BAB III METODOLOGI PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
Lampiran 1. Data BMT di Lampung

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Diagram Fishbone. Langkah langkah untuk menyusun dan menganalisa diagram fishbone sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II KERANGKA TEORITIS

FAKTOR PENYEBAB LEMAHNYA FUNGSI SOSIAL (BAITUL MAAL) BMT DI LAMPUNG TESIS RIDWAN SAIFUDDIN

Fishbone Diagram dan Langkah- Langkah Pembuatannya

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

MATERI VI DIAGRAM SEBAB AKIBAT DIAGRAM PARETO. By : Moch. Zen S. Hadi, ST Communication Digital Lab.

Sumber : PQM Consultant QC Tools Workshop module.

BAB 3 METODE PENELITIAN

V. METODOLOGI A. KERANGKA PEMIKIRAN B. TAHAP-TAHAP PENELITIAN. 1. Observasi Lapang. 2. Pengumpulan Data Kuantitatif

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. merupakan UKM yang bergerak dibidang produksi furniture.

TEKNIK ILUSTRASI MASALAH FISHBONE DIAGRAMS

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II LANDASAN TEORI

7 Basic Quality Tools. 14 Oktober 2016

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III DIAGRAM SEBAB AKKIBAT (ISHIKAWA DIAGRAM) Diagram sebab akibat dikembangkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa pada tahun

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Kualitas (Quality)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 LANDASAN TEORI

PERTEMUAN : 2 PENGENDALIAN KUALITAS (3 SKS) Oleh : Budi sumartono TOTAL QUALITY CONTROL (PENGENDALIAN MUTU TERPADU)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Analisa Hasil Pengolahan Data Analisa Histogram. Apabila dilihat dari hasil pengolahan data, berdasarkan histogram

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL. 1.1 Latar Belakang Penelitian Identifikasi Masalah Tujuan Penelitian 05

Pendahuluan. Pengendalian Kualitas Statistika. Ayundyah Kesumawati. Prodi Statistika FMIPA-UII. September 30, 2015

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. mencegah dan berupaya memperbaiki faktor-faktor penyebab kerusakan. menemui atau mendapati produk yang rusak.

III. METODE PENELITIAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. terigu, dibuat dengan proses pemanggangan. Biskuit memiliki kadar air kurang

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. atau kualitas. Dalam dunia industri, kualitas barang yang dihasilkan merupakan

(Root Cause Analysis)

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH. Dalam pelaksanaan penelitian, serta untuk mempermudah menyelesaikan. yang diperlukan dalam suatu penelitian.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN. kuantitatif dan kualitatif. Desain Penelitian ini adalah deskriptif eksploratif yaitu

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Kehadiran Bank Muammalat Indonesia (BMI) pada tahun 1992, telah

BAB 1 PENDAHULUAN. Walaupun perekonomian Indonesia pada saat ini masih belum pulih, akan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB 2 LANDASAN TEORI

ABSTRAK. iii. Universitas Kristen Maranatha

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Statistical Process Control

ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK BAKERY BOX MENGGUNAKAN METODE STATISTICAL PROCESS CONTROL (STUDI KASUS PT. X)

BAB 2 LANDASAN TEORI

RESPONSI/PRAKTIKUM MODUL 3 DIAGRAM ISHIKAWA COURSE CONTENT DEVELOPMENT FOOD QUALITY ASSURANCE COURSE GLOBAL DEVELOPMENT LEARNING NETWORK

BAB 2 LANDASAN TEORI

Bab III. Metodologi Penelitian. digunakan dalam penyelesaian masalah pada PT. Calvin Metal Products.

I. PENDAHULUAN. dengan jalan mengolah sumberdaya ekonomi potensial menjadi ekonomi riil

I. PENDAHULUAN. Tolok ukur keberhasilan pembangunan ekonomi dapat dilihat dari

BAB 1 PENDAHULUAN. mamutar dana masyarakat sehingga perekonomian terus berkembang. Dana. jenis-jenis lembaga keuangan bukan bank yaitu koperasi.

2. Pengawasan atas barang hasil yang telah diselesaikan. proses, tetapi hal ini tidak dapat menjamin bahwa tidak ada hasil yang

BAB III LANDASAN TEORI

PERTEMUAN #8 ALAT KUALITAS (TOOLS OF QUALITY) 6623 TAUFIQUR RACHMAN EBM503 MANAJEMEN KUALITAS

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Kaoru Ishikawa, Seorang Profesor Teknik di Universitas Tokyo dan. Merupakan Bapak dari " Quality Circles"( SEVEN TOOLS - QUALITY MANAGEMENT,

BAB II DASAR TEORI. Strategi TI terbaik adalah strategi yang selalu baru dan sesuai

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 2 Landasan Teori 2.1 Total Quality Management

ABSTRAK UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

Bab 3 METODE KAJIAN. 3.1 Metode Pengambilan Data

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

ABSTRAK. Dengan semakin ketatnya persaingan antar bank, maka setiap bank. dituntut untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah

BAB III METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

TINGKAT PENGHUNIAN KAMAR MEI 2016 PROVINSI LAMPUNG, HOTEL BERBINTANG 53,21% DAN AKOMODASI LAINNYA 43,97%

BAB 2 LANDASAN TEORI. karena apabila diterapkan secara rinci antara produsen dan konsumen akan terjadi

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS DATA. Universitas Indonesia. Peningkatan kualitas..., Wilson Kosasih, FT UI, 2009

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. 1 G. Kartasapoetra, Praktek Pengelolaan Koperasi, Jakarta: Rineka Cipta, 2013, h.5

RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PENJUALAN STUDI KASUS TOKO MUTIARA SERAGAM

Transkripsi:

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bagian ini akan diuraikan tahapan riset, dimulai dari batasan penelitian di mana yang menjadi indikator fungsi sosial BMT sebagai tema bahasan tesis ini adalah dana zakat, infaq, dan shadaqah (ZIS) yang dikelola oleh sepuluh BMT di Lampung. Sepuluh BMT tersebut dipilih dari 36 BMT berdasarkan data lembaga pendamping Microfin, atas dasar kinerja (tamwil) yang dinilai dapat mewakili dan relatif lebih baik dibanding BMT lainnya yang ditunjukkan dengan perkembangan aset dan laba dalam periode lima tahun (2003-2007). Dari sepuluh BMT tersebut diambil data sekunder berupa laporan keuangan masing-masing sebagai dasar melakukan analisa adanya kesenjangan dalam pengelolaan fungsi maal dan tamwil BMT yang bersangkutan. Selain data sekunder tersebut, penelitian ini juga menggunakan kuesioner mengenai penyebab lemahnya fungsi sosial BMT yang terdiri dari 15 pertanyaan dengan pilihan jawaban Ya dan Tidak. Kuesioner tersebut disebarkan dan diisi oleh pengurus atau pengelola dari 36 BMT yang masih beroperasi hingga sekarang. Kuesioner disusun berdasarkan identifikasi faktor penyebab lemahnya fungsi sosial BMT, yang diketahui melalui proses pengungkapan pendapat dengan pengurus dan pengelola sepuluh BMT di Lampung yang menjadi objek penelitian. Identifikasi faktor penyebab tersebut dikelompokkan berdasarkan katagorisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Hasil identifikasi melalui pengungkapan pendapat terhadap faktor penyebab lemahnya fungsi sosial BMT tersebut yang kemudian disusun menjadi bentuk pernyataan-pernyataan dalam kuesioner. Alat analisis menggunakan diagram sebab-akibat atau diagram tulang ikan (Fishbone Diagram), yang selanjutnya menjadi panduan merumuskan hasil penelitian. 39

40 3.1 Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian Dalam penelitian ini, sebagai indikator fungsi sosial BMT adalah meliputi pengelolaan dana-dana filantropi yaitu meliputi zakat, infaq, shadaqah (ZIS) yang dikelola oleh BMT. Kesenjangan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perlakuan yang berbeda dalam pengelolaan maal dan pengelolaan tamwil, di mana fungsi maal cenderung ditinggalkan, yang ditunjukkan dengan rendahnya rasio antara dana ZIS dan aset BMT, yang dapat diketahui dari pos anggaran dalam neraca keuangan BMT. Tabel 3.2 Aset Sepuluh BMT Di Provinsi Lampung Periode 2003 2007 Periode Desember (Rupiah) Nama BMT 2003 2004 2005 2006 2007 Al Hasanah 217.135.803 250.504.152 385.476.579 1.181.190.546 1.448.897.448 Al Ihsan 669.518.150 739.747.819 1.047.708.082 1.478.156.579 2.093.573.350 Al Muhsin 89.265.126 185.116.660 302.610.088 547.073.341 1.010.231.409 Assyafi'iyah 1.446.606.039 1.932.173.307 2.645.900.981 3.677.397.761 4.075.434.689 Baskara 283.810.776 483.992.060 1.460.967.349 2.258.059.447 4.189.427.240 Duta Jaya 153.815.400 531.569.526 1.337.119.425 2.111.275.390 4.008.538.059 Fajar 169.347.313 2.313.619.719 3.399.227.116 4.564.921.609 5.961.523.050 Mentari 825.858.366 1.341.939.626 2.216.242.617 2.535.524.178 2.487.716.972 Pringsewu 225.739.950 550.589.489 1.337.395.177 1.516.012.096 1.954.441.333 Surya Abadi 1.080.575.914 1.193.429.395 1.524.705.302 3.201.372.596 4.143.919.056 Sumber: diolah (2008) Sebagai objek penelitian adalah 36 BMT yang ada di Lampung yang tersebar di sembilan kabupaten dan kota, yaitu: Bandar Lampung, Metro, Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Timur, Lampung Utara, Tanggamus, Tulangbawang, dan Way Kanan. Dari 36 BMT tersebut, dipilih sepuluh BMT untuk diambil laporan keuangannya berupa neraca dan rugi laba periode Desember 2003 Desember 2007, yang dapat memberikan gambaran mewakili kinerja dari BMT secara umum di Provinsi Lampung.

41 Kesepuluh BMT tersebut dipilih berdasarkan performa data keuangannya serta kinerja manajemen lembaga yang setiap bulan dipantau oleh lembaga pendamping Microfin Cabang Lampung, yang terkatagori relatif lebih baik/sehat dibanding yang lain, dengan aset tahun 2007 lebih dari Rp1 miliar, yang dapat dilihat dalam Tabel 3.2 di atas. Selanjutnya, analisis data dan pengungkapan pendapat dilakukan di sepuluh BMT tersebut, yang difokuskan pada fungsi baitul maal dalam mengelola dana ZIS, melibatkan pengurus dan pengelola masing-masing BMT. Adapun perkembangan dana ZIS dari kesepuluh BMT tersebut ditunjukkan dalam Tabel 3.3 berikut ini: Tabel 3.3 Dana ZIS Periode 2003-2007 Periode Desember (Rupiah) Nama BMT 2003 2004 2005 2006 2007 Al Hasanah 460.400 360.305 492.305 829.005 514.385 Al Ihsan 1.416.430 3.406.685 5.781.938 6.404.218 9.914.452 Al Muhsin 272.555 97.555 314.555 222.556 1.827.556 Assyafi'iyah 6.283.729 7.025.468 7.912.752 8.678.502 12.336.824 Baskara 2.108.709 2.612.293 3.436.316 8.006.112 27.978.407 Duta Jaya 339.410 700.440 2.350.908 3.449.004 8.685.664 Fajar 5.652.096 5.782.375 7.361.153 8.797.736 25.561.556 Mentari 2.747.863 4.561.994 6.556.043 9.767.228 13.768.371 Pringsewu 533.000 650.000 10.918.085 15.681.750 17.812.454 Surya Abadi 3.844.488 5.480.917 8.185.488 9.624.957 15.383.269 Sumber: diolah (2008) Selain analisis data dan pengungkapan pendapat terhadap pengelola sepuluh BMT tersebut, juga dilakukan penyebaran kuesioner kepada 36 BMT yang menjadi sampel dari penelitian ini, termasuk juga sepuluh BMT tersebut. Kuesioner terdiri dari 15 pertanyaan yang bersifat tertutup, dengan pilihan

42 jawaban ya atau tidak. Kuesioner tersebut diisi oleh anggota pengurus atau pimpinan pengelola masing-masing BMT. 3.2 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan terdiri dari data sekunder (kuantitatif), yaitu laporan keuangan (neraca) masing-masing BMT di mana dapat diketahui besarnya aset yang menunjukkan perkembangan bisnisnya, serta dana ZIS yang menjadi indikator fungsi sosial BMT. Data sekunder berupa laporan keuangan tersebut dikumpulkan dari sepuluh BMT yang perkembangannya relatif baik dibanding yang lain. Disamping itu, untuk lebih mendalami faktor penyebab lemahnya fungsi sosial BMT dan mengetahui tingkat pengaruh masing-masing faktor, dilakukan penyebaran kuesioner kepada 36 BMT yang diisi oleh pengurus atau pimpinan pengelola masing-masing BMT. Hasilnya kemudian dimasukkan dalam diagram sebab akibat (cause-and-effect diagram) atau Fishbone Diagram, untuk mengidentifikasi akar penyebab lemahnya fungsi sosial BMT tersebut secara terperinci. Sebelumnya dilakukan pengelompokan faktor penyebab masalah melalui pengungkapan pendapat (brainstorming) melibatkan para pengurus serta pengelola BMT. 3.3 Metode Penelitian Metode penelitian merupakan suatu tahapan penelitian yang perlu dilakukan oleh seorang peneliti (Umar, 2005, Hal.4). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Metode desktiptif menurut Travers (1978) seperti dikutip Umar (2005:87) bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat riset dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu.

43 Alat analisis yang digunakan adalah cause-and-effect diagram, yaitu suatu grafik yang menunjukkan hubungan antara suatu masalah dan kemungkinan penyebabnya. Diagram ini, mula-mula dikembangkan oleh Kaoru Ishikawa pada 1953, digunakan dalam bentuk pengungkapan pendapat berikut kemungkinankemungkinan untuk mencari pemecahan suatu masalah. Diagram ini merupakan suatu model untuk menghubungkan antarpenyebab dengan permasalahan yang menjadi tema penelitian. Masalah itu disebut efek (effect), dan faktor yang mempengaruhinya disebut penyebab (cause). Cause-and-effect diagram sangat menolong untuk mengatasi permasalahan dengan mengidentifikasi penyebabnya, dan juga memberikan pemahaman terhadap efek (masalah) serta faktor-faktor yang berakibat dalam suatu proses. Diagram itu juga dikenal sebagai diagram tulang ikan (fishbone diagram) atau Ishikawa Diagram (Rao et.al., 1996, Hal.188). Cause-and-effect diagram disebut juga sebagai diagram tulang ikan, karena dibuat menyerupai tulang/rangka seekor ikan, dengan katagori penyebab utama disusun membentuk seperti tulang yang dihubungkan dengan tulang belakang ikan, seperti ditunjukkan pada Gambar 3.1. Gambar 3.1 Diagram Tulang Ikan Sumber: Diolah (2008)

44 Guna memudahkan pengelompokan menyebabnya (cause), terdapat beberapa katagori utama yang umum digunakan. Dalam proses produksi, katagorisasi yang utama adalah disebut juga sebagai empat M, yaitu manpower (tenaga kerja), machines (mesin), materials (material), dan methods (metoda). Sedangkan untuk jasa, layanan, atau proses administratif, katagorisasi yang umum dipakai adalah empat P : people (orang), plant and equipment (lingkungan kerja dan peralatan), policies (kebijakan), dan procedures (prosedur). Dalam banyak kasus, pada umumnya faktor-faktor penyebab dikelompokkan ke dalam salah satu dari katagori utama tersebut. Prosedur yang umum ini adalah hanya salah satu dari beberapa yang mungkin untuk dikembangkan menjadi suatu cause-and-effect diagram (Rao et.al., 1996, Hal.189). Katagorisasi lain yang juga sering digunakan dalam memformulasikan diagram ini didasarkan pada beberapa kelompok, seperti enam M yaitu: Machine (mesin), Method (metoda), Materials (material), Maintenance (pemeliharaan), Man and Mother Nature (orang dan lingkungan), yang direkomendasikan untuk katagorisasi dalam industri manufaktur. Katagorisasi lainnya adalah delapan P yaitu: Price (harga), Promotion (promosi), People (orang), Processes (proses), Place/Plant (lingkungan kerja), Policies (kebijakan), Procedures & Product (proses dan produk/layanan), yang direkomendasikan untuk persoalan bidang administrasi dan industri jasa. Katagorisasi yang lain adalah empat S yaitu: Surroundings (lingkungan), Suppliers (penyalur), Systems (sistem), dan Skills (keterampilan), yang juga direkomendasikan untuk industri jasa. Katagorisasi penyebab dapat disesuaikan sehingga mencerminkan kondisi sebenarnya. Dalam penelitian ini pengelompokan faktor penyebab tersebut dibagi kedalam katagori: manpower (tenaga kerja), management (manajemen), methods (metode kerja), money (uang), dan environment (lingkungan).

45 Cause-and-effect diagram dapat mengungkapkan hubungan kunci antar berbagai variabel, dan faktor-faktor penyebab yang dapat memberikan pemahaman mendalam terhadap sebuah masalah. Ishikawa Diagram ini pada umumnya digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang bisa mendorong ke arah penyelesaian masalah atau akibat (effect). Pada umumnya diagram tersebut memiliki satu kotak di sisi kanan di mana tertulis masalah (akibat) yang akan diuji. Badan utama diagram adalah suatu garis mendatar yang bersumber pada penyebab yang umum, digambarkan seperti "tulang ikan". Ke arah sisi kiri merupakan catatan masing-masing penyebab, yang diperoleh melalui brainstorming terlebih dahulu berdasarkan pada daftar penyebab utama di atas. Dari masing-masing tulang yang besar, mungkin ada tulang lebih kecil yang menyoroti aspek lebih spesifik suatu penyebab tertentu, dan bisa terdiri dari tiga cabang atau lebih. Perincian penyebab dari permasalahan pada umumnya menggunakan metode 5 why, yaitu bila satu sebab telah ditemukan, tanyakan kenapa sebab itu muncul. Pertanyaan mengapa? secara berulang, sehingga tidak ada jawaban lagi dari sebab yang terakhir. Itulah akar permasalahannya (the root cause). Tulang yang semakin banyak cabang biasanya menguraikan faktor penyebab yang lebih berpengaruh, dan sebaliknya berlaku untuk tulang dengan lebih sedikit cabang. Faktor-faktor tersebut selanjutnya didistribusikan dalam pareto chart. Distribusi pareto (pareto distribution) adalah salah satu jenis distribusi di mana sifat-sifat yang diobservasi diurutkan dari yang frekuensinya terbesar hingga terkecil, berbentuk histogram data yang mengurutkan data dari frekuensi terbesar hingga terkecil (Evans dan Lindsay, 2007, Hal.87). Kegunaan dari Pareto chart adalah untuk melihat bagian mana yang paling vital, yang nantinya akan dilakukan perbaikan pada bagian yang paling vital tersebut (Soetanto, Felecia, 2004, Hal.87).

46 Pareto chart dalam penelitian ini adalah berkaitan dengan penyebab timbulnya permasalahan, dan dipergunakan untuk mencari sebab utama timbulnya masalah, yaitu lemahnya fungsi sosial BMT, yang diurutkan dari penyebab yang paling kuat pengaruhnya hingga yang paling lemah. 3.4 Teknik dan Alat Analisis Analisis penelitian yang akan dilakukan adalah, analisis data sekunder dan identifikasi faktor penyebab lemahnya fungsi sosial dengan menggunakan model fishbone diagram. Tujuannya adalah mengidentifikasi akar masalah lemahnya fungsi sosial BMT dan langkah yang dapat diambil pengelola lembaga tersebut untuk mengatasi permasalahan. Penelitian ini ingin mengetahui faktor penyebab lemahnya fungsi sosial BMT, untuk itu penelitian menguraikan faktor penyebab tersebut menggunakan fishbone diagram. Data yang akan dipergunakan adalah neraca dan rugi laba akhir tahun selama lima tahun (2003 2007) pada masing-masing BMT, khususnya untuk mengetahui jumlah dana zakat, infaq, shadaqah (ZIS) dan dana kebajikan (qardul hasan) yang dikelola BMT pada periode lima tahun tersebut. 3.5 Alur Penelitian Alur penelitian ini dimulai dari pemilihan objek penelitian yaitu BMT di Lampung yang dipilih berdasarkan kinerja keuangan dan manajemennya. Selanjutnya atas dasar perumusan masalah dilakukan katagorisasi faktor penyebab (cause) dari permasalahan penelitian, yaitu katagori manpower, management, methods, money, dan environment. Selanjutnya berdasarkan data keuangan 36 BMT, dipilih 10 BMT yang perkembangan aset dan kinerja manajemennya relatif baik. Terhadap 10 BMT

47 tersebut, dilakukan proses pengungkapan pendapat yang melibatkan pengurus dan pengelolanya mengenai faktor penyebab lemahnya fungsi sosial BMT. Sebelum itu, dilakukan penyelarasan visi sehingga terbangun pemahaman yang sama bahwa lembaga BMT mengemban dua peran: sosial dan bisnis. Pengungkapan pendapat dilanjutkan berdasarkan lima katagorisasi penyebab, dengan teknik bertanya mengapa secara berulang untuk mengetahui akar masalah dari setiap katagori tersebut. Gambar 3.2 Alur Penelitian Rumusan Masalah Kepala Ikan Katagorisasi 4M+1E Kuesioner Brainstorming 5 Why Identifikasi Faktor Penyebab dan Subpenyebab Diagram Fishbone Diagram Pareto Deskripsi Kesimpulan Hasilnya adalah pernyataan-pernyataan tentang faktor penyebab lemahnya fungsi sosial, yang menjadi bahan penyusunan kuesioner. Kuesioner yang berisi 15 pernyataan tertutup dengan jawaban ya atau tidak dikirim kepada 36 BMT

48 untuk diisi oleh pengurus atau pimpinan pengelola masing-masing BMT. Selanjutnya hasil kuesioner dikuantifikasi dan disusun dalam bentuk diagram (Fishbone Diagram), dilanjutnya analisis data sekunder (laporan keuangan), dan deskripsi. Flowchart alur penelitian ditampilkan dalam Gambar 3.2. 3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Provinsi Lampung, dengan mengambil 36 BMT yang tersebar di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung Timur, Lampung Tengah, Lampung Utara, Way Kanan, Tulangbawang, Tanggamus, Kota Metro, dan Bandar Lampung. Kriteria yang menjadi dasar memilihnya adalah BMT yang masih eksis dan cukup berkembang dengan baik hingga penelitian ini dilaksanakan. Adapun waktu penelitian adalah selama Mei hingga Juni 2008.