BAB III METODE PENELITIAN
|
|
|
- Yuliana Darmali
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 26 A. Jenis Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Jenis Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiyono, 2011). B. Desain Penelitian Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Rancangan acak lengkap dapat didefinisikan sebagai rancangan dengan beberapa perlakuan dan disusun secara random untuk seluruh unit percobaan. Pada penelitian ini, kontrol yang digunakan yaitu pada medium Murishage dan Skoog (MS) tanpa penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT). Perlakuan yang diberikan adalah penambahan zat pengatur tumbuh yaitu Benzyl amino purine (BAP), a- Naphtalene acetic acid (NAA), 2,4-Diklorofenoksiacetic acid dan Kinetin. Perlakuan yang diberikan pada penelitian ini menggunakan kombinasi jenis auksin dan sitokinin yang berbeda-beda sebagai berikut : 1. NAA (0 dan 0,3 mg/l) dan BAP (0, 2.5, 2.75, 3, 3.25mg/L) dengan jumlah pengulangan sebanyak dua kali dan dilanjutkan dengan subkultur sebanyak dua tiga kali (Tabel 3.1). 2. 2,4-D (0, 1.75, 2, 2.25, 3 mg/l) dan kinetin (0 mg/l) dengan jumlah pengulangan sebanyak empat kali dan dilanjutkan dengan subkultur sebanyak dua kali (Tabel 3.2). 3. Kinetin (0, 0.2, 0.3 mg/l) dan BAP (0, 0.75, 1 mg/l) dengan jumlah pengulangan sebanyak dua kali dan dilanjutkan dengan subkultur sebanyak tiga kali (Tabel 3.3). 4. IBA (1 mg/l) Penentuan banyaknya jumlah pengulangan dalam penelitian ini menurut Gomez & Gomez (1995) dengan rumus sebagai berikut : T (R-1) 20 Keterangan : T = Jumlah Perlakuan R = jumlah pengulangan RESPONS POTONGAN JARINGAN TANAMAN EDELWEISS (Anaphalis 20 = derajat javanica) bebas pada MEDIUM
2 27 Tabel 3.1 Kombinasi Konsentrasi ZPT pada Potongan Jaringan Buku Penanaman Awal Kode NAA BAP (mg/l) (mg/l) A 0 0 B 0 2,5 C 0 2,75 D 0 3 E 0 3,25 F 0,3 0 G 0,3 2,5 H 0,3 2,75 I 0,3 3 J 0,3 3,25 Respons Tabel 3.2 Kombinasi Konsentrasi ZPT pada Potongan Jaringan Daun Kode Penanaman Awal 2,4-D (mg/l) Kinetin (mg/l) Respons K 0 0 L 1,75 0 M 2 0 N 2,25 0 O 2,5 0 Tabel 3.3 Kombinasi Konsentrasi ZPT pada Potongan Jaringan Pucuk Kode Penanaman Awal BAP (mg/l) Kinetin (mg/l) Respons P 0 0 Q 0 0,2 R 0 0,3 S 0,75 0 T 0,75 0,2 U 0,75 0,3 V 1 0 W 1 0,2 X 1 0,3 Y 2 0 Z1 2 0,2 Z2 2 0,3
3 28 Respons terbaik dari setiap potongan jaringan akan dilanjutkan dengan subkultur. Kombinasi konsentrasi subkultur disesuaikan dengan respons yang dihasilkan dari setiap potongan jaringan (Tabel 4.3). Subkultur dilakukan selama tiga minggu sekali. Potongan Jaringan C. Populasi dan Sampel Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tanaman Anaphalis javanica yang berumur lima bulan yang berasal dari Gunung Papandayan Garut Jawa Barat. Sampel pada penelitian ini yaitu pucuk, daun dan buku dari tanaman Anapalis javanica. D. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi pembuatan medium, sterilisasi alat dan medium, penanaman potongan jaringan serta pemeliharaan kultur dilakukan di Laboratorium Botani dan pembuatan larutan stok MS dilakukan di Laboratorium Fisiologi FPMIPA UPI. Penelitian dilaksanakan dari bulan Februari sampai Juli E. Prosedur Penelitian 1. Persiapan a. Bahan Respons Multiplikasi 1 Medium Subkultur Multiplikasi 2 Pemanjangan Tunas Daun Kalus Buku Pucuk Tabel 3.4 Kombinasi Konsentrasi Pada Medium Subkultur Tunas Tunas BAP 3, NAA 0,5 BAP 1, Kinetin 0,3 Bahan potongan jaringan adalah tanaman edelweiss (Anaphalis javanica) yang diambil dari bagian buku (tempat melekat daun), daun dan pucuk yang diperoleh dari Gunung Papandayan Garut Jawa Barat (Gambar 3.1). - BAP 1, Kinetin 0,3 Keterangan : Warna menunjukan konsentrasi yang digunakan BAP 3, NAA 0,5 Organogenesis BAP 1, Kinetin 0,
4 29 a b Pucuk Daun Buku Gambar 3.1 Tanaman Anaphalis javanica a. Aklimasi tanaman Anaphalis javanica b.bagian tanaman Anaphalis javanica Tanaman yang digunakan untuk sumber potongan jaringan diaklimatisasi terlebih dahulu diruang kultur dengan suhu 16 0 C selama ± 48jam (Gambar 3.1 a). b. Pembuatan Larutan Stock Larutan Stok terdiri dari makronutrien, mikronutrien, besi cheat dan vitamin kemudian dilarutkan dengan menggunakan akuades. Larutan stok medium MS dikelompokan menjadi delapan kelompok (Tabel 3.5). Pembuatan larutan stok ini digunakan untuk mempermudah penimbangan bahan, karena bahan yang digunakan biasanya takarannya sangat sedikit. Setelah pembuatan larutan, pada tiap botol diberi identitas berupa nama larutan, banyaknya takaran, dan tanggal pembuatan larutan. Larutan-larutan tersebut ditutup rapat dan disimpan dikulkas. c. Pembuatan medium Medium yang digunakan yaitu medium Murashige Skoog (MS) (1962 dalam Pierik, 1987). Pembuatan medium MS digunakan untuk medium pada tahap penanaman dan subkultur. Untuk membuat medium, masing-masing larutan stok diambil sesuai dengan kebutuhan pemakaian. Larutan yang telah tercampur kemudian ditambah dengan agar-agar dan sukrosa serta ZPT berupa BAP, NAA, 2,4-D, kinetin dan IBA. Medium dipanaskan (Gambar 3.2) dan diaduk sampai semua bahan larut, setelah larut dilakukan pengukuran ph hingga mencapai 5.7 atau 5.8 dengan menambahkan NaOH 1 M atau Hcl 1 M. Setelah larut, medium dituangkan kedalam botol sebanyak 10 ml pada masing-masing botol. Botol ditutup dengan menggunakan plastik tahan panas, alumunium foil, karet kemudian diberi label dan ditulis konsentrasi perlakuan dan tanggal penanaman.
5 30 Medium yang telah dibuat dan alat-alat untuk menanam disterilkan dalam autoklaf selama ±50menit pada suhu C dan tekanan 15psi. Gambar 3.2 Pemanasan Medium MS Tabel 3.5 Komposisi Medium Murashige-Skoog (1962 dalam Pierik, 1987) Stok Bahan Kimia Konsentrasi (g/l) 1. NH 4 NO 3 16,5 2. KNO CaCl 2.H 2 O 3,33 4. CoCl 2. 6H 2 O H3BO 3 KI NaMoO 4.2 H 2 O KH 2 PO 4 5. MgSO 4. 7H 2 O MnSO 4. 4H 2 O ZnSO 4. 7H 2 O CuSO 4. 5 H 2 O 6. Na.EDTA FeSO 4. 7H 2 O 7. Thiamin Nikotin Pyridoxin Glycin 0, ,062 0,008 0, ,7 0,169 0,086 0, ,373 0,278 0,001 0,005 0,005 0,02 8. Inositol 1 2. Penelitian Inti a. Pembuatan Medium Perlakuan
6 31 Medium perlakuan yaitu medium MS yang ditambah ZPT dengan konsentrasi sebagai berikut : 1). Medium Penanaman Awal a). NAA (0 dan 0,3 mg/l) dan BAP (0, 2.5, 2.75, 3, 3.25mg/L) digunakan untuk potongan jaringan buku. Tujuan untuk menghasilkan respons tunas. b). 2,4-D (0, 1.75, 2, 2.25, 3 mg/l) dan Kinetin (0 mg/l) digunakan untuk potongan jaringan daun. Tujuan untuk menghasilkan respons kalus. c). Kinetin (0, 0.2, 0.3 mg/l) dan BAP (0, 0.75, 1 mg/l) digunakan untuk potongan jaringan pucuk. Tujuan untuk menghasilkan respons tunas. 2). Medium Subkultur 1 (Multiplikasi) a). BAP (3 mg/l) dan NAA (0,5 mg/l) 3). Medium Subkultur 2 (Pemanjangan dan pembesaran) a). BAP (3mg/L) dan NAA (0.5 mg/l) untuk tunas. b). BAP (1mg/L) dan Kinetin (0,3mg/L) untuk kalus daun. 4). Medium Sub Kultur 3 (Pertumbuhan Akar) a). IBA (1mg/L) untuk pertumbuhan akar dari semua respons (tunas dan kalus). b. Sterilisasi Medium yang telah tersedia kemudian disterilkan dalam autoklaf tipe BI- 65 ALF pada tekanan 15 psi selama 50 menit pada suhu c. Setelah sterilisasi kemudian medium yang telah dibuat didiamkan didalam ruang kultur selama 2-3 hari sebelum ditanami dengan potongan jaringan edelweiss secara aseptik. c. Penanaman Sebelum potongan jaringan ditanam pada medium kultur, semua bahan yang akan digunakan pada proses penanaman disiapkan terlebih dahulu diantaranya medium, potongan jaringan,akuades, alkohol, scalpel, steril blade, cawan petri, plastik tahan panas, spirtus, pinset, karet, kertas saring dan alumunium foil. Bahan yang telah disiapkan kemudian dimasukan kedalam laminar air flow dan disinari dengan ultra violet selama kurang lebih 30 menit (Gambar 3.3). Alat
7 32 dan bahan yang telah disinari dengan ultra violet selanjutnya siap digunakan untuk penanaman potongan jaringan. Gambar 3.3 Persiapan sterilisasi laminar sebelum penanaman Potongan jaringan yang digunakan adalah buku, daun dan pucuk dari tanaman edelweiss, buku yang digunakan merupakan buku ke 8 dari pucuk begitupula dengan daun. Potongan jaringan buku yang ditanam pada medium perlakuan berjumlah dua dalam tiap botol kultur dengan jumlah botol sebanyak empat botol (delapan potongan jaringan buku). Potongan jaringan daun jumlah pengulangannya tiga, potongan jaringan daun ditanam pada medium perlakuan sebanyak tiga potongan jaringan setiap botol dengan jumlah botol 3 (Sembilan potongan jaringan daun). Pucuk jumlah pengulangannya berjumlah dua, dengan jumlah penanaman pada medium perlakuan sebanyak dua potongan jaringan dalam setiap botol, jumlah botol 4 (delapan potongan jaringan pucuk). Ukuran potongan jaringan yang akan ditanam dalam medium MS dapat dilihat pada Gambar 3.4 sebagai berikut: A B C
8 33 Gambar 3.4 Ukuran Jenis Potongan Jaringan Tanaman Anaphalis javanica. A. Panjang potongan jaringan daun 0,7cm B. Tinggi potongan jaringan pucuk 0,8-1cm C. Tinggi potongan jaringan buku 1,5cm Potongan jaringan yang telah dipotong sesuai ukuran dilanjutkan dengan sterilisasi potongan jaringan dengan cara sebagai berikut: 1). Potongan jaringan dicuci air mengalir selama 15 menit. 2). Potongan jaringan dimasukan ke dalam Bayclin 10% ditambah tween dua sampai tiga tetes selama 10 menit. 3). Potongan jaringan dicuci dengan akuades steril selama lima menit. 4). Pemapasan bagian ujung potongan jaringan yang akan ditanam. 5). Potongan jaringan dimasukan ke dalam bayclin 5% ditambah tween dua sampai tiga tetes. 6). Potongan jaringan dicuci dengan akuades sebanyak tiga kali, tiap pencucian dilakukan selama lima menit. 7). Pemotongan kembali bagian ujung potongan jaringan yang akan ditanam. 8). Hasil pemotongan potongan jaringan dikeringkan dalam kertas saring sampai kering. 9). Potongan jaringan ditanam dalam medium MS 10). Botol kultur ditutup menggunakan alumunium foil dan plastik yang diikat dengan karet (Komunikasi Langsung, 2015). Potongan jaringan yang telah ditanam pada medium MS kemudian disimpan di ruang kultur yang steril. Suhu yang digunakan pada ruang kultur ± 21 0 C. Lemari penyimpanan botol kultur dilap dan disemprot menggunakan alkhol 70% dengan tujuan supaya steril. A B C Gambar 3.5 Hasil Penanaman Potongan Jaringan A. Buku, B. Daun, C. Pucuk
9 34 d. Pengamatan Pengamatan pertumbuhan dilakukan dua hari sekali selama tiga minggu untuk mengetahui respons pertumbuhan terhadap parameter pertumbuhan potongan jaringan edelweiss secara morfologi yang meliputi tumbuhnya pucuk, akar atau kalus dari berbagai potongan jaringan yang berbeda. Selain itu, pada saat pengamatan jika terdapat medium kultur yang kontaminasi langsung dipisahkan. e. Alur Penelitian Alur penelitian (Gambar 3.6) dan langkah kerja (Gambar 3.7) pada penelitian ini sebagai berikut : Studi pustaka, pembuatan proposal dan izin pengambilan sample Seminar Proposal Persiapan potongan jaringan dan alat bahan Penanaman potongan jaringan Sterilisasi alat dan bahan Pembuatan larutan stok dan medium Induksi kalus dan tunas Sub kultur 1 kalus dan tunas Sub kultur 2 kalus dan tunas Kesimpulan Analisis data Sub kultur 3 kalus dan tunas Skripsi Gambar 3.6 Alur Penelitian
10 35 Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menghitung persentase respons dari setiap potongan jaringan dengan cara : jumlah respons dalam satu konsentrasi potongan jaringan x 100 =. % jumlah keseluruhan respons dalam satu konsentrasi potongan jaringan. Persiapan potongan jaringan Persiapan alat dan bahan Pembuatan medium Sterilisasi alat, bahan dan medium Penanaman potongan jaringan Induksi Tunas Induksi Kalus Sub kultur 1 Sub kultur 2 Sub kultur 3 Pengamatan
11 36 Gambar 3.7 Langkah kerja
BAB III METODE PENELITIAN. bersifat eksperimen karena pada penelitian menggunakan kontrol yaitu
30 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan termasuk ke dalam penelitian yang bersifat eksperimen karena pada penelitian menggunakan kontrol yaitu pada medium Murashige-Skoog
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis peleitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen adalah metode penelitian yang dilakukan dengan memanipulasi objek penelitian
BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain eksperimen. Menurut Nasution (2009) desain eksperimen yaitu penelitian yang dilakukan
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2010 sampai dengan bulan Oktober 2010 di Laboraturium Bioteknologi Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas
Kontaminasi No Perlakuan U1 U2 U3 U4 U5 U6 Total 1 B B B B B
40 Lampiran A. Data Pengamatan MINGGU KE-1 Kontaminasi 1 B0 0 0 0 0 0 0 0 2 B1 0 0 0 0 0 0 0 3 B2 0 0 1 1 1 0 3 4 B3 0 0 1 1 0 0 2 5 B4 1 0 0 0 1 1 3 Panjang akar 1 B0 0 0.9 0 0.2 0 0 1.1 2 B1 0.1 0.2
LAMPIRAN. Lampiran 1. Persentase Data Pengamatan Kultur yang Membentuk Kalus. Ulangan I II III. Total A 0 B
LAMPIRAN Lampiran 1. Persentase Data Pengamatan Kultur yang Membentuk Kalus Ulangan I II III Total A 0 B 0 0 0 0 0 A 0 B 1 0 0 0 0 A 0 B 2 0 0 0 0 A 0 B 3 0 0 0 0 A 1 B 0 1 1 1 3 A 1 B 1 1 1 1 3 A 1 B
BAB III METODE PENELITIAN
17 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Institut Pertanian Bogor (PPLH IPB) dari bulan Oktober
LAMPIRAN 1 ALAT DAN BAHAN PENELITIAN
LAMIRAN 1 ALAT DAN AHAN ENELITIAN A. Alat Alat- alat yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada Tabel 1 berikut : Tabel 1. Alat-alat enelitian No. Nama Alat Spesifikasi Jumlah 1. Gelas Ukur 100
DAFTAR LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A. Komposisi Media MS (Murashige & Skoog) 1962 Bahan Kimia Konsentrasi Dalam Media (mg/l) Makro Nutrien NH 4 NO 3 1650,000 KNO 3 1900,000 CaCl 2. H 2 O 440,000 MgSO 4. 7H 2 O 370,000
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. RANCANGAN PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang dilaksanakan dengan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dua faktor yaitu faktor kombinasi larutan enzim
METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Alat dan Bahan
13 I. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Univeristas Sebelas Maret Surakarta mulai bulan
III. METODE PENELITIAN A.
13 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober 2015 sampai bulan Februari 2016 yang bertempat di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan dan Bioteknologi
TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur In Vitro Fakultas
III. TATA CARA PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur In Vitro Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Januari April 2016.
3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan tempat 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian pendahuluan
12 menjadi planlet/tanaman. Hormon NAA cenderung menginduksi embrio somatik secara langsung tanpa pembentukan kalus. Embrio somatik yang dihasilkan lebih normal dan mudah dikecambahkan menjadi planlet/tanaman,
III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur In vitro Fakultas
III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur In vitro Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, pada Bulan November 2015 hingga
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PEELITIA 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Serpong, Tangerang. Penelitian dilaksanakan
III. METODE PENELITIAN A.
9 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dimulai pada bulan Juni 2015 sampai Februari 2016 dan dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan dan Bioteknologi Fakultas Pertanian
METODE PENELITIAN. Tempat dan Waktu Penelitian
METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Anggrek, Kebun Raya Bogor. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2010 hingga Juni 2011. Bahan dan Alat
BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dimulai
BAB III BAHAN DAN CARA KERJA. Penelitian dilakukan di Laboratorium Khansa Orchid Cimanggis-
BAB III BAHAN DAN CARA KERJA A. LOKASI Penelitian dilakukan di Laboratorium Khansa Orchid Cimanggis- Depok. Penelitian dilakukan dari bulan September 2007 hingga bulan April 2008. B. BAHAN 2. Tanaman donor
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Fakultas Pertanian,
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung pada November 2014 sampai April 2015. 3.2 Metode Penelitian
Ulangan I Ulangan II Ulangan III Ulangan IV
Lampiran 1. Bagan Penelitian Ulangan I Ulangan II Ulangan III Ulangan IV A0B2 A3B1 A2B0 A1B0 A0B3 A3B0 A2B1 A1B1 A1B2 A2B0 A0B2 A0B0 A1B3 A2B1 A0B3 A0B1 A3B0 A3B2 A2B2 A3B2 A3B1 A3B3 A2B3 A3B3 A0B0 A0B2
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium UPT BBI (Balai Benih Induk) Jl.
III. BAHA DA METODE 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium UPT BBI (Balai Benih Induk) Jl. Jendral Besar Dr. Abdul Haris asution Gedung Johor Medan Sumatera Utara, selama
in. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Fisiologi dan Kultur Jaringan
in. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Fisiologi dan Kultur Jaringan Balai Penelitian Sei Putih Medan Sumatra Utara. Penelitian ini dilaksanakan selama 4
BAB III METODE PENELITIAN
17 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Lingkungan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Institut Pertanian Bogor (PPLH IPB) dari
KULTUR JARINGAN TUMBUHAN
Petunjuk Praktikum KULTUR JARINGAN TUMBUHAN SBG 147. Disusun Oleh : Victoria Henuhili [email protected] JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
II. MATERI DAN METODE PENELITIAN. agar, arang, NaOH, HCl dan akuades. spirtus, timbangan analitik, beker gelas, LAF vertikal.
6 II. MATERI DAN METODE PENELITIAN 1. Materi, Lokasi dan Waktu Penelitian 1.1. Materi 1.1.1. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ubi jalar varietas cilembu, ubi jalar varietas sukuh,
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitaian ini di lakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tepat Penelitaian ini di lakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik
III. METODE PENELITIAN
12 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta mulai bulan Maret
GAHARU. Dr. Joko Prayitno MSc. Balai Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Kuliah 11 KULTUR JARINGAN GAHARU Dr. Joko Prayitno MSc. Balai Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi KULTUR JARINGAN Apa yang dimaksud dengan kultur jaringan? Teknik menumbuhkan
LAMPIRAN K1.5 K4.5 K1.3 K3.3 K3.5 K4.4 K2.3 K4.3 K3.2 K5.2 K2.1 K5.3 K3.1 K4.1 K5.4 K1.2 K4.2 K5.5 K3.4 K5.1 K1.4 K2.5 K2.2 K1.1 K2.
LAMPIRAN Lampiran 1. Layout Penelitian K1.5 K4.5 K1.3 K3.3 K3.5 K4.4 K2.3 K4.3 K3.2 K5.2 K2.1 K5.3 K3.1 K4.1 K5.4 K1.2 K4.2 K5.5 K3.4 K5.1 K1.4 K2.5 K2.2 K1.1 K2.4 K1.7 K2.9 K4.7 K3.6 K5.9 K4.6 K5.10 K5.7
BAHA DA METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian
BAHA DA METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dimulai
BAB III METODE PENELITIAN. Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana
38 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan di laboratorium Plant Physiology and Culture Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik
BAB III METODE PENELITIAN. rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial, yaitu penambahan konsentrasi
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial, yaitu penambahan konsentrasi fosfor dalam media kultur
III. METODE PENELITIAN
10 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penelitian dimulai pada bulan Maret
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian
14 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2009 sampai dengan bulan Juni 2011 di Laboratorium Kultur Jaringan Kelompok Peneliti Biologi Sel dan Jaringan, Balai
Tabel 1. Kombinasi Perlakuan BAP dan 2,4-D pada Percobaan Induksi Mata Tunas Aksilar Aglaonema Pride of Sumatera Secara In Vitro
11 agar. Zat pengatur tumbuh yang digunakan antara lain sitokinin (BAP dan BA) dan auksin (2,4-D dan NAA). Bahan lain yang ditambahkan pada media yaitu air kelapa. Bahan untuk mengatur ph yaitu larutan
TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur In Vitro Fakultas
III. TATA CARA PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur In Vitro Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian dimulai pada bulan April
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama, konsentrasi
BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan Tanaman dan Media
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat
17 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Perlakuan iradiasi
BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Kelompok Peneliti Biologi Sel dan Jaringan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya
LAMPIRAN. Persiapan alat dan bahan. Sterilisasi alat. Pembuatan media. Inisiasi kalus. Pengamatan. Penimbangan dan subkultur.
LAMPIRAN Lampiran 1 Skema Penelitian Persiapan alat dan bahan Sterilisasi alat Pembuatan media Inisiasi kalus Pengamatan Penimbangan dan subkultur Hasil 80 81 Lampiran 2 Skema Kerja Sterilisasi Alat Direndam
III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Fakultas
21 III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari
III. BAHAN DAN METODE
24 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dimulai dari Maret sampai dengan Mei 2013. 3.2 Bahan
BAB III METODOLOGI 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Prosedur Kerja Persiapan Bibit Tumih
BAB III METODOLOGI 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Lingkungan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Institut Pertanian Bogor (PPLH IPB). Penelitian ini
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan Jurusan
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan di laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Laboratorium terpadu Kultur jaringan Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan April sampai bulan Agustus 2016 di Laboratorium terpadu Kultur jaringan Fakultas Sains dan Teknologi,
BAB III METODE PENELITIAN. penambahan sukrosa dalam media kultur in vitro yang terdiri atas 5 variasi
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 1 faktor perlakuan, yaitu penambahan sukrosa dalam media
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Gedung
20 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Gedung Bioteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dari Bulan November 2011
METODOLOGI PENELITIAN
22 METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Januari 2010 sampai dengan Pebruari 2011. Tempat pelaksanaan kultur jaringan tanaman adalah di Laboratorium Kultur Jaringan
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanaman, Jurusan
22 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanaman, Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Bandar Lampung. Penelitian
BAHAN DAN METODE. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini dimulai pada bulan
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian, Medan. Penelitian ini dimulai pada bulan Maret 2010 sampai dengan Juni 2010.
BAB III METODE PENELITIAN. Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya.
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya. Pelaksanaan
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari 2009 sampai dengan bulan Agustus 2009 di Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura,
BAB III BAHAN DAN METODE. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Teknologi
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Percobaan Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Teknologi Benih, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Penelitian dilakukan
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan 2
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan 2 perlakuan, yaitu pemberian zat pengatur tumbuh BAP yang merupakan perlakuan pertama dan
BAB III METODE PENELITIAN. Tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) varietas Dewata F1
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Juni 2012 di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi,
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini di lakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan Jurusan
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini di lakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Pelaksanaan
13 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juli 2011 hingga bulan Februari 2012 di Laboratorium Kultur Jaringan, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian
Membuat Larutan Stok A. Teori kepekatan jumlah larutan
Membuat Larutan Stok A. Teori Dewasa ini beberapa jenis media kultur jaringan dapat dibeli dalam bentuk bubuk yang telah dipersiapkan. Hal ini tergantung dari jenisnya, ada yang hanya mengandung garam
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Plant Physiology and Culture
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan di laboratorium Plant Physiology and Culture Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Pelaksanaan Bahan dan Alat Metode Penelitian
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Lampiran 1. Data Pengamatan Jumlah Muncul Tunas (Tunas) PERLAKUAN ULANGAN
Lampiran 1. Data Pengamatan Jumlah Muncul Tunas (Tunas) G1A1 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 5,0 1,0 G1A2 0 1,0 0 1,0 0 2,0 0,4 G1A3 1,0 0 1,0 0 0 2,0 0,4 G1A4 1,0 0 1,0 1,0 1,0 4,0 0,8 G1A5 1,0 1,0 0 1,0 1,0 4,0
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan / Ilmu Tanaman Fakultas
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan / Ilmu Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Penelitian dilaksanakan mulai Maret 2013
III. BAHAN DAN METODE. 1. Percobaan 1: Pengaruh konsentrasi 2,4-D terhadap proliferasi kalus.
18 III. BAHAN DAN METODE 3.1 STUDI 1: REGENERASI TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L.) DARI KALUS YANG TIDAK DIIRADIASI SINAR GAMMA Studi ini terdiri dari 3 percobaan yaitu : 1. Percobaan 1: Pengaruh
III. BAHAN DAN METODE. 1. Pengaruh konsentrasi benziladenin dengan dan tanpa thidiazuron terhadap
III. BAHAN DAN METODE Penelitian ini terdiri atas 2 percobaan, yaitu: 1. Pengaruh konsentrasi benziladenin dengan dan tanpa thidiazuron terhadap multiplikasi tunas pisang Kepok Kuning (genom ABB) eksplan
BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan RAL (Rancangan acak lengkap) dengan 1 media pembanding
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Penelitian ini menggunakan RAL (Rancangan acak lengkap) dengan 1 media pembanding Vancient went,
LAMPIRAN. Persiapan alat alat dan. bahan- bahan. Sterilisasi. Pembuatan Media. Sterilisasi Media. Sterilisasi Eksplan.
Lampiran 1. Skema kerja penelitian LAMPIRAN Persiapan alat alat dan bahan- bahan Ruang Sterilisasi Alat - alat Pembuatan Media Sterilisasi Media Sterilisasi Eksplan Inisiasi HASIL 79 80 Lampiran 2. Skema
BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain (Balit Palma) Manado, pada bulan Desember
PEMBUATAN MEDIA KULTUR JARINGAN TANAMAN
Laporan Pratikum Dasar-Dasar Bioteknologi Tanaman Topik 1 PEMBUATAN MEDIA KULTUR JARINGAN TANAMAN Oleh : Arya Widura Ritonga ( A24051682 ) Agronomi dan Hortikultura 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Kultur
UPAYA PELESTARIAN TANAMAN EDELWEISS (Anaphalis javanica) DENGAN METODE KULTUR JARINGAN
UPAYA PELESTARIAN TANAMAN EDELWEISS (Anaphalis javanica) DENGAN METODE KULTUR JARINGAN Widi Purwianingsih, Dini Fatwa Kania, R.Kusdianti Departemen Pendidikan Biologi, Fakultas Pendidikan Matematika dan
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan mulai bulan Maret sampai Juli 2014 di
III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini telah dilaksanakan mulai bulan Maret sampai Juli 2014 di Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanaman Fakultas Pertanian
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan Februari hingga Mei 2015. 3.2 Bahan dan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
10 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Lingkungan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Institut Pertanian Bogor, Laboratorium
LAMPIRAN. Komposisi Media Murashige & Skoog (MS). Bahan penyusun a. Makronutrien NH 4 NO KNO CaCl 2.2H 2 O
LAMPIRAN Lampiran 1 Komposisi Media Murashige & Skoog (MS). Bahan penyusun mg/l a. Makronutrien NH 4 NO 3 1650 KNO 3 1900 CaCl 2.2H 2 O 440 370 MgSO 4.7H 2 O 170 KH 2 PO 4 b. Mikronutrien MnSO 4.H 2 O
LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN TANAMAN
LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN TANAMAN MULTIPLIKASI TUNAS DARI TUNAS IN VITRO (TANAMAN ANGGREK DAN KRISAN) Disusun Oleh : Puji Hanani 4411413023 JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
Puput Perdana Widiyatmanto Dosen Pembimbing Tutik Nurhidayati S.Si., M.Si. Siti Nurfadilah, S.Si., M.Sc. Tugas Akhir (SB091358)
Tugas Akhir (SB091358) PENGARUH JENIS MEDIA DAN KONSENTRASI NAA (Naphthalene Acetic Acid) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BIJI Dendrobium capra J.J SMITH SECARA IN VITRO Puput Perdana Widiyatmanto
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari - Juni 2012 di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi,
BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor yang pertama
BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor yaitu:
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian eskperimental yang menggunakan Rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor yaitu: 1. Faktor pertama: konsentrasi
BAB 3 BAHAN DAN METODA
BAB 3 BAHAN DAN METODA 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2007 di Laboratorium Kultur Jaringan Unit Pelaksana Teknis Balai Benih Induk Dinas Pertanian Sumatera
LAMPIRAN A: DATA PERSENTASE KULTUR HIDUP (%)
LAMPIRAN A: DATA PERSENTASE KULTUR HIDUP (%) Keterangan 1 = Kalus Hidup - = Kalus terkontaminasi 0 = Kalus tidak tumbuh A0B0 1 1 1 1 1-5 A0B1 1 0 0 0 0 0 1 A0B2 1 1 1 1 1 1 6 A0B3 1 1 1 1 1 1 6 A1B0 1
Pengaruh Jenis Eksplan dan Komposisi Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Induksi Kalus Pada Tanaman Binahong (Anredera cordifolia (Ten.
Pengaruh Jenis Eksplan dan Komposisi Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Induksi Kalus Pada Tanaman Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) The Effect of Explants Type and Growth Regulators Composition
RESPON REGENERASI EKSPLAN KALUS KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill) TERHADAP PEMBERIAN NAA SECARA IN VITRO
PKMP-3-3-1 RESPON REGENERASI EKSPLAN KALUS KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill) TERHADAP PEMBERIAN NAA SECARA IN VITRO Eva azriati, Asmeliza, Nelfa Yurmita Biologi FMIPA Universitas Negeri Padang, Padang
UPAYA PEMBIBITAN BIJI SARANG SEMUT (Myrmecodia pendans) DENGAN KULTUR JARINGAN. Heru Sudrajad
UPAYA PEMBIBITAN BIJI SARANG SEMUT (Myrmecodia pendans) DENGAN KULTUR JARINGAN Heru Sudrajad Balai Besar Penelitian dan PengembanganTanaman Obat dan Obat Tradisional, Badan Litbangkes, Kementerian Kesehatan
BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yaitu pemberian
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Rancangan Percobaan Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yaitu pemberian zat pengatur tumbuh 2,4-D (1
LAMPIRAN. Sterilisasi. Pembuatan Media. Sterilisasi Media. Inisiasi Kalus HASIL
1 LAMPIRAN Lampiran 1. Skema Kerja Penelitian Perisiapan alat-alat dan bahan-bahan Ruang Sterilisasi Alat-Alat Pembuatan Media Sterilisasi Media Inisiasi Kalus HASIL 2 Lampiran 2. Skema Kerja Tahapan Sterilisasi
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan studi pembiakan in vitro tanaman pisang yang terdiri
III. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi pembiakan in vitro tanaman pisang yang terdiri dari 2 percobaan yaitu: 1. Pengaruh konsentrasi BA dan varietas pisang (Ambon Kuning dan Raja Bulu)
