AGROVIGOR VOLUME 6 NO. 1 MARET 2013 ISSN

dokumen-dokumen yang mirip
UPAYA PEMBIBITAN BIJI SARANG SEMUT (Myrmecodia pendans) DENGAN KULTUR JARINGAN. Heru Sudrajad

AGROVIGOR VOLUME 7 NO. 1 MARET 2014 ISSN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. bersifat eksperimen karena pada penelitian menggunakan kontrol yaitu

PENGARUH PENAMBAHAN SITOKININ PADA SENYAWA FLAVONOID KALUS (Echinacea purpurea L)

3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan tempat 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian pendahuluan

Kontaminasi No Perlakuan U1 U2 U3 U4 U5 U6 Total 1 B B B B B

METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Alat dan Bahan

DAFTAR LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian

III. METODE PENELITIAN

AGRIEKONOMIKA JURNAL SOSIAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PERTANIAN ISSN

Lampiran 1. Data Pengamatan Jumlah Muncul Tunas (Tunas) PERLAKUAN ULANGAN

GAHARU. Dr. Joko Prayitno MSc. Balai Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Ulangan I Ulangan II Ulangan III Ulangan IV

BAB III METODE PENELITIAN. rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial, yaitu penambahan konsentrasi

BAB III METODE PENELITIAN

Pengaruh Jenis Eksplan dan Komposisi Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Induksi Kalus Pada Tanaman Binahong (Anredera cordifolia (Ten.

Pembuatan Larutan Stok, Media Kultur Dan Sterilisasi Alat Kultur Jaringan Tumbuhan. Nikman Azmin

RESPON REGENERASI EKSPLAN KALUS KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill) TERHADAP PEMBERIAN NAA SECARA IN VITRO

BAB III METODE PENELITIAN

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

LAMPIRAN. Lampiran 1. Persentase Data Pengamatan Kultur yang Membentuk Kalus. Ulangan I II III. Total A 0 B

KULTUR JARINGAN TUMBUHAN

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN A.

LAPORAN BIOTEKNOLOGI KULTUR ORGAN_by. Fitman_006 LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI PERTANIAN. Kultur Organ OLEH : FITMAN D1B

RESPONS PERTUMBUHAN TANAMAN ANGGREK (Dendrobium sp.) TERHADAP PEMBERIAN BAP DAN NAA SECARA IN VITRO

PENGARUH NAA DAN BAP TERHADAP INISIASI TUNAS MENGKUDU (Morinda citrifolia) SECARA IN VITRO ABSTRAK

LAMPIRAN. Persiapan alat dan bahan. Sterilisasi alat. Pembuatan media. Inisiasi kalus. Pengamatan. Penimbangan dan subkultur.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Prosedur Kerja Persiapan Bibit Tumih

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor yaitu:

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium UPT BBI (Balai Benih Induk) Jl.

LAMPIRAN. Persiapan alat alat dan. bahan- bahan. Sterilisasi. Pembuatan Media. Sterilisasi Media. Sterilisasi Eksplan.

BAB III METODE PENELITIAN. Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya.

Kultur Jaringan Menjadi Teknologi yang Potensial untuk Perbanyakan Vegetatif Tanaman Jambu Mete Di Masa Mendatang

BAB III METODE PENELITIAN. Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana

BAB III METODE PENELITIAN

LAMPIRAN. Sterilisasi. Pembuatan Media. Sterilisasi Media. Inisiasi Kalus HASIL

BAHAN DAN METODE. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini dimulai pada bulan

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat

BAB III BAHAN DAN CARA KERJA. Penelitian dilakukan di Laboratorium Khansa Orchid Cimanggis-

KULTUR MERISTEM PISANG BARANGAN (Musa paradisiaca L.) PADA MEDIA MS DENGAN BEBERAPA KOMPOSISI ZAT PENGATUR TUMBUH NAA, IBA, BAP DAN KINETIN

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Pelaksanaan Bahan dan Alat Metode Penelitian

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. berbagai macam tanaman hias. Pengembangan komoditi tanaman hias dilakukan

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan Tanaman dan Media

BAB III METODE PENELITIAN. Tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) varietas Dewata F1

INDUKSI AKAR SARANG SEMUT (Myrmecodia pendansmerr. & L.M.Perry)DENGAN PERLAKUAN ARANG AKTIF DAN IBA PADA MEDIUM MS SECARA IN VITRO

HASIL DAN PEMBAHASAN. eksplan hidup, persentase eksplan browning, persentase eksplan kontaminasi,

TEKNOLOGI PERBANYAKAN BIBIT PISANG ABAKA DENGAN KULTUR JARINGAN DR IR WENNY TILAAR,MS

BAB III METODE PENELITIAN. penambahan sukrosa dalam media kultur in vitro yang terdiri atas 5 variasi

III. METODE PENELITIAN

LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN TANAMAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan 2

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor

BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain

Membuat Larutan Stok A. Teori kepekatan jumlah larutan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Fakultas

in. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Fisiologi dan Kultur Jaringan

Sigti Fatimah Syahid dan Ika #ariska2) ABSTRACT

BAB III METODE PENELITIAN

PENGARUH IAA DAN BAP TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN NILAM (Pogestemon cablin Benth) IN VITRO

III. METODE PENELITIAN

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur In Vitro Fakultas

III. METODE PENELITIAN A.

LAMPIRAN. Komposisi Media Murashige & Skoog (MS). Bahan penyusun a. Makronutrien NH 4 NO KNO CaCl 2.2H 2 O

ORGANOGENESIS TANAMAN BAWANG MERAH (ALLIUM ASCALONICUM L.) LOKAL PALU SECARA IN VITRO PADA MEDIUM MS DENGAN PENAMBAHAN IAA DAN BAP ABSTRACT

PENGGANDAAN TUNAS KRISAN MELALUI KULTUR JARINGAN MULTIPLICATION OF CRISAN BUD THROUGH TISSUE CULTURE. Yekti Maryani 1, Zamroni 1

Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

UJI KONSENTRASI IAA (INDOLE ACETIC ACID) DAN BA (BENZYLADENINE) PADA MULTIPLIKASI PISANG VARIETAS BARANGAN SECARA IN VITRO

PENDAHULUAN. stroberi modern (komersial) dengan nama ilmiah Frageria x ananasa var

Program Studi Agronomi, Pasca Sarjana Universitas Sam Ratulangi, Kampus UNSRAT Manado korespondensi:

ZIRAA AH, Volume 43 Nomor 2, Juni 2018 Halaman ISSN ELEKTRONIK

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan

Puput Perdana Widiyatmanto Dosen Pembimbing Tutik Nurhidayati S.Si., M.Si. Siti Nurfadilah, S.Si., M.Sc. Tugas Akhir (SB091358)

Produksi Senyawa Metabolit Sekunder Melalui Kultur Jaringan dan Transformasi Genetik Artemisia Annua L.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitaian ini di lakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan

STERILISASI ORGAN DAN JARINGAN TANAMAN

OPTIMASI KOMBINASI NAA, BAP DAN GA 3 PADA PLANLET KENTANG SECARA IN VITRO

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Plant Physiology and Culture

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur In Vitro Fakultas

BAB I PENDAHULUAN. dan lain-lain. Selain itu, kencur juga dapat digunakan sebagai salah satu bumbu

BAHA DA METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

Tentang Kultur Jaringan

BAB 3 BAHAN DAN METODA

PENGARUH KONSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP REGENERASIBAWANG PUTIH (Allium sativum L) SECARA KULTUR JARINGAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini di lakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan Jurusan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan Jurusan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanaman, Jurusan

Transkripsi:

46 AGROVIGOR VOLUME 6 NO. 1 MARET 01 ISSN 1979 777 UPAYA PENGAKARAN Echinacea purpurea L DENGAN AUKSIN SECARA KULTUR JARINGAN Heru Sudrajat Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah Corresponding author : ABSTRAK Recently, to meet the needs of botanicals medicinal plants the cultivation directed, require good quality and uniform seeds on form and time. Tissue culture research to from root of Echinacea purpurea L by the provision of IBA and NAA will be conducted.this recearched aimed to develop an and cultivate qualified Echinacea purpurea L as the raw material for drug foemulation. Tissue culture techniques has more advantage because it is not affected by the climate, relatively fast production, free contamination of microbial and do not require large tracts of land. The research was carried out considering the need to be developed and cultivated plant Echinacea purpurea L qualified as raw material for the drug tissue culture techniques has advantages because it is not affected by the climate with relatively fast production time, free of microbial contamination and do not require large tracts of land. Shoots multipication done on MS medium using growth regulators GA with concentration of mg / l. Research foor rof induction on Echinacea purpurea L shoot made by adding growth regulators of IBA and NAA with concentrations with 0,, 4 and 6 mg / l respectively. The months incubation periods produced tehe best root induction on the additon of IBA 4 mg / l. It producted roots with a length of 4 cm and relatively lagre in size. Keywords: Echinacea purpurea L., tissue culture, IBA, NAA, plant growth regulators PENDAHULUAN Tanaman obat mempunyai peranan yang sangat besar dalam bidang kesehatan dikarenakan dapat memproduksi zatzat kimia yang memiliki kegunaan yang potensial dalam pengobatan. Peningkatan yang pesat dalam industri obat tradisional menimbulkan ancaman yang serius bagi kelestarian tanaman obat yang menjadi bahan baku industri obat tradisional yang diambil langsung dari alam (Zuhud, 1994). Dengan meningkatnya pemakaian obat tradisional tersebut, kebutuhan bahan baku tanaman obat juga semakin meningkat. Bahan baku tanaman obat dikuras dari alam untuk memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat tersebut. Proses tersebut akan membawa akibat kelangkaan atau bahkan pemusnahan terhadap beberapa jenis tanaman obat, apabila tidak diimbangi dengan upaya pembudidayaan dan pelestarian (Rifai, 1979) Salah satu langkah yang diperlukan adalah usaha pengadaan bibit yang bermutu. Saat ini untuk memenuhi kebutuhan simplisia tanaman obat diarahkan dari hasil budidaya, sehingga memerlukan bibit yang berkualitas baik dan seragam dalam waktu yang bersamaan. Echinacea purpurea L merupakan salah satu tanaman obat yang banyak digunakan oleh industri obat tradisional. Tanaman Echinacea purpurea L. berkhasiat sebagai obat imunomodulator. Usaha pembibitan Echinacea purpurea L perbanyakannya dengan menggunakan biji. Tetapi perbanyakan secara generatif tidak selalu mempunyai sifat yang sama dengan induknya. Teknik konvensional memiliki berbagai kelemahan antara lain membutuhkan bahan bibit yang banyak sehingga dapat merusak tanaman,

Heru Sudradjat : Upaya Pengakaran Echinacea purpurea L.... 47 virus atau penyakit tanaman induk ikut terbawa, membutuhkan waktu relatif lama serta tergantung musim. Produksi bibit yang bermutu baik, homogen, dalam jumlah banyak dan waktu yang singkat sulit dilakukan secara konvensional. Pengalaman menunjukkan bahwa penyediaan bibit bermutu yang tepat jumlah, tepat waktu dan tepat lokasi merupakan kendala bagi pengembangan suatu komoditas. Teknologi kultur jaringan yang memproduksi planlet dalam botolbotol kecil dapat mengatasi masalah tersebut (Darwis, 199). Dengan teknik kultur jaringan, kendala dalam memproduksi bibit dapat diatasi, karena disamping tanaman dapat dihindari dari kemunduran genetik akibat dari kesalahankesalahan dalam proses produksi bibit, juga dapat diperbanyak sembarang waktu dengan faktor multipilikasi tinggi (Habir dkk., 199). Memperhatikan hal tersebut diatas maka dalam upaya pengakaran dengan pemberian hormon auksin pada tunas Echinacea purpurea L melalui kultur jaringan perlu dilakukan sehingga dihasilkan tanaman Echinacea purpurea L. Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat diperoleh teknik kultur jaringan yang tepat dalam usaha mendapatkan bibit Echinacea purpurea L. dan dapat digunakan sebagai salah satu metode produksi bibit Echinacea purpurea L. METODE PENELITIAN Bahan yang digunakan tunas Echinacea purpurea L hasil subkutur dengan masa inkubasi bulan, bahan kimia penyusun media MS (Murashige & Skoog), GA (Giberelin), IBA (Indol buteric acid), NAA (Naftalene acetic acid) sedangkan alat yang digunakan Lamiar Air Flow (LAF), Autoclaf, pinset, scalpel, hot plate, timbangan analitik dan lainlain. Tahapan pertama pembuatan media yaitu bahan kimia ditimbang analitik sesuai dengan komposisi masingmasing untuk media MS (lampiran). Penyiapan eksplan yaitu menggunakan pucuk dari tanaman Echinacea purpurea L masa inkubasi bulan. Proses sterilisasi, eksplan di bilas dengan menggunakan aquadest steril. Direndam dalam larutan deterjen selama menit. Eksplan direndam dalam larutan dithane mg/l ditambah tween tetes tiap 100 ml larutan steril selama 7 menit kemudian direndam dalam larutan agrep mg/l ditambah tween tetes tiap 100 ml larutan steril selama 7 menit. Eksplan kemudian dibilas dengan aguadest steril sampai bersih. Terakhir direndam dalam larutan bayclin 10% selama menit dan dibilas lagi dengan aquades steril sampai bersih. Tahapan selanjutnya penanaman eksplan, dilakukan didalam Laminar air Flow secara aseptis, yang sebelumnya ruangan telah disterilkan dengan menyemprotkan alkohol kedalam ruangan dan di sinari dengan lampu ultraviolet selama 0 menit. Eksplan ditanam pada media MS yang diperkaya dengan zat pengatur tumbuh GA mg/l yang digunakan untuk perbanyakan tunas dengan masa inkubasi selama bulan. Tunas yang terbentuk kemudian dilakukan untuk penelitian subkultur induksi akar dengan pada media MS dengan penambahan IBA dan NAA dengan konsentrasi masingmasing 0,, 4 dan 6 mg/l. Pengamatan dilakukan terhadap awal tumbuh, jumlah dan panjang akar dengan masa inkubasi bulan. Masingmasing perlakuan diulang kali tiap ulangan 10 botol. Pengamatan dan pendataan pertumbuhan eksplan dalam inkubator dilakukan secara teratur. Pengamatan dilakukan terhadap awal tumbuh akar, jumlah dan panjang akar. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil pengamatan pada media MS tanpa diperkaya dengan hormon tumbuh (kontrol) didapatkan pertumpuhan akar sebanyak lima dengan panjang 4 cm serta kondisi akar kecilkecil. Hasil pengamatan pada tabel 1 menunjukkan bahwa media MS dengan penambahan NAA mg/l terlihat pertumbuhan akar dengan jumlah dengan panjang cm serta kondisi akar kecilkecil, sedangkan penambahan NAA 6 dihasilkan kalus. yang ditambahkan IBA konsentrasi 4 mg/l terjadi pertumbuhan akar sebanyak buah, panjang 4 cm dengan kondisi akar agak besar. yang ditambahkan IBA dan NAA dengan konsentrasi masingmasing 4 mg/l terjadi pertumbuhan akar sebanyak buah, panjang 4 cm dengan kondisi akar kecilkecil.

48 Heru Sudradjat : Upaya Pengakaran Echinacea purpurea L.... Tabel 1. Pengaruh penambahan IBA dan NAA terhadap pertumbuhan akar Echinace purpurea L dengan masa inkubasi bulan Perlakuan (mg/l) Jumlah Akar Panjang Akar (cm) Keterangan IBA 0 NAA 0 IBA 0 NAA IBA 0 NAA 4 IBA 0 NAA 6 IBA NAA 0 IBA NAA IBA NAA 4 IBA NAA 6 IBA 4 NAA 0 IBA 4 NAA IBA 4 NAA 4 IBA 4 NAA 6 IBA 6 NAA 0 IBA 6 NAA IBA 6 NAA 4 Awal Tumbuh Akar (hari) IBA 6 NAA 6 Keterangan : = kalus sedikit, = kalus agak banyak Sumber : Data Primer Diolah 6 1, 1 Akar kecilkecil Akar kecilkecil Akar kecilkecil IBA digunakan karena memiliki sifat lebih stabil dan mobilitasnya dalam tanaman rendah sehingga pemakaiannya dapat lebih berhasil. Pengaruh auksin terhadap jaringan berbedabeda, namun rangsangan yang paling kuat adalah terhadap selsel meristem apikel dan koleoptil. Golongan ini yang sering dipakai untuk merangsang pembentukan akar pada tunas. Pada kadar tinggi, auksin bersifat menghambat daripada merangsang pertumbuhan. Pengaruh auksin terhadap perkembangan sel menunjukkan adanya reduksi bahwa auksin dapat menaikkan tekanan osmatik, meningkatkan sintesa protein sel terhadap air dan melunakkan dinding sel yang diikuti menurunnya tekanan dinding sel sehingga air dapat masuk kedalam yang disertai kenaikan volume sel. Pemberian auksin hanya merangsang pembentukan akar dikarenakan pergerakan auksin mengikuti proses geotropisme yaitu kebagian bawah, sehingga konsentrasi auksin meningkat dan akibatnya merangsang pembentukan akar. Jumlah akar terbanyak didapatkan pada penambahan zat pengatur tumbuh IBA (Indol Buteric Acid) pada konsentrasi 4 mg/l. NAA termasuk golongan auksin yang berpengaruh terhadap pemanjangan sel, tetapi pada konsentrasi tinggi bersifat sebaliknya (Wetter, I.R & F. Constabel., 1991). Respon auksin berhubungan dengan konsentrasinya. Konsentrasi yang tinggi bersifat menghambat karena adanya persaingan didalam penempatan pada kedudukan sel penerima. Jumlah auksin yang berlebihan akan ikut tergabung dalam sel penerima yang akan bersifat kerja hormon tersebut tidak efektif (Santoso dan Nursandi, 00). Beberapa perlakuan zat pengatur tumbuh terhadap Echinacea purpurea L mengarah pada pembentukan kalus, berarti eksplan tersebut akan berubah terlebih dahulu membentuk jaringan meristematik sebelum membentuk organ (tunas dan akar).

Heru Sudradjat : Upaya Pengakaran Echinacea purpurea L.... 49 KESIMPULAN Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1. Tanaman Echinacea purpurea L dapat diperbanyak dengan menggunakan teknik kultur jaringan.. Untuk induksi akar terbaik menggunakan media MS yang diperkaya dengan zat pengatur tumbuh IBA 4 mg/l dengan hasil akar sebanyak pada kondisi akar agak besar. DAFTAR PUSTAKA Zuhud, E.A.M., 1994, Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan Obat Hutan Tropis. Kerjasama Antara Jurusan Sumber daya Hutan dan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Rifai, M.A., 1979, Proses Pelangkaan Tumbuhan Obat di Indonesia. Lembaga Biologi Nasional. LIPI. Bogor Habir, D., Sukmadjaja dan I. Mariska, 199. Aplikasi Kultur Jaringan Dalam Dalam Produksi Bibit Pada Beberapa Industri. Proseding Forum karya Ilmiah, Balitbangtan. Balitbangtri. Bogor. Wetter, I.R & F. Constabel., 1991. Teknik Perbanyakan Secara Modern (Kultur Jaringan). Penerbit Swadaya. Jakarta. Santoso, U dan F. Nursandi, 00. Kultur Jaringan Tanaman. UMM Pres. Malang. Gunawan L.W. 1987. Teknik Kultur Jaringan. Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman. PAU Bioteknologi. IPB Bogor. Makronutrien Mikronutrien Besi Vitamin LAMPIRAN KOMPOSISI MEDIA Murashige & Skoog (mg/l) KNO. NH 4 NO CaCl.H O... MgSO 4... KH PO 4. MnSO 4.4H O H BO... ZnSO 4.4H O. Na MoO 4.H O CuSO 4.H O. CoCl.6H O.. KI FeSO 4.7H O.. Na EDTA.H O Niacin. Glicine. Pyridoxine HCl Thiamine HCl. MyoInositol.. Sukrosa... 1900 0 440 70 170, 6, 8,6 0, 0,0 0,0 0,8 7,8 7, 0, 0, 0, 100 0.000

0