4.1 Sistem Pengendali Elektronik

dokumen-dokumen yang mirip
SISTEM PENGATURAN MOTOR DC MENGGUNAKAN PROPOTIONAL IINTEGRAL DEREVATIVE (PID) KONTROLER

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

Elektronika. Pertemuan 8

BAB VII METODE OPTIMASI PROSES

Percobaan 3 Rangkaian OPAMP

Penguat Inverting dan Non Inverting

TUGAS AKHIR RESUME PID. Oleh: Nanda Perdana Putra MN / 2010 Teknik Elektro Industri Teknik Elektro. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Padang

BAB VIII SISTEM KENDALI

BAB II TEORI. 2.1 Pengertian Sistem Pengaturan

yang dihasilkan sensor LM35 karena sangat kecil. Rangkaian ini adalah tipe noninverting

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Tujuan Percobaan Mempelajari karakteristik statik penguat opersional (Op Amp )

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA HASIL SIMULASI

Tabel 1. Parameter yang digunakan pada proses Heat Exchanger [1]

Simulasi Control System Design dengan Scilab dan Scicos

BAB II DASAR TEORI. kontrol, diantaranya yaitu aksi kontrol proporsional, aksi kontrol integral dan aksi

PENGUAT OPERASIONAL AMPLIFIER (OP-AMP) Laporan Praktikum

BAB II DASAR TEORI. Modulasi adalah proses yang dilakukan pada sisi pemancar untuk. memperoleh transmisi yang efisien dan handal.

TKC306 - Robotika. Eko Didik Widianto. Sistem Komputer - Universitas Diponegoro

RESPON SISTEM DITINJAU DARI PARAMETER KONTROLER PID PADA KONTROL POSISI MOTOR DC

PERCOBAAN 10 RANGKAIAN DIFFERENSIATOR DAN INTEGRATOR OP-AMP

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penelitian sebelumnya berjudul Feedforward Feedback Kontrol Sebagai

pengendali Konvensional Time invariant P Proportional Kp

BAB II LANDASAN TEORI. berefisiensi tinggi agar menghasilkan produk dengan kualitas baik dalam jumlah

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT Flow Chart Perancangan dan Pembuatan Alat. Mulai. Tinjauan pustaka

BAB VI PENGUJIAN SISTEM. Beberapa skenario pengujian akan dilakukan untuk memperlihatkan

SIMULATOR RESPON SISTEM UNTUK MENENTUKAN KONSTANTA KONTROLER PID PADA MEKANISME PENGENDALIAN TEKANAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Pengukuran Teknik STT Mandala 2014

PENGENDALI PID. Teori kendali PID. Nama Pengendali PID berasal dari tiga parameter yg secara matematis dinyatakan sebagai berikut : dengan

5/12/2014. Plant PLANT

UJI PERFORMANSI PADA SISTEM KONTROL LEVEL AIR DENGAN VARIASI BEBAN MENGGUNAKAN KONTROLER PID

BAB 5 KOMPONEN DASAR SISTEM KONTROL

BAB II KONSEP PERANCANGAN SISTEM KONTROL. menyusun sebuah sistem untuk menghasilkan respon yang diinginkan terhadap

SISTEM KENDALI OTOMATIS Analisa Respon Sistem

Kesalahan Tunak (Steady state error) Dasar Sistem Kontrol, Kuliah 6

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Sensor Ultrasonik HCSR04. Gambar 2.2 Cara Kerja Sensor Ultrasonik.

Implementasi Modul Kontrol Temperatur Nano-Material ThSrO Menggunakan Mikrokontroler Digital PIC18F452

BAB 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB II ANALOG SIGNAL CONDITIONING

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA HASIL SIMULASI. III, aspek keseluruhan dimulai dari Bab I hingga Bab III, maka dapat ditarik

BAB III DINAMIKA PROSES

1.1 DEFINISI PROSES KONTROL

PENGUKURAN TEKNIK TM3213

BAB I PENDAHULUAN. menggerakan belt conveyor, pengangkat beban, ataupun sebagai mesin

Operational Amplifier Karakteristik Op-Amp (Bagian ke-satu) oleh : aswan hamonangan

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III METODA PENELITIAN

1. Mahasiswa dapat mengetahui blok diagram sistem. 2. Mahasiswa dapat memodelkan sistem kendali analog

2. Pengendalian otomat dengan tenaga hydroulic

SISTEM KENDALI POSISI MOTOR DC Oleh: Ahmad Riyad Firdaus Politeknik Batam

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM

Pengkondisian Sinyal. Rudi Susanto

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tugas akhir dilaksanakan pada bulan Februari 2014 hingga Januari

SISTEM KENDALI DIGITAL

Syahrir Abdussamad, Simulasi Kendalian Flow Control Unit G.U.N.T Tipe 020 dengan Pengendali PID

SISTEM KONVERTER DC. Desain Rangkaian Elektronika Daya. Mochamad Ashari. Profesor, Ir., M.Eng., PhD. Edisi I : cetakan I tahun 2012

BAB II TEORI. Proses pengaturan atau pengendalian suatu atau beberapa besaran

Penguat Operasional OP-AMP ASRI-FILE

LAPORAN SIMULASI SISTEM WATER LEVEL CONTROL DENGAN PID DAN SILO TO SILO DENGAN MENGGUNAKAN KONVEYER

Bab III. Operational Amplifier

DAN RANGKAIAN AC A B A. Gambar 4.1 Berbagai bentuk isyarat penting pada sistem elektronika

BAB II LANDASAN TEORI. membandingkan tersebut tiada lain adalah pekerjaan pengukuran atau mengukur.

MAKALAH. Sistem Kendali. Implementasi Sistim Navigasi Wall Following. Mengguakan Kontrol PID. Dengan Metode Tuning Pada Robot Beroda

MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA Bagian II

Dosen Pembimbing : Hendro Nurhadi, Dipl. Ing. Ph.D. Oleh : Bagus AR

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA PALEMBANG

PENGUKURAN TEKNIK TM3213

Adaptive Fuzzy Untuk Menala Parameter PID pada Sistem Pengaturan Berjaringan. Nastiti Puspitosari L/O/G/O NETWORKED CONTROL SYSTEM (NCS)

1.1. Definisi dan Pengertian

TUJUAN Setelah menyelesaikan perkuliahan ini peserta mampu:

Rancang Bangun Sistem Akuisisi Data dan Pengendalian Suhu Pada Rumah Kaca Menggunakan Pengendali Tipe PID Berbasis Mikrokontroler AT89S51 ABSTRACT

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 4 NO. 1 SEPTEMBER 2011

Dasar Dasar Sistem kontrol

PENGENDALIAN KECEPATAN MOTOR DC MENGGUNAKAN SENSOR ENCODER DENGAN KENDALI PI

= JALINAN DARI BERBAGAI BAGIAN YANG BERINTERAKSI SISTEM DITANDAI DENGAN MASUKAN DAN KELUARAN

ANALISIS PENERAPAN PID CONTROLLER PADA AVR (AUTOMATIC VOLTAGE REGULATOR)

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Voltage sag atau yang sering juga disebut. threshold-nya. Sedangkan berdasarkan IEEE Standard Voltage Sag

RANCANG BANGUN SISTEM PENGONTROL SUHU MENGGUNAKAN HYBRID

TRANSISTOR SEBAGAI SAKLAR DAN SUMBER ARUS

PERCOBAAN 3 RANGKAIAN OP AMP

BAB VF, Penguat Daya BAB VF PENGUAT DAYA

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Gambar 2.20 Rangkaian antarmuka Hall-Effect

Gambar 2.1. simbol op amp

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DESAIN SISTEM KENDALI MELALUI TANGGAPAN FREKUENSI

ISTILAH-ISTILAH DALAM SISTEM PENGATURAN

BAB III PERANCANGAN ALAT

RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI KECEPATAN KURSI RODA LISTRIK BERBASIS DISTURBANCE OBSERVER

Pengukuran Teknik STT Mandala

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB V KALIBRASI DAN PENGUJIAN SISTEM 72 BAB V KALIBRASI DAN PENGUJIAN SISTEM

Transkripsi:

4. Sistem engendali lektronik 4.. endahuluan engendali elektronik pada saat ini terdapat di hampir setiap aplikasi kontrol. Oleh karena itu, pemahaman terhadap alat pengendali ini menjadi sangat penting bagi para pelaksanan tugas di lapangan. Bagian ini akan membahas jenis-jenis pengendali elektronik yang meliputi karakteristik dan realisasi analognya. Jenis-jenis pengendali yang akan dibahas meliputi pengendali tidak kontinyu (pengendali On-Off) dan pengendali kontinyu, yaitu,,, D dan kombina-sinya. engendali-pengendali ini sangat populer di dunia industri karena kesederhanaan dalam realisasi dan keandalan kinerjanya. hususnya pengendali kontinyu, walaupun tergolong konvensional, namun mempunyai kelebihan dibandingkan dengan yang terbaru, yakni kemudahannya dalam penalaan (tunning) parameter-parameter controlnya percobaan. ni semua membuat kebanyakan praktisi kontrol sangat mengenal pengendali kontinyu jenis ini. 4..2 engendali Tidak ontinyu engendali tidak kontinyu (discontinuous controller) mempunyai keluaran yang berubah tidak terus menerus ketika ada sinyal error (kesalahan). Je-nis pengendali ini sangat penting untuk dipahami karena di samping banyak digunakan dalam kontrol proses, juga menjadi dasar dari pengendali kontinyu. 4.. engendali Dua-osisi engendali duaposisi adalah pengendali yang paling dasar dalam sistem kendali. arena karakteristiknya, pe-ngendali ini sangat populer dengan sebutan pengendali On-Off. engendali ini paling sederhana dan paling murah namun mencukupi untuk aplikasi-aplikasi di mana tidak diperlukan kete-litian yang sangat tinggi. Walaupun tidak dapat dibuat persamaan matematisnya, namun fungsinya bisa ditulis sebagai: 00% p > 0 = 0% p < 0 dimana : : eluaran pengendali (%) p: sinyal error (%) Jika harga yang terukur (x) melampaui setpoint (w), pengendali akan memberikan keluaran penuh atau On. Seba-liknya, apabila x kurang dari w maka pengendali akan memberikan keluaran nol atau Off. Misalnya, seterika listrik yang menggunakan bimetal sebagai pengendali panasnya. Bila temperatur seterika melebihi setpointnya, maka seterika akan off, sebaliknya bila tempe-raturnya lebih rendah dari setpoint, maka akan on. Gambar 4. Bilah-bimetal sebagai pengendali on-off Zona Netral Dalam penerapan pengendali duaposisi, terdapat overlap ketika p naik 286

melewati nol atau turun melewati nol. Dalam daerah ini tidak ada perubahan pada keluaran pengendali. Seperti terlihat pada Gambar 4.4 bahwa sampai suatu harga perubahan kenaikan error sebesar Dp di atas nol, keluaran pengendali tidak berubah keadaan. ada penurunan, Dp di bawah nol sebelum pengendali berubah ke )%. Jadi, ada daerah 2 Dp di mana keluaran pengendali tidak berubah keadaan. Daerah tersebut disebut zona-netral (neutral zone) atau gap-diferensial. Gap ini harus diper-timbangkan betul dalam penentuannya untuk menghindari perubahan keadaan yang berlebihan pada keluaran pengendali 00 > = 50 - < < 0 < - ni berarti bahwa selama error ada di antara dan n, pengendali akan tetap pada setting nominal keluaran pengendali 50%. Jika error melebihi atau lebih, keluaran akan naik menjadi 00%. Jika error lebih rendah dari atau lebih rendah lagi, maka keluaran pengendali akan turun ke 0%. Gambar berikut ini mengilustrasikan karakteristik pengendali ini. Gambar 4.5 Aksi pengendali tiga posisi Gambar 4.4 Zona netral arena karakteristik yang dimiliki oleh pengendali ini sehingga pengendali ini juga disebut pengendali On-Off dan simbolnya seperti ditunjukkan oleh Gambar 4.4. 4... engendali tiga-posisi engendali tiga-posisi merupakan pengembangan dari pengendali duaposisi. engembangan ini dimaksudkan untuk mengurangi cycling yang berlebihan dan juga untuk mengurangi kondisi over-shoot dan undershoot yang dimiliki oleh pengendali dua-posisi. ada pengendali tiga-posisi berlaku: 4..4 engendali ontinyu 4..4. engendali roporsional () engendali proporsional () merupakan pengembangan dari pengendali dua posisi (On-Off). ada pengendali duaposisi, keluaran pengendali adalah 00 % atau 0% tergantung pada sinyal error atau sinyal yang masuk ke pengendali. Jika sinyal error lebih besar dari daerah netral ma-ka keluaran pengendali adalah 00%, sebaliknya bila sinyal error lebih kecil dari daerah netral maka keluaran pengendali 0%. engendali mempunyai keluaran yang bersifat kontinyu, dimana antara masukan dan keluaran mempunyai hubungan 287

satu-satu. ni berarti bahwa perubahan yang terjadi pada keluarannya akan mengikuti perubahan sinyal errornya. Sudah tentu, perubahan keluaran pengendali, dalam prakteknya selalu dibatasi oleh kondisi saturasi minimum dan maksimum yang telah ditetapkan dari perangkat keras yang digunakan. Fungsi Alih Hubungan antara input dan output dari suatu pengendali disebut fungsi-alih (transfer function). Fungsi alih dari pengendali ada bermacam-macam, misalnya ada yang menggunakan fungsi waktu (t), fungsi Laplace (s), dan dalam bentuk persentase (%). Oleh karena itu, bila dijumpai adanya perbedaan simbol dan notasi dalam penggambarannya tidak ada masalah. Dalam buku ini fungsi alih yang digunakan adalah bentuk persentase. Di mana hubungan input-output dapat ditulis: = dimana: = keluaran (%) = penguatan proporsional = error (%) Diagram kotak pengendali proporsional digambarkan sebagai: a) atau b) Gambar 4.7 Diagram kotak pengendali Bila, untuk keperluan tertentu, pada saat = 0 dikehendaki adanya keluaran sebesar (0) persamaan () menjadi: U = + ( 0) Hubungan keluaran dan masukan pengendali dapat digambarkan sebagai berikut: Tanggapan step Gambar 4.6 Tanggapan step pengendali Diagram kotak Gambar 4.8 Hubungan keluaran dan masukan pengendali roporsional roporsional Band ada aplikasi pengendali proporsional, penguatan proporsional sering dinyatakan dengan proporsional band (B). roportional Band (B) adalah batas-batas harga sinyal masukan (error) (dalam %) yang menyebabkan 288

keluaran pengendali 0-00 %. Sebagai contoh, pengendali akan memberikan sinyal keluaran U= 0 00 %, diperlukan sinyal = 0-50%. engendali ini mempunyai B=00/50=2. Untuk U = 0-00%, diperlukan sinyal =0-25%, maka B=00/25=4. Offset arakteristik penting dari pengendali ini adalah timbulnya kesalahan sisa (residual error) yang tetap pada titik operasinya apabila terjadi perubahan beban. esalahan ini disebut offset. Jadi offset itu merupakan perbedaan nilai variabel yang dikontrol terhadap setpoint ketika sistem berada keadaan tunak (steady state). Offset tidak menguntungkan sistem karena kondisi tunak suatu sistem, idealnya, tidak ada offset. Untuk melihat bagaimana offset timbul, perhatikan sebuah sistem ketika beban nominal pengendali pada 50% dan error 0 seperti ditunjukkan pada Gambar 4.9. Gambar 4.9 Offset pengendali Jika terjadi perubahan error, sistem merespon dengan mengubah keluaran pengendali untuk mengembalikan error ke 0. Akan tetapi, hal ini tidaklah mungkin terjadi, karena pada pengendali, hubungan antara inputoutput adalah satu-satu. Untuk memperkecil offset dapat dilakukan dengan memperbesar penguatan sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 4.9 erbesaran ini tidak dapat dilakukan sembarang karena akan menyebabkan terganggunya kestabilan sistem. Maka dari itu pemakaian pengendali jenis ini terbatas pada sistem yang dalam operasinya tidak terjadi perubahan besar pada variabel yang dikendalikan. 4..4.2 engendali integral () ada sistem kendali dengan menggunakan pengendali proporsional (), telah diketahui bahwa untuk memperoleh suatu keluaran pada suatu harga tertentu (selain harga awal (0)) diperlukan sinyal error. Akibatnya, akan menimbulkan kesalahan statis atau offset, yaitu perbedan antara harga yang diinginkan (setpoint) dengan harga keluaran sistem yang dikontrol pada kondisi tunak. Atas dasar alasan inilah membuat alat pengendali proporsional hanya cocok untuk sistem yang variabelnya tidak memerlukan perubahan besar atau relatif tetap. engendali integral () merupakan pengembangan dari pengendali dan pengendali multi-posisi. Dibandingkan pengendali, pengendali ini mampu menghilangkan kesalahan statis. Dibandingkan pengendali multiposisi, pengendali ini mempunyai sifat dimana antara keluaran dan masukan mempunyai hubungan kontinyu. engendali ini juga tidak mempunyai histerisis atau zona netral seperti pada pengendali multi-posisi. ada pengendali yang menggunakan aksi integral, laju perubahan keluaran pengendali berbanding lurus dengan sinyal error atau keluaran pengendali berbanding lurus terhadap integrasi sinyal error. Secara matematis pengendali ini dinyatakan sebagai: 289

dimana : d = ( t) = t ( t) + (0) 0 atau d = tingkat perubahan output pengendali (%/s) = penguatan integral (persentase output pengendali / second / persen error) (t) = sinyal kontrol (0) = keluaran pengendali pada t=0 oefisien integral dari pengendali ini, dalam hal tertentu dinyatakan dengan waktu integral, T dalam satuan detik (second) yang merupakan invers dari atau T =/ a) atau b) Gambar 4.0 Diagram kotak pengendali arakteristik pengendali Gambar 4. Tanggapan pengendali terhadap error step tetap Gambar 4.2 Laju perubahan keluaran terhadap error Gambar 4. menunjukkan bahwa ketika sinyal error positif dan konstan, keluaran pengendali akan naik terus. enaikan ini akan terus berlangsung sampai batas maksimum yang ditetapkan. Laju kenaikan keluaran pengendali, disamping ditentukan oleh error, juga oleh penguatan integrasinya. Semakin tinggi penguatan integrasi semakin tinggi pula laju kenaikan sinyal keluaran pengendali atau kecuraman kenaikan keluaran akan semakin tajam bila penguatan integrasinya semakin besar. Gambar 4.2 menjelaskan bagaimana alat ini meniadakan kesalahan statis (offset). Laju perubahan keluaran d/ tergantung pada sinyal error dan penguatan. Untuk yang sama, laju perubahan keluaran akan semakin tinggi bila penguatan semakin tinggi. Untuk yang sama, d/ akan semakin tinggi bila semakin besar. Laju perubahan akan positif bila errornya positif dan sebaliknya. eadaan istimewa adalah ketika =0, dimana d/ sama dengan nol. ni berarti bahwa dalam keadaan konstan. Sifat inilah yang membedakan dengan pengendali. Dibalik keuntungan yang dimiliki, pengendali mempunyai kekurangan, yakni kelambatannya dalam merespon 290

error. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4., bahwa untuk mencapai harga keluaran seperti yang diinginkan diperlukan waktu yang relatif lama. Faktor ini yang menimbulkan peristiwa transient dalam sistem kendali. 4..4. engendali diferensial (D) eluaran pengendali diferensial (derivatif) tergantung pada "kecepatan" perubahan error. engendali ini tidak bisa digunakan sendiri karena bila error sama dengan nol atau tetap maka keluaran pengendali akan nol = dimana T D D d D + (0) : penguatan :waktu derivatif derivatif atau d :kecepatan perubahan error (%/s) (0) : keluaran tanpa perubahan error Gambar 4. eluaran pengendali fungsi perubahan error Gambar 4.4 Diagram kotak pengendali D 4..5 engendali Campuran ebutuhan sistem biasanya tidak bisa dipenuhi oleh salah satu pengendali secara individu. Untuk itu, pada umumnya dilakukan dengan menggabungkan dua atau tiga pengendali, seperti, D, dan D. enggabungan pengendali ini diharapkan dapat saling melengkapi, kelemahan yang satu bisa ditutupi oleh kelebihan yang lain. 4..5. engendali Sesuai dengan namanya pengendali ini merupakan gabungan antara pengendali proporsional () dan integral (). Hubungan antara keluaran dan masukan pengendali dapat dituliskan sebagai: = + + (0) bisa dinyatakan dengan waktu integral T, di mana T =/. euntungan pengendali ini adalah adanya pengendali yang mampu merespon dengan cepat mengkompensasi kelambatan 29

pengendali, dan pengendali yang dapat menghilangkan kesalahan inheren pada sehingga dengan kombinasi ini akan memberikan tanggapan kontrol yang lebih baik dibandingkan kontrol individunya. Atau dengan lain perkataan, pada pengendali ini offset pengendali dapat dihilangkan oleh pengendali dan kelambatan pengendali dapat dikompensasi oleh kecepatan pengendali sehingga kondisi optimal bisa dicapai. erlu diingat bahwa penguatan proporsional juga mengubah penguatan sistem secara keseluruhan, namun penguatan integral dapat diatur secara terpisah. ngat bahwa offset terjadi pada, pada pengendali, fungsi integral akan memberikan keluaran pengendali yang baru walaupun errornya nol setelah perubahan beban. Tanggapan step 4..5.2 engendali roporsional- ntegral-derivatif (D) engendali D merupakan pengendali yang terhandal dibanding dengan alat pengendali yang telah dibahas sebelumnya namun lebih kompleks. engendali ini dapat diaplikasikan pada hampir "semua" plant. engendali D merupakan hasil penggabungan dari pengendali,, dan D. Aksi pengendali adalah hasil penjumlahan ketiga aksi pengendali individu tersebut. Dengan penggabungan ini diharapkan mampu mengoptimalkan per-formansi sistem kendali, yaitu dengan mengkompensasi kelemahan dan meningkatkan kinerjanya. Banyak jenis konfigurasi pengendali D. Berikut ini adalah salah satu konfigurasi dasar namun mempunyai kinerja yang cukup handal. onfigurasi pengendali ini dapat dituliskan: t d = + + D atau = + T t 0 0 + T D d Gambar 4.5 Tanggapan step pengendali Diagram kotak Gambar 4.6 Diagram kotak pengendali 292

Gambar 4.7 Tanggapan step dan diagram kotak pengendali D On, dan V L sebagai Off dan output nya adalah output komparator atau V out. Output komparator berubah keadaan bila tegangan V sama dengan harga setpoint V S. Rangkaian ini akan On bila : Dengan pengendali ini kita dapat mengeliminasi offset dan sensitif terhadap adanya perubahan error. Gambar 4.8 Realisasi pengendali dua-posisi 4..6 engendali lektronik Rangkaian-rangkaian berikut meng ilustrasikan metoda implementasi aksi pengendali dengan menggunakan rangkaian op-amp. 4..6. engendali dua-posisi engendali dua-posisi dapat diimplementasi secara elektronik dengan banyak variasi. Banyak sistem pengkondisian udara (AC) dan pemanas ruangan meng-gunakan pengendali dua-posisi yang dibuat dari bilah bimetal. mplementasi pengendali dua-posisi atau on-off dengan menggunakan op-amp dengan zona netral yang dapat diatur-atur ditunjukkan pada Gambar 4.8. Di sini sinyal input pengendali dianggap sebagai tegangan dengan V H sebagai V R = dan Off bila tegangan H V R S sama V R V R R V L = S out R 2 dengan Lebar zona netral antara V L dan V H dapat diatur dengan mengatur R 2. Lokasi relatifnya dari zona ini dibuat dengan menvariasikan tegangan setpoint V S. Zona netral dihitung berdasarkan perbedaan antara V H dan V L. 4..6.2 engendali mplementasi pengendali ini memerlukan rangkaian yang mempunyai tanggapan yang diberikan oleh: = 29

Jika kita perhatikan sinyal kontrol dan error dalam bentuk tegangan, rangkaian op-amp pada Gambar 4.9. menunjukkan pengendali proporsional. Dalam hal ini analogi dari respons pengandali adalah: R2 Vout = V R Tegangan masukan V dan keluaran V out dapat diskala dengan mudah sehingga keluaran penguat 0-V maks untuk sinyal keluaran 0-00%. Gambar 4.9. Realisasi pengendali Begitu juga dengan sinyal error bisa diset dan disesuaikan dengan sinyal error secara penuh. enguatan proporsional diatur melalui R 2 /R. R2 Vout = V R ; dimana V out = sinyal kontrol = R 2 /R V = sinyal error 4..6. engendali ntegral engendali integral mempunyai karakteristik dengan bentuk persamaan: ( t) = ( t ) Fungsi ini diiplementasikan dalam bentuk op-amp seperti pada gambar berikut. Hubungan antara input-output dapat dituliskan sebagai: V out = V ; = RC Nilai dari RC dapat diatur untuk mendapatkan waktu integrasi yang diinginkan. onstanta waktu integrasi menentukan laju kenaikan keluaran pengendali jika error adalah tetap. Jika dibuat terlalu tinggi, keluaran akan meningkat sangat cepat yang bisa mengakibatkan overshoots dan osilasi. Gambar 4.20 Realisasi pengendali ( t) = ( t) V out = RC = V ; 4..6.4 engendali Diferensial engendali diferensial tidak pernah digunakan sendirian karena tidak bisa memberikan keluaran ketika tidak ada error. Walaupun begitu, di sini ditunjukkan implementasinya dengan menggunakan op-amp untuk dapat digunakan dalam bentuk kombinasinya dengan pengendali yang lain. ersamaan kontrol pengendali ini dapat dituliskan sebagai: d = D, di mana: = keluaran pengendali (%) D = konstanta waktu derivatif = error (%). mplementasi fungsi ini dengan op-amp ditunjukkan pada Gambar 4.2. Di sini resistansi R ditambahkan untuk kestabilan rangkaian menghandapi perubahan sinyal yang berubah sangat cepat. Tanggapan dari rangkaian ini terhadap perubahan input yang lambat adalah: 294

dv Vout = D di mana: V out = tegangan keluaran D = R 2 C=waktu derivatif (detik) V = teganggan error Nilai R dipilih sehingga rangkaian akan tetap stabil pada frekuensi tinggi dengan mengeset 2pfR <<, di mana f adalah frekuensi dalam Hz. Gambar 2.2 Realisasi pengendali Diferensial Rangkaian-rangkaian implementasi yang telah dijelaskan adalah implementasi dari pengendali pengendali individu. Namun moda individu seperti ini jarang digunakan dan sistem kendali mengingat banyaknya kelebihan bentuk konfigurasinya. Berikut ini menjelaskan bagaimana bentuk-bentuk konfigurasi pengendali-pengendali kombinasi dari pengendali-pengendali individu ini. 4..6.5 engendali mplementasi pengendali ditunjukkan pada Gambar 4.22 (termasuk inverter). Dalam implementasi ini didefinisikan bahwa pengendali meliputi penguatan proporsional dalam integralnya. sehingga hubungan inputoutput dapat dituliskan: R2 R2 Vout = + V + V R R R2C engesetan proporsional band dilakukan melalui =R 2 /R dan waktu integrasi melalui =/R 2 C Gambar 4.22 Realisasi pengendali 4..6.6 engendali D Moda kombinasi pengendali D merupakan kombinasi yang hebat. ombinasi ini diimplementasikan dengan rangkaian seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.2 (rangkaian ini perlu ditambahkan inverter). Hubungan input-outputnya adalah: V out R = R R + R R2 = V R + R in dvout C R2 + R + R di mana: = R 2 /(R +R ), D = R C dv RC Sudah tentu pengendali ini mempunyai offset dari pengendali proporsional karena pengendali diferensialnya tidak bisa menghilangkan aksi reset. Gambar 4.2 Realisasi pengendali D 4..6.7 engendali D engendali yang paling sempurna dari yang telah dibicarakan sebelumnya adalah pengendali ini dimana tanggapan proporsional, integral dan in 295

diferensial digunakan secara bersama dalam merespon masukan. Hubungan input-output pengendali ini adalah: = + + D d eadaan error nol tidak menjadi masalah karena pengendali integral akan mengakomodasi secara otomatik untuk offset dan setting nominal. mplementasi pengendali ini disajikan dalam Gambar 4.24. Hubungan input-output pengendali dirumuskan sebagai: R2 R2 R2 dvin Vout= Vin + Vin RD CD R R RC + R Di mana R dipilih dari 2pR C D <<T untuk kestabilan. Dalam hal ini: R 2 = ; D = RDCD; = R RC Contoh: Sebuah pengendali D mempunyai proporsional band 50% dengan waktu integral 0,2 menit dan waktu diferensial 0,5 menit. Tentukan harga-harga dalam rangkaian pada Gambar 4.24 Solusi: roporsional band 50 %, berarti =2, sehingga bila misalkan kita pilih R = ko dan R 2 = 2 ko. Waktu integral, T = 0,2 menit berarti = /T Sehingga bila dipilih C = 50 µf, maka : 2s R = = 240kΩ 6 50x0 F Waktu diferensial T D =0,5 menit=0 s, maka R D C D = 0 s. Jika kita gunakan C D = 50 µf, maka R D = 0,6 MO emudian dipilih R untuk kestabilan R << TD π C 0s = = 95 2 π k 50 Ω 6 2 D Jadi, R harus dipilih jauh lebih rendah dari 95 ko. mplementasi dari pengendalipengendali ini dapat direalisasi dengan mengguna-kan rangkaian op-amp standard. Sudah tentu disini perlu menentukan skala tegangan pada daeran operasi dipilih untuk rangkaian. Demikian juga dengan keluarannya, yang ada di sini dalam bentuk tegangan. Sinyal ini bisa dikonversikan menjadi sinyal-sinyal standar yang dibutuhkan oleh sistem. Gambar 4.24 mplementasi pengendali D F = s 2 296