BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III LANDASAN TEORI. lintas (traffic light) pada persimpangan antara lain: antara kendaraan dari arah yang bertentangan.

SIMPANG TANPA APILL. Mata Kuliah Teknik Lalu Lintas Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, FT UGM

SIMPANG BER-APILL. Mata Kuliah Teknik Lalu Lintas Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, FT UGM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. buah ruas jalan atau lebih yang saling bertemu, saling berpotongan atau bersilangan.

DAFTAR ISI. Halaman HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PERSETUJUAN HALAMAN PERSEMBAHAN ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian yang dijabarkan dalam sebuah bagan alir seperti gambar 3.1.

TINJAUAN EFEKTIFITAS PELAYANAN LAMPU PENGATUR LALULINTAS PADA PERSIMPANGAN PAAL DUA MENGGUNAKAN METODE MKJI 1997

BAB IV METODE PENELITIAN. Mulai. Lokasi Penelitian. Pengumpulan Data

BAB III METODE PENELITIAN. Sebelum dimulainya penelitian terlebih dahulu dibuat tahapan-tahapan dalam

TEKNIK LALU LINTAS MATERI PERKULIAHAN. Simpang ber-apill (Alat Pengatur Isyarat Lalu Lintas)

BAB III LANDASAN TEORI. lebih sub-pendekat. Hal ini terjadi jika gerakan belok-kanan dan/atau belok-kiri

EVALUASI GEOMETRIK DAN PENGATURAN LAMPU LALU LINTAS PADA SIMPANG EMPAT POLDA PONTIANAK

EVALUASI KINERJA SIMPANG BERSINYAL (Studi Kasus Simpang Bangak di Kabupaten Boyolali)

METODE BAB 3. commit to user Metode Pengamatan

STUDI KINERJA SIMPANG LIMA BERSINYAL ASIA AFRIKA AHMAD YANI BANDUNG

EVALUASI KINERJA SIMPANG TIGA TAK BERSINYAL DENGAN METODE MKJI 1997 (Studi Kasus Simpang Tiga Jalan Ketileng Raya-Semarang Selatan)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

simpang. Pada sistem transportasi jalan dikenal tiga macam simpang yaitu pertemuan sebidang, pertemuan jalan tak sebidang, dan kombinasi keduanya.

BAB 3 METODOLOGI Metode Pengamatan

TUNDAAN DAN TINGKAT PELAYANAN PADA PERSIMPANGAN BERSIGNAL TIGA LENGAN KAROMBASAN MANADO


c. Pada tahun 2014 (5 tahun setelah Paragon City beroperasi), baik saat akhir pekan maupun hari kerja, terutama pada saat jam-jam puncak, simpang

STUDI KINERJA SIMPANG BERSINYAL JALAN CIPAGANTI BAPA HUSEN BANDUNG

EVALUASI KINERJA SIMPANG BERSINYAL (STUDI KASUS : JLN. RAYA KARANGLO JLN. PERUSAHAAN KOTA MALANG)

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

EVALUASI KINERJA SIMPANG HOLIS SOEKARNO HATTA, BANDUNG

BAB III LANDASAN TEORI

EVALUASI KINERJA JALAN DAN PENATAAN ARUS LALU LINTAS PADA AKSES DERMAGA FERRY PENYEBERANGAN SIANTAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dijabarkan dalam sebuah bagan diagram alir seperti gambar 3.1. Gambar 3.1. Diagram alir pelaksanaan studi

JURNAL EVALUASI KINERJA SIMPANG TAK BERSINYAL PADA SIMPANG TIGA JALAN CIPTOMANGUNKUSUMO JALAN PELITA KOTA SAMARINDA.

ARUS JENUH DAN PANJANG ANTRIAN PADA SIMPANG BERSINYAL ANGKATAN 66 KOTA PALEMBANG

BAB 3 METODOLOGI. Tahapan pengerjaan Tugas Akhir secara ringkas dapat dilihat dalam bentuk flow chart 3.1 dibawah ini : Mulai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebelumnya, maka dengan ini penulis mengambil referensi dari beberapa buku dan

ANALISIS KINERJARUAS JALAN PERINTIS KEMERDEKAAN JATI - PADANG

Mulai. Studi pustaka. Observasi awal. Proposal disetujui. Survei pendahuluan. Pelaksanaan survei dan pengumpulan data Rekapitulasi data

KAJIAN KEBUTUHAN LAMPU LALU LINTAS PADA SIMPANG 6 KUTABLANG LHOKSEUMAWE

BAB I PENDAHULUAN. berpenduduk di atas 1-2 juta jiwa sehingga permasalahan transportasi tidak bisa

Kata kunci : Pemodelan, Simpang Tak Bersinyal, Simpang Bersinyal, PTV. VISSIM. xii

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. simpang terutama di perkotaan membutuhkan pengaturan. Ada banyak tujuan dilakukannya pengaturan simpang sebagai berikut:

BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA

ANALISA PENENTUAN FASE DAN WAKTU SIKLUS OPTIMUM PADA PERSIMPANGAN BERSINYAL ( STUDI KASUS : JL. THAMRIN JL. M.T.HARYONO JL.AIP II K.S.

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL PERSETUJUAN PENGESAHAN ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. perempatan Cileungsi Kabupaten Bogor, terdapat beberapa tahapan pekerjaan

DAFTAR ISI. Judul. Lembar Pengesahan. Lembar Persetujuan ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN

ANALISIS KINERJA DAN ALTERNATIF PENGATURAN SIMPANG BERSINYAL (Studi Kasus : Jalan Sunset Road-Jalan Nakula-Jalan Dewi Sri di Kabupaten Badung)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

EVALUASI SIMPANG BERSINYAL ANTARA JALAN BANDA JALAN ACEH BANDUNG

ANALISIS KINERJA SIMPANG EMPAT BERSINYAL (STUDI KASUS SIMPANG EMPAT TAMAN DAYU KABUPATEN PASURUAN)

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. 5.1 Ruas Jalan A. Data Umum, Kondisi Geometrik, Gambar dan Detail Ukuran

PENGATURAN LALU LINTAS DENGAN JEMBATAN LAYANG PADA PERSIMPANGAN JALAN TANJUNGPURA JALAN SULTAN HAMID II JALAN IMAM BONJOL JALAN PAHLAWAN

EVALUASI DAN PERENCANAAN LAMPU LALU LINTAS KATAMSO PAHLAWAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. entah jabatan strukturalnya atau lebih rendah keahliannya.

Gambar 2.1 Rambu yield

Aditya Putrantono Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

KAJIAN PERBAIKAN KINERJA LALU LINTAS DI KORIDOR GERBANG PERUMAHAN SAWOJAJAR KOTA MALANG

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DATA. Data simpang yang dimaksud adalah hasil survey volume simpang tiga

BAB II STUDI PUSTAKA 2.1 SIMPANG

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE Tahapan Studi Adapun diagram alur (flowchart) dari studi ini sebagai berikut.

EVALUASI KINERJA SIMPANG BERSINYAL JALAN 17 AGUSTUS JALAN BABE PALAR KOTA MANADO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS KARAKTERISTIK DAN KINERJA SIMPANG EMPAT BERSINYAL (Studi Kasus Simpang Empat Telukan Grogol Sukoharjo) Naskah Publikasi Tugas Akhir

BAB I PENDAHULUAN. Bintaro Utama 3 Jalan Bintaro Utama 3A Jalan Pondok Betung Raya Jalan Wr

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Transportasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jalan. Ketika berkendara di dalam kota, orang dapat melihat bahwa kebanyakan

ANALISIS KINERJA SIMPANG BERSINYAL SECARA TEORITIS DAN PRAKTIS

BAB III LANDASAN TEORI

Kata kunci : Tingkat Kinerja, Manajemen Simpang Tak Bersinyal.

BAB V PENUTUP. Dari hasil analisis dan perhitungan yang telah dilakukan pada bab. sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

ANALISIS KINERJA SIMPANG TAK BERSINYAL (Studi Kasus : Simpang Jalan Kemuda 3 Jalan Padma Jalan Seroja Jalan Kemuda)

MANAJEMEN LALU LINTAS DI SEKITAR PERSIMPANGAN JL. PASARMINGGU - JL. KALIBATA - JL. DUREN TIGA JL. PANCORAN TIMUR DI JAKARTA

Konferensi Nasional Teknik Sipil 4 (KoNTekS 4) Sanur-Bali, 2-3 Juni 2010

DAFTAR ISTILAH KARAKTERISTIK LALU LINTAS. Arus Lalu Lintas. UNSUR LALU LINTAS Benda atau pejalan kaki sebagai bagian dari lalu lintas.

EVALUASI PENERAPAN BELOK KIRI LANGSUNG PADA SINMPANG BERSINYAL (STUDI KASUS SIMPANG TIGA SUPRIYADI)

EVALUASI PENGENDALIAN LALU LINTAS DENGAN LAMPU PENGATUR LALU LINTAS PADA SIMPANG BERSINYAL

BAB I PENDAHULUAN. dengan pesatnya pembangunan yang berwawasan nasional maka prasarana

di kota. Persimpangan ini memiliki ketinggian atau elevasi yang sama.

Kata kunci : Simpang Bersinyal, Kinerja, Bangkitan Pergerakan

Pengaruh Pemberlakuan Rekayasa Lalulintas Terhadap Derajat Kejenuhan Pada Simpang Jalan Pajajaran dan Jalan Pasirkaliki

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. LEMBAR PENGESAHAN... ii. LEMBAR PERSEMBAHAN... iii. KATA PENGANTAR... iv. DAFTAR ISI... v. DAFTAR TABEL...

BAB V ANALISIS DATA. Gambar 5. 1 Kondisi Geometrik Simpang

DAFTAR ISI JUDUL LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PERSETUJUAN ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Analisis Simpang Bersinyal Metode Webster. Dr. Gito Sugiyanto, S.T., M.T. ARUS JENUH

BAB III METODOLOGI Lokasi Studi

PENDAHULUAN. Traffic light merupakan sebuah teknologi yang mana kegunaannya adalah untuk mengatasi antrian dan dapat mempelancar arus lalu lintas

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Ferry Juniardi. Staf pengajar Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura

Transkripsi:

136 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Setelah dilakukan analisa dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan antara lain adalah sebagai berikut ini. 1. Kondisi eksisting simpang MM Kaliurang sudah mengalami kejenuhan pada jam puncak, dibuktikan dengan nilai derajat kejenuhan (DS) > 0,85 pada tiga lengan pendekat, yaitu pada lengan pendekat utara sebesar 0,92, pada lengan pendekat barat sebesar 0,935 dan pada lengan pendekat selatan sebesar 1,005. Kejenuhan pada lengan pendekat simpang MM Kaliurang disebabkan karena volume lalulintas kondisi eksisting pada jam puncak hampir melebihi kapasitas lengannya, seperti yang terjadi pada lengan pendekat utara dan barat, sedangkan pada lengan selatan kapasitas lengannya sudah tidak mampu melayani arus lalulintas kondisi eksisting dan dibuktikan dengan nilai arus lalulintas yang lebih besar daripada kapasitasnya (nilai DS > 1). Panjang antrian dan tundaan pada simpang ini juga besar, salah satu penyebabnya adalah kecilnya lebar pendekat masuk sehingga akan menghasilkan kapasitas yang kecil, juga panjang antrian dan tundaan yang besar. Panjang antrian dan tundaan yang besar ini akan berpengaruh pada tingkat Level of Service (LOS) simpang yang buruk sehingga kualitas simpang dalam melayani arus lalulintas menjadi rendah dan akan berdampak pada permasalahan lalulintas yang lain, yaitu kemacetan (congestion). Untuk pertumbuhan volume lalulintas pada simpang MM Kaliurang didapat dari penelitian-penelitian terdahulu terkait volume lalulintas dan penelitian ini. Analisis pertumbuhan volume lalulintas menggunakan satuan smp/jam. Pada penelitian Agni Trian tahun 2002 volume kendaraan totalnya sebesar 2099 smp/jam, tugas besar TLL tahun 2010 sebesar 3288 smp/jam, tugas besar PBTS tahun 2012 sebesar 3214 smp/jam dan pada penelitian ini tahun 2013 sebesar 3852 smp/jam. Dari data tersebut didapat pertumbuhan volume lalulintas rata-rata setiap tahun pada simpang MM Kaliurang adalah 5,8 %/tahun.

137 2. Dari analisa keempat alternatif solusi, maka diambil alternatif yang terbaik untuk menurunkan derajat kejenuhan dan tundaan, yaitu alternatif 3. Langkah penanganan pada alternatif 3 ini diambil berdasarkan asas do minimum dengan langkah penanganan berupa pengaturan ulang staging pada lengan pendekat selatan. Perubahan staging pada lengan pendekat selatan adalah dengan memberlakukan pergerakan belok kiri mengikuti lampu APILL. Alternatif 3 diusulkan sebagai alternatif terbaik untuk saat ini karena mempertimbangkan besaran biaya dan tingkat kesulitan dalam proses realisasi yang tidak terlalu besar. Alternatif 3 ini menghasilkan derajat kejenuhan pada lengan utara sebesar 0,834, lengan barat sebesar 0,794, lengan selatan sebesar 0,817 dan lengan timur sebesar 0,803, juga tundaan pada lengan utara sebesar 45,41 detik/smp, lengan barat sebesar 54,33 detik/smp, lengan selatan sebesar 51,69 detik/smp dan lengan timur sebesar 50,53detik/smp. 3. Analisis perbandingan pengguna jalan di simpang MM Kaliurang saat ini dan saat perkiraan lingkungan UGM sudah educopolis menggunakan asumsi untuk merubah dahulu satuan dari arus pengguna jalan, dari kend/jam menjadi orang/jam dengan asumsi konversi untuk mobil (LV) 3 orang/kendaraan, kendaraan umum (HV) 10 orang/kendaraan, sepeda motor (MC) 1,5 orang/kendaraan dan pejalan kaki serta pengguna sepeda tetap, yaitu 1 orang. Setelah arus pengguna jalan saat ini sudah dikonversi satuannya menjadi orang/jam, arus pengguna jalan tersebut disesuaikan dengan rencana proporsi layanan pada jalan akses umum untuk mendapatkan proporsi pengguna jalan perkiraan educopolis. Asumsi proporsi pengguna jalannya adalah kendaraan bermotor 30% dengan asumsi pembagian motor 25% dan mobil 5%, pengguna sepeda 30%, pejalan kaki 20% dan kendaraan umum 20%. Untuk asumsi proporsi pengguna jalan pihak luar UGM pada analisis educopolis DIY revisi adalah kendaraan bermotor 40% dengan asumsi pembagian motor 33% dan mobil 7%, pengguna sepeda 10%, pejalan kaki 0% dan kendaraan umum 50%. Selanjutnya untuk melakukan analisis kinerja simpang perkiraan educopolis, arus pengguna jalan tersebut dikonversi satuannya menjadi kend/jam dengan asumsi konversi untuk mobil (LV) 3 orang/kendaraan, kendaraan umum (HV)

138 21 orang/kendaraan, sepeda motor (MC) 1,5 orang/kendaraan dan pejalan kaki serta pengguna sepeda tetap, yaitu 1 orang. 4. Pada analisis kinerja simpang educopolis, digunakan asumsi-asumsi yaitu kondisi geometrik simpang dirubah karena penambahan lebar lajur khusus pejalan kaki dan pengguna sepeda, juga dilakukan langkah penanganan pada Alternatif 3, yaitu berupa larangan belok kiri langsung (LTOR) dan menerapkan belok kiri mengikuti lampu APILL pada lengan pendekat selatan. Pada analisis simpang dengan asumsi hanya civitas akademika UGM yang menerapkan konsep educopolis / UGM yang sudah educopolis, terdapat perubahan geometrik simpang yaitu untuk semua lajur pejalan kaki pada semua lengan pendekat adalah 1,5 m. Untuk lajur khusus pengguna sepeda, pada semua lengan pendekat adalah 1 m. Kemudian waktu siklus hitungan didapat 70 detik, lalu pada akhir waktu siklus ditambahkan waktu all red khusus sebesar 12 detik untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda melewati simpang, sehingga waktu siklus menjadi 82 detik. Analisis kinerja simpang ini menghasilkan derajat kejenuhan pada lengan utara sebesar 0,820, lengan barat sebesar 0,773, lengan selatan sebesar 0,800 dan lengan timur sebesar 0,757, juga tundaan pada lengan utara sebesar 43,35 detik/smp, lengan barat sebesar 49,70 detik/smp, lengan selatan sebesar 48,33 detik/smp dan lengan timur sebesar 44,85 detik/smp. Untuk analisis simpang dengan asumsi seluruh orang di Provinsi DIY sudah menerapkan konsep educopolis / DIY seluruhnya sudah educopolis, terdapat perubahan geometrik simpang yaitu untuk semua lajur pejalan kaki pada semua lengan pendekat adalah 1,5 m. Untuk lajur khusus pengguna sepeda, pada semua lengan pendekat adalah 2 m. Kemudian waktu siklus hitungan didapat 55 detik, lalu pada akhir waktu siklus ditambahkan waktu all red khusus sebesar 15 detik untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda melewati simpang, sehingga waktu siklus menjadi 70 detik. Analisis kinerja simpang ini menghasilkan derajat kejenuhan pada lengan utara sebesar 0,608, lengan barat sebesar 0,594, lengan selatan sebesar 0,635 dan lengan timur sebesar 0,653, juga tundaan pada lengan utara sebesar 30,26 detik/smp, lengan barat sebesar 37,27 detik/smp, lengan selatan sebesar 38,22 detik/smp dan

139 lengan timur sebesar 39,55 detik/smp. Untuk analisis simpang dengan asumsi seluruh orang di Provinsi DIY sudah menerapkan konsep educopolis / DIY seluruhnya sudah educopolis, terdapat perubahan geometrik simpang yaitu untuk semua lajur pejalan kaki pada semua lengan pendekat adalah 1,5 m. Untuk lajur khusus pengguna sepeda, pada semua lengan pendekat adalah 2 m. Kemudian waktu siklus hitungan didapat 60 detik, lalu pada akhir waktu siklus ditambahkan waktu all red khusus sebesar 15 detik untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda melewati simpang, sehingga waktu siklus menjadi 75 detik. Analisis kinerja simpang ini menghasilkan derajat kejenuhan pada lengan utara sebesar 0,762, lengan barat sebesar 0,705, lengan selatan sebesar 0,797 dan lengan timur sebesar 0,768, juga tundaan pada lengan utara sebesar 39,57 detik/smp, lengan barat sebesar 45,73 detik/smp, lengan selatan sebesar 51,42 detik/smp dan lengan timur sebesar 47,06 detik/smp. 6.2 Saran Setelah diketahui permasalahan yang terjadi di lapangan maka saran-saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Untuk memperoleh hasil yang lebih akurat, maka perlu dilakukan survei dengan sampel dan durasi waktu yang lebih banyak sehingga data yang diperoleh akan dapat menggambarkan kondisi arus lalulintas yang sebenarnya. Survei dengan sampel hari yang lebih banyak akan dapat menggambarkan Lalulintas Harian Rata-rata (LHR) yang terjadi pada simpang. Survei pada hari-hari kerja jika dibandingkan dengan survei pada hari libur tentunya akan memberikan hasil yang berbeda karena pengaruh faktor fluktuasi volume lalulintas akan berbeda untuk setiap hari survei. Jika pada hari-hari kerja jam puncak bisa diprediksi arus puncak terjadi pada jam-jam siang hari (pukul 13.00-14.00), maka akan berbeda dengan hari libur dimana arus puncak tidak bisa diprediksi karena volume lalulintas cenderung tersebar lebih merata untuk setiap jamnya dalam satu hari. Untuk mendapat data yang lebih valid juga dapat digunakan surveyor profesional pada saat pelaksanaan survei.

140 2. Sebaiknya dilakukan penambahan timer/counter down pada sinyal lalulintas untuk setiap lengan pendekat pada simpang MM Kaliurang. Artinya counter down ini akan memperbesar kapasitas lengan pendekat pada simpang. Dengan adanya counter down ini, maka akan dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan waktu kehilangan awal (early lost time) pada skema besar keberangkatan antrian periode waktu hijau. Waktu kehilangan awal akan dapat diminimalisir karena pengemudi sudah tahu secara pasti kapan waktu hijau akan dimulai dengan memperhatikan detik yang terpampang pada counter down sehingga tidak ada lagi waktu yang hilang untuk bereaksi terhadap perubahan sinyal dari sinyal merah menuju sinyal hijau. Jika waktu kehilangan awal ini dapat diminimalisir maka akan dapat memperpanjang waktu hijau efektif. Jika waktu hijau efektif durasinya lebih panjang maka akan memperbanyak jumlah kendaraan yang mampu dilewatkan oleh simpang. Jika kendaraan yang mampu dilewatkan pada periode hijau lebih banyak, maka dapat dikatakan counter down memperbesar kapasitas lengan pada simpang. Di sisi lain, adanya counter down ini dapat memperbesar tingkat keselamatan. Hal ini disebabkan karena pengemudi kendaraan tahu persis kapan waktu hijau aktual akan habis. Apabila demikian, maka pengemudi dapat mengambil keputusan untuk berhenti atau berjalan terus melewati simpang sehingga konflik lalulintas pada simpang akan dapat diminimalisir. 3. Dilakukan pelarangan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang bagi para pengendara angkutan umum di wilayah simpang, dengan memberikan rambu-rambu dilarang berhenti di sekitar simpang. Terdapat rambu dilarang berhenti pada salah satu lengan di simpang MM Kaliurang, namun pada lengan lainnya belum terdapat rambu tersebut. Pengawasan secara langsung juga perlu dilakukan dari petugas kepolisian karena angkutan umum yang berhenti di wilayah simpang dapat menimbulkan kemacetan pada lalulintas di simpang MM Kaliurang dan resiko kecelakaan bagi penumpang angkutan umum yang diturunkan sembarangan oleh pengendara angkutan umum. Hal ini juga dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas tiap lengan

141 simpang. Banyaknya kendaraan yang berhenti akan mengakibatkan gangguan yang besar pada arus lalulintas di lengan simpang. Kondisi ini juga dapat meningkatkan tundaan pada kendaraan sehingga membuat tiap lengan simpang semakin jenuh. 4. Diperlukan tingkat pengetahuan pengguna jalan tentang resiko kecelakaan dan peralatan keselamatan di jalan, juga selalu mengutamakan perilaku selamat dan hati-hati di jalan khususnya pengguna sepeda motor, karena perkembangan jumlah kendaraan bermotor terutama sepeda motor yang semakin meningkat hingga sekarang. 5. Diperlukan kerjasama antara pihak-pihak yang terkait dalam kecelakaan lalulintas baik itu aparat Kepolisian, Dinas Perhubungan (terkait masalah rambu dan fasilitas lalulintas jalan), Binamarga (terkait masalah kerusakan perkerasan jalan) dan terutama bagi pengguna jalan itu sendiri agar tercipta perilaku selamat di jalan.