Kajian SUPPLY DEMAND MINERAL
KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, hanya karena perkenan-nya Laporan Kajian Supply dan Demand Mineral 2012 ini dapat selesai. Laporan Kajian Supply dan Demand Mineral ini memberikan gambaran tentang Kondisi umum mineral saat ini dan Metodologi supply dan demand mineral serta analisisnya per komoditi mineral. Sebagian besar data dan informasi dalam Laporan ini diperoleh dari laporan berkala yang disampaikan PT. Freeport Indonesia, PT. Newmont Nusa Tenggara, PT. Inco, PT. Aneka Tambang Tbk. PT Inalum, GoldSeek.com, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Ditjen Mineral dan Batubara KESDM, Pusdatin ESDM. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan membantu penyusunan laporan ini. Diharapkan Laporan ini dapat menjadi referensi kepada Pimpinan Kementerian ESDM maupun BUMN dan pihak lain dalam pengembangan kebijakan dan memberikan rekomendasi dalam mengatasi supply dan demand mineral. Jakarta, Desember 2012 Penyusun 1
RINGKASAN EKSEKUTIF Bahan tambang Indonesia merupakan kekayaan bangsa yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun faktanya, pemanfaatannya saat ini belum optimal - beberapa komoditi tambang di ekspor tanpa pengolahan maksimal dan tanpa ada peningkatan nilai tambah maksimal. Pemanfaatan bahan tambang di Indonesia selama ini masih sedikit sentuhan teknologinya, beberapa produk tambang di ekspor dalam bentuk bijih, seperti nikel, bauksit dan konsentrat, seperti tembaga. Oleh karenanya, dirasa perlu untuk melakukan Kajian Supply Demand Mineral dan kajian singkat terhadap upaya peningkatan nilai tambah komoditi mineral serta kaitannya dengan penerimaan negara dan tenaga kerja. Kegiatan kajian ini dibatasi hanya pada 3 (tiga) jenis komoditi mineral logam yaitu Tembaga, Nikel dan Bauksit. Karena ketiga mineral logam tersebut merupakan mineral logam utama yang sudah mulai dikembangkan industri pengolahan dan pemurniannya di dalam negeri. Pemilihan model kajian supply demand yang sesuai dan tepat berdasarkan permasalahan yang sedang dikaji. Agar pemaparan kajian dapat lebih terstruktur, model yang digunakan berbasis Harmonized Commodity Description and Coding System, atau lebih dikenal sebagai Harmonized System (HS). HS Code yang telah sering digunakan dalam penelusuran rules of origin adalah standar internasional atas sistem penamaan dan penomoran yang digunakan untuk pengklasifikasi produk perdagangan dan turunannya yang dikelola oleh World Customs Organization (WCO). Sumber daya tembaga Indonesia sebesar 4.925 juta ton ore dengan cadangan sebesar 4.161 juta ton ore. Saat ini produksi tembaga dilakukan oleh dua perusahaan besar yaitu PT Freeport Indonesia di Tembaga pura dan PT Newmont di Batu Hijau. Namun hanya 30% dari total produksinya yang dapat di olah di dalam negeri, konsentrat tembaga diproses lebih lanjut menjadi katoda tembaga yang saat ini satu-satunya tempat pemrosesan tersebut dilakukan oleh PT Smelting yang berada di Gresik Jawa Timur dengan kapasitas 2
total 300.000 ton per tahun. Produk tembaga dibagi menjadi Tembaga kasar (unwrought), Tembaga Batangan, Tembaga lembaran, dan tembaga lainnya. Pada tahun 2011, ekspor bijih dan konsentrat tembaga sebesar 1.471.420 ton, tiga besar negara tujuan ekspor konsentrat tembaga adalah Jepang sebesar 330.160 ton, Korea Selatan sebesar 326.166 ton dan India sebesar 311.800 ton. Sumber daya nikel Indonesia diperkirakan mencapai 2.633 juta Ton ore dengan cadangan sebesar 577 juta ton ore yang tersebar di Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Papua dengan kandungan unsur nikel rata-rata 1,45%. Sebagian dari potensi sumber daya tersebut sudah ditambang dan diekspor dalam bentuk nickel matte oleh PT Inco Indonesia, Ferro Nickel oleh PT Antam ataupun dalam bentuk bijih nikel tanpa melalui proses pengolahan dan pemurnian yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang banyak bertumbuhan dalam dasawarsa terakhir. Komoditi nikel dikelompokkan menjadi tiga, yaitu bijih nikel, feronikel dan nikel kasar, hampir seluruhnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Selama periode tahun 2003-2009 produksi bijih nikel mengalami peningkatan yang cukup tinggi, yaitu dari 4.395.429 ton pada tahun 2003 menjadi 10.847.141 ton pada tahun 2009 atau mengalami kenaikan hampir 2,5 kali lipat. Pada periode yang sama, komoditi feronikel mengalami kenaikan dua kali lipat dari 8.933 ton Ni menjadi 17.917 ton Ni, sedangkan untuk nikel kasar mengalami fluktuasi, pada tahun 2003 jumlah produksi mencapai 71.211 ton Ni, tahun 2007 meningkat hingga 77.928 ton Ni, namun tahun 2009 menurun hingga menjadi 63.548 ton Ni. Sumber daya bauksit Indonesia diperkirakan mencapai 349.61 juta Ton bijih dan 134.65 untuk logam dengan cadangan sebesar 97.40 juta ton untuk bijih dan 34.88 juta ton untuk logam dengan kadar Al2O3 berkisar 27-55 persen. Pada tahun 2011 total ekspor bijih bauksit dan konsentrat mencapai 40.6 juta ton dengan 4 negara utama tujuan ekspor adalah Rep. Rakyat Cina sebesar 40.2 juta ton, Jepang sebesar 253 ribu ton, Taiwan sebesar 80.3 ribu ton dan Venezuela sebesar 33 ribu ton. Secara umum, dari hasil kajian didapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih dan konsentrat mineral yang semestinya dapat diolah di dalam negeri. Potensi nilai tambah dapat dihitung dari selisih antara nilai impor produk mineral dasar dengan nilai ekspor bijih dan 3
konsentrat mineral. Pada tahun 2011, dari 3 (tiga) jenis komoditi mineral logam yaitu Tembaga, Nikel dan Bauksit didapat potensi peningkatan nilai tambah sebesar kurang lebih USD 268.100.725.360,-. Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah tersebut, tentunya terdapat potensi penerimaan negara dari pajak penghasilan, cukai ekspor produk mineral logam, retribusi daerah, dan lain sebagainya bila proses produksi bijih dan konsentrat yang diekspor dilakukan di dalam negeri. Selain itu, terdapat benefit dari penyerapan tenaga kerja melalui industri pengolahan mineral logam dasar sebanyak kurang lebih 2.402.600 orang. Penyerapan tenaga kerja ini belum termasuk tenaga kerja di industri hilir dan multiplier effect yang didapat dari pengolahan hasil produk industri hulu mineral logam di Indonesia. 4
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR RINGKASAN EKSEKUTIF DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL BAB 1 PENDAHULUAN BAB 2 KONDISI UMUM MINERAL INDONESIA 2.1. Industri Pertambangan Tembaga 2.1.1. Gambaran Umum 2.1.2. Potensi Peningkatan Nilai Tambah 2.1.3. Prospek Pengembangan Smelter 2.2. Industri Pertambangan Nikel 2.2.1. Gambaran Umum 2.2.2. Potensi Peningkatan Nilai Tambah 2.2.3. Prospek Pengembangan Smelter 2.3. Industri Pertambangan Nikel 2.3.1. Gambaran Umum 2.3.2. Potensi Peningkatan Nilai Tambah 2.3.3. Prospek Pengembangan Smelter BAB 3 METODOLOGI 3.1. Kerangka Pemikiran 3.2. Pendekatan yang Dilakukan 3.3. Tata Laksana BAB 4 ANALISA SUPPLY DEMAND MINERAL 4.1. Industri Pertambangan Tembaga 4.1.1. Peluang Industri Tembaga 4.1.2. Tantangan Industri Tembaga 4.2.Industri Pertambangan Nikel 4.2.1. Peluang Industri Nikel 4.2.2. Tantangan Industri Nikel 4.3. Industri Pertambangan Bauksit 4.3.1. Peluang Industri Bauksit 4.3.2. Tantangan Industri Bauksit 01 02 05 07 09 10 17 17 17 24 28 30 30 37 41 43 43 49 53 59 59 63 65 67 67 82 83 84 97 98 98 113 115 5
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan 5.2. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 116 116 120 122 123 6
DAFTAR GAMBAR Gambar 1.1. Gambar 1.2. Gambar 1.3. Gambar 2.1. Gambar 2.2. Gambar 2.3. Gambar 2.4. Gambar 2.5. Gambar 2.6. Gambar 2.7. Gambar 2.8. Gambar 2.9. Gambar 2.10. Gambar 2.11. Gambar 2.12. Gambar 2.13. Gambar 2.14. Gambar 2.15. Gambar 2.16. Gambar 2.17. Gambar 2.18. Gambar 3.1. Gambar 3.2. Gambar 4.1. Gambar 4.2. Gambar 4.3. Gambar 4.4. Gambar 4.5. Gambar 4.6. Gambar 4.7. Gambar 4.8. Volume Ekspor 3 Komoditi Mineral Nilai Ekspor 3 Komoditi Mineral Peta Distribusi Pengolahan dan Pemurnian Mineral Negara Pengekspor dan Pengimpor Tembaga Dunia Penggunaan Tembaga Dunia Grafik Nilai Ekspor Tembaga (USD/Month) Grafik Volume Ekspor Tembaga (Kg/Month) Langkah-langkah Proses Smelting Gresik Struktur Industri Produk Tembaga Skema Peningkatan Nilai Tambah Tembaga Grafik Nilai Ekspor Nikel (USD/Month) Grafik Volume Ekspor Nikel (Kg/Month) Proses Produksi Ferro Nickel Skema Peningkatan Nilai Tambah Nikel Proyeksi Pasokan dan Permintaan Nikel Dunia Struktur Industri Produk Nikel Grafik Nilai Ekspor Bauksit (USD/Month) Grafik Volume Ekspor Bauksit (Kg/Month) Skema Peningkatan Nilai Tambah Bauksit Struktur Industri Produk Aluminium Proses Produksi Aluminium Kerangka Pemikiran Penelitian Tahapan Pendekatan Berencanan Pohon Industri Tembaga Neraca Supply Demand Tembaga Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Dasar (Kg) Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Dasar (US$) Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Unwrought (Kg) Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Unwrought (US$) Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Batangan (Kg) Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Batangan (US$) 10 11 13 18 19 21 22 23 25 26 33 34 36 38 39 40 47 47 50 50 53 62 63 67 72 73 73 74 75 76 76 7
Gambar 4.9. Gambar 4.10. Gambar 4.11. Gambar 4.12. Gambar 4.13. Gambar 4.14. Gambar 4.15. Gambar 4.16. Gambar 4.17. Gambar 4.18. Gambar 4.19. Gambar 4.20. Gambar 4.21. Gambar 4.22. Gambar 4.23. Gambar 4.24. Gambar 4.25. Gambar 4.26. Gambar 4.27. Gambar 4.28. Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Lembaran (Kg) Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Lembaran (US$) Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Lainnya (Kg) Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Lainnya (US$) Pohon Industri Nikel Neraca Supply Demand Nikel Fluktuasi Impor & Ekspor Produk Logam Nikel (Kg) Fluktuasi Impor & Ekspor Produk Logam Nikel (US$) Fluktuasi Impor & Ekspor Produk Stainless (Kg) Fluktuasi Impor & Ekspor Produk Stainless (US$) Pohon Industri Aluminium Neraca Supply Demand Bauksit Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Ingot, Slab, Billet (Kg) Fluktuasi Impor Ekspor Aluminium Ingot, Slab, Billet (US$) Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Batangan (Kg) Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Batangan (US$) Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Lembaran (Kg) Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Lembaran (US$) Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Lainnya (Kg) Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Lainnya (US$) 77 78 79 79 85 88 89 90 94 95 100 105 106 107 108 108 110 111 112 113 8
DAFTAR TABEL Tabel 2.1. Tabel 2.2. Tabel 2.3. Tabel 2.4. Tabel 2.5. Tabel 2.6. Tabel 2.7. Tabel 2.8. Tabel 2.9. Tabel 2.10. Tabel 2.11. Tabel 4.1. Tabel 4.2. Tabel 4.3. Nilai Ekspor Bijih Tembaga dan Konsentrat (USD) Volume Ekspor Bijih Tembaga dan Konsentrat (Kg) Jumlah Unsur Mineral Ikutan dari Anoda Slime PT Smelting Gresik Nilai Ekspor Bijih Nikel dan Konsentrat (USD) Nilai Ekspor Bijih Nikel dan Konsentrat (Kg) Nilai Ekspor Bijih Bauksit dan Konsentrat (USD) Volume Ekspor Bijih Bauksit dan Konsentrat (Kg) Komponen biaya untuk menghasilkan satu ton aluminium (US$) Peningkatan Nilai Tambah dari Alumina Menjadi Aluminium Volume Ekspor Bijih Bauksit dan Konsentrat (Kg) Produksi dan Penjualan Aluminium Ingot PT Inalum Tahun 2004-2011 Neraca Supply Demand Tembaga Neraca Supply Demand Nikel Neraca Supply Demand Bauksit 21 22 27 33 34 46 47 51 52 -- 55 71 87 104 9
BAB I PENDAHULUAN Bahan tambang Indonesia merupakan kekayaan bangsa yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun faktanya pemanfaatannya saat ini belum optimal, beberapa komoditi tambang diekspor tanpa pengolahan maksimal dan tanpa ada peningkatan nilai tambah maksimal. Pemanfaatan bahan tambang di Indonesia selama ini masih sedikit sentuhan teknologinya, beberapa produk tambang diekspor dalam bentuk bijih, seperti nikel, bauksit dan konsentrat seperti konsentrat tembaga. Sektor pertambangan merupakan sektor yang sangat strategis dalam perekonomian pusat maupun daerah, sektor ini merupakan penggerak utama (prime mover) pembangunan dan juga memberikan manfaat multiplier effect yang cukup signifikan. Ekspor dari sektor pertambangan umumnya meningkat dari tahun ke tahun, baik dari sisi volumenya maupun nilai, untuk seluruh komoditas mineral. Berikut adalah grafik tren volume dan nilai ekspor komoditas mineral. Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM) Gambar 1.1. Volume Ekspor 3 Komoditi Mineral 10
Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM) Gambar 1.2. Nilai Ekspor 3 Komoditi Mineral Besarnya penerimaan Negara dan Daerah ini dapat ditingkatkan lagi dengan mengoptimalkan pemanfaatan cadangan mineral yang ada dan dengan adanya harga komoditas yang terus melonjak tajam belakangan ini. Oleh karena itu, inventarisasi sumber daya mineral sangat penting, mengingat masih luasnya daerah yang belum tereksplorasi dan belum terpetakan, sehingga banyak terdapat deposit mineral yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi cadangan. Beberapa komoditi mineral yang dihasilkan dari industri pertambangan mencakup logam seperti timah, nikel, tembaga, emas dan perak, alumina yang dihasilkan dari bauksit, hingga pasir besi, dan lain-lain. Sedangkan komoditi mineral non logam seperti granit, marmer, batu gamping, clay dan lain-lain. Untuk mengoptimalkan pendapatan dari sektor ini, pemerintah melalui Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara dan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara telah mewajibkan bagi semua perusahaan tambang untuk mengolah produknya di dalam negeri paling lambat tahun 2014, dengan demikian tidak ada lagi penjualan / ekspor dalam bentuk raw material. Melonjaknya demand komoditi mineral belakangan ini baik ditingkat Nasional maupun Internasional yang telah membuat harga komoditi mineral terutama logam meningkat sangat tinggi. Kondisi 11
demand komoditi mineral yang semakin meningkat ini menyebabkan banyak perusahaan berusaha untuk meningkatkan target pasokan/ produksi mineral mereka. Apabila mengacu pada Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 pasal 170 yang mewajibkan bagi pemegang Kontrak Karya yang telah berproduksi untuk melakukan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri paling lambat sampai dengan tahun 2014, maka akan sangat mungkin terjadi penurunan produksi mineral karena pertumbuhan industri pengolahan mineral (smelter) di dalam negeri masih sangat kecil tidak sebanding dengan jumlah mineral yang diproduksi. Pengaturan mengenai perlunya dilakukan peningkatan nilai tambah komoditas mineral dan batubara telah diatur menurut peraturan perundangan. Dalam Undang-Undang No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara Pasal 102 dinyatakan bahwa Pemegang IUP (Izin Usaha Pertambangan) dan IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus) wajib meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan/atau batubara dalam pelaksanaan penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pemanfaatan mineral dan batubara. Pengertian Nilai Tambah adalah proses pengolahan hasil tambang (baik yang dilakukan satu tahap maupun berberapa tahap) yang bertujuan untuk menghasilkan suatu produk atau komoditi sehingga nilai ekonomi dan daya gunanya meningkat lebih tinggi dari sebelumnya, serta aktivitas yang ditimbulkan akan memberikan dampak positif terhadap perokonomian dan sosial baik bagi daerah operasional, pusat, maupun daerah non operasional. Lebih lanjut, pengertian dari kegiatan pengolahan dan pemurnian disini adalah kegiatan usaha pertambangan untuk meningkatkan mutu mineral dan/atau batubara serta untuk memanfaatkan dan memperoleh mineral ikutan yang berharga. Lebih jauh, menurut Pasal 103 (1) dinyatakan bahwa Pemegang IUP dan IUPK Operasi Produksi wajib melakukan pengolahan dan pemurnian hasil penambangan di dalam negeri. Dengan adanya kebijakan ini maka diharapkan hasil pertambangan mineral dimurnikan dan diolah menjadi logam atau produk logam yang optimal didalam negeri. Dengan kebijakan ini diharapkan terjadi peningkatan nilai tambah dan produk jadi yang lebih besar daripada ekspor produk mentah serta mendorong investasi baru di sektor pengolahan dan 12
pemurnian konsentrat. Lebih lanjut, dari kebijakan ini diharapkan untuk meningkatkan ketersedian bahan baku industri, penyerapan tenaga kerja dan peningkatan penerimaan negara, baik pusat maupun daerah. Setelah diterbitkannya Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 7 Tahun 2012 tentang peningkatan nilai tambah mineral melalui kegiatan pengolahan dan pemurnian mineral telah banyak investor yang mengajukan pembangunan smelter di Indonesia, rancana lokasi pembangunan smelter tersebut dapat dilihat dalam gambar 1.3 berikut ini: Sumber: Kementerian ESDM Gambar 1.3.Peta Distribusi Pengolahan dan Pemurnian Mineral Seperti yang telah dibahas diatas, proses pengolahan dan pemurnian tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi langsung tapi juga dapat memberikan efek berganda kepada lapangan kerja, sosial ekonomi masyarakat, infrastruktur dan ketersediaan energi. Selain itu, industri pengolahan dan pemurnian merupakan industri yang padat modal dan padat teknologi yang melibatkan banyak disiplin ilmu pengetahuan. Untuk menselaraskan semua hal ini maka perlu dilakukan sinkronisasi regulasi lintas sektoral sehingga proses pengolahan dan pemurnian di dalam negeri menjadi saling mendukung dan mendorong kemudahan berinvestasi. Kemudahan dalam regulasi juga dipandang sangat penting dan utama, dikarenakan peningkatan nilai tambah membutuhkan investasi 13
yang cukup besar, sehingga kemudahan di dalam regulasi akan memotivasi para praktisi pertambangan untuk berinvestasi di dalam bisnis pengolahan dan pemurnian hasil tambang. Sebagai bisnis baru di bidang pertambangan dan industri pionir, maka industri peleburan dan pemurnian akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para investor untuk menginvestasikan dana mereka apabila di dalam regulasi didapatkan kemudahan-kemudahan. Regulasi juga dibutuhkan untuk menjamin tersedianya bahan baku bagi industri pengolahan dan pemurnian untuk mengantisipasi kepastian pasokan yang dapat berubah terhadap jumlah permintaan. Lebih dari itu, kebutuhan investasi di industri pengolahan dan pemurnian memerlukan jaminan jangka panjang, maka harus ada jaminan pasokan atau pasokan bahan baku minimal 15 sampai 30 tahun. Hal ini akan terkait dengan kesinambungan produksi serta pengembangan pengawasan produksi serta kewajiban pemenuhan pasokan dalam negeri untuk pengusahaan mineral dan batubara. Pemilihan teknologi dalam proses pengolahan dan pemurnian menjadi hal yang sangat penting dikarenakan dalam pemilihan teknologi ini akan terkait dengan aspek efisiensi teknologi dan aspek lingkungan. Dikarenakan harus terkait dengan ke dua aspek tersebut maka pemilihan teknologi tidak hanya didasarkan pada aspek harga yaitu mahal atau murah. Sebagai contoh, apabila dipilih teknologi yang murah tetapi kurang efisisien dan tidak ramah lingkungan sehingga akan berdampak pada biaya produksi yang diperlukan justru semakin besar. Oleh karenanya diperlukan teknologi yang tepat guna untuk nilai tambah produk pertambangan, melalui kerjasama antara badanbadan penelitian dan pengembangan dengan pelaku pertambangan sebagai fasilitator. Untuk itu diperlukan kejelasan roadmap kerjasama antara badan-badan penelitian dan pengembangan dengan pelaku pertambangan bertindak sebagai fasilitator. Pengintegrasian industri hulu dan hilir akan menjadi sangat penting dikarenakan operasi pengolahan dan pemurnian merupakan pemasok industri hilir. Oleh karena itu, maka pelaku pasar memerlukan demand dan pasar yang jelas untuk memasarkan hasil pengolahan dan pemurnian mineral dan batubara, sehingga keberlanjutan industri pengolahan dan pemurnian tetap berlangsung dan berlanjut. Ketersediaan dan kemampuan sumberdaya manusia yang kompeten 14
merupakan modal utama untuk masa depan dalam rangka memenuhi kebutuhan nilai tambah industri. Sumberdaya manusia yang kompeten yang dibutuhkan meliputi pemerintah sebagai regulator dan masyarakat sebagai stakeholders. Faktor kualitas dari sumber daya manusia yang mengelola kegiatan pertambangan menjadi salah satu faktor penentu bagi berhasilnya suatu kegiatan usaha pertambangan. Pemerintah perlu memperhatikan kompetensi dari para regulator agar pelaksanaan pembinaan dan pengawasan kegiatan pertambangan dilaksanakan sesuai dengan Good Mining Practice (GMP). Dengan kompetensi yang memadai maka kegiatan pengawasan pelaksanaan pengusahaan pertambangan dapat meminimalkan praktek-praktek kegiatan pertambangan yang tidak bertanggung jawab. Kompetensi menjadi syarat penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa suatu kegiatan usaha pertambangan dilaksanakan dengan mengikuti aturan perundang-undangan yang berlaku serta kaidah-kaidah dari GMP. Dengan demikian hal itu akan meningkatkan ketaatan (compliance) yang diharapkan dari pelaku industri pertambangan. Sebagai stakeholders dalam kegiatan usaha pertambangan, masyarakat khususnya lembaga-lembaga kemasyarakatan atau organisasi-organisasi nirlaba yang turut membantu masyarakat dalam mengawasi kegiatan usaha pertambangan, syarat mengenai kompetensi juga merupakan hal yang penting. Dalam hal ini para aktivis juga dituntut untuk memahami karakteristik dari kegiatan usaha pertambangan sehingga pemahaman yang cukup akan meminimalkan potensi permasalahan yang mungkin timbul dalam interaksi perusahaan dengan masyarakat sekitarnya. Apabila masyarakat dapat memahami pentingnya arti kompetensi dalam pengelolaan kegiatan usaha pertambangan, maka masyarakat dapat memainkan peranan yang penting dan turut memberikan sumbangan pemikiran yang konstruktif. Selain itu tindakan atau sikap sebagian anggota masyarakat yang sering kali dilakukan mengabaikan etika dan cenderung anarkis dalam menyikapi suatu isu pertambangan dapat diminimalkan. Sehingga harmonisasi dapat tercapai diantara sesama stakeholders untuk turut bersama-sama membangun sektor pertambangan yang ideal. 15
Berdasarkan pertimbangan hal-hal tersebut di atas, maka perlu dilakukan Kajian terhadap Supply Demand Mineral tahun 2012 dan juga kajian singkat terhadap besarnya pengaruh penerapan Undang-Undang No. 4 tahun 2009 terhadap penerimaan Negara dan tenaga kerja. Kajian Supply Demand mineral ini disusun untuk dapat menginventarisir keterdapatan mineral di Indonesia, termasuk sumber daya, cadangan, produksi dan konsumsi. Kemudian kajian ini juga dilakukan untuk dapat mengetahui keseimbangan antara produksi komoditi mineral dengan permintaan / tingkat konsumsi oleh industri hilir di dalam negeri, termasuk di dalamnya adalah kebutuhan bahan baku di industri pengolahan (smelter) di dalam negeri. Kajian Supply Demand Mineral ini juga akan menjelaskan tentang upaya peningkatan nilai tambah komoditi pertambangan yang diamanatkan dalam Undang-Undang No. 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara kaitannya dengan besarnya penerimaan Negara dan tenaga kerja. Karena faktor-faktor tersebut, maka penting untuk melakukan kajian Supply Demand mineral nasional. 16
BAB II KONDISI UMUM MINERAL INDONESIA 2.1. Industri Pertambangan Tembaga 2.1.1. Gambaran Umum Tembaga (Cu) mempunyai sistim kristal kubik, secara fisik berwarna kuning dan apabila dilihat dengan menggunakan mikroskop akan berwarna pink kecoklatan sampai keabuan. Tembaga sudah dikenal dan dimanfaatkan manusia sejak 10.000 tahun silam. Di Asia Barat misalnya telah menjadi bahan pembuat koin dan perhiasan. Sementara di zaman tembaga (Chalcolithicperiod), diambil dari Bahasa Yunani Chalkos yang artinya tembaga) manusia telah menemukan teknik mencampur dan menggunakan tembaga untuk menghasilkan perhiasan. Kemudian pada abad keempat dan ketiga sebelum Masehi telah ada kegiatan peleburan tembaga di Distrik Huelva, Spanyol. Sementara itu di Amerika Selatan, aktivitas eksplorasi dan eksploitasi tembaga sudah dikenal di antara suku-suku asli seperti Maya, Aztec dan Inca. Demikian juga dengan China, India dan Jepang di Asia. Hingga kini, tembaga menjadi salah satu jenis logam yang sangat dibutuhkan manusia. Tembaga memang memainkan peran penting dalam perkembangan peradaban manusia. Sepanjang sejarah, berbagai produk berbahan tembaga menjadi pilihan banyak orang. Demikian juga dengan sektor perindustrian dan teknologi. Pencampuran dengan Zinc, timah, aluminium dan nikel juga menghasilkan produk-produk bernilai tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat banyak. Saat ini logam dengan rumus kimia Cu ini dimanfaatkan untuk kabel listrik, industri telekomunikasi dan elektronika juga konstruksi dan transportasi. Logam tembaga digunakan secara luas dalam industri peralatan listrik. Kawat tembaga dan paduan tembaga digunakan dalam pembuatan motor listrik, generator, kabel/kawat untuk transmisi, distribusi dan instalasi listrik, kendaraan bermotor, tabung coaxial, tabung microwave, sakelar, rectifier, transsistor, dan peralatan lainnya yang membutuhkan sifat konduktivitas listrik dan panas yang tinggi. Meskipun aluminium dapat digunakan untuk tegangan tinggi pada 17
jaringan transmisi, tetapi tembaga masih memegang peranan penting untuk jaringan transmisi, utamanya untuk bawah tanah. Potensi sumber daya alam tembaga terbesar yang dimiliki Indonesia terdapat di Papua. Potensi lainnya menyebar di Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan. Data terakhir dari Badan Geologi Kementerian ESDM menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumberdaya tembaga sebesar 4.925 juta ton ore dengan cadangan tembaga sebesar 4.161 juta ton ore. Saat ini tembaga merupakan logam penting nomor tiga dalam jumlah pemakaian setelah besi-baja dan aluminium. Tembaga merupakan salah satu logam yang dapat ditemukan dalam keadaan bebas (native metal). Tembaga dalam keadaan murni banyak dipakai sebagai penghantar listrik dalam bentuk kawat. Selain itu tembaga dipadukan dengan logam lainnya menjadi kuningan dan perunggu yang banyak digunakan dalam dunia teknik. Argentina 2% Mongolia 2% Brazil 2% PNG 2% S.Africa 2% Exporters Others 12% Phillippines 3% Germany 6% Finland 3% Bulgaria 3% Brazil 2% Importers Others 7% Canada 5% Indonesia 9% Chile 36% Spain 6% Korean Rep. 8% China 28% Australia 10% Peru 15% India 10% Japan 23% World Total : 5.718 World Total : 5.652 Sumber: International Copper Study Group Gambar 2.1. Negara Pengekspor dan Pengimpor Tembaga Dunia Indonesia termasuk dalam peringkat 20 dunia berdasarkan lokasi tambang dan kapasitas produksi tembaga. PT Freeport Indonesia menduduki peringkat ketiga, sedangkan PT Newmont Nusa Tenggara berada pada posisi kesebelas. Peringkat pertama dan kedua adalah perusahaan tambang di negara Chili. Demikian pula, Indonesia 18
termasuk negara ke 4 terbesar di dunia sebagai pengekspor tembaga, setelah Chile, Peru dan Australia, sedangkan negara terbesar pengimpor tembaga adalah China dan Jepang. Dari sisi kegunaan, pemanfaatan tembaga didominasi oleh 3 bidang besar yaitu konstruksi, infrastruktur dan peralatan manufaktur. Sedangkan penggunaan terpenting sebagai penghantar listrik dan banyak dipakai sebagai pipa pada konstruksi bangunan dan peralatan maritim dalam bentuk logam paduan. Penggunaan dalam dunia teknik, sedemikian banyaknya sehingga merupakan jumlah logam terbesar nomor dua setelah besi baja. Pertambangan tembaga di Indonesia berkaitan dengan kegiatan PT Freeport Indonesia (PTFI). PTFI dengan Kontrak Karya I mulai berproduksi sekitar tahun 1973. Pada akhir tahun 1991 Kontrak Karya kedua ditandatangani. Dalam perjalanan waktu inilah kegiatan penambangan bijih tembaga dan diolah hingga menjadi konsentrat tembaga terjadi perkembangan yang signifikan terutama dalam periode 1998-2012. Rata - Rata Penggunaan Tembaga di Dunia Angkutan 13% Lain-lain 8% Konstruksi 13% Mesin non listrik 15% Mesin listrik 51% Sumber: International Copper Association (Diolah Tim Kajian SDM) Gambar 2.2. Penggunaan Tembaga Dunia Sebelum tahun 2000, produksi konsentrat tembaga di Indonesia hanya berasal dari PT. Freeport Indonesia dan baru mulai tahun 2000 komoditi tersebut juga diproduksi oleh PT. Newmont Nusa Tenggara. Produksi konsentrat tersebut sekitar 70% di ekspor dan sekitar 30% di jual di dalam negeri, yaitu ke PT Smelting-Gresik untuk diproses dengan produk utama katoda tembaga. 19
Secara garis besar, struktur supply chain industri tembaga dibedakan menjadi beberapa kelompok berikut: Industri Hulu Pada saat ini hanya ada 1 pabrik penghasil copper cathode di Indonesia yaitu PT. Smelting Gresik. Bahan baku tembaga berupa copper concentrate diangkut menuju tempat pengolahan tembaga dan disimpan dalam storage. Kemudian copper concentrate diolah menjadi copper anode yang memiliki kemurnian 99.4%. Agar mendapatkan hasil yang maksimal dengan kemurnian 99.99%, maka copper anode ini kemudian dimurnikan lagi dalam proses refinery sehingga pada akhirnya menjadi copper cathode. Industri Antara Produk copper cathode diproses lebih lanjut menjadi produk antara berupa copper sheet dan copper rod. Dua jenis produk ini akan menjadi bahan baku untuk industri hilirnya. Industri Hilir Pada kelompok Industri hilir, menghasilkan produk setengah jadi yang akan menjadi komponen bagi produk berikutnya serta produk jadi yang akan dipakai langsung oleh konsumen. Terdapat berbagai macam produk tembaga hilir, seperti: kawat/kabel tembaga, tabung/ pipa dan peralatan rumah tangga. Perkembangan produksi konsentrat tembaga dengan kadar logam tembaga dan mineral ikutannya dari tahun 2005 hingga 2008 menunjukkan kecenderungan yang menurun dan kemudian meningkat pada tahun 2009. Kondisi tahun 2010 relatif stabil dengan jumlah produksi konsentrat 3,467 juta dwt atau setara dengan 0,655 juta ton logam tembaga. Volume dan nilai ekspor tembaga dalam 2 tahun terakhir (2011-2012) mengalami penurunan. Hal ini dapat terlihat pada tabel 2.1 dan 2.2 serta gambar 2.3 dan 2.4. 20
Tabel 2.1 Nilai Ekspor Bijih Tembaga dan Konsentrat (USD) Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM) Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM) Gambar 2.3 Grafik Nilai Ekspor Tembaga (USD/Month) 21
Tabel 2.2 Volume Ekspor Bijih Tembaga dan Konsentrat (Kg) Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM) Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM) Gambar 2.4 Grafik Volume Ekspor Tembaga (Kg/Month) 22
Di sisi perkembangan produksi tembaga, satu-satunya pabrik di Indonesia yang mengolah konsentrat tembaga menjadi tembaga katoda adalah PT Smelting-Gresik. Pendirian PT Smelting Gresik sendiri dapat dikatakan berawal dari keterpaksaan, yakni kewajiban PT Freeport Indonesia terkait tuntutan kewajiban dalam perpanjangan kontrak karyanya yang kedua. PT Smelting company merupakan sebuah konsorsium, dengan komposisi kepemilikan saham adalah Mitsubishi Materials Corporation (MMC) 60,5%, PT Freeport 25%, Mitsubishi Corporation 9,5%, dan Nippon Mining and Metal Co. Ltd. 5%. Pabrik tersebut mampu mengolah 656.000 ton/tahun konsentrat tembaga untuk menghasilkan 200.000 ton/tahun katoda tembaga. Bahan baku lain yang dibutuhkan adalah 98.000 ton/tahun pasir silika, 43.000 ton/tahun batukapur dan 23.000 ton/tahun batubara serta oksigen kaya (enriched oxygen) berkadar sekitar 50%. Konsentrat Tembaga Kapur (Fluks) Batubara Oksigen Dapur Peleburan Uap air Produksi oksigen & Pembangkit listrik Anoda Tembaga Gas SO 2 Pabrik Asam Sulfat Pemurnian Pengolahan limbah cair Limbah lunak/air bersih Terak Tembaga katoda Lumpur Anoda Gypsum Asam Sulfat Sumber: PT Smelting Gresik Gambar 2.5 Langkah-langkah Proses Smelting Gresik Untuk memenuhi permintaan logam tembaga katoda di pasar Indonesia dan Asia, pada tahun 2009 kapasitas produksi tembaga katoda meningkat menjadi 300.000 ton/tahun. Sumber konsentrat yang diolah di pabrik ini berasal dari PT Freeport Indonesia sekitar 70% dan PT Newmont Nusa Tenggara sekitar 30%. Mineral yang diolah PT Smelting adalah konsentrat tembaga, emas, dan perak, Akan tetapi yang diproses maksimal adalah tembaga. Emas dan perak hanya diproses setengah jadi dalam bentuk anode slime dan langsung dijual ke pembeli di luar negeri. 23
Produk utama yang dihasilkan pabrik itu telah diserap baik oleh pabrik domestik maupun Asia Tenggara. Untuk pasar domestik sementara ini baru menyerap sekitar 40-45% dari produk PT Smelting Gresik, tergantung pesanan konsumen.selebihnya produk PT Smelting Gresik diekspor ke hampir semua negara di Asia Tenggara. Negara-negara yang banyak menyerap tembaga hasil dari produksi PT Smelting Gresik adalah Malaysia, Taiwan, China, dan Thailand. Apabila meninjau lebih ke hilir dimana kita dapat mengetahui kondisi ekspor-impor, neraca perdagangan produk yang terdiri dari copper cathode, tembaga batangan, tembaga lembaran dan produk lainnya cenderung stabil dalam periode 2007-2011. Dari sisi ekspor tahun 2007 tercatat 329 ribu ton senilai 2.721 juta USD dan di tahun 2011 tercatat 315 ribu ton senilai 3.804 juta USD. Dari sisi impor produk olahan tersebut lebih cepat pertumbuhannya, yang semula tahun 2007 tercatat 48 ribu ton senilai 276 juta USD, dan tahun 2011 meningkat cukup signifikan menjadi 171 ribu ton senilai 1.318 juta USD. Gambaran ini merupakan peluang sekaligus tantangan peningkatan nilai tambah mineral tembaga dan mengembangkan smelter tembaga. 2.1.2. Potensi Peningkatan Nilai Tambah Indonesia termasuk negara produsen tembaga yang tentunya didukung oleh sumberdaya dan cadangan yang besar. Gambaran keberadaan Indonesia dalam perdagangan dunia cukup menonjol dengan menempatkan PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara dalam jajaran 20 produsen tembaga skala dunia. Nilai tambang tembaga secara nyata meningkat dari bijih tembaga diolah menjadi konsentrat tembaga kemudian dapat dilebur menjadi produk katoda tembaga dengan produk sampingnya antara lainanode slime yang bernilai ekonomis. Untuk tahun 2010 PT Freeport Indonesia dapat meningkatkan kadar Cu dalam bijih dari 0.82% dinaikkan menjadi 24,56% dalam konsentrat. Demikian pula, kadar Au dari 0,91gr/ton menjadi 24,01 gr/ton, dan kadar Ag dari 2,52 gr/ton menjadi 67,10 gr/ton. 24
Produk utama yang dapat dibuat dengan menggunakan bahan baku tembaga adalah kabel. Berdasarkan aliran bahan baku dan prosesnya, struktur industri produk tembaga dapat digambarkan seperti gambar 2.6. berikut: Sumber: Kementerian Perindustrian Gambar 2.6 Struktur Industri Produk Tembaga Sebagai kompensasi pemberian hak pengusahaan untuk menambang, pemerintah mendapat royalti yang berasal dari konsentrat tembaga dan kandungan emas serta perak.tahun 2008, pemerintah mendapat royalti dari PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara masing masing sebesar US$ 115,950,900.22 dan US$ 12,136,619.62.Tahun 2010 royalti dari PT Freeport Indonesia meningkat menjadi US$ 185 juta. Adapun kontribusi dana kemitraan dari tahun ke tahun umumnya terjadi peningkatan, dan tahun 2010 tercatat sekitar US$ 70 juta. Sementara itu, nilai tambah dari pengolahan di PT Smelting Gresik secara fisik ialah mengubah konsentrat menjadi copper cathode (katoda tembaga), dimana kadarnya (copper grade) dari 28 30% dinaikkan menjadi 99,99%. Jadi untuk logam tembaga mulai dari raw material bijih dinaikkan menjadi konsentrat hingga produk akhir sudah bisa lakukan di Indonesia. Lebih dari itu, efek lain ialah 25
dari PPh 21 dan PPh 25 yakni pajak penghasilan karyawan dan pajak penghasilan badan, yang bisa langsung dibayarkan ke negara, juga multiplier effect bagi penyerapan lebih kurang 1.500 orang tenaga kerja, berikut CSR (Corporate Social Responsibility) dan program Community Development untuk wilayah Gresik dan daerah sekitarnya. Gambar 2.7.berikut memperlihatkan skema peningkatan nilai tambah bijih tembaga dari hulu-hilir pertambangan hingga hulu perindustrian. Hulu Pertambangan Hilir Pertambangan Hulu Perindustrian Sumber: Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, KESDM Gambar 2.7 Skema Peningkatan Nilai Tambah Tembaga Dari gambar 2.7 diatas terlihat skema peningkatan nilai tambah tembaga, dimana copper cathode sebagian besar akan diproses menjadi kabel. Ada beberapa pelanggan domestik yang mendapatkan pasokan copper cathode dari PT Smelting Gresik, yakni Tembaga Mulia Semanan, GT Kabel, KSI (Karya Sumiden Indonesia), dan MTU (Multi Tembaga Utama). Sehingga produsen Indonesia tidak perlu lagi mengimpor bahan baku untuk membuat kabel. Nilai tambah yang lain adalah by product (produk samping) dari PT Smelting Gresik seperti asam sulfat. Barang ini merupakan bahan baku utama dari pabrik pupuk guna menunjang ketahanan pangan di Indonesia. Selain itu ada copper slag yang mengandung bahan substitusi untuk pabrik semen. Biasanya pabrik semen membutuhkan pasir besi untuk pengolahannya, dengan adanya copper slag maka pasir besi bisa dihemat untuk difokuskan pada pembuatan besi. Produk mineral utama dan samping (by product) dari pengolahan konsentrat tembaga yang dihasilkan PT. Smelting adalah: 1. Logam tembaga katoda berkadar Cu=99,9%; kapasitas 200.000 ton/tahun; 2. Lumpur anoda, kapasitas 480 ton/tahun mengandung emas (Au) = 1%; perak (Ag) = 3,8%; bismut (Bi) = 2,7%; platina (Pt) = 0,0015%; telurite (Te) = 0,21%; selenium (Se) = 6,52%; paladium 26
(Pd) = 0,0075%; timbal (Pb) = 55%; dan komponen logam lainnya (metal compound=mc) = 7%; Apabila dihitung perolehan emasnya sekitar 4.800 kg/tahun belum termasuk perak, platina dan beberapa logam jarang yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Lumpur anoda ini dijual ke luar negeri (Jepang); 3. Terak tembaga, kapasitas 382.000 ton/tahun yang mengandung besi (Fe) antara 30-40%. Terak ini belum layak dimurnikan sebagai bahan logam besi, tetapi produk ini sudah dimanfaatkan oleh pabrik semen; 4. Asam sulfat (H2SO4), kapasitas 592.000 ton/tahun yang mengandung sulfur (S) sekitar 95%. Produk ini dimanfaatkan oleh PT. Petrokimia untuk bahan kimia atau pupuk; 5. Gipsum kapasitas 31.000 ton/tahun, dimanfaatkan oleh pabrik semen. Dari proses pengolahan konsentrat tembaga, selain menghasilkan logam tembaga juga menghasilkan anoda slime, yaitu sisa proses pengolahan yang masih mengandung unsur-unsur mineral ikutan yang bernilai ekonomi tinggi. Dari hasil kajian yang dilakukan PT Aneka Tambang terhadap anoda slime tersebut, diperoleh unsurunsur mineral ikutan, komposisi dan jumlah yang akan dihasilkan seperti tercantum pada tabel berikut: Tabel 2.3 Jumlah Unsur Mineral Ikutan dari Anoda Slime PT Smelting Gresik Unsur Mineral Ikutan Komposisi Jumlah yang dapat dihasilkan Emas (Au) 1% 15 18 ton/tahun Perak (Ag) 3,8% 57 68,4 ton/tahun Bismut (Bi) 2,7% 40,5 48,6 ton/tahun Paladium (Pd) 75 ppm 120 kg/tahun Platinum (Pt) 15 ppm 27 kg/tahun Telurite (Te) 0,21% 3,15-3,78 ton/tahun Selenium (Se) 6,52% 97,8 117,36 ton/tahun MC 7% 105-126 ton/tahun Timbal (Pb) 55% 825 990 ton/tahun Produk samping lainnya : Terak Tembaga mengandung 30%-40% Fe (besi) 382.000 ton/tahun Asam Sulfat (H2SO4), mengandung 95% sulfur (S) 592.000 ton/tahun Gipsum 31.000 ton/tahun Sumber : PT Aneka Tambang 27
Dari jumlah unsur mineral ikutan yang diperoleh dari anoda slime bila dihitung berdasarkan tarif royalti yang berlaku di dalam PP No. 45 tahun 2003 tentang tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak yang berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, maka akan diperoleh tambahan penerimaan negara per tahun sebesar US$ 28,1 juta, tetapi bila perhitungan royalti seperti yang berlaku saat ini, dimana emas dan perak dihitung dari kadar yang terdapat di dalam konsentrat, maka tambahan penerimaan negaranya adalah US$ 2,6 juta per tahun atau US$ 8,7 juta per tahun bila 100% produk konsentrat diolah di dalam negeri. Sedangkan tambahan penerimaan perusahaan dari produk samping asam sulfat dan gipsum dengan harga pasar yang berlaku saat ini adalah US$ 85,7 juta. 2.1.3. Prospek Pengembangan Smelter Dilihat dari kondisi kecenderungan produksi tambang tembaga dan khususnya produksi katoda tembaga dari tahun 2007 hingga 2011 terdapat peningkatan sekitar 5%. Pada tahun 2007 tercatat total produksi katoda tembaga sebesar 271 ribu ton dan meningkat menjadi 282 ribu ton di tahun 2011. Adanya peningkatan produksi sebagai dampak dari peningkatan permintaan inilah gambaran peluang atau prospek pendirian pabrik smelter tembaga. Untuk kondisi tahun 2011 masih terdapat impor yang cukup besar, sekitar 66 ribu ton. Berkembangnya teknologi pengolahan mineral berdampak terhadap optimalisasi perolehan mineral ikutan yang selama ini terbuang atau belum dimanfaatkan secara optimal. Pengusahaan tambang mineral di Indonesia (Kontrak Karya) selama ini sebagian besar masih menjual produknya dalam bentuk raw material atau dalam bentuk konsentrat. Hal tersebut sangat merugikan negara dari sisi penerimaan negara yang diperoleh dari hasil pertambangan karena tidak optimalnya pengambilan mineral ikutan yang bernilai ekonomis dari suatu cadangan mineral. Bijih tembaga merupakan salah satu sumberdaya mineral terpenting yang dimiliki Indonesia. Dua perusahaan besar yang berskala Internasional yaitu PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara, yang mengusahakan penambangan dan pengolahan bijih tembaga sampai dalam bentuk konsentrat. Produk konsentrat, selain mengandung logam berharga Cu, Au dan Ag, juga mengandung 28
logam-logam lain termasuk logam jarang seperti Bi, Cd, Co, Mo, Sb, Se, Te. Walaupun kadarnya sangat kecil sekitar 10 40 ppm, namun memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi jika diolah dan dimurnikan. Untuk mengetahui dampak industri pengolahan bijih tembaga terhadap perekonomian nasional dapat dilihat dari kondisi pasar (supply demand) tembaga dunia dan perkembangan teknologi pengolahan bijih tembaga. Prospek logam tembaga cukup baik dengan perkembangan teknologi pengolahan sampai kehilir, karena unsur-unsur yang terkandung di dalamnya dapat diambil secara optimal sehingga penerimaan negara akan bertambah. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah yang mewajibkan perusahaan tambang untuk mengolah hasil produksinya di dalam negeri merupakan keputusan yang sudah tepat. Perlu dilakukan analisis secara ekonomi makro, maupun ekonomi mikro untuk mengetahui lebih luas dari manfaat industri pengolahan bijih tembaga tersebut. Secara umum pengembangan tambang dan pembangunan pabrik pengolahan bijih tembaga ini akan menciptakan keuntungan makro ekonomi, baik manfaat yang dirasakan secara langsung maupun tidak langsung. Adapun keuntungan makro ekonomi yang diperoleh dari sektor pertambangan dan pengolahan bijih tembaga diantaranya adalah: Pengembangan wilayah baru Pemanfaatan sumber daya alam secara optimal Menghemat devisa Peningkatan pendapatan negara dari pajak dan bukan pajak Membuka lapangan kerja baru Peningkatan iklim investasi domestik dan asing Sedangkan dilihat dari ekonomi mikro, pengembangan pengolahan bijih tembaga sampai ke pembangunan pabrik pengolahan (smelter) yang dapat mengolah anoda slime akan meningkatkan pendapatan negara yang cukup besar, karena selain menghasilkan logam tembaga, juga menghasilkan unsur mineral ikutan yang bernilai ekonomi tinggi seperti emas, perak, paladium, platinum, tellurium, selenium dan timbal. Sebagai contoh peningkatan penerimaan negara dari penambangan bijih tembaga PT Freeport Indonesia. Perusahaan 29
tersebut saat ini memproduksi konsentrat tembaga, dimana sebagian besar produknya (± 70%) diekspor dan sisanya sebesar 30% dikirim ke PT Smelting Gresik untuk diolah menjadi logam tembaga. 2.2. Industri Pertambangan Nikel 2.2.1. Gambaran Umum Potensi sumberdaya nikel Indonesia diperkirakan mencapai 1.878.550.000 Ton dengan kandungan unsur Nikel rata-rata 1,45%. Sebagian dari potensi sumberdaya tersebut sudah ditambang dan diekspor dalam bentuk nickel matte, Ferro Nickel ataupun bijih nikel tanpa melalui proses pengolahan dan pemurnian oleh perusahaanperusahaan yang banyak bertumbuhan dalam dasawarsa terakhir. Data terakhir dari Badan Geologi Kementerian ESDM menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumberdaya nikel sebesar 2.633 juta ton ore dengan cadangan nikel sebesar 577 juta ton ore yang tersebar di Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Papua. Seiring dengan meningkatnya permintaan produk logam dunia, sebagian besar produk nikel diekspor dalam bentuk barang hasil olahan, seperti Nickel Matte (PT INCO Indonesia) dan Ferro Nickel (PT Aneka Tambang). Data yang diperoleh memperlihatkan bahwa komoditi nikel dikelompokkan menjadi tiga, yaitu bijih nikel, feronikel dan nikel kasar. Selama periode tahun 2003-2009 produksi bijih nikel mengalami peningkatan yang cukup tinggi, yaitu dari 4.395.429 ton pada tahun 2003 menjadi 10.847.141 ton pada tahun 2009 atau mengalami kenaikan hampir 2,5 kali lipat. Pada periode yang sama, komoditi feronikel mengalami kenaikan dua kali lipat dari 8.933 ton Ni menjadi 17.917 ton Ni, sedangkan untuk nikel kasar mengalami fluktuasi, pada tahun 2003 jumlah produksi mencapai 71.211 ton Ni, tahun 2007 meningkat hingga 77.928 ton Ni, namun tahun 2009 menurun hingga menjadi 63.548 ton Ni. Produksi nikel Indonesia, baik bijih nikel, feronikel maupun nikel kasar, hampir seluruhnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Sehingga permintaan nikel Indonesia ditentukan oleh permintaan nikel dunia. Di pasaran global, permintaan nikel diprediksi akan meningkat sebesar 3% per tahun, Sehingga pada tahun 2015 permintaan nikel diperkirakan mencapai 2.000.000 ton. Permintaan 30
nikel dunia pada saat ini didominasi oleh negara-negara Asia, khususnya China yang saat ini sedang melakukan pembangunan power plant yang banyak membutuhkan komoditi nikel, baik bijih nikel maupun nikel olahan. Konsumsi terbesar nikel di dunia saat ini adalah negara-negara Asia (khususnya China) yang pada Tahun 2009 mencapai 61 % dari konsumsi nikel dunia, diikuti Eropa 26%, Amerika 10%, Afrika dan Oceania hanya 3%.Sementara itu, kebutuhan nikel dunia dipasok oleh 20 perusahaan termasuk didalamnya adalah perusahaan dari Indonesia yang tercatat dengan tingkat produksi nikel sekitar 1,329 juta ton. Berbeda dengan peringkat konsumsi nikel yang didominasi oleh negara-negara Asia terutama China, untuk peringkat tertinggi dalam produksi nikel ditempati oleh Eropa sebesar 34%, diikuti Asia 32%, Amerika 19%, Afrika dan Oceania 15%. Secara garis besar, struktur supply chain industri nikel dibedakan menjadi beberapa kelompok berikut: Industri Hulu Pada saat ini hanya ada 2 pabrik penghasil nikel di Indonesia yaitu PT Aneka Tambang Tbk dengan produksi nikel dalam bentuk Ferro Nickel (Fe-Ni) dan PT INCO Tbk dengan produksi nikel dalam bentuk Nickel Matte. Bahan baku Fe-Ni berupa bijih nikel diangkut menuju shake out machine. Disini bijih nikel basah yang berukuran lebih kecil akan jatuh dan tertampung ke dalam loading hopper sedangkan bongkahan atau bijih yang berukuran lebih besar dari 250 x 200 mm akan terpisah dan disingkirkan secara manual. Kemudian bijih nikel masuk ke dalam rotary dryer yang digunakan untuk mengurangi kandungan air (moisture content) dari 33% menjadi 22%. Setelah keluar dari rotary dryer, proses selanjutnya terjadi di rotary kiln, dimana di proses ini terjadi kalsinasi. Selain kalsinasi, diharapkan di rotary kiln terjadi prereduksi. Hasil dari proses ini disebut kalsin. Dalam dapur listrik, kalsin akan dilebur dan direduksi oleh karbon dari ketiga elektroda serta antrasit dan batu bara dalam kalsin. Terjadi proses desulfurisasi, oksidasi dan tilting metal. Setelah itu, dilakukan proses finishing berupa proses pencetakan logam dan packaging. 31
Industri Antara Produk Fe-Ni dan nickel matte diproses lebih lanjut menjadi produk antara berupa stainless steel. Produk ini akan menjadi bahan baku untuk industri hilirnya. Industri Hilir Pada kelompok Industri hilir, menghasilkan produk setengah jadi yang akan menjadi komponen bagi produk berikutnya serta produk jadi yang akan dipakai langsung oleh konsumen. Terdapat berbagai macam produk industri hilir, seperti: HRC (Hot Rolled Coils) stainless, batang kawat baja, tabung/pipa dan peralatan rumah tangga. Perubahan harga nikel cenderung berhubungan sangat erat dengan tingkat persediaan nikel di London Metal Exchange (LME). LME dianggap sebagai pasar terakhir.tingginya persedian di gudang LME menunjukan surplus pasar, sebaliknya rendahnya persediaan di gudang LME menunjukan defisit pasar.dengan demikian perubahan dalam persediaan di LME memberikan indikasi persediaan di pasar global, yang membawa dampak langsung terhadap harga nikel di pasaran. Secara keseluruhan volume dan nilai ekspor nikel sudah pulih kembali, bahkan melewati puncaknya yang terakhir dicapai pada tahun 2007. Kondisi volume dan nilai ekspor nikel di Indonesia dalam 2 tahun terakhir (2011-2012) mengalami kenaikan yang cukup signifikan.hal ini dapat terlihat pada tabel 2.4 dan 2.5 serta gambar 2.8 dan 2.9. 32
Tabel 2.4 Nilai Ekspor Bijih Nikel dan Konsentrat (USD) Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM) Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM) Gambar 2.8 Grafik Nilai Ekspor Nikel (USD/Month) 33
Tabel 2.5 Nilai Ekspor Bijih Nikel dan Konsentrat (Kg) Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM) Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM) Gambar 2.9 Grafik Volume Ekspor Nikel (Kg/Month) 34
Penurunan komoditi nikel sangat dipengaruhi oleh krisis ekonomi di negara maju. Industri manufaktur, alat-alat rumahtangga, otomotif, dan sebagainya yang merupakan konsumen nikel belum pulih. Kondisi ini terjadi karena ada sedikit over liquidity di pasar modal. Tapi likuiditas tersebut bukan diciptakan oleh masing-masing negara, tidak juga masuk ke sektor riil, melainkan masuk ke instrumen pasar modal, baik ke saham, obligasi, maupun di komoditas. Selain pada industri manufaktur dan alat-alat rumahtangga, permintaan terbesar nikel adalah dari industri otomotif. Ini bisa dilihat dari permintaan nikel di PT Antam dan PT INCO yang sebagian besar datang dari Jepang yang belakangan ini mengalami bencana sunami yang berimbas menurunnya kebutuhan bahan-bahan industri (termasuk didalamnya adalah nikel), selain AS dan Eropa. Ditariknya beberapa merek mobil buatan Jepang di pasaran, menunjukkan tingkat produksi yang tidak menanjak. Hal ini tentunya juga akan menjadi penghambat permintaan. Selain itu, harga nikel Internasional tidaklah mencerminkan harga jual yang sesungguhnya. Karena harga jual nikel juga tergantung pada kualitas atau grade-nya, dan siapa pembelinya. Kalau sekarang misalnya harga Internasional berada di USD 20.000, belum tentu PT Antam atau PT INCO menjual pada harga itu.bisa jadi mereka menjual nikelnya USD 15.000 per metrik ton. 35
Pemilihan teknologi proses terkait dengan karakteristik bijih. Proses produksi ferro nickel di PT Antam UBP Pomalaa dapat dilihat pada gambar berikut: Sumber: PT Aneka Tambang Gambar 2.10 Proses Produksi Ferro Nickel Proses hidrometalurgi memungkinkan kobal dapat diekstrak. Kandungan kobal baik dalam ferro nickel maupun nickel matte, tidak diperhitungkan padahal kobal berilai ekonomi tinggi. Berikut potensi produk samping dari nikel: Kobal Kobal merupakan suatu logam strategis yang dibutuhkan untuk berbagai keperluan industri dan militer. Sebagai logam, kobal termasuk ke dalam logam sekunder seperti As, Sb dan Cd yang diperoleh dari bijih hanya sebagai hasil samping dari proses pengolahan logam utama dari bijih tersebut. Kobal tersebut diperoleh sebagai hasil samping dari pengolahan bijih tembaga, namun menjelang akhir 1990 mulai bergeser dari hasil pengolahan bijih nikel laterit. Pergeseran ini perlu dicermati karena Indonesia adalah negara yang mempunyai cadangan bijih nikel laterit cukup besar. 36
Sampai saat ini kobal masih merupakan suatu logam spesifik yang diperlukan untuk beberapa kegunaan khusus yang sulit digantikan dengan material lainnya. Penggunaannya antara lain adalah untuk bahan kimia khusus yang digunakan dalam pengolahan gas menjadi liquid, paduan super (super alloy), pengering cat, perekat, magnet. Pemakaian kobal yang paling cepat berkembang adalah untuk baterai nikel hidrida (Ni-MH) yang dapat diisi ulang (rechargeable battery) yang digunakan pada laptop dan telepon seluler. Permintaan kobal saat ini menunjukkan peningkatan yang cukup tajam setelah diketemukan penggunaan kobal untuk berbagai keperluan khusus. Saat ini jumlah produksi kobal dunia adalah 54.000 ton dan 43% di produksi di Asia, dengan komposisi pemakaian sebagai berikut : baterai (25%), superalloys (22%), carbides dan diamond tooling (12%), colours dan pigments (10%), lain-lain (22%). Krom Sekitar 94% dari produksi krom atau kromit global ditujukan untuk digunakan dalam industri metalurgi, untuk produksi ferro-krom, dan sisanya diproduksi untuk digunakan dalam pengecoran, kimia dan sektor refraktori. Produksi tambang kromit itu mengikuti pola produksi dunia ferro-krom.sekitar 70% dari produksi kromit global dikonsumsi dalam negeri dalam produksi ferro-krom di negara asal. Tiga negara mendominasi output ferro-krom. Pada tahun 2008, Afrika Selatan, Kazakhstan dan India mencapai sekitar 67% dari total produksi dunia. Namun, sementara produsen ferro-krom terbesar terus mendominasi pasar, produksi China telah mulai meningkat dengan cepat, yaitu sekitar sekitar 1,5Mt pada tahun 2008. Produksi ferro-krom Cina telah tumbuh pada tingkat 28% per tahun, untuk periode tahun 2002 sampai dengan tahun 2008. 2.2.2. Potensi Peningkatan Nilai Tambah Kondisi perkonomian dunia di prediksi membaik pasca krisis keuangan global yang terjadi pada tahun 2008. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat diproyeksikan oleh asosiasi ekonomi bisnis nasional (NABE) sebesar 2,9%. Negara raksasa ekonomi asia seperti China diproyeksikan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mengalami pertumbuhan sebesar 10,2 % meningkat dari tahun 2009 sebesar 8%. Negara Jepang diproyeksikan 37
oleh OECD pertumbuhan ekonominya sebesar 1,8%, sedangkan India pertumbuhan ekonominya mencapai 9,3% meningkat dari tahun 2009 yang mencapai 7,7%. Menurut pengamat Nickel Stocks and Prices ABARE pada tahun 2010 terjadi kenaikan permintaan nikel disertai pula dengan kenaikan harga.harga nikel diprediksi oleh London Metal Exchange (LME) terjadi kenaikan yang pada November 2009 harga rata-rata nikel sebesar US$ 17.000 per ton menjadi US$ 19.070 per ton pada tahun 2010.Gambar berikut memperlihatkan skema peningkatan nilai tambah bijih nikel dari hulu-hilir pertambangan hingga hulu perindustrian. Hulu Pertambangan Hilir Pertambangan Hulu Perindustrian Sumber: Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, KESDM Gambar 2.11 Skema Peningkatan Nilai Tambah Nikel Dengan kondisi pasar yang berangsur membaik pada tahun 2010, dua produsen nikel Indonesia, yaitu PT Aneka Tambang Tbk menargetkan produksi sebesar 18,500 Ton nikel dalam bentuk Fe-Ni, lebih tinggi dari tahun 2009 sebesar 14.191 Ton Ni. Di samping itu PT Aneka Tambang Tbk juga mengekspor bijih nikel sebesar 6,51 juta WMT atau naik 6% dari tahun sebelumnya. Demikian pula PT INCO Tbk menargetkan produksi sebesar 72.400 Ton Ni dalam nickel matte atau lebih tinggi dari realisasi produksi tahun 2009 sebesar 67.329 Ton Ni. 38
3000 2500 2000 1500 1000 500 0 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 Sumber: International Copper Association (Diolah Tim Kajian SDM) Gambar 2.12 Proyeksi Pasokan dan Permintaan Nikel Dunia Kondisi pasokan dan permintaan nikel dunia mulai dari tahun 2010 sampai dengan 2025 diproyeksikan oleh Brook Hunt, dan terjadi peningkatan secara berlanjut. Proyeksi peningkatan pasokan dan permintaan tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.12.diatas. Dari gambaran potensi pasar nikel dunia memberikan prospek yang positif bagi tumbuhnya industri pengolahan bijih nikel di Indonesia. PT Aneka Tambang akan melakukan pengembangan pabrik pengolahan FeNi berkapasitas 27.000 ton FeNi dengan bahan baku 885.000 ton bijih nikel dan pabrik pengolahan NPI berkapasitas 120.000 ton dengan bahan baku 960.000 ton bijih nikel, dan sudah pada tahapan FS (Feasibility Study) yang diperkirakan akan berproduksi pada akhir tahun 2014. Suplai bahan baku bijih nikel dapat dipenuhi dari PT Aneka Tambang sendiri. Di samping itu, PT Weda Bay akan melakukan pembangunan pabrik pengolahan Nikel Hidroksida di Weda, Halmahera. Rencananya pembangunan dilakukan dalam dua tahap, masing-masing 30.000 ton nikel hidroksida per tahun.pabrik ini diperkirakan beroperasi pada tahun 2015. Suplai bahan baku bijih nikel sebesar 6.080.000 ton bijih nikel dapat dipenuhi dari PT Weda Bay sendiri. Produk utama yang menggunakan bahan baku nikel adalah stainless steel. Berdasarkan bahan baku dan aliran 39
prosesnya, struktur industri produk nikel dapat digambarkan seperti gambar berikut: Ferro Nickel Wires Ferro Nickel Nickel Chrome Alloy Garnierite Asbolane Nickel Matte Nickel Chrome Iron Alloy Nickel Alloy Sumber: Kementerian Perindustrian Pasar pengguna Fe-Ni di dalam negeri (first user) sampai saat ini belum ada. Penambahan pabirk pengolahan nikel akan meningkatkan pasokan produk Fe-Ni ke pasar dunia, karena tidak diwadahi oleh penyerapan pasar dalam negeri. Pada tahun 2014 dengan penerapan Undang-undang No 4 Tahun 2009 untuk realisasi keharusan pengolahan bijih nikel menjadi produk yang bernilai tambah, salah satunya Fe-Ni di dalam negeri, perlu dicarikan solusi untuk mewadahi keluaran produk agar terserap oleh pasar domestik. Melihat kemampuan industri di dalam negeri yang dapat ditingkatkan kemampuannya untuk menyerap produk Fe-Ni adalah industri besi dan baja.industri besi dan baja ini dapat ditingkatkan menjadi first user dari produk Fe-NI untuk diolah menjadi stainless steel.first user yang dimaksud disini adalah industri yang dapat menyerap produk Fe-Ni untuk dijadikan produk setengah jadi. Salah satu dari industri first user adalah industri stainless steel yang merupakan penyerap terbesar produk Fe-NI yaitu sebesar 61%. 40 Gambar 2.13 Struktur Industri Produk Nikel
Untuk tahap awal penggunaan stainless steel umumnya untuk konstruksi dan infrastruktur lainnya, seperti jembatan, bangunan, bendungan, anjungan lepas pantai. Industri stainless steel sejauh ini merupakan konsumen terbesar ferro-krom. Sampai awal penurunan ekonomi global, produksi baja stainless telah menunjukkan peningkatan yang cukup besar. Permintaan di negara-negara Asia seperti China dan India membantu meningkatkan produksi dunia pada tingkat rata-rata sebesar 5,4% per tahun untuk periode tahun 2000 sampai 2007, dimana China sendiri telah mencapai 60% dari kenaikan produksi stainless global. Mengingat Afrika Selatan merupakan pemasok terkemuka ferrokrom, maka setiap ada perubahan jumlah pasokan akan membawa dampak besar pada harga. Di awal tahun 2008, produksi Afrika Selatan ferro-krom dibatasi, sebagai akibat dari berkurangnya pasokan listrik yang pada gilirannya membatasi pasokan ferro-krom di pasar Internasional. Kondisi ini mengakibatkan jumlah permintaan melebihi pasokan sehingga mendorong kenaikan harga ferro-krom sampai USD 213/lb atau 130% lebih tinggi dari harga rata-rata pada tahun 2007. 2.2.3. Prospek Pengembangan Smelter Indonesia memiliki kekayaan sumber daya nikel yang melimpah yang diolah oleh berbagai perusahaan pertambangan di Indonesia. Sebagian besar produksi bijih nikel yang diproduksi tersebut diekspor ke Jepang. Ironisnya, untuk memenuhi kebutuhan nikel dalam negeri, Indonesia harus mengimpor kembali nikel yang sudah diolah di Jepang. Pengembangan industri pengolahan pemurnian nikel, seperti antara lain melalui proses Mond dapat meningkatkan nilai tambah kekayaan nikel bagi perkekonomian nasional. Ada beberapa teknologi proses pengolahan dan pemurnian nikel selain menggunakan proses Mond, seperti; pengolahan biji nikel laterit dan peningkatan perolehan total nikel dan kobal pada proses leaching bijih nikel laterit. Pada saat ini sudah ada teknologi pengolahan dan pemurnian untuk nikel berkadar rendah yang dapat menjadi peluang untuk mengolah bijih nikel. Bijih nikel laterit merupakan salah satu sumber bahan logam nikel yang banyak terdapat di Indonesia, diperkirakan 41
mencapai 11% cadangan nikel dunia.bijih nikel yang kandungan nikelnya lebih kecil dari 2% ini belum termanfaatkan dengan baik. Proses pengolahan bijih nikel laterit kadar rendah pada bijih nikel laterit jenis limonit dan jenis saprolit telah berhasil dilakukan. Selain itu, telah ditemukan cara untuk memperbaiki kinerja proses leaching dengan AAC (Ammonia Ammonium Carbonate) terhadap bijih nikel laterit kadar rendah yang kandungan magnesiumnya sampai 15% yaitu dengan penambahan bahan aditif baru seperti kokas dan garam NaCl yang digabungkan dengan aditif konvensional sulfur ke dalam pellet. Pengolahan dengan AAC saat ini mempunyai kelemahan yaitu dalam perolehan total nikel dan kobalnya rendah. Dengan mengolah bijih nikel menjadi ferronickel, harganya dapat meningkat dari USD 55 per ton menjadi USD 232 per ton, atau memberikan nilai tambah sekitar 400%. Maka dari itu, sangatlah penting untuk mendukung penyediaan energi bagi smelter yang akan dibangun. Sebab, peningkatan nilai tambah mineral hasil tambang merupakan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba). Bukan hanya itu. jika smelter berdiri, maka akan ada tambahan pemasukan bagi negara sebesar 300%, ketimbang nikel hasil tambang diekspor dalm bentuk mentah. Smelter yang akan dibangun juga bakal menyerap banyak tenaga kerja. Sebagai informasi, saat ini PT Antam UBP Pomalaa mempekerjakan sekitar 3.500 karyawan. Selain itu, produksi tambang juga lebih terkendali, memacu industri hilir karena ketersediaan bahan baku dalam negeri, serta mengurangi kerusakan lingkungan karena mineral yang tidak dimanfaatkan dapat dikembalikan. Smelter yang akan dibangun juga akan memberikan efek berantai yang positif di sektor perekonomian, dengan adanya pemasok dan industri-industri ikutannya, dan pastinya meningkatkan lapangan kerja. Selain itu, akan terjadi pemerataan perekonomian, karena industri tidak hanya terpusat di Jawa tapi juga di daerahdaerah lain. Listrik untuk smelter didesain berbeda dengan listrik untuk pabrik biasa. Ada persyaratan teknis yang harus dipenuhi untuk menghindari timbulnya distorsi pasokan listrik di sekitar smelter. Untuk hal seperti itu standar internasional sudah ada dan prakteknya sudah dilakukan. 42
2.3. Industri Pertambangan Bauksit 2.3.1. Gambaran Umum Aluminium (dalam bentuk bauksit) adalah suatu mineral yang berasal dari magma asam yang mengalami proses pelapukan dan pengendapan secara residual. Proses pengendapan residual sendiri merupakan suatu proses pengkonsentrasian mineral bahan galian di tempat. Aluminium merupakan suatu metal reaktif, dan tidak terjadi secara alami. Oleh karena itu, aluminium tak dikenal sebagai unsur terpisah sampai tahun 1820-an, walaupun keberadaannya telah diramalkan oleh beberapa ilmuwan yang telah belajar aluminum campuran. Aluminium pertama kali diproduksi dengan bebas oleh ahli kimia dan ahli ilmu fisika yang berasal dari Denmark, Hans Oersted Kristen, dan ahli kimia Jerman, Frederich Wohler, pada pertengahan tahun 1820-an. Nama aluminum diperoleh dari bahasa latin: alumen, yang berarti tawas (suatu aluminium sulfate mineral). Ciri-ciri aluminium adalah: Aluminium merupakan logam yang berwarna perak-putih; Aluminium dapat dibentuk sesuai dengan keinginan karena memiliki sifat plastisitas yang cukup tinggi; Merupakan unsur metalik yang paling berlimpah dalam kerak bumi setelah silisium dan oksigen. Aluminum merupakan unsur metal yang paling berlimpah-limpah di dalam kerak bumi. Guinea, Australia dan Austria mempunyai sekitar setengah cadangan dunia. Negara-negara lain dengan cadangan utama meliputi Brazil, Jamaica, dan India. Pada skala Internasional, Indonesia merupakan produsen bauksit terbesar ke-7 di dunia, sementara produsen terbesar bauksit dunia, antara lain Australia sebesar 63,00 juta ton, China sebesar 32,00 juta ton, selanjutnya Brasil sebesar 25,00 juta ton, India sebesar 20,00 juta ton, Guinea sebesar 18,00 juta ton, dan Jamaica sebesar 15,00 juta ton. 43
Secara garis besar, struktur supply chain industri aluminium dibedakan menjadi beberapa kelompok berikut: Industri Hulu: ingot, scrap Pemenuhan bahan baku produk aluminium mulai tidak bergantung kepada impor sejak didirikannya PT INALUM sejak tahun 1982 di Kuala Tanjung yang memproduksi aluminium ingot primer di Indonesia. Bahan baku untuk memproduksi ingot primer tersebut adalah Alumina. Aluminium adalah logam yang sangat reaktif yang membentuk ikatan kimia berenergi tinggi dengan oksigen. Dibandingkan dengan logam lain, proses ekstraksi aluminium dari batuannya memerlukan energi yang tinggi untuk mereduksi Al2O3. Proses reduksi ini tidak semudah mereduksi besi dengan menggunakan batu bara, karena aluminium merupakan reduktor yang lebih kuat dari karbon. Proses produksi aluminium dimulai dari pengambilan bahan tambang yang mengandung aluminium (bauksit, corrundum, gibbsite, boehmite, diaspore, dan sebagainya). Selanjutnya, bahan tambang dibawa menuju proses Bayer. Proses Bayer menghasilkan alumina (Al2O3) dengan membasuh bahan tambang yang mengandung aluminium dengan larutan natrium hidroksida pada temperatur 175 C sehingga menghasilkan aluminium hidroksida, Al(OH)3. Aluminium hidroksida lalu dipanaskan pada suhu sedikit di atas 1000 C sehingga terbentuk alumina dan H2O yang menjadi uap air. Setelah Alumina dihasilkan, alumina dibawa ke proses Hall-Heroult. Proses Hall- Heroult dimulai dengan melarutkan alumina dengan lelehan Na3AlF6, atau yang biasa disebut cryolite. Larutan lalu dielektrolisis dan akan mengakibatkan aluminium cair menempel pada anoda, sementara oksigen dari alumina akan teroksidasi bersama anoda yang terbuat dari karbon, membentuk karbon dioksida. Sejalan dengan perkembangan pertumbuhan demand dan perkembangan Industri Aluminium di Indonesia, maka sebanyak 40% kebutuhan aluminium di Indonesia masih tetap dilakukan melalui impor. 44
Industri Antara: billet, rod, kawat, plate/sheet Dari produk hulu berupa ingot, diproses lebih lanjut menjadi produk antara berupa produk aluminium lembaran dan produk aluminium batangan. Kedua jenis produk tersebut diproses lebih lanjut menjadi produk hilir atau produk jadi yang akan dipakai di segala sektor. Industri Hilir: foil, pipa, produk aluminium lainnya Industri Hilir aluminium merupakan produk akhir yang akan digunakan langsung oleh konsumen seperti Aluminium strip/foil, kawat dan kabel, pipa, profil/ekstrusi, komponen dan peralatan rumah tangga. Misal dengan memakai proses Dies Casting akan dihasilkan komponen-komponen kendaraan bermotor. Sampai saat ini, produksi bijih bauksit Indonesia seluruhnya diekspor dalam bentuk mentah (raw material), belum diolah dan dimurnikan, dan seluruh hasil produksi tersebut dijual ke beberapa negara, khususnya ke China sebagai negara importir bauksit utama Indonesia, kalaupun ada pengolahan hanya sebatas pencucian (washing), atau pencampuran (blending). Di Indonesia, bauksit ditemukan di Provinsi kepulauan Riau, Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Kalimantan Tengah, dan Provinsi Bangka Belitung. Data Pusat Survei Geologi tahun 2011 menunjukkan jumlah sumber daya bauksit di Indonesia sebesar 700.342.407,00 ton bijih dan 240.898.678,02 ton logam dengan cadangan sebesar 280.393.932,00 ton bijih dan 100.959.000,32 ton logam. Sumber daya dan cadangan bauksit Indonesia bila dirinci lebih lengkap, antara lain sumber daya hipotetik (bijih 119,59 juta ton, logam 45,39 juta ton), tereka (bijih 174,95 juta ton, logam 76,92 juta ton), terunjuk (bijih 27,40 juta ton, logam 12,19 juta ton), dan sumber daya terukur (bijih 349,61 juta ton, logam 134,65 juta ton), sedangkan jumlah cadangan tereka diketahui (bijih 82,10 juta ton, logam 38,19 juta ton), sedangkan cadangan terbukti (bijih 97,40 juta ton, logam 34,88 juta ton) (total keseluruhan ± 1,322.594.017 ton) dengan kadar Al2O3 berkisar 27-55 persen (Pusat Sumber Daya Geologi, 2011). 45
Pada tahun 2007-2010, ekspor bauksit Indonesia meningkat besar sekali dibanding periode 2003-2006, disebabkan bertambahnya produksi dari KP-KP bauksit yang berada di Kalimantan Barat dan Kepulauan Riau, yang sebelumnya produksi sebagian besar dihasilkan oleh PT Antam. Mengingat tidak ada instalasi refineri (pabrik alumina) di dalam negeri, ekspor bauksit mencerminkan perkembangan produksi. Berdasarkan data dari Kementrian Perdagangan, ekspor bauksit Indonesia mulai tahun 2006 terjadi peningkatan yang cukup berarti. Meskipun tahun 2009 sempat menurun dari sisi volume, tetapi harganya naik sehingga nilainya terus meningkat. Tahun 2010 ekspor bauksit meningkat pesat dapat menembus 25 juta ton. Kondisi volume dan nilai ekspor bauksit di Indonesia dalam 2 tahun terakhir (2011-2012) mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Bila dilihat dari negara tujuan ekspor selama kurun waktu tersebut (2005-2012) pada umumnya ditujukan ke Jepang, Taiwan, China, Russia dan Thailand. Sedangkan bila dilihat dari total ekspornya China merupakan pengimpor terbesar, disusul kemudian oleh Jepang dan Taiwan.Hal ini dapat terlihat pada tabel 2.6 dan 2.7 serta gambar 2.14 dan 2.15 Tabel 2.6 Nilai Ekspor Bijih Bauksit dan Konsentrat (USD) Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM) 46
Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM) Gambar 2.14 Grafik Nilai Ekspor Bauksit (USD/Month) Tabel 2.7 Volume Ekspor Bijih Bauksit dan Konsentrat (Kg) Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM) Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM) Gambar 2.15 Grafik Volume Ekspor Bauksit (Kg/Month) 47
Di sisi lain, munculnya negara-negara industri baru di kawasan Asia diharapkan akan mendorong meningkatnya kebutuhan akan bauksit. Namun diperkirakan pasar akan dipengaruhi dengan masuknya pasokan bauksit dari negara lain seperti dari Afrika, Eropa Timur termasuk negara-negara bekas Uni Soviet. Asosiasi produsen bauksit dunia akan turut menentukan kondisi pasar bauksit dunia yang tergabung dalam International Bauxite Asosiciation (IBA) dan Indonesia termasuk salah satu anggotanya. Anggota-anggota organisasi ini antara lain Australia. Dominika, Ghana, Guinea, Guyana, Haiti, Jamaika, Suriname, bekas negara Yugoslavia dan Sierra Leone. Selama ini tidak terlihat gejolak dalam asosiasi ini sehingga dapat dianggap bahwa pasokan bauksit di pasaran dunia cukup terkendali. Berdasarkan data dan informasi Indexmundi.Com, wilayah Asia merupakan penghasil bauksit terbesar dunia dengan kontribusi sebesar 56,94%, disusul kemudian wilayah Amerika (24,89%), Afrika dan Timur Tengah (10,31%) dan Eropa dan Erasia (7,85%). Cina merupakan penghasil bauksit (30 juta ton) terbesar kedua di dunia setelah Australia (62,43 juta ton) dan juga sebagai penghasil alumina (19,5 juta ton) dan aluminium (12,6 juta ton) terbesar di dunia. Sedangkan Indonesia sebagai penghasil bauksit meningkat dengan jumlah sekitar 40 juta ton pada tahun 2011 dan kecendrungan nya akan terus meningkat di tahun 2012 ini. Untuk kondisi 2009, produsen aluminium dunia tetap sebagian besar berada di kawasan Asia (46%), kemudian disusul kawasan Amerika, Eropa, Oceania dan Afrika. Adapun aluminium merupakan salah satu bahan logam yang telah banyak digunakan di berbagai sektor industri manufaktur, terutama pada sektor industri transportasi dan bangunan & kontruksi. Dari sisi harga, harga bauksit sangat ditentukan oleh pasar Internasional. Beberapa faktor yang dominan mempengaruhi harga tersebut adalah perkembangan pabrik peleburan alumina dan aluminium. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, harga bauksit hampir melipat 2 kali lipat, yang semula hanya 17 US$/MT menjadi sekitar 26 US$/MT, atau tumbuh rata-rata 5,19% per tahun. Sedangkan harga aluminium melipat 2,5 kali, yaitu semula 1.468 US$/MT meningkat menjadi 3.620 US$/MT, atau tumbuh rata-rata 11,24% per tahun. 48
2.3.2. Potensi Peningkatan Nilai Tambah Aluminium merupakan salah satu logam yang sangat penting dalam dunia industri manufaktur dan digunakan diberbagai sektor kegiatan dan mempunyai segmentasi pasar yang luas di berbagai sektor kegiatan ekonomi. Bauksit adalah bahan baku utama untuk menghasilkan aluminium, setelah melalui dua kali tahap pemrosesan yaitu proses bayer (alumina) dan proses Hall-Heroult (aluminium). Indonesia sebagai salah satu penghasil bauksit di dunia, belum memiliki pabrik pemrosesan alumina sehingga seluruh produk bauksitnya dijual ke luar negeri. Indonesia memiliki kekuatan tawar-menawar yang tinggi di pasar bauksit dunia disebabkan sebagai pemasok yang cukup besar (9% dari produk bauksit dunia), dan juga dapat menyediakan dan menawarkan bauksit yang diperlukan untuk memproduksi barang atau menyediakan jasa oleh negara-negara industri atau perusahaan yang terkait dengan alumina dan aluminium. Dalam organisasi atau asosiasi bauksit dunia, para pemasok saling bersaing antar satu dengan lainnya untuk mendapatkan pembeli dan menguasai pasar bauksit. Apabila pemasok mampu mengendalikan perusahaan dalam hal penyediaan bauksit yang memenuhi spesifikasi yang diinginkan pembeli atau pasar, maka pemasok akan mempunyai kemampuan untuk mengendalikan pasar, atau pemasok memiliki posisi tawar industri yang kuat dan sebaliknya posisi tawar pemasok menjadi lemah bila pemasok tidak menghasilkan produk bauksit yang tidak sesuai dengan spesifikasi pasar. Saat ini Indonesia sudah memiliki keunggulan di bidang kuantitas produksi dan kuantitas sumber daya bauksit, namun kedua hal tersebut belum bisa menjadikan posisi Indonesia kuat di pasar bauksit dunia. Dalam lima tahun terakhir (2008 2012) ada kecenderungan peningkatan permintaan industri terhadap alumina dan aluminium dalam negeri. Dengan demikian jelas sekali hal tersebut membutuhkan bauksit sebagai bahan bakunya. Oleh sebab itu, prospek pendirian pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina dan aluminium sangat menguntungkan bagi Indonesia dilihat dari berbagai sisi, antara lain optimalisasi nilai tambang, tersedianya bahan baku bagi industri di dalam negeri (menghemat devisa negara), penyerapan tenaga kerja (peningkatan keahlian, kemampuan dan penyediaan lapangan kerja 49
terampil), serta peningkatan penerimaan negara (royalti dan pajak). Oleh sebab itu ekspor bauksit yang selama ini dilakukan ke China dan Jepang oleh Indonesia sudah harus dihentikan, dan diganti dengan alumina atau aluminium sesuai ketentuan Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara yang akan berlaku efektif lima tahun setelah Undang-Undang ini terbit atau tahun 2014.Gambar 2.16.berikut memperlihatkan skema peningkatan nilai tambah bijih bauksit dari Hulu Pertambangan Hilir Pertambangan Hulu Perindustrian Hulu Pertambangan Hilir Pertambangan Hulu Perindustrian Sumber: Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, KESDM Gambar 2.16 Skema Peningkatan Nilai Tambah Bauksit Industri aluminium sangat tergantung pada bahan baku utama yaitu bauksit dan bahan penolong lainnya seperti energi listrik, batubara dan soda kustik (caustic soda) yang digunakan dalam preparasi alumina untuk elektrolisis dan karbon untuk manufaktur elektroda, serta manajemen dan tenaga kerja. Berbagai produk dapat dibuat dengan menggunakan bahan baku aluminium. Berdasarkan bahan baku dan aliran prosesnya, struktur industri produk aluminium dapat digambarkan seperti gambar berikut: Sumber: Kementerian Perindustrian 50 Gambar 2.17 Struktur Industri Produk Aluminium
Menurut (Lewis, 1949), untuk menghasilkan satu ton aluminium diperlukan energi listrik sekitar 20.000-25.000 kwh, 4-5 ton bauksit, 4-5 ton batubara, sejumlah air, sekitar satu ton soda kustik dan 0,5-0,6 ton elektroda karbon. Dalam tabel berikut diperlihatkan biaya bahan baku dan bahan penolong yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu ton aluminium (Burns, 2009). Tabel 2.8 Komponen biaya untuk menghasilkan satu ton aluminium (US$) Porsi Biaya Komponen bahan (%) (US$)* Alumina 30% 390 Listrik (Electricity) 24% 312 Anoda (Anodes) 15% 195 Manajemen dan Tenaga kerja 8% 104 Gas 2% 26 Kimia (Chemicals) 10% 130 Spares 8% 104 Overhead 3% 39 Jumlah 100% 1300 Sumber : Burns (2009) * AsumsiUS$1300/ton dengan acuan harga LME Bahan baku penolong = 1300-390 =910 Berdasarkan komponen bahan baku utama dan penolong yang dimasukan ke dalam persamaan, maka nilai tambah yang dihasilkan untuk setiap ton alumina dan aluminium dapat dilihat dalam Tabel 2.9. berikut ini: 51
Tabel 2.9 Peningkatan Nilai Tambah dari Alumina Menjadi Aluminium No. Deskripsi bauxite to alumina to Alumina 1) aluminium Output, Input dan Harga 1 Jumlah output (Ton) 1) 1 1 2 Jumlah input (Ton) 1) 2,00 2 3 Tenaga kerja (HOK) 6 6 4 Faktor konversi = (1)/(2) 0,50 0,56 5 Koefisisen TK langsung (HOK/US$) = (3/2) 3,00 3,33 6 Harga produk (US$/Ton) 455 2.700 7 Upah TK langsung (US$/hr) 5,70 5,90 Penerimaan dan Keuntungan 8 Harga bahan baku (US$/Ton) 3) 13,95 455 9 Sumbangan input lain (US$/Ton) **) 15,6144 910 10 Nilai output (US$/Ton) 228 1.500 11 a. Nilai tambah (US$/Ton) 198 135 b. Rasio nilai tambah (%) 0,87 0,09 12 a. Pendapatan tenaga kerja langsung (US$/Ton) 17 20 b. Pangsa tenaga kerja langsung (%) 8,64 14,57 13 a. Keuntungan (US$/Ton) 181 115 b. Tingkat keuntungan (%) 91,36 85,43 Balas jasa pemilik faktor-faktor produksi 14 Marjin (US$/Ton) 214 1.045 a. Sumbangan tenaga kerja langsung (%) 8,01 1,88 b. Sumbangan input lain (%) 7,31 87,08 c. Keuntungan pemilik perusahaan (%) 84,68 11,04 Sumber : 1) www.d.umn.edu (2007) 2) John O. Ottestad (2008) 3) www.world-aluminium.org (2007) 4) Antam, 2007 **) electricity and caustic soda Berdasarkan tabel, nilai tambah proses bauksit menjadi alumina meningkat sebesar US$198 per ton, sedangkan nilai tambah proses alumina menjadi aluminium meningkat lagi sebesar US$ 135 per ton atau secara akumulatif terjadi peningkatan nilai tambah sebesar US$ 333 perton dari bijih bausit. 52
2.3.3. Prospek Pengembangan Smelter Bauksit digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan alumina dan diolah sebagai bahan baku aluminium. Sekitar 90% alumina yang dihasilkan dari bijih bauksit digunakan untuk pabrik peleburan aluminium, sisanya sebanyak 10% digunakan untuk keperluan nonmetalurgis, seperti pembuatan bata tahan panas (refractories), industri gelas keramik, bahan penggosok dan industri kimia. Sedangkan aluminium merupakan salah satu bahan logam yang telah banyak digunakan di berbagai sektor industri manufaktur. Secara umum untuk memperoleh aluminium murni dari bauksit dilakukan 2 tahapan proses, yaitu proses bayer dan proses hall-heroult. Pada proses bayer, bauksit dimurnikan untuk mendapatkan aluminium oksida. Proses selanjutnya, proses hall-heroult, meleburkan aluminium dioksida untuk mendapatkan logam aluminium murni. Gambaran lengkap dari proses produksi Aluminium dapat dilihat pada diagram berikut ini. Sumber: Kementerian Perindustrian Gambar 2.18 Proses Produksi Aluminium Sektor industri yang menggunakan aluminium tersebut antara lain: Industri otomotif, untuk membuat bak truk dan komponen kendaraan bermotor; Sektor konstruksi dalam pembangunan perumahan seperti kusen dan jendela; 53
Industri manufaktur untuk membuat badan pesawat terbang; Industri pengolahan makanan dan minuman, untuk kemasan berbagai jenis produk; Sektor lain, misal untuk kabel listrik, peralatan rumah tangga dan barang kerajinan; Membuat termit, yaitu campuran serbuk aluminium dengan serbuk besi oksida, digunakan untuk mengelas baja ditempat, misalnya untuk menyambung rel kereta api. Sebagai penghasil bauksit, Indonesia saat ini belum memiliki perusahaan pelebur (smelter) bauksit sehingga seluruh bijih bauksit di ekspor ke luar negeri (Jepang dan Cina), sedangkan alumina sebagai bahan baku untuk pembuatan aluminium harus mengimpor dari negara lain. Satu-satunya perusahaan aluminium di Indonesia adalah PT. Indonesia Asahan Aluminium (PT. Inalum), yang didirikan tahun 1976 dengan nilai investasi 411 Milyar Yen. Saham kepemikikan 41,12 % Pemerintah Indonesia dan 58,88 % Nippon Asahan Aluminium. Pabrik Peleburan aluminium yang terletak di Kuala Tanjung-Sumatera Utara, bergerak dalam bidang mereduksi alumina menjadi aluminium dengan menggunakan alumina, karbon, dan listrik sebagai material utama. Produksi aluminium dari perusahaan tersebut setiap tahunnya terus meningkat dan melebihi kapasitas produksi, seperti pada tahun 2010 perusahaan memproduksi sebesar 254 ribu ton dimana kapasitas produksi hanya sebesar 225 ribu ton, hal tersebut ditunjang dengan efisiensi arus energi yang meningkat dari 88% menjadi 92%, yang berarti konsumsi energi listrik makin menurun. Disamping hal tersebut, kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Air PT. Indonesia Asahan Aluminium (PLTA PT. Inalum) juga telah berhasil meningkatkan efisiensi penggunaan air. PT. Inalum menghasilkan aluminium dalam bentuk batang (ingot) dengan berat masing-masing 22,7 kg. Jenis kualitas produk yang dihasilkan oleh PT. Inalum adalah masing-masing 99,90% dan 99,70%. Produksi Inalum 40% dijual di pasar domestik, sedangkan 60% sisanya diekspor, hal ini sejalan dengan besaran saham yang dimiliki pemerintah pusat Mitsubisi- Jepang. Berikut tabel produksi dan penjualan aluminium ingot PT Inalum: 54
Tabel 2.11 Produksi dan Penjualan Aluminium Ingot PT Inalum Tahun 2004-2011 Tahun Produksi (Ribu Ton) (Ribu Ton) Penjualan (Juta US$) 2004 247 240 430 2005 252 248 503 2006 248 246 503 2007 241 248 650 2008 246 249 552 2009 257 255 469 2010 254 254 578 2011 250 250 594 Sumber : PT Inalum, 2011 Dari data historis tersebut, terdapat kecenderungan yang meningkat dari tahun ke tahunnya baik data produksi maupun penjualan. Bahkan peningkatan penjualan di dalam negeri cukup signifikan dengan rata-rata pertumbuhan 7,07% per tahun. Pasar domestik Aluminium produk dari PT Inalum meliputi industri hilir berbasis aluminium yang berada di Sumatera Utara, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Di sisi lain, kebutuhan domestik aluminium Indonesia sudah mencapai 350 ribu ton per tahun dengan rata-rata pertumbuhan 15 persen per tahun, kekurangannya dipasok dari negara lain seperti Australia. Demikian pula alumina sebagai bahan baku utama di smelter PT Inalum dipasok dari Australia. Saat ini PT Inalum baru memasok 0,7 persen dari kebutuhan aluminium dunia. Adapun kebutuhan aluminium dunia pada tahun 2010 sebanyak 41,009 juta ton diperkirakan naik menjadi 50 juta ton pada 2015.Seiring dengan tingkat kebutuhan, produksi alumina dan aluminium primer, dalam kurun 2007-2010 terjadi fluktuatif yang cenderung meningkat.tahun 2010 tingkat produksi dunia mencapai 41,970 juta ton. Namun dengan akan didirikannya pabrik Chemical Grade Alumina (CGA) di Tayan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat oleh PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) yang sahamnya dimiliki PT Aneka Tambang (80%) dan PT Showa Denko (20%), maka dalam tiga tahun 55
ke depan setelah berlakunya amanat Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Indonesia tidak akan mengimpor alumina. Kapasitas produksi CGA di Tayan setiap tahunnya mencapai 300 ribu ton alumina. Selain Tayan, PT Aneka Tambang melalui anak perusahaan juga berencana membangun pabrik Smelting Grade Alumina (SGA) di Kecamatan Toho, Kabupaten Pontianak, dengan kapasitas 1,2 juta ton pertahun. Berikut ini adalah daftar proyek pembangunan smelter yang sedang berjalan. Proyek Chemical Grade Alumina (CGA) Tayan, Lokasi: Tayan, Kalimantan Barat. Perkiraan biaya proyek sebesar US$450 juta dengan rencana kapasitas produksi 300.000 ton Chemical Grade Alumina per tahun. Status saat ini: Konsorsium unincorporated PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, Tsukishima Kikai Co. Ltd. dan PT Nusantara Energi Abadi (Nusea) terpilih sebagai kontraktor EPC. Tahap saat ini: Proses Pendanaan. Estimasi operasi komersial pada tahun 2014. Proyek Smelting Grade Alumina (SGA) Mempawah, Lokasi: Kalimantan Barat. Perkiraan biaya proyek sebesar US$1 miliar dengan kapasitas produksi 1,2 juta metric ton SGA per tahun. Status saat ini: Antam berencana untuk membentuk usaha patungan dengan Hangzhou Jinjiang Group dari China dengan kepemilikan saham sebesar 49% (Antam) dan 51% (HJG). Antam memiliki opsi untuk menjadi mayoritas setelah tiga tahun beroperasi komersial. Tahap saat ini: pemilihan kontraktor EPC dan pendanaan. Estimasi operasi komersial pada semester II/2014. Proyek Pabrik Pemurnian Alumina Harita Group, Lokasi: Kendawangan, Kalimantan Barat. Perkiraan biaya proyek sebesar US$2,28 milyar dengan rencana kapasitas produksi 2 x 2.000.000 ton Alumina per tahun. Status kepemilikan: Konsorsium PT Harita Group. Tahap saat ini: 2013 Pembangunan konstruksi industri alumina tahap 1. Estimasi operasi komersial pada tahun 2015. 56
Maka sangat tepat dan beralasan jika ke depannya rencana pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit di Indonesia (khususnya di Kalimantan Barat) dapat diwujudkan dan dimatangkan. Namun begitu, perlu dipertimbangkan pula umur tambang bauksit yang bila dihitung berdasarkan ratio cadangan/produksi = ± 14 tahun (cadangan 223.456.017 ton : produksi 15.595.049 juta ton), sedangkan ratio sumber daya/produksi = ± 74 tahun ( sumber daya 1.161.803.671 ton : produksi 15.595.049 ton). Oleh karenanya kebijakan tentang nilai tambah dan konservasi perlu diterapkan dengan baik. Dalam kondisi produksi sekarang berarti cuma tinggal 14 tahun lagi produksi bauksit dapat ditambang dan dapat memenuhi kebutuhan smelter bauksit dalam negeri. Jumlah ini tidak sampai 20% dari produksi dunia (produksi bauksit dunia tahun 2008 sebesar 247.115.000 ton). Semua hal tersebut dengan asumsi bahwa tidak ada lagi kegiatan eksplorasi lanjut untuk mengubah sumber daya bauksit menjadi cadangan. Sampai sekarang harapan untuk memperoleh keuntungan yang besar dari mineral bauksit masih belum terlaksana, mengingat proyek pemurnian bauksit menjadi alumina dan aluminium belum selesai. Kendala yang dihadapi Indonesia saat ini adalah investasi di sektor pengolahan (smelter) bauksit yang berlarut-larut waktunya, sehingga tenggat waktu yang ditetapkan oleh Undang-Undang No.4 Tahun 2009 bahwa pengusaha tambang mineral bauksit tidak boleh mengekspor dalam bentuk bahan mentah (raw material) akan sulit terpenuhi dengan berbagai alasan. Di lain pihak, dengan kondisi ini para pengusaha pertambangan mengeksploitasi secara besar-besaran sumber daya mineral bauksit untuk memanfaatkan celah dari kebijakan Undang- Undang pertambangan tersebut, yang memperkenankan pengusaha untuk mengekspor bauksit sampai dengan awal tahun 2014. Oleh sebab itu, rencana pembangunan smelter bauksit oleh PT Antam dan Harita Group harus cepat dilaksanakan. Diperkirakan proyek smelter ini selain bisa lebih memperpanjang umur tambangtambang bauksit juga dapat memperkuat posisi Indonesia di barisan produsen alumina dan aluminium dunia. 57
Di samping beberapa hal yang telah disebutkan tersebut di atas, adanya kecenderungan peningkatan kebutuhan dunia terhadap alumina sebagai akibat dari semakin pesatnya pembangunan di negara-negara berkembang maupun negara maju, tentunya menjadi suatu keuntungan bagi Indonesia. Beberapa produk yang banyak menggunakan alumina diantaranya refractories, abrasives, produk bangunan, integrated circuit, dan juga bahan baku untuk LCD screen. Jika selama ini negara kita hanya mengirimkan produksi ore (bijih) bauksit, maka akan sangat bijak jika kita dapat mengolahnya terlebih dahulu sehingga dapat meningkatkan nilai jualnya. 58
BAB III METODOLOGI 3.1 Kerangka Pemikiran Tahapan awal dari pembentukan kerangka pemikiran atas permasalahan yang diangkat dalam kajian ini adalah studi literatur. Tahap studi literatur merupakan tahapan penyusunan landasan teori yang mendukung kajian yang akan dilakukan serta penelitian dari pihak lain yang dianggap relevan dan menunjang kajian ini. Sumber pustaka yang digunakan diperoleh dari buku serta sumber lainnya akan membantu untuk mendukung penyusunan landasan teori dan kerangka pemikiran. Dari hasil studi literatur, didapat referensi yang melandasi kerangka pemikiran di studi ini, diantaranya yaitu: Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara pasal 6, pasal 102 dan pasal 170. Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan pasal 36 dan pasal 93. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 7 Tahun 2012 tentang Peningkatan nilai tambah mineral melalui kegiatan pengolahan dan pemurnian mineral. Selanjutnya, dari observasi pendahuluan di lapangan diharapkan dapat memperoleh gambaran aliran supply demand mineral di Indonesia sehingga dapat dilakukan analisa dan diketahui permasalahannya. Studi literatur dilakukan dengan mempelajari buku-buku referensi, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus, yaitu berkaitan dengan pokok permasalahan yang dibahas. Dalam kajian ini, studi literatur yang bersifat khusus adalah berkaitan dengan aliran supply demand mineral. Data yang dikumpulkan adalah berupa data tahunan dari hasil produksi, konsumsi dalam negeri, ekspor dan impor tiga produk mineral yang diangkat dalam kajian ini, yaitu tembaga, nikel dan 59
bauksit. Data yang telah dikumpulkan diharapkan cukup mewakili gambaran aliran supply demand di industri mineral saat ini. Setelah keseluruhan data diperoleh, maka dapat dilakukan penyusunan neraca supply demand mineral dengan menggunakan struktur HS Code sebagai model dari aliran supply demand mineral. Harmonized Commodity Description and Coding System, atau lebih dikenal sebagai Harmonized System (HS) adalah standar Internasional atas sistem penamaan dan penomoran yang digunakan untuk pengklasifikasi produk perdagangan dan turunannya yang dikelola oleh World Customs Organization (WCO) dan beranggotakan lebih dari 170 negara anggota dan berkantor di Brussels, Belgia. Tata penamaan pada Harmonized System terdiri atas enam angka, empat digit pertama yang disebut sebagai Pos WCO, yang berarti bahwa secara global semua HS di dunia memiliki barang yang sama pada pos ini. Kemudian 2 digit (digit kelima dan keenam) berikutnya disebut subpos WCO. Negara-negara yang telah mengadopsi Harmonized System tidak diperkenankan untuk mengubah dengan cara apapun yang terkait dengan penjelasan Pos atau Subpos WCO dari Harmonized System. Masing-masing negara dapat memperluas penambahan penomoran Harmonized System untuk keperluan umumnya pada tingkat urutan digit ke delapan atau ke sepuluh. Untuk daerah Asean, dikenal dengan subpos AHTN, yaitu digit ke-7 dan 8, sedangkan untuk kebijakan atas penambahan nomenklatur barang masing-masing negara ada pada digit ke-9 dan 10. Barang niaga atau impor yang dapat dimasukkan ke dalam HS pada Pos WCO harus memenuhi nilai perdagangan dunia minimal US 50 juta dalam tiga tahun terakhir, yang mana ini adalah ketentuan dari WCO. Sedangkan untuk dapat masuk ke bagian subpos AHTN maka barang harus memenuhi nilai perdagangan minimal US 1 juta dalam tiga tahun terakhir dalam perdagangan antar negara Asean. Sekarang telah lebih dari 200 negara, kesatuan wilayah ekonomi dan tarif cukai yang mewakili lebih dari 98% dari perdagangan dunia yang telah menggunakan HS sebagai dasar untuk: Tarif Bea Cukai; Kumpulan statistik perdagangan Internasional; 60
Rules of origin; Kumpulan pajak internal; Negosiasi dalam perdagangan (misalkan, jadwal konsesi tarif dalam World Trade Organization); Tarif transportasi dan statistik; Pemantauan atas kontrol barang (misalkan, limbah, narkoba, senjata kimia, lapisan ozon, spesies langka); Bidang kontrol dan prosedur cukai dalam hal ini termasuk atas risiko dan kepatuhan dan teknologi informasi. Revisi pengkodean ini telah dilakukan dalam bertahun-tahun. Oleh karena itu, jika memerlukan referensi kode yang berkaitan dengan masalah perdagangan bahkan dari tahun yang lalu, harus terlebih dahulu melakukan pemastian terhadap penetapan definisi kode yang sesuai untuk dapat digunakan. Gambar berikut memperlihatkan kerangka pemikiran dari kajian ini: 61
Kajian Supply Demand Mineral TUJUAN PENELITIAN LANDASAN TEORI HIPOTESA PENELITIAN IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN PEMBUATAN MODEL HS PERSIAPAN PENELITIAN STUDI PENDAHULUAN STUDI SUPPLY CHAIN & MINERAL INFORMASI MINERAL IDENTIFIKASI DATA YANG DIPERLUKAN: DATA PRODUKSI DATA STRUKTUR INDUSTRI DATA EKSPOR IMPOR DATA KONSUMSI DALAM NEGERI IDENTIFIKASI CARA PENGUMPULAN DATA: PENGUKURAN LANGSUNG PENGUMPULAN DATA HISTORIS PENGUMPULAN DATA IDENTIFIKASI LOKASI PENELITIAN PENGAMBILAN DATA KESIMPULAN DATA YANG DIPERLUKAN REKOMENDASI IMPLEMENTASI KESIMPULAN DAN SARAN ANALISA INFORMASI: ANALISA GAP ANALISA PELUANG ANALISA COST & BENEFIT NERACA SUPPLY DEMAND BERDASAR HS CODE INDUSTRI MINERAL PENGOLAHAN DATA Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian 62
Setelah terbentuk model yang tepat dalam mempresentasikan kebijakan supply demand mineral nasional, selanjutnya dapat dilakukan analisa atas model tersebut. Tahapan akhir dari kajian ini adalah merangkum hasil penelitian yang diawali dengan tahap identifikasi dan perumusan masalah hingga melakukan analisis dan pengolahan data, berupa kesimpulan-kesimpulan yang memberikan gambaran secara keseluruhan dari obyek permasalahan yang diteliti. 3.2 Pendekatan yang Dilakukan DATA YANG DIPERLUKAN TAHAP PEMECAHAN MASALAH TEKNIK YANG DIGUNAKAN FAKTA, IDE, PENDAPAT, DAN LAIN-LAIN OBSERVASI TERHADAP GEJALA PERMASALAHAN DAN MASALAH YANG NYATA DEFINISI PERMASALAHAN YANG SEBENARNYA PERALATAN STANDAR (METODE, TEKNIK, MODEL) INFORMASI DARI SUMBER YANG DIPERLUKAN PENGEMBANGAN ALTERNATIF PENYELESAIAN BERDASARKAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMASALAHAN PENGEMBANGAN MODEL HS CODE DATA EMPIRIS CONTOH PEMILIHAN SOLUSI OPTIMAL BERDASAR ANALISA ALTERNATIF ALAT BANTU KOMPUTER DATA EMPIRIS VERIFIKASI DARI SOLUSI ATAU PENYELESAIAN OPTIMAL MELALUI IMPLEMENTASI UMPAN BALIK PEMBUATAN KENDALI YANG SESUAI DIGUNAKAN UNTUK MENDETEKSI PERUBAHAN YANG DIPENGARUHI SOLUSI Sumber: Thierauf dan Klekamp (Diolah Tim Kajian SDM) Gambar 3.2 Tahapan Pendekatan Berencanan (Thierauf dan Klekamp, 1975) 63
Pada kajian ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan berencana. Pendekatan berencana (planned approach) dapat digunakan untuk mengembangkan dan menerapkan model-model kuantitatif dalam pemecahan masalah-masalah spesifik (Thierauf dan Klekamp, 1975). Dalam pendekatan berencana akan diawali dengan pengamatan atau meneliti permasalahan. Setelah itu, metode yang dibentuk sebagai metode penyelesaian disesuaikan dengan tujuan, kebijaksanaan, batasan, serta asumsi dari alternatif solusi permasalahan yang tersedia. Pada gambar tahapan pendekatan berencana seperti Gambar 3.2 di atas, terdapat enam tahapan utama dalam menyelesaikan serta membuat solusi dari sebuah permasalahan. Dimana solusi yang diberikan oleh sebuah pendekatan berencana adalah solusi yang bersifat operasional. Keenam tahapan tersebut adalah: 1. Tahapan observasi Pada tahapan ini akan dilakukan terlebih studi geologi daerah dan pengenalan terhadap hasil bumi daerah tersebut. Setelah itu, dilakukan observasi terhadap permasalahan mengenai pemanfaatan hasil pertambangan oleh pemerintah daerah, observasi yang dilakukan tersebut berdasarkan data historis dan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan. 2. Definisi permasalahan yang sebenarnya Definisi permasalahan yang sebenarnya merupakan interaksi yang efektif dari fakta-fakta yang ditemukan di lapangan. Menentukan faktor-faktor yang akan mempengaruhi sistem atau kebijakan, tujuan, sasaran, dan batasan terhadap penyelesaian masalah mengenai pemanfaatan gas bumi. Kemudian memformulasikan permasalahan berdasarkan fakta yang ditemukan. 3. Pengembangan alternatif penyelesaian berdasar faktor yang mempengaruhi permasalahan Pada tahapan ini, analisis data yang didapatkan kemudian dikembangkan alternatif penyelesaian yang mungkin berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi. 64
4. Pemilihan penyelesaian atau solusi optimal berdasarkan analisa alternatif. Solusi-solusi bagi masalah tersebut yang telah dijabarkan satu per satu kemudian dipilih menjadi suatu solusi masalah yang optimal. 5. Verifikasi dari solusi atau penyelesaian optimal melalui tahapan implementasi. Pada tahapan ini, dibentuk penyelesaian optimum melalui tahapan implementasi, dimana penyelesaian atau solusi tersebut diuji melalui tahapan implementasi, sehingga didapatkan peubah-peubah kritis dan analisa dari hasil yang didapatkan. 6. Pembuatan kendali yang tepat dan sesuai. Pada tahapan akhir, dibuat pengendalian yang tepat dan sesuai untuk mendekati perubahan yang mungkin terjadi dan dapat mempengaruhi model penyelesaian. Dalam tahapan ini ketepatan serta kesesuaian dari formulasi permasalahan akan lengkap dengan memberikan umpan balik terhadap observasi permasalahan. 3.3 Tata Laksana Tata laksana pada penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu: 1. Identifikasi Masalah Tahapan pertama dari sebuah penelitian adalah identifikasi terhadap masalah serta faktor-faktor dan peubah-peubah yang mempengaruhi pemasalahan tersebut. Dalam hal ini yaitu mengenai aliran supply demand mineral. Identifikasi masalah yang dilakukan adalah mengenai kondisi saat ini, permasalahan dan manfaat yang mungkin timbul dari kondisi yang telah ada, dan kemungkinan peningkatan nilai tambah melalui pengembangan lebih lanjut. Kegiatan kajian yang dilakukan mulai dari inventarisasi data potensi neraca fisik mineral, rantai produksi mineral, produksi dan konsumsi per jenis mineral termasuk konsumsi domestik, ekspor dan inventarisasi data perekonomian setempat, serta analisis singkat keterkaitan industri hulu dengan industri hilir dari sektor pertambangan mineral. 65
2. Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder diperoleh melalui pencatatan yang telah dilakukan oleh Kementrian terkait, seperti Kementrian Perdagangan dan Perindustrian. Sebagai tambahan, dilengkapi dengan literatur yang didapat dari berbagai sumber. Data yang digunakan berupa data tahunan yang berhubungan dengan supply demand mineral, data jumlah hasil produksi dan datadata lainnya yang mendukung kajian ini. 3. Pengolahan Data Pada tahap ini dilakukan pengolahan data terhadap data sekunder yang telah diperoleh dari berbagai sumber. Data sekunder yang dikumpulkan tersebut berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kuantitatif akan disajikan dalam bentuk tabel dan angka, sedangkan data kualitatif akan disajikan dalam bentuk uraian data. Kegiatan kajian ini juga akan menganalisis besarnya pengaruh diwajibkannya pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri terhadap besarnya penerimaan negara dan tenaga kerja. 4. Pemilihan Model Pada tahap ini dilakukan pemilihan model kajian supply demand yang sesuai dan tepat berdasarkan permasalahan yang sedang dikaji. Agar pemaparan kajian dapat lebih terstruktur, model yang digunakan berbasis HS Code yang telah sering digunakan dalam penelusuran rules of origin. Dari neraca supply demand yang telah disusun, kita dapat membandingkannya dengan kondisi yang ingin dicapai sehingga diperoleh hasil yang terbaik dalam hal total biaya (cost) lebih rendah dan memiliki keuntungan yang lebih besar. 66
BAB IV ANALISA SUPPLY DEMAND MINERAL 4.1. Industri Pertambangan Tembaga Indonesia merupakan negara penghasil bahan baku mentah tembaga dan termasuk pemain besar di pasar Internasional. Indonesia telah memiliki industri tembaga dari hulu sampai ke hilir. Namun masih disayangkan, jumlah industrinya masih sangat sedikit. Satu diantaranya adalah PT. Smelting, yang termasuk pemain besar untuk industri tembaga di Indonesia. Seperti yang terlihat pada pohon industri tembaga dibawah ini, walaupun hampir semua industri pengolahan dan pemurnian tembaga telah dilakukan di dalam negeri namun sebagian besar tembaga di ekspor keluar negeri dalam bentuk konsentrat dan hanya 30% saja yang diolah menjadi logam (tembaga katoda) di dalam negeri (kapasitas total industri pengolahan di dalam negeri hanya 30%). Sumber: Kementerian Perindustrian Gambar 4.1 Pohon Industri Tembaga Dari gambar pohon industri tembaga diatas justru kelompok industri hulunya sudah jauh atau dalam, namun sebaliknya industri hilirnya yang belum berkembang seperti kabel, tube dan pipa. Dengan demikian produk industri hulu (Katoda tembaga) tidak diserap oleh pasar dalam negeri sendiri sehingga banyak dijual keluar negeri 67
yang belakangan ini meningkat terus seiring dengan meningkatnya kebutuhan tembaga dunia. Konsumsi tembaga dalam negeri sendiri pada tahun 2011 berada di kisaran 600.000 ton. Untuk negara yang memiliki banyak penduduk, konsumsi tembaga dalam negeri sebesar ini tergolong masih kecil. Saat ini, produksi dalam negeri baru terkonsentrasi pada produk-produk hulu, sementara umumnya permintaan dalam negeri masih kepada produk-produk hilir. Hal ini yang menyebabkan impor produk tembaga, khususnya di produkproduk hilir. Industri tembaga di Indonesia pada dasarnya telah ada dimulai dari hulu yaitu dari bijih menjadi konsentrat dalam hal ini seperti yang dibuat di Freeport Tembagapura dan Newmont Batu Hijau. Konsentrat diproses lebih lanjut menjadi Katoda tembaga (copper cathode) yang saat ini baru ada satu industri yang bergerak di sektor hulu untuk pembuatan katoda tembaga yaitu PT Smelting di Gresik. Perusahaan ini memanfaatkan bahan baku dari hasil pertambangan tembaga yang dimiliki Indonesia di Propinsi Papua yang diekplorasi oleh PT. Freeport Indonesia dan di Batu Hijau yang di eksplorasi oleh PT Newmont Nusa Tenggara. PT Smelting memiliki kapasitas desain untuk memproduksi katoda tembaga sebanyak 300.000 ton per tahun, dengan bahan baku 660.000 ton konsentrat tembaga yang dipasok dari PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara. Dalam memproses pembuatan katoda tembaga tersebut, terdapat produkproduk sampingannya yaitu; asam sulfat (600.000 ton/tahun), slag (400.000 ton/tahun), gypsum (30.000 ton/tahun) dan lumpur anoda (500 ton/tahun). Penjualan katoda tembaga PT Smelting di wilayah domestik adalah 40% dari total produksi katoda tembaga PT Smelting, sedangkan untuk sisanya sekitar 60% harus dijual ke luar negeri. Permintaan cooper cathode masih relatif rendah, dan tidak mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan karena industri hilir yang juga tidak mengalami perkembangan yang cukup berarti. PT Smelting sendiri berharap agar pemerintah dapat mendorong perkembangan industri hilir berbasis tembaga. Tentu saja dengan perkembangan industri hilir pengguna tembaga ini, maka permintaan pasar domestik akan cooper cathode juga akan meningkat. Terkait dengan produksi cooper cathode tersebut, maka kelebihan produksi yang tidak terserap di pasar domestik akan diekspor ke negara lain. 68
Lebih lanjut, dengan kondisi penyerapan pasar domestik yang rendah tersebut maka ekspor produk hulu akan terus mengalami peningkatan dan Indonesia akan kehilangan nilai tambah karena nilai tambahnya akan dinikmati oleh pihak luar negeri. Untuk itu kedalaman struktur industri tembaga diarahkan ke industri hilirnya, agar terciptakan peluang pasar industri hilir yang kompetitif dan dapat diekspor sebagai produk jadi dan nilai tambahnya dapat dinikmati oleh Indonesia. Tube dan pipa tembaga pada dasarnya banyak digunakan di indutri elektronika seperti Air Conditioning (AC), untuk itu industri penggunanya seperti industri AC tersebut harus terus dikembangkan. Demikian juga dengan pabrik kabel, daya serap atas produk katoda hingga saat ini masih rendah (40%).Kondisi ini kiranya perlu ditelaah lebih lanjut, apakah pemenuhan kebutuhan kabel dalam negeri tersebut dipenuhi dari impor. Fluktuasi ekspor impor produk tembaga tidak bisa lepas dari perkembangan pasar dunia. Hingga tahun 2006, Jepang masih merupakan negara terdepan dalam mengimpor tembaga dunia, mencapai 1.327 MT diikuti oleh China, India dan Korea Selatan. Setelah tahun 2006 negara pengimpor utama tembaga diambih alih oleh China. Di awal tahun 2007, permintaan tembaga dunia meningkat dan bahkan melampaui volume produksinya. Pemicunya adalah China yang mengimpor banyak logam tersebut menjelang Olimpiade. Permintaan tersebut melampaui kapasitas produksi yang mencapai 39.000 metrik ton pada bulan Januari dan 51.000 metrik ton pada bulan Februari. Hal ini juga berpengaruh terhadap peningkatan ekspor produk tembaga dari Indonesia. Sementara itu, permintaan tembaga tahun 2009 menurun sebesar 29% menjadi 18 juta MT dikarenakan adanya krisis global yang dipicu dari Amerika. yang cukup mengejutkan khusus di China, permintaan tembaga selama 2009 justru naik 38 persen. China pada 2009 membeli tembaga sebanyak 36 persen dari konsumsi dunia. Pada tahun 2010, konsumsi tembaga dunia tumbuh 5,4 persen, dimana China diperkirakan membeli hampir 40 persen produksi dunia. Permintaan China masih kuat setelah pertumbuhan ekonomi pada 2009 dan 2010 melonjak meninggalkan negara lainnya yang dilanda krisis global. 69
Namun begitu, pada tahun 2011 dan 2012 terjadi penurunan signifikan dari ekspor tembaga Indonesia. Hal ini dikarenakan melambatnya pertumbuhan perekonomian di negara tujuan ekspor yaitu Jepang, India, Korea Selatan, China dan Spanyol. Turunnya ekspor ke Jepang juga disebabkan karena bencana gempa yang terjadi di negara tersebut pada awal 2011. Proyeksi untuk 2013, diharapkan terjadi peningkatan ekspor produk tembaga ke negaranegara berkembang di Asia yang secara bertahap terus memerlukan upaya intensif dalam penggunaan tembaga untuk konstruksi, pembangunan infrastruktur energi dan aktivitas industri lainnya. Berdasarkan HS code dari struktur industri tembaga, maka kita dapat memetakan aliran supply demand tembaga beserta data tahun 2011, seperti yang terlihat pada tabel 4.1 dan gambar 4.2. Neraca supply demand tembaga tersebut dapat dianalisa sebagai berikut: 1. Copper ores and concentrates Pada tahun 2011, ekspor bijih dan konsentrat tembaga sebesar 1.471.420 ton.terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih dan konsentrat tembaga yang semestinya dapat diolah di dalam negeri. Potensi nilai tambah dapat dihitung dari selisih antara nilai impor produk tembaga dasar dengan nilai ekspor bijih dan konsentrat tembaga, yaitu sebesar USD 12,16/Kg USD 3,19/Kg = USD 8,97/Kg. Maka dapat dihitung opportunity loss yang terjadi pada tahun 2011, yaitu sebesar USD 8.970/ton x 1.471.420 ton = USD 13.198.637.400,-. Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah ini, tentunya terdapat potensi penerimaan negara dari pajak penghasilan, cukai ekspor produk tembaga dasar, retribusi daerah, dan lain sebagainya bila proses produksi bijih dan konsentrat tembaga yang di ekspor dilakukan di dalam negeri. Sebagai tambahan, terdapat benefit dari penyerapan tenaga kerja melalui industri pengolahan tembaga dasar. Berdasarkan data statistik, industri tembaga dasar mampu menyerap 1 orang tenaga kerja per 45 ton produksi. Artinya, jika terjadi peningkatan nilai tambah dari 1.471.420 ton tembaga yang akan diolah di dalam negeri akan menyerap tenaga kerja sebanyak 32.600 orang. 70
1 2 Tabel 4.1 Neraca Supply Demand Tembaga 0.0 Produk Tembaga 0.0.0 0.0.0.0 Pasokan Mineral Satuan Ton Tembaga Dasar Ribu USD Ton Tembaga Kasar/Unwrought Produk Tembaga Batangan Produk Tembaga Lembaran Produk Tembaga lainnya Ingot Tembaga (Copper Catode) Ribu USD Ton Tembaga Kasar Lainnya Ribu USD Ton Bar/Rod dari Tembaga murni Ribu USD Ton Kawat Tembaga Ribu USD Ton Bar/Rod dari Tembaga lainnya, Profile, Pipe/Tube Ribu USD Ton Tembaga Plate/Sheet Ribu USD Ton Tembaga Foil Ribu USD Ton Skrap Tembaga Ribu USD Ton Produk Tembaga lainnya Ribu USD Ton TOTAL Ribu USD a. Produksi 879,696 N/A 281,718 1,168,897 1,816 1,375,466 62,412 89,764 96,504 889,559 1,923 7,155 1,419 6,317 132 43,112 42,634 216,225 1,385 7,713 1,369,639 3,804,208 b. Impor 295 3,588 66,067 610,992 6,306 48,688 3,848 29,341 14,416 104,383 17,458 115,318 31,840 156,572 8,742 64,741 17,075 134,800 5,308 50,258 171,355 1,318,681 Konsumsi Mineral a. Konsumsi Dalam Negeri 227,811 3,588 217,615 610,992 6,306 48,688 56,506 29,341 14,416 104,383 17,458 115,318 31,840 156,572 8,742 64,741 17,075 134,800 5,308 50,258 603,077 1,318,681 b. Ekspor 652,180 N/A 130,170 1,168,897 1,816 1,375,466 9,754 89,764 96,504 889,559 1,923 7,155 1,419 6,317 132 43,112 42,634 216,225 1,385 7,713 937,917 3,804,208 Balance 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Sumber: Kementerian Perindustrian 71
Tembaga Dasar Produksi: 879.696 Ton Impor: 12,16 USD/Kg Konsumsi DN: 227.811 Ton Ekspor: Tembaga Kasar/Unwrought Produksi: 283.534 Ton Impor: 9,12 USD/Kg Konsumsi DN: 223.921 Ton Ekspor: 19,28 USD/Kg Ingot Tembaga Produksi: 281.718 Ton Impor: 9,25 USD/Kg Konsumsi DN: 217.615 Ton Ekspor: 8,98 USD/Kg Tembaga Kasar Lainnya Produksi: 1.816 Ton Impor: 7,72 USD/Kg Konsumsi DN: 6.306 Ton Ekspor: 757,42 USD/Kg Bar/Rod dari Tembaga murni Produksi: 62.412 Ton Impor: 7,63 USD/Kg Konsumsi DN:56.506 Ton Ekspor: 9,20 USD/Kg Copper Ores & Concentrates Ekspor: 1.471.420 Ton Impor: - Konsumsi DN: 1.369.639 Ton Nilai Ekspor: 3,19 USD/Kg Produk Tembaga Produksi: 1.369.639 Ton Impor: 7,7 USD/Kg Konsumsi DN: 603.077 Ton Ekspor: 13,31 USD/Kg Produk Tembaga Batangan Produksi: 160.839 Ton Impor 6,97 USD/Kg Konsumsi DN: 88.380 Ton Ekspor: 9,12 USD/Kg Kawat Tembaga Produksi: 96.504 Ton Impor: 7,24 USD/Kg Konsumsi DN: 14.416 Ton Ekspor: 9,22 USD/Kg Bar/Rod dari Tembaga lainnya, Profile, Pipe/Tube Produksi: 1.923 Ton Impor: 6,61 USD/Kg Konsumsi DN: 17.458 Ton Ekspor: 3,72 USD/Kg Produk Tembaga Lembaran Produksi: 1.551 Ton Impor: 5,45 USD/Kg Konsumsi DN: 40.582 Ton Ekspor: 31,87 USD/Kg Tembaga Plate/Sheet Produksi: 1.419 Ton Impor: 4,92 USD/Kg Konsumsi DN: 31.840 Ton Ekspor: 4,45 USD/Kg Tembaga Foil Produksi: 132 Ton Impor: 7,41 USD/Kg Konsumsi DN: 8.742 Ton Ekspor: 326,61 USD/Kg Produk Tembaga lainnya Produksi: 44.019 Ton Impor: 8,27 USD/Kg Konsumsi DN: 22.383 Ton Ekspor: 5,09 USD/Kg Skrap Tembaga Produksi: 42.634 Ton Impor: 7,89 USD/Kg Konsumsi DN: 17.075 Ton Ekspor: 5,07 USD/Kg Produk Tembaga lainnya Produksi: 1.385 Ton Impor: 9,47 USD/Kg Konsumsi DN: 5.308 Ton Ekspor: 5,57 USD/Kg Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.2 Neraca Supply Demand Tembaga 72
2. Tembaga dasar. Dari perbandingan data ekspor dan impor tembaga dasar, harga impor berada di kisaran USD 12,16/kg dan masih lebih besar dari harga ekspor pada tahun 2010 (USD 3,14/kg) dan kecenderungannya dari tahun 2007 harga ekspor terus menurun. Grafik fluktuasi ekspor dan impor dapat dilihat pada gambar berikut. Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.3 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Dasar (Kg) Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.4 F luktuasi Impor & Ekspor Tembaga Dasar (US$) 73
Dari data yang ada terlihat bahwa sebagian besar produk tembaga dasar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Secara keseluruhan, nilai transaksi ekspor impor tembaga dasar negatif, artinya nilai ekspor lebih rendah dari nilai impor. Adanya impor tembaga dasar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, hal ini dikarenakan tembaga dasar lebih banyak diproses di dalam negeri menjadi batang kawat tembaga dan katoda tembaga untuk peningkatan nilai tambah. 3. Tembaga kasar / unwrought. Produk yang termasuk dalam HS Code tembaga kasar adalah ingot tembaga (copper catode) dan tembaga kasar lainnya. Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk tembaga kasar, harga impor (USD 9,12/kg) masih jauh lebih rendah dari harga ekspor (USD 19,28/kg).Grafik fluktuasi ekspor dan impor dapat dilihat pada gambar berikut. Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.5 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Unwrought (Kg) 74
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.6 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Unwrought (US$) Dari data terlihat bahwa jumlah imporpun jauh lebih sedikit dibanding jumlah ekspor sehingga kebutuhan dalam negeri diasumsikan semestinya diisi oleh produk lokal. Secara keseluruhan, nilai transaksi ekspor impor tembaga kasar positif, artinya nilai ekspor lebih tinggi dari nilai impor. Hal ini dikarenakan telah terjadi peningkatan nilai tambah dari tembaga kasar. 4. Tembaga batangan. Produk yang termasuk dalam HS Code tembaga batangan adalah bar/rod dari tembaga murni; kawat tembaga; dan bar/rod, profile, pipe/ tube dari tembaga lainnya. Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk tembaga batangan, harga impor (USD 6,97/kg) masih jauh lebih rendah dari harga ekspor (USD 9,12/Kg). Grafik fluktuasi ekspor dan impor dapat dilihat pada gambar berikut: 75
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.7 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Batangan (Kg) Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.8 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Batangan (US$) 76
Dari data terlihat bahwa jumlah impor pun jauh lebih sedikit dibanding jumlah ekspor sehingga kebutuhan dalam negeri diasumsikan harusnya diisi oleh produk lokal. Secara keseluruhan, nilai transaksi ekspor impor tembaga batangan positif, artinya nilai ekspor lebih tinggi dari nilai impor. Hal ini dikarenakan telah terjadi peningkatan nilai tambah dari tembaga batangan. 5. Tembaga lembaran. Produk yang termasuk dalam HS Code tembaga lembaran adalah tembaga plate/sheetdan tembaga foil. Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk tembaga lembaran, harga impor (USD 5,45/ kg) masih jauh lebih rendah dari harga ekspor (USD 31,87/Kg).Grafik fluktuasi ekspor dan impor dapat dilihat pada gambar berikut: Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.9 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Lembaran (Kg) 77
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.10 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Lembaran (US$) Sebaliknya, dari data terlihat bahwa jumlah impor jauh lebih banyak dibanding jumlah ekspor.hal ini dapat diartikan bahwa nilai tambah ada di dalam negeri, tapi pemenuhan kebutuhan dalam negeri diisi dari impor. Untuk itu, perlu dibuat industri yang memasok kebutuhan bahan baku bagi proses produksi tembaga lembaran, khususnya produk tembaga plate/sheet untuk mengurangi jumlah impor dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri. 6. Tembaga lainnya. Produk yang termasuk dalam HS Code tembaga lainnya adalah skrap tembaga dan produk tembaga lainnya. Grafik fluktuasi ekspor dan impor dapat dilihat pada gambar berikut: 78
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.11 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Lainnya (Kg) Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.12 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Lainnya (US$) 79
Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk tembaga lainnya, terlihat bahwa harga impor (USD 8,27/kg) masih lebih tinggi dari harga ekspor (USD 5,09/Kg). Sebaliknya, jumlah impor lebih kecil dibanding jumlah ekspor sehingga kebutuhan dalam negeri di asumsikan harusnya diisi oleh produk lokal. Meskipun tidak terjadi peningkatan nilai tambah, nilai transaksi ekspor impor tembaga lainnya positif, artinya nilai ekspor lebih tinggi dari nilai impor. Hal ini dikarenakan secara kuantitas jumlah ekspor jauh lebih tinggi dibanding jumlah impor. Sulit untuk meningkatkan nilai tambah pada produk ini karena sebagian besar ekspor berbentuk skrap. Jika kita lihat data ekspor pada analisa daya saing untuk tembaga, nilai tambah yang signifikan adalah dari copper cathodae menjadi plate yaitu dari harga USD 6.321 menjadi USD 12.695/satuan sedangkan menjadi kawat dengan harga USD 6.772/satuan. Hal ini dapat diartikan dari katoda tembaga yang dihasilkan secara bisnis lebih banyak menguntungkan dijadikan plate tembaga dibandingkan dijadikan kawat tembaga, apalagi untuk tujuan ekspor. Dari uraian diatas dapat dilihat ekspor hasil tambang terutama dalam bentuk bijih pada saat yang sama terjadi impor alloy dengan volume besar dan belum ada industri pengolahan anode slimes. Lebih lanjut, pada industri belum ada industri ekstraksi tembaga dengan elektro winning. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, konsentrat tembaga (Cu) tidak hanya mengandung tembaga, melainkan juga mineral ikutan seperti emas, perak dan sulfur. Di samping itu juga terdapat unsur-unsur kimia lain walaupun dalam jumlah yang tidak signifikan seperti Cd, Se, Bi, dan lain-lain tetapi harganya sangat mahal. Dengan mengekspor secara langsung komoditi primer baik berupa bijih ataupun konsentrat, nilai tambah dari hasil pengolahan bijih ataupun konsentrat tembaga hanya dinikmati oleh negara lain. Nilai tambah dapat ditingkatkan dengan cara mengolah konsentrat di dalam negeri, yaitu dengan membangun pabrik peleburan dan pemurnian tembaga serta pembangunan industri hilirnya. Oleh karena itu, pengolahan hasil-hasil pertambangan di dalam negeri untuk mendorong peningkatan nilai tambah sudah menjadi sebuah tuntutan. Mahalnya investasi dapat disiasati dengan inovasi teknologi. 80
Ditinjau dari sisi resiko, investasi dalam pembangunan smelter tembaga merupakan usaha yang sama sekali berbeda dengan investasi dalam industri pertambangan. Jika investasi pada industri pertambangan penuh dengan resiko, maka pada industri smelter sudah sangat jelas objek bahan baku dan produk yang dihasilkan. Industri smelter pengolahan hasil pertambangan dapat menjadi mesin uang yang efektif. Cukup banyak metoda pengolahan hasil tambang di Cina yang dapat diterapkan di Indonesia dengan biaya investasi yang jauh lebih murah. Pembangunan industri smelter di Indonesia memang membutuhkan investasi dalan jumlah besar, padat teknologi dan membutuhkan perencanaan yang matang & integral. Sebuah smelter berkapasitas 200 ribu ton konsentrat per tahun memerlukan biaya investasi sedikitnya USD 700 juta. Beberapa tahun belakangan ini, perkembangan teknologi baru smelter telah dapat menarik investor baru untuk membangun smelter di Indonesia. Rencana pembangunan smelter di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur merupakan salah satu contohnya. Diharapkan dengan mengadopsi berbagai teknologi smelter akan lebih baik daripada menjual konsentrat tembaga. Masalah yang mungkin akan muncul adalah kepastian pasokan bahan baku ke smelter. Bahan baku jelas merupakan kebutuhan utama, sebab tanpa adanya kepastian pasokan bahan baku hasil penambangan, industri smelter akan mati. Dengan adanya Undang- Undang Minerba No 4 Tahun 2009, perusahaan-perusahaan pertambangan dipastikan akan mengirimkan hasil tambangnya ke smelter di dalam negeri, sehingga persoalan bahan baku dapat teratasi. Standar kualitas pengolahan tembaga juga telah ditentukan dalam suatu regulasi untuk menjamin kualitas produk. Smelter yang dibangun nantinya akan menjadi rujukan dari pertambangan skala kecil dan pertambangan rakyat. PT. Aneka Tambang Tbk (Antam) berencana untuk berinvestasi dalam industri tembaga dan sejumlah lokasi sudah diincar. PT Antam berencana membangun pabrik pengolahan (smelter) tembaga yang 81
terletak di Halmahera, Maluku Utara dengan nilai investasi US$ 1,2 miliar. Langkah awal untuk mewujudkan pendirian pabrik tersebut, PT Antam berencana menggalang kerjasama kemitraan dengan China. Smelter tembaga yang hendak dibangun PT Antam di Halmahera, diharapkan dapat memproduksi 20.000-27.000 ton tembaga per tahun. Pabrik itu ditargetkan bisa mulai beroperasi pada 2014. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa industri hilir juga akan bertumbuh dengan pesat, menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, dan menggerakkan roda perekonomian dengan tumbuhnya industri hilir dan industri tersier. Sebagai gambaran, peleburan tembaga dengan kapasitas 200.000 ton per tahun membutuhkan konsentrat sekitar 660.000 ton. Dari sini akan dihasilkan asam sulfat sebanyak 650.000 ton, yang dapat mendukung produksi berbagai pupuk khususnya pupuk majemuk (NPK) sebanyak 1,2 juta ton. Produk samping lain seperti slag dan gypsum dibutuhkan oleh industri semen. 4.1.1 Peluang Industri Tembaga Indonesia memiliki sumber daya alam yang lebih dari cukup untuk bahan baku industri tembaga; Sudah tersedianya teknologi pengolahan tembaga yang cukup memadai dan didukung oleh adanya investor luar negeri yang membantu memperkuat teknologi Indonesia dalam pengolahan baja, walaupun masih hanya untuk beberapa pemain besar di industri tembaga ini, seperti PT. Smelting di Gresik, Jawa Timur; Terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih dan konsentrat tembaga, yaitu sebesar USD 13.198.637.400,- per tahun. Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah ini, tentunya terdapat potensi penerimaan negara dari pajak penghasilan, cukai ekspor produk tembaga dasar, retribusi daerah, dan lain sebagainya bila proses produksi bijih dan konsentrat tembaga yang diekspor dilakukan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri; Terdapat benefit dari penyerapan tenaga kerja melalui industri pengolahan tembaga dasar sebanyak 32.600 orang. 82
4.1.2 Tantangan Industri Tembaga Pada saat ini, Kapasitas produksi konsentrat tembaga milik PT Freeport Indonesia mencapai 1-1,2 juta ton pertahun. Namun sayang, produksi tersebut belum sepenuhnya mampu diserap industri di dalam negeri. Industri lokal hanya mampu mengolah 300.000-500.000 ton produksi konsentrat tembaga dari PT Freeport. Alhasil, perusahaan ini masih mengekspor sebagian besar hasil produksinya ke negara lain. Rendahnya penyerapan tersebut karena kapasitas produksi pabrik pengolahan tembaga di dalam negeri yang masih sangat kecil. Saat ini, PT Freeport hanya memasok tembaga kepada PT. Smelting Gresik di Gresik- Jawa Timur. Produksi perharinya 5.000 ton dan 30% produksinya untuk konsumsi di dalam negeri. Sementara itu, perihal adanya perusahaan baru yang akan melakukan negosiasi untuk mengolah konsentrat tembaga milik PT Freeport, sampai saat ini belum diketahui berapa kapasitas yang terpasangnya. Produksi smelter kosentrat tembaga di dunia akan turun sampai 2013. Hal ini lantaran kekurangan pasokan kosentrat. Sehingga, perusahaan yang ingin berinvestasi pada industri pengolahan dan pemurnian tembaga itu harus melakukan studi lebih mendalam. Pasokan konsentrat akan berkurang, banyak smelting di dunia ini kekurangan. Kebutuhan katoda tembaga di dalam negeri ± 150.000 ton, sebagian besar diserap oleh industri kawat dan kabel tembaga. Sedangkan kemampuan produksi industri katoda tembaga di dalam negeri mencapai 300.000 ton, produksi tersebut melebihi dari kebutuhan di dalam negeri yaitu sekitar 200.000 ton. Kelebihan produksi harus diupayakan diekspor ke negara-negara kawasan Asia Tenggara terutama ke Thailand, Malaysia, Vietnam dan Taiwan. Kebutuhan kathoda tembaga di dalam negeri dapat dipenuhi hanya oleh PT Smelting Gresik, sedangkan kebijakan tarif impor tembaga dalam skema FTA (Free Trade Area) 0%, hal ini menjadikan prospek untuk pendirian industri baru smelter di Indonesia tidak menguntungkan dan tidak kompetitif bila dijual di pasar domestik. Selama ini belum ada kebijakan khusus untuk industri tembaga 83
di dalam negeri, agar produk dalam negeri dapat kompetitif baik untuk pasar lokal maupun global maka diperlukan berbagai upaya yang diharapkan dari pemerintah antara lain: reformasi pajak, penyediaan energi termasuk pasokan gas yang stabil, berbagai insentive seperti kebijakan tata niaga, safe guard, stimulus fiskal dan tax holiday/ allowance dan lain-lain. Adapun beberapa poin lain terkait dengan tantangan yang dihadapi industri tembaga di Indonesia dapat dijelaskan sebagai berikut: Kurangnya pasokan listrik untuk industri; Kurangnya infrastruktur khususnya untuk pembangunan industri hulu tembaga; Kebijakan pemerintah dalam mendukung industri tembaga masih sangat minim, selain itu perencanaan pengembangan industri baja masih belum dilaksanakan; Pasar tembaga dalam negeri masih sangat minim sehingga bahan baku tembaga yang ada saat ini sebagian besar masih diimpor; Pada saat ini, industri hulu tembaga masih dikelola oleh pihak asing; Pabrik peleburan tidak didukung oleh teknologi dan pengalaman yang memadai, berpotensi mencemari lingkungan di sekitarnya; Pemasaran katoda tembaga di dalam negeri masih terbatas, sejumlah besar asam sulfat dipasar domestik akan kelebihan suplai; FTA (Free Trade Area) tarif bea impor turun menjadi 0%, produk katoda dalam negeri menjadi tidak kompetitif dijual didalam negeri. 4.2. Industri Pertambangan Nikel Secara umum pohon industri nikel lebih baik dari pohon industri lainnya. Hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa industri pengolahan dan pemurnian sudah sampai nickel matte dan ferronickel. Walaupun demikian, bijih nikel masih diekspor keluar negeri terutama yang berkadar rendah. Pada saat ini sudah ada teknologi pengolahan dan pemurnian untuk nikel berkadar rendah yang dapat menjadi peluang untuk mengolah bijih nikel. 84
Sumber: Kementerian Perindustrian Gambar 4.13 Pohon Industri Nikel Dilihat dari gambar pohon industri diatas, menunjukkan bahwa di Indonesia masih belum ada dan atau belum dikembangkannya beberapa industri hulunya seperti HPAL serta Slab stainless steel, hilirnya HRC stainless steel. Hal ini yang menyebabkan banyaknya impor di sisi hilir industri produk nikel, terutama untuk stainless steel. Di sisi lain, neraca perdagangan bahan mentah dan bahan setengah jadi hasil pertambangan di atas mengindikasikan rendahnya tingkat pengolahan hasil tambang. Hal ini karena hasil tambang di ekspor dalam bentuk bahan mentah sementara nilai impor bahan setengah jadi lebih tinggi dari ekspor bahan mentahnya sendiri.jika nikel dijual dalam bentuk bijih maka hanya dihargai senilai $25/ton. Namun, jika diolah menjadi FeNi (Ferro Nickel) maka nilai jualnya akan menjadi $2.5074/ton dan jika diolah menjadi bahan untuk stainless steel maka nilainya akan menjadi $2.627/ton. Besarnya jumlah penduduk di Indonesia menyebabkan nilai konsumsi per kapita produk nikel masih sangat rendah. Perkembangan konsumsi produk nikel dalam negeri dan ekspor selalu fluktuatif. Karena adanya krisis global pada tahun 2009, menyebabkan permintaan produk nikel dalam negeri maupun dunia menurun drastis. Penurunan terjadi antara periode 2007-2009. Meskipun di China pada 85
periode ini terjadi peningkatan konsumsi produk nikel, namun tidak terlalu berdampak bagi ekspor dari Indonesia karena pangsa pasar utama produk nikel dari Indonesia adalah Jepang. Saat pemulihan ekonomi dunia di tahun 2010 membawa dampak positif bagi ekspor nikel dari Indonesia yang mengalami sedikit kenaikan di tahun tersebut. Namun begitu, bencana gempa yang terjadi di Jepang pada awal 2011 berdampak pada menurunnya kembali volume ekspor produk nikel dari Indonesia. Untuk itu, produk nikel Indonesia mulai penetrasi ke pasar China yang terus menunjukkan peningkatan sejak tahun 2007, terutama dari sisi hulu yaitu volume ekspor bijih dan konsentrat nikel. Di sisi lain, peningkatan volume ekspor bijih dan konsentrat nikel ternyata juga dibarengi dengan peningkatan volume impor di sisi hilir yaitu produk stainless steel. Hal ini disebabkan adanya missing link antara sektor industri hulu dengan sektor industri hilir nikel. Untuk memudahkan kajian, analisa dilakukan berdasarkan perspektif nilai tambah dengan nilai dan volume ekspor impor menggunakan acuan aliran supply demand. Berdasarkan HS code dari struktur industri nikel, maka kita dapat memetakan aliran supply demand nikel beserta data tahun 2011, seperti yang terlihat pada tabel 4.2 dan gambar 4.14 berikut ini: 86
Tabel 4.2 Neraca Supply Demand Nikel 0.0 Nickel Product 0.0.0 Intermediate product of nickel metallurgy 0.0.0.0 Nickel mattes Ferro Nickel Satuan Ton Ribu USD Ton Ribu USD Ton Nickel Unwrought Nickel, not alloyed Ribu USD Ton Nickel alloys Ribu USD Ton Nickel powders and flakes Ribu USD Ton Produk Nickel Batangan Bars, rods & profiles of nickel Ribu USD Ton Wire of nickel Ribu USD Ton Produk Nickel Lembaran Plates, sheets, strip & foil, not alloyed Ribu USD Ton Plates, sheets, strip & foil alloys Ribu USD Ton Tubes and pipes of nickel Nickel tubes Produk Nickel lainnya Ribu USD Ton Tube or pipe fittings Ribu USD Ton Cloth, grill and netting, of nickel wire Ribu USD Ton Other Nickel products Ribu USD Ton Nickel waste and scrap Ribu USD Ton TOTAL Ribu USD 1 Pasokan Mineral a. Produksi 82,217 1,209,937 78,838 470,121 0 0 0 3 89 8 0 0 2 30 0 0 0 0 4 26 1 10 1 10 31 2,377 790 5,574 161,973 1,688,096 b. Impor 0 0 47 1,129 609 10,804 4 30 29 722 31 979 468 8,763 49 1,414 389 9,262 51 2,392 284 1,012 31 915 757 11,401 2,749 48,823 2 Konsumsi Mineral a. Konsumsi Dalam Negeri 0 0 47 1,129 609 10,804 4 30 29 722 31 979 468 8,763 49 1,414 389 9,262 51 2,392 284 1,012 31 915 757 11,401 0 0 2,749 48,823 b. Ekspor 82,217 1,209,937 78,838 470,121 0 0 0 3 89 8 0 0 2 30 0 0 4 26 1 10 1 10 31 2,377 790 5,574 161,973 1,688,096 Balance 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM 87
Bloom, Billet & Ingot SS Produksi: 1.278 Ton Impor: 4,58 USD/Kg Konsumsi DN:5.644 Ton Ekspor: 0,88 USD/Kg Nickel mattes Produksi: 82.217 Ton Impor: - Konsumsi DN: - Ekspor: 14,72 USD/Kg Intermediate product of nickel metallurgy Produksi: 161.055 Ton Impor: 24,02 USD/Kg Konsumsi DN: 47 Ton Ekspor: 10,43 USD/Kg Oxide sinters & oth Produksi: - Impor: - Konsumsi DN: - Ekspor: - Ferro Nickel Produksi: 78.838 Ton Impor: 24,02 USD/Kg Konsumsi DN: 47 Ton Ekspor: 5,96 USD/Kg Nickel Ores & Concentrates Ekspor: 40.792.165 Ton Impor: - Konsumsi DN: 161.973 Ton Nilai Ekspor: 0,04 USD/Kg Produk Nickel Produksi: 161.973 Ton Impor: 17,76 USD/Kg Konsumsi DN: 2.749 Ton Ekspor: 10,42 USD/Kg Nickel Unwrought Produksi: 0,072 Ton Impor: 17,67 USD/Kg Konsumsi DN: 703 Ton Ekspor: 41,67 USD/Kg Nickel powders and flakes Produksi: 89 Ton Impor: 24,90 USD/Kg Konsumsi DN: 29 Ton Ekspor: 0,09 USD/Kg Produk Nickel Batangan Produksi: 2 Ton Impor: 19,52 USD/Kg Konsumsi DN: 499 Ton Ekspor: 14,99 USD/Kg Nickel, not alloyed Produksi: - Impor: 17,74 USD/Kg Konsumsi DN: 609 Ton Ekspor: - Nickel alloys Produksi: 0,072 Ton Impor: 7,50 USD/Kg Konsumsi DN: 4 Ton Ekspor: 41,67 USD/Kg Bars, rods & profiles of nickel Produksi: 0,002 Ton Impor: 31,58 USD/Kg Konsumsi DN: 31 Ton Ekspor: 7 USD/Kg Wire of nickel Produksi: 2 Ton Impor: 18,72 USD/Kg Konsumsi DN: 468 Ton Ekspor: 15 USD/Kg Produk Nickel Lembaran Produksi: 0,031 Ton Impor: 24,37 USD/Kg Konsumsi DN: 438 Ton Ekspor: 5,74 USD/Kg Plates, sheets, strip & foil, not alloyed Produksi: - Impor: 28,86 USD/Kg Konsumsi DN: 49 Ton Ekspor: - Plates, sheets, strip & foil alloys Produksi: 0,031 Ton Impor: 23,81 USD/Kg Konsumsi DN: 389 Ton Ekspor: 5,74 USD/Kg Nickel tubes Produksi: 4,53 Ton Impor: 10,16 USD/Kg Konsumsi DN: 335 Ton Ekspor: 7,95 USD/Kg Tubes and pipes of nickel Produksi: 4 Ton Impor: 46,9 USD/Kg Konsumsi DN: 51 Ton Ekspor: 6,5 USD/Kg Tube or pipe fittings Produksi: 0,53 Ton Impor: 3,56 USD/Kg Konsumsi DN: 284 Ton Ekspor: 18,87 USD/Kg Nickel waste and scrap Produksi: 790 Ton Impor: - Konsumsi DN: - Ekspor: 7,06 USD/Kg Produk Nickel lainnya Produksi: 32 Ton Impor: 15,63 USD/Kg Konsumsi DN: 788 Ton Ekspor: 74,59 USD/Kg Cloth, grill and netting, of nickel wire Produksi: 1 Ton Impor: 29,52 USD/Kg Konsumsi DN: 31 Ton Ekspor: 10 USD/Kg Other Nickel products Produksi: 31 Ton Impor: 15,06 USD/Kg Konsumsi DN: 757 Ton Ekspor: 76,68 USD/Kg Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Neraca supply demand Gambar nikel 4.14 Neraca tersebut Supply dapat Demand dianalisa Nikel sebagai berikut: 88
1. Nickel ores and concentrates Pada tahun 2011, ekspor bijih dan konsentrat nikel sebesar 40.792.165 ton.terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih dan konsentrat nikel yang semestinya dapat diolah di dalam negeri. Potensi nilai tambah dapat dihitung dari selisih antara nilai ekspor produk ferro nickel dengan nilai ekspor bijih dan konsentrat nikel, yaitu sebesar USD 5,96/Kg USD 0,04/Kg = USD 5,92/Kg. Maka dapat dihitung opportunity loss yang terjadi pada tahun 2011, yaitu sebesar USD 5.920/ton x 40.792.165 ton = USD 241.489.616.800,-. Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah ini, tentunya terdapat potensi penerimaan negara dari pajak penghasilan, cukai ekspor produk ferro nickel, retribusi daerah, dan lain sebagainya bila proses produksi bijih dan konsentrat nikel yang diekspor dilakukan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri. Sebagai tambahan, terdapat benefit dari penyerapan tenaga kerja melalui industri pengolahan bijih dan konsentrat nikel. Berdasarkan data statistik, industri ferro nickel mampu menyerap 1 orang tenaga kerja per 23 ton produksi. Artinya, jika terjadi peningkatan nilai tambah dari 40.792.165 ton nikel yang akan diolah di dalam negeri akan menyerap tenaga kerja sebanyak 1.700.000 orang. Berikut adalah grafik fluktuasi ekspor dan impor untuk produk logam nikel: Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.15 Fluktuasi Impor & Ekspor Produk Logam Nikel (Kg) 89
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.16 Fluktuasi Impor & Ekspor Produk Logam Nikel (US$) 2. Intermediate product of nickel metallurgy. Dari perbandingan data ekspor dan impor pada tahun 2011 untuk intermediate product sebagaimana yang telah ditampilkan pada bab 2, harga impor berada di kisaran USD 24,02/kg dan masih jauh lebih tinggi dari harga ekspor (USD 10,43/kg). Sebaliknya, jumlah impor jauh lebih kecil dibanding jumlah ekspor sehingga dapat dikatakan bahwa hasil proses produksi difokuskan untuk ekspor dan bukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Meskipun tidak terjadi peningkatan nilai tambah yang signifikan, nilai transaksi ekspor impor produk nickel matte dan ferro nickel positif, artinya nilai ekspor lebih tinggi dari nilai impor.hal ini dikarenakan secara kuantitas jumlah ekspor jauh lebih tinggi dibanding jumlah impor. Untuk itu, perlu dibuat industri yang melakukan proses lebih lanjut terhadap nickel matte dan ferro nickel di Indonesia agar dapat terjadi peningkatan nilai tambah yang signifikan serta untuk memajukan industri dalam negeri. 3. Nickel unwrought Produk yang termasuk dalam HS Code nickel unwrought adalah nickel alloys dan not alloyed nickel. Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk nickel unwrought, harga impor (USD 17,67/kg) masih jauh lebih rendah dari harga ekspor (USD 41,67/kg). Jumlah impor pun jauh lebih sedikit dibanding jumlah ekspor sehingga dapat 90
diasumsikan bahwa bahan baku untuk nickel unwrought diperoleh dari pasar domestik dan kebutuhan dalam negeri harusnya diisi oleh produk lokal. Secara keseluruhan, nilai transaksi ekspor impor nickel unwrought positif, artinya nilai ekspor lebih tinggi dari nilai impor. Hal ini dikarenakan telah terjadi peningkatan nilai tambah dari nickel unwrought. 4. Nickel powders and flakes Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk nickel powders and flakes, harga impor (USD 24,9/kg) jauh lebih tinggi dari harga ekspor (USD 0,09/Kg). Sebaliknya, jumlah impor lebih sedikit dibanding jumlah ekspor sehingga kebutuhan dalam negeri diasumsikan harusnya diisi oleh produk lokal. Karena tidak terjadi proses peningkatan nilai tambah, nilai transaksi ekspor impor nickel powders and flakes negatif yang disebabkan oleh nilai ekspor jauh lebih rendah dari nilai impor. Padahal secara kuantitas jumlah ekspor lebih tinggi dibanding jumlah impor. Untuk itu, perlu dibuat industri yang melakukan proses lebih lanjut terhadap nickel powders and flakes di Indonesia agar dapat terjadi peningkatan nilai tambah yang signifikan serta untuk memajukan industri dalam negeri. 5. Produk nikel batangan Produk yang termasuk dalam HS Code nikel batangan adalah bars, rods & profiles of nickel dan wire of nickel. Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk nikel batangan, harga impor (USD 19,52/ kg) masih lebih tinggi dari harga ekspor (USD 14,99/Kg). Jumlah impor pun jauh lebih banyak dibanding jumlah ekspor. Hal ini dapat diartikan bahwa tidak terjadi proses peningkatan nilai tambah di dalam negeridan pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih diisi dari impor. Untuk itu, perlu dibuat industri yang memasok kebutuhan bahan baku dan industri yang memproduksi nikel batangan, khususnya produk wire of nickel untuk mengurangi jumlah impor dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri. 6. Produk nikel lembaran Produk yang termasuk dalam HS Codenikel lembaran adalah plates, sheets, strip & foil (not alloyed & alloys). Dari perbandingan 91
data ekspor dan impor untuk nikel lembaran, harga impor (USD 24,37/ kg) masih jauh lebih tinggi dari harga ekspor (USD 5,74/Kg). Jumlah impor pun lebih banyak dibanding jumlah ekspor. Hal ini dapat diartikan bahwa tidak terjadi proses peningkatan nilai tambah di dalam negeri dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih diisi dari impor. Untuk itu, perlu dibuat industri yang memasok kebutuhan bahan baku dan industri yang memproduksi nikel lembaran, khususnya produk alloys untuk mengurangi jumlah impor dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri. 7. Produk nikel tubes Produk yang termasuk dalam HS Code nikel tubes adalah tubes and pipes of nickel dan tube or pipe fittings. Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk nickel tubes, harga impor (USD 10,16/kg) masih lebih tinggi dari harga ekspor (USD 7,95/Kg).Jumlah impor pun lebih banyak dibanding jumlah ekspor. Hal ini dapat diartikan bahwa tidak terjadi proses peningkatan nilai tambah di dalam negeri dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih diisi dari impor. Hal ini mungkin disebabkan oleh market yang tidak terlalu besar untuk produk nickel tubes. Untuk itu, perlu dipertimbangkan pendirian industri yang memasok kebutuhan bahan baku dan industri yang memproduksi nickel tubes, khususnya produk tube atau pipe fittings untuk mengurangi jumlah impor dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri. Mengingat pasar dalam negeri yang tidak terlalu besar jumlahnya, maka kelebihan produksi bisa diekspor ke luar negeri. 8. Produk nikel lainnya Produk yang termasuk dalam HS Codenikel lainnya adalah cloth, grill and netting of nickel wire dan produk nikel lainnya. Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk produk nikel lainnya, harga impor (USD 15,63/kg) masih jauh lebih rendah dari harga ekspor (USD 74,59/Kg). Sebaliknya, jumlah impor jauh lebih banyak dibanding jumlah ekspor, baik dari sisi kuantitas maupun nilainya. Hal ini dapat diartikan bahwa telah terjadi proses peningkatan nilai tambah di dalam negeri dan pemenuhan kebutuhan pasokan bahan baku dalam negeri masih diisi dari impor. Untuk itu, perlu dibuat industri yang memasok kebutuhan bahan baku produk nikel lainnya, agar bahan baku dapat 92
disuplai dari dalam negeri dan secara signifikan dapat menaikkan nilai maupun jumlah ekspor. 9. Nickel waste & scrap Dari data neraca perdagangan untuk produk nickel waste & scrap, diketahui bahwa harga ekspor berada di kisaran USD 7,06/Kg dan tidak ada transaksi impor untuk produk nickel waste & scrap. Sehingga dapat diasumsikan bahwa kebutuhan dalam negeri harusnya diisi oleh produk lokal. Jika kita mengacu pada indikasi ekspor dan impor nickel waste & scrap, maka data yang ada menunjukkan bahwa struktur industri dalam negeri untuk produk ini sudah cukup baik. Namun begitu, sulit untuk meningkatkan nilai tambah pada produk ini karena sebagian besar ekspor berbentuk scrap. 93
10. Bloom, billet dan ingot stainless steel Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk produk bloom, billet dan ingot stainless steel, diketahui bahwa harga impor (USD 4,58/kg) masih jauh lebih tinggi dari harga ekspor (USD 0,88/Kg). Jumlah impor pun lebih banyak dibanding jumlah ekspor.dari data dapat terlihat bahwa tidak terjadi proses peningkatan nilai tambah di dalam negeri dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih diisi dari impor. Proses peningkatan nilai tambah terjadi di luar negeri. Padahal market dalam negeri cukup besar untuk produk bloom, billet dan ingot stainless steel dan kecenderungannya tiap tahun terus bertambah. Untuk itu, perlu dipertimbangkan pendirian industri yang memproduksi bloom, billet dan ingot stainless steel untuk mengurangi jumlah impor dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri. Mengingat potensi market dunia untuk produk ini, maka kelebihan produksi bisa diekspor ke luar negeri.berikut grafik fluktuasi ekspor dan impor bloom, billet dan ingot stainless steel: Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.17 Fluktuasi Impor & Ekspor Produk Stainless (Kg) 94
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.18 Fluktuasi Impor & Ekspor Produk Stainless (US$) Dari aliran ekspor impor, produk nikel sejenis buatan dalam negeri yang memiliki harga bersaing dengan produk impor adalah billet, CRC, welded pipe, dan wire rod. Sedangkan yang memiliki nilai tambah tinggi adalah dari Slab ke HRC; dari CRC ke GI Sheet; dari Billet ke Wire Rod. 95
Hal tersebut pada dasarnya merupakan peluang usaha yang sangat terbuka. Namun demikian perlu ditelaah lebih lanjut mengapa peluang tersebut belum dimanfaatkan oleh investor. Berdasarkan informasi ketersediaan bahan baku hulu seperti bijih nikel banyak tersedia antara lain di wilayah Sulawesi Tenggara. Deposit yang ada di wilayah tersebut cukup untuk bisa diekploitasi dan diusahakan lebih lanjut sampai proses penyediaan, ferro nikel, dan pembangunan industri stainless steel. Secara sederhana gap yang ada dapat dijawab melalui penelusuran dalam hal antara lain : 1) sumber bahan baku tidak mendukung/deposit tidak mencukupi atau terbatas, mutu tidak memenuhi ; 2) investasi mahal akibat infrastruktur yang belum tersedia, teknologi tinggi; 3) pasar kecil, spesifikasi terlalu banyak. Disisi lain, dalam gambar pohon industri telah ada industrinya namun belum jelas dan rinci produk apa yang benar-benar telah dan mampu dibuat. Contoh : 1. Mur dan baut, pada kenyataannnya masih banyak diminta oleh industri engineering (otomotif/alat berat) untuk diimpor bahkan dengan memanfaatkan fasilitas bea masuk (Bea masuk Ditanggung Pemerintah/BMDTP, User Specifik Duty Free Schemme/USDFS dan dimasukan dalam permohonan dan pertimbangan teknis untuk memperoleh sebagai Importir Produsen/IP atau Importir Terdaftar/IT Besi dan Baja dengan klasifikasi Pos Tarif lebih dari satu. 2. HRC atau CRC juga demikian yang diklasifikasikan ke lebih dari satu Pos Tarif dengan spesifikasi (tebal, lebar dan komposisi kimia dan pelapisan tertentu), masih diminta untuk boleh diimpor/rekomendasi impor dengan memanfaatkan fasilitas bea masuk. Dari contoh tersebut dapat diartikan bahwa masih banyak terdapat bahan/barang yang belum dibuat /diproduksi di dalam negeri, dengan alasan spesifikasi khusus dan jumlah permintaan terbatas sehingga skala ekonomi tidak tercapai. Hal ini dapat terlihat dari grafik perbandingan antara impor dan ekspor produk nikel dengan stainless, dimana Indonesia lebih banyak mengekspor produk nikel dan mengimpor stainless. 96
Apabila penggambaran pohon industri dapat disusun secara konkrit/riil, rinci berdasarkan spesifikasi produk (sedikitnya spesifikasi berdasarkan klasifikasi Pos Tarif), dan penggambaran pohon tarif tersebut dilanjutkan menjadi pohon standar, maka akan memudahkan bagi si pembaca baik calon investor, peneliti atau stakeholder lainnya yang berkepentingan. Sebagai tambahan, akan terlihat pula mana yang banyak digunakan, diimpor, diekspor, peluang pasar, berdaya saing dan murah serta mana yang sudah dan perlu distandarkan (SNI- Wajib), teknologi apa yang dipilih atau disiapkan untuk pengembangan lebih lanjut. 4.2.1 Peluang Industri Nikel Dukungan Pemerintah dalam mengembangkan industri nikel melalui Kebijakan Industri Nasional, regulasi dan roadmap pengembangan industri; Telah terbentuknya asosiasi industri yang terintegrasi dari asosiasi industri hulu sampai ke hilir. Asosiasi ini dibentuk pada tahun 2009 dengan nama Indonesia Iron and Steel Industry Association. Dengan terbentuknya asosiasi ini maka hubungan antar industri dan pemerintah akan semakin kuat dalam mengembangkan industri baja pada umumnya dan nikel pada khususnya; Adanya pemberian fasilitas bea masuk untuk bahan baku industri baja; Akses industri baja ke perbankan dan sumber-sumber pendanaan lain sudah lebih terbuka; Terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih dan konsentrat nikel yaitu sebesar USD 241.489.616.800,- per tahun. Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah ini, tentunya terdapat potensi penerimaan negara dari pajak penghasilan, cukai ekspor produk ferro nickel, retribusi daerah, dan lain sebagainya bila proses produksi bijih dan konsentrat nikel yang diekspor dilakukan di dalam negeri; Terdapat benefit dari penyerapan tenaga kerja melalui industri pengolahan bijih dan konsentrat nikel sebanyak 1.700.000 orang. 97
4.2.2 Tantangan Industri Nikel Sampai saat ini Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku stainless steel dan produk-produk stainless engineering untuk produk otomotif, alat berat, mur dan baut serta alat rumah tangga; Pertumbuhan permintaan stainless steel dalam negeri masih relatif lambat; Rentang produk dan kualitas masih terbatas; Skala ekonomi pada industri yang ada belum memadai, hal ini menyebabkan biaya produksi menjadi lebih mahal; Dari sisi teknologi, proses produksi dengan menggunakan MFO sudah tidak lagi murah, selain itu pasokan listrik juga kurang. Dari sisi efisiensi dan produktifitas juga masih rendah dibandingkan produsen lain di dunia; Infrastruktur pendukung industri nikel masih lemah seperti energi listrik, transportasi dan lain-lain; Telah dibukanya akses pasar produk-produk stainless steel luar negeri dengan dimulainya kesepakatan-kesepakatan Internasional antara pemerintah Indonesia dengan mitranya. Untuk HRC stainless steel sejak dimulai ACFTA tahun 2009 bea masuk sudah menjadi 0%. 4.3. Industri Pertambangan Bauksit Defisit produk hilir aluminium di Indonesia makin mencemaskan. Dari total produksi produk hilir aluminium yang meliputi aluminium ingot alloy, aluminium ek-strusi, aluminium sheet, dan aluminium foil hanya 375.001 ton pada tahun 2009. Padahal, total kebutuhan produk hilir aluminium di dalam negeri pada saat itu mencapai 535.093 ton sehingga terjadi defisit 160.092 ton. Hal ini antara lain yang menyebabkan tiap tahun Indonesia harus mengimpor kebutuhan produk hilir aluminium untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sejalan dengan perkembangan pertumbuhan demand dan perkembangan Industri Aluminium di Indonesia, maka sebanyak 40% kebutuhan aluminium di Indonesia masih tetap dilakukan melalui impor. Setiap tahun, optimalisasi industri hilir aluminium hanya terbatas pada aluminium alloy ingot yang digunakan untuk bahan baku komponen 98
kendaraan bermotor, mesin, dan ekstrusi yang sebagian besar untuk menopang investasi Jepang di Indonesia. Adapun pengembangan industri yang lebih hilir seperti aluminium foil bagi industri kemasan dan makanan justru mengalami defisit. Indonesia sebagai salah satu penghasil bauksit di dunia, belum memiliki pabrik pemrosesan alumina sehingga seluruh produk bauksitnya dijual ke luar negeri. Di sisi lain, Indonesia memiliki pabrik pemrosesan aluminium yaitu PT. Inalum di Sumatera Utara. Ada mata rantai proses yang terputus akibat ketiadaan pabrik pemrosesan yang mengakibatkan hilangnya nilai tambah dari proses tersebut. Mata rantai yang terputus inilah yang menjadi target dari implementasi kebijakan peningkatan nilai tambah. Artinya kedepan, mulai tahun 2014 tidak lagi diperkenankan mengekspor bijh bauksit namun terlebih dahulu diproses untuk mendapatkan nilai tambah bauksit, antara lain untuk mensubstitusi impor alumina. Sebagaimana diketahui material dari aluminium ini memiliki nilai dan fungsi pengganti atau subtitusi material dari besi atau baja, seperti konstruksi, blok-blok mesin, dan peralatan serta barang lainnya karena memilki sifat yang ulet, kuat dan ringan, sehingga masa depannya sangat potensil untuk ditumbuh kembangkan. Memperhatikan pohon industri aluminium yang ada saat ini, menunjukkan bahwa industri alumunium di Indonesia sudah meliputi dari hulu sampai ke hilir. Namun, masih terdapat banyak kekosongan dan sangat perlu di tingkatkan, yang sangat mendasar adalah tidak dan belum diusahakannya pendirian pabrik alumina. Padahal bahan baku dasar alumina seperti bauksit ada di dalam negeri dengan deposit yang cukup untuk jangka panjang, sementara itu industri produk hilirnya sedang tumbuh dan berkembang. 99
Sumber: Kementerian Perindustrian Gambar 4.19 Pohon Industri Aluminium Di wilayah ASEAN, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang memiliki industri hulu alumunium, yaitu industri alumunium ingot di Sumatera Utara. Hal ini disebabkan oleh melimpahnya bahan baku bauksit di Indonesia. Namun sampai saat ini, Indonesia belum memiliki industri pengolah bauksit, sehingga hasil baukit di Indonesia langsung di ekspor ke luar negeri. Selain dari industri alumunium ingot, industri antara dan industri hilir pun telah dikembangkan di Indonesia, mulai dari produk plat, profil, casting, die-casting, dll. Industri antara dan hilir di Indonesia masih sangat kurang, mengingat volume pasar masih relatif rendah dan banyak dikuasai oleh luar negeri. Sejalan dengan hal ini, pemerintah masih merasa belum mampu untuk berinvestasi sehingga berupaya keras untuk menarik investasi terutama investasi asing untuk membangun industri alumina sebagai bahan baku industri alumunium. Industri aluminium di Asahan (PT.Inalum) perusahaan kerjasama Indonesia dan Jepang (dengan share kepemilikan 41,1 dan- 58,9%) memproduksi aluminium ingot, kapasitas terpasang 250 ribu ton/ tahun yang hasilnya lebih dari 60% diekspor ke Jepang dan untuk 100
kebutuhan domestik hanya sebesar 40%. PT. Inalum selama ini tidak mengusahakan proses bauksit menjadikan alumina di Indonesia tetapi mengimpor alumina untuk diproses lanjut menjadi ingot aluminum. Bea masuk aluminium Primer (Ingot) / Paduan 0 %, namun produk PT Inalum masih dapat bersaing dengan produk impor karena: Kualitasnya yang tinggi dengan kemurnian terendah 99,7 % sampai 99,92 %; Biaya produksi yang relatif rendah karena menggunakan energi air yang murah; Kebijakan pemerintah yang dibutuhkan untuk mengembangkan industri aluminium yaitu kebijakan untuk mendorong tumbuhnya industri alumina karena bahan bakunya tersedia di dalam negeri yaitu bauksit namun membutuhkan investasi besar dan jangka panjang serta memerlukan perhatian dan fasilitas khusus dari Pemerintah. Sama halnya dengan pohon industri baja, pohon industri aluminium ini semestinya digambarkan secara rinci dan detail sehingga mampu mengakomodasi dan menggambarkan pohon tarif maupun pohon standar agar pihak stakeholder yang berkepentingan mudah dalam menetapkan kebijakan bagi industri ini. Kebutuhan Aluminium Indonesia pada tahun 2011 berada di kisaran 889.000 ton yang di supply oleh 40 perusahaan produsen dalam negeri, dan kekurangannya masih diimpor. Produsen utama Alunimium adalah PT. Inalum yang memproduksi Al Ingot untuk memasok kebutuhan dalam negeri. Selain itu terdapat 78 produsen lainnya dibidang industri aluminium yang umumnya memproduksi produk-produk aluminium hilir. Konsumsi Aluminium per kapita di Indonesia saat ini baru mencapai 0.8 kg/kapita, sangat rendah bila dibandingkan dengan negara-negara maju seperti USA (21 kg/kapita), Jerman (20 kg/ kapita), Jepang (17 kg/kapita) dan Korea Selatan (19 kg/kapita). Hal ini disebabkan oleh permintaan dalam negeri akan aluminium yang masih relatif rendah dan tidak sebanding dengan jumlah penduduknya. Namun begitu, permintaan dalam negeri ini masih banyak dipasok oleh impor produk aluminium. 101
Selama periode 2007-2011 ekspor logam bauksit dan produk aluminium cenderung meningkat, namun di saat pertumbuhan ekspor sedang cukup baik, dunia dilanda krisis ekonomi sebagai dampak krisis Amerika yang mulai terjadi pada pertengahan tahun 2008. Krisis ekonomi global tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan ekspor dan impor aluminium Indonesia. Pada tahun 2007 ekspor produk aluminium Indonesia berada di kisaran US$ 700 juta dan jumlahnya tetap stabil pada tahun 2008, namun menurun menjadi sekitar US$ 400 juta pada tahun 2009. Penurunan ekspor tersebut disebabkan oleh turunnya permintaan pasar dunia. Namun dengan makin membaiknya kondisi makro Indonesia dan perekonomian dunia, kinerja ekspor Indonesia pasca krisis menunjukkan kecenderungan meningkat yaitu menjadi US$ 680 juta di tahun 2010 dan terus meningkat menjadi US$ 770 juta di tahun 2011. Krisis ekonomi ternyata berpengaruh juga terhadap kinerja impor. Sebelum krisis ekonomi terjadi, impor produk aluminium mencapai US$ 780 juta pada tahun 2007 dan melonjak menjadi US$ 1,1 milyar pada tahun 2008. Namun pada tahun 2009 impor aluminium menurun drastis menjadi sekitar US$ 770 juta dan mulai meningkat kembali di kisaran US$ 1,2 milyar pada tahun 2010, dan terus meningkat pada tahun 2011 menjadi US$ 1,8 milyar. Secara keseluruhan, neraca perdagangan ekspor impor produk aluminium bernilai minus. Artinya, kita lebih banyak mengimpor produk aluminium daripada mengekspornya. Hal inilah yang harus kita perbaiki bersama. Untuk memudahkan kajian, analisa dilakukan berdasarkan perspektif nilai tambah dengan nilai dan volume ekspor impor menggunakan acuan aliran supply demand. Berdasarkan HS code dari struktur industri aluminium, maka kita dapat memetakan aliran supply demand aluminium beserta data tahun 2011, seperti yang terlihat pada gambar 4.20 berikut. 102
Neraca supply demand aluminium tersebut dapat dianalisa sebagai berikut: 1. Aluminium ores and concentrates Pada tahun 2011, ekspor bijih dan konsentrat bauksit sebesar 40.643.852 ton.terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih dan konsentrat bauksit yang semestinya dapat diolah di dalam negeri. Potensi nilai tambah dapat dihitung dari selisih antara nilai impor produk alumina dengan nilai ekspor bijih dan konsentrat bauksit, yaitu sebesar USD 0,35/Kg USD 0,02/Kg = USD 0,33/Kg. Maka dapat dihitung opportunity loss yang terjadi pada tahun 2011, yaitu sebesar USD 330/ton x 40.643.852 ton = USD 13.412.471.160,-. Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah ini, tentunya terdapat potensi penerimaan negara dari pajak penghasilan, cukai ekspor produk alumina, retribusi daerah, dan lain sebagainya bila proses produksi bijih dan konsentrat bauksit yang diekspor dilakukan di dalam negeri. Sebagai tambahan, terdapat benefit dari penyerapan tenaga kerja melalui industri pengolahan bijih dan konsentrat bauksit. Berdasarkan data statistik, industri alumina mampu menyerap 1 orang tenaga kerja per 60 ton produksi. Artinya, jika terjadi peningkatan nilai tambah dari 40.643.852 ton alumina yang akan diolah di dalam negeri akan menyerap tenaga kerja sebanyak 670.000 orang. 103
Tabel 4.3 Neraca Supply Demand Bauksit 0.0 Produk Aluminium 0.0.0 Aluminium Ingot, Slab, Billet Produk Aluminium Batangan Produk Aluminium Lembaran Produk Aluminium lainnya 0.0.0.0 Satuan Ton Ingot, not alloys* Ribu USD Ton Ingot, Billet, Slab Aluminium, alloys Ribu USD Ton Aluminium Bar, Rod dan Profile Ribu USD Ton Pipa Aluminium Ribu USD Ton Kawat Aluminium Ribu USD Ton Aluminium Plate/Sheet Ribu USD Ton Aluminium Foil Ribu USD Ton Skrap Aluminium Ribu USD Ton Produk Aluminium lainnya Ribu USD 1 Pasokan Mineral a. Produksi 242,252 594,833 288,512 10,049 59,252 45,696 5,189 29,901 7,301 20,867 70,270 287,753 16,071 39,276 9,954 14,319 1,836 796 b. Impor 213,727 524,792 191,159 489,089 16,811 104,138 4,174 26,041 4,521 11,275 143,824 497,952 19,784 106,184 42,999 81,227 2,042 6,491 2 Konsumsi Mineral a. Konsumsi Dalam Negeri 145,578 347,480 475,664 489,089 64,898 104,138 4,174 26,041 4,521 11,275 122,758 497,952 26,626 106,184 42,999 81,227 2,042 6,491 b. Ekspor 136,149 324,974 4,007 10,049 11,165 45,696 5,189 29,901 7,301 20,867 91,336 287,753 9,229 39,276 9,954 14,319 1,836 796 Balance 174,252 447,171 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM * Note: Nilai Unbalance terjadi akibat produksi & impor tidak terserap pasar domestik & ekspor 104
Aluminium Ingot, Slab, Billet Produksi: 530.764 Ton Impor: 2,50 USD/Kg Konsumsi DN: 621.242 Ton Ekspor: 2,39 USD/Kg Ingot, not alloys Produksi: 242.252 Ton Impor: 2,46 USD/Kg Konsumsi DN: 145.578 Ton Ekspor: 2,39 USD/Kg Ingot, Billet, Slab Aluminium, alloys Produksi: 288.512 Ton Impor: 2,56 USD/Kg Konsumsi DN: 475.664 Ton Ekspor: 2,51 USD/Kg Aluminium Bar, Rod dan Profile Produksi: 59.252 Ton Impor: 6,19 USD/Kg Konsumsi DN: 64.898 Ton Ekspor: 4,09 USD/Kg Produk Aluminium Batangan Produksi: 71.742 Ton Impor: 5,55 USD/Kg Konsumsi DN: 73.593 Ton Ekspor: 4,08 USD/Kg Pipa Aluminium Produksi: 5.189 Ton Impor: 6,24 USD/Kg Konsumsi DN: 4.174 Ton Ekspor: 5,76 USD/Kg Aluminium Ores & Concentrates Ekspor: 40.643.852 Ton Impor: - Konsumsi DN: 700.637 Ton Nilai Ekspor: 0,02 USD/Kg Produk Aluminium Produksi: 700.637 Ton Impor: 2,89 USD/Kg Konsumsi DN: 889.260 Ton Ekspor: 2,80 USD/Kg Kawat Aluminium Produksi: 7.301 Ton Impor: 2,49 USD/Kg Konsumsi DN: 4.521 Ton Ekspor: 2,86 USD/Kg Produk Aluminium Lembaran Produksi: 86.341 Ton Impor: 3,69 USD/Kg Konsumsi DN: 149.384 Ton Ekspor: 3,25 USD/Kg Aluminium Plate/Sheet Produksi: 70.270 Ton Impor: 3,46 USD/Kg Konsumsi DN: 122.758 Ton Ekspor: 3,15 USD/Kg Aluminium Foil Produksi: 16.071 Ton Impor: 5,37 USD/Kg Konsumsi DN: 26.626 Ton Ekspor: 4,26 USD/Kg Produk Aluminium lainnya Produksi: 11.790 Ton Impor: 1,95 USD/Kg Konsumsi DN: 45.041 Ton Ekspor: 1,28 USD/Kg Skrap Aluminium Produksi: 9.954 Ton Impor: 1,89 USD/Kg Konsumsi DN: 42.999 Ton Ekspor: 1,44 USD/Kg Produk Aluminium lainnya Produksi: 1.836 Ton Impor: 3,18 USD/Kg Konsumsi DN: 2.042 Ton Ekspor: 0,43 USD/Kg Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.20 Neraca Supply Demand Bauksit 105
2. Aluminium ingot, slab, billet Produk yang termasuk dalam HS Code produk aluminium ingot, slab dan billet adalah ingot (not alloys) dan ingot, billet & slab aluminium alloys. Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk produk aluminium ingot, slab dan billet sebagaimana yang telah ditampilkan pada bab 2, harga impor berada di kisaran USD 2,5/kg dan masih lebih tinggi dari harga ekspor (USD 2,39/kg). Jumlah impor pun jauh lebih besar dibanding jumlah ekspor sehingga walaupun jumlah produksi dalam negeri sudah cukup banyak tetapi tidak dapat seluruhnya memenuhi kebutuhan dalam negeri yang sebagian diisi oleh produk impor. Secara keseluruhan, nilai transaksi ekspor impor aluminium ingot, slab dan billet negatif, artinya ekspor lebih rendah dari impor, baik dari nilai maupun kuantitasnya. Grafik fluktuasi ekspor dan impor dapat dilihat pada gambar berikut: Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.21 Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Ingot, Slab, Billet (Kg) 106
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.22 Fluktuasi Impor Ekspor Aluminium Ingot, Slab, Billet (US$) Dari data ekspor impor dapat terlihat bahwa tidak terjadi proses peningkatan nilai tambah di dalam negeri dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih diisi dari impor. Untuk itu, perlu dibuat industri yang memasok kebutuhan bahan baku dan industri yang memproduksi aluminium ingot, slab dan billet, khususnya produk alloys yang konsumsi dalam negerinya terus meningkat untuk mengurangi jumlah impor dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri. 107
3. Produk aluminium batangan. Produk yang termasuk dalam HS Code produk aluminium batangan adalah aluminium bar, rod dan profile; pipa aluminium dan kawat aluminium. Grafik fluktuasi ekspor dan impor dapat dilihat pada gambar berikut: Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.23 Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Batangan (Kg) Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.24 Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Batangan (US$) 108
Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk produk aluminium batangan, harga impor (USD 5,55/kg) masih lebih tinggi dari harga ekspor (USD 4,08/kg). Jumlah impor pun lebih banyak dibanding jumlah ekspor sehingga walaupun jumlah produksi dalam negeri sudah cukup banyak tetapi tidak dapat seluruhnya memenuhi kebutuhan dalam negeri yang sebagian diisi oleh produk impor. Secara keseluruhan, nilai transaksi ekspor impor produk aluminium batangan negatif, artinya ekspor lebih rendah dari impor, baik dari nilai maupun kuantitasnya. Hal ini dapat diartikan bahwa tidak terjadi proses peningkatan nilai tambah di dalam negeri dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih diisi dari impor. Untuk itu, perlu dibuat industri yang memasok kebutuhan bahan baku dan industri yang memproduksi aluminium batangan, khususnya produk aluminium bar, rod dan profile yang konsumsi dalam negerinya terus meningkat untuk mengurangi jumlah impor dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri. 109
4. Produk aluminium lembaran. Produk yang termasuk dalam HS Code produk aluminium lembaran adalah aluminium plate/sheet dan aluminium foil. Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk produk aluminium lembaran, harga impor (USD 3,69/kg) masih sedikit lebih tinggi dari harga ekspor (USD 3,25/ Kg). Jumlah impor pun lebih banyak dibanding jumlah ekspor.grafik fluktuasi ekspor dan impor dapat dilihat pada gambar 4.25 dan 4.26 berikut: Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.25 Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Lembaran (Kg) Hal ini dapat diartikan bahwa tidak terjadi proses peningkatan nilai tambah di dalam negeri dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih diisi dari impor. Proses peningkatan nilai tambah terjadi di luar negeri. Padahal market dalam negeri cukup besar untuk produk aluminium lembaran dan kecenderungannya tiap tahun terus bertambah.untuk itu, perlu dipertimbangkan pendirian industri yang memproduksi aluminium lembaran untuk mengurangi jumlah impor dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri. Mengingat potensi market dunia untuk produk ini, maka kelebihan produksi bisa diekspor ke luar negeri. 110
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.26 Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Lembaran (US$) 111
5. Produk aluminium lainnya Produk yang termasuk dalam HS Codealuminium lainnya adalah skrap aluminium dan produk aluminium lainnya. Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk produk aluminium lainnya, harga impor (USD 1,95/kg) masih lebih tinggi dari harga ekspor (USD 1,28/Kg). Begitupula impor lebih besar dibanding ekspor, baik dari sisi nilai maupun jumlahnya.hal ini dapat diartikan bahwa tidak terjadi proses peningkatan nilai tambah di dalam negeri dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih diisi dari impor. Proses peningkatan nilai tambah terjadi di luar negeri. Mengingat pangsa pasar domestik yang cukup besar untuk produk skrap aluminium dan kecenderungannya tiap tahun terus bertambah, perlu dipertimbangkan untuk mengurangi jumlah impor dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri. Salah satu caranya adalah dengan integrasi industri aluminium dari hulu ke hilir di Indonesia sehingga kita tidak perlu mengimpor skrap aluminium.grafik fluktuasi ekspor dan impor dapat dilihat pada gambar berikut: Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.27 Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Lainnya (Kg) 112
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM Gambar 4.28 Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Lainnya (US$) 4.3.1 Peluang Industri Bauksit Terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih dan konsentrat bauksit, yaitu sebesar USD 13.412.471.160,- per tahun. Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah ini, tentunya terdapat potensi penerimaan negara dari pajak penghasilan, cukai ekspor produk alumina, retribusi daerah, dan lain sebagainya bila proses produksi bijih dan konsentrat bauksit yang diekspor dilakukan di dalam negeri; Terdapat benefit dari penyerapan tenaga kerja melalui industri pengolahan bijih dan konsentrat bauksit yang akan diolah di dalam negeri dan menyerap tenaga kerja sebanyak 670.000 orang; Dukungan Pemerintah dalam mengembangkan industri aluminium yang berupa insentif fiskal maupun non-fiskal seperti tertera pada Peraturan Presiden No. 28 tahun 2008 mengenai Kebijakan Industri Nasional. Sesuai dengan Perpres tersebut, diantaranya menyebutkan bahwa industri pionir dan industri berbasis SDA lokal akan mendapatkan fasilitas dari pemerintah. Untuk itu, saat ini sangat gencar dilakukan promosi investasi khususnya dalam menarik investor guna membangun industri alumina, dimana 113
industri ini benar-benar berbasis sumber daya lokal. Terkait dalam hal ini, potensi bahan galian bauksit dalam negeri cukup besar, diantaranya tersebar di Kalimantan Barat dan Bintan; Adanya fasilitas pemerintah dalam pemotongan pajak penghasilan seperti tertuang pada Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 2007 tentang fasilitas Pajak Penghasilan untuk penanaman modal di bidang tertentu dan/atau di daerah tertentu; Pemberian fasilitas Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP) untuk impor bahan baku industri. Fasilitas ini selalu diperbaharui setiap tahunnya, dan apabila ada industri yang memerlukan fasilitas ini dapat difasilitasi oleh pemerintah dalam pengajuannya; Adanya Asosiasi Industri Aluminium atau biasa dikenal dengan nama APRALEX (Asosiasi Produsen Aluminium Extrusi) yang solid; Peran perbankan terhadap investasi di industri aluminium sudah semakin terbuka; Telah memiliki lembaga-lembaga penelitian pemerintah yang mendukung industri aluminium, seperti: Balai Besar Logam Mesin, Kementerian Perindustrian; LIPI; BATAN; dan BPPT; SDM yang cukup tersedia dengan banyaknya perguruan tinggi yang mampu menghasilkan tenaga-tenaga profesional di bidang metalurgi, teknik mesin, teknik produksi, teknik industri, teknik kimia, dll. Perguruan tinggi tersebut antara lain: Universitas Indonesia, ITB, UGM, dan ITS; Kebutuhan aluminium nasional dan dunia yang makin meningkat dengan pesat. 114
4.3.2 Tantangan Industri Bauksit Kurangnya pasokan listrik untuk industri; Kurangnya infrastruktur khususnya untuk pembangunan industri hulu aluminium; Hasil riset dari institusi penelitian yang telah disampaikan ke industri sering tidak jelas kelanjutannya; Kebutuhan aluminium ingot primer dan sekunder untuk membuat produk antara dan hilir aluminium belum dapat dipenuhi dari dalam negeri, sehingga harus diimpor; Belum adanya industri alumina sebagai industri hulu aluminium; Penggunaan energi yang relatif tidak efisien, sebagai contoh molten aluminium dari pabrik ingot primer bisa langsung dibuat aluminium paduan tanpa harus menjadi ingot primer, demikian juga produsen aluminium sekunder dapat langsung dikirim ke industri casting dalam bentuk molten aluminium; Mesin produksi di industri masih banyak yang menggunakan teknologi konvensional, seperti pada industri plat aluminium dengan menggunakan manusia untuk me- roll slab aluminium menjadi plat aluminium. Hal ini menyebabkan kualitas produk yang rendah; Produk aluminium ingot primer produksi PT. Inalum belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sebagian besar hasil produksinya (60%) di ekspor ke Jepang; Kemampuan industri dalam negeri dalam penguasaan teknologi masih belum memadai, seperti pembuatan desain; belum adanya lembaga khusus pemerintah maupun swasta di bidang aluminium; industri kecil masih menghasilkan kualitas produk yang rendah akibat kurangnya penguasaan teknologi. 115
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan a. Industri Tembaga Industri tembaga di Indonesia pada dasarnya telah ada dimulai dari hulu yaitu dari bijih menjadi konsentrat dalam hal ini seperti yang dibuat oleh PT Freeport di Tembaga pura dan PT Newmont di Batu Hijau. Konsentrat diproses lebih lanjut menjadi katoda tembaga yang saat ini satu-satunya tempat pemrosesan tersebut dilakukan oleh PT Smelting yang berada di Gresik Jawa Timur. Dari gambar pohon industri tembaga, justru kelompok industri hulunya sudah jauh atau dalam, namun sebaliknya industri hilirnya yang belum berkembang seperti kabel, tube dan pipa. Dengan demikian produk industri hulu (Katoda tembaga) tidak diserap oleh pasar dalam negeri sendiri sehingga banyak dijual keluar negeri yang belakangan ini meningkat terus seiring dengan meningkatnya kebutuhan dunia. Lebih lanjut, dengan meningkatnya ekspor produk hulu tersebut Indonesia akan kehilangan nilai tambah karena nilai tambahnya akan dinikmati oleh pihak luar negeri. Untuk itu kedalaman struktur industri tembaga diarahkan ke industri hilirnya, agar dapat menciptakan peluang pasar industri hilir yang kompetitif dan dapat di ekspor dan nilai tambahnya dinikmati Indonesia. Pada tahun 2011, ekspor bijih dan konsentrat tembaga sebesar 1.471.420 ton. Terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih dan konsentrat tembaga yang semestinya dapat diolah di dalam negeri. Potensi nilai tambah dapat dihitung dari selisih antara nilai impor produk tembaga dasar dengan nilai ekspor bijih dan konsentrat tembaga, yaitu sebesar USD 12,16/Kg USD 3,19/Kg = USD 8,97/Kg. Maka dapat dihitung opportunity loss yang terjadi pada tahun 2011, yaitu sebesar USD 8.970/ton x 1.471.420 ton = USD 13.198.637.400,-. 116
Nilai tambah dapat ditingkatkan dengan cara mengolah konsentrat di dalam negeri, yaitu dengan membangun pabrik peleburan dan pemurnian tembaga serta pembangunan industri hilirnya. Oleh karena itu, pengolahan hasil-hasil pertambangan di dalam negeri untuk mendorong peningkatan nilai tambah sudah menjadi sebuah tuntutan. Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah ini, tentunya terdapat potensi penerimaan Negara dari pajak penghasilan, cukai ekspor produk tembaga dasar, retribusi daerah, dan lain sebagainya bila proses produksi bijih dan konsentrat tembaga yang di ekspor dilakukan di dalam negeri. Selain itu, terdapat benefit dari penyerapan tenaga kerja melalui industri pengolahan tembaga dasar sebanyak kurang lebih 32.600 orang. Penyerapan tenaga kerja ini belum termasuk tenaga kerja di industry hilir dan multiplier effect yang didapat dari pengolahan hasil produk industri hulu tembaga di Indonesia. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa industri hilir akan tumbuh dengan pesat, menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, dan dengan tumbuhnya industri hilir dan industri tersier tersebut juga dapat menggerakkan roda perekonomian. Sebagai gambaran, peleburan tembaga dengan kapasitas 200.000 ton per tahun membutuhkan konsentrat sekitar 660.000 ton. Dari sini akan dihasilkan asam sulfat sebanyak 650.000 ton, yang dapat mendukung produksi berbagai pupuk khususnya pupuk majemuk (NPK) sebanyak 1,2 juta ton. Produk samping lainnya seperti slag dan gypsum dibutuhkan oleh industri semen. b. Industri Nikel Secara umum pohon industri Nikel lebih baik dari pohon industri lainnya. Hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa industri pengolahan dan pemurnian sudah sampai nickel matte dan ferronickel. Walaupun demikian, bijih nikel masih diekspor keluar negeri terutama yang berkadar rendah. Pada saat ini sudah ada teknologi pengolahan dan pemurnian untuk nikel berkadar rendah yang dapat menjadi peluang untuk mengolah bijih nikel. 117
Gambar pohon industri menunjukan bahwa di Indonesia masih belum ada dan atau belum dikembangkan beberapa industri hulunya seperti HPAL serta Slab stainless steel, dan hilirnya HRC stainless steel. Di sisi lain, neraca perdagangan bahan mentah dan bahan setengah jadi hasil pertambangan mengindikasikan rendahnya tingkat pengolahan hasil tambang. Hal ini karena hasil tambang diekspor dalam bentuk bahan mentah sementara nilai impor bahan setengah jadi lebih tinggi dari ekspor bahan mentahnya sendiri. Jika nikel dijual dalam bentuk bijih maka hanya dihargai senilai $25/ton. Namun, jika diolah menjadi FeNi maka nilai jualnya akan menjadi $2.5074/ton dan jika menjadi bahan untuk stainless steel maka nilainya menjadi $2.627/ton. Pada tahun 2011, ekspor bijih dan konsentrat nikel sebesar 40.792.165 ton. Terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih dan konsentrat nikel yang semestinya dapat diolah di dalam negeri. Potensi nilai tambah tersebut dapat dihitung dari selisih antara nilai ekspor produk ferro nickel dengan nilai ekspor bijih dan konsentrat nikel, yaitu sebesar USD 5,96/Kg USD 0,04/Kg = USD 5,92/Kg. Maka dapat dihitung opportunity loss yang terjadi pada tahun 2011, yaitu sebesar USD 5.920/ton x 40.792.165 ton = USD 241.489.616.800,-. Masih banyak terdapat bahan/barang yang belum dibuat / diproduksi di dalam negeri, dengan alasan spesifikasi khusus dan jumlah permintaan tebatas sehingga skala ekonomi tidak tercapai. Hal ini dapat terlihat dari grafik perbandingan antara impor dan ekspor produk nikel dengan stainless, dimana Indonesia lebih banyak mengekspor produk nikel dan mengimpor stainless. Secara sederhana gap yang ada dapat dijawab melalui penelusuran dalam hal antara lain: 1) Sumber bahan baku tidak mendukung/deposit tidak mencukupi atau terbatas, mutu tidak memenuhi; 2) Investasi mahal akibat infrastruktur yang belum tersedia, teknologi tinggi; 3) Pasar kecil, spesifikasi terlalu banyak. Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah, tentunya terdapat potensi penerimaan Negara dari pajak penghasilan, cukai ekspor produk ferro nickel, retribusi daerah, dan lain sebagainya bila proses produksi bijih dan konsentrat nikel yang diekspor dilakukan di dalam negeri. Selain itu, terdapat benefit dari penyerapan tenaga kerja melalui industri pengolahan bijih dan konsentrat nikel sebanyak 118
kurang lebih 1.700.000 orang. Penyerapan tenaga kerja ini belum termasuk tenag akerja di industri hilir dan multiplier effect yang didapat dari pengolahan hasil produk industry hulu nikel di Indonesia. c. Industri Aluminium Indonesia sebagai salah satu penghasil bauksit di dunia, belum memiliki pabrik pemrosesan alumina sehingga seluruh produk bauksitnya dijual ke luar negeri. Di sisi lain, Indonesia memiliki pabrik pemrosesan aluminium yaitu PT. Inalum di Sumatera Utara. Ada mata rantai proses yang terputus akibat ketiadaan pabrik pemrosesan yang mengakibatkan hilangnya nilai tambah dari proses ini. Mata rantai yang terputus inilah yang menjadi target dari implementasi kebijakan peningkatan nilai tambah. Artinya kedepan, mulai tahun 2014 tidak lagi diperkenankan mengekspor bijh bauksit namun terlebih dahulu harus diproses untuk mendapatkan nilai tambah bauksit, antara lain untuk mensubstitusi impor alumina. Memperhatikan pohon industri aluminium yang ada saat ini, yang sangat mendasar adalah tidak dan belum diusahakannya pendirian pabrik alumina. Padahal bahan baku dasar alumina seperti bauksit ada di dalam negeri dengan deposit yang cukup untuk jangka panjang, sementara itu industri produk hilirnya sedang tumbuh dan berkembang. Pada tahun 2011, ekspor bijih dan konsentrat bauksit sebesar 40.643.852 ton. Terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih dan konsentrat bauksit yang semestinya dapat diolah di dalam negeri. Potensi nilai tambah dapat dihitung dari selisih antara nilai impor produk alumina dengan nilai ekspor bijih dan konsentrat bauksit, yaitu sebesar USD 0,35/Kg USD 0,02/Kg = USD 0,33/Kg. Maka dapat dihitung opportunity loss yang terjadi pada tahun 2011, yaitu sebesar USD 330/ton x 40.643.852 ton = USD 13.412.471.160,-. Mengingat pangsa pasar domestik yang cukup besar untuk produk aluminium dan kecenderungannya tiap tahun terus bertambah, perlu dipertimbangkan untuk mengurangi jumlah impor dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri. Salah satu caranya adalah dengan integrasi industri aluminium dari hulu ke hilir di Indonesia sehingga kita tidak perlu mengimpor produk aluminium. Dari sisi hulu, 119
dibutuhkan adanya industri alumina sebagai industri hulu aluminium. Sedangkan dari sisi hilir, diperlukan peningkatan kemampuan industri dalam negeri dalam penguasaan teknologi. Saat ini mesin produksi di industri, khususnya industri kecil masih banyak yang menggunakan teknologi konvensional sehingga menghasilkan kualitas produk yang rendah akibat kurangnya penguasaan teknologi. Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah ini, tentunya terdapat potensi penerimaan Negara dari pajak penghasilan, cukai ekspor produk alumina, retribusi daerah, dan lain sebagainya bila proses produksi bijih dan konsentrat bauksit yang di ekspor dilakukan di dalam negeri. Selain itu, terdapat benefit dari penyerapan tenaga kerja melalui industri pengolahan bijih dan konsentrat bauksit yang akan diolah di dalam negeri dan menyerap tenaga kerja sebanyak kurang lebih 670.000 orang. Penyerapan tenaga kerja ini belum termasuk tenaga kerja di industry hilir dan multiplier effect yang didapat dari pengolahan hasil produk industry hulu bauksit di Indonesia. 5.2. Saran Agar produk dalam negeri dapat kompetitif baik untuk pasar lokal maupun global maka diperlukan berbagai upaya yang diharapkan dari pemerintah antara lain: untuk membangun infrastruktur pendukung bagi industri tembaga, nikel dan bauksit seperti penyediaan energi listrik termasuk didalamnya pasokan gas yang stabil, transportasi, pelabuhan dan reformasi pajak, berbagai insentif seperti kebijakan tata niaga, safe guard,stimulus fiscalsertatax holiday/allowance dan lain-lain. Selain hal tersebut di atas pemerintah perlu mempertimbangkan pendirian atau peningkatan industri hilir untuk mengurangi jumlah impor dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri. Khusus untuk industri bauksit, pemerintah diharapkan segera mengembangkan atau mendirikan pabrik alumina melalui BUMN pertambangan ataupun bekerjasama dengan swasta, karena bahan baku dasar alumina seperti bauksit ada di dalam negeri dengan deposit yang cukup untuk jangka panjang, sementara itu industri produk hilirnya sedang tumbuh dan berkembang saat ini. 120
Diharapkan kedepan pemerintah sudah mulai mengembangkan industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir sehingga tidak perlu lagi mengekspor raw material dan mengimpor produk setengah jadi, sehingga semua benefit dari peningkatan nilai tambah mineral dapat dioptimalkan bagi industri di dalam negeri. 121
DAFTAR PUSTAKA Departemen Perindustrian. Studi Peningkatan Nilai Tambah Sumber Daya Alam Tembaga. Jakarta, 2008. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Indonesia Mineral and Coal Statistic 2011. Jakarta, 2012. International Copper Association. http://www.copper.org/publications/ homepage.html. Diakses pada tanggal 5 September 2012. International Copper Study Group. http://www.icsg.org/index.php/ external-database. Diakses pada tanggal 3 September 2012. Kementerian Perindustrian. Industry Facts and Figure. Jakarta, 2012. Kementerian Perindustrian. Konsumsi, Utilisasi & Ratio Produksi Terhadap Konsumsi Produk Industri Logam. Jakarta, 2012. Kementerian Perindustrian. Telaahan Kedalaman Struktur Industri Engineering Prioritas (Industri Baja dan Industri Logam Non Ferrous). Jakarta, 2010. Pusdatin Kementerian Perdagangan. Realisasi Ekspor/Impor Migas dan Barang Tambang Indonesia dari/ke Dunia Periode 2005-2012. Jakarta, Juli 2012. PT Harita Prima Abadi Mineral. Kesiapan PT HPAM dalam Peningkatan Nilai Tambah Mineral Bauksit di Kab. Ketapang, Kalimantan Barat. Dipresentasikan pada Konsinyering Kajian Kebijakan Pengembangan Industri Mineral Sebagai Kawasan Ekonomi Khusus. Jakarta, 4 Desember 2012. Sabaruddin, Tatang. Kebijakan Hilirisasi Mineral di Indonesia. Dipresentasikan pada Konsinyering Kajian Kebijakan Pengembangan Industri Mineral Sebagai Kawasan Ekonomi Khusus. Jakarta, 4 Desember 2012. Thierauf, Robert J.; Klekamp, Robert C. Decision Making Through Operations Research. Wiley, 2005. 122
LAMPIRAN I. REALISASI EKSPOR BARANG TAMBANG INDONESIA KE DUNIA 1. Copper ores and Concentrates (USD) NILAI (USD) NO NEGARA TUJUAN 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 1 JEPANG 866.445.234 1.902.090.308 1.338.085.110 1.546.643.636 2.074.956.861 2.876.251.671 1.043.304.104 462.970.260 2 INDIA 657.288.231 701.174.898 533.939.837 273.087.488 636.243.482 973.709.528 1.041.048.120 218.519.935 3 KOREA SELATAN 511.215.356 712.602.826 615.529.242 593.157.223 1.021.752.508 1.128.977.087 1.029.943.966 115.158.533 4 REP.RAKYAT CINA 126.999.736 162.634.409 87.535.366 27.779.783 131.501.178 331.320.033 472.572.296 107.588.373 5 SPANYOL 600.606.904 889.648.749 1.105.130.301 598.640.306 767.530.284 1.083.926.729 446.718.480 204.635.469 6 PILIPINA 364.778.178 190.787.964 426.624.027 305.232.399 363.201.146 208.847.256 349.860.323-7 JERMAN 85.284.961 87.126.232 78.367.390-93.799.620 222.584.548 167.261.662 32.504.556 8 AMERIKA SERIKAT - 10 - - - - 79.818.541-9 UNI EMIRAT ARAB - - - - - - 34.805.509-10 SWISS - - 27.408.766 - - - 34.510.715-11 THAILAND - - - - - 7.500 338.625 562.344 12 HONGKONG - 44 - - - 7.860 100.277 23.036 13 VIETNAM - - - - - - 41.020 8.612 14 MALAYSIA - - - 12.840 - - 29.900-15 AUSTRALIA - - - - - - 460-16 SINGAPURA 4.025 4.000-20.460 12.294.943 56.524.457 - - 17 FINLANDIA 75.247.905 - - - - - - - 18 TAIWAN - - 32.924 - - 14.539-4.356 19 BULGARIA 23.096.468 - - - - - - - JUMLAH 3.310.966.998 4.646.069.440 4.212.652.963 3.344.574.135 5.101.280.022 6.882.171.208 4.700.353.998 1.141.975.474 RATA-RATA PER BULAN 275.913.917 387.172.453 351.054.414 278.714.511 425.106.669 573.514.267 391.696.167 228.395.095 2. Nickel ores and Concentrates (USD) NO NEGARA TUJUAN NILAI (USD) 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012 1 REP.RAKYAT CINA 256.735 26.243.326 276.170.610 230.921.446 151.984.288 348.397.438 1.162.069.111 569.573.225 2 JEPANG 101.316.551 110.441.342 188.578.010 171.112.788 72.693.616 99.008.971 140.467.689 37.850.840 3 UKRAINE 16.431.251 36.883.014 44.568.387 65.544.864 31.504.462 47.818.290 59.477.750 26.846.986 4 YUNANI 4.926.128 10.025.695 42.255.919 21.468.295 10.755.283 18.629.318 25.589.481 16.817.120 5 AUSTRALIA 15.294.786 24.955.001 26.090.844 16.813.847-17.136.496 21.001.440 20.508.651 6 INGGRIS - - 12.511.376 694.087 6.123.985-8.302.568-7 HONGKONG - - 1 600 4.001.115-2.832.240 1.561.640 8 BELANDA - - - - - - 2.803.700-9 MONTENEGRO - - - - - - 1.375.000-10 AMERIKA SERIKAT 338.787 - - 400 - - 1.286.400-11 INDIA - - - - - 200 1.063.400-12 MALAYSIA - - - 875.000 - - 916.332-13 KOREA SELATAN 66.000 4.338.622 5.501.358 - - - 855.000-14 VATIKAN CITY STATE 1.344.045-7.107.759 - - - - - 15 SWISS - 4.544.131-16.795.667-1.455.191 - - 16 SINGAPURA 732-22 7 2.435 225 - - 17 PERANCIS - - 20.000 1.664 37 - - - 18 BELGIA - - - 24.643 - - - - 19 KURASAO - - 1.522.605 - - - - - 20 KAMERUN - - 1.669.062 - - - - - 21 KANADA - 300-6.200 - - - - 22 THAILAND - - 2.407.900-504.000 - - - 23 POLANDIA - - 20 - - - - - JUMLAH RATA-RATA PER BULAN 139.975.015 217.431.431 608.403.873 524.259.508 277.569.221 532.446.129 1.428.040.111 673.158.462 11.664.585 18.119.286 50.700.323 43.688.292 23.130.768 44.370.511 119.003.343 134.631.692 123
3. Alumunium ores and Concentrates (USD) NILAI (USD) NO NEGARA TUJUAN 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012 1 REP.RAKYAT CINA 14.432.164 47.050.382 93.931.747 203.649.147 242.760.992 466.437.281 766.506.209 372.206.763 2 JEPANG 7.496.447 10.240.155 10.235.658 12.275.712 4.726.360 8.306.178 4.800.970 2.774.847 3 TAIWAN 47.250 177.800 586.500 383.900 896.251 1.297.766 1.375.795 743.400 4 VENEZUELA - - - - - - 429.000-5 SWISS - - - - - 2.376.102 87.874-6 THAILAND - 73.750 68.000 - - - - 1.538.460 7 FEDERASI RUSIA - 550.815 - - - - - - 8 BELANDA 983.896-276.965 - - - - - 9 HONGKONG - - - - - 560.206 - - 10 SINGAPURA 639.009-319.050-1.321.600 - - - JUMLAH 23.598.766 58.092.902 105.417.920 216.308.759 249.705.203 478.977.533 773.199.848 377.263.470 RATA-RATA PER BULAN 1.966.563,83 4.841.075,17 8.784.826,67 18.025.729,92 20.808.766,92 39.914.794,42 64.433.320,67 75.452.694 4. Volume Copper ores and Concentrates (KG) VOLUME (KG) NO NEGARA TUJUAN 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012 1 JEPANG 640.573.291 979.876.164 542.333.373 749.611.436 961.201.401 1.120.471.829 330.159.714 172.799.432 2 INDIA 486.525.211 333.351.325 193.861.949 135.346.088 275.248.801 354.420.198 311.800.852 75.906.293 3 KOREA SELATAN 363.470.580 356.951.864 271.571.233 300.691.240 463.560.767 441.054.302 326.166.350 50.570.071 4 REP.RAKYAT CINA 94.947.509 84.908.400 61.377.270 12.521.395 66.538.243 127.797.947 160.722.537 46.761.279 5 SPANYOL 424.221.441 437.498.475 414.603.000 284.779.801 339.628.847 394.992.234 131.694.070 64.500.000 6 PILIPINA 237.725.569 96.617.459 186.066.138 143.841.830 169.377.157 91.957.279 100.102.132-7 JERMAN 74.845.298 41.517.016 44.386.825-43.959.338 88.134.840 62.672.101 16.483.680 8 AMERIKA SERIKAT - 20 - - - - 27.728.761-9 UNI EMIRAT ARAB - - - - - - 10.058.400-10 SWISS - - 12.175.559 - - - 9.000.000-11 THAILAND - - - - - 25.000 830.060 2.406.243 12 HONGKONG - 1 - - - 99.500 232.770 74.928 13 VIETNAM - - - - - - 136.656 43.060 14 MALAYSIA - - - 100.000 - - 115.000-15 AUSTRALIA - - - - - - 788-16 SINGAPURA 20.001 20.000-65.135 10.745.986 23.040.938 - - 17 FINLANDIA 43.154.958 - - - - - - - 18 TAIWAN - - 220.003 - - 92.600-71.484 19 BULGARIA 17.367.000 - - - - - - - JUMLAH 2.382.850.858 2.330.740.724 1.726.595.350 1.626.956.925 2.330.260.540 2.642.086.667 1.471.420.191 429.616.470 RATA-RATA PER BULAN 198.570.905 194.228.394 143.882.946 135.579.744 194.188.378 220.173.889 122.618.349 85.923.294 124
5. Nickel ores and Concentrates (KG) VOLUME (KG) NO NEGARA TUJUAN 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012 1 REP.RAKYAT CINA 73.353.000 660.206.200 5.432.401.119 6.594.319.151 7.604.354.011 14.346.464.168 36.142.280.593 19.762.885.603 2 JEPANG 2.034.320.200 2.067.466.499 1.846.057.005 1.826.351.096 1.459.011.400 1.453.681.620 1.861.407.700 579.440.200 3 UKRAINE 490.067.000 726.179.000 591.919.000 1.012.454.000 532.464.000 629.979.700 710.054.100 399.945.300 4 YUNANI 95.719.992 147.388.514 391.248.000 348.193.180 389.706.114 240.937.900 573.617.400 407.799.245 5 AUSTRALIA 946.047.439 707.932.758 371.384.500 505.194.813-844.789.000 956.954.000 982.485.000 6 INGGRIS - - 173.473.000 12.450.000 138.226.000-87.881.000-7 HONGKONG - - 1 20.000 279.733.039-85.140.040 39.041.000 8 BELANDA - - - - - - 52.900.000-9 MONTENEGRO - - - - - - 55.000.000-10 AMERIKA SERIKAT 11.000.000 - - 6.000 - - 107.200.000-11 INDIA - - - - - 1.000 40.900.000-12 MALAYSIA - - - 50.000.000 - - 96.330.000-13 KOREA SELATAN 3.000.000 43.854.000 52.513.243 - - - 22.500.000-14 VATIKAN CITY STATE 50.000.000-66.500.000 - - - - - 15 SWISS - 41.097.000-243.086.000-50.179.000 - - 16 SINGAPURA 7.100-1 4 1.202 15.000 - - 17 PERANCIS - - 15.265 25.450 30.699 - - - 18 BELGIA - - - 22.324 - - - - 19 KURASAO - - 35.826.000 - - - - - 20 KAMERUN - - 38.150.000 - - - - - 21 KANADA - 700-29.241 - - - - 22 THAILAND - - 27.362.500-33.600.000 - - - 23 POLANDIA - - 52 - - - - - JUMLAH 3.703.514.731 4.394.124.671 9.026.849.686 10.592.151.259 10.437.126.465 17.566.047.388 40.792.164.833 22.171.596.348 RATA-RATA PER BULAN 308.626.228 366.177.056 752.237.474 882.679.272 869.760.539 1.463.837.282 3.399.347.069 4.434.319.270 6. Alumunium ores and Concentrates (KG) VOLUME (KG) NO NEGARA TUJUAN 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012 1 REP.RAKYAT CINA 1.711.862.635 6.249.669.489 10.850.325.000 16.078.840.228 14.322.053.157 26.600.486.412 40.270.177.979 20.224.978.096 2 JEPANG 695.591.925 919.602.000 700.452.000 677.628.244 213.067.530 480.578.550 253.614.876 113.996.801 3 TAIWAN 13.500.000 50.800.000 69.000.000 34.900.000 67.500.000 76.753.690 80.300.000 41.300.000 4 VENEZUELA - - - - - - 33.000.000-5 SWISS - - - - - 208.385.920 6.759.540-6 THAILAND - 14.000.000 8.500.000 - - - - 113.960.000 7 FEDERASI RUSIA - 36.001.000 - - - - - - 8 BELANDA 24.795.000-2.962.200 - - - - - 9 HONGKONG - - - - - 44.170.000 - - 10 SINGAPURA 56.866.359-31.905.000-117.700.000 - - - JUMLAH 2.502.615.919 7.270.072.489 11.663.144.200 16.791.368.472 14.720.320.687 27.410.374.572 40.643.852.395 20.494.234.897 RATA-RATA PER BULAN 208.551.327 605.839.374 971.928.683 1.399.280.706 1.226.693.391 2.284.197.881 3.386.987.700 4.098.846.979 125
II. REALISASI IMPOR BARANG TAMBANG INDONESIA KE DUNIA 1. Copper ores and Concentrates (USD) NILAI (USD) NO NEGARA ASAL 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012 1 PAPUA NUGINI - - - - 14.319.656-103.042.567-2 JEPANG - - 35.737 1.253 215.661 681.908 637.362 212.106 3 AMERIKA SERIKAT 1.530 2 - - 3.586 3.843 7.901-4 SINGAPURA - - - 21.660 628 78.531 7.869 1.672 5 PERU 7.411.255 - - - - - - - 6 THAILAND - - - 10.631 - - - - 7 REP.RAKYAT CINA - 150 7 61 15.000 14.400 - - 8 AUSTRALIA 880 582 681 715 153 - - 102.335.700 9 KOREA SELATAN 330 770 9.050 9.848 1.300 - - - 10 INDIA - - - - 5.867 - - - 11 HONGKONG - - - 1.560 30.822 - - - 12 CHILI 25.011.191 36.095.902 - - - - - - 13 KANADA 11.597.189 - - - - - - - JUMLAH 44.022.375 36.097.406 45.475 45.728 14.592.673 778.682 103.695.699 102.549.478 RATA-RATA PER BULAN 3.668.531 3.008.117 3.790 3.811 1.216.056 64.890 8.641.308 20.509.896 2. Nickel ores and Concentrates (USD) NO NEGARA ASAL NILAI (USD) 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012 1 SINGAPURA 2.470-106 287 - - 14.100-2 KANADA - - - 12.935 - - 109-3 UNI EMIRAT ARAB - - - 15 - - - - 4 TAIWAN - - - 50-1.926 - - 5 MALAYSIA - - - 1.724 - - - - 6 KALEDONIA BARU - - - - - 80 - - 7 JERMAN 15.380 - - - - - - - 8 JEPANG - - - 1.217 10 - - - 9 HONGKONG - - - 10.968 - - - - 10 AUSTRALIA - 4.278-1.665 1.284 - - - 11 REP.RAKYAT CINA - - 21 12.378 - - - - JUMLAH RATA-RATA PER BULAN 17.850 4.278 127 41.239 1.294 2.006 14.209-1.488 357 11 3.437 108 167 1.184-126
3. Aluminium ores and Concentrates (USD) NO NEGARA ASAL 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012 1 BELANDA - - - 75.965 396.043 457.414 302.271 185.904 2 REP.RAKYAT CINA 451.429 315.632 350.916 754.342 182.347 475.311 64.871-3 AMERIKA SERIKAT 38.582 1.705 63.007 6.628 - - 48.891-4 REP.AFRIKA SELATAN - - - - - - 4.824-5 BRASILIA - - - - - 82.944 - - 6 SINGAPURA 5.747 452 - - 60.537 26.800 - - 7 JEPANG - - - - 300 - - - 8 INGGRIS - - - - 15.189 - - - 9 GUYANA - - - 11.208 - - - - 10 AUSTRIA 11.029 - - - - - - - 11 HONGKONG - - - - 15.320 - - - JUMLAH RATA-RATA PER BULAN NILAI (USD) 506.787 317.789 413.923 848.143 669.736 1.042.469 420.857 185.904 42.232 26.482 34.494 70.679 55.811 86.872 35.071 37.181 4. Copper ores and Concentrates (KG) NO NEGARA ASAL VOLUME (KG) 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012 1 PAPUA NUGINI - - - - 9.900.000-32.900.000-2 JEPANG - - 25.256 174 29.615 63.264 52.960 23.121 3 AMERIKA SERIKAT 93 21 - - 64 139 310-4 SINGAPURA - - - 60.300 30 5.522 400 224 5 PERU 11.000.400 - - - - - - - 6 THAILAND - - - 10.416 - - - - 7 REP.RAKYAT CINA - 34 30 58 100.000 96.000 - - 8 AUSTRALIA 978 967 957 738 163 - - 39.034.000 9 KOREA SELATAN 187 362 3.598 4.300 18 - - - 10 INDIA - - - - 4.991 - - - 11 HONGKONG - - - 3.085 7.359 - - - 12 CHILI 26.550.930 25.000.100 - - - - - - 13 KANADA 10.252.600 - - - - - - - JUMLAH 47.805.188 25.001.484 29.841 79.071 10.042.240 164.925 32.953.670 39.057.345 RATA-RATA PER BULAN 3.983.766 2.083.457 2.487 6.589 836.853 13.744 2.746.139 7.811.469 127
5. Nickel ores and Concentrates (KG) NO NEGARA ASAL 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012 1 SINGAPURA 121-2 8 - - 1.786-2 KANADA - - - 1.283 - - 1-3 UNI EMIRAT ARAB - - - 1 - - - - 4 TAIWAN - - - 2-61 - - 5 MALAYSIA - - - 805 - - - - 6 KALEDONIA BARU - - - - - 1 - - 7 JERMAN 140 - - - - - - - 8 JEPANG - - - 331 1 - - - 9 HONGKONG - - - 21.871 - - - - 10 AUSTRALIA - 3.985-801 378 - - - 11 REP.RAKYAT CINA - - 2 142 - - - - JUMLAH RATA-RATA PER BULAN VOLUME (KG) 261 3.985 4 25.244 379 62 1.787-22 332 0 2.104 32 5 149-6. Aluminium ores and Concentrate (KG) NO NEGARA ASAL VOLUME (KG) 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012 1 BELANDA - - - 165.920 460.000 607.982 420.000 280.000 2 REP.RAKYAT CINA 2.263.475 1.537.689 1.552.595 1.685.990 546.972 338.760 57.200-3 AMERIKA SERIKAT 32.203 924 66.188 5.000 - - 53.320-4 REP.AFRIKA SELATAN - - - - - - 1.000-5 BRASILIA - - - - - 107.280 - - 6 SINGAPURA 21.860 323 - - 131.124 47.999 - - 7 JEPANG - - - - 1.000 - - - 8 INGGRIS - - - - 25.000 - - - 9 GUYANA - - - 20.000 - - - - 10 AUSTRIA 2.532 - - - - - - - 11 HONGKONG - - - - 9.500 - - - JUMLAH RATA-RATA PER BULAN 2.320.070 1.538.936 1.618.783 1.876.910 1.173.596 1.102.021 531.520 280.000 193.339 128.245 134.899 156.409 97.800 91.835 44.293 56.000 128
III. KONSUMSI, UTILISASI & RATIO PRODUKSI TERHADAP KONSUMSI PRODUK INDUSTRI LOGAM Produk Industri Logam Non Ferro No. Uraian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 1 ALUMINIUM INGOT *) Produksi 316.897 401.465 441.895 419.844 441.708 484.762 503.046 530.764 Ekspor 167.696 166.053 186.142 168.338 153.924 160.853 160.853 140.156 Impor 177.629 182.066 156.084 193.305 222.725 277.854 295.178 404.886 Konsumsi 326.831 420.504 401.884 414.859 477.363 517.221 539.659 621.243 Kapasitas 361.400 378.400 442.125 468.625 492.625 502.625 509.625 539.625 % Utilisasi 87,7 106,1 99,9 89,6 89,7 96,4 98,7 98,4 Ratio Produksi thd Konsumsi 97,0 95,5 110,0 101,2 92,5 93,7 93,2 85,4 *) termasuk aluminium alloy ingot (bahan bahan baku komponen KBM, Mesin dan Ekstrusi) 1.1 ALUMINIUM INGOT ALLOY (sekunder) Produksi 69.945 151.465 191.505 178.579 199.300 243.906 266.344 288.512 Ekspor 7.924 8.430 14.658 6.167 4.865 5.895 5.895 4.007 Impor 79.407 88.117 79.459 96.869 137.349 133.632 133.632 191.159 Konsumsi 141.428 231.152 256.306 269.281 331.784 371.643 394.081 475.664 Kapasitas 136.400 153.400 217.125 243.625 267.625 277.625 284.625 314.625 % Utilisasi 51,3 98,7 88,2 73,3 74,5 87,9 93,6 91,7 Ratio Produksi thd Konsumsi 49,5 65,5 74,7 66,3 60,1 65,6 67,6 60,7 1.2 ALUMINIUM INGOT PRIMER Produksi 246.952 250.000 250.390 241.265 242.408 240.856 236.702 242.252 Ekspor 159.772 157.622 171.484 162.171 149.059 154.958 154.958 136.149 Impor 98.222 93.948 76.625 96.436 85.375 144.223 161.546 213.727 Konsumsi 185.402 189.352 145.578 145.578 145.578 145.578 145.578 145.578 Kapasitas 225.000 225.000 225.000 225.000 225.000 225.000 225.000 225.000 % Utilisasi 109,8 111,1 111,3 107,2 107,7 107,0 105,2 107,7 Ratio Produksi thd Konsumsi 133,2 132,0 172,0 165,7 166,5 165,4 162,6 166,4 2 ALUMINIUM EKSTRUSI Produksi 38.561 40.374 43.301 47.631 49.298 52.452 55.976 59.252 Ekspor 7.990 14.024 10.710 8.547 11.154 10.740 9.510 11.165 Impor 1.461 1.443 2.153 2.975 9.906 9.565 13.436 16.811 Konsumsi 32.032 27.793 34.744 42.059 48.050 51.277 59.902 64.899 Kapasitas 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 % Utilisasi 38,6 40,4 43,3 47,6 49,3 52,5 56,0 59,3 Ratio Produksi thd Konsumsi 120,4 145,3 124,6 113,2 102,6 102,3 93,4 91,3 129
No. Uraian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 3 ALUMINIUM SHEET Produksi 54.483 59.076 58.042 64.601 61.920 65.744 67.216 70.270 Ekspor 20.414 35.298 48.258 52.367 44.967 33.389 79.755 91.335 Impor 36.890 43.140 55.156 73.733 139.964 62.194 95.492 143.824 Konsumsi 70.959 66.918 64.940 85.967 156.917 94.549 82.953 122.758 Kapasitas 116.000 116.000 116.000 116.000 116.000 116.000 116.000 116.000 % Utilisasi 47,0 50,9 50,0 55,7 53,4 56,7 57,9 60,6 Ratio Produksi thd Konsumsi 76,8 88,3 89,4 75,1 39,5 69,5 81,0 57,2 4 ALUMINIUM FOIL Produksi 14.629 13.472 12.697 12.157 13.677 12.899 14.485 16.071 Ekspor 7.230 9.937 9.768 9.318 10.489 7.492 8.672 9.229 Impor 10.918 9.112 7.627 8.869 10.289 12.669 15.430 19.784 Konsumsi 18.316 12.646 10.555 11.709 13.478 18.076 21.243 26.626 Kapasitas 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000 % Utilisasi 73,1 67,4 63,5 60,8 68,4 64,5 72,4 80,4 Ratio Produksi thd Konsumsi 79,9 106,5 120,3 103,8 101,5 71,4 68,2 60,4 5 BATANG KAWAT TEMBAGA Produksi 55.036 70.674 60.705 66.776 54.395 60.839 61.083 62.412 Ekspor 17.473 25.897 20.290 4.852 4.850 6.416 6.482 9.754 Impor 1.131 1.750 2.034 4.707 2.941 1.588 1.927 3.848 Konsumsi 38.693 46.527 42.449 66.630 52.487 56.011 56.528 56.506 Kapasitas 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 % Utilisasi 55,0 70,7 60,7 66,8 54,4 60,8 61,1 62,4 Ratio Produksi thd Konsumsi 142,2 151,9 143,0 100,2 103,6 108,6 108,1 110,5 6 KATODA TEMBAGA Produksi 203.838 261.755 198.513 271.509 254.170 271.082 276.400 281.718 Ekspor 86.706 136.374 93.564 166.428 141.376 194.928 159.532 130.170 Impor 15.599 20.795 17.267 7.870 63.699 44.117 73.930 66.067 Konsumsi 132.731 146.176 122.217 112.950 176.493 120.271 190.798 217.614 Kapasitas 215.000 250.000 250.000 250.000 275.000 275.000 275.000 300.000 % Utilisasi 94,8 104,7 79,4 108,6 92,4 98,6 100,5 93,9 Ratio Produksi thd Konsumsi 153,6 179,1 162,4 240,4 144,0 225,4 144,9 129,5 130
Pengarah Waryono Karno Sekretaris Jenderal KESDM Penanggungjawab Ego Syahrial Kepala Pusat Data dan Informasi ESDM Atena Falahti Kepala Bidang Kajian Strategis Ketua Arifin Togar Napitupulu Kepala Sub Bidang Kajian Strategis Mineral Wakil Ketua Aang Darmawan Kepala Sub Bidang Kajian Strategis Energi Koordinator Aries Kusumawanto Anggota Tri Nia Kurniasih Golfritz Sahat Sihotang Agus Supriadi Catur Budi Kurniadi Ameri Isra Narasumber Siti Rochani Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Muhardi Akbar Kementerian Perdagangan Alfa Firdaus Universitas Mercu Buana TIM PENYUSUN 131