PENGARUH PENAMBAHAN XHANTAN GUM

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN. Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial terdiri dari 2 faktor dengan 3

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. buah dan sayuran. Salah satunya adalah buah tomat (Lycopersicon esculentum

BAB III METODE PENELITIAN. pertama terdiri dari jenis pati bahan edible coating dan faktor kedua terdiri

I. PENDAHULUAN. terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan pasar. Pada umumnya

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Fakultas Kedokteran, Universiras Muhammadiyah Yogyakarta, Laboratorium

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat Dan Waktu Penelitian. Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian dilakukan selama

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. ditingkatkan nilai tambah, daya saing dan ekspornya adalah produk hortikultura.

I. PENDAHULUAN. tidak rata karena mata tunas dan warna daging dari putih hingga kuning

Laporan Tugas Akhir Pembuatan Sabun Mandi Padat Transparan dengan Penambahan Ekstrak Lidah Buaya (Aloe Vera) BAB III METODOLOGI

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tomat (Lycopersicum esculentum) merupakan salah satu produk hortikultura yang

Pengaruh Penambahan Konsentrasi CMC dan Lama Pencelupan pada Proses Edible Coating Terhadap Sifat Fisik Anggur Merah (Vitis vinifera L.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Evaluasi kestabilan dari formula Hair Tonic sari lidah buaya (Aloe vera L.) dengan

Prinsip-prinsip Penanganan dan Pengolahan Bahan Agroindustri

BAB I PENDAHULUAN. Stroberi (Fragaria sp.) merupakan salah satu komoditas buah-buahan yang

PRESENTASI TUGAS AKHIR FINAL PROJECT TK Dosen Pembimbing : Ir. Sri Murwanti, M.T. NIP

III. METODOLOGI PENELITIAN. Laboratorium Peternakan Universiatas Muhammadiyah Malang dan Laboratorium

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V RANCANGAN PENELITIAN

METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini telah dilakukan di Laboratorium Pasca Panen Universitas

BAB I PENDAHULUAN. tunggang dengan akar samping yang menjalar ketanah sama seperti tanaman dikotil lainnya.

I. PENDAHULUAN. Produksi buah pisang di Lampung setiap tahunnya semakin meningkat. Lampung

I. PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. Pati merupakan polisakarida yang terdiri atas unit-unit glukosa anhidrat.

I. PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

PEMANFAATAN BUAH TOMAT SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN NATA DE TOMATO

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

TEKNIK PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN Interaksi Bahan dan Teknologi Pengemasan

APLIKASI METODE RESPON SURFACE UNTUK OPTIMASI KUANTITAS SUSUT BOBOT BUAH MANGGIS. Abstrak

BAB III METODE PENELITIAN. ulangan. Faktor pertama adalah jenis pati bahan edible coating (P) yang

KAJIAN PENGARUH JENIS PELAPIS DAN SUHU PENGERINGAN TERHADAP SIFAT FISIKA DAN KIMIA BUAH STROBERI (Fragraria sp) SELAMA PENYIMPANAN

PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi

PENGAWETAN PANGAN. Oleh: Puji Lestari, S.TP Widyaiswara Pertama

Pengalengan buah dan sayur. Kuliah ITP

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pati bahan edible coating berpengaruh terhadap kualitas stroberi (Fragaria x

I PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

PENGARUH PENGGUNAAN EDIBLE COATING TERHADAP SUSUT BOBOT, ph, DAN KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK BUAH POTONG PADA PENYAJIAN HIDANGAN DESSERT ABSTRAK

sebesar 15 persen (Badan Pusat Statistik, 2015).

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III MATERI DAN METODE. Laboratorium Nutrisi dan Pakan Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian,

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

2016 ACARA I. BLANCHING A. Pendahuluan Proses thermal merupakan proses pengawetan bahan pangan dengan menggunakan energi panas. Proses thermal digunak

I. PENDAHULUAN. ketersediaan air, oksigen, dan suhu. Keadaan aerobik pada buah dengan kadar

STUDI PEMBUATAN GUM XANTHAN DARI AMPAS TAHU. MENGGUNAKAN Xanthomonas campestris (KAJIAN KONSENTRASI KULTUR DAN PENAMBAHAN GULA) SKRIPSI

III. METODE PENELITIAN

BAB V METODOLOGI. 5.1 Alat dan Bahan yang Digunakan Alat yang Digunakan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan. Tingkat konsumsi buah-buahan cenderung meningkat dari tahun ke

PENGOLAHAN DENGAN SUHU RENDAH. Oleh : ROSIDA, S.TP,MP

HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENENTUAN LAJU RESPIRASI DENGAN PERLAKUAN PERSENTASE GLUKOMANAN

LAMPIRAN. Lampiran 1. Umbi talas (Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott) Lampiran 2. Pati umbi talas (Xanthosoma sagittifolium (L.

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Laboratorium Rekayasa

BAB III METODOLOGI. Laporan Tugas Akhir Pembuatan Mouthwash dari Daun Sirih (Piper betle L.)

BAB I PENDAHULUAN. dengan kerusakan yang disebabkan oleh mikroorganisme yang mengakibatkan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Salah satu jenis buah yang akhir-akhir ini populer adalah buah naga. Selain

Pengawetan pangan dengan pengeringan

PENDAHULUAN. Buah-buahan tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi sebagian

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. dikembangkan, mulai dari teh, kopi, karet, kakao, kelapa, rempah-rempah

Pengambilan Polisakarida Acemannan dari Aloevera menggunakan Etanol sebagai Pengendap

METODOLOGI PENELITIAN

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI

Laboratorium Teknologi Pengolahan Limbah Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 8. FOTOSINTESISLatihan Soal ph (derajat keasaman) apabila tidak sesuai kondisi akan mempengaruhi kerja...

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. dan mempertahankan kesegaran buah. Pada suhu dingin aktivitas metabolisme

Laporan Tugas Akhir Inovasi Pembuatan Free Germs Hand sanitizer (Fertz) yang Praktis dan Ekonomis dari Ekstrak Daun Kersen BAB III METODOLOGI

BAB III METODE PENELITIAN. mengujikan L. plantarum dan L. fermentum terhadap silase rumput Kalanjana.

PENGARUH PENAMBAHAN GLISEROL TERHADAP KUALITAS BIOPLASTIK DARI AIR CUCIAN BERAS

1 PENDAHULUAN. Pemikiran, dan (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. Boiler merupakan salah satu unit pendukung yang penting dalam dunia

PEMBUATAN KOMPOS DARI LIMBAH PADAT ORGANIK YANG TIDAK TERPAKAI ( LIMBAH SAYURAN KANGKUNG, KOL, DAN KULIT PISANG )

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Alat dan Bahan Penelitian

METODOLOGI PENELITIAN

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yang didukung dengan studi pustaka.

BAB I PENDAHULUAN. hortikultura khususnya buah-buahan. Buah-buahan mempunyai banyak manfaat.

PEMBUATAN BIOEKSTRAK DARI SAYURAN DAN BUAH-BUAHAN UNTUK MEMPERCEPAT PENGHANCURAN SAMPAH DAUN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pulau Jawa sebesar ton (Badan Pusat Statistik, 2014).

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Januari Februari 2014.

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA. Tegangan Permukaan. Disusun oleh: Wawan Gunawan

PENGARUH TEMPERATUR PADA PROSES PEMBUATAN ASAM OKSALAT DARI AMPAS TEBU. Oleh : Dra. ZULTINIAR,MSi Nip : DIBIAYAI OLEH

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2016 Agustus 2016 di. Laboratorium Terpadu Universitas Diponegoro, Semarang.

PENGERINGAN PENDAHULUAN PRINSIP DAN TUJUAN PENGOLAHAN SECARA PENGERINGAN FAKTOR-FAKTOR PENGERINGAN PERLAKUAN SEBELUM DAN SETELAH PENGERINGAN

I. PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Waktu dan Tempat Penelitian. pedaging (Budiansyah, 2004 dalam Pratiwi, 2016).

Transkripsi:

PENGARUH PENAMBAHAN XHANTAN GUM DALAM APLIKASI TEKNOLOGI EDIBLE COATING ALOE VERA UNTUK MEMPERTAHANKAN MUTU TOMAT (SOLANUM LYCOPERSICUM) MENGGUNAKAN METODE SPRAY Hidayatul Masruroh *, Achmad Farits Fauzi, Dwi Anggryani S,Vita Paramita Jurusan PSDIII Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Tembalang, Semarang 50239 * Email: hilmaru@gmail.com Abstrak Tomat (Solanum Lycopersicum) merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak diusahakan oleh petani di Indonesia. Penanganan pasca panen yang kurang maksimal menyebabkan umur simpan tomat tidak tahan lama. Salah satunya disebabkan oleh mikroorganisme Alternaria tenuis dengan ditandai bintik hitam dan terjadinya difusi gas oksigen (O 2 ),karbon dioksida (CO 2 ), serta difusi uap air. Salah satu upaya untuk mengurangi efek kerusakan pada produk hortikultur adalah dengan melakukan coating. Aloe vera dilaporkan memiliki kemampuan anti mikrobia yang cukup baik terhadap beberapa bakteri patogen dan memiliki kemampuan untuk menahan permeasi oksigen dan uap air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi gel Aloe vera sebagai edible coating dan pengaruh peningkatan viskositas larutan menggunakan xhantan gum sehingga pelapisan terhadap bahan yang dicoating lebih optimal. Penggunaan metode spray dimaksudkan agar cairan edible coating yang sudah terbentuk dapat menutup pori-pori epidermis kulit tomat dengan adanya druplet-druplet sehingga akan menghambat secara optimal proses difusi. Pengamatan yang akan dilakukan dalam penelitian yakni untuk mengetahui pengaruh penggunaan xhantan gum terhadap pelapisan tomat dan menguji efektifitas metode spray sebagai alternatif pengawet untuk produk hortikultur bagi petani. Metode yang dilakukan berupa eksperimental laboratorium meliputi : konsentarsi larutan Aloevera (100 gr), range variable konsentrasi Xhantan gum, CMC dan Gliserol (0-0,2 %), Dari data hasil penelitian diperoleh konsentrasi Xhantan gum, CMC dan Gliserol yang optimum untuk pembuatan larutan edible yakni (0,1 %), dengan nilai PH 3,00 ; densitas 23,2 gr/ml. Kata kunci: edible coating, spray, tomat, xhantan gum 1. Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang kaya produksi bidang pertanian. Terutama produk holtikultura, salah satunya adalah tomat. Dari tahun 2008-2010 diketahui bahwa produksi tomat di Indonesia mulai terjadi adanya peningkatan, hingga tahun 2011 mencapai produksi 954,046. Namun tahun 2012 mengalami penurunan 887,556 Ton. Dan data impor tomat hingga tahun 2013 mengalami kenaikan hingga 26 %. Namun data ekspor dari tomat di Indonesia hanya sekitar 1 % dari total produksi ( BPS, 2013). Tomat mudah membusuk disebabkan oleh bakteri Alternaria tenuis, ataupun Pseudomonas marginalis dan Erwinia carotovora ( Utama, 2012). Akibatnya ketika panen tomat diberbagai daerah, karena tidak laku dipasaran akhirnya dibuang begitu saja. Ataupun dijual di Industri dengan harga murah. Hal ini dikarenakan penanganan tomat pasca panen sampai saat ini belum dilakukan secara optimal. Edible coating merupakan pelapis makan yang berfungsi menahan kehilangan kelembapan produk. Mempertahankan warna pigmen alami gizi, sebagai pengawet dan mempertahankan warna sehingga menjaga mutu produk. Umumnya edible coating menggunakan bahan dasar lidah buaya dengan komposisi yang dapat kita sesuaikan agar mencapai titik perlindungan yang optimal pada suatu bahan. Menurut Han (2000), komposisi dari gel lidah buaya antara lain: air, glukomanan (termasuk di dalamnya glukosa, manosa, asam glukuronat), polisakarida lainnya (seperti galaktogalakturan dan galakto-glukoara-binomanan), pectic substances, lupeol, sterol, bahan organik lainnya, dan adanya steroid anorganik di dalamnya juga telah teridentifikasi. Dari sekian banyaknya zat, yang paling dominan adalah air yang jumlahnya mencapai 99 %. Penelitian yang sama pernah dilakukan dengan forrmulasi edible coating isoprotein dan gliserol, dimana tomat hanya mampu bertahan hingga 3 hari pada kondisi suhu ruang ( Kismaryanti, 2007). Waktu ini 12

A.3 belum cukup untuk menjaga produk ketika akan diekspor karena ekspor membutuhkan waktu yang lebih dari 3 hari tentunya. Penelitian mengenai Xhantan (gum) saat ini mulai dikembangkan. Xhantan (gum) merupakan additive makanan yang aman dan mempunyai ciri-ciri tidak mempengaruhi warna pada bahan yang ditambahkan walaupun dalam konsentrasi yang tinggi, larut dalam air panas dan air dingin,menaikkan viskositas larutan, terlarut dan stabil pada kondisi asam dan basa, tidak mudah terdegradasi oleh enzim, (Monsanto, 2004) Pada proses pembentukan droplet menggunakan metode spray. Dalam aplikasi yang tertentu yang lebih sempit, istilah "spray and atomization" (semprotan dan atomisasi) lebih sering digunakan dari pada spray technology. Isltilah atomisasi merujuk pada nosel penyemprot cairan yang diatomisasi. Dalam beberapa penelitian dilaporkan bahwa efisiensi enkapsulasi dari material inti partikel dapat ditingkatkan melalui pengurangan ukuran tetesan emulsi. (Jafary,2008) Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi yang optimal dalam pelapisan terhadap buah tomat guna mempertahankan mutu tomat serta memperpanjang masa simpan tomat 2. Metode dan Pelaksanaan Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi Fakultas Sains dan Matematika di Universitas Diponegoro Semarang. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah Lidah Buaya (Aloe vera), Xanthan Gum, CMC (Carboxy Methyl Celullose), Gliserol, Air, Asam sitrat. Alat yang digunakan dalam penelitian spray, timbangan, pisau, lemari pendingin, blender, beaker gelas, pengaduk, inkubator, viskosimeter, piknometer, penyaring, pisau, termometer. Penelitian ini dilakukan beberapa tahap. Tahap pelaksanan penelitian ini dibagi menjadi 3 tahap : Tahap Pertama Pembuatan larutan edible coating. Pembutan larutan ini dilakukan dengan pengambilan daging lidah buaya. Lalu di rendam dengan asam sitart 10% kemudian di cuci dengan aquadest, blender, maka didapatkan gel aloe vera kemudian disaring dan didapatkan hasil jus aloe vera. Kemudian dilakukan pemanasan selama 15 menit pada suhu 75 O C. Didinginkan sampai suhu ruang. Pemasukan komposisi edible coating sesuai dengan yang telah di tetapkan. Tahap Kedua adalah aplikasi dengan metode spray. Pada tahap ini larutan coating yang telah dibuat dimasukkan ke dalam sprayer yang memiliki tekanan cukup untuk disemprotkan pada tomat. Tahap ketiga adalah Analisa. Analisa yang dilakukan dalam penelitian ini adalah 1. Susut bobot Pengukuran susut bobot dilakukan dengan secara gravimetri, yaitu membandingkan selisih bobot pada suhu 5 O C dan 27 O C. Rumus : % Susut Bobot =... (1) 2. Densitas Pengukuran densitas dilakukan menggunakan piknometer dengan rumus Densitas (gr/ml) =... (2) 3. ph Pengujian ph dilakukan dengan menggunakan kertas ph dimana kertas ph dicelupkan dalam larutan edible coating yang sudah jadi. 4. Viskositas Pengukuran viskositas pada viskosimeter pada larutan edible coating dengan rumus : Viskositas (Cp) =...(3) 3. Hasil dan Pembahasan Komposisi komponen bioaktif yang terkandung dalam gel lidah buaya tergantung pada musim,iklim, serta tanah tempat tanaman ini ditanam. Satu faktor penting yang harus diperhatikan adalah penanganan pelepah daun pasca panen karena proses dekomposisi komponen didalamnya sudah dimulai sejak pelepah daun tersebut dipotong dari tanaman induknya. Proses dekomposisi ini Prosiding SNST ke-4 Tahun 2013 Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang 13

terjadi akibat reaksi enzimatis dan aktivitas mikroba alami yang ada pada daun tersebutdan pada larutan gel yang telah diekstraksi, kehilangan aktivitas berbagai komponen bioaktif yang terkandung dalam lidah buaya menjadi lebih sedikit bila dibandingkan ketika komponen tersebut masih ada di dalam bentuk pelepah daunnya (Kismaryanti, 2007). Oleh karena itu, pada percobaan ini dilakukan pengujian terhadap buah tomat yang telah dilapisi oleh edible coating pada suhu 5 C dan 27 C selama 7 hari. Parameter yang diamati pada tomat untuk melihat mutu coating yang dihasilkan adalah susut bobot. Pada perolehan kondisi optimal gliserol diperoleh pada komposisi 0,1 % b/b dari komposisi edible coating dimana pada komposisi lainnya engalami penurunan susut bobot yang sangat banyak seperti yang terlihat pada Gambar 1 dan 2 berikut ini : Gambar 1. Grafik Susut Bobot Gliserol Suhu 5 0 C Gambar 2. Grafik Susut Bobot Gliserol Suhu 27 0 C Kemudian perolehan kondisi optimal CMC diperoleh pada komposisi 0,1 % b/b dari komposisi edible coating dimana pada komposisi lainnya engalami penurunan susut bobot yang sangat banyak seperti yang terlihat pada Gambar 3 dan 4 berikut ini. Gambar 3. Susut Bobot CMC Suhu 5 0 C 14

A.3 Gambar 4. Grafik Susut Bobot CMC 27 0 C Sedangkan perolehan kondisi optimal Xhantan (gum) diperoleh pada komposisi 0,1 % b/b dari komposisi edible coating dimana pada komposisi lainnya mengalami penurunan susut bobot yang sangat banyak seperti yang terlihat pada Gambar 5 dan 6 berikut ini. Gambar 5. Grafik Susut Bobot Xhantan Gum 5 0 C Gambar 6. Grafik Susut Bobot Xhantan Gum 27 0 C Sehingga komposisi edible coating yang optimal diperoleh gliserol 0,1 % b/b, CMC 0,1 % b/b, dan Xhantan Gum 0,1 % b/b. Derajat Keasaman, Densitas, dan Viskositas Dalam uji derajat keasaman (ph) pada larutan edilbe coating tidak ada yang mengalami perubahan yang singnifikan pada saat penetapan komposisi edible coating maupun pada edible coating yang sudah ditetapkan kompoisisinya. Kemudian dalam uji viskositas dan densitas dari tabel diatas terlihat bahwa semakin tinggi nilai viskositas diikuti dengan nilai densitas pada larutan edible coating. Baik dalam penentuan gliserol optimal, CMC optimal, Xhantan (gum) optimal maupun komposisi dari ketiganya yang sudah optimal seperti pada Tabel 1,2,dan 3 berikut : Prosiding SNST ke-4 Tahun 2013 Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang 15

Tabel 1. Penentuan Gliserol Optimal Variabel Komposisi (%) Gliserol CMC XG PH (-) Viskositas (cp) Densitas (gr/ml) 1 0 0,1 0,1 3 1.9 22.4 2 0,05 0,1 0,1 3 2 22.5 3 0,1 0,1 0,1 3 2.3 23.2 4 0,15 0,1 0,1 3 2.33 23.8 5 0,2 0,1 0,1 3 2.6 24 Tabel 2. Penentuan CMC Optimal Variabel Komposisi (%) Gliserol CMC XG PH (-) Viskositas (cp) Densitas (gr/ml) 6 0 0,1 3 2 22.8 7 Gliserol 0,05 0,1 3 2.1 23 8 Optimal 0,1 0,1 3 2.3 23.2 9 (0,1%) 0,15 0,1 3 2.35 24.5 10 0,2 0,1 3 2.39 25 Tabel 3. Penentuan Xhantan Gum Optimal Variabel Gliserol CMC XG PH (-) Viskositas (cp) Densitas (gr/ml) 11 0 % 3 1.89 22.6 12 Gliserol CMC 0,05 % 3 2.1 23 13 Optimal Optimal 0,1 % 3 2.3 23.2 14 (0,1 %) (0,1 %) 0,15 % 3 2.35 24.8 15 0,2 % 3 2.39 25.4 Berdasarkan tabel 1,2 dan 3 maka diperoleh komposisi edible coating yang maksimal pada kondisi gliserol 0,1 %, CMC 0,1 %, Xhantan gum 0,1 % dengan nilai PH 3, viskositas 2,3 cp dan densitas 23,2 gr/ml. 4. Kesimpulan Aplikasi gel lidah buaya sebagai edible coating dapat menghambat kerusakan mutu tomat dan akan lebih efektif jika dipadukan dengan penyimpanan pada suhu dingin dari pada suhu ruang. Komposisi optimal diperoleh pada edible dengan komposisi konsentrasi Xhantan (gum), CMC dan Gliserol sama yakni (0,1 % b/b). Pada penelitian ini Xhantan (gum) mampu mengurangi laju susut bobot yang didapat pada tomat. Dari komposisi tersebut didapatkan hasil PH 3, densistas 23,3 gr/ml dan viskositas 2,3 Cp. Daftar Pustaka www.bps.go.id.17 Mei 2013. Badan Pusat Statistik diakses tanggal G. S, Monsanto (Kelco Biopolymers, Tadworth). 2000. New York, pp. 495 514. Han, J.H. 2000. Antimicrobial food packaging. Food Technology,54 (3): p.56-65 Kismaryanti dan Andiny. 2007. Aplikasi Gel Lidah Buaya (Aloe vera L.) Sebagai Edible Coating Pada Pengawetan Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.). IPB Bogor Jafari, S.M. 2008. Encapsulation Efficiency of Food Flavours and Oils during Spray Drying', Drying Technology, 26: 7, 816 835 Utama, M.S. 2012. Penanganan Pasca Panen Buah dan Sayuran Segar. Bali 16