BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Development Of Cutting Tools Design Simplicia Turmeric By Using TRIZ Method

Bandung, Jalan Ganesha no.10, Bandung 40132, Jawa Barat, Indonesia. Indonesia. Barat, Indonesia. MT 35

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 3 LANDASAN TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Proses pengolahan simplisia di Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar I-1

PENGEMBANGAN ALAT PEMOTONG KUNYIT UNTUK SIMPLISIA DI KLASTER BIOFARMAKA KARANAGANYAR

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II KAJIAN LITERATUR

PERANCANGAN JUMBO BAG DENGAN PENDEKATAN QFD DAN TRIZ DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS (Studi Kasus : Bongkar Muat Pupuk di PT. Petrokimia Gresik)

SKRIPSI PERANCANGAN ALAT PENGERING KELAPA DENGAN METODE TRIZ

BAB 2 LANDASAN TEORI

PERTEMUAN 4 (PENGEMBANGAN DAN PEMILIHAN KONSEP) SELASA & KAMIS, 1 & 3 NOVEMBER 2016

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

Pengembangan Produk Mainan Anak Sebagai Media Penunjang Perkembangan Keterampilan Motorik Halus dengan Metode QFD dan TRIZ

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perencanaan mesin adalah proses atau usaha yang dilakukan tiap

KONSEP PRODUK PENURUNAN KONSEP PRODUK 15/11/2015

Analisis Mesin Pengiris Kentang Spiral Otomatis ANALISIS MESIN PENGIRIS KENTANG SPIRAL OTOMATIS

PERANCANGAN dan PEMBUATAN SPRAYER PUPUK ELEKTRIK

C. Program. Berdasarkan klaim khasiat, jumlah serapan oleh industri obat tradisional, jumlah petani dan tenaga

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN I-1

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2012 sampai Mei 2012 di

PERANCANGAN PRODUK. Chapter 4. Gasal 2014

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

LAMPIRAN I DATA PENGAMATAN. 1. Data Uji Kinerja Alat Penepung dengan Sampel Ubi Jalar Ungu

PERANCANGAN PROTOTYPE RANGKA STANDAR UNTUK TUGAS BESAR MATA KULIAH OTOMASI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK INDUSTRI ITS

RANCANG BANGUN MESIN PERAJANG TEMBAKAU

UPAYA PERBAIKAN KUALITAS LAYANAN PADA INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH ROEMANI DENGAN METODE SERVQUAL DAN TRIZ

BAB III METODOLOGI Diagram Alur Produksi Mesin. Gambar 3.1 Alur Kerja Produksi Mesin

kesamaan routing produk pada layout fasilitas. Layout module memperluas ide dari cell dalam cellular layout dan departemen dalam process layout

III. METODE PEMBUATAN. Tempat pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ini di bengkel las dan bubut

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

PERBAIKAN PROSES PERANCANGAN PRODUK INDUSTRIAL LATEX GLOVES DENGAN PENDEKATAN CONCURRENT ENGINEERING TOOLS

JUDUL LAPORAN HASIL LITBANG INSENTIF PENINGKATAN KEMAMPUAN PENELITI DAN PEREKAYASA

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PELANGGAN SEBAGAI AWAL IDE PRODUK

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

Proses Kebutuhan Pelanggan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

PERANCANGAN STANDAR PROSEDUR OPERASI

TUGAS AKHIR. Disusun Oleh: : Tri Hastomo Nim : D

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

METODOLOGI PENELITIAN

BAB III PROSES MANUFAKTUR. yang dilakukan dalam proses manufaktur mesin pembuat tepung ini adalah : Mulai. Pengumpulan data.

BAB IV PROSES PEMBUATAN, HASIL PEMBUATAN

RANCANG BANGUN MESIN PENGIRIS BAWANG BAGIAN PERHITUNGAN RANGKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

E.12. Penetapan harga pokok produksi (HPP) produk rimpang temulawak...

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

Mesin Pencacah Cengkeh

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

AKTIVITAS PENYUSUNAN KONSEP

PERANCANGAN MESIN PENCACAH BOTOL PLASTIK DENGAN MENGGUNAKAN METODE VDI Oleh TRIYA NANDA SATYAWAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah

BAB III DISAIN PRODUK

BAB I PENDAHULUAN. penelitian, perumusan masalah, tujuan serta manfaat dari penelitian yang

Jurnal Ilmiah TEKNIKA ISSN: PENGARUH PUTARAN PISAU TERHADAP KAPASITAS DAN HASIL PERAJANGAN PADA ALAT PERAJANG SINGKONG

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

REDESAIN EGRANG MENGGUNAKAN INTEGRASI ECQFD, TRIZ DAN AHP

PERAKITAN ALAT PENGAYAK PASIR SEMI OTOMATIK

PERAJANG MEKANIK KRIPIK

BAB 3 REVERSE ENGINEERING GEARBOX

ANALISIS MESIN PENGIRIS TEMPE DENGAN VARIASI SUDUT PISAU TERHADAP KETEBALAN IRISAN

BABI PENDAHULUAN. Perancangan Produk Pemotong Daun Bawang

Bab 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah

USULAN PERBAIKAN KUALITAS PELAYANAN NASABAH BANK X MENGGUNAKAN DIMENSI BANKING SERVICE QUALITY DENGAN METODE SERVQUAL DAN TRIZ

PENDEKATAN DESAIN Kriteria Desain dan Gambaran Umum Proses Pencacahan

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

METODOLOGI PENELITIAN

Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Tingkat Kesulitan Berjalan Indonesia Perkotaan + Perdesaan Laki-laki + Perempuan

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II LANDASAN TEORI

PERANCANGAN STASIUN PENGAJARAN INTERAKTIF YANG BERBIAYA MURAH

Desa Mandiri Berbasis Ecovillage

OPTIMALISASI PEMANFAATAN PEKARANGAN MELALUI PENGEMBANGAN TANAMAN BIOFARMAKA UNTUK MENINGKATKAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT DI KABUPATEN KARANGANYAR

PENERAPAN ALAT PENCAMPUR BUMBU DI SENTRA INDUSTRI KECIL KERIPIK TEMPE SANAN

Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering. Alat yang digunakan dipilih dengan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Volume sampah setiap harinya terus bertambah banyak sampah begitu saja di

BENGKEL JAYA MANDIRI UTAMA SURABAYA - INDONESIA

BAB III PERANCANGAN ULANG BELT CONVEYOR B-W600-6M DENGAN KAPASITAS 9 TON / JAM

ABSTRAK. Keywords: Es Puter, QFD, Industri kecil

RANCANG BANGUN ALAT PEMBUAT MIE SKALA RUMAH TANGGA (PROSES PEMBUATAN) LAPORAN AKHIR

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

II. PASCA PANEN KAYU MANIS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini membahas mengenai konsep dan teori yang digunakan dalam penelitian, sebagai landasan dan dasar pemikiran untuk membahas serta menganalisa permasalahan yang ada. 2.1 Klaster Biofarmaka Karanganyar Pada sub bab ini akan dijelaskan tentang gambaran Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar. 2.1.1 Gambaran Umum Klaster Biofarmaka Karanganyar Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu sentra tanaman biofarmaka di Jawa Tengah, yang menyediakan bahan baku jamu tradisional yang jumlahnya melimpah. Tanaman biofarmaka ini dapat tumbuh baik secara alami maupun dibudidayakan oleh para petani baik perorangan maupun kelompok. Menurut data dari Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan, Kabupaten Karanganyar memiliki luas lahan tanaman obat-obatan sekitar 200 Ha (BPP Jateng, 2010). Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan potensi biofarmaka yang cukup besar Pemerintah Kabupaten Karanganyar membentuk Klaster Biofarmaka pada bulan Maret 2011. Klaster ini beranggotakan gabungan dari beberapa kelompok tani biofarmaka di Kabupaten Karanganyar antara lain: 1. Kelompok Tani Sumber Makmur dari Kecamatan Jumantono. 2. Kelompok Tani Madu Asri II dari Kecamatan Ngargoyoso. 3. Kelompok Tani Kridotani dari Kecamatan Kerjo. 4. Kelompok Tani Aneka Karya Lestari dari Kecamatan Mojogedang. 5. Kelompok Tani Trisno Asih dari Kecamatan Jumapolo. 6. Kelompok Tani Sedyo Tekad dari Kecamatan Jatipuro. 7. Kelompok Tani Ngudi Mulyo dari Kecamatan Kerjo. 8. Kelompok Tani Tani Waras dari Kecamatan Jatipuro 9. Kelompok Tani Ngudi Makmur I dari Kecamatan Jumantono. 10. Kelompok Tani Kismo Mulyo dari Kecamatan Jumapolo. II-1

2.1.2 Visi, Misi, dan Tujuan Klaster Biofarmaka Visi dari Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar adalah mewujudkan Kabupaten Karanganyar sebagai sentra biofarmaka di Indonesia. Misi dari Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan luas lahan, ketrampilan budi daya toga, dan kualitas produksi. 2. Kerjasama dengan pemerintah dan pelaku pasar serta pengembangan usaha berbasis teknologi dan pemberdayaan masyarakat. Tujuan dari Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan jumlah produksi dan penghasilan petani. 2. Terbentuknya home industry biofarmaka berupa simplisia, tepung/serbuk, dan jamu instan. 3. Meningkatkan kesejahteraan para anggota klaster dan masyarakat. 2.1.3 Struktur Organisasi Klaster Biofarmaka Struktur organisasi Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar adalah sebagai berikut: Gambar 2.1 Struktur Organisasi Klaster Biofarmaka Sumber: Klaster Biofarmaka, 2011 II-2

Adapun tugas, wewenang, serta tanggung jawab pada setiap struktur organisasi Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar adalah sebagai berikut: 1. Ketua a. Bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang ada di klaster. b. Mengkoordinir semua kelompok tani yang menjadi anggota klaster. c. Menyelesaikan dan mencari solusi atas semua permasalahan yang terjadi dari hulu ke hilir yang meliputi budidaya, panen, pasca panen, pengolahan, pemasaran, permodalan, serta sarana dan prasarana yang dapat menunjang produktivitas klaster. 2. Wakil Ketua I dan II Membantu kerja ketua untuk mengkoordinir semua kegiatan yang ada di klaster. 3. Sekretaris Mencatat dan melaporkan semua kegiatan dari hulu ke hilir berdasarkan laporan dari tupoksi (tugas pokok dan fungsi) terkait kegiatan. 4. Wakil Sekretaris Membantu kerja sekretaris dalam hal kearsipan laporan semua kegiatan yang dilaksanakan di klaster. 5. Bendahara Mencatat semua pengeluaran yang berkaitan dengan keuangan termasuk permodalan. 6. Produksi Usaha Mengkoordinir semua kegiatan yang terkait dengan budidaya dan pengolahan pasca panen. 7. Pengolahan dan Pemasaran Mengkoordinir dan memfasilitasi semua kegiatan yang terait dengan pemasaran. 8. Usaha Membantu kelancaran kegiatan setiap unit usaha yang terdapat di klaster. II-3

2.1.4 Produktivitas Klaster Biofarmaka Jumlah anggota Klaster Biofarmaka di Kabupaten Karanganyar adalah 400 petani biofarmaka. Berbagai komoditas yang dihasilkan adalah sebagai berikut: Tabel 2.1 Produktivitas Klaster Biofarmaka No. Jenis Komoditas Luas (Ha) Jumlah Hasil Panen (Kg) 1. Jahe 77 544.000 2. Kunyit 94 940.000 3. Kencur 16 93.000 4. Temulawak 39 365.000 5. Lengkuas 31 287.000 6. Kunyit Mangga 5 45.000 7. Kunyit Putih 3 38.000 8. Bengle 5 30.000 9. Temu Ireng 5 30.000 10. Temu Kunci 3 18.000 Sumber: Klaster Biofarmaka, 2011 2.2 Perancangan Produk atau Alat Perancangan adalah suatu proses yang bertujuan untuk menganalisis, menilai dan memperbaiki serta menyusun suatu sistem, baik untuk sistem fisik maupun nonfisik yang optimum untuk waktu yang akan datang dengan memanfaatkan informasi yang ada (Nurmianto, 2003). Fungsi perancangan memainkan peranan penting dalam mendefinisikan bentuk fisik produk agar dapat memenuhi kebutuhan pelanggan (Ulrich dan Epinger, 2001). Langkah-langkah pembuatan perancangan akan mengikuti sebagian metode Ulrich dan Epinger. Langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. Identifikasi kebutuhan pelanggan 2. Penentuan spesifikasi Rancangan 3. Penyusunan konsep perancangan 4. Pembuatan prototipe 2.2.1 Identifikasi Kebutuhan Pelanggan Proses identifikasi kebutuhan pelanggan merupakan bagian yang integral dari proses pengembangan produk, dan merupakan tahap yang mempunyai II-4

hubungan paling erat dengan proses penurunan konsep dan menetapkan spesifikasi produk. Menurut Ulrich dan Epinger, (2001), ada 5 tahap proses identifikasi kebutuhan pelanggan yaitu: 1. Mengumpulkan data mentah dari pelanggan Ada beberapa metode yang biasa digunakan antara lain : wawancara, focus discussion, observasi produk saat digunakan kemudian data-data yang diperoleh didokumentasikan bisa berupa rekaman suara,catatan,rekaman video, dan foto Kebutuhan dapat diidentifikasikan lebih efisien dengan mewawancarai sekelompok pengguna yang disebut pengguna utama. Menurut Von Hippel, (1988), pengguna utama adalah pengguna yang berpengalaman dan berpandangan lebih maju kedepan. Pengguna seperti ini berguna sebagai sumber data karena mereka seringkali mampu mengkomunikasikan kebutuhan yang mereka rasakan karena selama ini telah berkutat dengan ketidaksempurnaan produk sekarang. Mereka kadang telah menemukan solusi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dengan memfokuskan pengumpulan data terhadap pengguna utama maka dapat mengidentifikasikan kebutuhan sebenarnya bagi pengguna utama. Berikut adalah beberapa tuntutan untuk melakukan interaksi yang efektif dengan pengguna a. Biarkan wawancara mengalir apa adanya Jika pengguna mengungkapkan informasi yang berharga jangan terpaku dengan tuntutan wawancara. Ingat, tujuan kita adalah untuk mengumpulkan data penting mengenai kebutuhan pengguna, jangan batasi wawancara pada jangka waktu tertentu b. Gunakan perangsang visual dan alat peraga Bawalah produk-produk yang sekarang yang berhubunga dengan produk yang sedang dikembangkan. Pada akhir sesi wawancara, pewawancara boleh menunjukkan beberapa konsep awal dari produk untuk mendapatkan reaksi awal pengguna. II-5

c. Hindari hipotesa awal tentang teknologi produk Seringkali pengguna membuat asumsi yang terlalu jauh tentang konsep produk yang mereka harapkan dapat memenuhi kebutuhan mereka. Pada situasi ini pewawancara harus mengindari diskusi tentang bagaimana produk akhirnya akan didesain. Ketika pengguna mengusulkan teknologi atau ciri-ciri produk tertentu, pewawancara harus menyelidiki dan menggali kebutuhan yang mendasari pelanggan mengungkapkan usulannya itu. d. Biarkan pengguna mendemonstrasikan produk Jika wawancara dilakukan pada lingkungan pengguna produk, demonstrasi biasanya cukup berguna dan dapat memberikan informasi baru mengenai produk. e. Bersiaplah dengan kejutan atau ekspresi yang tercetus dari kebutuhan yang tersembunyi Jika pengguna mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan, telusuri dengan melakukan pertanyaan ulang. Seringkali pertanyaan yang tidak direncanakan akan mengungkapkan kebutuhan yang tersembunyi. f. Amati informasi non verbal Proses yang diuraikan ditujukan untuk menghasilkan produk yang lebih baik. Namun kata-kata tidak selalu merupakan cara yang terbaik untuk mengkomunikasikan kebutuhan yang berhubungan dengan sifat fisik produk. 2. Menginterpretasikan data mentah menjadi kebutuhan pelanggan Kebutuhan pelanggan diekspresikan sebagai pernyataan tertulis dan merupakan hasil interpretasi kebutuhan yang berupa data mentah yang diperoleh dari pelanggan. Daftar kebutuhan pelanggan merupakan susunan final dari semua kebutuhan yang diperoleh dari wawancara yang telah dilakukan. 3. Mengorganisasikan kebutuhan menjadi hirarki Jika hasil langkah 1 dan 2 menghasilkan pernyataan kebutuhan yang besar sehingga cukup sulit untuk digunakan bagi aktivitas selanjutnya maka II-6

dilakukan langkah 3. Tujuan pada langkah 3 adalah mengorganisasikan kebutuhan-kebutuhan menjadi beberapa hirarki. 4. Menetapkan kepentingan relative setiap kebutuhan Daftar hirarki saja tidak memberikan informasi mengenai tingkat kepentingan relatif yang dirasakan pelanggan terhadap kebutuhan yang berbeda-beda. Langkah ke-4 proses identifikasi kebutuhan pelanggan adalah menetapkantingkat kepentingan relative kebutuhan yang dihasilkan pada langkah 1 sampai 3. Hasil langkah 4 ini adalah bobot kepentingan berupa nilai untuk kebutuhan. 5. Merefleksikan hasil dan proses Langkah terakhir pada metode identifikasi pelanggan adalah menggambarkan kembali hasil dan proses. 2.2.2 Penentuan Spesifikasi Rancangan Pada proses pengembangan produk terlebih dahulu membuat spesifikasi produk, lalu mendesain, dan membuat rancangan yang memenuhi spesifikasi tersebut. Terdapat dua tahap dalam penentuan spesifikasi rancangan. Yang pertama adalah membuat target spesifikasi. Target spesifikasi dibuat setelah kebutuhan pelanggan diidentifikasi tetapi sebelum konsep produk dikembangkan. Proses pembuatan target spesifikasi terdiri dari 4 langkah 1. Menyiapkan gambar metrik dan menggunakan metric-metrik kebutuhan jika diperlukan 2. Mengumpulkan informasi tentang pesaing 3. Menetapkan nilai target ideal yang dapat dicapai tiap metric 4. Mereflesikan hasil dan proses Yang kedua adalah menentukan spesifikasi akhir. Ketika telah memilih salah satu konsep dan mempersiapkan tahap pengembangan dan perancangan desain selanjutnya, spesifikasi diperiksa lagi. Spesifikasi yang awalnya hanya berupa pernyataan target dalam selang nilai tertentu diperbaiki dan dibuat lebih tepat. Terdapat 5 langkah dalam menentukan spesifikasi akhir antara lain 1. Mengembangkan model-model teknis suatu produk 2. Mengembangkan model biaya suatu produk 3. Memperbaiki spesifikasi II-7

4. Menentukan spesifikasi yang sesuai 5. Mencerminkan hasil dan proses 2.2.3 Penyusunan Konsep Perancangan Konsep produk adalah sebuah gambaran atau perkiraan mengenai teknologi, prinsip kerja, dan bentuk produk (Cross, 1994). Konsep produk adalah sebuah gambaran singkat bagaimana produk memuaskan pelanggan. Sebuah konsep biasanya diekspresikan sebagai sketsa atau sebuah model 3 dimensi secara garis besar dan seringkali disertai oleh sebuah uraian gambar. Proses penyusunan konsep dimulai dengan serangkaiaan kebutukan pelanggan dan spesifikasi target dan diakhiri dengan terciptanya konsep produk sebagai pilihan akhir. Penyusunan konsep yang baik memberikan keyakinan bahwa seluruh kemungkinan telah digali. Pendekatan terstruktur pada penyusunan konsep akan mengurangi kesalahan jika dilakukan dengan cara: mendorong pengumpulan informasi dari banyak sumber yang terpisah, dan dengan menyediakan sebuah mekanisme untuk solusi-solusi parsial yang terintegrasi. Metode penyusunan konsep terdiri dari lima langkah. 1. Memperjelas masalah Memperjelas masalah mencakup pengembangan sebuah pengertian umum dan pemecahan sebuah masalah menjadi sub masalah 2. Pencarian secara eksternal Pencarian secara eksternal bertujuan untuk menemukan pemecahan keseluruhan masalah dan sub masalah yang ditemukan selama langkah memperjelas masalah. Sedikitnya terdapat 5 cara untuk mengumpulkan informasi dari sumber eksternal, yaiutu: mewawancara pengguna utama, konsultasi dengan pakar,pencarian paten, pencarian literature dan menganalisis. 3. Pencarian secara internal Pencarian internal merupakan penggunaan pengetahuan dan krativitas perancang untuk menghasilkan konsep solusi. Pencarian bersifat internal dalam arti semus pemikiran yang timbul dari langkah ini dihasilkan dari ilmu pengetahuan yang sudah ada. II-8

4. Menggali secara sistematis Sebagai hasil dari kegiatan pencarian secara eksternal dan internal, perancang telah mengumpulkan beberapa konsep yang merupakan solusi untuk sub-sub masalah. 5. Mereflesikan pada hasil dan proses Meskipun langkah reflesi diletakkan paling akhir, reflesi sebaiknya dilakukan pada keseluruhan proses. 2.2.4 Pembuatan Prototipe Prototipe didefinisikan sebagai sebuah penaksiran produk melalui satu atau lebih dimensi yang menjadi perhatian (Ulrich dan Epinger, 2001). Dalam proyek pengembangan produk, prototipe digunakan untuk empat tujuan,yaitu: pembelajaran, komunikasi,penggabungan dan tonggak. Sekarang dalam menampilkan sebuah rancangan sebagian besar berupa gambar model komputer 3D. keuntungan model computer 3D meliputi kemampuan untuk secara otomatis memperhitungkan sifat fisik, seperti massa dan volume. 2.3 Teori Resheniya Izobretatelskikh Zadatch (TRIZ) TRIZ adalah akronim dari bahasa Rusia Teoriya Resheniya Izobretatelskikh Zadatch (The Theory of Inventive Machine). Dalam perspektif Six Sigma, TRIZ adalah metodologi yang dipergunakan untuk pegembangan dan peningkatan daya-daya kreativitas dan daya-daya inovatif. Kreativitas diperlukan dalam merumuskan berbagai pemecahan masalah, implementasi trial and error yang dilakukan secara konvensional. Untuk memahami TRIZ dengan baik, ada baiknya kita ketahui sejarah yang melatar belakanginya. Metode ini pertama kali dikembangkan oleh Genrikh Altshuller, seorang insinyur teknik mesin, penemu dan investigator hak paten angkatan laut Uni Sovyet. Setelah Perang Dunia ke II, Altshuller diberi tugas oleh pemerintah Uni Sovyet untuk studi mengenai hak paten di seluruh dunia dan mencari strategi teknologi bagi Uni Soviet mengenai hal itu. Ia mencatat bahwa beberapa prinsip yang sama telah digunakan berkali-kali oleh IV 15 industri yang sama sekali berbeda (sering kali terpaut bertahun-tahun) untuk memecahkan masalah yang sama (Ullmann, 1997). Altshuller menyusun ide bahwa penemuan bisa II-9

diorganisasikan, dan dikumpulkan berdasarkan fungsi daripada sistem indeks yang lazim pada saat itu. Dari temuannya itu, Altshuller mulai mengembangkan basis pengetahuan lanjutan, yang mengandung banyak sekali temuan bidang fisika, kimia, dan efek geometri bersamaan dengan dasar-dasar keteknikan, fenomena dan pola evolusi penemuan ilmiah. Sejak 1950-an, dia telah menerbitkan banyak buku dan artikel keteknikan dan mengajarkan TRIZ kepada ribuan pelajar Uni Sovyet. Studi pendahuluan Altshuller pada akhir 1940-an berkisar pada 400.000 paten. Hari ini jumlah paten yang dikumpulkan mencapai 2,5 juta paten. Data yang sekian banyak telah menuntun beragam metode TRIZ. Model dasar TRIZ menggunakan 5 buah konsep, yaitu: 1. Kontradiksi, menyelesaikan sebuah masalah berarti membuang kontradiksi. 2. Sumber daya, sumber daya tersedia tetapi tidak dipakai, energi, sifat atau benda lain dalam atau didekat sistem dapat digunakan untuk menyelesaikan kontradiksi. 3. Hasil akhir ideal, dicapai pada saat kontradiksi diselesaikan. Fitur yang diinginkan harus diperoleh tanpa kompromi. 4. Pola evolusi, dapat digunakan untuk mendapatkan ide baru dan memprediksi sistem. 5. Prinsip-prinsip inovatif, memberikan isyarat konkrit bagi solusi. Model dasar untuk penyelesaian masalah dalam TRIZ diilustrasikan pada gambar berikut. II-10

Gambar 2.2 Model dasar TRIZ. Secara umum, Altshuller mengelompokkan pemecahan permasalahan yang ada pada literatur paten ke dalam lima level : Level 1 adalah solusi nyata (tidak ada inovasi) dihasilkan dalam perbaikan yang sederhana. Level 2 adalah perbaikan dengan penemuan yang memerlukan penyelesaian kontradiksi teknis. Level 3 adalah penemuan di dalam paradigm rancangan yang memerlukan penyelesaian kontradiksi fisik. Level 4 adalah penemuan di luar paradigma rancangan memerlukan teknologi baru dari bidang pengetahuan yang berbeda. Level 5 adalah menemukan fenomena baru. Sebelum dilakukan pengolahan kontradiksi dalam TRIZ, dibuat hubungan fungsional antar elemen untuk penentuan kebutuhan teknis tiap elemen. Dalam TRIZ terdapat dua permasalahan kontradiksi, yaitu technical contradiction dan physical contradiction. Technical contradiction adalah suatu kasus dimana jika mencoba meningkatkan suatu parameter sistem, aspek lain akan mengalami penurunan. Pada technical contradiction terdapat suatu tabel petunjuk yang berguna untuk pemecahan solusi. commit Menggunakan to user metode TRIZ, memungkinkan II-11

untuk membangkitkan konsep pengurangan efek negatif dan mempebaiki kinerja desain yang ada. Untuk menyelesaikan konflik itu, Altshuller menyusun 40 inventive principles dan 39 problem parameters, sebagai berikut: Tabel 2.2 40 inventive principles No Principles No Principles 1 Segmentation 21 Skipping 2 Taking out 22 Blessing in disguise 3 Local quality 23 Feedback 4 Asymmetry 24 Intermediary 5 Merging 25 Self-service 6 Universality 26 Copying 7 Nested doll 27 Cheap short-living 8 Antiweight 28 Mechanical substitution 9 Preliminary antiaction 29 Pneumatics and hydraulics 10 Preliminary action 30 Flexible shells and thin films 11 Beforehand cushioning 31 Porous materials 12 Equipotentiality 32 Color changes 13 The other way around 33 Homogeneity 14 Spheroidality 34 Discarding and recovering 15 Dynamics 35 Parameter changes 16 Partial or excessive actions 36 Phase transitions. 17 Another dimension 37 Thermal expansion 18 Mechanical vibration 38 Strong oxidants 19 Periodic action 39 Inert atmosphere 20 Continuity of useful action 40 Composite materials. Sumber : Yang dan S. El Haik (2009) II-12

Tabel 2.3 39 problem parameters No Principles No Principles 1 Weight of moving object 21 Power 2 Weight of nonmoving object 22 Waster of energy 3 Length of moving object 23 Waster of substance 4 Length of nonmoving object 24 Loss of information 5 Area of moving object 25 Waster of time 6 Area of nonmoving object 26 Amount of substance 7 Volume of moving object 27 Reliability 8 Volume of nonmoving object 28 Accuracy of measurement 9 Speed 29 Accuracy of manufacturing 10 Force 30 Harmful factors acting on object 11 Tension, pressure 31 Harmful side effects 12 Shape 32 Manufacturablity 13 Stability of object 33 Convenience of use 14 Strength 34 Repairability 15 Durability of moving object 35 Adaptability 16 Durability of nonmoving object 36 Complexity of device 17 Temperature 37 Complexity of control 18 Brightness 38 Level of automation 19 Energy spent by moving object 39 Productivity 20 Energy spent by nonmoving object Sumber : Yang dan S. El Haik (2009) Physical contradiction merupakan suatu kontradiksi yang mengacu pada karakteristik suatu elemen dari suatu sistem. Jadi kontradiksi fisik ini mengacu kepada bentuk fisik suatu elemen dalam sistem. Penjelasan kontradiksi fisik yang terjadi pada pisau pemotong akan dijabarkan pada sub bab berikutnya. Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan physical contradiction, langkah pertama adalah mengidentifikasi permasalahan kontradiksi yang terjadi. Langkah kedua yang dilakukan adalah menemukan solusi dengan menggunakan 4 pendekatan separation. 4 pendekatan tersebut sebagai berikut : II-13

1. Separation in space Maksud dari separation ini adalah suatu bagian pada sebuah objek mempunyai sifat P, akan tetapi pada bagian lain mempunyai sifat yang berlawanan. 2. Separation in time Maksud dari separation ini adalah pada suatu periode waktu, sebuah objek mempunyai sifat P, akan tetapi pada periode lain mempunyai sifat yang berlawanan. 3. Separation between component Maksud dari separation ini adalah suatu komponen memiliki sifat P, akan tetapi pada komponen lain mempunyai sifat yang berlawan. 4. Separation between component and set of the component Metode ini terdapat pada suatu komponen yang telah dibuat, yang mana setiap komponen harus mempunyai satu sifat, tetapi keseluruhan komponen mempunyai sifat yang berlainan. 2.4 Macam-Macam Alat Pemotong Kunyit Pada sub bab ini akan membahas berbagai macam alat pemotong kunyit yang sudah ada dipasaran maupun hasil dari penelitian. 1. Mesin Pemotong Kunyit (UD. Bina Unggul Sejahtera) Mesin ini digunakan untuk memotong kunyit, jahe, lengkuas serta bahan yang serupa, menjadi irisan tipis-tipis setebal kurang lebih 3-4 mm. Adapun gambar dan spesifikasi dari mesin pemotong ini sebagai berikut : II-14

Gambar 2.3 Mesin Pemotong Kunyit UD. Bina Unggul Sejahtera Spesifikasi : Motor & gear box Bearing: japan standard Daya: 1/ 4 HP ( 185 watt) Tebal rajangan: 3-4 mm Kapasitas: 80-100 Kg/ jam Bahan rangka: pipakotak Dudukan pisau: stainless steel 8mm Pisau: forged steel/ stainless steel Bahan body: mild steel 1.2 mm Dimensi ( PXLXT) : 50X50X150 cm 2. Mesin Perajang Jamu Kunyit Kencur Jahe (Reka Tehnikindo) Mesin ini berguna untuk memotong aneka rimpang mulai dari kunyit, kencur, jahe, temulawak dan lain-lain. Gambar dan spesifikasi mesin sebagai berikut : Gambar 2.4 Mesin Pemotong Kunyit Reka Tehnikindo II-15

Spesifikasi : Dimensi : 400 x 500 x 1250 mm Inlet dan out let : Stenliss Transmisi : Pulley dan v belt Kelengkapan : Roda 2 in Bahan frame : Besiprofilsiku 40 x 40 Penggerak : Motor bensin 5.5pk 3. Alat Pemotong Kunyit (Sony, 2013) Alat ini merupakan alat pemotong kunyit secara manual hasil dari penelitian Sony (2013). Gambar dan spesifikasi alat pemotong kunyit sebagai berikut : Gambar 2.5 Alat Pemotong Kunyit Sony Prabowo 2013 Spesifikasi : Bahan base frame : besi ST 37 Pisau : slicing knife stainless Batang pendorong : polypropylene (PP) Penjepit pisau : ring Penyangga batang pendorong : as motor bagian belakang PxLxT : 240x140x100 mm 2.5 Penelitian Terdahulu Prabowo (2013), merancangan alat pemotong simplisia kunyit untuk memenuhi standar kualitas Balittro Deptan Republik Indonesia. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk menghasilkan alat rancangan pemotong kunyit yang dapat menghasilkan simplisia membujur sesuai standar BALITRRO. Proses II-16

perancangan ini dimulai dari observasi langsung pada tempat penelitian yaitu di GAPOKTAN Sumber Makmur. Berdasarkan situasi dan kondisi pemotongan dalam pembuatan simplisia kunyit di GAPOKTAN Sumber Makmur yang belum sesuai dengan standar yang dapat diterima pabrik jamu, perlu dirancang alat potong yang dapat memenuhi standar BALITTRO. Metodologi penelitian Sony (2013), diawali identifikasi masalah meliputi studi literature dan studi lapangan. Identifikasi masalah dilakukan dengan wawancara dengan pengurus gabungan kelompok tani. Kemudian ditentukan kebutuhan pengguna dan kebutuhan teknis, penyusunan konsep perancangan, penentuan dimensi rancangan. Hasil dari penelitian ini adalah rancangan alat pemotong kunyit yang dapat menghasilkan simplisia membujur sesuai standar BALITRRO. Berdasarkan hasil pengujian prototipe diketahui bahwa alat pemotong kunyit yang dihasilkan sebenarnya sudah dapat mengakomodasi semua kebutuhan pengguna walaupun masih terdapat beberapa kelemahan terutama pisau pemotong. Pisau yang digunakan masih kurang regang dalam pemasangannya akibatnya pisau akan melengkung jika digunakan untuk memotong kunyit dengan ukuran yang besar. Namun demikian simplisia yang dihasilkan jauh lebih baik dibandingkan dengan hasil simplisia dengan alat penyerut yang ada sebelumnya. Lakshitta (2011), merancang jumbo bag menggunakan metode QFD dan TRIZ dalam upaya peningkatan produktivitas, studi kasus pada bongkar muat pupuk di PT. Petrokimia Gresik. PT. Petrokimia Gresik merupakan salah satu perusahaan penyedia pupuk terbesar di Jawa Timur. Dalam kegiatan distribusi pupuk, material handling merupakan suatu kegiatan yang dominan. Hal ini menjadi salah satu fokus perhatian perusahaan, sebab kegiatan bongkar muat tidak produktif. Hal yang tidak produktif tersebut dipicu oleh proses bongkar muat pupuk yang dilakukan secara manual oleh tenaga buruh. Atas dasar uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk merancang alat yang dapat meningkatkan produktivitas dari waktu bongkar muat. Alat ini berupa tas jumbo yang digunakan untuk menampung sekaligus 30 karung pupuk kemasan in bag. Jumbo bag tersebut berfungsi sebagai alat pengaman dan alat bantu material handling. Dengan demikian, pupuk tidak perlu ditata satu per satu oleh buruh. Perancangan jumbo bag commit ini disusun to user menggunakan metode Quality II-17

Function Deployment (QFD) dan Theoriya Resheniya Izobretatelskikh Zadatch (TRIZ). Metode QFD ini digunakan untuk menterjemahkan kebutuhan dan keinginan konsumen dalam karakteristik desain produk jumbo bag. Dari hasil identifikasi kebutuhan konsumen, dilakukan penyelesaian masalah kontradiksi yang ada dengan metode TRIZ. Dengan kedua metode di atas, dihasilkan jumbo bag yang mampu meningkatkan output standar bongkar muat sebesar 250 % dan mampu menghemat biaya shipment Rp. 333.117.368,86 per tahun. II-18