5 HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

8 AKTIVITAS YANG DAPAT DITAWARKAN PPI JAYANTI PADA SUBSEKTOR WISATA BAHARI

Lampiran 1 Perhitungan bobot faktor internal pengembangan PPI Pangandaran di lokasi baru

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

6 BESARAN KERUGIAN NELAYAN DALAM PEMASARAN TANPA LELANG

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki sektor pertanian yang terus dituntut berperan dalam

6 KINERJA OPERASIONAL PPN PALABUHANRATU

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4 KEADAAN UMUM. 4.1 Letak dan Kondisi Geografis

BAB I PENDAHULUAN. dengan daerah lainnya berbeda sesuai dengan taraf kemampuan penduduk dan

V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru

VI. KARAKTERISTIK PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP. Rumahtangga nelayan merupakan salah satu potensi sumberdaya yang

BAB 2 KONDISI GEOGRAFIS DAERAH PENELITIAN DAN INFORMASI MENGENAI MASYARAKAT PESISIR DI PPP CILAUTEUREUN

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan Pengertian, klasifikasi dan fungsi pelabuhan perikanan

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Pelabuhan Perikanan 2.2 Fungsi dan Peran Pelabuhan Perikanan

4. GAMBARAN UMUM WILAYAH

5 KONDISI AKTUAL PENDARATAN DAN PENDISTRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN DI PPI MUARA ANGKE

Berkala Perikanan Terubuk, Februari 2013, hlm ISSN

5 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

6 AKTIVITAS PENDARATAN DAN PEMASARAN HASIL TANGKAPAN DI PANGKALAN-PANGKALAN PENDARATAN IKAN KABUPATEN CIAMIS

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki potensi sumber daya alam

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

METODE PENELITIAN. satu daerah yang memiliki jumlah kelompok nelayan terbanyak. Dari data

5 TINGKAT KEBUTUHAN ES UNTUK KEPERLUAN PENANGKAPAN IKAN DI PPS CILACAP

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

5 KONDISI PERIKANAN TANGKAP KABUPATEN CIANJUR

5 KEADAAN PERIKANAN TANGKAP KECAMATAN MUNDU KABUPATEN CIREBON

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5 KETERLIBATAN TENGKULAK DALAM PENYEDIAAN MODAL NELAYAN

7 SOLUSI KEBIJAKAN YANG DITERAPKAN PEMERINTAH TERKAIT SISTEM BAGI HASIL NELAYAN DAN PELELANGAN

5 KONDISI AKTUAL PPI DI PANGANDARAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Propinsi Sumatera Utara yang terdiri dari daerah perairan yang mengandung

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Perikanan Tangkap

BAB III GAMBARAN WILAYAH PENELITIAN. A. Kelurahan Proyonanggan Utara Batang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI

Lampiran 1. Kuisioner Penelitian KUESIONER

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN/M/2006 TENTANG

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

5 KONDISI PANGKALAN PENDARATAN IKAN PANGANDARAN

4. KEADAAN UMUM 4.1 Kedaan Umum Kabupaten Banyuwangi Kedaan geografis, topografi daerah dan penduduk 1) Letak dan luas

5 HASIL TANGKAPAN DIDARATKAN DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PALABUHANRATU

7 PEMBAHASAN 7.1 Pemilihan Teknologi Perikanan Pelagis di Kabupaten Banyuasin Analisis aspek biologi

BAB I PENDAHULUAN. Menurut pernyataan Menteri Kelautan dan Perikanan RI (nomor kep.

I. PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara maritim dan kepulauan yang didalamnya. pembangunan perikanan. Namun kenyataannya, sebagian besar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB III DESKRIPSI AREA

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan Nusantara 2.2 Kegiatan Operasional di Pelabuhan Perikanan

BAB I PENDAHULUAN. perembesan air asin. Kearah laut wilayah pesisir, mencakup bagian laut yang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. PENGERTIAN Pelabuhan Perikanan. Pengertian pelabuhan perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

4.2 Keadaan Umum Perikanan Tangkap Kabupaten Lamongan

BAB I PENDAHULUAN. terhadap sektor perikanan dan kelautan terus ditingkatkan, karena sektor

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PERIKANAN LAUT KABUPATEN KENDAL. Feasibility Study to Fisheries Bussiness in District of Kendal

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan prasarana perikanan yang berupa Pelabuhan Perikanan (PP)

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia juga merupakan salah satu negara yang dilalui garis Khatulistiwa,

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kecamatan Teluk Betung Selatan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Dari hasil penelitian maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi dan Kriteria Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) 2.2 Fungsi dan Peranan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI)

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Pelabuhan Perikanan

VII. PENGELOAAN SUMBERDAYA IKAN DI PERAIRAN PELABUHANRATU Analisis Stakeholder dalam Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Di Pelabuhanratu

PERSEN TASE (%) Dinas Kelautan dan Perikanan ,81 JUMLAH ,81

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM. 4.1Keadaan umum Kabupaten Sukabumi

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

PRODUKSI PERIKANAN 1. Produksi Perikanan Tangkap No. Kecamatan Produksi (Ton) Ket. Jumlah 12,154.14

BAB I PENDAHULUAN. besar dan dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu mereka yang bertempat tinggal

BAB I PENDAHULUAN. Trilogi pembangunan yang salah satunya berbunyi pemerataan pembangunan

BAB II DESKRIPSI (OBJEK PENELITIAN)

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan 2.2 Komoditas Hasil Tangkapan Unggulan

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

ARAHAN LOKASI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN TEMPAT PELELANGAN IKAN DI KAWASAN PESISIR UTARA KABUPATEN SIKKA NUSA TENGGARA TIMUR TUGAS AKHIR

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

B A B I V U r u s a n P i l i h a n K e l a u t a n d a n P e r i k a n a n URUSAN PILIHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

36 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pengaruh Keberadaan PPI Terhadap Sosial dan Ekonomi Masyarakat Pelabuhan perikanan mempunyai fungsi mendukung kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan, sampai dengan pemasaran. Dengan adanya pelabuhan perikanan di suatu daerah dapat memberikan pengaruh bagi masyarakat sekitar dari segi sosial maupun ekonomi. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di Pangandaran merupakan salah satu pelabuhan perikanan tipe D. Berdasarkan klasifikasinya Pangkalan Pendaratan Ikan memilki fungsi yang sama dengan pelabuhan perikanan tipe A (Samudera), tipe B (Nusantara), dan tipe C (pantai). Kelengkapan sarana pelabuhan merupakan salah satu faktor penentu kinerja pelabuhan tersebut baik atau tidak dan dapat berpengaruh terhadap kondisi masyarakat sekitar. Sebuah pelabuhan yang memenuhi syarat untuk tingkat PPI yaitu mempunyai fasilitas pokok, penunjang dan fungsional. Dengan adanya fasilitas-fasilitas tersebut dapat mempermudah bagi pelaku kegiatan perikanan dalam melakukan aktivitas disuatu pelabuhan perikanan. Fungsi pelabuhan perikanan memiliki banyak fungsi bagi pelaku kegiatan perikanan diantaranya adalah Pelayanan tambat dan labuh kapal perikanan dan kapal pengawas perikanan, pelayanan bongkar muat, pelaksanaan pembinaan mutu dan pengolahan hasil perikanan, pemasaran dan distribusi ikan, serta pengumpulan data tangkapan dan hasil perikanan, pelaksanaan penyuluhan dan pengembangan masyarakat nelayan. Berdasarkan hasil pengamatan di PPI Pangandaran, sampai saat ini Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Pangandaran belum memiliki fasilitas pokok, penunjang dan fungsional. Adapun fasilitas yang disediakan berdasarkan hasil pengamatan di lapangan terdiri dari kantor PPI Pangandaran yang berlokasi kurang lebih 3 Km dari TPI Pangandaran, tempat pendaratan ikan disekitar wilayah teluk Pananjung, tempat pelelangan ikan, dan KUD Minasari.

37 5.1.1 Aspek sosial Pelabuhan Perikanan merupakan tempat aktivitas bagi pelaku kegiatan perikanan. Pelabuhan Perikanan memiliki peranan yang berfungsi untuk membantu meringankan para pelaku kegiatan perikanan seperti tersediannya fasilitas pokok dan fasilitas fungsional sehingga terdapat aspek sosial dalam pemanfaatan pelabuhan perikanan. Aspek sosial dalam pemanfaatan pelabuhan perikanan di dalamnya mencakup: 1) Demografi (Kependudukan) Keberadaan pelabuhan perikanan menjadi daya tarik ekonomi sehingga banyak orang mendekatinya sehingga menyebabkan terjadinya mobilitas penduduk (Nelayan, Pedagang, Pengolah dll). Berdasarkan hasil pengamatan, penduduk di Pangadaran sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Kondisi lokasi Pangandaran sebagai pusat pariwisata membuat perkembangan penduduk di Pangandaran semakin meningkat. Hal ini ditunjukan berdasarkan grafik dari pertumbuhan penduduk masyarakat nelayan (Gambar 9). 5,500 Jumlah 5,000 4,500 4,000 4,619 4,619 4,860 4,860 4,504 3,500 3,826 3,000 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Tahun Perkembangan jumlah nelayan Gambar 9 Grafik perkembangan jumlah nelayan di Pangandaran Dari grafik diatas terlihat bahwa, pada tahun 2006 sampai dengan 2009 terdapat peningkatan jumlah nelayan di daerah Pangandaran, akan tetapi pada tahun 2010 terdapat penurunan jumlah nelayan dan tahun 2011 meningkat kembali. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat peluang yang besar dalam jumlah kependudukan masyarakat nelayan di Pangandaran akibat adanya pelabuhan perikanan.

38 2) Mata pencaharian Keberadaan Pelabuhan Perikanan dapat menjadi tempat bekerja masyarakat terutama penduduk lokal dan sekitarnya dengan berbagai jenis pekerjaan misalnya nelayan, bakul ikan, pedagang warung dll. Mata pencaharian penduduk di Pangandaran tidak dipengaruhi oleh keberadaan pelabuhan perikanan, hal ini dikarenakan fasilitas pelabuhan perikanan yang diberikan hanya TPI dan kondisi wilayah Pangandaran sebagai pusat pariwisata di Kabupaten Ciamis yang membuat masyarakat sekitar membuat usaha dalam memberikan pelayanan jasa yaitu membuka kios-kios di pinggiran pantai, sewa perahu dan sebagian masyarakat menjadi pemandu wisata. 3) Menciptakan lapangan kerja Keberadaan Pelabuhan Perikanan dapat membuka lapangan kerja berupa kesempatan usaha dan kerja masyarakat terutama penduduk lokal dan sekitarnya serta pendatang sehingga dapat mengatasi pengangguran. Berdasarkan hasil wawancara yang didapat, masyarakat Pangandaran khususnya nelayan, pedagang ikan, dan pengolah ikan mendapatkan pekerjaan tanpa adanya pengaruh dari keberadaan pelabuhan perikanan. Masyarakat tersebut mendapatkan pekerjaan berdasarkan keberadaan lokasi Pangandaran sebagai pusat pariwisata yang memberikan keuntungan tersendiri dalam mendapatkan penghasilan tambahan dari luar sektor perikanan. 4) Kelembagaan Kelembagaan merupakan pola hubungan antar individu atau kelompok masyarakat baik hubungan formal maupun non formal. Dalam pemanfaatan pelabuhan perikanan yang termasuk hubungan formal yaitu kelembagaan sosial yang ada di PPI Pangandaran yang terdiri dari Koperasi unit desa (KUD Mina Sari), Rukun Nelayan, dan HPAP (Himpunan Pedagang Asin Pangandaran), akan tetapi kelembagaan sosial di Pangandaran tidak dimanfaatkan secara maksimal dikarenakan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga sosial tersebut masih kurang dan lebih banyak melakukan sendiri tanpa adanya ikatan (Mandiri), sedangkan untuk hubungan secara informal terlihat dari hubungan antara nelayan dengan pemiliki modal, dimana para pemilik modal di Pangandaran kebanyakan juga adalah pedagang ikan

39 sehingga ketika nelayan mendaratkan hasil tangkapan nelayan akan lebih mengutamakan menjual kepada pemilik modal. Fasilitas pokok di suatu pelabuhan merupakan hal terpenting dalam kegiatan perikanan. Fungsi dari adanya fasilitas pokok diantaranya adalah tempat tambat labuh armada penangkapan ikan dan tempat terjadinya bongkar muat hasil penangkapan ikan. Keberadaan pelabuhan perikanan disuatu daerah semestinya memberikan pengaruh bagi masyarakat sekitar khususnya adalah bagi nelayan, pedagang dan pengolah ikan baik dari segi ekonomi sosial maupun budaya. Hasil pengamatan diperoleh keberadan pelabuhan dilihat dari fasilitas pokok yang berada di Pangandaran seperti darmaga, alat bantu navigasi dan pemecah gelombang serta fasilitas lainnya masih dalam pembangunan diantaranya kolam pelabuhan dan darmaga. Tabel 5 Penggunaan fasilitas pelabuhan oleh masyarakat nelayan Berdasarkan penelitian Fasilitas pelabuhan Ya/tidak Alasan Kesimpulan dipergunakan Kolam pelabuhan ya Menggunakan Teluk Berpengaruh negatif Pananjung sebagai kolam Pelabuhan TPI ya Jumlah hasil tangkapan Berpengaruh positif Dermaga Tidak Tidak ada dermaga Berpengaruh negatif Pasar ikan ya Mempermudah Berpengaruh positif penjualan Gedung pengelola Tidak Lokasi yang jauh dengan pemukiman masyarakat Berpengaruh negatif Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa tingkat penggunaan fasilitas pelabuhan perikanan di Pangandaran memiliki tingkat pengaruh negatif terhadap masyarakat nelayan karena fasilitas yang diberikan belum tersedial. Adapun penjelasan masing-masing tingkat penggunaan fasilitas pelabuhan sebagai berikut : 1) Kolam pelabuhan Kolam pelabuhan merupakan daerah perairan pelabuhan untuk masuk keluarnya kapal ke dermaga. Kolam pelabuhan di Pangandaran berada di lokasi Teluk Pananjung sehingga mengakibatkan para nelayan mendaratkan hasil tangkapan dari tengah laut ke tepi pantai dan menyandarkan perahu mereka di kawasan cagar alam Pangandaran yang sangat rentan terkena arus gelombang. Pengaruh dari pengunaan fasilitas dan tidak menggunakan fasilitas pelabuhan

40 Pangandaran akan mempengaruhi kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat Pangandaran. Tabel 6 Parameter pengaruh keberadaan kolam pelabuhan Fasilitas Pelabuhan Kolam Pelabuhan Indikator Adanya kegiatan pendaratan ikan dan tempat tambat labuh kapal perikanan Berdasarkan penelitian Ya/Tidak Alasan Ya dipergunakannya Teluk Pananjung sebagai kolam pelabuhan Untuk mendaratkan hasil tangkapan, tambat labuh kapal. Kesimpulan Penggunaan kolam pelabuhan perikanan di Teluk Pananjung mempengaruhi kondisi masyarakat Berdasarkan tabel diatas menunjukan dipergunakannya Teluk Pananjung sebagai kolam pelabuhan perikanan dapat mempengaruhi kondisi masyarakat dari segi sosial, ekonomi dan budaya. Diantaranya adalah sebagai berikut : (1) Keselamatan nelayan dalam proses pendaratan ikan sangat dipertaruhkan, (2) Turunya produksi hasil perikanan, (3) Mengganggu kawasan konservasi karena disekitar cagar alam, (4) Tempat bertukarnya informasi daerah penagkapan ikan, 2) Tempat pelelangan ikan Tempat pelelangan ikan merupakan tempat melelangkan hasil tangkapan dimana ada tawar menawar antar nelayan dengan pedagang atau pengolah ikan dalam menjual hasil tangkapan. Peran pihak pelabuhan sebagai pihak penengah dalam proses pelelangan terjadi. Hasil penjualan tersebut akan dikenakan retribusi untuk tabungan musim paceklik 5%, masing-masing 2% dari nelayan dan 3% dari pedagang atau pengolah ikan. Berdasarkan hasil pengamatan tempat pelelangan ikan di Pangandaran baru dioperasikan kembali sekitar 3 bulan yang lalu. Tabel 7 Parameter pengaruh keberadaan TPI Fasilitas Pelabuhan Tempat pelelangan ikan Indikator Pelelangan beraktifitas setiap hari, adanya retribusi lelang, dan produksi hasil tangkapan Berdasarkan penelitian Ya/Tidak Alasan Ya dipergunakan Harga dari hasil tangkapan lebih terjamin, adanya tabungan musim paceklik dan tergantung jumlah hasil tangkapan Kesimpulan Mempengaruhi kondisi masyarakat Pengaruh keberadaan TPI ini sangat mempengaruhi kondisi masyarakat dari segi sosial, ekonomi dan budaya. Diantaranya sebagai berikut : (1) Pendapatan nelayan meningkat karena penjualan hasil tangkapan lebih terjamin, (2) Perolehan hasil tangkapan lebih mudah bagi pedagang dan pengolah ikan, (3) Jika hasil tangkapan melimpah nelayan menjual hasil tangkapan ke TPI,

41 (4) Jika hasil tangkapan sedikit nelayan tidak menjual ke TPI, 3) Dermaga Dermaga merupakan tempat tambat dan labuhnya kapal, bongkar muat hasil tangkapan ikan dan tempat pengisian perbekalan untuk keperluan penagkapan ikan. Hasil pengamatan dermaga pelabuhan di Pangandaran masih dalam pembangunan. Hal ini dapat berpengaruh terhadap kondisi masyarakat pesisir dari segi sosial dan ekonomi. Tabel 8 Parameter pengaruh keberadaan darmaga Fasilitas Pelabuhan Dermaga Indikator Adanya kegiatan bongkat muat, tambat labuh kapal, Berdasarkan penelitian Ya/Tidak Alasan Tidak dipergunakan Masih dalam pembangunan Kesimpulan Fasilitas darmaga tidak mempengaruhi kondisi masyarakat Hasil yang diperoleh tidak dipergunakanya dermaga pelabuhan di Pangandaran dikarenakan fasilitas dermaga masih dalam pembangunan. Pengaruh dermaga bagi kondisi masyarakat sebagai berikut : (1) Keselamatan nelayan dalam melakukan pendaratan ikan, (2) Rusaknya kapal penagkapan ikan, (3) Produksi hasil tangkapan menurun, 4) Pasar ikan Pasar ikan merupakan tempat penjualan hasil tangkapan oleh pelaku kegiatan perikanan dalam bentuk ikan basah maupun hasil olahan ikan. Terdapatnya pasar ikan di Pangandaran bukan salah satu fasilitas yang diberikan oleh pihak pelabuhan. Hal ini berdasarkan wawancara bahwa pasar ikan adalah salah satu bentuk bantuan bagi pelaku kegiatan perikan pasca tsunami oleh salah satu intansi. Fasilitas pasar ikan yang diberikan pihak pelabuhan belum dibangun. Tabel 9 Parameter pengaruh keberadaan pasar ikan Fasilitas Pelabuhan Pasar ikan Indikator Tersedianya pasar ikan dan adanya aktifitas penjualan Berdasarkan penelitian Ya/Tidak Alasan Ya dipergunakan Tempat yang stretegis dan sering dikunjungi wisatawan Kesimpulan Mempengaruhi kondisi masyarakat Penggunaan pasar ikan oleh pelaku kegiatan perikanan dapat mempengaruhi kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat sekitar. Adapun pengaruh adanya pasar ikan sebagai berikut : (1) Penjualan hasil tangkapan akan lebih mudah, (2) Membuka lapangan pekerjaan baru,

42 (3) Pendapatan meningkat, 5) Kantor Pengelola Kantor pelabuhan sebagai kantor pengelola semestinya dapat memberikan pengaruh kondisi masyarakat nelayan, pedagang dan pengolah ikan seperti dalam pembinaan dan penyuluhan bagi masyarakat tersebut. Lokasi kantor pengelola yang jauh sekita 3 Km dengan pemukiman nelayan di Pangandaran membuat penggunaan kantor tersebut kurang dimanfaatkan secara maksimal. Tabel 10 Parameter pengaruh keberadaan kantor pengelola Fasilitas Pelabuhan Kantor pengelola Indikator Adanya Pembinaan dan penyuluhan Masyarakat pesisir, penyimpanan dan peminjaman modal. Berdasarkan penelitian Ya/Tidak Alasan Tidak karena lokasi yang dipergunakan jauh dengan pemukiman masyarakat Pangandaran Kesimpulan Fasilitas kantor pelabuhan tidak mempengaruhi kondisi masyarakat untuk sekarang ini Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa penggunaan fasilitas pelabuhan di Pangandaran masih kurang maksimal hal ini dikarenakan fasilitas pelabuhan yang ada di Pangandaran masih dalam pembangunan sehingga fasilitas lainnya tidak dipergunakan. Hasil pengamatan dipeoleh fasilitas yang dipergunakan oleh masyarakat pesisir Pangandaran hanya fasilitas TPI dan pasar ikan. Pengaruh dari penggunaan dan tidak mempergunakan fasilitas pelabuhan di Pangandaran akan mempengaruhi kondisi dari sosial dan ekonomi. 5.1.2 Aspek ekonomi Aspek ekonomi merupakan salah satu aspek yang memiliki hubungan erat dengan aspek sosial, dimana tingkat kesejahteraan suatu masyarakat dapat dinilai atau dilihat melalui tingkat ekonomi masyarakat tersebut. Keberadaan PPI Pangandaran akan ada suatu pengaruh bagi masyarakat sekitar dalam hal ini akan mempengaruhi tingkat penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan industri pengolahan ikan, proses pemasaran maupun tingkat pendapatan serta pengeluaran para pelaku kegiatan perikanan(nelayan, pengolah ikan, pedagang ikan). 1) Penyerapan tenaga kerja Keberadaan Pelabuhan Perikanan dapat menciptakan kesempatan kerja yang bersifat formal maupun informal sehingga mampu menyerap tenaga kerja lokal di institusi pemerintah, industri pengolahan, perdagangan/pemasaran, buruh, dll. keberadaan pelabuhan perikanan Pangandaran tidak terlalu signifikan dalam

43 penyerapan tenaga kerja di sekitar PPI Pangandaran. Hal ini terjadi akibat lokasi PPI Pangandaran yang dekat atau berdampingan dengan area pariwisata, yang mengakibatkan lebih banyak masyarakat memiliki mata pencaharian lebih besar ke sektor pariwisata. 2) Tumbuhnya industri pengolahan Keberadaan pelabuhan perikanan dapat mendorong tumbuhnya industri pengolahan ikan. Faktor yang mendorong tumbuhnya industri pengolahan ikan antara lain : (1) Bahan baku Ketersediaan bahan baku dengan kontinuitas yang terjamin khususnya ikan sangat menentukan tumbuhnya industri pengolahan produk perikanan. Bahan baku di Pangandaran sendiri sangatlah melimpah tetapi prasarana yang diberikan kurang maksimal. (2) Peluang pasar Peluang pasar ditandai oleh tingginya animo/permintaan masyarakat terhadap produk olahan produk perikanan. Keadaan lokasi Pangandaran sebagai lokasi pariwisata membuat permintaan ikan semakin meningkat sehingga peluang pasar bagi penjualan hasil tangkapan di Pangandaran sangat baik. (3) Dukungan pemerintah Meliputi bantuan pelatihan ketrampilan teknis, pembiayaan, kemudahan perijinan, insentif pajak dll. Berdasarkan hasil pengamatan adanya dukungan pemerintah dengan diberikannya bantuan kapal perikanan bagi nelayan untuk meningkatkan produksi perikanan. 3) Pusat pemasaran Keberadaan Pelabuhan Perikanan menjadi pusat pemasaran dan distribusi hasil tangkapan nelayan dengan adanya tempat pelelangan ikan. Tempat pelelangan ikan menjadi tempat pertemuan antara nelayan dengan calon pembeli. Melalui mekanisme pelelangan, pemasaran hasil tangkapan nelayan serta harga ikan lebih terjamin. Berdasarkan hasil wawancara, sebagian nelayan memanfaatan TPI ketika hasil tangkapan melimpah dikarenakan keuntungan yang lebih terjamin. Ketika hasil tangkapan sedikit sebagian nelayan menjual hasil tangkapan kepada pedagang

44 atau pengolah ikan serta langsung kepada konsumen (pengunjung), sehingga pemanfaatan fasilitas pelabuhan yang dilakukan masyarakat nelayan di Pangandaran belum maksimal dan tidak ada tindakan khusus oleh pihak pelabuhan menghadapi permasalahan tersebut karena dengan adanya kegiatan tersebut akan menyulitkan pihak pelabuhan dalam proses pendataan hasil tangkapan yang didaratkan. 4) Rantai Pemasaran Pemasaran hasil tangkapan sangat penting bagi pelaku kegiatan perikanan. Dengan adanya tempat pemasaran disuatu daerah dapat mempermudah bagi para pelaku kegiatan perikanan dalam menjualkan hasil tangkapan dan hasil olahanya. Keadaan lokasi Pangandaran sebagai daerah pariwisata memberikan keuntungan bagi pelaku kegiatan perikanan karena lokasi sangat strategis bagi penjualan barang dan jasa khususnya hasil tangkapan ikan. Pemasaran hasil tangkapan yang dilakukan oleh nelayan, pedagang, dan pengolah ikan di Pangandaran dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Adapun alur pemasaran hasil tangkapan di Pangandaran disajikan pada Gambar 10. PENGUNJUNG PEDAGANG IKAN NELAYAN PENGOLAH IKAN TPI Gambar 10 Alur pemasaran hasil tangkapan Berdasarkan alur pemasaran pada Gambar 10, nelayan merupakan pelaku utama dalam mendapatkan ikan. Nelayan mendapatkan hasil tangkapan setelah melakukan operasi penangkapan dengan menjual hasil tangkapan kepada pengunjung langsung, pedagang ikan, pengolah ikan, pengolah ikan, dan TPI. Hasil tangkapan yang di dapatkan oleh pedagang ikan berasal dari nelayan dan

45 TPI apabila ikan yang dibeli dalam bentuk basah serta di jual ke pengolah ikan, apabila ikan yang dibeli dalam bentuk kering bersal dari pengolah ikan dan langsung di jual kepada pengunjung atau konsumen. Pengolah ikan mendapatkan hasil tangkapan dari nelayan, TPI, dan pedagang ikan, kemudian hasil tangkapan diolah dan di jual kepada pedagang ikan dalam bentuk olahan kering serta kepada pengunjung. Adapun hasil yang diperoleh dari pengaruh keberadaan pelabuhan perikanan terhadap masyarakat sekitar dari segi sosial dan ekonomi berdasarkan penggunaan fasilitas PPI di Pangandaran sebagai berikut : 1. Segi sosial 1) saling bekerja sama dalam proses pendaratan ikan, 2) adanya keterkaitan dengan pemilik modal sehingga nelayan pihak yang dirugikan, 3) keselamatan nelayan sangat dipertaruhkan, 4) adanya persaingan dalam penjualan hasil tangkapan, 5) perolehan hasil tangkapan lebih mudah bagi pedagang dan pengolah ikan, 6) mutu hasil tangkapan lebih terjamin, 7) banyaknya masyarakat pendatang yang masuk mendaratkan hasil tangkapan, 8) tawar menawar harga hasil tangkapan, 9) jumlah pendaratan hasil tangkapan lebih banyak dan hasil produksi meningkat, 10) saling menjaga keselamatan perahu nelayan, 11) berbagi informasi lokasi penangkapan, 12) terjadinya konflik dengan kawasan konservasi 2. Segi ekonomi 1) Pendapatan lebih meningkat dengan menjual hasil tangkapan ke TPI, 2) Adanya tabungan musim paceklik dengan membayar retribusi pada saat pelelangan, 3) Aktifitas pelelangan berjalan dan mempermudah pendataan hasil tangkapan,

46 4) Penghasilan yang diperoleh langsung dari penjualan hasil tangkapan kepada pengunjung, 5) Pengeluaran untuk perbaikan kapal meningkat, 6) Pendapatan tambahan dari berwirausaha, 5.1.3 Karakteristik masyarakat nelayan Nelayan merupakan sumberdaya manusia yang memsilki peranan penting dalam operasi penangkapan ikan, karena nelayan adalah pelaku utama yang terjun langsung dalam keberhasilan melakukan kegiatan penangkapan ikan. Berdasarkan waktu yang digunakan untuk melakukan pekerjaan operasi penangkapan nelayan di Pangandaran termasuk kedalam nelayan sambilan utama. Nelayan di Pangandaran melakukan kegiatan penangkapan sepenuhnya ketika musim ikan dan ketika pada musim barat sebagian para nelayan di Pangandaran melakukan kegiatan lain diluar sektor perikanan. Pekerjaan yang dilakukan nelayan Pangadaran diluar perikanan adalah menjadi buruh tani ataupun buruh bangunan. Hal ini dilakukan oleh nelayan Pangandaran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aspek karakteristik nelayan di Pangandaran sebagai berikut : 1) Sistem Pengetahuan Pengetahuan tentang teknik penangkapan ikan umumnya diperoleh secara turun temurun berdasarkan pengalaman empiris. Kuatnya pengetahuan lokal ini menjadi salah satu faktor penyebab terjaminnya kelangsungan hidup sebagai nelayan. Pengetahuan lokal (indigenous knowledge) tersebut merupakan kekayaan intelektual yang hingga kini terus dipertahankan. Nelayan di Pangandaran hanya mengandalkan pengalamannya dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan. Pengalaman yang didapat nelayan Pangandaran ini diperoleh dari intensitas nelayan melakukan kegiatan penangkapan dan ilmu yang diturunkan secara turun menurun dari keluarganya. 2) Sistem Kepercayaan Secara teologi, nelayan masih memiliki kepercayaan yang kuat bahwa laut memiliki kekuatan khusus dalam melakukan aktivitas penangkapan ikan agar keselamatan dan hasil tangkapan semakin terjamin. Namun seiring

47 berjalannya waktu, berbagai tradisi dilangsungkan hanya sebagai salah satu instrumen stabilitas sosial dalam komunitas nelayan. Kepercayaan nelayan di Pangandaran masih mempercayai hal-hal gaib. Hal ini terlihat pada saat sebelum melakukan operasi penangkapan ikan dan pembangunan yang berkaitan dengan kegitan perikanan, nelayan di Pangandaran memberikan sesajian ke laut agar diberikan keselamatan dan keberkahan untuk mendapatkan hasil tangkapan yang melimpah. 3) Peran Wanita Umumnya selain banyak bergelut dalam urusan domestik rumah tangga, istri nelayan tetap menjalankan aktifitas ekonomi dalam kegiatan penangkapan di perairan dangkal, pengolahan ikan, maupun kegiatan jasa dan perdagangan. Istri nelayan juga dominan dalam mengatur pengeluaran rumah tangga seharihari sehingga sudah sepatutnya peranan istri nelayan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam setiap program pemberdayaan. Berdasarkan hasil wawancara peran wanita atau istri nelayan di Pangandaran yang terutama untuk membantu meringankan beban suami sebagai kepala keluarga. 4) Struktur Sosial Struktur sosial merupakan tingkatan seseorang berdasarkan kemampuan dan penghasilan yang didapat dalam suatu lapisan masyarakat. Kemampuan dan penghasilan yang di dapat masyarakat nelayan Pangandaran yang tergolong rendah membuat masyarakat nelayan di Pangandaran termasuk kedalam struktur sosial paling bawah. Struktur yang terbentuk dalam masyarakat pesisir di Pangandaran disajikan pada Gambar 11. Juragan Pedagang dan pengolah ikan Nelayan tradisional Gambar 11 Struktur sosial masyarakat pesisir Pangandaran Berdasarkan gambar diatas, nelayan Pangandaran memiliki tingkatan yang paling rendah. Nelayan di Pangandaran masih tergolong kedalam nelayan tradisional sehingga kegiatan perikanan yang berada di Pangandaran masih

48 termasuk skala kecil dan nelayan Pangandaran memiliki keterkaitan dengan pemilik modal sehingga nelayan di Pangandaran tidak memilkii peluang dalam berinvestasi dan hasil yang didapatkan dipergunakan untuk konsumsi nelayan itu sendiri dan dijual di sekitar Pangandaran. 5) Umur nelayan Berdasarkan hasil yang diperoleh umur rata-rata nelayan di Pangandaran adalah 36 tahun dengan maksimal umur 52 tahun dan yang termuda atau minimal umur 20 tahun (Tabel 11). Nelayan Pangandaran dianggap telah memiliki pengalaman yang tinggi ketika telah melakukan kegiatan penangkapan ikan selama berkisar 35 tahun dan nelayan yang dianggap kurang berpengalaman ketika melakukan kegiatan penangkapan ikan selama berkisar 10 tahun. Hal ini menjadi indikasi bahwa umur nelayan dapat menjadi tolak ukur untuk menilai tingkat pengalaman nelayan dalam kegiatan penangkapan ikan. 6) Pendidikan nelayan Pendidikan merupakan faktor seseorang dalam mengembangkan pola pikir dalam mengatasi suatu permasalahan dalam kehidupan. Semakin tinggi pendidikan seseorang semakin tinggi tingkat keberhasilan seseorang dalam memecahkan suatu permasalahan begitu sebaliknya. Hasil dari pengolahan data diperoleh presentase pendidikan nelayan di Pangandaran tidak tamat sekolah 0%, sekolah dasar 62,5% %, SMP 31,25%, SMA 0% dan perguruan tinggi 6,25% (Gambar 12). Kuliah, 6.25 Tidak SMA, 0% % tamat, 0% Tidak tamat SMP, 31.25% SD SD, 62.50% SMP SMA Kuliah Gambar 12 Presentase tingkat pendidikan nelayan Pangandaran Pendidikan nelayan Pangandaran rata-rata didomisasi oleh lulusan sekolah dasar. Hal ini dapat menunjukan bahwa pendidikan dan tingkat pengetahuan nelayan di Pangandaran masih tergolong rendah dengan rata-rata pendidikan yang ditempuh tamat sekolah dasar.

49 7) Teknologi penangkapan ikan Berdasarkan statistik Kabupaten Ciamis tahun 2011 nelayan di Pangandaran berjumlah 1.935 orang dengan mengunakan berbagai alat tangkap. Perkembangan nelayan di Pangandaran disajikan pada Tabel 11. Tabel 11 Perkembangan jumlah nelayan di Pangandaran Tahun Jumlah (orang) Pertumbuhan (%) 2006 2.769-2,3% 2007 2.769 0,0% 2008 2.665-3,8% 2009 2.665 0,0% 2010 1.935-2,4% 2011 1.935 0,0% Rata-rata pertumbuhan per tahun (%) -5,6% Sumber : Statistik Perikanan Kabupaten ciamis Berdasarkan Tabel 12, perkembangan jumlah nelayan yang ada di Pangandaran rata-rata per tahun mengalami penurunan sebesar 5,6%. Hasil wawancara diperoleh bahwa penurunan jumlah nelayan setiap tahunnya diantaranya disebabkan oleh bencana alam tsunami yang sempat melanda daerah pesisir Kabupaten Ciamis khususnya Pangandaran pada tahun 2006 yang menelan banyak korban sehingga membuat para nelayan memiliki perasaan ketakutan atau trauma untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan di laut serta sebagian nelayan banyak yang beralih propesi menjadi propesi lain seperti pemandu wisata, tukang ojek atau bekerja di perkotaan. Alat tangkap yang digunakan dalam proses penangkapan ikan oleh nelayan Pangandaran terdiri dari pukat tarik, pukat kantong, jaring insang/gillnet, pancing dan perangkap. Pengoperasian alat tersebut dilakukan oleh nelayan Pangandaran berdasarkan pengalaman mereka masing-masing dan tergantung musim penangkapan ikan. Perkembangan jumlah alat tangkap di Pangandaran disajikan pada Tabel 12. Tabel 12 Perkembangan jenis alat tangkap di Pangandaran Jenis Alat Tangkap (unit) Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 1. Pancing Rawai 50 85 201 201 201 201 2. Pukat Pantai 14 14 15 15 15 15 3. Gillnet 475 1,648 1,221 1,221 1,221 1,221 4. Dogol 97 97 193 193 193 193 5. Trammel net 52 52 147 147 147 147 6. Bagan 16 20 20 20 20 20 Jumlah 704 1,916 1,797 1,797 1,797 1,797 Pertumbuhan per tahun (%) 172.2% -6.2% 0.0% 0.0% 0.0% Rata-rata pertumbuhan per tahun (%) 33.2% Sumber : Statistik Perikanan Kabupaten Ciamis\ Berdasarkan tabel diatas menunjukan perkembangan alat tangkap di Pangandaran tidak mengalami peningkatan yang signifikan cenderung tetap dan

50 mengalami peningkatan alat tangkap pada tahun 2007. Hal ini disebabkan adanya bantuan alat tangkap pasca bencana tsunami oleh pemerintah kabupaten ciamis. 8) Tanggungan keluarga Keluarga nelayan di Pangandaran tergolong kedalam keluarga yang sederhana. Jumlah tanggungan keluarga nelayan rata-rata berkisar 4 orang terdiri dari 2 orang anak dan 1 orang istri serta pendidikan anak masih ditingkat sekolah dasar. Semakin banyak jumlah tanggungan keluarga, semakin tinggi jumlah pengeluaran yang dikeluarkan. Hal ini yang mendorong nelayan sebagai kepala keluarga untuk bekerja semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan seharihari. Nelayan yang diamati pada saat penelitian adalah nelayan pukat pantai dan gillnet. Pengoperasian pukat pantai ini dilakukan dengan cara menebar jaring yang terdiri dari sayap dan kantong kedaerah sekitar pantai untuk mendapatkan ikan pelagis atau demersal, kemudian jaring ditarik dengan 10 orang nelayan masingmasing 5 orang di kanan kiri jaring ke tepi pantai. Sedangkan alat tangkap gillnet adalah alat penangkapan ikan berbentuk lembaran jaring empat persegi panjang, yang mempunyai ukuran mata jaring merata. Lembaran jaring dilengkapi dengan sejumlah pelampung pada tali ris atas dan sejumlah pemberat pada tali ris bawah. Pengoperasiannya dipasang tegak lurus di dalam perairan dan menghadang arah gerakan ikan. Musim penangkapan ikan di Pangandaran merupakan faktor utama yang sangat mempengaruhi proses penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan Pangandaran. Musim yang tidak menentu membuat para nelayan di Pangadaran sulit mendapatkan penghasilan. Banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi membuat nelayan Pangandaran berfikir bagaimana cara untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam mengatasi permasalah tersebut sebagian nelayan di Pangandaran melakukan kegiatan lain diluar sektor perikanan. Pada saat terjadi musim barat sebagian nelayan Pangandaran menjadi buruh bangunan atau buruh tani, meskipun hasil yang diperoleh tidak sebesar pada saat melakukan penangkapan ikan. 9) Pendapatan dan pengeluaran rumah tangga nelayan Penghasilan keluarga nelayan di Pangandaran sangat tergantung oleh keadaan musim penangkapan ikan sehingga mempengaruhi jumlah hasil tangkapan yang

51 didapat. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh nelayan Pangandaran lebih memilih melakukan kegiatan penangkapan ikan dari pada melakukan kegiatan lain dalam mendapatkan penghasilan karena penghasilan yang diperoleh dari proses kegiatan penangkapan ikan lebih pasti dan menguntungkan. Ketika musim ikan para nelyan Pangandaran sepenuhnya melakukan kegiatan penangkapan ikan dan ketika musim paceklik sebagian nelayan melakukan kegiatan lain dalam mencari kebutuhan sehari-hari. Kondisi lokasi Pangandaran sebagai pusat daerah pariwisata di Kabupaten Ciamis menjadi peluang bagi masyarakat sekitar dalam mendapatkan penghasilan, khususnya bagi nelayan Pangandaran karena kondisi inilah yang membuat kesempatan bagi mereka dalam menambah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penghasilan yang diperoleh nelayan Pangandaran berasal dari bidang perikanan dan luar perikanan. Penghasilan dari bidang perikanan berasal dari hasil penjualan hasil tangkapan kepada pedagang ikan, pengolah ikan, TPI ataupun langsung kepada pengunjung. Penyewaan perahu, dan memberikan pelayanan jasa dengan membuka kios-kios di pinggiran pantai merupakan penghasilan dari luar perikanan karena kondisi Pangadaran sebagai pusat pariwisata. Adapun rincian penghasilan perikanan rata-rata ikan yang didapat nelayan pukat pantai dan gill net per bulannya disajikan pada Tabel 13 dan Tabel 14. Tabel 13 Rata-rata ikan dan harga jual ikan nelayan pukat pantai Pangandaran Jenis ikan Hasil yang didapat (Kg) Nelayan Rata-rata (Kg) Harga (Rp) Penjualan (Rp) Tongkol (Auxis thazard) 20 10 25 10 10 20 15 15 10 15 15 10.000 150.000 Kembung (Rastrelliger kanagurta) 15 10 13 20 15 20 15 10 10 10 13.8 12.000 165.600 Tenggiri (Scomberomorus commerson) 25 17 15 13 20 10 10 15 15 10 15 20.000 300.000 Teri (Paedocypris progenetica) 5 5 5 10 10 15 5 5 5 5 7 5.000 35.000 Layur (trichiurus lepturus) 15 10 13 15 10 9 10 10 10 15 11.7 12.000 140.400 Pepetek (Leiognathus dussummieri) 5 7 5 8 8 10 5 15 15 20 9.8 2.500 24.500 Jumlah 85 59 76 76 73 84 60 70 65 75 72.3 61.500 815.500 Berdasarkan tabel diatas perolehan hasil tangkapan nelayan pukat pantai pada saat musim paceklik total keseluruhan rata-rata 72,3 Kg dengan hasil penjualan rata-rata Rp 815.500,00. Tabel 14 Rata-rata ikan dan harga jual ikan nelayan gillnet Pangandaran Jenis ikan Hasil yang didapat (Kg) Rata-rata Harga Penjualan Nelayan (Kg) (Rp) (Rp) Tenggiri (Scomberomorus commerson) 70 70 45 75 75 85 70 40.000 2800.000 Layur (trichiurus lepturus) 30 20 30 30 25 20 26 15.000 387.500 Kembung (Rastrelliger kanagurta) 15 25 15 15 15 15 17 12.000 200.000 Jumlah 115 115 90 120 115 120 113 67.000 3.387.500

52 Hasil yang didapat nelayan gill net di Pangandaran keseluruhan mendapatkan hasil tangkapan rata-rata 113 Kg dengan hasil penjulan rata-rata Rp 3.387.500,00. Penghasilan yang didapat akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti pangan, kesehatan, listrik, pendidikan anak, biaya operasi penangkapan dan biaya lainnya. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh sumber penghasilan keluarga nelayan berasal dari kepala keluarga tetapi sebagian keluarga nelayan di Pangandaran mendapakan penghasilan keluarga dari istri nelayan yang bekerja menjadi penjual makanan dan sesekali membantu proses kegiatan penangkapan ikan. Pendapatan dan pengeluaran merupakan pendekatan yang dapat digunakan dalam mengetahui status ekonomi suatu rumah tangga. Pendapatan dan pengeluaran yang diperoleh masyarakat Pangandaran khususnya nelayan berasal dari sektor perikanan dan luar sektor perikanan. Pendapatan dari sektor perikanan terdiri dari hasil penjualan hasil tangkapan dan pengeluaranya berasal pengeluaran biaya operasi sedangkan dari luar sektor perikanan diperoleh dari pelayanan jasa yang diberikan, seperti penyewaan perahu, pemandu wisata dan membuka kioskios di pinggiran pantai. (1) Penghasilan perikanan Penghasilan keluarga dari sektor perikanan Masyarakat nelayan di Pangandaran diperoleh dari penjualan hasil tangkapan. Hasil tangkapan tersebut dijual kepada pedagang ikan, pengolah ikan, TPI jika perolehan hasil tangkapan banyak dan pengunjung pariwisata. Pengeluaran untuk melakukan operasi penangkapan diperoleh dari pengeluaran perbekalan dan biaya produksi lainnya. Selisih penghasilan dan pengeluaran keluarga ini dijadikan pendapatan keluarga masyarakat nelayan di Pangandaran dari sektor perikanan. Penghasilan rata-rata yang diperoleh masyarakat nelayan pukat pantai di Pangandaran dari sektor perikanan sebesar Rp 2,242,000.00 dan nelayan gillnet sebesar Rp 1,487,500.00. Penghasilan sektor perikanan ini diperoleh dari selisih total penjualan ikan dengan pengeluaran operasi. (2) Penghasilan non perikanan Penghasilan keluarga masyarakat nelayan di Pangandaran selain berasal dari sektor perikanan juga memperoleh penghasilan tambahan dari luar sektor perikanan seperti pelayanan jasa di sektor pariwisata. Penghasilan keluarga dari

53 luar perikanan didapat dari selisih penghasilan tambahan dengan pengeluaran untuk kegiatan non perikanan sehingga diperoleh pendapatan keluarga dari luar perikanan. Penghasilan rata-rata yang diperoleh masyarakat nelayan pukat pantai di Pangandaran dari sektor non perikanan diperoleh sebesar Rp 651,000.00 dan nelayan gillnet sebesar Rp1,487,500.00. Adapun rincian penghasilan rata-rata keluarga masyarakat nelayan pukat pantai dan gillnet dari sektor non perikanan di Pangandaran masing-masing pada Tabel 15 dan Tabel 16. Tabel 15 Penghasilan rata-rata rumah tangga nelayan pukat pantai non perikanan. No Kepala keluarga* (Rp) Anggota keluarga**(rp) Jumlah penghasilan (Rp) 1 1.000.000 1.000.000 2 240.000 240.000 3 1.600.000 1.600.000 4 420.000 420.000 5 1.800.000 1.800.000 6 360.000 360.000 7 350.000 350.000 8 140.000 140.000 9 350.000 350.000 10 250.000 250.000 Total 2.110.000 4.400.000 6.510.000 Rata-rata 301.429 1.466.667 651.000 Berdasarkan dari tabel diatas menunjukan bahwa penghasilan rata-rata keluarga nelayan dari pukat pantai setiap bulannya memperoleh penghasilan dari kepala keluarga dan anggota keluarga. Kepala keluarga nelayan memperoleh ratarata penghasilan sebesar Rp 301.429,00 dari penghasilan menjadi buruh tani dan buruh bangunan dan penghasilan dari anggota keluarga sebesar Rp 1.466.667,00 diperoleh dari penghasilan berwirausaha, pemandu wisata atau penyewaan perahu. Tabel 16 Penghasilan rata-rata rumah tangga nelayan gillnet non perikanan. No Kepala keluarga*(rp) Anggota keluarga**(rp) Jumlah penghasilan (Rp) 1 350000 1.000.000 1.350.000 2 3 350000 550.000 900.000 4 450000 450.000 5 1.250.000 1.250.000 6 300000 850.000 1.150.000 Total 1.450.000 3.650.000 5.100.000 Rata-rata 362.500 912.500 1.020.000 Keterangan :* buruh tani atau buruh bangunan, ** Penyewaan perahu, warung, pemandu wisata Penghasilan keluarga masyarakat nelayan di Pangandaran dari sektor perikanan lebih besar dari pada luar sektor perikanan. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat nelayan di Pangandaran sangat tergantung oleh hasil sumberdaya laut dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

54 (3) Pengeluaran rumah tangga Pengeluaran keluarga diperoleh dari pengeluaran pangan dan non pangan. Pengeluaran pangan terdiri dari kebutuhan jumlah beras yang dibutuhkan, lauk pauk, minyak goreng, kopi, gula dan kebutuhan pangan lainnya tergantung jumlah tanggungan keluarga. Sedangkan pengeluran dari non pangan didapat dari pengeluaran listrik, pajak bangunan, air bersih, pendidikan, kesehatan dan lainlain. Pengeluaran ini tergantung dari jumlah tanggungan dalam sebuah anggota. Semakin banyak jumlah anggota semakin banyak juga pengeluaran rumah tangga yang dikeluarkan. Adapun rincian dari pengeluaran pangan dan non pangan nelayan pukat pantai disajikan pada Tabel 17. Tabel 17 Pengeluaran rumah tangga nelayan pukat pantai. No Pengeluaran rumah tangga (Rp) Total Pengeluaran Pangan Non Pangan Rumah Tangga 1 1500.000 1.000.000 2.500.000 2 900.000 700.000 1.600.000 3 1.000.000 1.500.000 2.500.000 4 600.000 500.000 1.100.000 5 1.000.000 1.100.000 2.100.000 6 750.000 500.000 1.250.000 7 1.000.000 450.000 1.450.000 8 800.000 150.000 950.000 9 900.000 500.000 1.400.000 10 1.000.000 550.000 1.550.000 Jumlah 9.450.000 6.950.000 16.400.000 Rata-rata 945.000 695.000 1.640.000 Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa rata-rata pengeluaran rumah tangga nelayan pukat pantai lebih besar pengeluaran pangan. Hal ini dikarenakan jumlah konsumsi keluarga nelayan lebih banyak dengan rata-rata jumlah keluarga 4 orang dan kebutuhan pangan yang semakin mahal. Untuk nelayan gillnet, dari hasil wawancara diperoleh juga bahwa pengeluaran keluarga nelayan lebih besar untuk pangan, karena memang masyarakat nelayan disana lebih mengutamakan untuk pangan dibandingkan dengan hal lain seperti hiburan maupun pendidikan. Untuk data pengeluaran nelayan gill net disajikan padatabel 18. Tabel 18 Pengeluaran rumah tangga nelayan gillnet No Pengeluaran rumah tangga (Rp) Total Pengeluaran Pangan Non Pangan Rumah Tangga 1 1.250.000 1.000.000 2.250.000 2 800.000 250.000 1.050.000 3 900.000 750.000 1.650.000 4 1.300.000 500.000 1.800.000 5 1.000.000 1.500.000 2.500.000 6 850.000 1.500.000 2.350.000 Jumlah 6.100.000 5.500.000 11.600.000 Rata-rata 1.016.667 916.667 1.933.333

55 (4) Penerimaan bersih rumah tangga Pendapatan total keluarga dari masyarakat nelayan di Pangadaran diperoleh dari jumlah total penghasilan keluarga dari sektor perikanan dengan total penghasilan dari luar perikanan. Pendapatan keluarga masyarakat nelayan pukat pantai dan gillnet masing-masing rata-rata sebesar Rp 2,893,000.00 dan sebesar Rp 2,337,500.00. Adapun rincian jumlah pendapatan nelayan rata-rata dapat dilihat pada Tabel 19 dan Tabel 20. Tabel 19 total pendapatan keluarga rata-rata nelayan pukat pantai Pendapatan rumah tangga nelayan pukat pantai per bulan (Rp) No Usaha Non Perikanan perikanan Pendapatan keluarga 1 2.790.000 1.000.000 3.790.000 2 1.690.000 240.000 1.930.000 3 1.998.000 1.600.000 3.598.000 4 3.400.000 420.000 3.820.000 5 2.440.000 1.800.000 4.240.000 6 2.192.000 360.000 2.552.000 7 2.790.000 350.000 3.140.000 8 1.810.000 140.000 1.950.000 9 1.610.000 350.000 1.960.000 10 1.700.000 250.000 1.950.000 Total 22.420.000 6.510.000 28.930.000 Rata-rata 2.242.000 651.000 2.893.000 Berdasarkan Tabel 19 menunjukan bahwa pendapatan keluarga dari usaha perikanan lebih besar dari pada pendapatan non perikanan. Dengan rata-rata penghasilan masing-masing sebesar Rp 2.242.000,00 dan sebesar 651.000,00. Hal ini dikarenakan pekerjaan masyarakat di Pangandaran rata-rata adalah nelayan dan termasuk kedalam nelayan penuh. Berdasarkan hasil wawancara penghasilan dari sektor penangkapan ikan lebih menguntungkan daripada di luar sektor perikanan. Tabel 20 Total pendapatan keluarga rata-rata nelayan gillnet Pendapatan bersih rumah tangga nelayan gillnet per bulan (Rp) No Perikanan Non perikanan Pendapatan keluarga 1 2.3800.00 1.350.000 3.730.000 2 1.300.000 1.300.000 3 630.000 900.000 1.530.000 4 1.230.000 450.000 1.680.000 5 1.155.000 1.250.000 2.405.000 6 2.230.000 1.150.000 3.380.000 Total 8.92.5000 5.100.000 14.025.000 Rata-rata 1.487.500 1.020.000 2.337.500 Penerimaan total keluarga diperoleh dari selisih pendapatan keluarga dengan pengeluaran keluarga. Rata-rata peroleh penerimaan total keluarga masyarakat nelayan pukat pantai dan nelayan gill net masing-masing di Pangandaran sebesar

56 Rp 1,253,00.00 dan sebesar Rp 404,167.00. Rincian rata-rata penerimaan total keluarga masyarakat nelayan di Pangandaran setiap bulannya disajikan pada Tabel 21. Tabel 21 Sisa bersih pendapatan nelayan pukat pantai Pendapatan rumah tangga nelayan pukat pantai per Pengeluaran rumah Total Sisa bersih bulan (Rp) tangga (Rp) Pengeluaran pendapatan Non Pendapatan Non Rumah No Perikanan Pangan (Rp) perikanan keluarga Pangan Tangga 1 2.790.000 1.000.000 3.790.000 1.500.000 1.000.000 2.500.000 1.290.000 2 1.690.000 240.000 1.930.000 900.000 700.000 1.600.000 330.000 3 1.998.000 1.600.000 3.598.000 1000.000 1.500.000 2.500.000 1.098.000 4 3.400.000 420.000 3.820.000 600.000 500.000 1.100.000 2.720.000 5 2.440.000 1.800.000 4.240.000 1.000.000 1.100.000 2.100.000 2.140.000 6 2.192.000 3.600.00 2.552.000 750.000 500.000 1.250.000 1.302.000 7 2.790.000 350.000 3.140.000 1.000.000 450.000 1.450.000 1.690.000 8 1.810.000 140.000 1.950.000 800.000 150.000 950.000 1000.000 9 1.610.000 350.000 1.960.000 900.000 500.000 1.400.000 560.000 10 1.700.000 250.000 1.950.000 1.000.000 550.000 1.550.000 400.000 Total 22.420.000 6.510.000 28.930.000 9.450.000 6.950.000 16.400.000 12.530.000 Rata-rata 2.242.000 651.000 2.893.000 945.000 695.000 1.640.000 1.253.000 Berdasarkan hasil pada tabel diatas menunjukan penghasilan bersih/saving diperoleh nelayan pukat pantai dengan rata-rata Rp 1.253.000,00. Penghasilan ini diperoleh dari selisih total pendapatan keluarga dengan pengeluaran rumah tangga. Tabel 22 Sisa bersih pendapatan nelayan gillnet Pendapatan bersih rumah tangga nelayan gillnet per bulan (Rp) Pengeluaran rumah tangga (RP) Total Pengeluaran Sisa bersih No Perikanan Non Pendapatan Non Rumah pendapatan Pangan perikanan keluarga Pangan Tangga 1 2.380.000 1.350.000 3.730.000 1.250.000 1.000.000 2.250.000 1.480.000 2 1.300.000 1.300.000 800.000 250.000 1.050.000 250.000 3 630.000 900.000 1.530.000 900.000 750.000 1.650.000-120.000 4 1.230.000 450.000 1.680.000 1.300.000 500.000 1.800.000-120.000 5 1.155.000 1.250.000 2.405.000 1.000.000 1.500.000 2.500.000-95.000 6 2.230.000 1.150.000 3.380.000 850.000 1.500.000 2.350.000 1.030.000 Total 8.925.000 5.100.000 14.025.000 6.100.000 5.500.000 11.600.000 2.425.000 Rata-rata 1.487.500 1.020.000 2.337.500 1.016.667 916.667 1.933.333 404.167 Berdasarkan tabel diatas diperoleh pendapatan bersih rata-rata nelayan gillnet sebesar Rp 404.167,00 Dari tabel diatas diantara nelayan ada yang mendapatkan sisa pendapatan bersih negatif berdasarkan wawancara hal ini disebabkan jumlah total pendapatan keluarga tidak sebanding dengan total pengeluaran rumah tangga dan jumlah hasil tangkapan tidak sebanding dengan pengeluaran biaya operasi penangkapan. 5.1.4 Karakteristik pedagang ikan Pedagang merupakan pelaku dalam kegiatan perikanan yang membeli hasil tangkapan dari nelayan atau TPI serta akan langsung dijual kembali kepada

57 konsumen seperti dijual ke pasar, rumah makan atau pengolah ikan. Pedagang ikan yang ada di Pangandaran berdasarkan statistik perikanan Kabupaten Ciamis ada 62 orang pedagang ikan dengan jumlah pedagang di Kecamatan Pangandaran Ciamis ada 22 orang. Pedagang ikan di Kecamatan Pangandaran lebih banyak daripada Kecamatan lain di Kabupaten ciamis hal ini dikarenakan lokasi Pangandaran sangat strategis dalam pemasaran hasil tangkapan disebabkan Pangandaran sebagai pusat pariwisata di Kabupaten ciamis. 1) Umur pedagang ikan Pedagang ikan di Pangandaran di dominasi oleh kaum wanita karena para suami bekerja sebagai nelayan atau pengolah ikan. Umur rata-rata pedagang ikan di Pangandaran berdasarkan hasil pengolah data yaitu 38 tahun dengan umur maksimal 53 tahun dan umur minimal yaitu 28 tahun. 2) Pendidikan pedagang ikan Pedagang ikan di Pangandaran memiliki tingkatan pendidikan yang hampir sama dengan nelayan 57,15% lulus Sekolah Menengah Pertama. Data tingkat pendidikan pendagang ikan di Pangandaran disajikan pada Gambar 13. SMA, 0% Kuliah, 0% Tidak tamat, 0% Tidak tamat SD, 42.85% SD SMP, 57.15% SMP SMA Kuliah Gambar 13 Presentase tingkat pendidikan pendagang ikan di Pangandaran Pedagang ikan di Pangandaran memiliki suatu himpunan yang merupakan wadah untuk memudahkan pedagang dalam berinterksi sesamee pedagang ikan serta mengetahui perkembangan informasi hasil tangkapan di TPI Pangandaran. Salah satu perhimpunan pedagang yang terdapat di Pangandaran adalah Himpunan Pedagangg Asin Pangandaran (HPAP), dimana didalam himpunan tersebut terdapat beberapa kelompok anggota yang setiap anggotaa memiliki kartu pengenal yang digunakan untuk melakukan pembelian ikan di TPI (Gambar 14). Himpunan ini didirikan untuk membantu para pedagang kecil dalam hal ini pedagang asin dalam pembelian ikan basah di TPI maupun luar TPI Pangandaran.

58 Keuntungan yang diperoleh para pedagang ikan dengan memiliki kartu anggota ini yaitu kemudahan dalam mendapatan hasil tangkapan dari TPI Pangandaran. Sumber : Dokumentasi penelitian Gambar 14 Kartu anggota himpunan pedagang ikan Berdasarkan hasil wawancara, diperoleh hasil bahwa tidak sedikit para pedagang ikan di Pangandaran memiliki dua pekerjaan sekaligus yaitu menjadi pedagang ikan dan pengolah ikan. Hal ini dikarenakan kebanyakan suami pedagang ikan bekerja sebagai nelayan dan menjadi buruh bangunan yang mendapatkan penghasilan yang rendah sehingga para pedagang ikan yang mayoritas adalah wanita ingin membantu para suaminya dalam mendapatkan penghasilan yang lebih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pedagang ikan di Pangandaran menjual hasi tangkapan berupa ikan basah dan ikan kering. Ikan basah terdiri dari ikan jambal, teri nasi, udang rebon, pepetek, layur dan ikan lainya yang dibeli dari nelayan dan sebagian dari TPI sedangkan ikan kering diperoleh dari pengolah ikan atau mengolah sendiri yang terdiri dari asin jambal, terasi, dan aneka ikan asin lainya. Harga yang ditawarkan oleh pedagang ikan di Pangandaran sangat bervariasi tergantung dari jenis ikan dan bentuk olahan kering atau basah. Pedagang ikan di Pangandaran menjual hasil ikan di lokasi dekat TPI Pangandaran dan sebagian pedagang ikan menjual dengan cara berkeliling di sekitar lokasi wisata. Pengalaman pedagang ikan di Pangandaran dalam menjualkan hasil tangkapan kering maupun basah dilakukannya cukup lama dengan rata-rata selama 25 tahun, paling lama 30 tahun dan yang paling muda 10 tahun. Berdasarkan hasil pengamatan kebanyakan pedagang ikan di Pangandaran menjual ikan disekitar TPI Pangandaran, hal ini dikarenakan lokasi TPI Pangandaran berdekatan dengan daerah Pariwisata cagar alam yang banyak dikunjungi oleh pengunjung.

59 3) Pendapatan dan Pengeluaran rumah tangga Pendapatan dan pengeluaran merupakan pendekatan yang dapat digunakan dalam mengetahui status ekonomi suatu rumah tangga. Pendapatan dan pengeluaran yang diperoleh pedagang ikan berasal dari sektor perikanan dan di luar sektor perikanan. Pendapatan dari sektor perikanan didapat dari selisih penghasilan dari penjualan hasil tangkapan dengan pengeluaran biaya produksi, sedangkan penghasilan dari luar sektor perikanan diperoleh dari pelayanan jasa yang diberikan, seperti membuka kios-kios makanan di pinggiran pantai, jasa tato dan sebagian pedagang menjadi pengolah ikan. Rincian penghasilan rata-rata pedagang dalam memperoleh pendapatan keluarga dari sektor perikanan dapat dilihat pada Tabel 23. Tabel 23 Penghasilan rata-rata pedagang ikan Jenis ikan Hasil yang didapat (Kg) Rata-rata Harga Penjualan Pedagang ikan (Kg) (Kg) (Rp) Bilis (Paedocypris progenetica) 30 15 10 10 15 10 15 6.000 90.000 Gabus (Channa striata) 25 25 5 15 10 8 15 35.000 513.333 Jambal (Djambal sp.) 25 10 5 7 10 7 11 70.000 746.667 Layur (Trichiurus lepturus) 10 5 5 5 10 5 7 35.000 233.333 Petek (Leiognathus dussummieri) 15 10 5 10 20 5 11 5.000 54.167 Jumlah 105 65 30 47 65 35 58 151.000 8.732.833 Penghasilan keluarga dari pedagang ikan diperoleh dari penjualan hasil tangkapan dari selisih penjualan hasil tangkapan dengan jumlah total pengeluaran dari pembelian ikan. Pengeluaran dari sektor perikanan disajikan pada Tabel 24. Tabel 24 Pengeluaran rata-rata pedagang ikan Jenis ikan Hasil yang didapat (Kg) Rata-rata Harga Pembelian Pedagang ikan (Kg) (Rp) (Rp) Bilis (Paedocypris progenetica) 30 15 10 10 15 10 15 3.000 45.000 Gabus (Channa striata) 25 25 5 15 10 8 15 11.000 161.333 Jambal (Djambal sp.) 25 10 5 7 10 7 11 25.000 266.667 Layur (Trichiurus lepturus) 10 5 5 5 10 5 7 15.000 100.000 Petek (Leiognathus dussummieri) 15 10 5 10 20 5 11 2.500 27.083 Jumlah 105 65 30 47 65 35 58 56.500 3.267.583 Penghasilan non perikanan pedagang ikan diperoleh dari kepala keluarga sebagai buruh bangunan atau buruh tani, pemiliki jasa tato temporer dan anggota keluarga warung. Adapun rincian penghasilan keluarga dari sektor non perikanan dapat dilihat pada Tabel 25.

60 Tabel 25 Penghasilan rata-rata pedagang dari non perikanan No Kepala Anggota Total keluarga* keluarga** penghasilan 1 2 1400000 1400000 3 4 450000 450000 5 2400000 2400000 6 1000000 200000 1200000 Jumlah 4800000 650000 5450000 Keterangan : * buruh bangunan, buruh tani, pemilik jasa tato temporer **pedagang warung Jumlah dari penghasilan total dari sektor perikanan dengan non perikanan yang diperoleh oleh pedagang ikan akan menghasilkan pendapatan keluarga. Pendapatan keluarga dari usaha perikanan dan non perikanan (Tabel 27), selanjutnya dikurangi dengan pengeluaran rumah tangga yang terdiri dari pengeluaran pangan dan non pangan (Tabel 26) sehingga memperoleh penerimaan total bersih setiap bulannya (Tabel 28). Jumlah pengeluaran rumah tangga tergantung oleh jumlah anggota keluarga dalam rumah tangga. Jumlah anggota rata-rata pedagang di Pangandaran memiliki jumlah anggota keluarga 6 orang. Sehingga pengeluaran rumah tangga akan cukup banyak dikeluarkan. Tabel 26 Pengeluaran rumah tangga pedagang No Pengeluaran Rumah Tangga (Rp) Total Pengeluaran Jumlah anggota Pangan Non Pangan Rumah Tangga Keluarga 1 1.000.000 550.000 1.550.000 3 2 1.000.000 400.000 1.400.000 3 3 1.000.000 650.000 1.650.000 4 4 750.000 750.000 1.500.000 3 5 1.200.000 950.000 2.150.000 5 6 800.000 350.000 1.150.000 3 Jumlah 5.750.000 3.650.000 9.400.000 21 Rata-rata 958.333 608.333 1.566.667 6 Berdasarkan Tabel 26 menunjukan bahwa pengeluaran pangan rumah tangga pedagang lebih besar daripada pengeluaran non pangan. Hal ini dikarenakan jumlah anggota keluarga sangat mempengaruhi jumlah konsumsi yang dikeluarkan dalam satu keluarga dan kebutuhan pangan yang semakin meningkat.

61 Tabel 27 Pendapatan rumah tangga pedagang Pendapatan bersih rumah tangga pedagang No Perikanan Non perikanan Total pendapatan 1 4.752.500 4.752.500 2 3.682.500 1.400.000 5.082.500 3 1.960.000 1.960.000 4 705.000 450.000 1.155.000 5 1.680.000 2.400.000 4.080.000 6 964.000 1.200.000 2.164.000 Jumlah 13.744.000 5.450.000 19.194.000 Rata-rata 2.290.667 1.362.500 3.199.000 Pendapatan pedagang diperoleh dari penghasilan total usaha perikanan ditambah dengan penghasilan total non perikanan. Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa penghasilan usaha perikanan rata-rata lebih besar daripada non perikanan. Hal ini menunjukan tingkat ketergantungan pedagang ikan sangat tinggi terhadap hasil tangkapan. Tabel 28 Sisa bersih pendapatan rumah tangga pedagang Pendapatan bersih rumah tangga pedagang per bulan Non total No Perikanan perikanan pendapatan Pengeluaran Rumah Tangga Non Pangan Pangan Total Pengeluaran Rumah Tangga Sisa pendapatan bersih 1 4.752.500 4.752.500 1.000.000 550.000 1.550.000 3.202.500 2 3.682.500 1.400.000 5.082.500 1.000.000 400.000 1.400.000 3.682.500 3 1.960.000 1.960.000 1.000.000 650.000 1.650.000 310.000 4 705.000 450.000 1.155.000 750.000 750.000 1.500.000-345.000 5 1.680.000 2.400.000 4.080.000 1.200.000 950.000 2.150.000 1.930.000 6 964.000 1.200.000 2.164.000 800.000 350.000 1.150.000 1.014.000 Jumlah 13.744.000 5.450.000 19.194.000 5.750.000 3.650.000 9.400.000 9.794.000 Rata-rata 2.290.667 1.362.500 3.199.000 958.333 608.333 1.566.667 1.632.333 Berdasarkan Tabel 28 menunjukan bahwa penerimaan total pedagang ikan diperoleh dari selisih total pendapatan dengan total pengeluaran rumah tangga rata sebesar Rp 1.632.333,00 setiap bulannya. Adanya nilai negatif dari sisa pendapatan bersih terjadi dikarenakan pedagang ini memilki penghasilan rendah daripada pengeluarannya. Hal ini dikarenakan pedagang tersebut hanya menjual ikan dengan skala kecil. 5.1.5 Karakteristik pengolah ikan Pengolah ikan merupakan orang yang melakukan kegiatan perikanan dalam mengolah hasil tangkapan menjadi barang olahan dalam bentuk ikan kering atau bentuk lainnya untuk konsumsi manusia. Kegiataan usaha pengolahan hasil perikanan di Pangandaran meliputi :

62 1) Penggaraman/pengeringan adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam daging sampai batas tertentu dimana perkembangan mikroorganisme dan enzim terhenti sehingga ikan dapat disimpan cukup lama dalam keadaan layak dimakan. Contoh ikan asin kering, ikan tawar kering dll. 2) Pengasapan/pemanggangan adalah proses pengawetan ikan dengan menggunakan media asap dan atau panas dengan tujuan untuk membunuh bakteri dan memberi citra rasa yang khas. Contohnya ikan asap, ikan panggang dll. 3) Pemindangan adalah cara pengawetan ikan dengan menggunakan suhu tinggi melalui perebusan, bertujuan untuk mendapatkan citra rasa tertentu dan mengurangi kandungan mikroba/spora yang dapat mempengaruhi mutu dan daya simpan produk. Cara pengolahannya pemindangan terdiri atas pemindangan air garam dan pemindangan garam. 4) Pembekuan adalah proses penanganan dan pengolahan ikan dengan cara pencucian, preparasi, pembekuan dengan/ tanpa penggelasan, pengepakan dan pengemasan serta penyimpanan beku. Contohnya udang beku dan ikan beku. 5) Produk Jelly Ikan (Communited product) adalah proses pengolahan yang mencampurkan daging ikan dengan garam sehingga menghasilkan pasta yang lengket kemudian ditambahkan bahan-bahan lain untuk menambah citra rasa dan selanjutnya dibentuk dan dimasak. Produk jelly ikan antara lain bakso, sosis, nugget dll. Berdasarkan statistik perikanan Kabupaten Ciamis Pengolah ikan yang berada di Kecamatan Pangandaran berjumlah 60 orang dengan 6 kelompok masingmasing kelompok 10 orang. Hasil pengamatan diperoleh pengolah ikan yang berada di sekitar pelabuhan perikanan Pangandaran yang berlokasi di pantai timur terdapat 1 kelompok saja dengan kegiatan usaha pengolahan dengan cara pengeringan. Ikan yang diolah terdiri dari ikan jambal, teri nasi, layur, udang rebon, pepetek dan ikan lainnya. Proses pengeringan dibutuhkan waktu yang cukup lama tergantung cuaca di Pangandaran berkisar 3 hari sampai dengan 7 hari lama pengeringan. Hasil olahan ikan biasanya dalam bentuk ikan asin dan terasi. Berdasarkan hasil wawancara proses yang dilakukan dalam pengolahan ikan untuk mendapatkan hasil olahan ikan asin adalah pertama bersihkan terlebih dahulu ikan yang akan diolah, kemudian rendam ikan dengan garam disini

63 kebutuhan garam dalam perendaman diperlukan 0,5 Kg garam untuk 1 Kg ikan direndam selama 1 hari kemudian tiriskan (Gambar 15) dan keringkan di tempat pengeringan (Gambar 16). Gambar 15 Ikan yang telah direndam garam 1 hari Dalam proses pengolahan pembuatan terasi dilakukan dengan cara pembersihan ikan terlebih dahulu kemudian ikan digiling oleh mesin penggilingan kemudian dibentuk berdasarkan keinginan pengolah ikan. Gambar 16 Tempat pengeringan ikan yang akan diasinkan 1) Pendidikan pengolah ikan Hasil pengamatan diperoleh tingkat pendidikan pengolah ikan di Pangandaran masih tergolong rendah kebanyakan lulus dari Sekolah dasar. Adapun masingmasing presentase tingkat pendidikan yang ditempuh oleh pengolah ikan adalah tidak tamat sekolah 0%, lulus dari Sekolah Dasar sebesar 71,42%, lulus dari Sekolah Menengah Pertama sebesar 28,58%, lulus dari Sekolah Menengah Atas 0% dan perguruan tinggi sebesar 0%, data tersebut disajikan pada Gambar 17.

64 SMA, 0% Kuliah, 0% Tidak tamat, 0% SMP, 28.58% SD, 71.42% Tidak tamat SD SMP SMA Kuliah Gambar 17 Presentase tingkat pendidikan pengolah ikan di Pangandaran Berdasarkan hasil pengambilan data diperoleh bahwa, rata-rata pengolah ikan telah melakukan kegiatan selama 12 tahun kegiatan, dimana dari hasil wawancara pengolah yang paling lama telah melakukan kegiatan tersebut yaitu selama 20 tahun. 2) Umur pengolah ikan Berdasarkan hasil yang diperoleh umur rata-rata pengolah ikan di Pangandaran adalah 26 tahun dengan maksimal umur 59 tahun dan yang termuda atau minimal umur 28 tahun. Pengolah ikan dianggap telah memiliki pengalaman yang tinggi ketika telah melakukan kegiatan pengolahan ikan selama kurang lebih 20 tahun dan nelayan yang dianggap kurang berpengalaman ketika melakukan kegiatan penangkapann ikan selama kurang lebih 7 tahun. Hal ini menjadi indikasi bahwa umur pengolah ikan dapat menjadi tolak ukur untuk menilai tingkat pengalaman nelayan dalam kegiatan penangkapan ikan. Pengolah ikan di Pangandaran memperoleh bahan baku olahan ikan berupa ikan basah dari nelayan, pedagang ikan, TPI Pangandaran dan dari luar Pangandaran. Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh kisaran harga ikan basah yang ada di Pangandaran lebih mahal dibandingkan dari luar Pangandaran berkisar dimana kisaran perbedaan harga yaitu Rp3000 s/d Rp5000, akan tetapi kualitas hasil tangkapan di Pangandaran lebih baik dari pada hasil tangkapan dari luar Pangandaran karena hasil tangkapan dari Pangandaran diperoleh dari nelayan yang melakukan operasi penangkapan dalam satu hari (one day fishing) berbeda dengan hasil tangkapan dari luar Pangandaran yang sudah tersimpan didalam palka selama berhari-hari bahkan sampai berbulan-bulan. Hasil tangkapan dari

65 luar Pangandaran berasal dari daerah Cilacap, Indramayu dan daerah Jawa lainnya. Penjualan hasil olahan dijual ke pasar ikan, pedagang ikan, atau langsung kepada pengunjung pariwisata (Gambar 18). Pasar ikan/jongko Hasil Olahan ikan: Olahan basah Olahan kering (ikan asin dll) Pedagang ikan Pengunjung wisata Gambar 18 Alur penjualan hasil olahan ikan Berdasarkan hasil wawancara, pengolah ikan di Pangandaran memilki 2 pekerjaan sekaligus disamping menjadi pengolah ikan mereka pun menjual hasil olahannya sendiri kepada konsumen atau menjadi pedagang ikan. Harga ikan olahan yang ditawarkan sangat berpariasi tergantung dari jumlah ikan dan jenis ikan. 3) Pendapatan dan pengeluaran Pendapatan dan pengeluaran merupakan pendekatan yang dapat digunakan dalam mengetahui status ekonomi suatu rumah tangga. Pendapatan dan pengeluaran yang diperoleh masyarakat pengolah ikan di Pangandaran berasal dari sektor perikanan dan di luar sektor perikanan. Pendapatan dari sektor perikanan terdiri dari hasil penjualan hasil tangkapan yang sudah diolah dan pengeluaranya berasal pengeluaran biaya produksi. Pendapatan dari sektor non perikanan diperoleh dari penghasilan kepala keluarga dan anggota keluarga menjadi buruh tani atau bangunan, penjualan es batu dan berwirausaha dengan mendirikan warung di pinggiran pantai. Rata-rata penghasilan yang diperoleh dari penghasilan usaha perikanan dan non perikanan dapat dilihat pada Tabel 29. Tabel 29 penghasilan rata-rata pengolah dari usaha perikanan dan non perikanan No Total usaha Total Pendapatan Perikanan Non Perikanan Keluarga 1 1.684.000 80.000 1.764.000 2 1.730.000 1.730.000 3 1.615.000 1.250.000 2.865.000 4 1.880.000 1.880.000 5 2.350.000 2.350.000 6 355.000 1.000.000 1.355.000 Jumlah 9.614.000 2.330.000 11.944.000 Rata-rata 1.602.333 776.667 1.990.667

66 Penghasilan usaha perikanan diperoleh dari selisih penjualan hasil olahan ikan dengan pengeluaran produksi. Pengeluaran tersebut didapat dari pembelian hasil tangkapan dengan pengunaan garam untuk proses pengolahan. Penghasilan non perikanan yang diperoleh dari pengolah ikan didapat dari hasil penjual es batu dan pedagang warung. Jumlah perolehan dari penghasilan total usaha perikanan dengan penghasilan total non perikanan didapat pendapatan keluarga. Sehingga selisih dari pendapatan keluarga dengan pengeluaran rumah tangga yang berasal dari pengeluaran pangan dan non pangan, akan memperoleh sisa bersih pendapatan keluarga. Pengeluaran pangan diperoleh dari kebutuhan beras, lauk pauk, minyak goreng dan kebutuhan pangan lainnya sedangkan pengeluaran non pangan diperoleh dari pengeluaran listrik, air bersih, pendidikan, kesehatan, pajak bangunan dan kebutuhan lainya. Tabel 30 Sisa bersih pendapatan rumah tangga pengolah ikan No Total Total Pengeluaran Keluarga Total Pendapatan Pengeluaran Sisa bersih Non Perikanan Keluarga Non Rumah pendapatan Perikanan Pangan Pangan Tangga 1 1.684.000 80.000 1.764.000 500.000 350.000 850.000 914.000 2 1.730.000 1.730.000 700.000 800.000 1.500.000 230.000 3 1.615.000 1.250.000 2.865.000 1.000.000 1.000.000 2.000.000 865.000 4 1.880.000 1.880.000 500.000 1.000.000 1.500.000 380.000 5 2.350.000 2.350.000 1.000.000 500.000 1.500.000 850.000 6 355.000 1.000.000 1.355.000 700.000 350.000 1.050.000 305.000 Jumlah 9.614.000 2.330.000 11.944.000 4.400.000 4.000.000 8.400.000 3.544.000 Rata-rata 1.602.333 776.667 1.990.667 733.333 666.667 1.400.000 590.667 Tabel 30 menunjukan bahwa sisa bersih pendapatan keluarga pengolah ikan rata-rata sebesar Rp 509.667,00. Hal ini masih tergolong rendah karena pada saat pengambilan data kondisi Pangandaran sedang terjadi musim paceklik dan tidak sebanding dengan pengeluaran yang semakin meningkat. 5.2 Pola Adaptasi Masyarakat Nelayan Adaptasi adalah sebagai proses mengatasi halangan-halangan dari lingkungan, memanfaatkan sumber-sumber terbatas untuk kepentingan lingkungan dan sistem, penyesuaian dari kelompok-kelompok maupun pribadi terhadap lingkungan dan proses untuk menyesuaikan dengan situasi yang berubah (Soekanto 1986). Masyarakat nelayan merupakan kelompok orang yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir (Soekanto 1986). Hal ini sejalan dengan hasil pengamatan di lapangan bahwa masyarakat nelayan di Pangandaran sangat

67 tergantung terhadap hasil tangkapan yang diperoleh dari kegiatan penangkapan ikan. Musim penangkapan ikan sangat berpengaruh terhadap kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan oleh masyarakat nelayan. Pada saat musim timur masyarakat nelayan memperoleh hasil tangkapan yang melimpah sehingga penghasilan meningkat dan ketika terjadi musim barat masyarakat nelayan memperoleh hasil tangkapan yang rendah sehingga perolehan penghasilan menurun oleh sebab itu peran pelabuhan disini sangatlah penting dalam memecahkan permasalahan ini. Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan kondisi fasilitas yang diberikan oleh pihak pangkalan pendaratan ikan pangandaran belum maksimal dan banyak fasilitas belum tersedia hanya terdapat gedung TPI dan gedung pengelola sehingga hal ini akan mempengaruhi kondisi masyarakat nelayan di Pangandaran. Masyarakat nelayan di Pangandaran telah menyesuaikan dirinya dalam menghadapi permasalahan tersebut dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Adapun pola adaptasi masyarakat nelayan di Pangandaran berdasarkan tingkat penggunaan fasilitas pelabuhan yang disediakan oleh pihak PPI disajikan pada Tabel 31. Tabel 31 Pola adaptasi masyrakat nelayan terhadap fasilitas pelabuhan Berdasarkan penelitian Fasilitas yang berada di PPI Pangandaran Tidak ada fasilitas kolam pelabuhan, dermaga,breakwater dan alat bantu navigasi Terdapat gedung TPI dan adanya kegiatan lelang Terdapat gedung PPI Penggunaan fasilitas Menggunakan teluk pananjung sebagai kolam pelabuhan dan dermaga Penggunaan TPI pada saat mendapatkan hasil tangkapan yang melimpah Tidak menggunakan fasilitas gedung PPI karena lokasi yang jauh dengan pemukiman nelayan Dampak terhadap nelayan Keselamatan dipertaruhkan dalam proses pendaratan hasil tangkapan, biaya perbaikan kapal meningkat, produksi menurun, tidak ada modal usaha, kurangnya informasi daerah penangkapan ikan Pendapatan meningkat, pendapatan menurun, tidak adanya tabungan musim paceklik, tidak ada modal usaha Kurangnya informasi tentang daerah penangkapan ikan dan kemajuan teknologi penangkapan ikan Adaptasi nelayan Saling bekerjas sama dalam proses pendaratan ikan, teluk pananjung sebagai kolam pelabuahan, pantai cagar alam sebagai bersandarya kapal, peminjaman modal usaha Menjual hasil tangkapan langsung kepada pengunjung, pedagang ikan dan pengolah ikan tanpa lelang, peminjaman modal usaha, Melakukan aktifitas penangkapan berdasarkan pengalaman dan turun menurun dari keluarga

68 Berikut contoh adaptasi masyarakat nelayan di Pangandaran dalam mengatasi dampak ketika kondisi terjadi berdasarkan tabel di atas : 1) Memilih menjadi buruh pertanian ataupun buruh bangunan, 2) Memberikan pelayanan jasa penyewaan perahu dan wahana pariwisata, 3) Menjadi pemandu wisata, 4) Berdagang dengan mendirikan kios-kios, 5) Hutang kepada pemilik modal, 6) Bekerja di perkotaan, 7) Tukang ojek, 8) Pindah lokasi tempat tinggal, 9) Peran istri dan anggota keluarga dalam mendapatkan penghasilan, Kegiatan yang dilakukan masyarakat nelayan di Pangandaran ketika kondisi cuaca, pendapatan menurun, produksi menurun, bencana alam dan kondisi fasilitas pelabuhan yang kurang maksimal kebanyakan melakukan kegiatan disektor pariwisata. Meskipun sebagian masyarakat nelayan memilih pekerjaan menjadi buruh tani, buruh bangunan dan pelayanan jasa lainnya. Keberadaan lokasi yang sangat strategis dengan lokasi daerah pariwisata menjadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat nelayan karena dapat dijadikan peluang usaha dalam menambah penghasilan. Berdasarkan hasil pengamatan masyarakat nelayan Pangandaran memilki cara adaptasi yang termasuk kedalam adaptasi konformitas yaitu cara adaptasi seseorang yang cara dan tujuannya telah di tentukan oleh masyarakat. Hal ini sejalan dengan hasil pengamatan bahwa dalam pencarian pendapatan masyarakat nelayan di Pangandaran melakukan pekerjaan yang sudah ditentukan oleh masyarakat yaitu bekerja dibidang perikanan atau pun pariwisata dengan tujuan untuk mendapatkan penghasilan.