Hampir Tenggelam (Near Drowning)

dokumen-dokumen yang mirip
HAMPIR TENGGELAM (NEAR DROWNING)

NARASI KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT

PANDUAN PELAYANAN RESUSITASI RUMAH SAKIT PUSAT PERTAMINA BAB I

ASIDOSIS RESPIRATORIK

MONITORING HEMODINAMIK TIM ICU INTERMEDIATE ANGKATAN I

mekanisme penyebab hipoksemia dan hiperkapnia akan dibicarakan lebih lanjut.

BAB I PENDAHULUAN. keterbatasan aliran udara yang menetap pada saluran napas dan bersifat progresif.

BAB 2. TINJAUAN KEPUSTAKAAN. ALI/ARDS adalah suatu keadaan yang menggambarkan reaksi inflamasi

Syok Syok Hipovolemik A. Definisi B. Etiologi

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN. Setiawan, S.Kp., MNS

EMBOLI CAIRAN KETUBAN

Dr. Ade Susanti, SpAn Bagian anestesiologi RSD Raden Mattaher JAMBI

REFERAT DROWNING AND NEAR DROWNING

Derajat 2 : seperti derajat 1, disertai perdarah spontan di kulit dan atau perdarahan lain

RESPIRATORY FAILURE. PRESENTATION by Dr. Fachrul Jamal Sp.An(KIC)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dari sekian banyak kasus penyakit jantung, Congestive Heart Failure

BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) DAN RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP)

BAB I PENDAHULUAN. Trauma toraks merupakan trauma yang mengenai dinding toraks atau

BAB I PENDAHULUAN. pemantauan intensif menggunakan metode seperti pulmonary arterial

Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Emboli Cairan

ASKEP KEGAWATAN AKIBAT TENGGELAM. By Yoani Maria V.B.Aty

PENATALAKSANAAN ASMA EKSASERBASI AKUT

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sepsis adalah suatu kumpulan gejala inflamasi sistemik (Systemic Inflammatory

BAB I PENDAHULUAN. dapat menyebabkan perubahan hemodinamik yang signifikan.

INSUFISIENSI PERNAFASAN. Ikbal Gentar Alam ( )

RESUSITASI JANTUNG PARU ( RJP ) CARDIO PULMONARY RESUSCITATION ( CPR )

2. PERFUSI PARU - PARU

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS/ RS Dr M DJAMIL PADANG

BAB I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Penyebab Kematian Neonatal di Indonesia (Kemenkes RI, 2010)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karena penderitanya sebagian besar orang muda, sehat dan produktif (Ropper &

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. 45% dari kematian anak dibawah 5 tahun di seluruh dunia (WHO, 2016). Dari

LAMPIRAN FORMULIR PERSETUJUN MENJADI RESPONDEN

I. PENDAHULUAN. Air merupakan komponen terbesar dari tubuh sekitar 60% dari berat badan

BAB 1 PENDAHULUAN. bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan, penumpang kapal yang terbalik dan

MONITORING HEMODINAMIK

BAB I PENDAHULUAN. otak, biasanya akibat pecahnya pembuluh darah atau adanya sumbatan oleh

KERACUNAN OKSIGEN. Oleh Diah Puspita Rifasanti I1A Pembimbing: dr. Dwi Setyohadi

BAB I PENDAHULUAN. Penelitian yang berskala cukup besar di Indonesia dilakukan oleh

BAB I PENDAHULUAN. denyut/menit; 3. Respirasi >20/menit atau pa CO 2 <32 mmhg; 4. Hitung leukosit

Bantuan Hidup Dasar. (Basic Life Support)

BAB I PENDAHULUAN. sebagai trauma mayor karena tulang femur merupakan tulang yang sangat kuat, sehingga

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

PERTOLONGAN GAWAT DARURAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN DEFINISI ETIOLOGI

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. klinis cedera kepala akibat trauma adalah Glasgow Coma Scale (GCS), skala klinis yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. oksigen dalam darah. Salah satu indikator yang sangat penting dalam supply

BAB I PENDAHULUAN. (dipengaruhi oleh susunan saraf otonom) (Syaifuddin, 2006). Pembuluh

BAB I PENDAHULUAN. bervariasi. Insidensi stroke hampir mencapai 17 juta kasus per tahun di seluruh dunia. 1 Di

SYOK/SHOCK SITI WASLIYAH

BAB I PENDAHULUAN. Pasien yang masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit tentunya

Digunakan untuk mengukur suhu tubuh. Digunakan untuk memeriksa suara dari dalam tubuh seperti detak jantung, usus, denyut nadi dan lain-lain

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

SOAL-SOAL PELATIHAN BLS RS PUSURA SURABAYA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA USILA DENGAN GANGGUAN SISTEM CARDIOVASKULER (ANGINA PECTORIS)

Kesetimbangan asam basa tubuh

KELOMPOK 4 ASUHAN KEPERAWATAN EMERGENCY DAN KRITIS

Suradi, Dian Utami W, Jatu Aviani

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. sistem kardiovaskular dalam keadaan optimal yaitu dapat menghasilkan aliran

PANDUANTRIASE RUMAH SAKIT

TRAUMA KEPALA. Doni Aprialdi C Lusi Sandra H C Cynthia Dyliza C

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. fungsi psikososial, dengan disertai penurunan atau hilangnya kesadaran

BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang. Hipoglikemia atau kadar gula darah di bawah nilai. normal, bila terjadi berlarut-larut dan berulang dapat

EMBOLI AIR KETUBAN. Emboli air ketuban dapat menyebabkan kematian yang tiba-tiba sewaktu atau beberapa waktu sesudah persalinan.

PENDAHULUAN ETIOLOGI EPIDEMIOLOGI

BAB V PEMBAHASAN. sucking. Responden yang digunakan dalam penelitian ini telah sesuai dengan

BAB I PENDAHULUAN. akan mengalami penurunan toleransi terhadap aktivitas fisik, penurunan kualitas

SOP TINDAKAN ANALISA GAS DARAH (AGD)

ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR. Dosen Pengasuh : Dr. Kartin A, Sp.A.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Cardiac resynchronisation therapy. INDONESIA HEALTHCARE FORUM Bidakara Hotel, Jakarta WEDNESDAY, 3 February 2016

BASIC LIFE SUPPORT A. INDIKASI 1. Henti napas

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama kematian pada

BAB 1 PENDAHULUAN. SL, Cotran RS, Kumar V, 2007 dalam Pratiwi, 2012). Infark miokard

RJPO. Definisi. Indikasi

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S DENGAN GANGGUAN SISTEM PERSARAFAN: STROKE HEMORAGIK DI ICU RSUI KUSTATI SURAKARTA

MEMBRAN RESPIRATORIUS

BAB I PENDAHULUAN. dan paling banyak ditemui menyerang anak-anak maupun dewasa. Asma sendiri

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG PENENTUAN KEMATIAN DAN PEMANFAATAN ORGAN DONOR

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ASIDOSIS RESPIRATORI

Jurnal reading Dipresentasikan Oleh: Dr. Andi Wijaya Surakarta

BAB I PENDAHULUAN. Stroke merupakan suatu penyakit kegawatdaruratan neurologis yang berbahaya

Dr. Prastowo Sidi Pramono, Sp.A

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

EMBOLI AIR KETUBAN EPIDEMIOLOGI

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang.

EMBOLI CAIRAN KETUBAN. dr.pom Harry Satria,SpOG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tekanan Tinggi Intra Kranial (TTIK) dr. Syarif Indra, Sp.S Bagian Neurologi FK UNAND RS Dr. M. Djamil Padang

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) akan mengalami peningkatan

PENDAHULUAN. RJP. Orang awam dan orang terlatih dalam bidang kesehatanpun dapat. melakukan tindakan RJP (Kaliammah, 2013 ).

I. PENDAHULUAN. terakhir (HPHT) atau, yang lebih akurat 266 hari atau 38 minggu setelah

BAB I PENDAHULUAN. salah satu aspek yang penting dan banyak digunakan bagi perawatan pasien yang

BAB I PENDAHULUAN. pasien tersebut. Pasien dengan kondisi semacam ini sering kita jumpai di Intensive

Transkripsi:

Hampir Tenggelam (Near Drowning) ABSTRAK Tenggelam merupakan kasus gawat darurat dan memerlukan pertolongan cepat di tempat kejadian, kemudian dilanjutkan dengan perawatan secara intensif. Angka kejadian tenggelam di Indonesia belum ada data yang pasti, namun diperkirakan tinggi. Pada prinsipnya, tata laksana kasus hampir tenggelam adalah mengatasi gangguan oksigenisasi, ventilasi, sirkulasi, keseimbangan asam basa, dan mencegah kerusakan sistem saraf pusat yang lanjut. PENDAHULUAN Awalnya, kasus tenggelam (immersion/drowning) dan hampir tenggelam (submersion/near drowning) dianggap sama dengan keadaan tenggelam (drowning). Akibat terpenting peristiwa tenggelam adalah/hampir tenggelam adalah hipoksia, sehingga oksigenisasi, ventilasi, dan perfusi harus dipulihkan secepat mungkin. Hal ini memerlukan tindakan resusitasi jantung paru dan layanan kegawatdaruratan medis. Terapi resusitasi inisiasi di tempat kejadian sebelum sampai di rumah sakit dilanjutkan respons cepat dan tatalaksana agresif tim ruang gawat darurat dan ruang intesif rumah sakit mereduksi mortalitas karena gangguan kardiorespiratori akibat tenggelam. Kerusakan neurologis karena hipoksemia dan iskemia menjadi penyebab mortalitas dan morbiditas jangka panjang. Angka kejadian tenggelam di Indonesia yang tepat belum dan pasti belum ada, akan tetapi mengingat tanah air kita terdiri dari ribuan pulau dengan sungai-sungai yang besar, angka kejadian tenggelam pasti besar. Kasus-kasus hampir tenggelam pada anak umumnya terjadi di kolam renang di perumahan. Pearn dan Nixon mendapatkan bahwa 74% lokasi kejadian adalah kolam renang pribadi di perumahan, tempat lainnya adalah bak kamar mandi, saluran air, empang, danau, laut, dan teluk. Kasus hampir tenggelam di luar rumah lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan, yaitu 3:1 sampai 10:1. Model melaporkan bahwa kelompok usia terbesar yang mengalami peristiwa tenggelam adalah usia 1-4 tahun dan 10-19 tahun. Tenggelam (drowning) adalah kematian akibat asfiksia yang terjadi dalam 24 jam setelah peristiwa tenggelam di air, sedangkan hampir tenggelam (near drowning) adalah korban masih dalam keadaan hidup lebih dari 24 jam setelah setelah peristiwa tenggelam di air. Jadi, tenggelam (drowning) merupakan suatu keadaan fatal, sedangkan hampir tenggelam (near drowning)

mungkin dapat berakibat fatal. Sedangkan WHO mendefinisikan sebagai proses gangguan pernapasan akibat tenggelam/hampir tenggelam dalam cairan. Berdasarkan temperatur air, klasifikasi tenggelam dibagi menjadi tiga: 1. Tenggelam di air hangat (warm water drowning),bila temperature air 20 C 2. Tenggelam di air dingin (cold water drowning), bila temperatur air 5-20 C 3. Tenggelam di air sangat dingin (very cold water drowning), bila temperatur air < 5 C Berdasarkan osmolaritas air, klasifikasi tenggelam dibagi menjadi dua: 1. Tenggelam di air tawar 2. Tenggelam di air laut Kejadian tenggelam atau submersed accident dapat memberikan dua hasil: immersion syndrome, yang merupakan kematian mendadak setelah kontak dengan air dingin, submersed injury, yaitu dapat menyebabkan kematian 24 jam setelah kejadian tenggelam, survival, atau pulihnya keadaan setelah kejadian tenggelam. Keselamatan seseorang yang tenggelam dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain adalah ketahan fisik, kemampuan berenang, keberadaan bantuan alat pelampung, jarak untuk mencapai tempat yang aman, suhu air, usia, dan lain-lain. Serangkaian proses akan terjadi sebagai berikut: pertama terjadi suatu periode panik dan usaha yang hebat dengan berhenti bernapas selama 1-2 menit, selajutnya terjadi refleks menelan sejumlah air diikuti laringospasme, hipoksia menyebabkan apnea, penurunan kesadaran, lalu relaksasi laring dan air masuk ke dalam paru-paru dalam jumlah lebih banyak akhirnya menjadi asfiksia dan kematian. Pada sebagian besar kasus, terjadi aspirasi air yang banyak ke dalam paru, tetapi pada lebih kurang 10% korban tetap terjadi laringospasme, dan terjadi apa yang disebut dry drowning. Secara teoritis, berdasarkan tonisitas cairan yang masuk ke ruang alveolus, kasus tenggelam dibedakan menjadi tenggelam di air laut dan di air tawar. Selain itu ada juga pembagian kasus tenggelam berdasarkan temperatur airnya. Beberapa teori menyatakan bahwa pada hipotermia atau pada keadaan tenggelam di air dingin akan terjadi refleks diving pada anak. Refleks tersebut terdiri dari bradikardi, penurunan atau penghentian laju pernapasan, dan perubahan dramatis pada sirkulasi, sehingga terjadi redistribusi darah ke organ-organ seperti jantung, paru dan otak. Patofisiologi hampir tenggelam berhubungan erat dengan hipoksemia multiorgan. Pada korban tenggelam di air tawar, terjadi perpindahan (absorpsi) air secara besarbesaran dari rongga alveolus ke dalam pembuluh darah paru. Hal ini dikarenakan tekanan

osmotic di dalam pembuluh darah paru lebih tinggi daripada tekanan osmotik di dalam alveolus. Perpindahan tersebut akan menyebabkan hemodilusi. Air akan memasuki eritrosit, sehingga eritrosit mengalami lisis. Eritrosit yang mengalami lisis ini akan melepaskan ion kalium ke dalam sirkulasi darah dan mengakibatkan peningkatan kadar kalium di dalam plasma (hiperkalemi). Keadaan hiperkalemi ditambah dengan beban sirkulasi yang meningkat akibat penyerapan air dari alveolus dapat mengakibatkan fibrilasi ventrikel. Apabila aspirasi air cukup banyak, akan timbul hemodilusi yang hebat. Keadaan ini akan menyebabkan curah jantung dan aliran balik vena bertambah, sehingga mengakibatkan edema umum jaringan termasuk paru. Aspirasi air tawar hipotonik dapat mengurangi konsentrasi surfaktan sehingga dapat menyebabkan instabilitas alveolar sehingga terjadi kolaps paru. Pada inhalasi air laut, tekanan osmotik cairan di dalam alveolus lebih besar daripada di dalam pembuluh darah. Oleh karena itu, plasma darah akan tertarik ke dalam alveolus. Proses ini dapat mengakibatkan berkurangnya volume intravaskular, sehingga terjadi hipovolemia dan hemokonsentrasi. Hipovolemia mengakibatkan terjadinya penurunan tekanan darah dengan laju nadi yang cepat, dan akhirnya timbul kematian akibat anoksia dan insufiensi jantung dalam 3 menit. Keluarnya cairan ke dalam alveolus juga akan mengurangi konsentrasi surfaktan. Selanjutnya, akan terjadi kerusakan alveoli dan sistem kapiler, sehingga terjadi penurunan kapasitas residu fungsional dan edema paru. Akibat lebih lanjut lagi, dapat terjadi atelektasis karena peningkatan tekanan permukaan alveolar. Bila korban mengalami aspirasi atau edema paru, dapat terjadi acute respiratory distress syndrome (ARDS). Saluran respiratorik yang tersumbat oleh debris di dalam air akan menyebabkan peningkatan tahanan saluran respiratorik dan memicu pelepasan mediatormediator inflamasi, sehingga terjadi vasokonstriksi yang menyebabkan proses pertukaran gas menjadi terhambat. Sebagian besar korban tenggelam mengalami hipovolemia akibat peningkatan permeabilitas kapiler yang disebabkan oleh hipoksia. Hipovolemia selanjutnya akan mengakibatkan hipotensi. Keadaan hipoksia ini juga akan mempengaruhi fungsi miokardium, sehingga dapat terjadi disritmia ventrikel dan asistol. Selain itu, hipoksemia juga dapat menyebabkan kerusakan miokardium dan penurunan curah jantung. Hipertensi pulmoner dapat terjadi akibat pelepasan mediator inflamasi. Kerusakan pada susunan saraf pusat berhubungan

erat dengan lamanya hipoksemia, dan pasien dapat jatuh dalam keadaan tidak sadar. Efek lain dari hipoksia diantaranya adalah disseminated intravascular coagulation (DIC), insufisiensi ginjal dan hati, serta asidosis metabolik. Pada penelitian kasus-kasus hampir tenggelam dilaporkan terdapat kelainan elektrolit yang ringan. Perubahan yang mencolok dan penting adalah perubahan gas darah dan asam-basa akibat insufisiensi respirasi, diantaranya adalah hipoksemia, hiperkapnia, serta kombinasi asidosis metabolik dan respiratorik. Kelainan yang lebih banyak terjadi adalah hipoksemia. Keadaan yang segera terjadi setelah tenggelam dalam air adalah hipoventilasi dan kekurangan oksigen. Pada percobaan binatang, tekanan parsial O 2 arterial (PaO 2 ) menurun drastis menjadi 40 mmhg dalam satu menit pertama, menjadi 10 mmhg setelah 3 menit, dan 4 mmhg setelah 5 menit. Disfungsi serebri dapat terjadi akibat kerusakan hipoksia awal, atau dapat juga karena kerusakan progresif susunan saraf pusat yang merupakan akibat dari hipoperfusi serebri pasca resusitasi. Hipoperfusi serebri paska resusitasi terjadi akibat berbagai mekanisme, antara lain yaitu peningkatan tekanan intrakranial, edema serebri sitotoksik, spasme anteriolar serebri yang disebabkan masuknya kalsium ke dalam otot polos pembuluh darah, dan radikal bebas yang dibawa oksigen. Tata laksana kasus hampir tenggelam dengan mengatasi gangguan oksigenisasi, ventilasi, sirkulasi, keseimbangan asam basa, dan mencegah kerusakan sistim saraf pusat yang lanjut. Segera setelah korban ditolong, harus dilakukan resusitasi jantung paru. Oksigen harus diberikan secepatnya dan dilanjutkan dalam perjalanan ke rumah sakit. Setiap menit yang dilalui tanpa pernapasan dan sirkulasi yang adekuat menurunkan secara dramatis kesempatan luaran yang baik. Semua korban hampir tenggelam harus dirawat di rumah sakit, bagaimanapun kondisi pasien. Pasien yang tidak bergejala harus diobservasi, minimal selama 24 jam di rumah sakit. Kematian yang lambat dapat terjadi akibat atelektasis yang luas, edema paru akut, dan hipoksemia setelah pasien meninggalkan ruang gawat darurat. Jalan napas harus bersih dari muntahan dan benda asing. Abdominal thrusts tidak dianjurkan untuk mengeluarkan cairan dari paru. Bila diduga adanya benda asing, maneuver chest compression atau back blows lebih dianjurkan. Bila pasien dapat bernapas spontan, berikan oksigen 100% yang dilembabkan, dengan menggunakan masker. Jika korban tidak bernapas, ventilasi darurat segera dilakukan,

setelah membersihkan jalan napas. Pemberian oksigen selanjutnya disesuaikan dengan hasil pemeriksaan analisis gas darah arteri. Spina servikal dijaga bila terdapat kemungkinan cedera tulang leher. Leher diposisikan dalam posisi netral. Pemantauan tanda vital, penilaian kardiopulmonal dan neurologis berulang, x-ray dada, dan penilaian oksigenisasi melalui AGD atau oksimetri perifer harus dilakukan pada semua korban tenggelam. Pemeriksaan lainnya bergantung kondisi klinis dan tempat kejadian. Pada korban yang asimptomatik atau gejala minimal, hampir setengahnya perburukan atau hipoksemia pada 4-8 jam setelah peristiwa tenggelam. Pemantauan suhu inti tubuh merupakan hal penting, pengukuran terbaik dilakukan pada membrana timpani karena berkorelasi kuat dengan suhu otak. Alat untuk menghangatkan penderita dapat digunakan selimut penghangat atau radiant warmer. Gejala pernapasan atau edema paru lambat yang ringan sampai berat dapat terjadi meski awalnya penderita menunjukkan pemeriksaan fisik dan x-ray dada normal. Sebaliknya, kebanyakan anak dengan gejala minimal saat ke UGD dapat menjadi asimptomatik dalam 18 jam setelah tenggelam. X-ray dada biasanya didapatkan gambaran edema antar sel atau edema alveolar. Sebagian besar menunjukkan adanya infiltrate nodular yang berkonfluensi pada 1/3 medial lapangan paru. Menurut Model dan kawan-kawan, 70% kasus mengalami asidosis metabolik. Jalan napas harus dibersihkan dari kotoran dan dijamin tetap terbuka. Pada korban hampir tenggelam yang banyak menelan air, risiko aspirasi muntahan sangat besar. Oleh karena itu, lambung harus cepat dikosongkan dengan memakai pipa nasogastrik. Pengobatan selanjutnya bergantung pada hasil evaluasi PaO 2, PaCO 2, dan ph darah. PaCO 2 lebih dari 60 mmhg merupakan indikasi untuk melakukan bantuan pernapasan. Bila terjadi kegagalan oksigenisasi meskipun telah diberikan oksigen, perlu dilakukan intubasi endotrakeal. Inisial positive end expiratory pressure (PEEP) dimulai sekitar 5 cm H 2 O, dapat dinaikkan bertahap hingga 10-15 cm H 2 O bila oksigenisasi masih belum adekuat (target SaO 2 >90%). Pada anak korban tenggelam menunjukkan irama jantung asistol 55%, ventrikel takikardi (VT) atau ventrikel fibrilasi (VF) 29% dan bradikardi 16%. Defibrilasi elektrik atau kardioversi diperlukan pada korban dengan VF atau VT tanpa nadi. Obat obatan kardioaktif mungkin

diperlukan untuk memperbaiki ritme jantung. Oksigenisasai dan ventilasi yang adekuat merupakan syarat memperbaiki fungsi miokard. Resusitasi cairan dan inotropik seringkali dibutuhkan untuk memperbaiki fungsi jantung dan perfusi perifer, namun pada keadaan disfungsi miokard pemberian cairan yang agresif mungkin dapat memperburuk edema paru. Infus epinefrin (dosis 0,05-1μg/kg/menit) biasanya merupakan pilihan utama pada penderita dengan disfungsi jantung atau hipotensi setelah kejadian hipoksik iskemik, dobutamin (dosis 2-20μg/kg/menit) dapat memperbaiki cardiac output pada penderita normotensi. Pengobatan lain yang perlu dipertimbangkan adalah pemberian bronkodilator dan antibiotik. Jika pada pemeriksaan fisik didapatkan bronkospasme, pemberian bronkodilator seperti aminofilin intravena atau nebulisasi agonis-β2 akan memberikan hasil yang baik. Pemberian antibiotik pada saat awal tidak dianjurkan, meskipun seringkali air yangdiaspirasi mengalami kontaminasi. Oleh karena itu perlu pemeriksaan kultur darah, kultursputum, jumlah lekosit, dan analisis tanda vital. Pemilihan antibiotik dilakukan berdasarkan kultur darah atau sputum. Penggunaan obat steroid tidak dianjurkan karena tidak ada bukti baik secara klinis maupun eksperimental yang menunjukkan bahwa penggunaannya bermanfaat. Penentuan prognosis yang terbaik pada korban hampir tenggelam adalah dengan melakukan evaluasi awal status hemodinamiknya. Sembilan puluh dua persen korban hampir tenggelam akan pulih seperti semula. Mereka yang datang dengan pemeriksaan awal nadi tidak teraba atau dalam keadaan koma, biasanya meninggal atau mengalami kerusakan otak yang parah. Hasil yang buruk dihubungkan dengan adanya asistol, tenggelam > 15 menit, tidak mendapat resusitasi di tempat kejadian, lama resusitasi > 30 menit, mendapat epinefrin, asidosis metabolik, dan suhu inti tubuh rendah. Nilai ph < 7,1; Glagow Coma Scale (GCS) <5; pupil yang terfiksasi dan berdilatasi saat masuk rumah sakit menandakan prognosis buruk, tetapi bukan berarti indikasi kontra untuk melakukan resusitasi. Apabila asidosis dan koma tetap berlangsung 4 jam setelah resusitasi, kemungkinan untuk mempertahankan sistem neurologis seperti semula akan sulit. Anderson dkk., mendapatkan faktor prediktor hasil neurologis adalah ph 7,1;rasio PaO2/PAO2 0,35 dan anion ga p 15 meq, masing-masing nilai skor 1, bila skor 2, maka hasilnya buruk yaitu gejala sisa permanen

atau kematian. Bila setelah 24-48 jam terapi resusitasi yang adekuat tidak terdapat perbaikan klinis, kemungkinan besar kematian otak atau kerusakan berat pada otak telah terjadi. DAFTAR PUSTAKA 1. Nasrullah M, Muazzam S. Drowning mortality in the United States, 1999-2006 J Community Health (2011) 36:69-75. 2. American Heart Association. Drowning. Circulation 2005;112:IV-133-IV-135. 3. Numa AH, Hammer J, Newth C. Near-drowning and drowning. Saunders-Elsivier; 2006. 661-75. 4. www.who.int/violence_injury_prevention. 5. http://emedicinemedscapecom/article/908677-overview 6. Leroy p, Smismans A, Seute T. Invasive pulmonary and central nervous system aspergillosis after near-drowning of a child: Case report and review of the literature. Pediatrics 2006. 118;e509. 7. Anderson K, Roy T, Danzl D. Submersion incidents: a review of 39 cases and development of the submersion outcome score Journal of Wilderness Medicine 1991: 2:27-36. 8. Monttes J, Conn A. Near-drowning: an unusual case. Canad Anaesth Soc J 1980:27(2):172-174.