BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
PERBEDAAN KONSENTRASI KARAGENAN TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK JELLY DRINK ROSELA-SIRSAK

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENGARUH PERBEDAAN KONSENTRASI KARAGENAN TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK JELLY DRINK PEPAYA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

LAMPIRAN 1 SPESIFIKASI BAHAN PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Waktu dan Tempat Penelitian.

BAB V PEMBAHASAN 5.1. Sifat Fisikokimia Kadar Air

I PENDAHULUAN. (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian,

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2)

I PENDAHULUAN. kesehatan. Nutrisi dalam black mulberry meliputi protein, karbohidrat serta

1989).Sampel sebanyak 2 g dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 500ml. balik. Didihkan selama 30 menit dan kadang kala digoyang- goyangkan.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

LEMBAR KUESIONER PENILAIAN SENSORIS PRODUK SUSU UHT FULL CREAM PADA RESPONDEN DEWASA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Kadar Air

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (6) Hipotesa dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Kombinasi Protein Koro Benguk dan Karagenan Terhadap Karakteristik Mekanik (Kuat Tarik dan Pemanjangan)

Lampiran 1. Prosedur Analisa Sampel

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN PERMEN JELLY DARI KARAGENAN DAN KONJAK

HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENENTUAN JENIS BAHAN PENGENTAL

BAB III METODE PENELITIAN. A. JENIS PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian eksperimen di bidang teknologi pangan.

LAMPIRAN A A.1 Pengujian Total Padatan Terlarut (SNI yang dimodifikasi*) Dengan pengenceran A.2 Pengujian Viskositas (Jacobs, 1958)

NASKAH PUBLIKASI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Biologi A

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN PERMEN JELLY DARI KARAGENAN DAN KONJAK

KANDUNGAN VITAMIN C DAN ORGANOLEPTIK SELAI JAMBU BIJI DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK KELOPAK BUNGA ROSELLA DAN BUAH BELIMBING WULUH NASKAH PUBLIKASI

kerusakan, dan dapat menurunkan kualitas dari buah-buahan.

I PENDAHULUAN. Bab ini akan menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian,

4. PEMBAHASAN Analisa Sensori

PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Fisik Volume Pengembangan Roti Manis

I. PENDAHULUAN. Buah naga (Hylocereus polyrhizus) merupakan buah yang saat ini cukup populer

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering

LAMPIRAN A PROSEDUR ANALISIS

PENGARUH KONSENTRASI KARAGENAN DAN GULA PASIR TERHADAP KARAKTERISTIK MINUMAN JELLY BLACK MULBERRY (Morus nigra L.)

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

4. PEMBAHASAN 4.1. Warna Larutan Fikosianin Warna Larutan secara Visual

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah,

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini menjelaskan mengenai (1.1) Latar Belakang Masalah, (1.2) Identifikasi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pot III : Pot plastik tertutup tanpa diberi silika gel. Pot IV : Pot plastik tertutup dengan diberi silika gel

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

PEMBAHASAN. I. Definisi

I. PENDAHULUAN. Ubi jalar (Ipomoea batatas L) merupakan salah satu hasil pertanian yang

BAB III METODE PENELITIAN. A. JENIS PENELITIAN Penelitian ini termasuk penelitian jenis eksperimen dibidang Ilmu Teknologi Pangan.

Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Larutan Perendam terhadap Rendemen Gelatin

Studi Komposisi Sari Jagung Manis dan Karagenan Pada Kualitas Jeli Jagung Manis

BAB I PENDAHULUAN. bahan dalam pembuatan selai adalah buah yang belum cukup matang dan

I PENDAHULUAN. (6) Hipotesis Penelitian, (7) Tempat dan Waktu Penelitian

III. METODOLOGI PENELITIAN

SKRIPSI OLEH: YONATHAN SUSILO ADI PRASETYO

PEMANFAATAN Gracilaria sp. DALAM PEMBUATAN PERMEN JELLY

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Tomat termasuk buah klimaterik dimana terjadi peningkatan proses

Tabel Lampiran 1. Pengaruh Suhu dan Kelembaban terhadap Resistensi Kulit Buah Manggis

1 I PENDAHULUAN. (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis Penelitian, dan (1.7) Waktu dan Tempat

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. Es lilin merupakan salah satu jajanan pasar yang telah lama dikenal oleh

BAB III METODOLOGI. A. Waktu dan Tempat. B. Alat dan Bahan. C. Prosedur Penelitian

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf. Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

NASKAH PUBLIKASI RISA DHALIA A

METODELOGI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. bermanfaat jika diolah, misalnya dibuat marmalade (Sarwono, 1991). Bagian

PENDAHULUAN. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas (2014), sebanyak 40,6%

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

NASKAH PUBLIKASI. Disusun oleh : PUJI ASTUTI A

UJI ORGANOLEPTIK DAN KANDUNGAN VITAMIN C PADA PEMBUATAN SELAI BELIMBING WULUH DENGAN PENAMBAHAN BUAH KERSEN DAN BUNGA ROSELA

PEMANFAATAN KARAGENAN DAN ASAM SITRAT UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS TAHU

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

1 PENDAHULUAN. Pemikiran, dan (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian Tahap Pertama. Tabel 6. Komposisi Kimia TDTLA Pedaging

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

I PENDAHULUAN. halaman tempat tinggal (Purwaningsih, 2007).

METODOLOGI PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pasca Panen Fakultas Pertanian

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu

I PENDAHULUAN. masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka

PENDAHULUAN. Buah-buahan tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi sebagian

I. PENDAHULUAN. selama penyimpanan (teroksidasinya senyawa fenol, perubahan warna), kurang praktis dalam penanganan, distribusi dan aplikasinya.

BAB I PENDAHULUAN. selai adalah buah yang masak dan tidak ada tanda-tanda busuk. Buah yang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pembuatan Tablet Effervescent Tepung Lidah Buaya. Tablet dibuat dalam lima formula, seperti terlihat pada Tabel 1,

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan September Desember 2016 di

BAB V METODOLOGI. 5.1 Alat dan Bahan yang Digunakan Alat yang Digunakan

Transkripsi:

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Jelly drink rosela-sirsak dibuat dari beberapa bahan, yaitu ekstrak rosela, ekstrak sirsak, gula pasir, karagenan, dan air. Tekstur yang diinginkan pada jelly drink adalah mantap dan saat dikonsumsi menggunakan bantuan sedotan mudah hancur, namun bentuk gel-nya masih terasa di mulut (Saputra, 2007). Gelling agent yang digunakan adalah karagenan. Penggunaan karagenan dengan berbagai konsentrasi akan berpengaruh terhadap sifat fisikokimia dan organoleptik jelly drink rosela-sirsak yang dihasilkan. Pengujian yang dilakukan pada produk jelly drink rosela-sirsak meliputi sifat fisikokimia (laju alir, viskositas, ph, dan sineresis hari ke-1, 7, dan 14 penyimpanan) dan organoleptik (warna, daya hisap, dan rasa). 5.1. Laju Alir Laju alir adalah jarak yang ditempuh oleh suatu benda untuk mengalir pada suatu bidang per satuan waktu. Pengujian laju alir dilakukan untuk mengetahui kemampuan karagenan mengikat air. Laju alir dipengaruhi oleh viskositas jelly drink rosela-sirsak yang akan mempengaruhi penerimaan konsumen terhadap uji organoleptik, yaitu nilai kesukaan terhadap daya hisap. Selain itu, laju alir jelly drink roselasirsak juga dipengaruhi oleh derajat kemiringan plat kaca yang diperoleh dengan cara menghitung sudut dari pengukuran panjang kemiringan dan tinggi plat kaca serta gaya gesek antara kaca dengan jelly drink roselasirsak. Nilai laju alir didapat dari jarak yang ditempuh oleh jelly drink rosela-sirsak untuk mengalir pada plat kaca miring per detik dengan berat sampel sebesar 15 gram dan derajat kemiringan plat kaca sebesar 11,54 (pengukuran dapat dilihat pada Lampiran 3.1.). 25

Laju alir (cm/detik) 26 Laju alir jelly drink rosela-sirsak dapat dilihat pada Gambar 5.1. Laju alir jelly drink rosela-sirsak berkisar antara 1,19-15,47 cm/detik. Hasil analisa statistik menggunakan uji ANOVA (dapat dilihat pada Lampiran 7.1.) menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi karagenan berpengaruh nyata pada laju alir jelly drink rosela-sirsak. Pengujian lanjutan dengan uji DMRT (dapat dilihat pada Lampiran 7.1.) dilakukan untuk mengetahui konsentrasi karagenan dengan rentang 0,05% yang memberikan perbedaan nyata pada nilai laju alir jelly drink rosela-sirsak. Laju alir jelly drink rosela-sirsak terendah pada penambahan karagenan sebesar 0,50%, yaitu 15,47 cm/detik dan tertinggi pada penambahan karagenan sebesar 0,20%, yaitu 1,19 cm/detik. 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 15,47 g 9,64 f 5,51 e 4,68 d 2,67 c 2,07 b 1,19 a 0,20% 0,25% 0,30% 0,35% 0,40% 0,45% 0,50% Konsentrasi Karagenan Keterangan: notasi huruf yang berbeda menunjukkan ada perbedaan nyata pada α = 5%. Gambar 5.1. Grafik Laju Alir Jelly Drink Rosela-Sirsak Laju alir jelly drink rosela-sirsak menurun seiring dengan meningkatnya konsentrasi karagenan yang ditambahkan. Karagenan memiliki kemampuan untuk mengikat air sehingga semakin tinggi konsentrasi karagenan yang ditambahkan pada jelly drink rosela-sirsak maka semakin banyak air yang terikat oleh karagenan. Rantai polimer

27 karagenan akan saling melilit membentuk double helix yang memerangkap air bebas, ketika dilakukan pendinginan membentuk sebuah gel yang kokoh (Therkelsen, 1993). Banyaknya air yang terikat oleh karagenan menyebabkan jelly drink rosela-sirsak menjadi semakin liat sehingga koefisien gesek antara jelly drink dengan kaca semakin besar, jarak yang diperlukan untuk menempuh plat kaca miring per detik semakin pendek, dan laju alir semakin kecil. 5.2. Viskositas Viskositas adalah gesekan yang ditimbulkan oleh fluida yang bergerak, atau benda padat yang bergerak di dalam fluida (Martoharsono, 2006). Pengujian viskositas dilakukan untuk mengetahui tingkat kekentalan jelly drink rosela-sirsak karena viskositas akan mempengaruhi penerimaan konsumen terhadap uji organoleptik, yaitu nilai kesukaan terhadap daya hisap jelly drink rosela-sirsak, dan laju alir jelly drink rosela-sirsak. Nilai viskositas didapat dari angka yang terbaca pada alat viskometer RION VISCOTESTER VT-04F, yaitu dengan mengukur kemampuan spindel 1 pada alat viskometer untuk berputar. Penelitian Astuti dan Agustia (2011) menunjukkan bahwa minuman jeli fungsional dengan penambahan kadar hidrokoloid total (agar, kappa karagenan, dan konjak glukomanan) sebanyak 0,70% menghasilkan viskositas sebesar 3,84 Pa.s. Viskositas jelly drink roselasirsak dapat dilihat pada Gambar 5.2. Viskositas jelly drink rosela-sirsak berkisar antara 1,10-9,58 dpa s. Hasil analisa statistik menggunakan uji ANOVA (dapat dilihat pada Lampiran 7.2.) menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi karagenan berpengaruh nyata pada viskositas jelly drink rosela-sirsak. Pengujian lanjutan dengan uji DMRT (dapat dilihat pada Lampiran 7.2.) dilakukan untuk mengetahui konsentrasi karagenan

Viskositas (dpa s) 28 dengan rentang 0,05% yang memberikan perbedaan nyata pada nilai viskositas jelly drink rosela-sirsak. Viskositas jelly drink rosela-sirsak yang paling encer pada penambahan karagenan sebesar 0,20%, yaitu 1,10 dpa s dan yang paling kental pada penambahan karagenan sebesar 0,50%, yaitu 9,58 dpa s. 12 10 9,58 g 8 7,15 f 6 4 2 1,10 a 1,93 b 2,73c 3,90 d 4,70 e 0 0,20% 0,25% 0,30% 0,35% 0,40% 0,45% 0,50% Konsentrasi Karagenan Keterangan: notasi huruf yang berbeda menunjukkan ada perbedaan nyata pada α = 5%. Gambar 5.2. Grafik Viskositas Jelly Drink Rosela-Sirsak Viskositas jelly drink rosela-sirsak meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi karagenan yang ditambahkan. Karagenan memiliki kemampuan dalam membentuk gel dimana rantai-rantai polimer membentuk jala tiga dimensi yang bersambungan, selanjutnya jala ini menangkap air di dalamnya dan membentuk struktur yang kuat dan kaku. Konsistensi gel dipengaruhi beberapa faktor yaitu jenis karagenan, konsistensi, adanya ion-ion serta pelarut yang menghambat pembentukan hidrokoloid (Iglauer et al., 2011). Kemampuan karagenan mengikat air dalam jumlah yang besar yang menyebabkan ruang antar partikel menjadi

29 lebih sempit sehingga semakin banyak air yang terikat dan terperangkap menjadikan larutan bersifat keras (Agustin dan Putri, 2014). 5.3. ph ph (derajat keasaman) merupakan suatu indeks kadar ion hidrogen (H + ) yang mencirikan keseimbangan asam basa dan memiliki kisaran nilai antara 1 sampai dengan 14. Pengujian ph dilakukan karena ph mempengaruhi penerimaan konsumen terhadap uji organoleptik, yaitu nilai kesukaan terhadap warna dan rasa jelly drink rosela-sirsak serta berkaitan dengan laju alir, viskositas, dan sineresis jelly drink roselasirsak. Pengujian ph jelly drink rosela-sirsak dilakukan dengan menggunakan alat ph meter, yaitu dengan mengukur banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H + ) dalam produk jelly drink rosela-sirsak. Penelitian Agustin dan Putri (2014) menunjukkan bahwa jelly drink belimbing wuluh dengan penambahan karagenan sebanyak 1,20% menghasilkan ph sebesar 3,43. ph jelly drink rosela-sirsak dapat dilihat pada Gambar 5.3. ph jelly drink rosela-sirsak berkisar antara 3,57-3,68. Hasil analisa statistik menggunakan uji ANOVA (dapat dilihat pada Lampiran 7.3.) menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi karagenan berpengaruh nyata pada ph jelly drink rosela-sirsak. Pengujian lanjutan dengan uji DMRT (dapat dilihat pada Lampiran 7.3.) dilakukan untuk mengetahui konsentrasi karagenan dengan rentang 0,05% yang memberikan perbedaan nyata pada ph jelly drink rosela-sirsak. ph jelly drink rosela-sirsak terendah pada penambahan karagenan sebesar 0,20% dan 0,25%, yaitu 3,57 dan 3,58 dan tertinggi pada penambahan karagenan sebesar 0,45% dan 0,50%, yaitu 3,67 dan 3,68. Pembuatan jelly drink rosela-sirsak menggunakan ekstrak rosela dengan ph 2,76 dan ekstrak sirsak dengan ph 4,45. Jumlah ekstrak rosela dan sirsak yang digunakan pada pembuatan jelly drink rosela-sirsak

ph 30 sama pada setiap perlakuan dengan ph 3,49, perbedaannya pada jumlah karagenan yang ditambahkan pada setiap perlakuan. Ekstrak rosela digunakan selain untuk memperbaiki warna jelly drink rosela-sirsak juga mempengaruhi tingkat keasaman (Emerton, 2003). ph jelly drink roselasirsak lebih tinggi daripada campuran ekstrak rosela-sirsak. Penambahan karagenan mempengaruhi nilai ph yang ditunjukkan dengan semakin meningkatnya konsentrasi karagenan maka nilai ph akan meningkat. 4 3,57 a 3,58 a 3,60 b 3,61 b 3,63 c 3,67 d 3,68 d 3 2 1-0,20% 0,25% 0,30% 0,35% 0,40% 0,45% 0,50% Konsentrasi Karagenan Keterangan: notasi huruf yang berbeda menunjukkan ada perbedaan nyata pada α = 5%. Gambar 5.3. Grafik ph Jelly Drink Rosela-Sirsak ph jelly drink rosela-sirsak meningkat namun tidak signifikan dengan meningkatnya konsentrasi karagenan yang ditambahkan sehingga antar perlakuan yang berdekatan menghasilkan ph yang tidak berbeda nyata. Karagenan merupakan getah rumput laut yang diesktraksi dengan larutan alkali sehingga bersifat basa (Andriani, 2008). Karagenan stabil pada ph netral atau basa dan kestabilan karagenan menurun pada ph asam, namun saat gel sudah terbentuk maka gel akan tetap stabil (Porto, 2003). ph yang meningkat pada jelly drink rosela-sirsak membuat kestabilan gel menjadi semakin kokoh sehingga laju alir akan menurun

31 dan viskositas akan meningkat. ph yang meningkat juga mempengaruhi warna jelly drink rosela-sirsak. Warna jelly drink rosela-sirsak akan semakin pudar seiring meningkatnya ph karena penggunaan ekstrak rosela yang memiliki pigmen antosianin yang pada suasana asam akan berwarna merah dan pada suasana basa akan berwarna biru-ungu. 5.4. Sineresis Sineresis merupakan peristiwa keluarnya atau merembesnya cairan dalam suatu sistem gel (Winarno, 2004). Sineresis terjadi karena sistem gel kehilangan energi aktivasinya sehingga air yang terperangkap dalam sistem gel menjadi keluar meninggalkan sistem (Widjanarko, 2008). Selama penyimpanan memungkinkan adanya penurunan suhu secara terus-menerus yang dapat menyebabkan proses pembentukan agregat terus terjadi dan gel akan mengerut sambil melepaskan air sehingga terjadilah sineresis (Fardiaz, 1989). Keluarnya air dari sistem gel akan menurunkan kualitas jelly drink rosela-sirsak secara organoleptik. Nilai sineresis didapat dari persen berat jelly drink rosela-sirsak awal dan berat setelah air yang terpisah dari sistem gel diambil dengan kertas saring pada hari ke-1, 7, dan 14 penyimpanan. Penelitian Sutrisno (2012) menunjukkan bahwa jelly drink teh hitam dengan penambahan karagenan sebanyak 0,30% pada hari ke-14 penyimpanan menghasilkan sineresis sebesar 4,53%. Sineresis jelly drink rosela-sirsak dapat dilihat pada Gambar 5.4. Sineresis jelly drink roselasirsak berkisar antara 2,65-4,48%. Hasil analisa statistik menggunakan uji ANOVA (dapat dilihat pada Lampiran 7.4.) menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi karagenan berpengaruh nyata pada sineresis jelly drink rosela-sirsak. Pengujian lanjutan dengan uji DMRT (dapat dilihat pada Lampiran 7.4.) dilakukan untuk mengetahui konsentrasi karagenan dengan rentang 0,05% yang memberikan perbedaan nyata pada nilai

32 sineresis jelly drink rosela-sirsak. Sineresis jelly drink rosela-sirsak terendah pada penambahan karagenan sebesar 0,50% dan hari ke-1 penyimpanan, yaitu 2,65% dan tertinggi pada penambahan karagenan sebesar 0,20% dan hari ke-14 penyimpanan, yaitu 4,48%. Sineresis jelly drink rosela-sirsak menurun seiring dengan meningkatnya konsentrasi karagenan yang ditambahkan. Konsentrasi karagenan sebagai gelling agent yang terlalu kecil menyebabkan penyerapan air yang terlalu banyak sehingga gel yang terbentuk rapuh dan mudah mengalami sineresis (Muriana, 2013). Penambahan konsentrasi karagenan pada jelly drink rosela-sirsak menyebabkan tingkat sineresis menurun karena terbentuk struktur double helix yang kuat sehingga dapat menangkap dan mengikat air sehingga molekul air dalam gel tidak mudah lepas yang akan mengurangi terjadinya sineresis (Agustin dan Putri, 2014). Tabel 5.1. Rata-rata Sineresis (%) Jelly Drink Rosela-Sirsak Perlakuan Hari Penyimpanan 1 7 14 0,20% 3,99 d 4,18 e 4,48 d 0,25% 3,50 c 3,76 d 3,99 c 0,30% 3,36 c 3,60 cd 3,81 bc 0,35% 3,22 bc 3,48 cd 3,67 abc 0,40% 3,03 abc 3,39 bc 3,61 abc 0,45% 2,91 ab 3,05 ab 3,52 ab 0,50% 2,65 a 2,99 a 3,34 a Keterangan: notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan ada perbedaan nyata pada α = 5%. Sineresis jelly drink rosela-sirsak meningkat seiring dengan meningkatnya lama penyimpanan karena selama penyimpanan agregasi antar double helix rantai polimer karagenan terus terjadi. Agregasi ini disebabkan oleh pergerakan rantai polimer karagenan dalam sistem gel. Proses pemanasan dengan suhu yang lebih tinggi dari suhu pembentukan gel akan mengakibatkan polimer karagenan dalam larutan menjadi

Sineresis (%) 33 random coil (acak) karena energi kinetik yang ditimbulkan oleh panas menghalangi polimer karagenan membentuk struktur helix (Sadar, 2004). Rantai polimer karagenan yang saling bertemu menyebabkan terbentuknya ikatan hidrogen antar rantai polimer karagenan tersebut sehingga struktur jaringan karagenan semakin rapat dan ruang untuk memerangkap air semakin kecil. Akibatnya, air yang semula terperangkap dalam ruang antar rantai polimer karagenan lepas dan keluar dari sistem gel (Therkelsen, 2003). 6 5 4 3 2 1 Hari 1 Hari 7 Hari 14 0 0,20% 0,25% 0,30% 0,35% 0,40% 0,45% 0,50% Konsentrasi Karagenan Gambar 5.4. Grafik Sineresis Jelly Drink Rosela-Sirsak 5.5. Organoleptik Kesukaan Pengujian organoleptik jelly drink rosela-sirsak meliputi tingkat kesukaan terhadap warna, daya hisap, dan rasa. Jelly drink rosela-sirsak yang diujikan merupakan jelly drink yang telah setting (sudah disimpan dalam kulkas selama 24 jam). Pengujian kesukaan ini menggunakan panelis tidak terlatih sebanyak 80 panelis. Metode yang digunakan adalah metode skor garis dengan nilai 1-9 (dapat dilihat pada Lampiran 4). Pengujian organoleptik ini dilakukan untuk melihat respon penerimaan

34 dari 80 panelis yang ada terhadap kesukaan warna, daya hisap, dan rasa jelly drink rosela-sirsak dengan perbedaan konsentrasi karagenan yang ditambahkan. 5.5.1. Warna Warna merupakan salah satu parameter yang menjadi acuan dalam membuat sebuah produk sebelum dipasarkan kepada konsumen karena warna dapat mempengaruhi penerimaan konsumen. Produk pangan dengan warna yang menarik lebih diminati daripada produk pangan dengan warna yang kurang menarik (warna pucat atau terlalu gelap). Pengujian sifat organoleptik warna jelly drink rosela-sirsak dengan perbedaan konsentrasi karagenan yang ditambahkan dilakukan dengan metode Hedonic Scale Scoring menggunakan skala garis 1-9. Uji kesukaan terhadap warna merupakan kesukaan panelis ketika melihat warna jelly drink rosela-sirsak. Nilai kesukaan terhadap warna jelly drink rosela-sirsak dapat dilihat pada Gambar 5.5. Nilai kesukaan terhadap warna jelly drink rosela-sirsak berkisar antara 5,00-6,09 (netral-agak suka). Hasil analisa statistik menggunakan uji ANOVA (dapat dilihat pada Lampiran 7.5.) menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi karagenan berpengaruh nyata pada nilai kesukaan terhadap warna jelly drink rosela-sirsak. Pengujian lanjutan dengan uji DMRT (dapat dilihat pada Lampiran 7.5.) dilakukan untuk mengetahui konsentrasi karagenan dengan rentang 0,05% yang memberikan perbedaan nyata pada nilai kesukaan terhadap warna jelly drink rosela-sirsak. Nilai kesukaan terhadap warna jelly drink roselasirsak terendah pada penambahan karagenan sebesar 0,45% dan 0,50%, yaitu 5,00 dan 5,00 dan tertinggi pada penambahan karagenan sebesar 0,20%-0,40%, yaitu 6,09-5,68. Nilai kesukaan terhadap warna jelly drink rosela-sirsak menurun seiring dengan meningkatnya konsentrasi karagenan yang ditambahkan.

Nilai Kesukaan Terhadap Warna 35 Pembuatan jelly drink rosela-sirsak menggunakan ekstrak rosela untuk memperbaiki warna sirsak yang pucat dan tidak disukai oleh konsumen sehingga jelly drink yang dihasilkan berwarna merah yang berasal dari warna merah rosela yang kuat. Rosela memiliki pigmen antosianin yang memberi warna merah pada rosela dan sangat peka terhadap asam. Pigmen antosianin akan berwarna merah pada suasana asam dan berwarna biru-ungu pada suasana basa. Penambahan rosela juga membuat suasana jelly drink rosela-sirsak menjadi asam sehingga tidak perlu penambahan asam sitrat. 8 7 6 5 4 3 2 1 0 6,09 b 5,92 b 5,88 b 5,74 b 5,68 b 5,09 a 5,00 a 0,20% 0,25% 0,30% 0,35% 0,40% 0,45% 0,50% Konsentrasi Karagenan Keterangan: notasi huruf yang berbeda menunjukkan ada perbedaan nyata pada α = 5%. Gambar 5.5. Grafik Nilai Kesukaan Terhadap Warna Jelly Drink Rosela- Sirsak Jelly drink rosela-sirsak memiliki ph yang asam sehingga warna jelly drink menjadi merah dan disukai oleh panelis. Peningkatan konsentrasi karagenan yang ditambahkan pada jelly drink rosela-sirsak menurunkan nilai kesukaan terhadap warna karena karagenan bersifat basa sehingga semakin tinggi konsentrasi karagenan yang ditambahkan akan membuat ph jelly drink meningkat dan warna merah dari pigmen

36 antosianin rosela berkurang intensitasnya sehingga warna jelly drink menjadi pucat dan kurang disukai oleh panelis. 5.5.2. Daya Hisap Kemudahan jelly drink dihisap dengan menggunakan bantuan sedotan merupakan salah satu parameter penilaian yang utama pada produk jelly drink. Jelly drink yang diharapkan adalah mempunyai konsistensi gel yang kuat namun memiliki daya hisap yang baik (mudah dihisap dengan sedotan oleh panelis). Pengujian sifat organoleptik warna jelly drink rosela-sirsak dengan perbedaan konsentrasi karagenan yang ditambahkan dilakukan dengan metode Hedonic Scale Scoring menggunakan skala garis 1-9. Uji kesukaan terhadap daya hisap merupakan kesukaan panelis ketika menghisap jelly drink rosela-sirsak menggunakan sedotan. Nilai kesukaan terhadap daya hisap jelly drink rosela-sirsak dapat dilihat pada Gambar 5.6. Nilai kesukaan terhadap daya hisap jelly drink rosela-sirsak berkisar antara 5,00-6,35 (netral-agak suka). Hasil analisa statistik menggunakan uji ANOVA (dapat dilihat pada Lampiran 7.5.) menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi karagenan berpengaruh nyata pada nilai kesukaan terhadap daya hisap jelly drink rosela-sirsak. Pengujian lanjutan dengan uji DMRT (dapat dilihat pada Lampiran 7.5.) dilakukan untuk mengetahui konsentrasi karagenan dengan rentang 0,05% yang memberikan perbedaan nyata pada nilai kesukaan terhadap daya hisap jelly drink rosela-sirsak. Nilai kesukaan terhadap daya hisap jelly drink rosela-sirsak terendah pada penambahan karagenan sebesar 0,20% dan 0,50%, yaitu 5,00 dan 5,01 dan tertinggi pada penambahan karagenan sebesar 0,30-0,40%, yaitu 6,35-5,90. Nilai kesukaan terhadap daya hisap jelly drink rosela-sirsak dengan penambahan konsentrasi karagenan sebesar 0,30; 0,35; dan 0,40% lebih disukai oleh panelis karena panelis menyukai jelly drink yang tidak

Nilai Kesukaan Terhadap Daya Hisap 37 terlalu encer atau padat, kokoh bentuk gel-nya, dan membutuhkan usaha untuk menghisapnya. Jelly drink rosela-sirsak dengan penambahan konsentrasi karagenan sebesar 0,20 dan 0,25% tidak disukai panelis karena encer sehingga terlalu mudah untuk dihisap. Penambahan konsentrasi karagenan yang sedikit pada jelly drink rosela-sirsak menyebabkan gel yang terbentuk belum kokoh karena jumlah air yang terperangkap dalam gel tidak banyak. Jelly drink rosela-sirsak dengan penambahan konsentrasi karagenan sebesar 0,45 dan 0,50% tidak disukai panelis karena padat sehingga terlalu sulit untuk dihisap. Penambahan konsentrasi karagenan yang banyak pada jelly drink rosela-sirsak menyebabkan gel yang terbentuk sangat kokoh karena jumlah air yang terperangkap dalam gel banyak. 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 6,35 c 6,18 c 5,50 ab 5,90 bc 5,50 ab 5,00 a 5,01 a 0,20% 0,25% 0,30% 0,35% 0,40% 0,45% 0,50% Konsentrasi Karagenan Keterangan: notasi huruf yang berbeda menunjukkan ada perbedaan nyata pada α = 5%. Gambar 5.6. Grafik Nilai Kesukaan Terhadap Daya Hisap Jelly Drink Rosela-Sirsak 5.5.3. Rasa Faktor penting yang harus diperhatikan dalam membuat suatu produk adalah rasa dari produk tersebut karena rasa sangat mempengaruhi

38 penerimaan konsumen. Tekstur dan konsistensi suatu bahan juga akan mempengaruhi cita rasa yang ditimbulkan oleh bahan karena dapat mempengaruhi kecepatan timbulnya rangsangan terhadap sel reseptor olfaktori dan kelenjar air liur (Winarno, 2004). Bahan yang semakin kental menyebabkan penerimaan terhadap intensitas rasa semakin berkurang. Pengujian sifat organoleptik warna jelly drink rosela-sirsak dengan perbedaan konsentrasi karagenan yang ditambahkan dilakukan dengan metode Hedonic Scale Scoring menggunakan skala garis 1-9. Uji kesukaan terhadap daya hisap merupakan kesukaan panelis ketika merasakan jelly drink rosela-sirsak. Nilai kesukaan terhadap rasa jelly drink rosela-sirsak dapat dilihat pada Gambar 5.7. Nilai kesukaan terhadap rasa jelly drink rosela-sirsak berkisar antara 5,32-6,21 (agak suka). Hasil analisa statistik menggunakan uji ANOVA (dapat dilihat pada Lampiran 7.5.) menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi karagenan berpengaruh nyata pada nilai kesukaan terhadap rasa jelly drink rosela-sirsak. Pengujian lanjutan dengan uji DMRT (dapat dilihat pada Lampiran 7.5.) dilakukan untuk mengetahui konsentrasi karagenan dengan rentang 0,05% yang memberikan perbedaan nyata pada nilai kesukaan terhadap rasa jelly drink rosela-sirsak. Nilai kesukaan terhadap daya hisap jelly drink rosela-sirsak terendah pada penambahan karagenan sebesar 0,45% dan 0,50%, yaitu 5,75 dan 5,32 dan tertinggi pada penambahan karagenan sebesar 0,20-0,45%, yaitu 6,21-5,75. Nilai kesukaan terhadap rasa jelly drink rosela-sirsak menurun seiring dengan meningkatnya konsentrasi karagenan yang ditambahkan. Rasa jelly drink rosela-sirsak yang diinginkan adalah rasa asam-manis yang khas dari sirsak yang dapat menutupi rasa asam dari rosela yang kurang disukai. Semakin tinggi konsentrasi karagenan yang ditambahkan

Nilai Kesukaan Terhadap Rasa 39 pada jelly drink rosela-sirsak maka semakin tidak disukai oleh panelis karena semakin tinggi konsentrasi karagenan mengakibatkan rasa yang ditimbulkan oleh lidah menjadi berkurang. 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 6,21 b 6,11 b 6,02 b 5,93 b 5,82 b 5,75 ab 5,32 a 0,20% 0,25% 0,30% 0,35% 0,40% 0,45% 0,50% Konsentrasi Karagenan Keterangan: notasi huruf yang berbeda menunjukkan ada perbedaan nyata pada α = 5%. Gambar 5.7. Grafik Nilai Kesukaan Terhadap Rasa Jelly Drink Rosela- Sirsak 5.6. Perlakuan Terbaik Perlakuan terbaik jelly drink rosela-sirsak ditentukan menggunakan pengujian pembobotan. Perlakuan terbaik dipilih berdasarkan hasil organoleptik terbaik yang meliputi kesukaan terhadap warna, daya hisap, dan rasa. Penggunaan hasil organoleptik untuk menentukan perlakuan terbaik karena jelly drink rosela-sirsak merupakan produk pangan baru sehingga yang diutamakan adalah penerimaan dan kesukaan panelis. Berdasarkan hasil pengujian pembobotan yang meliputi warna, daya hisap, dan rasa, perlakuan terbaik yang dipilih adalah jelly drink rosela-sirsak dengan penambahan konsentrasi karagenan sebesar 0,30%

40 (perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 7.6). Jelly drink rosela-sirsak dilakukan pengujian lanjutan, yaitu pengujian kadar serat. Kadar serat pada jelly drink rosela-sirsak dengan penambahan konsentrasi karagenan sebesar 0,40% adalah 0,66% (wb) (perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 7.7).