendalian program-program. Administrasi Umum Segala usaha dan kegiatan yang menyangkut pengaturan rumah tangga perusahaan, administrasi umum, pemeliharaan lingkungan kerja, pengamanan perusahaan, hubungan masyarakat, perizinan, asuransi, klaim dan hukum. Pengawasan Segala usaha dan kegiatan yang menyangkut pemeriksaan untuk mencegah pemborosan, peningkatan hasil guna dan daya guna berdasarkan perundangundangan, peraturan, kebijakan dan norma yang berlaku. Perkembangan PT Pindad (Persero) menjadi industri strategis, yang melakukan kegiatan bisnis sekaligus berperan sebagai wahana transformasi industri dan alih teknologi tidak terlepas dari perkembangan sejarah Bangsa Indonesia. 2
1.1.1 Periode tahun 1808-1945 Awal abad 19 Pemerintah Belanda merencanakan sistem pertahanan di Pulau Jawa, diantaranya dengan mendirikan pabrik senjata dan munisi. Fasilitas-fasilitas industri pertahanan didirikan secara bertahap, seperti : 1. Tahun 1808 Bengkel pemeliharaan alat-alat perkakas senjata dan perbaikan senjata yang rusak bernama Artillerie Van Constructie atau dikenal dengan nama Constructie Winkel (CW) di Surabaya. Bengkel berbagai jenis munisi kaliber besar, bernama Proyectiel Fabriek (PF) dan laboratorium kimia di Semarang pada tahun 1808. 2. Tahun 1845 Institut Pendidikan Pemeliharaan dan Perbaikan Senjata, bernama Werkplaats Voor Draagbare Wapenen (WDW) di Jatinegara. 3. Tahun 1850 Bengkel pembuatan dan perbaikan munisi bernama Pyrotechnische Werkplaats (PW) di Surabaya. Bengkel mesiu di Ngawi. Pada tahun 1851, diadakan penggabungan nama Constructie Winkel (CW) dan Pyrotechnische Werkplaats (PW) Surabaya menjadi Artillerie Constructie Winkel (ACW). 4. Tahun 1910 Bengkel pembuatan dan perbaikan munisi di Bandung. Relokasi perbengkelan kemudian dipindahkan dan dipusatkan ke Bandung sejak tahun 1918 menjadi Artillerie Inrichtingen (AI), dengan maksud agar pembinaannya lebih efektif, hal ini dilakukan karena dengan adanya keterlibatan Belanda dalam Perang Dunia I yang mengharuskan penanganan pengamanan yang lebih baik secara teknis maupun strategis militer. Penyerahan kekuasaan dari Pemerintah Belanda ke Pemerintah Jepang di Indonesia pada 8 Maret 1942. Fasilitas-fasilitas industri pertahanan yang di ambil alih mengalami perubahan nama dari Artillerie Constructie Winkel, Voor Draagbare Wapenen, Proyectiel Fabriek dan Pyrotechnische Werkplaats menjadi Dai Ichi Kozo, Dai Ni Kozo, Dai San Kozo dan Dai Shi Kozo. Fungsi dan fasilitas tidak mengalami perubahan hanya penambahan produksi peralatan untuk Angkatan Laut Jepang. 3
1.1.2 Periode 1945 1950 Pada jaman revolusi kemerdekaan Indonesia industri pertahanan mengalami pergantian kepemilikan beberapa kali, diantaranya : 1. NICA Perwakilan pemerintah militer Belanda di Indonesia berhasil menguasai kepemilikan Artillerie Constructie Winkel (ACW) pada tanggal 1 Juni 1946. Pada masa pemerintahan NICA terjadi perubahan restrukturisasi industri pertahanan menjadi : ACW, PF dan PW digabung menjadi Leger Prodllctie Bedrijven (LPB) yang memusatkan kegiatannya pada: a. Membuat bagian-bagian metal produk munisi. b. Membuat bagian-bagian senjata, tempat tidur lapangan, rantang dan barang-barang untuk keperluan militer. c. Membuat perkakas untuk pembuatan senjata ringan, pesawat mortar dan sebagainya. Selanjutnya terjadi perubahan kegiatan di LPB dengan cara memisahkan: a. Central Munisi Werkplaats (CMW) yang mempunyai fungsi membuat bagian-bagian metalik mesin, melaksanakan pekerjaan konfeksi granat dan revisi peluru caliber ringan. b. Aigemene Constmctie Winkel (ACW) yang mempunyai fungsi membuat bagian-bagian senjata dan alat peralatan perkakas. WDW memusatkan kegiatan pada bengkel perbaikan yang bernama Centra Reporatie Werkplaats. 2. Pemerintah Republik Indonesia Pada tanggal 27 Desember 1949 melalui Konferensi Meja Bundar, Belanda mengakui kedaulatan pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada tanggal 29 April 1950, terjadi perubahan nama LPB menjadi Pabrik Senjata dan Mesiu (PSM) akibat penyerahan kepemilikan dari pemerintah Belanda menyerahkan kepada pemerintah RIS. 4
1.1.3 Periode 1950 1983 Nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik pemerintah Belanda maupun swasta dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Upaya-upaya perubahan strategi dilakukan Pemerintah Republik Indonesia tehadap Pabrik Senjata dan Mesiu (PSM) setelah dinasionalisasi, seperti : 1. 1950 Dilakukan reorganisasi dengan sistem sentralisasi sebagai upaya pengendalian pelaksanaan tugas pokok, yaitu : Pembelian mesin-mesin baru untuk pembuatan senjata beserta suku cadangnya, munisi-munisi kaliber ringan maupun pembuatan alat peralatan militer pun dilakukan. Peningkatan potensi sumber daya manusia, dilakukan pengiriman personil potensial untuk mendapatkan pendidikan di beberapa negara asing. 2. 1958 Perubahan nama Pabrik Senjata Mesiu menjadi Pabrik Alat Peralatan Angkatan Darat (Pabal-AD) pada tanggal 1 Desember 1958. Sebagai upaya negara Indonesia untuk mengurangi ketergantungan kebutuhan senjata dan munisi beserta alat peralatan militer dari negara lain, maka Pabal-AD mendapat tugas pokok memenuhi kebutuhan peralatan dan perlengkapan militer angkatan darat. Setelah pabrik munisi ringan berhasil dimodernisasi, langkah berikutnya dalan bentuk pembangunan pabrik senjata ringan. Keberhasilan dalam peningkatan kemampuannya menempatkan Pabal-AD sebagai badan pelaksana utama dalam organisasi TNI-AD, dalam bentuk instalasi industri. 3. 1972 Pabal-AD berubah nama menjadi Komando Perindustrian TNI-Angkatan Darat (Kopindad), pada tanggal 31 Januari 1972. Keterlibatan Kopindad pada programprogram pemerintah meliputi berbagai bidang yakni pertanian, perkebunan, pertambangan, industri dan transportasi. Kopindad berhasil menempatkan produk komersial sebagai salah satu produk yang dibutuhkan, baik oleh instalasi-instalasi pemerintah, perusahaan swasta maupun masyarakat pada umumnya. 5
Pada tahun 1974 pemerintah mulai melakukan peninjauan perubahan status, hal ini direalisasikan 5 tahun kemudian. Pindad Kopindad berubah nama menjadi Perindustrian TNI Angkatan Darat (Pindad) sejak tanggal 17 Oktober 1979, dimana kedudukan Pindad dalam organisasi TNI-AD menjadi suatu badan pelaksana utama. 1.1.4 Periode 1983 sampai dengan Sekarang Perkembangan di segala bidang saat memasuki abad 21memicu PT. Pindad untuk melakukan perubahan-perubahan. PT. Pindad mulai fokus untuk mencari keuntungan namun tidak melepas fungsinya sebagai perusahaan negara bidang Hankam. 1. 1983 Pindad berubah statusnya menjadi suatu BUMN yang bergerak dalam bidang industri logam. Sebagai realisasi dari kebijakan pemerintah tersebut, diterbitkan Peraturan Pemerintah RI No.4 tahun 1983 tanggal 11 Februari 1983, yang menetapkan penyertaan modal negara atas pendirian perusahaan perseroan (persero) dalam bidang industri logam. 2. 1989 Pindad di serahterimakan oleh Jendaral Rudini sebagai Kasad kepada Prof. Dr. Ing. B.J Habibie selaku Menteri Riset dan Teknologi saat itu, pada tanggal 29 April 1983. Berdasarkan Akta Notaris Hadi Moentoro, S.H No 30 Tahun 1983, PT Pindad (Persero) resmi didirikan. PT. Pindad (Persero) berkedudukan di Bandung, sementara Divisi Munisi terpisah lokasinya di Turen, Malang. Pada tahun 1989, berdasarkan keppres nomor 44 tanggal 28-8-1989 PT Pindad (Persero) dimasukan ke dalam jajaran BUMN industri strategis dibawah pembinaan Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS). 3. 1996 Terhitung mulai tanggal 1 Januari 1996, 4 divisi produksi yang ada (berdasarkan proses) direstrukrisasi ke dalam 5 divisi berdasarkan produk. Masing-masing divisi derlakukan sebagai unit usaha strategis dengan memberikan pendelegasian wewenang untuk mengelola SDM serta melakukan desain produk sampai dengan pemasaran, keculai divisi munisi dan senjata. Tahun 2002 PT. BPIS (Persero) dibubarkan oleh Pemerintah, dan sejak itu PT. PINDAD beralih status menjadi PT. Pindad (Persero) yang langsung berada di bawah 6
pembinaan Kementerian BUMN dan Pindad bukan lagi sebagai singkatan tapi hanya tinggal sebagai sebuah nama perusahaan. 1.2 Lingkup Bidang Usaha Lingkup bidang usaha yang dijalani oleh Pindad adalah sebagai berikut : 1. Produksi Kelompok produksi senjata, munisi dan kendaraan militer khusus. Kelompok produksi penggerak mula dan elektro mekanik. Kelompok produksi komponen otomotif, kereta api dan prasarananya, kapal laut dan pesawat terbang. Kelompok produksi peralatan industri logam. Kelompok produksi phyroteknik dan komponen bahan peledak. 2. Perdagangan Melaksanakan pemasaran, distribusi dan penjualan produk atau komponen yang tersebut di atas baik di dalam maupun di luar negeri. 3. Jasa Perekayasaan industri logam dan sistem pendukungnya. Pemeliharaan produk atau peralatan industri. Perekayasaan proses manufaktur. Pengujian mutu dan pengembangan sistem mutu. Pendidikan di bidang industri logam. Produk dan jasa lain dalam rangka memanfaatkan fasilitas yang telah dimiliki perusahaan. 4. Produk dan jasa lain dalam rangka memanfaatkan fasilitas yang telah dimiliki perusahaan. 7
1.3 Visi dan Misi, Strategi dan Tujuan Perusahaan 1 1.3.1 Visi Perusahaan sehat yang mempunyai inti usaha terpadu beroperasi secara fleksibel serta mandiri secara finansial. 1.3.2 Misi Melaksanakan kegiatan usaha dalam bidang: 1. Alat dan peralatan untuk mendukung kemandirian pertahanan dan keamanan negara. 2. Alat dan peralatan industri, mendapatkan laba untuk pertumbuhan perusahaan melalui keunggulan teknologi dan efisiensi. 1.3.3 Strategi Perusahaan Strategi bisnis PT. Pindad (Persero) adalah sebagai berikut: 1. Memfokuskan usaha untuk meningkatkan kemampu-labaan perusahaan. 2. Menciptakan sinergi usaha untuk memanfaatkan peluang usaha dan meningkatkan kemampu-labaan perusahaan. 3. Mengembangkan sumber daya manusia dalam rangka meningkatkan kompetensi usaha perusahaan. Secara umum PT Pindad ingin mengubah citra sebagai perusahaan yang tidak hanya identik dengan senjata, namun pula sebagai penghasil produk komersil yang dipercaya dari segi kualitas. 1.3.4 Motto Dalam menjaga komitmen perusahaan terhadap mutu produk, maka motto Tidak ada kompromi dalam Kualitas mendasari pola pikir dan tindakan seluruh jajaran operasional perusahaan. Untuk itu PT. PINDAD telah menerapkan sistem manajemen mutu sesuai standar ISO 9001/9002 dan ISO Guide 25. Konsistensi komitmen manajemen tersebut selalu dipelihara dengan melakukan peningkatan dan penyesuaian sistem manajemen mutu secara berkesinambungan. Dengan demikian diharapkan produk-produk PT. PINDAD dapat 1 http://members.bumn-ri.com/pindad/profile bisnis, dikutip April, 2007. 8
memenuhi kepuasan pelanggan dan dapat membangun kesetiaan pelanggan terhadap produk-produk PT. PINDAD. 1.3.5 Tujuan Tujuan PT. PINDAD (persero) mengalami penyesuaian akibat perubahan bentuk perusahaan dan kondisi Negara Indonesia. Sejak tahun 1999, PT. PINDAD (persero) mempunyai tujuan melaksanakan serta menunjang kebijakan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya dan khususnya dalam bidang industri alat/peralatan militer, industri manufaktur, energi, dan transportasi dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang berlaku bagi perusahaan perseroan terbatas. 1.4 Struktur Organisasi Untuk meningkatkan daya saingnya, PT. PINDAD mengembangkan desain organisasi yang fleksibel dan desentralistis. Struktur Organisasi PT. Pindad (Persero) merupakan paduan karakteristik organisasi menurut fungsi dan produk. Susunan organisasinya terdiri dari: direksi dan unit-unit pusat yang sebagai perencana dan pengendali sementara unit-unit usaha sebagai pelakasana oprasional aktivitas program produksi. Berdasarkan struktur dan susunan organisasi tersebut maka PT.Pindad (Persero) dipimpin oleh: 1. Direksi, yang terdiri dari: Direktur Utama. Direktur Perencanaan dan Pengembangan (Dirrenbang). Direktur Produk Militer (Dirprodukmil). Direktur Produk Komersial (Dirprodukkom). Direktur Administrasi dan Keuangan (Dirminku). 2. Pimpinan teras yang terdiri dari staf pembantu direksi yang berada di unit-unit pusat; Kepala Satuan Pengawas Intern. Kepala Sekretariat Perusahaan. Kepala Pusat Pengamanan. Deputi Dirrenbang Bidang Pengembangan Usaha. Deputi Dirrencang Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia. Deputi Dirprodukmil Bidang Penelitian dan Pengembangan. 9
Deputi Dirprodukmil Bidang Pemasaran dan Penjualan. Deputi Dirprodukkom Bidang Pemasaran. Deputi Dirminku Bidang Administrasi. Deputi Dirminku Bidang Keuangan. 3. Unit-unit usaha Kepala Divisi Munisi. Kepala Divisi Senjata. Kepala Divisi Mesin Industri dan Jasa. Kepala Divisi Tempa dan Cor. Kepala Divisi Rekayasa Industri. Kepala Unit Kendaraan Fungsi Khusus. 4. Pejabat lainnya yang setingkat dengan pimpinan teras DIREKTORAT UTAMA SATUAN PENGAWASAN INTERN PUSAT PENGAMANAN SEKRETARIAT PERUSAHAAN UNIT PENELITIAN & PENGEMBANGAN DIREKTUR PERENCANAAN & PENGEMBANGAN DIREKTUR PRODUK MILITER DIREKTUR PRODUK KOMERSIAL DIREKTUR ADMINISTRASI & KEUANGAN DEPUTI DIREKTUR BIDANG PENGEMBANGAN USAHA DEPUTI DIREKTUR BIDANG PENGEMBANGAN SUMBER DAYA DEPUTI DIREKTUR BIDANG PENELITIAN & PENGEMBANGAN DEPUTI DIREKTUR BIDANG PEMASARAN & PENJUALAN DEPUTI DIREKTUR BIDANG PEMASARAN DEPUTI DIREKTUR BIDANG ADMINISTRASI DEPUTI DIREKTUR BIDANG KEUANGAN ANAK PERUSAHAAN PERUSAHAAN PATUNGAN DIVISI MUNISI DIVISI SENJATA DIVISI MESIN INDUSTRI & JASA DIVISI TEMPA & COR DIVISI REKAYASA INDUSTRI UNIT KENDARAAN FUNGSI KHUSUS Sumber: Dokumen Divisi Mijas. Gambar 1.1 Struktur Organisasi PT. Pindad (Persero) Pada proyek akhir ini, akan lebih fokus secara internal mengenai produksi perusahaan PT. Pindad (Persero) dalam Divisi Mesin Industri dan Jasa (Mijas). Struktur organisasi Divisi MIJAS ini pada Gambar 1.2. 10
1.5 Sumber Daya Perusahaan 1.5.1 Sumber Daya Manusia Pengembangan sumber daya manusia telah sering dilakukan terutama sejak perubahan status PINDAD sebagai PT. PINDAD (persero), seperti evaluasi, uraian jabatan, konsep pola karir, pengaturan sistem intensif, alih tugas dan pelatihan personil. Jenis pelatihan yang diberikan kepada pegawai PT. Pindad antara lain kepemimpinan manajerial, manajemen sumber daya manusia, manajemen strategis, bahasa dan administrasi, manajemen pemasaran, proses produksi dan perancangan, manajemen produksi dan mutu, pengembangan pendidikan formal, seminar, lokakarya, dan crash program. Pelatihan-pelatihan tersebut dilakukan baik secara internal maupun di lembaga pendidikan yang ada di dalam maupun luar negeri. Pengalihan kemampuan dan teknologi juga dilakukan PINDAD terutama pada perusahaan penjual lisensi melalui perjanjian technical assistance, seperti SIEMENS, AG-Jerman, KNORR BREMSE-Jerman, FANUC-Jepang, General Electric-AS, HOLEC MA-Belanda, KADIN Jerman. 11
KEPALA DIVISI MESIN INDUSTRI & JASA PENGEMBANGAN PRODUK ADMINISTRASI & KEUANGAN BIRO PENGADAAN KASIR AKUNTANSI KEUANGAN AKUNTANSI KEUANGAN AKUNTANSI KEUANGAN AKUNTANSI KEUANGAN PRODUK ALAT & PERALATAN KAPAL LAUT PEMESINAN SARANA KERETA API PEMELIHARAAN MESIN PEMELIHARAAN MESIN LISTRIK PENJUALAN ENGINEERING MUTU PENJUALAN ENGINEERING PERENCANAAN & PENGENDALIAN PRODUKSI SERTA MUTU PENJUALAN ENGINEERING MUTU PENJUALAN ENGINEERING MUTU PENJUALAN MUTU PERSEDIAAN PERENCANAAN & PENGENDALIAN PRODUKSI SERTA PERSEDIAAN PRODUKSI PERSIAPAN PERAKITAN PERAKITAN PEMESINAN I BUBUT KONVENSIONAL FRANS KONVENSIONAL PEMESINAN II COMPUTER NUMERIC CONTROL I COMPUTER NUMERIC CONTROL II PERAKITAN & FINISHING PERAKITAN & FINISHING PERAKITAN ELEKTRIK PEMELIHARAAN MESIN PEMELIHARAAN ELEKTRIK PEMELIHARAAN MEKANIK PERENCANAAN & PENGENDALIAN PRODUKSI SERTA PERSEDIAAN PRODUKSI PERAKITAN MEKANIK PERAKITAN PNEUMATIK PERENCANAAN & PENGENDALIAN PRODUKSI SERTA PERSEDIAAN JASA MEKANIK PERALATAN PENDUKUNG INSTALASI MEKANIK JASA LISTRIK WINDING INSTALASI LISTRIK PERENCANAAN & PENGENDALIAN PRODUKSI SERTA PERSEDIAAN LABORATORIUM UJI DESTRUCTIVE NON DESTRUCTIVE PLATING METROLOGI & KALIBRASI METROLOGI KALIBRASI DIMENSI KALIBRASI ELEKTRIK & SUHU SELEP COMPUTER NUMERIC CONTROL III FINISHING KIMIA KALIBRASI MEKANIK Sumber: Dokumen Divisi Mijas Gambar 1.2 Struktur Organisasi Divisi Mesin Industri dan Jasa PT. Pindad (Persero) 12
Sampai dengan tanggal 31 Desember 2006, PT. Pindad memiliki total karyawan sebesar 3001 karyawan, dengan jumlah karyawan pada divisi Mesin Industri dan Jasa adalah sebesar 243 karyawan, disamping itu dalam PT. Pindad ada 200 karyawan yang diperbantukan pada anak perusahaan. Gambaran mengenai ketersediaan sumber daya manusia PT. PINDAD (persero) dapat dilihat pada komposisi karyawan berdasarkan tingkat pendidikannya, sebagaimana tabel di bawah ini: Tabel 1.1 Pegawai PT. Pindad berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan Jumlah Persentase (%) SLTA 2411 80.34% D 2 95 3.17% D 3 178 5.93% S 1 268 8.93% S 2 44 1.47% S 3 5 0.17% Jumlah 3001 100 Sumber: Dokumen Divisi Mijas D-2 D-3 SLTA S-1 S-2 S-3 Gambar 1.3 Persentase Pegawai PT. Pindad Berdasarkan Tingkat Pendidikan Dalam divisi Mesin Industri dan Jasa, komposisi pegawai dalam divisi Mesin Industri dan Jasa ditampilkan pada tabel 1.2. 13
Tabel 1.2 Pegawai Divisi MIJAS PT. Pindad Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan Jumlah Persentase (%) SMP 5 2.05% SLTA 172 70.90% D 2 8 3.28% D 3 23 9.43% S 1 28 11.48% S 2 6 2.46% S 3 1 0.41% Jumlah 243 100% Sumber: Dokumen Divisi Mijas Persentase pegawai PT. Pindad dalam Divisi Mesin Industri dan Jasa berdasarkan tingkat pendidikan diperlihatkan dalam gambar dibawah ini: D-2 D-3 S-1 S-2 S-3 SM P SLTA Gambar 1.4 Persentase Pegawai Divisi MIJAS PT. Pindad Berdasarkan Tingkat Pendidikan 1.5.2 Sumber Daya Teknologi Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi terutama dalam bidang pemesinan, PT. Pindad melakukan pengembangan dan penyesuaian jenis produk sesuai dengan kemajuan perkembangan teknologi. Penguasaan teknologi sendiri dianggap merupakan hal yang kritikal dalam memenangkan persaingan bisnis maupun ketahanan bangsa. Program penguasaan teknologi tersebut dilaksanakan secara simultan dengan pengadaan investasi fasilitas produksi. Hal ini dilakukan karena terbatasnya sumber daya yang disediakan pemerintah dan waktu yang lama bagi SDM sampai memenuhi keahlian yang memadai. Proses ini diwujudkan dalam pendekatan : Reverse-engineering Pengembangan dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: 1. Imitatif, yaitu peniruan dari produk yang ada. 14
2. Asimilasi, yaitu peningkatan pemahaman terhadap teknologi produk sehingga mampu menambahkan ciri-ciri (features) produk yang baru terhadap produk yang lama. 3. Perbaikan, yaitu peningkatan kemampuan sehingga dapat menghasilkan rancangan produk baru berdasarkan teknologi produk yang ditiru. Dari segi peningkatan kemampuan personil, pada tahun 2003 telah dilakukan kegiatan pengenalan reverse-engineering, peningkatan kemampuan dasar engineering, dan studi kasus aplikasi reverse-engineering. Pengadaan Fasilitas Pembelian alat-alat yang canggih, presisi, handal dan memiliki kapasitas besar dilakukan dengan harapan akan memberikan nilai tambah seperti lebih hemat energi dan output yang dihasilkan lebih besar. PT. Pindad pun telah menggunakan teknologi seperti CNC (Computer Numerically Controlled), CAD (Computer Aided Design), CAM (Computer Aided Manufacturing Process) serta mesinmesin yang dioperasikan secara manual. Pada akhirnya program ini akan memberikan pengalaman pada perusahaan untuk melakukan penelitian dasar dan perancangan produk masa depan yang dapat menghasilkan produk inovasi. 1.5.3 Sumber Daya Finansial Program pemerintah RI untuk memperbaharui alusista, peningkatan ekspor komponen militer dan pesanan senjata dari pemerintah membuat pendapatan PT Pindad pada 2006 mengalami peningkatan, seperti terlihat pada gambar di bawah ini : 600 Pendapatan (milliar rupiah) 500 400 300 200 100 0 480 400 300 2004 2005 2006 Tahun Sumber: Republika online, 2007 Gambar 1.5 Pendapatan PT. Pindad Kontribusi penjualan produk militer mendominasi pendapatan perusahaan yakni mencapai 60% - 70%, sedangkan sekitar 30% hingga 40% lainnya berasal dari 15
penjualan produk non militer (komersial) 2. Adapun kepemilikan PT. Pindad adalah 100% Pemerintah Republik Indonesia. 1.6. Pemetaan Bisnis Perusahaan 1.6.1. Proses Bisnis Utama PT. Pindad (persero) adalah Perusahaan Industri Manufaktur Indonesia yang bergerak dalam bidang produk militer dan produk komersial. Kegiatan PT. PINDAD mencakup desain dan pengembangan, rekayasa, perakitan dan pabrikan serta perawatan. Produk militer merupakan core business perusahaan sedangkan produk komersial dibuat sebagai produk pendukung saja. Faktor finansial dan kebijakan Pemerintah Indonesia yang dalam pembelian senjata tidak selalu bergantung pada satu sumber membuat PT. Pindad memproduksi produk komersial. Komposisi produk antara produk militer dan komersial tergantung situasi, yaitu 70% kapasitas produksi untuk produk militer dalam situasi keadaaan damai dan 80% dalam situasi perang. Secara umum proses bisnis utama PT. Pindad (Persero) dapat dibagi menjadi 2 tipe, yaitu: 1. Mass Production Type (desain dan pemasaran produk militer) Pada proses ini, PT. Pindad membuat desain sendiri pada produknya atau berdasarkan desain perusahaan lisensi. Pada pembuatan desain dan prototype, PT. Pindad banyak dipengaruhi oleh kebijakan militer pemerintah dan TNI. Proses produksi barang militer di PT. Pindad melibatkan pelanggan, penjual, perencanaan dan pengendalian produksi (Rendalprod), pengadaan, produksi, pemasok, administrasi dan keuangan serta fungsi mutu. Produk yang dihasilkan biasanya memiliki spesifikasi tertentu yang harus dipenuhi, oleh karena itu Divisi Senjata dibagi dalam 12 departemen yang masing-masing berkonsentrasi untuk mendukung pembuatan produk yang memenuhi spesifikasi tersebut. Gambar 1.6 memperlihatkan proses bisnis di Divisi Senjata secara umum. Penjelasan secara garis besar dari proses bisnis Divisi Senjata, Top Manajemen melakukan penelitian dan riset pasar mengenai produk apa yang akan diproduksi untuk waktu kedepan. Bagian Perencanaan membuat rencana-rencana bisnis yang selanjutnya akan diolah oleh LitBang menjadi sebuah produk prototype yang pendanaannya disetujui oleh bagian Anggaran. Produk prototype tersebut 2 www.bppt.co.id, April 2007 16
selanjutnya dikirim ke pelanggan untuk diuji coba. Apabila ternyata produk tersebut berhasil, maka direncanakan proses produksi massal. Order memasuki bagian Rendalprod, di sini akan didesain produk yang terbaik, dan selanjutnya dilakukan uji proses terhadap produk tersebut. Proses selanjutnya yaitu melakukan uji proses terhadap prototype yang dihasilkan. Rancangan desain di kirm ke bagian Engineering untuk dirancangkan produk-produk pendukungnya (jig, fixture, program), disini pula bagian Mutu mulai membuat standar aplikasi untuk quality control. Lalu dari Engineering dan Mutu, rancangan program langsung dikirimkan ke bagian produksi untuk di-install dan rancangan gambar lalu dikirimkan ke bagian PPC untuk dihitung waktu penjadwalan mesin dan material. PPC akan membuat jadwal mesin dan mengirimkannya ke bagian Pengadaan. Oleh bagian Pengadaan, semua material dan tool yang diperlukan akan dibeli, lalu kemudian disimpan digudang. Bagian Perkakas akan membuat peralatan pendukung produksi. Sebelum masuk ke bagian produksi, dilakukan incoming inspection. Produk yang dihasilkan akan disimpan di Gudang untuk selanjutnya diserahkan ke bagian Penjualan. Sistem kontrol yang diterapkan berupa tinjauan dari manajemen dan audit mutu yang dilakukan dengan dua sisi pemeriksaan yaitu internal dan eksternal. Audit mutu internal meliputi pemeriksaan sistem manajemen mutu pada setiap tahapan proses bisnis yang ada di PT. Pindad ini, dimulai dari perancangan desain produk sampai kepada produk akhir. Hasil audit tersebut akan menghasilkan tindakantindakan yang perlu dilakukan untuk perbaikan. 2. Job Order Type (tipe pesanan) untuk produk komersial Tipe ini merupakan produksi barang atau produk berdasarkan pesanan dari pihak-pihak yang membutuhkan. Adapun Divisi-divisi yang bergerak di bidang komersial adalah: Divisi Mesin Industri dan Jasa Menghasilkan produk alat dan peralatan kapal laut, produk sarana kereta api, jasa pemesinan dan jasa pemeliharaan mesin listrik. Divisi Tempa dan Cor Memiliki kapabilitas dalam menghasilkan berbagai produk cor, tempa dan stamping. 17
PERENCANAAN BISNIS/USAHA PENELITIAN & PENGEMBANGAN PERENCANAAN ANGGARAN PIMPINAN PUNCAK KEBIJAKAN, SASARAN MUTU/BISNIS, KOMITMEN PEMASARAN & PENJUALAN PANDUAN MUTU PROSEDUR P E M A S O K KEUANGAN PENGADAAN RENDALPROD PENGEMBANGAN PRODUKSI ENGINEERING QUALITY INSPECTION P E L A N G G A N PRODUKSI PEMELIHARAAN MESIN LINGKUNGAN KERJA INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA MANUSIA TINJAUAN MANAJEMEN AUDIT MUTU EKSTERNAL & INTERNAL ANALISIS & EVALUASI TINDAKAN PERBAIKAN TINDAKAN PENCEGAHAN BERKESINAMBUNGAN Sumber: Dokumen Divisi Mijas Gambar 1.6 Proses Bisnis Divisi Senjata Secara Umum 18
Divisi Rekayasa Industri Memiliki fasilitas manufaktur, pengelasan, pemesinan, laboratorium uji dan kalibrasi serta rancang bangun. Unit Kendaraan Fungsi Khusus Menghasilkan produk kendaraan khusus untuk TNI, seperti tank dan panser. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa pada produksi produk komersial ini, terbagi dalam 4 divisi, yang mana masing-masing divisi memiliki spesifikasi produk sendiri. Akan tetapi secara garis besar, proses bisnis yang dimiliki sama. Yang mana, melibatkan pelanggan, perencanaan dan pengendalian produksi (Rendalprod) pengadaan, produksi, pemasok, administrasi dan keuangan serta fungsi mutu. Proses bisnis pada tipe ini hampir sama dengan tipe Mass Production Type, hanya berbeda pada proses awalnya saja. Pada proses ini terjadi setelah adanya permintaan dari pelanggan untuk melakukan produksi sesuai order. Proses berikutnya terjadi antara divisi mesin industri dan jasa dengan pemasok, serta unit-unit terkait. Hal ini terjadi tentu dengan perencanan bisnis serta tidak lepas dari pemantauan dan pengendalian Top Manajemen. Sistem kontrol yang diterapkan sama dengan semua proses bisnis yang terjadi di semua divisi, berupa tinjauan dari manajemen dan audit mutu secara internal dan eksternal. Audit mutu internal meliputi pemeriksaan sistem manajemen mutu pada setiap tahapan proses bisnis yang ada di PT. Pindad ini, dimulai dari perancangan desain produk sampai kepada produk akhir. Hasil audit tersebut akan menghasilkan tindakan-tindakan yang perlu dilakukan untuk perbaikan secara terus menrus. 19
Perencanaan Bisnis/Usaha Penelitian & Pengembangan PERENCANAAN ANGGARAN Direksi Kebijakan, Sasaran Mutu/ Bisnis, Komitmen Pemasaran PANDUAN MUTU PROSEDUR / Pemasok Kepala Divisi Pengembangan Produksi Penjualan Pemasok Internal Pengadaan RendalProd Enginnering Fungsi Mutu Internal Eksternal Eksternal Administrasi & Keuangan Produksi Pemelihraan Mesin Tinjauan Manajemen Sumber Daya Manusia Infrastruktur & lingkungan Kerja Analisis & Evaluasi Tindakan Perbaikan Audit Mutu Internal & Eksternal Tindakan Pencegahan Berkesinambungan Sumber: Dokumen Divisi Mijas Gambar 1.7 Proses Bisnis Divisi Permesinan dan Jasa 20
1.6.2. Proses bisnis pada divisi Permesinan dan Jasa Produk yang dihasilkan oleh divisi ini ialah produk komersial sehingga dalam prakteknya harus memiliki spesifikasi tertentu yang harus dipenuhi. Untuk mendukung proses bisnis maka divisi ini dibagi dalam 6 departemen dan 1 biro, yaitu: Departemen Administrasi & Keuangan. Departemen Produk Alat & Perlatan Kapal Laut. Deperatemen Permesinan Departemen Sarana Kereta Api Departemen Pemeliharaan Mesin Listrik Biro Pengembangan Produk Masing-masing bagian berkonsetrasi untuk menghasilkan produk yang sesuai order. Secara garis besar proses bisnis divisi ini sama dengan divisi komersial lainnya, yaitu terdiri 3 tahap proses bisnis : 1. Penentuan Konsep dan Prosedur Pembuatan Produk Proses ini dimulai dari perencanaan bisnis atau produk apa yang akan dibuat (customer needs), informasi ini diperoleh dari bagian pemasaran yang berhubungan langsung dengan konsumen. Dari sini kemudian mulai dilakukan penelitian dan pengembangan serta perencanaan anggaran. Setelah semuanya terlaksana direksi yang menentukan dan mengesahkan kebijakan dengan membuat standar panduan mutu produk. 2. Proses Produksi Secara garis besar proses produksi dimulai dari perencanaan dan pengendalian produksi yang dikepalai oleh seorang kepala divisi. Faktor perencanaan dan pengendalian ini ditentukan oleh fungsi pengadaan, administrasi keuangan, pengembangan produksi, penjualan, engineering, fungsi mutu dan fungsi produksi. 3. Evaluasi dan Analisis Proses Kerja Proses Produksi tentunya tidak terlepas dari peran sumber daya manusia, infrastruktur pendukung dan lingkungan kerjanya walaupun setiap prosess selalu dilakukan pengawasan (tindakan perbaikan dan pencegahan secara berkesinambungan) namun evaluasi dan analisis tetap dilakukan. Evaluasi yang ada didasarkan atas tinjauan manajemen dan audit mutu. 21
Proses bisnis Divisi Permesinan dan Jasa secara lengkap dapat dilihat pada Gambar 1.7. 1.7. Profil Departemen Pemeliharaan Mesin Divisi Mijas Bagian perawatan di PT. Pindad mempunyai struktur organisasi yang bertingkat, disesuaikan dengan wilayah kerja serta jenis perawatan yang dilakukan, dimana setiap divisi yang mempunyai beberapa departemen yang mempunyai unit/sub departemen pemeliharaan sendiri. Departemen pemeliharaan mempunyai tugas pokok merawat semua fasilitas produksi terutama mesin produksi. Departemen ini membawahi beberapa unit/sub departemen yaitu : penjualan Sub Departemen Enginnering Sub Departemen Mutu Sub Departemen Perencanaan dan Pengendalian Produksi serta Persediaan Sub Departemen Mekanik Sub Departemen Jasa Listrik Struktur organisasi Depertemen Pemeliharaan Mesin Divisi Mesin Industri dan Jasa (Mijas) dapat dilihat pada gambar struktur oganisasi divisi Mijas. Departemen Pemeliharaan Mesin Divisi Mijas bekerjasama dengan Sub Departemen Pemeliharaan Mesin pada masing-masing departemen produksi. Kegiatan perawatan harian sepenuhnya menjadi tangung jawab pihak departemen produksi dan dibantu oleh Departemen Pemeliharaan Mesin. Secara garis besar, kebijakan perawatan mesin-mesin produksi di bagi menjadi perawatan bersifat preventif dan perawatan bersifat korektif. 1.7.1 Misi dan Tujuan Departemen Pemeliharaan Mesin 3 Misi dan tujuan Departemen Pemeliharaan Mesin adalah sebagai berikut : Memelihara keandalan dan ketersediaan fasilitas dan peralatan pabrik agar dapat berproduksi dan beroperasi sesuai dengan kuantitas, kualitas, dan kapasitasnya. Mengembangkan dan memperbaiki secara terus menerus sistem manajemen dan teknologi perawatan. Mengusahakan penggunaan tenaga sekecil mungkin 3 Dokumen Divsi Pemeliharaan Mesin Listrik 22
1.7.2 Proses Bisnis Departemen Pemeliharaan Mesin Listrik Sistem aktivitas perawatan PT. Pindad secara menyelurh dapat digambarkan sebagai satu kesatuan antara sistem perawatan. Kegiatan perawatan ini menjelaskan aliran informasi dan pembagian job untuk perawatan secara umum. Organisasi yang saling berkaitan di Gambar 1.8, terdiri Departemen Pemeliharaan Mesin, Departemen Produksi, Sub Departemen Pemeliharaan Mesin. Hal ini untuk memudahkan cara pandang sistem secara keseluruhan tanpa mengabaikan anggota organisasi. Informasi Modifikasi & Improvement Sub Dep Enginnering Departemen Pemeliharaan Mesin Departemen Produksi Analisis Kerusakan Data Kualitas Mesin Sub Dep Mutu Jadwal Perawatan Mesin Jadwal Produksi Manajemen Pengadaan Material Sub Dep P3C & Pengadaan Sub Dep. Pemeilharaan Mesin Perawatan korektif Perawatan Pencegahan Periodik Condition Based Maintenance Perawatan Pencegahan Periodik Minggu-an Perawatan Harian Laporan Kegiatan Perawatan Laporan Kegiatan Perawatan Gambar 1.8 Sistem Aktivitas Perawatan Divisi Permesinan Dan Jasa 1.7.2.1 Kegiatan Perawatan Divisi Pemeliharaan Mesin 1. Kebijakan Perawatan Preventif Perawatan preventif dibagi menjadi : Perawatan harian (daily Maintenance) Perawatan ini dilakukan oleh Sub Departemen Pemeliharaan Mesin dibantu oleh operator mesin. Jenis perawatan ini mempunyai tingkat kesulitan yang rendah sampai sedang, adapun kegiatannya terdiri : a. Pembersihan (cleaning) Kegiatan perawatan ini dilakukan pada saat mesin akan di warming-up (pemanasan mesin sebelum dipakai untuk produksi) dan setelah kegiatan manufaktur satu produk selesai, untuk membersihkan sisa-sisa material (yield), debu, oli, sampah yang akan menghalangi oprasional mesin. Kegiatan ini dilakukan oleh operator mesin. 23
b. Pemeriksaan (inspection) Pemeriksaan ini hanya bersifat monitoring, seperti pemeriksaan lampu indikator, sensor, keseimbangan pergerakan motor, kotak circuit utama CNC, dan lain-lain. Pemeriksaan ini dilakukan oleh panca indera operator sebelum pemakaian mesin atau karyawan pemeliharaan mesin saat mesin bekerja. c. Pelumasan (Lubrication) Kegiatan pemberian minyak pelumas pada komponen yang sering bergesekan dan berputar (penambahan minyak pelumas pada oil reservoir). Pelumasan ini dilakukan oleh teknisi pemeliharaan mesin dibantu operator mesin. d. Pengencangan (Tightening) Kegiatan ini dilakukan karyawan pemeliharaan mesin, dengan melakukan pengencangan baut-baut mesin. Perawatan berdasarkan siklus waktu (periodic Maintenance) Perawatan ini mempunyai tingkat kesulitan yang menengah sampai tinggi dibandingkan perawatan harian. Kegiatan ini dilakukan oleh karyawan pemeliharaan mesin, waktu kegiatannya bisa dibagi : a. Perawatan Minggu-an Kegiatan ini dilakukan setiap 1 minggu sekali untuk setiap mesin secara bergantian. Kegiatan secara umum hampir sama dengan perawatan harian namun kompleksitas perwatannya lebih tinggi. Mesin harus dimatikan (maksimal 3 jam) dan dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh (visual check-up) dan detail. Bagian pemeliharaan dibantu oleh operator mesin bekerjasama untuk melakukan kegiatan perawatan minggu-an. b. Perawatan Periodik (PM) Perawatan ini dilakukan berdasarkan waktu yang ditetapkan oleh buku manual mesin atau pengalaman kegiatan perawatan mesin. Kegiatan ini membutuhkan waktu yang relatif lama tergantung ketersediaan komponen dan tingkat keandalan mesin. Perwatannya sendiri difokuskan pada komponen-komponen kritis untuk dilakukan pengecekan, penyetelan, kalibrasi sampai penggantian. Pelaksana perawatan ini dilakukan oleh 24
teknisi Departemen Pemeliharaan Mesin dan Sub Departemen Pemeliharaan Mesin departemen produksi sebagai pendukung. Ruang lingkup periodic Maintenance meliputi pembagian tanggung jawab setiap fungsi yang terkait, mulai dari pembuatan dan pendistribusian jadwal, perlengkapan, proses pengerjaan sampai pelaporan hasil proses pengerjaan. Kegiatan perawatan ini selain dilengkapi dengan tool khusus juga dokumen intruksi sebagai alat kontrol. Jika ditemukan kelainan yang memerlukan perbaikan atau penggantian komponen harus dilaporkan pada Departemen Pemeliharaan Mesin berupa dokumen request for maintenance. 2. Perawatan berdasarkan kondisi peralatan (Condition Based Maintenance) Tujuannya hampir sama dengan jenis perawatan periodik yaitu untuk mengantisipasi terjadinya kegagalan (failure) mesin. Perbedaannya terletak pada penentuan standar penggantian komponen mesin, umumnya lebih ditujukan pada komponen-komponen elektrik. Metoda ini memerlukan peralatan yang dapat mengukur besaran suatu kondisi komponen mesin seperti getaran, arus listrik, panas. Panca indra juga bisa digunakan sebagai cara untuk inspeksi ini seperti pendengaran, meraba dan sebagainya. Keberhasilan cara ini tergantung dari kompleksitas mesin dan keterampilan personil maintenance atau operator produksi. Penggantian akan dilakukan pada saat pemeriksaan harian atau menunggu waktu perawatan periodik bila kondisi komponen sudah menunjukan gejala kerusakan 3. Kebijakan Perawatan Korektif Perawatan ini bersifat memperbaiki, dimana perawatan dilakukan bila terjadi kegagaglan pada mesin sehingga bisa disebut breakdown maintenance (BM). Aktivitas ini didahului dengan mencari kerusakan (trouble shooting) sampai pada perbaikan. Waktu yang dibutuhkan tergantung dari keahlian dari karyawan pemeliharaan mesin dan kesiapan komponen pengganti. 4. Modifikasi Part Sistem Modifikasi yang dilakukan Sub Departemen Enginnering Departemen Pemeliharaan Mesin terhadap fasilitas produksi bertujuan untuk mencegah atau mengurangi resiko kerusakan yang ditimbulkan akibat kelemahan desain mesin. Improvement yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan mesin juga bagian dari modifikasi. Modifikasi dilakukan berdasarkan data-data gangguan dari pihak operator atau pihak perawatan saat melakukan perawatan preventif. Data-data itu 25
kemudian disampaikan ke Sub Departemen Enginnering Departemen Pemeliharaan Mesin, selanjutnya dilakukan studi dengan melihat kondisi dari bagian peralatan yang akan dimodifikasi. 5. Kegiatan Pengadaan Komponen Bila terjadi gangguan mesin, maka bagian perawatan unit pemeliharaan akan menanganinya terlebih dahulu. Unit pemeliharaan akan menyerahkan mesin tersebut ke Depertemen Pemeliharaan Mesin untuk dianalisis kerusakan mesin secara mendalam, bila unit perawatan tidak mampu memperbaiki. Kerusakan komponen akan membuat Departemen Pemeliharaan Mesin melakukan pemesanan komponen kepada Sub Departemen Perencanaan & Pengendalian Produksi serta Persediaan (PPC). Sub Departemen PPC yang mengatur penyediaan komponen akan mengorder komponen pada Sub Departemen Penjualan atau Departemen perawatan untuk pembuatan komponen. Order pembelian komponen dengan komponen dengan harga lebih dari Rp. 10.000.000,00 harus melalui Biro Pengadaan di kantor pusat. 6. Pelatihan Manajemen Perawatan PT. Pindad untuk memperlancar kerjasama antara pihak produksi dengan pihak pemeliharaan mesin telah melakukan pelatihan dan pembagian kerja. Pelatihan dilakukan secara langsung di lantai produksi seperti saat briefing pekerjaan, kejadian failure, saat preventive maintenance atau saat ada intruksi baru dari revisi program perawatan. 7. Proses Analisis Kegagalan (Failure Analysis) Departemen Pemeliharaan Mesin Divisi Mijas untuk mengukur perfomansi fasilitas produksi mengunakan pendekatan failure analysis yaitu dengan cara meningkatkan mean time between failure (MTBF) atau kehandalan fasilitas dengan merevisi kegiatan perawatan preventif. Proses yang dilakukan untuk analisa kegagalan ialah dengan mengevaluasi data dari historical record facility, lalu ditentukan cara untuk memperkecil frekuensi kegagalannya sesuai kondisi terakhir fasilitas yang berupa prediksi. Hasilnya menjadi dasar revisi kegiatan perawatan preventif. Revisi kegiatan tersebut berisi : Interval waktu pelaksanaan perawatan preventif yang optimum. Tool atau material yang dibutuhkan dan nilai setting part yang sesuai. Estimate jumlah pelaksana, waktu perawatan. 26
Untuk memperkecil frekuensi kegagalan haruslah diketahui dahulu kasus yang terjadi yang timbul dan penyebabnya serta tindakan yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi, dalam hal ini data terdapat pada data historis perawatan mesin. 1.7.3. Kegiatan Perawatan Divisi Permesinan Dan Jasa Pelaksanaan kegiatan perawatan di PT. Pindad tidak hanya dilakukan Departemen Pemeliharaan Mesin namun juga oleh Sub Departemen Pemeliharaan Mesin bagian produksi, keduanya bekerjasama menjaga keandalan mesin. Kegiatan perawatan oleh bagian produksi ini bila dianalogikan dengan pelaksanaan TPM maka dapat dikatakan sebagai kegiatan autonomous maintenance by operator, sehingga bagian pemeliharaan mesin dapat fokus pada kegiatan lainnya (overhaul, modifikasi, reparasi). Kegiatan perawatan ini secara langsung dapat meningkatkan produktivitas perusahaan. Kegiatan tersebut antara lain dapat di lihat pada tabel 1.3. 1.7.3.1 Pelaksanaan Aktivitas 5R Aktivitas ini merupakan suatu program yang ditujukan pada shop floor secara umum meliputi ringkas, rapi, resik, rawat dan rajin. Program 5R sangat mendukung keefektifan kerja di perusahaan,karena dengan semakin disiplinnya para karyawan menerapkan program ini, maka akan semakin teratur, terkendali dan terarah kondisi kerja di perusahaan. Selain itu 5R, secara tidak langsung ikut meningkatkan efisiensi perawatan mesin. Pelaksanaan program 5R telah berjalan, sehingga operator telah mempunyai dasar-dasar keterampilan dan motivasi untuk melaksanakan program perawatan mesin. Pelaksanaan 5R dapat merupakan awal untuk pelaksanaan peningkatan efektivitas mesin. Arti dari aktivitas 5R adalah : 1. Ringkas : Menggunakan peralatan yang diperlukan dan menyingkirkan barangbarang yang tidak diperlukan. 2. Rapi : Mengutamakan keteraturan dan kerapihan. 3. Resik : Menjaga kebersihan lingkungan kerja. 4. Rawat : Menjaga segala fasilitas yang ada dari kerusakan. 5. Rajin : Menjaga kedisplinan kerja dengan semangat dan motivasi tinggi. 27
Tabel 1.3 Kegiatan Perawatan Berdasarkan Fungsi Departemen PENDAHULUAN Bagian Maintenance 1. Mengarahkan dan Pembuatan petunjuk perawatan membantu operator Membantu secara oprasional 2. Meningkatkan Daya Efektivitas dan efisiensi perawatan Pemeliharaan Kemampuan manajemen perawatan Teknologi perawatan Penetapan standar perawatan 3. Pengembangan (improvement) Sistem informasi manajemen Analisa kegiatan Kerjasama dengan vendor mengenai spare part 1. Pencegahan Kerusakan 2. Perbaikan Mesin Bagian Produksi Bekerjasama dengan bagian maintenance Menjaga kondisi dasar mesin Mencatat data kegiatan perawatan mesin dan kondisi mesin Melaksanakan perawatan harian Melaksanakan perawatan periodik Perbaikan minor Melaporkan breakdown secepatnya Membantu fungsi maintenance 1.8. Program Kerja PT. Pindad Untuk menjawab tantangan ini, pada tahun 2001 PT. Pindad telah membentuk usaha-usaha baru dan meningkatkan fasilitas yang dimiliki, agar mampu menghasilkan produk dengan akurasi tinggi dengan harga bersaing. Fasilitas semacam itu diperlukan untuk memenuhi paradigama baru yaitu penetrasi pasar dan konsumen baru bagi PT. Pindad. Diharapkan usaha-usaha ini akan memberikan kontribusi cukup besar pada perusahaan ditahun yang akan datang. Program kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan dituangkan dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP), adalah sebagai berikut : 1. Bidang bisnis Memperkuat posisi perusahaan di pasar dengan menghasilkan produk baru dan penetrasi pasar produk argo industri. Mengembangkan usaha baru dalam bidang plastic part dan detonator listrik untuk memperkuat bisnis bahan peledak komersial. 28
2. Bidang Operasi/Produksi Melakukan kerjasama BUMN dalam rangka pembuatan mekanik dan kontrol serta pengembangan mikro elektronik di bidang militer dan pertahanan. Mendukung kegiatan pemasaran dan penjualan dengan mengantisipasi kebutuhan bahan dan komponen serta jadwal pengiriman. Tetap menjaga ketersediaan mesin produksi dengan menerapkan cara-cara pemeliharaan yang ditetapkan. Mempertahankan sertifikat ISO 9000 versi 2000 untuk memperkuat daya saing usaha. 3. Penelitian dan Pengembangan Mengaplikasi konsep reverse enginnering baik dengan kerjasama dengan mitra yang saling mengutungkan ataupun tidak melakukan kerjasama. Memfokuskan pada pengembangan produk-produk yang merupakan usaha utama perusahaan yaitu : alat dan peralatan militer serta alat dan peralatan argo industri. 4. Bidang Sumber Daya Manusia Menggunakan sistem manajemen SDM berbasis kompetensi dalam mengoptimalkan penggunaan SDM yang ada, pengukuran kinerja SDM dan pengembangan SDM. Jumlah personil diarahkan kepada jumlah yang tepat untuk mendukung operasi perusahaan secara efisien dan efektif. 29