4 Hasil dan Pembahasan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

3 Percobaan. Peralatan yang digunakan untuk sintesis, karakterisasi, dan uji aktivitas katalis beserta spesifikasinya ditampilkan pada Tabel 3.1.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dihasilkan sebanyak 5 gram. Perbandingan ini dipilih karena peneliti ingin

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

Pengaruh Kadar Logam Ni dan Al Terhadap Karakteristik Katalis Ni-Al- MCM-41 Serta Aktivitasnya Pada Reaksi Siklisasi Sitronelal

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. sol-gel, dan mempelajari aktivitas katalitik Fe 3 O 4 untuk reaksi konversi gas

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. hal ini memiliki nilai konduktifitas yang memadai sebagai komponen sensor gas

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini akan dibahas tentang sintesis katalis Pt/Zr-MMT dan

REAKSI AMOKSIMASI SIKLOHEKSANON MENGGUNAKAN KATALIS Ag/TS-1

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. analisis komposisi unsur (EDX) dilakukan di. Laboratorium Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir (PTBIN) Batan Serpong,

Bab III Metodologi Penelitian

Bab 4 Data dan Analisis

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.2 DATA HASIL ARANG TEMPURUNG KELAPA SETELAH DILAKUKAN AKTIVASI

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi

Pemanfaatan Bentonit Dan Karbon Sebagai Support Katalis NiO-MgO Pada Hidrogenasi Gliserol

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. tahun 2011 di Laboratorium riset kimia makanan dan material untuk preparasi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN. Neraca Digital AS 220/C/2 Radwag Furnace Control Indicator Universal

AKTIVITAS KATALIS K 3 PO 4 /NaZSM-5 MESOPORI PADA TRANSESTERIFIKASI REFINED PALM OIL (RPO) MENJADI BIODIESEL

BAB III BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan September

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Gambar 4.2 Larutan magnesium klorida hasil reaksi antara bubuk hidromagnesit dengan larutan HCl

350 0 C 1 jam C. 10 jam. 20 jam. Pelet YBCO. Uji Konduktivitas IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Ba(NO 3 ) Cu(NO 3 ) 2 Y(NO 3 ) 2

MODIFIKASI ZEOLIT ALAM SEBAGAI KATALIS MELALUI PENGEMBANAN LOGAM TEMBAGA

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hubungan koefisien dalam persamaan reaksi dengan hitungan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Anorganik Fisik Universitas

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan di Kelompok Bidang Bahan Dasar PTNBR-

3 Metodologi penelitian

Bab IV Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan

PRODUKSI BIOFUEL DARI MINYAK KELAPA SAWIT DENGAN KATALIS PADAT CaO/γ-Al 2 O 3 dan CoMo/γ-Al 2 O 3

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

c. Suhu atau Temperatur

ZAHRA NURI NADA YUDHO JATI PRASETYO

METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Kimia Anorganik-Fisik Universitas

Deskripsi. SINTESIS SENYAWA Mg/Al HYDROTALCITE-LIKE DARI BRINE WATER UNTUK ADSORPSI LIMBAH CAIR

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut

Metodologi Penelitian

2 Tinjauan Pustaka Sejarah dan Perkembangan Sel Bahan Bakar

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. M yang berupa cairan berwarna hijau jernih (Gambar 4.1.(a)) ke permukaan Al 2 O 3

Soal ini terdiri dari 10 soal Essay (153 poin)

Kunci jawaban dan pembahasan soal laju reaksi

HASIL DAN PEMBAHASAN. Struktur Karbon Hasil Karbonisasi Hidrotermal (HTC)

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

3 Percobaan. Untuk menentukan berat jenis zeolit digunakan larutan benzena (C 6 H 6 ).

HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan menggunakan kamera yang dihubungkan dengan komputer.

HASIL DAN PEMBAHASAN. didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 20%, 30%, 40%, dan 50%. Kemudian larutan yang dihasilkan diendapkan

PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

Oleh : ENDAH DAHYANINGSIH RAHMASARI IBRAHIM DOSEN PEMBIMBING Prof. Dr. Ir. Achmad Roesyadi, DEA NIP

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Preparasi Sampel. Disampaikan pada Kuliah Analisis Senyawa Kimia Pertemuan Ke 3.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Waktu (t) Gambar 3.1 Grafik hubungan perubahan konsentrasi terhadap waktu

KUMPULAN SOAL-SOAL KIMIA LAJU REAKSI

I. PENDAHULUAN. Alumina banyak digunakan dalam berbagai aplikasi seperti digunakan sebagai. bahan refraktori dan bahan dalam bidang otomotif.

KUMPULAN SOAL-SOAL KIMIA LAJU REAKSI

AKTIVITAS KATALIS CR/ZEOLIT ALAM PADA REAKSI KONVERSI MINYAK JELANTAH MENJADI BAHAN BAKAR CAIR

Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Kopresipitasi

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini telah dilakukan di Laboratorium Biomassa Terpadu Universitas

4 Hasil dan pembahasan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Preparasi Awal Bahan Dasar Karbon Aktif dari Tempurung Kelapa dan Batu Bara

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. cahaya matahari.fenol bersifat asam, keasaman fenol ini disebabkan adanya pengaruh

4 Hasil dan Pembahasan

SINTESIS KATALIS ZSM-5 MESOPORI DAN AKTIVITASNYA PADA ESTERIFIKASI MINYAK JELANTAH UNTUK PRODUKSI BIODISEL

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Sejak ditemukan oleh ilmuwan berkebangsaan Jerman Christian Friedrich

SINTESIS DAN KARAKTERISASI KATALIS CU/ZEOLIT DENGAN METODE PRESIPITASI

SINTESIS, KARAKTERISASI, DAN EVALUASI KATALITIK Cu-EDTA BERPENDUKUNG MgF 2 UNTUK PRODUKSI VITAMIN E. Oleh: SUS INDRAYANAH

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian Penelitian yang telah dilakukan bertujuan untuk menentukan waktu aging

Bab III Metodologi. III.1 Alat dan Bahan. III.1.1 Alat-alat

I. PENDAHULUAN. kinerjanya adalah pemrosesan, modifikasi struktur dan sifat-sifat material.

PETA KONSEP LAJU REAKSI. Percobaan. Waktu perubahan. Hasil reaksi. Pereaksi. Katalis. Suhu pereaksi. Konsentrasi. Luas. permukaan.

SOAL LAJU REAKSI. Mol CaCO 3 = = 0.25 mol = 25. m Mr

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kali ini adalah penetapan kadar air dan protein dengan bahan

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Penelitian

SINTESIS DIMETIL ETER MENGGUNAKAN KATALIS Cu-Zn/γ-Al 2 O 3 DALAM REAKTOR FIXED BED

PENGEMBANGAN METODE SINTESIS UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS ZEOLIT ALAMI DI INDONESIA

Sintesis ZSM-5 Mesopori menggunakan Prekursor Zeolit Nanocluster : Pengaruh Waktu Hidrotermal

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

4 Pembahasan Degumming

PENGARUH KONSENTRASI NaOH DAN Na 2 CO 3 PADA SINTESIS KATALIS CaOMgO DARI SERBUK KAPUR DAN AKTIVITASNYA PADA TRANSESTERIFIKASI MINYAK KEMIRI SUNAN

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Anorganik / Fisik Fakultas

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu aging

4 Hasil dan pembahasan

3. Metodologi Penelitian

PENGGUNAAN CANGKANG BEKICOT SEBAGAI KATALIS UNTUK REAKSI TRANSESTERIFIKASI REFINED PALM OIL

Transkripsi:

4 Hasil dan Pembahasan Sebelum dilakukan sintesis katalis Cu/ZrSiO 4, serbuk zirkon (ZrSiO 4, 98%) yang didapat dari Program Studi Metalurgi ITB dicuci terlebih dahulu menggunakan larutan asam nitrat 1,0 M. Tujuan dari pencucian ini adalah untuk mengaktifkan serbuk zirkon dengan cara menghilangkan pengotor-pengotor (2%) yang kemungkinan terdapat di dalamnya. Dengan adanya pengotor, larutan Cu(NO 3 ) 2 tidak akan terimpregnasi dengan sempurna pada serbuk zirkon karena terhalangi oleh pengotor-pengotor tersebut. Dengan menggunakan larutan asam nitrat, pengotor yang kemungkinan ada pada serbuk zirkon dapat larut dalam asam nitrat, sehingga dapat dipisahkan. Untuk menghilangkan sisa asam nitrat, serbuk zirkon dicuci dengan air lalu disaring. Karena zirkon memiliki ukuran partikel yang sangat kecil, maka sulit untuk memisahkan zirkon dari larutan. Untuk itu dilakukan sentrifuga menggunakan alat Fisher Scientific Centrific TM Centrifuge dengan skala 9 selama 15 menit sebanyak lima kali menggunakan air, sehingga serbuk zirkon akan mengendap pada dasar tabung dan dapat dipisahkan. Cu(NO 3 ) 2 dipilih sebagai sumber ion logam Cu karena kelarutannya yang tinggi dan sisa ion nitrat dari Cu(NO 3 ) 2 ini akan terdekomposisi saat kalsinasi. (40) Sedangkan logam Cu dipilih sebagai zat aktif katalis karena katalis tersebut mampu memberikan aktivitas dan selektivitas yang tinggi pada suhu operasi rendah dibandingkan dengan katalis berbasis logam lainnya. (11) Hal tersebut telah dibuktikan oleh penelitian sebelumnya yang menghasilkan katalis berbasis Cu dengan aktivitas hampir seratus persen pada suhu 225 o C. (3) Metode sintesis katalis yang digunakan pada penelitian ini adalah incipient wetness impregnation. Pada metode ini, larutan Cu(NO 3 ) 2 tidak boleh membasahi penyangga. Hal tersebut dilakukan karena bila larutan Cu(NO 3 ) 2 membasahi penyangga, maka saat dikeringkan, Cu(NO 3 ) 2 akan ikut mengering di luar penyangga. Padahal yang seharusnya mengering adalah penyangga yang telah diimpregnasi oleh larutan Cu(NO 3 ) 2. Dengan kata lain, bila larutan Cu(NO 3 ) 2 membasahi penyangga, maka saat dikeringkan, akan terbentuk 40

dua fasa padat, yaitu penyangga yang telah diimpregnasi oleh Cu(NO 3 ) 2 dan Cu(NO 3 ) 2.xH 2 O itu sendiri. Ilustrasi Cu(NO 3 ) 2 yang membasahi penyangga dan yang tidak membasahi masing-masing dijelaskan oleh Gambar 4.1 a dan b. Pada Gambar 4.1 a, Cu(NO 3 ) 2 yang ditambahkan ke penyangga terlalu banyak, sehingga membasahi penyangga. Setelah dikeringkan dengan panas, Cu(NO 3 ) 2 ikut membentuk fasa padat di luar penyangga. Hal tersebut tidak diinginkan karena seharusnya Cu(NO 3 ) 2 terimpregnasi seluruhnya pada penyangga, seperti pada Gambar 4.1 b. Oleh karena itu, saat serbuk zirkon hampir basah oleh larutan Cu(NO 3 ) 2, perlu dilakukan pengeringan di dalam oven. Setelah kering, larutan Cu(NO 3 ) 2 dapat diteteskan kembali. Langkah-langkah tersebut dilakukan terus hingga larutan Cu(NO 3 ) 2 habis. Dengan langkah-langkah tersebut, terbentuknya fasa padat Cu(NO 3 ) 2 di luar penyangga dapat dihindari. Katoda (b) Gambar 4.1 Ilustrasi pembasahan Cu(NO 3 ) 2 (warna biru) pada penyangga (warna putih) (a) Cu(NO 3 ) 2 yang membasahi penyangga; (b) Cu(NO 3 ) 2 yang tidak membasahi penyangga Komposisi mol Cu untuk katalis Cu/ZrSiO 4 dibuat bervariasi, yaitu 9% dan 15%. Sebelum digunakan, Cu(NO 3 ) 2.3H 2 O yang masih basah dikeringkan pada suhu di bawah 114 o C lalu segera ditimbang. Hal tersebut dilakukan karena Cu(NO 3 ) 2.3H 2 O dapat terdekomposisi menjadi CuO pada suhu 114 o C. Setelah sintesis, tahap penting lainnya adalah kalsinasi. Kalsinasi bertujuan untuk mengubah Cu(NO 3 ) 2 pada katalis menjadi CuO dan menghilangkan ion nitrat. Temperatur kalsinasi yang dipilih adalah 500 o C selama 12 jam. Temperatur ini sesuai dengan penelitian Purnama untuk katalis Cu/ZrO 2. Dicoba juga temperatur kalsinasi lain untuk katalis 15%Cu/ZrSiO 4, yaitu pada 300 o C selama 4 jam. Variasi temperatur kalsinasi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperatur kalsinasi terhadap keaktifan katalis yang dihasilkan. Namun perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui temperatur kalsinasi yang optimum untuk katalis ini. 41

(a) (b) (c) Gambar 4.2 Penampakan fisik penyangga ZrSiO 4 selama proses sintesis katalis Cu/ZrSiO 4 (a) Penyangga ZrSiO 4 ; (b) ZrSiO 4 yang telah diimpregnasi oleh Cu(NO 3 ) 2 ; (c) padatan CuO/ZrSiO 4 Sebelum dilakukan uji aktivitas katalis, perlu dilakukan reduksi CuO pada katalis menjadi Cu secara insitu di dalam reaktor. Proses reduksi merupakan proses yang sangat penting karena akan menentukan aktifitas katalis yang akan diuji. Bila suhu reduksi terlalu rendah, maka tidak semua CuO tereduksi menjadi Cu. Akibatnya katalis akan menunjukkan aktivitas yang rendah. Sedangkan bila suhu reduksi terlalu tinggi, maka dapat merusak katalis dan spesi lain dapat tereduksi. Hal tersebut juga dapat menurunkan aktivitas katalis. Kondisi reduksi yang dipilih pada penelitian ini adalah pada suhu 150 o C selama 2 jam dan 300 o C selama 4 jam dengan laju alir gas hidrogen sebesar 40 ml/menit dan laju alir gas nitrogen sebesar 30 ml/menit. Suhu 150 o C dipilih karena menurut Vong, CuO dapat tereduksi secara optimal menjadi Cu menggunakan gas hidrogen pada suhu 146-154 o C. (42) Sedangkan suhu 300 o C dipilih untuk mempercepat reaksi reduksi. Reaksi reduksi yang terjadi adalah sebagai berikut: CuO + H 2 Cu + H 2 O CuO dapat direduksi oleh hidrogen menjadi Cu karena memiliki potensial reduksi yang lebih besar/positif daripada potensial reduksi hidrogen. Sedangkan ZnO tidak dapat direduksi oleh hidrogen karena memiliki potensial reduksi yang lebih kecil/negatif daripada potensial reduksi hidrogen. Semakin kecil/negatif nilai potensial reduksi suatu senyawa, makin kuat kerjanya sebagai pereduksi. Berikut ini adalah setengah reaksi reduksi senyawa yang digunakan dalam penelitian ini beserta nilai potensial reduksinya. Cu 2+ + 2e - Cu E o = +0,34 V 2H + + 2e - H 2 E o = 0 V Zn 2+ + e - Zn E o = -0,76 V Setelah reduksi selesai, gas hidrogen dimatikan, tetapi gas nitrogen tetap dialirkan untuk mengusir gas hidrogen di dalam reaktor. Bila kadar hidrogen telah mencapai 0,1%, dan suhu 42

reaktor telah mencapai suhu yang diinginkan, maka reaksi RKM siap dilakukan. Reaksi RKM dilakukan dengan mengumpankan campuran metanol dan air dengan perbandingan mol 1:1,2. Sebelum masuk ke reaktor, metanol dan air diuapkan terlebih dahulu, kemudian bereaksi di dalam reaktor dengan bantuan katalis. Aktivitas katalis-katalis yang telah disintesis ditunjukkan pada Tabel 4.1. Aktivitas seluruh katalis tersebut dibandingkan dengan katalis LTSC komersial. Tabel 4.1 Nilai hasil uji aktivitas katalis Katalis T ( o C) Konversi MeOH (%) 200 65,40 LTSC Komersial 225 96,50 250 99,60 300 106,81 150 0,03 9%Cu/ZrSiO 4 200 0,60 250 4,72 300 15,46 150 0,03 15%Cu/ZrSiO 4 200 1,73 250 6,12 300 27,76 150 0,08 15%Cu/ZrSiO 4 (T kal =300 o C) 200 0,33 250 2,21 400 8,36 150 0,28 15%Cu/15%ZnO/ZrSiO 4 200 3,02 250 8,73 300 21,08 43

120 Konversi MeOH (%mol) 100 80 60 40 20 9%Cu/ZrSiO4 15%Cu/ZrSiO4 15%Cu/ZrSiO4 (Tkal = 300oC) 15%Cu/15%ZnO/ZrSiO4 LTSC Komersial 0 130 180 230 280 330 380 430 Temperatur ( o C) Gambar 4.3 Kurva konversi metanol terhadap temperatur reaksi RKM Tabel 4.1 menunjukkan bahwa konversi metanol naik seiring dengan bertambahnya kandungan Cu dan temperatur reaksi. Hal ini tampak setelah kandungan Cu naik dari 9% menjadi 15% ternyata dapat menaikkan konversinya hampir dua kali lipat. Hal ini terjadi karena semakin banyaknya Cu sebagai sisi aktif katalis yang dapat mempercepat reaksi RKM. Begitu pula dengan naiknya temperatur, maka akan dapat menaikkan nilai tetapan laju reaksi dan menghasilkan energi kinetik yang melampaui energi aktivasi reaksi RKM, sehingga reaksi berjalan lebih cepat. Kurva konversi metanol terhadap temperatur reaksi RKM ditunjukkan pada Gambar 4.3. Pengaruh suhu kalsinasi terhadap aktivitas katalis juga dievaluasi. Variasi suhu kalsinasi dilakukan terhadap katalis 15%Cu/ZrSiO 4. Katalis 15%Cu/ZrSiO 4 pertama dikalsinasi pada suhu 500 o C selama 12 jam, sedangkan katalis 15%Cu/ZrSiO 4 kedua dikalsinasi pada suhu 300 o C selama 4 jam. Ternyata suhu kalsinasi sangat berpengaruh terhadap aktivitas katalis. Terlihat pada katalis 15%Cu/ZrSiO 4 pertama, tercapai konversi metanol sebesar 15,46% pada suhu reaksi RKM 300 o C, sedangkan katalis kedua hanya menghasilkan konversi sebesar 8,36% pada suhu reaksi RKM 400 o C. Masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mencari suhu kalsinasi optimum untuk katalis ini. Penambahan ZnO bertujuan untuk meningkatkan aktivitas katalis Cu/ZrSiO 4, tetapi efek yang terjadi tidak terlalu signifikan. Mulai suhu reaksi 200 o C, aktivitas katalis naik sekitar 2 o C dengan adanya penambahan ZnO pada katalis 15%Cu/ZrSiO 4. Namun pada suhu reaksi 300 o C, aktivitas katalis 15%Cu/ZrSiO 4 lebih besar daripada katalis 15%Cu/15%ZnO/ZrSiO 4 karena terdapat kesalahan saat pengukuran, tetapi hal tersebut dapat diabaikan. 44

Secara umum, seluruh katalis Cu/ZrSiO 4 memiliki aktivitas yang jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan katalis LTSC komersial (Cu/ZnO/Al 2 O 3 ). Hal itu kemungkinan terjadi karena ZrSiO 4 dan katalis-katalis yang telah disintesis menggunakan penyangga ZrSiO 4 memiliki luas permukaan yang kecil. Dari analisis luas permukaan menggunakan metode BET (Brunauer-Emmet-Teller), didapat luas permukaan spesifik penyangga ZrSiO 4, katalis 15%Cu/ZrSiO 4. dan katalis 15%Cu/15%ZnO/ZrSiO 4 masing-masing adalah sebesar 4,94 m 2 /gram, 5,58 m 2 /gram, dan 2,74 m 2 /gram. Padahal luas permukaan penyangga katalis yang seharusnya digunakan adalah sebesar 10-3000 m 2 /g. (34) Luas permukaan dihitung dari volume gas nitrogen yang teradsorpsi pada permukaan untuk membentuk lapisan tunggal. Dengan membagi luas permukaan sampel katalis dengan berat sampel katalis, maka didapatkan luas permukaan spesifik. Diagram yang menunjukkan naik turunnya luas permukaan ini ditunjukkan pada Gambar 4.4. Dari gambar tersebut, nampak bahwa luas permukaan penyangga ZrSiO 4 bertambah setelah diimpregnasi dengan Cu. Namun, luas permukaan katalis 15%Cu/ZrSiO 4 jauh berkurang setelah ditambahkan ZnO pada katalis tersebut. Penyebab dari fenomena tersebut masih belum dapat dipastikan. Luas Permukaan (m2/g)- 6 5 4 3 2 1 0 5,58 5.58 4,94 4.94 2,74 2.74 ZrSiO4 15%Cu/ZrSiO4 15%Cu/15%ZnO/ZrSiO4 Katalis Gambar 4.4 Diagram hasil pengukuran luas permukaan menggunakan metode BET Karakterisasi XRD yang telah dilakukan adalah untuk katalis 9%Cu/ZrSiO 4, 15%Cu/ZrSiO 4, dan 15%Cu/15%ZnO/ZrSiO 4. Difraktogram XRD dari ketiga katalis ini dapat dilihat pada gambar di halaman selanjutnya. 45

Gambar 4.5 Difraktogram XRD katalis 9%Cu/ZrSiO 4 Gambar 4.6 Difraktogram XRD katalis 15%Cu/ZrSiO 4 46

Gambar 4.7 Difraktogram XRD katalis 15%Cu/15%ZnO/ZrSiO 4 Puncak-puncak tajam dan berintensitas tinggi pada difraktogram ketiga katalis tersebut mengindikasikan padatan tersebut memiliki fasa kristalin. Pada difraktogram tersebut muncul puncak-puncak CuO yang cukup dominan yang mirip dengan difraktogram standar pada database PCPDFWin, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.8. Namun puncakpuncak CuO tersebut berimpitan dengan puncak-puncak ZrSiO 4, sehingga tidak terlalu jelas nampak pada difraktogram. Puncak CuO pada difraktogram katalis 9%Cu/ZrSiO 4 yang mirip dengan puncak CuO pada database PCPDFWin 80-1916 ditunjukkan pada sudut 2θ 38,6, 53,5, dan 67,8 o. Sedangkan puncak CuO pada difraktogram katalis 15%Cu/ZrSiO 4 yang mirip dengan puncak CuO pada database PCPDFWin 80-1916 ditunjukkan pada sudut 2θ 35,5 o, 38,7 o, dan 67,8 o. Dan puncak CuO pada difraktogram katalis 15%Cu/15%ZnO/ZrSiO 4 yang mirip dengan puncak CuO pada database PCPDFWin 80-1916 ditunjukkan pada sudut 2θ 35,7 o, 38,6 o, dan 47,6 o. Puncak-puncak ZnO juga terdeteksi pada katalis 15%Cu/15%ZnO/ZrSiO 4 pada sudut 2θ 31,8 o, 47,5 o, dan 62,9 o. Puncak-puncak tersebut mirip dengan puncak-puncak ZnO pada database PCPDFWin 80-0074 (Gambar 4.9). ZrSiO 4 juga terdeteksi pada ketiga katalis tersebut. Hal tersebut nampak pada adanya puncak-puncak khas ZrSiO 4 pada sudut 2θ 20,0 o, 27,0 o, dan 35,8 o. Puncak-puncak tersebut mirip dengan puncak-puncak ZrSiO 4 pada database PCPDFWin 83-1383 (Gambar 4.10). Hal tersebut menunjukkan bahwa ketiga katalis tersebut memiliki fasa ruah seperti yang diharapkan. 47

Gambar 4.8 Puncak CuO pada PDF 80-1916 Gambar 4.9 Puncak ZnO pada PDF 80-0074 48

Gambar 4.10 Puncak ZrSiO 4 pada PDF 83-1383 49