III. METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian Bahan dan Alat Teknik Pengumpulan Data Metode Analisis Analisis Spasial

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Wilayah dan Pengembangan Wilayah

III. BAHAN DAN METODE

BAB II KAJIAN TEORI. yang diapit oleh dua kurung siku sehingga berbentuk empat persegi panjang atau

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 3 LINEAR PROGRAMMING

FUZZY LINIER PROGRAMMING UNTUK PEMILIHAN JENIS KENDARAAN DALAM MENGANTISIPASI KEMACETAN LALU LINTAS DI KOTA MEDAN

IV. METODE PENELITIAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

III. METODOLOGI 3.1. Kerangka Pikir Penelitian

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Pengertian Program Linier (Linear Programming)

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI

Redistribusi Lokasi Minimarket di Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis

Optimasi Jumlah Pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya Berdasarkan Jenis Pelanggan dengan Metode Fuzzy Goal Programming

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAGIAN III OPTIMASI DENGAN SOLVER

BAB IV ANALISIS PEMILIHAN ALTERNATIF LOKASI PASAR LOKAL DI KECAMATAN CIKAMPEK

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

OPTIMALISASI PRODUKSI MENGGUNAKAN MODEL LINEAR PROGRAMMING (Studi Kasus : Usaha Kecil Menengah Kue Semprong)

BAB 2 LANDASAN TEORI

III. METODE PENELITIAN

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Graf Definisi 1 (Graf, Graf Berarah dan Graf Takberarah) 2.2 Linear Programming

BAB IV METODOLOGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

PROGRAM MAGISTER TEKNIK SIPIL UNLAM

Optimasi Pengalokasian Produksi Barang Jadi dengan Menggunakan Solver Add-Ins. Ratna Puspita Indah STMIK Duta Bangsa Surakarta ABSTRAK

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III. METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. besar dan mampu membantu pemerintah dalam mengurangi tingkat pengangguran.

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian. Metode Pengumpulan Data

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pemrograman nonlinear, fungsi konveks dan konkaf, pengali lagrange, dan

BAB 3 PEMBAHASAN. 3.1 Pengumpulan Data

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Sistem dan Model Pengertian sistem Pengertian model

Ardaneswari D.P.C., STP, MP.

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

III. METODOLOGI PENELITIAN GUNUNG DEPOK SINDUR PARUNG RUMPIN CISEENG CIBINONG BOJONG GEDE KEMANG RANCA BUNGUR KOTA BOGOR CIBUNGBULANG CIAMPEA DRAMAGA

BAB III METODE PENELITIAN. pada sayuran organik PT. Masada Organik Indonesia secara optimal. Penelitian

ANALISIS MODEL LINEAR PROGRAMMING

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Pemodelan dalam RO. Sesi XIV PEMODELAN. (Modeling)

BAB 2 LANDASAN TEORI

III METODOLOGI 3.1. Kerangka Penelitian

IV. METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Spasial

Bab 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Pengantar Proses Stokastik

METODOLOGI PENELITIAN

BAB 2 PROGRAM LINEAR

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Sampel

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PENERAPAN METODE BRANCH AND BOUND DALAM PENYELESAIAN MASALAH PADA INTEGER PROGRAMMING

OPTIMIZATION THE NUMBER OF GENTRY FILLING OIL (BBM) USING A LINEAR PROGRAMMING APPROACH TO FULFILL THE DEMAND (Case Study : PT.

III. METODE PENELITIAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Gambar 1. Lokasi Penelitian

Prof. Dr. Ir. ZULKIFLI ALAMSYAH, M.Sc. Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi

Berdasarkan penelitian, biaya operasi gudang diestimasikan sebesar 15% - 70 % dari total biaya manufaktur. Tompkins, et al., 1996

METODE ANALISIS YANG DIGUNAKAN DALAM PENENTUAN PUSAT PELAYANAN

BAB 1 PENDAHULUAN. dari ekonomi global yang melanda hampir negara-negara di Amerika dan Asia. Hal ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. operasi yang mampu menyelesaikan masalah optimasi sejak diperkenalkan di

PENERAPAN LOGIKA FUZZY PADA PROGRAM LINEAR

PENERAPAN PROGRAM LINIER DALAM OPTIMASI BIAYA PAKAN IKAN DENGAN METODE SIMPLEKS (STUDI KASUS PT. INDOJAYA AGRINUSA MEDAN)

IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

III KERANGKA PEMIKIRAN

OPTIMASI PROGRAM LINIER PECAHAN DENGAN FUNGSI TUJUAN BERKOEFISIEN INTERVAL

R PROGRAM APLIKASI PENYELESAIAN MASALAH FUZZY TRANSSHIPMENT MENGGUNAKAN METODE MEHAR

III. BAHAN DAN METODE

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2. PROGRAM LINEAR

PROGRAM LINEAR. sudir15mks

III. METODOLOGI. Metodologi penelitian ini bertujuan untuk mempermudah. masalah dengan maksud dan tujuan yang telah ditetapkan secara sistematis.

BAB 2 LANDASAN TEORI

IV. METODE PENELITIAN

Optimasi Tata Letak Semi Dinamis Raw Material Fast Moving Pada Gudang Dengan Pendekatan Matematis

BAB II LANDASAN TEORI. Pemrograman linear (PL) ialah salah satu teknik dari riset operasi untuk

ANALISIS EVALUASI KINERJA PEJABAT STRUKTURAL DENGAN METODE LINEAR PROGRAMMING

PEMANFAATAN SOLVER EXCEL UNTUK OPTIMASI PENJADWALAN MATA PELAJARAN

METODOLOGI PENELITIAN

BAB III MODEL TRANSPORTASI. memperkecil total biaya distribusi (Hillier dan Lieberman, 2001, hlm. 354).

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS. Nuryanto.ST.,MT

BAB III PEMBAHASAN. = tujuan atau target yang ingin dicapai. = jumlah unit deviasi yang kekurangan ( - ) terhadap tujuan (b m )

BAB IV METODE PENELITIAN

3 METODOLOGI 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Jenis Data dan Alat 3.3 Metode Analisis Data

MODEL TRANSPORTASI MATAKULIAH RISET OPERASIONAL Pertemuan Ke-12 & 13. Riani Lubis Jurusan Teknik Informatika Universitas Komputer Indonesia

Transkripsi:

21 III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan mulai bulan September Desember 2009 dengan wilayah studi yang dikaji untuk lokasi optimal pasar induk adalah Bogor yang terdiri atas 40 kecamatan dengan mempertimbangkan keberadaan Kota Bogor yang terdiri atas 6 kecamatan. 3.2. Jenis Sumber Data dan Alat Penelitian Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer berupa data asal sayuran dan buah-buahan di pasar yang ada saat ini (eksisting) diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan, dan data sekunder berupa data produksi sayuran dan buah-buahan, data monografi Bogor dan Kota Bogor, data rata-rata konsumsi sayuran dan buah-buahan, peta administrasi, peta jaringan jalan, data jarak tempuh dan waktu tempuh antar kecamatan, serta data pendukung lainnya. Data-data tersebut didapatkan dari Dinas Pertanian dan Kehutanan Bogor, BPS Bogor dan BPS Kota bogor, Bappeda kabupaten Bogor, PD. Pasar Tohaga, dan website (www.maps. google.com). Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat komputer, alat tulis, dan printer. Software yang digunakan terdiri dari Microsoft Excel, Microsoft Word, Arc GIS 9.2, dan GAMS. 3.3. Metode Pelaksanaan Penelitian Pengambilan data penelitian terbagi atas data sekunder, dan data primer yang masing-masing diperoleh dari instansi pemerintah dan pengamatan langsung di lapangan. Adapun mengenai matriks pendekatan penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.

22 Tabel 1. Matriks Pendekatan Penelitian No Tujuan 1. Mengidentifikasi perkembangan wilayah di Bogor 2. Mengidentifikasi aliran sayuran dan buah-buahan di pasar yang ada saat ini (eksisting) yang berada di dan Kota Bogor. Metode Jenis Analisis Data Sumber Data Skalogram Sekunder BPS Kab. Bogor Deskriptif Primer dan Sekunder Pengamatan Langsung di Lapangan, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kab. Bogor, PD. Pasar Tohaga Keluaran Hirarki wilayah di Bogor Asal sayuran dan buah-buahan di pasar yang ada saat ini (eksisting) 3. Mengkaji penentuan lokasi optimal pasar induk berdasarkan 40 kecamatan di Bogor dengan mempertimbangkan keberadaan 6 kecamatan di Kota Bogor. Metode P- Median yang dibangun dalam software GAMS Sekunder Dinas Pertanian dan Kehutanan Kab. Bogor, Bappeda Kab. Bogor, BPS dan Kota Bogor, website www.maps. google.com Lokasi optimal pasar induk berdasarkan 40 kecamatan di Bogor dengan mempertimbangkan keberadaan 6 kecamatan di Kota Bogor 4. Mengkaji penentuan lokasi optimal pasar induk berdasarkan 40 kecamatan di Bogor. Metode P- Median yang dibangun dalam software GAMS Sekunder Dinas Pertanian dan Kehutanan Kab. Bogor, Bappeda Kab. Bogor, BPS dan Kota Bogor, website www.maps. google.com Lokasi optimal pasar induk berdasarkan 40 kecamatan di Bogor

23 Tabel 1. Lanjutan No Tujuan 5. Mengkaji penentuan lokasi optimal pasar induk berdasarkan kondisi saat ini (eksisting) di Bogor dengan mempertimbang kan keberadaan pasar yang ada di Kota Bogor. Metode Analisis Metode P- Median yang dibangun dalam software GAMS Jenis Data Sekunder Sumber Data Dinas Pertanian dan Kehutanan Kab. Bogor, Bappeda Kab. Bogor, BPS dan Kota Bogor, website www.maps. google.com Keluaran Lokasi optimal pasar induk berdasarkan kondisi saat ini (eksisting) di Bogor dengan mempertimbangkan keberadaan pasar yang ada di Kota Bogor. 6. Mengkaji penentuan lokasi optimal pasar induk berdasarkan kondisi saat ini (eksisting) di Bogor. 7. Melihat Keterkaitan perkembangan wilayah dengan alternatif lokasi optimal pasar induk Bogor. Metode P- Median yang dibangun dalam software GAMS Penentuan indeks prioritas Sekunder Sekunder Dinas Pertanian dan Kehutanan Kab. Bogor, Bappeda Kab. Bogor, BPS dan Kota Bogor, website www.maps. google.com Dinas Pertanian dan Kehutanan Kab. Bogor, Bappeda Kab. Bogor, BPS dan Kota Bogor, website www.maps. google.com Lokasi optimal pasar induk berdasarkan kondisi saat ini (eksisting) di Bogor. Lokasi pasar induk paling optimal berdasarkan perkembangan wilayah dan hasil optimasi. 3.4. Batasan Penelitian 1. Komoditas yang dikaji dalam pengembangan pasar induk adalah sayuran dan buah-buahan. 2. Pengertian jarak dalam studi kasus ini mengikuti pengertian lokasi relatif, yaitu posisi yang berkenaan dengan posisi lainnya dengan menggunakan data

24 panjang jalan yang menghubungkan antar satu kecamatan dengan kecamatan lainnya yang didapatkan dari website (www.maps.google.com). 3. Pengertian waktu dalam studi kasus ini mengikuti pengertian waktu relatif yaitu waktu tempuh yang berkenaan satu posisi menuju posisi lainnya dengan menggunakan kendaraan bermotor roda empat, yang didapatkan dari website (www.maps.google.com). 4. Aspek masyarakat dan kelembagaan tidak menjadi pembahasan dalam penelitian ini karena diasumsikan masyarakat mendukung adanya pembangunan pasar induk di Bogor. 3.5. Analisis Data Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis skalogram, analisis deskriptif dan analisis P-Median. Analsisi skalogram digunakan untuk melihat tingkat perkembangan wilayah, analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui aliran sayuran dan buah-buahan di pasar yang ada saat ini, dan analisis P-Median digunakan untuk penentuan lokasi optimal pasar induk. 3.5.1. Skalogram Analisis skalogram digunakan untuk untuk menentukan hirarki wilayah dalam mendukung penentuan lokasi pasar induk yang optimal. Dalam metode skalogram, seluruh fasilitas umum yang dimiliki oleh setiap kecamatan didata dan disusun dalam satu tabel seperti pada Tabel 2. Tabel 2. Contoh Tabulasi Data Fasilititas Umum Kec Populasi Mushola SD SMP SMA Puskesmas Bank Jumlah Jenis Jumlah Unit Metode skalogram bisa digunakan dengan menuliskan jumlah fasilitas yang dimiliki oleh setiap kecamatan, atau menuliskan ada tidaknya fasilitas tersebut di suatu kecamatan tanpa memperhatikan jumlah atau kuantitasnya. Dengan metode

25 ini akan diidentifikasi jenis, jumlah, dan karakteristik infrastruktur yang diperlukan sebagai fasilitas yang akan mendukung perkembangan perekonomian di suatu kecamatan. Tahap-tahap dalam penyusunan skalogram adalah : 1. Menyusun fasilitas sesuai dengan penyebaran dan jumlah fasilitas dalam unit-unit kecamatan. Data fasilitas yang merata dijumpai di seluruh kecamatan diletakkan pada tabel dengan urutan paling kiri dan seterusnya, fasilitas yang paling jarang penyebarannya diletakkan di kolom paling kanan. Angka yang dituliskan adalah jumlah fasilitas yang dimiliki setiap unit kecamatan. 2. Menyusun wilayah kecamatan sedemikian rupa, kecamatan yang mempunyai ketersediaan fasilitas paling lengkap diletakkan di susunan paling atas, sedangkan kecamatan dengan ketersediaan fasilitas paling tidak lengkap diletakkan di susunan paling bawah 3. Menjumlahkan seluruh fasilitas sosial secara horizontal, baik jumlah jenis fasilitas maupun jumlah unit fasilitas di setiap kecamatan 4. Menjumlahkan masing-masing unit fasilitas secara vertikal, sehingga diperoleh jumlah unit fasilitas yang tersebar di seluruh kecamatan. 5. Dari hasil penjumlahan diperoleh urutan, posisi teratas merupakan kecamatan yang mempunyai fasilitas terlengkap, sedangkan posisi terbawah merupakan kecamatan dengan ketersediaan fasilitas paling tidak lengkap. 6. Jika dari hasil penjumlahan dan pengurutan ini diperoleh dua kecamatan dengan jumlah jenis dan jumlah unit fasilitas yang persis sama, maka pertimbangan ketiga adalah jumlah penduduk. Kecamatan dengan jumlah penduduk lebih tinggi diletakkan pada posisi di atas. Metode lain yang merupakan modifikasi dari metode skalogram adalah penentuan indeks sentralitas dengan berdasarkan jumlah penduduk dan jenis fasilitas pelayanan. Secara teoritik, hirarki kecamatan ditentukan oleh tingkat kapasitas pelayanan kecamatan secara totalitas yang tidak terbatas yang ditunjukkan oleh kapasitas infrastruktur fisiknya saja, tetapi juga kapasitas kelembagaan, sumberdaya manusia, serta kapasitas perekonomiannya. Model untuk menentukan nilai indeks perkembangan (IPj) suatu kecamatan adalah:

dimana 26. (3-1)..... (3-2) IP j : Indeks perkembangan kecamatan ke j I ij : Nilai indikator perkembangan ke i indikator ke j I ij : Nilai indikator perkembangan indikator ke i kecamatan ke j terkoreksi / terstandarisasi I imin : Nilai indikator perkembangan ke i terkecil SD i : Standar deviasi indeks perkembangan indikator ke i i : Indikator yang dianalisis j : Kecamatan yang dianalisis Nilai ini akan digunakan untuk mengelompokkan kecamatan dalam kelas-kelas yang dibutuhkan atau hirarki kecamatan. Diasumsikan bahwa kelompok yang diperoleh berjumlah 3, yaitu kelompok I dengan tingkat perkembangan tinggi, kelompok II dengan tingkat perkembangan sedang, dan kelompok III dengan tingkat perkembangan rendah. Selanjutnya ditetapkan suatu konsensus, misalnya jika nilainya adalah lebih besar atau sama dengan 2x standar deviasi + nilai rata-rata, maka dikategorikan tingkat perkembangan tinggi, kemudian jika antara nilai rata-rata sampai 2x standar deviasi+nilai rata-rata maka termasuk tingkat pertumbuhan sedang, dan jika nilai ini kurang dari nilai rata-rata, maka termasuk dalam nilai pertumbuhan rendah. Secara matematis kelompok tersebut adalah: Hirarki I X + 2 Stdev (Tingkat Perkembangan Tinggi) X + 2 STdev > Hirarki II X Hirarki III < X (Tingkat Perkembangan Sedang) (Tingkat Perkembangan Rendah) Ada beberapa kelemahan yang mungkin dijumpai dalam penggunaan analisis skalogram pada penggunaan data riil. Pertama, pada umumnya batasbatas wilayah nodal tidak tepat berimpitan dengan wilayah administrasi, sehingga data-data yang digunakan dalam analisis perencanaan sering bersifat kompromistis. Kedua, kenyataan yang ditemukan adalah batas-batas wilayah

nodal tersebut mudah sekali berubah, terutama berkaitan dengan perubahan sistem transportasi (Rustiadi et al., 2008). 27 3.5.2. Spatial Interaction Analysis The Location-allocation Model Spatial Interaction Analysis dengan menggunakan metoda The Locationallocation Model merupakan salah satu pendekatan dari model-model optimasi dalam penentuan lokasi suatu aktifitas yang dapat meminimumkan biaya, jarak, waktu, dan faktor kendala lainnya. Location-allocation model adalah metoda untuk menentukan lokasi optimal untuk penempatan fasilitas. Metoda ini secara simultan memilih suatu lokasi yang demands-nya terdistribusi secara spasial untuk optimasi beberapa kriteria yang secara spesifik dapat diukur. Isu utama yang muncul dari masalah lokasi adalah menentukan kriteria yang cocok dan objektif. Penentuan lokasi untuk private sector facilities biasanya didasarkan pada pertimbangan yang objektif dan terukur seperti untuk meminimalkan cost atau memaksimalkan profit. Hakimi (1964) dan Swain (1970) dalam Ashar (2002) menyebutkan bahwa salah satu dari model yang paling populer untuk masalah lokasi fasilitas publik adalah metode P-Median. Masalah lokasi dapat disederhanakan dengan menghubungkan antara lokasi fasilitas dengan lokasi demands yang dapat meminimalkan bobot total jarak tempuh atau waktu tempuh sehingga dapat membantu pengguna untuk mendapatkan fasilitas terdekat. Variabel-variabel yang diperlukan dalam aplikasi metode terpilih ini meliputi: 1. Variabel jumlah simpul 2. Variabel jumlah hubungan antar simpul 3. Variabel jarak antar simpul, dan 4. Variabel bobot masing-masing simpul Variabel jarak antar simpul dapat berupa jarak fisik jaringan jalan, biaya atau waktu yang diperlukan dalam perjalanan dari simpul awal ke simpul tujuan. Jarak yang dibutuhkan dalam pehitungan ini ialah jarak terpendek dan waktu tempuh tercepat dari setiap calon pusat ke simpul-simpul lainnya. Jarak antar simpul yang diukur berarti jarak yang saling berdekatan langsung antar simpul atau simpul yang memiliki batasan langsung, demikian pula dengan waktu

28 tempuh, waktu tempuh yang diukur adalah waktu tempuh tercepat antar simpul. Efisiensi ini dikembangkan oleh Djikistra (1959) dalam Ashar (2002). Pengertian bobot merupakan suatu karakteristik yang dimiliki oleh suatu simpul yang membedakan dengan simpul lainnya, misalnya jumlah penduduk, luas bangunan, tingkat pendapatan perkapita, sehingga makin signifikan bobot tersebut, maka simpul tersebut semakin besar memberikan kontribusi terhadap penentuan lokasi di dalam sistem secara keseluruhan. Penetapan suatu bobot identik dengan kriteria yang terutama terhadap penentuan lokasi suatu fasilitas. Sehingga untuk menetapkan suatu bobot seharusnya mengetahui indikator yang mempengaruhi kebutuhan penempatan suatu fasilitas. Banardi dan Fisher (1973) dalam Ashar (2002) menyebutkan bahwa penentuan bobot dan jarak tergantung pada tiga hal, yaitu a) masalah yang diselidiki, b) ketersediaan data, dan c) pertimbangan lainnya yang berhubungan dengan masalah yang diselidiki. Bobot simpul hendaknya mencerminkan jumlah penerima pelayanan (number of service recipients). Dalam pengoperasiannya metoda P-Median tidak berdiri sendiri, melainkan ditunjang oleh program komputer/software Java Applets P-Median Solver. Software P-Median Solver ini disediakan secara gratis melalui situs internet http://www.hyuan.com/java/index.html, yang untuk mengolah datanya harus dalam keadaan on line dengan situs tersebut. Program tersebut digunakan untuk ketepatan penentuan jalur terpendek dan penentuan pusat-pusat yang dipilih dari sejumlah simpul tidak dapat dihitung secara manual. Karena jika jumlah node dan link mecapai puluhan bahkan ratusan akan sulit dan tidak efektif dengan perhitungan secara manual. Berdasarkan pertimbangan tersebut dan mengingat banyaknya simpul yang akan dianalisis maka dipergunakan program GAMS. Kelebihan dari program GAMS adalah dapat dikembangkan skenario yang dibangun dan sekaligus menguji simulasi-simulasi yang digunakan. 3.5.2.1. Model Optimasi (Penerapan GAMS) Model GAMS (General Algebraic Modeling System) digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan lokasi optimal pasar induk dengan menerapkan metoda yang digunakan dalam P-Median. Hal ini dilakukan untuk mempermudah

29 cara pengolahan data agar dapat dilakukan secara off line, sekaligus menguji simulasi-simulasi yang digunakan. Asumsi-asumsi yang harus dipenuhi dalam aplikasi metode P-Median yang ditunjang program GAMS adalah sebagai berikut: 1. Simpul yang dicalonkan sebagai pusat pelayanan berasal dari simpul yang berada dalam jaringan 2. Jaringan jalan mempunyai kesamaan kualitas 3. Simpul penolong yang dipakai sebagai upaya untuk memudahkan perhitungan jarak antar simpul tidak dapat dicalonkan sebagai pusat pelayanan 4. Untuk setiap kecamatan hanya diwakili oleh 1 simpul 5. Letak simpul ditentukan berdasarkan pertimbangan lokasi pusat (centroid) kecamatan. 6. Kecamatan dianggap tidak mengalami pemekaran 7. Bobot simpul hendaknya mencerminkan jumlah penerima pelayanan. Terdapat beberapa istilah dalam teknik optimasi, yaitu optimasi, programming dan economization. Inti dari ketiganya sama, yaitu memaksimalkan atau meminimumkan (mengoptimalkan) suatu fungsi, baik yang terkendala maupun yang tanpa kendala. Istilah umum dalam pemograman ini yaitu : (1) perumusan peubah keputusan (decision variables), (2) perumusan fungsi tujuan (objective function), (3) perumusan fungsi-fungsi kendala (constraint function), dan (4) perumusan metode estimasi parameter-parameter fungsi tujuan dan fungsi-fungsi kendala. Fungsi tujuan adalah fungsi yang akan dioptimalkan. Fungsi kendala adalah fungsi-fungsi yang merupakan kendala fungsi yang akan dioptimasikan, dan peubah keputusan adalah peubah-peubah yang akan dicari nilai optimumnya (maksimum atau minimum). Secara matematis, mengoptimalkan suatu fungsi harus memenuhi syaratsyarat tertentu. Berikut ini adalah beberapa bentuk optimasi yang didasarkan oleh jenis fungsi tujuan dan fungsi kendalanya. 1. Fungsi Tanpa Kendala Misalkan fungsi yang akan dioptimalkan, disebut fungsi tujuan, adalah F(x). Memaksimumkan atau meminimumkan berarti harus memenuhi dua persyaratan,

30 yaitu bahwa turunan pertama fungsi tersebut sama dengan nol ( f(x) / x = 0) dan turunan kedua fungsi tersebut lebih kecil dari nol (( 2 f(x) / 2 x<0). Dengan menyelesaikan persamaan sesuai dengan persyaratannya akan didapat nilai peubah keputusan (x) yang optimum. 2. Fungsi dengan Kendala Misalkan fungsi yang akan dioptimalkan (fungsi tujuan) adalah F(x) dan merupakan fungsi non linier. Jika kendala berbentuk suatu fungsi kendala g(x) merupakan suatu pertidaksamaan dan nilai-nilai x adalah bukan nilai negatif, maka optimasi fungsi tersebut disebut non linier programming. Jika F(x) merupakan suatu fungsi linier, maka optimasi fungsi tersebut disebut Linier Programming. Jika fungsi kendala g(x) bernilai sama dengan konstanta tertentu (suatu persamaan) maka optimasi fungsi disebut Classical Programming. Secara notasi matematis, masing-masing bentuk optimasi fungsi adalah sebagai berikut: a. Non Linier Programming: Fungsi tujuan F(x); suatu fungsi non linier Fungsi kendala : g(x) c; c= konstanta x 0 b. Linier Programming : Fungsi tujuan F(x); suatu fungsi linier Fungsi kendala : g(x) c; c= konstanta x 0 c. Classical Programming : Fungsi tujuan F(x) ; fungsi non linier atau linier Fungsi kendala : g(x) =c; c= konstanta x 0 Untuk menyelesaikan permasalahan optimasi ini digunakan persamaan Langrangian (α), yaitu: α = F(x) + λ(c g(x)) Untuk Clasical Programming, penyelesaian optimasi memiliki syarat bahwa turunan fungsi langrangian terhadap peubah keputusan (x) maupun λ adalah sama dengan nol. Secara matematis adalah sebagai berikut: α / x = 0 dan α / αλ = 0 sehingga F (x) λg (x) = 0 dan c g(x) = 0 Jika disubstitusikan maka F (x) = λg (x) atau λ = F (x) / g (x)

31 Dengan F (x) = F(x) / x dan g (x) = g(x) / x, maka hasil substitusi menghasilkan bahwa λ= F(x) / g(x) atau λ = F(x)/ c Dengan menyelesaikan sistem persamaan yang ada, maka akan diperoleh nilai x yang optimum (peubah keputusan). Dari hasil penyelesaian ini, selain diperoleh nilai peubah-peubah keputusan juga diperoleh nilai λ. Nilai λ ini disebut Shadow Price, dan sesuai dengan definisi matematisnya maka Shadow Price berarti perubahan nilai fungsi tujuan (F(x)) saat fungsi/nilai kendala berubah satu-satuan. Untuk non linier maupun linier programming, dimana fungsi kendala adalah suatu pertidaksamaan, maka: ( α/ x) x = 0 dan ( α/αλ) λ = 0 Karena X 0 maka ( α/ x) x = 0 memiliki dua kemungkinan, yaitu: o Saat x = 0 (tidak ada peubah keputusan = tidak ada aktivitas) maka α / x 0, dimulai kondisi seperti ini tidak atau kurang feasible. o Saat x > 0 (ada aktivitas) maka α/ x = 0, sehingga penyelesaiannya akan sama dengan classical programming. o Jika nilai α/ λ = 0 dan λ > 0 berarti bahwa perubahan fungsi kendala berpengaruh positif terhadap nilai fungsi tujuan. Jika α/ λ 0 maka λ = 0, artinya bahwa perubahan kendala tidak mempengaruhi nilai fungsi tujuan. Kondisi yang kedua ini biasanya terjadi pada sumberdaya yang berlimpah. Dalam pengembangan model optimasi ada beberapa tahapan pokok yang dilalui, antara lain : 1). Perumusan peubah keputusan, 2). Perumusan fungsi tujuan, 3). Perumusan fungsi kendala, dan 4) Perumusan metode estimasi parameter-parameter fungsi tujuan dan fungsi-fungsi kendala. 3.5.2.1.1. Peubah Keputusan Peubah keputusan pada model optimasi dalam penelitian ini secara matematis dirumuskan sebagai berikut: F ij = Jumlah fasilitas dalam hal ini adalah pasar induk yang akan dibangun

Dimana i merupakan lokasi yang dilayani oleh fasilitas dan j merupakan lokasi fasilitas (pasar induk) yang akan dibangun. 3.5.2.1.2. Fungsi Tujuan Fungsi tujuan pertama dilambangkan dengan huruf Za, dimana tujuan penelitian adalah minimasi biaya transportasi yang harus ditanggung untuk melayani lokasi demand i dari lokasi fasilitas j. Secara matematis, fungsi tujuan dirumuskan sebagai berikut: Za(i,j) =...(3-3) 32 Dimana : Za ij C ij X ij = minimasi biaya transportasi yang harus ditanggung untuk melayani lokasi demand i dari lokasi fasilitas j. = jarak antara wilayah demand ke-i dan wilayah pembangunan fasilitas kej. = jumlah demand yang harus dilayani di lokasi i Fungsi tujuan kedua dilambangkan dengan huruf Zb, dimana tujuan penelitian adalah minimasi biaya transportasi yang harus ditanggung untuk melayani lokasi demand i dari lokasi fasilitas j dengan mempertimbangkan lokasi produksi k yang dikirimkan ke lokasi fasilitas j. Secara matematis, fungsi tujuan dirumuskan sebagai berikut:,.(3-4) Dimana: Zb ij C ij X ij T kj S kj = minimasi biaya transportasi yang harus ditanggung untuk melayani lokasi demand i dari lokasi fasilitas j dengan mempertimbangkan lokasi produksi k yang dikirimkan ke lokasi fasilitas j. = jarak antara wilayah demand ke-i dan wilayah pembangunan fasilitas kej = jumlah demand yang harus dilayani di lokasi i = jarak antara wilayah produksi ke-k ke wilayah pasar j = jumlah produksi di wilayah ke-k

33 Fungsi tujuan diatas berdasarkan asumsi-asumsi sebagai berikut: 1. Sarana dan prasarana transportasi antar kecamatan di dan Kota Bogor tersedia 2. Satuan biaya transportasi per bobot per satuan jarak sama (homogen) ke seluruh arah/rute perjalanan yang menghubungkan antar kecamatan 3. Satuan biaya transportasi per bobot per satuan waktu tempuh sama (homogen) ke seluruh arah/rute perjalanan yang menghubungkan antar kecamatan 4. Perilaku dalam lalu lintas selalu memilih jalur terpendek berdasarkan jarak tempuh, dan juga berdasarkan waktu tempuh 5. Dalam model ini belum memperhatikan kelas jalan 3.5.2.1.3. Fungsi-Fungsi Kendala Fungsi-fungsi kendala yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Bahwa setiap lokasi hanya dilayani oleh 1 pusat fasilitas. 2. Jumlah fasilitas yang mampu dibangun hanya satu. 3. Lokasi calon fasilitas yang ada terbatas. 4. Suatu wilayah akan terlayani jika fasilitas tersedia.