4 HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
HASIL DAN PEMBAHASAN

POTENSI EKSTRAK BATANG SIPATAH-PATAH

Ekstrak Batang Sipatah-Patah Meningkatkan Proliferasi dan Diferensiasi Sel Punca Mesenkimal Sumsum Tulang

BAB VI PEMBAHASAN. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa kadar NO serum awal penelitian dari

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Tulang

Dr. HAKIMI, SpAK. Dr. MELDA DELIANA, SpAK. Dr. SISKA MAYASARI LUBIS, SpA

BAB I. PENDAHULUAN. berhentinya siklus menstruasi disebabkan oleh jumlah folikel yang mengalami

BAB I PENDAHULUAN. proses di berbagai Negara. Saat ini penggunaan terapi stem cell menjadi

HASIL DAN PEMBAHASAN Tipe-tipe Sel yang Tumbuh dan Berkembang dalam Kultur

PROLIFERASI DAN DIFERENSIASI SEL TULANG TIKUS DALAM MEDIUM KULTUR IN VITRO YANG MENGANDUNG EKSTRAK BATANG Cissus quadrangula Salisb.

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Minat dan kesadaran untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut semakin

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sekitar delapan juta orang mengalami kejadian patah tulang dengan jenis patah

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. tikus putih (Rattus norvegicus, L.) adalah sebagai berikut:

PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. tikus putih (Rattus norvegicus, L.) adalah sebagai berikut:

Proses Penyembuhan Fraktur (Regenerasi Tulang)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dunia dan mencapai 50% dari jumlah populasi dewasa (Carranza & Newman,

Tulang Rawan. Struktur Dasar, Tipe dan Lokasi

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan timbulnya sifat-sifat kelamin sekunder, mempertahankan sistem

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. metode freeze drying kemudian dilakukan variasi waktu perendaman SBF yaitu 0

BAB I PENDAHULUAN. karies gigi (Wahyukundari, et al., 2009). Berdasarkan hasil riset dasar yang

HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kadar Air Ekstraksi dan Rendemen Hasil Ekstraksi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pencabutan gigi merupakan tindakan yang cukup sering dilakukan di bidang

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. semakin meningkat. Prevalensi DM global pada tahun 2012 adalah 371 juta dan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian. Gambaran mikroskopik folikel ovarium tikus putih betina ((Rattus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I. PENDAHULUAN. ahli medis, bahkan orang awam diseluruh penjuru dunia. Sesuai dengan kata yang

BAB 1 PENDAHULUAN. karena dapat menyebabkan berbagai keluhan dan ketidaknyaman pasien. Komplikasi

BAB II KAJIAN PUSTAKA. yang bermetabolisme secara aktif dan terintegrasi. Tulang merupakan material komposit,

BAB V PEMBAHASAN. fagositosis makrofag pada kelompok perlakuan (diberi ekstrak daun salam)

PEMBERIAN EKSTRAK JINTAN HITAM (Nigella sativa) PADA KULTUR IN VITRO SEL TULANG TIKUS (Rattus norvegicus) FITRI SUSANA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tulang seperti halnya jaringan hidup lainnya pada tubuh manusia dapat

Pengertian Mitokondria

Proses fisiologis dan biokimiawi yang meregulasi proses persalinan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. pendidikan, perumahan, pelayanan kesehatan, sanitasi dan lingkungan (Shah et al.

PENDAHULUAN Latar Belakang

Mekanisme penyerapan Ca dari usus (Sumber: /16-calcium-physiology-flash-cards/)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Gambar 4. Grafik Pertambahan Bobot Badan Tikus

TAHAP-TAHAP PENYEMBUHAN FRAKTUR

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tulang merupakan suatu jaringan ikat tubuh terkalsifikasi yang terdiri dari

I.! PENDAHULUAN. A.!Latar Belakang Masalah. Kasus kerusakan tulang pada bidang kedokteran gigi dapat disebabkan oleh

TRANSDUKSI SINYAL PADA TINGKAT SEL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Signal Transduction. Dr. Sri Mulyaningsih, Apt

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5 Rata- rata bobot ovarium dan uterus tikus putih

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. oleh dokter gigi untuk menghilangkan gigi dari dalam soketnya dan menyebabkan

Sel melakukan kontak dengan lingkungannya menggunakan permukaan sel, meliputi: 1. Membran plasma, yakni protein dan lipid 2. Molekul-molekul membran

PS-S1 Jurusan Biologi, FMIPA, UNEJ (2017) JARINGAN TULANG SYUBBANUL WATHON, S.SI., M.SI.

HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMBAHASAN UMUM Karakterisasi Genotipe Cabai

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

(G Protein-coupled receptor) sebagai target aksi obat

BAB I PENDAHULUAN. mekanime patologi. Penyembuhan tulang atau union dapat dinilai dari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan ekstraksi biji tanaman kopi. Kopi dapat digolongkan sebagai minuman

BAB VI PEMBAHASAN Pengaruh pemberian ekstrak etanol daun salam terhadap kadar GDS. absolut (DM tipe 1) atau secara relatif (DM tipe 2).

EFEKTIVITAS KOLAGEN KULIT IKAN PATIN (Pangasius sp.) SEBAGAI MATRIKS EKSTRASELULER PADA KULTUR IN VITRO SEL TULANG TIKUS HERMAN

BAB VI PEMBAHASAN. Pemeriksaan tumor pada kolon secara makroskopis, berhasil tumbuh 100%

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan pencabutan gigi adalah sebesar 1:6 bahkan di beberapa daerah lebih besar

BAB I PENDAHULUAN. dengan laju pertumbuhan penduduk per tahun sekitar 1,49 persen. Pada periode

BAB I PENDAHULUAN. hewan betina. Menurut Shabib (1989: 51-53), bentuk aktif estrogen terpenting

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG PENELITIAN. dengan defisiensi sekresi dan atau sekresi insulin (Nugroho, 2012). Organisasi

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Kulit merupakan barier penting tubuh terhadap lingkungan termasuk

BAB I. PENDAHULUAN. orang pada tahun 2030 (Patel et al., 2012). World Health Organization (WHO)

ABSTRACT. Tjok Agung Y. Vidyaputra. KEYWORDS: VEGF, Calcium Sulfate, bone defects, osteoblast, type I collagen, bone recycling, liquid nitrogen

BAB I PENDAHULUAN. buruk, dan memerlukan biaya perawatan yang mahal. 1 Jumlah pasien PGK secara

BAB 6 PEMBAHASAN. ekstrak Phaleria macrocarpa terhadap penurunan indek mitosis dan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II KEROPOS TULANG (OSTEOPOROSIS)

HASIL DAN PEMBAHASAN. ternak. Darah terdiri dari dua komponen berupa plasma darah dan bagian padat yang

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Ekstraksi dan Penapisan Fitokimia

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pengambil kebijakan di bidang kesehatan. Beberapa dekade belakangan ini,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Jaringan Hewan. Compiled by Hari Prasetyo

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh

BAB I PENDAHULUAN. normal (Nagori and Solanki, 2011). Berdasarkan sifatnya luka dibagi menjadi 2,

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian yang berjudul Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Jati Belanda

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Pada zaman dahulu hingga sekarang banyak masyarakat Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. gangguan kesehatan, penyakit degeneratif dan menurunnya kualitas hidup.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Kanker payudara merupakan keganasan yang paling sering ditemukan pada

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

7.2 CIRI UMUM SITOKIN

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Penelitian dalam bidang sel punca mengalami perkembangan yang sangat

Transkripsi:

12 dianalisis menggunakan uji statistik analysis of variance (ANOVA) dan uji lanjut Duncan dengan taraf kepercayaan 5%. 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat Proliferasi Sel Tingkat Proliferasi Sel Berdasarkan Population Doubling Time (PDT) Proliferasi sel bertujuan menggandakan organel seluler sehingga sel dapat membelah menjadi dua (Pellegrini et al. 2008). Tingkat proliferasi ditunjukkan berdasarkan perbandingan jumlah sel awal dan akhir. Jumlah sel awal inkubasi (hari kedua) dan jumlah sel akhir inkubasi (hari kesepuluh) disajikan pada Gambar 5. 700 600 500 400 300 200 Rataan Jumlah Sel Awal Rataan Jumlah Sel Akhir 100 0 Kontrol 0,1 mg/ml 0,3 mg/ml 0,6 mg/ml 0,9 mg/ml Gambar 5 Perbandingan rataan jumlah sel awal inkubasi dan sel akhir inkubasi Gambar 5 menunjukkan rataan jumlah sel akhir pada semua kelompok perlakuan baik pada kontrol maupun yang diberi ekstrak batang Sipatah-patah lebih tinggi dibandingkan rataan jumlah sel awal inkubasi. Hal ini menunjukkan terjadinya proliferasi sel dan selanjutnya dihitung nilai PDT untuk melihat kecepatan proliferasi sel. Populasi sel yang menjadi dua kali dari jumlah semula dapat dilihat kecepatan waktunya melalui penghitungan Population Doubling Time (PDT). Nilai PDT yang semakin kecil menunjukkan semakin cepat sel berproliferasi. Hasil PDT sel sumsum tulang yang diberi perlakuan ekstrak batang Sipatah-patah (Cissus quadrangula Salisb.) dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Population Doubling Time (PDT) sel mesenkimal sumsum tulang yang diberi ekstrak batang Sipatah-patah (Cissus quadrangula Salisb.). Perlakuan PDT (hari) Kontrol 2,17 ± 0,20a CQ 0,1 mg/ml 1,72 ± 0,33b CQ 0,3 mg/ml 1,01 ± 0,02c CQ 0,6 mg/ml 1,03 ± 0,12c CQ 0,9 mg/ml 1,04 ± 0,19c Ket: a Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (uji Duncan). Kontrol (mdmem); ekstrak batang Sipatah-patah (Cissus quadrangula Salisb. atau CQ) CQ 0,1 mg/ml (mdmem + 0,1 mg/ml); CQ 0,3 mg/ml(mdmem + 0,3 mg/ml); CQ 0,6 mg/ml (mdmem + 0,6 mg/ml); CQ 0,9 mg/ml (mdmem + 0,9 mg/ml). Populasi sel yang menjadi dua kali dari jumlah semula dapat dilihat kecepatan waktunya melalui penghitungan Population Doubling Time (PDT). Nilai PDT yang lebih kecil menunjukkan terjadi peningkatan proliferasi sel sumsum tulang dan osteoblas yang lebih cepat. Pada Tabel 1 terlihat bahwa perlakuan ekstrak CQ dapat menurunkan nilai PDT secara sangat nyata (P<0,01) dibandingkan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak batang Sipatah-patah (CQ) dapat meningkatkan proliferasi sel sumsum tulang. Perlakuan ekstrak CQ 0,1 mg/ml dapat menurunkan nilai PDT, tetapi tidak sebaik pada kelompok CQ 0,3 mg/ml, CQ 0,6 mg/ml dan CQ 0,9 mg/ml. Tanaman yang sejenis tapi berbeda spesies yaitu Cissus quadrangularis Linn juga dapat meningkatkan proliferasi sel punca mesenkimal Potu et al. (2009) dan osteoblast like Sarcoma Osteogenic-2 (SaOS-2) pada manusia (Muthusami et al. 2011). 13 Diferensiasi Sel Punca Mesenkimal Identifikasi Morfologi Osteoblas dan Osteosit Morfologi sel osteoblas dan osteosit dapat diamati di bawah mikroskop tanpa diwarnai dengan Alizarin red seperti dapat dilihat pada Gambar 6. Pewarnaan Alizarin red diperlukan untuk memastikan bahwa sel yang diamati adalah sel osteoblas dan osteosit.

14 Gambar 6 Morfologi osteoblas dan osteosit dalam medium kultur. (A) Preosteoblas, (B) Osteoblas, (C) Osteoid osteosit, (D) Osteosit yang mengalami mineralisasi, (E) Osteosit muda, (F) osteosit tua. (P: Preosteoblas, O: Osteoblas, OO: Osteoid osteosit, MO: Mineralisasi pada Osteosit, OM: Osteosit muda, OT: Osteosit tua). Bar: 20 µm Pengamatan morfologi sel osteoblas dan osteosit lebih mudah dan jelas apabila diwarnai dengan Alizarin red. Pewarnaan ini mendeteksi deposit kalsium yang dihasilkan oleh osteosit. Gambar 7 menunjukkan morfologi osteoblas dan osteosit yang telah diwarnai Alizarin red. Gambar 7 Morfologi osteoblas dan osteosit yang telah diwarnai Alizarin red. (A) Preosteoblas, (B) Osteoblas, (C) Osteoid osteosit, (D) Osteosit yang mengalami mineralisasi, (E) Osteosit muda, (F) osteosit tua. (P: Preosteoblas, O: Osteoblas, OO: Osteoid osteosit, MO: Mineralisasi pada Osteosit, OM: Osteosit muda, OT: Osteosit tua). Bar: 20 µm.

15 Preosteoblas biasanya berada di dekat osteoblas dan mengekspresikan alkalin phosphatase. Osteoblas yang aktif mensistesis matriks tulang memiliki inti yang besar, aparatus Golgi dan retikulum endoplasma yang banyak. Osteoblas mengeluarkan kolagen tipe I dan protein matriks lainnya. Osteoblas berubah menjadi kuboid yang besar setelah preosteoblas berhenti proliferasi (Clarke 2001). Osteoid osteosit merupakan proses transisi dari osteoblas menjadi osteosit. Sel ini bertanggung jawab dalam proses proses mineralisasi. Osteosit yang mengalami mineralisasi, selanjutnya berdiferensiasi menjadi osteosit, dan mengalami penurunan volume sel mencapai 70% (Palumbo 1986). 1986). Osteosit sudah mulai terlihat merah pada (Gambar 7D) dan semakin merah pada Gambar 7E dan 7F. Hal ini menunjukkan bahwa deposit kalsium pada osteosit Gambar Gambar 7E dan 7F lebih banyak, dibandingkan osteosit pada Gambar 7D. Konsentrasi kalsium dapat mempengaruhi morfologi sel punca menjadi osteoblas melalui interaksi matriks sel ke sel atau antar sel (Nakamura et al. 2010). Kalsium bereaksi dan berikatan dengan Alizarin red sehingga sel berwarna merah. Osteosit yang semakin tua mengalami penurunan jumlah retikulum endoplasma dan aparatus Golgi sehingga ukurannya semakin mengecil. Osteosit memiliki dendritik yang disebut juga kanalikuli. Sejumlah dendritik ini dapat menghubungkan satu osteosit dengan osteosit lainnya dan osteoblas seperti pada Gambar 8 (Dallas et al. al. 2013). Karakteristik morfologi tersebut penting agar nutrisi dan sinyal biokimia dapat dapat masuk ke dalam osteosit yang sudah tertanam di dalam osteoid. Osteosit dapat berkomunikasi dengan sel lainnya melalui gap junction dan dapat dilalui oleh molekul molekul kurang dari 1 kda (Benneth dan Goodenough 1978). Kristalisasi mineral terjadi karena sel membentuk kelompokkelompok kecil fibril kolagen. Matriks kolagen tersebut merupakan tempat deposit kristal fosfat kalsium (Binderman et al. 1974). Gambar 8 Kanalikuli osteosit dapat menghubungkan antara osteosit dengan osteoblas dan pembuluh darah (Sumber: Dallas et al. 2013)

16 Jumlah Sel Osteoblas dan Osteosit Diferensiasi menggambarkan struktur dan fungsi sel serta jaringan yang berkembang menjadi karakteristik sel yang lebih khusus. Diferensiasi sel terjadi apabila adanya interaksi berbagai sinyal sel (McGeady et al. 2006). Rataan jumlah dan diameter jenis sel dapat menggambarkan terjadinya diferensiasi sel. Tabel 2 menunjukkan rataan jumlah sel awal inkubasi (hari kedua), jumlah osteoblas dan osteosit pada hari kesepuluh yang diberi perlakuan ekstrak batang Sipatah-patah. Tabel 2 Rataan jumlah sel awal, osteoblas dan osteosit dalam medium DMEM yang diberi ekstrak etanol batang Sipatah-patah (Cissus quadrangula Salisb.) Perlakuan Rataan Jumlah Sel Rataan Jumlah Rataan Jumlah Awal Osteoblas Osteosit Kontrol 67,00 ± 4,97a 12,08 ± 01,83a 84,31 ± 36,63a CQ 0,1 mg/ml 80,75 ± 6,02ab 59,67 ± 21,74b 189,31 ± 32,44b CQ 0,3 mg/ml 85,50 ± 9,25b 122,50 ± 16,68d 336,28 ± 27,62c CQ 0,6 mg/ml 77,00 ± 14,8ab 240,92 ± 08,31e 83,76 ± 26,85a CQ 0,9 mg/ml 86,00 ± 4,69b 90,36 ± 18,25c 179,62 ± 36,38b Ket: a Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (uji Duncan). Tabel 2 menunjukkan bahwa rataan jumlah sel awal inkubasi pada kelompok perlakuan kontrol paling rendah secara nyata (P<0,05) dibandingkan dengan kelompok perlakuan yang diberi ekstrak batang Sipatah-patah. Kelompok perlakuan CQ 0,1 mg/ml tidak berbeda secara nyata (P<0,05) dengan kelompok perlakuan kontrol dan kelompok perlakuan CQ 0,6 mg/ml. Semua kelompok perlakuan ekstrak batang Sipatah-patah tidak saling berbeda secara nyata (P<0,05) antar perlakuan. Rataan jumlah osteoblas pada kelompok perlakuan kontrol paling rendah secara sangat nyata (P<0,01) dibandingkan dengan kelompok perlakuan yang diberi ekstrak batang Sipatah-patah (Cissus quadrangula Salisb.). Perlakuan ekstrak batang Sipatah-patah dapat meningkatkan jumlah osteoblas secara sangat nyata (P<0,01), berturut-turut mulai dari dosis 0,1 mg/ml, 0,9 mg/ml, diikuti 0,3 mg/ml serta yang paling tinggi pada dosis 0,6 mg/ml. Rataan jumlah osteosit paling rendah pada kelompok perlakuan kontrol dan tidak berbeda secara nyata (P<0,05) dengan kelompok perlakuan 0,6 mg/ml. Rataan jumlah osteosit pada kelompok perlakuan 0,1 mg/ml lebih tinggi secara sangat nyata (P<0,01) dibandingkan kelompok kontrol, namun tidak berbeda nyata dengan kelompok 0,9 mg/ml. Rataan jumlah osteosit pada kelompok 0,3 mg/ml paling tinggi secara sangat nyata (P<0,01) dibandingkan kelompok perlakuan lainnya. Jumlah osteoblas dan osteosit pada hari kesepuluh menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan dengan jumlah sel awal inkubasi. Semua jumlah sel awal (baik kontrol maupun perlakuan ekstrak) sebelum perlakuan induksi batang Sipatah-patah lebih rendah dibandingkan perlakuan pengamatan pada hari kesepuluh setelah diberi ekstrak batang Sipatah-patah. Kelompok perlakuan kontrol menunjukkan peningkatan jumlah sel osteoblas dan osteosit dibandingkan

jumlah sel awal. Hal ini menunjukkan sel terjadi proliferasi secara normal. Pada kelompok perlakuan 0,6 mg/ml terjadi penurunaan jumlah osteosit dibandingkan kelompok perlakuan CQ lainnya. Hal ini diduga karena sel osteoblas yang terus berproliferasi dan tidak berdiferensiasi menjadi osteosit. Kim et al. (1998) melaporkan bahwa diferensiasi sel osteoblas menjadi osteosit terjadi apabila osteoblas berhenti berproliferasi dan melanjutkan berdiferensiasi menjadi osteosit. Jumlah osteoblas kelompok perlakuan CQ 0,9 mg/ml lebih rendah secara sangat nyata (P<0,01) dibandingkan pada kelompok perlakuan CQ 0,6 mg/ml, tetapi jumlah osteosit lebih tinggi secara sangat nyata (P<0,01) dibandingkan kelompok perlakuan CQ 0,6 mg/ml. Hal tersebut diduga sebagian besar sel osteoblas berdiferensiasi menjadi osteosit sehingga terjadi peningkatan jumlah sel osteosit. Diameter Sel Osteoblas dan Osteosit Diameter osteoblas dan osteosit pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 3. Osteoblas memiliki diameter antara 20-30 µm (Kierszenbaum 2002), sedangkan osteosit memiliki ukuran sekitar 9-20 µm (Kogianni dan Noble 2007). Tabel 3 Rataan diameter osteoblas dan osteosit dalam medium DMEM yang diberi ekstrak etanol batang Sipatah-patah (Cissus quadrangula Salisb.) Perlakuan Rataan diameter Osteoblas Rataan diameter Osteosit Kontrol 29,00 ± 3,29a 12,62 ± 1,65a CQ 0,1 mg/ml 39,62 ± 4,90a 13,88 ± 3,20a CQ 0,3 mg/ml 38,38 ± 0,10a 14,50 ± 1,23a CQ 0,6 mg/ml 39,00 ± 4,18a 15,12 ± 2,84a CQ 0,9 mg/ml 34,25 ± 13,56a 14,12 ± 1,55a Ket: a Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (uji Duncan). Rataan diameter osteoblas tidak berbeda secara nyata (P>0,05) pada semua kelompok perlakuan. Demikian juga rataan diameter osteosit tidak berbeda secara nyata (P>0,05) pada semua kelompok perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak batang Sipatah-patah tidak berpengaruh secara nyata terhadap diameter osteoblas maupun diameter osteosit. Batang kering Sipatah-patah mengandung kalsium sebesar 4,33%, fosfor sebesar 0,37%, alkaloid, flavonoid, tannin (polifenolat), triterpenoid dan fitoestrogen (Sabri et al. 2009). Selain itu, ekstrak sipatah-patah juga mengandung 33 senyawa fitokimia yang dapat dikelompokkan menjadi lima yaitu steroid, triterpenoid, asam karboksilat, hidrokarbon dan kelompok ester (Sabri et al. 2009). Diferensiasi osteoblas menjadi osteosit merupakan proses kerja sama antara proliferasi osteoblas yang terhenti, terjadi proses perkembangan dan adanya penyaluran kalsium yang aktif. Penyaluran kalsium penting dalam proses mechanosensing dan mekanisme transduksi sinyal (Mikuni-Takagaki et al. 2002). 17

18 Salah satu kandungan ekstrak CQ yang penting dalam proses diferensiasi adalah kalsium dan fosfor. Menurut Muller et al. (2008), suplemen kalsium fosfat dapat mempengaruhi diferensiasi sel punca mesenkimal sumsum tulang pada manusia menjadi osteoblas. Peranan kalsium lebih utama daripada fosfor dalam proses osteogenik. Hal ini berdasarkan laporan Villa dan Sorribas (2011) bahwa penambahan konsentrasi fosfat yang tinggi dan kalsium yang rendah tidak meningkatkan ekspresi gen osteogenik. Sebaliknya, penambahan konsentrasi kalsium yang tinggi dan fosfat yang rendah dapat menginduksi pembentukan kristal kalsium fosfat dan meningkatkan ekspresi gen osteogenik. Fosfor juga dapat mempengaruhi mineralisasi matrix tulang, osifikasi, pematangan dan diferensiasi osteoblas (Zhang et al. 2011). Kandungan lain yang diketahui dapat memicu diferensiasi adalah flavonoid, seperti yang dilaporkan oleh Zhang et al. (2008) yang memicu diferensiasi osteoblas menjadi osteosit. Genistein yang merupakan komponen dalam fitoestrogen dapat menstimulasi diferensiasi sel punca sumsum tulang menjadi osteoblas. Diferensiasi tersebut terjadi karena adanya peningkatan cbfa-1 (Ducy 2000) dan Transforming Growth Factor beta-1 (TGFβ-1) (Heim et al. 2004). Cbfa-1 adalah faktor transkripsi pada sel progenitor menjadi osteoblas. Cbfa-1 berperan dalam mengontrol proses perkembangan, diferensiasi dan pematangan fungsi osteoblas (Ducy 2000). TGFβ mengatur gen transkripsi pada sel melalui sinyal reseptor (Roberts et al. 1990). Genistein menghambat proliferasi dengan cara menginduksi TGFβ1 (Kim et al. 1998) dan meningkatkan ekspresi TGFβ1 pada proses osteogenesis (Heim et al. 2004). Genistein dan daidzein yang juga merupakan komponen dalam fitoestrogen, dapat meningkatkan proliferasi osteoblas (Ogita et al. 2008) melalui sintesis protein (Sugimoto dan Yamaguchi 2000) dengan mengatur sintesis cbfa1 dan Bone Morphogenetic Protein-2 (BMP-2) (Federici et al. 2004). Bone Morphogenetic Protein-2 dapat mengatur diferensiasi sel (Ogita et al. 2008). Fitoestrogen dapat menginduksi osteosblas dan osteosit melalui reseptor estrogen. Menurut penelitian Ohashi et al. (1991), reseptor estrogen terdapat pada sel osteogenik dan bertindak langsung pada proses osteogenesis. Dosis estrogen yang tinggi akan semakin meningkatkan fisiologi osteogenesis melalui reseptor estrogen (Samuels et al. 2000). Reseptor estrogen terjadi peningkatan pada proses mineralisasi tulang (Filipovic dan Jurjevic 2013). Fitoestrogen dapat terikat pada reseptor estrogen dan menstimulasi proliferasi (Yamaguchi 2002). Genistein dapat meningkatkan produksi Nitric Oxide (NO), aktivitas NO synthase (NOS) dan produksi cyclic Guanosine Monophosphate (cgmp) dalam medium kultur melalui reseptor estrogen. Nitric Oxide (NO) dapat menstimulasi dan mengatur ekspresi gen Runt-related transcription factor-2 (Runx2)/cbfa1 (Pan et al. 2005). cgmp akan mengaktivasi enzim tirosin kinase (Chen et al. 1999) yang merupakan enzim penting dalam pertumbuhan dan diferensiasi sel (Massague 1998). Perkembangan dan pematangan osteoblas dipengaruhi oleh sejumlah parakrin, autokrin dan endokrin yakni bone morphogenetic proteins (BMPs), faktor pertumbuhan seperti Fibroblast Growth Factor (FGF) dan Insulin Growth Factor (IGF), dan hormon seperti Parathyroid Hormone (PTH) (Qin et al. 2003). Aktivasi PTH dan BMPs melalui jalur Wnt Signaling (Westendorf et al. 2004). Wnt signaling adalah jalur utama dalam proses diferensiasi melalui