WARP PADA SEBUAH SEGITIGA

dokumen-dokumen yang mirip
REALISASI POSITIF STABIL ASIMTOTIK DARI SISTEM LINIER DISKRIT

STABILISASI SISTEM KONTROL LINIER DENGAN PENEMPATAN NILAI EIGEN

APLIKASI DEKOMPOSISI NILAI SINGULAR PADA KOMPRESI UKURAN FILE GAMBAR

PEMBUKTIAN RUMUS BENTUK TUTUP BEDA MUNDUR BERDASARKAN DERET TAYLOR

SOLUSI POSITIF DARI SISTEM SINGULAR DISKRIT

SOLUSI POSITIF DARI PERSAMAAN LEONTIEF DISKRIT

GRUP ALJABAR DAN -MODUL REGULAR SKRIPSI SARJANA MATEMATIKA OLEH: FITRIA EKA PUSPITA

PENGKONSTRUKSIAN BILANGAN TIDAK KONGRUEN

ANALISIS LAX PAIR DAN PENERAPANNYA PADA PERSAMAAN KORTEWEG-DE VRIES

Aljabar Linier Elementer. Kuliah ke-9

OBSERVER UNTUK SISTEM KONTROL LINIER KONTINU

HUBUNGAN ANTARA HIMPUNAN KUBIK ASIKLIK DENGAN RECTANGLE

MODEL DINAMIKA CINTA DENGAN MEMPERHATIKAN DAYA TARIK PASANGAN

Aljabar Linier Elementer. Kuliah 27

1 Mengapa Perlu Belajar Geometri Daftar Pustaka... 1

KETEROBSERVASIAN SISTEM LINIER DISKRIT

KAITAN SPEKTRUM KETETANGGAAN DARI GRAF SEKAWAN

Sistem Persamaan Linier (SPL)

STABILISASI SISTEM KONTROL LINIER INVARIANT WAKTU DENGAN MENGGUNAKAN METODE ACKERMANN

METODE PSEUDO ARC-LENGTH DAN PENERAPANNYA PADA PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN NONLINIER TERPARAMETERISASI

SUBRUANG VEKTOR. Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah Aljabar Linier. Dosen Pembimbing: Abdul Aziz Saefudin, M.Pd

REALISASI POSITIF STABIL ASIMTOTIK SISTEM LINIER DISKRIT DENGAN POLE KONJUGAT KOMPLEKS

HIMPUNAN KUBIK ASIKLIK DAN KUBUS DASAR

SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA

METODE BENTUK NORMAL PADA PENYELESAIAN PERSAMAAN RAYLEIGH

STABILISASI SISTEM DESKRIPTOR DISKRIT LINIER POSITIF

Ruang Vektor Euclid R 2 dan R 3

Aljabar Linier Elementer

VEKTOR. Gambar 1.1 Gambar 1.2 Gambar 1.3. Liduina Asih Primandari, S.Si., M.Si.

5. PERSAMAAN LINIER. 1. Berikut adalah contoh SPL yang terdiri dari 4 persamaan linier dan 3 variabel.

STRUKTUR SEMILATTICE PADA PRA A -ALJABAR

PENCARIAN AKAR-AKAR PERSAMAAN NONLINIER SATU VARIABEL DENGAN METODE ITERASI BARU HASIL DARI EKSPANSI TAYLOR

Aljabar Linear Elementer

1. PENDAHULUAN 2. METODE PENELITIAN 3. HASIL DAN PEMBAHASAN. Abstrak

KARAKTERISTIK G-HOMOMORFISMA SKRIPSI SARJANA MATEMATIKA OLEH MEGA PARAMITASARI

Perluasan Teorema Cayley-Hamilton pada Matriks

BILANGAN KROMATIK LOKASI UNTUK GRAF C n K m, DENGAN n 3 DAN m 1

PAM 252 Metode Numerik Bab 3 Sistem Persamaan Linier

ANALISA STEADY STATE ERROR SISTEM KONTROL LINIER INVARIANT WAKTU

KESTABILAN TITIK TETAP MODEL PENULARAN PENYAKIT TIDAK FATAL

METODE BENTUK NORMAL PADA PENYELESAIAN PERSAMAAN DUFFING

PENURUNAN METODE NICKALLS DAN PENERAPANNYA PADA PENYELESAIAN PERSAMAAN KUBIK

PELABELAN TOTAL TITIK AJAIB PADA GRAF SIKLUS DENGAN BANYAK TITIK GENAP

Kata Pengantar. Puji syukur kehadirat Yang Maha Kuasa yang telah memberikan pertolongan hingga modul ajar ini dapat terselesaikan.

Kumpulan Soal,,,,,!!!

EKSISTENSI DAN KONSTRUKSI GENERALISASI

SIFAT-SIFAT DINAMIK DARI MODEL INTERAKSI CINTA DENGAN MEMPERHATIKAN DAYA TARIK PASANGAN

TEOREMA PYTHAGORAS PADA BIDANG TAXICAB

ALGORITMA ELIMINASI GAUSS INTERVAL DALAM MENDAPATKAN NILAI DETERMINAN MATRIKS INTERVAL DAN MENCARI SOLUSI SISTEM PERSAMAAN INTERVAL LINEAR

BAB II LANDASAN TEORI

(Departemen Matematika FMIPA-IPB) Matriks Bogor, / 66

Ruang Baris, Ruang Kolom, dan Ruang Null (Kernel)

Ruang Vektor Euclid R n

TRANSFORMASI LINEAR. Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Aljabar Linear. Dosen Pengampu : Abdul Aziz Saefudin, M.Pd

Pertemuan Ke 2 SISTEM PERSAMAAN LINEAR (SPL) By SUTOYO,ST.,MT

DIAGONALISASI MATRIKS KOMPLEKS

PENJADWALAN KULIAH DENGAN ALGORITMA WELSH-POWELL (STUDI KASUS: JURUSAN MATEMATIKA FMIPA UNAND)

REALISASI SISTEM LINIER INVARIANT WAKTU

HASIL PRESENTASI ALJABAR LINIER ( SUB RUANG VEKTOR ) Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Aljabar Linier. Dosen Pengampu : Darmadi, S,Si, M.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

METODE PSEUDOSPEKTRAL CHEBYSHEV PADA APROKSIMASI TURUNAN FUNGSI

BAB 2 RUANG HILBERT. 2.1 Definisi Ruang Hilbert

PENYELESAIAN PERSAMAAN NONLINIER DENGAN METODE MODIFIKASI BAGI DUA

PAM 252 Metode Numerik Bab 3 Sistem Persamaan Linier

VEKTOR II. Tujuan Pembelajaran

DEFISIENSI SISI-AJAIB SUPER DARI GRAF RANTAI

BILANGAN KROMATIK LOKASI DARI GRAF HUTAN LINIER H t

SOLUSI REFLEKSIF DAN ANTI-REFLEKSIF DARI PERSAMAAN MATRIKS AX = B

PEMODELAN ARUS LALU LINTAS ROUNDABOUT

SPECTRUM PADA GRAF STAR ( ) DAN GRAF BIPARTISI KOMPLIT ( ) DENGAN

Pertemuan 1 Sistem Persamaan Linier dan Matriks

BILANGAN AJAIB MAKSIMUM DAN MINIMUM PADA GRAF SIKLUS GANJIL

MINIMISASI STASIUN PEMADAM KEBAKARAN DI KOTA PADANG

DEKOMPOSISI PRA A*-ALJABAR

ALJABAR LINIER MAYDA WARUNI K, ST, MT ALJABAR LINIER (I)

PENGAJARAN HASIL KALI TITIK DAN HASIL KALI SILANG PADA VEKTOR SERTA BEBERAPA PENGEMBANGANNYA. Suwandi 1.

MATRIKS UNITER, SIMILARITAS UNITER DAN MATRIKS NORMAL. Anis Fitri Lestari. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ponorogo ABSTRAK

PENGGUNAAN METODE LYAPUNOV UNTUK MENGUJI KESTABILAN SISTEM LINIER

Candi Gebang Permai Blok R/6 Yogyakarta Telp. : ; Fax. :

Aljabar Linier Sistem koordinat, dimensi ruang vektor dan rank

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

GELANGGANG ARTIN. Kata Kunci: Artin ring, prim ideal, maximal ideal, nilradikal.

KAJIAN METODE KONDENSASI CHIO PADA DETERMINAN MATRIKS

KETEROBSERVASIAN SISTEM DESKRIPTOR DISKRIT LINIER

MATRIKS BENTUK KANONIK RASIONAL DENGAN MENGGUNAKAN PEMBAGI ELEMENTER INTISARI

MENENTUKAN PERPANGKATAN MATRIKS TANPA MENGGUNAKAN EIGENVALUE

PEMBUKTIAN BENTUK TUTUP RUMUS BEDA MAJU BERDASARKAN DERET TAYLOR

KAJIAN TENTANG LAX PAIR DAN PENERAPANNYA PADA PERSAMAAN LIOUVILLE

PELABELAN TOTAL SISI AJAIB PADA GRAF BINTANG

RUANG HASIL KALI DALAM (RHKD) Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Aljabar Linear Dosen Pengampu: Abdul Aziz Saefudin, M.

PENENTUAN ANGGOTA KELAS RAMSEY MINIMAL UNTUK PASANGAN (2K 2, C 4 )

APLIKASI MATRIKS LESLIE UNTUK MEMPREDIKSI JUMLAH DAN LAJU PERTUMBUHAN SUATU POPULASI

BAB VII MATRIKS DAN SISTEM LINEAR TINGKAT SATU

ALGORITMA RUTE FUZZY TERPENDEK UNTUK KONEKSI SALURAN TELEPON

Matematika II : Vektor. Dadang Amir Hamzah

PELABELAN TOTAL TITIK AJAIB PADA GRAF LENGKAP DENGAN METODE MODIFIKASI MATRIK BUJURSANGKAR AJAIB DENGAN n GANJIL, n 3

Transkripsi:

Jurnal Matematika UNAND Vol. 3 No. 3 Hal. 26 33 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND WARP PADA SEBUAH SEGITIGA ABDUL ZAKY, MAHDHIVAN SYAFWAN Program Studi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Kampus UNAND Limau Manis Padang, Indonesia, zakimathua@yahoo.com Abstrak. Warp pada sebuah segitiga merupakan salah satu aplikasi dari transformasi Afin yang menjadi dasar dari teknik manipulasi gambar. Teorema-teorema terkait beserta contoh dari proses warp dijelaskan pada makalah ini. Kata Kunci: Warp, transformasi Afin 1. Pendahuluan Salah satu teknik manipulasi gambar yang sangat menarik yaitu dengan mendistorsikan berbagai potongan segitiga pada sebuah gambar ke posisi dan ukuran yang berbeda. Teknik manipulasi gambar ini dinamakan teknik warp. Warp memiliki banyak aplikasi di dunia nyata, diantaranya: (1) Pembuatan efek-efek khusus dan animasi pada film. (2) Penelitian terhadap evolusi dari bentuk-bentuk organisme. (3) Bedah plastik dan rekonstruksi wajah. (4) Pengubahan umur pada foto orang hilang atau buronan polisi. Teknik warp dikembangkan dari konsep transformasi Afin. Mengingat aplikasinya yang sangat bermanfaat, maka tentu akan sangat menarik untuk membahas lebih detail bagaimana transformasi Afin digunakan dalam proses warp. Makalah ini akan membahas proses warp pada sebuah segitiga yang merupakan salah satu topik aplikasi pada referensi [1]. 2. Kombinasi Cembung, Transformasi Afin, dan Verteks Pada bagian ini disajikan teori-teori dasar yang digunakan pada proses warp pada sebuah segitiga. Berikut diberikan definisi kombinasi cembung, transformasi Afin dan verteks. Definisi 2.1. [1] Suatu vektor v dikatakan suatu kombinasi cembung (convex combination) dari vektor-vektor v 1, v 2, v 3,, v n, jika vektor-vektor tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk v = k 1 v 1 + k 2 v 2 + k 3 v 3 + + k n v n, dimana k 1 + k 2 + k 3 + + k n = 1 dan k 1, k 2, k 3,, k n adalah skalar tak-negatif. 26

Warp Pada Sebuah Segitiga 27 Definisi 2.2. [2] Suatu pemetaan T : E 2 E 2, dimana E 2 adalah bidang Euclid, dikatakan suatu transformasi Afin, jika terdapat matriks A 2 2 yang dapat dibalik dan suatu vektor b R 2 sedemikian sehingga untuk setiap x R 2 berlaku T (x) = A(x) + b. Definisi 2.3. [1] Suatu vektor p dikatakan verteks (x, y) jika vektor p tersebut berpangkal di titik (0, 0) dan berujung di titik (x, y). 3. Warp dan Teorema Terkait Warp adalah salah satu teknik manipulasi gambar dengan cara memindahkan berbagai potongan segitiga yang terbentuk dari gambar tersebut [1]. Warp berarti melengkungkan atau membengkokkan. Apabila sebuah titik yang terdapat pada sebuah potongan gambar dipindahkan, maka bentuk dari gambar akan melengkung. Teorema-teorema yang terkait pada pembahasan ini akan dijelaskan melalui ilustrasi singkat tentang proses warp pada sebuah segitiga berikut ini. Proses warp pada sebuah segitiga diawali dengan mendeskripsikan sebuah warp dari sebuah segitiga pada suatu bidang R 2. Pada segitiga tersebut terdapat tiga buah titik sudut (verteks), misalkan dinyatakan oleh v 1, v 2, v 3 yang masing-masingnya tidak segaris (nonkolinear) (lihat Gambar 1(a)). Segitiga ini disebut dengan segitiga awal (begin-triangle). Jika v adalah sebarang titik di dalam segitiga awal, maka terdapat konstanta-konstanta tunggal k 1 dan k 2 dengan k 1 0 dan k 2 0 sedemikian rupa sehingga v v 3 = k 1 (v 1 v 3 ) + k 2 (v 2 v 3 ). (3.1) Gambar 1. Me-warp-kan segitiga Persamaan (3.1) menyatakan vektor v v 3 sebagai kombinasi linier dari dua vektor v 1 v 3 dan v 2 v 3 yang bebas linier. Misalkan k 3 = 1 k 1 k 2, maka persamaan (3.1) menjadi dimana v = k 1 v 1 + k 2 v 2 + k 3 v 3, (3.2) k 1 + k 2 + k 3 = 1. (3.3)

28 Abdul Zaky, Mahdhivan Syafwan Dari persamaan (3.2) dan (3.3) dapat dikatakan bahwa v adalah kombinasi cembung dari vektor-vektor v 1, v 2, dan v 3 dengan konstanta tak-negatif k 1, k 2, dan k 3. Teorema 3.1. [1] Jika vektor v adalah sebuah kombinasi cembung dari v 1, v 2, v 3, maka ujung vektor v terletak di dalam sebuah segitiga yang menghubungkan ujungujung ketiga vektor v 1, v 2, dan v 3. Untuk membuktikan teorema di atas diperlukan dua lema berikut. Lema 3.2. [1] Misalkan a dan b adalah vektor-vektor bebas linier pada suatu bidang. Jika k 1 dan k 2 adalah bilangan tak-negatif dengan k 1 + k 2 = 1, maka vektor k 1 a + k 2 b terletak pada suatu segmen garis yang menghubungkan ujung vektor a dan ujung vektor b. Bukti. Karena k 1 dan k 2 adalah konstanta tak-negatif yang memenuhi k 1 +k 2 = 1, maka k 2 = 1 k 1. Selanjutnya, k 1 a + k 2 b = k 1 a + (1 k 1 )b = k 1 a + b k 1 b = b + k 1 (a b). Persamaan terakhir menunjukkan bahwa vektor k 1 a + k 2 b berada pada segmen garis yang menghubungkan ujung vektor a dan ujung vektor b. Lema 3.3. [1] Jika suatu vektor b + k 1 (a b) berada pada segmen garis yang menghubungkan ujung vektor a dan ujung vektor b, maka untuk k 1 + k 2 1, k 1 a + k 2 b berada di dalam suatu segitiga yang menghubungkan titik asal dengan ujung vektor a dan ujung vektor b. Bukti. Misalkan b + k 1 (a b) merupakan vektor yang berada pada segmen garis yang menghubungkan ujung vektor a dan ujung vektor b. Karena k 1 +k 2 1, maka k 2 1 k 1. Selanjutnya, k 1 a + k 2 b k 1 a + (1 k 1 )b k 1 a + b k 1 b b + k 1 a k 1 b b + k 1 (a b). Dari hubungan di atas dapat disimpulkan bahwa vektor k 1 a + k 2 b lebih pendek atau sama dengan vektor b + k 1 (a b). Jadi vektor k 1 a + k 2 b berada di dalam segitiga yang menghubungkan titik (0, 0) dengan ujung vektor a dan ujung vektor b. Berikut dijelaskan bukti Teorema 3.1. Bukti. Misalkan vektor v merupakan kombinasi cembung dari v 1, v 2, v 3. Dengan

demikian k 1 + k 2 + k 3 = 1 dan k 1, k 2, k 3 0, sehingga berlaku Warp Pada Sebuah Segitiga 29 v = k 1 v 1 + k 2 v 2 + k 3 v 3 = k 1 v 1 + k 2 v 2 + (1 k 1 k 2 )v 3 = k 1 v 1 + k 2 v 2 + v 3 k 1 v 3 k 2 v 3. = k 1 (v 1 v 3 ) + k 2 (v 2 v 3 ) + v 3 (3.4) Tulis a = v 1 v 3 dan b = v 2 v 3. Artinya a dan b adalah dua vektor yang sama-sama memiliki titik pangkal di ujung vektor v 3. Jadi persamaan (3.4) dapat ditulis v = k 1 a + k 2 b + v 3 v v 3 = k 1 a + k 2 b. Selanjutnya perhatikan bahwa k 1 + k 2 + k 3 = 1, dengan k 1, k 2, k 3 tak-negatif, mengakibatkan k 1 +k 2 1. Berdasarkan Lema 3.3, v v 3 = k 1 a+k 2 b berada di dalam segitiga yang menghubungkan titik pangkal a dan b (dalam hal ini ujung vektor v 3 ) dengan ujung vektor a (dalam hal ini ujung vektor v 1 ) dan ujung vektor b (dalam hal ini ujung vektor v 2 ). Karena ujung vektor v v 3 sama dengan ujung vektor v maka dapat disimpulkan bahwa ujung vektor v terletak di dalam segitiga yang menghubungkan ujung vektor v 1, v 2, dan v 3. Selanjutnya diberikan tiga vektor w 1, w 2, dan w 3 yang merupakan titik-titik sudut dari segitiga pada Gambar 1(b) (disebut segitiga akhir (end-triangle)). Misalkan v 1, v 2,v 3 pada gambar awal dan w 1, w 2,w 3 pada gambar akhir dapat dibuat hubungan w i = Av i + b untuk i = 1, 2, 3, (3.5) dimana A matriks 2 2 yang unik dan dapat dibalik dan b vektor berdimensi 2. Maka berdasarkan Definisi 2.2, terdapat sebuah transformasi Afin yang memetakan v 1 ke w 1, v 2 ke w 2 dan v 3 ke w 3. Teorema 3.4. [1] Misalkan suatu transformasi Afin diberikan oleh sebuah matriks A 2 2, dan sebuah vektor b. Misalkan w = Av + b dan w i = Av i + b untuk i = 1, 2, 3. Jika v kombinasi cembung dari v 1, v 2, v 3, maka w adalah kombinasi cembung dari w 1, w 2, w 3, yaitu dengan k 1 + k 2 + k 3 = 1. w = k 1 w 1 + k 2 w 2 + k 3 w 3, (3.6) Bukti. Vektor w i merupakan hasil transformasi Afin dari v i untuk i = 1, 2, 3, sedemikian sehingga w 1 = Av 1 + b, w 2 = Av 2 + b, dan w 3 = Av 3 + b. Karena

30 Abdul Zaky, Mahdhivan Syafwan w = Av + b, dan v kombinasi cembung dari v 1, v 2, v 3, maka w = A(k 1 v 1 + k 2 v 2 + k 3 v 3 ) + b = k 1 Av 1 + k 2 Av 2 + k 3 Av 3 + b(k 1 + k 2 + k 3 ) = k 1 Av 1 + k 1 b + k 2 Av 2 + k 2 b + k 3 Av 3 + k 3 b = k 1 (Av 1 + b) + k 2 (Av 2 + b) + k 3 (Av 3 + b) = k 1 w 1 + k 2 w 2 + k 2 w 2. Jadi w juga merupakan kombinasi cembung dari w 1, w 2 dan w 3. 4. Proses Warp pada Sebuah Segitiga Misalkan v 1, v 2, v 3 merepresentasikan verteks pada segitiga awal dan w 1, w 2, w 3 adalah verteks pada segitiga akhir. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, terdapat sebuah transformasi Afin w i = Av i + b. (4.1) Subtitusikan persamaan (4.1) ke persamaan (3.6), maka diperoleh w = k 1 (Av 1 + b) + k 2 (Av 2 + b) + k 3 (Av 3 + b) = Ak 1 v 1 + k 1 b + Ak 2 v 2 + k 2 b + Ak 3 v 3 + k 3 b = A(k 1 v 1 + k 2 v 2 + k 3 v 3 ) + (k 1 + k 2 + k 3 )b. Untuk memperoleh A dan b, konstruksi sistem persamaan dengan menggunakan verteks yang terdapat pada segitiga. Misalkan koordinat verteks v i dan w i diberikan oleh ( ) ( ) vix wix v i = dan w i =. (4.2) v iy Kemudian misalkan matriks A dan vektor b adalah ( ) a11 a A = 12 dan b = a 21 a 22 Dengan mensubstitusikan persamaan (4.2) ke persamaan (4.1) untuk i = 1, 2, 3, diperoleh w iy ( bx b y ). w 1x = a 11 v 1x + a 12 v 1y + b x w 1y = a 21 v 1x + a 22 v 1y + b y w 2x = a 11 v 2x + a 12 v 2y + b x w 2y = a 21 v 2x + a 22 v 2y + b y w 3x = a 11 v 3x + a 12 v 3y + b x w 3y = a 21 v 3x + a 22 v 3y + b y. (4.3) Sistem persamaan di atas dapat dibagi menjadi dua sistem persamaan: w 1x = a 11 v 1x + a 12 v 1y + b x w 2x = a 11 v 2x + a 12 v 2y + b x w 3x = a 11 v 3x + a 12 v 3y + b x dan w 1y = a 21 v 1x + a 22 v 1y + b y w 2y = a 21 v 2x + a 22 v 2y + b y. w 3y = a 21 v 3x + a 22 v 3y + b y

Warp Pada Sebuah Segitiga 31 Kedua sistem persamaan di atas dapat dibentuk ke dalam bentuk matriks berikut. v 1x v 1y 1 a 11 w 1x v 2x v 2y 1 a 12 = w 2x v 3x v 3y 1 b x w 3x dan v 1x v 1y 1 a 21 w 1y v 2x v 2y 1 a 22 = w 2y. v 3x v 3y 1 b y w 3y Perhatikan bahwa kedua sistem di atas mempunyai matriks koefisien yang sama dan matriks koefisien tersebut mempunyai invers, karena v 1, v 2, v 3 merupakan vektor-vektor yang tak-segaris sehingga mempunyai determinan yang tidak sama dengan nol. Jadi solusi untuk a 1, a 2, a 3, a 4, b x dan b y diberikan oleh a 11 v 1x v 1y 1 a 12 = v 2x v 2y 1 b x v 3x v 3y 1 1 w 1x w 2x w 3x (4.4) dan a 21 v 1x v 1y 1 a 22 = v 2x v 2y 1 b y v 3x v 3y 1 1 w 1y w 2y w 3y. (4.5) Sekarang misalkan titik-titik yang termuat dalam sebuah segitiga, termasuk titik-titik pada sisi segitiga dan verteks segitiga, berjumlah r buah (titik-titik ini direpresentasikan oleh titik-titik pixel pada gambar). Dengan demikian terdapat (r 3) buah titik pada segitiga awal selain verteks v 1, v 2, v 3 dan (r 3) buah titik pada segitiga akhir selain verteks w 1, w 2, w 3. Pada implementasinya nanti, suatu titik dapat dipastikan berada dalam sebuah segitiga jika titik tersebut merupakan kombinasi ( cembung ) dari verteks pada segitiga tersebut (lihat Teorema 3.1). pjx Misalkan p j = adalah titik yang berada pada segitiga awal selain verteks p jy ( ) qjx v 1, v 2, v 3 dan q j = adalah titik yang berada pada segitiga akhir selain q jy w 1, w 2, w 3, dimana j = 1, 2,, (r 3). Perhatikan bahwa p j merupakan kombinasi cembung dari v 1, v 2, v 3. Apabila p j dan q j memenuhi transformasi Afin q jx = a 11 p jx + a 12 p jy + b x, q jy = a 21 p jx + a 22 p jy + b y, (4.6) untuk j = 1, 2,, (r 3), maka menurut Teorema 3.4, titik q j merupakan kombinasi cembung dari w 1, w 2, w 3. Dengan demikian, menurut Teorema 3.1, titik-titik q j terletak di dalam segitiga yang dibentuk oleh verteks w 1, w 2, w 3.

32 Abdul Zaky, Mahdhivan Syafwan Gabungan dari sistem persamaan (4.6) dengan sistem persamaan (4.5) dapat ditulis dalam bentuk matriks sebagai berikut: w 1x w 2x w 3x q jx a 11 a 12 b x v 1x v 2x v 3x p jx w 1y w 2y w 3y q jy = a 21 a 22 b y v 1y v 2y v 3y p jy. (4.7) 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 Selanjutnya perhatikan bahwa berdasarkan Teorema 3.4, titik q merupakan kombinasi cembung dari w 1, w 2, dan w 3. Akibatnya, q terletak di dalam segitiga yang menghubungkan verteks w 1, w 2, dan w 3 (dijamin oleh Teorema 3.1). Berdasarkan penjelasan di atas, maka sebuah segitiga awal dapat di-warp-kan dengan melakukan transformasi Afin terhadap setiap titik dalam segitiga tersebut. 5. Contoh Misalkan suatu transformasi Afin memetakan vektor-vektor v 1, v 2, v 3 berturutturut ke vektor-vektor w 1, w 2, w 3 dimana v 1 = (1, 1), v 2 = (2, 3), v 3 = (2, 1), w 1 = (4, 3), w 2 = (9, 5), dan w 3 = (5, 3). Akan ditentukan matriks A dan vektor b yang memenuhi transformasi Afin dari v i ke w i, i = 1, 2, 3. Kemudian jika diambil titik p = (2, 2), akan diperiksa apakah titik tersebut berada pada segitiga yang menghubungkan v 1, v 2, dan v 3 atau tidak. Jika ya, akan dicari titik q yang merupakan peta dari p dan terletak pada segitiga yang menghubungkan w 1, w 2, dan w 3. Perhatikan bahwa persamaan (4.4) dan (4.5) untuk nilai-nilai vektor v i dan w i pada contoh menjadi 1 1 a 11 1 1 1 4 a 21 1 1 1 3 a 12 = 2 3 1 9 dan a 22 = 2 3 1 5. b x 2 1 1 5 b y 2 1 1 3 Jadi diperoleh a 1 = 1, a 2 = 2, a 3 = 0, a 4 = 1, b 1 = 1, b 2 = 2. Oleh karena itu matriks A dan vektor b yang memenuhi transformasi Afin tersebut adalah ( ) ( ) 1 2 1 A = dan b =. 0 1 2 Kemudian untuk memeriksa apakah titik p berada di dalam segitiga dengan verteks v 1, v 2, dan v 3, maka perlu diperiksa terlebih dahulu apakah p merupakan kombinasi cembung dari v 1, v 2, dan v 3. Dalam hal ini akan dicari nilai k 1, k 2, dan k 3 yang tak-negatif sedemikian sehingga berlaku p = k 1 v 1 +k 2 v 2 +k 3 v 3 dan k 1+ k 2 +k 3 = 1 atau dalam bentuk matriks dapat ditulis 1 2 2 2 1 3 1 1 1 1 k 1 k 2 k 3 = Solusi untuk k 1, k 2, k 3 diberikan oleh k 1 1 0 2 k 2 = 0 1/2 1/2 k 3 1 1/2 1/2 2 1. 2 2 = 1 0. 1/2 1/2

Warp Pada Sebuah Segitiga 33 Dari sistem di atas diperoleh k 1 = 0, k 2 = 1/2, dan k 3 = 1/2 yang bernilai taknegatif. Jadi dapat disimpulkan bahwa p merupakan kombinasi cembung dari v 1, v 2, dan v 3. Lebih lanjut, berdasarkan Teorema 3.4, p dijamin terletak di dalam segitiga yang menghubungkan v 1, v 2, dan v 3. Kemudian posisi titik q yang merupakan hasil transformasi Afin dari p dapat ditentukan berdasarkan persamaan (4.7), yaitu 1 2 1 1 2 2 2 4 9 5 7 Jadi titik q = (7, 4). 4 9 5 q x 3 5 3 q y = 1 1 1 1 0 1 2 0 0 1 1 3 1 2 1 1 1 1 = 3 5 3 4 1 1 1 1. 6. Kesimpulan dan Saran Adapun kesimpulan dari makalah ini dapat dijelaskan sebagai berikut. (1) Warp pada sebuah segitiga dapat dihasilkan dengan menggunakan transformasi Afin yang memiliki sebuah matriks 2 2 yang dapat dibalik dan sebuah vektor berdimensi 2. (2) Transformasi Afin akan memetakan kombinasi cembung dari vektor-vektor ke kombinasi cembung yang sama dari peta vektor-vektor tersebut. (3) Setiap pixel yang terdapat pada segitiga yang dibatasi oleh 3 buah verteks yang saling dihubungkan merupakan kombinasi cembung dari ketiga verteks yang membentuk segitiga tersebut. (4) Sebuah segitiga awal dapat di-warp-kan dengan melakukan transformasi Afin terhadap setiap titik dalam segitiga tersebut. Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu mengembangkan topik ini menjadi lebih menarik dengan menjadikan konsep warp pada sebuah segitiga sebagai dasar untuk proses warp pada sebuah gambar. 7. Ucapan Terima kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Narwen, M.Si, Ibu Nova Noliza Bakar, M.Si, dan Ibu Riri Lestari, M.Si yang telah memberikan masukan dan saran sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Daftar Pustaka [1] Anton, H. dan C. Rorres. 2005. Aljabar Linear Elementer Versi Aplikasi. Edisi Delapan. Erlangga, Jakarta [2] Ryan, P.J. 1992. Euclidean and Non-Euclidean Geometry. Cambridge University Press, New York