Bab XI, State Diagram Hal: 226

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III COUNTER. OBYEKTIF : - Memahami jenis-jenis counter - Mampu merancang rangkaian suatu counter

Output. Input R.Kombinasi Onal. Flip-Flop. Pulsa Clock. Pulsa Clock

1). Synchronous Counter

Finite State Machine (FSM)

9 ANALISIS RANGKAIAN BERURUT

=== PERANCANGAN RANGKAIAN SEKUENSIAL ===

Review Kuliah. TKC305 - Sistem Digital Lanjut. Eko Didik Widianto

BAB VIII REGISTER DAN COUNTER

Register & Counter -7-

LEMBAR TUGAS MAHASISWA ( LTM )

Pertemuan ke 4 BAB III Sintesis Rangkaian Sekuensial Deskripsi Manfaat Relevansi Learning Outcome Materi I. Prosedur Sintesis

adalah frekuensi detak masukan mula-mula, sehingga membentuk rangkaian

BAB 4 RANGKAIAN LOGIKA DIGITAL SEKUENSIAL. 4.1 Flip-Flop S-R

BAB II Sintesis Rangkaian Sekuensial Pulse Mode

1). Synchronous Counter

FLIP-FLOP (BISTABIL)

PENCACAH (COUNTER) DAN REGISTER

BAB 10. DESAIN RANGKAIAN BERURUT

6. Rangkaian Logika Kombinasional dan Sequensial 6.1. Rangkaian Logika Kombinasional Enkoder

PERCOBAAN 6 COUNTER ASINKRON

Konsep dasar perbedaan

DASAR-DASAR RANGKAIAN SEKUENSIAL 2

PERTEMUAN 10 RANGKAIAN SEKUENSIAL

Rangkaian Sequensial. Flip-Flop RS

REGISTER DAN COUNTER.

Analysis And Design of Digital System

=== PENCACAH dan REGISTER ===

SISTEM DIGITAL; Analisis, Desain dan Implementasi, oleh Eko Didik Widianto Hak Cipta 2014 pada penulis GRAHA ILMU Ruko Jambusari 7A Yogyakarta 55283

PRAKTIKUM TEKNIK DIGITAL

R ANGKAIAN LOGIKA KOMBINASIONAL DAN SEQUENSIAL

PERCOBAAN 4 FLIP-FLOP 2

Analisis Rangkaian Sekuesial

PERTEMUAN 12 PENCACAH

Arsitektur Komputer. Rangkaian Logika Kombinasional & Sekuensial

PERTEMUAN 12 PENCACAH

FLIP-FLOP. FF-SR merupakan dasar dari semua rangkaian flip flop. FF-SR disusun dari dua gerbang NAND atau dua gerbang NOR. Gambar Simbol SR Flip-Flop

PERTEMUAN 10 RANGKAIAN SEKUENSIAL

Mesin Mealy. Bahasan Kuliah. TKC305 - Sistem Digital Lanjut. Eko Didik Widianto. Sistem Komputer - Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Kuliah#11 TKC-205 Sistem Digital. Eko Didik Widianto. 11 Maret 2017

Laboratorium Sistem Komputer dan Otomasi Departemen Teknik Elektro Otomasi Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh November

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM SISTEM DIGITAL MODUL II RANGKAIAN SEQUENTIAL

Hanif Fakhrurroja, MT

BAB VII DASAR FLIP-FLOP

SIMULASI RANGKAIAN DIGITAL MESIN PENJUAL KOPI DENGAN XILINX

Aplikasi Metode Cepat untuk Desain Untai Logik

APLIKASI JK FLIP-FLOP UNTUK MERANCANG DECADE COUNTER ASINKRON

JENIS-JENIS REGISTER (Tugas Sistem Digital)

PENDAHULUAN PULSE TRAIN. GATES ELEMEN LOGIKA

PERCOBAAN 2. FLIP-FLOP

FLIP - FLOP. Kelompok : Angga Surahman Sudibya ( ) Ma mun Fauzi ( ) Mudesti Astuti ( ) Randy Septiawan ( )

BAB I PENDAHULUAN. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa pengertian Counter? 2. Apa saja macam-macam Counter? 3. Apa saja fungsi Counter?

RANGKAIAN D FLIP-FLOP (Tugas Matakuliah Sistem Digital) Oleh Mujiono Afrida Hafizhatul ulum

MODUL IV FLIP-FLOP. Gambar 4.1 Rangkaian RS flip-flop dengan gerbang NAND dan NOR S Q Q R

Sistem Digital. Sistem Angka dan konversinya

Operasi Counting Q 1 Q 2. Pulsa clock Belum ada pulsa Setelah pulsa # Setelah pulsa # 2

LAB #5 REGISTER, SYNCHRONOUS COUNTER AND ASYNCHRONOUS COUNTER

1 Deskripsi Perkuliahan

Gambar 1.1. Rangkaian Sekuensial

DASAR-DASAR RANGKAIAN SEKUENSIAL 2

Aplikasi Karnough Map untuk Penyelesaian Desain Untai Logika Model Moore

LAB #4 RANGKAIAN LOGIKA SEKUENSIAL

Mata Kuliah TKE 113. Ir. Pernantin Tarigan, M.Sc Fahmi, S.T, M.Sc Departemen Teknik Elektro Universitas Sumatera Utara USU

MAKALAH TEKNIK DIGITAL RANGKAIAN FLIP-FLOP DASAR

BAB VIII COUNTER (PENCACAH)

BAB VIII REGISTER DAN COUNTER

REGISTER. uart/reg8.html

BAB VII FLIP FLOPS. Gate-gate logika kombinatorial. Elemenelemen. memori. Input-input eksternal. Gambar 7.1 Diagram Sistem Digital Umum

RANGKAIAN PEMBANDING DAN PENJUMLAH

8. TRANSFER DATA. I. Tujuan

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA LAB SHEET PRAKTIK TEKNIK DIGITAL

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

PERCOBAAN 3 FLIP FLOP 1

TKC305 - Sistem Digital Lanjut. Eko Didik Widianto. Sistem Komputer - Universitas Diponegoro

Modul 5 : Rangkaian Sekuensial 1

SISTEM KEAMANAN DENGAN MENGGUNAKAN CHIP EPROM TUGAS AKHIR OLEH: DIMAS ANGGIT ARDIYANTO

Percobaan 6 PENCACAH (COUNTER) Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY

DESAIN RANGKAIAN BERURUT

ABSTRAK. Kata Kunci : Counter, Counter Asinkron, Clock

RANGKAIAN SEKUENSIAL

Percobaan 7 REGISTER (PENCATAT) Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY

Flip-Flop (FF) Disusun oleh: Tim dosen SLD Diedit ulang oleh: Endro Ariyanto. Prodi S1 Teknik Informatika Fakultas Informatika Universitas Telkom

MATERI RANGKAIAN SEKUENSIAL

Ujian Akhir Semester EL 2002 Sistem Digital Rabu, 14 Desember 2016 Waktu 09:15-12:15 (180 menit)

MODUL I GERBANG LOGIKA DASAR

FORMULIR RANCANGAN PERKULIAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK

Modul 7 : Rangkaian Sekuensial 3

BAB 7 REGISTER Register

Rangkaian Sekuesial. [Rangkaian Sekuensial] BAB V

Jobsheet Praktikum FLIP-FLOP J-K

BAB V OUTPUT FORMING LOGIC

XV. RAN AN KAIAN KAIAN SEKUEN EKU EN IAL ASINKR A. PENDAHULUAN R n a gk g aia i n sekuen e sia si l a in i kron

1. FLIP-FLOP. 1. RS Flip-Flop. 2. CRS Flip-Flop. 3. D Flip-Flop. 4. T Flip-Flop. 5. J-K Flip-Flop. ad 1. RS Flip-Flop

BAB VII REGISTER. Keluar dan masuknya data ke dalam register dapat dilakukan dengan 2 cara:

Tugas Mata Kuliah Pengantar Sistem Digital

MAKALAH TEKNIK DIGITAL

Gerbang AND Gerbang OR Gerbang NOT UNIT I GERBANG LOGIKA DASAR DAN KOMBINASI. I. Tujuan

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI ALAT. modulator 8-QAM seperti pada gambar 3.1 berikut ini: Gambar 3.1 Blok Diagram Modulator 8-QAM

Jobsheet Praktikum FLIP-FLOP D

SISTEM DIGITAL. Penyusun: Herlambang Sigit Pramono DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN

COUNTER ASYNCHRONOUS

Transkripsi:

Bab XI, State Diagram Hal: 226 BAB XI, STATE DIAGRAM State Diagram dan State Table Untuk menganalisa gerbang yang dihubungkan dengan flip-flop dikembangkan suatu diagram state dan tabel state. Ada beberapa variasi dari diagram state, yaitu yang bergantung pada keberadaan sinyal clock (Mesin asinkron dan mesin sinkron). Selanjutnya bergantung pada input saat ini pada output saat ini. Ketergantungan ini dikenal ada mesin Moore dan Mesin Mealy. Mesin Moore adalah mesin dengan keadaan output ditentukan langsung dari informasi keadaan, sehingga bergantung pada keadaan input dari FF. Selanjutnya ada mesin Mealy adalah mesin dengan output ditentukan oleh nilai input dan informasi keadaan internal. Gambaran skematik dari berbagai finite state machine (FSM) ditunjukkan pada ilustrasi berikut ini.

Bab XI, State Diagram Hal: 227 Gambar Asynchronous Mealy FSM Gambar Asynchronous Moore FSM Gambar Synchronous Mealy FSM Gambar Synchronous Moore FSM Disamping itu juga dikenal mesin Turing yaitu mesin yang dapat menulis dan membaca tape secara tak terbatas.

Bab XI, State Diagram Hal: 228 Untuk menjelaskan pengertian diagram state ini diberikan contoh detektor berurut biner. Detektor ini hanya akan memberikan output 1 jika ada pulsa input 1 berurutan tiga kali. Jumlah input dan output dari detektor ini adalah 1. Contoh bentuk gelombang input dan output dari detektor ditunjukkan pada Gambar 1. Gambar 1, Bentuk elombang input dan output dari detektor berurut biner. Detektor berurut biner dirancang hanya menghasilkan output 1 jika ada input 111 berurutan, seperti ditunjukkan kemungkinan kombinasi input pada Gambar 1. Diagram State dibentuk dari directed graph, terdapat node berupa lingkaran, disebut juga state dan link berupa garis kurva berpanah. Node dalam diagram state berhubungan dengan keadaan flipflop. Untuk problem detektor tsb ada 4 buah state, yaitu A, B, C dan D dengan 8 buah link, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.

Bab XI, State Diagram Hal: 229 State Awal X=1 X=1 X=1 X=0 A,0 B,0 C,0 D,1 X=0 X=1 X=0 X=0 Gambar 2, Diagram state untuk detektor berurut biner. Dari Gambar 2, masing-masing nama state berikan output dari keadaan detektor tsb, contoh untuk state kini A dengan output 0 dan state kini D outputnya 1. Setiap link diberikan nilai input X yang menunjukkan transisi dari satu state ke state lain. Selanjutnya dibuat tabel state yang mewakili diagram state seperti ditunjukkan berikut ini. State Kini Output State Berikut Input X 0 1 A 0 A B B 0 A C C 0 A D D 1 A D State Kini Output State Berikut Z Input X 0 1 00 0 00 01 01 0 00 10 10 0 00 11 11 1 00 11 Setiap state dinyatakan dengan keadaan dari flipflop, karena ada 4 state maka perlu dua buah FF, misalnya untuk state A keadaan flip-flop = 00, sedangkan keadaan C dengan keadaan flip-flop

Bab XI, State Diagram Hal: 230 = 10, dst, seperti ditunjukkan pada tabel di atas. Untuk merancang gerbang logika, perhatikan bahwa ada 3 input, yaitu input dari FF dan dan input X, sedangkan outputnya ada 3, yaitu Z, D 1 dan D 0 (misalnya menggunakan DFF). Pada DFF Q =D n+1 1. menentukan output Z Z = 1 untuk = = 1, berarti Z Q Q 1 0 2. menentukan D 0 untuk FF 0 00 01 11 10 X 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 Diperoleh D 0 = Q.X Q.X 0 1 3. menentukan D 1 untuk FF 1. 00 01 11 10 X 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 Diperoleh D 1 =.X +.X Rancangan detektor berurut biner adalah :

Bab XI, State Diagram Hal: 231 D 0 X Cl k Z D 1 Cl k Clock Gambar 3, Rancangan logika detektor berurut biner (D 0 = Q.X Q.X, D 0 1 1 =.X +.X) Perancangan komparator sekuensial. Komparator sekuensial membandingkan dua nilai biner A dan B. Bilangan-bilangan biner ini disimpan dalam dua register geser, sebanyak n-bit. Ada dua output yaitu X dan Y. Jika A > B maka X = 1 dan Y = 0, jika A < B maka X = 0 dan Y = 1 sedangkan jika A = B maka X = Y = 0. Untuk mendesign komparator tsb pertama-tama dikembangkan diagram state. Pastikan bahwa MSB dari A dan B dibandingkan terlebih dahulu sebagai state awal P dan link ke state Q jika nilai

Bab XI, State Diagram Hal: 232 inputnya AB = 10 dan output dari state awal P adalah XY = 00, sedangkan output dari state Q adalah XY = 10. Sebaliknya jika A < B maka perlu ditambahkan state R dengan link untuk int AB = 01, output dari state R adalah 01. Katakan jika mesin dalam state Q maka tidak ada keadaan input yang dapat mengubah state Q yaitu A > B, sehingga loop dengan input AB = 00, 01, 10 dan 11 ditambahkan ke Q artinya tetap di state Q tanpa memperhatikan input AB. Dengan cara sama juga untuk state R tidak akan mengakibatkan perubahan untuk setiap input AB = 00, 01, 10 dan 11. Sehingga diagram state diperoleh :

Bab XI, State Diagram Hal: 233 State Awal AB = 01 AB=00, 11 AB=10 P,00 Q,10 R,01 AB=00,01,10,11 AB=00,01,10,11 State untuk A = B State untuk A > B State untuk A < B Gambar 4, Diagram State untuk Komparator Sekuensial Tabel State untuk Diagram State di atas adalah : State Kini Output XY State Berikut Input AB 00 01 10 11 P 00 P R Q P 0 Q Q Q Q R 01 R R R R State Kini Output XY State Berikut Input AB 00 01 10 11 00 00 00 10 01 00 01 10 01 01 01 01 10 01 10 10 10 10 Untuk merancang logika kombinasi dari tabel state di atas dipergunakan peta Karnough untuk masing-masing output dari gerbang sebagai input dari FF. 1. Untuk FF 0 AB 00 01 11 10 00 0 0 0 1 01 1 1 1 1

Bab XI, State Diagram Hal: 234 11 x x x x 10 0 0 0 0 diperoleh D 0 = Q ABQ 0 1 2. Untuk FF 1 AB 00 01 11 10 00 0 1 0 0 01 0 0 0 0 11 x x x x 10 1 1 1 1 diperoleh D 1 = Q ABQ 1 0 Rangkaian logika untuk komparator sekuensial adalah : A +AB D 0 X FF 0 B +AB D 1 Y FF 1 Clock Gambar 5. Rancangan logika untuk komparator sekuensial