5. PARAMETER-PARAMETER REPRODUKSI

dokumen-dokumen yang mirip
3. METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. Gambar 2. Peta lokasi penangkapan ikan kembung perempuan (R. brachysoma)

3. METODE PENELITIAN. Gambar 3. Peta daerah penangkapan ikan kuniran di perairan Selat Sunda Sumber: Peta Hidro Oseanografi (2004)

3. METODE PENELITIAN

3 METODE PENELITIAN. Waktu dan Lokasi Penelitian

3.3. Pr 3.3. P os r ed e u d r u r Pe P n e e n l e iltiitan

statistik menggunakan T-test (α=5%), baik pada perlakuan taurin dan tanpa diberi Hubungan kematangan gonad jantan tanpa perlakuan berdasarkan indeks

3. METODE PENELITIAN

ASPEK REPRODUKSI IKAN LELAN (Osteochilus vittatus C.V) Di SUNGAI TALANG KECAMATAN LUBUK BASUNG KABUPATEN AGAM

3. METODE PENELITIAN

2. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 : Ikan tembang (S. fimbriata)

3. METODE PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA Perkembangan Gonad Ikan

III. METODE PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Reproduksi dan Perkembangan Gonad Ikan Lele. Ikan lele (Clarias sp) pertama kali matang kelamin pada umur 6 bulan dengan

III. METODOLOGI. Bawang, Provinsi Lampung selama 6 bulan dimulai dari bulan April 2013 hingga

II. TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 4. Peta lokasi pengambilan ikan contoh

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan dimulai dari bulan Oktober 2013

Deskripsi lokasi penelitian. Myrtaceae. Myrtaceae. Pohon sagu, kerikil 30%, tumbuhan rawa. batu besar 40%. Nephentes

3 METODE PENELITIAN. Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian

II. METODOLOGI 2.1 Prosedur Pelaksanaan Penentuan Betina dan Jantan Identifikasi Kematangan Gonad

Titin Herawati, Ayi Yustiati, Yuli Andriani

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu :

SET 5 REPRODUKSI SEL 2 (GAMETOGENESIS) Gametogenesis adalah pembentukan gamet pada tubuh makhluk hidup. a. GametOGenesis pada manusia dan hewan

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Ciri Morfologis Klasifikasi

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. ukuran panjang tubuh sekitar 20 cm dan ukuran berat tubuh gram. Di

TINGKAT KEMATANGAN GONAD IKAN TEMBANG (Clupea platygaster) DI PERAIRAN UJUNG PANGKAH, GRESIK, JAWA TIMUR 1

POTENSI REPRODUKSI IKAN LALAWAK (Barbodes sp) PENDAHULUAN

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Prosedur Penelitian

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Ikan baung diklasifikasikan masuk ke dalam Filum : Cordata, Kelas : Pisces,

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

METODE. Waktu dan Tempat Penelitian

OOGENESIS DAN SPERMATOGENESIS. Titta Novianti

3.KUALITAS TELUR IKAN

Tingkat Kematangan Gonad Ikan Tembang (Clupea platygaster) di Perairan Ujung Pangkah, Gresik, Jawa Timur

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3 METODOLOGI PENELITIAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengaruh pencekokan ekstrak rimpang rumput teki terhadap diameter oosit

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Fekunditas Pemijahan

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas induk pokok (Parent Stock)

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan Desember 2013 di Sungai

SNI : Standar Nasional Indonesia. Benih Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas induk pokok (Parent Stock)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III BAHAN DAN METODE

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. BAHAN DAN METODE

BIOLOGI REPRODUKSI lkan. Dr. Ir. Usman Muhammad Tang, M.S. Dr. Ir. Ridwan Affandi

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 5 Peta daerah penangkapan ikan kurisi (Sumber: Dikutip dari Dinas Hidro Oseanografi 2004).

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ikan Lemeduk (Barbodes schwanenfeldii) menurut Kottelat

II. TINJAUAN PUSTAKA. Desember (Amornsakun dan Hassan, 1997; Yusuf, 2005). Areal pemijahan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Struktur Morfologis Klasifikasi

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BIOLOGI REPRODUKSI IKAN JUARO (Pangasius polyuranodon) DI DAERAH ALIRAN SUNGAI MUSI, SUMATERA SELATAN ABDUL MA SUF

III. BAHAN DAN METODE

Kata kunci: ikan nila merah, tepung ikan rucah, vitamin E, TKG, IKG

ASPEK REPRODUKSI IKAN BADUT. (Amphiprion ocellaris, Pomancentridae)DI PERAIRAN MENTAWAI

BAB III BAHAN DAN METODE


Induk ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok

Aspek Reproduksi Ikan Kerapu Macan (Epinephelus sexfasciatus) di Perairan Glondonggede Tuban

SNI : Standar Nasional Indonesia. Benih Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskal) kelas benih sebar

2.2. Morfologi Ikan Tambakan ( H. temminckii 2.3. Habitat dan Distribusi

J. Aquawarman. Vol. 3 (1) : April ISSN : AQUAWARMAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE. Tabel 1. Subset penelitian faktorial induksi rematurasi ikan patin

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP. 52/MEN/2004 T E N T A N G PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA JICA SEBAGAI VARIETAS BARU

HASIL. Parameter Utama

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN

OLeh : Titta Novianti, S.Si. M.Biomed

KAJIAN BIOLOGI REPRODUKSI IKAN TEMBANG (Sardinella maderensis Lowe, 1838) DI PERAIRAN TELUK JAKARTA YANG DIDARATKAN DI PPI MUARA ANGKE, JAKARTA UTARA


METODE PENELITIAN. Waktu dan Tempat Penelitian. Alat dan Bahan

4 REPRODUKSI DAN TINGKAH LAKU PEMIJAHAN IKAN T. sarasinorum DI DANAU MATANO

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk pokok (Parent Stock)

HUBUNGAN HORMON REPRODUKSI DENGAN PROSES GAMETOGENESIS MAKALAH

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Fisik Reproduksi Lele dumbo. Tabel 4 Karakteristik fisik reproduksi lele dumbo

HASIL DAN PEMBAHASAN Perilaku Kawin

BEBERAPA ASPEK REPRODUKSI IKAN KRESEK (Thryssa mystax) PADA BULAN JANUARI-JUNI DI PERAIRAN UJUNG PANGKAH, JAWA TIMUR LISA FATIMAH

GAMBARAN HISTOLOGIS TESTIS MUDA DAN DEWASA PADA IKAN MAS Cyprinus carpio.l RAHMAT HIDAYAT SKRIPSI

DIKTAT EMBRIOLOGI HEWAN

III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Induk 3.3 Metode Penelitian

KHAIRUL MUKMIN LUBIS IK 13

3. METODE PENELITIAN

3 METODE PENELITIAN. 3.1 Waktu dan lokasi

bio.unsoed.ac.id TELAAH PUSTAKA A. Morfologi dan Klasifikasi Ikan Brek

Transkripsi:

5. PARAMETER-PARAMETER REPRODUKSI Pengukuran parameter reproduksi akan menjadi usaha yang sangat berguna untuk mengetahui keadaan kelamin, kematangan alat kelamin dan beberapa besar potensi produksi dari ikan tersebut. Dengan parameter yang jelas dan terukur maka data yang didapatkan dari lapangan ataupun dari laboratorium bisa diolah atau dianalisis. Beberapa parameter yang biasa digunakan antara lain: 1. Tingkat Kematangan Gonad Tingkat kematangan gonad (TKG) ditentukan dengan melakukan analisis morfologi dan anatomi gonad berdasarkan modifikasi Cassie (Effendie dan Subardja, 1977) (Tabel 1). Selain secara anatomis, perkembangan gonad juga akan dianalisis secara histologis. Untuk ikan jantan berdasarkan Kaya dan Hasler (1972) dalam Effendi (1997), sedangkan untuk ikan betina berdasarkan Chinabut et al. (1991) dalam Siregar (1999) (Tabel 2). 55

Tabel 1. Kriteria penilaian tingkat kematangan gonad ikan lalawak secara anatomis Tingkat Kematangan Gonad I Betina Ovarium seperti benang, panjang sampai ke depan rongga tubuh. Warna jernih. Permukaan licin. Jantan Testis seperti benang, lebih pendek (terbatas) dan terlihat ujungnya di rongga tubuh. Warna jernih. II Ukuran ovarium lebih besar. Pewarnaan lebih gelap kekuning-kuningan. Telur belum terlihat jelas dengan mata. Ukuran testis lebih besar. Pewarnaan putih seperti susu. Bentuk lebih jelas daripada tingkat I III Ovarium berwarna kuning. Secara morfologi telur mulai kelihatan butirnya dengan mata. Permukaan testis tampak bergerigi. Warna makin putih, testis makin besar. Dalam keadaan diawet mudah putus. IV Ovarium makin besar mengisi 1/2-2/3 rongga perut. Telur berwarna kuning, mudah dipisahkan. Butir minyak tidak tampak. Seperti pada tingkat III tampak lebih jelas. Testis semakin pejal. V Ovarium berkerut, dinding tebal, butir telur sisa terdapat di dekat pelepasan. Banyak telur seperti tingkat II. Testis bagian belakang kempis dan dibagian dekat pelepasan masih berisi. 56

Tabel 2. Kriteria penilaian tingkat kematangan gonad ikan lalawak secara histologis Tingkat Kematangan Gonad I Betina Oosit 1. Proliferasi germinal menjadi oogonia. Setiap oogonia dikelilingi oleh satu lapis sel epitel dengan sitoplasma yang mengambil warna merah muda dan inti sel yang besar. Jantan Testes regresi. Dinding gonad dilapisi oleh spermatogonia awal dan sekunder. Sperma sisa mungkin masih terdapat. II Oosit 2. Pase perkembangan oosit ditandai meningkatnya ukuran sitoplasma mengambil warna basofilik dan ukuran sitoplasma menjadi besar berwarna biru terang berada ditengah sel. Selama perkembangan oosit primer dibungkus oleh satu lapis epitel folikular yang sulit dibedakan. Perkembangan spermatogonia. Sama dengan tingkat I hanya proporsi spermatogonia sekunder bertambah. Sperma sisa kadang-kadang masih terlihat. III Oosit 3. Stadia perkembangan sel folikular, dari oosit membesar, nukleus berada ditengah dan sitoplasma berwarna biru gelap. Terdapat provitelin nukleoli yang mengelilingi inti. Pergerakan provitelin nukleoli dimulai pada stadia ini dan nukleoli euvitelin mulai berkembang Awal aktif spermatogenesis. Cyste spermatocyt timbul dan kemudian semakin bertambah. Cyste spermatid dan spermatozoa juga mulai keluar. IV Oosit 4. Nukleoli euvitelin Aktif spermatogenesis. 57

jelas kelihatan disekitar membran nuklear dari nukleus dan sitoplasma berwarna biru terang dibanding stadia II dan III. Stadia ini terjadi vitelogenesis yang ditandai meningkatnya secara nyata butiran kuning telur dan lemak disekitar sitoplasma. Lapisan zona radiata dari oosit nampak jelas dari epitel folikular. Semua tingkat spermatogenesis ada dalam jumlah yang banyak. Spermatozoa bebas mulai terlihat dalam rongga seminiferous. V VI Oosit 5. Stadia peningkatan ukuran oosit karena diisi oleh kuning telur. Butiran kuning telur kelihatan jelas dan tersebar disekitar sitoplasma yang berwarna biru keabuabuan, sedangkan inti berwarna merah muda, membran nukleus dan karyoplasma mengalami degenerasi. Lapisan zona radiata terlihat jelas, epitelium folikular berkembang menjadi sel kubus atau sel selinder. Oosit 6. vakuola kunig telur yang besar dan butiran kuning telur berwarna terang munsul pada seluruh bagian sitoplasma. Penurunan inti dalam sel dan membran inti menghilang. Zona radiata, sel folikel dan sel teka terlihat jelas. Ketebalan dinding oosit tidak teratur dengan satu sisi lebih luas dibanding dengan yang lain. Bagian yang 58 Testes masak. Lumen penuh dengan spermatozoa. Pada dinding lobule penuh dengan cyste bermacam-macam tingkat. Testes regresi. Rongga seminiferous masih berisi spermatozoa. Dinding lobule penuh dengan spermatogonia yang tidak aktif. Ukuran testes mengkerut karena sperma dikeluarkan.

tebal akan merupakan subtrat untuk penggabungan fertilisasi telur. 2. Indeks Kematangan Gonad Indeks kematangan gonad (IKG) individu ikan dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut: Bobot gonad (g) IKG (%) = x 100 Bobot tubuh (g) 3. Bobot Telur Bobot telur per butir (BT) dihitung dengan cara membandingkan indeks kematangan gonad (IKG) dengan nilai fekunditas relatif. BT (µg/butir) = IKG/Fekunditas Relatif 4. Diameter Telur Diameter telur diukur dengan menggunakan mikrometer okuler pada mikroskop. Jumlah sampel telur yang digunakan lebih kurang sebanyak 100 butir untuk tiap gonad ikan. 59

5. Fekunditas Relatif Fekunditas relatif (F) adalah jumlah telur per satuan bobot atau panjang ikan. Dari telur yang dikeluarkan diambil sekitar 0.1 g sebagai sampel. Kemudian jumlah telur dihitung satu persatu. Fekunditas dihitung dengan menggunakan persamaan: G x X F = : W Q Keterangan : F = Fekunditas G = Bobot telur total/gonad (g) X Q W = Jumlah telur sampel (butir) = Bobot telur sampel (g) = Bobot tubuh individu (g) 6. Hepato Somatik Indek (HSI) Hepato somatik indek ialah perbandingan antara berat hati dan berat tubuh ikan dinyatakan dalam persen. Semakin tinggi tingkat kematangan gonad maka nilai HSI pun semakin tinggi, hal ini terjadi karena adanya proses vitelogenesis pada hati ikan. HIS dapat ditentukan dengan menggunakan rumus berikut: 60

Bobot hati (g) HSI (%) = x 100 Bobot tubuh (g) 7. Jumlah induk yang memijah Ditentukan dengan melihat jumlah induk yang memijah (JIM) dari total induk yang dipijahkan. Untuk menentukan induk yang memijah dapat dilihat dari bentuk morfologi dan anatomisnya. JIM dihitung dengan menggunakan persamaan: Jumlah induk yang memijah (ekor) JIM(%) = x 100 Jumlah induk yang dipijahkan (ekor) 8. Derajat Tetas Telur (DTT) Ditentukan dengan mengambil sampel telur, selanjutnya ditetaskan di dalam suatu wadah tertentu dan dihitung berapa banyak telur yang menetas. DTT dihitung dengan menggunakan persamaan: Jumlah telur yang menetas (butir) DTT(%) = x 100 Jumlah telur yang ditetaskan (butir) 61

9. Persentase Larva Abnormal Persentase larva abnormal (LA) yang dimaksud di sini adalah untuk melihat seberapa banyak larva yang tidak normal yang dihasilkan oleh induk yang dihitung berdasarkan jumlah telur sampling yang menetas dengan persamaan: Jumlah abnormal LA (%) = x 100 Jumlah larva sampel 10. Total Larva yang diproduksi Total larva (TL) yang diproduksi dihitung dengan cara mengalikan derajat tetas telur dengan fekunditas relatif. TL (jumlah larva/kg induk) = DTT x F 62