V. HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Hadian Halim
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Kondisi Umum Saat Ini Faktor Fisik Lingkungan Tanah, Air, dan Vegetasi di Kabupaten Kutai Kartanegara Kondisi umum saat ini pada kawasan pasca tambang batubara adalah terjadi penurunan kualitas, baik dari komponen tanah, air dan vegetasi. Perbedaan ini ditandai dengan adanya sifat-sifat negatif yang ditimbulkan oleh kerusakan pada saat penambangan. Hal ini akan mempengaruhi keberhasilan reklamasi sehingga perlakuan penanaman kembali belum optimal. Indikator ini dapat dilihat dari terganggunya pertumbuhan tanaman dibandingkan kondisi tanah normal sebelum pasca tambang batubara. Sifat fisik tanah seperti tekstur tanah rona lingkungan hidup awal umumnya tergolong cukup baik, mempunyai ukuran besar butir tanah yang agak halus sampai agak kasar. Kondisi saat ini, tekstur tanah tergolong sedang sampai agak kasar. Sifat kimia tanah pasca tambang batubara juga mengalami penurunan kualitas, termasuk diantaranya adalah kesuburan yang rendah dan kemasaman yang cukup tinggi. Kualitas hidrologi tanah pasca tambang batubara menjadi buruk yang dicirikan oleh rendahnya kapasitas menahan air (water holding capacity), percepatan aliran permukaan (run off) dan erosi. Ketersediaan hara N yang rendah dipengaruhi oleh kondisi tanah dan kualitas hidrologi tanah terutama pada tanah gusuran saat penambangan batubara dilakukan. Hal ini mengakibatkan tidak cukup tersedianya tanah untuk usaha revegetasi. Kekurangan unsur hara merupakan pembatas untuk pertumbuhan tanaman pada lahan bekas tambang batubara karena tidak tersedia unsur hara untuk tanaman. Hasil pengambilan sampel tanah, air dan pengamatan vegetasi di Kecamatan Tenggarong Seberang dan Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara dapat dilihat dari pembahasan masing-masing komponen.
2 Kondisi Tanah Pasca Tambang Batubara Tanah sebagai sumberdaya alam untuk pertanian mempunyai dua fungsi utama, yaitu (1) sebagai matriks tempat akar tumbuhan berjangkar dan air tanah tersimpan, dan (2) sebagai sumber unsur hara bagi tumbuhan. Kedua fungsi tanah tersebut dapat menurun atau hilang akibat kerusakan tanah atau degradasi tanah. Hilangnya fungsi tanah sebagai sumber unsur hara bagi tumbuhan dapat segera diperbaiki dengan pemupukan, sedangkan hilangnya fungsi tanah sebagai matriks tempat akar tumbuhan berjangkar dan air tanah tersimpan tidak mudah diperbaiki atau diperbaharui oleh karena memerlukan waktu yang lama (Arsyad, 2006). Tanah menjadi unsur penting dalam penelitian ini karena berfungsi sebagai media tumbuh dalam proses revegetasi kawasan pasca tambang batubara. Bagi pihak pertambangan, tanah sebagai sesuatu yang tidak berguna karena menutupi bahan tambang batubara yang dicarinya. Sifat fisik tanah dalam penelitian ini hanya diwakili oleh tekstur tanah. Sementara itu ph, KTK, C/N rasio, ketersediaan P 2 O 5 dan K 2 O, Kejenuhan Basa dan Kejenuhan Al, merupakan sifat kimia tanah yang diteliti. Kriteria penilaian sifat kimia tanah yang digunakan dalam penelitian ini adalah kriteria dari Staf Pusat Penelitian Tanah, 1983 dalam Hardjowigeno (2007). Tekstur Tanah Tekstur tanah yang diperlukan tanaman pada umumnya adalah tanah yang bertekstur lebih halus. Setiap satuan berat mempunyai luas permukaan yang lebih besar, sehingga kemampuan tanah menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Sebaliknya, tanah-tanah yang bertekstur pasir karena butir-butirnya bertekstur besar maka kemampuan menahan air dan unsur hara lebih kecil. Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar. Rona lingkungan hidup awal untuk tekstur tanah di PT. Kitadin dari 6 lokasi menunjukkan bahwa tekstur tanah yang terdapat di lokasi 1 lempung liat berdebu, di lokasi 2 tekstur tanah lempung liat berdebu, di lokasi 3 tekstur tanah lempung berliat, di lokasi 4 tekstur tanah lempung berliat, di lokasi 5 tekstur tanah
3 113 lempung berliat, dan di lokasi 6 tekstur tanah lempung liat berdebu (Dokumen ANDAL PT. Kitadin, 2000). Kondisi saat ini, tekstur tanah kawasan pasca tambang batubara yang terdapat di PT. Kitadin yang melakukan reklamasi pada areal berumur sekitar 1 tahun bertekstur lempung berdebu dan lempung, tergolong kelas sedang. Pada areal berumur sekitar 5 tahun dan sekitar 10 tahun tekstur tanah lempung liat berdebu dan lempung, tergolong kelas agak halus. Semakin tua umur lahan (sekitar 5 tahun dan 10 tahun) sudah terdapat perbaikan tekstur tanah dari kelas sedang menjadi agak halus. Pada kondisi kawasan tanah pasca tambang batubara yang non reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun tanah bertekstur lempung berdebu, tergolong kelas sedang. Demikian juga di areal berumur sekitar 5 tahun tanah bertekstur lempung berdebu, tergolong kelas sedang (belum terdapat perbaikan tekstur tanah). Kondisi tekstur tanah non reklamasi membaik ketika memasuki umur sekitar 10 tahun dengan tekstur liat berdebu dan lempung berliat, tergolong kelas agak halus. Hal ini mengindikasikan bahwa tanah bekas tambang batubara yang tidak melakukan reklamasi membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memperbaiki kualitas tekstur tanah dibandingkan dengan kawasan reklamasi. Kegiatan reklamasi memberi harapan terjadinya perbaikan tekstur tanah untuk waktu jangka panjang. Rona lingkungan hidup awal dan kondisi saat ini untuk sifat fisik tanah (tekstur) di PT. Kitadin dapat dilihat pada Tabel 26. Tabel 26. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Sifat Fisik Tanah (Tekstur) di PT. Kitadin Rona Lingkungan Hidup Awal Lokasi 1: Lempung liat berdebu Lokasi 2: Lempung liat berdebu Lokasi 3: Lempung liat Lokasi 4: Lempung liat Lokasi 5: Lempung liat Lokasi 6: Lempung liat berdebu Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun Kondisi Saat Ini Lempung berdebu, lempung Lempung liat berdebu, Lempung Lempung berliat Non Reklamasi Sekitar 1 tahun Lempung berdebu Sekitar 5 tahun Lempung berdebu, debu Sekitar 10 tahun Liat berdebu, lempung berliat Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT.Kitadin (2000) Tekstur tanah sesuai rona lingkungan hidup awal di PT. Kitadin masih bertekstur halus, mengindikasikan masih sesuai dengan tekstur tanah yang
4 114 diperlukan tanaman. Kondisi saat ini di kawasan reklamasi terjadi perubahan tekstur dari kelas halus menjadi kelas sedang, terutama di awal masa penambangan. Kawasan reklamasi memberikan harapan perbaikan tekstur tanah untuk jangka waktu 5 sampai 10 tahun sejak penambangan batubara dimulai. Kawasan non reklamasi mengalami perbaikan tekstur tanah relatif lebih lama, perbaikan tekstur terjadi sekitar 10 tahun sejak penambangan. Tekstur tanah lebih baik sebelum penambangan batubara dibandingkan dengan sesudah penambangan (pasca tambang). Rona lingkungan hidup awal untuk tekstur tanah di PT. Tanito Harum pada 2 lokasi yaitu di lokasi 1 tekstur tanah liat berdebu dan lokasi 2 tekstur tanah liat (Dokumen ANDAL PT. Tanito Harum, 1994). Kondisi saat ini, kualitas tekstur tanah di PT. Tanito Harum hampir sama dengan di PT. Kitadin, seiring bertambahnya umur kawasan pasca tambang batubara, terdapat perbaikan kelas tekstur dari kelas tekstur lempung berdebu menjadi lempung berliat. Pada kawasan reklamasi, di areal berumur sekitar 1 tahun kelas teksturnya masih lempung berdebu, tergolong kategori kelas sedang. Pada umur kawasan sekitar 5 tahun dan 10 tahun kelas tekstur membaik menjadi lempung berliat, tergolong agak halus. Pada kawasan non reklamasi, di areal berumur sekitar 1 tahun dan 5 tahun tekstur tanah masih merupakan lempung berdebu, tergolong kategori kelas sedang. Pada areal berumur sekitar 10 tahun terjadi perbaikan kualitas tekstur tanah dari lempung berdebu menjadi liat berdebu dan lempung berliat, tergolong kelas agak halus. Hal ini mengindikasikan kondisi yang sama dengan kawasan di PT. Kitadin, bahwa kawasan yang dilakukan reklamasi akan mempercepat perbaikan tekstur tanah. Rona lingkungan hidup awal dan kondisi saat ini untuk sifat fisik tanah (tekstur) di PT. Tanito Harum dapat dilihat pada Tabel 27. Hampir sama dengan tekstur tanah di PT. Kitadin, rona lingkungan hidup awal di PT. Tanito Harum kelas tekstur halus bahkan lebih baik karena di lokasi 2 ada tekstur tanah liat (terbaik), sesuai dengan tekstur tanah yang diperlukan tanaman. Pada kondisi saat ini, di kawasan reklamasi tekstur dari kelas halus menjadi tekstur kelas sedang. Kawasan reklamasi memberikan harapan perbaikan tekstur tanah untuk jangka waktu 5 sampai 10 tahun pasca tambang batubara.
5 115 Kawasan non reklamasi mengalami perbaikan tekstur tanah relatif lebih lama. Perbaikan tekstur dimulai sekitar 10 tahun pasca tambang. Tekstur tanah lebih baik pada saat sebelum penambangan batubara dimulai dibandingkan dengan sesudah penambangan berakhir (pasca tambang). Kualitas tekstur tanah di PT. Tanito Harum yang lebih baik sebelum penambangan dibandingkan dengan di PT. Kitadin, dengan kelas tekstur tanah yang sama pada kawasan reklamasi dan non reklamasi 5 sampai 10 tahun kemudian, menyiratkan bahwa di PT. Tanito Harum dampak kerusakan tekstur tanah lebih besar. Tabel 27. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Sifat Fisik Tanah di PT. Tanito Harum Rona Lingkungan Hidup Awal Sebulu 1: Liat berdebu Sebulu 2: Liat Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun Kondisi Saat Ini Lempung berdebu, Debu Lempung berliat, Lempung Lempung berliat Non Reklamasi Sekitar 1 tahun Lempung berdebu Sekitar 5 tahun Lempung berdebu Sekitar 10 tahun Liat berdebu, Lempung berliat Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT.Tanito Harum (1994). Hasil analisis sifat fisik tanah (tekstur) kawasan pasca tambang batubara di Kecamatan Tenggarong Seberang (PT. Kitadin) dan Kecamatan Sebulu (PT. Tanito Harum) secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 2. Reaksi tanah (ph tanah) Reaksi tanah menunjukkan sifat keasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai ph. Nilai ph menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H + ) di dalam tanah. Semakin tinggi kadar ion H + dalam tanah maka semakin asam tanah tersebut. Pada tanah alkalis kandungan OH - lebih banyak dari H + dan jika sama banyaknya maka tanah bereaksi netral dengan ph = 7. Di Indonesia umumnya tanah bereaksi masam dengan ph 4,0 5,5. Di daerah rawarawa sering ditemukan tanah-tanah yang sangat asam dengan ph kurang dari 3,0 yang disebut tanah sulfat asam. Di daerah yang sangat kering kadang-kadang ph tanah sangat tinggi lebih dari 9,0 karena banyak mengandung garam Na.
6 116 Pentingnya ph tanah adalah untuk menentukan mudah tidaknya unsurunsur hara diserap akar tanaman. Pada ph tanah sekitar netral unsur hara mudah larut dalam air. Pada tanah asam unsur P tidak dapat diserap tanaman karena diikat (di fiksasi) oleh Al, sedangkan pada tanah alkalis unsur P juga tidak dapat diserap tanaman karena di fiksasi Ca. Pada reaksi tanah yang asam, unsur-unsur mikro menjadi mudah larut sehingga ditemukan unsur mikro yang terlalu banyak. Unsur mikro merupakan unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah yang sangat kecil, sehingga akan menjadi racun bagi tanaman jika dalam jumlah besar. Hal yang sama juga terjadi jika tanah terlalu alkalis yang sering mengandung garam tinggi dan menjadi racun bagi tanaman. Tanah yang terlalu asam dapat dinaikkan ph-nya dengan menambahkan kapur ke dalam tanah, sedangkan tanah yang terlalu alkalis dapat diturunkan ph-nya dengan penambahan belerang. Rona lingkungan hidup awal untuk ph tanah pada PT.Kitadin di lokasi 1 7,7 (agak alkalis), di lokasi 2 ph 6,7 (netral), di lokasi 3 ph 5,5 (agak masam), di lokasi 4 ph 5,8 (agak masam), di lokasi 5 ph 4,5 (masam) dan di lokasi 6 ph 5,4 (agak masam) (Dokumen ANDAL PT. Kitadin, 2000). Kondisi saat ini, pada PT. Kitadin untuk kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun ph tanah 3,83 tergolong kategori sangat masam, di areal yang berumur sekitar 5 tahun ph 5,31 tergolong kategori agak masam, di areal yang berumur sekitar 10 tahun ph 5,22 tergolong agak masam. Pada kawasan non reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun ph 6,83 tergolong kategori netral, di areal berumur sekitar 5 tahun ph 5,07 tergolong kategori agak masam, di areal yang berumur sekitar 10 tahun ph 4,39 tergolong sangat masam. Rona lingkungan hidup awal dan kondisi saat ini untuk ph tanah di PT. Kitadin dapat dilihat pada Tabel 28. ph tanah pada rona lingkungan hidup awal di PT. Kitadin hanya satu lokasi yang bersifat masam, masih ada yang bersifat netral, dan agak alkalis. Kondisi saat ini, di kawasan reklamasi ph tanah umumnya bersifat agak masam sampai sangat masam. ph tanah menjadi sangat masam pada kawasan berumur sekitar 1 tahun dan 5 tahun. Kawasan reklamasi memberikan harapan perbaikan ph tanah untuk jangka waktu 5 sampai 10 tahun pasca tambang. Sedangkan di kawasan non reklamasi awalnya ph tanah baik, kemudian seterusnya memburuk.
7 117 ph tanah lebih baik pada saat sebelum penambangan batubara dimulai dibandingkan dengan sesudah penambangan berakhir (pasca tambang). Tabel 28. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Reaksi Tanah (ph tanah) di PT. Kitadin Rona Lingkungan Hidup Awal Kondisi Saat Ini Rataan ph Kelas Rataan ph Kelas H 2 O KCl H 2 O KCl Lokasi 1 : 7,7 Lokasi 1 : 6,9 Lokasi 1 : Reklamasi Agak alkalis Sekitar 1 tahun Sangat Lokasi 2 : 6,7 Lokasi 2 : 5,8 Lokasi 2 : masam Netral Sekitar 5 tahun Agak Lokasi 3 : 5,5 Lokasi 3 : 4,3 Lokasi 3 : masam Agak masam Sekitar 10 tahun Agak Lokasi 4 : 5,8 Lokasi 4 : 4,6 Lokasi 4 : masam Agak masam Non Reklamasi Lokasi 5 : 4,5 Lokasi 5 : 3,5 Lokasi 5 : Sekitar 1 tahun Netral Masam Sekitar 5 tahun Agak Lokasi 6 : 5,4 Lokasi 6 : 4,2 Lokasi 6 : masam Agak masam Sekitar 10 tahun Sangat masam Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT. Kitadin (2000). Rona lingkungan hidup awal PT.Tanito Harum untuk ph tanah pada 2 lokasi menujukkan bahwa ph di lokasi 1 dan lokasi 2 adalah netral (Dokumen ANDAL PT. Tanito Harum, 1994). Kondisi saat ini, pada PT. Tanito Harum untuk kawasan reklamasi ph tanah di areal berumur sekitar 1 tahun ph 4,29 tergolong kategori sangat masam, di areal yang berumur sekitar 5 tahun ph 3,02 tergolong kategori sangat masam, di areal yang berumur sekitar 10 tahun ph 3,66 tergolong sangat masam. Pada kawasan non reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun ph 3,31 tergolong kategori sangat masam, di areal berumur sekitar 5 tahun ph 3,37 tergolong kategori sangat masam, di areal yang berumur sekitar 10 tahun ph 4,10 tergolong sangat masam. Rona lingkungan hidup awal dan kondisi saat ini untuk ph tanah di PT. Tanito Harum dapat dilihat pada Tabel 29. Kondisi awal ph tanah di PT. Tanito Harum adalah sangat baik (netral). Kondisi saat ini, ph tanah menjadi sangat masam (sangat buruk) di kawasan reklamasi dan non reklamasi. Pada kawasan reklamasi dan non reklamasi di PT. Kitadin ph tanah umumnya masam, sedangkan di PT. Tanito Harum semua kawasan tergolong sangat masam. Reklamasi tidak merubah perbaikan ph tanah di
8 118 PT. Tanito Harum. Terjadi perubahan ph tanah dari sangat baik sebelum penambangan batubara menjadi sangat buruk sesudah penambangan. Tabel 29. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Reaksi Tanah (ph tanah) di PT. Tanito Harum Rona Lingkungan Hidup Awal Kondisi Saat Ini Rataan ph Kelas Rataan ph Kelas H 2 O KCl H 2 O KCl Reklamasi Lokasi 1: Lokasi 1: Lokasi 1: Sekitar 1 tahun Sangat 6,3 5,2 Netral masam Lokasi 2: Lokasi 2 : Lokasi 2: Sekitar 5 tahun Sangat 6,2 5,1 Netral masam Sekitar 10 tahun Sangat masam Non Reklamasi Sekitar 1 tahun Sangat masam Sekitar 5 tahun Sangat masam Sekitar 10 tahun Sangat masam Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT. Tanito Harum (1994). Hasil analisis tanah untuk reaksi tanah (ph tanah) di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum untuk kawasan reklamasi dan non reklamasi secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 3. Kapasitas Tukar Kation (KTK) Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca, Mg, Na, K dan Al. Kation-kation tersebut di dalam tanah terlarut dalam air tanah atau dijerap oleh koloid-koloid tanah. Banyaknya kation (dalam miliekivalen) yang dapat dijerap tanah per satuan berat tanah (biasanya per 100 g) dinamakan kapasitas tukar kation (KTK). Kation-kation yang telah dijerap oleh koloid-koloid tersebut sukar tercuci oleh air gravitasi, tetapi dapat diganti oleh kation lain yang terdapat dalam larutan tanah. Kapasitas tukar kation merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah dengan KTK tinggi mampu menjerap dan menyediakan unsur hara lebih baik daripada tanah dengan KTK rendah. Tanah dengan KTK tinggi bila didominasi oleh kation basa, Ca, Mg, K, Na (Kejenuhan Basa tinggi) dapat meningkatkan kesuburan tanah, tetapi bila
9 119 didominasi oleh kation asam, Al, H (Kejenuhan Basa rendah) dapat mengurangi kesuburan tanah. Tanah dengan kandungan bahan organik atau dengan kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi daripada tanah kandungan bahan organik rendah atau tanah berpasir. Kapasitas tukar kation adalah kemampuan tanah mengikat kation-kation yang dapat dipertukarkan pada koloid tanah yang bermuatan negatif. Besarnya KTK tersebut tergantung dari jumlah dan macam mineral liat, jumlah dan jenis bahan organik dalam tanah. Rona lingkungan hidup awal Kapasitas Tukar Kation (KTK) di PT. Kitadin tergolong rendah sampai sedang (berkisar 5,26 18,74 me/100g). Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan tanah dalam mempertahankan pencucian unsur hara rendah sehingga tanah miskin akan unsur hara (Dokumen ANDAL PT. Kitadin, 2000). Jumlah kation yang dapat dipertukarkan dalam kompleks adsorpsi tanah akan menentukan besarnya unsur hara yang dijerap tanah. Semakin besar KTK akan semakin baik. Kondisi saat ini, kemampuan tanah untuk menahan unsur-unsur hara pada areal PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun KTK 13,54 me/100g tergolong kategori rendah, di areal berumur sekitar 5 tahun 17,27 me/100g tergolong kategori sedang, dan di areal berumur sekitar 10 tahun 21,28 me/100g tergolong kategori sedang. Pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun KTK 11,03 me/100g tergolong kategori rendah, di areal sekitar 5 tahun 13,36 me/100g tergolong kategori rendah, dan di areal sekitar 10 tahun 20, 68 me/100g tergolong kategori sedang. KTK di kawasan non reklamasi lebih rendah dibandingkan dengan KTK pada kawasan reklamasi. Kondisi awal KTK di PT. Kitadin tergolong sedang di dua lokasi, dan tergolong rendah di empat lokasi. Kondisi saat ini, KTK pada kawasan reklamasi dan non reklamasi tergolong kategori rendah sampai sedang. KTK lebih tinggi di areal sebelum penambangan dibandingkan dengan KTK pasca tambang, data dari dokumen ANDAL PT. Kitadin. KTK kondisi saat ini lebih tinggi sedikit dibandingkan sebelum penambangan. Rona lingkungan hidup awal untuk Kapasitas Tukar Kation (KTK) di PT.Tanito Harum memperlihatkan bahwa Kapasitas tukar kation tanah di wilayah studi tergolong tinggi sebesar 32,1 me/100g, yang mengindikasikan bahwa
10 120 kemampuan tanah dalam mempertahankan pencucian unsur hara baik sehingga tanah masih tergolong kaya akan unsur hara (Dokumen ANDAL PT. Tanito Harum, 1994). Tabel 30. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Kapasitas Tukar Kation (KTK) di PT. Kitadin dan PT.Tanito Harum RonaLingkungan Hidup Awal (me/100g) PT.Kitadin Lokasi 1: KTK 11,57 Lokasi 2: KTK 18,74 Lokasi 3: KTK 12,47 Lokasi 4: KTK 15,36 Lokasi 5: KTK 6,63 Lokasi 6: KTK 5,26 PT. Tanito Harum Lokasi 1: KTK 32,1 Lokasi 2: KTK 32,1 Kriteria Penilaian Lokasi 1 : Rendah Lokasi 2 : Sedang Lokasi 3 : Rendah Lokasi 4 : Sedang Lokasi 5 : Rendah Lokasi 6 : Rendah Lokasi 1 : Tinggi Lokasi 2 : Tinggi Kondisi Kawasan Reklamasi KTK Saat Ini (me/100g) Kriteria Penilaian Sekitar 1 Tahun 13,54 Rendah Sekitar 5 Tahun 17,27 Sedang Sekitar 10 Tahun 21,28 Sedang Non Reklamasi Sekitar 1 Tahun 11,03 Rendah Sekitar 5 Tahun 13,36 Rendah Sekitar 10 Tahun 20,68 Sedang Reklamasi Sekitar 1 Tahun 17,86 Sedang Sekitar 5 Tahun 12,65 Rendah Sekitar 10 Tahun 21,83 Sedang Non Reklamasi Sekitar 1 Tahun 7,38 Rendah Sekitar 5 Tahun 7,83 Rendah Sekitar 10 Tahun 8,92 Rendah Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT. Kitadin (2000), dan Dokumen ANDAL PT.Tanito Harum (1994) Kondisi saat ini, kemampuan tanah untuk menahan unsur-unsur hara pada PT. Tanito Harum kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun KTK 17,86 me/100g tergolong kategori sedang, di areal berumur sekitar 5 tahun 12,65 me/100g tergolong kategori rendah dan di areal berumur sekitar 10 tahun 21,28 me/100g tergolong kategori sedang. Pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun KTK 7,38 me/100g tergolong kategori rendah, di areal sekitar 5 tahun 7,83 me/100g tergolong kategori rendah, dan di areal sekitar 10 tahun 8,92 me/100g tergolong kategori rendah.
11 121 Rona lingkungan hidup awal dan kondisi saat ini KTK di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum pasca tambang batubara dapat dilihat pada Tabel 30. Kondisi awal KTK di PT. Tanito Harum tergolong tinggi (baik) di lokasi satu, dan di lokasi dua. Kondisi saat ini KTK di kawasan reklamasi tergolong kategori sedang dan di kawasan non reklamasi rendah. KTK sebelum penambangan lebih tinggi dibandingkan dengan KTK kondisi saat ini. Dampak penambangan mengakibatkan kemampuan tanah dalam mempertahankan pencucian unsur hara rendah sehingga tanah miskin akan unsur hara. Hasil analisis KTK tanah di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum untuk kawasan reklamasi dan non reklamasi secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 4. Rasio C/N Unsur-unsur hara esensial merupakan unsur hara yang sangat diperlukan oleh tanaman dan fungsinya tidak dapat digantikan oleh unsur lain, sehingga bila tidak terdapat dalam jumlah yang cukup dalam tanah maka tanaman tidak dapat tumbuh dengan normal. Unsur-unsur hara esensial ini dapat berasal dari udara, air maupun tanah. Terdapat 17 unsur hara esensial yaitu: unsur makro (C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S), dan unsur hara mikro (Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, Cl, dan Co). Unsur hara makro diperlukan dalam jumlah banyak, sedangkan unsur hara mikro diperlukan dalam jumlah sedikit. Nitrogen dalam tanah berasal dari: (1) bahan organik tanah, (2) bahan organik halus (N tinggi dan C/N rendah), (3) bahan organik kasar ( N rendah dan C/N tinggi). Bahan organik merupakan sumber N yang utama dalam tanah. Faktor yang mempengaruhi penghancuran (dekomposisi) bahan organik adalah suhu, kelembaban, tata udara tanah, pengolahan tanah, ph dan jenis bahan organik. Pengikatan oleh mikroorganisme dan N udara salah satunya dapat melalui simbiose dengan tanaman leguminosa, yaitu melalui bintil akar (Rhizobium). Fungsi N adalah memperbaiki pertumbuhan vegetatif dan pembentukan protein. Gejala-gejala kekurangan N yaitu tanaman menjadi kerdil, pertumbuhan akar terbatas dan daun-daun kuning/gugur. Rona lingkungan hidup awal PT. Kitadin menunjukkan rasio C/N pada enam lokasi sebesar 10,0-19,5%. Lokasi 1 rasio C/N 10,0% tergolong kategori
12 122 rendah (Terdekomposisi), di lokasi 2 rasio C/N 19,5% tergolong kategori tinggi (Belum terdekomposisi), di lokasi 3 rasio C/N 10,5% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang), di lokasi 4 rasio C/N 10,0% tergolong kategori rendah (Terdekomposisi), di lokasi 5 rasio C/N 10,0% tergolong kategori rendah (Terdekomposisi) dan di lokasi 6 rasio C/N 12,0% tergolong kategori sedang atau Dekomposisi sedang (Dokumen ANDAL PT. Kitadin, 2000). Kondisi saat ini, rasio C/N pada PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 15,0% tergolong kategori tinggi (Belum terdekomposisi), di areal berumur sekitar 5 tahun 11,7% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang), dan di areal berumur sekitar 10 tahun 11,7% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang). Rasio C/N pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 24,4% tergolong kategori tinggi (Belum terdekomposisi), di areal sekitar 5 tahun 17,1% tergolong kategori tinggi (Belum terdekomposisi), dan di areal sekitar 10 tahun 12,7% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang). Rona lingkungan hidup awal untuk C/N PT. Tanito Harum di lokasi 1 sebesar 6,8% tergolong kategori rendah (Terdekomposisi), dan di lokasi 2 sebesar 10,2% tergolong kategori sedang atau Terdekomposisi sedang (Dokumen ANDAL PT. Tanito Harum, 1994). Kondisi saat ini, rasio C/N pada PT. Tanito Harum kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 11,0% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang), di areal berumur sekitar 5 tahun 12,2% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang), dan di areal berumur sekitar 10 tahun 14,7% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang). Rasio C/N pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 13,6% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang), di areal sekitar 5 tahun 13,2% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang), dan di areal sekitar 10 tahun 14,5% tergolong kategori sedang (Terdekomposisi sedang). Rona lingkungan hidup awal dan kondisi saat ini rasio C/N di PT.Kitadin dan PT.Tanito Harum dapat dilihat pada Tabel 31.
13 123 Tabel 31. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini rasio C/N di PT.Kitadin dan PT.Tanito Harum Rona Lingkungan Hidup Awal Kondisi Saat Ini (%) Kategori (%) PT.Kitadin Lokasi 1: Lokasi 1: Reklamasi C/N 10,0 Terdekomposisi Lokasi 2: Lokasi 2: Belum Sekitar 1 Tahun 15,0 Belum terdekomposisi C/N 19,5 terdekomposisi Sekitar 5 Tahun 11,7 Terdekomposisi sedang Lokasi 3: Lokasi 3: Sekitar 10 Terdekomposisi sedang C/N 10,5 Dekomposisi sedang 11,7 Tahun Lokasi 4: Lokasi 4: Non Reklamasi C/N 10,0 Terdekomposisi Lokasi 5: Lokasi 5: Sekitar 1 Tahun 24,4 Belum terdekomposisi C/N 10,0 Terdekomposisi Sekitar 5 Tahun 17,1 Belum terdekomposisi Lokasi 6 : Lokasi 6: C/N 12,0 Dekomposisi sedang Sekitar 10 Tahun 12,7 Terdekomposisi sedang PT. Tanito Harum Lokasi 1: C/N 10,2 Lokasi 2: C/N 6,8 Lokasi 1 : Dekomposisi sedang Lokasi 2 : Terdekomposisi Reklamasi Sekitar 1 Tahun 11,0 Terdekomposisi sedang Sekitar 5 Tahun 12,2 Terdekomposisi sedang Sekitar 10 Tahun 14,7 Terdekomposisi sedang Non Reklamasi Sekitar 1 Tahun 13,6 Terdekomposisi sedang Sekitar 5 Tahun 13,2 Terdekomposisi sedang Sekitar 10 Tahun 14,5 Terdekomposisi sedang Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT. Kitadin (2000), dan Dokumen ANDAL PT.Tanito Harum (1994) Rasio C/N sebelum penambangan di PT. Kitadin tergolong baik (terdekomposisi) di tiga lokasi, dan tergolong sedang (terdekomposisi sedang) di tiga lokasi. Kondisi saat ini, C/N pada kawasan reklamasi umumnya terdekomposisi sedang, dan di kawasan non reklamasi belum terdekomposisi. Rasio C/N lebih rendah (terdekomposisi) di areal sebelum penambangan dibandingkan dengan pasca tambang. Terjadi penurunan kualitas rasio C/N pasca tambang batubara. Hal ini terjadi karena penghancuran (dekomposisi) bahan organik oleh suhu, kelembaban, tata udara tanah, pengolahan tanah, ph dan jenis bahan organik terganggu pada saat penambangan. Hasil analisis tanah untuk N total, C-organik dan rasio C/N di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum pada kawasan pasca tambang batubara reklamasi dan non reklamasi secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 5.
14 124 P2O5 tersedia dan K2O tersedia Unsur Kalium (K) dalam tanah berasal dari mineral-mineral primer tanah (feldspar, mika dan lain-lain) dan dari pupuk buatan (ZK dan K Cl). Unsur K tidak merupakan unsur penyusun jaringan tanaman. Fungsi K adalah: (1) pembentukan enzim, (2) mengaktifkan enzim, (3) mengatur pernapasan dan penguapan (pembukaan stomata), (4) proses fisiologis dalam tanaman, (5) proses metabolik dalam sel, (6) mempengaruhi penyerapan unsur-unsur lain, (6) mempertinggi daya tahan terhadap kekeringan, penyakit, dan (7) perkembangan akar (Hardjowigeno, 2007). Unsur K ditemukan dalam jumlah banyak di dalam tanah, tetapi hanya sebagian kecil yang digunakan oleh tanaman yaitu yang larut dalam air atau yang dapat dipertukarkan. Unsur K dalam tanah dapat dibedakan menjadi K tidak tersedia bagi tanaman, K tersedia, dan K tersedia tetapi lambat. Banyaknya unsur hara yang dikandung oleh suatu pupuk merupakan faktor penting untuk menilai pupuk tersebut, karena jumlah unsur hara menentukan kemampuannya untuk meningkatkan kadar unsur hara dalam tanah. Kadar unsur hara dalam pupuk N, P dan K dinyatakan dalam persen N, P 2 O 5 dan K 2 O. Pupuk P biasanya terdapat sebagai monokalsiumfosfat, kalsium dan amonium fosfat, sedangkan pupuk K umumnya terdapat dalam bentuk kalium khlorida atau kalium sulfat. Unsur P diambil tanaman dalam bentuk H 2 PO - 4, sedangkan K sebagai ion K +. Hasil analisis tanah kadar P 2 O 5 dan K 2 O tersedia dapat dilihat pada Tabel 32. Rona lingkungan hidup awal untuk kadar P 2 O 5 di PT. Kitadin di lokasi 1 sebesar 36 mg/100g, di lokasi 2 sebesar 27,50 mg/100g, di lokasi 3 sebesar 30,50 mg/100g, di lokasi 4 sebesar 26,00 mg/100g, di lokasi 5 sebesar 18,00 mg/100g, dan di lokasi 6 sebesar 20,00 mg/100g. Kisaran nilai kadar P 2 O 5 (18,00 36 mg/100g) tergolong kategori rendah sampai sedang. Kadar K 2 O di lokasi 1 sebesar 29,00 mg/100g, di lokasi 2 sebesar 19,50 mg/100g, di lokasi 3 sebesar 25,50 mg/100g, di lokasi 4 sebesar 22,50 mg/100g, di lokasi 5 sebesar 7,00 mg/100g, dan di lokasi 6 sebesar 12,00 mg/100g. Kisaran kadar K 2 O (7,00-29,00 mg/100g) tergolong kategori sangat rendah sampai sedang (Dokumen ANDAL PT. Kitadin, 2000).
15 125 Kondisi saat ini, pada areal PT. Kitadin kawasan reklamasi berumur sekitar 1 tahun kadar P 2 O 5 52,60 mg/100g tergolong kategori tinggi, di areal berumur sekitar 5 tahun tidak terdeteksi, dan di areal berumur sekitar 10 tahun 3,16 mg/100g tergolong kategori sangat rendah. Kadar P 2 O 5 pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 1,05 mg/100g tergolong kategori sangat rendah, di areal sekitar 5 tahun 5,26 mg/100g tergolong sangat rendah, dan di areal sekitar 10 tahun 14,73 mg/100g tergolong kategori rendah. Kadar K 2 O pada PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun sebesar 104,05 mg/100g tergolong kategori sangat tinggi, di areal berumur sekitar 5 tahun 142,50 mg/100g tergolong kategori sangat tinggi, dan di areal berumur sekitar 10 tahun 75,40 mg/100g tergolong kategori sangat tinggi. Kadar K 2 O pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 76,60 mg/100g tergolong kategori sangat tinggi, di areal sekitar 5 tahun 85,40 mg/100g tergolong sangat tinggi, dan di areal sekitar 10 tahun 157,55 mg/100g tergolong kategori sangat tinggi. Kadar P 2 O 5 dan K 2 O tersedia di PT. Kitadin tinggi sampai sangat tinggi untuk kawasan reklamasi pada umur sekitar 1 tahun, sekitar 5 tahun dan sekitar 10 tahun. Pada umur sekitar 5 tahun P 2 O 5 tersedia tidak terindentifikasi. Nilai tersebut sangat ekstrim jika dibandingkan dengan kawasan non reklamasi yaitu ketersediaan P 2 O 5 termasuk ke dalam kategori rendah bahkan sangat rendah (<10). Data rona lingkungan hidup awal kadar P 2 O 5 dan K 2 O sebelum penambangan di PT. Kitadin tergolong stabil di enam lokasi. Kondisi saat ini pada kawasan reklamasi kadar P 2 O 5 sangat fluktuatif dari tidak terdeteksi, sangat rendah, dan tinggi. Sedangkan di kawasan non reklamasi kadar P 2 O 5 umumnya rendah. Kadar K 2 O pada kawasan reklamasi dan non reklamasi sangat tinggi. Kadar P 2 O 5 tidak stabil di lokasi pasca tambang, hanya tinggi kadarnya di lokasi awal pasca tambang. PT. Kitadin diduga melakukan pemupukan di awal pasca tambang, namun jumlah unsur hara yang dikandung dalam pupuk tersebut tidak memadai. Jumlah unsur hara menentukan kemampuannya untuk meningkatkan kadar unsur hara dalam tanah. Kadar unsur hara dalam pupuk N, P dan K dinyatakan dalam persen N, P 2 O 5 dan K 2 O. Unsur K ditemukan dalam jumlah banyak di dalam tanah, tetapi hanya sebagian kecil yang digunakan oleh tanaman yaitu yang larut dalam
16 126 air atau yang dapat dipertukarkan. Kadar K 2 O di semua lokasi reklamasi dan non reklamasi sangat tinggi namun Unsur K dalam tanah adalah menjadi K tidak tersedia bagi tanaman, atau K tersedia tetapi lambat. Kadar P 2 O 5 dan K 2 O lebih baik di areal sebelum penambangan dibandingkan dengan pasca tambang karena meskipun tergolong kategori sedang tetapi stabil hampir di semua lokasi, indikasinya tanaman tetap tumbuh meskipun tidak dilakukan pemupukan (Dapat dilihat dari data rona lingkungan hidup awal vegetasi). Rona lingkungan hidup awal untuk kadar P 2 O 5 di PT.Tanito Harum di lokasi 1 sebesar 2,00 mg/100g dan di lokasi 2 sebesar 2,30 mg/100g. Tergolong kategori sangat rendah. Data kadar K 2 O tidak tersedia (Dokumen ANDAL PT. Tanito Harum, 1994). Kondisi saat ini, kadar P 2 O 5 pada PT. Tanito Harum pada kawasan reklamasi di areal sekitar 1 tahun tidak terdeteksi, di areal sekitar 5 tahun 16,83 mg/100g tergolong kategori rendah, dan di areal sekitar 10 tahun 10,52 mg/100g tergolong kategori rendah. Kadar P 2 O 5 pada kawasan non reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 4,21 mg/100g tergolong kategori sangat rendah, di areal berumur sekitar 5 tahun 6,31 mg/100g tergolong kategori sangat rendah, dan di areal berumur sekitar 10 tahun 10,52 mg/100g tergolong kategori rendah. Kadar K 2 O pada PT. Tanito Harum pada kawasan reklamasi di areal sekitar 1 tahun 62,20 mg/100g tergolong kategori sangat tinggi, di areal sekitar 5 tahun 64,75 mg/100g tergolong sangat tinggi, dan di areal sekitar 10 tahun 131,20 mg/100g tergolong kategori sangat tinggi. Kadar K 2 O pada kawasan non reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 27,70 mg/100g tergolong kategori sedang, di areal berumur sekitar 5 tahun 44,60 mg/100g tergolong kategori tinggi, dan di areal berumur sekitar 10 tahun 45,95 mg/100g tergolong kategori tinggi Data rona lingkungan hidup awal kadar P 2 O 5 dan K 2 O sebelum penambangan di PT. Tanito Harum tergolong sangat rendah, bahkan K 2 O tidak terdeteksi. Kondisi saat ini pada kawasan reklamasi dan non reklamasi kadar P 2 O 5 tidak terdeteksi, rendah dan sangat rendah. Kadar K 2 O pada kawasan reklamasi dan non reklamasi umumnya tinggi sampai sangat tinggi. Kadar P 2 O 5 tidak stabil di lokasi pasca tambang, hanya tinggi kadarnya di awal pasca tambang. Pemupukan di awal pasca tambang kurang efektif jika
17 127 jumlah unsur hara yang dikandung dalam pupuk tersebut tidak memadai. Kadar K 2 O di semua lokasi reklamasi dan non reklamasi sangat tinggi namun Unsur K dalam tanah adalah menjadi K tidak tersedia bagi tanaman, atau K tersedia tetapi lambat. Kadar P 2 O 5 dan K 2 O sangat buruk di areal sebelum penambangan dibandingkan dengan pasca tambang, namun dengan indikasi tanaman tetap tumbuh meskipun tidak dilakukan pemupukan, kadar yang minimal namun tersedia bagi tanaman lebih diperlukan (Dapat dilihat data rona lingkungan hidup awal vegetasi). Rona lingkungan hidup awal dan kondisi saat ini kadar P 2 O 5 dan kadar K 2 O di PT.Kitadin dan PT.Tanito Harum dapat dilihat pada Tabel 33. Hasil analisis tanah untuk kadar P 2 O 5 dan kadar K 2 O di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum pada kawasan pasca tambang batubara reklamasi dan non reklamasi secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 6. Kejenuhan Basa dan Al Secara umum, bila tanah banyak mengandung muatan positif maka kation-kation seperti Ca, Mg, dan K tidak dijerap tanah tetapi tetap dalam larutan tanah sehingga mudah tercuci dari tanah. Kation-kation yang terdapat dalam kompleks jerapan koloid tersebut dapat dibedakan menjadi kation-kation basa dan kation-kation asam. Kejenuhan basa menunjukkan perbandingan antara jumlah kation-kation basa dengan jumlah semua kation (kation basa dan kation asam) yang terdapat dalam kompleks jerapan tanah. Jumlah maksimum kation yang dapat dijerap tanah menunjukkan besarnya nilai kapasitas tukar kation tanah. Kation-kation basa umumnya merupakan unsur hara yang diperlukan tanaman. Kation-kation basa adalah Ca ++, Mg ++, Na +, K +, kation-kation asam adalah Al +++ dan H +. Basa-basa umumnya mudah tercuci, sehingga tanah dengan kejenuhan basa tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut belum banyak mengalami pencucian dan merupakan tanah subur. Tanah dengan kejenuhan basa rendah, berarti kompleks jerapan lebih banyak diisi oleh kation-kation asam yaitu Al dan H, yang dapat merupakan racun bagi tanaman dan keadaan seperti ini terdapat pada tanah-tanah masam.
18 128 Tabel 32. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Kadar P 2 O 5 dan K 2 O tersedia di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum P 2 O 5 (mg/100g) PT. KITADIN (Umur) Lokasi 1: 36,00 Lokasi 2: 27,50 Lokasi 3: 30,50 Lokasi 4: 26,00 Lokasi 5: 18,00 Lokasi 6: 20,00 Rona Lingkungan Hidup Awal K 2 O Kriteria penilaian P 2 O 5 Lokasi 1: 29,00 Lokasi 2: 19,50 Lokasi 3: 25,50 Lokasi 4: 22,50 Lokasi 5: 7,00 Lok asi 6: 12,00 (ppm) Kondisi Saat ini K 2 O Kriteria penilaian P 2 O 5 K 2 O P 2 O 5 K 2 O Lokasi 1: Sedang Lokasi 2: Sedang Lokasi 3: Sedang Lokasi 4:Sedang Lokasi 5:Rendah Lokasi 6:Rendah Lokasi 1: Sedang Lokasi 2: Rendah Lokasi 3: Sedang Lokasi 4: Sedang Lokasi 5: Sangat rendah Lokasi 6: Rendah Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun Non Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun ttd Tinggi ttd Sangat rendah Sangat rendah Sangat rendah Rendah Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi PT. TANITO HARUM (Umur) Lokasi 1: 2,00 Lokasi 2: 2,30 Tidak ada data Lokasi 1: Sangat rendah Lokasi 2: Sangat rendah Tidak ada data Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun ttd ttd Rendah Rendah Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Non Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun Sangat rendah Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Tinggi Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT. Kitadin (2000), dan Dokumen ANDAL PT.Tanito Harum (1994) Keterangan: ttd (tidak terdeteksi) 128
19 129 Rona lingkungan hidup awal untuk Kejenuhan Basa di PT.Kitadin pada lokasi 1 sampai lokasi 6 > 100%, kecuali di lokasi 5 sebesar 46%. Kisaran ini tergolong kategori sedang sampai sangat tinggi. Kejenuhan Al di lokasi 1 sebesar 0,02%, di lokasi 2 sebesar 0,04%, di lokasi 3 sebesar 0,37%, di lokasi 4 sebesar 0,51%, di lokasi 5 sebesar 4,50%, di lokasi sebesar 6 0,32%. Kisaran Al 0,00% - 4,50% tergolong kategori sedang sampai sangat tinggi (Dokumen ANDAL PT. Kitadin, 2000). Kondisi saat ini, Kejenuhan Basa pada PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun sebesar 75,20% tergolong kategori sangat tinggi, di areal berumur sekitar 5 tahun 80,14% tergolong kategori sangat tinggi, dan di areal berumur sekitar 10 tahun 100% tergolong kategori sangat tinggi. Kejenuhan Basa pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 100% tergolong kategori sangat tinggi, di areal sekitar 5 tahun 66,79% tergolong tinggi, dan di areal sekitar 10 tahun 99,27% tergolong kategori sangat tinggi. Kejenuhan Al pada PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 24,80% tergolong kategori sedang, di areal berumur sekitar 5 tahun 19,86% tergolong kategori rendah, dan di areal berumur sekitar 10 tahun tidak terdeteksi. Kejenuhan Al pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun tidak terdeteksi, di areal sekitar 5 tahun 33,20% tergolong tinggi, dan di areal sekitar 10 tahun 1,46% tergolong kategori sangat rendah. Ada indikasi kejenuhan Al cenderung membaik ketika umur kawasan bertambah sampai sekitar 10 tahun. Kejenuhan basa yang baik adalah > dari 70%. Semakin besar persentasenya akan semakin baik karena menunjukkan merupakan tanah subur. Kejenuhan Basa pada kawasan reklamasi PT. Kitadin tergolong tinggi di areal berumur sekitar 1 tahun, sekitar 5 tahun dan sekitar 10 tahun baik pada lahan reklamasi maupun non reklamasi. Kondisi ini telah sesuai dengan yang diharapkan, namun kejenuhan Al untuk umur kawasan sekitar 1 tahun masih tergolong tinggi. Pada kawasan reklamasi PT. Tanito Harum Kejenuhan Basa dan kejenuhan Al tinggi. Pada kawasan non reklamasi, kejenuhan basa rendah sementara kejenuhan Al tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa kawasan PT. Tanito Harum termasuk kelas buruk pada semua umur kawasan karena kondisi yang ideal adalah kejenuhan basa tinggi dan kejenuhan Al rendah.
20 130 Data rona lingkungan hidup awal Kejenuhan Basa sebelum penambangan di PT. Kitadin sangat baik di enam lokasi. Sedangkan Kejenuhan Aluminum sangat rendah di semua lokasi. Kondisi saat ini, Kejenuhan Basa pada kawasan reklamasi dan non reklamasi tinggi sampai sangat tinggi. Kejenuhan Aluminum pada kawasan reklamasi tergolong rendah sampai sedang, dan di kawasan non reklamasi tidak terdeteksi, tinggi, dan sangat rendah (fluktuatif). Sebelum penambangan tanah mempunyai Kejenuhan Basa yang tinggi, dimana tanah dengan kejenuhan basa tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut belum banyak mengalami pencucian dan merupakan tanah subur. Sesudah penambangan tanah masih memiliki Kejenuhan Basa tinggi, namun persentasenya berkurang. Kejenuhan Basa rendah mengindikasikan kompleks jerapan lebih banyak diisi oleh kation-kation asam yaitu Al dan H. Kejenuhan Aluminum yang sangat rendah sebelum penambangan tanah masih dalam kondisi subur. Kejenuhan Basa dan Kejenuhan Aluminum lebih baik di areal sebelum penambangan dibandingkan dengan pasca tambang. Sebelum penambangan Kejenuhan Basa yang tinggi diikuti dengan Kejenuhan Aluminum rendah adalah kondisi ideal karena kompleks jerapan menjadi lebih banyak diisi oleh kationkation basa. Kondisi saat ini terjadi penurunan kualitas. Meskipun Kejenuhan Basa tinggi, namun diikuti dengan Kejenuhan Aluminum tinggi. Rona lingkungan hidup awal PT.Tanito Harum untuk Kejenuhan Basa tergolong tinggi (100%) dan Kejenuhan Al tidak tersedia data (Dokumen ANDAL PT. Tanito Harum, 1994). Kondisi saat ini, Kejenuhan Basa pada PT. Tanito Harum kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun sebesar 62,57% tergolong kategori tinggi, di areal berumur sekitar 5 tahun 52,80% tergolong kategori tinggi, dan di areal berumur sekitar 10 tahun 84,11% tergolong kategori sangat tinggi. Kejenuhan Basa pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 10,71% tergolong kategori sangat rendah, di areal sekitar 5 tahun 8,19% tergolong kategori sangat rendah, dan di areal sekitar 10 tahun 24,56% tergolong kategori rendah. Kejenuhan Aluminum pada PT. Tanito Harum kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 37,42% tergolong kategori tinggi, di areal berumur sekitar 5 tahun 47,20% tergolong kategori tinggi, dan di areal berumur sekitar 10
21 131 tahun 31,78% tergolong kategori tinggi. Kejenuhan Al pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 89,29% tergolong kategori sangat tinggi, di areal sekitar 5 tahun 91,80% tergolong sangat tinggi, dan di areal sekitar 10 tahun 75,44% tergolong kategori sangat tinggi. Ada indikasi kejenuhan Al cenderung membaik ketika umur kawasan bertambah sampai sekitar 10 tahun. Kejenuhan basa yang baik adalah > dari 70%. Pada kawasan non reklamasi kejenuhan basa rendah dan kejenuhan Al tinggi. Keadaan ini tidak diharapkan karena kondisi yang demikian menyebabkan Al akan mengikat fosfor sehingga P tidak tersedia bagi tanaman. Kemasaman tanah (ph) juga mempengaruhi keaktifan Al, dimana semakin asam maka kadar Al semakin tinggi. Data rona lingkungan hidup awal Kejenuhan Basa sebelum penambangan di PT. Tanito Harum sangat baik di lokasi satu dan di lokasi dua yaitu 100%. Kejenuhan Aluminum tidak ada data di kedua lokasi. Kondisi saat ini, Kejenuhan Basa pada kawasan reklamasi tinggi sampai sangat tinggi. Kawasan reklamasi mampu mempertahankan persentase Kejenuhan Basa meski tidak 100% seperti kondisi sebelum penambangan. Pada kawasan non reklamasi persentase Kejenuhan Basa rendah sampai sangat rendah. Kejenuhan Aluminum pada kawasan reklamasi dan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun, sekitar 5 tahun, dan sekitar 10 tahun sangat tinggi. Sebelum penambangan, tanah mempunyai Kejenuhan Basa yang tinggi, mengindikasikan tanah tersebut belum banyak mengalami pencucian dan merupakan tanah subur. Sesudah penambangan, Kejenuhan Basa rendah pada kawasan non reklamasi sementara Kejenuhan Al tinggi. Kejenuhan Basa rendah mengindikasikan kompleks jerapan lebih banyak diisi oleh kation-kation asam yaitu Al dan H sehingga Al tinggi, hal ini terjadi di PT. Tanito Harum di kawasan non reklamasi. Kejenuhan Basa dan Kejenuhan Aluminum lebih baik di areal sebelum penambangan dibandingkan dengan pasca tambang. Sebelum penambangan Kejenuhan Basa yang tinggi dengan persentase 100%, Kejenuhan Al tidak ada data. Kondisi saat ini terjadi penurunan kualitas. Meskipun Kejenuhan Basa tinggi, namun diikuti dengan Kejenuhan Aluminum tinggi pada kawasan reklamasi dan non reklamasi di semua areal. Kejenuhan Aluminum rendah adalah kondisi ideal karena kompleks jerapan menjadi lebih banyak diisi oleh kation-kation basa.
22 132 Tabel 33. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Kejenuhan Basa dan Kejenuhan Aluminum di Areal PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum Rona Lingkungan Hidup Awal Kondisi Saat Ini Rataan Kejenuhan Kelas Kejenuhan Rataan Kejenuhan Kelas Kejenuhan Basa (%) Al (%) Basa Al Basa (%) Al (%) Basa Al PT. KITADIN (Umur) Lokasi 1: > 100 Lokasi 2: > 100 Lokasi 3: > 100 Lokasi 4: > 100 Lokasi 5: 46 Lokasi 6: > 100 Lokasi 1: 0,00 Lokasi 2: 0,04 Lokasi 3: 0,37 Lokasi 4: 0,51 Lokasi 5: 4,50 Lokasi 6: 0,32 Lokasi 1:Sangat tinggi Lokasi 2: Sangat tinggi Lokasi 3:Sangat tinggi Lokasi 4:Sangat tinggi Lokasi 5: Sedang Lokasi 6: Sangat tinggi Lokasi 1: Sangat rendah Lokasi 2: Sangat rendah Lokasi 3: Sangat rendah Lokasi 4: Sangat rendah Lokasi 5: Sangat rendah Lokasi 6: Sangat rendah Reklamasi Sekitar 1 tahun Sangat tinggi Sedang Sekitar 5 tahun Sangat tinggi Rendah Sekitar 10 tahun 100 ttd Sangat tinggi ttd PT. TANITO HARUM (Umur) Non Reklamasi Sekitar 1 tahun 100 ttd Sangat tinggi ttd Sekitar 5 tahun tinggi Tinggi Sekitar 10 tahun Sangat tinggi Sangat rendah Lokasi 1: 100 Lokasi 2: 100 Tidak ada data Tidak ada data Lokasi 1: Sangat tinggi Lokasi 2: Sangat tinggi Reklamasi Sekitar 1 tahun Tinggi Tinggi Sekitar 5 tahun Tinggi Tinggi Sekitar 10 tahun Sangat tinggi Tinggi Non Reklamasi Sekitar 1 tahun Sangat rendah Sangat tinggi Sekitar 5 tahun Sangat rendah Sangat tinggi Sekitar 10 tahun Rendah Sangat tinggi Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT. Kitadin (2000), dan Dokumen ANDAL PT.Tanito Harum (1994) Keterangan: ttd (tidak terdeteksi) 132
23 133 Rona lingkungan hidup awal dan kondisi saat ini Kejenuhan Basa dan Kejenuhan Aluminum di PT.Kitadin dan PT. Tanito Harum dapat dilihat pada Tabel 33. Hasil analisis tanah untuk Kejenuhan Basa dan Kejenuhan Aluminum di areal PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 7. Kategori penilaian hasil analisis sifat fisik dan kimia tanah pasca tambang batubara di lokasi penelitian secara rinci dapat dilihat pada Tabel 34. Tabel 34. Kelas Sifat Fisik dan Kimia Tanah PT. KITADIN Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun Non Reklamasi Kelas Tekstur Sedang Agak halus Agak halus ph Sangat masam Agak masam Agak masam KTK (me/100 g) Rendah Sedang Sedang Sekitar 1 tahun Sedang Netral Rendah Agak Sekitar 5 tahun Sedang masam Rendah Sangat Sekitar 10 tahun Agak halus masam Sedang PT. TANITO HARUM Reklamasi Sangat Sekitar 1 tahun Sedang masam Sedang Sangat Sekitar 5 tahun Agak halus masam Rendah Sangat Sekitar 10 tahun Agak halus masam Sedang Non Reklamasi Sangat Sekitar 1 tahun Sedang masam Rendah Sangat Sekitar 5 tahun Sedang masam Rendah Sangat Sekitar 10 tahun Agak halus masam Rendah Sumber: Hasil Analisis (2009) Rasio C/N Belum terdekomposisi Terdekomposisi sedang Terdekomposisi sedang Belum terdekomposisi Belum terdekomposisi Terdekomposisi sedang Terdekomposisi sedang Terdekomposisi sedang Terdekomposisi sedang Tersedia (ppm) Kejenuhan (%) P 2 O 5 K 2 O Basa Al Tinggi ttd Sangat rendah Sangat rendah Sangat rendah Rendah ttd Rendah Rendah Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Sedang Rendah ttd Sangat tinggi Sangat tinggi ttd Sangat tinggi Tinggi Tinggi Sangat Sangat Sangat tinggi tinggi rendah Sangat tinggi Tinggi Tinggi Sangat tinggi Tinggi Tinggi Sangat Sangat tinggi tinggi Tinggi Terdekomposisi sedang Sangat rendah Sedang Sangat rendah Terdekomposisi Sangat Sangat sedang rendah Tinggi rendah Terdekomposisi sedang Rendah Tinggi Rendah Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Secara keseluruhan terjadi perubahan sifat fisik dan sifat kimia tanah pasca tambang batubara. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan kondisi keseluruhan sifat fisik dan sifat kimia tanah sebelum penambangan dengan sesudah berakhirnya masa tambang. Tanah pada kawasan reklamasi sifat fisik dan sifat kimianya lebih cepat kembali (recovery) mendekati keadaan semula dibandingkan dengan kawasan non reklamasi pasca tambang batubara.
24 134 Tekstur tanah sesuai rona lingkungan hidup awal di PT. Kitadin masih bertekstur halus, kondisi saat ini berubah menjadi bertekstur sedang. Tekstur tanah di PT. Tanito Harum awalnya juga masih bertekstur halus bahkan lebih baik karena di lokasi 2 ada tekstur tanah liat (terbaik), kondisi saat ini berubah menjadi bertekstur sedang. Kawasan reklamasi memberikan harapan perbaikan tekstur tanah untuk jangka waktu 5 sampai 10 tahun kemudian. Kawasan non reklamasi mengalami perbaikan tekstur tanah relatif lebih lama. ph tanah sesuai rona lingkungan hidup awal di PT. Kitadin umumnya bersifat netral, kondisi saat ini di kawasan reklamasi ph tanah umumnya bersifat agak masam sampai sangat masam. Pada kawasan reklamasi ph tanah membaik dalam 5 sampai 10 tahun. ph tanah di PT. Tanito Harum pada saat sebelum penambangan adalah sangat baik (netral), kondisi saat ini pasca tambang batubara ph tanah baik di kawasan reklamasi maupun di kawasan reklamasi menjadi sangat masam (sangat buruk). Terjadi perubahan ph tanah dari sangat baik sebelum penambangan batubara menjadi sangat buruk sesudah penambangan berakhir (pasca tambang). KTK sebelum penambangan di PT. Kitadin tergolong rendah sampai sedang, kondisi saat ini KTK umumnya rendah baik di kawasan reklamasi maupun di kawasan non reklamasi. KTK sebelum penambangan di PT. Tanito Harum tergolong tinggi (baik), kondisi saat ini KTK di kawasan reklamasi tergolong sedang, dan pada kawasan non reklamasi rendah. KTK sebelum penambangan di awal masa penambangan lebih tinggi dibandingkan dengan KTK kondisi saat ini. Rasio C/N sebelum penambangan di PT. Kitadin tergolong baik yaitu terdekomposisi dan terdekomposisi sedang, kondisi saat ini C/N pada kawasan reklamasi dan non reklamasi tergolong belum terdekomposisi, dan terdekomposisi sedang (membutuhkan waktu yang lama). Rasio C/N sebelum penambangan di PT. Tanito Harum tergolong baik yaitu terdekomposisi dan terdekomposisi sedang, kondisi saat ini C/N pada kawasan reklamasi maupun non reklamasi terdekomposisi sedang. Rasio C/N lebih baik di areal sebelum penambangan dibandingkan dengan pasca tambang.
25 135 Kadar P 2 O 5 dan K 2 O sebelum penambangan di PT. Kitadin tergolong sedang tetapi stabil di enam lokasi, kondisi saat ini pada kawasan reklamasi fluktuatif dari tinggi sampai sangat rendah. Sedangkan di kawasan non reklamasi sangat rendah. Kadar K 2 O pada kawasan reklamasi dan non reklamasi sangat tinggi. Kadar P 2 O 5 dan K 2 O sebelum penambangan di PT. Tanito Harum tergolong sangat rendah, dan K 2 O tidak terdeteksi. Kondisi saat ini juga fluktuatif pada kawasan reklamasi kadar P 2 O 5 rendah sedangkan K 2 O sangat tinggi. Pada kawasan non reklamasi kadar P 2 O 5 sangat rendah, sedangkan kadar K 2 O sedang sampai tinggi. Kejenuhan Basa dan Kejenuhan Aluminum sebelum penambangan di PT. Kitadin sangat baik (sangat tinggi) dan Kejenuhan Aluminum sangat rendah di semua lokasi. Kondisi saat ini Kejenuhan Basa pada kawasan reklamasi dan non reklamasi tinggi sampai sangat tinggi, yang membedakan (terjadi penurunan kualitas) adalah dari Kejenuhan Aluminum pada kawasan reklamasi dan non reklamasi ada yang tergolong sedang bahkan tinggi (agak buruk). Kejenuhan Basa sebelum penambangan di PT. Tanito Harum juga sangat baik (sangat tinggi). Kejenuhan Aluminum tidak ada data. Kondisi saat ini, Kejenuhan Basa pada kawasan reklamasi tinggi sampai sangat tinggi. Kawasan reklamasi mampu mempertahankan persentase Kejenuhan Basa namun tidak 100% seperti kondisi sebelum penambangan. Pada kawasan non reklamasi persentase Kejenuhan Basa rendah sampai sangat rendah. Kejenuhan Aluminum pada kawasan reklamasi dan non reklamasi sangat tinggi (buruk). Sebelum penambangan, tanah mempunyai Kejenuhan Basa yang tinggi, dimana tanah dengan kejenuhan basa tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut belum banyak mengalami pencucian dan merupakan tanah subur, dan Kejenuhan Al sangat rendah. Sesudah penambangan, Kejenuhan Basa tinggi namun diikuti dengan Kejenuhan Al juga tinggi. Pada kawasan non reklamasi Kejenuhan Basa rendah sementara Kejenuhan Al tinggi Kondisi air pasca tambang batubara Pertumbuhan tanaman tidak hanya dipengaruhi oleh tersedianya unsur hara, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yaitu sinar matahari, suhu, udara dan air. Kondisi kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu
26 136 pertumbuhan tanaman. Air terdapat di dalam tanah karena ditahan/diserap oleh masa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air atau karena keadaan drainase yang kurang baik. Kegunaan air bagi pertumbuhan tanaman adalah: (1) sebagai unsur yang diperlukan tanaman (tanaman memerlukan air dan tanah dan CO 2 dari udara untuk membentuk gula dan karbohidrat dalam proses photosynthesis), (2) sebagai pelarut unsur hara, dan (3) sebagai bagian dari sel-sel tanaman. Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah. Tanah-tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada tanah bertekstur halus. Tanaman yang ditanam pada tanah pasir umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau liat. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2001 Tentang kriteria umum baku kerusakan lingkungan hidup nasional yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan menjelaskan bahwa ada beberapa parameter yang bisa mengindikasikan kerusakan yang terjadi, termasuk didalamnya kadar air tersedia yaitu: (1) terjadi penurunan kadar air, (2) kapasitas tanah menahan air berkurang, dan (3) tanaman kekurangan air. Pengukuran air dalam penelitian ini hanya mengukur parameter fisik dan kimia organik air, dengan membandingkan kualitas air di kawasan reklamasi dengan kualitas air di kawasan non reklamasi pada areal berumur sekitar 1 tahun, 5 tahun, dan 10 tahun untuk tiap kawasan yang ada air. Rona lingkungan hidup awal untuk sifat fisik dan kimia anorganik air dalam studi Analisis Dampak Lingkungan Kegiatan Pertambangan Batubara di Wilayah Perluasan KP Eksploitasi KW.96P00174/KALTIM, Kabupaten Kutai Kartanegara, oleh PT. Kitadin, dianalisis 14 contoh air dari Sungai Mahakam (Separi, Loa Manik, Embalut, dan Angkuang), tiga sumur gali, dan satu saluran air limbah dari outlet unit pengolahan/pencucian batubara di daerah pelabuhan Desa Embalut. Keterangan hasil analisis contoh air yang diuraikan berikut adalah dari Sungai Mahakam karena terdapat beberapa sifat kimia yang sama dengan kondisi kualitas air saat ini sehingga bisa dibandingkan. Temperatur air yang mengalir seperti air sungai, akan cepat berubah tetapi kisaran perubahannya relatif kecil dibandingkan dengan air yang menggenang. Temperatur air di Sungai Mahakam masih dalam batas normal untuk temperatur alami air, yaitu berkisar 26,0 27,5 0 C. Hal ini menunjukkan
27 137 bahwa kisaran temperatur air di Sungai Mahakam masih layak untuk keperluan rumah tangga, golongan B (Keputusan Gubernur Provinsi Kalimantan Timur Nomor 339 Tahun 1988). Muatan padatan tersuspensi merupakan bahan pencemar yang umum didapatkan di perairan-perairan alami. Bahkan pada perairan yang relatif bersih belum tercemar, juga didapatkan muatan padatan tersuspensi. Rona lingkungan hidup awal nilai muatan padatan tersuspensi di Sungai Mahakam berkisar antara 2 10 mg/l, namun masih layak untuk keperluan rumah tangga (Golongan B). Nilai residu terlarut, muatan padatan tersuspensi dan tingkat kekeruhan air merupakan sifat fisik air yang saling berkaitan. Nilai residu terlarut di Sungai Mahakam berkisar antara mg/l. Derajat keasaman (ph) air, penting untuk menilai guna perairan untuk kehidupan biota perairan. Nilai ph air di Sungai Mahakam masih bersifat netral berkisar antara 6,6 7,3 masih layak untuk keperluan rumah tangga yaitu antara 5 9 (Golongan B). Kandungan karbon dioksida bebas akan mempengaruhi nilai daya guna perairan bagi kehidupan biota perairan. Kandungan karbon dioksida bebas di Sungai Mahakam berkisar antara 6,78 10,28 mg/l, masih mendukung kehidupan biota perairan secara nyata. Alkalinitas total dapat merupakan suatu pengukur kesuburan perairan. Nilai alkalinitas total di perairan Sungai Mahakam berkisar antara 35,28 56,72 mg/l setara CaCO 3 artinya diduga produktivitas perairannya sedang. Kandungan oksigen terlarut dalam air dipengaruhi oleh sifat fisik, kimia, dan biologi perairan tersebut. Kandungan oksigen terlarut air di Sungai Mahakam berkisar antara 6,36 7,28 mg/l, masih layak untuk keperluan rumah tangga karena lebih dari 6 mg/l. Nitrat merupakan senyawa penting sebagai penyedia nitrogen dalam pembentukan protein. Kandungan Nitrat di Sungai Mahakam berkisar antara 0,284 3,207 mg/l, masih layak untuk keperluan rumah tangga karena kurang dari 10 mg/l. Nitrit merupakan senyawa yang kurang stabil yang tergantung pada kandungan oksigen terlarut dalam air. Kandungan Nitrit di Sungai Mahakam berkisar antara 0,010 0,195 mg/l, masih layak untuk keperluan rumah tangga karena kurang dari 1 mg/l. Kandungan amonia bebas di Sungai Mahakam berkisar antara 0,024 0,208 mg/l, masih layak untuk keperluan rumah tangga karena kurang dari 0,5 mg/l. Kandungan ortofosfat dalam perairan dapat menggambarkan potensi kesuburan perairan. Kandungan ortofosfat di Sungai Mahakam berkisar
28 138 antara 0,042 0,187 mg/l, tingkat kesuburan perairannya cukup. Nilai sulfat di Sungai Mahakam berkisar antara 5,121 9,702 mg/l, masih layak untuk keperluan rumah tangga. Nilai sulfida di perairan Sungai Mahakam berkisar antara 0,012 0,038 mg/l, telah melampaui nilai ambang batas untuk keperluan rumah tangga karena harus nihil. Nilai BOD 5 di perairan Sungai Mahakam berkisar antara 11,93 24,07 mg/l. Hal ini menunjukkan bahwa bahan organik yang mudah terurai di perairan tersebut, konsentrasinya termasuk tinggi. Nilai COD di perairan Sungai Mahakam berkisar antara 21,80 54,98 mg/l, mencerminkan senyawa anorganik yang dapat dioksidasi secara kimiawi juga tinggi. Berdasarkan nilai BOD dan COD, perairan Sungai Mahakam telah melampaui nilai ambang batas standar baku mutu air karena lebih dari 6 mg/l (BOD 5 ) dan COD lebih dari 10 mg/l COD (Dokumen ANDAL PT. Kitadin, 2000). Kondisi saat ini, padatan tersuspensi atau residu tersuspensi pada PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 46 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk) ), di areal berumur sekitar 5 tahun 239 mg/l tergolong kategori C (Buruk), dan di areal berumur sekitar 10 tahun 57 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk). Kualitas seperti ini masih layak untuk keperluan rumah tangga, kecuali kategori C perlu diwaspadai. Padatan tersuspensi pada kawasan non reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 32 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk) di areal berumur sekitar 5 tahun 114 mg/l tergolong kategori B (Agak Buruk), dan di areal berumur sekitar 10 tahun 1752 mg/l tergolong kategori D (Sangat buruk), kualitas limbah. ph air pada PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 7,28 tergolong kategori B, di areal berumur sekitar 5 tahun ph 7,53 tergolong kategori B, di areal berumur sekitar 10 tahun ph 7,01 tergolong kategori B. Pada kawasan non reklamasi ph di areal berumur sekitar 1 tahun 3,24 tergolong kategori D, di areal sekitar 5 tahun ph 5,69 tergolong kategori B, dan di areal sekitar 10 tahun ph 6,49 tergolong kategori B. BOD pada PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 2,10 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), di areal berumur sekitar 5 tahun 1,81 mg/l tergolong kategori A (Baik), dan di areal berumur sekitar 10
29 139 tahun 1,81 mg/l tergolong kategori A (Baik). BOD pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 3,54 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), di areal sekitar 5 tahun 4,55 mg/l tergolong kategori B ( Agak buruk), dan di areal sekitar 10 tahun 3,54 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk). Kualitas BOD masih dalam batas kisaran untuk digunakan air keperluan rumah tangga. COD pada PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 17,47 mg/l tergolong kategori C (Buruk), di areal berumur sekitar 5 tahun 15,06 mg/l tergolong kategori C (Buruk), dan di areal berumur sekitar 10 tahun juga 15,06 mg/l tergolong kategori C (Buruk). Kualitas COD kawasan reklamasi sudah melebihi >10, tergolong melebihi nilai ambang batas kisaran untuk digunakan sebagai air keperluan rumah tangga. COD pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 29,51 mg/l tergolong kategori D (Sangat buruk), di areal sekitar 5 tahun 37,94 mg/l tergolong kategori D (Sangat buruk), dan di areal sekitar 10 tahun 29,51 mg/l tergolong kategori D (Sangat buruk). Kualitas COD di kawasan reklamasi masih lebih baik dibandingkan dengan di kawasan non reklamasi. DO pada PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 2,70 mg/l tergolong kategori C (Buruk), di areal berumur sekitar 5 tahun 2,70 mg/l tergolong kategori C (Buruk), dan di areal berumur sekitar 10 tahun 1,65 mg/l tergolong kategori D (Sangat buruk). DO pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 3,00 mg/l tergolong kategori C (Buruk), di areal sekitar 5 tahun 1,92 mg/l tergolong kategori D (Sangat buruk), dan di areal sekitar 10 tahun 3,84 mg/l tergolong kategori C (Buruk). Fosfat pada PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 0,17 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), di areal berumur sekitar 5 tahun 0,21 mg/l tergolong kategori B (Agak Buruk), dan di areal berumur sekitar 10 tahun 0,32 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk). Fosfat pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 0,14 mg/l tergolong kategori A (Baik), di areal sekitar 5 tahun 0,28 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), dan di areal sekitar 10 tahun 0,20 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk). Nitrit pada PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 0,04 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), di areal berumur sekitar 5 tahun 0,01 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), dan di areal berumur sekitar
30 tahun 0,01 mg/l tergolong kategori B (Agak Buruk). Nitrit pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 0,01 mg/l tergolong kategori B (Agak Buruk), di areal sekitar 5 tahun 0,06 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), dan di areal sekitar 10 tahun 0,02 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk). Nitrat pada PT. Kitadin kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 2,96 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), di areal berumur sekitar 5 tahun 6,06 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), dan di areal berumur sekitar 10 tahun 10,86 mg/l tergolong kategori C (Buruk). Nitrat pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 1,90 mg/l tergolong kategori B (Agak Buruk), di areal sekitar 5 tahun 19,19 mg/l tergolong kategori C (Buruk), dan di areal sekitar 10 tahun 10,82 mg/l tergolong kategori C (Buruk). Rona lingkungan hidup awal untuk sifat fisik dan kimia anorganik air pada PT. Tanito Harum pelabuhan Sebulu dengan pengambilan sampel di dua lokasi di aliran sungai Mahakam dan anak sungai Mahakam diuji silang dengan yang digunakan PT. Kitadin karena di dokumen ANDAL tidak disebutkan. Berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi Kalimantan Timur No. 339 Tahun 1988, untuk zat padat tersuspensi berada dalam kisaran 80,8 139,2 mg/l tergolong masih baik untuk keperluan rumah tangga. Derajat kemasaman (ph) 6 masih tergolong kategori B layak untuk keperluan rumah tangga. Fosfat (PO 4 ) tidak terdeteksi. Nitrat (NO 3 -N) dalam mg/l berada dalam kisaran 1,6 1,7 mg/l tergolong masih layak untuk keperluan rumah tangga karena nilainya kurang dari 10 mg/l. Nitrit (NO 2 -N) tidak terdeteksi. Oksigen terlarut (DO) dalam mg/l berada dalam kisaran 1,86 tergolong buruk karena nilainya kurang dari 6 mg/l. BOD dalam mg/l berada dalam kisaran 2,0 mengindikasikan bahan organik yang mudah terurai diperairan tersebut konsentrasinya termasuk rendah belum melebihi 6 mg/l. COD dalam mg/l berada dalam kisaran 15,6 17,6 tergolong tinggi melebihi 10 mg/l. Hal ini mencerminkan senyawa anorganik yang dapat dioksidasi secara kimiawi juga tinggi melebihi nilai ambang batas baku mutu air golongan B. Nitrat (NO 3 -N) dalam mg/l berada dalam kisaran 1,6 2,2 tergolong masih layak untuk keperluan rumah tangga karena nilainya kurang dari 10 mg/l. Nitrit (NO 2 -N) dalam mg/l 0,024. Oksigen terlarut (DO) dalam mg/l berada dalam kisaran 1,86 tergolong kurang baik karena nilainya kurang dari 6 mg/l. BOD
31 141 dalam mg/l berada dalam kisaran 1,5-2,0 mengindikasikan bahan organik yang mudah terurai diperairan tersebut konsentrasinya termasuk rendah belum melebihi 6 mg/l. COD dalam mg/l berada dalam kisaran 8,8 17,6 tergolong tinggi melebihi 10 mg/l. Hal ini mencerminkan senyawa anorganik yang dapat dioksidasi secara kimiawi juga tinggi melebihi nilai ambang batas baku mutu air golongan B (Dokumen ANDAL PT. Tanito Harum, 1994). Kondisi saat ini, padatan tersuspensi atau residu tersuspensi pada areal PT. Tanito Harum kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun 27 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), dan di areal berumur sekitar 10 tahun 51 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk). Padatan tersuspensi pada kawasan non reklamasi areal berumur sekitar 1 tahun 33 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), di areal berumur sekitar 5 tahun 325 mg/l tergolong kategori C (Buruk) di areal berumur sekitar 10 tahun 45 mg/l tergolong kategori B (Agak Buruk). ph air pada kawasan reklamasi PT. Tanito Harum di areal berumur sekitar 1 tahun 4,57 tergolong kategori C, di areal berumur sekitar 10 tahun ph 3,38 tergolong kategori C. Pada kawasan non reklamasi ph di areal berumur sekitar 1 tahun 3,66 tergolong kategori D, di areal sekitar 5 tahun ph 3,17 tergolong kategori D, dan di areal sekitar 10 tahun ph 3,31 tergolong kategori D. BOD pada kawasan reklamasi PT. Tanito Harum di areal berumur sekitar 1 tahun 2,96 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), dan di areal berumur sekitar 10 tahun 3,69 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk). BOD pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 2,39 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), di areal sekitar 5 tahun 1,81 mg/l tergolong kategori A (Baik), dan di areal sekitar 10 tahun 1,59 mg/l tergolong kategori A (Baik). COD pada kawasan reklamasi PT. Tanito Harum di areal berumur sekitar 1 tahun 24,69 mg/l tergolong kategori D (Sangat buruk), dan di areal berumur sekitar 10 tahun 30,71 mg/l tergolong kategori D (Sangat buruk). COD pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 19,88 mg/l tergolong kategori C (Buruk), di areal sekitar 5 tahun 15,06 mg/l tergolong kategori C (Buruk), dan di areal sekitar 10 tahun 13,25 mg/l tergolong kategori C (Buruk). DO pada kawasan reklamasi PT. Tanito Harum di areal berumur sekitar 1 tahun 2,61 mg/l tergolong kategori C (Buruk), dan di areal berumur sekitar 10
32 142 tahun 2,77 mg/l tergolong kategori C (Buruk). DO pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 2,92 mg/l tergolong kategori C (Buruk), di areal sekitar 5 tahun 2,21 mg/l tergolong kategori C (Buruk), dan di areal sekitar 10 tahun 2,95 mg/l tergolong kategori C (Buruk). Fosfat pada kawasan reklamasi PT. Tanito Harum di areal berumur sekitar 1 tahun 0,15 mg/l tergolong kategori A (Baik), dan di areal berumur sekitar 10 tahun 0,17 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk). Fosfat pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 0,18 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), di areal sekitar 5 tahun 0,12 mg/l tergolong kategori A (Baik), dan di areal sekitar 10 tahun 0,15 mg/l tergolong kategori A (Baik). Nitrit pada kawasan reklamasi PT. Tanito Harum di areal berumur sekitar 1 tahun 0,02 tergolong kategori B (Agak buruk), dan di areal berumur sekitar 10 tahun 0,01 tergolong kategori B (Agak buruk). Nitrit pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 0,01 tergolong kategori B (Agak buruk), di areal sekitar 5 tahun 0,01 tergolong kategori B (Agak buruk), dan di areal sekitar 10 tahun 0,01 tergolong kategori B (Agak Buruk). Nitrat pada kawasan reklamasi PT. Tanito Harum di areal berumur sekitar 1 tahun 1,95 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), dan di areal berumur sekitar 10 tahun 1,81 mg/l tergolong kategori B (Agak Buruk). Nitrat pada kawasan non reklamasi di areal sekitar 1 tahun 2,41 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), di areal sekitar 5 tahun 2,01 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk), dan di areal sekitar 10 tahun 2,34 mg/l tergolong kategori B (Agak buruk). Secara umum terjadi perubahan sifat fisik dan sifat kimia anorganik air sebelum penambangan batubara dengan pasca tambang batubara. Hal ini dapat dilihat dari membandingkan sifat fisik dan sifat kimia air sebelum penambangan dengan sesudah penambangan. Data rona lingkungan hidup awal menunjukkan bahwa sebelum penambangan sifat fisik dan sifat kimia air kualitasnya lebih baik Kondisi awal padatan tersuspensi pada PT. Kitadin, nilai muatan padatan di Sungai Mahakam masih layak untuk keperluan rumah tangga (golongan B). Nilai residu terlarut di Sungai Mahakam berkisar antara mg/l (golongan B). Kondisi saat ini, padatan tersuspensi atau residu tersuspensi pada PT. Kitadin kawasan reklamasi sudah ada yang golongan C (buruk), bahkan di kawasan non
33 143 reklamasi sudah ada yang termasuk golongan D (sangat buruk). Rona lingkungan hidup awal untuk fisik dan kimia anorganik air pada PT. Tanito Harum Pelabuhan Sebulu untuk zat padat tersuspensi termasuk golongan B masih baik untuk keperluan rumah tangga. Kondisi saat ini, padatan tersuspensi atau residu tersuspensi pada areal PT. Tanito Harum kawasan reklamasi dan non reklamasi sudah ada yang termasuk golongan C. ph air di PT. Kitadin (Sungai Mahakam) masih bersifat netral berkisar antara 6,6 7,3 masih layak untuk keperluan rumah tangga yaitu antara 5 9 (golongan B). Kondisi saat ini, ph air pada PT. Kitadin kawasan reklamasi golongan B, dan pada kawasan non reklamasi sudah ada yang termasuk golongan D. ph air di PT. Tanito Harum (Pelabuhan Sebulu) sebelum penambangan termasuk golongan B, kondisi saat ini ph air pada kawasan reklamasi termasuk golongan C sedangkan kawasan non reklamasi termasuk golongan D. Nilai BOD 5 di perairan Sungai Mahakam termasuk golongan C, kualitas. Kondisi saat ini, BOD PT. Kitadin kawasan reklamasi dan non reklamasi di semua areal termasuk golongan B. Kondisi awal kandungan BOD di PT. Tanito Harum (Pelabuhan Sebulu) termasuk golonngan C. Kondisi saat ini, BOD pada kawasan reklamasi dan non reklamasi umumnya termasuk golongan B Nilai COD di PT. Kitadin (Sungai Mahakam) termasuk golongan C, mencerminkan senyawa anorganik yang dapat dioksidasi secara kimiawi juga tinggi. Kondisi saat ini, COD pada PT. Kitadin kawasan reklamasi termasuk golongan C, dan di kawasan non reklamasi termasuk golongan D (Sangat buruk). Kualitas COD di kawasan reklamasi masih lebih baik dibandingkan dengan di kawasan non reklamasi. Kondisi awal COD di PT. Tanito Harum (Pelabuhan Sebulu) termasuk golongan B, kondisi saat ini pada kawasan reklamasi dan non reklamasi termasuk golongan C bahkan D. DO di PT. Kitadin (Sungai Mahakam) termasuk golongan B namun masih layak untuk keperluan rumah tangga karena lebih dari 6 mg/l. Kondisi saat ini, DO pada PT. Kitadin kawasan reklamasi dan non reklamasi termasuk golongan C, dan D. Sebelum penambangan, DO di PT. Tanito Harum (Pelabuhan Sebulu) tergolong kurang baik karena nilainya kurang dari 6 mg/, termasuk
34 144 golongan C. Kondisi saat ini DO pada kawasan reklamasi dan non reklamasi di PT. Tanito Harum termasuk golongan C. Kandungan Fosfat di PT. Kitadin (Sungai Mahakam) termasuk golongan B tingkat kesuburan perairannya cukup. Kondisi saat ini, Fosfat pada PT. Kitadin kawasan reklamasi dan non reklamasi di semua areal umumnya termasuk golongan B. Fosfat (PO 4 ) tidak terdeteksi sebelum penambangan di PT. Tanito Harum (Pelabuhan Sebulu). Kondisi saat ini, Fosfat pada kawasan reklamasi dan non reklamasi umumnya termasuk golongan A, meskipun masih ada yang termasuk golongan B. Kandungan Nitrit di PT. Kitadin (Sungai Mahakam) masih layak untuk keperluan rumah tangga (golongan B). Kondisi saat ini, kandungan Nitrit pada PT. Kitadin kawasan reklamasi dan non reklamasi di semua areal termasuk golongan B. Kondisi awal di PT. Tanito Harum (Pelabuhan Sebulu) kandungan Nitrit (NO 2 -N) tidak terdeteksi. Kondisi saat ini, kandungan Nitrit pada kawasan reklamasi dan non reklamasi umumnya termasuk golongan B. Kandungan Nitrat sebelum penambangan di PT. Kitadin (Sungai Mahakam) termasuk Golongan B. Kondisi saat ini, di PT. Kitadin kawasan reklamasi dan non reklamasi beberapa areal termasuk golongan C. Kondisi awal kandungan Nitrat (NO 3 -N) di PT. Tanito Harum (Pelabuhan Sebulu) termasuk golongan B, masih layak untuk keperluan rumah tangga karena nilainya kurang dari 10 mg/l. Kondisi saat ini di PT. Tanito Harum (Pelabuhan Sebulu) Nitrat pada kawasan reklamasi dan non reklamasi termasuk golongan B. Hasil analisis air pada kawasan pasca tambang batubara di areal berumur sekitar 1 tahun, sekitar 5 tahun dan sekitar 10 tahun untuk parameter fisika dan kimia anorganik diuji silang dengan standar baku mutu berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tanggal 14 Desember 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air dan SK Gubernur KDH Tingkat I Kalimantan Timur Nomor 339 Tahun 1988, seperti terlihat pada Lampiran 8. Penggolongan kualitas air kemudian dibagi atas empat kategori penilaian yaitu: A (Baik), B (Agak buruk), C (Buruk), dan D (Sangat buruk).
35 145 Tabel 35. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Sifat Fisik dan Kimia Air di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum PT. KITADIN Rona LH Awal Reklamasi Parameter Fisik Kimia Padatan Tersuspensi (mg/l) DHL ph BOD (mg/l) COD (mg/l) DO (mg/l) µmhos/cm 6,6 7,3 11,93 24,07 21,80 54,98 6,52-7,28 Fosfat (PO 4 ) (mg/l) Nitrit (NO 2 - N) (mg/l) 0,026-0,187 0,010 0,195 Nitrat (NO 3 -N) (mg/l) Sekitar 1 th Sekitar 5 th Sekitar 10 th Non Reklamasi Sekitar 1 th Sekitar 5 th Sekitar 10 th PT. TANITO HARUM Rona LH Awal 68,8-80,8 tidak ada data 6 1,5-2,0 8,8-17,6 1,86 ttd 0,024 1,6 1,7 Reklamasi Sekitar 1 th Sekitar 10 th Non Reklamasi Sekitar 1 th Sekitar 5 th Sekitar 10 th ,284 3,
36 146 Tabel 36. Kategori Kelas Sifat Fisik dan Kimia Anorganik Air Kimia Fisik ph BOD (mg/l) COD (mg/l) DO (mg/l) Fosfat (mg/l) Nitrit Nitrat PT.KITADIN Reklamasi Sekitar 1 tahun B (Agak buruk) B (Agak buruk) B (Agak Buruk) C (Buruk) C (Buruk) B (Agak buruk) B (Agak buruk) B (Agak B (Agak Sekitar 5 tahun C (Buruk) B (Agak buruk) A (Baik) C (Buruk) C (Buruk) Buruk) buruk) Sekitar 10 D (Sangat B (Agak B (Agak tahun B (Agak buruk) B (Agak buruk) A (Baik C (Buruk) buruk) Buruk) buruk) Non Reklamasi D (Sangat B (Agak Sekitar 1 tahun B (Agak buruk ) buruk) buruk) D (Sangat buruk) C (Buruk) A (Baik) A (Baik) B (Agak D (Sangat B (Agak B (Agak Sekitar 5 tahun C (Buruk) B (Agak buruk) buruk) D (Sangat buruk) buruk) buruk) buruk) Sekitar 10 D (Sangat B (Agak D (Sangat tahun buruk) B (Agak buruk) buruk) buruk) C (Buruk) B (Agak buruk) B (Agak buruk) C (Buruk) B (Agak buruk) C (Buruk) B (Agak buruk) A (Baik) C (Buruk) PT. TANITO HARUM Reklamasi Sekitar 1 tahun B (Agak buruk) C (Buruk) Sekitar 10 tahun B (Agak buruk) C (Buruk) Non Reklamasi Sekitar 1 tahun B (Agak buruk) C (Buruk) B (Agak buruk) D (Sangat buruk) C (Buruk) B (Agak buruk) D (Sangat buruk) C (Buruk) B (Agak buruk) C (Buruk) C (Buruk) Sekitar 5 tahun C (Buruk) C (Buruk) A (Baik) C (Buruk) C (Buruk) Sekitar 10 tahun B (Agak buruk) C (Buruk) A (Baik) C (Buruk) C (Buruk) B (Agak buruk) B (Agak buruk) B (Agak buruk) B (Agak buruk) B (Agak buruk) B (Agak buruk) B (Agak buruk) B (Agak buruk) B (Agak buruk) B (Agak buruk) B (Agak buruk) B (Agak buruk) B (Agak buruk) B (Agak buruk) B (Agak buruk) 146
37 Kondisi Vegetasi Pasca Tambang Batubara Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk mengetahui suatu kelompok hutan yang luas dan belum diketahui keadaan sebelumnya, metode yang paling baik untuk digunakan adalah cara jalur petak. Cara ini adalah modifikasi dari petak ganda dan cara jalur. Perubahan vegetasi yang disebabkan karena perbedaan keadaan tanah dapat dilihat di sepanjang rintis dimana terdapat petak-petak pada jarak tertentu yang sama. Rona lingkungan hidup awal untuk kondisi vegetasi secara makro didaerah studi dipilih lokasi 5 dan lokasi 6 karena berada di wilayah penambangan. Lokasi 5 yang direncanakan untuk kegiatan penambangan batubara merupakan kebun campuran dan semak-belukar yang terletak lahan perbukitan serta pesawahan yang berada pada lahan datar di kaki bukit. Posisi ekologis pada kebun campuran untuk tingkat pohon terdiri dari 10 jenis tanaman. Berdasarkan kepadatan dan frekuensinya didominasi oleh jenis tanaman pisang (Musa sp.) dengan Indeks Nilai Penting (INP)= 129,41% dan tanaman kopi (Cofee sp.), karet (Hevea sp.) dan rambutan (Nephelium sp.). Jenis tanaman lainnya yang terdapat di kebun pisang campuran adalah singkong (Manihot esculenta). Vegetasi semak belukar di daerah pebukitan sebagian terbesar berupa padang alang-alang (Imperata cylindrica). Jenis tumbuhan tingkat pohon pada vegetasi semak belukar sebagian besar (40%) didominasi oleh jenis tutup (Homalanthus sp.) dan jomok (Artocarpus elasticus). Pepohonan lainnya yang mengisi semak belukar dengan INP berkisar 10 20% adalah teureup/bedo (Artocarpus sp.), terap (Nauclea orientalis), leban (Vitex sp.) dan benuang (Neonuclea gigantea Merr.) Lokasi pengamatan 6 terletak di bagian Selatan wilayah perluasan pertambangan batubara PT. Kitadin. Lingkungan vegetasi daerah ini terdiri dari kebun campuran, semak alang-alang (Imperata cylindrica), dan pesawahan. Vegetasi kebun campuran yang berada di lahan berbukit terdiri dari 6 jenis tanaman buah-buahan produktif seperti pisang (Musa sp.), duren (Durio zibetinus), kopi (cofee sp.), kelapa (Cocos esculenta), petai (Parkia sp.), nangkaan (Artocarpus dadah Miq.), sukun (Artocarpus sp.) dan 2 jenis tanaman yang bukan penghasil buah, penghasil kayu sengon (Paraserianthes falcataria), jomok/benda
38 148 (Artocarpus elasticus Reinw.), dan randu (Ceiba sp.), dan rinding/saga (Adenanthera sp.). Tumbuhan perdu vegetasi semak belukar di lahan terbuka dan yang hidup bercampur dengan tanaman gamal (Glerisidie sp.) pada tepi teras lahan kebun sebanyak 6 jenis, yaitu bolok (Ficus lepicarpa BI.), leban (Vitex pinnnata Linn.), kokang (Milletia sp.), tutup (Homalanthus sp.), kopi hutan (Fragraea racemosa Jack.) dan mahang (Clerodendron squamatum Vahl.). Tumbuhan bawah kebun terutama adalah alang-alang (Imperata cylindrica), wedusan (Lantana camara Linn.), senduru (Melastoma malabactrium), nusaenda liar (Mussaenda frondosa Linn.) dan kirinyu (Eupatorium sp.) (Dokumen ANDAL PT. Kitadin, 2000). Rona lingkungan hidup awal dominansi relatif dari keragaan vegetasi di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum, dan kondisi saat ini pada kawasan reklamasi dan non reklamasi pasca tambang batubara di areal berumur sekitar 1 tahun, sekitar 5 tahun, dan sekitar 10 tahun dapat dilihat pada Tabel 37 dan Tabel 38. Kondisi saat ini, di areal PT. Kitadin pasca tambang batubara yang melakukan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun ditanam pohon waru (Cassia seamea), dan johar (Hibiscus similis). Pada areal berumur sekitar 5 tahun ada pohon sengon (Paraserienthes falcataria) dan pada areal berumur sekitar 10 tahun ada pohon jati putih (Gmelina arborea). Pada kawasan non reklamasi tidak ada pohon yang mendominasi, dan semua hanya ditumbuhi rumput semak belukar tipis yang didominasi alang-alang (Imperata cylindrica). Kondisi awal vegetasi di PT. Kitadin terdiri dari kebun campuran, semak alang-alang (Imperata cylindrica), dan pesawahan. Vegetasi kebun campuran terdiri dari enam jenis tanaman buah-buahan produktif dan dua jenis tanaman yang bukan penghasil buah yaitu penghasil kayu. Tumbuhan perdu vegetasi semak belukar di lahan terbuka dan yang hidup bercampur dengan tanaman gamal pada tepi teras lahan kebun sebanyak enam jenis. Tumbuhan bawah kebun terutama adalah alang-alang (Imperata cylindrica), wedusan (Lantana camara Linn.), senduru (Melastoma malabactrium), nusaenda liar (Mussaenda frondosa Linn.) dan kirinyu (Eupatorium sp.)
39 129 Tabel 37. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Keragaan Vegetasi di Areal PT. Kitadin Rona Lingkungan Hidup Awal PT.KITADIN Nama tumbuhan Keterangan Penutup an lahan (%) Kelas Kebun campuran, semak alang-alang (Imperata cylindrica), dan pesawahan. Kebun campuran : pisang (Musa sp.), duren (Durio zibetinus), kopi (cofee sp.), kelapa (Cocos esculenta), petai (Parkia sp.), nangkaan (Artocarpus dadah Miq.), sukun (Artocarpus sp.), kayu sengon (Paraserianthes falcataria), jomok/benda (Artocarpus elasticus Reinw.), dan randu (Ceiba sp.), dan rinding/saga (Adenanthera sp.). Vegetasi semak belukar bercampur tanaman gamal (Glerisidie sp.) : bolok (Ficus lepicarpa BI.), leban (Vitex pinnnata Linn.), kokang (Milletia sp.), tutup (Homalanthus sp.), kopi hutan (Fragraea racemosa Jack.) dan mahang (Clerodendron squamatum Vahl.). Tumbuhan bawah kebun terutama adalah alang-alang (Imperata cylindrica), wedusan (Lantana camara Linn.), senduru (Melastoma malabactrium), nusaenda liar (Mussaenda frondosa Linn.) dan kirinyu (Eupatorium sp.) Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun Non Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT. Kitadin (2000). Cassia seamea, Hibiscus similis Paraserianthes falcataria Gmelina arborea Rumput, semak lahan kering Rumput, semak lahan kering Rumput, semak lahan kering Tingkat semai ada, pancang, dan tiang jarang. Pohon sengaja ditanam Tingkat semai ada, pancang ada, dan tiang jarang. Pohon sengaja ditanam Tingkat semai, pancang, dan tiang ada. Pohon sengaja ditanam Tingkat semai ada, pancang dan tiang jarang, pohon tidak ada Tingkat semai ada, pancang ada, tiang dan pohon tidak ada Tingkat semai ada, pancang dan tiang ada, pohon tidak ada 0 25 Rendah >25 50 Sedang >50 Tinggi 0 25 Rendah 0 25 Rendah 0 25 Rendah 149
40 130 Tabel 38. Rona Lingkungan Hidup Awal dan Kondisi Saat Ini Keragaan Vegetasi di Areal PT. Tanito Harum Rona Lingkungan Hidup Awal PT. TANITO HARUM Didominasi oleh asosiasi alang-alang (Imperata cylindrica), harendong, sirihsirihan dan semak belukar. Terdapat kayu ulin (Eusideraxylon zuageri), tanaman padi kering dan kebun karet. Vegetasi tingkat tiang, pancang (belta), dan pohon jarang sekali Reklamasi Sekitar 1 tahun Sekitar 5 tahun Sekitar 10 tahun Non Reklamasi Sekitar 1 tahun Nama Tumbuhan Acasia mangium Acasia mangium Paraserienthes falcataria Rumput, semak lahan kering Sekitar 5 tahun Rumput, semak lahan kering Sekitar 10 tahun Rumput, semak lahan kering Sumber: Hasil Analisis (2009), Dokumen ANDAL PT.Tanito Harum (1994). Keterangan Tingkat semai ada, pancang, dan tiang jarang. Pohon sengaja ditanam Tingkat semai ada, pancang ada, dan tiang jarang. Pohon sengaja ditanam Tingkat semai, pancang, dan tiang ada. Pohon sengaja ditanam Tingkat semai ada, pancang dan tiang jarang, pohon tidak ada Tingkat semai ada, pancang ada, tiang dan pohon tidak ada Tingkat semai ada, pancang dan tiang ada, pohon tidak ada Penutupan Lahan (%) Kelas 0 25 Rendah >25 50 >25 50 Sedang Sedang 0 25 Rendah 0 25 Rendah 0 25 Rendah 150
41 151 Kondisi saat ini, di areal PT. Kitadin pasca tambang batubara yang melakukan reklamasi hanya ada empat jenis pohon yang tumbuh, ditanam sebagai bagian dari perlakuan reklamasi. Pada kawasan non reklamasi tidak ada pohon yang mendominasi, dan semua hanya ditumbuhi rumput semak belukar tipis yang didominasi alang-alang (Imperata cylindrica). Keragaan vegetasi jauh lebih heterogen dan masih lebih banyak jumlah jenis tanamannya sebelum penambangan dibandingkan dengan setelah penambangan. Penambangan banyak menghilangkan keragaan vegetasi. Rona lingkungan hidup awal untuk kondisi vegetasi di penambangan Sebulu merupakan daerah bekas ladang yang sudah tidak diurus sehingga didominasi oleh asosiasi alang-alang (Imperata cylindrica), harendong, sirihsirihan dan semak belukar. Diantara semak belukar terdapat kayu ulin (Eusideraxylon zuageri) yang batangnya terlihat bekas terbakar dimana kebakaran tersebut terjadi pada tahun 1984 (berdasarkan informasi penduduk). Berdasarkan ciri-ciri tersebut maka faktor pengganggu yang telah mempengaruhi keadaan hutan adalah kegiatan penebangan hutan dan kebakaran hutan. Didaerah penambangan Sebulu juga dijumpai tanaman padi lahan kering dan kebun karet yang diusahakan masyarakat. Vegetasi tingkat tiang, pancang (belta), dan pohon jarang sekali (Dokumen AMDAL PT. Tanito Harum, 1994). Kondisi saat ini, di areal PT. Tanito Harum yang melakukan reklamasi yang berumur sekitar 1 tahun dan di areal berumur sekitar 5 tahun ada pohon Akasia( Acasia mangium), dan umur sekitar 10 tahun ada pohon sengon (Paraserienthes falcataria). Di kawasan yang tidak melakukan reklamasi kemampuan tumbuh tanaman menurun di areal berumur sekitar 1 tahun, sekitar 5 tahun, dan sekitar 10 tahun. Tumbuhan hanya berupa rumput dengan dominasi alang-alang (Imperata cylindrica) hanya tipis, selebihnya lahan terbuka. Kondisi awal vegetasi di penambangan Sebulu didominasi oleh asosiasi alang-alang (Imperata cylindrica), harendong, sirih-sirihan dan semak belukar. Hanya ada kayu ulin (Eusideraxylon zuageri). Masih dijumpai tanaman padi lahan kering dan kebun karet yang diusahakan masyarakat. Vegetasi tingkat tiang, pancang (belta), dan pohon jarang sekali. Kondisi saat ini, di areal PT. Tanito Harum pada kawasan yang melakukan reklamasi hanya ada dua jenis pohon yang
42 152 ditanam sebagai bagian dari reklamasi. Pada kawasan non reklamasi kemampuan tumbuh tanaman menurun, hanya berupa rumput dengan dominasi alang-alang (Imperata cylindrica). Pada kawasan sebelum penambangan di PT. Tanito Harum keragaan vegetasi/jumlah jenis sebelum dan sesudah penambangan hampir sama, namun sebelumnya masih ada tanaman padi lahan kering dan kebun karet yang diusahakan masyarakat sebagai sumber mata pencaharian (mengandalkan pertanian). Sesudah penambangan, masyarakat setempat akan kehilangan penghasilan dari usaha pertanian yang masih produktif. Kondisi awal vegetasi dan kondisi saat ini di PT. Kitadin lebih baik dibandingkan dengan kondisi awal vegetasi dan kondisi saat ini di PT. Tanito Harum. Kondisi awal vegetasi sebelum penambangan di PT. Kitadin terdiri dari 14 jenis pohon, dan tumbuhan bawah kebun terdiri dari lima jenis. Kondisi saat ini, hanya ada empat jenis pohon, dan dua jenis tumbuhan bawah kebun. Kondisi awal vegetasi sebelum penambangan di PT. Tanito Harum terdiri dari satu jenis pohon, dan empat jenis tumbuhan bawah kebun. Kondisi saat ini, ada dua jenis pohon dan dua jenis tumbuhan bawah kebun. Kerapatan vegetasi kawasan reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun di PT. Kitadin hanya berkisar 25 50% menutup lahan sedangkan tingginya vegetasi rumput kategori tingkat semai dan tanaman waru (Cassia seamea) dan johar (Hibiscus similis) lebih tinggi dari dada, kategori tingkat tiang. Kerapatan vegetasi umur kawasan pasca tambang batubara di areal berumur sekitar 5 tahun penutupan lahan mendekati 50% dan vegetasi tergolong kategori tingkat pohon dengan tanaman sengon (Paraserianthes falcataria). Kerapatan vegetasi umur kawasan pasca tambang batubara di areal sekitar 10 tahun penutupan mencapai 50% dan tinggi vegetasi setingkat pohon. Pengaruh vegetasi terhadap erosi adalah vegetasi menghalangi air hujan agar tidak jatuh langsung di permukaan tanah sehingga kekuatan untuk menghancurkan tanah sangat dikurangi. Makin rapat vegetasi makin efektif mencegah erosi. Kerapatan vegetasi pada kawasan non reklamasi pasca tambang batubara di areal sekitar 1 tahun penutupan lahan di PT. Kitadin, hanya berkisar 25% dan tinggi vegetasi setingkat semai juga ada pancang (jaraknya jarang). Kerapatan
43 153 vegetasi di areal berumur sekitar 5 tahun penutupan lahan masih 25% dan tinggi vegetasi tergolong kategori semai dan pancang. Kerapatan vegetasi di areal sekitar 10 tahun penutupan lahan 25 50% dan tinggi vegetasi masih setingkat pancang. Hasil pengamatan vegetasi dan intepretasi data melalui gambar di PT. Kitadin dapat dilihat pada Lampiran 4. Kerapatan vegetasi kawasan reklamasi pasca tambang batubara di areal berumur sekitar 1 tahun di PT. Tanito Harum, hanya berkisar 25% menutup lahan dan tingginya vegetasi rumput kategori tingkat semai dan tanaman akasia (Acasia mangium) lebih tinggi dari dada, tergolong kategori tingkat tiang. Kerapatan vegetasi di areal berumur sekitar 5 tahun penutupan lahan mendekati 25% dan tinggi vegetasi kategori tingkat pohon dengan tanaman sengon (Paraserianthes falcataria) dan akasia (Acasia mangium). Kerapatan vegetasi di areal berumur sekitar 10 tahun penutupan lahan mencapai 25-50% dan tinggi vegetasi untuk tingkat semai lebih tinggi dari vegetasi di areal berumur sekitar 5 tahun, dan tingkat pohon ditanami sengon (Paraserienthes falcataria). Pohon yang ditanami kebanyakan tergolong tinggi. Kerapatan vegetasi pada kawasan non reklamasi di areal berumur sekitar 1 tahun penutupan lahan di PT. Tanito Harum tidak mencapai 25% dan tinggi vegetasi setingkat semai, ada pancang namun masih sangat jarang. Kerapatan vegetasi di areal berumur sekitar 5 tahun penutupan lahan masih 25% dan tinggi vegetasi kategori semai dan pancang yang berjauhan jaraknya. Kerapatan vegetasi di areal berumur sekitar 10 tahun penutupan lahan masih dikisaran 25% dan tinggi vegetasi masih setingkat semai dan sangat jarang tingkat pancang. Hasil pengamatan vegetasi dan intepretasi data melalui gambar di PT. Tanito Harum dapat dilihat pada Lampiran Kondisi Saat Ini Faktor Fisik Lingkungan meliputi Tanah, Air, dan Vegetasi di Kabupaten Kutai Kartanegara Konservasi tanah adalah usaha-usaha untuk menjaga agar tanah tetap produktif, atau memperbaiki tanah yang rusak karena erosi agar tanah menjadi lebih produktif. Konservasi air adalah usaha-usaha agar air dapat lebih banyak
44 154 disimpan di dalam tanah sehingga dapat digunakan tanaman dan mengurangi banjir dan erosi serta cadangan air tanah pada musim kemarau (Arsyad, 2006). Erosi dapat mengakibatkan struktur tanah hancur dan kemudian dipindahkan ke tempat lain oleh kekuatan air, angin atau gravitasi. Di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum, Kabupaten Kutai Kartanegara erosi disebabkan oleh air dan masuk dalam kategori erosi yang dipercepat oleh intervensi manusia melalui kegiatan pasca tambang batubara yang mengakibatkan keseimbangan alam (equilibrium) terganggu. Erosi yang dipercepat berjalan dengan sangat cepat sehingga jumlah tanah yang tererosi lebih banyak daripada tanah yang terbentuk, dan tanah di permukaan menjadi hilang. Erosi kawasan pasca tambang batubara di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum masuk dalam kategori erosi lembar (sheet erosion) akibat pemindahan tanah yang terjadi lapis demi lapis mulai dari lapisan paling atas dan juga erosi alur (rill erosion) akibat pembukaan kawasan tambang batubara terdapat genangan-genangan kecil, bila genangan tersebut mengalir akan terbentuk aluralur aliran air tersebut. Erosi di lokasi ini sepintas seperti tidak terlihat, karena kehilangan lapisan-lapisan tanah seragam, tetapi menjadi berbahaya karena pada suatu saat seluruh top soil akan habis. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya erosi air yang terpenting adalah: (1) curah hujan, (2) sifat-sifat tanah, (3) lereng, (4) vegetasi dan (5) manusia. Intensitas hujan, jumlah hujan, dan distribusi hujan masing-masing menunjukkan banyaknya curah hujan, menunjukkan banyaknya air hujan selama terjadi hujan dan penyebaran waktu terjadi hujan. Kepekaan tanah terhadap erosi berhubungan dengan: (1) tekstur tanah, (2) bentuk dan kemantapan struktur tanah, (3) permeabilitas tanah, dan (4) kandungan bahan organik. Tanah-tanah dengan tekstur halus seperti liat tidak tahan terhadap erosi karena mudah terdispersi oleh air sehingga mudah terangkut oleh air. Lereng yang semakin panjang menyebabkan volume air yang mengalir semakin besar, erosi akan meningkat apabila lereng semakin curam atau semakin panjang karena kecepatan aliran permukaan meningkat sehingga kekuatan mengangkut meningkat. Hubungan antara lereng dan erosi dapat dinyatakan dengan rumus Qs = tan, m α L n, dimana Qs merupakan erosi per satuan luas, α
45 155 merupakan sudut lereng, L merupakan panjang lereng, m=1,4 dan n=0,6 (Morgan, 1979; Zingg, 1940 dalam Hardjowigeno, 2007). Vegetasi berpengaruh terhadap erosi dalam menghalangi air hujan agar tidak jatuh langsung di permukaan tanah, sehingga kekuatan untuk menghancurkan tanah sangat dikurangi tergantung kerapatan vegetasi dan tingginya vegetasi. Hutan adalah paling efektif dalam mencegah erosi karena daun-daunnya rapat. Rumput-rumput yang tumbuh rapat sama efektifnya. Untuk pencegahan erosi paling sedikit 70% tanah harus tertutup vegetasi. Faktor manusia terhadap erosi dapat mengubah keadaan erosi menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk. Pembuatan teras-teras pada tanah yang berlereng curam merupakan pengaruh baik, sebaliknya penggundulan hutan serta penambangan merupakan pengaruh manusia yang buruk karena dapat menyebabkan erosi dan banjir. Salah satu prinsip dasar dalam konservasi tanah dan air adalah menggunakan tanah sesuai dengan kemampuannya. Metode-metode konservasi tanah pada umumnya dilakukan dengan maksud melindungi tanah dari curahan langsung air hujan, meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah, mengurangi aliran permukaan, dan meningkatkan stabilitas agregat tanah. Usaha konservasi tanah yang perlu dilakukan adalah penggunaan tanah sesuai dengan kemampuannya, tiap kelas penggunaan tanah memerlukan teknik konservasi tanah tertentu. Evaluasi kesesuaian lahan (land suitability) dan kemampuan lahan (land capability) dilakukan dengan cara membandingkan persyaratan penggunaan lahan dengan kualitas kondisi lahan saat ini. Bila semua persyaratan penggunaan lahan dapat dipenuhi oleh kondisi saat ini pasca tambang batubara di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum maka lahan tersebut masuk kelas sesuai untuk penggunaan lahan dimaksud. Sebaliknya, jika ada salah satu kualitas lahan kondisi saat ini tidak sesuai, maka lahan tersebut termasuk dalam kelas tidak sesuai. Klasifikasi kemampuan lahan dalam tingkat kelas menunjukkan keragaman besarnya faktor-faktor penghambat. Tanah dikelompokkan ke dalam kelas I sampai kelas VIII. Tanah kelas I IV merupakan lahan yang sesuai untuk usaha pertanian (dapat digarap) sedangkan kelas V VIII tidak sesuai untuk usaha pertanian (tidak dapat digarap), jika digunakan untuk usaha pertanian diperlukan
46 156 biaya yang sangat tinggi untuk pengelolaannya. Berdasarkan klasifikasi kemampuan lahan areal pasca tambang di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum, Kabupaten Kutai Kartanegara termasuk dalam kemampuan lahan kelas V-VI. Kawasan pasca tambang batubara di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum dapat diketahui kemampuan lahan dan kesesuaian lahannya dari hasil analisis terhadap tanah, air dan pengamatan vegetasi sebagai berikut: (a) Tanah. Sifat fisik tanah, yang diwakili kelas tekstur tanah adalah kelas lempung berdebu. Tekstur tanah kawasan pasca tambang batubara di PT. Kitadin dan PT. Tanito Harum termasuk dalam kelas yang paling peka terhadap erosi dengan tekstur di areal berumur sekitar 1 tahun, sekitar 5 tahun, dan sekitar 10 tahun pada umumnya lempung berdebu. Semakin tinggi kandungan debu dalam tanah, maka tanah makin peka terhadap erosi. Sifatsifat kimia tanah, yang diwakili ph, KTK, Rasio C/N, P 2 O 5 dan K 2 O tersedia, serta kejenuhan basa dan kejenuhan Al dominan mengindikasikan faktor negatif. Menurut Arsyad (2006) erosi menyebabkan hilangnya lapisan tanah yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman serta berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air. Pada akhirnya kerusakan terjadi pada tanah tempat erosi, berupa kemunduran sifat-sifat kimia dan fisika tanah seperti kehilangan unsur hara dan bahan organik, meningkatnya kepadatan dan ketahanan penetrasi tanah, menurunnya kapasitas infiltrasi tanah serta kemampuan tanah menahan air. (b) Air. Kualitas air umumnya tergolong kategori kelas B, C dan D, mengindikasikan kerusakan faktor fisik dan kimia air. Di daerah beriklim basah, erosi air lebih banyak terjadi dibandingkan dengan erosi angin. Erosi yang terjadi di kawasan pasca tambang batubara tergolong erosi yang dipercepat yaitu pengangkutan tanah dengan laju yang lebih cepat dari pembentukan tanah. Erosi terjadi karena lereng-lereng akibat penambangan batubara yang semakin panjang hampir diseluruh kawasan pasca tambang batubara, menyebabkan volume air yang mengalir semakin besar dan erosi semakin besar, sehingga kecepatan aliran permukaan meningkat. Pada akhirnya terjadi kemunduran sifat-sifat kimia dan fisika air di kawasan pasca tambang batubara.
47 157 (c) Vegetasi. Kekuatan untuk menghancurkan tanah akibat erosi tergantung kerapatan vegetasi dan tingginya vegetasi. Kerapatan vegetasi untuk kawasan raklamasi persentase penutupan lahan untuk melindungi tanah dari perusak butir-butir hujan dan aliran permukaan (run off) hanya berada dikisaran 25% - 50% (sementara untuk pencegahan erosi paling sedikit 70% tanah harus tertutup vegetasi) dan tingginya vegetasi kategori tiang sampai pohon. Untuk kawasan non-reklamasi masih ada tumbuh rumput-rumputan jenis semak belukar dengan kerapatan persentase penutupan lahan lebih kecil dari 25% dan tingginya vegetasi kategori semai. Uraian kondisi saat ini faktor fisik lingkungan meliputi tanah, air dan vegetasi, mengindikasikan bahwa tidak semua persyaratan penggunaan lahan dapat dipenuhi, bahkan ketiganya masuk kualitas atau karakteristik lahan yang tidak sesuai, sehingga lahan kawasan pasca tambang batubara di PT. Kitadin (Kecamatan Tenggarong Seberang) dan di PT. Tanito Harum (Kecamatan Sebulu), Kabupaten Kutai Kartanegara termasuk dalam kelas tidak sesuai untuk lahan pertanian. Kemampuan lahan dalam tingkat kelas di kawasan ini adalah berada diantara kelas V dan kelas VI dengan rincian bahwa tanah-tanah di lokasi pasca tambang batubara tidak sesuai untuk digarap bagi tanaman semusim. Jika digarap untuk usahatani tanaman semusim diperlukan biaya yang sangat tinggi. Kawasan pasca tambang batubara lebih sesuai untuk ditanami tanaman makanan ternak secara permanen (misalnya rumput Brachiaria) atau dihutankan (hutan tanaman industri seperti Agathis (Kustiawan dan Sutisna,1993). Perlakuan reklamasi lahan bekas tambang dilakukan sesuai dengan jenis tanaman yang akan ditanam. Pengembangan dengan jenis tanaman yang sesuai dengan agroklimat lokasi setempat dan diterima masyarakat. Pelaksanaan reklamasi yang dilakukan oleh perusahaan belum tepat dalam penerapannya. Kondisi ideal dengan melakukan reklamasi terjadi perbaikan sifat fisik, sifat kimia tanah, dan perbaikan vegetasi (revegetasi). Reklamasi diharapkan dapat mengurangi banjir dan erosi. Kondisi yang terjadi di lapangan tidak mendekati pada kondisi ideal dan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini diduga karena pelaksanaan reklamasi yang telah dilakukan tidak sesuai dengan aturan atau kaidah reklamasi. Ketidaksesuaian tersebut diantaranya diduga karena
48 158 tidak dilakukan pemupukan, tidak ada penambahan bahan organik, tidak diberikan kapur dan tidak dilakukan pendataran lahan. Pada umumnya perusahaan tambang batubara melakukan reklamasi hanya sebatas memperoleh pengembalian dana jaminan reklamasi, sesuai dengan SK Menteri ESDM Nomor 1453 K/29/MEM/2000 yang mewajibkan perusahaan pertambangan batubara harus melakukan penataan (reklamasi) pada lahan bekas tambang dan memberikan adanya jaminan dana reklamasi. Jaminan reklamasi ini harus ditempatkan sebelum melakukan kegiatan penambangan atau operasi produksi dan diajukan kepada Menteri /Gubernur /Bupati /Walikota atau pejabat yang ditunjuk. Pencairan dana jaminan reklamasi dilakukan beberapa tahap yaitu: 60% setelah penataan disposal atau penataan top soil dan 20% setelah melakukan revegetasi serta 20% setelah kegiatan reklamasi dinyatakan selesai oleh Menteri/Gubernur/Bupati/ Walikota. Kebijakan ini memberikan peluang bagi perusahaan tambang batubara untuk melakukan reklamasi tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku Kondisi Penerapan Kebijakan Saat Ini Penerapan kebijakan di Kabupaten Kutai Kartanegara pada saat pembukaan tambang harus mengikuti ketentuan peraturan dan perundangundangan antara lain (1) perusahaan harus mempunyai badan hukum, (2) membuat dokumen AMDAL, (3) memiliki ijin usaha pertambangan, (4) menempatkan dana jaminan reklamasi, dan (5) melakukan program pemberdayaan masyarakat. Kondisi saat ini banyak dokumen perusahaan pemegang kuasa pertambangan dinyatakan telah memenuhi persyaratan sesuai dengan aturan Pemerintah Pusat/Daerah Provinsi/ Kabupaten, dan dinyatakan berimplikasi sesuai. Pada saat operasional pertambangan batubara diwajibkan harus mengikuti dokumen AMDAL. Namun kondisi saat ini dalam menjalankan aktivitasnya umumnya perusahaan tidak mengikuti dokumen AMDAL tersebut. Implikasinya, terjadi kerusakan lingkungan, degradasi kesuburan tanah, pencemaran air, banjir, erosi, dan kerusakan jalan. Ketidaksesuaian tersebut antara
49 159 lain disebabkan oleh masih rendahnya pemahaman aparat daerah di instansi pengendali lingkungan terhadap implementasi dokumen AMDAL. Pengelolaan pemegang kuasa pertambangan pada saat pasca tambang batubara harus melakukan reklamasi sesuai kebijakan, yaitu: (1) pengusaha harus melakukan reklamasi sesuai dengan dokumen dan, (2) dana sesuai dengan jaminan reklamasi yang sudah ditetapkan. Kondisi saat ini banyak perusahaan yang tidak melakukan reklamasi atau melakukan reklamasi secara asalan demi memenuhi aturan pengambilan kembalinya dana jaminan reklamasi yang disimpan di bank tertentu oleh Pemerintah Kabupaten, yaitu sebesar 60% jika sudah melakukan penutupan tanah atas (disposal). Pada umumnya perusahaan yang termasuk kategori pertambangan rakyat hampir dipastikan tidak melakukan reklamasi. Hal ini mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan. Kondisi penerapan kebijakan saat ini dapat dilihat Tabel 39. Pelaksanaan reklamasi yang dilakukan saat ini tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku terutama pada: (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan Pokok Pertambangan, (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) yang diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, (3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, (4) Peraturan Pemerintah RI Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan UU Nomor 11 Tahun 1967, (5) Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1211.K/008/M.PE/ 1995 tentang Pencegahan dan Penangulangan Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan pada Kegiatan Usaha Pertambangan Umum, (6) Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 146/Kpts.II/1994 tentang Pedoman Reklamasi Bekas Tambang dalam Kawasan Hutan, (7) SK Menteri ESDM Nomor 1453 K/29/MEM/2000, (8) Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor 2 Tahun 2001 tentang izin usaha Pertambangan Umum Daerah, (9) Peraturan Menteri ESDM Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Reklamasi dan Penutupan Tambang, dan (10) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
50 Tabel 39. Kondisi Penerapan Kebijakan Saat Ini 139 Pengelolaan Kebijakan Saat ini Implikasi 1) Perusahaan Berbadan Hukum: Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 Bab III, Kondisi persyaratan pembukaan Sesuai Pasal 5 tentang Bentuk dan Organisasi Perusahaan Pertambangan. pertambangan telah sesuai 2) Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup: a. AMDAL, UKL, UPL dan dengan aturan pemerintah. KLHS,b. KepMentamben Nomor 1211.K/008/M.PE/1995 Pasal 13 ayat 1 tentang Kewajiban Penanaman Kembali Daerah Bekas Penambangan, c. Peraturan Menteri ESDM Nomor 18 Tahun 2008 tentang Reklamasi dan Penutupan Tambang, d. UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 3) Izin Usaha Pertambangan/: a. Peraturan Pemerintah RI Nomor 32 Tahun 1969 Bab I Pasal 1 tentang Pertambangan Bahan Galian hanya dapat dilakukan apabila terlebih dahulu telah mendapatkan Kuasa Pertambangan, b. UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. 4) Adanya jaminan dana reklamasi dan Penempatan dana jaminan reklamasi di Bank: a. KepMentamben Nomor 1211.K/008/M.PE/1995 Pasal 29 ayat 1 dan ayat 2 tentang adanya jaminan reklamasi dan penempatan jaminan rekalamsi, juga besarnya jaminan reklamasi, b. SK Menteri ESDM Nomor 1453 K/29/MEM/2000 tentang Pasal 29, c. KepMen Kehutanan Perkebunan Nomor 146/Kpts-II/1999 tentang pedoman reklamasi bekas tambang dalam kawasan hutan. 5) Program Pemberdayaan masyarakat: a. KepMen ESDM Nomor 1453 K/29/MEM/2000 BAB III Pasal 6 dan Pasal 7 tentang Pengembangan wilayah dan pengembangan masyarakat serta kemitrausahaan, b. UU Nomor 32 Tahun 2009 Pasal 42 ayat 1, 2, dan 3. Pembukaan Pertambangan Operasional Pertambangan Pasca Tambang Batubara (Reklamasi) 1) Sesuai dokumen AMDAL, UKL dan UPL Banyaknya perusahaan dalam operasional pertambangan yang tidak sesuai dokumen AMDAL, UKL dan UPL 1) Sesuai dokumen AMDAL, UKL dan UPL 2) Dana sesuai dengan jaminan reklamasi yang sudah ditetapkan Banyak perusahaan yang tidak melakukan reklamasi, atau melakukan reklamasi namun belum sesuai ketentuan. Tidak melakukan reklamasi adalah pertambangan rakyat. Terjadi kerusakan lingkungan, degradasi kemampuan dan kesesuaian lahan, pencemaran air, banjir, erosi, dan kerusakan jalan. Terjadi Kerusakan Lingkungan terutama di wilayah pedalaman. 160
51 Indeks Keberlanjutan Kawasan Pasca Tambang Batubara Analisis keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara menghasilkan nilai indeks keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara (Appraisal Post Coal Mining Sustainable = APCMS). Secara multidimensi diperoleh nilai indeks keberlanjutan sebesar 36,01 pada skala berkelanjutan seperti terlihat pada Gambar APCMS Ordination UP 40 Other Distingishing Features BAD GOOD DOWN -80 Post Coal Mining Sustainability Real Post Coal Mining References Anchors Gambar 17. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensi Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara Sebesar Nilai APCMS yang diperoleh berdasarkan penilaian terhadap 21 atribut yang tercakup dalam tiga dimensi (ekologi, ekonomi dan sosial) termasuk ke dalam kategori kurang berkelanjutan. Hal ini membuktikan kebenaran issu tentang kerusakan lingkungan dan dampak negatif aktifitas kegiatan eksploitasi batubara yang meninggalkan berbagai kerusakan. Kerusakan yang paling nampak secara fisik adalah degradasi lahan dan adanya kolong (kolam).
52 162 Berikut uraian 21 atribut dari dimensi ekologi, dimensi ekonomi dan, dimensi sosial yaitu: 1. Dimensi ekologi : persentase tumbuhan, pergantian (suksesi) pertumbuhan tanaman, banjir, ketersediaan air, erosi, kemampuan lahan, dan tingkat kesuburan tanah. 2. Dimensi ekonomi: sarana perekonomian, status penguasaan lahan, aktivitas perekonomian pasca tambang batubara, sarana dan prasarana transportasi, pendapatan masyarakat pasca tambang batubara, mata pencaharian pasca tambang batubara, dan kontribusi terhadap PDRB relatif terhadap desa di sekitar lokasi. 3. Dimensi sosial : migrasi penduduk, angka beban tanggungan keluarga, persepsi masyarakat terhadap pertambangan, rasio relatif jenis kelamin, epidemi penyakit kulit dan diare, tatanan adat dan kebiasaan masyarakat, serta konflik sosial. Hasil analisis menunjukkan bahwa kegiatan pertambangan batubara yang dilaksanakan di Kabupaten Kutai Kartanegara selama ini kurang memperhatikan aspek-aspek ekologi, ekonomi dan sosial secara terpadu. Untuk mengetahui dimensi pengelolaan yang masih lemah dilakukan analisis MDS pada setiap dimensi. Analisis dilakukan untuk penentuan indeks keberlanjutan dan penentuan atribut yang paling sensitif dalam pengelolaan kawasan pasca tambang batubara. Nilai indeks keberlanjutan untuk setiap dimensi berbeda-beda dan masing-masing memiliki prioritas dimensi apa yang lebih dominan. Perbedaan ini dalam konsep pembangunan berkelanjutan memiliki satu kesamaan prinsip yaitu bagaimana setiap dimensi berada pada kategori baik status keberlanjutannya. Gambar diagram layang-layang (kite diagram) nilai APCSM, Kabupaten Kutai Kartanegara menunjukkan bahwa tiga dimensi yang diteliti termasuk kategori kurang berkelanjutan. Diagram layang-layang nilai indeks keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara dapat dilihat pada Gambar 18.
53 163 Nilai Dimensi Ekologi, Ekonomi dan Sosial Ekologi Sosial Ekonomi Gambar 18. Diagram Layang-Layang (Kite Diagram) Nilai Indeks Keberlanjutan Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara Hasil analisis parameter statistik nilai stress dan koefisien determinasi (R 2 ) menunjukkan bahwa metode MDS telah memiliki kualitas yang baik. Hal ini dapat dilihat dari nilai stress pada hasil multi dimensi dan masing-masing dimensi (ekologi, ekonomi dan sosial) yang memiliki nilai di bawah 25%. Demikian pula nilai koefisien determinasi (R 2 ) yang sudah mendekati 1. Hasil analisis keberlanjutan untuk beberapa parameter statistik dapat dilihat pada Tabel 40. Tabel 40. Hasil Analisis Keberlanjutan untuk Beberapa Parameter Statistik Nilai Statistik Multi Dimensi Ekologi Ekonomi Sosial Stress ,15 0,14 0,14 R ,95 0,94 0,94 Jumlah Iterasi Sumber: Hasil analisis (2009) Hasil analisis Monte Carlo pada penelitian ini tidak terdapat banyak kesalahan dalam mengubah nilai indeks total masing-masing dimensi. Hal ini juga mendukung baiknya kualitas hasil analisis yang telah dilakukan. Hasil analisis Monte Carlo untuk nilai indeks keberlanjutan multidimensi dan masing-masing dimensi secara rinci dapat dilihat pada Tabel 41.
54 164 Tabel 41. Hasil Analisis Monte Carlo untuk Nilai Indeks Keberlanjutan Mutidimensi dan Masing-Masing Dimensi pada Selang Kepercayaan 95% Status Indeks Keberlanjutan Hasil MDS Hasil Monte Carlo Perbedaan Mutidimensi 36,01 36, Dimensi Ekologi 39,40 39,79 0,39 Dimensi Ekonomi 34,96 34, Dimensi Sosial 39,09 39, Sumber: Hasil Analisis (2009) Analisis Monte Carlo sangat membantu dalam analisis APCMS untuk melihat pengaruh kesalahan pembuatan skor pada setiap atribut pada masingmasing dimensi yang disebabkan oleh: (1) kesalahan prosedur atau pemahaman atribut, (2) variasi pemberian skor karena perbedaan opini atau penilaian peneliti berbeda, (3) stabilitas proses analisis MDS, (4) kesalahan memasukkan data atau ada data yang hilang, dan (5) nilai stress yang terlalu tinggi. Analisis Monte Carlo dilakukan beberapa kali pengulangan dan hasilnya mengandung kesalahan yang tidak banyak mengubah nilai indeks total (multi dimensi) maupun nilai indeks masing-masing dimensi. Berdasarkan Tabel 41, dapat dilihat bahwa nilai status indeks keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara pada selang kepercayaan 95% memberikan hasil yang tidak banyak mengalami perbedaan dengan hasil analisis MDS. Kecilnya perbedaan nilai indeks keberlanjutan antara hasil analisis metode MDS dengan analisis Monte Carlo mengindikasikan hal-hal sebagai berikut: (1) kesalahan dalam pembuatan skor setiap atribut relatif kecil; (2) variasi pemberian skor akibat perbedaan opini relatif kecil; (3) proses analisis yang dilakukan secara berulang-ulang stabil; dan (4) kesalahan memasukkan data dan data yang hilang dapat dihindari. Perbedaan hasil analisis yang relatif kecil sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 41 menunjukkan bahwa analisis menggunakan metode MDS untuk menentukan keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, dan metode yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu alat evaluasi untuk menilai
55 165 secara sistemik, cepat, obyektif, dan terukur pengelolaan kawasan pasca tambang batubara di suatu wilayah. Nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi adalah sebesar 39,40 pada skala Jika dibandingkan dengan nilai APCMS yang bersifat multidimensi maka nilai indeks dimensi ekologi berada di bawah nilai APCMS multidimensi, termasuk ke dalam kategori kurang berkelanjutan. Kondisi ini sesuai dengan kenyataan di lapangan yang menunjukkan bahwa pengambilan batubara di bawah permukaan tanah dilakukan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan, yang berakibat serius terhadap sumberdaya lahan, sehingga lahan tidak mempunyai nilai ekonomi lagi. Hasil analisis MDS yang dilakukan dapat digunakan untuk simulasi arahan kebijakan yang akan mendorong nilai ekonomi kawasan pasca tambang batubara tetap bernilai ekonomi tinggi selain menghasilkan batubara. Nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi pengelolaan kawasan pasca tambang batubara berkelanjutan, Kabupaten Kutai Kartanegara dapat dilihat pada Gambar 19. APCMS Ordination UP Other Distingishing Features 20 0 BAD GOOD DOWN -60 Post Coal Mining Sustainability Real Post Coalmining References Anchors Gambar 19. Nilai Indeks Keberlanjutan Dimensi Ekologi Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara Sebesar 39,40
56 166 Terdapat dua atribut yang paling sensitif yang mempengaruhi nilai keberlanjutan dimensi ekologi, yaitu erosi dan banjir. Atribut yang paling sensitif sebagai faktor pengungkit dimensi ekologi dapat dilihat pada Gambar 20. Leverage of Attributes Persentase tumbuhan Pergantian pertumbuhan tanaman Banjir Attribute Ketersediaan Air Erosi Kemampuan lahan Tingkat kesuburan tanah Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 20. Nilai Masing-masing Atribut Dimensi Ekologi Erosi dan banjir menjadi atribut yang paling sensitif karena pergantian pertumbuhan tanaman relatif rendah (kerapatan vegetasi pada kisaran 25 50%) dari standar baku mutu yaitu >70% yang membuat tidak ada penghambat aliran permukaan air ketika curah hujan tinggi. Kerapatan vegetasi dan tinggi tanaman, mengakibatkan butiran hujan cepat menghancurkan tanah dan terjadi pemindahan tanah (terangkutnya tanah) mengikuti aliran permukaan sampai mengakibatkan banjir. Curah hujan rata-rata di lokasi penelitian adalah >100 mm/bulan, Oldeman mengelompokkan curah hujan seperti ini kedalam bulan basah dan berpeluang untuk menanam padi sawah. Kondisi basah berpeluang menjadi banjir karena terjadi aliran permukaan dan dalam kondisi yang demikian vegetasi yang
57 167 tidak memadai juga akan berpeluang mengakibatkan erosi karena aliran permukaan berbanding lurus dengan erosi. Penelitian ini tidak menganalisis banjir secara mendetail, namun menggunakan literatur penelitian yang dilakukan di Kecamatan Separi masih di Kabupaten Kutai Kartanegara sehingga rujukan ini dianggap masih relevan. Berdasarkan penelitian Hakim (2008) salah satu penduga banjir adalah berdasarkan distribusi curah hujan yang mana besarannya sebesar di atas 100 mm/bulan. Nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekonomi adalah sebesar 34,96 pada skala Jika dibandingkan dengan nilai dimensi ekologi nilai dimensi ekonomi berada di bawah nilai dimensi ekologi dan masih termasuk ke dalam kategori kurang berkelanjutan. Nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi pengelolaan kawasan pasca tambang batubara berkelanjutan, Kabupaten Kutai Kartanegara dapat dilihat pada Gambar 21. APCMS Ordination Other Distingishing Features Post Coal Mining Sustainability Real Post Coal Mining References Anchors Gambar 21. Nilai Indeks Keberlanjutan Dimensi Ekonomi Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara Sebesar 34,96 Atribut yang paling sensitif mempengaruhi nilai keberlanjutan dimensi ekonomi ada empat, yaitu: sarana perekonomian, aktivitas perekonomian pasca
58 168 tambang batubara, status penguasaan lahan masyarakat serta sarana dan prasarana transportasi. Nilai masing-masing atribut dimensi ekonomi dapat dilihat pada Gambar 22. Leverage of Attributes Kontribusi terhadap PDRB relatif terhadap desa sekitar lokasi Sarana dan prasarana transportasi Status Penguasaan Lahan Masyarakat Attribute Sarana Perekonomian Aktivitas perekonomian pasca tambang batubara Mata pencaharian pasca tambang batubara Pendapatan masyarakat pasca tambang Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 22. Nilai Masing-masing Atribut Dimensi Ekonomi Sarana perekonomian berdasarkan gambaran umum pada Tabel 17 dan 18, tidak banyak mengalami perubahan yang signifikan, namun pada hasil MDS memperlihatkan bahwa atribut ini memberikan nilai paling sensitif diantara atribut lainnya. Hal ini memberikan indikasi bahwa dalam dimensi ekonomi atribut sarana perekonomian harus menjadi prioritas dalam pengembangannya. Aktivitas perekonomian pasca tambang masyarakat mengalami penurunan dibandingkan dengan kondisi sebelum terdapatnya kegiatan tambang batubara. Hal ini dapat dijelaskan karena keberadaan tambang batubara diharapkan akan memberikan multiplier effect bagi aktivitas perekonomian wilayah setempat. Kebutuhan tenaga kerja di perusahaan pertambangan batubara memberikan implikasi bagi kebutuhan tenaga kerja, tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari. Berkurang atau berhentinya produksi perusahaan tambang batubara secara signifikan berdampak bagi aktivitas perekonomian.
59 169 Berdasarkan Tabel 15 terdahulu dapat digambarkan bahwa status penguasaan lahan sebagian besar masyarakat pasca tambang batubara masih tetap. Kondisi ini disebabkan karena belum dilakukan penataan kembali (land reform) dari lahan pasca tambang, sehingga masyarakat masih dapat memanfaatkan lahan tersebut. Sarana dan prasarana transportasi pasca tambang batubara semakin memburuk dengan keberadan tambang batubara. Ruas jalan dari dan menuju kawasan tambang batubara kondisinya rusak akibat kendaraan yang berkapasitas muatan besar. Nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi sosial adalah sebesar 39,09 pada skala Jika dibandingkan dengan nilai dimensi ekologi maupun nilai dimensi ekonomi, nilai indeks dimensi sosial berada nomor dua setelah dimensi ekologi namun masih termasuk kategori kurang berkelanjutan. Nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial pengelolaan kawasan pasca tambang batubara berkelanjutan, Kabupaten Kutai Kartanegara dapat dilihat pada Gambar 23. APCMS Ordination UP Other Distingishing Features 20 0 BAD GOOD DOWN -60 Post Coalmining Sustainability Real Post Coalmining References Anchors Gambar 23. Nilai Indeks Keberlanjutan Dimensi Sosial Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara Sebesar 39, 09 Terdapat empat atribut yang paling sensitif mempengaruhi nilai keberlanjutan dimensi sosial, yaitu: migrasi penduduk, angka beban tanggungan
60 170 keluarga, persepsi masyarakat terhadap keberadaan pertambangan batubara, dan konflik sosial yang terjadi di kawasan pasca tambang batubara baik antar sesama warga atau dengan warga sekitar. Nilai masing-masing atribut dimensi sosial dapat dilihat pada Gambar 24. Leverage of Attributes Epidemi Penyakit Diare dan ISPA Persepsi Masyarakat Terhadap Pertambangan Tatanan Adat dan Kebiasaan Masyarakat Attribute Angka Beban Tanggungan Keluarga Rasio Relatif Jenis Kelamin Migrasi Penduduk Konflik sosial Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 24. Nilai Masing-masing Atribut Dimensi Sosial Migrasi penduduk yang tinggi seperti dapat dilihat pada Tabel 23 dan Tabel 24, terjadi di wilayah pasca tambang batubara memberikan dampak bagi kehidupan sosial di masyarakat. Migrasi ini terjadi akibat terhentinya kegiatan tambang batubara yang semula beroperasi di wilayah tersebut. Penduduk memilih untuk pindah untuk mencari pekerjaan ke luar lokasi, baik pada perusahaan tambang maupun memilih pada mata pencaharian lain. Kondisi lingkungan yang sudah rusak maupun sumberdaya yang tidak lagi menjanjikan untuk menopang perekonomian masyarakat menjadi faktor pendorong masyarakat untuk ke luar wilayah, sedangkan kondisi daerah lain yang lebih menarik aktivitas perekonomiannya akan menjadi faktor penarik masyakarat untuk melakukan migrasi. Angka beban tanggungan keluarga di wilayah pasca tambang batubara yang tergolong tinggi memberikan indikasi bahwa jumlah usia produktif yang
61 171 terdapat pada wilayah tersebut masih rendah, seperti dapat dilihat pada Tabel 21. Angka beban tanggungan keluarga yang tinggi dapat disebabkan dari tingginya tingkat migrasi penduduk yang termasuk di dalamnya usia produktif. Pada saat berakhirnya penambangan batubara, masyarakat setempat terutama buruh tambang akan mengalami tekanan ekonomi karena akan menjadi pengangguran sehingga angka beban tanggungan keluarga juga meningkat. Berdasarkan hasil wawancara, sebanyak 96% masyarakat memberikan persepsi negatif terhadap keberadaan pasca tambang batubara dalam menyikapi beberapa kebijakan yang diberikan oleh pihak perusahaan sehingga berpengaruh terhadap keberlanjutan kegiatan tambang batubara. Masyarakat yang menganggap bahwa perusahaan tidak pro lingkungan pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya konflik sosial yang mengganggu ketentraman masyarakat. Analisis pada setiap dimensi (ekologi, ekonomi dan sosial) memperlihatkan bahwa dari ketiga dimensi yang dianalisis ternyata aspek sosial memiliki indeks keberlanjutan nomor dua paling tinggi, sedangkan yang memiliki indeks keberlanjutan terendah adalah dimensi ekonomi. Dari nilai indeks keberlanjutan setiap aspek hasil analisis MDS tidak satupun dimensi pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara yang termasuk kategori baik atau berkelanjutan. Berdasarkan hasil analisis keberlanjutan tiga dimensi pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, terdapat 10 atribut yang sensitif mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara. Atribut-atribut tersebut merupakan faktor-faktor pengungkit dalam pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara pada saat ini. Atribut-atribut yang menjadi faktor pengungkit dalam pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara adalah: 1. Erosi 2. Banjir 3. Sarana perekonomian 4. Aktivitas perekonomian pasca tambang batubara 5. Status penguasaan lahan masyarakat 6. Sarana dan prasarana transportasi
62 Migrasi penduduk 8. Angka beban tanggungan keluarga 9. Persepsi masyarakat terhadap keberadaan pertambangan batubara 10. Konflik sosial. Seluruh faktor pengungkit tersebut dianalisis untuk menentukan faktor kunci pengelolaan kawasan pasca tambang batubara berkelanjutan. Penentuan faktor kunci dilakukan dengan melibatkan stakeholder dan pakar. Hasil FGD menunjukkan bahwa terdapat lima faktor pengungkit yang merupakan faktor kunci pengelolaan kawasan pasca tambang batubara berkelanjutan, Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu: (1) erosi, (2) banjir, (3) aktivitas perekonomian pasca tambang batubara, (4) sarana perekonomian, dan (5) sarana dan prasarana transportasi. Pengaruh dan Ketergantungan antar faktor pengungkit dalam pengelolaan kawasan pasca tambang batubara Sarana dan prasarana t ransportasi Banjir Erosi Aktivitas perekonomian pasca tambang batubara Sarana perekonomian Pengaruh Konflik Sosial St atus pengusahaan lahan masyarakat Persepsi M asyarakat M igrasi Penduduk 2.00 Angka beban tanggungan keluarga Ketergantungan Gambar 25. Pengaruh dan Ketergantungan Antar Faktor Pengungkit Faktor kunci pengelolaan kawasan pasca tambang batubara berkelanjutan ini diambil dari kuadran kiri atas dan kanan atas pada diagram kartesius tingkat pengaruh dan ketergantungan antar faktor dalam sistem. Alasan pengambilan kuadran kiri atas karena variabel yang terdapat di kuadran kiri atas merupakan variabel yang mempunyai pengaruh tinggi terhadap variabel lain, namun tidak tergantung terhadap variabel lainnya. Sementara itu, variabel yang terdapat pada
63 173 kuadran kanan atas mempunyai pengaruh yang tinggi terhadap variabel lain namun mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap variabel lainnya. Pengaruh dan ketergantungan antar faktor pengungkit pengelolaan kawasan pasca tambang batubara dapat dilihat pada Gambar Permasalahan dan Kebutuhan Stakeholder dalam Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara Permasalahan kebijakan pengelolaan kawasan tambang batubara adalah: (1) kebijakan yang ditetapkan bersifat nasional sehingga kurang sesuai dengan karakteristik spesifik wilayah pasca tambang batubara, karena kebijakan yang diterapkan topdown kurang memperhatikan aspirasi di wilayah yang menjadi sasaran pembangunan (tercermin dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 1967 tentang ketentuan pokok pertambangan dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1969 tentang pelaksanaan Undang-undang Nomor 11 tahun 1967), dimana kewenangan menteri lebih dominan mengatur perizinan juga dalam pelaksanaan pertambangan); (2) tidak terjadi keterpaduan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara sejak tahap perencanaan (pengajuan ijin pertambangan batubara), pelaksanaan aturan yang ada (terutama pelaksanaan reklamasi) dan evaluasi dari setiap berakhirnya penambangan, terutama lemah di fungsi pengawasan pelaksanaan kebijakan (dapat dilihat dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) yang diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Kepmentamben Nomor 1211.K/008/M.PE/1995 tentang pencegahan dan penanggulangan kerusakan dan pencemaran lingkungan pada kegiatan usaha pertambangan umum juga dalam Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 146/Kpts. II/1994 tentang pedoman reklamasi bekas tambang dalam kawasan hutan); (3) tidak melibatkan masyarakat dan pengusaha dalam penyusunan aturan secara substansi akan beberapa faktor penting yang semestinya diketahui bersama (Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Bab XI Pasal 70 tentang Peran Masyarakat) sehingga rentan terhadap kesimpangsiuran intepretasi dari kebijakan yang dikeluarkan. Mereka hanya dilibatkan secara prosedur sehingga
64 174 menimbulkan masalah pada saat implementasi (dalam setiap undang-undang yang terlibat memutuskan tertulis hanya dari unsur birokrasi yaitu propinsi, dan kabupaten). Hasil wawancara dengan stakeholder diketahui bahwa dalam pengelolaan kawasan pasca tambang batubara di masa mendatang faktor-faktor penting yang perlu diperhatikan pada perumusan kebijakan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara adalah: (1) isi dari kebijakan pasca tambang batubara yang dikeluarkan pemerintah tetap ditetapkan secara nasional namun melalui pemahaman kebutuhan spesifik wilayah yang diwakili suara wilayah masing-masing sehingga benar merupakan aspirasi stakeholder (Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara Bab IV Pasal 6, 7 dan b mengenai kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara) mengarah pastisipatif tetapi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis masih ditunggu); (2) ada keterpaduan program pengelolaan kawasan pasca tambang batubara; (3) melibatkan stakeholder secara substansi tidak hanya sebatas prosedur yang mau tidak mau mesti dilaksanakan. Interpretasi yang sama akan menghasilkan persepsi yang sama tentang kebijakan, sehingga lebih memudahkan dalam implementasi. Penentuan faktor kunci pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara juga memperhatikan dan mengidentifikasi kebutuhan stakeholder terhadap kondisi masa depan yang diinginkan dengan mengetahui permasalahannya saat ini. Dari hasil wawancara, diketahui permasalahan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara adalah: 1. Ketersediaan air yang tidak stabil. 2. Kondisi lingkungan yang rawan banjir pada musim hujan dan kekeringan saat kemarau. 3. Status penguasaan lahan sering menimbulkan konflik. 4. PAD relatif sedikit sampai ke masyarakat di lokasi pasca tambang batubara. 5. Regulasi kontrak kerja dengan masyarakat sepihak ditentukan pengusaha (kontrak kerja pendek-pendek).
65 Penyerapan tenaga kerja rendah sehingga pasca tambang batubara pengangguran bertambah. 7. Upah buruh belum memadai dan mereka menjadi miskin pasca tambang batubara. 8. Hampir semua instalasi jaringan jalan menjadi rusak. 9. Laju pertambahan penduduk tidak stabil (migrasi penduduk), sering berujung konflik. 10. Akses masyarakat terhadap lembaga keuangan rendah. 11. Tata ruang kawasan reklamasi/ penataan ruang wilayah pengaturannya belum optimal. Selanjutnya dilakukan identifikasi kebutuhan masing-masing stakeholder di masa mendatang. Stakeholder dikelompokkan kedalam empat golongan yaitu: pemerintah pusat dan daerah, pengusaha/investor, masyarakat disekitar kawasan, dan LSM. Hasil identifikasi kebutuhan stakeholder dapat dilihat pada Tabel 42. Berdasarkan permasalahan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara dan kebutuhan stakeholder di masa mendatang maka melalui FGD dapat diformulasikan faktor-faktor pemenuhan kebutuhan stakeholder yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kawasan pasca tambang batubara secara berkelanjutan. Terdapat 25 faktor yang diidentifikasi yaitu: (1) pertumbuhan ekonomi wilayah/kawasan, (2) peningkatan pendapatan masyarakat, (3) peningkatan pendapatan asli daerah, (4) pembangunan wilayah, (5) kemitraan, (6) keamanan yang kondusif, (7) peningkatan devisa negara, (8) pengelolaan sumberdaya alam secara optimal, (9) perluasan lapangan kerja, (10) pengembalian modal yang cepat, (11) kemudahan administratif, (12) jaminan kelancaran usaha, (13) keamanan investasi, (14) regulasi yang jelas, (15) keuntungan yang layak, (16) ketersediaan bahan baku, (17) iklim usaha, (18) pelayanan ekonomi dan sosial, (19) sarana dan prasarana kawasan, (20) lingkungan pemukiman yang nyaman, (21) tidak terjadi konflik, (22) akses terhadap lembaga keuangan, (23) transparansi informasi, (24) pemberdayaan masyarakat, dan (25) kesinambungan pengembangan usaha. Faktor-faktor tersebut kemudian dianalisis untuk menentukan faktor kunci pengelolaan kawasan pasca
66 176 tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara berdasarkan formulasi permasalahan dan kebutuhan stakeholder. Tabel 42. Kebutuhan Stakeholder dalam Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara Berkelanjutan No. Pelaku Kebutuhan 1. Pemerintah Pusat dan Daerah 1. Pertumbuhan ekonomi wilayah/kawasan 2. Peningkatan pendapatan masyarakat 3. Peningkatan pendapatan asli daerah 4. Pembangunan wilayah 5. Kemitraan 6. Keamanan yang kondusif 7. Peningkatan devisa negara 8. Pengelolaan sumberdaya alam secara optimal 9. Perluasan lapangan kerja 2. Pengusaha/ Investor 1. Pengembalian modal yang cepat 2. Kemudahan administratif (birokrasi) 3. Kesinambungan pengembangan usaha 4. Keamanan investasi 5. Regulasi yang jelas 6. Keuntungan yang layak 7. Kemitraan 8. Ketersediaan bahan baku 9. Iklim usaha yang sehat 3. Masyarakatsekitar kawasan 1. Perluasan lapangan kerja 2. Peningkatan pendapatan 3. Pelayanan ekonomi dan sosial 4. Sarana dan prasarana kawasan pasca tambang batubara serta kemudahan aksesibilitas 5. Lingkungan pemukiman yang aman dan nyaman 6. Tidak terjadi konflik 7. Akses terhadap lembaga keuangan 4. LSM 1. Kelestarian lingkungan 2. Transparansi informasi 3. Pemberdayaan masyarakat Sumber : Hasil Analisis (2009) Hasil analisis prospektif menunjukkan bahwa terdapat 13 faktor kunci yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kawasan pasca tambang batubara berkelanjutan, Kabupaten Kutai Kartanegara di masa mendatang yaitu: (1) perluasan lapangan kerja, (2) peningkatan pendapatan masyarakat, (3) pemberdayaan masyarakat, (4) pelayanan ekonomi dan sosial, (5) keamanan yang kondusif, (6) pertumbuhan ekonomi wilayah/kawasan, (7) pembangunan wilayah (8) iklim usaha yang sehat, (9) pengelolaan sumberdaya alam (SDA) secara optimal, (10) sarana dan prasarana kawasan pasca tambang batubara, (11)
67 177 kesinambungan pengembangan usaha, (12) peningkatan PAD, dan (13) kemudahan administrasi. Hasil analisis Pengaruh dan ketergantungan antar faktor pengungkit pengelolaan kawasan pasca tambang batubara berdasarkan kebutuhan stakeholder dapat dilihat pada Gambar 26. Pengaruh dan Ketergantungan antar faktor kebutuhan stakeholder dalam pengelolaan kawasan pasca tambang batubara Iklim usaha yg kondusif Sarana Prasarana, aksesibilitas Perluasan lap. kerja Pemberdayaan masyarakat Peningkatan pend. masy Pemb. Wilayah Pelayanan Ekonomi Soaial Keamanan yang kondusif Pert umbh. Ek.Wil/Kawasan Pengelolaan SDA yg optimal Kesinambungan pengembangan usaha 3.00 Pengaruh Peningkatan PAD Kemudahan administrasi Peningkatan devisa negara Transparansi Informasi Ketersediaan bahan baku Pengembalian modal yg cepat Keuntungan yg layak Pengembalian kredit lancar Jaminan kelancaran usaha Akses terhadap lembaga keuangan Tidak terjadi konflik Keamanan investasi Kemit raan Keamanan kegiatan usaha Regulasi yg jelas Kelestarian Liingkungan Liingkungan Pemukiman yg aman nyaman Peningkatan Kesejahteraan Masy Ketergantungan Gambar 26. Pengaruh dan Ketergantungan Antar Faktor Kebutuhan Stakeholder dalam Pengelolan Kawasan Pasca Tambang Batubara Berkelanjutan Penentuan skenario pengelolaan kawasan pasca tambang batubara didasarkan pada faktor kunci keberlanjutan pengelolaannya. Faktor kunci ini diperoleh dari hasil analisis MDS yang menggambarkan kondisi saat ini dan hasil analisis kebutuhan stakeholder yang merupakan gambaran kondisi yang diinginkan stakeholder pada kawasan pasca tambang batubara di masa mendatang. Faktor kunci pengembangan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara berdasarkan hasil analisis keberlanjutan kawasan
68 178 dan faktor kunci berdasarkan kebutuhan stakeholder digabungkan sebagai faktor kunci keberhasilan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara di masa depan, menghasilkan 18 faktor kunci. Faktor kunci keberlanjutan kawasan pasca tambang batubara ada lima dan faktor kunci berdasarkan kebutuhan stakeholder ada 13. Gabungan faktor kunci pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara dapat dilihat pada Tabel 43. Tabel 43. Gabungan Faktor Kunci Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara Faktor kunci Keberlanjutan Kawasan Kebutuhan Stakeholder Gabungan 1. Aktivitas perekonomian pasca tambang batubara 2. Erosi 3. Banjir 4. Sarana perekonomian 5. Sarana dan prasarana transportasi 1. Perluasan lapangan kerja 2. Peningkatan pendapatan masyarakat 3. Pemberdayaan masyarakat 4. Pelayanan ekonomi dan sosial 5. Keamanan yang kondusif 6. Pertumbuhan ekonomi wilayah/kawasan 7. Pembangunan wilayah 8. Iklim usaha yang sehat 9. Pengelolaan SDA secara optimal 10. Sarana dan prasarana kawasan pasca tambang 11. Kesinambungan pengembangan usaha 12. Peningkatan PAD 13. Kemudahan administrasi 1. Erosi 2. Banjir 3. Aktivitas perekonomian pasca tambang batubara 4. Sarana perekonomian 5. Sarana dan prasarana transportasi 6. Perluasan lapangan kerja 7. Peningkatan pendapatan 8. Pemberdayaan masyarakat 9. Pelayanan ekonomi dan sosial 10. Keamanan yang kondusif 11. Pertumbuhan ekonomi wilayah/kawasan 12. Pembangunan wilayah 13. Iklim usaha yang sehat 14. Pengelolaan SDA secara optimal 15. Sarana dan prasarana kawasan 16. Kesinambungan pengembangan usaha 17. Peningkatan PAD 18. Kemudahan administrasi Gabungan faktor kunci tersebut dianalisis untuk menentukan faktor yang paling penting/utama dalam pengelolaan kawasan pasca tambang batubara dimasa depan dengan menggunakan analisis prospektif melibatkan stakeholder dan pakar.
69 179 Faktor penting utama ini digunakan sebagai faktor kunci utama dalam menyusun skenario pengelolaan kawasan pasca tambang batubara. Hasil analisis diperoleh enam faktor kunci utama yaitu: (1) erosi, (2) banjir, (3) pengelolaan sumberdaya alam secara optimal, (4) peningkatan pendapatan masyarakat, (5) pemberdayaan masyarakat, dan (6) Aktivitas perekonomian pasca tambang batubara. Hasil analisis pengaruh dan ketergantungan antar faktor gabungan dalam pengelolaan kawasan pasca tambang batubara dapat dilihat pada Gambar 27. Pengaruh dan Ketergantungan antar faktor gabungan dalam pengelolaan kawasan pasca tambang batubara 4.00 Aktivitas perekonomian pasca tambang batubara 3.50 Pemberdayaan masyarakat 3.00 Banjir Erosi 2.50 Pengelolaan SDA secara optimal Pengaruh Peningkatan pendapatan masyarakat Sarana Perekonomian Pelayanan 2.00 Ekonomi Sosial Kemudahan Administrasi Pelrluasan lap.kerja Sarana dan prasarana Transportasi Iklim Usaha yg sehat Pembangunan wilayah Kesinambungan pengemb.usaha Keamanan yang kondusif Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Pertumbuh Ekonomi Wilayah Sarana dan Prasarana pasca tambang Peningkatan PAD Ketergantungan Gambar 27. Pengaruh dan Ketergantungan Antar Faktor Gabungan dalam Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara Berkelanjutan 5.4. Skenario Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara Deskripsi kemungkinan perubahan kondisi (state) masing-masing faktor kunci utama dalam pengelolaan kawasan pasca tambang batubara di masa yang akan datang memiliki jumlah kemungkinan yang berbeda. Faktor erosi memiliki empat kemungkinan kondisi yang mungkin terjadi, yaitu: (1) meningkat karena kerusakan lingkungan terus menerus, (2) tetap seperti keadaan saat ini, dan (3) menurun karena ada pengendalian tetapi belum optimal, dan (4) menurun dan
70 180 optimal jika ada perbaikan kesuburan tanah. Prospektif faktor kunci pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara dapat dilihat pada Tabel 44. Tabel 44. Analisis Prospektif Faktor Kunci dalam Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara No Faktor Kunci Utama Keadaan (state) masa depan faktor 1 Erosi 1A Meningkat A B C D 1B Tetap 1C Menurun namun belum optimal 1D Menurun optimal sesuai kebutuhan 2 Banjir 2A Meningkat 2B Tetap 2C Menurun 3 Pengelolaan sumberdaya alam secara optimal 3A Menurun 3B Tetap 3C Meningkat tetapi belum optimal 3D Meningkat dan optimal 4 Peningkatan pendapatan masyarakat 4A Menurun 4B Tetap 4C Meningkat tetapi belum memadai 4D Meningkat dan memadai 5 Pemberdayaan masyarakat 5A Menurun 5B Tetap 5C Berkembang 6 Aktivitas perekonomian pasca tambang batubara 6A Menurun 6B Tetap 6C Meningkat tetapi belum memadai 6D Meningkat dan memadai Berdasarkan Tabel 44 disepakati tiga skenario strategi pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu: (1) konservatif-pesimistik, 2) moderat-optimistik dan 3) progresif-optimistik. Skenario-skenario tersebut dibuat berdasarkan hasil analisis sebelumnya (MDS, analisis kebutuhan dan analisis stakeholder) dengan rentang waktu simulasi dalam pengembangan disain adalah 25 tahun. Faktor-faktor kunci utama ada enam yaitu: (1) erosi, (2) banjir, (3) pengelolaan sumberdaya secara optimal, (4) peningkatan pendapatan masyarakat, (5) pemberdayaan masyarakat, dan (6) aktivitas perekonomian pasca tambang
71 181 batubara. Faktor-faktor inilah yang menjadi dasar dalam menyusun disain kebijakan pada akhirnya. Faktor erosi dan banjir, tingkat keberadaannya akan mempengaruhi keadaan atribut suksesi (pergantian) pertumbuhan tanaman, persentase tumbuhan, kemampuan lahan, keberadaan air dan tingkat kesuburan tanah. Faktor pengelolaan sumberdaya alam secara optimal, tingkat keberadaannya akan mempengaruhi keadaan atribut: erosi, banjir, suksesi (pergantian) pertumbuhan tanaman, persentase tumbuhan, kemampuan lahan, ketersediaan air dan tingkat kesuburan tanah. Faktor peningkatan pendapatan masyarakat akan mempengaruhi keadaan atribut: migrasi penduduk, dan angka beban tanggungan keluarga. Faktor pemberdayaan masyarakat akan mempengaruhi keadaan atribut: aktivitas pasca tambang batubara, status penguasaan lahan masyarakat, dan mata pencaharian pasca tambang batubara. Faktor aktivitas perekonomian pasca tambang batubara akan mempengaruhi keadaan atribut: perluasan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, pertumbuhan ekonomi wilayah/kawasan, migrasi penduduk, konflik sosial dan angka beban tanggungan keluarga. Tabel 45. Definisi Masing-masing Skenario Strategi No Skenario Definisi 1 Konservatif-pesimistik (1B), (2B), (3A), (4A), (5B), (6B) a. Erosi meningkat karena kerusakan lingkungan b. Banjir meningkat, reklamasi tidak optimal c. Pengelolaan SDA menurun d. Peningkatan pendapatan menurun e. Pemberdayaan masyarakat tetap 2 Moderat-optimistik (1C), (2C), (3C), (4C), (5C), (6C) 3 Progresif-optimistik (1D), (2D), (3D), (4D), (5D), (6D) f. Aktivitas perekonomian pasca tambang batubara a. Erosi menurun tetapi belum optimal b. Banjir menurun mencukupi belum optimal c. Pengelolaan SDA mencukupi tetapi belum optimal d. Peningkatan pendapatan meningkat tetapi belum optimal e. Pemberdayaan masyarakat meningkat tetapi belum memadai f. Aktivitas perekonomian pasca tambang batubara meningkat tetapi belum optimal a. Erosi menurun sesuai kebutuhan b. Banjir menurun sesuai kebutuhan c. Pengelolaan SDA meningkat sudah optimal d. Peningkatan pendapatan meningkat sudah optimal e. Pemberdayaan masyarakat meningkat dan memadai f. Aktivitas perekonomian pasca tambang batubara meningkat dan optimal
72 182 Hasil diskusi dan pengisian skor oleh stakeholder diperoleh skor bobot dan prioritas skenario. Ada tiga alternatif skenario pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara yang terpilih dengan perubahan pada setiap faktor. Definisi masing-masing skenario strategi dapat dilihat pada Tabel 45. Skor atribut-atribut tersebut secara umum meningkat 1 poin yakni dari skor 0 menjadi 1 dan dari skor 1 menjadi 2. Peningkatan skor terhadap atributatribut tersebut mendorong peningkatan status keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara secara keseluruhan. Peningkatan skor juga melalui FGD dengan berdasar pada skenario-skenario yang sudah ditetapkan terlebih dahulu, dan sudah dijelaskan terdahulu. Tabel 46. Perubahan Skor Atribut Faktor untuk Skenario Terpilih No Dimensi dan Atribut Skor Atribut Saat Ini Skenario Moderat optimistik EKOLOGI 1 Tingkat kesuburan tanah Kemampuan lahan Erosi Keberadaan air Banjir Pergantian pertumbuhan tanaman Persentase tumbuhan 2 2 EKONOMI 1 Pendapatan Masyarakat pasca 0 1 tambang batubara dibandingkan dengan pra tambang 2 Mata Pencaharian masyarakat pasca 1 2 tambang batubara 3 Aktivitas perekonomian pasca 0 1 tambang batubara 4 Sarana perekonomian Status penguasaan lahan masyarakat Sarana dan prasarana transportasi Kontribusi terhadap PDRB relatif untuk desa sekitar lokasi 1 2 SOSIAL 1 Konflik sosial Migrasi penduduk Rasio relatif jenis kelamin Angka beban tanggungan keluarga Tatanan adat dan kebiasaan 1 2 masyarakat 6 Persepsi masyarakat terhadap 0 1 keberadaan tambang batubara 7 Epidemi penyakit diare dan ISPA 2 3
73 183 Faktor-faktor kunci utama tersebut memerlukan rumusan lebih lanjut sehingga sampai pada strategi implementasi yang dapat dilaksanakan di kawasan pasca tambang batubara, terutama di Kabupaten Kutai Kartanegara. Secara rinci atribut yang diasumsikan mengalami perubahan kondisi untuk skenario terpilih dapat dilihat pada Tabel 46. Hasil simulasi menunjukkan bahwa nilai Indeks Keberlanjutan Kawasan Pasca Tambang Batubara sama dengan Appraisal Post Coal Mining Sustainable (APCMS) pada skenario moderat optimistik mencapai 62,51. Nilai indeks ini berada pada kategori cukup berkelanjutan. Berdasarkan hasil tersebut dirumuskan kebijakan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara berkelanjutan menurut skenario moderat-optimistik. Secara operasional, kebijakan ini dilakukan dengan memperbaiki penutupan lahan dengan vegetasi/tanaman agar erosi dan banjir menurun, pengelolaan sumberdaya alam optimal, peningkatan pendapatan masyarakat, pemberdayaan masyarakat, dan terdapat aktivitas perekonomian pasca tambang batubara. Hasil ordinasi tingkat keberlanjutan multidimensi dapat dilihat pada Gambar APCMS Ordination UP 40 Other Distingishing Features BAD - GOOD DOWN -60 Post Coal Mining Sustainability Real Post Coal Mining References Anchors Gambar 28. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensi Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara Berkelanjutan, Sebesar 62,51
74 184 Indeks keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara menunjukkan bahwa semua dimensi mencapai nilai cukup berkelanjutan. Dimensi ekologi, ekonomi dan sosial mengalami peningkatan yang signifikan dari kondisi saat ini. Dimensi yang paling tinggi mengalami peningkatan adalah dimensi sosial. Perbandingan status keberlanjutan antara kondisi saat ini dengan hasil skenario berkelanjutan dapat dilihat pada Tabel 47 dan Gambar 29. Tabel 47. Perbandingan Status Keberlanjutan Pengeloaan Kawasan Pasca Tambang Batubara Dimensi Saat Ini Skenario Moderat optimistik Ekologi 39,40 56,82 Ekonomi 34,96 65,67 Sosial 39,09 73,33 Multidimensi 36,01 62,51 Perbandingan status keberlanjutan Saat ini dan Hasil Skenario Ekologi Sosial Ekonomi saat ini Skenario moderat optimistik Gambar 29. Diagram Layang-layang (Kite Diagram) Grafik Perbandingan Status Keberlanjutan Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara Saat Ini dan Hasil Skenario Operasionalisasi skenario ini dirumuskan dengan melibatkan semua stakeholder terkait melalui FGD, dengan pembahasan mengenai faktor-faktor
75 185 yang harus diperhatikan, tantangan dan peluangnya serta strategi implementasi untuk keberhasilan upaya pengelolaan kawasan pasca tambang batubara Arahan Kebijakan dan Strategi Implementasi Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara Kebijakan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara dirumuskan dengan memperhatikan kondisi dan potensi kawasan saat ini, hasil analisis berkelanjutan, kebutuhan stakeholder dalam pengelolaan kawasan di masa mendatang, faktor kunci utama keberlanjutan, dan pendapat pakar. Sistem perumusan kebijakan dan strategi dilakukan secara partisipatif. Kondisi saat ini kawasan pasca tambang batubara, terutama kawasan yang tidak melakukan reklamasi menghasilkan lahan yang kemampuannya masuk kedalam kategori tidak sesuai. Hal ini beralasan karena dalam proses pembukaan tambang dengan sistem terbuka top soil yang kaya akan unsur hara hilang meski diupayakan ditimbun untuk digunakan kembali namun dalam prakteknya komposisi tanah sudah tidak beraturan akibat air hujan atau angin membawa lapisan tanah tersebut ketempat yang tidak semestinya, sehingga mempengaruhi kesuburan tanah (menurun). Kompensasi yang memadai dari pihak penambangan batubara menjadi solusi, terutama pemberian insentif lingkungan sesuai semangat Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 yang memuat instrumen ekonomi lingkungan hidup. Hal yang sangat mendasar juga peningkatan kembali produktifitas lahan pertanian masyarakat atau memberikan alternatif usaha untuk pemenuhan kebutuhan dan peningkatan kesejahteraannya. Pemerintah Daerah sebagai pelaku utama regulasi pengelolaan kawasan pasca tambang batubara sudah saatnya memberikan pilihan yang tepat bagi peningkatan kesejahteraan atau peningkatan pendapatan masyarakat sekitar kawasan pasca tambang. Kebijakan yang pro-terhadap rehabilitasi dan reklamasi lahan pasca tambang semuanya diperuntukkan untuk pelestarian lingkungan sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat. Reklamasi ternyata mengurangi erosi dan banjir, mengurangi indikator negatif sifat fisik dan sifat kimia tanah.
76 186 Ada harapan perbaikan tekstur tanah dan beberapa sifat kimia tanah di kawasan reklamasi dalam jangka waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan kawasan yang non reklamasi. Rekayasa sosial yang dirancang dalam reklamasi lahan pasca tambang, perlu memperhatikan beberapa permasalahan ekonomi dan sosial lokal masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan diupayakan bersifat padat karya dengan keterlibatan masyarakat setempat seoptimal mungkin, sesuai kemampuan dan keterampilan masing-masing. Pada kasus tertentu, pola yang perlu dilaksanakan dalam melibatkan masyarakat setempat dalam penanaman tanaman reklamasi. Masyarakat yang menanam pada lahan pasca tambang batubara akan mendapatkan hasil tanam melalui pola bagi hasil. Pengaturan bagi hasil dibuat dalam perjanjian tertulis sehingga masyarakat memiliki rasa tanggung jawab terhadap lahan yang dikelolanya. Reklamasi dengan pemberdayaan masyarakat dengan sistem bagi hasil dapat diimplementasikan apabila ada keinginan semua stakeholder dalam melibatkan masyarakat pada setiap tahap kegiatan yang dilakukan secara transparan, partisipatif dan accountable. Sistem ini dapat terlaksana jika didukung oleh kebijakan pemerintah daerah yang dituangkan ke dalam Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati. Hasil analisis keberlanjutan multi dimensi menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara saat ini kurang berkelanjutan. Faktor-faktor pengungkit utama yang mempengaruhi keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara saat ini adalah aktivitas perekonomian pasca tambang batubara, erosi, banjir, sarana perekonomian, serta sarana dan prasarana transportasi. Kebutuhan utama stakeholder di masa mendatang yang menjadi faktor kunci pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara adalah perluasan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, pemberdayaan masyarakat, keamanan yang kondusif, iklim usaha yang sehat, pengelolaan sumberaya alam secara optimal, pelayanan ekonomi dan sosial, sarana dan prasarana kawasan pasca tambang batubara, kemudahan
77 187 administrasi, pertumbuhan ekonomi wilayah/kawasan, peningkatan pendapatan asli daerah, pembangunan wilayah dan kesinambungan pengembangan usaha. Faktor pengungkit utama keberlanjutan kawasan pasca tambang batubara dan faktor kunci kebutuhan utama stakeholder merupakan faktor penting yang menentukan kebijakan. Pemilihan faktor kunci utama diantara faktor kunci akan memberikan efisiensi dan efektivitas implementasi kebijakan pengelolaan kawasan. Hasil analisis selanjutnya menunjukkan bahwa faktor kunci utama pengelolaan kawasan pasca tambang batubara adalah erosi, banjir, pengelolaan sumberdaya alam secara optimal, peningkatan pendapatan masyarakat, pemberdayaan masyarakat, dan aktivitas perekonomian pasca tambang batubara. Skenario pengembangan kawasan yang terpilih adalah skenario moderatoptimistik dengan ACMS 62,51. Berdasarkan hasil tersebut dirumuskan kebijakan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara berkelanjutan menurut skenario moderat-optimistik. Secara operasional, kebijakan ini dilakukan dengan memperbaiki kemampuan lahan agar erosi dan banjir menurun, pengelolaan sumberdaya alam secara optimal, pendapatan masyarakat meningkat, pemberdayaan masyarakat sesuai kebutuhan dan terdapat aktivitas perekonomian pasca tambang batubara. Dalam mewujudkan kondisi tersebut maka kebijakan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara dilakukan melalui tahapan pencapaian kondisi setiap faktor utama. Strategi implementasi dan langkah strategis pengelolaan kawasan pasca tambang batubara berkelanjutan dirumuskan melalui FGD melibatkan stakeholder untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Berdasarkan hasil FGD dirumuskan strategi implementasi pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai berikut: 1. Erosi, Banjir dan Pengelolaan Sumberdaya Alam Secara Optimal Aspek ekologi dinilai sebagai aspek yang memiliki prioritas pertama dalam pemanfaatan dan pengelolaan lahan pasca penambangan berbasis lingkungan dan berkelanjutan (Haryanti, 2009). Hasil ini menunjukkan bahwa perlunya penanganan dan pengelolaan sumberdaya alam secara optimal dan berkelanjutan. Langkah yang perlu dilakukan dalam pencegahan erosi, banjir dan pengelolaan sumberdaya alam secara optimal adalah dengan melakukan metode vegetatif,
78 188 pengawasan pelaksanaan reklamasi yang lebih konsisten dan pemberlakuan sanksi sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. a. Metode vegetatif Langkah-langkah strategis untuk menurunkan erosi dan banjir adalah dengan metode vegetatif. Salah satu prinsip dasar dari konservasi tanah dan air adalah menggunakan tanah sesuai dengan kemampuan dan kesesuaian lahannya. Pergantian pertumbuhan tanaman secara alami adalah proses pertumbuhan vegetasi yang membutuhkan waktu yang lama. Intervensi melalui program revegetasi melalui pelaksanaan reklamasi secara tepat akan bisa meningkat persentase tumbuhnya/tingkat pertumbuhannya jika memperhatikan pentingnya faktor kemampuan lahan, keberadaan air, tingkat kesuburan tanah sehingga faktor erosi dan banjir secara perlahan bisa diatasi. Vegetasi penutup tanah yang dapat menghalangi air hujan agar tidak jatuh langsung di permukaan tanah dipilih tanaman penutup tanah rendah sampai sedang yaitu leguminosa atau rumput makanan ternak Brachiaria. Ketinggian pohon-pohon yang ditanami di kawasan pasca tambang batubara juga jangan terlalu tinggi. Pohon yang sesuai ditanam adalah Gmelina arborea pada umur 1 tahun 3 bulan masih 331 cm dengan diameter 70 mm dan Agathis karena sampai umur 2 tahun tingginya masih 158 cm dengan diameter 26 mm. Penelitian Kustiawan dan Sutisna (1993) di kawasan reklamasi PT. Multi Harapan Utama dan PT. Kitadin, di Kabupaten Kutai Kartanegara dalam mengevaluasi pertumbuhan tanaman, mengukur pertumbuhan tanaman di lahan bekas galian tambang batubara. Tujuh jenis tanaman di kawasan reklamasi PT. Multi Harapan Utama telah diukur pertumbuhannya. Jenis-jenis tersebut adalah Mangium (Acacia mangium), Sengon (Paraserianthes falcataria), Sungkai (Peronema canescens), Angsana (Pterocarpus indicus), Gmelina (Gmelina arborea) Mahoni (Swietenia sp) dan Agathis (Agathis sp). Jenis tanaman yang tertua ditanam adalah Mangium, Sengon, Sungkai dan Agathis. Pada umur 2 tahunan telah mencapai tinggi dan diameter berturut-turut : 726 cm dan 104 mm (Mangium), 425 cm dan 67 mm (Sengon), 253 cm dan 54 mm (Sungkai), 158 cm dan 26 mm (Agathis). Hasil pengukuran tinggi dan diameter pada ketiga jenis
79 189 lainnya adalah : Gmelina berumur 1 tahun 3 bulan : 331 cm dan 70 mm; Angsana berumur 1 tahun 10 bulan: 312 cm dan 30 mm; Mahoni berumur 5 bulan : 71 cm dan 13 mm. Di kawasan reklamasi PT. Kitadin, persentase tumbuh tanaman Sengon yang berumur 2½ bulan, hanya mencapai 69% dengan nilai rataan tinggi ± 60 cm dan diameter ± 6 mm. Dari sejumlah tanaman yang tumbuh tersebut, terdapat lebih dari 20% semai yang tumbuh abnormal. Makin rapat vegetasi yang ada makin efektif terjadinya pencegahan erosi dan banjir. Vegetasi juga bisa menghambat aliran permukaan dan memperbanyak air infiltrasi dan penyerapan air kedalam tanah diperkuat oleh penguapan air melalui vegetasi. Sudah saatnya kawasan pasca tambang batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara dilakukan penanaman percobaan melalui pembuatan demplot tanaman yang bernilai ekonomis, bukan hanya sekedar pohon. Namun tentu saja dengan memetakan lahan sesuai dengan kelas kesesuaian lahan dengan mempertimbangkan jenis tanaman dalam takaran yang tidak sama agar biayanya lebih efisien. Rumput makanan ternak jenis Brachiaria merupakan pilihan yang berdampak multi guna mulai dari ternaknya sendiri sebagai penghasil daging, juga kotoran ternak sebagai pupuk kandang yang membantu meningkatkan kesuburan tanah (integrated farming). Di China tanaman nilam ternyata ditanaman di kawasan pasca tambang batubara, dan dari tanaman tersebut dihasilkan minyak atsiri, termasuk dihasilkan buah lengkeng yang masuk pasar Indonesia. b. Pengawasan pelaksanaan reklamasi yang lebih konsisten dan pemberlakuan sanksi sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku Dalam rangka memacu pelaksanaan reklamasi agar sebanding dengan lajunya aktifitas penambangan dan untuk mengoptimalkan upaya pemulihan lingkungan bekas tambang melalui program reklamasi sesuai dengan Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, perlu dilakukan langkah-langkah konservasi seperti Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, konservasi tanah, konservasi air dan konservasi udara.
80 190 Pencegahan dan penanggulangan perusakan dan pencemaran lingkungan pada kegiatan usaha pertambangan umum yang dimuat dalam ke Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1211.K/008/M.PE/1995, sudah lebih rinci mengatur kewajiban pemilik kuasa pertambangan tentang reklamasi sebagai pelaksanaan dari Pasal 17 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, perlu mengatur ketentuan mengenai pencegahan dan penanggulangan perusakan, dan pencemaran lingkungan pada kegiatan usaha pertambangan umum. Penambangan adalah kegiatan yang dilakukan baik secara manual maupun mekanis untuk mendapatkan bahan galian. Berhentinya kegiatan tambang pada seluruh atau sebagian wilayah usaha pertambangan eksploitasi/operasi produksi, baik karena berakhirnya izin usaha pertambangan dan atau karena dikembalikannya seluruh atau sebagian wilayah usaha pertambangan eksploitasi/operasi produksi tidak dapat dilaksanakan dengan baik dan tidak sesuai dengan tata cara yang semestinya. Tanah pucuk (top soil) adalah lapisan tanah pada horizon teratas yang mengandung unsur hara perlu dijaga/diperbaiki cara perlindungannya. Implementasi rencana tahunan pengelolaan lingkungan yang telah dibuat oleh perusahaan tambang batubara, antara lain berisi : a. rencana peruntukan lahan; b. teknik dan metode pengelolaan lingkungan; c jadwal/pelaksanaan pekerjaan dan penyelesaian tiap tahap reklamasi; d. luas lahan yang akan direklamasi; e. jenis tanaman yang akan ditanam; f. perkiraan biaya perlu pengendalian yang ketat termasuk kewajiban menyampaikan rencana pemantauan lingkungan. Rencana pemantauan tersebut memuat antara lain a. Parameter lingkungan yang dipantau b. Lokasi/titik pantau c. Kekerapan pemantauan d. Perkiraan biaya pemantauan. Air aliran permukaan (run off) yang mengalir di permukaan daerah yang terbuka harus dialirkan melalui saluran yang berfungsi dengan baik ke kolam pengendapan sebelum dibuang ke perairan umum. Kolam pengendapan harus dibuat di lokasi yang stabil serta terpelihara dan berfungsi dengan baik. Air yang berasal dari kegiatan usaha pertambangan sebelum dialirkan ke perairan umum harus diolah terlebih dahulu sehingga memenuhi baku mutu lingkungan sesuai
81 191 peraturan perundang-undangan yang berlaku. Lereng yang dibentuk dan atau terbentuk pada kegiatan usaha pertambangan harus mantap sesuai dengan kondisi lingkungan setempat dan reklamasi daerah bekas penambangan harus dilakukan secepatnya sesuai dengan rencana reklamasi dan persyaratan yang telah ditetapkan. Penanaman kembali daerah bekas penambangan dan daerah yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan perlu dilakukan sesuai dengan studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) atau Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) yang bersangkutan. Hal yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan penambangan adalah a). pembukaan lahan harus dilakukan sesuai dengan kebutuhan penambangan, b). tanah pucuk (top soil) hasil pengupasan harus segera dimanfaatkan untuk keperluan revegetasi, c). tanah penutup hasil pengupasan dan material buangan lainnya harus ditimbun dengan cara yang benar dan pada tempat yang aman, d). timbunan tanah penutup dan material buangan lainnya harus dipantau secara berkala, e). gangguan keseimbangan hidrologis harus seminimal mungkin, f). kegiatan penambangan dan penimbunan bahan galian, limbah serta penampungan air limpasan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga air tanah terhindar dari pencemaran, g). kegiatan transportasi terutama yang melalui daerah pemukiman tidak boleh menimbulkan polusi udara. Tanah pucuk yang tidak dapat segera dimanfaatkan kembali untuk keperluan revegetasi, perlu diamankan dari perusakan dan erosi. Pelaksanaan kegiatan tambang permukaan dan tambang bawah tanah sedapat mungkin dilakukan dengan metode pengisian kembali (back filling). Penambangan dengan metode pengisian kembali harus memanfaatkan tanah penutup atau tailing sebagai bahan pengisian kembali. Pelaksanaan strategi tersebut berujung pada dana jaminan reklamasi. Pengusaha pertambangan dapat diwajibkan untuk menempatkan dana jaminan pelaksanaan reklamasi dan mendepositokan dana tersebut dalam rekening perusahaan yang bersangkutan di suatu bank yang ditunjuk oleh pemerintah yang besarnya, tata cara penempatan serta pengembaliannya, sudah ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pertambangan. Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No.18
82 192 Tahun 2008 pada bab VI pasal 19, perusahaan wajib menyediakan Jaminan Reklamasi dan Jaminan Penutupan Tambang sesuai dengan perhitungan Rencana Biaya Reklamasi dan perhitungan Rencana Biaya Penutupan Tambang yang telah mendapat persetujuan Menteri, Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangan masing-masing. Persetujuan atas rencana reklamasi dan rencana penutupan tambang oleh Gubernur dan Bupati/Walikota menunjukkan bahwa peran PEMDA menjadi penting dalam mengendalikan kualitas lingkungan didaerahnya. Rencana reklamasi dan rencana penutupan tambang tersebut merupakan bagian dari penyusunan dokumen AMDAL/UKL-UPL. Pentingnya reklamasi juga tertuang dalam dalam keputusan menteri kehutanan dan perkebunan Nomor: 146/Kpts-II/1999 tentang pedoman reklamasi bekas tambang dalam kawasan hutan tetap menimbang : (1) bahwa pada persiapan penggunaan kawasan hutan harus sesuai dengan fungsi dan peruntukannya; (2) bahwa kegiatan usaha pertambangan dan energi dalam kawasan hutan yang digunakan untuk menunjang pembangunan, telah mengakibatkan kerusakan lingkungan dan harus segera dilakukan reklamasi bekas tambang; (3) bahwa dalam pelaksanaan reklamasi bekas tambang diperlukan koordinasi dan sinkronisasi yang sebaik-baiknya di pusat maupun di daerah. Kewajiban perusahaan pertambangan dan energi tetang melaksanakan reklamasi lahan bekas tambang seharusnya menyentuh ruang lingkup reklamasi meliputi tahapan kegiatan inventarisasi lokasi reklamasi; penetapan lokasi reklamasi; perencanaan reklamasi dan dalam pelaksanaannya. Reklamasi meliputi: (1) penyiapan lahan, (2) pengaturan bentuk lahan (land scaping), (3) pengendalian erosi dan sedimentasi, (4) pengelolaan lapisan atas tanah (top soil), (5) revegetasi, dan (6) pemeliharaan. Pemerintah daerah memberi dukungan terhadap perbaikan pola reklamasi kawasan pasca tambang batubara. Kerjasama lintas sektoral untuk mentaati kerangka kerja model reklamasi yang telah disepakati dalam peraturan daerah mengenai kewajiban mendukung upaya reklamasi dan rehabilitasi lahan pasca tambang batubara. Regulasi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan terutama keberadaan pergantian pertumbuhan tanaman dan peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar tambang batubara
83 193 dengan memberikan pilihan atau diversifikasi tanaman pertanian bagi masyarakat yang masih memiliki lahan pertanian dan memberikan ruang lain bagi masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan lain selain menjadi buruh tambang batubara. Keadaan ini sesuai dengan pendapat Mercuri et al. (2004), bahwa kegiatan penambangan batubara berpotensi merusak lingkungan seperti penurunan produktivitas tanah dan terjadinya lahan kritis, terjadinya erosi dan sedimentasi, pencemaran air, penurunan muka air tanah, terganggunya flora dan fauna dan perubahan iklim mikro, sehingga diperlukan upaya pengendalian dan pemulihan lingkungan pada areal bekas tambang tersebut. Hal paling mendasar yang dapat diidentifikasi dalam kerusakan akibat eksplorasi batubara adalah sumber mata air yang berkurang dan pencemaran sumber air bersih hingga pergantian pertumbuhan tanaman sampai pada kategori tidak berkelanjutan. Kebijakan sudah memadai secara substansi, namun masih lemah pada tataran implementasi. Oleh karena itu diperlukan, adanya kebijakan lain yang mendorong terlaksananya penerapan penghargaan dan sanksi berupa memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang telah menerapkan reklamasi dengan baik dan memberikan disinsentif pajak untuk perusahaan yang tidak melaksanakan reklamasi dengan baik, termasuk insentif bagi masyarakat di sekitar kawasan pasca tambang batubara. Selain itu, diperlukan pelibatan masyarakat sebagai pengawas lingkungan sesuai dengan semangat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bab XI Pasal 70 mengenai peran masyarakat, dan Pasal 42, 43 ayat 3 menyatakan bahwa insentif dan/atau disinsentif antara lain diterapkan dalam bentuk sistem penghargaan kinerja di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. 2. Peningkatan Pendapatan Masyarakat, Pemberdayaan Masyarakat dan Aktivitas Perekonomian Pasca Tambang Batubara Sejak awal diatur dalam dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok pertambangan dasar pertimbangannya adalah guna mempercepat terlaksananya pembangunan ekonomi Nasional dalam menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila maka perlulah dikerahkan semua dana dan daya untuk mengolah dan
84 194 membina segenap kekuatan ekonomi potensial dibidang pertambangan menjadi kekuatan ekonomi riil. Instrumen ekonomi lingkungan hidup dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyatakan bahwa dalam rangka melestarikan fungsi lingkungan hidup, pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengembangkan dan menerapkan instrumen ekonomi lingkungan hidup. Instrumen ini mencakup (1) perencanaan pembangunan dan kegiatan ekonomi, (2) pendanaan lingkungan hidup, dan (3) insentif dan/atau disinsentif. Peningkatan pendapatan masyarakat diharapkan sudah menjadi bagian menyeluruh dari seluruh aturan yang ada dalam setiap kebijakan. Menambang bukan hanya semata menguntungkan satu pihak dari keseluruhan stakeholder, namun bisa menguntungkan semua pihak. Efek dari keberadaan pertambangan batubara sampai pada penutupan tambang batubara (pasca tambang batubara), semestinya tetap masih bisa dirasakan masyarakat dalam berbagai level kemampuan perekonomian, sehingga ketika ada pembukaan kawasan pasca tambang batubara masyarakat sekitar lokasi mempunyai motivasi yang baru dengan perubahan paradigma dari yang tidak menguntungkan menjadi mempunyai harapan akan menguntungkan. Dengan demikian keberadaan pengusaha pertambangan batubara dan pihak lain tidak berujung konflik. Langkah strategis untuk mewujudkan peningkatan pendapatan masyarakat, pemberdayaan masyarakat dan aktivitas perekonomian pasca tambang batubara adalah: a. Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara sesuai amanah undangundang wajib mengupayakan terciptanya kemitrausahaan antara pemegang KP (Kuasa Pertambangan), KK (Kontrak Karya) dan PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara) dengan masyarakat setempat berdasarkan prinsip saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara bekerjasama dengan pengusaha membangun perekonomian yang berbasis potensi yang ada di kawasan pasca tambang batubara, dengan pemberian modal kerja sejenis usaha mikro. Pemerintah daerah tidak hanya sebatas lingkup kewenangannya
85 195 menugaskan pemegang Kuasa Pertambangan, Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara sesuai dengan tahapan dan skala usahanya untuk membantu program pengembangan masyarakat dan pengembangan wilayah pada masyarakat setempat termasuk pertumbuhan ekonomi, diharapkan bekerjasama, sinergi dengan program Kabupaten di wilayah tersebut. Hasil penelitian Yusuf (2008) menyatakan bahwa aktor PEMDA sebagai prioritas utama yang berpengaruh dalam keberlanjutan kehidupan masyarakat akibat pertambangan yang merupakan sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable), diikuti aktor perusahaan sebagai prioritas kedua. b. Kebijakan program pelatihan usaha dan pengembangan usaha masyarakat sehingga dapat dicegah timbulnya masalah sosial pasca tambang batubara seperti: defisit lahan pertanian, hilangnya kesempatan kerja dan berusaha, juga kesenjangan tingkat pendapatan. Membangun sarana dan prasarana perekonomian melalui pembangunan jalan yang hampir di setiap lokasi pasca tambang menjadi rusak sampai rusak berat. Sebelum pertambangan batubara jalanan baik di sekitar tambang batubara yang juga dekat dengan pemukiman penduduk. Pada saat pertambangan dimulai ada banyak ruas jalan yang rusak, pasca tambang batubara jalan menjadi rusak parah. Ruas jalan yang rusak akan mempengaruhi efek terhadap perekonomian masyarakat dan wilayah karena tidak berjalan sebagaimana mestinya. c. Pemberdayaan masyarakat dengan membina/mendidik masyarakat di sekitar kawasan pasca tambang batubara hingga mampu berperan sebagai pengawas lingkungan sehingga implementasi pelaksanaan reklamasi taat kaidah dapat dilaksanakan. Pemberdayaan masyarakat dilakukan bukan hanya dalam bentuk pengelolaan lingkungan dalam bentuk reklamasi semata, tetapi dengan pemberian insentif kepada masyarakat di sekitar kawasan pasca tambang jika mereka bersedia melakukan penanaman kembali tanah kawasan di sekitar lokasi serta ikut ambil bagian. Pemberdayaan masyarakat juga efektif dengan melakukan pembinaan usaha mikro dan kecil dengan memberikan modal usaha. Pemberdayaan masyarakat sebaiknya dilakukan pada awal sejak saat penambangan batubara dimulai. Selama ini pemberdayaan masyarakat selalu
86 196 dianggap sebagai sisa hasil keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada masyarakat dalam bentuk-bentuk tertentu sebagai wujud coorporate social responsibility Disain Kebijakan Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara Analisis kebijakan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara dilakukan dengan pendekatan integrasi analisis restropektif dengan analisis prospektif. Analisis kebijakan restropektif dilakukan terhadap hasil pelaksanaan reklamasi dan pemenuhan aspek ekonomi dan sosial di masa lalu yakni dilakukan sepihak tanpa melalui pelibatan publik, dan dalam pelaksanaannya kurang pengawasan dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Analisis prospektif dilakukan untuk memberikan masukan terhadap kebijakan yang telah ditetapkan saat ini tentang kebijakan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara. Penilaian keberlanjutan dari sistem pengelolaan kawasan saat ini yang merupakan hasil pelaksanaan kebijakan di masa lalu, dilakukan dengan cara menghitung Indeks Keberlanjutan Kawasan Pasca Tambang Batubara melalui Appraisal Post Coal Mining Sustainable (APCMS) dengan menggunakan metode multidimensional scalling (MDS). Indikator yang digunakan mencakup tiga dimensi yaitu ekologi, ekonomi dan sosial. Ketiga dimensi tersebut secara simultan akan mempengaruhi keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara. Masing-masing dimensi tersebut memiliki atribut dan kriteria tersendiri yang mencerminkan pengaruh terhadap keberlanjutan masing-masing dimensi. Atribut serta kriteria yang digunakan ditentukan berdasarkan hasil kajian pustaka dan pendapat pakar dan pengisian kondisi kawasan pada setiap atribut dilakukan oleh stakeholder. Hasil analisis MDS adalah status keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara untuk setiap dimensi dan faktor-faktor pengungkit keberlanjutan pengelolaan kawasan. Faktor-faktor pengungkit ini kemudian dianalisis untuk menentukan faktor kunci keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara menggunakan metode analisis prospektif. Faktor kunci
87 197 hasil analisis prospektif ini akan memberikan pengaruh yang tinggi terhadap pencapaian tujuan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara. Dalam kerangka pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, kebutuhan yang didasarkan atas preferensi stakeholder dalam pengelolaan kawasan di masa mendatang perlu diperhatikan dalam penyusunan kebijakan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara. Analisis prospektif menggunakan metode yang merumuskan faktor-faktor pemenuhan kebutuhan stakeholder serta faktor dominan atau faktor kunci yang akan memberikan pengaruh besar terhadap pencapaian tujuan sistem pengelolaan kawasan pasca tambang batubara. Penggabungan antara faktor kunci keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara dengan faktor kunci pemenuhan kebutuhan stakeholder merupakan gambaran faktor kunci pengelolaan kawasan berdasarkan kondisi masa lalu dan kebutuhan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara di masa depan. Untuk menemukan faktor kunci utama pengelolaan kawasan pasca tambang batubara dalam rangka menentukan skenario pengelolaan kawasan dilakukan dengan analisis prospektif. Skenario ini merupakan gambaran alternatif kondisi masa depan dari setiap faktor kunci utama. Penyusunan skenario pengelolaan kawasan pasca tambang batubara melibatkan semua pihak terutama stakeholder utama dan pakar. Selanjutnya melakukan pembobotan terhadap setiap skenario sehingga diperoleh urutan prioritas skenario. Skenario optimal yang dihasilkan merupakan gambaran masa depan yang akan diwujudkan oleh sistem pengelolaan kawasan pasca tambang batubara. skenario terpilih kemudian disimulasikan untuk menilai prospek keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara di masa mendatang dengan kembali menggunakan analisis MDS. Hasil simulasi ini memberikan informasi bahwa faktor kunci yang diperoleh dapat memberikan kondisi keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara yang lebih baik. Intervensi yang dapat memberikan kinerja paling optimal dalam mencapai tujuan sistem merupakan rekomendasi arahan kebijakan yang dapat disarankan untuk diadopsi oleh semua pihak yang berkepentingan dalam sistem untuk diimplementasikan dengan memperhatikan kemampuan sumberdaya yang
88 198 dimiliki oleh sistem tersebut. Hasil ini merupakan masukan untuk pelaksanaan kebijakan yang saat ini telah ditetapkan yakni Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara. Secara skematis, disain kebijakan dan strategi pengelolaan kawasan pasca tambang batubara dapat dilihat pada Gambar 30. Kebijakan Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara Status Kebelanjutan Ekologi Ekonomi Sosial Prospektif Faktor Pengungkit Keberlanjutan Prospektif Faktor Pemenuhan Kebutuhan Stakeholder Faktor Kunci Utama 1. Erosi 2. Banjir 3. Pengelolaan SDA secara optimal 4. Peningkatan pendapatan masyarakat 5. Pemberdayaan masyarakat 6. Aktifitas perekonomian pasca tambang batubara Skenario Pengelolaan Saat Ini Moderat- optimistik Arahan Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara Gambar 30. Disain Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Tanah Tanah adalah kumpulan benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara,
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Sifat Fisik Tanah Sifat fisik tanah yang di analisis adalah tekstur tanah, bulk density, porositas, air tersedia, serta permeabilitas. Berikut adalah nilai masing-masing
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Penanaman rumput B. humidicola dilakukan di lahan pasca tambang semen milik PT. Indocement Tunggal Prakasa, Citeurep, Bogor. Luas petak yang digunakan untuk
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tanah Awal Seperti umumnya tanah-tanah bertekstur pasir, lahan bekas tambang pasir besi memiliki tingkat kesuburan yang rendah. Hasil analisis kimia pada tahap
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kopi merupakan tanaman yang dapat mudah tumbuh di Indonesia. Kopi
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Kopi Tanaman kopi merupakan tanaman yang dapat mudah tumbuh di Indonesia. Kopi merupakan tanaman dengan perakaran tunggang yang mulai berproduksi sekitar berumur 2 tahun
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
13 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil 5.1.1. Sifat Kimia Tanah Variabel kimia tanah yang diamati adalah ph, C-organik, N Total, P Bray, Kalium, Kalsium, Magnesium, dan KTK. Hasil analisis sifat kimia
I. TINJAUAN PUSTAKA. produk tanaman yang diinginkan pada lingkungan tempat tanah itu berada.
I. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesuburan Tanah Kesuburan tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tanaman yang diinginkan pada lingkungan tempat tanah itu berada. Produk tanaman tersebut dapat
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN
19 BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Sifat Fisik Tanah 5.1.1. Bobot Isi dan Porositas Total Penambahan bahan organik rumput signal pada lahan Kathryn belum menunjukkan pengaruh baik terhadap bobot isi (Tabel
IV. SIFAT - SIFAT KIMIA TANAH
IV. SIFAT - SIFAT KIMIA TANAH Komponen kimia tanah berperan terbesar dalam menentukan sifat dan ciri tanah umumnya dan kesuburan tanah pada khususnya. Bahan aktif dari tanah yang berperan dalam menjerap
BAB 3 KIMIA TANAH. Kompetensi Dasar: Menjelaskan komponen penyusun, sifat fisika dan sifat kimia di tanah
Kimia Tanah 23 BAB 3 KIMIA TANAH Kompetensi Dasar: Menjelaskan komponen penyusun, sifat fisika dan sifat kimia di tanah A. Sifat Fisik Tanah Tanah adalah suatu benda alami heterogen yang terdiri atas komponenkomponen
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
13 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian 5.1.1 Sifat Kimia Tanah Data sekunder hasil analisis kimia tanah yang diamati yaitu ph tanah, C-Org, N Total, P Bray, kation basa (Ca, Mg, K, Na), kapasitas
HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Analisis Tanah Awal Data hasil analisis tanah awal disajikan pada Tabel Lampiran 2. Berdasarkan Kriteria Penilaian Sifat Kimia dan Fisika Tanah PPT (1983) yang disajikan
HASIL DAN PEMBAHASAN
14 III. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Sifat Kimia dan Fisik Latosol Darmaga Sifat kimia dan fisik Latosol Darmaga yang digunakan dalam percobaan ini disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Sifat Kimia
SIFAT KIMIA TANAH LANJUTAN SIFAT KIMIA TANAH
SIFAT KIMIA TANAH LANJUTAN SIFAT KIMIA TANAH 4. Phosphor (P) Unsur Fosfor (P) dlm tanah berasal dari bahan organik, pupuk buatan & mineral 2 di dlm tanah. Fosfor paling mudah diserap oleh tanaman pd ph
Beberapa Sifat Kimia Tanah antara lain :
SIFAT KIMIA TANAH Beberapa Sifat Kimia Tanah antara lain : 1. Derajat Kemasaman Tanah (ph) Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai ph. Nilai ph menunjukkan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Sifat Fisik dan Kimia Tanah Inceptisol Indramayu Inceptisol Indramayu memiliki tekstur lempung liat berdebu dengan persentase pasir, debu, liat masing-masing 38%,
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis tanah lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1. Berbagai sifat kimia tanah yang dijumpai di lokasi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis tanah lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1. Berbagai sifat kimia tanah yang dijumpai di lokasi penelitian terlihat beragam, berikut diuraikan sifat kimia
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
15 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Paremeter pertumbuhan tanaman yang diukur dalam penelitian ini adalah pertambahan tinggi dinyatakan dalam satuan cm dan pertambahan diameter tanaman dinyatakan dalam satuan
BAB I. PENDAHULUAN A.
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang memiliki prospek pengembangan cukup cerah, Indonesia memiliki luas areal
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Data Hujan Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh dipermukaan tanah datar selama periode tertentu di atas permukaan horizontal bila tidak terjadi evaporasi, run off dan
II. TINJAUAN PUSTAKA. menunjang pertumbuhan suatu jenis tanaman pada lingkungan dengan faktor
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesuburan Tanah Kesuburan tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk menyediakan unsur hara, pada takaran dan kesetimbangan tertentu secara berkesinambung, untuk menunjang pertumbuhan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri Kimia dan Fisik Tanah Sebelum Perlakuan Berdasarkan kriteria penilaian ciri kimia tanah pada Tabel Lampiran 5. (PPT, 1983), Podsolik Jasinga merupakan tanah sangat masam dengan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik
14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik Sifat kimia dan fisik Latosol Darmaga dan komposisi kimia pupuk organik yang
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.1 Analisis Tanah Awal Karakteristik Latosol Cimulang yang digunakan dalam percobaan disajikan pada Tabel 2 dengan kriteria ditentukan menurut acuan Pusat Peneltian Tanah
HASIL DAN PEMBAHASAN
13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Kimia Abu Terbang PLTU Suralaya Abu terbang segar yang baru diambil dari ESP (Electrostatic Precipitator) memiliki karakteristik berbeda dibandingkan dengan
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Latosol (Oxic Distrudept) Darmaga Berdasarkan kriteria sifat kimia tanah menurut PPT (1983) (Lampiran 2), karakteristik Latosol (Oxic Distrudept) Darmaga (Tabel 2) termasuk
ANALISIS TANAH SEBAGAI INDIKATOR TINGKAT KESUBURAN LAHAN BUDIDAYA PERTANIAN DI KOTA SEMARANG
ANALISIS TANAH SEBAGAI INDIKATOR TINGKAT KESUBURAN LAHAN BUDIDAYA PERTANIAN DI KOTA SEMARANG Rossi Prabowo 1*,Renan Subantoro 1 1 Jurusan Agrobisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Wahid Hasyim Semarang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sifat Kimia Tanah 2.1.1 Reaksi Tanah (ph) Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai ph. Nilai ph menunjukkan banyaknya konsentrasi
1. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara di wilayah tropika basah yang sebagian besar
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan negara di wilayah tropika basah yang sebagian besar wilayahnya didominasi oleh tanah yang miskin akan unsur hara, salah satunya adalah
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Parameter pertumbuhan yang diamati pada penelitian ini adalah diameter batang setinggi dada ( DBH), tinggi total, tinggi bebas cabang (TBC), dan diameter tajuk.
Lampiran 1. Nama unsur hara dan konsentrasinya di dalam jaringan tumbuhan (Hamim 2007)
Lampiran 1. Nama unsur hara dan konsentrasinya di dalam jaringan tumbuhan (Hamim 2007) Unsur Hara Lambang Bentuk tersedia Diperoleh dari udara dan air Hidrogen H H 2 O 5 Karbon C CO 2 45 Oksigen O O 2
TINJAUAN PUSTAKA. Survei dan Pemetaan Tanah. memetakan tanah dengan mengelompokan tanah-tanah yang sama kedalam satu
TINJAUAN PUSTAKA Survei dan Pemetaan Tanah Tujuan survey dan pemetaan tanah adalah mengklasifikasikan dan memetakan tanah dengan mengelompokan tanah-tanah yang sama kedalam satu satuan peta tanah yang
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kesuburan Tanah
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kesuburan Tanah Kesuburan tanah adalah kualitas tanah dalam hal kemampuannya untuk menyediakan unsur hara yang cocok dalam jumlah yang cukup serta dalam keseimbangan yang tepat
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Karakteristik Tanah Awal Podsolik Jasinga Hasil analisis kimia dan fisik Podsolik Jasinga disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan kriteria PPT (1983), Podsolik Jasinga
TINJAUAN PUSTAKA. basa berlangsung intensif, sedangkan kandungan bahan organik rendah karena
17 TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Ultisol Kandungan hara pada tanah Ultisol umumnya rendah karena pencucian basa berlangsung intensif, sedangkan kandungan bahan organik rendah karena proses dekomposisi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
21 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Bahan Humat dengan Carrier Zeolit terhadap Sifat Kimia Tanah Sifat kimia tanah biasanya dijadikan sebagai penciri kesuburan tanah. Tanah yang subur mampu menyediakan
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
11 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 2 lokasi penelitian yang digunakan yaitu Harapan dan Inalahi yang terbagi menjadi 4 plot pengamatan terdapat 4 jenis tanaman
MATERI-9. Unsur Hara Mikro: Kation & Anion
MATERI-9 Unsur Hara Mikro: Kation & Anion Unsur Hara Mikro: Kation & Anion Pengelolaan tanaman secara intensif, disadari atau tidak, dapat menjadi penyebab munculnya kekurangan ataupun keracunan unsur
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Eksisting Fisiografi Wilayah Studi
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Eksisting Fisiografi Wilayah Studi Desa Panapalan, Kecamatan Tengah Ilir terdiri dari 5 desa dengan luas 221,44 Km 2 dengan berbagai ketinggian yang berbeda dan di desa
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Tanah Hasil analisis contoh tanah pada lokasi percobaan dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan hasil analisis tanah pada lokasi percobaan, tingkat kemasaman tanah termasuk
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Awal Lahan Bekas Tambang Lahan bekas tambang pasir besi berada di sepanjang pantai selatan desa Ketawangrejo, Kabupaten Purworejo. Timbunan-timbunan pasir yang
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Pemberian dan Terhadap Sifat sifat Kimia Tanah Penelitian ini mengevaluasi pengaruh pemberian amelioran bahan humat dan abu terbang terhadap kandungan hara tanah
DASAR ILMU TA AH Ba B b 5 : : S i S fa f t t K i K mia T a T nah
DASAR ILMU TA AH Bab 5: Sifat Kimia Tanah ph tanah Pertukaran Ion Kejenuhan Basa Sifat Kimia Tanah Hampir semua sifat kimia tanah terkait dengan koloid tanah Koloid Tanah Partikel mineral atau organik
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Hasil Analisis Tanah yang digunakan dalam Penelitian Hasil analisis karakteristik tanah yang digunakan dalam percobaan disajikan pada Tabel 5. Dari hasil analisis
TINJAUAN PUSTAKA. legend of soil yang disusun oleh FAO, ultisol mencakup sebagian tanah Laterik
TINJAUAN PUSTAKA Ultisol Ultisol adalah tanah mineral yang berada pada daerah temprate sampai tropika, mempunyai horison argilik atau kandik dengan lapisan liat tebal. Dalam legend of soil yang disusun
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sifat Fisik dan Kimia Tanah Berdasarkan hasil analisis fisika dan kimia tempat pelaksanaan penelitian di Desa Dutohe Kecamatan Kabila. pada lapisan olah dengan kedalaman
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kedelai termasuk family leguminosae yang banyak varietasnya.
7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Kedelai (Glycine max L. Merr) Tanaman kedelai termasuk family leguminosae yang banyak varietasnya. Susunan morfologi kedelai terdiri dari akar, batang, daun, bunga dan
TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme :
TANAH Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah Hubungan tanah dan organisme : Bagian atas lapisan kerak bumi yang mengalami penghawaan dan dipengaruhi oleh tumbuhan
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Penelitian pembuatan pupuk organik cair ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Limbah Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Secara
TINJAUAN PUSTAKA. Sekilas Tentang Tanah Andisol. lapisan organik dengan sifat-sifat tanah andik, mana saja yang lebih
TINJAUAN PUSTAKA Sekilas Tentang Tanah Andisol Andisol merupakan tanah yang mempunyai sifat tanah andik pada 60% atau lebih dari ketebalannya, sebagaimana menurut Soil Survey Staff (2010) : 1. Didalam
DASAR ILMU TANAH. Bab 5: Sifat Kimia Tanah
DASAR ILMU TANAH Bab 5: Sifat Kimia Tanah ph tanah Pertukaran Ion Kejenuhan Basa Sifat Kimia Tanah Hampir semua sifat kimia tanah terkait dengan koloid tanah Koloid Tanah Partikel mineral atau organik
HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat Fisikokimia Tanah Percobaan dan Sifat Kimia Kotoran Sapi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sifat Fisikokimia Tanah Percobaan dan Sifat Kimia Kotoran Sapi 4.1.1. Kakteristik Ultisol Gunung Sindur Hasil analisis pendahuluan sifat-sifat kimia tanah disajikan pada tabel.1.
TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. dari 190 juta hektar luas daratan Indonesia. Kelemahan- kelemahan yang terdapat pada
TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanah Ultisol Ultisol di Indonesia cukup luas yaitu sekitar 38,4 juta hektar atau sekitar 29,7% dari 190 juta hektar luas daratan Indonesia. Kelemahan- kelemahan yang terdapat
TINJAUN PUSTAKA. Sifat sifat Kimia Tanah. tekstur tanah, kepadatan tanah,dan lain-lain. Sifat kimia tanah mengacu pada sifat
TINJAUN PUSTAKA Sifat sifat Kimia Tanah Tanah memiliki sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologi. Sifat fisik dan biologi tanah dapat dilihat secara kasat mata dan diteliti dengan warna tanah, tekstur
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Tanah adalah hasil pengalihragaman bahan mineral dan organik yang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Tanah Tanah adalah hasil pengalihragaman bahan mineral dan organik yang berlangsung dimuka daratan bumi dibawah pengaruh faktor-faktor lingkungan yang bekerja selama
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sifat Fisik Tanah Sifat fisik tanah yang diukur dan dianalisa dari kawasan penambangan pasir (galian C) selain tekstur dan struktur tanahnya antara lain adalah kerapatan limbak
TINJAUAN PUSTAKA. Survei dan Pemetaan Tanah. Pemetaan adalah proses pengukuran, perhitungan dan penggambaran
TINJAUAN PUSTAKA Survei dan Pemetaan Tanah Survei tanah adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk dapat membedakan tanah satu dengan yang lain yang kemudian disajikan dalam suatu peta (Tamtomo,
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut
20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Awal Tanah Gambut Hasil analisis tanah gambut sebelum percobaan disajikan pada Tabel Lampiran 1. Hasil analisis didapatkan bahwa tanah gambut dalam dari Kumpeh
I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L.] Merrill.) merupakan salah satu komoditas tanaman
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kedelai (Glycine max [L.] Merrill.) merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang penting dalam peningkatan gizi masyarakat Indonesia. Hal tersebut didasarkan
TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang
TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanah Ultisol Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang tersebar luas di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya serta sebagian kecil di pulau
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Karakteristik Tanah di Lahan Percobaan Berdasarkan kriteria Staf Pusat Penelitian Tanah (1983), karakteristik Latosol Dramaga yang digunakan dalam percobaan disajikan
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan berkelanjutan hakekatnya merupakan usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dari generasi ke generasi. Sudah sejak lama, komitmen pertambangan
PENDAHULUAN. Latar Belakang. (Subagyo, dkk, 2000). Namun demikian, tanah Ultisol ini memiliki kandungan
PENDAHULUAN Latar Belakang Tanah Ultisol termasuk bagian terluas dari lahan kering yang ada di Indonesia yaitu 45.794.000 ha atau sekitar 25 % dari total luas daratan Indonesia (Subagyo, dkk, 2000). Namun
I. PENDAHULUAN. terpenting setelah padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting setelah padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan,
MATERI-10 Evaluasi Kesuburan Tanah
MATERI-10 Evaluasi Kesuburan Tanah Kondisi Tanah Mengalami Masalah Unsur Hara Kondisi Tanah Mengalami Masalah Unsur Hara Nitrogen: Dijumpai pada semua jenis tanah, terutama bertekstur kasar dan berkadar
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Tutupan Lahan dan Vegetasi Terdapat 6 jenis tutupan lahan yang digunakan dalam penelitian ini seperti yang ada dalam Tabel 4. Arsyad (2010) mengelompokkan penggunaan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Karakteristik Latosol Cikabayan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Bahan tanah yang digunakan dalam percobaan pupuk organik granul yang dilaksanakan di rumah kaca University Farm IPB di Cikabayan, diambil
Pengaruh ph tanah terhadap pertumbuhan tanaman
Pengaruh ph tanah terhadap pertumbuhan tanaman 1. Menentukan mudah tidaknya ion-ion unsur hara diserap oleh tanaman. Pada umumnya unsur hara akan mudah diserap tanaman pada ph 6-7, karena pada ph tersebut
II. TINJAUAN PUSTAKA. Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sifat dan Ciri Tanah Ultisol Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran luas, mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio:
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio: Spermatophyta; Sub divisio: Angiospermae; Kelas : Dikotyledonae;
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Siklus dan Neraca Nitrogen (N) Menurut Hanafiah (2005 :275) menjelaskan bahwa siklus N dimulai dari fiksasi N 2 -atmosfir secara fisik/kimiawi yang meyuplai tanah bersama
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisasi awal blotong dan sludge pada penelitian pendahuluan menghasilkan komponen yang dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Karakteristik blotong dan sludge yang digunakan
4. Jenis pupuk. Out line. 1. Definisi pupuk 2. Nutrien pada tanaman dan implikasinya 3. Proses penyerapan unsur hara pada tanaman
PUPUK Out line 1. Definisi pupuk 2. Nutrien pada tanaman dan implikasinya 3. Proses penyerapan unsur hara pada tanaman 4. Jenis pupuk 5. Proses pembuatan pupuk 6. Efek penggunaan pupuk dan lingkungan Definisi
MATERI-7. UNSUR HARA MAKRO: KALIUM (K)
MATERI-7. UNSUR HARA MAKRO: KALIUM (K) MATERI-7 Unsur Hara Makro: Kalium (K) Unsur Hara Makro: Kalium (K) Kalium tanah yg cukup syarat ketegaran & vigur tnm, karena K meningkatkan ketahanan tnm thd penyakit,
HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN
HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN FUNGSI AIR Penyusun tubuh tanaman (70%-90%) Pelarut dan medium reaksi biokimia Medium transpor senyawa Memberikan turgor bagi sel (penting untuk pembelahan
V1 (II) V3 (II) V5(III) V0(IV) V4(III) V2 (I)
Lampiran 1. Bagan Percobaan U V4(IV) V5 (II) V1 (II) V3(III) V2 (II) V3 (I) V3 (II) V4 (I) V1(IV) V2(III) V5(III) V0 (II) V0 (I) V4 (II) V0(IV) V2(IV) V5 (I) V1(III) V4(III) V5(IV) V3(IV) V0(III) V2 (I)
DASAR-DASAR ILMU TANAH
DASAR-DASAR ILMU TANAH OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2011 SIFAT KIMIA TANAH IV. SIFAT KIMIA TANAH 5.1 Koloid Tanah Koloid tanah adalah partikel atau zarah tanah
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Eksisting Fisiografi Wilayah Studi. wilayahnya. Iklim yang ada di Kecamatan Anak Tuha secara umum adalah iklim
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Eksisting Fisiografi Wilayah Studi Kecamatan Anak Tuha, Kabupaten Lampung Tengah terdiri dari 12 desa dengan luas ± 161,64 km2 dengan kemiringan kurang dari 15% di setiap
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanah marginal merupakan tanah yang potensial untuk pertanian. Secara alami
8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanah Ultisol dan Permasalahan Kesuburannya Tanah marginal merupakan tanah yang potensial untuk pertanian. Secara alami kesuburan tanah marginal tergolong rendah. Hal ini ditunjukan
DASAR-DASAR ILMU TANAH
DASAR-DASAR ILMU TANAH OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2009 SIFAT KIMIA TANAH IV. SIFAT KIMIA TANAH 5.1 Koloid Tanah Koloid tanah adalah partikel atau zarah tanah
PENDAHULUAN. Latar Belakang. Jagung manis atau lebih dikenal dengan nama sweet corn (Zea mays
PENDAHULUAN Latar Belakang Jagung manis atau lebih dikenal dengan nama sweet corn (Zea mays saccharata Sturt) merupakan tanaman pangan yang memiliki masa produksi yang relatif lebih cepat, bernilai ekonomis
Latar Belakang. Kalium merupakan salah satu hara makro setelah N dan P yang diserap
I. PENDAHULUAN Latar Belakang Kalium merupakan salah satu hara makro setelah N dan P yang diserap tanaman dalam jumlah banyak. Pada tanaman jagung hara Kdiserap lebih banyak daripada hara N dan P. Lei
TINJAUAN PUSTAKA. kalium dari kerak bumi diperkirakan lebih dari 3,11% K 2 O, sedangkan air laut
29 TINJAUAN PUSTAKA Sumber-Sumber K Tanah Sumber hara kalium di dalam tanah adalah berasal dari kerak bumi. Kadar kalium dari kerak bumi diperkirakan lebih dari 3,11% K 2 O, sedangkan air laut mengandung
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sifat Kimia Hasil analisis sifat kimia tanah sebelum diberi perlakuan dapat dilihat pada lampiran 2. Penilaian terhadap sifat kimia tanah yang mengacu pada kriteria Penilaian
, NO 3-, SO 4, CO 2 dan H +, yang digunakan oleh
TINJAUAN PUSTAKA Penggenangan Tanah Penggenangan lahan kering dalam rangka pengembangan tanah sawah akan menyebabkan serangkaian perubahan kimia dan elektrokimia yang mempengaruhi kapasitas tanah dalam
PENDAHULUAN. Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Di Sumatra Utara areal pertanaman jagung sebagian besar di tanah Inceptisol yang tersebar luas dan berdasarkan data dari Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Sumatera Utara
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Ultisol
18 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Ultisol Ultisol merupakan tanah-tanah yang mempunyai horizon argilik atau kandik dengan nilai kejenuhan basa rendah. Kejenuhan basa (jumlah kation basa) pada
Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 08: Sifat Kimia (1): ph, KTK, KB
Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 08: Sifat Kimia (1): ph, KTK, KB ph tanah ph tanah ph tanah sifat kimia tanah yang amat penting (sifat fisik yang amat penting adalah tekstur
TINJAUAN PUSTAKA. yang baik yaitu : sebagai tempat unsur hara, harus dapat memegang air yang
TINJAUAN PUSTAKA Kompos Kulit Buah Kakao Ada empat fungsi media tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang baik yaitu : sebagai tempat unsur hara, harus dapat memegang air yang tersedia bagi tanaman,
HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Terak Baja terhadap Sifat Kimia Tanah
15 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Terak Baja terhadap Sifat Kimia Tanah Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian terak baja berpengaruh nyata terhadap peningkatan ph tanah (Tabel Lampiran
PENGANTAR ILMU PERTANIAN PERTEMUAN KE-8 SUMBERDAYA LAHAN
PENGANTAR ILMU PERTANIAN PERTEMUAN KE-8 SUMBERDAYA LAHAN Dr. Ir. Teguh Kismantoroadji, M.Si. Dr. Ir. Budiarto, MP. Program Studi Agribisnis UPN Veteran Yogyakarta 1 TANAH PERTANIAN Pertanian berasal dari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pupuk Pupuk didefinisikan sebagai material yang ditambahkan ke tanah dengan tujuan untuk melengkapi ketersediaan unsur hara. Bahan pupuk yang paling awal digunakan adalah kotoran
TINJAUAN PUSTAKA. Batuan adalah material alam yang tersusun atas kumpulan (agregat)
TINJAUAN PUSTAKA Batuan sebagai Penyedia Hara Batuan adalah material alam yang tersusun atas kumpulan (agregat) mineral baik yang terkonsolidasi maupun yang tidak terkonsolidasi yang merupakan penyusun
BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah sebagai sumber daya alam sangat penting dalam meyediakan sebahagian besar kebutuhan hidup manusia, terutama pangan. Pada saat ini kebutuhan akan pangan tidak
BAB I. PENDAHULUAN. Tanaman penutup tanah atau yang biasa disebut LCC (Legume Cover
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman penutup tanah atau yang biasa disebut LCC (Legume Cover Crop) merupakan jenis tanaman kacang-kacangan yang biasanya digunakan untuk memperbaiki sifat fisik,
I. PENDAHULUAN. Radish (Raphanus sativus L) merupakan salah satu tanaman perdu semusim yang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Radish (Raphanus sativus L) merupakan salah satu tanaman perdu semusim yang berumbi. Dibandingkan dengan sayuran berumbi yang lain, misalnya wortel (Daucus
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik dan Geofisik Wilayah. genetik tanaman juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang berupa nutrisi
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik dan Geofisik Wilayah Pertumbuhan dan perkembangan tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor selain dari faktor internal dari tanaman itu sendiri yaitu berupa hormon
VII. KEHARAAN DAN PEMUPUKAN
VII. KEHARAAN DAN PEMUPUKAN Ubi kayu menghasilkan biomas yang tinggi sehingga unsur hara yang diserap juga tinggi. Jumlah hara yang diserap untuk setiap ton umbi adalah 4,2 6,5 kg N, 1,6 4,1 kg 0 5 dan
I. PENDAHULUAN. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita akibat
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kebutuhan bahan pangan terutama beras akan terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita akibat peningkatan
TINJAUAN PUSTAKA. Ultisol merupakan tanah yang bertekstur relatif berat, berwarna merah
TINJAUAN PUSTAKA Ultisol Ultisol merupakan tanah yang bertekstur relatif berat, berwarna merah atau kuning dengan struktur gumpal mempunyai agregat yang kurang stabil dan permeabilitas rendah. Tanah ini
