BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
|
|
|
- Shinta Irawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI Bab 2 ini berisi studi pustaka penelitian yang sudah pernah dilakukan sebelumnya dan telah dipublikasikan, baik berupa jurnal, thesis, ataupun buku dan dasar teori berisi teori-teori pendukung yang mendukung penelitian Tinjauan Pustaka Kualitas layanan merupakan salah satu faktor penunjang kesuksesan perusahaan. Penelitian yang dilakukan Sari (2013) di industri retail supermarket bahan bangunan Mitra 10 di Surabaya diawali dengan identifikasi variabel kualitas layanan melalui 33 variabel berdasarkan suara konsumen dan manajemen, pengukuran kualitas layanan melalui survei kepada 100 pelanggan. Hasil survei menunjukkan rata-rata performance adalah 2,93 dan importance adalah 4,65, sedangkan rata-rata kesenjangan atau gap performance dengan importance antara lain -1,85 untuk physical aspect, -1,81 untuk reliability, -1,62 untuk personal interaction, -1,75 untuk problem solving, dan -1,56 untuk policy. Berdasarkan hasil kesenjangan tersebut, dilakukan Importance-Performance Analysis (IPA) untuk mengetahui variabel yang menjadi prioritas perbaikan. Langkah selanjutnya adalah menggunakan metode TRIZ yang digunakan untuk perbaikan terhadap variabel yang menjadi prioritas perbaikan. Penelitian lain dilakukan oleh Erni, dkk. (2014) tentang peningkatan kualitas pelayanan di PT. XYZ cabang Pondok Indah dan Pondok Pinang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah SERVQUAL untuk menganalisis permasalahan yang terjadi berkaitan dengan kualitas layanan dan TRIZ untuk memecahkan permasalahannya. Penelitian lanjutan dilakukan pada 5 atribut yang memiliki nilai kesenjangan terbesar antara persepsi dan harapan pelanggan. Solusi untuk perbaikan kualitas pelayanan yaitu meletakkan nomor antrian pada ketinggian 1325 mm dan di depan pintu masuk, memisahkan dan mengklasifikasikan barang-barang yang akan dikirim menjadi beberapa kategori, merubah kertas HVS menjadi kertas dengan kualitas dan ketebalan yang baik dan menggunakan warna cerah seperti warna biru sebagai background pada papan informasi, memberikan pelatihan secara berkala kepada para staf, serta memberikan reward kepada staf yang memberikan pelayanan terbaik dan punishment pada karyawan yang memberikan pelayanan buruk. 5
2 Pendekatan inovatif yang baru berdasarkan metode TRIZ dan skala SERVQUAL digunakan untuk meningkatkan kualitas industri jasa kesehatan oleh Altuntas dan Yener (2012). Metode TRIZ telah digunakan secara luas di negara industri untuk memecahkan permasalahan perusahaan, sedangkan SERVQUAL digunakan untuk mengukur kualitas perusahaan yang bergerak disektor jasa. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan suatu metodologi untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dengan mengadaptasi skala pada metode SERVQUAL dan penjelasan analogis berdasarkan 39 parameter teknis TRIZ. Kuesioner digunakan sebagai instrumen penelitian dan disebarkan kepada 10 dokter di rumah sakit Universitas Ataturk, Turki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menggunakan pendekatan metode TRIZ memberikan sebuah solusi alternatif yang menjanjikan di masa depan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan jika melakukan studi lebih lanjut. Kesadaran masyarakat dan tingkat pendidikan yang semakin meningkat berdampak pada semakin tingginya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang berkualitas, salah satunya adalah pelayanan yang diberikan rumah sakit. Penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Harmawan (2012) dilakukan berdasarkan kritikan dari pelanggan mengenai turunnya kualitas layanan yang diberikan. Metode yang digunakan untuk mengukur kualitas layanan adalah metode SERVQUAL, sedangkan untuk pemecahan masalahnya menggunakan metode TRIZ. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tujuh variabel yang menjadi masalah yakni terjadi kesenjangan antara persepsi dengan ekspektasi pelanggan. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan IRJ RSM Roemani belum mampu memenuhi harapan pelanggan. Berdasarkan hasil analisis dengan metode TRIZ, solusi usulan perbaikan kualitas pelayanan yaitu perbaikan alur pelayanan, memasang papan informasi pada tempat-tempat strategis yang berisikan petunjuk pelayanan serta informasi terkait pelayanan yang terjadi, mempercayakan pelayanan kesehatan pada petugas medis (perawat dan dokter) yang profesional serta berpengalaman di bidangnya untuk membentuk brand image masyarakat, IRJ menyediakan sistem pendaftaran elektronik untuk pasiennya serta menggunakan sistem pencarian obat elektronik, dan IRJ melakukan penambahan tempat duduk ruang tunggu serta memperbaiki sistem penyimpanan rekam medis. Penelitian untuk memberikan usulan perbaikan kualitas pelayanan kesehatan di sebuah rumah sakit juga dilakukan Lin, dkk (2012). Atribut yang digunakan untuk 6
3 mengukur kualitas pelayanan meliputi Courtesy, Access, Communication, Understanding, Emphaty, Reliability, Tangibles, Responsiveness, Competence, dan Assurance. Untuk solusi perbaikan pada layanan rumah sakit digunakan metode TRIZ. Berdasarkan hasil penelitian, metode TRIZ dapat digunakan untuk memecahkan masalah khusus dari suatu studi atau kasus melalui pengembangan solusi secara umum. TRIZ dapat memberikan referensi penting untuk memecahkan masalah kepada perusahaan yang menyediakan layanan kesehatan. PT. Pelindo III Tanjung Perak Surabaya berusaha menyediakan layanan kepada pelanggan agar dapat memenuhi dan menjaga loyalitas pelanggan. Penelitian yang dilakukan Hariastuti dan Ardiansyah (2013) menghasilkan skor SERVQUAL dibawah rata-rata (-0,03746). Kriteria yang menjadi permasalahan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya adalah kapasitas ruang tunggu (0,16206), kenyamanan ruang tunggu (-0,15), keamanan bagasi pelanggan (-0,08232), kebersihan pelabuhan (-0,0616), perhatian personal pelanggan (-0,05896), dan kecepatan menangani keluhan pelanggan (-0,0504). Metode untuk menyelesaikan permasalahan ini menggunakan metode TRIZ yang memberikan 4 solusi kepada manajemen. Solusinya antara lain membedakan tugas tiap divisi berdasarkan tempat kerja yang ada di terminal pelanggan, proses pengukuran kualitas layanan harus dilakukan secara periodik, mengubah bentuk fisik ruangan (khususnya penambahan tempat duduk dan pendingin ruangan (AC) atau kipas angin). Tabel 2.1. menunjukkan tinjauan pustaka peta penelitian terdahulu yang telah dilakukan dengan menggunakan metode SERVQUAL, IPA (Importance- Performance Analysis), dan TRIZ. 7
4 Tabel 2.1. Peta Penelitian Terdahulu 8 No Penulis Industri Jasa Manufaktur Judul Tampilan Keandalan Jaminan Empathy Daya Tanggap Policy Personal Interaction Courtesy Access Communicatio n Understanding Competence 1 Yenny Sari Aplikasi Metode TRIZ 1. Servqual 2013 dalam Upaya Perbaikan 2. IPA v Kualitas Layanan (Studi - Kasus di Supermarket v v - - v v v TRIZ Bahan Bangunan Mitra 10 Surabaya) 2 Nofi Erni Iphov Kumala Sriw ana Wira Tri Yolanda Serkan Altuntas Engin Yener Diana Puspita Sari Andry Harmaw an 2012 v - Peningkatan Kualitas Pelayanan dengan Metode SERVQUAL dan TRIZ di PT. XYZ v v v An Approach Based on TRIZ Methodology and v - SERVQUAL Scale to Improve the Quality of v v Health-Care Service : A Case Study v - Usulan Perbaikan Kualitas Pelayanan Pada Instalasi Raw at Jalan dengan Metode SERVQUAL dan TRIZ (Studi Kasus di RS. Muhammadiyah Roemani) v v v v v v v v v v - - Kriteria Metode 1. Servqual 2. IPA 3. TRIZ 1. Servqual 2. TRIZ 1. Servqual 2. TRIZ 5 Shu-Ping Lin Chia-Pei Chen Jeng-Shyong Chen 2012 Using TRIZ-based Method v - to Improve Health Service Quality : A Case Study on v v v v v Hospital - - v v v v v 1. Servqual 2. TRIZ 6 Ni Luh Putu Hariastuti Dw i Rifki Ardiansyah 2014 v - Peningkatan Kualitas Pelayanan Kepada Pelanggan di Terminal Penumpang Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya v v v v v Servqual 2. TRIZ
5 2.2. Jasa Industri dibedakan menjadi 2, yaitu industri manufaktur dan jasa. Industri jasa mempunyai beberapa karakteristik yang membedakan antara industri manufaktur dan jasa, yaitu tidak berwujud, tidak dapat dipisahkan, keberagaman, dan tidak tahan lama (Kotler dan Armstrong, 2012). Di bawah ini penjabaran definisi jasa menurut ahli : a. Jasa atau pelayanan merupakan suatu kinerja penampilan, tidak berwujud dan cepat hilang, lebih dapat dirasakan daripada dimiliki, serta pelanggan lebih dapat berpartisipasi aktif dalam proses mengkonsumsi jasa tersebut. Dalam strategi pemasaran, definisi jasa harus diamati dengan baik, karena pengertiannya sangat berbeda dengan produk berupa barang. Kondisi dan cepat lambatnya pertumbuhan jasa akan sangat tergantung pada penilaian pelanggan terhadap kinerja yang ditawarkan oleh pihak produsen (Purnamawati, 2009). b. Menurut Katzan (2011), jasa adalah suatu interaksi antara entitas yang menciptakan nilai, entitas yang terlibat bisa individu atau bukan, seperti kantor pemerintah, lembaga pendidikan, dan beberapa bentuk otomatisasi. Interaksi jasa tersebut diartikan sebagai proses yang terdiri dari beberapa langkah teratur untuk mencapai tujuan yang dapat diidentifikasi. c. Kotler dan Armstrong (2012) menyatakan bahwa jasa adalah segala aktivitas dan berbagai kegiatan atau manfaat yang ditawarkan untuk dijual oleh suatu pihak kepada pihak lain yang secara esensial jasa ini tidak berwujud dan tidak menghasilkan perpindahan kepemilikan atas apapun Karakteristik Jasa Riset dan literatur yang telah dilakukan mengungkapkan bahwa jasa mempunyai beberapa karakteristik yang membedakan antara jasa dengan barang dan berdampak pada cara memasarkannya (Tjiptono, 2014), yaitu : a. Tidak Berwujud (Intangibility) Jasa berbeda dengan barang. Barang merupakan sesuatu yang berwujud atau nyata (obyek, alat, atau benda), sedangkan jasa adalah perbuatan, tindakan, pengalaman, proses, kinerja (performance), atau usaha. Jasa tidak dapat dilihat, dirasa, dicium, didengar, atau diraba sebelum dibeli dan dikonsumsi. 9
6 b. Tidak Terpisahkan (Inseparability) Barang pada umumnya diproduksi, kemudian dijual, dan dikonsumsi, sedangkan jasa terlebih dahulu dijual, kemudian diproduksi dan dikonsumi pada waktu dan tempat yang sama. c. Bervariasi (Variability) Jasa bersifat sangat variabel karena merupakan nonstandardized output, artinya banyak variasi bentuk, kualitas, dan jenis tergantung pada siapa, kapan, dan dimana jasa tersebut diproduksi. d. Mudah Lenyap (Perishability) Mudah lenyap mempunyai arti bahwa jasa tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan. Kondisi ini tidak menjadi masalah jika permintaan akan jasa bersifat konstan, karena staf dan kapasitas penyedia jasa bisa direncanakan untuk memenuhi permintaan. Namun sayangnya, permintaan pelanggan terhadap sebagian besar jasa sangat fluktuatif, misalnya pada saat musim Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, transportasi antarkota atau antarpulau akan melonjak atau meningkat. e. Tidak Berpemilik (Lack of Ownership) Lack of ownership merupakan perbedaan dasar antara jasa dan barang. Pada pembelian barang, konsumen mempunyai hak penuh atas penggunaan dan manfaat produk yang dibeli. Pelanggan mungkin hanya memiliki akses personal atas suatu jasa untuk jangka waktu yang terbatas, misalnya pada kamar hotel, bioskop, jasa penerbangan, dan pendidikan Klasifikasi Jasa Jasa dapat diklasifikasikan berdasarkan bermacam-macam kriteria (Tjiptono, 2014) : a. Segmen Pasar Jasa dapat dibedakan menjadi jasa yang ditujukan pada konsumen akhir (misalnya taksi, asuransi jiwa, dan pendidikan) dan jasa bagi konsumen organisasional (misalnya periklanan, jasa akuntansi dan perpajakan). b. Tingkat Keberwujudan Kriteria ini berhubungan dengan tingkat keterlibatan produk fisik dengan konsumen. Jasa menurut tingkat keberwujudan dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu Rented-goods services, Owned-goods services, dan Nongoods services. 10
7 c. Keterampilan Penyedia Jasa Dua tipe pokok jasa berdasarkan tingkat keterampilan penyedia jasa adalah : i. Professional services (seperti konsultasi manajemen, hukum, perpajakan, sistem informasi, pelayanan, dan perawatan kesehatan, dan jasa arsitektur). ii. Non-professional services (seperti jasa supir taksi, tukang parkir, pengantar surat, dan penjaga malam) d. Tujuan Organisasi Jasa Jasa dapat diklasifikasikan menjadi commercial services atau profit services (misalnya penerbangan, bank, penyewaan mobil, bioskop, dan hotel) dan non-profit services (seperti sekolah, yayasan dana bantuan, panti asuhan, panti wreda, perpustakaan umum, dan museum). e. Regulasi Jasa dapat dibagi menjadi regulated services (misalnya jasa pialang, angkutan umum, dan perbankan) dan non-regulated services (seperti jasa makelar, katering, kos dan asrama, serta pengecatan rumah). f. Tingkat Intensitas Karyawan Jasa dapat dikelompokkan menjadi 2 macam, yaitu equipment-based services (seperti cuci mobil otomatis, jasa sambungan telepon jarak jauh, mesin ATM, dan vending machine) dan people-based services (seperti pelatih sepak bola, satpam, dan konsultan hukum). g. Tingkat Kontak Penyedia Jasa dan Pelanggan Secara umum, jasa dapat dibagi menjadi high-contract services (seperti universitas, bank, dan pegadaian) dan low-contract services (bioskop dan jasa layanan pos) Kepuasan Pelanggan Kata kepuasan atau satisfaction berasal dari bahasa Latin, yaitu satis (cukup baik atau memadai) dan facio (melakukan atau membuat) (Tjiptono, 2014). Kepuasan dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu atau membuat sesuatu memadai. Ditinjau dari perspektif perilaku konsumen, istilah kepuasan pelanggan lantas menjadi sesuatu yang kompleks. Kepuasan pelanggan telah menjadi konsep sentral dalam teori dan praktik pemasaran, serta salah satu tujuan bagi aktivitas bisnis. Kepuasan pelanggan berkontribusi pada sejumlah aspek krusial, seperti terciptanya loyalitas pelanggan, meningkatnya reputasi perusahaan, 11
8 berkurangnya elastisitas harga, berkurangnya biaya transaksi masa depan, dan meningkatnya efisiensi dan produktivitas karyawan (Anderson dkk, 1997) 2.4. Persepsi Pelanggan Kualitas harus dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan. Hal ini berarti citra kualitas yang baik bukanlah berdasarkan sudut pandang atau persepsi penyedia jasa, melainkan sudut pandang atau persepsi pelanggan. Pelanggan lah yang mengonsumsi dan menikmati jasa perusahaan sehingga merekalah yang seharusnya menentukan kualitas jasa. Persepsi pelanggan terhadap kualitas jasa merupakan penilaian menyeluruh atas keunggulan suatu jasa (Tjiptono, 2014) 2.5. Uji Validitas Menurut Azwar (1986) validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu skala atau instrumen pengukur dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Pengujian yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran. Uji validitas dilakukan melalui perbandingan antara nilai r hitung terhadap r tabel.bila r hitung > r tabel, maka pertanyaan dalam kuesioner dinyatakan valid (Ghozali, 2005) Uji Reliabilitas Uji Reliabilitas digunakan untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan teknik Alpha-Cronbach. Alpha dikembangkan oleh Lee Cronbach pada 1951 untuk memberikan pengukuran yang konsisten pada suatu pengujian instrumen. Konsistensi pengukuran ini diekspresikan dengan angka antara 0 dan 1 (Tavakol dan Dennick, 2011). Menurut Mitchell dan Jolley (1996), nilai koefisien alfa lebih besar dari 0,7 artinya instrumen yang diuji dinyatakan reliabel. 12
9 2.7. Model SERVQUAL Model kualitas jasa yang populer dan hingga kini banyak dijadikan acuan dalam riset pemasaran adalah model SERVQUAL yang dikembangkan oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (Tjiptono, 2014). Pendekatan ini ditegaskan bahwa bila kinerja pada suatu atribut meningkat lebih besar daripada harapan atas atribut yang bersangkutan, maka kepuasan (dan kualitas jasa) pun akan meningkat. Model SERVQUAL meliputi analisis terhadap 5 gap yang berpengaruh terhadap kualitas jasa. Gap pertama adalah kesenjangan antara harapan konsumen dan persepsi manajemen terhadap harapan pelanggan (knowledge gap). Pihak manajemen perusahaan tidak selalu dapat memahami harapan pelanggan secara akurat, contohnya pada pengelola jasa katering bisa saja mengira bahwa para pelanggan lebih mengutamakan ketepatan waktu pengantaran makanan dan kuantitas porsi makanan yang ditawarkan, padahal mereka justru lebih mementingkan variasi menu yang disajikan. Gap kedua berupa perbedaan antara persepsi manajemen terhadap harapan konsumen dan spesifikasi kualitas jasa (standards gap). Manajemen mungkin mampu memahami secara tepat apa yang diinginkan pelanggan, namun mereka tidak menyusun standar kinerja yang jelas. Hal ini dapat dikarenakan tiga penyebab, yaitu tidak ada komitmen total manajemen terhadap kualitas jasa, kekurangan sumber daya, dan adanya kelebihan permintaan. Sebagai contoh, manajemen bank meminta para staf agar melayani nasabah dengan cepat tanpa merinci standar atau ukuran waktu pelayanan yang bisa dikategorikan cepat. Gap ketiga yaitu perbedaan antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian jasa (delivery gap). Gap ini dapat disebabkan beberapa faktor, antara lain karyawan kurang terlatih, beban kerja terlampau berlebihan, standar kinerja tidak dapat dipenuhi oleh karyawan, dan karyawan tidak bersedia memenuhi standar kinerja yang ditetapkan. Contoh permasalahan pada gap ketiga ini adalah jika para perawat diwajibkan meluangkan waktunya untuk mendengarkan keluhan atau masalah pasien, disisi lain mereka juga diharuskan melayani para pasien dengan cepat. Gap keempat berupa perbedaan antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal (communications gap). Seringkali harapan pelanggan dipengaruhi iklan dan pernyataan atau slogan yang dibuat perusahaan. Resikonya adalah harapan 13
10 pelanggan yang dapat membumbung tinggi dan sulit dipenuhi jika perusahaan memberikan janji yang terlalu muluk. Gap kelima membahas tentang kesenjangan antara jasa yang dipersepsikan dan jasa yang diharapkan (service gap). Gap kelima ini berkaitan dengan perspektif pelanggan terhadap lima dimensi kualitas jasa, yakni reliabilitas, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti fisik. Model SERVQUAL dibangun berdasarkan asumsi bahwa konsumen membandingkan kinerja atribut jasa dengan stadar ideal atau sempurna untuk masing-masing atribut (bila kinerja atribut melampaui standar, maka persepsi atas kualitas jasa keseluruhan akan meningkat dan sebaliknya). Kesimpulannya adalah model ini menganalisis gap antara dua variabel pokok, yakni jasa yang diharapkan dan jasa yang dipersepsikan atau dirasakan. Pengukuran kualitas jasa dalam model SERVQUAL didasarkan pada skala multiitem yang dirancang untuk mengukur harapan dan persepsi pelanggan, serta gap diantara keduanya dalam dimensi-dimensi utama kualitas jasa. Parasuraman dkk (1985) di awal penelitiannya mengidentifikasi sepuluh dimensi pokok, yakni reliabilitas, daya tanggap, kompetensi, akses, kesopanan, komunikasi, kredibilitas, keamanan, kemampuan memahami pelanggan, dan bukti fisik. Pada penelitian berikutnya, Parasuraman dkk (1988) menyempurnakan dan merangkum sepuluh dimensi tersebut. Kompetensi, kesopanan, kredibilitas, dan keamanan disatukan menjadi jaminan (assurance). Akses, komunikasi, dan kemampuan memahami pelanggan dikategorikan sebagai empati (empathy). Kesimpulannya, terdapat lima dimensi utama, yaitu : a. Reliabilitas (reliability), yakni kemampuan memberikan layanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan b. Daya tanggap (responsiveness), yaitu keinginan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan layanan dengan tanggap c. Jaminan (assurance), mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki staf (bebas dari bahaya, resiko, atau keragu-raguan) d. Empati (empathy), meliputi kemudahan dalam menjalin relasi, komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan pemahaman atas kebutuhan individual para pelanggan 14
11 e. Bukti fisik (tangibles), meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi. Penilaian kualitas jasa menggunakan model SERVQUAL mencakup perhitungan perbedaan diantara nilai yang diberikan para pelanggan untuk setiap pasang pernyataan berkaitan dengan harapan dan persepsi. Skor SERVQUAL untuk setiap pasang pernyataan, bagi masing-masing pelanggan dapat dihitung berdasarkan rumus berikut (Parasuraman dkk, 1988) : Skor SERVQUAL = Skor Persepsi Skor Harapan (2.1) 2.8. Penyusunan Skala Suliyanto (2005) menjabarkan beberapa skala yang digunakan dalam penelitian. a. Skala Likert s Skala Likert s digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi tentang fenomena sosial. Langkah-langkah dalam menyusun skala likert s adalah menetapkan variabel yang akan diteliti, menentukan indikator yang dapat mengukur variabel yang diteliti, menurunkan indikator tersebut menjadi pertanyaan (kuesioner). Jawaban setiap instrumen yang menggunakan skala Likert s mempunyai gradasi sangat positif sampai negatif. Item positif berarti angka terbesar diletakkan pada sangat setuju, sedangkan item negatif berarti angka terbesar diletakkan pada sangat tidak setuju. Pada setiap item pertanyaan diberi pilihan respon yang sifatnya tertutup, contohnya 3, 5, 7, 9, dan 11. Pilihan respon yang paling banyak digunakan adalah 5 pilihan respon saja karena jika respons terlalu sedikit, hasilnya terlalu kasar dan sebaliknya. Skala likert s sering disebut dengan likert s summated rating karena skor yang diberikan pada jawaban sering dijumlahkan. Contoh skala likert s dapat dilihat pada Tabel 2.2. Tabel 2.2. Skala Likert s (Sugiyono, 2009) No Skala Pengukuran Skor 1 Sangat setuju 5 2 Setuju 4 3 Netral 3 4 Tidak setuju 2 5 Sangat tidak setuju 1 15
12 b. Skala Guttman Skala Guttman memberikan respon tegas yang terdiri dari dua alternatif. Penelitian menggunakan skala ini digunakan jika peneliti menginginkan suatu jawaban tegas dari suatu permasalahan yang ditanyakan. Jawaban yang diperoleh dari skala ini dengan skor nilai 0 (nol) pada jawaban terendah dan nilai 1 (satu) pada jawaban tertinggi. Contoh skala Guttman adalah sebagai berikut : Apakah saudara puas dengan pelayanan pada rumah sakit ini? i. Tidak skor 0 ii. Puas skor 1 c. Skala Semantik Skala penelitian dapat digunakan untuk mengukur nilai, minat, sikap seseorang dan sebagainya yang berhubungan dengan ranah afektif. Salah satu skala yang dapat digunakan yaitu skala semantik diferensial. Semantik diferensial merupakan skala sikap yang digunakan untuk mengukur suatu konsep perangsang pada skala bipolar dengan tujuh langkah kesatuan dari satu ujung ke ujung yang lain (Margono, 2013). Skala ini dikembangkan oleh Osgood yang digunkaan untuk mengukur sikap, namun tidak berbentuk pilihan ganda maupun checklist tetapi tersusun pada garis kontinum dengan jawaban sangat negatif berada di bagian kiri dan jawaban paling positif dibagian kanan atau sebaliknya (Sugiyono, 2012). Menurut Margono (2013), langkah-langkah pengembangan dengan menggunakan skala semantik diferensial yaitu menentukan objek sikap yang akan diteliti, memilih pasangan ajektif dua kutub yang sesuai, menulis kata atau frasa dari objek sikap kemudian tulis kata atau frasa tersebut di bawahnya secara acak, membuat petunjuk pengisian bagaimana dan dimana responden memberi rating, dan menghitung skor responden antara 1 sampai dengan 7 atau sebaliknya. Contoh sederhana skala semantik diferensial : Cara mengajar Dosen anda Tepat waktu Tidak tepat waktu Menyenangkan Membosankan Dipahami Tidak dipahami Materi jelas Tidak jelas Banyak tugas Tidak ada tugas 16
13 2.9. Metode TRIZ TRIZ pertama kali dikembangkan oleh Genrich Altshuller pada tahun TRIZ adalah sebuah filosofi teknologi, cara berpikir sistematis untuk ide pengembangan kreatif, sistem yang mencakup teknologi pengetahuan, software untuk basis data, dan lain-lain. Singkatnya menyediakan prinsip-prinsip hebat dan alat yang konkret untuk pemikiran kreatif dalam rangkaian teknologi (Susilowati, 2006). Teoriya Resheniya Izobreatatelskikh Zadatch (TRIZ) mempunyai karakteristik yang berbeda dari pemecahan masalah lainnya karena metode TRIZ merupakan penyelesaian masalah sistematis tanpa kompromi (Chai dkk., 2005). TRIZ dapat juga diartikan pendekatan sistematik untuk memecahkan berbagai macam permasalahan secara kreatif. Seluruh proses penyelesaian masalah dibantu menggunakan alat TRIZ yang mengarahkan peneliti untuk mencari berbagai solusi. Alat ini sebelumnya telah terbukti berhasil mencari solusi dalam menyelesaikan masalah. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Altshuller ini dipetakan dan didapatkan sebuah sistem matriks yang terdiri dari 39 parameter dan 40 prinsip. Prinsipprinsip tersebut didapatkan setelah mengetahui parameter yang ingin dibandingkan, satu berupa parameter yang ingin diperbaiki dan satu parameter yang menjadi kendala. Tabel 2.3. dan 2.4. menyajikan 39 parameter teknik dan 40 prinsip standar yang dihasilkan dari penelitian tersebut. 17
14 Tabel 2.3. Tiga puluh sembilan Parameter Teknik TRIZ No Parameter Berat obyek bergerak (Weight of 1 moving object) Berat obyek tidak bergerak atau diam 2 (Weight of stationary object) Panjang obyek bergerak (Length of 3 moving object) Panjang obyek tidak bergerak (Length 4 of stationary object) Luas obyek bergerak (Area of moving 5 object) Luas obyek tidak bergerak (Area of 6 stationary object) Volume obyek bergerak (Volume of 7 moving object) Volume obyek tidak bergerak (Volume 8 of stationary object) No Parameter 21 Daya (Power) 22 Kehilangan energi (Loss of energy) Kehilangan material, unsur, inti, atau zat (Loss of substance) Kehilangan informasi (Loss of information) 25 Kehilangan waktu (Loss of time) 26 Kuantitas unsur atau material yang dikeluarkan (Amount of Substance) 27 Keandalan (Reliability) 28 9 Kecepatan (Speed) Gaya atau daya angkat (Force) Stres atau tekanan (Stress or pressure) Bentuk (Shape) Stabilitas komposisi obyek terhadap sistem (Stability of Object s Composition) Kekuatan (Strength) Durasi tindakan oleh obyek bergerak (Duration of action by a moving object) Durasi tindakan oleh obyek tidak bergerak (Duration of action by a stationary object) Suhu (Temperature) Intensitas pencahayaan (Illumination intensity) Penggunaan energi oleh obyek bergerak (Use of energy by moving object) Penggunaan energi oleh obyek tidak bergerak (Use of energy by stationary object) 38 Akurasi pengukuran (Measurement accuracy) Kepresisian manufaktur (Accuracy of Manufacturing) Bahaya eksternal yang memengaruhi obyek (External harm affects the object) Faktor berbahaya dari obyek yang dihasilkan (Object-generated harmful factors) Kemudahan pembuatan (Ease of Manufacture) Kemudahan pengoperasian (Ease of Operation) Kemudahan perbaikan (Ease of Repair) Fleksibilitas dalam beradaptasi (Adaptability of versatility) Kompleksitas perangkat (Device Complexity) Kesulitan mendeteksi dan mengukur (Difficulty of detecting and measuring) Tingkat otomasi (Extent of automation) 39 Produktivitas (Productivity) 18
15 Tabel 2.4. Empat Puluh Inventive Principle TRIZ No Prinsip No Prinsip Melewatkan tahapan yang tidak 1 Membagi struktur ke unit-unit tertentu perlu (Hurrying / skipping, rushing 21 yang sama (Segmentation) through) Tindakan periodik (Periodic action) 2 Pemisahan (Taking out / Separation) 22 Mengubah faktor-faktor yang berbahaya untuk perbaikan (Blessing in disguise) 3 Kualitas internal (Local Quality) 23 4 Merubah bentuk simetri menjadi asimetri (Symmetry change / asymmetry) 24 5 Menggabungkan obyek (Merging) Membuat obyek dapat bekerja lebih dari 1 pekerjaan (Multifunctionality / Universality) Menempatkan obyek pada obyek lain (Nesting) Menggabungkan obyek dengan benda lain (Weight compensation) Tidak membutuhkan tindakan awal (Preliminary counteraction) Pemberian tindakan awal (Preliminary action) Menyiapkan kondisi darurat terlebih dahulu (Beforehand compensation) Membuat obyek dalam satu level yang sama (Equipotentially) Lakukan tindakan sebaliknya / berlawanan (The other way round) Mengubah obyek datar menjadi bulat (Curvature increase / Spheroidality) Memberikan umpan balik (Feedback) Memberikan perantara (Intermediary / mediator) Membuat suatu obyek melayani dirinya sendiri (Self-service) 26 Menyalin obyek (Copying) Mengoptimalkan obyek (Dynamic parts) Memperbaiki obyek secara bertahap (Partial or excessive action) Mengubah dimensi obyek (Dimensionality change) Meningkatkan frekuensi (Mechanical vibration) Menggunakan obyek yang identik dan lebih murah (Cheap disposables) Mengganti alat mekanik menjadi sensorik (Mechanical interaction substitution) Pemanfaatan gas atau tenaga angin (Pneumatics and hydraulics) Kerangka yang mudah disesuaikan dan lapisan tipis (Flexible shell and thin films) Membuat material dapat menyerap (Porous materials) Mengubah warna (Optical property changes / Color changes) Membuat obyek dengan jenis atau sifat yang sama (Homogeneity) Membuang dan memulihkan (Discarding and recovering) Perubahan parameter (Parameter changes) Menggunakan fenomena yang menjadi masa fase transisi (Phase transitions) Penyesuaian obyek sesuai dengan musim (Thermal expansion) Meningkatkan mutu layanan (Strong oxidant / boosted interaction) 19
16 Tabel 2.4. Lanjutan No Prinsip No Prinsip Memisahkan obyek ke lingkungan 19 Tindakan periodik (Periodic action) 39 khusus (Inert atmosphere) 20 Kelanjutan dari tindakan yang berguna terhadap obyek (Continuity of useful action) 40 Menyediakan material pelengkap (Composite materials) Parameter-parameter pada Tabel 2.4. saling dibandingkan sehingga membentuk matriks kontradiksi. Cara menggunakan matriks tersebut yaitu membandingkan parameter yang ingin diperbaiki pada bagian baris (improving feature) dengan parameter yang menjadi kontradiksi pada bagian kolom (worsening feature) (Sari & Harmawan, 2012). Pada persilangan antara kedua parameter tersebut terdapat angka-angka yang merupakan angka dari 40 prinsip yang telah dijelaskan. Proses penyelesaian masalah menggunakan metode TRIZ memiliki tiga tahap, yaitu definisi permasalahan, solusi permasalahan, dan evaluasi solusi atau perbaikan yang telah dilakukan. Tahap pertama (mendefinisikan permasalahan) adalah proses menerjemahkan bahasa TRIZ sehingga memberikan informasi mendalam untuk penyelesaian masalah lebih lanjut. Tahap pertama ini terdiri dari 4 tahap, antara lain analisis situasi, memodelkan masalah, memformulasikan masalah, dan analisis hasil. Analisis situasi digunakan untuk melakukan analisis awal dan memperoleh informasi yang berguna tentang situasi masalah. Pemodelan masalah dibangun menggunakan diagram fungsi dengan menggunakan analisis fungsi. Memformulasikan masalah dilakukan dengan cara menguraikan masalah yang kompleks menjadi serangkaian masalah kecil berkorelasi, yang membuatnya lebih mudah untuk memecahkan permasalahannya. Tahap analisis hasil merupakan tahapan pemecahan permasalahan awal yang membutuhkan orang ahli dibidangnya. Beberapa solusi dapat diperoleh melalui analisis laporan masalah. Tahap kedua (solusi permasalahan) adalah solusi efektif yang mungkin muncul setelah mendefinisikan permasalahan. Tahap ini terdiri dari dua langkah, yaitu analisis kontradiksi dan eliminasi kontradiksi. Analisis kontradiksi bertujuan untuk mengidentifikasi dua komponen yang saling bertentangan, sedangkan eliminasi kontradiksi bertujuan untuk mengeliminasi kontradiksi secara efektif menggunakan 40 prinsip, matriks kontradiksi, 76 solusi standar, dan ARIZ, 20
17 dimana 40 prinsip merupakan salah satu teknik penyelesaian masalah TRIZ yang paling banyak digunakan. Tahap terakhir (evaluasi solusi) adalah memberikan sebuah solusi ideal yang bermanfaat tanpa membahayakan dan mengeluarkan biaya dalam memecahkan masalah. Jika pada tahap ketiga solusi belum ditemukan padahal sudah melakukan pengeliminasian kontradiksi atau muncul beberapa masalah baru setelah solusi perbaikan, proses pemecahan masalah akan diulang lagi ke tahap pertama. Berikut ini adalah model penyelesaian masalah menggunakan TRIZ secara keseluruhan. MAIN STAGES TRIZ TOOLBOX Problem Identification Redefine Problem Stage I : Problem Definition Situation Analysis Problem Modeling Problem Formulation Result Analysis Problem Formulator Tool-Object-Product Function Modeling Substance-Field Analysis Solution not found Stage II : Problem Resolution Contradiction Analysis Contradiction Elimination 40 Inventive Principles 4 Separation Principles 76 Standard Solutions ARIZ Stage III : Solution Evaluation Formulate Ideal Solution Prioritize Ideas Formulate Local Constraints Refine Ideas Ideal Final Result New Problem Occurs Selected Solutions Gambar 2.1. Model Penyelesaian Masalah untuk Desain Jasa Baru Menggunakan TRIZ (Chai dkk, 2005) 21
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pemasaran Menurut Abdullah (2014), pemasaran adalah suatu sistem dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Jasa Menurut Kotler dalam Nasution (2004:6) jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan kepada pihak lain, pada dasarnya tidak berwujud dan tidak
UPAYA PERBAIKAN KUALITAS LAYANAN PADA INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH ROEMANI DENGAN METODE SERVQUAL DAN TRIZ
E.3 UPAYA PERBAIKAN KUALITAS LAYANAN PADA INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH ROEMANI DENGAN METODE SERVQUAL DAN TRIZ Diana Puspita Sari *, Andry Harmawan Program Studi Teknik Industri, Fakultas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Pemasaran Pemasaran adalah proses dimana peruahaan menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan dengan tujuan menangkap nilai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pemasaran dan Pemasaran Jasa 2.1.1 Definisi Pemasaran Pemasaran pada umumnya merupakan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan
BAB 2 URAIAN TEORITIS
BAB 2 URAIAN TEORITIS A. Penelitian Terdahulu Penulis melihat penelitian terdahulu dari penelitian yang dilakukan oleh Monarita (2006) Pengaruh persepsi kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien rawat
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pengembangan ide dari hasil inventive principle yang telah dilakukan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut : a. Tingkat performansi
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. KONSEP DAN DEFINISI JASA Keanekaragaman makna dalam hal pemakaian istilah service dijumpai dalam literatur manajemen. Namun demikian, secara garis besar konsep service mengacu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan perpindahan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Jasa (Pelayanan) Menurut Kotler (2008) Jasa atau pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, pada
BAB 2 LANDASAN TEORI. Universitas Sumatera Utara
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kepuasan Pelanggan Perasaan puas pelanggan timbul ketika konsumen membandingkan persepsi mereka mengenai kinerja produk atau jasa dengan harapan mereka. Sementara itu kepuasan
BAB II LANDASAN TEORI. Instruksi-instruksi tersebut berbentuk perangkat lunak (software).
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Aplikasi Aplikasi adalah perangkat lunak yang ada pada komputer digunakan untuk melayani berbagai macam kebutuhan (Jogiyanto, 2003). Teknologi canggih dari perangkat keras akan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI Pada bab ini akan dijelaskan mengenai tinjauan pustaka yang berisi perancangan solusi yang telah dilakukan oleh penelitian terdahulu di perusahaan jasa dan dasar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi 2.1.1 Pengertian Persepsi Persepsi adalah proses dimana orang memilih, mengatur dan menginterpretasikan informasi untuk membentuk gambaran dunia yang berarti. (Kotler
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data primer. Jenis data ini didapat langsung dari sumber utamanya. Dalam penelitian ini, penulis
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Bagian ini berisi tentang keseluruhan tahapan pengumpulan dan pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan pada sub bab di
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Kualitas Layanan 2.1.1. Pengertian Kualitas Layanan Pengertian kualitas layanan atau kualitas jasa berpusat pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan
Bandung, Jalan Ganesha no.10, Bandung 40132, Jawa Barat, Indonesia. Indonesia. Barat, Indonesia. MT 35
Desain Mekanisme Alternatif Penerus Daya dari Poros Turbin Propeler ke Poros Generator dengan Menggunakan TRIZ Indra Djodikusumo 1, a *, Fachri Koeshardono 2,b, Iwan Sanjaya Awaluddin 3,c Duddy Arisandi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pemasaran Pemasaran berhubungan dengan mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial. Secara sederhana, dapat diartikan sebagai pemenuhan kepuasan pelanggan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Kualitas Pelayanan 1. Pengertian Pelayanan Menurut Moenir (2010) pelayanan didefinisikan sebagai proses pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain
yang akan datang (Anderson et al.,1994). Menurut Hoffman dan Bateson (1997) kepuasan pelanggan dipengaruhi oleh kualitas layanan dari suatu
Bab 1. Pendahuluan Tingginya tingkat persaingan telah membawa pengaruh yang signifikan dalam dunia usaha. Persaingan tidak hanya mengandalkan segi kualitas tetapi juga mengutamakan segi pelayanan. Parasuraman
II. TINJAUAN PUSTAKA. Setiap perusahaan bertujuan agar perusahaannya mendapat keuntungan yang
13 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Pemasaran dan Konsep Pemasaran Setiap perusahaan bertujuan agar perusahaannya mendapat keuntungan yang maksimal. Tujuan tersebut dapat tercapai apabila perusahaan
* Agus Mansur, ** Intan Wahyu WD Jurusan Teknik Industri, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta * **
B-1-1 ANALISIS KUALITAS PELAYANAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE SERVQUAL SEBAGAI DASAR PENINGKATAN KEPUASAN PELANGGAN (Studi Kasus di P.T. Sumber Bahtera Motor, Yogyakarta) * Agus Mansur, ** Intan Wahyu WD
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui. Kotler, 2000) dalam bukunya (Tjiptono, 2007:2)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Pemasaran Pemasaran adalah proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan dan pertukaran
MANAJEMEN PELAYANAN PUBLIK RACHMAT HIDAYAT, MPA PRODI ADMINISTRASI NEGARA FISIP UNIVERSITAS JEMBER
MANAJEMEN PELAYANAN PUBLIK COURSE MATERIAL: ANALISA SERVQUAL (Service Quality) RACHMAT HIDAYAT, MPA PRODI ADMINISTRASI NEGARA FISIP UNIVERSITAS JEMBER 2012 Model ServQual Metode ServQual adalah metode
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Pemasaran Pemasaran adalah proses sosial dan manajerial dimana individual dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan dan
BAB II LANDASAN TEORI. lain. (George R. Terry, Ph.D) Jasa adalah pendekatan keseluruhan dari perusahaan dalam mewujudkan
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Usaha jasa Manajemen sebagai proses yang khas yang terdiri dari tindakantindakan: perencanaan, pengorganisasian, menggerakan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
`` BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Melalui proses penelitian yang telah dilakukan diperoleh beberapa kesimpulan adalah sebagai berikut: 1. Masukan dari penelitian ini berasal dari keinginan
BAB I PENDAHULUAN. perusahaan yang dapat menghasilkan barang atau jasa berkualitas yang mampu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam era globalisasi ini, persaingan bisnis menjadi sangat tajam. Hanya perusahaan yang dapat menghasilkan barang atau jasa berkualitas yang mampu menghadapi
BAB II KERANGKA TEORITIS. Webster s 1928 Dictionary, dalam Lupiyoadi (2013), menyatakan bahwa
BAB II KERANGKA TEORITIS 2.1. Teori Tentang Kepuasan Pelanggan 2.1.1. Pengertian Kepuasan Pelanggan Webster s 1928 Dictionary, dalam Lupiyoadi (2013), menyatakan bahwa pelanggan adalah seseorang yang beberapa
ASSESMENT TINGKAT KEPUASAN DOSEN DENGAN METODE SERVQUEL PADA UNIVERSITAS XYZ
ASSESMENT TINGKAT KEPUASAN DOSEN DENGAN METODE SERVQUEL PADA UNIVERSITAS XYZ Hana Catur Wahyuni, Wiwik Sumarmi Prodi Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo [email protected]
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penelitian yang dilakukan Selvy Normasari dkk (2013) mengenai Pengaruh
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Penelitian yang dilakukan Selvy Normasari dkk (2013) mengenai Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pelanggan, Citra Perusahaan Dan Loyalitas Pelanggan
PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN DENGAN METODE SERVQUAL DAN TRIZ DI PT. XYZ
PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN DENGAN METODE SERVQUAL DAN TRIZ DI PT. XYZ Nofi Erni 1), Iphov Kumala Sriwana 1) dan Wira Tri Yolanda 2) 1) Program Studi Teknik Industri, Universitas Esa Unggul 2) Program
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kualitas 2.1.1. Pengertian Kualitas Kualitas adalah totalitas fitur dan karakteristik suatu produk untuk memuaskan kebutuhan konsumen yang dapat dinyatakan langsung. Definisi
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam era globalisasi sekarang ini, kebutuhan manusia sangat ditunjang oleh kemajuan dari ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi komputerisasi
Bisma, Vol 1, No. 10, Februari 2017 PERSEPSI KONSUMEN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN PADA TOKO BUKU JUANDA DI PONTIANAK
PERSEPSI KONSUMEN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN PADA TOKO BUKU JUANDA DI PONTIANAK ABSTRAK Rina Marsela email: [email protected] Program Studi Manajemen STIE Widya Dharma Pontianak Untuk dapat memenangkan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Konsep Kualitas layanan (Stemvelt 2004) menyatakan bahwa konsep kualitas layanan adalah suatu persepsi tentang revolusi kualitas secara menyeluruh yang terpikirkan dan menjadi
BAB II LANDASAN TEORI. terlebih dahulu dasar-dasar yang akan digunakan nantinya. Dasar-dasar teori
BAB II LANDASAN TEORI Dalam membuat sebuah aplikasi, sangatlah penting untuk mengetahui terlebih dahulu dasar-dasar yang akan digunakan nantinya. Dasar-dasar teori tersebut akan digunakan sebagai landasan
III. METODE PENELITIAN. pendekatan kuantitatif. Menurut Mohammad Nazir (1998: 63), metode
III. METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Menurut Mohammad Nazir (1998: 63), metode deskriptif adalah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kualitas Pelayanan 2.1.1 Pengertian Kualitas Pelayanan Menurut Goetsh dan Davis (dalam Tjiptono, 2002:51) Kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Utara No. 9A, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta 11510
32 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat yang dituju untuk melakukan penelitian dalam mengumpulkan data adalah Bank Bukopin cabang Esa Unggul yang bertempat
BAB II LANDASAN TEORI
6 BAB II LANDASAN TEORI II.1. Jasa Dunia usaha yang ada dalam kehidupan manusia sehari-hari dapat berkaitan dengan industri jasa dimana pada setiap tahunnya mengalami kemajuan yang cukup pesat seiring
UPAYA PENINGKATAN KUALITAS LAYANAN FARMASI RSK. ST VINCENTIUS A PAULO SURABAYA DENGAN MENGGUNAKAN METODE SERVQUAL DAN QFD
UPAYA PENINGKATAN KUALITAS LAYANAN FARMASI RSK. ST VINCENTIUS A PAULO SURABAYA DENGAN MENGGUNAKAN METODE SERVQUAL DAN QFD Hilda Harijono dan Bobby Oedy P. Soepangkat Program Studi Magister Manajemen Teknologi
BAB III METODE PENELITIAN
19 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Yang Digunakan Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Dalam penelitian ini metode deskriptif yang digunakan untuk
USULAN PERBAIKAN KUALITAS PELAYANAN PADA INSTALASI RAWAT JALAN DENGAN METODE SERVQUAL DAN TRIZ (STUDI KASUS DI RS MUHAMMADIYAH ROEMANI)
USULAN PERBAIKAN KUALITAS PELAYANAN PADA INSTALASI RAWAT JALAN DENGAN METODE SERVQUAL DAN TRIZ (STUDI KASUS DI RS MUHAMMADIYAH ROEMANI) Diana Puspita Sari 1, Andry Harmawan 2 Program Studi Teknik Industri,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Kepuasan Konsumen Kotler (2004) mengatakan bahwa kepuasan konsumen adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang
I. PENDAHULUAN. Pasar menjadi semakin luas dan peluang ada dimana-mana, namun sebaliknya
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Globalisasi membawa dampak yang besar bagi perkembangan dunia bisnis. Pasar menjadi semakin luas dan peluang ada dimana-mana, namun sebaliknya persaingan menjadi
BAB III METODE PENELITIAN. pelayanan yang terdiri dari bukti fisik (tangibles), empati (empathy),
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat Dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mendalami tentang pengaruh kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti fisik (tangibles), empati (empathy), keandalan
BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas pelayanannya agar mampu bertahan dan bersaing dengan perusahaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Fenomena semakin kompleksnya permasalahan yang dialami oleh perusahaan pelayanan jasa khususnya perbankan, mengharuskan setiap unit perbankan untuk selalu meningkatkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. JASA 1. Pengertian Jasa Jasa adalah setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan oleh suatu pihak lain dan pada dasarnya tidak berwujud serta tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu.
BAB II LANDASAN TEORI. pengendalian atas kesempurnaan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan.
8 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kualitas Kualitas merupakan suatu tingkat kesempurnaan yang diharapkan dan pengendalian atas kesempurnaan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. (Wyckof dalam Tjiptono,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pemasaran Pemasaran merupakan kegiatan memasarkan produk suatu kelompok atau individu untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan memperoleh keuntungan. Maka pemasaran
BAB II. Tinjauan Pustaka
BAB II Tinjauan Pustaka 2.1 Pengertian Pemasaran Pemasaran berhubungan dengan mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan social. Secara sederhana, dapat diartikan sebagai pemenuhan kepuasan demi
BEBERAPA MODEL KEBUTUHAN KONSUMEN
BEBERAPA MODEL KEBUTUHAN KONSUMEN Faster, Better, Cheaper 8 Dimensi Kualitas: 1. Kinerja (Performance) karakteristik operasi pokok dari produk inti: misal konsumsi bahan bakar, jumlah penumpang yang dapat
ANALISA PENGARUH KUALITAS JASA TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ALFABANK DI SURAKARTA
ANALISA PENGARUH KUALITAS JASA TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ALFABANK DI SURAKARTA Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Manajemen
BAB III METODE PENELITIAN. rancangan cross-sectional. Adapun teknik pengumpulan data. dengan menggunakan kuesioner, dimana peneliti menanyakan
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan cross-sectional. Adapun teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang word of mouth
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Dalam era pasar bebas saat ini, persaingan dunia usaha yang semakin ketat menuntut perusahaan agar dapat lebih melakukan inovasi dalam melakukan usahanya. Perusahaan
Bisma, Vol 1, No. 8, Desember 2016 KEPUASAN KONSUMEN PADA DIVISI SERVICE PT ANZON AUTO PLAZA DI PONTIANAK
KEPUASAN KONSUMEN PADA DIVISI SERVICE PT ANZON AUTO PLAZA DI PONTIANAK Septia Elsa Email: [email protected] Program Studi Manajemen STIE Widya Dharma Pontianak ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah
III. METODE PENELITIAN. pendekatan kuantitatif. Menurut Mohammad Nazir (1998: 63), metode
III. METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Menurut Mohammad Nazir (1998: 63), metode deskriptif adalah
BAB II URAIAN TEORITIS. Mempengaruhi Pelanggan Melakukan Pembelian di Pajak USU (PAJUS).
14 BAB II URAIAN TEORITIS A. Penelitian Terdahulu Pasaribu (2006) melakukan penelitian yang berjudul Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelanggan Melakukan Pembelian di Pajak USU (PAJUS). Berdasarkan uji
Bisma, Vol 1, No. 6, Oktober 2016 SERVICE PERFORMANCE PADA HOTEL GRAND MAHKOTA PONTIANAK
SERVICE PERFORMANCE PADA HOTEL GRAND MAHKOTA PONTIANAK ABSTRAK Jimmy Email: [email protected] Program Studi Manajemen STIE Widya Dharma Pontianak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Service
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ageng Tirtayasa Banten terhadap Pelayanan SPP Online Bank BTN Cabang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Penelitian sebelumnya yang terkait dengan penelitian ini dilakukan oleh: Nurmaya Sari (2009). Nurmaya Sari (2009) mengkaji Kepuasan Mahasiswa Universitas
BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan di bidang bisnis merupakan kegiatan yang komplek dan beresiko
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kegiatan di bidang bisnis merupakan kegiatan yang komplek dan beresiko tinggi, oleh karena itu diperlukan informasi yang lengkap, akurat, dan up to date untuk
BAB I PENDAHULUAN. Dalam era persaingan global yang berkembang saat ini, muncul berbagai
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam era persaingan global yang berkembang saat ini, muncul berbagai industri jasa seperti pelayanan jasa transportasi, kesehatan, konsultasi, dan jasa perbankan.
BAB 2 TELAAH PUSTAKA 2.1. Kualitas Layanan
BAB 2 TELAAH PUSTAKA 2.1. Kualitas Layanan Kata kualitas mengandung banyak definisi dan makna. Beberapa definisi yang kerap kali dijumpai antara lain : kesesuaian dengan persyaratan/tuntutan, pemenuhan
BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan berkembangnya jaman, persaingan dalam dunia usaha saat ini
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Seiring dengan berkembangnya jaman, persaingan dalam dunia usaha saat ini mengalami perkembangan yang pesat khususnya didalam menjual produk atau jasa. Dalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kesannya terhadap kinerja suatu produk dan harapan-harapannya. Sedangkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kepuasan Konsumen Menurut Kotler (2002) kepuasan adalah: Perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi atau kesannya terhadap kinerja
DAFTAR ISI. iv v viii xiii xv xvi
ABSTRAK Dalam melakukan upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan kepada pelanggan, RS Hermina Pasteur sangat perlu memperhatikan kualitas jasa pelayanannya. Untuk mencapai hal tersebut, RS Hermina perlu
USULAN PERBAIKAN KUALITAS PELAYANAN DI CAFE X DENGAN MENGGUNAKAN METODE DINESERV DAN SERVICE QUALITY (SERVQUAL)
Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.01 Vol.4 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Januari 2016 USULAN PERBAIKAN KUALITAS PELAYANAN DI CAFE X DENGAN MENGGUNAKAN METODE DINESERV
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Meningkatnya taraf hidup masyarakat, menyebabkan terjadinya peningkatan
19 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peningkatan kesehatan merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Meningkatnya taraf hidup masyarakat, menyebabkan terjadinya peningkatan tuntutan masyarakat akan kualitas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemasaran Jasa Kotler mendefinisikan jasa sebagai setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya bersifat intangible
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan sebuah investasi yang tak ternilai harganya. Pada saat ini begitu banyaknya berdiri rumah sakit-rumah sakit maupun tempat perawatan kesehatan yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Jasa Banyak ahli yang telah mendefinisikan pengertian jasa sesuai dengan sudut pandang mereka masing-masing, diantaranya: Definisi jasa menurut Kotler dan Keller
PENINGKATAN KUALITAS LAYANAN KEPADA PELANGGAN DI TERMINAL PENUMPANG PELABUHAN TANJUNG PERAK SURABAYA
PENINGKATAN KUALITAS LAYANAN KEPADA PELANGGAN DI TERMINAL PENUMPANG PELABUHAN TANJUNG PERAK SURABAYA Ni Luh Putu Hariastuti 1 dan Dwi Rifki Ardiansyah 2 Abstract: To be able to retain its customer, PT
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Alur Penelitian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Alur Penelitian Agar penelitian yang dilakukan lebih terarah dan sistematis, maka perlu di buat alur penelitian adapun alur penelitian dapat dilihat dari flow chart berikut
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Pemasaran BAB II TINJAUAN PUSTAKA Banyaknya persaingan dalam dunia usaha baik industri barang atau jasa menyebabkan perusahaan menentukan strategi pemasaran yang dapat memberikan kepuasan
BAB II LANDASAN TEORI. tempat, organisasi dan gagasan (Kotler, 2001:347). Dari definisi diatas. 1. Intangibility (tidak dapat dilihat, dirasakan).
BAB II LANDASAN TEORI A. Jasa Jasa adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Produk mencakup
BAB I PENDAHULUAN. semakin ketat. Dalam menghadapi situasi tersebut, maka perusahaan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi telekomunikasi dan informasi yang semakin canggih mengakibatkan perubahan dan kemajuan disegala bidang serta menentukan peran aktif dari
BAB III METODE PENELITIAN. lokasi penelitian, jenis penelitian, definisi konseptual, definisi operasional,
BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah sebuah proses yang terdiri dari rangkaian tata cara pengumpulan data, tahap ini diteruskan dengan merekam data di lapangan (Bungin, 2005). Metode penelitian
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Pemasaran Pengertian pemasaran secara konseptual kerap mengalami perkembangan seiring dengan berjalannya waktu. Berikut disajikan definisi pemasaran awal versi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemasaran 2.1.1 Pengertian Pemasaran Menurut William J. Stanton dalam Swastha (2008), menyatakan bahwa Pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Desain penelitian merupakan sebuah rancangan bagaimana suatu penelitian akan dilakukan. Rancangan tersebut digunakan untuk mendapatkan jawaban terhadap pertanyaan
BAB III METODELOGI PENELITIAN
BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Obyek Penelitian Untuk mendapatkan informasi dan data yang diperlukan untuk penyusunan penelitian ini, maka penulis memilih wilayah Parung Serab Ciledug Tangerang sebagai
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE ENELITIAN 4.1 Jenis/Desain enelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif yang bersifat analisis deskriptif dengan rancangan metode Service Quality (Servqual) yang ditujukan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jasa Lovelock dan Writz (1991) mengungkapkan dua pengertian jasa, diantaranya adalah : 1. Jasa adalah tindakan atau kinerja yang ditawarkan suatu pihak kepada pihak lainnya.
II TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian pelayanan menurut Kotler dan Keller (2007:42) merupakan setiap
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pelayanan 2.1.1 Pengertian Pengertian pelayanan menurut Kotler dan Keller (2007:42) merupakan setiap tindakan atas kegiatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pelayanan BAB II TINJAUAN PUSTAKA Kegiatan pelayanan kepada pengguna perpustakaan merupakan pelayanan yang diberikan oleh suatu perpustakaan untuk menyebarkan informasi dan pemanfaatan koleksi. Para
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bagian ini akan dijelaskan langkah-langkah yang digunakan untuk memecahkan suatu masalah agar penelitian sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Langkah-langkah dalam
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi dan Karakteristik Jasa Jasa mempunyai banyak arti, mulai pelayanan personal (personal service) sampai jasa sebagai suatu produk. Sejauh ini sudah banyak pakar pemasaran
Bab 3 Metodologi Penelitian
Bab 3 Metodologi Penelitian 3.1. Kerangka Pemecahan Masalah Metodologi penelitian merupakan rangkaian proses yang terkait secara sistematik Setiap tahap merupakan bagian yang menentukan tahapan berikutnya
BAB I PENDAHULUAN. produk atau harapan-harapannya. Kotler (1997: 36). Meningkatnya derajat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Adanya kualitas yang tinggi diharapkan akan mendapat tingkat kepuasan pelanggan. Kepuasan merupakan perasaan senang atau kecewa seseorang berasal dari perbandingan antara
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Pikir Kepuasan pengguna yang menjadi tujuan dari perusahaan dituangkan dalam strategi dan rencana kerja yang diimplementasikan dalam kegiatan pemasaran dan pelayanan
BAB III METODE PENELITIAN
29 BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek dan Subyek Penelitian 1. Obyek penelitian Penelitian ini dilakukan pada Swalayan Naraya yang beralamat di Gonjen, Tamantirto, Kasihan, Bantul yang merupakan sebuah
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian Dewasa ini orientasi pemasaran untuk setiap bidang usaha mulai terlihat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dewasa ini orientasi pemasaran untuk setiap bidang usaha mulai terlihat mengalami perubahan, semula hanya terfokus pada product oriented kini berubah menjadi
TINJAUAN PUSTAKA Pemasaran
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pemasaran Pemasaran adalah proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang dibutuhkan dan diinginkan melalui penciptaan dan pertukaran produk serta
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kualitas Layanan Kesehatan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kualitas Layanan Kesehatan 1. Pengertian Kualitas Layanan Kesehatan Kualitas layanan adalah cara melayani, membantu menyiapkan, mengurus, menyelesaikan keperluan, kebutuhan seseorang
Model Kualitas Pelayanan (SERVQUAL) Parasuraman et al. By Jacobus Rico Kuntag on August 25, 2012
Model Kualitas Pelayanan (SERVQUAL) Parasuraman et al. By Jacobus Rico Kuntag on August 25, 2012 Analisis Kualitas Pelayanan (Service Quality) akronimnya SERVQUAL merupakan suatu metode desktiptif guna
USULAN PERBAIKAN KUALITAS PELAYANAN NASABAH BANK X MENGGUNAKAN DIMENSI BANKING SERVICE QUALITY DENGAN METODE SERVQUAL DAN TRIZ
Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.01 Vol.4 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Januari 2016 USULAN PERBAIKAN KUALITAS PELAYANAN NASABAH BANK X MENGGUNAKAN DIMENSI BANKING
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Rumah Sakit 1. Pengertian rumah sakit Rumah Sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan, tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat, atau dapat menjadi tempat penularan
