5 HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Agus Susanto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kajian Konstruksi Unit Penangkapan Cantrang Alat tangkap cantrang Alat tangkap cantrang yang berbasis di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur terdiri atas tiga bagian utama yaitu: sayap, badan, dan kantong. Alat tangkap ini dilengkapi dengan tali selambar, pelampung, pemberat, danleno, tali ris atas dan tali ris bawah. Penjelasan lebih rinci mengenai bagian-bagian cantrang yang terdapat di PPN Brondong dijelaskan sebagai berikut: 1) Sayap (wings) Sayap pada cantrang terdiri atas dua bagian (double seam) yaitu: sayap atas dan sayap bawah. Kedua sayap ini sama, baik bahan material maupun ukurannya. Pada umumnya sayap terbuat dari bahan PE (polyethylene), namun pada beberapa bagian sayap menggunakan bahan PA (polyamide). Bagian sayap ini terdiri dari 5 kisi (lembaran) jaring dengan ukuran mata jaring (mesh size) mm. Bahan PA digunakan pada beberapa bagian kisi jaring karena bahan PA merupakan bahan yang lebih mudah tenggelam di dalam air dengan berat jenis 1,14 g/cm 3 (Iskandar, 2009). Tujuan penggunaan bahan ini adalah agar jaring lebih cepat tenggelam pada saat pengoperasian. 2) Badan jaring (body) Badan jaring merupakan bagian yang terdapat antara mulut dengan kantong pukat. Bagian ini umumnya terdiri dari 15 kisi jaring dengan ukuran mata jaring (mesh size) dari mm. Sebagian besar bagian badan ini terbuat dari bahan PE (polyethylene) kecuali pada kisi bagian depan terbuat dari bahan PA (polyamide). 3) Kantong (cod end) Bagian kantong merupakan bagian yang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya hasil tangkapan pada alat tangkap cantrang. Panjang kantong adalah 3 meter dengan ukuran mesh size 30 mm yang terdiri dari 1 kisi jaring. Bagian kantong terbuat dari bahan polyethylene (PE) dengan diameter benang
2 32 jaring 18. Bagian kantong cantrang dilengkapi dengan pemberat di bagian ujung yang berfungsi agar posisi kantong tetap berada di dasar perairan sehingga memudahkan ikan hasil tangkapan masuk ke dalam kantong. 4) Tali selambar (warp) Tali selambar pada cantrang merupakan salah satu bagian yang berperan penting. Panjang tali selambar pada cantrang adalah 21 gulung pada masingmasing bagian. Satu gulung tali selambar berukuran panjang 32 depa. Jika satu depa sama dengan 1,5 meter maka panjang satu gulung tali selambar adalah 48 meter. Jadi panjang total tali selambar pada salah satu sisi sayap lebih kurang 1000 meter. Tali selambar pada alat tangkap cantrang memiliki keistimewaan, yaitu terdiri dari campuran beberapa bahan material (mixed rope). Pada bagian dalam terbuat dari bahan PP (polypropylene) dan PA (polyamide) yang kemudian dibalut dengan bahan tekstil (cotton). Desain tali selambar seperti ini membuat tali selambar kuat terhadap beban tarikan yang besar. Selain itu, dengan desain seperti ini diharapkan tali selambar lebih cepat tenggelam dalam pengoperasiannya. Bentuk dan bahan tali selambar yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 9. Gambar 9 Tali selambar cantrang. 5) Tali ris atas Tali ris atas terbuat dari bahan plastik (PL) dengan diameter 19 mm. Bahan ini digunakan karena merupakan bahan yang mudah terapung sehingga bagian mulut jaring dapat terbuka secara sempurna. Panjang tali ris atas pada alat tangkap cantrang adalah 51,30 meter. Gambar tali ris atas dapat dilihat pada Gambar 10.
3 33 Gambar 10 Tali ris atas cantrang. 6) Tali ris bawah Tali ris bawah terbuat dari bahan yang sama dengan tali selambar, yaitu bahan campuran (mixed rope) antara bahan PP (polypropylene), PA (polyamide) dan bahan tekstil (cotton) dengan diameter 29 mm. Namun, memiliki beberapa perbedaan desain antara tali ris bawah dengan tali selambar, yaitu bagian tali ris bawah memiliki pemberat. Pemberat ini terbuat dari bahan timah berbentuk lembaran yang dipasang dengan cara dibalutkan pada tali dengan jarak cm yang kemudian dibalut kembali dengan bahan tekstil (cotton) dan ditandai dengan bahan plastik terpal berwarna-warni. Fungsi pemasangan pemberat pada tali ris bawah ini adalah agar pemberat tidak tersangkut pada substrat perairan saat dilakukan operasi penangkapan. Pada tali ris bawah ini terdapat 15 kg pemberat timah. Gambar tali ris bawah yang dilengkapi dengan pemberat timah dapat dilihat pada Gambar 11. Tali ris bawah Pemberat timah Gambar 11 Tali ris bawah dan pemberat timah.
4 34 7) Pelampung (float) Pelampung pada alat tangkap cantrang terdiri dari tiga jenis, dengan rincian masing-masing sebagai berikut: a) pelampung tanda: terbuat dari gabus yang dilapisi dengan plastik terpal dan diberi tiang bendera setinggi 3 meter; b) pelampung pada bagian mulut pukat terdapat 2 buah, merupakan pelampung yang terbuat dari plastik (PL) dengan nomor 200 dan 600; c) pelampung pada masing-masing sayap merupakan pelampung yang terbuat dari bahan PL dengan nomor 200 dan berjumlah masing-masing 1 buah; 8) Pemberat (sinker) Pemberat pada alat tangkap cantrang dipasang pada beberapa bagian. Selain pemberat yang terdapat pada tali ris bawah, terdapat juga pemberat pada bagian mulut pukat yang terbuat dari batu atau dari semen dengan berat 5 kg. Selain itu, terdapat pemberat pada bagian sayap yang berada tepat di bawah pelampung (pemasangan pemberat ini tergantung kondisi arus pada setiap operasi penangkapan). Pemberat ini terbuat dari batu dengan berat 2 kg. Selain itu, terdapat pemberat pada bagian kantong (codend) seperti yang dijelaskan sebelumnya. Pemberat ini terbuat dari batu dengan berat lebih kurang 7 kg. Pemberat lain yang terdapat pada cantrang adalah di bagian danleno. Pemberat pada danleno ini masing-masing terdapat 2 buah dengan berat total 5 kg. 9) Danleno Danleno disebut juga dengan andem sebutan lokal nelayan Lamongan, merupakan rangka yang terbuat dari besi berbentuk segitiga yang berfungsi untuk mempertahankan posisi jaring dalam keadaan tegak. Danleno terdapat pada masing-masing bagian sayap cantrang. Spesifikasi teknis jaring cantrang yang terdapat di PPN Brondong yang didapatkan dari hasil pengukuran di lapangan dapat dilihat pada Tabel 12. Panjang bagian secara memanjang dan melintang merupakan hasil perkalian antara ukuran mata jaring (mesh size) dengan jumlah mata jaring tersebut. Gambar teknis dan bentuk konstruksi alat tangkap cantrang dapat dilihat pada Lampiran 3 dan 4.
5 35 Tabel 12 Spesifikasi teknis cantrang di PPN Brondong Bagian Mesh Jumlah mata Panjang bagian kisi Total No. size Memanjang Melintang memanjang kisi Memanjang Melintang (mm) (m) (m) (m) ,94 19, ,51 20,90 Sayap ,51 24,70 25, ,36 24, ,64 18, ,34 44, ,87 52, ,14 44, ,00 34, ,09 33, ,46 28, ,42 20,48 Badan ,42 17,79 22, ,42 15, ,74 9, ,52 8, ,90 9, ,87 7, ,87 7, ,47 7,50 Kantong ,60 4,80 3,60 Total (m) ,49-52,09 Berdasarkan hasil pengukuran alat tangkap cantrang di PPN Brondong didapatkan ukuran panjang masing-masing bagian seperti ditunjukkan pada Tabel 13. Tabel 13 Hasil pengukuran panjang setiap bagian konstruksi Nama bagian jaring Nama bagian Panjang bagian (m) a Panjang mulut jaring 55,0 b Panjang total jaring 52,1 c Panjang bagian sayap atas 25,9 d Panjang bagian sayap bawah 25,9 e Panjang bagian badan jaring 22,6 f Panjang bagian kantong jaring 3,6 g1 Lebar ujung belakang sayap atas 18,4 g2 Lebar ujung depan sayap atas 19,0 h Setengah keliling mulut jaring 27,5 h1 Lebar ujung belakang sayap bawah 18,4 h2 Lebar ujung depan sayap bawah 19,0 i Lebar ujung depan badan 44,6 i1 Lebar ujung belakang badan 7,5 j Lebar ujung depan kantong 4,8 j1 Lebar ujung belakang kantong 4,8 l Panjang tali ris atas 51,3 m Panjang tali ris bawah 51,3
6 36 Berdasarkan hasil perbandingan bagian-bagian jaring cantrang sesuai kriteria SNI secara memanjang dan melintang didapatkan hasil seperti ditunjukkan pada Tabel 14 dan Tabel 15. Tabel 14 Hasil perbandingan bagian-bagian jaring secara memanjang Perbandingan memanjang Standar SNI Nilai aktual Keterangan l/m 0,890-1,035 1,000 Sesuai l/b 0,935-1,090 0,996 Sesuai m/b 0,970-1,130 0,996 Sesuai a/b 1,095-1,275 1,068 Lebih kecil c/b 0,535-0,625 0,504 Sayap lebih pendek d/b 0,535-0,625 0,504 Lebih kecil Sqr/b e/b 0,340-0,395 0,438 Badan lebih panjang f/b 0,050-0,060 0,058 Sesuai Tabel 15 Hasil perbandingan bagian-bagian jaring secara melintang Perbandingan melintang Standar SNI Nilai aktual Keterangan g2/h 0,535-0,625 0,691 Lebih besar g1/h 0,935-0,840 0,669 Lebih kecil h2/h 0,535-0,625 0,691 Lebih besar h1/h 0,725-0,840 0,669 Lebih kecil i/h 1 1,608 Lebih besar i1/h 0,160-0,185 0,273 Lebih besar j/h 0,070-0,080 0,145 Lebih besar j1/h 0,070-0,080 0,145 Lebih besar Berdasarkan hasil perbandingan bagian-bagian cantrang secara memanjang dapat diketahui bahwa nilai a/b yaitu perbandingan panjang mulut dengan panjang total jaring memiliki nilai yang lebih kecil daripada nilai SNI dengan selisih 0,027. Begitu juga dengan nilai c/b dan d/b yaitu perbandingan antara panjang sayap dengan panjang total jaring memiliki nilai yang lebih kecil 0,031. Hal ini berarti bahwa cantrang di PPN Brondong memiliki konstruksi yang sedikit lebih pendek pada bagian sayap dari standar SNI. Sedangkan nilai e/b yaitu perbandingan antara badan jaring dengan panjang total jaring memiliki nilai yang lebih besar 0,043. Hal ini menunjukkan bahwa konstruksi cantrang di PPN Brondong memiliki bagian badan yang lebih panjang daripada standar SNI. Tujuan pembuatan badan yang lebih panjang ini adalah agar ikan yang sudah tertangkap sulit untuk meloloskan diri.
7 37 Pada kriteria perbandingan melintang secara umum memiliki nilai yang lebih besar daripada standar SNI. Hal ini menunjukkan bahwa cantrang di PPN Brondong memiliki bentuk yang lebih lebar. Untuk melihat kesesuaian konstruksi memanjang cantrang di PPN Brondong dengan konstruksi baku SNI dapat dilihat pada Gambar 12. Gambar 12 Perbandingan cantrang PPN Brondong dengan SNI secara memanjang. Untuk melihat kesesuaian konstruksi melintang cantrang di PPN Brondong dengan konstruksi baku SNI dapat dilihat pada Gambar 13. Gambar 13 Perbandingan cantrang PPN Brondong dengan SNI secara melintang.
8 38 Secara melintang konstruksi cantrang yang terdapat di PPN Brondong memiliki ukuran yang lebih besar daripada standar baku konstruksi SNI. Ukuran yang lebih besar ini bertujuan supaya mampu menghadang ikan dengan area sapuan yang lebih lebar. Perbandingan jumlah kisi yang digunakan pada masing-masing bagian alat tangkap cantrang yang terdapat di PPN Brondong dengan SNI 2006 disajikan pada Tabel 16. Tabel 16 Perbandingan jumlah kisi jaring yang digunakan pada setiap bagian Bagian jaring Standar SNI Nilai aktual Keterangan Bagian sayap atas 4-6 kisi jaring 5 Sesuai Bagian sayap bawah 4-6 kisi jaring 5 Sesuai Bagian square Bagian badan jaring 5-7 kisi jaring 15 Badan lebih panjang Bagian kantong 1-2 kisi jaring 1 Sesuai Perbandingan konstruksi cantrang berdasarkan jumlah kisi-kisi jaring menunjukkan bahwa secara umum cantrang di PPN Brondong sesuai dengan standar SNI, namun ada perbedaan pada bagian badan jaring yang memiliki jumlah kisi lebih banyak yaitu 15 kisi. Bagian badan jaring ini dibuat lebih banyak dengan tujuan agar ikan yang sudah tertangkap sulit untuk meloloskan diri. Perbandingan bahan material dan ukuran mesh size yang digunakan pada masing-masing bagian jaring dapat dilihat pada Tabel 17. Jenis bahan material dan mesh size pada masing-masing kisi jaring dapat dilihat pada Lampiran 5. Tabel 17 Bahan material dan ukuran mata jaring Bagian jaring Bagian sayap atas Bagian sayap bawah Bagian square Bagian badan jaring Bagian kantong Bahan material Mesh size Standar SNI Nilai aktual Standar SNI Nilai aktual PE 380 d/6 - d/9 Atau R Tex Ø = 0,64 ~ 0,83 mm PE 380 d/6- d/9 Atau R Tex Ø = 0,64 ~ 0,83 mm PE Ø dan PA 160 Ø 1,5 mm PE PE 190 Ø dan PA 160 Ø 1,5 mm 101,6 ~ 203,3 mm ( 4 ~ 8 inch) 101,6 ~ 203,3 mm ( 4 ~ 8 inch) PE380d/9 d12 PE380d/9 d12 PE Ø 18 PE Ø PA Ø 1.5 mm 25,4 101,6 ( 1 ~ 4 inch) 19,1 ~ 25,4 mm ( ¾ ~ 1 inch) mm mm mm 30 mm
9 39 Berdasarkan bahan material yang digunakan, cantrang di PPN Brondong sebagian besar menggunakan jenis bahan PE (polyethylene), tetapi pada beberapa bagian kisi jaring menggunakan jenis bahan PA (polyamide). Penggunaan bahan PA karena bahan ini merupakan bahan yang tenggelam di dalam air. Tujuan penggunaan bahan ini adalah agar jaring lebih cepat tenggelam. Sedangkan berdasarkan ukuran mata jaring (mesh size) cantrang di PPN Brondong sesuai dengan SNI, bahkan pada bagian kantong memiliki mesh size yang lebih besar agar ikan yang kecil dapat meloloskan diri Kapal cantrang Kapal/perahu merupakan salah satu dari unit penangkapan ikan. Kapal yang digunakan untuk alat tangkap cantrang ini bermacam-macam, mulai dari ukuran kecil sampai besar tergantung pada ukuran alat tangkap yang digunakan. Kapal cantrang yang terdapat di PPN Brondong berkisar antara 3 20 GT. Gambar salah satu kapal cantrang di PPN Brondong dapat dilihat pada Gambar 14. Gambar 14 Kapal cantrang KM. Semi Jaya. Kapal yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah KM. Semi Jaya dengan dimensi utama kapal yaitu: panjang (LOA) 10 meter; lebar (B) 5 meter; dan dalam (d) 1,25 meter. Kapal ini merupakan kapal kayu yang dibangun pada tahun 2005 dengan volume kapal 6 GT.
10 40 Pada umumnya kapal cantrang yang terdapat di PPN Brondong memiliki tiga buah mesin penggerak kapal. Fungsi penggunaan tiga buah mesin penggerak ini adalah agar kapal cantrang memiliki kemampuan olah gerak yang baik. Selain itu, mesin-mesin ini juga berfungsi sebagai mesin cadangan yang dapat digunakan sebagai mesin bantu penggerak gardan ketika mesin utama gardan mengalami kerusakan saat trip operasi penangkapan. Kapal cantrang KM. Semi Jaya memiliki tiga buah motor penggerak. Dua buah merupakan motor dengan merek Yanmar 30 PK dengan rpm mesin maksimum 2400 rpm. Sedangkan satu mesin lainnya adalah Yanmar 23 PK. Bahan bakar yang digunakan adalah solar. Dengan adanya tiga mesin penggerak, kapal ini memiliki tiga buah propeller yang disusun dengan tujuan agar dapat berolah gerak dengan sempurna dan mampu menahan beban penarikan jaring ketika operasi penangkapan berlangsung. Kapal ini memiliki daun kemudi manual berupa sebuah kayu yang dipasang tidak permanen. Selain digerakkan oleh mesin penggerak, kapal ini juga digerakkan dengan menggunakan layar. Layar ini hanya digunakan oleh nelayan ketika menuju fishing ground, agar dapat bergerak dengan lebih cepat. Kapal cantrang pada umumnya dilengkapi dengan palka ikan, kecuali untuk kapal cantrang ukuran kecil dengan trip one day fishing. Kapal tersebut tidak menggunakan palka tetapi menggunakan keranjang dan cool box tanpa menggunakan es. Hal ini dilakukan untuk menghemat biaya operasional. Palka yang digunakan untuk menampung ikan hasil tangkapan pada KM. Semi Jaya terdiri atas enam lubang palka. Dengan dimensi masing-masing panjang 1 meter; lebar 1,70 meter dan dalam 1,25 meter. Masing-masing palka ini mampu menampung 1 ton ikan. Posisi bagian-bagian yang terdapat di atas kapal KM. Semi Jaya dapat dilihat pada Gambar 15.
11 41 Gambar 15 Tata letak/layout KM. Semi Jaya Nelayan cantrang Nelayan merupakan unsur utama dalam suatu unit penangkapan ikan. Nelayan memiliki peranan yang sangat penting dalam proses operasi penangkapan. Anak buah kapal cantrang di PPN Brondong rata-rata terdiri dari 7 15 orang. Nelayan cantrang di PPN Brondong dapat diklasifikasikan berdasarkan lama trip penangkapan, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 18. Tabel 18 Jumlah ABK berdasarkan lama trip penangkapan Jenis cantrang Ukuran kapal Lama trip Jumlah ABK Cantrang kecil < 5 GT 1 hari (one day fishing) 5 7 orang Cantrang sedang 5 GT 10 GT 5 7 hari 9 12 orang Cantrang besar 10 GT 20 GT hari orang
12 42 Untuk kelancaran dan efektivitas kinerja ABK pada kapal cantrang, masingmasing ABK memiliki tugas dengan deskripsi pekerjaan tertentu. Pembagian dan deskripsi pekerjaan masing ABK ditunjukkan pada Tabel 19. Tabel 19 Deskripsi pekerjaan ABK cantrang No. 1 Pekerjaan ABK Kapten/ Fishing Master 2 Juru mudi 3 Juru mesin Deskripsi kerja Memimpin trip penangkapan, menentukan waktu dan tempat operasi penangkapan, mengemudikan kapal dalam waktu operasi, memantau kinerja ABK Mengemudikan kapal dari fishing base menuju fishing ground Menghidupkan dan mematikan mesin serta merawat mesin selama operasi Jumlah ABK 1 orang 1 5 orang 1 3 orang 4 Juru tambat Menambatkan kapal di dermaga pelabuhan 1 2 orang 5 Juru perbaikan Memperbaiki jaring ketika terjadi kerusakan selama alat operasi 1 3 orang 6 Juru masak Menyediakan makanan untuk seluruh ABK. 1 2 orang 7 ABK biasa Menggulung tali selambar selama hauling, menyortir hasil tangkapan Semua ABK Kapten kapal biasanya sekaligus merangkap sebagai fishing master. Pada nelayan cantrang tradisional biasanya dilakukan langsung oleh pemilik kapal, tetapi pada skala usaha yang lebih besar kapten merupakan orang kepercayaan dari pemilik kapal. Selain itu, pekerjaan juru mudi yang banyak dilakukan oleh ABK, pada dasarnya adalah ABK biasa yang diberikan tugas tambahan oleh kapten kapal untuk mengemudikan kapal dari fishing base menuju fishing ground. Biasanya kapten memberikan pekerjaan juru mudi ini secara bergiliran. Pada jenis unit penangkapan cantrang skala kecil, dengan ukuran kapal <5 GT dan trip penangkapan one day fishing, pembagian tugas ABK lebih sedikit. Biasanya hanya terdiri dari kapten, juru mesin, dan ABK biasa. 5.2 Kajian Aspek Teknis Operasional Cantrang Metode penangkapan ikan Penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap cantrang di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur dilakukan dengan beberapa jenis fishing trip, trip harian dan trip mingguan. Trip harian (one day fishing) dilakukan oleh nelayan cantrang tradisional dengan kapal yang lebih kecil. Trip mingguan dilakukan oleh nelayan cantrang yang memiliki ukuran kapal yang lebih besar sehingga mampu menampung perbekalan yang lebih banyak. Untuk trip penangkapan harian,
13 43 biasanya keberangkatan dari fishing base pada pukul dini hari dan kembali ke pelabuhan pada pukul siang hari. Sedangkan untuk trip penangkapan yang dilakukan secara mingguan, biasanya nelayan berangkat dari fishing base pada pagi hari pukul atau lebih pagi tergantung pada jarak ke fishing ground. Biasanya nelayan baru melakukan operasi penangkapan ikan pada keesokan harinya. Beberapa tahapan metode penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap cantrang dijelaskan sebagai berikut: 1) Tahap persiapan Tahap persiapan meliputi tahap persiapan perbekalan melaut dari darat, kemudian perjalanan menuju fishing ground. Operasi penangkapan ikan dengan menggunakan cantrang dimulai dari pagi hari setelah subuh dan berakhir sore hari menjelang maghrib. Nelayan yang bertugas dalam operasi penangkapan ikan ini berjumlah sebanyak lebih kurang 7-12 orang dengan deskripsi pekerjaan seperti yang dijelaskan pada Tabel 19. Tahap persiapan operasi penangkapan ikan dimulai dari persiapan ABK dengan mempersiapkan jaring, tali selambar serta pelampung tanda. 2) Setting Tahapan setting atau pemasangan alat tangkap dimulai setelah kapten kapal (fishing master) memberi aba-aba kepada ABK bahwa kapal telah berada pada posisi daerah penangkapan yang baik. Anak buah kapal yang bertugas langsung menurunkan pelampung tanda dari haluan kapal sebelah kanan yang kemudian diikuti dengan menurunkan tali selambar sayap jaring bagian kanan. Pada saat penurunan tali selambar ini kapal bergerak dengan gerakan melengkung jauh dengan kecepatan rata-rata 6 7 knot. Ketika tali selambar bagian kanan selesai diturunkan, maka selanjutnya adalah proses penurunan bagian-bagian jaring. Bagian pertama yang diturunkan adalah sayap kanan dengan menurunkan danleno terlebih dahulu. Gerakan kapal pada posisi ini adalah membentuk setengah lingkaran dengan memposisikan kantong jaring tepat berada pada bagian tengah sudut perputaran kapal. Setelah sayap kanan selesai diturunkan, dilanjutkan dengan menurunkan bagian badan jaring. Selanjutnya dilakukan penurunan sayap jaring sebelah kiri, kemudian diakhiri dengan penurunan bagian kantong. Pada proses penurunan bagian-bagian
14 44 jaring, kapal bergerak dengan kecepatan rendah yaitu 3,3 knot. Setelah seluruh bagian jaring diturunkan, kapal menuju ke pelampung tanda dengan melanjutkan penurunan tali selambar bagian kiri. Ujung tali selambar bagian kiri ini telah dipasang pada gardan. Setelah kapal berhasil menuju pelampung tanda, ABK menaikkan pelampung tanda tersebut ke atas kapal dan menggulung tali selambar bagian kanan pada kapstan bagian kanan. Pada posisi ini tali selambar telah siap untuk ditarik. Proses setting ini menghabiskan waktu rata-rata 12 menit. Alur proses setting ini dapat dilihat pada Gambar 18. 3) Soaking Setelah alat tangkap terpasang sempurna di perairan, nelayan tidak langsung melakukan penarikan tali selambar, tetapi menunggu agar jaring tenggelam sempurna di dasar perairan. Waktu tunggu ini rata-rata berlangsung selama 5 menit. Pada kesempatan ini ABK bersiap-siap dengan menyalakan mesin gardan, mengatur posisi ABK di geladak kapal. Selain itu, waktu tunggu ini dimanfaatkan untuk penyortiran ikan hasil tangkapan pada hauling sebelumnya. 4) Hauling Setelah diperkirakan jaring telah terpasang di dasar perairan, dengan aba-aba dari kapten kapal, proses hauling (pengangkatan jaring) dimulai. ABK yang bertugas sebagai operator mesin gardan menjalankan gardan dengan kecepatan penarikan rendah. Pada kondisi awal penarikan ini, beban penarikan sangat besar. Oleh karena itu, untuk menghindari putusnya tali selambar, maka penarikan dilakukan dengan kecepatan rendah. Penarikan dengan kecepatan rendah ini dilakukan hingga 7 gulung tali selambar. Setelah 7 gulungan pertama, kecepatan mesin gardan dinaikkan. Setiap penambahan 1 gulung dilakukan penambahan kecepatan penarikan hingga kecepatan maksimum pada gulungan ke-12 hingga gulungan ke-21. Pada saat penarikan tali selambar dengan gardan, mesin kapal berada dalam keadaan hidup. Tujuan menghidupkan mesin utama kapal pada saat penarikan tali selambar ini tidak untuk menghela jaring, tetapi untuk mempertahankan
15 45 posisi kapal agar tidak terseret ke arah belakang karena beban penarikan yang sangat besar. Setelah seluruh tali selambar berhasil ditarik keatas kapal, saatnya untuk menarik jaring ke atas kapal. Penarikan jaring dilakukan oleh ABK secara manual (tanpa bantuan mesin gardan). Penarikan dilakukan pada sisi kapal sebelah kanan. Setelah bagian kantong jaring yang berisi hasil tangkapan berhasil dinaikkan, langsung dilakukan penyortiran hasil tangkapan oleh ABK. Dalam selang waktu yang cepat (sekitar 1 menit), pelampung tanda kembali diturunkan untuk melakukan operasi selanjutnya. Secara keseluruhan waktu yang dibutuhkan untuk hauling ini adalah rata-rata 36 menit. Secara normal, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu proses setting-hauling adalah 55 menit. Namun, jika ada kecelakaan atau gangguan selama proses bisa memakan waktu yang lebih lama. Perhitungan lama waktu pada tahapan operasi penangkapan ini dapat dilihat pada Lampiran 6. Gambar 16 Proses hauling alat tangkap cantrang. 5) Sortir Penyortiran dilakukan oleh beberapa ABK. Penyortiran yang dilakukan berdasarkan jenis dan ukuran ikan hasil tangkapan. Jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi ditangani dengan lebih baik, dipisahkan dengan
16 46 menggunakan kantong plastik dan diberi es. Khusus untuk jenis lobster diberi perlakuan khusus dengan perawatan agar tetap hidup karena nilai jualnya yang sangat tinggi. Sedangkan untuk hasil tangkapan yang bernilai ekonomis rendah dibuang kembali ke laut. Kecuali jika pada hari ketiga operasi penangkapan jumlah ikan ekonomis yang tertangkap jumlahnya sedikit, maka hasil tangkapan sampingan dengan nilai ekonomis rendah ikut dimasukkan ke dalam palka. Proses penyortiran hasil tangkapan diatas kapal dapat dilihat pada Gambar 17. Gambar 17 Proses penyortiran hasil tangkapan. Alur pengoperasian mulai dari setting hingga hauling pada alagt tangkap cantrang dapat dilihat pada Gambar 18. Proses ini berlangsung berulang kali pada saat operasi penangkapan dimulai pada pagi hari hingga berakhirnya penangkapan pada sore hari. Rata-rata dalam satu hari operasi penangkapan dapat dilakukan kali setting-hauling. Gambar 18 Alur pengoperasian alat tangkap cantrang.
17 Alat bantu penangkapan gardan/winch Gardan/winch adalah alat bantu penangkapan dengan menggunakan permesinan. Gardan/winch sebagai alat bantu penangkapan berfungsi untuk mempercepat proses penarikan tali selambar pada saat hauling. Dengan adanya permesinan gardan/winch membuat proses penangkapan berlangsung lebih cepat dan mudah. Berikut adalah spesifikasi mesin gardan yang digunakan untuk unit penangkapan cantrang di PPN Brondong. Mesin : Dongfeng Kekuatan mesin : 30 PK rpm maksimum : 2400 Lebar kapstan : 2,65 m Panjang roda penggulung : 30 cm Posisi gardan dari buritan kapal : 5,93 m Posisi gardan diatas kapal berada pada bagian tengah kapal. Penarikan dengan gardan/winch dapat dilakukan di bagian haluan maupun buritan kapal dengan menggunakan alat bantu tambahan, yaitu roller (dewi-dewi). Gambar gardan dan posisi gardan diatas kapal cantrang dapat ditunjukkan pada Gambar 19 dan Gambar 20. Gambar 19 Gardan/winch sebagai alat bantu penangkapan pada cantrang.
18 48 Gambar 20 Spesifikasi ukuran dan posisi gardan/winch di atas kapal. Pengoperasian gardan/winch dilakukan setelah cantrang terpasang di perairan, tali selambar pada masing-masing ujung digulung pada penggulung gardan. Kemudian mesin gardan dihidupkan dalam posisi stasioner (netral). Setelah mendapat instruksi dari kapten kapal, ABK mulai menjalankan penarikan tali selambar dengan menjalankan porseneling mesin gardan. Pada tahap awal beban penarikan sangat besar karena tali selambar di perairan masih berbentuk melingkar dan terbuka. Pada tahap ini mesin dijalankan dalam kecepatan rendah dengan kecepatan putaran mesin rata-rata 419 rpm. Kecepatan seperti ini dipertahankan hingga 7 gulung tali selambar berhasil ditarik. Setelah gulungan ke-7 selesai, kecepatan penarikan ditambah sehingga kecepatan putaran mesin menjadi rata-rata 584,5 rpm. Kecepatan putaran mesin terus ditingkatkan setiap
19 49 penambahan 1 gulung tali selambar hingga pada gulungan ke-12 sampai akhir kecepatan putaran mesin pada posisi maksimal yaitu 985,1 rpm. Mekanisme kerja mesin gardan yaitu poros mesin gardan akan menggerakkan poros kapstan yang berfungsi untuk menarik tali selambar. Pada poros ini terjadi reduksi putaran untuk menggerakkan penggulung (kapstan). Perbandingan antara rpm motor penggerak dengan rpm penggulung (kapstan) yang diukur dengan menggunakan alat tachometer dapat dilihat pada Gambar RPM Motor penggerak RPM Kapstan Gambar 21 Perbandingan rpm motor penggerak dengan penggulung (kapstan). Perbandingan kecepatan putaran mesin motor penggerak gardan dengan putaran penggulung (kapstan), yaitu 10 : 1. Artinya, 10 kali putaran mesin motor penggerak menghasilkan satu kali putaran kapstan. Pengoperasian gardan/winch memiliki beberapa tahapan kecepatan penarikan. Tahapan pertama yaitu, tahap awal penarikan dengan kecepatan rendah. Tahap kedua, yaitu penambahan kecepatan penarikan setiap penarikan satu gulung tali selambar dari gulungan ke-7 hingga gulungan ke-12. Tahap ketiga yaitu, penarikan dengan kecepatan penuh pada gulungan tali selambar ke- 12 sampai 20. Ilustrasi penarikan tali selambar dapat dilihat pada Gambar 22.
20 50 Gambar 22 Ilustrasi penarikan tali selambar. Untuk mengetahui kecepatan penarikan tali selambar dengan menggunakan gardan, maka dilakukan perhitungan kecepatan penarikan pada beberapa tingkatan kecepatan. Berdasarkan data pengukuran rpm pada Lampiran 7 didapatkan hasil perhitungan kecepatan penarikan gardan pada tingkat kecepatan penarikan yang berbeda-beda, hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 20. Tabel 20 Kecepatan penarikan tali selambar dengan gardan/winch Kondisi penarikan rpm kapstan Kecepatan tarik kapstan = (π x d x n) Stasioner/netral 0 0,00 Penarikan awal/rendah (7 gulung tali selambar) ,35 Penambahan kecepatan awal (gulungan 8-9) 58 39,16 Penambahan kecepatan (gulungan 9-10) 76 51,31 Penambahan kecepatan (gulungan 10-11) 84 56,71 Penarikan kecepatan maksimum (gulungan 12-20) 98 66,16 Penarikan akhir (gulungan 21) 42 28,35 Rata-rata 38,58 meter/menit Berdasarkan Tabel 20 dapat diketahui bahwa rata-rata kecepatan penarikan dengan menggunakan gardan adalah 38,58 meter/menit atau 0,64 m/detik. Artinya bahwa untuk menggulung tali selambar sepanjang 1000 meter dalam keadaan normal dibutuhkan waktu rata-rata yaitu 26 menit.
21 51 Berdasarkan perhitungan waktu proses setting-hauling menghabiskan waktu rata-rata 55 menit. Jika waktu yang dibutuhkan untuk penarikan tali selambar adalah 26 menit maka penggunaan alat bantu gardan dalam kondisi normal mampu mempercepat proses operasi penangkapan Faktor yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan Keberhasilan operasi penangkapan ikan pada suatu lokasi penangkapan sangatlah kompleks, hal ini dikarenakan banyaknya faktor yang saling mempengaruhi kegiatan operasi penangkapan ikan. Faktor-faktor tersebut secara garis besar adalah sumberdaya ikan, teknologi penangkapan ikan, serta kondisi lingkungan (Nelwan, 2004). Faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan penangkapan ikan dengan alat tangkap cantrang adalah: 1) Faktor internal Faktor internal berkaitan dengan unit penangkapan ikan. Kinerja dari masing-masing unit penangkapan menentukan keberhasilan penangkapan. Beberapa faktor internal yang mempengaruhi keberhasilan operasi penangkapan ikan adalah: (1) Kekuatan dan ketahanan jaring dan tali selambar, Kekuatan dan ketahanan bagian jaring dan tali selambar sangat berperan penting dalam menentukan keberhasilan proses penangkapan. Jaring dan tali selambar mendapat beban yang sangat besar selama proses penarikan ke atas kapal, untuk itu dibutuhkan kekuatan dan ketahanan dalam penggunaan yang berulang-ulang. (2) Kemampuan fishing master dan ABK, Kemampuan fishing master dalam membaca dan menentukan posisi penangkapan, mengetahui arah arus dan angin sangat penting dalam menentukan keberhasilan upaya penangkapan. Begitu juga dengan kinerja ABK saling mempengaruhi dalam keberhasilan upaya penangkapan. (3) Kemampuan olah gerak dan ketahanan kapal Kemampuan kapal berolah gerak dalam proses setting dan ketahanan kapal selama proses penarikan tali selambar berpengaruh besar dalam proses operasi penangkapan.
22 52 2) Faktor eksternal Faktor eksternal berkaitan dengan hal-hal yang terdapat diluar unit penangkapan ikan, biasanya berupa faktor alamiah. Beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan adalah: (1) Sumberdaya ikan Keberadaan sumberdaya ikan di suatu perairan menentukan keberhasilan upaya penangkapan. (2) Cuaca dan musim Cuaca dan musim berpengaruh dalam proses penangkapan. (3) Arus Nahkoda kapal harus memperhitungkan kondisi arus dalam proses penangkapan ikan. Kesalahan dalam memperhitungkan arus dapat menyebabkan jaring terbelit dan tidak terpasang secara sempurna. (4) Substrat perairan Kondisi substrat sangat berpengaruh terhadap pengoperasian alat tangkap terutama untuk jenis alat tangkap yang beroperasi di dasar perairan. Kondisi substrat pasir dan lumpur mempermudah proses operasi penangkapan, sedangkan substrat berkarang dan berbatu dapat merusak alat tangkap dan menyebabkan kegagalan operasi penangkapan Hasil tangkapan Hasil tangkapan cantrang adalah sumberdaya ikan demersal. Berdasarkan data hasil tangkapan selama trip operasi yang diikuti diperoleh sebanyak 40 jenis ikan dengan berbagai macam ukuran dengan total penjualan kg. Hasil tangkapan dominan yang bernilai ekonomis cukup tinggi adalah jenis ikan kuningan (kurisi) dan golok merah (swanggi). Ikan petek merupakan jenis yang paling banyak tertangkap tetapi merupakan hasil tangkapan sampingan dan biasanya dibuang kembali oleh nelayan. Hasil tangkapan cantrang berdasarkan hasil operasi selama 4 hari penangkapan ikan dari trip yang diikuti disajikan pada Tabel 21.
23 53 Tabel 21 Jenis dan bobot hasil tangkapan cantrang KM. Semi Jaya No Nama lokal Nama Indonesia Nama ilmiah Bobot total (kg) 1 Kuningan Kurisi Upeneus vittatus Kapasan Kapasan Gerres kapas Kamojan Kamojan Parupeneus sp 37 5 Glomo Gulamah Nibea albiflora Golok Merah Swanggi Priacanthus tayenus Kerok Lencam Lutjanus spp Balak Beloso Synodus sp Kucul Barakuda Sphyraena sp Kuniran Biji nangka Upeneus sulphureus Kakap merah Kakap merah Lutjanus spp. 16,5 13 Lengan besar Kerapu Cephalopholis sp Lengan susu Kerapu Cephalopholis sp. 12,5 15 Grubyak Ikan sebelah Psettodes erumei Putihan Kwee Caranx sp 7 18 Tonang Remang Congresox talabon Bunteg Buntal Tetraodon sp Laosan Laosan Terapon sp 5,5 22 Pari Pari Aetobatus spp Sudu Ikan terompet Aulostomus sp Cucut Cucut Carcharhinus sp 8 25 Cumi Cumi Loligo spp Cumi bentol Cumi Loligo spp Teropong kecil Sotong Sepia sp Pentolan Sotong Sepia sp Pepetek Petek Leiognathus sp Lain-lain/campuran ,5 Total Komposisi hasil tangkapan hasil operasi selama empat hari penangkapan ditunjukkan pada Gambar 23. Gambar 23 Komposisi hasil tangkapan cantrang.
24 54 Komposisi hasil tangkapan cantrang pada Gambar 23 merupakan 10 jenis hasil tangkapan terbesar. Dapat dilihat bahwa hasil tangkapan yang dominan adalah jenis ikan petek (Leiognathus sp.) dan ikan kurisi (Upeneus vittatus). Namun, jenis ikan petek merupakan hasil tangkapan sampingan karena memiliki nilai ekonomis yang rendah. Ikan jenis ini mendominasi setiap hauling, namun pada hari pertama penangkapan jenis ikan ini dibuang kembali ke laut. Gambar jenis ikan hasil tangkapan dapat dilihat pada Lampiran Daerah penangkapan ikan Nelayan cantrang dengan trip operasi one day fishing melakukan operasi penangkapan ikan di daerah pesisir utara Kabupaten Lamongan. Dengan jarak tempuh menuju fishing ground rata-rata 3 jam dengan kecepatan kapal 6 knot. Sedangkan kapal cantrang dengan trip mingguan atau lebih memiliki daerah penangkapan yang lebih jauh. Berdasarkan hasil wawancara, daerah yang biasa dikunjungi oleh nelayan adalah daerah sekitar Kepulauan Bawean, Kepulauan Masalembo hingga daerah selatan Pulau Kalimantan. Berdasarkan data trip operasi yang diikuti (Lampiran 9), daerah penangkapan ikan yaitu di selatan perairan Bawean, dengan jarak tempuh dari PPN Brondong 9 jam dengan kecepatan kapal 9 knot. Peta lokasi fishing ground dapat dilihat pada Gambar 6 dan peta posisi setting hauling dapat dilihat pada Lampiran Kajian Finansial Usaha Perikanan Cantrang Analisis usaha merupakan suatu analisis yang dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu kegiatan usaha, dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Analisis finansial usaha perikanan cantrang yang ingin diketahui meliputi analisis pendapatan usaha dan kriteria investasi yang mencakup Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Period (PP). Pada usaha perikanan cantrang khususnya pada unit KM. Semi Jaya diterapkan sistem bagi hasil antara pemilik kapal dengan ABK. Sistem yang diterapkan adalah 50% untuk pemilik dan 50% untuk gaji ABK. Pembagian ini dilakukan pada pendapatan bersih pada setiap trip penangkapan.
25 Investasi Biaya investasi usaha perikanan cantrang mencakup pembelian kapal beserta perlengkapannya dan pembelian alat tangkap. disajikan pada Tabel 22. Tabel 22 Aset investasi usaha cantrang KM. Semi Jaya Untuk lebih jelasnya Jenis Jumlah Harga Total Kapal 1 Rp Rp Motor penggerak Yanmar 30 PK 2 Rp Rp Motor Penggerak Yanmar 23 PK 1 Rp Rp Mesin bantu 1 Rp Rp Alat tangkap 2 Rp Rp Gardan 1 Rp Rp Tali selambar 44 Rp Rp Generator/solar system 1 Rp Rp Lainnya/administrasi dll. 1 Rp Rp Total Biaya Investasi - - Rp Komponen biaya investasi yang terbesar adalah pembelian kapal beserta kelengkapannya dengan total Rp , sedangkan biaya lainnya yaitu biaya pembelian alat tangkap sebesar Rp Total biaya investasi untuk unit usaha perikanan cantrang KM. Semi Jaya yaitu Rp Biaya tetap (fixed cost) Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan dalam setiap periode tertentu. Komponen biaya tetap untuk KM. Semi Jaya meliputi biaya penyusutan dan biaya perawatan seperti yang disajikan pada Tabel 23. Tabel 23 Komponen biaya tetap usaha cantrang KM.Semi Jaya Aset investasi Umur teknis (tahun) Biaya penyusutan Biaya perawatan Kapal 20 Rp Rp Motor Yanmar 30 PK 10 Rp Rp Motor Yanmar 23 PK 10 Rp Rp Mesin bantu 10 Rp Rp Alat tangkap 2 Rp Rp Gardan 10 Rp Rp Tali selambar 2 Rp Rp Generator 10 Rp Rp Lainnya 5 Rp Jumlah - Rp Rp Total Biaya Tetap Rp
26 56 Biaya tetap yang harus dikeluarkan setiap tahun oleh pemilik usaha perikanan cantrang KM. Semi Jaya berupa biaya penyusutan dan perawatan aset investasi sebesar Rp Biaya penyusutan yang terbesar adalah kapal, sedangkan biaya penyusutan tali selambar dengan umur teknis 2 tahun cukup besar juga karena komponen ini cepat mengalami kerusakan akibat pemakaian Biaya tidak tetap (variable cost) Biaya tidak tetap adalah biaya yang dikeluarkan setiap kali akan melakukan trip penangkapan ikan. Biaya tidak tetap meliputi biaya perbekalan melaut; BBM, es, logistik bahan makanan, dan biaya-biaya administrasi. Komponen biaya tidak tetap ditunjukkan pada Tabel 24. Tabel 24 Komponen biaya tidak tetap usaha cantrang KM. Semi Jaya Jenis kebutuhan Biaya per trip Biaya per tahun Perbekalan melaut Rp Rp Retribusi Rp Rp Biaya bongkar&sortir Rp Rp Total Biaya tidak tetap Rp Rp Biaya tidak tetap ini belum termasuk upah ABK, karena sistem usaha perikanan cantrang KM. Semi Jaya menggunakan sistem bagi hasil 50%. Total biaya sebelum upah ABK adalah Rp Rp = Rp Berdasarkan perhitungan pada pendapatan usaha dimana bagi hasil antara ABK dan pemilik sebesar masing-masing Rp Maka biaya total yang dikeluarkan per tahun adalah penjumlahan antara biaya tetap dengan biaya tidak tetap dan upah ABK, yaitu: TC = Rp Rp Rp = Rp Analisis pendapatan usaha Berdasarkan data penjualan hasil tangkapan dari trip penangkapan yang diikuti didapatkan hasil seperti yang ditunjukkan pada Tabel 25.
27 57 Tabel 25 Penjualan hasil tangkapan cantrang KM. Semi Jaya Hasil tangkapan Nama Indonesia Jumlah (kg) Hasil per trip (Rp) Pepetek Petek Rp Kuningan Kurisi 867 Rp Golok Merah Swanggi 232 Rp Kapasan Kapasan 213 Rp Gulamah Gulamah 179 Rp Balak Beloso 147 Rp Cumi Cumi 103 Rp Buntal Buntal 49 Rp Ikan sebelah Sebelah 41 Rp Lainnya (campuran) Campuran 38 Rp Kamojan Kamojan 37 Rp Rambangan Rambangan 26 Rp Kucul Barakuda 25 Rp Tonang Remang 25 Rp Togek Sotong 21 Rp Kerapu Kerapu 19,5 Rp Kakap merah Kakap merah 16,5 Rp Kakap putih Kakap putih 14 Rp Sudu Terompet 14 Rp Kuniran Biji nangka 13 Rp Cucut Cucut 8 Rp Putihan Kwee 7 Rp Bukur Barakuda 5,5 Rp Laosan Laosan 5,5 Rp Pari Pari 5 Rp Sembilang Sembilang 4 Rp Lobster Lobster 2.5 Rp Jumlah Rp Berdasarkan penjualan hasil tangkapan pada trip tersebut didapatkan hasil Rp Menurut pengakuan nelayan hasil tersebut adalah hasil yang sedikit dibandingkan dengan hasil yang biasa didapatkan pada trip sebelumnya. Berdasarkan hasil wawancara terhadap pemilik kapal KM. Semi Jaya diketahui bahwa pada trip tersebut termasuk dalam musim paceklik penangkapan, dimana rata-rata nelayan di PPN Brondong memperoleh hasil tangkapan yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan trip penangkapan pada bulan lain. Sehingga nilai penjualan hasil tangkapan rata-rata pada bulan musim penangkapan cenderung lebih rendah. Nilai penjualan rata-rata hasil tangkapan pada bulan musim penangkapan dapat dilihat pada Tabel 26.
28 58 Tabel 26 Rata-rata perdapatan per trip pada bulan musim penangkapan Musim Rata-rata penjualan/trip Paceklik Mei Rp Juni Rp Juli Rp Sedang Maret Rp April Rp Agustus Rp Puncak September Rp Oktober Rp November Rp Desemeber Rp Januari Rp Februari Rp Rata-rata Rp Berdasarkan data penjualan pada musim penangkapan yang berbeda-beda didapatkan rata-rata hasil penjualan nelayan cantrang setiap trip adalah Rp ,00. Dengan waktu per trip selama 6 7 hari, maka nelayan cantrang bisa melakukan trip maksimal sebanyak tiga kali setiap bulan. Dengan rata-rata trip per tahun menurut pengakuan nelayan sebanyak 32 trip. Maka perhitungan pendapatan nelayan cantrang selama satu tahun adalah Rp ,00 x 32 trip = Rp ,00 Pendapatan per tahun yang didapatkan sebelum bagi hasil 50% dengan ABK adalah (Kadariah et. al, 1999): TR = Rp ,00 - Rp ,00 = Rp ,00 TC Keuntungan bersih per tahun yang diterima oleh pemilik kapal setelah bagi hasil dengan ABK 50% adalah Rp
29 Analisis kriteria investasi Analisis kriteria investasi usaha perikanan cantrang KM. Semi Jaya meliputi Net Present Value, Net Benefit - Cost Ratio, Internal Rate of Return, dan Payback Period. Perhitungan Net Present Value dapat dilihat pada Tabel 27. Tabel 27 Perhitungan Net Present Value (NPV) KM. Semi Jaya Thn Biaya (Ct) Penerimaan (Bt) Net cash flow (Bt-Ct) Discount factor 12.5 % Present value (discount factor 12.5%) 0 Rp Rp - Rp ( ) 1,00 Rp ( ) 1 Rp Rp Rp ,89 Rp Rp Rp Rp ,79 Rp Rp Rp Rp ,70 Rp Rp Rp Rp ,62 Rp Rp Rp Rp ,55 Rp Rp Rp Rp ,49 Rp Rp Rp Rp ,44 Rp Rp Rp Rp ,39 Rp Rp Rp Rp ,35 Rp Rp Rp Rp ,31 Rp NPV Rp Berdasarkan perhitungan Net Present Value menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh sesuai dengan umur ekonomis selama 10 tahun dan tingkat suku bunga 12,5% maka didapatkan nilai NPV sebesar Rp Hal ini menunjukkan bahwa usaha perikanan cantrang KM. Semi Jaya memiliki nilai NPV benilai positif yang berarti usaha ini layak. Berdasarkan perhitungan (Lampiran 11) Net Benefit - Cost Ratio (Net B/C) untuk usaha perikanan cantrang KM. Semi Jaya adalah 1,21. Artinya setiap satuan biaya yang dikeluarkan mampu memberikan manfaat sebesar 1,21. Berdasarkan kriteria investasi (Kadariah et al., 1999), usaha perikanan cantrang KM. Semi Jaya layak. Untuk menilai tingkat pengembalian internal suatu usaha digunakan analisis Internal Rate of Return (IRR). Perhitungan IRR usaha perikanan cantrang KM. Semi Jaya dapat dilihat pada Tabel 28.
30 60 Tabel 28 Perhitungan Internal Rate of Return (IRR) KM. Semi Jaya Tahun Discount factor 15% Present value DF 15% Discount factor 20% Present value DF 20% 0 1,00 Rp ( ,00) 1,00 Rp ( ,00) 1 0,87 Rp ,57 0,83 Rp ,67 2 0,76 Rp ,32 0,69 Rp ,89 3 0,66 Rp ,67 0,58 Rp ,07 4 0,57 Rp ,19 0,48 Rp ,06 5 0,50 Rp ,34 0,40 Rp ,22 6 0,43 Rp ,12 0,33 Rp ,85 7 0,38 Rp ,89 0,28 Rp ,54 8 0,33 Rp ,99 0,23 Rp ,28 9 0,28 Rp ,77 0,19 Rp , ,25 Rp ,67 0,16 Rp ,17 NPV Rp ,52 Rp ( ,85) Dari hasil perhitungan didapatkan nilai NPV + adalah Rp ,52 untuk discount factor 15%, sedangkan nilai NPV - adalah Rp ( ,85) untuk discount factor 20%. Berdasarkan perhitungan (Lampiran 12) didapatkan nilai IRR yaitu 17,79%. Nilai IRR ini berarti usaha ini mampu memberikan pengembalian atas investasi sebesar 17,79%. Menurut Gittinger (1986) nilai IRR ini adalah tingkat suku bunga maksimum yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan karena proyek membutuhkan dana lagi untuk biayabiaya produksi dan investasi serta proyek baru sampai tingkat pulang modal. Nilai IRR 17,79% merupakan nilai yang cukup rendah, namun jika dibandingkan dengan kondisi sekarang dimana tingkat suku bunga tidak lebih besar dari 10% usaha perikanan cantrang KM. Semi Jaya ini layak. Periode pengembalian (payback period) didapatkan dengan perhitungan total nilai investasi dibagi dengan keuntungan bersih pertahun. PP = Rp / Rp = 1,76 tahun Artinya usaha ini akan mampu mengembalikan modal awal investasi pada setelah berjalan 1 tahun 9 bulan.
Gambar 6 Peta lokasi penelitian.
3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama enam bulan dimulai dengan penyusunan proposal dan penelusuran literatur mengenai objek penelitian cantrang di Pulau Jawa dari
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil 5.1.1 Deskripsi unit penangkapan cantrang Unit penangkapan ikan merupakan satu kesatuan teknik dalam suatu operasi penangkapan ikan yang terdiri atas alat tangkap, kapal,
BULETIN PSP ISSN: X Volume XIX No. 1 Edisi April 2011 Hal
BULETIN PSP ISSN: 0251-286X Volume XIX No. 1 Edisi April 2011 Hal 97-104 KAJIAN TEKNIS PENGOPERASIAN CANTRANG DI PERAIRAN BRONDONG, KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR (Technical Analysis on The Operation of
BAB III BAHAN DAN METODE
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian penangkapan ikan dengan menggunakan jaring arad yang telah dilakukan di perairan pantai Cirebon, daerah Kecamatan Gebang, Jawa Barat
Bentuk baku konstruksi pukat tarik lampara dasar
Standar Nasional Indonesia Bentuk baku konstruksi pukat tarik lampara dasar ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii Pendahuluan... iii 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah
6 HASIL DAN PEMBAHASAN
6 HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Kondisi Riil Fasilitas Kebutuhan Operasional Penangkapan Ikan di PPN Karangantu Fasilitas kebutuhan operasional penangkapan ikan di PPN Karangantu dibagi menjadi dua aspek, yaitu
Bentuk baku konstruksi pukat tarik cantrang
Standar Nasional Indonesia Bentuk baku konstruksi pukat tarik cantrang ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... I Prakata... II Pendahuluan... III 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Unit Penangkapan Ikan Alat tangkap cantrang Definisi dan klasifikasi alat tangkap cantrang
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Unit Penangkapan Ikan Unit penangkapan ikan merupakan satu kesatuan yang berfungsi untuk menangkap ikan. Unit ini terdiri dari tiga unsur yaitu: 1) Alat tangkap; 2) Kapal; dan 3)
METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengumpulan Data
3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2012. Tempat penelitian dan pengambilan data dilakukan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Blanakan, Kabupaten Subang. 3.2 Alat
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Unit Penangkapan Jaring Rajungan dan Pengoperasiannya Jaring rajungan yang biasanya digunakan oleh nelayan setempat mempunyai kontruksi jaring yang terdiri dari tali ris
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Karakteristik dan Klasifikasi Usaha Perikanan Tangkap
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Karakteristik dan Klasifikasi Usaha Perikanan Tangkap Karakteristik merupakan satu hal yang sangat vital perannya bagi manusia, karena hanya dengan karakteristik kita dapat
Bentuk baku konstruksi pukat hela arad
Standar Nasional Indonesia Bentuk baku konstruksi pukat hela arad ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii Pendahuluan... iii 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah dan definisi...1
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
36 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Teknik Unit penangkapan pancing rumpon merupakan unit penangkapan ikan yang sedang berkembang pesat di PPN Palabuhanratu. Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
36 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Aspek Teknik 5.1.1 Deskripsi unit penangkapan ikan Unit penangkapan ikan merupakan suatu komponen yang mendukung keberhasilan operasi penangkapan ikan. Unit penangkapan
3 METODOLOGI PENELITIAN
14 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Pengamatan tingkah laku ikan pada proses penangkapan ikan dengan alat bantu cahaya dilakukan di perairan Kabupaten Barru Selat Makassar, Sulawesi
KAJIAN TEKNIS PENGOPERASIAN CANTRANG DI PERAIRAN BRONDONG, KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR NOVELDESRA SUHERY
KAJIAN TEKNIS PENGOPERASIAN CANTRANG DI PERAIRAN BRONDONG, KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR NOVELDESRA SUHERY MAYOR TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS
Bentuk baku konstruksi pukat hela ikan
Standar Nasional Indonesia Bentuk baku konstruksi pukat hela ikan ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah dan definisi... 1 3 Simbol
4 HASIL. Gambar 8 Kapal saat meninggalkan fishing base.
31 4 HASIL 4.1 Unit Penangkapan Ikan 4.1.1 Kapal Jumlah perahu/kapal yang beroperasi di Kecamatan Mempawah Hilir terdiri dari 124 perahu/kapal tanpa motor, 376 motor tempel, 60 kapal motor 0-5 GT dan 39
4 KONDISI PERIKANAN DEMERSAL DI KOTA TEGAL. 4.1 Pendahuluan
4 KONDISI PERIKANAN DEMERSAL DI KOTA TEGAL 4.1 Pendahuluan Secara geografis Kota Tegal terletak pada posisi 06 0 50 LS sampai 06 0 53 LS dan 109 0 08 BT sampai 109 0 10 BT. Kota Tegal merupakan daerah
PENGAMATAN ASPEK OPERASIONAL PENANGKAPAN ALAT CANTRANG DI PERAIRAN TELUK JAKARTA
Tersedia online di: http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/btl e-mail:[email protected] BULETINTEKNIKLITKAYASA Volume 14 Nomor 1 Juni 2016 p-issn: 1693-7961 e-issn: 2541-2450 PENGAMATAN
KARAKTERISTIK JARING CANTRANG YANG DIOPERASIKAN DI PERAIRAN PANTAI UTARA JAWA
KARAKTERISTIK JARING CANTRANG YANG DIOPERASIKAN DI PERAIRAN PANTAI UTARA JAWA Sawon *), Enjah Rahmat *), Suwardi *), Agus Salim *), dan Nardi H.E *). *) Teknisi Litkayasa pada Balai Riset Perikanan Laut,
THE FEASIBILITY ANALYSIS OF SEINE NET THE MOORING AT PORT OF BELAWAN NORTH SUMATRA PROVINCE
1 THE FEASIBILITY ANALYSIS OF SEINE NET THE MOORING AT PORT OF BELAWAN NORTH SUMATRA PROVINCE By Esra Gerdalena 1), Zulkarnaini 2) and Hendrik 2) Email: [email protected] 1) Students of the Faculty
3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Responden 3.5 Metode Pengumpulan Data
19 3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian di lapangan dilakukan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, Sukabumi Jawa Barat. Pengambilan data di lapangan dilakukan selama 1 bulan,
: Perikanan Tangkap Udang Nomor Sampel Kabupaten / Kota : Kecamatan : Kelurahan / Desa Tanggal Wawancara : Nama Enumerator :..
173 Lampiran 34 Daftar Kuisioner Jenis Pertanyaan : Perikanan Tangkap Udang Nomor Sampel Kabupaten / Kota : Kecamatan : Kelurahan / Desa Tanggal Wawancara : Nama Enumerator.. I Identitas Responden Nama
3.2.1 Spesifikasi alat tangkap Bagian-bagian dari alat tangkap yaitu: 1) Tali ris atas, tali pelampung, tali selambar
21 3METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan pada tanggal 15 September 11 Desember 2010 ini bertempat di TPI Palabuhanratu. Sukabumi Jawa Barat. Kegiatan penelitian meliputi eksperimen langsung
BAB III BAHAN DAN METODE
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Gebang Mekar Kabupaten Cirebon (Lampiran 1). Survey dan persiapan penelitian seperti pencarian jaring,
Lampiran 1. Desain dan spesifikasi alat tangkap gillnet dan trammel net. Gillnet
Lampiran 1. Desain dan spesifikasi alat tangkap gillnet dan trammel net Gillnet Keterangan: 1. Tali pelampung 2. Pelampung 3. Tali ris atas 4. Badan jarring 5. Tali ris bawah 6. Tali pemberat 7. Pemberat
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Alat Tangkap Cantrang SNI SNI
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Alat Tangkap Cantrang Cantrang adalah alat tangkap berbentuk jaring yang apabila dilihat dari bentuknya menyerupai alat tangkap payang, tetapi ukuran di tiap bagiannya lebih kecil.
Sumber : Wiryawan (2009) Gambar 9 Peta Teluk Jakarta
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Teluk Jakarta Secara geografis Teluk Jakarta (Gambar 9) terletak pada 5 o 55 30-6 o 07 00 Lintang Selatan dan 106 o 42 30-106 o 59 30 Bujur Timur. Batasan di sebelah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jaring Arad Jaring arad (mini trawl) adalah jaring yang berbentuk kerucut yang tertutup ke arah ujung kantong dan melebar ke arah depan dengan adanya sayap. Bagian-bagiannya
5 HASIL PENELITIAN. Tahun. Gambar 8. Perkembangan jumlah alat tangkap purse seine di kota Sibolga tahun
37 5 HASIL PENELITIAN 5.1 Aspek Teknis Perikanan Purse seine Aspek teknis merupakan aspek yang menjelaskan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan usaha penangkapan ikan, yaitu upaya penangkapan, alat
4 HASIL. Kabupaten Bangka Selatan dapat dilihat pada Gambar. 1)
4 HASIL 4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Keadaan daerah Kabupaten Bangka Selatan merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang resmi menjadi daerah otonom sejak tanggal 25 Februari
3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Peralatan Penelitian 3.3 Metode Penelitian 3.4 Pengumpulan Data
13 3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Pengambilan data lapang penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2011. Tempat penelitian berada di dua lokasi yaitu untuk kapal fiberglass di galangan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Jumlah Armada Penangkapan Ikan Cirebon Tahun Tahun Jumlah Motor
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Perikanan Tangkap di Cirebon Armada penangkapan ikan di kota Cirebon terdiri dari motor tempel dan kapal motor. Jumlah armada penangkapan ikan dikota Cirebon
Bentuk baku konstruksi pukat hela ganda udang (double rigger shrimp trawl)
Standar Nasional Indonesia Bentuk baku konstruksi pukat hela ganda udang (double rigger shrimp trawl) ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar Isi...i Prakata...ii Pendahuluan... iii
ANALISIS FINANSIAL UNIT PENANGKAPAN JARING INSANG HANYUT DI DESA SUNGAI LUMPUR KABUPATEN OKI PROVINSI SUMATERA SELATAN
MASPARI JOURNAL Januari 2015, 7(1): 29-34 ANALISIS FINANSIAL UNIT PENANGKAPAN JARING INSANG HANYUT DI DESA SUNGAI LUMPUR KABUPATEN OKI PROVINSI SUMATERA SELATAN FINANSIAL ANALYSIS OF DRIFT GILL NET IN
BAB III BAHAN DAN METODE
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian penangkapan rajungan dengan menggunakan jaring kejer dilakukan di perairan Gebang Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (Lampiran 1 dan Lampiran 2). Penelitian
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP DOGOL DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN (PPI) UJUNG BATU JEPARA
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP DOGOL DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN (PPI) UJUNG BATU JEPARA Finansial Feasibility Study of Danish Seine Fishing in Fish Landing Center Ujung Batu Melina
ANALISIS FINANSIAL ALAT TANGKAP JARING CUMI DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN MUARA ANGKE JAKARTA UTARA
ANALISIS FINANSIAL ALAT TANGKAP JARING CUMI DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN MUARA ANGKE JAKARTA UTARA Bima Muhammad Rifan*, Herry Boesono, Trisnani Dwi Hapsari Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan,
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP CANTRANG DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN (PPI) BULU TUBAN JAWA TIMUR
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP CANTRANG DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN (PPI) BULU TUBAN JAWA TIMUR Feasibility Analysis Of Financial Business Danish Seine Catching In Bulu Fishing Port
ANALISIS TEKNIS DAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP PAYANG DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) WONOKERTO KABUPATEN PEKALONGAN
ANALISIS TEKNIS DAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP PAYANG DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) WONOKERTO KABUPATEN PEKALONGAN Technical and Financial Analysis of Payang Fisheries Business in Coastal
Analisis usaha alat tangkap gillnet di pandan Kabupaten Tapanuli 28. Tengah Sumatera Utara
Analisis usaha alat tangkap gillnet di pandan Kabupaten Tapanuli 28 Jurnal perikanan dan kelautan 17,2 (2012): 28-35 ANALISIS USAHA ALAT TANGKAP GILLNET di PANDAN KABUPATEN TAPANULI TENGAH SUMATERA UTARA
KERAGAAN DESAIN CANTRANG PADA KAPAL UKURAN < 30 GT DI PANTAI UTARA JAWA TENGAH
KERAGAAN DESAIN CANTRANG PADA KAPAL UKURAN < 30 GT DI PANTAI UTARA JAWA TENGAH (Technical Design of Danish Seine on North Java Waters) Suparman Sasmita 1), Sulaeman Martasuganda 2), Ari Purbayanto 2) 1)
PENGARUH LAMA PENARIKAN PADA PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP CANTRANG TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN DEMERSAL DI PERAIRAN BRONDONG.
PENGARUH LAMA PENARIKAN PADA PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP CANTRANG TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN DEMERSAL DI PERAIRAN BRONDONG Suwarsih Staf Pengajar PS D3 Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
3 METODE PENELITIAN. # Lokasi Penelitian
35 3 METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Timur, khususnya di PPP Labuhan. Penelitian ini difokuskan pada PPP Labuhan karena pelabuhan perikanan tersebut
IV. METODE PENELITIAN
IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, DKI
USAHA PERIKANAN TANGKAP SKALA KECIL DI SADENG, PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (Small Scale Fisheries Effort At Sadeng, Yogyakarta Province)
USAHA PERIKANAN TANGKAP SKALA KECIL DI SADENG, PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (Small Scale Fisheries Effort At Sadeng, Yogyakarta Province) Tiara Anggia Rahmi 1), Tri Wiji Nurani 2), Prihatin IkaWahyuningrum
ANALISIS FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP CANTRANG 30 GT DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) TASIK AGUNG REMBANG
ANALISIS FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP CANTRANG 30 GT DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) TASIK AGUNG REMBANG Financial Analysis of Fishing Business Using Danish Seine 30 GT in Tasik Agung Coastal
KAPAL IKAN PURSE SEINE
KAPAL IKAN PURSE SEINE Contoh Kapal Purse Seine, Mini Purse Seine, Pengoperasian alat tangkap. DESAIN KAPAL PURSE SEINE Spesifikasi kapal ikan yang perlu di perhatikan : 1. Spesifikasi teknis : khusus
3 METODOLOGI PENELITIAN
25 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Perairan Mempawah Hilir Kabupaten Pontianak Propinsi Kalimantan Barat, yang merupakan salah satu daerah penghasil
6 USAHA PENANGKAPAN PAYANG DI DESA BANDENGAN
40 6 USAHA PENANGKAPAN PAYANG DI DESA BANDENGAN Tujuan akhir dari usaha penangkapan payang di Desa Bandengan adalah meningkatkan kesejahteraaan nelayan bersama keluarga. Karena itu sasaran dari kegiatan
Lampiran 2. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian
Lampiran 1. Ilustrasi Peta Lokasi Penelitian 42 Lampiran 2. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian Lampiran 3. Alat yang Digunakan GPS (Global Positioning System) Refraktometer Timbangan Digital
ANALISIS FINANSIAL USAHA PENANGKAPAN ONE DAY FISHING DENGAN ALAT TANGKAP MULTIGEAR DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) TAWANG KABUPATEN KENDAL
ANALISIS FINANSIAL USAHA PENANGKAPAN ONE DAY FISHING DENGAN ALAT TANGKAP MULTIGEAR DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) TAWANG KABUPATEN KENDAL Financial Analysis of One Day Fishing Business Using Multigear
Lampiran 1. Sebaran frekuensi panjang ikan kuniran (Upeneus sulphureus) betina yang dianalisis dengan menggunakan metode NORMSEP (Normal Separation)
58 Lampiran 1. Sebaran frekuensi panjang ikan kuniran (Upeneus sulphureus) betina yang dianalisis dengan menggunakan metode NORMSEP (Normal Separation) menggunakan program FiSAT II 59 Lampiran 1. (lanjutan)
STUDI PEMANFAATAN TEKNOLOGI RUMPON DALAM PENGOPERASIAN PURSE SEINE DI PERAIRAN SUMATERA BARAT. Oleh : Universitas Bung Hatta Padang
STUDI PEMANFAATAN TEKNOLOGI RUMPON DALAM PENGOPERASIAN PURSE SEINE DI PERAIRAN SUMATERA BARAT Oleh : Sabar Jaya Telaumbanua ) Suardi ML dan Bukhari 2) ) Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
C E =... 8 FPI =... 9 P
3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 6 (enam) bulan yang meliputi studi literatur, pembuatan proposal, pengumpulan data dan penyusunan laporan. Penelitian
ANALISIS FAKTOR PRODUKSI HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP CANTRANG DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN BULU KABUPATEN TUBAN
ANALISIS FAKTOR PRODUKSI HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP CANTRANG DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN BULU KABUPATEN TUBAN Analyze Production Factors of Catch by Denish Seine in Bulu fishing port Tuban Regency Ismail
5 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
5 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum Kota Serang Kota Serang adalah ibukota Provinsi Banten yang berjarak kurang lebih 70 km dari Jakarta. Suhu udara rata-rata di Kota Serang pada tahun 2009
TOTAL BIAYA. 1. Keuntungan bersih R/C 2, PP 1, ROI 0, BEP
Lampiran 1. Analisis finansial unit penangkapan bagan perahu di Kabupaten Bangka Selatan No Uraian Total I Investasi 1. Kapal dan perlengkapan bangunan bagan 95.. 2. Mesin 15.. 3. Mesin Jenset 5.. 4. Perlengkapan
4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
27 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Geografis, Topografis dan Luas Wilayah Kabupaten Ciamis merupakan salah satu kota yang berada di selatan pulau Jawa Barat, yang jaraknya dari ibu kota Propinsi
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Unit Penangkapan Cantrang Alat tangkap cantrang
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Unit Penangkapan Cantrang Unit penangkapan ikan merupakan satu kesatuan teknis dalam operasi penangkapan ikan yang terdiri atas alat tangkap, perahu atau kapal penangkap dan nelayan.
4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
20 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Geografis, Letak Topografi dan Luas Sibolga Kota Sibolga berada pada posisi pantai Teluk Tapian Nauli menghadap kearah lautan Hindia. Bentuk kota memanjang
BAB IV METODE PENELITIAN. dan data yang diperoleh. Penelitian ini disusun sebagai penelitian induktif yaitu
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Jenis/Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif karena dalam pelaksanaannya meliputi data, analisis dan interpretasi tentang arti
KONSTRUKSI DAN UJI-COBA PENGOPERASIAN JUVENILE AND TRASH EXCLUDER DEVICE PADA JARING ARAD DI PEKALONGAN
Konstruksi dan Uji-Coba Pengoperasian Juvenile and Trash Excluder Device pada Jaring Arad di Pekalongan (Salim, A.) KONSTRUKSI DAN UJI-COBA PENGOPERASIAN JUVENILE AND TRASH EXCLUDER DEVICE PADA JARING
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL
VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan pengusahaan ikan lele phyton, serta untuk mengetahui apakah usaha yang dilakukan pada
3 METODE PENELITIAN. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
3 METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai September 2010. Pengambilan data lapangan dilakukan di wilayah Kabupaten Maluku Tenggara, sejak 21 Juli
4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
32 4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Batas-batas Administrasi Kecamatan Cisolok Pangkalan Pendaratan Ikan Cisolok berada di Desa Cikahuripan Kecamatan Cisolok. Kecamatan Cisolok merupakan kecamatan
4 HASIL TANGKAPAN IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN
4 HASIL TANGKAPAN IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN 4.1 Pendahuluan Perikanan tangkap merupakan kegiatan yang dilakukan dengan tujuan memanfaatkan sumberdaya ikan yang mempunyai
Jumlah kapal (unit) pada ukuran (GT) >100
34 2001, kecamatan ini mempunyai penduduk sebesar 91.881 jiwa. Luas wilayahnya adalah 26,25 km 2 dengan kepadatan penduduknya adalah 3.500,23 jiwa per km 2. PPS Belawan memiliki fasilitas pokok dermaga,
2 GAMBARAN UMUM UNIT PERIKANAN TONDA DENGAN RUMPON DI PPP PONDOKDADAP
6 2 GAMBARAN UMUM UNIT PERIKANAN TONDA DENGAN RUMPON DI PPP PONDOKDADAP Unit Penangkapan Ikan Kapal Pengoperasian kapal tonda atau yang dikenal dengan kapal sekoci oleh nelayan Sendang Biru dilakukan sejak
4 KEADAAN UMUM. 4.1 Letak dan Kondisi Geografis
29 4 KEADAAN UMUM 4.1 Letak dan Kondisi Geografis Keadaan geografi Kabupaten Aceh Besar merupakan salah satu kabupaten yang memiliki luas laut yang cukup besar. Secara geografis Kabupaten Aceh Besar berada
SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan
SAMBUTAN Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayahnya serta kerja keras penyusun telah berhasil menyusun Materi Penyuluhan yang akan digunakan bagi
ANALISIS USAHA PURSE SEINE DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA SIBOLGA KABUPATEN TAPANULI TENGAH PROVINSI SUMATERA UTARA
1 ANALISIS USAHA PURSE SEINE DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA SIBOLGA KABUPATEN TAPANULI TENGAH PROVINSI SUMATERA UTARA THE ANALYSIS OF PURSE SEINE AT THE PORT OF SIBOLGA ARCHIPELAGO FISHERY TAPANULI REGENCY
4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Keadaan Geografis dan Administrasi Kabupaten Subang Kabupaten Subang terletak antara 107 0 31 107 0 54 BT dan 6 0 11 6 0 30 LS. Kabupaten Subang terdiri dari 22 kecamatan
Pujianto *), Herry Boesono, Dian Wijayanto
ANALISIS KELAYAKAN USAHA ASPEK FINANSIAL PENANGKAPAN MINI PURSE SEINE DENGAN UKURAN JARING YANG BERBEDA DI PPI UJUNGBATU KABUPATEN JEPARA Feasibility Study Analysis Financial Aspect to Marine Fisheries
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Tempat Penelitian Palabuhnratu merupakan daerah pesisir di selatan Kabupaten Sukabumi yang sekaligus menjadi ibukota Kabupaten Sukabumi. Palabuhanratu terkenal
LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN Lampiran 1. Komponen Alat Tangkap Jaring Kembung a. Jaring Kembung b. Pengukuran Mata Jaring c. Pemberat d. Pelampung Utama e. Pelampung Tanda f. Bendera Tanda Pemilik Jaring Lampiran 2. Kapal
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
aa 26 aa a a 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Teknis Gillnet Millenium 5.1.1 Unit penangkapan ikan 1) Kapal Kapal yang mengoperasikan alat tangkap gillnet millenium merupakan kapal kayu yang menggunakan
III. METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian Usaha warnet sebetulnya tidak terlalu sulit untuk didirikan dan dikelola. Cukup membeli beberapa buah komputer kemudian menginstalnya dengan software,
PENGAMATAN ASPEK OPERASIONAL PENANGKAPAN PUKAT CINCIN KUALA LANGSA DI SELAT MALAKA
Pengamatan Aspek Operasional Penangkapan...di Selat Malaka (Yahya, Mohammad Fadli) PENGAMATAN ASPEK OPERASIONAL PENANGKAPAN PUKAT CINCIN KUALA LANGSA DI SELAT MALAKA Mohammad Fadli Yahya Teknisi pada Balai
Gambar 6 Sebaran daerah penangkapan ikan kuniran secara partisipatif.
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Wilayah Sebaran Penangkapan Nelayan Labuan termasuk nelayan kecil yang masih melakukan penangkapan ikan khususnya ikan kuniran dengan cara tradisional dan sangat tergantung pada
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
21 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kapal Kayu 5.1.1 Gambaran Umum Kapal perikanan merupakan unit penangkapan ikan yang sangat penting dalam mendukung kegiatan operasi penangkapan ikan yang terdapat di perairan
ANALISIS USAHA PENANGKAPAN RAWAI DAN PENGEMBANGANNYA DI KOTA DUMAI. Suliani 1), Irwandy Syofyan 2), T.Ersti Yulika Sari 2)
1 ANALISIS USAHA PENANGKAPAN RAWAI DAN PENGEMBANGANNYA DI KOTA DUMAI Suliani 1), Irwandy Syofyan 2), T.Ersti Yulika Sari 2) Email : [email protected] 1) Mahasiswa Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan,
Jaring Angkat
a. Jermal Jermal ialah perangkap yang terbuat dari jaring berbentuk kantong dan dipasang semi permanen, menantang atau berlawanlan dengan arus pasang surut. Beberapa jenis ikan, seperti beronang biasanya
3 KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN PUKAT CINCIN DI LAMPULO
8 Hasil Penangkapan (%) 0,50 0,40 0,30 0,20 0,10 0,00 41,6 24,1 16,0% 16,5 1,8 Cakalang Tuna Tongkol Lemuru Layang Jenis Ikan Gambar 2.2 Komposisi ikan hasil tangkapan pukat cincin yang didaratkan di PPP
IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data
IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Restoran Pastel and Pizza Rijsttafel yang terletak di Jalan Binamarga I/1 Bogor. Pemilihan tempat penelitian ini dilakukan
SAMBUTAN. Jakarta, Nopember 2011. Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan
SAMBUTAN Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayahnya serta kerja keras penyusun telah berhasil menyusun Materi Penyuluhan yang akan digunakan bagi
EFISIENSI TEKNIS DAN EKONOMIS ALAT TANGKAP JARING RAMPUS DI PPN KARANGANTU PROVINSI BANTEN YOHAN JIMMY RONALDO
EFISIENSI TEKNIS DAN EKONOMIS ALAT TANGKAP JARING RAMPUS DI PPN KARANGANTU PROVINSI BANTEN YOHAN JIMMY RONALDO DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT
5 KONDISI AKTUAL PENDARATAN DAN PENDISTRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN DI PPI MUARA ANGKE
50 5 KONDISI AKTUAL PENDARATAN DAN PENDISTRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN DI PPI MUARA ANGKE Pelabuhan Perikanan, termasuk Pangkalan Pendaratan Ikan (PP/PPI) dibangun untuk mengakomodir berbagai kegiatan para
VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL
VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Analisis kelayakan finansial dilakukan untuk mengetahui kelayakan pembesaran ikan lele sangkuriang kolam terpal. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam aspek finansial
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENANGKAPAN IKAN MENGGUNAKAN PANAH DAN BUBU DASAR DI PERIRAN KARIMUNJAWA
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENANGKAPAN IKAN MENGGUNAKAN PANAH DAN BUBU DASAR DI PERIRAN KARIMUNJAWA Ficka Andria Pratama *), Herry Boesono, dan Trisnani Dwi H. Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya
ASPEK OPERASIONAL PENANGKAPAN JARING INSANG HANYUT DAN KOMPOSISI JENIS IKAN HASIL TANGKAPAN DI SEKITAR PULAU BENGKALIS, SELAT MALAKA
ASPEK OPERASIONAL PENANGKAPAN JARING INSANG HANYUT DAN KOMPOSISI JENIS IKAN HASIL TANGKAPAN DI SEKITAR PULAU BENGKALIS, SELAT MALAKA Enjah Rahmat Teknisi pada Balai Penelitian Perikanan Laut, Muara Baru
6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI
6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI 6.1 Pendahuluan Industri surimi merupakan suatu industri pengolahan yang memiliki peluang besar untuk dibangun dan dikembangkan. Hal ini didukung oleh adanya
6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan
6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan Daerah penangkapan ikan kakap (Lutjanus sp.) oleh nelayan di Kabupaten Kupang tersebar diberbagai lokasi jalur penangkapan.
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Perikanan Tangkap
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Perikanan Tangkap Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan menyatakan bahwa Perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengolahan dan pemanfaatan sumberdaya
Mulai. Perancangan bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Pengukuran bahan yang akan digunakan
Lampiran 1. Flow chart pelaksanaan penelitian Mulai Perancangan bentuk alat Menggambar dan menentukan dimensi alat Memilih bahan Pengukuran bahan yang akan digunakan Dipotong, dibubut, dan dikikir bahan
ANALISIS TEKNIS DAN EKONOMI ALAT TANGKAP ARAD (GENUINE SMALL TRAWL) DAN ARAD MODIFIKASI (MODIFIED SMALL TRAWL) DI PPP TAWANG KENDAL
ANALISIS TEKNIS DAN EKONOMI ALAT TANGKAP ARAD (GENUINE SMALL TRAWL) DAN ARAD MODIFIKASI (MODIFIED SMALL TRAWL) DI PPP TAWANG KENDAL The Technical and Economics Analysis of Genuine Small Trawl and Modified
4. HASIL PENELITIAN 4.1 Keragaman Unit Penangkapan Ikan Purse seine (1) Alat tangkap
4. HASIL PENELITIAN 4.1 Keragaman Unit Penangkapan Ikan 4.1.1 Purse seine (1) Alat tangkap Pukat cincin (purse seine) di daerah Maluku Tenggara yang menjadi objek penelitian lebih dikenal dengan sebutan
ANALISIS KELAYAKAN USAHA PERIKANAN LAUT KABUPATEN KENDAL. Feasibility Study to Fisheries Bussiness in District of Kendal
ANALISIS KELAYAKAN USAHA PERIKANAN LAUT KABUPATEN KENDAL Feasibility Study to Fisheries Bussiness in District of Kendal Ismail, Indradi 1, Dian Wijayanto 2, Taufik Yulianto 3 dan Suroto 4 Staf Pengajar
