5 HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
5 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

TINGKAT KETERGANTUNGAN NELAYAN GILLNET DI PPI KARANGSONG, KABUPATEN INDRAMAYU TERHADAP SUMBERDAYA IKAN IIN SOLIKHIN

TINGKAT KETERGANTUNGAN NELAYAN GILLNET DI KARANGSONG, KABUPATEN INDRAMAYU TERHADAP SUMBERDAYA IKAN

MANAJEMEN OPERASI UNIT PENANGKAPAN GILLNET MILLENIUM 30 GT DI PPI KARANGSONG, KABUPATEN INDRAMAYU DHIMAS SETIADI

6 HASIL DAN PEMBAHASAN

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi dan Klasifikasi Alat Tangkap Alat tangkap gillnet millenium

OPTIMASI TEKNIS PERIKANAN GILLNET MILLENIUM DI DESA KARANGSONG, KABUPATEN INDRAMAYU WILLY ARISTAKING

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III BAHAN DAN METODE

ASPEK OPERASIONAL PENANGKAPAN JARING INSANG HANYUT DAN KOMPOSISI JENIS IKAN HASIL TANGKAPAN DI SEKITAR PULAU BENGKALIS, SELAT MALAKA

4 HASIL. Gambar 8 Kapal saat meninggalkan fishing base.

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

Sumber : Wiryawan (2009) Gambar 9 Peta Teluk Jakarta

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Desain dan spesifikasi alat tangkap gillnet dan trammel net. Gillnet

V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI

4 KONDISI PERIKANAN DEMERSAL DI KOTA TEGAL. 4.1 Pendahuluan

6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan

TINJAUAN PUSTAKA. dimana pada daerah ini terjadi pergerakan massa air ke atas

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

7 PEMBAHASAN 7.1 Pemilihan Teknologi Perikanan Pelagis di Kabupaten Banyuasin Analisis aspek biologi

4 KEADAAN UMUM. 4.1 Letak dan Kondisi Geografis

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

POLA ANTRIAN KAPAL PERIKANAN DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN (PPI) KARANGSONG, KABUPATEN INDRAMAYU AYANG ARMELITA ROSALIA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Jumlah Armada Penangkapan Ikan Cirebon Tahun Tahun Jumlah Motor

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5 KONDISI AKTUAL PENDARATAN DAN PENDISTRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN DI PPI MUARA ANGKE

BAB III BAHAN DAN METODE

ANALISIS SISTEM USAHA PERIKANAN GILLNET MILLENIUM DI KARANGSONG, KABUPATEN INDRAMAYU

PENDAHULUAN. Sumberdaya perikanan di laut sifatnya adalah open acces artinya siapa pun

BAB III BAHAN DAN METODE

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. terletak pada lintang LS LS dan BT. Wilayah tersebut

USAHA PERIKANAN TANGKAP SKALA KECIL DI SADENG, PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (Small Scale Fisheries Effort At Sadeng, Yogyakarta Province)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN

Analisis usaha alat tangkap gillnet di pandan Kabupaten Tapanuli 28. Tengah Sumatera Utara

KEADAAN UMUM. 4.1 Letak Geografis

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

PENGARUH PERKREDITAN KPL (KOPERASI PERIKANAN LAUT) MINA SUMITRA TERHADAP PENDAPATAN NELAYAN GILLNET DI DESA KARANGSONG KABUPATEN INDRAMAYU

DRAFT KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86/KEPMEN-KP/2016 TENTANG PRODUKTIVITAS KAPAL PENANGKAP IKAN

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

EFISIENSI WAKTU PENDARATAN IKAN TERHADAP WAKTU TAMBAT KAPAL PERIKANAN JARING INSANG DI PPI DUMAI. Fitri Novianti 1) Jonny Zain 2) dan Syaifuddin 2)

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

Usaha Perikanan Tangkap Multi Purpose di Sadeng, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta

3.2.1 Spesifikasi alat tangkap Bagian-bagian dari alat tangkap yaitu: 1) Tali ris atas, tali pelampung, tali selambar

6 AKTIVITAS PERIKANAN TANGKAP BERBASIS DI PPI JAYANTI

5 PERKEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP KABUPATEN TANGERANG DAN PPI CITUIS

5 KONDISI PERIKANAN TANGKAP KABUPATEN CIANJUR

5 HASIL PENELITIAN. Tahun. Gambar 8. Perkembangan jumlah alat tangkap purse seine di kota Sibolga tahun

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 6 Peta lokasi penelitian.

IV. KEADAAN UMUM PENELITIAN. Kecamatan Labuhan Haji merupakan Kecamatan induk dari pemekaran

KERAMAHAN GILLNET MILLENIUM INDRAMAYU TERHADAP LINGKUNGAN: ANALISIS HASIL TANGKAPAN

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

TEKNIK PENANGKAPAN IKAN PELAGIS BESAR MEMAKAI ALAT TANGKAP FUNAI (MINI POLE AND LINE) DI KWANDANG, KABUPATEN GORONTALO

8 AKTIVITAS YANG DAPAT DITAWARKAN PPI JAYANTI PADA SUBSEKTOR WISATA BAHARI

5 HASIL PENELITIAN. 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan Ikan Pelagis Kecil

6 KELAYAKAN USAHA PERIKANAN

4. HASIL PENELITIAN 4.1 Keragaman Unit Penangkapan Ikan Purse seine (1) Alat tangkap

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

ASPEK OPERASIONAL PENANGKAPAN DAN KOMPOSISI JENIS IKAN HASIL TANGKAPAN PANCING ULUR NELAYAN TANJUNG PINANG DI LAUT CINA SELATAN

Gambar 6 Sebaran daerah penangkapan ikan kuniran secara partisipatif.

PENGAMATAN ASPEK OPERASIONAL PENANGKAPAN PUKAT CINCIN KUALA LANGSA DI SELAT MALAKA

3 METODOLOGI PENELITIAN

6 KINERJA OPERASIONAL PPN PALABUHANRATU

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5 HASIL PENELITIAN 5.1 Keragaan Usaha Penangkapan Ikan

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan 2.2 Komoditas Hasil Tangkapan Unggulan

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Pelabuhan Perikanan 2.2 Fungsi dan Peran Pelabuhan Perikanan

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB II DESKRIPSI (OBJEK PENELITIAN)

BAB I PENDAHULUAN. Unisba.Repository.ac.id

HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 2. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

DISTRIBUSI DAN MARGIN PEMASARAN HASIL TANGKAPAN IKAN TONGKOL (Euthynnus Affinis) DI TPI UJUNGBATU JEPARA

ANALISIS FINANSIAL ALAT TANGKAP JARING CUMI DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN MUARA ANGKE JAKARTA UTARA

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Peta Kabupaten Indramayu Provinsi Jawa Barat

2 GAMBARAN UMUM UNIT PERIKANAN TONDA DENGAN RUMPON DI PPP PONDOKDADAP

3 METODE PENELITIAN. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

KATA PENGANTAR. Jakarta, Nopember Penyusun

ANALISIS TEKNIS DAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP PAYANG DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) WONOKERTO KABUPATEN PEKALONGAN

4 KERAGAAN PERIKANAN DAN STOK SUMBER DAYA IKAN

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

aa 26 aa a a 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Teknis Gillnet Millenium 5.1.1 Unit penangkapan ikan 1) Kapal Kapal yang mengoperasikan alat tangkap gillnet millenium merupakan kapal kayu yang menggunakan solar sebagai bahan bakar. Kapal gillnet millenium dikelompokkan menjadi empat ukuran, yakni kapal berukuran 10 GT, 20GT, 30GT, 40 GT. Kapal gillnet millenium yang berukuran 10 GT memiliki dimensi kapal 7 m x 2,5 m x 1,5 m dengan mesin berupa motor tempel berkekuatan 24 PK dengan jumlah trip per bulan sebanyak 20-30 kali bergantung dengan musim. Setiap trip kapal gillnet millenium berukuran 5-10 GT membutuhkan bahan bakar sebanyak 50 liter. Kapal berukuran 20 GT memiliki dimensi 14 m x 4,1 m x 1,8 m, dengan mesin inboard berkekuatan 120 PK. Lama satu kali trip biasanya 20 hari. Dalam satu kali trip, kapal ini membutuhkan bahan bakar sebesar 1.200 liter. Kapal berukuran 30 GT memiliki dimensi 18 m x 4,7 m x 1,8 m dan memakai mesin motor inboard berkekuatan 160 PK. Lama trip 30-40 hari, dengan kebutuhan bahan bakar per trip sebesar 5.000 liter. Kapal 40 GT menggunakan mesin inboard dengan kekuatan 220 PK. Kapal berukuran 40 GT memiliki dimensi 20 m x 5,3 m x 2,2 m, sedangkan kapal berukuran 60 GT memiliki dimensi 22,5 m x 6 m x 2,6 m. Kapal 40 GT dan 60 GT melakukan trip selama 40-60 hari, dengan kebutuhan bahan bakar mencapai 11.000 liter. Kapal 40-60 GT biasanya sudah dilengkapi dengan GPS, echosounder, radio, freezer, dan line hauler. Gambar 5 Kapal Gillnet Millenium Ukuran 30 GT

27 2) Alat tangkap Gillnet millenium terbuat dari bahan jaring polyamide multifilament berdiameter 0,15 0,17 cm dengan warna putih transparan dan jumlah pilinan sebanyak 10-12. Setiap mata jaring berukuran 4 inchi. Dalam 1 piece jaring terdapat dua jenis pelampung yakni, pelampung tali ris berbahan styrofoam dengan jarak masing-masing pelampung 25 meter (17 depa) dan pelampung badan jaring berbahan plastik bertipe Y8 dengan jarak antar pelampung sebesar 1 meter. Setiap piece jaring juga dilengkapi dengan pemberat yang terbuat dari semen dengan berat 1,4 kg- 1,5 kg dan jarak antar pemberat sepanjang 10 meter. Ukuran jaring gillnet millenium pada masing-masing kapal yaitu: 1) Jaring gillnet millenium kapal <10 GT sepanjang 20 piece (panjang 120 m/piece, tinggi 9 m); 2) Jaring gillnet millenium kapal 20 GT sepanjang 60 piece (panjang 120 m/piece, tinggi 9 m); 3) Jaring gillnet millenium kapal 30 GT sepanjang 80 piece (panjang 98 m/piece, tinggi 24 m); dan 4) Jaring gillnet millenium kapal 40 GT sepanjang 110 piece (panjang 98 m/piece, tinggi 27 m). Gambar 6 Konstruksi jaring gillnet millennium untuk kapal gillnet > 40 GT

28 3) Nelayan Nelayan gillnet millenium sebagian besar merupakan nelayan penuh, yaitu nelayan yang menghabiskan seluruh waktu kerjanya dalam kegiatan penangkapan ikan. Nelayan gillnet millenium dikelompokkan menjadi dua, yakni nelayan pemilik (juragan) dan nelayan buruh..nelayan juragan adalah pemilik kapal, alat tangkap, dan penyedia modal serta perbekalan melaut. Nelayan buruh dibagi menjadi juru mudi dan bendega (ABK). Juru mudi bertugas untuk mengemudikan kapal dan menentukan DPI. Anak buah kapal bertugas untuk mengoperasikan alat tangkap serta menyiapkan semua kelengkapan kapal lainnya..s nelayan pada kapal 5 GT sebanyak 4 orang, 20 GT sebanyak 9 orang, 30 GT sebanyak 12 orang, dan 40 GT sebanyak 13 orang. Pendapatan bagi masing-masing nelayan ditentukan dengan sistem bagi hasil. Pertama-tama pendapatan dari hasil penjualan hasil tangkapan akan dikurangi dengan biaya retribusi, BBM, dan biaya perbekalan. Nelayan pemilik akan mendapatkan bagian sebesar 60% pada kapal berukuran 30 GT dan 40 GT, sementara nelayan buruh mendapatkan bagian sebesar 40% yang dibagi rata untuk setiap nelayan, terkecuali juru mudi yang mendapat bagian 2 kali dari ABK. Pada kapal 20 GT dan kapal 5-10 GT, sistem bagi hasil antara juragan dan nelayan buruh sebesar masing-masing 50% setelah dipotong seluruh pengeluaran. 5.1.2 Kegiatan operasi penangkapan ikan 1) Persiapan Nelayan gillnet millenium melakukan beberapa persiapan dasar sebelum melakukan kegiatan operasi penangkapan ikan, yang mencakup persiapan alat tangkap, pemeriksaan mesin dan alat bantu penangkapan, pengecekan alat navigasi, pengisian bahan bakar dan es, serta pengisian bekal melaut. Persiapan alat tangkap dilakukan dengan memeriksa dan memperbaiki jaring yang rusak. Pemeriksaan dan persiapan juga dilakukan terhadap mesin kapal, roller, line hauler, dan alat bantu navigasi seperti echosounder, radio, dan GPS agar dapat menunjang kegiatan penangkapan dengan baik. Kegiatan persiapan kemudian dilanjutkan dengan pengisian bekal untuk melaut, es balok, dan bahan bakar.

29 (1) (2) (3) (4) Gambar 7 Proses persiapan perbekalan melaut (1) Nelayan memperbaiki jaring (2) Balok es dimuat ke dalam kapal, (3) Nelayan memeriksa line hauler, (4) Pengisian bahan bakar. 2) Metode operasi Pengoperasian alat tangkap gillnet millenium diawali dengan penentuan fishing ground yang biasanya ditentukan oleh juru mudi. Setting jaring gillnet millenium biasa dilakukan selama 2 jam, yakni pada pukul 16.00-18.00 WIB. Awalnya, pelampung tanda yang berada di ujung tali selambar diturunkan, kemudian kapal terus bergerak secara perlahan seraya nelayan terus menurunkan badan jaring hingga piece terakhir. Jaring gillnet millenium dapat dioperasikan pada permukaan air, kolom perairan, dan dasar perairan..hal ini dapat dilakukan dengan cara mengatur jumlah pelampung styrofoam. Biasanya, ketika langit terang, maka badan jaring diturunkan ke dasar perairan, sedangkan bila langit sedang gelap, maka badan jaring dipasang di kolom perairan. Kedalaman jaring gillnet millenium diatur untuk menangkap ikan tenggiri dan tongkol. Lama perendaman jaring adalah selama 6 jam, lalu pada pukul 24.00

30 WIB jaring diangkat (hauling), penarikan jaring dilakukan dengan menggunakan mesin line hauler.. Proses hauling pada kapal berukuran 30 GT dan 40 GT, berlangsung mulai pukul 24.00 WIB dan berakhir pada pukul 08.00 WIB, atau selama 8 jam..hasil tangkapan kemudian dimasukkan ke dalam palka yang sudah diisi es. (1) (2) Gambar 8 Alat bantu gillnet millenium (1) Line hauler pada kapal 5 GT, (2) Serok Bila palkah sudah penuh dengan hasil tangkapan dan persediaan BBM sudah menipis, maka kapal gillnet millennium akan kembali ke fishing base untuk mendaratkan hasil tangkapannya. Sementara apabila palkah sudah penuh dengan hasil tangkapan namun persediaan BBM di kapal masih banyak, maka juru mudi akan menghubungi kapal lain milik juragan yang sama untuk menitipkan hasil tangkapannya. 3) Penanganan hasil tangkapan Ikan hasil tangkapan yang terjerat oleh gillnet millenium langsung dilepas seraya proses hauling terus berlangsung. Ikan yang tertangkap kemudian disortir berdasarkan jenis dan ukuran, dan kemudian dimasukkan ke dalam palka yang telah berisi es. 4) Pendaratan hasil tangkapan Proses pembongkaran ikan segera dilaksanakan ketika kapal sudah bersandar. ABK kapal akan menurunkan hasil tangkapan yang sudah dimuat dalam keranjang dan drum..ikan hasil tangkapan kemudian langsung diangkut

31 menuju TPI Karangsong untuk dilelang. Proses pelelangan hasil tangkapan setelah diturunkan dari kapal adalah sebagai berikut: 1) Nelayan mengantri untuk mendapatkan nomor lelang kapal. 2) Hasil tangkapan dibawa untuk dilakukan proses penimbangan. 3) Keranjang ikan ditandai berdasarkan nama juragan dan diberi nomor urut lelang. 4) Proses lelang diselenggarakan yang dipimpin oleh juru lelang 5) Pemenang lelang adalah pihak yang membayar dengan harga tertinggi. 6) Petugas lelang menandai keranjang berdasarkan nama pemenang lelang. 7) Pemenang lelang membayarkan ikan yang dibelinya kepada pihak TPI 8) Pihak TPI kemudian membayarkan hasil pelelangan ikan ke juragan. Gambar 9 Kegiatan lelang di PPI Karangsong.

32 5.1.3 Hasil tangkapan Hasil tangkapan gillnet millenium yang didaratkan di PPI Karangsong antara lain bawal hitam (Formio niger), tongkol (Auxis thazard), klayaran (Makaira indica), manyung (Arius thalassinus), tenggiri (Scomberomorus commersoni), kakap merah (Lutjanus malabaricus), kakap putih (Lates calcarifer), cucut (Charcharinus sp.), remang (Congresox talabon), pari (Dasiatys sp.), sebelah (Psettodes erumei), lidah (Chirocentrus dorab) dan selar (Caranx sexfasciatus). 5.2 Analisis Faktor-Faktor Teknis Produksi Penangkapan Gillnet Millenium Faktor-faktor produksi yang dipilih pada penelitian ini adalah yang berpengaruh langsung dalam kegiatan produksi perikanan. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh dalam usaha perikanan gillnet millenium adalah: 1) Ukuran kapal Ukuran kapal diduga sebagai faktor penting yang mempengaruhi hasil produksi perikanan gillnet millenium. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin besar ukuran kapal maka daya jelajah kapal dan daya tampung juga semakin besar. Hal ini berpengaruh positif terhadap jumlah hasil tangkapan. Kapal diukur berdasarkan volume yaitu gross tonnage (GT). 2) Panjang jaring Panjang jaring memiliki pengaruh yang penting dalam hasil produksi perikanan gillnet millenium karena panjang jaring berkaitan dengan area luasan badan jaring yang direntangkan untuk menghadang ruaya ikan target tangkapan sehingga ikan dapat terjerat. Panjang jaring didasarkan pada satuan piece. 3) Lama Hari Gillnet millenium dioperasikan dengan tempo waktu harian. Berdasarkan hal tersebut, maka jumlah hari operasi armada penangkapan ikan akan berpengaruh besar dalam jumlah produksi hasil tangkapan. 4) Kebutuhan Bahan Bakar,Pemakaian rata-rata kapal yang berukuran 5 GT menggunakan BBM sebesar 50 liter/trip, kapal 20 GT sebesar 1.200 liter/trip, kapal 30 GT sebesar 5.000 liter/trip, dan kapal 60 GT sebesar 11.000 liter/trip.

33 5) ABK Tenaga kerja pada setiap kapal dibagi menjadi nahkoda dan anak buah kapal. tenaga kerja pada masing-masing kapal sebanyak 4 hingga 13 orang. 5.3 Optimasi Teknis Perhitungan optimasi teknis gillnet millenium dilakukan dengan menggunakan empat kelompok data yang disusun berdasarkan ukuran kapal. Keempat ukuran kapal tersebut adalah kapal ukuran > 40 GT, 30 GT, 20 GT, dan 10 GT. Perbedaan ukuran kapal gillnet millenium juga disertai oleh perbedaan faktor teknis lainnya pada masing-masing ukuran kapal. Faktor teknis yang mengikutinya yaitu panjang jaring (piece), lama trip (hari), jumlah ABK (orang), dan kebutuhan BBM (liter). Tabel 9 Hasil Produksi Perikanan untuk Kapal 40 GT Kapal 40 GT Luas jaring (m 2 ) Lama trip (hari) Volume produksi trip 1 (kg) Volume produksi trip 2 (kg) ABK (orang) Kebutuhan BBM/trip (liter) Atlantik 3 258.720 60 hari 35.000 kg 28.000 kg 13orang 11.000L Atlantik 8 55.000 kg 30.000 kg 13orang 11.000L Atlantik 2 36.000 kg 34.000 kg 13orang 11.000L Atlantik 5 48.000 kg 42.000 kg 13orang 11.000L Dari Tabel 9 di atas, dilakukan perhitungan mengenai rata-rata jumlah hasil produksi per trip, jumlah produktivitas harian, jumlah produktivitas harian per luasan jaring, jumlah produktivitas harian per ABK, dan jumlah produktivitas BBM/trip. Berikut adalah hasil perhitungan dari komponen-komponen tersebut: o Produktivitas rata-rata per trip rata - rata volume produksi 4 154.000 38.500 kg 4

34 o Produktivitas harian produktivitas rata - rata per trip 38.500 kg A lama trip 60 hari 641,667 kg/hari o Produktivitas harian per luas jaring produktivitas harian B luas jaring 641.667 gram 2 258.720 m 2,48 g/m2 o Produktivitas harian per ABK C produktivitas harian 641,667 kg jumlah ABK 13 orang 49,359 kg /orang/hari o Produktivitas BBM/Trip produktivitas rata - rata per trip D Kebutuhan BBM 38.500 kg 3,5kg /liter 11000 Liter Dari perhitungan di atas, didapati bahwa kelompok kapal gillnet millenium berukuran > 40 GT menangkap ikan rata-rata sejumlah 38.500 kg dalam satu kali trip atau setara dengan 641,667 kg ikan per hari. Setiap 1 meter persegi jaring mampu menghasilkan ikan sebanyak 2,48 gram. Perbandingan jumlah hasil tangkapan dengan jumlah ABK adalah 49,359 kg ikan untuk 1 orang ABK. Setiap satu liter BBM yang digunakan dalam trip menghasilkan 3,5 kg ikan. Tabel 10 Hasil Produksi Perikanan untuk Kapal 30 GT Kapal 30 GT Luas jaring (m 2 ) Lama trip (hari) produksi trip 1kg) produksi trip 2 (kg) ABK (orang) Kebutuhan BBM/trip (liter) Andora B 164640 40 16.000 15.000 12 5000 Andora A Andora 18 Andora 12 20.000 20.000 12 5000 19.000 16.000 12 5000 14.000 11.000 12 5000 Dari tabel di atas, dilakukan perhitungan mengenai rata-rata jumlah hasil produksi per trip, jumlah produktivitas harian, jumlah produktivitas harian per luasan jaring, jumlah produktivitas harian per ABK, dan jumlah produktivitas BBM/trip. Berikut adalah hasil perhitungan dari komponen-komponen tersebut:

35 o Produktivitas rata rata-rata per trip rata - rata volume produksi 4 o Produktivitas harian 65.000kg 4 16.375 kg produktivitas rata - rata per trip A lama trip 16.375 kg 40hari 409,375 kg/hari o Produktivitas harian per luas jaring produktivitas harian B luas jaring o Produktivitas harian per ABK 403.375 g 164640 m2 2,45 g/m2 C produktivitas harian 409,375 kg/hari jumlah ABK 12 orang 34,114 kg/orang/hari o Produktivitas BBM/Trip produktivitas rata - rata per trip D Kebutuhan BBM 16.375 kg 3,275 kg/liter 5000 Liter Dari perhitungan di atas, didapati bahwa kelompok kapal gillnet millenium berukuran 30 GT menangkap ikan rata-rata sejumlah 16.375 kg dalam satu kali trip atau setara dengan 409,375 kg ikan per hari. Setiap 1 meter persegi jaring mampu menghasilkan ikan sebanyak 2,45 gram. Perbandingan jumlah hasil tangkapan dengan jumlah ABK adalah 34,114 kg ikan untuk 1 orang ABK. Setiap satu liter BBM yang digunakan dalam trip menghasilkan 3,275 kg ikan.

36 Tabel 11 Hasil Produksi Perikanan untuk Kapal 20 GT Kapal 20 GT Luas jaring (m 2 ) Lama trip (hari) produksi trip1(kg) produksi trip 2(kg) ABK (orang) Kebutuhan BBM/trip (liter) Tambah 64800 20 hari 3.000 4.000 9 1200 Muncul Sundora 7.000 6.000 9 1200 Tambah 2.500 2.500 9 1200 Kukuh Barokah 6.500 5.200 9 1200 Samiasih 6.700 5.300 9 1200 Sinar 6.100 7.000 9 1200 Jaya Abadi 1 6.700 6.200 9 1200 Dari tabel di atas, dilakukan perhitungan mengenai rata-rata jumlah hasil produksi per trip, jumlah produktivitas harian, jumlah produktivitas harian per luasan jaring, jumlah produktivitas harian per ABK, dan jumlah produktivitas BBM/trip. Berikut adalah hasil perhitungan dari komponen-komponen tersebut: o Produktivitas rata-rata per trip rata - rata volume produksi 7 o Produktivitas harian 37.350 5.335,714 kg 7 produktivitas rata - rata per trip 5335,714 kg A 266,785 kg /hari lama trip 20hari o Produktivitas harian per luas jaring produktivitas harian B luas jaring 266.785 g 2 64800 m 4,12 g/m2 o Produktivitas harian per ABK C produktivitas harian 266,785 kg /hari jumlah ABK 9 orang 29,642 kg /hari/orang o Produktivitas BBM/Trip Produktivitas rata - rata per trip 5.335,714 kg D Kebutuhan BBM 1200 Liter 4,446kg/L

37 Dari perhitungan di atas, didapati bahwa kelompok kapal gillnet millenium berukuran 20 GT menangkap ikan rata-rata sejumlah 5.335,714 kg dalam satu kali trip atau setara dengan 266,785 kg ikan per hari. Setiap 1 meter persegi jaring mampu menghasilkan ikan sebanyak 4,12 gram. Perbandingan jumlah hasil tangkapan dengan jumlah ABK adalah 29,642 kg ikan untuk 1 orang ABK. Setiap satu liter BBM yang digunakan dalam trip menghasilkan 4,446 kg ikan. Tabel 12 Hasil Produksi Perikanan untuk Kapal < 10 GT Kapal <10 GT KM Nurhidayah KM Agung Jaya KM Arif Putra KM Laksana KM Eka Jaya KM UntungJaya KM Puncak Jaya Luas jaring (m 2 ) Lama trip (hari) produksi trip 1 (kg) Produksi trip 2 (kg) ABK (orang) Kebutuhan BBM/trip (liter) 21600 1 30 50 4 50 40 30 4 50 40 70 4 50 76 63 4 50 52 62 4 50 65 72 4 50 61 45 4 50 Dari tabel di atas, dilakukan perhitungan mengenai jumlah produktivitas harian, jumlah produktivitas harian per luasan jaring, jumlah produktivitas harian per ABK, dan jumlah produktivitas BBM/trip. Berikut adalah hasil perhitungan dari komponen-komponen tersebut: o Produktivitas harian rata - rata volume produksi A 7 o Produktivitas harian per luas jaring produktivitas harian B luas jaring 54000 kg 2 21.600 m 378 54 kg/ hari 7 2,5 kg/m2

38 o Produktivitas harian per ABK C produktivitas harian 54 kg /hari jumlah ABK 4 orang 13,5 kg/orang/hari o Produktivitas BBM/Trip Produktivitas rata - rata per trip D Kebutuhan BBM 54 kg 50 Liter 1,08kg/L Dari perhitungan di atas, didapati bahwa kelompok kapal gillnet millenium berukuran < 10 GT menangkap ikan rata-rata 54 kg/hari, dimana setiap 1 meter persegi jaring mampu menghasilkan ikan sebanyak 2,5 gram. Perbandingan jumlah hasil tangkapan dengan jumlah ABK adalah 13,5 kg ikan untuk 1 orang ABK. Setiap satu liter BBM yang digunakan dalam trip menghasilkan 1,08 kg ikan. Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka kita dapatkan komponenkomponen untuk menghitung optimasi teknis. Tabel 13 Tabel Optimasi No Kapal A Fn A B Fn B C Fn c D Fn D X2 1. <10 GT 54 0 2,5 0,03 13,5 0 1,08 0 0,03 2. 20 GT 266,785 0,362 4,12 1 29,642 0,45 4,446 1 2,812 3. 30 GT 409,375 0,604 2,45 0 34,114 0,57 3,275 0,65 1,824 4. >40 GT 641,667 1 2,48 0,017 49,359 1 3,5 0,72 2,737 Keterangan: A Fn A Produktivitas harian (kg) Fungsi nilai untuk A B Produktivitas harian per luas jaring (gr/m 2 ) Fn B C Fn C D Fn D X2 Fungsi nilai untuk B Produktivitas harian per ABK (kg/orang/hari) Fungsi nilai untuk C Produktivitas BBM/Trip (kg/liter) fungsi nilai untuk D Total fungsi nilai Berikut adalah perhitungan untuk mencari nilai F n untuk produktivitas harian masing-masing kategori kapal:

39 Fn A1 A A 1 - A - A 54-54 641,667-54 0 587,667 0 Fn A2 A A 2 - A - A 266,785-54 641,667-54 212, 785 0, 362 587,667 Fn A3 A A 3 - A - A 409,375-54 641,667-54 355,375 0, 604 587,667 Fn A4 A A 4 - A - A 641,667-54 641,667-54 1 Berikut adalah perhitungan untuk mencari nilai F n dari Produktivitas harian per luas jaring untuk masing-masing kategori kapal: Fn B1 B B 1 - B - B 2,5-2,45 4,12-2,45 0,05 0,03 1,67 Fn B2 B B 2 - B - B 4,12-2,45 1,67 1 4,12-2,45 1,67 Fn B3 B B 3 - B - B 2,45-2,45 0 4,12-2,45 1,67 0 Fn B4 B B 4 - B - B 2,48-2,45 0,03 0,017 4,12-2,45 1,67 Berikut adalah perhitungan untuk mencari nilai F n dari produktivitas harian per ABK untuk masing-masing kategori kapal: C1 - C 13,5-13,5 0 Fn C1 0 C - C 49,359-13,5 35,859 Fn C2 C C 2 - C - C 29,642-13,5 16,142 0,45 49,359-13,5 35,859 C Fn C3 C C Fn C4 C 3 4 - C - C - C - C 34,114-13,5 20,614 0,57 49,359-13,5 35,859 49,359-13,5 1 49,359-13,5

40 Berikut adalah perhitungan untuk mencari nilai F n dari produktivitas BBM per trip untuk masing-masing kategori kapal: Fn D1 Fn D2 D D D D D Fn D3 D D Fn D4 D 1 2 3 4 - D - D - D - D - D - D - D - D 1,08-1,08 4,446-1,08 4,446-1,08 1 4,446-1,08 0 3,366 0 3,275-1,08 2,195 0,65 4,446-1,08 3,366 3,5-1,08 4,446-1,08 2,42 0,718 3,366 Berdasarkan tabel di atas, maka ditentukanlah nilai X2 untuk masing-masing kelompok kapal adalah sebagai berikut: a. X2 (10GT) Fn A1 + Fn B1 + Fn C1 + Fn D1 0,18 b. X2 (20GT) Fn A2 + Fn B2 + Fn C2 + Fn D2 2,812 c. X2 (30GT) Fn A3 + Fn B3 + Fn C3 + Fn D3 1,824 d. X2 (40GT) Fn A4 + Fn B4 + Fn C4 + Fn D4 2,89 Berdasarkan nilai F na, semakin besar ukuran kapal maka semakin besar pula produktivitas hariannya. Kelompok kapal dengan ukuran > 40 GT memiliki nilai produktivitas harian yang paling tinggi dibandingkan ketiga kelompok kapal lain. Kapal dengan ukuran di atas > 40 GT yang memiliki jumlah hari trip sebanyak 60 hari, memiliki indeks fungsi nilai bernilai 1. Sementara kapal dengan ukuran 30 GT dengan jumlah hari trip sebanyak 40 hari memiliki rata-rata produktivitas harian tertinggi kedua, yakni dengan indeks fungsi nilai sebesar 0,604. Kelompok kapal ketiga, yakni kapal berukuran 20 GT dengan jumlah hari trip sebanyak 20 hari memiliki produktivitas harian tertinggi ketiga dengan indeks fungsi nilai sebesar 0,362. Kapal dengan ukuran <10 GT yang beroperasi harian (one day fishing) memiliki nilai produktivitas harian yang terendah yakni dengan indeks 0. Selain mempengaruhi lamanya trip operasi penangkapan ikan dan daya jelajah kapal, ukuran kapal juga mempengaruhi lokasi penangkapan ikan seperti

41 yang telah diatur oleh undang-undang perikanan tahun 2004. Kapal gillnet millenium berukuran > 40 GT memiliki area operasi di jalur tangkap III yakni lebih dari 12 mil lepas pantai. Kapal berukuran 20 GT dan 30 GT memiliki daerah operasi di jalur tangkap II yakni 6-12 mil lepas pantai. Kapal gillnet millenium berukuran < 10 GT hanya diizinkan beroperasi di jalur tangkap 1a dan 1b, yakni sejauh 0-6 mil dari pantai (KKP, 2011). Kapal berukuran 30 GT dan > 40 GT memiliki daerah penangkapan ikan sampai ke perairan Belitung, Selat Karimata, Madura, Karimun Jawa, dan Kepulauan Natuna yakni pada WPP (Wilayah Pengelolaan Perikanan) 711 yang memiliki status stok pelagis besar under exploited. Kapal dengan ukuran 20 GT memiliki DPI terjauh sampai Belitung dan Selat Karimata yang juga berada pada WPP 711. Kapal dengan ukuran dibawah 10 GT hanya beroperasi di sekitar pantai Indramayu sampai dengan pulau Biawak yang berada pada WPP 712 dengan status stok overfishing (Forum Nasional Kebijakan SDI di WPP, 2009). Menurut Hamdan,et al. (2006) hasil tangkapan nelayan di Perairan Utara Jawa kurang dari 12 mil tidak terlalu banyak. Kecilnya indeks F na untuk kelompok kapal berukuran < 10 GT juga diduga dipengaruhi oleh tingkat persaingan untuk kapal berukuran < 10 GT sangat tinggi apabila dibandingkan dengan kelompok kapal lainnya yang berukuran lebih besar. Hal ini terlihat dari proporsi ukuran kapal di Kabupaten Indramayu dimana kapal berukuran < 10 GT sangat mendoasi dengan jumlah sebanyak 5375 unit kapal atau 89% dari jumlah keseluruhan kapal pada tahun 2009 (Pemerintah Kabupaten Indramayu, 2011). Ketatnya persaingan antar armada dan daerah penangkapan yang sudah mengalami overfishing, mengakibatkan produktivitas harian kapal gillnet millenium < 10 GT adalah yang terendah dibandingkan ketiga kelompok kapal lainnya. Untuk produktivitas per meter persegi jaring, kapal gillnet millenium berukuran 20 GT memiliki produktivitas per meter persegi yang paling tinggi dengan indeks fungsi nilai sebesar 1, diikuti dengan kapal berukuran < 10 GT, > 40 GT, dan kapal 30 GT dengan masing-masing nilai indeks fungsi nilai sebesar 0,03, 0,017, dan 0. Produktivitas jaring per meter persegi mengartikan banyaknya massa ikan (gram) yang tertangkap per 1 meter persegi jaring gillnet millenium.

42 Ini berarti ikan yang tertangkap pada jaring gillnet millenium dengan ukuran kapal 20 GT memiliki sebaran yang lebih rapat dibandingkan ketiga kelompok kapal lainnya. Bila dilihat komposisi hasil tangkapan ikan yang didaratkan di PPI Karangsong pada tahun 2010, 40,86% di antaranya adalah jenis ikan demersal dan ikan karang. ini diduga dihasilkan oleh jaring gillnet millenium dengan kedalaman 9 m yang dimiliki oleh kapal ukuran 20 GT dan < 10 GT. Perairan Belitung, Laut Jawa, dan Selat Karimata yang menjadi fishing ground armada gillnet millenium ukuran 20 GT merupakan perairan yang dangkal karena termasuk dalam paparan sunda. Bila dilihat berdasarkan sifat gillnet millennium yang dapat dioperasikan hanyut di permukaan, kolom, dan dasar perairan, serta kemungkinannya untuk hanyut sampai ke daerah pantai, maka tidak heran apabila jenis ikan yang tertangkap adalah ikan-ikan demersal dan karang seperti bawal hitam (Formio niger), manyung (Arius thalassinus), kakap merah (Lutjanus malabaricus), kakap putih (Lates calcarifer), remang (Congresox talabon), pari (Dasiatys sp.), sebelah (Psettodes erumei), dan selar (Caranx sexfasciatus). Alat tangkap yang dimiliki armada gillnet millenium ukuran 30 GT dan > 40 GT memiliki jaring dengan ketinggian 24 meter dan 27 meter yang ditujukan untuk menghadang ruaya ikan tongkol dengan tenggiri yang memiliki swimg layer 10-70 m dan berenang secara schooling (Pauly, 1996). Pada Tabel 13, indeks jumlah produktivitas harian per luasan jaring (B) untuk kapal dengan ukuran 20 GT dan < 10 GT lebih besar dibandingkan indeks B yang dimiliki oleh kapal dengan ukuran 30 GT dan > 40 GT yang memiliki ketinggian jaring 24 m dan 27 m. Angka yang terdapat pada kolom F nb memperlihatkan bahwa luas jaring tidak berbanding lurus dengan jumlah hasil tangkapan. Selain tidak efisien, ukuran jaring gillnet millennium di desa Karangsong juga tidak ramah lingkungan karena badan jaring yang terlalu tinggi menghadang semua biota perairan baik permukaan, kolom, maupun dasar perairan. Berdasarkan nilai F nc untuk produktivitas harian per ABK, dari tabel optimasi kita dapat melihat bahwa produktivitas harian per ABK berbanding lurus

43 dengan besarnya ukuran kapal. Semakin besar kapal, maka semakin banyak jumlah ABK-nya. Kapal dengan ukuran 40GT memiliki nilai F nc tertinggi dengan indeks nilai bernilai 1, diikuti dengan kelompok kapal 30 GT dengan indeks nilai bernilai 0,57, kemudian kelompok kapal 20GT dengan indeks nilai 0,45, dan kelompok kapal dibawah 10 GT dengan indeks nilai 0. Angka Fn C pada produktivitas harian per ABK menunjukkan berapa hasil yang dicapai oleh rata-rata setiap ABK dalam satu hari penangkapan. Kapal dengan ukuran > 40 GT memiliki produktivitas harian per ABK yang paling tinggi karena meskipun hanya beranggotakan 13 ABK, kelompok kapal ini dapat mengumpulkan hasil tangkapan lebih banyak dari yang kelompok kapal yang lain. Artinya, penggunaan tenaga manusia paling optimal terjadi pada kelompok kapal ini. Ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Prabowo, et. al (2012) yang menyatakan bahwa ada kecenderungan produksi ikan meningkat dengan bertambahnya jumlah ABK yang ikut serta. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara di lapangan pada kelompok kapal ukuran > 40 GT, setiap ABK-nya diwajibkan untuk dapat menggantikan peran ABK yang lain, dan wajib ikut serta dalam operasi penangkapan bila sedang tidak bertugas. Kewajiban ini berdampak positif pada penggunaan jumlah ABK yang ikut dalam operasi penangkapan. ABK dapat diimalisir karena bahkan juru masak dan ahli mesin juga terlibat dalam kegiatan penangkapan, sehingga penggunaan tenaga kerja juga lebih efisien. Syamsul dan Tanjung (2003) menjelaskan bahwa adanya perputaran tugas (job rotation), perluasan pekerjaan, dan pemerkayaan pekerjaan dapat menambah kualitas, kerjasama, dan motivasi pekerja Berbeda halnya dengan kelompok kapal ukuran > 40 GT, pada kapal ukuran < 10 GT, operasi penangkapan ikan cukup dilakukan oleh 2 orang nelayan. Sementara itu, 2 nelayan lainnya yang berfungsi sebagai juru mudi dan juru mesin jarang terlibat dalam operasi penangkapan. Berkenaan dengan nilai F nd (produktivitas BBM per trip), kapal dengan ukuran 20 GT memiliki nilai F nd yang tertinggi yakni 1, diikuti dengan kapal berukuran >40GT dengan nilai F nd 0,72 kemudian kapal berukuran 30 GT dengan nilai F nd 0,65. Nilai F nd terendah dimiliki oleh kapal berukuran <10GT. Salah satu

44 faktor yang menyebabkan perbedaan nilai F nd adalah keahlian fishing master dalam menentukan fishing ground. Kelompok kapal berukuran 20 GT memiliki nilai F nd tertinggi karena memiliki ukuran yang lebih kecil dan lama trip 12 hari dengan DPI yang tidak terlalu jauh, namun produktif, yakni pada WPP 711, di daerah Belitung dan Selat Karimata yang berstatus under exploited (Forum Nasional Kebijakan SDI di WPP, 2009). Kapal berukuran < 40 GT meskipun memiliki produktivitas harian tertinggi, namun penggunaan BBM nya lebih boros karena harus beroperasi 12 mil dari garis pantai selama 60 hari. Akibatnya, produktivitas per liter BBM kelompok kapal ini lebih rendah dibandingkan kelompok kapal berukuran 20 GT. Sedangkan pada kapal < 10 GT yang beroperasi di sekitar pantai utara Laut Jawa yang memiliki persaingan tinggi dan berstatus overfishing, untuk mensiasati kondisi ini, biasanya nelayan skala kecil melakukan penangkapan di fishing ground yang lebih jauh (Prabowo, et. al, 2012). Hasil perhitungan optimasi yang didasarkan atas produktivitas harian, produktivitas jaring per luasan wilayah, produktivitas harian per ABK, dan produktivitas BBM per trip menunjukkan bahwa kapal dengan ukuran 20 GT adalah kapal dengan nilai optimal paling tinggi dengan indeks nilai total 2,812, diikuti dengan kapal berukuran < 40 GT dengan nilai 2,737, kemudian kapal berukuran 30 GT dengan nilai 1,824, dan kapal 10 GT dengan nilai 0,03. Kelompok kapal berukuran 20 GT merupakan kelompok kapal yang paling efisien dari segi teknis, namun nilainya tidak terlalu signifikan bila dibandingkan dengan kelompok kapal berukuran < 40 GT. Meskipun kelompok kapal 20 GT lebih efisien dari segi teknis, namun penelitian yang dilakukan oleh Ritonga (2012) menunjukkan bahwa kelompok kapal berukuran < 40 GT lebih unggul dari segi analisis finansial karena memiliki nilai R/C dan return of investment yang lebih tinggi dibandingkan ketiga kelompok kapal lainnya. Salah satu hal yang menyebabkan hal ini adalah ikan hasil tangkapan kapal ukuran < 40 GT memiliki nilai jual yang lebih baik dibandingkan ketiga kelompok kapan lainnya.