44 PEMBAHASAN Pemupukan merupakan salah satu kegiatan penting di Unit Perkebunan Tambi selain pemetikan. Hal ini terkait dengan tujuan dan manfaat dari pemupukan. Tujuan pemupukan di Unit Perkebunan Tambi adalah menambah unsur hara yang dibutuhkan tanaman teh sehingga menghasilkan produksi yang optimal. Manfaat pemupukan secara khusus ditujukan untuk tanah dan tanaman teh. Manfaat pemupukan untuk tanah adalah pengembalian unsur hara yang telah tereksploitasi oleh tanaman teh. Manfaat pemupukan untuk tanaman adalah terpenuhinya unsur hara untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman teh. Alasan lain bahwa kegiatan pemupukan merupakan kegiatan penting adalah kegiatan ini membutuhkan biaya yang paling banyak sehingga harus dilakukan secara efektif dan efisien. Kegiatan pemupukan di Unit Perkebunan Tambi dilakukan dengan dua metode, yaitu pemupukan tanah dan pemupukan daun. Pemupukan melalui tanah dilakukan dengan cara memberikan pupuk yang dibenamkan ke dalam tanah. Pemupukan daun dilakukan dengan cara memberikan pupuk yang disemprotkan ke daun teh. Prosedur Gudang Gudang penyimpanan pupuk yang ada di Unit Perkebunan Tambi ada dua yaitu gudang induk dan gudang kebun. Gudang induk terletak di area kantor induk Unit Perkebunan Tambi. Gudang kebun terletak di lokasi masing-masing kantor blok. Teknis pelaksanaan pemupukan dimulai dari gudang induk, gudang kebun, dan kebun. Pupuk diperoleh dari gudang induk atas permintaan kebun yang telah disetujui oleh kepala bagian kebun dan asisten kepala bagian kebun. Pupuk yang diperoleh disimpan di dalam gudang kebun masing-masing blok. Pencampuran pupuk dilakukan maksimal satu hari sebelum dilaksanakannya kegiatan pemupukan. Pencampuran pupuk dilakukan di dalam gudang kebun sesuai dengan jumlah yang telah ditetapkan.
45 Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung memberikan rekomendasi mengenai pencampuran pemupukan, yaitu tidak melebihi waktu 24 jam dari pengaplikasiannya. Dasar pencampuran pupuk dari PPTK Gambung memperhatikan hal-hal di bawah ini: 1. Pupuk-pupuk yang mengandung amoniak (ammonium) tidak dapat dicampur dengan pupuk yang reaksinya alkalis/basa (kapur, fosfat alam) karena dapat menyebabkan mudah hilangnya nitrogen. 2. Pupuk yang mengandung fosfat larut dalam air (TSP, Amonium phospate) tidak boleh dicampur dengan pupuk yang mengandung Ca karena dapat menekan larutnya asam phospate. 3. Berbagai pupuk yang mudah larut dan higroskopis (Urea, KCl, pupuk-pupuk Nitrat) cenderung mengeras atau menggumpal setelah dicampur dengan beberapa pupuk tertentu (PPTK Gambung, 2002) Unit Perkebunan Tambi dilihat dari segi waktu pencampuran pupuk tidak menyimpang dari rekomendasi. Namun dalam hal pencampuran pemupukan, kebun tidak mengikuti rekomendasi. Pencampuran pemupukan dilakukan dengan mencampurkan seluruh pupuk pada satu waktu. Jenis Pupuk Jenis pupuk yang digunakan di Unit Perkebunan Tambi adalah Urea, Rock phospate, KCl, dan Kieserite. Secara umum pemberian jenis pupuk tersebut dapat dikatakan tepat untuk tanaman teh. Unsur hara yang terkandung dalam keempat pupuk tersebut antara lain N, P, K, dan Mg yang merupakan unsur hara makro yang sangat dibutuhkan oleh tanaman teh. Unsur S tidak setiap tahun diberikan karena belerang lebih dimanfaatkan untuk menambah kadar asam pada tanah. Unsur Zn diberikan ke tanaman teh dalam bentuk pupuk daun. Pupuk daun yang digunakan adalah ZnSO 4 dan Pupuk Pelengkap Cair (PPC). Kandungan hara dalam PPC antara lain N, P 2 O 5, K 2 O, Ca, Mg dan beberapa unsur hara mikro seperti Fe, Cu, Zn, Mn, Al, dan S. Jenis pupuk yang direkomendasikan oleh Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung adalah pupuk yang mengandung unsur nitrogen (N), fosfor (P),
46 kalium (K), magnesium (Mg), dan seng (Zn) (Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia, 1997). Unsur N pada tanaman teh merupakan unsur yang paling dibutuhkan dalam pertumbuhan vegetatif tanaman teh; unsur P berperan sebagai stimulan dalam pembentukan akar dan jaringan meristem; unsur K pada tanaman teh mempunyai fungsi fisiologis khusus pada asimilasi zat arang; unsur Mg sebagai pengganti klorofil (Sutedjo, 2008). Unsur S selama ini masih belum dianggap penting bagi tanaman teh karena sering hanya dihubungkan dengan perlakuan untuk penurunan ph tanah dan pemberantasan penyakit akar (Wibowo, 2007). Unsur Zn yang terkandung dalam pupuk daun ZnSO 4 berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas. Menurut Sutedjo (2008), diperkirakan bahwa persenyawaan-persenyawaan Zn berfungsi pada pembentukan hormon auksin dan penting bagi keseimbangan fisiologis. Dosis Pupuk Dosis pupuk merupakan masalah yang paling kritis dan menentukan dalam pemupukan teh. Penetapan dosis pupuk dipengaruhi oleh formula susunan hara dari pupuk, tingkat kesuburan kimia tanah, tingkat kehilangan hara setelah aplikasi pupuk akibat kesalahan metode aplikasi (faktor efektivitas pupuk), dan kelembaban saat aplikasi. Formulasi pupuk dibuat atas dasar target produktivitas dan kadar hara dalam pucuk teh (Wibowo, 2007). Penetapan dosis sebelumnya lebih ideal dilakukan analisis tanah atau analisis daun. Unit Perkebunan Tambi pada tahun 2010 dan sebelumnya belum menggunakan analisis tanah dan analisis daun dalam menetapkan dosis pupuk tetapi hanya berdasarkan target produksi yang akan dicapai. Pedoman penetapan dosis pupuk di Unit Perkebunan Tambi hanya ditetapkan berdasarkan persentase N. Persentase N ditentukan dengan menghitung produktivitas yang akan dicapai dan menyesuaikan biaya yang tersedia. Keberhasilan pemupukan terlihat produksi atau produktivitas pucuk teh. Tabel 7 menunjukkan ketepatan dosis pupuk yang berdasarkan rekomendasinya. Pelaksanaan pemupukan di Unit Perkebunan Tambi dapat dikatakan cukup baik
47 karena dosis yang diberikan tidak berbeda nyata antara rekomendasi dan realisasi. Pada umumnya semua jenis pupuk yang diaplikasikan di lapangan dosisnya lebih rendah daripada rekomendasi. Hal ini disebabkan anggaran biaya yang disediakan oleh perusahaan tidak mencukupi untuk membeli seluruh pupuk yang sesuai dengan rekomendasi. Selain itu, terbatasnya ketersediaan pupuk untuk tanaman perkebunan pada saat memasuki waktu dilaksanakannya kegiatan pemupukan di Unit Perkebunan Tambi. Dasar pemberian dosis pupuk setiap tanaman teh berbeda berdasarkan tahun pangkasnya. Tanaman teh tahun pangkas II dan III dosis pupuknya 110 % dari dosis total sedangkan tanaman teh tahun pangkas I dan IV dosis pupuknya 90 % dari dosis total. Perbedaan ini mempunyai alasan yaitu tanaman teh tahun pangkas II dan III kondisinya sedang dalam produksi yang maksimal sehingga membutuhkan hara yang lebih banyak dibandingkan dengan tanaman teh tahun pangkas I dan IV. Tanaman teh tahun pangkas I merupakan tanaman pada kondisi setelah dilakukan pemangkasan sehingga produksinya belum optimal. Sedangkan tanaman teh tahun pangkas IV merupakan tanaman teh yang memasuki masa peremajaan sehingga produksi sudah mulai menurun. Tabel 8 menunjukkan dosis pupuk yang diberikan untuk setiap tanaman teh berdasarkan tahun pangkasnya. Tanaman teh tahun pangkas I dan IV sampel pupuk diambil di Bok Pemandangan dan Panama. Tanaman teh tahun pangkas II dan III sampel pupuk diambil di Blok Tanah Hijau dan Taman. Berdasarkan Tabel 8, terjadi perbedaan dosis antara rekomendasi dengan aplikasi di lapangan. Akan tetapi, analisis t-student yang dihasilkan menyatakan tidak terdapat perbedaan antara dosis rekomendasi dengan aplikasi di lapangan. Waktu Pemupukan Waktu pemupukan di Unit Perkebunan Tambi dilaksanakan 2 kali dalam satu tahun yaitu pada semester I (Februari April) dan Semester II (Oktober November). Hal ini disebabkan adanya faktor curah hujan yang mempengaruhi keefektifan pupuk. Waktu yang tepat pelaksanaan pemupukan adalah akhir musim hujan dan awal musim hujan yaitu sekitar bulan Februari April dan bulan
48 Oktober November. Pelaksanaan pemupukan semester I curah hujannya sudah tidak terlalu tinggi. Curah hujan pada bulan tersebut adala 143 mm per minggu. Hal ini sudah sesuai dengan curah hujan standar untuk pelaksanaan pemupukan yaitu 60-200 mm per minggu (Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia, 1997). Penyemprotan pupuk daun biasanya dilakukan setelah tanaman teh dipetik. Pengaplikasian pupuk daun dilakukan pada pukul 07.00 11.00 WIB. Menurut Ghani (2002), waktu yang ideal untuk memupuk adalah pagi hari hingga pukul 09.00 dan sore hari setelah pukul 16.00 WIB. Cara pemupukan Ketepatan cara dan tempat dalam pelaksanaan pemupukan sangat berkaitan erat. Pemupukan dilaksanakan dengan cara dibenam sekitar tanaman dengan jarak lubang 20 cm dari tajuk tanaman dan kedalaman lubang 10 15 cm (Gambar 8). Peletakkan pupuk pada lubang bertujuan agar pupuk tidak mudah menguap dan terbawa erosi. Gambar 8. Lubang Pupuk Satu lubang untuk 2 4 pohon yang diletakkan secara bergantian di baris tanaman antara pemupukan pertama dengan pemupukan kedua dan seterusnya (Gambar 9). Perakaran tanaman teh yang masih aktif terletak pada jarak 30 40 cm dari perdu teh (Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia, 1997). Dengan demikian cara pemupukan yang dilakukan oleh Unit Perkebunan Tambi sudah sesuai dengan rekomendasi.
49 Gambar 9. Denah Lubang Pupuk Penyemprotan pupuk daun dilakukan di atas permukaan daun teh. Cara pengaplikasian pupuk daun dengan menggunakan mist blower yaitu sudut corong dengan tanaman teh adalah 45. Tujuannya adalah agar pupuk daun dapat menyebar merata di permukaan daun teh. Arah corong tersebut harus searah dengan arah angin. Menurut Ghani (2002), cara memupuk daun adalah dengan mengarahkan semprotan ke permukaan daun bagian bawah karena stomata pada bagian bawah daun (epidermis bawah) jumlahnya lebih banyak. Dengan demikian, secara teknis metode pengaplikasian pupuk daun kurang tepat. Perlengkapan atau Alat Pemupukan Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, peralatan pemupukan disediakan sendiri oleh para pekerja. Perlengkapan pemupuk antara lain ember, alat takar, cangkul, celemek, dan sarung tangan. Ember, alat takar, dan cangkul merupakan alat yang wajib dibawa pekerja yang bertugas sebagai penabur dan pengoak. Alat takar yang digunakan adalah gelas plastik yang ukurannya telah dibuat sesuai dengan dosis pupuk yang akan diberikan. Celemek dan sarung tangan merupakan perlengkapan pelindung bagi para pekerja. Alat yang digunakan dalam pemupukan daun adalah mist blower dan knapsack sprayer. Mist blower digunakan pada tanaman teh yang sedang berproduksi sedangkan knapsack sprayer digunakan pada tanaman teh yang telah tumbuh setelah dipangkas.
50 Faktor Tenaga Kerja Manajemen tenaga kerja pemupuk di lapang terdiri dari pengawas/pembimbing, penabur pupuk, penggali lubang (pengoak), langsir, dan laden. Pengawas/pembimbing bertugas mengawasi proses pelaksanaan pemupukan. Pengawas/pembimbing bertanggungjawab mengawasi 5 sampai 7 pasang pemupuk. Pemupuk terdiri dari penabur pupuk dan penggali lubang pupuk (pengoak). Langsir merupakan pekerjaan yang membawa pupuk dari truk sampai dengan tempat yang dekat dengan lahan yang akan dipupuk. Laden merupakan pekerjaan yang membawa pupuk dari tempat diletakkannya pupuk untuk dibagibagikan kepada para penabur pupuk. Standar prestasi kerja pada kegiatan pemupukan adalah 0.15 ha/hk. Berdasarkan Tabel 9, blok yang tepat standar prestasi kerjanya adalah Blok Tanah Hijau. Adapun prestasi kerja yang tidak sesuai standar tersebut tidak berpengaruh terhadap biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk tenaga kerja pemupukan. Hal ini dikarenakan tenaga pemupuk di Unit Perkebunan Tambi sistem kerjanya adalah borongan. Prestasi kerja yang melebihi standar maka tenaga yang bekerja di lapang jumlahnya lebih sedikit dari jumlah yang telah ditentukan. Sebaliknya, prestasi kerja yang lebih sedikit dari standar berarti jumlah tenaga yang bekerja di lapang lebih banyak dari jumlah yang ditentukan. Upah untuk satu tenaga kerja pemupuk di Unit Perkebunan Tambi adalah Rp 50 000,00 /ha. Jumlah pemupuk di Blok Tanah Hijau pada Tabel 10 jumlahnya bervariasi. Jumlah pemupuk paling sedikit adalah 10 orang yang bekerja pada tanggal 20 dan jumlah pemupuk yang paling banyak adalah 20 orang yang bekerja pada tanggal 20. Jumlah pemupuk yang berbeda-beda ini disebabkan adanya keterbatasan dalam ketersediaan tenaga kerja untuk kegiatan pemupukan. Akan tetapi, adanya pengaturan luasan lahan yang sesuai dengan ketersediaan tenaga kerja maka prestasi yang diperoleh tenaga kerja pemupuk sesuai dengan standar. Pelaksanaan Pemupukan Penetapan lokasi pemupukan setiap nomor kebun memerlukan pertimbangan, seperti kebersihan kebun dan jumlah tenaga kerja. Kebersihan
51 kebun yang dimaksud adalah lahan yang akan dipupuk harus bersih dari gulma. Kebersihan kebun yang memenuhi syarat untuk pemupukan adalah minimal 10 % kebun bebas dari gulma. Jumlah tenaga kerja juga menentukan area yang akan dipupuk. Misalnya jumlah tenaga kerja yang sedikit maka area akan dipupuk sebelumnya telah ditetapkan pada area yang sempit dan mudah terjangkau. Sistem pemupukan menggunakan sistem giringan. Pengawas atau pembimbing bertugas mengontrol ketepatan pembuatan lubang pupuk dan takaran dosis pupuk. Pelaksanaan pemupukan di lapang pada kenyataannya sedikit berbeda dengan ketentuan. Hal pertama yang terlihat adalah saat pelaksanaan pemupukan areanya belum bersih dari gulma sehingga terjadi persaingan dalam penyerapan hara (Gambar 10). Ketidaksesuaian dengan ketentuan juga terlihat pada kedalaman lubang pupuk yang kurang dari ketentuan bahkan ada yang tidak dibuat lubang pupuk. Selain itu, penutupan lubang setelah peletakkan pupuk ada yang tidak dilakukan sehingga dapat menyebabkan pupuk hanyut terbawa air hujan dan pupuk lebih cepat menguap karena pemanasan matahari. Gambar 10. Gulma di Sekitar Lubang Pupuk Takaran pupuk yang digunakan oleh Unit Perkebunan Tambi biasanya adalah wadah takar yang sudah disesuaikan banyaknya dengan dosis yang diperlukan. Akan tetapi, ada beberapa pekerja yang takarannya dengan menggunakan tangan yang didasarkan pada perkiraan. Hal ini menyebabkan dosis yang diberikan untuk tanaman tidak sesuai dengan ketentuan. Gambar 11 menunjukkan pemberian pupuk dengan wadah takar. Hal-hal yang tidak sesuai ketentuan tersebut menyebabkan ketidakefektifan pemupukan.
52 Gambar 11. Pemberian Pupuk dengan Takaran Hubungan Dosis Pupuk dan Produksi Pucuk Teh dengan Tahun Pangkas Berdasarkan Gambar 3, dosis masing-masing jenis pupuk di Blok Tanah Hijau mengalami kenaikan pada tanaman teh tahun pangkas I sampai dengan IV. Secara teori dosis pupuk yang diberikan pada tahun pangkas I dan IV lebih sedikit daripada dosis pupuk pada tahun pangkas II dan III. Hal ini kemungkinan disebabkan adanya salah perhitungan ketika dalam menetapkan dosis pupuk. Sebab yang lainnya adalah terjadi kesalahan pencatatan pada laporan bulanan. Berdasarkan Gambar 4, produktivitas tanaman teh tidak sesuai dengan tahun pangkasnya. Tanaman teh tahun pangkas II seharusnya mempunyai produktivitas lebih tinggi daripada tanaman teh tahun pangkas I dan IV. Tanaman teh tahun pangkas IV juga seharusnya produktivitasnya lebih rendah daripada tanaman teh tahun pangkas II dan III. Hal ini disebabkan area di Blok Tanah Hijau untuk tanaman tua menghasilkan (TTM) lebih luas daripada area untuk tanaman muda menghasilkan (TMM). TTM merupakan tanaman teh asal seedling yang ditanam dengan jarak tanam yang lebih lebar daripada TMM. Populasi dari TTM tersebut lebih sedikit daripada populasi TMM. Produktivitas yang dihasilkan oleh TTM dapat lebih sedikit daripada produktivitas yang dihasilkan oleh TMM walaupun pada tahun pangkas II. Penyebab lain dari berbedanya grafik produksi terhadap tahun pangkas adalah data yang didapat kurang akurat. Data yang diperoleh tersebut tidak diolah melalui penghitungan secara benar setiap nomor kebun sehingga total produksi setiap nomor kebun tidak tepat. Data produksi
setiap nomor yang tidak tepat tersebut mengakibatkan produksi pucuk teh setiap nomor kebun tidak tepat juga. 53 Hubungan Produktivitas dengan Dosis Pupuk Perbedaan dosis pupuk yang terlihat pada Gambar 5 disebabkan adanya perbedaan persentase kandungan N yang telah ditetapkan oleh Unit Perkebunan Tambi. Rekomendasi persentase pupuk N tahun 2005 sampai 2009 adalah 10.83 %, 8 %, 7.98 %, 8 %, dan 8 %. Presentase kandungan N tersebut ditetapkan dengan menghitung target produktivitas pucuk teh yang akan dicapai. Tahun 2005 pada Gambar 5 terlihat dosis pupuk yang digunakan paling tinggi yaitu 254 927 kg. Hal ini dikarenakan persentase N yang ditetapkan pada tahun 2005 juga paling tinggi. Tahun 2006 persentase N yang ditetapkan lebih rendah daripada tahun 2005 sehingga produksi pucuk teh yang dihasilkan juga rendah bahkan dibawah rencana. Selain dosis pupuk yang rendah ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya produksi pucuk teh tahun 2006, diantaranaya adalah iklim. Menurut informasi asisten kepala bagian kebun, pada tahun 2006 terjadi kemarau yang panjang sehingga tanaman teh mengalami kekeringan. Cahaya matahari pada musim kemarau yang tinggi menyebabkan pupuk yang telah diberikan cepat menguap. Gambar 5 menunjukkan produksi pucuk teh tertinggi terlihat pada tahun 2007 dengan dosis pupuk 195 753 kg. Peningkatan produksi yang tinggi disebabkan pertambahan keluasan tanaman menghasilkan (TM). Tahun 2006 luas TM 232.65 ha dan tahun 2007 luas TM mencapai 247.55 ha. Menurut informasi asisten kepala bagian kebun, pada tahun 2007 keadaan tanaman teh dalam kondisi yang baik sehingga perlakuan jumlah pupuk yang lebih sedikit dari tahun sebelumnya menghasilkan produksi yang banyak. Dengan demikian, dapat dikatakan dosis pupuk yang baik untuk peningkatan produksi terjadi pada tahun 2007. Dosis pupuk dengan persentase N 7.98 % dapat meningkatkan produksi yang melebihi rencana. Berdasarkan Gambar 5, pada tahun 2008 dosis pupuk yang digunakan terlihat paling rendah yaitu 185 086 kg dengan persentse N 8 %. Produksi yang
54 dihasilkan pada tahun 2008 masih tergolong tinggi tetapi produksinya lebih rendah daripada tahun 2007. Hal ini disebabkan adanya penurunan dosis pupuk dan beberapa faktor yang kurang mendukung dalam proses produksi pucuk teh. Tahun 2009 dosis pupuk yang digunakan meningkat tetapi produksinya semakin menurun. Hal ini terjadi karena dimungkinkan pada tahun 2007 cara pemetikan yang dilakukan kurang benar sehingga terjadi eksploitasi pucuk teh. Eksploitasi pucuk teh tersebut menyebabkan kualitas tanaman menurun. Pemetikan yang di bawah standar atau pemetikan kasar akan menyebabkan daun pemeliharaan menipis. Daun pemeliharaan yang menipis tersebut akan menyebabkan tempat pengolah hara juga sedikit sehingga hasil fotosintat yang dihasilkan juga sedikit. Fotosintat yang sedikit akan menyebabkan banyak pucuk yang dorman atau banyak pertumbuhan pucuk burung. Banyaknya pucuk burung tersebut menyebabkan hasil produksi rendah jika tidak dilakukan pemetikan secara benar. Dengan demikian, pemberian pupuk yang tinggi tidak akan berpengaruh terhadap pucuk teh karena tempat pengolah unsur hara tersebut juga sedikit. Menurut Suwardi (1999), pemetikan pucuk tua menyebabkan produksinya banyak akan tetapi mutu pucuknya rendah. Akibat dari pemetikan pucuk tua maka penyembuhan luka bekas petikan memerlukan waktu yang lebih panjang sehingga pertumbuhan tunas selanjutnya menjadi lambat dan tanaman teh menjadi kurang sehat. Persentase realisasi pemupukan dapat dilihat juga dengan persentase realisasi produksi yang dicapai. Berdasarkan Tabel 11, persentase keberhasilan pemupukan tertinggi juga menghasilkan persentase keberhasilan produksi yang tertinggi juga. Tingkat keberhasilan pemupukan ini terlihat pada tahun 2005. Akan tetapi pada tahun-tahun yang lainnya tingkat keberhasilan pemupukan tidak selalu terlihat pada keberhasilan produksinya. Hal ini disebabkan bahwa ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi besarnya produksi pucuk teh. Faktor tersebut antara lain, iklim, keadaan tanaman, dan teknik budi daya tanaman teh yang lainnya.