BAB 3 PENURUNAN KESADARAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 11 KELUMPUHAN OTOT WAJAH

BAB 2 NYERI KEPALA. B. Pertanyaan dan persiapan dokter muda

BAB I PENDAHULUAN. intelektual serta gangguan fungsi fisiologis lainnya. Hal ini disebabkan oleh karena

BAB I PENDAHULUAN I. LATAR BELAKANG MASALAH

JADWAL BLOK SISTEM SARAF

Tujuan Praktikum Menentukan ketajaman penglihatan dan bitnik buta, serta memeriksa buta warna

Tujuan Praktikum Mempelajari letak reseptor rasa panas, dingin, raba dan tekan di kulit serta memeriksa kemampuan pengenalan/diskriminasi benda.

Pemeriksaan Rangsang Meningeal Bila selaput otak meradang atau di rongga subarakhnoid terdapat benda asing, maka hal ini dapat merangsang selaput

Fakultas Kedokteran Universitas Jember 2015

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karena penderitanya sebagian besar orang muda, sehat dan produktif (Ropper &

Bab 10 NYERI. A. Tujuan pembelajaran

BAB 3 METODE PENELITIAN. Desain penelitian : prospektif dengan pembanding internal. U1n. U2n

Standar Operasional Prosedur Untuk Kader Katarak

BAB III CARA PEMERIKSAAN

BAB 1 PENDAHULUAN. fungsi otak, medulla spinalis, saraf perifer dan otot.

REFERAT SINDROM MILLARD GUBLER

BAB 4 PUSING BERPUTAR

Definisi Bell s palsy

Fungsi. Sistem saraf sebagai sistem koordinasi mempunyai 3 (tiga) fungsi utama yaitu: Pusat pengendali tanggapan, Alat komunikasi dengan dunia luar.

PEMERIKSAAN FISIK SYARAF

PENGUKURAN FISIOLOGI. Mohamad Sugiarmin

Sistem saraf. Kurnia Eka Wijayanti

BAB I PENDAHULUAN. sangat diperlukan untuk pengambilan keputusan klinis, alokasi sumber daya dan

PENGUKURAN KUANTITAS NYERI DASAR TEORI

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. klinis cedera kepala akibat trauma adalah Glasgow Coma Scale (GCS), skala klinis yang

BAB 1 PENDAHULUAN. bedah pada anak yang paling sering ditemukan. Kurang lebih

LEMBARAN PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN. Saya dr. Azwita Effrina Hasibuan, saat ini sedang menjalani Program

SISTEM NEUROPSIKIATRI

THT CHECKLIST PX.TELINGA

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI BELLS PALSY DEXTRA DENGAN

BAB I PENDAHULUAN. Pencahayaan merupakan salah satu faktor penting dalam perancangan

BAB 7 PENURUNAN DAYA INGAT

Sistem Saraf Tepi (perifer)

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian cross sectional dengan menggunakan metode

Pemeriksaan Sistem Saraf Otonom dan Sistem Koordinasi. Oleh : Retno Tri Palupi Dokter Pembimbing Klinik : dr. Murgyanto Sp.S

BAB 3 METODE PENELITIAN. Pengambilan data primer dari pasien cedera kepala tertutup derajat sedang berat

Lampiran 1 Meningkatkan Refleks Menelan melalui Latihan Vokal pada klien Stroke Non Hemoragik a. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual

Diagnosa banding MATA MERAH

Trauma Lahir. dr. R.A.Neilan Amroisa, M.Kes., Sp.S Tim Modul Tumbuh Kembang FK Unimal 2009

PORTOFOLIO KASUS MEDIK

REHABILITASI PADA NYERI PUNGGUNG BAWAH. Oleh: dr. Hamidah Fadhil SpKFR RSU Kab. Tangerang

BUKU PANDUAN KETERAMPILAN KLINIK 5 BAGIAN 3 SEMESTER 5 BLOK 3.3 ( NEUROPSIKIATRI) URIN 2 & 3 TAHUN AJARAN 2016/2017 EDISI I, 2016

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

EMG digunakan untuk memastikan diagnosis dan untuk menduga beratnya sindroma kubital. Juga berguna menilai (8,12) :

BAB III ILUSTRASI KASUS

BAB I PENDAHULUAN. modalitas sensorik tetapi adalah suatu pengalaman 1. The

Pendahuluan Meniere s disease atau penyakit Meniere atau dikenali juga dengan hydrops endolimfatik. Penyakit Meniere ditandai dengan episode berulang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PANDUAN MENJALANKAN PROGRAM

BAB 2 DEFINISI GAG REFLEX. Dari semua permasalahan yang mungkin terjadi di bagian intraoral

BAB I PENDAHULUAN. Cedera otak traumatik (traumatic brain injury) masih merupakan masalah

CHECKLIST ANAMNESIS KASUS NYERI KEPALA

LAMPIRAN FORMULIR PERSETUJUN MENJADI RESPONDEN

Sistem Saraf. Sumsum. Sumsum Lanjutan

BAB I PENDAHULUAN. orang meninggal akibat trauma. Di antara trauma - trauma yang terjadi, trauma maksilofasial

Ada beberapa prinsip umum mengenai reflek : 1. Lesi UMN cenderung akan mengakibatkan peningkatan reflek, kecuali : a. stadium akut

BAB 1 PENDAHULUAN. Stroke adalah sindroma yang bercirikan defisit neurologis onset akut yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menduduki urutan ke 10 dari urutan prevalensi penyakit. Inflamasi yang terjadi pada sistem saraf pusat

1. Pemeriksaan fisik neurologis yang dilakukan pada pasien ini a. Pemeriksaan refleks fisiologis 1) Refleks biseps Siku pasien dalam keadaan fleksi

APPENDICITIS (ICD X : K35.0)

PENDAHULUAN. Perut terisi makanan lambung diperintah untuk mencerna

Instabilitas Spinal dan Spondilolisthesis

SISTEM SARAF & INDRA PADA MANUSIA

Pendahuluan. Bab Pengertian

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan. kemajuan teknologi saat ini, diharapkan dapat mewujudkan

ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA

PENDAHULUAN DEFINISI REFLEKS BATUK

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

GLAUKOMA ABSOLUT POST TRABEKULEKTOMI DAN GLAUKOMA POST PERIFER IRIDEKTOMI

93 Meningitis Tuberkulosa

Pemeriksaan Mata Dasar. Dr. Elvioza SpM Departemen Ilmu kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta

BAB I PENDAHULUAN. Stroke didefinisikan sebagai defisit neurologis yang terjadi tiba-tiba

BAB III SISTEM KOORDINASI (SARAF)

BAB I PENDAHULUAN. Semakin berkembangnya pusat rehabilitasi di Surakarta menuntut pengetahuan lebih

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Modern ini banyak masyarakat menggunakan alat transportasi

KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP Kerangka Teori

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

SINDROMA GUILLAINBARRE

PEMERIKSAAN MATA I. Tujuan Pembelajaran

Chairul Huda Al Husna

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit Saraf.

Sesi dengan fasilitasi Pembimbing : 3 X 120 menit (coaching session) Sesi praktik dan pencapaian kompetensi: 4 minggu (facilitation and assessment)

O P T I K dan REFRAKSI. SMF Ilmu Kesehatan Mata RSD Dr.Soebandi FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER

BAB V PEMBAHASAN. A. Pembahasan. Bab ini penulis akan membahas tentang tindakan keperawatan

KONSEP DASAR SISTEM SARAF. Chairul Huda Al Husna

SEL SARAF MENURUT BENTUK DAN FUNGSI

BUKU AJAR SISTEM NEUROPSIKIATRI

BAB III. METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian... 39

DIAGNOSIS STROKE HEMORAGIK DENGAN ALGORITMA STROKE GAJAH MADA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

TATALAKSANA TRAUMA PADA MATA No.Dokumen No. Revisi 00

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS

MENINGOENSEFALITIS. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. Disusun oleh: Fransiska A. Sihotang

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN DIMENSIA. OLEH: Ns. SATRIA GOBEL, M.Kep, Sp. Kom

disebabkan internal atau eksternal trauma, penyakit atau cedera. 1 tergantung bagian neurogenik yang terkena. Spincter urinarius mungkin terpengaruhi,

REHABILITASI PADA LAYANAN PRIMER

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS

Transkripsi:

BAB 3 PENURUNAN KESADARAN A. Tujuan pembelajaran 1. Melaksanakan anamnesis atau aloanamnesis pada pasien penurunan kesadaran. 2. Menerangkan mekanisme terjadinya penurunan kesadaran. 3. Membedakan klasifikasi penurunan kesadaran. 4. Menjelaskan etiologi penurunan kesadaran. 5. Mengidentifikasi tanda dan gejala penurunan kesadaran. 6. Melaksanakan pemeriksaan neurologi pada pasien penurunan kesadaran. 7. Merencanakan pemeriksaan radiologi dan pencitraan lainnya (CT Scan kepala) untuk penunjang diagnosis etiologi pasien dengan penurunan kesadaran. 8. Membedakan diagnosis banding penurunan kesadaran(stroke, tumor, pseudotumor meningitis, ensefalitis, dan meningoensefalitis). 9. Memilih berbagai pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis etiologi penurunan kesadaran. 10. Mahasiswa mampu menentukan indikasi dan kontraindikasi lumbal punksi 11. Menentukan pasien dengan penurunan kesadaran sebagai kasus kegawatan neurologi dirujuk ke rumah sakit. 12. Merencanakan manajemen terapi penurunan kesadaran(terapi medik atau operatif). 13. Mengetahui indikasi tindakan bedah pada pasien penurunan kesadaran.

14. Mengetahui prognosis pasien penurunan kesadaran. 15. Menentukan kapan penderita dengan penurunan kesadaran dilakukan rujukan. B. Pertanyaan dan persiapan dokter muda Sebagai persiapan, dapatkah Saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan : 1. Bagaimana melakukan penilaian tingkat kesadaran dengan Glasgow Coma Scale (GCS)? 2. Apa saja etiologi penurunan kesadaran? 3. Bagaimana membedakan penyebab penurunan kesadaran dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan pada pasien? Apa saja tanda-tanda lateralisasi yang dapat ditemukan pada pasien? 4. Bagaimana mekanisme terjadinya penurunan kesadaran? 5. Bagaimana melakukan pemeriksaan refleks pupil, refleks kornea, doll s eye phenomen (Brainstem reflex)? 6. Dapatkah saudara melakukan asesmen rangsang meningeal (kaku kuduk, Brudzinski I, Brudzinski II, Kerniq)? 7. Apa indikasi dan kontraindikasi tindakan pungsi lumbal? 8. Pemeriksaan penunjang apa yang harus dikerjakan untuk menegakkan diagnosis? 9. Bagaimana mengidentifikasi kasus-kasus penurunan kesadaran yang harus dirujuk? Apa tindakan pertolongan pertama yang harus diberikan?

C. Algoritma kasus Algoritma Penurunan Kesadaran

Algoritma Stroke Gadjah Mada Panduan Belajar Ilmu Penyakit Saraf 2006

Algoritma Infeksi Susunan Saraf Pusat

D. Daftar keterampilan (kognitif dan psikomotor) 1. Mampu menilai tingkat kesadaran dengan glasgow coma scale 2. Mampu melakukan pemeriksaan tanda-tanda iritasi meningeal Lihat buku panduan skills lab blok 18, Medika, 2005 3. Memeriksa tanda-tanda refleks brainstem (refleks pupil, refleks kornea, doll s eye phenomen) 4. Mampu melakukan pemeriksaan refleks fisiologis 5. Mampu melakukan pemeriksaan refleks patologis E. Penjabaran prosedur Pemeriksaan fungsi dan reaksi pupil Pada pupil terdapat 2 otot yang bekerja berlawanan yaitu m. sfingter pupilae dan m. dilatator pupilae. Masing-masing otot tersebut dipersarafi oleh serabut parasimpatis nervus III untuk sfingter dan saraf simpatis untuk dilatator pupilae. 1. Ukuran dan bentuk pupil Secara praktis, kedua pupil adalah sama dan sebantun, berbentuk bulat dan berbatas licin. Perbedaan diameter pupil kanan kiri sampai 1 mm masih dianggap normal. Anisokor dianggap tidak patologis selama kedua pupil bereaksi terhadap penyinaran dengan sama cepatnya. 2. Refleks cahaya langsung Kepala pasien kita pegang dengan tangan kiri agar tekfiksir. Lalu salah satu pupil disorot dengan lampu senter dari samping agar pupil satunya tidak ikut tersorot. Tes ini positif bila timbul miosis pada pupil tersebut. Bila sinar dimatikan, pupil akan melebar kembali. Utuhnya nervus III (lintasan aferen dan eferen) serta efektor menjamin refleks cahaya yang positif.

3. Refleks cahaya konsensual (tidak langsung) Cara pengerjaannya sama dengan di atas. Penyinaran terhadap pupil sesisi akan menyebabkan miosis pada kedua sisi. Miosis yang terjadi pada pupil yang tidak disinari ini disebut refleks konsensual. 4. Refleks akomodasi (konvergensi) Pada penetapan mata ke satu benda dekat mata, mata akan berkonvergensi. Sinkron dengan gerakan konvergensi ini, m. siliaris juga berkontraksi sehingga menimbulkan kontraksi pupil (miosis). Pupil yang semakin menyempit pada penetapan terhadap obyek yang semakin mendekat menandakan kalau refleks pupil akomodasi baik. Refleks Kornea Komponen aferen dan eferen busur refleks kornea disusun oleh serabut sensorik nervus V cabang oftalmik dan serabut eferen nervus VII yang mensarafi m. orbicularis okuli. Cara periksa: pasien diminta melirik ke atas atau ke samping supaya mata jangan berkedip bila kornea hendak disentuh gores seutas kapas pada kornea (jangan pada konjungtiva bulbi) pada satu sisi untuk membangkitkan gerakan reflektorik berupa kedipan mata secara bilateral bila mata tidak berkedip bisa berarti ada kelumpuhan cabang oftalmik n. V atau kelumpuhan fasialis perifer. Doll s eye phenomen Pemeriksaan kaku kuduk Brudzinski neck sign Brudzinski kontralateral Kernig sign