BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Memiliki bau amis (fish flavor) akibat terbentuknya trimetil amin dari lesitin.

Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triasil gliserol, dengan rumus umum : O R' O C

ASAM KARBOKSILAT. Deskripsi: Struktur, tata nama, penggolongan dan manfaat asam karboksilat

REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK

A. Sifat Fisik Kimia Produk

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Struktur Umum dan Tatanama Lemak

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Bab IV Hasil dan Pembahasan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Gugus Fungsi. Gugus Fungsi. Gugus Fungsi. Gugus Fungsi CH 3 -CH 3 O O H 2 C CH 2 C O C C S C O CH 3 C OCH 2 CH 3 H C NH 2 CH 3 C NH 2. Alkana.

A. RUMUS STRUKTUR DAN NAMA LEMAK B. SIFAT-SIFAT LEMAK DAN MINYAK C. FUNGSI DAN PERAN LEMAK DAN MINYAK

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

Chapter 20 ASAM KARBOKSILAT

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kelapa sawit (Elaeis Guineesis Jacq) merupakan salah satu tanaman perkebunan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Peranan Komoditi Kelapa Sawit Pada Perkembangan Ekonomi Indonesia

KIMIA. Sesi HIDROKARBON (BAGIAN II) A. ALKANON (KETON) a. Tata Nama Alkanon

Struktur Aldehid. Tatanama Aldehida. a. IUPAC Nama aldehida dinerikan dengan mengganti akhiran a pada nama alkana dengan al.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 11 TINJAUAN PUSTAKA. yang jika disentuh dengan ujung-ujung jari akan terasa berlemak. Ciri khusus dari

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sabun adalah senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. sawit kasar (CPO), sedangkan minyak yang diperoleh dari biji buah disebut

ALDEHID DAN KETON. Putri Anjarsari, S.Si., M.Pd

Lipid. Dr. Ir. Astuti,, M.P

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lemak sebagian besar terdiri dari asam oktadekanoat, C 18 H 36 O 2 dan asam

Penggolongan minyak. Minyak mineral Minyak yang bisa dimakan Minyak atsiri

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Biodiesel Dari Minyak Nabati

SIFAT KIMIA DAN FISIK SENYAWA HIDROKARBON

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

KONSEP DASAR KIMIA ORGANIK YANG MENUNJANG PEMBELAJARAN KIMIA SMA GEBI DWIYANTI

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA BAHAN AJAR KIMIA DASAR BAB VII KIMIA ORGANIK

SOAL ASAM KARBOKSILAT

BAB I PENDAHULUAN Pengertian Minyak dan Lemak 1.1 TUJUAN PERCOBAAN. Untuk menentukan kadar asam lemak bebas dari suatu minyak / lemak

Senyawa Alkohol dan Senyawa Eter. Sulistyani, M.Si

Prarancangan Pabrik Metil Ester Sulfonat dari Crude Palm Oil berkapasitas ton/tahun BAB I PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Perumusan Masalah

GUGUS AMINA, AMIDA DAN SULFONAT

Universitas Sumatera Utara

Asam Karboksilat dan Ester. Sulistyani, M.Si

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Soal-Soal. Bab 14. Latihan. Kimia Karbon II: Gugus Fungsi. Alkohol dan Eter. 1. Rumus struktur alkohol ditunjukkan oleh. (A) C 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C3H5 (COOR)3 + 3 NaOH C3H5(OH)3 + 3 RCOONa

II. TINJAUAN PUSTAKA. Minyak jelantah merupakan minyak goreng yang telah digunakan beberapa kali.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Sabun Transparan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Perkembangan Komoditi Kelapa Sawit Indonesia

Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SAINS II (KIMIA) LEMAK OLEH : KADEK DEDI SANTA PUTRA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Bab IV Hasil dan Pembahasan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. dengan tiga molekul asam lemak. Di alam,bentuk gliserida yang lain yaitu digliserida

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

SENYAWA KARBON. Indriana Lestari

PERCOBAAN II PENGARUH SURFAKTAN TERHADAP KELARUTAN A. Tujuan 1. Mengetahui dan memahami pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat 2.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Adelya Desi Kurniawati, STP., MP., M.Sc.

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

Gambar IV 1 Serbuk Gergaji kayu sebelum ekstraksi

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK FARMASI PERCOBAAN I PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK : Identifikasi Gugus Fungsional Senyawa Organik

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

MAKALAH PRAKTIKUM KIMIA DASAR REAKSI-REAKSI ALKOHOL DAN FENOL

sidang tugas akhir kondisi penggorengan terbaik pada proses deep frying Oleh : 1. Septin Ayu Hapsari Arina Nurlaili R

Lemak dan minyak merupakan sumber energi yang efektif dibandingkan dengan karbohidrat dan protein Satu gram lemak atau minyak dapat menghasilkan 9

BAB I P E N D A H U L U A N

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

REAKSI-REAKSI ALKOHOL DAN FENOL

GUGUS FUNGSI, TATA NAMA, SIFAT, DAN SINTESIS SEDERHANA SENYAWA HIDROKARBON

Prarancangan Pabrik Asam Stearat dari Minyak Kelapa Sawit Kapasitas ton/tahun BAB I PENDAHULUAN

1.3 Tujuan Percobaan Tujuan pada percobaan ini adalah mengetahui proses pembuatan amil asetat dari reaksi antara alkohol primer dan asam karboksilat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman jarak duri (Ricinus communis L.) termasuk dalam famili

ALKOHOL DAN ETER. Tim Dosen Kimia Dasar II/ Kimia Organik

Air adalah wahana kehidupan

OLIMPIADE KIMIA INDONESIA

DEFINISI. lipids are those substances which are

Materi Penunjang Media Pembelajaran Kimia Organik SMA ALKENA

ASAM DIKARBOKSILAT. Oleh SHINTA DITA UTAMI NIM

MINYAK DAN LEMAK TITIS SARI K.

Pembahasan Soal Multiplechoice OSK Kimia Tahun 2014 Oleh Urip

BAB I PENDAHULUAN. sehingga mengakibatkan konsumsi minyak goreng meningkat. Selain itu konsumen

berupa ikatan tunggal, rangkap dua atau rangkap tiga. o Atom karbon mempunyai kemampuan membentuk rantai (ikatan yang panjang).

Transkripsi:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lemak dan Minyak Lemak dan minyak merupakan salah satu kelompok yang termasuk golongan lipida. Satu sifat yang khas dan mencirikan golongan lipida (termasuk lemak dan minyak) adalah daya larutnya dalam pelarut organik (misalnya eter, benzen, chloroform) atau sebaliknya ketidak larutannya dalam pelarut air. Lemak dan minyak secara kimiawi adalah trigliserida yang merupakan bagian terbesar dari kelompok lipida. Trigliserida ini merupakan senyawa hasil kondensasi satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak (Sudarmadji dan aryono, 1989). R 1 R 2 +, - (R 1 ), (R 2 ) dan R 3 - + R 3 Trigliserida (Lemak) Asam lemak Gliserol Gambar 2.1. asil idrolisis Trigliserida menjadi Asam Lemak dengan Gliserol (Bahl, 2004). Lemak dan minyak tidak larut dalam air dan sedikit larut dalam alkohol, terutama minyak dengan berat molekul rendah, kecuali minyak jarak (castor oil). Minyak dan lemak dapat larut sempurna dalam eter, hidrokarbon, benzena, karbon disulfida dan pelarut-

pelarut organik lainnya. Kelarutan minyak atau lemak dalam suatu pelarut ditentukan oleh sifat polaritas asam lemaknya. Asam lemak yang bersifat polar cenderung larut dalam pelarut polar, sedangkan asam lemak non polar larut dalam pelarut non polar. Sebagai contoh ialah asam lemak berantai pendek (misalnya asam butirat) pada lemak susu bersifat polar cenderung larut dalam air sedangkan asam lemak berantai karbon panjang tidak larut dalam air. Sifat dan daya kelarutan ini digunakan sebagai dasar praktek pada pengujian-pengujian analitis dan ekstraksi minyak dengan pelarut. Sifat minyak dan lemak yang larut dalam pelarut tertentu dipergunakan dalam pengolahan minyak secara komersil. Daya kelarutan asam asam lemak biasanya lebih tinggi dari komponen gliseridanya dan dapat larut dalam pelarut organik yang bersifat polar dan non polar. Semakin panjang rantai karbon maka minyak dan lemak tersebut semakin sukar larut (Ketaren, 2008). 2.2 leokimia leokimia pada dasarnya merupakan cabang ilmu kimia yang mempelajari trigliserida menjadi asam lemak dan gliserin serta turunan asam lemak baik dalam bentuk ester, amida, sulfat, sulfonat, alkohol, alkoksi, maupun sabun. Asam lemak bersama-sama dengan gliserol merupakan penyusun utama minyak nabati atau lemak dan merupakan bahan baku untuk semua lipida pada makhluk hidup. Asam lemak ini mudah dijumpai dalam minyak masak (minyak goreng), margarin atau lemak hewan dan dapat menentukan nilai gizinya. Secara alami, asam lemak bisa berbentuk bebas (karena lemak yang terhidrolisis) maupun yang terikat dari gliserida. Asam lemak merupakan salah satu dasar oleokimia (Tambun, 2006). leokimia merupakan turunan gliserol dengan asam lemak yang berubah dalam bentuk turunannya yang digunakan baik sebagai surfaktan, detergen, polimer, aditif bahan bakar dan sebagainya. Bahan dasar oleokimia seperti gliserol, asam lemak, amina asam lemak dan alkohol dapat diperoleh dengan mengubah lipida baik yang berasal dari hewan maupun tumbuhan menjadi gliserol dan turunan asam lemak. Penggunaan terbesar dari asam lemak adalah dengan mengubahnya menjadi alkohol asam lemak, plastik dan nilon

(hampir mencapai 40% dari total penggunaannya). Penggunaan terbesar berikutnya sebesar 30% untuk dijadikan sabun, detergen, kosmetik. Asam lemak juga digunakan sebagai bahan dasar pembuatan resin dan cat sekitar 15% sisanya digunakan dalam industri pembuatan ban, tekstil, kulit kertas, pelumas dan lilin (Richtler and Knaut, 1984). Diagram alur oleokimia dapat digambarkan pada tabel 2.1. dibawah ini! Tabel 2.1. Diagram Alur Proses leokimia dari Bahan leokimia dan Turunan leokimia Dasar Minyak atau Lemak menjadi Bahan Dasar Bahan Dasar leokimia Turunan leokimia Minyak / Lemak Asam Lemak Alkohol Asam Lemak Metil Ester Asam Lemak Gliserol Amina Asam Lemak Amina Asam Lemak Diikuti reaksi-reaksi seperti : Aminasi Klorinasi Dimerisasi Epoksidasi Etoksidasi Guebetisasi idrogenasi Kuarternisasi Sulfasi Transesterifikasi Esterifikasi Saponifikasi Propilen, ParafindanEtilen Sumber : Richtler and Knaut, 1984 : Alami : Sintesis 2.3.Asam Lemak dan Turunannya Asam lemak merupakan asam karboksilat alifatis berantai panjang. Asam yang mempunyai berat molekul yang paling besar didalam molekul gliserida juga merupakan bagian yang

reaktif. ingga dapat dimengerti bahwa asam lemak mempunyai pengaruh besar terhadap lemak dan minyak. Asam lemak yang menyusun lemak ini dapat dibedakan antara asam lemak jenuh dan tak jenuh. Asam lemak disebut jenuh bila semua atom dalam rantainya diikat tidak kurang daripada dua atom, hingga dengan demikian tidak ada ikatan rangkap. Asam-asam lemak jenuh yang telah dapat diidentifikasi sebagai bagian dari lemak mempunyai atom 4 hingga 26. Adapun struktur umum rantai karbon dari asam lemak jenuh adalah sebagai berikut: R Asam-asam lemak yang didalamnya rantai karbonnya mengandung ikatan rangkap. Derajat ketidakjenuhan dari minyak tergantung pada jumlah rata-rata dari ikatan rangkap didalam asam lemak.pada asam lemak tak jenuh, masih dibedakan antara asam lemak yang mempunyai bentuk non-conjugated yaitu ikatan rangkap dalam rantai selalu dipisahkan oleh dua ikatan tunggal. Bentuk yang lain adalah asam yang conjugated, dimana antara atom-atom tertentu terdapat ikatan tunggal dan ikatan rangkap berganti-ganti. R Rantai karbon dari asam lemak tak jenuh R R Rantai asam lemak yang non-conjugated (tak terkonjugasi) Rantai asam lemak yang conjugated (terkonjugasi) (Sastrohamidjojo, 2005).

ampir semua asam lemak yang terdapat dalam alam mempunyai jumlah atom karbon yang genap karena asam ini dibiosintesis dari gugus asetil berkarbon dua dalam asetil koenzim A. dua atom karbon 8 3 asetil koenzim A SoA banyak tahap 3 ( 2 ) 14 2 asam palmitat jumlah atom karbon genap (Fessenden dan Fessenden, 1986). Asam lemak jenuh dan tidak jenuh yang penting, terdapat dalam minyak dan lemak dapat dilihat dalam tabel 2.2 dan 2.3 berikut: Tabel 2.2. Asam Lemak Jenuh yang Terdapat dalam Lemak dan Minyak Asam lemak jenuh Rumus molekul Sumber (Asal) Titik cair ( o ) n- Butirat 3 ( 2 ) 2 lemak susu sapi, mentega -7,6 n-kaproat 3 ( 2 ) 4 mentega, minyak kelapa, minyak kelapa sawit -1,5 n-kaprilat 3 ( 2 ) 6 Domba 1,6 Kaprat 3 ( 2 ) 8 susu sapi dan kambing, minyak kelapa, minyak kelapa sawit 31,5 Laurat 3 ( 2 ) 10 susu, minyak inti sawit, spermaseti, mnyak laural, minyak kelapa 44 Miristat 3 ( 2 ) 12 minyak pala, susu ternak, dan lemak nabati; minyak babi dan minyak 58

ikan hiu Palmitat 3 ( 3 ) 14 sebagian besar terdapat dalam lemak hewani dan minyak nabati 64 Stearat 3 ( 3 ) 16 Domba 69,4 Tabel 2.3. Asam Lemak Tidak Jenuh yang Terdapat dalam Lemak dan Minyak Asam lemak jenuh tak Rumus molekul Sumber (asal) Titik cair ( o ) minyak Palmitoleat 3 ( 2 ) 5 =( 2 ) 7 kacang dan 33 jagung leat (mega 9) 3 ( 2 ) 7 =( 2 ) 7 disebagian besar minyak dan lemak 14 Linoleat (mega 6) 3 ( 2 ) 4 = 2 =( 2 ) 7 Minyak biji kapas, biji lin, biji poppy -11 Linolenat (mega 3) 3 2 = 2 = 2 =( 2 ) 7 Minyak perilla, biji lin -

(Ketaren, 2008). 2.3.1 Asam Laurat Asam laurat atau disebut juga dengan asam dodekanoat merupakan asam lemak jenuh yang tersusun dari 12 atom karbon. Asam laurat mengandung hidrokarbon non Polar pada bagian ekornya dan gugus karboksilat yang Polar pada bagian kepala sehingga dapat berinteraksi dengan air. Asam laurat merupakan satu diantara tiga asam lemak jenuh yang paling banyak dijumpai daripada asam miristat,asam palmitat dan asam stearat. Asam laurat paling banyak dijumpai pada cinnamon (80-90%),minyak kelapa (40-60%) dan minyak inti sawit(40-50%). Asam laurat banyak digunakan pada pembuatan sabun,sampo,kosmetik dan bahan aktif permukaan lainnya. Adapun struktur dari asam laurat adalah sebagai berikut. 11 23 Gambar 2.2. Struktur Asam Laurat Sifat-sifat asam laurat adalah sebagai berikut: -rumus molekul : 12 24 2 -Berat molekul : 200,31 gr/mol -Densitas : 0,869 gr/cm 3 - Titik didih : 225 o -Titik lebur : 44 o - kristal serbuk berwarna putih

- tidak larut dalam air,1 gram larut dalam 1ml alkohol, 2,5 ml dalam propil alkohol dan larut sempurna dalam benzena dan eter (Anonimous,1976). 2.4. Ester Ester adalah turunan asam karboksilat yang gugus dari karboksilnya diganti gugus R dari alkohol. Ester mengandung gugus karbonil dan satu ikatan eter dengan karbon karbonil (Wilbraham dan Matta, 1992). Rumus Umum R R Gambar 2.3. Rumus Umum Ester Ester dapat diperoleh dari asam organik yang di reaksikan dengan alkohol. Pembentukan air pada reaksi esterifikasi, selalu nya berasal dari asam, sebab reaksi senyawa organik bersifat molekular, meskipun asam karboksilat terionisasi sedikit, tetapi alkohol tidak terionisasi. Ester dari asam organik memiliki sifat: Berupa larutan bila massa rumusnya tidak terlalu besar Larutan yang netral, tidak berwarna, lebih mengkilat dibandingkan air dan berbau harum Senyawa yang massa rumusnya rendah dapat larut dalam air tapi sangat sedikit, lebih banyak larut dalam alkohol dan eter Titik didih relatif rendah, dibandingkan titik didih asam atau alkohol yang menyusunnya (Besari dkk, 1982). 2.4.1. Esterifikasi

Reaksi esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat dan alkohol membentuk ester. Turunan asam karboksilat membentuk ester asam karboksilat. Ester asam karboksilat ialah suatu senyawa yang mengandung gugus 2 R dengan R dapat berupa alkil maupun aril. Esterifikasi dikatalisis asam dan bersifat dapat balik (Fessenden dan Fessenden,1986). Menurut Besari dkk (1982), reaksi esterifikasi dapat dilakukan dengan reaksi-reaksi berikut ini: 1. Asam karboksilat ditambah dengan alkohol 3 + 2 5 3 2 5 + 2 Asam asetat etanol etil asetat air 2. Alkil halida ditambah garam dari suatu asam karboksilat 3 I + Ag 3 3 3 + AgI Metil Iodida garam argentum metil asetat argentum iodida 3. Anhidrida asam ditambah dengan alkohol 3 + 2 5 3 + 3 3 2 5 Anhidrida asetat etanol asam asetat etil asetat 4. Asil halida ditambah dengan alkohol 3 l + 2 5 3 2 5 + l Asil klorida Etanol etil asetat asam klorida

5. Alkohol ditambah dengan amida 2 5 + 3 N 2 N 3 + 3 2 5 Etanol amida amoniak etil asetat Salah satu contoh dari reaksi pembuatan ester adalah reaksi esterifikasi antara hidroxylethyl albizia benth oil dengan anhidrida maleat dengan bantuan katalis l menghasilkan maleanised hydroxyethyl albizia benth oil amide. Dimana hidroxyethyl albizia benth oil merupakan hasil reaksi dari albizia benth oil dengan dietanolamina. Reaksi esterifikasi dilanjutkan terhadap maleanised hydroxyethyl albizia benth oil amide dengan penambahan anhidrida ftalat yang menghasilkan senyawa maleanised albizia benth oil polyesteramide, seperti reaksi berikut ini : (Akintayo et al,2012). R 1 R 2 + 3 2 2 N 2 2 R 3 Albizia Benth il dietanolamina 3 ( 2 ) 3 2 2 2 ( 2 ) 4 2 2 N 2 2 2 2 + idroksietil Albizia Benth il Amida (EABA) l anhidrida maleat 3 ( 2 ) 3 2 2 2 ( 2 ) 4 2 2 2 2 N 2 2 + Maleanised EABA anhidrida ftalat 2 2 3 ( 2 ) 3 2 2 2 ( 2 ) 4 2 2 N Maleanised albizia benth oil poliesteramida (MA-ABPEA) 2 2

Gambar 2.4. Reaksi pembentukan maleanised albizia benth oil polyesteramide 2.5. Amida Amida umumnya dibuat dengan jalan mereaksikan suatu klorida asam dengan amina, amonia, amina monosubstitusi atau amina disubstitusi. Pemberian nama senyawa amida yaitu dengan mengganti akhiran oat atau at dari asam karboksilat dengan amida. Jika atom nitrogen suatu amida berikatan dengan gugus alkil atau aril, maka gugus yang berikatan pada amida ditunjukkan dengan N- (Riswiyanto,2009). Bentuk sederhana dari amida adalah sebagai berikut: R N 2 Amida sederhana R N Gugus Amida R NR Amida tersubstitusi Gambar 2.5. Bentuk-Bentuk Amida (Fessenden dan Fessenden,1986). Amida juga dapat dibuat dari reaksi ammonia atau amina dengan turunan asam karboksilat, ester terutama metil ester dan anhidrida asam. Jika ester digunakan sebagai bahan baku, terbentuk alkohol sebagai hasil samping reaksi. Jika digunakan anhidrida, hasil sampingnya adalah asam karboksil (Wilbraham,1992). Amida siklik mempunyai nama khusus, yaitu diberi akhiran laktam sebagai pengganti dari gugus lakton yang di dalam cincinnya mengandung atom nitrogen(riswiyanto, 2009)..

α α β N 3 β butirolaktam γ N ε ε kaprolaktam Gambar 2.6. ontoh Amida Siklik 2.5.1. Reaksi Amidasi Amida disintesis dari derivat asam karboksilat dan amonia atau amina yang sesuai. Reaksi pembuatan amida secara umum dapat digambarkan sebagai berikut: (Fessenden dan Fessenden,1986) R l klorida asam RR anhidrida RR ester R ' 2N R ' 2N R ' 2N RNR ' 2 amida Reaksi antara monoetanolamin dengan metil ester asam lemak untuk membentuk alkanolamida telah banyak dikembangkan untuk pembuatan Stearamida (amida asam lemak) yang banyak digunakan dalam kosmetik dan sabun kecantikan (Urata and Takaishi, 1998). Apabila senyawa amina direaksikan dengan ester, reaksi akan terjadi pada suhu tinggi, tetapi sangat lambat sekali apabila dilakukan pada suhu rendah dan tanpa bantuan katalis basa Lewis seperti Na 3 yang lebih kuat dari trietilamin. Reaksi amidasi antara amina dan ester dengan bantuan katalis Na 3 dapat berlangsung

pada suhu 100 o -120 o, sedangkan apabila tidak menggunakan katalismaka reaksi dapat berlangsung pada suhu 150 o -250 o (Gabriel, 1984). Pembuatan amida antara lain : 1. Reaksi asam karboksilat dengan amoniak 3 + N 3 3 3 N 2 + N 2 asetat amoniak asetamida air asam 2. Dalam perdagangan didapat dari garam amoniumnya dipanaskan pada temperatur 100-200 o 100-200 o 3 3 + 2 N 4 N 2 amonium asetat asetamida air 3. Dengan mereaksikan anhidrida asam dengan amoniak 3 3 + N 2 3 N 2 + 3 anhidrida asetat amoniak asetamida asam asetat 4. Dengan menghidrolisa senyawa nitril, yakni pada reaksi sebelum terbentuknya asam karboksilat, terbentuk dahulu amida sebagai salah satu hasil antara. 3 N + 2 3 N 2 Metil sianida Air asetamida 3 + 2 3 N 2 + N 3 Asetamida air asam asetat amoniak

(Besari dkk, 1982) 2.5.2.Etanolamina Etanolamina (N 2 -(2) 2 -) merupakan cairan yang higroskopis, kental, berbau amoniak, mampu mengabsorpsi 2 dan larut dalam air, metanol serta aseton.etanolamina dikenal juga dengan nama 2-Aminoethanol, Monoethanolamine, Ethylolamine,β-Amino Ethyl alcohol dan β ydroxylethylamine. Etanolamina dapat digunakan untuk menghilangkan 2, 2 S dari gas alam ataupun gas lainnya. Etanolamina dapat juga digunakan sebagai sintesis pembuatan surfaktan (Anonimous,1976). Reaksi dari etilen oksida dengan amonia menghasilkan etanolamina yang digunakan untuk menghilangkan hidrogen sulfida dan karbon dioksida dan gas alam. N 2 3 + 2 2 N- 2-2 Etanolamina Gambar 2.7. Reaksi Pembuatan etanolamina (Bailey,1985). 2.5.3.Dietanolamina Pada umumnya, dietanolamina berbentuk cairan kental, sedikit berbau amoniak dan larut dalam air, metanol, serta aseton. Dietanolamina diproduksi bersamaan dengan monoetanolamina dan trietanolamina melalui amonolisis etilen oksida. Dietanolamina dapat digunakan sebagai emulsifier, dalam pembuatan surfaktan, agen pendispersi, dalam bidang kosmetik dan juga dalam bidang farmasi (Anonimous,1976).

Dietanolamina adalah senyawa yang terdiri dari gugus amina dan dialkohol. Dialkohol menunjukkan adanya dua gugus hidroksil pada molekulnya. Dietanolamina juga dikenal dengan nama bis(hydroxyethyl)amine, diethylolamine, hydroxtdiethylamine, diolamine dan 2,2-iminodiethanol. N 3 + 2 2 2 N- 2 2 + N- 2 2 + 2 2 -N 2 2 2 2 2 2 Amoniak Etilen ksida Etanolamina Dietanolamina Trietanolamina Gambar 2.8. Reaksi pembuatan dietanolamina (Bailey, 1985). Sifat-sifat dietanolamina adalah sebagai berikut : a. Rumus molekul : 4 11 N 2 b. Berat molekul : 105,1364 g/mol c. Densitas : 1,090 g/cm 3 d. Titik leleh : 28º (1atm) e. Titik didih : 268,8º (1atm) f. Kelarutan : 2, alcohol, eter Dietanolamina banyak digunakan dalam produk kosmetik dan detergen karena mampu menciptakan tekstur yang lembut dan foaming agent (Wikipedia,2007). 2.5.4. Alkanolamida Alkanolamida adalah surfaktan bukan ionik dimana gugus hidroksil yang dimilikinya tidak cukup hidrofilik untuk membuat alkanolamida larut dalam air dengan sendirinya.

Alkanolamida digunakan sebagai bahan pembusa (foom boosting) dalam pembuatan shampoo (Nuryanto,2002). Untuk membuat senyawa alkanolamida dengan menggunakan dietanolamina melalui reaksi amidasi langsung dengan trigliserida akan menghasilkan senyawa alkanolamida yang memiliki dua gugus hidroksi (poliol) seperti yang telah dilakukan oleh penelitian sebelumnya (Anasri, 2009). Alkanolamida adalah surfaktan bukan ionik dimana gugus hidroksil yang dimilikinya tidak cukup hidrofilik untuk membuat alkanolamida larut dalam air dengan sendirinya. Alkanolamida digunakan sebagai bahan pembusa (foom boosting) dalam pembuatan shampoo. Jenis alkanolamida yang paling penting adalah dietanolamida. Senyawa N- etanol alkil amida adalah senyawa yang termasuk dalam golongan asam lemak yang dapat dimanfaatkan sebagai surfaktan dalam produk detergen, kosmetik dan tekstil. Senyawa ini dapat dibuat dengan mereaksikan asam lemak sawit destilat dengan senyawa yang mengandung gugus atom Nitrogen seperti alkanolamina (Nuyanto, dkk, 2002). Sifat kimia dari suatu senyawa alkanolamida sangat bervariasi, tergantung dari panjang cincin hidrokarbon dan sifat substituen pada atom nitrogen (Bilyk et al, 1992). 2.5.5. Monoetanolamida Monoetanolamida asam lemak memiliki banyak kegunaan khususnya dalam detergen dan kosmetik. Fungsi utama dari monoetanolamida adalah sebagai penstabil busa, meningkatkan viskositas dan emulsifier. Secara komersial metil ester asam lemak atau trigliserida dengan monoetanolamina dapat menghasilkan monoetanolamida pada temperatur dan tekanan tetentu seperti gambar 2.3 berikut (Rahman, 2003) :

R 1 R 2 + 3 2 N 2 2 R 1, R 2 dan R 3 N 2 2 + R 3 Trigliserida Monoetanolamina Monoetanolamida Gliserol Gambar 2.9. Reaksi Pembentukan Monoletanolamida (ughes and Lew, 1970) 2.5.6. Dietanolamida Dietanolamida pertama kali diperoleh dengan mereaksikan dua mol dietanolamina dengan satu mol asam lemak. Senyawa ini diberi nama kritchevsky sesuai dengan nama penemunya. Bahan baku yang digunakan dalam produksi dietanolamida dapat berupa asam lemak, trigliserida atau metil ester. Dietanolamida biasanya diproduksi secara kimia konvensional pada temperature 150 o selama 6-12 jam (erawan,1999). Berikut merupakan reaksi pembuatan dietanolamida: R 1 2 2 2 2 R 2 + 3N 2 2 R 1, R 2 dan R 3 N 2 2 + R 3 trigliserida dietanolamina dietanolamida gliserol Gambar 2.10. Reaksi pembuatan dietanolamida(ugles and Lew, 1970).

2.6. Anhidrida Asam Anhidrida asam berasal dari dua asam karboksilat yang melepaskan satu molekul air. Anhidrida berarti tanpa air. Anhidrida dinamai dengan menambahkan kata anhidrida di depan nama asamnya. Anhidrida dari asam monokarboksilat berwujud cair, sedangkan asam dikarboksilat dan asam karboksilat aromatik berwujud padat (Wilbraham dan Matta, 1992). 3 3 Gambar 2.11. Anhidrida Asam IUPA : anhidrida asam etanoat Trivial : anhidrida asam asetat (Fessenden dan Fessenden, 1986). Asam anhidrida lebih reaktif dibandingkan dengan ester, tetapi reaksinya dengan nukleofil kurang reaktif dibandingkan dengan asil halida. Air menghidrolisis anhidrida kembali menjadi asam. Reaksinya dengan alkohol menghasilkan ester, sedangkan dengan amonia menghasilkan asam (art, 1990). 2.6.1. Tatanama Anhidrida Anhidrida dinamai dengan menambahkan kata anhidrida di depan nama asamnya. Salah satu anhidrida asam ialah anhidrida asetat : 3 3 Anhidrida asetat (td 139,5 o ) (Wilbraham dan Matta, 1992).

2.6.2. Pembuatan Anhidrida Dengan sedikit kekecualian, anhidrida asam tidak dapat dibentuk langsung dari asam karboksilat induknya, tetapi harus dibuat dari derivat asam karboksilat yang lebih reaktif. Satu jalur ke anhidrida ialah dari klorida asam dan suatu karboskilat. R--l + - --R' R----R' + l - suatu klorida asam suatu ion karboksilat suatu anhidrida Jalur lain pembuatan anhidrida ialah dengan mereaksikan asam karboskilat dan anhidrida asetat. Suatu reaksi reversible terjadi antara suatu asam karboskilat dan suatu anhidrida. Letak kesetimbangan dapat digeser ke kanan dengan menyuling asam asetat segera setelah asam ini terbentuk (Fessenden dan Fessenden, 1986). 2.6.3. Reaksi Anhidrida Beberapa asam dikarboksilat tertentu mudah melepas air dalam pemanasan apabila dapat membentuk cincin beranggota lima atau enam. Misalnya : 2 kalor 2 2 2 2 Asam suksinat anhidrida suksinat air

kalor 2 Asam ftalat anhidrida ftalat air Anhidrida asam dari asam monokarboksilat berwujud cair, sedangkan asam dikarboksilat dan asam karboksilat aromatik berwujud padat (Wilbraham dan Matta, 1992). Reaksi pembuatan anhidrida asam umumnya berlangsung antara asil klorida dengan garam dari asam karboksilat. Sifat kimia anhidrida asam sama dengan klorida asam, namun anhidrida bereaksi sedikit lebih lambat daripada klorida asam. Anhidrida bereaksi dengan air menghasilkan asam, dengan amina menjadi amida, dengan alkohol membentuk ester, dan dengan LiAl 4 menghasilkan alkohol primer. R R anhidrida asam 2 N 3 R' LiAl 4 R R N 2 R R' R LiAl 4 R asam amida ester aldehida alkohol primer Gambar 2.12 Reaksi-reaksi Anhidrida Asam (Riswiyanto, 2009)

2.6.4 Anhidrida Ftalat Anhidrida ftalat disebut juga 1,3-Isobenzofurandione. Dengan rumus molekul 8 4 3, berat molekul 148,11 dan titik lebur 130,8 o. Larut dalam alkohol. Gambar 2.13. Anhidrida Ftalat (Anonimous, 1967) 2.7.Surfaktan Surfaktan atau surface active agent merupakan senyawa yang dapat menurunkan tegangan permukaan air. Molekul surfaktan apa saja mengandung suatu ujung hidrofobik (satu rantai hidrokarbon atau lebih) dan suatu ujung hidrofilik (biasanya, namun tidak harus, ionik). Jumlah hidrokarbon dari suatu molekul surfaktan harus mengandung 12 atau lebih atom karbon agar efektif. Ekor hidrofobik Ekor hidrofilik Gambar 2.14. Lambang Umum Surfaktan (Fessenden dan Fessenden,1986). Berdasarkan gugus hidrofiliknya, surfaktan diklasifikasikan menjadi 4 golongan yaitu (Rosen,2004) : a. Surfaktan anionik - Jenis surfaktan yang paling besar - Tidak bereaksi dengan jenis surfaktan lain

- Sensitif terhadap air sadah atau hard water. Derajat sensitifitasnya : asam karboksilat > pospat > sulfat (sulfonat). - Rantai pendek polioksietilen antara gugus anionik dan hidrokarbon meningkatkan kemampuan untuk bereaksi terhadap garam. - Rantai pendek polioksipropilen antara gugus anionik dan hidrokarbon meningkatkan kelarutan dalam pelarut organik. - Jenis sulfat mudah terhidrolisa oleh asam-asam dalam proses autokatalitik. ontohnya adalah - Sabun karboksilat R - - Sulfonat - RS 3 - Sulfat - R S 3 - Phospat RP() 2 - b. Surfaktan kationik - Jenis surfaktan yang banyak jumlahnya setelah anionik dan nonionik. - Pada umunya tidak bereaksi dengan jenis anionik. - Mempunyai sifat indeks bias yang lebih tinggi dibanding surfaktan jenis lain. - Mempunyai sifat adsorpsi permukaan yang baik. ontohnya adalah - eksa decil trimetilamonium bromida 3 ( 2 ) 15 N + ( 3 ) 3 Br - - Dodecilamina hidroklorida 3 ( 2 ) 11 N + 3 l - c. Surfaktan non-ionik - Merupakan surfaktan kedua terbesar. - Dapat bereaksi dengan semua jenis surfaktan. - Sensitif terhadap air sadah. - Berbeda dengan surfaktan ionik, sifat fisik-kimia surfaktan ini tidak terpengaruh oleh penambahan elektrolit. - Sifat fisik-kimia senyawa etoksilat sangat tergantug pada temperatur. ontonya adalah :

- Polioksietilen-p-tertocyl phenyleter 8 17 6 4 ( 2 2 ) 10 d. Surfaktan ampoterik ( Zwitter ion) Surfaktan zwitter ion mengandung muatan yang berbeda dan dapat membentuk surfaktan amfoter. Perubahan muatan terhadap p pada surfaktan ampoterik mempengaruhi pembentukan busa, pembasahan, sifat detergen dan lainnya. ontohnya adalah : N-Dodesil-N,N-Dimetil 12 25 N + ( 3 ) 2 2 - ( Porter, 1994). Senyawa yang mengandung bagian hidrofilik dan hidrofobik, umumnya disebut sebagai zat amphiphilic. Keseimbangan hidrofilik-lipofilik (LB = hidrophilic-lipophilic balance) dari suatu zat amphiphilic cukup penting dalam fenomena kelarutan dan emulsifikasi (Winsor, 1956). Nilai LB dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : LB = 20 1 S A Dimana S adalah bilangan penyabunan dan A adalah bilangan asam (Martin, 1960). Griffin (1949), merancang sebuah skala sembarang nilai sebagai ukuran keseimbangan hidrofilik-lipofilik (LB = ydrophilic-lipophilic Balance) dari zat aktif permukaan. Dengan sistem nomor ini, kemungkinan untuk membuat berbagai rentang LB yang optimal untuk setiap kelas surfaktan dapat dilihat pada gambar berikut: