BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Glenna Hartanto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan dalam penelitian ini diulas dalam tiga subbab. Karakterisasi yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari 3 macam, yaitu SEM-EDS, XRD dan DRS. Karakterisasi SEM-EDS akan digunakan untuk melakukan analisa struktur/morfologi dan analisa semi kuantitatif dari sampel. Karakterisasi XRD memberikan informasi tentang kristalinitas dari sampel, berupa jenis fasa Kristal, kualitas kekristalan dan ukuran Kristal dalam sampel. Informasi tentang kristalinitas sangat diperlukan mengingat reaksi fotokatalitik water-splitting sangat bergantung kepada kualitas dan kuantitas dari jenis fasa kristal anatase dari TiO 2. Karakterisasi DRS memberikan data reflektansi dan absorbansi fotokatalis yang disintesis terhadap cahaya dengan panjang gelombang tertentu. Dari data tersebut dapat diketahui respon katalis terhadap sinar dari rentang panjang gelombang UV hingga sinar tampak dan dapat diperoleh besar energi band gap dari masing masing katalis yang disintesis Sintesis dan Karakterisasi Katalis Karakterisasi SEM-EDS Telah dilakukan karakterisasi SEM-EDS terhadap beberapa sampel katalis yang telah disintesis Katalis N-TiO 2 Hasil SEM-EDS dari kedua sampel dapat dilihat pada gambar 4.1 berikut. 56
2 b a Gambar 4. 1 Hasil SEM sampel N-TiO2 : (a) Metode perendaman larutan NH3 Perbesaran x; (b) metode pengaliran gas NH3 Perbesaran x Dari gambar 4.1 di atas terlihat, pada metode perendaman ukuran butir relatif lebih besar dengan batas antar butir nampak jelas. Pada metode pengaliran gas, ukuran butir relatif lebih kecil dan terlihat cenderung menggumpal. Hal ini diduga turut berkontribusi terhadap kemampuan dopan N untuk masuk ke TiO2. Akibatnya, luas permukaan kontak antara TiO2 dengan NH3 menjadi lebih kecil sehingga N yang terdopan pada TiO2 menjadi lebih sedikit dibandingkan dengan metode perendaman seperti yang ditunjukkan oleh tabel hasil EDS sebagai berikut. Tabel 4.1. Konsentrasi N dalam TiO2 N-TiO2 metode perendaman NH3 Terdopan (%) Keberhasilan (%) Konsentrasi N 0,8 2,2 N-TiO2 Metode pengaliran gas NH3 Keberhasilan (%) Terdopan (%) 0,4 1,1 Dari hasil EDS pada tabel 4.1 terlihat, jumlah konsentrasi N terdopan dalam sampel yang disintesis dengan cara perendaman NH3 sebesar 0,8 % dengan tingkat keberhasilan 2,2% dan dalam sampel yang disintesis dengan pengaliran gas NH3 konsentrasi N terdopan sebesar 0,416 % dengan tingkat keberhasilan lebih rendah yaitu 1,1%. Hal ini berarti jumlah konsentrasi N terdopan dalam sampel yang disintesis dengan cara perendaman NH3 dua kali lipat dibandingkan konsentrasi N dalam sampel yang disintesis dengan pengaliran gas NH3. Hal lain yang diduga turut berkontribusi 57
3 terhadap perbedaan konsentrasi N terdopan dalam TiO 2 adalah pada metode perendaman, + TiO 2 berada dalam lingkungan yang kaya dengan ion NH 4 karena direndam dalam larutan NH 3, sedangkan pada metode pengaliran gas, lingkungan TiO 2 merupakan + campuran antara N 2 dengan NH 3 yang terbawa oleh N 2 sehingga jumlah ion NH 4 tidak sebanyak seperti pada metode perendaman. Di samping itu, waktu kontak yang diberikan antara metode perendaman dengan metode pengaliran gas juga berbeda. Pada metode perendaman, lamanya perendaman adalah 24 jam sehingga memiliki waktu kontak yang jauh lebih lama dibandingkan dengan metode pengaliran gas yang hanya memiliki waktu kontak 3 jam. Hal-hal di atas tersebut mengakibatkan N yang terdopan pada TiO 2 lebih tinggi dengan metode perendaman. Secara keseluruhan terlihat bahwa jumlah N terdopan dalam TiO 2 cukup kecil yaitu di bawah 1%. Jinlong (2010) melaporkan bahwa penambahan dopan N ke dalam sistem fotokatalis TiO 2 menjadi komposit N-TiO 2 memang masih memiliki berbagai kendala diantaranya adalah sulitnya menghasilkan katalis komposit dengan konsentrasi N yang tinggi. Dari hasil SEM-EDS di atas dapat disimpulkan bahwa metode sintesis yang lebih optimal dalam pendopanan N pada TiO 2 adalah metode dengan perendaman larutan NH 3 terhadap TiO 2. Karena itu dalam proses sintesis katalis selanjutnya digunakan metode perendaman dengan larutan NH 3 untuk mendopan N Katalis Pt(1%)-N-TiO 2 Hasil dari SEM untuk katalis Pt(1%)-N-TiO 2 sebagai berikut Gambar 4. 2 Hasil SEM sampel Pt(1%)-N-TiO 2 : (a) Perbesaran x; (b) Perbesaran x 58
4 Dari gambar 4.2 terlihat, ukuran butir dari Pt(1%)-N-TiO 2 relatif lebih kecil, dengan batas antar butir yang cukup jelas serta dengan penyebaran yang merata. Metode yang digunakan dalam sintesis Pt(1%)-N-TiO 2 adalah metode PAD, dimana metode PAD akan menghasilkan ukuran butir yang relatif lebih kecil dibandingkan metode impregnasi. Dilihat dari kinerja katalis, ukuran butir yang kecil akan menguntungkan karena dapat meningkatkan jumlah luasan kontak antara katalis dengan reaktan sehingga menaikkan kinerjanya. Hal ini akan dibahas lebih lanjut pada sub bab 4.2. Hasil analisa EDS untuk N-TiO 2 dan Pt(1%)-N-TiO 2 dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut. Tabel 4.2. Konsentrasi N dan Pt dalam katalis Pt(1%)-N-TiO 2 Hasil EDS Terdopan (%) Keberhasilan (%) Konsentrasi N Konsentrasi Pt 1,4 1,4 3,9 140 Dari tabel 4.2 terlihat, jumlah N terdopan pada Pt(1%)-N-TiO 2 sebesar 1,4%, lebih tinggi dibandingkan N terdopan pada N-TiO 2. Hal ini sesuai apa yang dipaparkan oleh Jinlong (2110) bahwa level doping N biasanya sangat rendah pada sistem komposit N- TiO 2 dan penambahan dopan kedua dapat meningkatkan jumlah spesi nitrogen yang menyisip di kisi TiO 2. Dari hasil EDS di atas terlihat kenaikan kosentrasi N dalam Pt(1%)-N-TiO 2 sebesar tiga kali bila dibandingkan dengan metode sintesis N-TiO 2 dengan metode pengaliran gas dan kenaikannya sebesar dua kali dengan metode perendaman. Konsentrasi Pt yang terdopan di dalam katalis Pt(1%)-N-TiO 2 terlihat sangat tinggi yaitu 1,4%, lebih tinggi dari loading dopan Pt yag diberikan pada saat sintesis Pt(1%)-N- TiO 2. Hal ini diduga data EDS pada Pt mengalami kesalahan dimana terjadi penambahan konsentrasi Pt pada saat preparasi sampel untuk uji SEM-EDS akibat perlakuan coating Pt pada sampel EDS sebelum dikarakterisasi. Akibatnya konsentrasi Pt yang terbaca pada saat karakterisasi EDS melebihi kandungan asli Pt terdopan dalam sampel. 59
5 Katalis Cu-N-TiO 2 Hasil karakterisasi SEM dari katalis dengan loading Cu 1%,3%, 5% dan 10% diperlihatkan gambar 4.12 sebagai berikut. Gambar Hasil SEM sampel Cu-N-TiO 2 : (a) Loading Cu 1% Perbesaran x; (b) Loading Cu 3% Perbesaran x (c) Loading Cu 5% Perbesaran x; (d) Loading Cu 10% Perbesaran x Dari gambar 4.3 di atas terlihat bahwa pada konsentrasi 1% Cu ukuran butir nampak cukup besar dengan ukuran butir yang tidak merata sedangkan pada loading Cu 3% terlihat ukuran butir relatif lebih kecil, dengan sebaran yang merata. Pada loading 5% Cu dan 10% terlihat ukuran butir relatif kecil dibandingkan konsentrasi yang lainnya, juga terlihat berpori. Tidak banyak terlihat perbedaan antara loading 5% dan 10% Cu. Hasil karakterisasi EDS diperoleh konsentrasi N dalam katalis Cu-N-TiO 2 mengalami kenaikan dibandingkan dengan N-TiO2 seperti nampak sebagai berikut. 60
6 Tabel 4.3. Konsentrasi N dan Cu dalam katalis Cu-N-TiO 2 Hasil EDS Terdop an (%) N-TiO 2 Cu(1%)-N-TiO 2 Cu(3%)-N-TiO 2 Cu(5%)-N-TiO 2 Cu(10%)-N-TiO 2 Keberhas Keberhas Keberhas Keberhasila Keberhas ilan (%) ilan (%) ilan (%) n (%) ilan (%) Terdop an (%) Terdop an (%) Terdop an (%) Terdop an (%) Konsentrasi N 0,8 2,2 4,93 13,6 7,37 20,4 9, ,39 15 Konsentrasi Cu 0-0,81 81% 1, , ,03 20,3 Dari tabel 4.3 terlihat, konsentrasi N terdopan mengalami kenaikan dalam katalis dibanding dengan katalis N-TiO 2. Pada loading Cu 1 sampai 5%, konsentrasi dopan N mengalami kenaikan dan tertinggi pada loading 5% Cu yaitu mencapai 9,4%. Namun pada loading Cu 10%, konsentrasi dopan N mengalami penurunan kembali. Secara umum, keberadaan logam Cu, menaikkan kemampuan N terdopan dalam TiO 2. Hal ini sesuai apa yang dipaparkan oleh Jinlong (2110) bahwa level doping N biasanya sangat rendah pada sistem komposit N-TiO 2 dan penambahan dopan kedua dapat meningkatkan jumlah spesi nitrogen yang menyisip di kisi TiO 2. Dari hasil SEM-EDS pada tabel 4.3 juga terlihat bahwa tingkat keberhasilan dopan Cu ternyata sangat rendah. Bahkan tingkat keberhasilan untuk loading Cu 10% hanya 20,3%. Hal ini disebabkan pada metode impregnasi, ukuran kristal dopan Cu cenderung lebih besar sehingga hanya sebagian kecil yang terdispersi pada permukaan TiO 2. Akibatnya dopan Cu tidak terikat dengan baik dalam TiO 2 dan terlepas kembali saat proses panambahan dopan N. Berbeda dengan metode PAD yang menghasilkan ukuran kristal relatif lebih kecil dan sangat baik terdispersi pada permukaan TiO 2, sehingga proses penambahan dopan N tidak berpengaruh terhadap dopan logam. 61
7 Katalis Ni-N-TiO2 Hasil SEM terhadap konsentrasi loading Ni 5% dan 10% sebagai berikut. Gambar Hasil SEM sampel Ni-N-TiO 2 : (a) Loading Ni 5% Perbesaran x; (b) Loading Ni 10% Perbesaran x Terlihat pada gambar 4.4 di atas, pada loading 5% dan 10% ukuran butir relatif kecil dengan sebaran yang merata. Pada loading 10% Ni, nampak permukaan katalis lebih gelap, diduga ini adalah pengaruh dari Ni pada permukaan katalis. Permukaan katalis juga terlihat berpori. Hasil EDS diperoleh konsentrasi N dan Ni dalam katalis Ni-N-TiO2 sebagai berikut. Tabel 4.4. Konsentrasi N dan Ni dalam katalis Ni-N-TiO 2 Hasil EDS Terdopan (%) N-TiO 2 Ni(5%)-N-TiO 2 Ni(10%)-N-TiO 2 Keberhasilan Terdopan Keberhasilan Terdopan (%) (%) (%) (%) Keberhasilan (%) Konsentrasi N 0,8 2,2 7,30 20,2 4,28 11,8 Konsentrasi Ni 0-0,94 18,8 2,43 24,3 Terlihat dari tabel di atas bahwa konsentrasi dopan N dari katalis Ni-N-TiO 2 mengalami kenaikan dibanding dengan katalis N-TiO 2, dimana tertinggi diperoleh pada loading dopan 5% Ni yaitu sebesar 7,3%. Namun konsentrasi dopan N mengalami penurunan kembali pada loading 10% Ni. Seperti pada Pt dan Cu, secara umum terlihat, keberadaan logam Ni menaikkan kemampuan N terdopan dalam TiO 2. Hal ini sesuai apa 62
8 yang dipaparkan oleh Jinlong (2110) bahwa level doping N biasanya sangat rendah pada sistem komposit N-TiO 2 dan penambahan dopan kedua dapat meningkatkan jumlah spesi nitrogen yang menyisip di kisi TiO 2. Dari tabel 4.4 juga terlihat bahwa tingkat keberhasilan dopan Ni ternyata sangat rendah, yaitu kurang dari 30% baik untuk loading 5% Ni maupun 10% Ni. Hal ini disebabkan Ni-N-TiO 2 disintesis dengan metode impregnasi. Dengan metode impregnasi, ukuran kristal dopan Ni cenderung lebih besar sehingga hanya sebagian kecil yang terdispersi pada permukaan TiO 2. Akibatnya dopan Ni tidak terikat dengan baik dalam TiO 2 dan terlepas kembali pada saat proses panambahan dopan N Karakterisasi XRD Katalis Pt(1%)-N-TiO 2 Hasil karakterisasi sampel Pt(1%)-N-TiO 2 sebagai berikut. A A: anatase, R: rutile, M: Pt M R R A A A A A A A A Pt-N-TiO 2 TiO 2 Gambar 4.5 Hasil XRD terhadap sampel TiO 2 dan Pt(1%)-N-TiO 2 Terlihat puncak-puncak di 2θ pada 25,3 o, 38,0 o, 48.3 o, 54,8 o, 55,8 o, 62,58 o, 67,21 o, 68,79 o, 75,18 o yang merupakan difraksi dari bidang (101),(004), (200), (105), (211), (204), (116), (220) dan (215) dari anatase TiO 2, sedangkan puncak Pt biasanya muncul 63
9 pada 2θ = 51 o yang merupakan difraksi dari bidang (111) (Khan M.A., 2007). Namun dari hasil XRD di atas tidak terlihat puncak untuk Pt pada 2θ = 51 o, diduga hal ini disebabkan konsentrasi Pt masih terlalu kecil dan Pt terdispersi dengan baik ke dalam katalis N-TiO 2. Peneliti lain melaporkan hasil yang sama bahwa puncak Pt (1%) yang disintesis dengan metode PAD tidak terlihat pada hasil XRD, yang disebabkan karena konsentrasinya yang rendah dan Pt terdispersi dengan baik dalam katalis (Mohamed R., 2009). Dari hasil XRD di atas diperoleh besar ukuran kristal dan fraksi anatase serta rutile sebagai berikut. Tabel 4.5. Ukuran kristal, fraksi rutile dan anatase dari katalis Pt-N-TiO 2 dan TiO 2 No Sampel Ukuran Kristal (nm) fraksi rutile fraksi anatase 1. TiO 2 17,61 0,19 0,81 2. Pt-N-TiO 2 (PAD) 16,51 0,20 0,80 Dari tabel 4.5 di atas terlihat, ukuran kristal dari TiO 2 dan Pt(1%)-N-TIO 2 tidak jauh berbeda yaitu sekitar 17 nm. Berarti penambahan Pt sebesar 1% dan N tidak merubah ukuran kristal katalis. Begitu juga fraksi rutile dan anatase kedua katalis tidak banyak berubah. Terlihat penambahan Pt dan N menurunkan fraksi anatase dari katalis TiO 2 yang besarnya 81% menjadi 80%. Namun penurunan fraksi anatase ini tidak terlalu signifikan. Diduga hal ini karena baik TiO 2 maupun Pt(1%)-N-TIO 2 dilakukan proses kalsinasi yang sama, yaitu pemanasan 500 o C selama 1 jam. 64
10 Katalis Cu-N-TiO 2 gambar 4.6. Hasil dari karakterisasi XRD untuk berbagai loading Cu dapat dilihat pada Gambar 4.6. Hasil XRD terhadap sampel TiO 2 dan Cu-N-TiO 2 Dari gambar 4.6 terlihat puncak-puncak di 2θ pada 25,3 o, 38,0 o, 48.3 o, 54,8 o, 55,8 o, 62,58 o, 67,21 o, 68,79 o, 75,18 o yang merupakan difraksi dari bidang (101),(004), (200), (105), (211), (204), (116), (220) dan (215) dari anatase (Khan M.A., 2007). Puncak untuk CuO biasanya terlihat pada 2θ = 35,6 o dan 38,8 o (Slamet, 2009). Dari hasil XRD di atas, tidak terlihat puncak pada 2θ = 35,6 o namun terlihat puncak kecil di 2θ = 38,8 o pada loading Cu 1-5%, yang berarti menunjukkan keberadaan kristal dari CuO, walaupun masih sangat sedikit. Dari hasil XRD di atas diperoleh besar ukuran kristal dan fraksi anatase serta rutile sebagai berikut. 65
11 Tabel 4.6. Ukuran kristal, fraksi rutile dan anatase dari katalis Cu-N-TiO 2 No Sampel Ukuran Kristal (nm) fraksi rutile fraksi anatase 1. TiO 2 17,61 0,19 0,81 3. Cu(1%)-N-TiO 2 18,43 0,18 0,82 4. Cu(5%)-N-TiO 2 17,61 0,18 0,82 5. Cu(10%)-N-TiO 2 22,64 0,19 0,81 Dari tabel 4.6 di atas terlihat, ukuran kristal dari TiO 2 dan Cu-N-TIO 2 tidak jauh berbeda yaitu berkisar dalam range nm. Berarti penambahan Cu dari 1-10% dan N tidak banyak merubah ukuran kristal katalis. Terlihat ukuran terbesar pada loading Cu 10% yaitu sebesar 23 nm. Terjadi perubahan fraksi rutile dan anatase dari katalis Cu-N- TiO 2 namun perubahan ini tidak terlalu signifikan dimana pada TiO 2 fraksi anatasenya adalah 81% sedangkan fraksi anatase dari katalis Cu-N-TiO 2 adalah 82% untuk loading Cu 1% dan 5%, sedangkan untuk loading Cu 10% tidak terjadi perubahan. Diduga hal ini disebabkan baik TiO 2 maupun Cu-N-TIO 2 dengan berbagai konsentrasi loading Cu dilakukan proses kalsinasi yang sama, yaitu pemanasan 500 o C selama 1 jam Katalis Ni-N-TiO 2 Hasil dari karakterisasi XRD untuk loading Ni dapat dilihat pada gambar
12 Gambar 4.7. Hasil XRD terhadap sampel TiO 2, Ni-N-TiO 2 Dari gambar 4.7 terlihat puncak-puncak di 2θ pada 25,3 o, 38,0 o, 48.3 o, 54,8 o, 55,8 o, 62,58 o, 67,21 o, 68,79 o, 75,18 o yang merupakan difraksi dari bidang (101),(004), (200), (105), (211), (204), (116), (220) dan (215) dari anatase (Khan M.A., 2007). Puncak untuk NiO biasanya terlihat pada 2θ = 37,5 o dan 44 o (Syukri, 2003). Dari hasil XRD di atas, tidak terlihat puncak pada 2θ = 37,5 o namun terlihat puncak kecil di 2θ = 44 o pada loading Ni 10%, namun belum terlihat pada loading Ni 5% yang berarti menunjukkan keberadaan kristal dari NiO, walaupun masih sangat sedikit. Tidak munculnya puncak pada katalis dengan loading Ni 5% diduga disebabkan kecilnya konsentrasi loading Ni. Dari hasil XRD di atas diperoleh besar ukuran kristal dan fraksi anatase serta rutile untuk Ni-N-TiO 2 sebagai berikut. 67
13 Tabel 4.7. Ukuran kristal, fraksi rutile dan anatase dari katalis No Sampel Ukuran Kristal (nm) fraksi rutile fraksi anatase 1. TiO 2 17,61 0,19 0,81 6. Ni(5%)-N-TiO 2 20,32 0,17 0,83 7. Ni(10%)-N-TiO 2 19,33 0,18 0,82 Dari tabel 4.7 di atas terlihat, ukuran kristal dari TiO 2 dan Ni-N-TIO 2 tidak jauh berbeda yaitu berkisar dalam range nm. Berarti penambahan Ni 5% dan Ni 10% dan N tidak banyak merubah ukuran kristal katalis. Terjadi perubahan fraksi rutile dan anatase dari katalis Ni-N-TiO 2 dimana pada TiO 2 fraksi anatasenya adalah 81% sedangkan fraksi anatase dari katalis dengan loading Ni 5% sebesar 83% sedangkan loading Ni 10% sebesar 82%. Namun perubahan ini tidak terlalu signifikan, diduga hal ini disebabkan baik TiO 2 maupun Ni-N-TIO 2 dengan berbagai konsentrasi loading Ni dilakukan proses kalsinasi yang sama, yaitu pemanasan 500 o C selama 1 jam Karakterisasi DRS Katalis N-TiO 2 dan Pt(1%)-N-TiO 2 Hasil karakterisasi DRS dari katalis Pt(1%)-N-TiO 2 dan N-TiO 2 sebagai berikut Pt-N-TiO 2 N-TiO 2 Gambar 4. 8 Hasil Spektro UV-Vis DRS dari N-TiO 2 dan Pt(1%)-N-TiO 2 68
14 Terlihat dari gambar 4.8 hasil DRS di atas, sumbu y memperlihatkan % absorbansi fotokatalis (diperoleh dari data % reflektansi yang terdapat pada lampiran) terhadap sinar dengan panjang gelombang dari nm yang ditunjukkan oleh sumbu x. Dari hasil ekstrapolasi pada garis lurus ke arah sumbu x dari kedua sampel terlihat bahwa katalis N- TiO 2 mampu merespon foton dari sinar dengan panjang gelombang hingga 425 nm, yang termasuk dalam jangkauan panjang gelombang sinar tampak. Begitu juga katalis Pt(1%)- N-TiO 2 mampu merespon foton dari sinar dengan panjang gelombang hingga 525 nm, yang termasuk dalam jangkauan panjang gelombang sinar tampak pula. Berdasarkan hasil DRS di atas, dapat dihitung besarnya bandgap dari katalis sebagai berikut. Tabel 4.8 menunjukkan bandgap dihitung dari panjang gelombang absorbansinya masing-masing. Tabel Perbandingan Panjang Gelombang Absorbansi dan Bandgap untuk TiO 2, N-TiO 2 dan Pt(1%)-N-TiO 2 Degussa P25* N-TiO 2 Pt(1%)-N-TiO 2 Panjang gelombang absorbansi (nm) Energi band gap ev) 3,28 2,91 2,36 * Sumber: Slamet, 2004 Berdasarkan tabel 4.8, dapat dilihat bahwa katalis N-TiO 2 dan Pt(1%)-N-TiO 2 dapat merespon sinar tampak, dilihat dari besar energy bandgap yang lebih kecil dibandingkan TiO 2 degussa P25. Terlihat bandgap TiO 2 yang besarnya 3,28 ev menjadi 2,91 ev untuk N-TiO 2 dan 2,36 ev untuk Pt-N-TiO 2. Khan M.A. melaporkan bahwa energy band gap untuk Pt dari katalis Pt-TiO 2 nanotube sebesar 2,48 ev(khan M.A, 2008). Energy bandgap untuk Pt(1%)-N-TiO2 jauh lebih kecil dibandingkan N-TiO 2. Hal ini lebih menguntungkan dari sisi kinerja katalis karena dengan energy bandgap yang kecil, maka respon katalis terhadap sinar tampak menjadi makin efektif. Hal ini akan dibahas lebih jelas pada subbab
15 Katalis Cu-N-TiO 2 Hasil karakterisasi DRS dari berbagai konsentrasi loading Cu sebagai berikut. Cu(10%)-N-TiO 2 Cu(3%)-N-TiO 2 Cu(1%)-N-TiO 2 Cu(3%)-N-TiO 2 N-TiO 2 Gambar 4. 9 Hasil Spektro UV-Vis DRS dari Cu-N-TiO 2 dengan berbagai konsentrasi loading Cu Dari hasil ekstrapolasi dari gambar 4.9, pada garis lurus ke arah sumbu x dari kedua sampel terlihat bahwa katalis Cu-N-TiO 2 dengan loading Cu 1-10% mampu merespon foton dari sinar dengan kisaran panjang gelombang 500 nm, yang termasuk dalam jangkauan panjang gelombang sinar tampak. Dari gambar di atas tidak terlihat pengaruh penambahan Cu terhadap peningkatan pita absorbansi katalis. Berdasarkan hasil DRS di atas, dapat dihitung besarnya bandgap dari katalis sebagai berikut. Tabel Perbandingan Panjang Gelombang Absorbansi dan Bandgap untuk Cu-N-TiO 2 dengan berbagai konsentrasi loading Cu Cu(1%)-N- TiO 2 Cu(3%)-N- TiO 2 Cu(5%)-N- TiO 2 Cu(10%)-N- TiO 2 N-TiO 2 Panjang gelombang Absorbansi (nm) Energi band gap (ev) 2,91 2,47 2,47 2,47 2,47 70
16 Berdasarkan tabel 4.8, dapat dilihat bahwa energy bandgap dari katalis Cu-N-TiO 2 tidak berubah dengan penambahan Cu, dari konsentrasi Cu 1-10% memiliki energy bandgap 2,47 ev. Diduga hal ini disebabkan kristal CuO pada katalis Cu-N-TiO 2 baru sangat sedikit terbentuk. Meskipun begitu energy band gap dari Cu-N-TiO 2 jauh mengalami penurunan dibandingkan dengan TiO 2 degussa P25 yang memiliki energy bandgap 3,28 ev dan N-TiO2 yang memiliki energy bandgap 2,91 ev. Tetapi masih berada di atas energy bandgap dari Pt(1%0)-N-TiO 2 yang besarnya 2,36 ev Katalis Ni-N-TiO 2 Data DRS dari berbagai konsentrasi loading Ni sebagai berikut. Ni(5)-N-TiO 2 Ni(3)-N-TiO 2 N-TiO 2 Ni(10)-N-TiO 2 Gambar Hasil Spektro UV-Vis DRS dari Ni-N-TiO 2 dengan berbagai konsentrasi loading Ni Dari hasil ekstrapolasi dari gambar 4.10, terlihat bahwa katalis Ni-N-TiO 2 dengan loading Ni 3%, 5% dan 10% mampu merespon foton dari sinar dengan panjang gelombang 500 nm, yang termasuk dalam jangkauan panjang gelombang sinar tampak. Dari gambar di atas tidak terlihat pengaruh penambahan Ni terhadap peningkatan pita absorbansi katalis. Berdasarkan hasil DRS di atas, dapat dihitung besarnya bandgap dari katalis sebagai berikut. Tabel 4.10 menunjukkan bandgap setiap fotokatalis yang dihitung dari panjang gelombang absorbansinya masing-masing. 71
17 Tabel Perbandingan Panjang Gelombang Absorbansi dan Bandgap untuk Ni-N- TiO 2 dengan berbagai konsentrasi loading Ni N-TiO 2 Ni(3%)-N-TiO 2 Ni(5%)-N-TiO 2 Ni(10%)-N- TiO 2 Panjang gelombang Absorbansi (nm) Energi band gap (ev) 2,91 2,47 2,47 2,47 Berdasarkan tabel 4.10, dapat dilihat bahwa bahwa energy bandgap dari katalis Ni-N- TiO 2 tidak berubah dengan penambahan Ni, dari konsentrasi Cu 3,5 dan 10% memiliki energy bandgap sebesar 2,47 ev. Diduga hal ini disebabkan kristal NiO pada katalis Ni- N-TiO 2 dengan loading Ni 1dan 3% belum terbentuk, sedangkan pada loading Ni 10%, kristal NiO yang terbentuk masih sangat sedikit. Meskipun begitu energy band gap dari Ni-N-TiO 2 jauh mengalami penurunan dibandingkan dengan TiO 2 degussa P25 yang memiliki energy bandgap 3,28 ev dan N-TiO2 yang memiliki energy band gap 2,91 ev. Namun ternyata besarny sama dengan energy bandgap dari Cu-N-TiO 2 yaitu 2,47 ev. Loading dopan M mempunyai pengaruh terhadap besarnya konsentrasi N yang mampu terdopan di dalam katalis TiO 2. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar Pengaruh Loading Dopan M (Pt, Cu dan Ni) terhadap konsentrasi N terdopan dalam TiO 2 72
18 Menurut Jinlong (2010), level doping N biasanya sangat rendah pada sistem komposit N-TiO 2 dan penambahan dopan kedua dapat meningkatkan jumlah spesi nitrogen yang menyisip di kisi TiO 2. Ini terbukti berdasarkan hasil karakterisasi SEM- EDS pada tabel 4.1, tabel 4.2, tabel 4.3 dan tabel 4.4 diperoleh, besar N terdopan di dalam TiO 2 mengalami peningkatan dengan adanya dopan M pada loading dari 0% sampai dengan 5% namun turun kembali pada loading 10% baik untuk Cu maupun Ni. seperti terlihat dalam gambar 4.11 di atas. Terlihat bahwa pada konsentrasi loading dopan 5% untuk Cu dan Ni diperoleh jumlah konsentrasi N terdopan paling tinggi yaitu 9,4% untuk Cu dan 7,3% untuk Ni Uji Kinerja Pengaruh Dopan N Terhadap Kinerja Katalis Pemberian dopan Nitrogen dilakukan dengan cara perendaman fotokatalis TiO 2 di dalam larutan NH 3 0,5M selama 24 jam. Selama perendaman, ion NH + 4 akan menempel di permukaan fotokatalis dan bereaksi membentuk kompleks ammonium titanat nanotube. Selesai direndam selama 24 jam, fotokatalis dikalsinasi selama 1 jam pada suhu 500ºC. Proses kalsinasi ini akan merubah struktur kristal TiO 2 dari amorf menjadi anatase, serta mendekomposisi ikatan yang ada pada ion NH + 4 sehingga atom N dapat terlepas dari senyawa tersebut. Atom N yang terlepas akan masuk ke dalam struktur kristal TiO 2 dan mengambil posisi latis atom O dan berikatan dengan Ti membentuk ikatan kovalen (Nosaka et al., 2004). Pengaruh keberadaan dopan Nitrogen dalam TiO 2 diamati dengan dengan membandingkan aktivitas fotokatalis N-TiO 2 dengan TiO 2 degussa P25 dalam memproduksi hidrogen dari gliserol dan air menggunakan iradiasi sinar tampak. Massa fotokatalis yang digunakan masing-masing adalah 0,5 gram, volume campuran gliserolair adalah 500 ml dengan konsentrasi gliserol 10%, serta waktu pengujian selama 5 jam. 73
19 Gambar Pengaruh Dopan Nitrogen terhadap Kinerja TiO 2 dalam Memproduksi Hidrogen dari Gliserol dan Air pada Sinar Tampak (Vcampuran = 500mL, Massa Fotokatalis = 0,5 gram, Sumber Foton = Visible, Konsentrasi Gliserol 10%v) Dapat dilihat dari gambar 4.12 bahwa keberadaan dopan nitrogen dalam fotokatalis TiO 2 memberikan pengaruh yang signifikan terhadap aktivitasnya di bawah sinar tampak. Dalam iradiasi sinar tampak, fotokatalis TiO 2 yang diberi dopan Nitrogen dapat memfasilitasi reaksi fotokatalis dalam memproduksi hidrogen selama 4 jam hingga 42 µmol, sementara TiO 2 degussa P-25 hanya dapat memproduksi hidrogen hingga 10 µmol. Ini berarti keberadaan dopan N dalam TiO 2 dapat meningkatkan produksi hidrogen dari campuran gliserol dan air sampai empat kalinya. Semikonduktor TiO 2 dengan struktur anatase memiliki energy band gap yang lebar (3,28 ev) yang menyebabkan TiO 2 hanya aktif terhadap sinar dengan panjang gelombang lebih pendek atau setara dengan panjang gelombang sinar UV-A. Untuk dapat memproduksi hidrogen dengan energi yang murah maka diharapkan energi foton dapat digunakan dari sinar matahari yang sebagian besar terdiri dari sinar tampak. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Asahi et a.l. (2001), pemberian nitrogen ke dalam TiO 2 dapat meningkatkan aktivitas fotokatalisis TiO 2 pada sinar tampak. 74
20 Asahi (2001) melaporkan bahwa penambahan dopan nitrogen pada fotokatalis dapat meningkatkan aktivitas fotokatalitik secara signifikan di bawah sinar tampak. Asahi menemukan bahwa pencampuran p states dari N dengan 2p dari O dapat menaikkan pita valensi untuk dapat memperkecil band gap dari TiO 2, sementara posisi dari pita konduksi tetap. Hal ini menyebabkan fotokatalis TiO 2 lebih aktif terhadap sinar tampak. Ini terlihat dari hasil karakterisasi DRS terhadap N-TiO2 seperti pada gambar 4.8 dan tabel 4.5 Berdasarkan tabel 4.8, dapat dilihat bahwa dopan N mampu menurunkan energy band gap dari 3,28 ev untuk TiO 2 menjadi 2,91 ev untuk N-TiO 2, sehingga keberadaan dopan N dapat meningkatkan respon fotokatalis terhadap sinar tampak. Hal ini menyebabkan kinerja dari katalis TiO 2 dalam produksi hidrogen dari larutan gliserol dan air akan meningkat seperti pada gambar 4.12 di atas. Dapat disimpulkan bahwa keberadaan dopan N dalam TiO 2 dapat meningkatkan produksi hidrogen dari campuran gliserol dan air sampai empat kali dibanding dengan TiO Pengaruh Dopan Pt Terhadap Kinerja Katalis Pengaruh keberadaan dopan Platina dalam N-TiO 2 diamati dengan dengan membandingkan aktivitas fotokatalis Pt(1%)-N-TiO 2 dengan TiO 2 dan N-TiO 2 dalam memproduksi hidrogen dari gliserol dan air. Massa fotokatalis yang digunakan masingmasing adalah 0,5 gram, volume campuran gliserol-air adalah 500 ml dengan konsentrasi gliserol 10%, serta waktu pengujian selama 5 jam. Hasil pengujian disajikan dalam gambar 4.13 berikut. 75
21 Gambar Pengaruh Dopan Pt terhadap Kinerja TiO 2 dalam Memproduksi Hidrogen dari Gliserol dan Air pada Sinar Tampak (Vcampuran = 500mL, Massa Fotokatalis = 0,5 gram, Sumber Foton = Visible, Konsentrasi Gliserol 10%v) Pengujian produksi hidrogen untuk Pt(1%)-N-TiO 2 dengan iradiasi sinar tampak memberikan hasil produksi hingga 337,5 µmol, untuk N-TiO 2 42 µmol, sedangkan untuk TiO 2 sebesar 10,08 µmol. Kenaikan produksi hidrogen dari Pt(1%)-N-TiO 2 merupakan gabungan dari pengaruh antara dopan N dan dopan Pt terhadap katalis TiO 2, diperkirakan sebagaimana terlihat dalam gambar 4.14 berikut ini. Gambar Kontribusi Dopan N dan Pt dari katalis dalam memproduksi Hidrogen dari Gliserol dan Air pada Sinar Tampak (Vcampuran = 500mL, Massa Fotokatalis = 0,5 gram, Sumber Foton = Visible, Konsentrasi Gliserol 10%v) 76
22 Hasil dari SEM-EDS pada tabel 4.2 memperlihatkan bahwa konsentrasi N terdopan dalam katalis Pt(1%)-N-TiO 2 sebesar 1,4 %. Sedangkan hasil karakterisasi XRD memberikan informasi ukuran kristal dari Pt(1%)-N-TiO 2 adalah 16,5 nm, dengan fraksi anatase sebesar 80%. Menurut Choi et al. (2002), keberadaan dopan Pt dalam TiO 2 dapat meningkatkan laju reaksi fotokatalitik melalui Schottky-barrier electron trapping, seperti yang terlihat pada gambar Gambar Skema Transfer Elektron karena Energi Foton pada Pt/TiO 2 (Choi et al., 2002) Anpo (Anpo, 2003) menggunakan sinar Electron Spin Resonance (ESR) untuk menyelidiki transfer elektron dari TiO 2 menuju partikel Pt. Ditemukan bahwa signal Ti 3+ meningkat seiring waktu iradiasi dan penambahan dari Pt mereduksi jumlah dari Ti 3+. Pengamatan ini mengindikasikan kehadiran transfer elektron dari TiO 2 menuju partikel Pt. Saat elektron terakumulasi di partikel Pt, level fermi berpindah lebih dekat ke arah pita konduksi dari TiO 2, yang mengakibatkan level energi yang lebih negatif. Hal ini merupakan sesuatu yang menguntungkan bagi produksi hidrogen. Lebih jauh, partikel platina yang lebih kecil yang terdeposit di permukaan TiO 2 menunjukkan fermi level bergeser ke arah yang lebih negatif. Elektron yang terakumulasi di partikel Pt kemudian dapat ditransfer menuju proton yang teradsorb di permukaan dan mereduksi proton menjadi molekul hidrogen. Oleh karena itu, keberadaan dopan Pt dapat meningkatkan transfer elektron, yang pada akhirnya berhasil meningkatkan aktivitas fotokatalitik. Dari gambar 4.13 terlihat bahwa adanya dopan platina memberikan hasil yang sangat signifikan pada aktivitas fotokatalis TiO 2 dalam memproduksi hidrogen. Bila 77
23 keberadaan dopan N hanya mampu meningkatkan produksi hidrogen 4 kali, maka keberadaan dopan Pt dan N dalam TiO 2 mampu meningkatkan produksi hidrogen dari campuran gliserol dan air sampai 34 kali Pengaruh Dopan Cu Pengaruh keberadaan dopan Cu dalam N-TiO 2 diamati dengan dengan membandingkan aktivitas fotokatalis Cu-N-TiO 2 dengan berbagai konsentrasi loading Cu dengan aktivitas TiO 2 dan N-TiO 2 dalam memproduksi hidrogen dari gliserol dan air. Massa fotokatalis yang digunakan masing-masing adalah 0,5 gram, volume campuran gliserol-air adalah 500 ml dengan konsentrasi gliserol 10%, serta waktu pengujian selama 5 jam. Hasil pengujian dapat dilihat pada gambar 4.16 berikut. Gambar Pengaruh Dopan Cu dengan berbagai konsentrasi loading Cu terhadap Kinerja TiO 2 dalam memproduksi hidrogen dari Gliserol dan Air pada Sinar Tampak (Vcampuran = 500mL, Massa Fotokatalis = 0,5 gram, Sumber Foton = Visible, Konsentrasi Gliserol 10%v) Pengujian produksi hidrogen untuk Cu-N-TiO 2 dengan berbagai variasi loading Cu dengan iradiasi sinar tampak memberikan hasil produksi paling optimal pada loading Cu 5 % yaitu hingga 103,6 µmol. Gambar 4.17 berikut menunjukkan pengaruh konsentrasi loading Cu terhadap produksi hidrogen dari gliserol dan air. Terlihat bahwadiperoleh kondisi optimalnya pada loading 5% Cu. 78
24 Gambar Pengaruh loading Dopan Cu terhadap Kinerja TiO 2 dalam memproduksi hidrogen dari Gliserol dan Air pada Sinar Tampak (Vcampuran = 500mL, Massa Fotokatalis = 0,5 gram, Sumber Foton = Visible, Konsentrasi Gliserol 10%v) Dari tabel 4.9 diperoleh energy band gap Cu-N-TiO 2 mengalami penurunan dibandingkan dengan N-TiO 2 yang besarnya 2,91 ev, apalagi dibandingkan dengan energy band gap TiO2 yang besarnya 3,28 ev. Hal ini menyebabkan katalis Cu-N-TiO 2 dapat bekerja dengan baik pada cahaya tampak. Energy band gap dari Cu-N-TiO 2 dengan berbagai konsentrasi loading Cu adalah sama yaitu sebesar 2,47 ev. Dari karakterisasi SEM-EDS pada gambar 4.3 dan tabel 4.3 terlihat konsentrasi N terbesar terdapat dalam katalis dengan loading Cu 5% yaitu 9,40 %. Sementara dari hasil karakterisasi XRD untuk berbagai loading Cu pada tabel 4.6 dapat diketahui bahwa ukuran kristal Cu berkisar antara 17,61 nm sampai 22,64 nm. Dari hasil karakterisasi, terlihat katalis dengan loading Cu 5% memiliki beberapa keunggulan dibanding dengan konsentrasi Cu yang lain. Dari hasil SEM-EDS terlihat bahwa untuk loading Cu 5% memiliki kandungan dopan N yang paling tinggi yaitu 9,4 %, sementara untuk loading Cu konsentrasi yang lain maksimal hanya mengandung dopan N sebesar 7,37%. Berkaitan dengan ukuran kristal, loading Cu 5% memiliki kristal terkecil dibanding dengan loading Cu yang lain yaitu sebesar 17,61 nm. Hanya saja perbedaan ukuran kristal yang tidak terlalu signifikan diduga tidak banyak memberi kontribusi dalam menaikkan kinerja katalis. Dengan beberapa keunggulan ini diduga turut menyebabkan loading Cu dengan konsentrasi 5% paling optimal untuk produksi hidrogen dari gliserol dan air dibandingkan dengan konsentrasi loading Cu yang lain. 79
25 Menurut Jinlong, dopan logam M memiliki dosis optimal dimana jika dopan M disisipkan ke dalam sistem N-TiO 2 di bawah dosis optimalnya, ion dopan tersebut dapat berfungsi sebagai pusat separasi elektron-hole sehingga meningkatkan aktivitas fotokatalitik. Sebaliknya, ketika jumlah dopan M melebihi jumlah dosis optimumnya, ion dopan tersebut akan berfungsi sebagai pusat rekombinasi sehigga akan sangat merugikan dari aspek aktivitas fotokatalitik (Jinlong, 2010). Disimpulkan bahwa dosis optimal untuk Cu-N-TiO 2 adalah pada loading Cu 5%. Hasil ini berbeda dengan yang diperoleh Lalitha K. et al. (Lalitha K., 2010) yang mendapatkan konsentrasi loading Cu yang optimal adalah pada 0,5%, namun katalis yang disintesis adalah CuO-TiO 2 tanpa dengan dopan nitrogen. Gambar Kontribusi Dopan N dan Cu dari katalis dalam memproduksi Hidrogen dari Gliserol dan Air pada Sinar Tampak (Vcampuran = 500mL, Massa Fotokatalis = 0,5 gram, Sumber Foton = Visible, Konsentrasi Gliserol 10%v) Seperti halnya pada dopan Pt, kenaikan produksi hidrogen dari Cu-N-TiO 2 pada campuran gliserol dan air merupakan gabungan dari pengaruh dopan N dan dopan Cu terhadap katalis TiO 2, sebagaimana terlihat dalam gambar Tampak 80 bahwa kontribusi Cu cukup signifikan, dimana keberadaan dopan N hanya mampu meningkatkan produksi hidrogen 4 kali sedangkan keberadaan Cu dan N mampu meningkatkan produksi hidrogen sampai 10 kali. Peningkatan produksi hidrogen ini sama dengan yang diperoleh dalam percobaan Wu et al. (Wu, 2004), yang mendeposit Cu pada permukaan TiO 2 terbukti dapat meningkatkan produksi hidrogen hingga 10 kali
26 lipat dengan tanpa penambahan Cu. Hanya saja katalis yang disintesis tanpa dengan dopan N Pengaruh Dopan Ni Terhadap Kinerja Katalis Pengaruh keberadaan dopan Ni dalam N-TiO 2 diamati dengan dengan membandingkan aktivitas fotokatalis Ni-N-TiO 2 dengan berbagai konsentrasi loading Ni dengan aktivitas TiO 2 dan N-TiO 2 dalam memproduksi hidrogen dari gliserol dan air. Massa fotokatalis yang digunakan masing-masing adalah 0,5 gram, volume campuran gliserol-air adalah 500 ml dengan konsentrasi gliserol 10%, serta waktu pengujian selama 5 jam. Gambar Pengaruh Dopan Ni dengan berbagai konsentrasi loading Ni terhadap Kinerja TiO 2 dalam memproduksi hidrogen dari Gliserol dan Air pada Sinar Tampak (Vcampuran = 500mL, Massa Fotokatalis = 0,5 gram, Sumber Foton = Visible, Konsentrasi Gliserol 10%v) Pengujian produksi hidrogen untuk Ni-N-TiO 2 dengan berbagai variasi loading Ni dengan iradiasi sinar tampak memberikan hasil produksi paling optimal selama 4 jam reaksi pada loading Ni 5% yaitu sebesar 109 µmol, seperti terlihat pada gambar 4.20 berikut ini. 81
27 Gambar Pengaruh loading Dopan Ni terhadap Kinerja TiO 2 dalam memproduksi hidrogen dari Gliserol dan Air pada Sinar Tampak (Vcampuran = 500mL, Massa Fotokatalis = 0,5 gram, Sumber Foton = Visible, Konsentrasi Gliserol 10%v) Dari tabel 4.7 terlihat bahwa energy band gap Ni-N-TiO2 mengalami penurunan dibandingkan dengan N-TiO 2 yang besarnya 2,91 ev, apalagi dibandingkan dengan energy band gap TiO2 yang besarnya 3,28 ev. Sebagaimana pada katalis Cu-N-TiO2, hal ini juga menyebabkan katalis Ni-N-TiO 2 dapat bekerja pada cahaya tampak. Energy band gap dari Ni-N-TiO 2 dengan berbagai konsentrasi loading Ni adalah sama yaitu sebesar 2,47 ev. Dari hasil karakterisasi terlihat katalis dengan loading Ni 5% memiliki keunggulan dibanding dengan konsentrasi Ni yang lain. Dari hasil SEM-EDS pada gambar 4.4 dan tabel 4.3 terlihat konsentrasi N terbesar terdapat dalam katalis dengan loading Ni 5% yaitu 7,30 %, sementara untuk loading Ni konsentrasi yang lain maksimal hanya mengandung dopan N sebesar 4,28%. Dengan keunggulan ini diduga menyebabkan loading Ni dengan konsentrasi 5% paling optimal untuk produksi hidrogen dari gliserol dan air dibandingkan konsentrasi loading Ni yang lain. Menurut Jinlong, dopan logam M memiliki dosis optimal dimana jika dopan M disisipkan ke dalam sistem N-TiO 2 di bawah dosis optimalnya, ion dopan tersebut dapat berfungsi sebagai pusat separasi elektron-hole sehingga meningkatkan aktivitas fotokatalitik. Sebaliknya, ketika jumlah dopan M melebihi jumlah dosis optimumnya, ion dopan tersebut akan berfungsi sebagai pusat rekombinasi sehigga akan sangat merugikan 82
28 dari aspek aktivitas fotokatalitik (Jinlong, 2010). Disimpulkan bahwa dosis optimal untuk Ni-N-TiO 2 adalah pada loading Ni 5%. Seperti halnya pada dopan Pt dan Cu, kenaikan produksi hidrogen dari Ni-N-TiO 2 pada campuran gliserol dan air merupakan gabungan dari pengaruh antara dopan N dan dopan Ni terhadap katalis TiO2, sebagaimana terlihat dalam gambar Tampak bahwa kontribusi Ni cukup signifikan, dimana keberadaan dopan N hanya mampu menaikkan produksi hidrogen 4 kali sedangkan keberadaan Ni dan N mampu menaikkan produksi hidrogen sampai 8 kali. Gambar Kontribusi Dopan N dan Ni dari katalis dalam memproduksi Hidrogen dari Gliserol dan Air pada Sinar Tampak (Vcampuran = 500mL, Massa Fotokatalis = 0,5 gram, Sumber Foton = Visible, Konsentrasi Gliserol 10%v) Secara umum, aktivitas fotokatalitik komposit M-N-TiO 2 menunjukkan aktivitas fotokatalitik sinar tampak yang lebih tinggi relatif terhadap TiO 2 maupun N-TiO 2 dalam aplikasinya untuk produksi hidrogen dari gliserol dan air, seperti terlihat pada gambar berikut. 83
29 Gambar Pengaruh Dopan Pt, Cu dan Ni pada loading optimal terhadap Kinerja TiO 2 dalam memproduksi hidrogen dari Gliserol dan Air pada Sinar Tampak (Vcampuran = 500mL, Massa Fotokatalis = 0,5 gram, Sumber Foton = Visible, Konsentrasi Gliserol 10%v) Terlihat bahwa katalis dengan loading 5% Cu maupun 5% Ni, menghasilkan produksi hidrogen yang lebih tinggi, namun masih jauh dibawah aktivitas katalis TiO 2 dengan loading Pt(1%). Bila dopan Ni dan N hanya mampu meningkatkan kinerja katalis TiO 2 dalam memproduksi hidrogen dari gliserol dan air 8 kali dan dopan Cu dan N meningkatkan kinerja 10 kali, maka dopan Pt dan N mampu meningkatkan kinerja katalis sampai 34 kali. Dilihat dari perspektif termodinamika, kemampuan dopan logam sebagai electron trapper terhadap suatu semikonduktor dapat berlangsung apabila potensial reduksi dari logam tersebut lebih positif dari pada pita konduksi dari semikonduktor tersebut (Chiang, 2002). Makin besar potensial reduksi makin efektif kemampuannya sebagai electron trapper. Pt memiliki potensial reduksi yang sangat besar yaitu sebesar 1,20 V sedangkan Cu memiliki potensial reduksi yang relatif kecil yaitu 0,34 V (Anonym, 2009). Bahkan Ni memiliki potensial reduksi negatif -0,25 V, sehingga kurang berfungsi baik sebagai electron trapper. Hal inilah yang menyebabkan kinerja katalis Pt-N-TiO 2 dalam produksi hidrogen dari gliserol dan air paling tinggi dibandingkan Cu-N-TiO 2 dan Ni-N-TiO 2 dan kinerja Cu-N-TiO 2 lebih tinggi dibandingkan Ni-N-TiO 2. 84
30 Pengaruh Konsentrasi Gliserol Terhadap Kinerja Katalis Pengaruh konsentrasi gliserol diamati dari hasil pengujian produksi hidrogen dengan variasi konsentrasi gliserol dalam campuran air-gliserol sebesar 10%, 20% dan 50% volume. Volume campuran untuk setiap variasi adalah 500 ml dan katalis yang digunakan adalah 0,5 gram serta iradiasi menggunakan sinar tampak. Pengujian ini menggunakan fotokatalis Cu(5%)-N-TiO 2. Adapun hasil pengujian dapat dilihat pada gambar 4.23 berikut. Gambar Pengaruh Konsentrasi Gliserol dalam Campuran Terhadap Produksi Hidrogen (Vcampuran = 500 ml, Katalis = 0,5 gram Cu(5%)-N-TiO 2, Sumber Foton: Visible) Berdasarkan gambar 4.23, dapat dilihat bahwa konsentrasi gliserol yang paling tinggi dalam produksi hidrogen adalah konsentrasi gliserol 50% volume. Kemudian disusul oleh konsentrasi gliserol 20% volume dan 10% volume.. Setelah 4 jam reaksi, masing-masing konsentrasi dapat memproduksi hidrogen hingga 473 µmol, 212 µmol dan 57 µmol. Dapat disimpulkan untuk rentang konsentrasi gliserol hingga 50% volume, jumlah hidrogen yang terbentuk sebanding dengan jumlah gliserol yang dicampur dalam air. Dimana tren data memperlihatkan bahwa produksi hidrogen setiap jam terus meningkat. Dari gambar tersebut, dapat dilihat pula bahwa untuk reaksi water splitting tanpa menggunakan sacrificial agent (konsentrasi gliserol 0%), tidak terbentuk hidrogen sama 85
31 sekali. Hal ini disebabkan oleh terjadinya rekombinasi di permukaan fotokatalis antara elektron dan hole yang telah tereksitasi oleh energi foton. Menurut Abe et al. (2003), reaksi pembentukan hidrogen dengan TiO 2 dari air tanpa menggunakan sacrificial agent tidak dapat memisahkan air menjadi H 2 dan O 2. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar hole yang terbentuk dari eksitasi oleh energi foton akan bereaksi balik dengan elektron yang tereksitasi (reaksi rekombinasi) sehingga waktu keberadaan elektron pada permukaan katalis menjadi sangat pendek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua fotokatalis tersebut tidak dapat menghasilkan hidrogen pada saat diuji pada air murni. Selanjutnya akan dibahas pengaruh penambahan gliserol dalam reaktan dalam memproduksi hidrogen secara fotokatalitik. Peranan keberadaan gliserol dalam reaksi water splitting secara fotokatalitik dapat dilihat dalam dua aspek. Dalam satu sisi, gliserol merupakan reaktan yang bereaksi dengan air yang memberikan produk hidrogen dan karbon dioksida, seperti yang ada pada reaksi steam reforming pada umumnya. Di lain pihak, gliserol bertindak sebagai sacrificial agent dalam reaksi fotokatalitik water splitting. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan, didapatkan bahwa semakin besar konsentrasi gliserol dalam campuran, maka hidrogen yang terproduksi juga semakin bertambah banyak. Hal ini dikarenakan di dalam campuran reaktan semakin banyak jumlah molekul gliserol yang dapat digunakan untuk bereaksi dengan air secara fotokatalitik. Selain itu dilihat fungsinya sebagai sacrificial agent, peningkatan konsentrasi gliserol akan menambah jumlah elektron donor yang dapat dioksidasi oleh hole. Hole, yang bersama dengan elektron merupakan hasil eksitasi fotokatalis dari energi foton, akan terokupasi untuk mengoksidasi gliserol, dan electron akan lebih bebas untuk mereduksi air. Kedua reaksi tersebut, baik reduksi maupun oksidasi, berkontribusi secara langsung dalam memproduksi hidrogen. Terokupasinya elektron dan hole untuk melakukan reaksi reduksi dan oksidasi ini akan memperkecil frekuensi terjadinya rekombinasi di permukaan antara elektron dan hole, sehingga reaksi rekombinasi antara hole dengan elektron dapat diminimalisasi. 86
32 Ditinjau dari mekanisme reaksi fotokatalitik, seperti yang telah dijelaskan pada subbab 2.4, reaksi fotokatalitik antara gliserol dan air dapat menghasilkan hidrogen lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan air saja. Hal ini disebabkan oleh oksidasi gliserol oleh hole membentuk beberapa senyawa intermediet yang diikuti dengan pembentukan produk samping berupa gas hidrogen. Reaksi pembentukan intermediet yang juga menghasilkan produk samping berupa gas hidrogen dapat dilihat lebih jelas pada subbab tersebut. Namun dalam penelitian ini, hidrogen hasil samping tersebut tidak diidentifikasi secara terpisah Prospek Produksi Hidrogen dari Gliserol dan Air Secara Fotokatalitik Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan pada subbab-subbab sebelumnya, terlihat bahwa fotokatalis TiO 2 yang dimodifikasi dengan pemberian dopan N, Pt, Cu dan Ni dapat meningkatkan produksi hidrogen dari gliserol dan air pada sinar tampak dengan cukup baik. Hasil terbaik dicapai oleh dopan Pt yang mencapai 34 kali, namun dalam penggunaan skala yang lebih besar, disamping dipertimbangkan kemampuan dari dopan untuk meningkatkan produksi hidrogen dari gliserol dan air, perlu juga dipertimbangkan faktor ekonominya. Tabel berikut menunjukkan harga dari masing-masing bahan untuk Pt, Cu dan Ni. Tabel Daftar Harga dari Precursor Pt, Cu dan Ni dari produsen bahan kimia (Merck, 2110). Precursor Faktor Peningkatan Produksi H 2 Harga pergram (Rp) Harga dopan yang dibutuhkan (Rp) 1.H 2 PtCl 6.6H 2 O 2.Cu(NO 3 ) 2.3H 2 O 3.Ni(NO 3 ) 2.3H 2 O dibandingkan TiO Terlihat bahwa harga dopan yang dibutuhkan untuk produksi hidrogen dari precursor Pt dibandingkan dengan precursor Cu sebesar 112 kali, sedangkan faktor peningkatan produksi H 2 dari Pt dibandingkan Cu hanya sebesar 3,4 kali. `Karena itu untuk skala yang luas, penggunaan dopan Cu menjadi pertimbangan utama untuk menggantikan dopan Pt dalam upaya peningkatan produksi hidrogen dari gliserol dan air. 87
33 Walaupun yield produksi hidrogen secara fotokatalitik terbilang rendah, yakni sekitar 0,01%, jika dibandingkan dengan metode produksi hidrogen secara steam reforming, namun kebutuhan panas reaksi secara fotokatalitik jauh lebih kecil karena hanya memanfaatkan sinar tampak, yang merupakan komponen terbesar dalam sinar matahari. Oleh karena itu, biaya produksi menjadi jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan metode steam reforming. Selain itu, melihat banyaknya penelitian yang dilakukan untuk memaksimalkan potensi produksi hidrogen secara fotokatalitik dari gliserol dan air, maka prospek aplikasi dalam skala besar dapat dikatakan potensial. 88
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Katalis merupakan suatu zat yang sangat diperlukan dalam kehidupan. Katalis yang digunakan merupakan katalis heterogen. Katalis heterogen merupakan katalis yang dapat digunakan
UNIVERSITAS INDONESIA TESIS
UNIVERSITAS INDONESIA SINTESIS DAN KARAKTERISASI KATALIS NANOKOMPOSIT BERBASIS TITANIA UNTUK PRODUKSI HIDROGEN DARI GLISEROL DAN AIR TESIS AGUS SALIM AFROZI 0906578831 FAKULTAS TEKNIK PROGRAM MAGISTER
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fotokatalis telah mendapat banyak perhatian selama tiga dekade terakhir sebagai solusi yang menjanjikan baik untuk mengatasi masalah energi maupun lingkungan. Sejak
BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN
BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN 4.1 Sintesis Padatan ZnO dan CuO/ZnO Pada penelitian ini telah disintesis padatan ZnO dan padatan ZnO yang di-doped dengan logam Cu. Doping dengan logam Cu diharapkan mampu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan TiO 2 sebagai fotokatalis diperkenalkan pertama kali oleh Fujishima dan Honda tahun 1972 mengenai pemecahan air menjadi oksigen dan hidrogen secara fotoelektrokimia
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aspek Kimia CO 2 Karbon dioksida adalah produk akhir oksidasi senyawa organik dan karena itu dianggap sebagai senyawa yang stabil. Senyawa ini dapat diproses secara kimiawi
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. cahaya matahari.fenol bersifat asam, keasaman fenol ini disebabkan adanya pengaruh
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Fenol merupakan senyawa organik yang mengandung gugus hidroksil (OH) yang terikat pada atom karbon pada cincin benzene dan merupakan senyawa yang bersifat toksik, sumber pencemaran
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab II Tinjauan Pustaka 2.1 Produksi H 2 Sampai saat ini, bahan bakar minyak masih menjadi sumber energi yang utama. Karena kelangkaan serta harganya yang mahal, saat ini orang-orang berlomba untuk mencari
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. karakterisasi luas permukaan fotokatalis menggunakan SAA (Surface Area
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini akan dibahas mengenai preparasi ZnO/C dan uji aktivitasnya sebagai fotokatalis untuk mendegradasi senyawa organik dalam limbah, yaitu fenol. Penelitian ini
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Telah banyak dibangun industri untuk memenuhi kebutuhan manusia. Berkembangnya industri tentu dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat, tetapi juga menimbulkan
4 Hasil dan Pembahasan
4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Padatan TiO 2 Amorf Proses sintesis padatan TiO 2 amorf ini dimulai dengan melarutkan titanium isopropoksida (TTIP) ke dalam pelarut etanol. Pelarut etanol yang digunakan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dalam penelitian ini digunakan TiO2 yang berderajat teknis sebagai katalis.
33 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakterisasi TiO2 Dalam penelitian ini digunakan TiO2 yang berderajat teknis sebagai katalis. TiO2 dapat ditemukan sebagai rutile dan anatase yang mempunyai fotoreaktivitas
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sintesa Katalis Dalam penelitian ini, katalis disintesis menggunakan metode impregnasi kering. Metode ini dipilih karena metode impregnasi merupakan metode sintesis yang
HASIL DAN PEMBAHASAN. Struktur Karbon Hasil Karbonisasi Hidrotermal (HTC)
39 HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur Karbon Hasil Karbonisasi Hidrotermal (HTC) Hasil karakterisasi dengan Difraksi Sinar-X (XRD) dilakukan untuk mengetahui jenis material yang dihasilkan disamping menentukan
PENGARUH VARIASI MILLING TIME dan TEMPERATUR KALSINASI pada MEKANISME DOPING 5%wt AL NANOMATERIAL TiO 2 HASIL PROSES MECHANICAL MILLING
PENGARUH VARIASI MILLING TIME dan TEMPERATUR KALSINASI pada MEKANISME DOPING 5%wt AL NANOMATERIAL TiO 2 HASIL PROSES MECHANICAL MILLING I Dewa Gede Panca Suwirta 2710100004 Dosen Pembimbing Hariyati Purwaningsih,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen secara kualitatif dan kuantitatif. Metode penelitian ini menjelaskan proses degradasi fotokatalis
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hidrogen Hidrogen merupakan suatu senyawa kimia yang memiliki sifat utama yaitu sangat mudah terbakar. Sebagai sumber energi, hidrogen mempunyai kandungan massa energi yang
Distribusi Celah Pita Energi Titania Kotor
Jurnal Nanosains & Nanoteknologi ISSN 1979-0880 Edisi Khusus, Agustus 009 Distribusi Celah Pita Energi Titania Kotor Indah Nurmawarti, Mikrajuddin Abdullah (a), dan Khairurrijal Kelompok Keahlian Fisika
I. KEASAMAN ION LOGAM TERHIDRAT
I. KEASAMAN ION LOGAM TERHIDRAT Tujuan Berdasarkan metode ph-metri akan ditunjukkan bahwa ion metalik terhidrat memiliki perilaku seperti suatu mono asam dengan konstanta keasaman yang tergantung pada
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Penelitian Titanium dioksida atau TiO 2 merupakan material semikonduktor yang banyak dimanfaatkan untuk fotokatalis, mikroelektronik, sel optik, inaktivasi mikroorganisme,
Karakterisasi XRD. Pengukuran
11 Karakterisasi XRD Pengukuran XRD menggunakan alat XRD7000, kemudian dihubungkan dengan program dikomputer. Puncakpuncak yang didapatkan dari data pengukuran ini kemudian dicocokkan dengan standar difraksi
STRUKTUR KRISTAL DAN MORFOLOGI TITANIUM DIOKSIDA (TiO 2 ) POWDER SEBAGAI MATERIAL FOTOKATALIS
STRUKTUR KRISTAL DAN MORFOLOGI TITANIUM DIOKSIDA (TiO 2 ) POWDER SEBAGAI MATERIAL FOTOKATALIS SKRIPSI Oleh : Ahsanal Holikin NIM 041810201063 JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
4 Hasil dan Pembahasan
4 Hasil dan Pembahasan Sebelum dilakukan sintesis katalis Cu/ZrSiO 4, serbuk zirkon (ZrSiO 4, 98%) yang didapat dari Program Studi Metalurgi ITB dicuci terlebih dahulu menggunakan larutan asam nitrat 1,0
I. PENDAHULUAN. Perkembangan industri tekstil dan industri lainnya di Indonesia menghasilkan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan industri tekstil dan industri lainnya di Indonesia menghasilkan banyak limbah organik golongan senyawa azo, yang akan menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. hal ini memiliki nilai konduktifitas yang memadai sebagai komponen sensor gas
31 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis material konduktor ionik MZP, dilakukan pada kondisi optimum agar dihasilkan material konduktor ionik yang memiliki kinerja maksimal, dalam hal ini memiliki nilai
AKTIVITASNYA UNTUK DEKOMPOSISI AIR SKRIPSI. disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Studi Kimia
SINTESIS Ni-TiO 2 DENGAN METODE SOL-GEL DAN UJI AKTIVITASNYA UNTUK DEKOMPOSISI AIR SKRIPSI disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Studi Kimia oleh Angga Purnama 4350408036
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Modifikasi Ca-Bentonit menjadi kitosan-bentonit bertujuan untuk
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Modifikasi Ca-Bentonit menjadi kitosan-bentonit bertujuan untuk merubah karakter permukaan bentonit dari hidrofilik menjadi hidrofobik, sehingga dapat meningkatkan kinerja kitosan-bentonit
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap diazinon, terlebih dahulu disintesis adsorben kitosan-bentonit mengikuti prosedur yang telah teruji (Dimas,
BAB 4 DATA DAN ANALISIS
BAB 4 DATA DAN ANALISIS 4.1. Kondisi Sampel TiO 2 Sampel TiO 2 disintesa dengan memvariasikan jenis pelarut, block copolymer, temperatur kalsinasi, dan kelembaban relatif saat proses aging. Kondisi sintesisnya
BAB I PENDAHULUAN. perindustrian minyak, pekerjaan teknisi, dan proses pelepasan cat (Alemany et al,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fenol merupakan senyawa organik yang dapat mengganggu kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Fenol merupakan salah satu senyawa organik yang bersifat karsinogenik,
BAB IV PERHITUNGAN & ANALSIS HASIL KARAKTERISASI XRD, EDS DAN PENGUKURAN I-V MSM
BAB IV PERHITUNGAN & ANALSIS HASIL KARAKTERISASI XRD, EDS DAN PENGUKURAN I-V MSM Pada bab sebelumnya telah diperlihatkan hasil karakterisasi struktur kristal, morfologi permukaan, dan komposisi lapisan.
PENGOLAHAN LIMBAH METHYLEN BLUE DENGAN TiO 2 DIMODIFIKASI Cu DAN N
PENGOLAHAN LIMBAH METHYLEN BLUE DENGAN TiO 2 DIMODIFIKASI Cu DAN N Agus Salim Afrozi, Auring R, Sulistioso GS, dan Joko Nurchamid Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju BATAN Email : [email protected]
Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Kopresipitasi
Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Kopresipitasi NURUL ROSYIDAH Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember Pendahuluan Kesimpulan Tinjauan Pustaka
BAB III DASAR TEORI. elektron valensi memiliki tingkat energi yang disebut energi valensi.
BAB III DASAR TEORI 3.1 Semikonduktor Semikonduktor adalah bahan yang mempunyai energi celah (Eg) antara 2-3,9 elektron volt. Bahan dengan energi celah diatas kisaran energi celah semikonduktor adalah
REAKSI AMOKSIMASI SIKLOHEKSANON MENGGUNAKAN KATALIS Ag/TS-1
REAKSI AMOKSIMASI SIKLOHEKSANON MENGGUNAKAN KATALIS Ag/TS-1 Oleh: Dyah Fitasari 1409201719 Pembimbing: Dr. Didik Prasetyoko, S.Si, M.Sc Suprapto, M.Si, Ph.D LATAR BELAKANG Sikloheksanon Sikloheksanon Oksim
HASIL DAN PEMBAHASAN. didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 20%, 30%, 40%, dan 50%. Kemudian larutan yang dihasilkan diendapkan
6 didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 3.3.3 Sintesis Kalsium Fosfat Sintesis kalsium fosfat dalam penelitian ini menggunakan metode sol gel. Senyawa kalsium fosfat diperoleh dengan mencampurkan serbuk
HASIL DAN PEMBAHASAN. Keterangan Gambar 7 : 1. Komputer 2. Ocean Optic USB 2000 Spektrofotometer
7 Keterangan Gambar 7 : 1. Komputer 2. Ocean Optic USB 2000 Spektrofotometer 3. Sumber Cahaya (Polikromatis) 4. Fiber Optik 5. Holder 6. Samp 7. Gambar 7 Perangkat spektrofotometer UV-VIS. Karakterisasi
PENGOLAHAN LIMBAH Cr(VI) DAN FENOL DENGAN FOTOKATALIS SERBUK TiO 2 DAN CuO/TiO 2
PENGOLAHAN LIMBAH Cr(VI) DAN FENOL DENGAN FOTOKATALIS SERBUK TiO 2 DAN CuO/TiO 2 Slamet, Rita Arbianti, Eka Marliana Abstrak Studi tentang pengolahan limbah Cr(VI) dan fenol secara fotokatalisis telah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Nanoteknologi adalah ilmu yang mempelajari, menciptakan dan merekayasa material berskala nanometer dimana terjadi sifat baru. Kata nanoteknologi berasal dari
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN BaTiO 3 merupakan senyawa oksida keramik yang dapat disintesis dari senyawaan titanium (IV) dan barium (II). Proses sintesis ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu, tekanan,
I. PENDAHULUAN. kinerjanya adalah pemrosesan, modifikasi struktur dan sifat-sifat material.
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam sintesis material, beberapa hal yang sangat berpengaruh dalam menentukan kinerjanya adalah pemrosesan, modifikasi struktur dan sifat-sifat material. Perbaikan kinerja
2 SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOSTRUKTUR ZnO
2 SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOSTRUKTUR ZnO 3 Pendahuluan ZnO merupakan bahan semikonduktor tipe-n yang memiliki lebar pita energi 3,37 ev pada suhu ruang dan 3,34 ev pada temperatur rendah dengan nilai
I. PENDAHULUAN. Nanopartikel saat ini menjadi perhatian para peneliti untuk pengembangan dalam
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nanopartikel saat ini menjadi perhatian para peneliti untuk pengembangan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahan material dalam skala nano yang dapat meningkatkan
METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Kimia Anorganik-Fisik Universitas
III. METODELOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Kimia Anorganik-Fisik Universitas Lampung. Analisis XRD di Universitas Islam Negeri Jakarta Syarif
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Energi cahaya matahari dapat dikonversi menjadi energi listrik melalui suatu sistem yang disebut sel surya. Peluang dalam memanfaatkan energi matahari masih
BENTUK KRISTAL TITANIUM DIOKSIDA
BENTUK KRISTAL TITANIUM DIOKSIDA TiO2 memiliki tiga macam bentuk kristal : Anatase rutil brukit namun yang memiliki aktivitas fotokatalis terbaik adalah anatase. Bentuk kristal anatase diamati terjadi
I. PENDAHULUAN. kimia yang dibantu oleh cahaya dan katalis. Beberapa langkah-langkah fotokatalis
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Telah berkembang suatu mekanisme fotokatalis yang menerapkan pemanfaatan radiasi ultraviolet dan bahan semikonduktor sebagai fotokatalis, umumnya menggunakan bahan TiO2
Logo SEMINAR TUGAS AKHIR. Henni Eka Wulandari Pembimbing : Drs. Gontjang Prajitno, M.Si
SEMINAR TUGAS AKHIR Add Your Company Slogan STUDI AWAL FABRIKASI DAN KARAKTERISASI DYE SENSITIZED SOLAR CELL (DSSC) MENGGUNAKAN EKSTRAKSI BUNGA SEPATU SEBAGAI DYE SENSITIZERS DENGAN VARIASI LAMA ABSORPSI
PENGEMBANGAN C-TiO 2 NANOTUBE ARRAYS UNTUK PRODUKSI HIDROGEN DAN LISTRIK DARI LARUTAN GLISEROL SKRIPSI
UNIVERSITAS INDONESIA PENGEMBANGAN C-TiO 2 NANOTUBE ARRAYS UNTUK PRODUKSI HIDROGEN DAN LISTRIK DARI LARUTAN GLISEROL SKRIPSI TANIA DESELA 0806316096 FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA DEPOK JULI
KERAMIK Mimin Sukarmin, S.Si., M.Pd.
KERAMIK Mimin Sukarmin, S.Si., M.Pd. [email protected] A. Keramik Bahan keramik merupakan senyawa antara logam dan bukan logam. Senyawa ini mempunyai ikatan ionik dan atau ikatan kovalen. Jadi sifat-sifatnya
PREPARASI KOMPOSIT TiO 2 -SiO 2 DENGAN METODE SOL-GEL DAN APLIKASINYA UNTUK FOTODEGRADASI METHYL ORANGE
PREPARASI KOMPOSIT TiO 2 -SiO 2 DENGAN METODE SOL-GEL DAN APLIKASINYA UNTUK FOTODEGRADASI METHYL ORANGE Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat sarjana S-1 Program Studi Kimia Oleh
Pemanfaatan Bentonit Dan Karbon Sebagai Support Katalis NiO-MgO Pada Hidrogenasi Gliserol
Pemanfaatan Bentonit Dan Karbon Sebagai Support Katalis NiO-MgO Pada Hidrogenasi Gliserol Oleh : Ferlyna Sari 2312 105 029 Iqbaal Abdurrokhman 2312 105 035 Pembimbing : Ir. Ignatius Gunardi, M.T NIP 1955
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi semakin berkembang seiring dengan
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi semakin berkembang seiring dengan berkembangnya kehidupan manusia. Sehingga para peneliti terus berupaya untuk mengembangkan sumber-sumber energi
BAB 3 METODE PENELITIAN. Neraca Digital AS 220/C/2 Radwag Furnace Control Indicator Universal
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Alat Neraca Digital AS 220/C/2 Radwag Furnace Control Fisher Indicator Universal Hotplate Stirrer Thermilyte Difraktometer Sinar-X Rigaku 600 Miniflex Peralatan Gelas Pyrex
I. PENDAHULUAN. Nanoteknologi merupakan teknologi nano yang semakin populer beberapa
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nanoteknologi merupakan teknologi nano yang semakin populer beberapa tahun ini (Saas, 2007). Disebut nano karena ukuran partikel-partikel penyusunnya sangat kecil. Istilah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penggunaan senyawa kompleks yang didopingkan pada material semikonduktor semakin banyak dilakukan dalam rangka mendapatkan material semikonduktor rekaan. Penggunaan
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai dengan Juni 2013 di
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai dengan Juni 2013 di Laboratorium Fisika Material FMIPA Unila, Laboratorium Kimia Instrumentasi
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini akan dibahas tentang sintesis katalis Pt/Zr-MMT dan
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini akan dibahas tentang sintesis katalis Pt/Zr-MMT dan uji aktivitas katalis Pt/Zr-MMT serta aplikasinya sebagai katalis dalam konversi sitronelal menjadi mentol
2 PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL TITANIUM OXIDE (TiO 2 ) MENGGUNAKAN METODE SOL-GEL
3 2 PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL TITANIUM OXIDE (TiO 2 ) MENGGUNAKAN METODE SOL-GEL Pendahuluan Bahan semikonduktor titanium oxide (TiO 2 ) merupakan material yang banyak digunakan dalam berbagai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembuatan lapis tipis semikonduktor merupakan salah satu cara untuk memudahkan aplikasi semikonduktor baik sebagai solar sel maupun fotokatalis dalam degradasi
Bab 1. Semi Konduktor
Bab 1. Semi Konduktor Operasi komponen elektronika benda padat seperti dioda, LED, Transistor Bipolar dan FET serta Op-Amp atau rangkaian terpadu lainnya didasarkan atas sifat-sifat semikonduktor. Semikonduktor
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. metode freeze drying kemudian dilakukan variasi waktu perendaman SBF yaitu 0
37 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini sampel komposit hidroksiapatit-gelatin dibuat menggunakan metode freeze drying kemudian dilakukan variasi waktu perendaman SBF yaitu 0 hari, 1 hari, 7 hari
BAB III EKSPERIMEN & KARAKTERISASI
BAB III EKSPERIMEN & KARAKTERISASI Pada bab ini dibahas penumbuhan AlGaN tanpa doping menggunakan reaktor PA- MOCVD. Lapisan AlGaN ditumbuhkan dengan variasi laju alir gas reaktan, hasil penumbuhan dikarakterisasi
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ketersediaan sumber energi merupakan masalah yang harus segera diselesaikan oleh masing-masing negara termasuk Indonesia. Untuk itu perlu dikembangkan suatu teknologi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dihasilkan sebanyak 5 gram. Perbandingan ini dipilih karena peneliti ingin
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sintesis Katalis CuO/ZnO/Al 2 O 3 Katalis CuO/ZnO/Al 2 O 3 disintesis dengan metode kopresipitasi dengan rasio fasa aktif Cu, promotor ZnO, penyangga dan Al 2 O 3 yaitu
I. PENDAHULUAN. Nanoteknologi merupakan teknologi masa depan, tanpa kita sadari dengan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nanoteknologi merupakan teknologi masa depan, tanpa kita sadari dengan nanoteknologi tersebut berbagai aspek persoalan dapat kita selesaikan (Anonim A, 2012). Pengembangan
BAB I PENDAHULUAN. energi cahaya (foton) menjadi energi listrik tanpa proses yang menyebabkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sel surya merupakan suatu piranti elektronik yang mampu mengkonversi energi cahaya (foton) menjadi energi listrik tanpa proses yang menyebabkan dampak buruk terhadap
3.5 Karakterisasi Sampel Hasil Sintesis
7 konsentrasi larutan Ca, dan H 3 PO 4 yang digunakan ada 2 yaitu: 1) Larutan Ca 1 M (massa 7,6889 gram) dan H 3 PO 4 0,6 M (volume 3,4386 ml) 2) Larutan Ca 0,5 M (massa 3,8449) dan H 3 PO 4 0,3 M (volume
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis proses preparasi, aktivasi dan modifikasi terhadap zeolit
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis proses preparasi, aktivasi dan modifikasi terhadap zeolit Penelitian ini menggunakan zeolit alam yang berasal dari Lampung dan Cikalong, Jawa Barat. Zeolit alam Lampung
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. alkohol, dan fenol alkohol (Nair et al, 2008). Fenol memiliki rumus struktur
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fenol Fenol (C 6 H 6 OH) merupakan senyawa organik yang mempunyai gugus hidroksil yang terikat pada cincin benzena. Senyawa fenol memiliki beberapa nama lain seperti asam karbolik,
MATERI II TINGKAT TENAGA DAN PITA TENAGA
MATERI II TINGKAT TENAGA DAN PITA TENAGA A. Tujuan 1. Tujuan Umum Mahasiswa memahami konsep tingkat tenaga dan pita tenaga untuk menerangkan perbedaan daya hantar listrik.. Tujuan Khusus a. Mahasiswa dapat
I. PENDAHULUAN. Kebutuhan pada senyawa berukuran atau berstruktur nano khususnya dalam
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan pada senyawa berukuran atau berstruktur nano khususnya dalam bidang sintesis material, memacu para peneliti untuk mengembangkan atau memodifikasi metode preparasi
SINTESIS LAPISAN TIPIS SEMIKONDUKTOR DENGAN BAHAN DASAR TEMBAGA (Cu) MENGGUNAKAN CHEMICAL BATH DEPOSITION
SINTESIS LAPISAN TIPIS SEMIKONDUKTOR DENGAN BAHAN DASAR TEMBAGA (Cu) MENGGUNAKAN CHEMICAL BATH DEPOSITION Yolanda Oktaviani, Astuti Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas e-mail: [email protected]
Bab III Metodologi Penelitian
Bab III Metodologi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Kimia Analitik, Program Studi Kimia FMIPA ITB sejak September 2007 sampai Juni 2008. III.1 Alat dan Bahan Peralatan
HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 11. Rangkaian pengukuran karakterisasi I-V.
10 larutan elektrolit yang homogen. Pada larutan yang telah homogen dengan laju stirring yang sama ditambahkan larutan elektrolit KI+I 2 sebanyak 10 ml dengan konsentrasi 0.3 M tanpa annealing. Setelah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Titanium dioksida (TiO 2 ) sejak beberapa tahun terakhir banyak digunakan dalam berbagai bidang anatas anatara lain sebagai pigmen, bakterisida, pasta gigi,
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Memasuki abad 21, persediaan minyak dan gas bumi semakin menipis. Sementara kebutuhan akan energi semakin meningkat, terutama dirasakan pada negara industri. Kebuthan
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. IV.1 Sintesis dan karaktrisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan IV.1 Sintesis dan karaktrisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O Garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O telah diperoleh dari reaksi larutan kalsium asetat dengan
Bab IV. Hasil dan Pembahasan
Bab IV. Hasil dan Pembahasan Bab ini memaparkan hasil sintesis, karakterisasi konduktivitas listrik dan struktur kirstal dari senyawa perovskit La 1-x Sr x FeO 3-δ (LSFO) dengan x = 0,2 ; 0,4 ; 0,5 ; 0,6
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. sol-gel, dan mempelajari aktivitas katalitik Fe 3 O 4 untuk reaksi konversi gas
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengantar Penelitian ini pada intinya dilakukan dengan dua tujuan utama, yakni mempelajari pembuatan katalis Fe 3 O 4 dari substrat Fe 2 O 3 dengan metode solgel, dan mempelajari
PENGARUH ph TERHADAP PRODUKSI ASETON DARI LIMBAH CAIR TAPIOKA DENGAN FOTOKATALIS TiO2-Mn
SEMINAR NASIONAL KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA VI Pemantapan Riset Kimia dan Asesmen Dalam Pembelajaran Berbasis Pendekatan Saintifik Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan PMIPA FKIP UNS Surakarta, 21 Juni
I. PENDAHULUAN. komposit. Jenis material ini menjadi fokus perhatian karena pemaduan dua bahan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini salah satu jenis material aplikasi yang terus dikembangkan adalah komposit. Jenis material ini menjadi fokus perhatian karena pemaduan dua bahan atau lebih
SINTESIS FOTOKATALIS M/TiO 2 DAN APLIKASINYA UNTUK DEKOMPOSISI AIR
i SINTESIS FOTOKATALIS M/TiO 2 DAN APLIKASINYA UNTUK DEKOMPOSISI AIR skripsi disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Program studi Kimia oleh Satrio Bekti Uji Prambasto
I. PENDAHULUAN. Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA STUDI KOMPARASI METANOL DAN GLISEROL SEBAGAI ELEKTRON DONOR PADA PRODUKSI HIDROGEN DENGAN MENGGUNAKAN DOPAN LOGAM Pt PADA FOTOKATALIS BERBASIS TITANIA HALAMAN JUDUL TESIS HARYADI
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.2 DATA HASIL ARANG TEMPURUNG KELAPA SETELAH DILAKUKAN AKTIVASI
39 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 PENDAHULUAN Hasil eksperimen akan ditampilkan pada bab ini. Hasil eksperimen akan didiskusikan untuk mengetahui keoptimalan arang aktif tempurung kelapa lokal pada
METODE. Penentuan kapasitas adsorpsi dan isoterm adsorpsi zat warna
bermuatan positif. Kation yang dihasilkan akan berinteraksi dengan adsorben sehingga terjadi penurunan intensitas warna. Penelitian ini bertujuan mensintesis metakaolin dari kaolin, mensintesis nanokomposit
4 Hasil dan pembahasan
4 Hasil dan pembahasan Bab ini memaparkan hasil dari sintesis dan karakterisasi konduktivitas listrik dan struktur kirstal dari senyawa perovskit Sr 2 Mg 1-X Fe x MoO 6-δ dengan x = 0,2; 0,5; 0,8; dan
Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam
Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam klorida 0,1 N. Prosedur uji disolusi dalam asam dilakukan dengan cara
MAKALAH PITA ENERGI. Di susun oleh, Pradita Ajeng Wiguna ( ) Rombel 1. Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fisika dan Teknologi Semikonduktor
MAKALAH PITA ENERGI Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fisika dan Teknologi Semikonduktor Di susun oleh, Pradita Ajeng Wiguna (4211412011) Rombel 1 JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Preparasi 4.1.1 Sol Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan ZrOCl 2. 8H 2 O dengan perbandingan mol 1:4:6 (Ikeda, et al. 1986) dicampurkan
Uji fotokatalisis reduksi benzaldehida menggunakan titanium dioksida hasil sintesis
Uji fotokatalisis reduksi benzaldehida menggunakan titanium dioksida hasil sintesis Diana Rakhmawaty Eddy*, Sanidya Saraswati B, Rustaman Departemen Kimia, FMIPA, Universitas Padjadjaran, Bandung *Email:
Efek Doping Senyawa Alkali Terhadap Celah Pita Energi Nanopartikel ZnO
Efek Doping Senyawa Alkali Terhadap Celah Pita Energi Nanopartikel ZnO Ira Olimpiani,*, Astuti Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas Kampus Unand Limau Manis,
