III. BAHAN DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Pesisir Krui (Kecamatan Pesisir Utara, Pesisir tengah, dan Pesisir Selatan) Kabupaten Lampung Barat, Propinsi Lampung. Analisis sifat tanah dilakukan di Laboratorium Fisika Tanah dan Laboratorium Kimia Tanah Universitas Lampung. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 25 Mei 25 Agustus 2006. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada gambar 2 berikut. PESISIR KRUI LAMPUNG BARAT U U Kec. Pesisir Utara P. Tampak LIWA Kec. Pesisir Tengah Krui ir Kec. Pesisir Selatan Biha Skala 1 : 100.000 LEGENDA Ibukota kabupaten Ibukota kecamatan Batas kabupaten Batas kecamatan Jalan Hutan konservasi Repong damar Pertanian lahan kering Sawah Pemukiman Tanah terbuka Rawa Semak belukar Pertanian lahan kering bercampur semak Gambar 2. Peta lokasi penelitian Populasi dan Contoh Populasi dalam penelitian ini adalah semua individu pohon damar mata kucing di hutan rakyat Pesisir Krui, Lampung Barat, yang memiliki ukuran
16 diameter diatas 20 cm, telah berproduksi (disadap), dengan periode penyadapan 15 30 hari sekali, dan tumbuh pada ketinggian 0 300 m dpl. Pengambilan contoh dilakukan secara sengaja (purposive) yang didasarkan pada tiga pertimbangan yaitu : (1). Ketersebaran petak contoh pada ketiga kecamatan (Pesisir Utara, Pesisir Tengah, dan Pesisir Selatan) (2). Ketersebaran petak contoh pada tiga kelas ketinggian tempat (0 100 m dpl, 101 200 m dpl dan 2001 300 m dpl) (3). Ketersebaran petak contoh pada lima kelas kelerengan (0 8%; 9 15%; 16 25%; 26 45%; dan lebih dari 45%). Periode pemanenan sangat berpengaruh terhadap produksi damar. Pada umumnya penyadapan damar berkisar antara 15 45 hari sekali. Perbedaan periode pemanenan sangat dipengaruhi oleh faktor jarak antara pemukiman dengan repong, disamping faktor kebutuhan ekonomi keluarga. Kedekatan repong dengan pemukiman berpengaruh terdadap keamanan repong dari pencurian, sehingga penyadapan damar dilakukan lebih cepat (Trison 2001). Untuk mengetahui kepastian periodisitas penyadapan pada suatu areal, dilakukan wawancara langsung dengan pemilik lahan. Luas repong damar berdasarkan interpretasi citra penggunaan lahan Wilayah Pesisir Krui tahun 2000, di Kecamatan Pesisir Selatan 1051 Ha; di Kecamatan Pesisir Tengah 2328 Ha; dan di Pesisir Utara 1243 Ha (Trison 2001). Berdasarkan luas repong damar yang dimiliki, maka jumlah petak contoh pada masing-masing kecamatan adalah: 5 petak di Pesisir Selatan; 10 petak di Pesisir Tengah; dan 5 petak di Pesisir Utara. Berdasarkan kelerengannya, lahan dikelompokkan ke dalam lima kelas yaitu: datar, dengan kemiringan 0 8%; landai, dengan kemiringan 9 15 %; agak curam, dengan kemiringan 16 25 %; curam dengan kemiringan 26 45%; dan sangat curam dengan kemiringan lebih dari 45% (Direktorat Jendral Pertanian Tanaman Pangan Departemen Pertanian 1991). Hutan rakyat damar di pesisir Krui, tumbuh pada ketinggian 0 300 m dpl. Berdasarkan ketinggian tempatnya, letak petak contoh disebar secara merata ke dalam tiga kelas ketinggian tempat (altitude), yatu : (1). Kelas ketinggian 0 100 m dpl, pada kelas ini diletakkan 7 buah petak contoh. (2). Kelas ketinggian 101 200 m dpl, pada kelas ini diletakkan 7 buah petak contoh.
17 (3). Kelas ketinggian 201 300 m dpl, pada kelas ini diletakkan 6 buah petak contoh. Petak-Petak contoh yang diletakkan pada setiap kelas ketinggian tempat, dibuat pada lima kelas kelerengan yang berbeda. Contoh dari setiap kecamatan, diwakili oleh petak contoh dari tiga kelas ketinggian tempat dan lima kelas kelerengan. Petak Contoh Petak contoh pada penelitian ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 40 m x 40 m. Jumlah seluruh petak contoh adalah 20 buah. Masing-masing petak contoh dibagi menjadi empat sub-petak berukuran 20 m x 20 m. Pada tiap sub-petak dikumpulkan data vegetasi pohon. Pada masing-masing sub-petak dibuat anak petak dengan tiga ukuran: a). anak petak berukuran 10 m x 10 m untuk pengumpulan data vegetasi tiang; b). anak petak berukuran 5 m x 5 m untuk pengumpulan data vegetasi sapihan; c). anak petak berukuran 2 m x 2 m untuk pengumpulan data vegetasi semai dan tumbuhan bawah (Soerianegara dan Indrawan 2002). Tata letak petak contoh dapat dilihat pada gambar 3 berikut: Keterangan : titik pengambilan contoh tanah komposit Gambar 3. Layout petak contoh pengambilan data
18 Peubah yang Diamati Peubah-peubah yang diamati pada setiap petak contoh pengamatan adalah sebagai berikut : (1). Peubah respon yaitu produksi damar tiap individu pohon. (2). Peubah dimensi tegakan meliputi diameter pohon, tinggi total pohon, dan Indeks Nilai Penting (INP) S. javanica untuk fase semai, sapihan, tiang, dan pohon. (3). Peubah tempat tumbuh, terdiri atas ciri tanah dan fisiografi lahan. Peubah ciri tanah meliputi sifat fisik ( tekstur, kerapatan lindak, kandungan air tersedia, dan ketebalan horizon A) dan kimia tanah (ph tanah, N total, C organik, dan KTK tanah). Peubah fisiografi, meliputi ketinggian tempat (elevasi), kemiringan lereng (slope) dan arah lereng (aspek). Data curah hujan di wilayah Pesisir Krui didapat dari Badan Meteorologi dan Geofisika Kabupaten Lampung Barat. Data suhu udara (minimum dan maksimum), serta data kelembaban udara, diamati selama dua bulan sebagai data penunjang. Pengukuran Peubah Peubah Respon Hasil produksi damar diperoleh dengan menimbang berat damar yang didapatkan dalam satu periode pemanenan (15 30 hari). Penimbangan dilakukan untuk masing-masing individu pohon. Penimbangan dilakukan sampai tingkat ketelitian 1 gram. Peubah dimensi tegakan Diameter pohon adalah diameter setinggi dada (dbh). Diameter pohon diukur dengan pita ukur diameter. Tinggi total pohon diukur dengan Christen Hypso meter. INP untuk semua fase pertumbuhan dihitung untuk masing-masing petak ukur. Nilai INP didapatkan melelui perhitungan dengan rumus sebagai berikut (Soerianegara dan Indrawan 2002): Jumlah dari individu Kerapatan (individu/ha) = Luas petak contoh kerapatan dari suatu jenis Kerapatan seluruh jenis Kerapatan relatif (%) = ( x 100% ) Dominasi Luas bidang dasar = Luas petak contoh
19 Dominasi dari suatu jenis Dominasi seluruh jenis Dominasi relatif (%) = ( x 100% ) Frekuensi = Jumlah plot Jumlah ditemukan jenis seluruh plot Frekuensi dari suatu jenis Frekuensi seluruh jenis Frekuensi relatif (%) = ( x 100% ) INP (%) = Kerapatan relatif + Dominasi relatif + Frekuensi relatif Peubah tempat tumbuh Peubah tanah diperoleh melalui pengukuran langsung di lapangan dan analisa laboratorium. Ada dua macam contoh tanah yang diambil dalam penelitian ini, yaitu contoh tanah utuh (undisturbed soil sample) dan contoh tanah komposit (disturbed soil sample). Contoh tanah utuh diambil pada horizon A dan horizon B mengunakan ring tanah. Contoh tanah utuh diambil dengan dua ulangan. Contoh tanah komposit diambil pada dua horizon, yaitu horizon A, dan horizon B. Untuk petak contoh seluas 1600 m 2, contoh tanah komposit diambil dari empat titik (Tisdale at al. 1990), yang diletakkan secara berselang-seling atau zig-zag (Gambar 3). Pada masing-masing sub-plot terdapat satu titik contoh pengambilan tanah komposit. Dari setiap titik, diambil contoh tanah komposit seberat kurang lebih 500 g. Contoh tanah dari keempat titik tersebut, kemudian dicampur sampai homogen dan diambil sebanyak 1 kg untuk analisis laboratorium. Peubah fisiografi diperoleh dengan pengukuran langsung di lapangan. Pengukuran elevasi dilakukan dengan altimeter. Pengukuran kemiringan lereng dilakukan dengan abney level. Arah kelerengan diukur dari dua arah, yaitu arah timur ke arah utara dan arah timur ke arah selatan. Arah kelerengan diukur dengan kompas arah. Kode, nama peubah, satuan peubah, dan cara penetapannya disajikan dalam Tabel 1 berikut.
20 Tabel 1. Kode, nama peubah, satuan peubah, dan cara penetapannya No. Kode Nama Peubah Satuan Cara Penetapan Peubah respon Y Produksi damar gram (gr) Penimbangan Peubah dimensi tegakan 1. X 1 Diameter dbh sentimeter (cm) Pita ukur 2. X 2 Tinggi total pohon meter (m) Christen hypso meter 3. X 3 INP S. javanica fase semai persen (%) Analisis vegetasi 4. X 4 INP S. javanica fase sapihan persen (%) Analisis vegetasi 5. X 5 INP S. javanica fase tiang persen (%) Analisis vegetasi 6. X 6 INP S. javanica fase pohon persen (%) Analisis vegetasi 7. X 7 Jumlah lubang sadap (pepat) buah Penghitungan Peubah tempat tumbuh 8. X 8 Ketingian tempat meter dpl. Altimeter 9. X 9 Kemiringan lereng persen (%) Abney level 10. X 10 Arah lereng (Timur ke Utara) derajat( o ) Kompas arah 11. X 11 Arah lereng (Timur ke Selatan) derajat( o ) Kompas arah 12. X 12 Tebal horizon A sentimeter (cm) Cangkul dan meteran 13. X 13 Kadar pasir tanah horizon A persen (%) Metode pipet 14. X 14 Kadar debu tanah horizon A persen (%) Metode pipet 15. X 15 Kadar liat tanah horizon A persen (%) Metode pipet 16. X 16 Kandungan air tersedia horizon A persen (%) Gravimetrik 17. X 17 Kerapatan lindak horizon A (g/cm 3 ) LPT 1979 18. X 18 Kadar pasir tanah horizon B persen (%) Metode pipet 19. X 19 Kadar debu tanah horizon B persen (%) Metode pipet 20. X 20 Kadar liat tanah horizon B persen (%) Metode pipet 21. X 21 Kandungan air tersedia horizon B persen (%) Gravimetrik 22. X 22 Kerapatan lindak horizon B (g/cm 3 ) LPT 1979 23. X 23 Reaksi tanah (ph H 2O) horizon A - Elektroda gelas 24. X 24 Kadar C organik horizon A persen (%) Metode Walkley & Black 25. X 25 Kadar N total horizon A persen (%) Metode Kjeldahl 26. X 26 Kapasitas tukar kation horizon A miliekivalen Ekstraksi NH 4O Ac. ph 7 (me/100gr) 27. X 27 Reaksi tanah (ph H 2O) horizon B - Elektroda gelas 28. X 28 Kadar C organik horizon B persen (%) Metode Walkley & Black 29. X 29 Kadar N total horizon B persen (%) Metode Kjeldahl 30. X 30 Kapasitas tukar kation horizon B miliekivalen (me/100gr) Ekstraksi NH 4O Ac. ph 7 Analisis Data Analisis data dilakukan dengan menggunakan program Ms. Excel 2003 untuk menghitung INP vegetasi, dan analisis regresi menggunakan program Minitab versi 13. 20. Langkah-langkah analisis data adalah sebagai berikut: Uji korelasi peubah penduga terhadap peubah respon Untuk menguji adanya korelasi antara peubah penduga dengan produksi damar secara simultan, digunakan analisis ragam (uji F). Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah peubah penduga secara bersama-sama akan
21 berkorelasi terhadap produksi damar. Penguraian komponen ragam dari regresi berganda ini dapat dilihat pada Tabel 2 berikut (Matjik dan Sumertajaya 2002). Tabel 2. Analisis sidik ragam dari regresi linier berganda dengan p peubah penduga Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah Kuadrat (JK) Kuadrat Tengah (KT) F-hitung Regresi p β X Y-ny -2 KTR = JKR/p KTR/KTG Galat n-p-1 Y Y - β X Y 2 KTG = JKG/(n-p-1) Total n-1 Y Y-ny -2 2 S y = JKT/(n-1) Apabila nilai F hitung > F α(p(n-p-1)), atau jika peluang nyata (p) lebih kecil dari nilai taraf nyata (α), berarti terdapat satu atau lebih peubah penduga yang berpengaruh terhadap peubah respon. Pengujian dilakukan pada taraf nyata 0.05. Jika paling tidak terdapat satu peubah penduga yang berkorelasi dengan peubah respon, maka dapat dilakukan analisis lebih lanjut. Untuk menyaring peubah-peubah penduga yang memiliki korelasi nyata dalam menerangkan produksi damar, maka dilakukan pemilihan peubah melaui prosedur analisis regresi bertatar (stepwise). Analisis regresi bertatar dilakukan pada taraf nyata 0.05. Asumsi untuk analisis regresi Asumsi-asumsi yang harus dipenuhi untuk persamaan regresi, diuji dengan program Minitab 13. 20 yaitu: 1. Normalitas sebaran galat, diuji dengan Kolmogorov Smirnov Test. Asumsi terpenuhi bila P-value 0.01. 2. Ketiadaan multikolinieritas dilihat dari Variance Infation Factor (VIF) setiap peubah penduga. Asumsi terpenuhi bila VIF < 5. 3. Ketiadaan autokorelasi, dilihat dari Durbin Watson Statistic (DW). Asumsi terpenuhi bila 1. 65 < DW<2.35. 4. Homoskedasitas, dilihat dari diagram pencar Residuals versus the Fitted Values (nilai sisaan dan nilai dugaan). Asumsi terpenuhi bila diagram pencar tidak membentuk nilai tertentu yaitu corong, linier atau kuadratik (Wibowo 2005). Hubungan dimensi pohon dan tempat tumbuh dengan produksi damar Untuk analisis hubungan antara dimensi pohon dan peubah tempat tumbuh dengan produksi damar, pohon dikelompokkan ke dalam tiga kelas diameter. Tiga kelas diameter tersebut adalah :
22 1. Kelas diameter 20 40 cm 2. Kelas diameter 40 60 cm 3. Kelas diameter diatas 60 cm Analisis korelasi antara dimensi tegakan dan peubah tempat tumbuh dengan produksi damar, dilakukan untuk masing-masing kelas diameter. Korelasi antara dimensi tegakan dan peubah tempat tumbuh dengan produksi damar dicari melalui analisis regresi berganda. Dalam analisis ini, produksi damar (Y) merupakan peubah respon, dan peubah dimensi tegakan dan peubah tempat tumbuh (X 1 X 30 ) merupakan peubah penduganya. Bentuk persamaan regresi berganda tersebut adalah sebagai berikut (Matjik dan Sumertajaya 2002): keterangan : Y i = β 0 + β 1 X 1 + β 2 X 2 + +β 30 X 30 + ε i β 0 β 1 -- β 30 X 1 X 30 ε i = intersep = koefisien regresi parsial = peubah dimensi tegakan dan tempat tumbuh = galat Nilai dugaan bagi koefisien regresi parsial (β) dihitung menggunakan metode jumlah kuadrat terkecil (least sum square). Rumus untuk pendugaan nilai β adalah : β = (X X) -1 X Y Keterandalan Model - Untuk melihat keterandalan dari model yang dibangun, digunakan koefisien determinasi (R 2 ). Nilai R 2 dicari dengan persamaan sebagai berikut (Matjik dan Sumertajaya 2002): R 2 = JKG 1 JKT Model regresi dinilai cukup baik digunakan sebagai model penduga produksi damar apabila memiliki nilai koefisien determinasi (R 2 ) 0.50.