BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Vera Kartawijaya
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 18 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. leokimia leokimia merupakan cabang ilmu kimia yang mempelajari trigliserida yang berasal dari minyak dan lemak menjadi asam lemak dan gliserin serta turunan asam lemak baik dalam bentuk ester, amida, sulfat, sulfonat, alkohol, alkoksi, maupun sabun. leokimia merupakan turunan gliserol dengan asam lemak yang berubah dalam bentuk turunanya yang dapat dilihat pada tabel 2.1 yang secara umum digunakan baik sebagai surfaktan, deterjen, polimer, aditif bahan bakar dan sebagainya. Tabel 2.1. Diagram Alur leo Kimia dan Turunannya Bahan Dasar Bahan Dasar leokimia Turunan leokimia Minyak / Lemak Asam Lemak Alkohol Asam Lemak Amina Asam Lemak Metil Ester Asam Lemak Gliserol Amina Asam Lemak Diikuti reaksi-reaksi seperti : Aminasi Klorinasi Dimerisasi Epoksidasi Etoksidasi Guebetisasi idrogenasi Kuarternisasi Sulfasi Transesterifikasi Esterifikasi Saponifikasi Propilen, Parafin dan Etilen Sumber : ichtler and Knaut, 1984 : Alami : Sintesis
2 19 Produk utama minyak atau lemak yang digolongkan dalam oleokimia adalah asam lemak, metil ester asam lemak, alkohol asam lemak, amina asam lemak dan gliserol. Asam lemak, gliserol, dan metil ester diperoleh dari pemecahan (splitting) trigliserida, sedangkan lemak alkohol dan amina asam lemak diperoleh melalui reaksi hidrogenasi dan aminasi asam lemak. Produk- produk inilah yang disebut sebagai oleokimia dasar dan dari produk ini dapat diturunkan produk-produk lain melalui reaksi kimia lanjutan yang digolongkan kedalam turunan oleokimia (Satyawibawa, 1992). Asam lemak jenuh seperti kaprilat, miristat, palmitat dan stearat dapat digunakan sebagai bahan pembuatan detergen, pemantap maupun sebagai bahan kosmetika. Berbagai turunan asam lemak yang berasal dari hewani dan nabati dapat juga diperoleh melalui reaksi amidasi, klorinasi, hidrogenasi, sulfasi, sulfonasi dan reaksi lainnya dalam industri oleokimia (Meyer, 1973) Asam Lemak Asam lemak adalah asam karboksilat berantai lurus yang dapat diperoleh dari hidrolisa suatu lemak atau minyak, umumnya memiliki rantai hidrokarbon panjang dan tidak bercabang. Asam lemak ini terbagi dua, yaitu asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Beberapa contoh asam lemak jenuh yang paling umum, asam laurat (dodecanoic acid), asam miristat (tetradecanoic acid), asam palmitat (hexadecanoic acid), asam stearat (octadecanoic acid). Asam lemak tidak jenuh yang umum adalah asam lemak yang memiliki 18 atom dengan satu atau dua ikatan rangkap. Misalnya, asam oleat, asam linoleat, dan asam linolenat (Wilbraham, 1992). Bersama-sama dengan gliserol asam lemak merupakan penyusun utama minyak nabati atau hewani dan salah satu bahan baku untuk semua lipida pada makhluk hidup. Secara alami, asam lemak bisa berbentuk bebas maupun terikat dengan gliserida. Asam lemak merupakan bahan dasar pada industri oleokimia. Dari asam lemak ini dapat diturunkan berbagai turunan asam lemak seperti: amida asam lemak, alkohol asam lemak dan metil ester asam lemak yang kemudian dapat diubah kedalam berbagai turunan asam lemak melalui amidasi, klorinasi, hidrogenasi, sulfasi, sulfonasi dan reaksi lainnya (Fessenden, 1982).
3 20 Asam lemak atau asam karboksilat merupakan asam lemah, namun asam karboksilat masih jauh lebih asam dari pada kelompok senyawa-senyawa organik lainnya. Asam karboksilat yang mempunyai atom karbon lebih dari enam sedikit larut dalam air, tetapi garam karboksilat dari logam alkali sangat larut dalam air. Keasaaman dari asam karboksilat ditentukan dengan mudahnya gugus melepaskan ion hidrogen dari pada alkohol. + ion alkoksida alkohol + asam karboksilat resonansi antara ion karboksilat I dan ion karboksilat II Pada reaksi keseimbangan alkohol, ion alkoksida hanya mempunyai satu bentuk struktur, yaitu -- sedangkan pada asam karboksilat, ion karboksilat berada dalam dua bentuk resonansi I dan resonansi II. ail ini berarti ion karboksialt distabilkan oleh adanya resonansi. esonansi ini memudahkan pelepasan ion hidrogen sehingga keasamaan dari asam karboksilat lebih besar dari pada alkohol Asam Stearat Asam stearat merupakan zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur, berwarna putih atau kuning pucat, memiliki kesamaan seperti lemak lilin, dimana titik leburnya 54o, Titik didih 384o, kelarutannya sangat sedikit larut dalam air, larut dalam alkohol, benzen, kloroform, aseton, karbon tetraklorida, karbon disulfida, amil asetat dan toluena (Anonim I, 1976 ). Stearat dan palmitat merupakan asam lemak yang tidak saja memiliki washpower (daya cuci) serta daya basah yang tinggi. Sebagai detergen, juga kedua asam lemak tersebut bila direaksikan kembali dengan gliserol akan membentuk monogliserida stearat dan digliserida stearat palmitat. ampuran monogliserida dan digliserida tersebut yang semenjak tahun 1934 dikenalkan perusahaan kimia leo Procter dan Gamble sebagai super glycerinated atau high ratio shortening sebagai
4 21 pengganti refined-lard (shortening yang berasal dari campuran lemak babi dan lembu) dikarenakan tidak disukai aromanya oleh konsumen Amerika. Garam logam stearat banyak digunakan sebagai bahan pelumas pada industri plastik maupun bahan pencampuran pembuatan bedak dalam industri kosmetika (Douglas, 1979). Disamping dalam bentuk garam logam asam lemak stearat diubah kedalam bentuk stearamida yang digunakan sebagai pelumas pada industri plastik (eck, 1984) Asam Laurat Asam laurat atau asam dodekanoat adalah asam lemak jenuh berantai sedang (middlechained fatty acid, MFA) yang tersusun dari 12 atom. Sumber utama asam lemak ini adalah minyak kelapa, yang dapat mengandung 50% asam laurat, serta minyak inti sawit (palm kernel oil). Sumber lain adalah susu sapi. Asam laurat memiliki titik lebur 44 dan titik didih 225 sehingga pada suhu ruang berwujud padatan berwarna putih, dan mudah mencair jika dipanaskan. umus kimia 3(2)10, berat -1 molekul 200,3 g.mol. Asam-asam lemak rantai pendek memiliki kemampuan kelarutan dalam pelarut air, semakin panjang rantai asam-asam lemak maka kelarutannya dalam air semakin o berkurang. Asam kaprilat pada 30 mempunyai nilai kelarutan 1, yang artinya 1 o gram asam kaprilat dapat larut dalam setiap 100 g air pada suhu 30. Sifat kelarutan tersebut digunakan sebagai dasar untuk memisahkan berbagai asam lemak yang tidak jenuh, yaitu dengan proses kristalisasi (Ketaren, 2008) Ester Ester adalah turunan asam karboksilat yang dibentuk oleh gugus metoksi dan karboksil merupakan salah satu dari kelas-kelas senyawa organik yang sangat berguna, dapat diubah melalui berbagai proses menjadi aneka ragam senyawa lain. Ester lazim dijumpai di alam (Fessenden, 1999). Ester diberi nama seperti penamaan pada garam. Ester umumnya mempunyai bau yang enak, seperti rasa buah dan wangi buah-buahan (art, 1990).
5 22 Esterifikasi merupakan reaksi ionik, yang mana gabungan dari reaksi adisi dan reaksi penataan ulang eliminasi (Davidek, 1990). eaksi asam karboksilat dengan alkohol menghasilkan senyawa ester melalui reaksi yang dikenal dengan nama esterifikasi, dan biasanya menggunakan katalis asam. Beberapa senyawa ester juga dapat dibentuk dengan beberapa cara seperti terlihat pada gambar 2.1. eaksi esterifikasi akan berlangsung dengan baik jika direfluks bersama sedikit asam sulfat atau asam klorida. Mekanisme reaksi esterifikasi dapat dilihat pada gambar 2.2 (iswiyanto, 2002). Metil ester asam lemak merupakan zat antara yang sangat penting dalam industri oleokimia. Pembuatan metil ester asam lemak telah dikembangkan dengan cara pengadukan berkecepatan tinggi pada suhu kamar dengan waktu menit, serta memberikan hasil reaksi pembentukan metil ester asam lemak sebesar 90-95% (Mittelbach dan Trihart, 1998). Beberapa metode pembuatan ester dapat dilakukan melaui reaksi-reaksi dibawah ini: asam karboksilat ' 2S 4 l/ 2 (a) Sl2 S2 + l Na 'X ' + suatu ester X (b) l asil klorida ' piridin (a) metode ini merupakan pembuatan ester sederhanana, dimana esterifikasi menggunakan katalis asam anorganik (asam sulfat dan asam klorida dengan berbagai variasi alkohol seperti metanol dan etanol. ' + suatu ester ' suatu ester + l (c) (b) metode ini juga merupakan pembuatasn ester sederhana, dimana esterifikasi menggunakan katalis basa (Na) dan esterifikasi ini hanya baik jika menggunakan alkil halida primer. (c) metode ini dilakukan dengan mengubah asam karboksilat kedalam bentuk asil klorida, dengan melakukan klorinasi menggunakan Sl2 ataupun Pl3, dimana klorinasi ini bertujuan untuk menambah kereaktifan asil klorida sebagai zat pengasilasi yang baik, dengan katalis piridin. Gambar 2.1. Metode Pembuatan Ester
6 23 : : :: Asam karboksilat menerima proton dari katalis asam kuat ' : ' Alkohol menyerang 2 3 karbonil yang terprotonasi menjadi dari atom oksigen dan Melepaskan proton intermediet tertrahedral menerima proton pada oksigen yang lain ' ' Melepaskna molekul air menjadi ester terprotonasi Sumber : (iswiyanto, 2002). Gambar 2.2. Mekanisme reaksi esterifikasi suasana asam : ' ' : Langkah 1. Gugus karbonil dari asam terprotonasi secara reversible. Langkah ini menjelaskan bagaimana katalis asam bekerja, protonasi meningkatkan muatan positif pada karbon karboksil dan menambah reaktivitasnya terhadap nukleofili. Langkah 2. Inilah langkah yang menentukan. Alkohol, sebagai nukloefili, menyerang karbon karbonil dari asam yang terprotonasi. Inilah langkah yang membentuk ikatan baru - (ikatan ester). Langkah 3 dan 4. Kedua langkah ini merupakan kesetimbangan yang mana oksigennya lepas atau memperoleh proton. Kesetimbangan asam-basa seperti ini bersifat reversibel dan berlangsung cepat dan terus menerus berjalan dalam larutan bersusana asam dari senyawa yang mengandung oksigen. Pada langkah 4, tidak terjadi masalah mana gugus yang terprotonasi karena gugus-gugus tersebut setara. Langkah 5. Pada langkah ini terbentuk air, yaitu satu produk dari reaksi keseluruhan. Supaya langkah ini berlangsung, gugus harus terprotonasi untuk meningkatkan kapasitias gugus perginya. (langkah ini serupa dengan kebalikan dari langkah 2) Langkah 6. Langkah deprotonasi ini menghasilkan ester dan meregenerasi katalis asam. (langkah ini serupa dengan kebalikan dari langkah 1). Esterifikasi antara asam lemak bebas (ALB/ FFA) dengan alkohol rantai pendek (metanol atau etanol) menghasilkan alkil ester asam lemak dan air. Katalis yang digunakan untuk reaksi esterifikasi adalah asam, biasanya asam sulfat ( 2 S 4 )
7 24 atau asam fosfat ( 3 P 4 ). Berdasarkan kandungan FFA dalam minyak nabati maka proses pembuatan biodiesel secara komersial dibedakan menjadi 2, yaitu: 1. Transesterifikasi dengan katalis basa (sebagian besar menggunakan kalium hidroksida) untuk bahan baku refined oil atau minyak nabati dengan kandungan FFA rendah. 2. Esterifikasi dengan katalis asam (umumnya menggunakan asam sulfat) untuk minyak nabati dengan kandungan FFA tinggi dilanjutkan dengan transesterifikasi dengan katalis basa (Maharani, 2010). Alkil ester dapat digunakan sebagai bahan antara bagi asam asam lemak dalam memproduksi sejumlah turunannya. Penggunaaannya sebagai bahan antara untuk menghasilkan senyawa lain yang sangat menguntungkan karena untuk memperolehnya membutuhkan bahan yang relatif murah. Dalam bentuk alkil ester juga mempermudah proses destilasi fraksinasi dibandingkan dengan asam lemak karena alkil ester mempunyai titik didih yang lebih rendah (Farris, 1979). Salah satu turunan metil ester yang digunakan langsung sebagai bahan aktif permukaan yaitu Metil Ester Sulfonat (MES) dimana gugus hidrofiliknya bermuatan negatif yang termasuk golongan surfaktan anionik. Adapun bahan baku yang digunakan untuk pembuatan MES ini adalah olein minyak sawit menggunakan proses transesterifikasi. Transesterifikasi berfungsi untuk menggantikan gugus alkohol pada gliserol dengan senyawa alkohol sederhana seperti metanol dan etanol. Pada reaksi transesterifikasi, terjadi pemindahan alkohol dari suatu ester menjadi alkohol lain dalam proses yang sama melalui hidrolisis. Umumnya metil ester diproduksi memalui proses transesterikasi menggunakan metanol atau biasa disebut metanolisis. Diantara alkohol yang biasa digunakan, penggunaan metanol lebih disukai karena berharga lebih murah (Meher, dkk, 2004). Menurut Sontang (1982), proses metanolisis (hidrolisis menggunakan metanol) terhadap minyak atau lemak akan menghasilkan metil ester dan gliserol melalui pemecehan molekul trigliserida. Menurut Meher, dkk, (2004), proses transesterifikasi dipengaruhi oleh berbagai faktor tergantung kondisi reaksinya. Variabel yang mempengaruhi proses transesterifikasi adalah rasio alkohol terhadap jumlah asam lemak, jenis dan konsentrasi katalis, suhu dan kecepatan pengadukan. Menurut Noureddini dan Zhu (1997), reaksi transesterifikasi menggunakan katalis asam fosfat mengakibatkan reaksi bersifat reversibel (dua arah), dimana proses pembentukan turunan minyak metil ester
8 25 dan asam lemak bebas serta pembentukan trigliserida berlangsung secara bersamaan mencapai pada titik kesetimbangan. Selain asam fosfat, menurut ui (1996), katalis yang dapat digunakan untuk proses transesterifikasi adalah Na3, K, dan Na. Menurut Boocock, dkk, (1998), basa mengkatalisis metanolisis minyak nabati lebih lambat dari pada butanolisis karena dua fase cair berada pada awal reaksi pembentukan. Ester dapat dihidrolisis dengan baik dalam suasana basa melalui reaksi yang biasa dikenal dengan nama saponifikasi terlihat pada gambar 2.3. Selain itu dalam suasana asam, ester dapat dihidrolisis menjadi asam karboksilat dan alkohol kembali dengan mekanisme reaksinya pada gambar 2.4 (iswiyanto, 2002). a. Mekanisme hidrolisis ester dalam siasana basa (saponifikasi) : :: ' adisi nukleofilik - ke karbonil ester, menjadi intermediet alkoksida tetrahedral ' :: :: :: 3 ' mengeluarkan ion ion alkoksida menarik alkoksi menghasilkan proton dari asam asam karboksilat karboksilat menjadi ion karboksilat - ' proton ion karboksilat oleh asam mineral menghasilkan asam karboksilat Gambar 2.3 Mekanisme idrolisis Ester dalam Suasana Basa Mekanisme ini merupakan contoh lain dari substitusi asil nukleofilik. eaksinya melibatkan serangan nukleofilik oleh ion hidroksida, yaitu nukleofili kuat, pada karbon karbonil dari ester. Langkah kunci ialah adisi nukleofilik pada gugus karbonil. eaksi berlangsung melalui intermediet tetrahedral, tetapi reaktan dan produknya berbentuk trigonal. Penyabunan tidak bersifat reversibel. Pada langkah terakhir, ion alkoksida yang merupakan basa kuat mengambil proton dari asam untuk membentuk ion karboksilat dan molekul alkohol. Langkah ini menyebabkan reaksi sempurna berjalan kekanan.
9 26 b. Mekanisme hidrolisis ester dalam suasana asam :: ' ' serangan nukleofilik oleh air, menjadi intermediet tetrahedral protonasi gugus karbonil untuk mengaktifkan ' transfer proton,lalu mengubah ' menjadi gugus pergi yang baik ' :: ' 3 melepaskan alkohol menghasilkan asam karboksilat dan katalis asam Sumber : (iswiyanto, 2002). Gambar 2.4 Mekanisme idrolisis Ester dalam Suasana Asam Amida Suatu amida ialah senyawa yang mempunyai nitrogen trivalent terikat pada suatu gugus karbonil. Amida juga merupakan turunan asam karboksilat biasa yang paling tidak reaktif. Suatu amida diberi nama asam karboksilat induknya, dengan mengubah imbuhan asam -oat (atau at) menjadi amida. 3 IUPA = etanamida TIVIAL = asetamida N2 Amida primer memiliki rumus umum N2. Amida primer ini dapat disintesis dari derivat asam karboksilat seperti (ester, asil halida, anhidrida asam) dengan amonia atau amina yang sesuai, seperti pada gambar 2.5 dalam pembuatan amida (art, 2003).
10 27 eaksi-reaksinya adalah sebagai berikut : 1 2 N l N asil klorida Amida 1 2 N + l 2 N 1 Amida anhdrida asam 1 2 N ' ester N Amida 1 + '- 2 Sumber : (Fessenden, 1999) Gambar 2.5. eaksi Pembuatan Amida Amida asam lemak pada industri oleokimia dapat dibuat dengan mereaksikan asam lemak atau metil ester asam lemak dengan suatu amina (Maag, 1984). Amida asam lemak dibuat secara sintesis pada industri oleo kimia dalam proses batch, dimana ammonia dan asam lemak bebas bereaksi pada suhu 200o dan tekanan Kpa selama jam. Dengan proses tersebutlah dibuat amida primer seperti lauramida, stearamida serta lainnya. Amida primer juga dibuat dengan mereaksikan ammonia dengan metil ester asam lemak. eaksi ini mengikuti konsep SAB (ard Soft Acid Base) dimana + dari ammonia merupakan hard acid yang lebih mudah bereaksi dengan hard base 3untuk membentuk metanol. Sebaliknya N2- lebih soft-base dibandingkan dengan 3- akan terikat dengan -+ yang lebih soft acid dibandingkan + membentuk amida seperti pada gambar 2.6 berikut.
11 28 N N2 3 Metil Ester Asam Lemak Amida primer Amoniak Metanol Sumber : (Maag, 1984) Gambar 2.6. eaksi Pembentukan Amida Primer Pembuatan amida sekunder dilakukan dengan mereaksikan asam lemak dengan amina terlihat pada gambar 2.7 dibawah ini. 2 Asam Karboksilat + N o Amina N + Amida sekunder 2 Air Sumber : (Maag, 1984) Gambar 2.7. eaksi Pembentukan Amida Sekunder Seperti asam karboksilat, amida memiliki titik cair dan titik didih yang tinggi karena adanya pembentukan ikatan hidrogen. Amida mampu membentuk ikatan hidrogen intermolekul selama masih terdapat hidrogen yang terikat pada nitrogen. Senyawa ini juga sangat istimewa karena nitrogennya mampu melepaskan elektron dan mampu membentuk ikatan π dengan karbon karbonil. Pelepasan elektron ini menstabilkan hibrida resonansinya. Ikatan atom karbon dengan nitrogen pada amida jauh lebih lemah, kalau atom karbon ini juga disambingkan pada suatu oksigen dengan ikatan rangkap (Bresnick, 1996). Senyawa amida dapat diperoleh melalui reaksi antara asam lemak dengan etanolamina dan dietanolamina bereaksi dengan asam lemak biasanya berlangsung diatas 1800, reaksi dengan monoetanolamina akan melepaskan air dan terbentuk alkanolamida dan etanolamida ester asam lemak sebagai produk samping, dan dapat dilihat reaksinya pada gambar 2.8 dibawah ini. Kandungan amida pada suhu reaksi 180o, rata-rata 94-95% (Mutter, 1968).
12 29 + N N Asam lemak Etanolamina Etanolamida Air 2 N- 2-2 Etanolamida N Etanolamida ester asam lemak Air Sumber : (Mutter, 1968) Gambar 2.8. eaksi Pembuatan Alkanolamida menggunakan asam berlebih Jika monoetanolamida asam lemak yang diinginkan diatas 99% maka perbandingan reaksinya adalah 2 mol asam lemak dan 1 mol monoetanolamina yang menghasilkan senyawa etanolamida ester asam lemak pada tahap pertama, kemudian ditransesterfikasikan selanjutnya ditransformasikan dengan 1 mol monoetanolamina dan reaksinya dapat dilihat pada gambar N N Asam lemak Etanolamin Etanolamida + 2 Etanolamida - N N Etanolamida ester + - Asam lemak - + N Etanolamin N Etanolamida ester + 2 N Etanolamida Sumber : (Mutter, 1968) Gambar 2.9. eaksi Pembentukan Alkanolamida menjadi Etanolamida berlebih. eaksi dietanolamina (DEA) dengan asam lemak secara substansial lebih kompleks, disamping amida terbentuk juga amina ester yang bereaksi dengan kelebihan dietanolamina pada hasil reaksi secara otomatis menghasilkan garam amina
13 + DEA 30 asam lemak disamping amina bebas seperti terlihat reaksinya pada gambar asil reaksi ini dikatalis oleh basa pada suhu yang rendah basa dengan dietanolamina menghasilkan kandungan dietanolamida kira-kira 90%. + N ( 2 4 ) 2-2 DEA N ( 2 4 ) 2 Amida N- 2 4 Ester amin + DEA + DEA N N N Sumber : (Maag,, 1984). Gambar eaksi Asam Lemak dengan Dietanolamina Karena kemurniannya yang tinggi maka amida yang dibuat dari metil ester asam lemak dan juga etanolamida disebut superamida yang digunakan untuk pembuatan shampo. Dietanolamida asam lemak juga dapat dibuat secara langsung dari lemak dan minyak N( 2-2 ) 2 -gliserol 3-N Trigliserida Dietanolamina Dietanolamida Sumber : (Maag,, 1984). Gambar eaksi pembentukan alkanolamida dari trigliserida Gliserol yang diperoleh dapat didestilasi pada suhu 180 o dan jika ada yang sisa tidak akan ada yang mengganggu aplikasinya (Maag,, 1984).
14 31 idrolisis suatu amida dalam larutan asam berlangsung dalam suatu cara yang serupa dengan hidrolisis suatu ester. ksigen karbonil diprotonasi, karbon karbonil diserang oleh 2, proton diserah terimakan, dan suatu amina dibuang. Amina ini kemudian bereaksi dengan + dan menghasilkan garam amina. Pembentukan garam amina menjelaskan mengapa + bersifat pereaksi, bukan katalis, dan mengapa reaksi kebalikannya tidak terjadi (meskipun N3 merupakan suatu nukleofil, N4+ bukan, dan ion ini tidak dapat menyerang gugus karbonil) seperti pada gambar 2.12 (Fessenden, 1982). Mekanisme hidrolisis senyawa amida (suasana asam) :: 3 N2 2 N2 N3 N2 :: + N4 Sumber : (iswiyanto, 2002) Gambar Mekanisme idrolisis Amida Suasana Asam Alkanolamida Alkanolamida adalah surfaktan bukan ionik dimana gugus hidroksil yang dimiliki tidak cukup hidrofilik untuk membuat alkanolamida larut dalam air dengan sendirinya. Alkanolamida digunakan sebagai bahan pembusa (foam boosting) dalam pembuatan sampo. Alkanolamida banyak digunakan sebagai bahan foam boosting dan dalam campuran bahan surfaktan lain berguna sebagai cairan pencuci piring dan juga dalam pembuatan sampo. Selain itu alkanolamida merupakan bahan pelembut rambut, penstabil busa, bahan perekat dan bersama sama dengan glikol stearat dapat mengkilaukan rambut (Said dan sallmon, 2001). Amida digunakan sebagai bahan baku setengah jadi untuk produksi fatty nitril dan fatty amina serta amida juga digunakan dalam industri obat-obatan. Palmitamida, stearamida dan oleoamida digunakan sebagai bahan penyelerasi pada penggunaan karet alam dengan silika (Suryani, 2008).
15 32 Jenis alkanolamida yang paling penting adalah dietanolamida. Senyawa Netanol alkil amida adalah senyawa yang termasuk dalam golongan asam lemak yang dapat dimanfaatkan sebagai surfaktan dalam produk detergen, kosmetik dan tekstil. Senyawa ini dapat dibuat dengan mereaksikan asam lemak sawit destilat dengan senyawa yang mengandung gugus atom Nitrogen seperti alkanolamina (Nuyanto, dkk, 2002) Dietanolamida Dietanolamida pertama kali diperoleh dengan mereaksikan dua mol dietanolamina dengan satu mol asam lemak. Senyawa ini diberi nama Kritchevsky amida sesuai dengan nama penemunya. Bahan baku yang digunakan dalam produksi dietanolamida dapat berupa asam lemak, trigliserida atau metil ester. Dietanolamida biasanya diproduksi secara kimia konvensional pada temperatur 150º selama 6-12 jam (erawan dkk, 1999). Dari hasil reaksi akan dihasilkan dietanolamida dan hasil samping berupa sabun amina. Kehadiran sabun amina ini, tentu saja akan menaikkan p produk. Pada tahap pemurnian diperlukan pemisahan produk utama dengan sabun amina. Dietanolamida merupakan salah satu surfaktan alkanolamida yang paling penting. Dietanolamida berfungsi sebagai bahan penstabil dan pengembang busa. al ini disebabkan karena adanya kotoran berminyak seperti sebum menyebabkan stabilitas busa sabun cair atau sampo akan berkurang secara drastis. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan penstabil busa agar diperoleh busa yang lebih banyak, pekat dengan buih sedikit. Pada pembuatan sabun, dietanolamida digunakan agar sabun menjadi lebih lembut. Pemakaian dietanolamida pada formula sampo dapat mencegah terjadinya proses penghilangan minyak yang berlebihan pada rambut dan produk yang dihasilkan tidak menyebabkan rasa pedih di mata, sehingga cocok untuk digunakan sebagai produk sabun dan sampo bagi bayi (olmberg, 2001). Surfaktan dietanolamida merupakan salah satu jenis surfaktan yang banyak digunakan dalam pembuatan beragam personal care product, washing & cleaning product dan produk kosmetika. Sementara ini, surfaktan dietanolamida diproduksi dengan menggunakan minyak kelapa. Jenis asam lemak bebas dari minyak kelapa yang dapat digunakan dalam pembuatan surfaktan dietanolamida adalah asam laurat.
16 33 Kandungan asam laurat pada minyak inti sawit tidak jauh berbeda dengan kandungan asam laurat pada minyak kelapa. leh karena itu, minyak sawit juga dapat dimanfaatkan dalam pembuatan surfaktan dietanolamida. Sintesis alkanolamida dari dietanolamina akan menghasilkan alkanolamida yang memiliki tingkat kepolaran yang lebih baik dibandingkan amida lainnya karena adanya dua gugus hidroksil dan molekul alkanolamida yang dihasilkan. 2.2 Surfaktan surface active agent (surfactant) merupakan senywa aktif penurunan tegangan permukaan yang bersifiat ampifatik, yaitu senyawa yang mempunyai gugus hidrofobik dan hidrofilik, serta molekul yang cenderung yang terpatisi pada antar permukaan fasa cairan yang berbeda tingkat kepolaran dan ikatan hidrogennya (ooper, dkk, 2000). Gugus hidrofobik terdiri dari rantai asam lemak sedangakan gugus hidrofilik terdiri dari karbohidrat, asam amino, peptida siklik, fosfat, dan asam karboksil alkohol (Kosaric, 1993) Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang memegang peranan penting dalam proses pembersihan pada detergen, karena dapat mempengaruhi kondisi antar permukaan bahan yang dikenai. Ditinjau dari segi struktur kimianya, surfaktan memiliki rantai atom karbon yang panjang yang merupakan bagian yang hidrofil. leh karena itu adanya kadar bagian ini dalam suatu senyawa maka disebut sebagai ampofil (Parker, 1980). Surfaktan menurunkan tegangan permukaan air dengan mematahkan ikatan hidrogen pada permukaan. Mereka melakukan hal ini dengan menaruh kepala-kepala hidrofiliknya pada permukaan air dengan ekor-ekor hidrofobiknya terentang menjauhi permukaan air (Fessenden, 2006). Surfaktan dapat dikelompokkan sebagai anionik, kationik atau netral, bergantung pada sifat dasar gugus hidrofiliknya. Sabun dengan gugus karboksilatnya, adalah surfaktan anionik, benzalkonium klorida (N-benzil amonium kuartener klorida) yang bersifat antibakteri adalah contoh surfaktan kationik. Surfaktan netral mengandung suatu gugus non-ion seperti suatu karboksilat yang dapat berikatan hidrogen dengan air.
17 34 Surfaktan merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai peranan penting untuk menurunkan tegangan permukaan bahan yang dikenai.aktivitas kerja suatu surfaktan karena sifat ganda dari molekul tersebut. Molekul surfaktan memilki bagian yang cinta akan lemak/minyak. Bagian polar molekul surfaktan dapat bermuatan positif, negatif atau netral (Lehninger, 1988). Gugus hidrofilik pada surfaktan bersifat polar dan mudah bersenyawa dengan air, sedangkan gugus lipofilik bersifat nonpolar yang mudah bersenyawa dengan air, sedangkan gugus lipofilik bersifat nonpolar dan mudah bersenyawa dengan minyak. Didalam molekul surfaktan, salah satu gugus harus lebih dominan jumlahnya. Bila gugus polarnya yang lebih dominan, maka molekul- molekul surfaktan tersebut akan diabsorpsi lebih kuat oleh air dibandingkan dengan minyak. Akibatnya tegangan permukaan air menjadi lebih rendah sehingga mudah menyebar dan menjadi fase kontinu. Demikian pula sebaliknya, bila gugus nonpolarnya lebih dominan, maka molekul-molekul surfaktan tersebut akan diabsorbsi lebih kuat oleh minyak dibandingkan dengan air. Akibatnya tegangan permukaan minyak menjadi lebih rendah sehingga mudah menyebar dan menjadi fase kontinu. Klasifikasi kimia yang paling berguna dari surfaktan didasarkan pada sifat hidrofil dan lipofilnya. Dibawah ini ada empat klasifikasi dasar dari surfaktan yaitu : 1. Surfaktan anionik,memiliki gugus hidrofil yang bermuatan negatif seperti gugus karboksilat ( - M + ), sulfonasi (S - 3 M + ), sulfat (S - 3 M + ) atau phospat (P - 3 M + ). 2. Surfaktan kationik, gugus hidrofil memiliki muatan positif. Sebagai contoh ammonium halide kwartener ( 4 N + X - ). 3. Surfaktan nonionik, dimana gugus hidrofil tidak memiliki muatan tetapi turunannya memilki kelarutan yang besar terhadap air dibandingkan gugus polar tertinggi seperti senyawa ( ) adalah gugus poliol termasuk gula. 4. Surfaktan amfoter (zwitter ion) memliki muatan positif dan muatan negatif, sebagai contoh Sulfobetain N + - ( 3 ) S 3 (Martin, 1989). Setiap tahunnya jutaan ton surfaktan digunakan untuk beragam aplikasi yang berbeda (Flider, 2001). Menurut ui (1996), surfaktan digunakan untuk pencucian dan permbersihan (washing and cleaning), serta untuk pertambangan, cat dan pelapis, kertas, tekstil, bahan pembusaan dan emulsifier pada industri kosmetik dan farmasi, industri cat, serta sanitasi pada industri pangan. Surfaktan sebagai bahan aktif dalam
18 35 deterjen memiliki fungsi tertentu dalam proses pencucian. Surfaktan berfunsi untuk menurunkan tegangan permukaan, berperan dalam peristiwa adsorbsi, pembentukan micelle dan deterjersi Surfaktan Kationik Surfaktan kationik merupakan senyawa aktif permukaan dengan gugus hidrofilik membawa muatan positif (osen, 1978). Surfaktan jenis kationik yang banyak digunakan dalam berbagai produk dipasaran adalah senyawa amonium kuartener. Senyawa amonium kuartener mempunyai muatan positif pada atom nitrogennya. Bahan bakunya diambil dari minyak alam dengan campuran homolog dari surfaktan dengan panjang rantai alkil berbeda yang digunakan dalam berbagai produk. Senyawa amonium kuartener merupakan turunan sintesis dari amonium klorida (Arena, 1964). Terdapat tiga kategori surfaktan kationik jika didasarkan pada spesifikasi aplikasinya, yakni: a. Pada industri pelembut dan deterjen, surfaktan kationik menyebabkan terjadinya kelembutan. Penggunaan utamanya adalah pada produk-produk laundri sebagai pelembut. Salah satu contoh surfaktan kationik adalah esterquat. b. Pada laundri deterjen, surfakatan kationik (muatan positif) meningkat packing molekul surfaktan anionik (muatan negatif) pada antarmuka air. ontoh surfaktan ini adalah surfaktan dari sistem mono alkil kuartener. c. Pada pembersih rumah dan kamar mandi, surfaktan kationik sebagai agen desinfektan (Anonim, 2005) Penurunan Tegangan Permukaan Tegangan permukaan (ɳ) suatu cairan dapat didefinisikaan sebagai banyaknya kerja yang dibutuhkan untuk memperluas permukaan cairan per satu satuan luas. Pada satuan cgs, dinyatakan dalam erg cm-1, sedangkan dalam satuan SI, ɳ dinyatakan dalam N m-1. Molekul yang ada di dalam cairan akan mengalami gaya tarik menarik (gaya van der Waals) yang sama besarnya ke segala arah. Namun, molekul pada permukan cairan akan mengalami resultan gaya yang mengarah ke dalam cairan itu
19 36 sendiri karena tidak ada lagi molekul diatas permukan dan akibatnya luas pemukaaan cairan cenderung untuk menyusut. Surfaktan mampu menurunkan tegangan permukaan diantara dua fasa. Sifat kepolarannya yang berbeda diantara kedua fasa mengakibatkannya tidak dapat saling terlarut, dengan adanya molekul surfaktan yang memiliki kecendrungan terhadap kedua fasa tersebut keduanya dapat saling bercampur. Molekul-molekul cairan yang ada dipermukaan mengalami resultan gaya ke arah dalam badan cairan. al ini mengakibatkan molekul- molekul tersebut cenderung menekan atau berdesakan ke dalam menghindari permukaan, dimana molekul- molekul di dalam cairan mengalami resultan gaya yang seimbang. Adanya kecenderungan ke dalam badan cairan menghasilkan gaya, besar daya yang diperlukan untuk memecah permukaan cairan sehingga terbentuk satu luasan baru pada permukaan disebut dengan tegangan permukaan (argreaves, 2003). Molekul-molekul non polar tidak mampu menyeimbangkan gaya molekul pada permukaan cairan polar sehingga terdapat batas antara cairan polar dan non polar. Pada gugus polarnya surfaktan menyeimbangkan gaya molekul permukaan cairan dan rantai non polarnya mengarah pada molekul molekul hidrofobik. Setiap molekul dalam cairan mengalami gaya dalam tiga dimensi (arah) dari molekul tetangga. Molekul yang berada dipermukaan cairan mengalami difisiensi diposisi atas, tetapi kuat di tiga arah gaya lainnya. Penurunan tegangan permukaan dapat dijadikan sebagai salah satu faktor penentu banyaknya konsentrasi surfaktan yang terdapat dalam suatu cairan. Apabila surfaktan ditambahkan ke suatu cairan pada konsentrasi rendah, maka dapat menurunkan tegangan permukaan cairan tersebut. Jika surfakran dalam konsentrasi 0,1% ditambahkan ke dalam suatu cairan, maka akan menurunkan tegangan permukaan air dari 72 menjadi 32 mn m -1 (dyne cm -1 ). al ini terjadi karena molekul molekul dalam sebagian besar cairan saling tertarik satu sama lain oleh gaya van der Walls yang menggantikan ikatan hidrogen air (argreaves, 2003). Penambahan surfaktan dalam larutan akan menyebabkan turunnya tegangan permukaan larutan. Setelah mencapai konsentrasi tertentu, tegangan permukaan akan konstan walaupun konsentrasi surfaktan ditingkatkan. Bila sufaktan ditambahkan melebihi konsentrasi ini maka surfaktan mengagregasi membentuk misel. Konsentrasi terbentuknya misel ini disebut ritical Micelle oncentration (M). Tegangan
20 37 permukaan akan menurun hingga M tercapai. Setelah M tercapai, tegangan permukaan akan konstan yang menunjukkan bahwa antar muka menjadi jenuh dan terbentuk misel yang berada dalam keseimbangan dinamis dengan monomernya (Genaro, 1990). Tegangan permukaan dapat diukur dengan metode cincin Du Nuoy. Pengukuran tegangan permukaan dengan metode cincin Du Nouy didasarkan atas penentuan gaya yang dibutuhkan untuk mengangkat cincin dari permukaan cairan. Gaya ini diukur dengan jelas dengan cara mencelupkan cincin yang digantung pada lengan neraca dan perlahan-lahan mengangkatnya sampai cincin tersebut meninggalkan cairan. Metode ini juga dapat digunakan untuk mengukur tegangan antarmuka cairan-cairan seperti misalnya tegangan antarmuka (minyak-air atau kloroform-air) (Tang, 2011). Gaya yang dibutuhkan untuk mengangkat cincin dari permukaan caida dapat dihitung dari persamaan : Gaya (F) = 4 πɳ Dengan adalah jari-jari cincin. Keliling 2π harus dikalikan dua mengingat bahwa ada batas dalam dan batas luar antara cairan dan kawat. Perlakuan ini berlaku untuk cairan dengan sudut ɵ = 0. Dalam kenyataannya ada sebagian cairan yang terangkat sebelum permukaan cairan pecah, sehingga persamaan diatas perlu memperhitungkan faktor koreksi (FK). Dengan memperhitungkan faktor koreksi (FK), maka tegangan permukaan dapat ditulis ulang sebagai berikut, ɳ= FK = FK = P FK f adalah gaya yang dibutuhkan untuk mengangkat cincin dari permukaan cairan; FK merupakan faktor koreksi; ɳ adalah tegangan permukaan nyata, dan P merupakan tegangan permukaan yang diukur pada saat percobaan (Bird,1993). Selanjutnya Griffin secara skematis memberikan hubungan antara LB dengan penggunaan surfaktan sebagai bahan pemantap, weiting agent, detergen dan bahan pelarut seperti pada gambar 2.13 berikut:
21 38 18 Zat-zat larutan 15 Detergen 12 /W zat pengemulsi 9 Zat pembasah dan penyebar 6 W/ zat pengemulsi 3 Kebanyakan zat anti busa 0 Gambar Suatu skala menunjukkan harga LB surfaktan Adsorbsi Surfaktan memiliki gugus hidrofilik dan hidrofobik, sehingga akan berdifusi dan teradsorbsi membentuk sebuah lapisan pada antar muka air dan udara atau pada antar muka air dan minyak. Ketika molekul surfaktan berada di dalam air, gugus hidrofilik surfaktan ditarik menuju molekul air (molekul polar ditarik molekul polar yang lain), sedangkan molekul lipofilik surfaktan berada pada permukaan cairan. Efek molekul surfaktan pada permukaan dikenal sebagai adsorbsi, yang berakibat terhadap penurunan tegangan permukaan (argreaves, 2003). Adsorbsi surfaktan mempunyai peranan penting pada aplikasi agen pembersih seperti pada proses pembusaan dan emulsifikasi. al ini tergantung dari keefektifasan difusi surfaktan. Proses adsorbsi dipengaruhi oleh elastisitas dan viskositas dari surfaktan untuk kestabilan dari busa dari emulsi yang dihasilkan.
22 Pembentukan Micelle Pada konsentrasi yang cukup tinggi, gugus lopofilik surfaktan akan beragregat membentuk subuah struktur melingkar yang disebut micelle, dimana ekor lipofilik berada pada pusat agregat dan kepala hidrogfilik akan kontak dengan air, sehingga berorientasi keluar micelle. Struktur ini didorong oleh adanya gaya van der Walls yang terjadi sepanjang ekor lopofilik dan gaya tolak ionik dari gugus hidrofilik. Bila penambahan surfaktan melebihi konsentrasi kritis tertentu, maka surfaktan akan mengalami agregasi dan membentuk struktur misel. Penambahan surfaktan tersebut tidak akan mempengaruhi tegangan permukaan walaupun konsentrasi surfaktan terus ditingkatkan. Konsentrasi kritis terbentuknya misel ini disebut sebagai critical micelle concentration (M), seperti yang telah dijelaskan pada sub bab Secara termodinamis pembentukan misel menjelaskan bahwasanya gugus hidrofobik dari surfaktan tidak tidak suka atau tidak bercampur dengan air. Jika gugua hidrofobik surfaktan (rantai hidrokarbon) dilarutkan didalam air, maka molekulmolekul air yang berada disekeliling gugus hidrofobik surfaktan akan mempunyai gerakan termal yang lebih kecil dibandingkan molekul air yang berada didalam larutan. Dengan perkataan lain, orientasi molekul air disekeliling rantai hidrokarbon tersusun lebih teratur dari pada molekul air yang berada didalam larutan. Berkurangnya kebebasan molekul air disekelilig gugus hidrokarbon dapat diartikan sebagai turunnya entropi jika didefenisikan secara termodinamika. Keadaan ini merupakan keadaan yang tidak stabil dan tidak diinginkan. Jika rantai hidrokarbon yang terhambur didalam air cukup banyak, maka entropi akan berkurang dan secara termodinamika merupakan suatu keadaan yang tidak diinginkan. Jika gugus-gugus hidrokarbon dari molekul molekul surfaktan bergabung satu sama lain, maka molekul air yang semula mengelilingi gugus hidrokarbon akan terpisah. Fenomena ini menunjukkan bahwa entropi air yang kecil akan menjadi lebih besar dan molekul air menuju pada suatu keadaan yang stabil dan di inginkan secara termodinamika. Penggabungan gugus hidrokarbon menyebabkan entropi gugus hidrokarbon berkurang, tetapi besarnya pengurangan ini lebih kecil dibandingkan besarnya kenaikan entropi air (Fitriadi, 1999).
23 40 Pembentukan misel ini merupakan salah satu mekanisme kerja yang ditunjukkan oleh surfaktan, misel yang terbentuk mengandung lebih kurang molekul yang teratur sedemikian rupa, sehingga dapat mengelilingi gugusan hidrofobik. 2.3 Katalis Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri. Suatu katalis berperan dalam reaksi tapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk. Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat atau memungkinkan reaksi pada suhu lebih rendah akibat perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi. Katalis mengurangi energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi. Katalis dapat dibedakan ke dalam dua golongan utama: katalis homogen dan katalis heterogen. Katalis heterogen adalah katalis yang ada dalam fase berbeda dengan pereaksi dalam reaksi yang dikatalisinya, sedangkan katalis homogen berada dalam fase yang sama. Efek kelancaran reaksi dari katalis basa adalah yang paling besar, sehingga katalis inilah yang sekarang paling umum diterapkan dalam praktek. Larutan natrium metoksida ini dibuat dengan mencampurkan natrium hidroksida dan metanol. Natrium hidroksida larut dalam metanol. eaksi antara semua natrium hidroksida dengan metanol merupakan reaksi eksoterm (menghasilkan panas) membentuk molekul polar ( 3 - Na + ). Adanya kandungan air, asam lemak bebas dan hidroperoksida dapat memperlambat aktivitas katalis natrium metoksida. Untuk menghindari terjadinya penurunan aktivasi katalis ini sebelum perlakuaan maka minyak harus diberi perlakuan agar kandungan komponen pengganggu dalam minyak tersebut berkurang Banyaknya kandungan air, asam lemak bebas dan hidroperoksida yang dapat menurunkan aktivasi katalis natrium metoksida serta beberapa katalis lainya. Apabila terjadi penurunan aktivasi pada awal reaksi, maka reaksi tidak akan dapat berjalan dengan sempurna (De Greyt, dkk, 1998).
24 Analisis Spektrofotometri Inframerah Spektrofotometri Infrared atau Infra Merah merupakan suatu metode yang mengamati molekul dengan radiasi elektromagnetik yang berada pada daerah panjang gelombang 0, µm atau pada bilangan gelombang cm-1. adiasi elektromagnetik dikemukakan pertama kali oleh James lark Maxwell, yang menyatakan bahwa cahaya secara fisis merupakan gelombang elektromagnetik, artinya mempunyai vektor listrik dan vektor magnetik yang keduanya saling tegak lurus dengan arah rambatan. Atom-atom di dalam molekul tidak dalam keadaan diam, tetapi biasanya terjadi peristiwa vibrasi. al ini bergantung pada atom-atom dan kekuatan ikatan yang menghubungkannya. Vibrasi molekul sangat khas untuk suatu molekul tertentu dan biasanya disebut vibrasi finger print. Vibrasi molekul dapat digolongkan atas dua golongan besar, yaitu regangan (streching) dan vibrasi bengkokan (bending). Dalam vibrasi regangan, atom bergerak terus sepanjang ikatan yang menghubungkannya sehingga akan terjadi perubahan jarak antara keduanya, walaupun sudut ikatan tidak berubah. Vibrasi regangan ada dua macam, yaitu regangan simetri (unit struktur bergerak bersamaan dan searah dalam satu bidang datar) dan regangan asimetri (unit struktur bergerak bersamaan dan tidak searah tetapi masih dalam satu bidang datar). Jika sistem tiga atom merupakan bagian dari sebuah molekul yang lebih besar, maka dapat menimbulkan vibrasi bengkokan atau vibrasi deformasi yang mempengaruhi osilasi atom atau molekul secara keseluruhan. Vibrasi bengkokan ini terbagi menjadi empat jenis, yaitu vibrasi goyangan (ocking unit struktur bergerak mengayun asimetri tetapi masih dalam bidang datar), vibrasi guntingan (Scissoring unit struktur bergerak mengayun simetri dan masih dalam bidang datar), vibrasi kibasan (Wagging unit struktur bergerak mengibas keluar dari bidang datar), dan vibrasi pelintiran (Twisting unit struktur berputar mengelilingi ikatan yang menghubungkan dengan molekul induk dan berada di dalam bidang datar). Spektrofotometri inframerah pada umumnya digunakan untuk melakukan penentuan jenis gugus fungsi suatu senyawa organik, mengetahui informasi struktur suatu senyawa organik, dengan membandingkan pada daerah sidik jarinya. adiasi
25 42 inframerah mengandung beberapa range frekwensi tetapi tidak dapat dilihat oleh mata. Pita absorbsi inframerah sangat khas dan spesifik untuk setiap tipe ikatatan kimia atau jenis gugus fungsi. Inframerah merupakan suatu teknik yang sangat sesuai untuk mengidentifikasi bahan/ polimer secara kuantitatif. Mengidentifikasi data inframerah dari bahan/ polimer, diperlukan suatu persyratan yaitu zat yang diselidiki harus homogen secara kimia. Tahap awal identifikasi bahan polimer, serapan yang karakteristik untuk masing- masing bahan polimer harus diketahui dengan membandingkan spektrum yang telah dikenal. Pita serapan yang khas akan ditunjukkan oleh monomer penyusun materiel dari struktur molekulnya (ammel, 1997). Keadaan vibrasi dari ikatan terjadi dalan keadaan tetap, atau terkuantisasi, timgkat energi. Nilai bilangan gelombang absrobansi oleh suatu tipe ikatan tertentu, tergantung pada macam vibrasi dari ikatan tersebut. leh karena itu tipe ikatan yang berlainan (misal -, -, -, N-, =) menyerap radiasi inframerah pada bilangan gelombang karakteristik yang berlainan. Banyaknya energi yang diabsorbansi suatu ikatan tergantung pada perubahan dalam momen seperti vibrasi atom- atom yang saling berikatan. Dalam suatu molekul sebenarnya, vibrasi analog terjadi, pasangan atom sedang dalam vibrasi terhadap yang lain sewaktu ikatan memanjang dan mengkerut. Suatau ikatan dalam sebuah molekul dapat mengalami berbagai osilasi, oleh karena itu suatu ikatan tertentu dapat menyerap energi pada lebih dari satu bilangan golombang, sutau ikatan - menyerap energi kira- kira pada daerah 3330 cm -1. Energi pada bilangan gelombang itu menyebabkan naiknya vibrasi ulur ikatan - itu. Suatu ikatan - dapat juga menyerap pada kira-kira 1250 cm -1. Energi pada bilangan gelombang ini menyebabkan kenaikan vibrasi tekuk vibrasi yang berlainan ini disebut secara fundamental vibrasi. Banyaknya gugus yang identik dalam sebuah molekul mengubah kuat relatif pita absorbsi dalam suatu spektrum, misalnya suatu gugus tunggal dalam sebuah molekul menghasilkan absorbsi yang sangat kuat, sedangkan absorbsi pada gugus - tunggal relatif lemah. Tetapi jika suatu senyawa mempunyai banyak ikatan -, maka efek gabungan dari absrobsi - ini akan menghasilkan suatu puncak yang bersifat medium, atau bahkan kuat.
26 43 Suatu amida memperlihatkan sebuah pita serapan karbonil yang disebut pita amida I. Kedudukan pita tersebut bergantung pada derajat ikatan hidrogen dan dengan demikian tergantung pula pada keadaan fisik senyawanya. Amida- amida primer dua buah pita uluruan N- yang dihasilkan oleh uluran N- simetrik dan taksimetrik. Amida sekunder dan laktam hanya menunjukkan sebuah pita uluran N-. Seperti halya uluran N- juga mengalami penurunan oleh adanya ikatan hidrogen walaupun derajat yang lebih kecil. Tumpang tindih terjadi pada kedudukan kedudukan kerapan uluran N- dan - yang teramati, sehingga seringkali tidak dapat terbedakan struktur tersebut. Amida primer dan amida sekunder serta beberapa laktam menunjukkan puncak pita pada daerah bilangan gelombang cm-1 yang dihasilkan oleh serapan tekukan N2 atau N pita amida II. Penyerapan ini terjadi karena adanya pengkopelan antara tekukan N- dan getaran- getaran dasar yang lain akibat suatu geometri trans. Kibasan N keluar bidang adalah penyebab adanya suatu pita lebar dengan kekuatan menengah didaerah bilangan gelombang cm-1. Berikut adalah struktruk cis dan trans dari interaksi molekul amida satu dengan molekul amida lainnya. N ' N N cis ' ' N trans Ester dan lakton memiliki dua pita serapan kuat yang ditimbulkan oleh uluran = dan -. Getaran uluran = yang kuat terletak pada kerapan yang lebih tinggi (panjang gelombang yang lebih pendek) dibandingkan pada keton normal. Tetapan gaya ikatan karbonil bertambah sebagai akibat atom oksigen tetangganya yang bersifat menarik elektron akibat imbasan. Ester yang kerapan karbonilnya mengalami penurunan, bertumpang tindih dengan keton yang kerapan karbonilnya mengalami penurunan, berbanding terbalik dengan keton normal yang kerapan karbonilnya mengalami penainakan. Walaupun hal itu dapat terjadi, terdapat satu hal penting yang dapat membedakan ester dan lakton dari keton, yaitu pita uluran - yang terdapat pada daerah yang kuat, sedangkan pada keton terdapat pada daerah yang lebih lemah (Silverstein, 1984)
A. Sifat Fisik Kimia Produk
Minyak sawit terdiri dari gliserida campuran yang merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang. Dua jenis asam lemak yang paling dominan dalam minyak sawit yaitu asam palmitat, C16:0 (jenuh),
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Tahap Sintesis Biodiesel Pada tahap sintesis biodiesel, telah dibuat biodiesel dari minyak sawit, melalui reaksi transesterifikasi. Jenis alkohol yang digunakan adalah metanol,
Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triasil gliserol, dengan rumus umum : O R' O C
Lipid Sifat fisika lipid Berbeda dengan dengan karbohidrat dan dan protein, lipid bukan merupakan merupakan suatu polimer Senyawa organik yang terdapat di alam Tidak larut di dalam air Larut dalam pelarut
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. leokimia leokimia merupakan bahan kimia yang berasal dari minyak/lemak alami, baik tumbuhan maupun hewani. Bidang keahlian teknologi oleokimia merupakan salah satu bidang keahlian
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 2.1. leokimia TINJAUAN PUSTAKA leokimia merupakan cabang ilmu kimia yang mempelajari trigliserida yang berasal dari minyak dan lemak menjadi asam lemak dan gliserin serta turunan asam lemak baik
REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK
REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK TUJUAN : Mempelajari proses saponifikasi suatu lemak dengan menggunakan kalium hidroksida dan natrium hidroksida Mempelajari perbedaan sifat sabun dan detergen A. Pre-lab
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMASI FISIKA
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMASI FISIKA TEGANGAN PERMUKAAN KELOMPOK 1 SHIFT A 1. Dini Mayang Sari (10060310116) 2. Putri Andini (100603) 3. (100603) 4. (100603) 5. (100603) 6. (100603) Hari/Tanggal Praktikum
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lemak sebagian besar terdiri dari asam oktadekanoat, C 18 H 36 O 2 dan asam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Bahan 2.1.1 Asam Stearat Asam stearat adalah campuran asam organik padat yang diperoleh dari lemak sebagian besar terdiri dari asam oktadekanoat, C 18 H 36 O 2 dan asam
PERCOBAAN II PENGARUH SURFAKTAN TERHADAP KELARUTAN A. Tujuan 1. Mengetahui dan memahami pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat 2.
PERCOBAAN II PENGARUH SURFAKTAN TERHADAP KELARUTAN A. Tujuan 1. Mengetahui dan memahami pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat 2. Mengetahui dan memahami cara menentukan konsentrasi
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 ASIL PECBAAN DAN PEMBAASAN Transesterifikasi, suatu reaksi kesetimbangan, sehingga hasil reaksi dapat ditingkatkan dengan menghilangkan salah satu produk yang terbentuk. Penggunaan metil laurat dalam
Chapter 20 ASAM KARBOKSILAT
Chapter 20 ASAM KARBOKSILAT Pengantar Gugus fungsi dari asam karboksilat terdiri atas ikatan C=O dengan OH pada karbon yang sama. Gugus karboksil biasanya ditulis -COOH. Asam alifatik memiliki gugus alkil
BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA
PENDAHULUAN Lipid, ester gliserol dengan asam lemak, berdasarkan titik lelehnya dikelompokkan menjadi lemak atau minyak. Lipid pada suhu kamar berwujud padat disebut lemak sedangkan lipid berwujud cair
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Surfaktan Surfaktan (surface active agent) adalah senyawa amphiphilic, yang merupakan molekul heterogendan berantai panjangyang memiliki bagian kepala yang suka air (hidrofilik)
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PERSIAPAN BAHAN 1. Ekstraksi Biji kesambi dikeringkan terlebih dahulu kemudian digiling dengan penggiling mekanis. Tujuan pengeringan untuk mengurangi kandungan air dalam biji,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Katalis Katalis merupakan suatu senyawa yang dapat meningkatkan laju reaksi tetapi tidak terkonsumsi oleh reaksi. Katalis meningkatkan laju reaksi dengan energi aktivasi Gibbs
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Industri leokimia leokimia adalah bahan kimia yang dihasilkan dari minyak dan lemak, yaitu yang diturunkan dari trigliserida menjadi bahan oleokimia. Secara industri, sebagian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sabun adalah senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sabun Sabun adalah senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti natrium stearat, (C 17 H 35 COO Na+).Aksi pencucian dari sabun banyak dihasilkan melalui kekuatan pengemulsian
Perbandingan aktivitas katalis Ni dan katalis Cu pada reaksi hidrogenasi metil ester untuk pembuatan surfaktan
Perbandingan aktivitas katalis Ni dan katalis Cu pada reaksi hidrogenasi metil ester untuk pembuatan surfaktan Tania S. Utami *), Rita Arbianti, Heri Hermansyah, Wiwik H., dan Desti A. Departemen Teknik
II. TINJAUAN PUSTAKA. Kelapa sawit (Elaeis Guineesis Jacq) merupakan salah satu tanaman perkebunan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Minyak Inti Sawit (PKO) Kelapa sawit (Elaeis Guineesis Jacq) merupakan salah satu tanaman perkebunan Indonesia yang memiliki masa depan cukup cerah. Perkebunan kelapa sawit semula
Memiliki bau amis (fish flavor) akibat terbentuknya trimetil amin dari lesitin.
Lemak dan minyak merupakan senyawa trigliserida atau trigliserol, dimana berarti lemak dan minyak merupakan triester dari gliserol. Dari pernyataan tersebut, jelas menunjukkan bahwa lemak dan minyak merupakan
II. TINJAUAN PUSTAKA. sawit kasar (CPO), sedangkan minyak yang diperoleh dari biji buah disebut
7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Minyak Kelapa Sawit Sumber minyak dari kelapa sawit ada dua, yaitu daging buah dan inti buah kelapa sawit. Minyak yang diperoleh dari daging buah disebut dengan minyak kelapa
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lemak dan Minyak Lemak dan minyak merupakan salah satu kelompok yang termasuk golongan lipida. Satu sifat yang khas dan mencirikan golongan lipida (termasuk lemak dan minyak)
Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor)
23 Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Penyiapan Sampel Kualitas minyak kastor yang digunakan sangat mempengaruhi pelaksanaan reaksi transesterifikasi. Parameter kualitas minyak kastor yang dapat menjadi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minyak Jarak Tanaman jarak (Ricinus communis Linn) termasuk famili Euphorbiceae, merupakan tanaman tahunan yang hidup di daerah tropik maupun subtropik dan dapat tumbuh pada
Prarancangan Pabrik Metil Ester Sulfonat dari Crude Palm Oil berkapasitas ton/tahun BAB I PENGANTAR
BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia yang begitu pesat telah menyebabkan penambahan banyaknya kebutuhan yang diperlukan masyarakat. Salah satu bahan baku dan bahan penunjang
D. Tinjauan Pustaka. Menurut Farmakope Indonesia (Anonim, 1995) pernyataan kelarutan adalah zat dalam
JURNAL KELARUTAN D. Tinjauan Pustaka 1. Kelarutan Menurut Farmakope Indonesia (Anonim, 1995) pernyataan kelarutan adalah zat dalam bagian tertentu pelarut, kecuali dinyatakan lain menunjukkan bahwa 1 bagian
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. leokimia leokimia pada dasarnya merupakan cabang ilmu kimia yang mempelajari trigliserida yang berasal dari minyak dan lemak menjadi asam lemak dan gliserin serta turunan asam
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Asam palmitat merupakan asam lemak jenuh yang paling besar jumlahnya di dalam minyak kelapa sawit, yaitu sebesar 40-46%. Asam palmitat juga terdapat pada berbagai
Bab IV Hasil dan Pembahasan
19 Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Biodiesel Minyak jelantah semula bewarna coklat pekat, berbau amis dan bercampur dengan partikel sisa penggorengan. Sebanyak empat liter minyak jelantah mula-mula
Prarancangan Pabrik Asam Stearat dari Minyak Kelapa Sawit Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas utama yang dikembangkan di Indonesia. Dewasa ini, perkebunan kelapa sawit semakin meluas. Hal ini dikarenakan kelapa sawit dapat meningkatkan
Prarancangan Pabrik Asam Stearat dari Minyak Kelapa Sawit Kapasitas ton/tahun BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri kimia memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat dikarenakan industri kimia banyak memproduksi barang mentah maupun barang jadi untuk mencukupi kebutuhan
TURUNAN ASAM KARBOKSILAT DAN REAKSI SUBSTITUSI ASIL NUKLEOFILIK
BAB 4 TURUNAN ASAM KARBOKSILAT DAN REAKSI SUBSTITUSI ASIL NUKLEOFILIK Asam karboksilat hanya merupakan salah satu anggota kelas turunan asil, RCOX, di mana substituen X mungkin oksigen, halogen, nitrogen
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. SIFAT FISIKO-KIMIA BIJI DAN MINYAK JARAK PAGAR Biji jarak pagar (Jatropha curcas L.) yang digunakan dalam penelitian ini didapat dari PT. Rajawali Nusantara Indonesia di daerah
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Journal of Scientific and Applied Chemistry
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi 12 (3) (2009) : 88 92 88 ISSN: 1410-8917 Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi 12 (3) (2009): 1 5 Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Journal of Scientific and Applied hemistry Journal
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Polimer Emulsi 2.1.1 Definisi Polimer Emulsi Polimer emulsi adalah polimerisasi adisi terinisiasi radikal bebas dimana suatu monomer atau campuran monomer dipolimerisasikan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aspal adalah material perekat berwarna coklat kehitam hitaman sampai hitam dengan unsur utama bitumen. Aspal merupakan senyawa yang kompleks, bahan utamanya disusun
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Ketertarikan dunia industri terhadap bahan baku proses yang bersifat biobased mengalami perkembangan pesat. Perkembangan pesat ini merujuk kepada karakteristik bahan
Pengaruh Penambahan Pelarut Organik Terhadap Tegangan Permukaan Larutan Sabun
Pengaruh Penambahan Pelarut Organik Terhadap Tegangan Permukaan Larutan Sabun Muhamad Tang dan Veinardi Suendo* Diterima 8 Juni 011, direvisi 1 Juni 011, diterbitkan 5 Agustus 011 Abstrak Pada penelitian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lemak dan Minyak Minyak dan lemak tidak berbeda dalam bentuk umum trigliseridanya, tetapi hanya berbeda dalam bentuk (wujud). Perbedaan ini didasarkan pada perbedaan titik lelehnya.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Perkembangan Komoditi Kelapa Sawit Indonesia
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perkembangan Komoditi Kelapa Sawit Indonesia Perkebunan kelapa sawit di Indonesia mempunyai peran yang sangat strategis dari sisi ekonomi antara lain sebagai komoditas untuk
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Peranan Komoditi Kelapa Sawit Pada Perkembangan Ekonomi Indonesia
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peranan Komoditi Kelapa Sawit Pada Perkembangan Ekonomi Indonesia Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan yang memberikan kontribusi penting pada pembangunan ekonomi
Gambar IV 1 Serbuk Gergaji kayu sebelum ekstraksi
Bab IV Pembahasan IV.1 Ekstraksi selulosa Kayu berdasarkan struktur kimianya tersusun atas selulosa, lignin dan hemiselulosa. Selulosa sebagai kerangka, hemiselulosa sebagai matrik, dan lignin sebagai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman jarak duri (Ricinus communis L.) termasuk dalam famili
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Jarak Duri Tanaman jarak duri (Ricinus communis L.) termasuk dalam famili Euphorbiaceae, merupakan tanaman tahunan yang hidup di daerah tropik maupun sub tropik, dan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pendahuluan Proses pembuatan MCT dapat melalui dua reaksi. Menurut Hartman dkk (1989), trigliserida dapat diperoleh melalui reaksi esterifikasi asam lemak kaprat/kaprilat
4 Pembahasan Degumming
4 Pembahasan Proses pengolahan biodiesel dari biji nyamplung hampir sama dengan pengolahan biodiesel dari minyak sawit, jarak pagar, dan jarak kepyar. Tetapi karena biji nyamplung mengandung zat ekstraktif
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Minyak Goreng 1. Pengertian Minyak Goreng Minyak goreng adalah minyak yang berasal dari lemak tumbuhan atau hewan yang dimurnikan dan berbentuk cair dalam suhu kamar dan biasanya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minyak Sawit Mentah / Crude Palm Oil (CPO) Komoditas kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya sangat penting dalam penerimaan devisa negara, penyerapan
KIMIA. Sesi HIDROKARBON (BAGIAN II) A. ALKANON (KETON) a. Tata Nama Alkanon
KIMIA KELAS XII IPA - KURIKULUM GABUNGAN 16 Sesi NGAN HIDROKARBON (BAGIAN II) Gugus fungsional adalah sekelompok atom dalam suatu molekul yang memiliki karakteristik khusus. Gugus fungsional adalah bagian
Biodiesel Dari Minyak Nabati
Biodiesel Dari Minyak Nabati Minyak dan Lemak Minyak dan lemak merupakan campuran dari ester-ester asam lemak dengan gliserol yang membentuk gliserol, dan ester-ester tersebut dinamakan trigliserida. Perbedaan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Crude Palm Oil (CPO) CPO merupakan produk sampingan dari proses penggilingan kelapa sawit dan dianggap sebagai minyak kelas rendah dengan asam lemak bebas (FFA) yang tinggi
PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II KI1201
PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II KI1201 Disusun Ulang Oleh: Dr. Deana Wahyuningrum Dr. Ihsanawati Dr. Irma Mulyani Dr. Mia Ledyastuti Dr. Rusnadi LABORATORIUM KIMIA DASAR PROGRAM TAHAP PERSIAPAN BERSAMA
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebutuhan akan sumber bahan bakar semakin meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk. Akan tetapi cadangan sumber bahan bakar justru
II. TINJAUAN PUSTAKA. Minyak jelantah merupakan minyak goreng yang telah digunakan beberapa kali.
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Minyak Jelantah Minyak jelantah merupakan minyak goreng yang telah digunakan beberapa kali. Minyak jelantah masih memiliki asam lemak dalam bentuk terikat dalam trigliserida sama
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK ACARA 4 SENYAWA ASAM KARBOKSILAT DAN ESTER Oleh: Kelompok 5 Nova Damayanti A1M013012 Nadhila Benita Prabawati A1M013040 KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Oleokimia Oleokimia merupakan bahan kimia yang berasal dari minyak/lemak alami, baik tumbuhan maupun hewani. Produk oleokimia diperkirakan akan semakin banyak berperan menggantikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biodiesel Biodiesel merupakan bahan bakar rendah emisi pengganti diesel yang terbuat dari sumber daya terbarukan dan limbah minyak. Biodiesel terdiri dari ester monoalkil dari
HASIL DAN PEMBAHASAN A. ANALISIS GLISEROL HASIL SAMPING BIODIESEL JARAK PAGAR
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. ANALISIS GLISEROL HASIL SAMPING BIODIESEL JARAK PAGAR Gliserol hasil samping produksi biodiesel jarak pagar dengan katalis KOH merupakan satu fase yang mengandung banyak pengotor.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Minyak Sawit Sebagai Bahan Baku Biodiesel Tanaman sawit (Elaeis guineensis jacquin) merupakan tanaman yang berasal dari afrika selatan. Tanaman ini merupakan tanaman
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Crude Palm il (CP) Minyak sawit kasar merupakan hasil ekstraksi dari tubuh buah (mesokarp) tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis JACQ).Minyak sawit digunakan untuk kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Perumusan Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lemak dan minyak adalah trigliserida yang berarti triester (dari) gliserol. Perbedaan antara suatu lemak adalah pada temperatur kamar, lemak akan berbentuk padat dan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia dan banyak sekali produk turunan dari minyak sawit yang dapat menggantikan keberadaan minyak
A. RUMUS STRUKTUR DAN NAMA LEMAK B. SIFAT-SIFAT LEMAK DAN MINYAK C. FUNGSI DAN PERAN LEMAK DAN MINYAK
8 LEMAK DAN MINYAK A. RUMUS STRUKTUR DAN NAMA LEMAK B. SIFAT-SIFAT LEMAK DAN MINYAK C. FUNGSI DAN PERAN LEMAK DAN MINYAK Lipid berasal dari kata Lipos (bahasa Yunani) yang berarti lemak. Lipid didefinisikan
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Surfaktan merupakan suatu molekul yang sekaligus memiliki gugus hidrofilik dan gugus lipofilik sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari air dan minyak.
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Selama ini Indonesia masih mengimpor monogliserida dan digliserida yang dibutuhkan oleh industri (Anggoro dan Budi, 2008). Monogliserida dan digliserida dapat dibuat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Asam Palmitat Asam palmitat adalah asam lemak jenuh rantai panjang yang terdapat dalam bentuk trigliserida pada minyak nabati maupun minyak hewani disamping juga asam lemak
Air adalah wahana kehidupan
Air Air adalah wahana kehidupan Air merupakan senyawa yang paling berlimpah di dalam sistem hidup dan mencakup 70% atau lebih dari bobot semua bentuk kehidupan Reaksi biokimia menggunakan media air karena
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Katalis Katalis merupakan suatu senyawa yang dapat meningkatkan laju reaksi tetapi tidak terkonsumsi oleh reaksi. Katalis digunakan secara luas baik di alam, laboratorium dan
Transesterifikasi parsial minyak kelapa sawit dengan EtOH pada pembuatan digliserida sebagai agen pengemulsi
Transesterifikasi parsial minyak kelapa sawit dengan EtOH pada pembuatan digliserida sebagai agen pengemulsi Rita Arbianti *), Tania S. Utami, Heri Hermansyah, Ira S., dan Eki LR. Departemen Teknik Kimia,
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar belakang Senyawa gliserol yang merupakan produk samping utama dari proses pembuatan biodiesel dan sabun bernilai ekonomi cukup tinggi dan sangat luas penggunaannya
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penelitian Pendahuluan (Pembuatan Biodiesel)
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penelitian Pendahuluan (Pembuatan Biodiesel) Minyak nabati (CPO) yang digunakan pada penelitian ini adalah minyak nabati dengan kandungan FFA rendah yaitu sekitar 1 %. Hal ini diketahui
B. Struktur Umum dan Tatanama Lemak
A. Pengertian Lemak Lemak adalah ester dari gliserol dengan asam-asam lemak (asam karboksilat pada suku tinggi) dan dapat larut dalam pelarut organik non-polar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform
4. Hasil dan Pembahasan
4. Hasil dan Pembahasan 4.1. Sintesis Polistiren Sintesis polistiren yang diinginkan pada penelitian ini adalah polistiren yang memiliki derajat polimerisasi (DPn) sebesar 500. Derajat polimerisasi ini
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KARAKTERISASI MINYAK Sabun merupakan hasil reaksi penyabunan antara asam lemak dan NaOH. Asam lemak yang digunakan untuk membuat sabun transparan berasal dari tiga jenis minyak,
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KARAKTERISASI MINYAK Sabun merupakan hasil reaksi penyabunan antara asam lemak dan NaOH. Asam lemak yang digunakan pada produk sabun transparan yang dihasilkan berasal dari
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
18 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lemak dan Minyak Lemak dan minyak merupakan salah satu kelompok yang termasuk golongan lipida. Satu sifat yang khas dan mencirikan golongan lipida (termasuk lemak dan minyak)
I. PENDAHULUAN. menghasilkan produk-produk dari buah sawit. Tahun 2008 total luas areal
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Masalah Propinsi Lampung merupakan salah satu daerah paling potensial untuk menghasilkan produk-produk dari buah sawit. Tahun 2008 total luas areal perkebunan kelapa
BAB II PUSTAKA PENDUKUNG. Ketersediaan energi fosil yang semakin langka menyebabkan prioritas
BAB II PUSTAKA PENDUKUNG 2.1 Bahan Bakar Nabati Ketersediaan energi fosil yang semakin langka menyebabkan prioritas mengarah kepada penggunaan energi asal tanaman. Energi asal tanaman ini disebut sebagai
SAINS II (KIMIA) LEMAK OLEH : KADEK DEDI SANTA PUTRA
SAINS II (KIMIA) LEMAK OLEH : KADEK DEDI SANTA PUTRA 1629061030 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA PROGRAM PASCASARAJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA 2017 SOAL: Soal Pilihan Ganda 1. Angka yang menunjukkan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 leokimia leokimia merupakan suatu bagian ilmu kimia yang mempelajari tentang proses pengolahan asam lemak dan gliserol serta turunannya, baik yang diperoleh dari minyak atau
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biodiesel Biodiesel dapat dibuat dengan empat cara utama, yaitu secara langsung dengan pencampuran, mikroemulsi, pirolisis dan transesterifikasi. Metode yang paling umum digunakan
SIFAT KIMIA DAN FISIK SENYAWA HIDROKARBON
SIFAT KIMIA DAN FISIK SENYAWA HIDROKARBON Muhammad Ja far Sodiq (0810920047) 1. ALKANA Pada suhu biasa, metana, etana, propana, dan butana berwujud gas. Pentena sampai heptadekana (C 17 H 36 ) berwujud
MAKALAH PRAKTIKUM KIMIA DASAR REAKSI-REAKSI ALKOHOL DAN FENOL
MAKALAH PRAKTIKUM KIMIA DASAR REAKSI-REAKSI ALKOHOL DAN FENOL Oleh : ZIADUL FAIEZ (133610516) PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ISLAM RIAU PEKANBARU 2015 BAB I PENDAHULUAN LatarBelakang
TUGAS FISIKA FARMASI TEGANGAN PERMUKAAN
TUGAS FISIKA FARMASI TEGANGAN PERMUKAAN Disusun Oleh : Nama NIM : Anita Ciptadi : 16130976B PROGRAM STUDI D-III FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SETIA BUDI SURAKARTA 2013/2014 KATA PENGANTAR Puji syukur
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
17 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 LEMAK DAN MINYAK Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triasilgliserol yang berarti triester dari gliserol (Fessenden,R.J dan Fessenden,J.,1984). Lemak meliputi mentega,
SPEKTROSKOPI INFRA RED & SERAPAN ATOM
SPEKTROSKOPI INFRA RED & SERAPAN ATOM SPEKTROSKOPI INFRA RED Daerah radiasi IR: 1. IR dekat: 0,78 2,5 µm 2. IR tengah: 2,5 50 µm 3. IR jauh: 50 1000 µm Daerah radiasi spektroskopi IR: 0,78 1000 µm Penggunaan
BAB I P E N D A H U L U A N
BAB I P E N D A H U L U A N 1.1. Latar Belakang Penggunaan senyawa polihidroksi alkohol (poliol) untuk berbagai jenis keperluan banyak dibutuhkan seperti halnya ester poliol dari turunan sakarida dengan
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan Pada penelitian ini, proses pembuatan monogliserida melibatkan reaksi gliserolisis trigliserida. Sumber dari trigliserida yang digunakan adalah minyak goreng sawit.
Kelompok G : Nicolas oerip ( ) Filia irawati ( ) Ayndri Nico P ( )
Kelompok G : Nicolas oerip (5203011028) Filia irawati (5203011029) Ayndri Nico P (5203011040) Mempelajari reaksi esterifikasi Apa sih reaksi esterifikasi itu? Bagaimana reaksi esterifikasi itu? Reaksi
I. PENDAHULUAN. Potensi Indonesia sebagai produsen surfaktan dari minyak inti sawit sangat besar.
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Masalah Potensi Indonesia sebagai produsen surfaktan dari minyak inti sawit sangat besar. Hal ini dikarenakan luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia terus
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Lateks karet alam didapat dari pohon Hevea Brasiliensis yang berasal dari famili Euphorbia ceae ditemukan dikawasan tropikal Amazon, Amerika Selatan. Lateks karet
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab IV Hasil dan Pembahasan Secara garis besar, penelitian ini dibagi dalam dua tahap, yaitu penyiapan aditif dan analisa sifat-sifat fisik biodiesel tanpa dan dengan penambahan aditif. IV.1 Penyiapan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Pada penelitian yang telah dilakukan, katalis yang digunakan dalam proses metanolisis minyak jarak pagar adalah abu tandan kosong sawit yang telah dipijarkan pada
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Energi merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia dan merupakan kunci utama diberbagai sektor. Semakin hari kebutuhan akan energi mengalami kenaikan seiring dengan
Hasil dan Pembahasan
Bab 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polimer Benzilkitosan Somorin (1978), pernah melakukan sintesis polimer benzilkitin tanpa pemanasan. Agen pembenzilasi yang digunakan adalah benzilklorida. Adapun
Senyawa Alkohol dan Senyawa Eter. Sulistyani, M.Si
Senyawa Alkohol dan Senyawa Eter Sulistyani, M.Si [email protected] Konsep Dasar Senyawa Organik Senyawa organik adalah senyawa yang sumber utamanya berasal dari tumbuhan, hewan, atau sisa-sisa organisme
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN MESA off grade merupakan hasil samping dari proses sulfonasi MES yang memiliki nilai IFT lebih besar dari 1-4, sehingga tidak dapat digunakan untuk proses Enhanced Oil Recovery
BAB I PENDAHULUAN. Isu kelangkaan dan pencemaran lingkungan pada penggunakan bahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Isu kelangkaan dan pencemaran lingkungan pada penggunakan bahan bakar fosil telah banyak dilontarkan sebagai pemicu munculnya BBM alternatif sebagai pangganti BBM
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Oleokimia Oleokimia pada dasarnya merupakan cabang ilmu kimia yang mempelajari trigliserida yang berasal dari minyak dan lemak menjadi asam lemak dan gliserin serta turunan asam
