TEMPAT PENJUALAN HEWAN

dokumen-dokumen yang mirip
Tempat Penampungan Sementara Hewan Kurban

I. PENDAHULUAN. yang memiliki potensi hijauan hasil limbah pertanian seperti padi, singkong, dan

Lampiran 1. Kuisioner Penelitian Desa : Kelompok : I. IDENTITAS RESPONDEN 1. Nama : Umur :...tahun 3. Alamat Tempat Tinggal :......

PENERAPAN KESEJAHTERAAN HEWAN DI RUMAH POTONG HEWAN Oleh. drh. Aryani Widyawati

1) Pencarian dan sewa lahan yang digunakan untuk tempat penggemukan sapi. BAB V RENCANA AKSI. 5.1 Kegiatan

P e r u n j u k T e k n i s PENDAHULUAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. dan/atau kegiatan wajib melakukan pengolahan limbah hasil usaha dan/atau

PROGRAM MAHASISWA WIRAUSAHA JUDUL PROGRAM

BAB VII KANDANG DAN PERKANDANGAN

Lampiran 1 Kuesioner Tatalaksana Kesehatan Peternakan Sapi Perah Rakyat di KTTSP Baru Sireum Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor

PENANGANAN DAGING KURBAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 114/Permentan/PD.410/9/2014 TENTANG PEMOTONGAN HEWAN KURBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2 3. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Nomor 501

DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN KABUPATEN GROBOGAN MEMILIH DAGING ASUH ( AMAN, SEHAT, UTUH, HALAL )

ANALISIS HASIL USAHA TERNAK SAPI DESA SRIGADING. seperti (kandang, peralatan, bibit, perawatan, pakan, pengobatan, dan tenaga

PEMOTONGAN HEWAN HARI RAYA IDUL ADHA (QURBAN)

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Letak Geografis dan Topografi CV. Anugrah Farm

PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN PEMBIBITAN BABI TAHUN 2012 DIREKTORAT PERBIBITAN TERNAK

PUPUK KANDANG MK : PUPUK DAN TEKNOLOGI PEMUPUKAN SMT : GANJIL 2011/2011

PENDAHULUAN. yang sangat penting untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Pembangunan peternakan di Indonesia lebih ditujukan guna

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

BAB I PENDAHULUAN. Rumput gajah odot (Pannisetum purpureum cv. Mott.) merupakan pakan. (Pannisetum purpureum cv. Mott) dapat mencapai 60 ton/ha/tahun

>> PENDAHULUAN >> TUJUAN >> MANFAAT

BAB V RENCANA AKSI. Untuk dapat mulai menjalankan unit bisnis IFS BATARI secara tepat

MEMBUAT SILASE PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. tinggi. Fakta ini menyebabkan kebutuhan yang tinggi akan protein hewani

PENGENDALIAN INFEKSI CACING HATI PADA SAPI OLeh : Akram Hamidi

Feed Wafer dan Feed Burger. Ditulis oleh Mukarom Salasa Selasa, 18 Oktober :04 - Update Terakhir Selasa, 18 Oktober :46

II. TINJAUAN PUSTAKA. ternak dalam suatu usahatani atau dalam suatu wilayah. Adapun ciri keterkaitan

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL (Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul) Nomor : 1 Tahun : 2017

UNDANG-UNDANG DAN KEPUTUSAN

PENDAHULUAN. Sedangkan pads Bokashi Arang Sekam setelah disimpan selama 4 minggu C/N rationya sebesar 20.

VI ANALISIS ASPEK-ASPEK NON FINANSIAL

BAB I PENDAHULUAN. Potensi kekayaan alam yang dimiliki Indonesia sangatlah berlimpah, mulai

Coleman and Lawrence (2000) menambahkan bahwa kelemahan dari pakan olahan dalam hal ini wafer antara lain adalah:

PENDAHULUAN. Latar Belakang. sangat berperan penting sebagai sumber asupan gizi yang dibutuhkan

PENGGEMUKAN SAPI Oleh : Arif fachul anam BP3K Binangun

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. untuk penggemukan dan pembibitan sapi potong. Tahun 2003 Pusat Pembibitan dan

DAFTAR ISI. DAFTAR TABEL... xvi. DAFTAR GAMBAR... xviii. DAFTAR LAMPIRAN... xx I. PENDAHULUAN... 1 II. TINJAUAN PUSTAKA... 14

V. PROFIL PETERNAK SAPI DESA SRIGADING. responden memberikan gambaran secara umum tentang keadaan dan latar

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. yang tergabung pada TPK Cibodas yang berada di Desa Cibodas, Kecamatan


BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

WALIKOTAMADYA KEPALA DAERAH TINGKAT II YOGYAKARTA

PEMBUATAN BIOPLUS DARI ISI RUMEN Oleh: Masnun, S.Pt., M.Si

BAB II KAJIAN PUSTAKA...

I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi

KETENTUAN PEMELIHARAAN TERNAK BUPATI MAROS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Organisasi merupakan suatu gabungan dari orang-orang yang bekerja sama

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 141 TAHUN 2009 TENTANG

Pengaruh Lumpur Sawit Fermentasi dalam Ransum Terhadap Performa Ayam Kampung Periode Grower

USAHA TERNAK AYAM PEDAGING (BROILER)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Sapi Perah berada di Kecamatan

BAB I PENDAHULUAN. yang memuaskan daripada yang sebelumnya (Susetyo, 2012).

PEMBUATAN PUPUK ORGANIK ASAL KOTORAN SAPI Hasil sampingan pemeliharaan ternak sapi atau sering juga disebut sebagai kotoran sapi tersusun dari feses,

HASIL DAN PEMBAHASAN

Siti Nurul Kamaliyah. SISTEM TIGA STRATA (Three Strata Farming System)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ayam ayam lokal (Marconah, 2012). Ayam ras petelur sangat diminati karena

KIAT-KIAT MEMILIH DAGING SEHAT Oleh : Bidang Keswan-Kesmavet, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat (disadur dari berbagai macam sumber)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Rancabolang, Bandung. Tempat pemotongan milik Bapak Saepudin ini

PERAN ASOHI DALAM PELAKSANAAN IMPORTASI, PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ANTIBIOTIKA DI SEKTOR PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DI INDONESIA

Pembuatan Kompos Limbah Organik Pertanian dengan Promi

BAB 1 PENDAHULUAN. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator harapan hidup

TEKNIK PENGOLAHAN UMB (Urea Molases Blok) UNTUK TERNAK RUMINANSIA Catur Prasetiyono LOKA PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN KEPRI

SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA

Kompos Cacing Tanah (CASTING)

Manajemen Perkandangan

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang mayoritasnya bermatapencarian sebagai petani.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Lokasi Penelitian

I. PENDAHULUAN. mengandung sejumlah mikroba yang bermanfaat, serta memiliki rasa dan bau

Sistem Usahatani Terpadu Jagung dan Sapi di Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. anorganik terus meningkat. Akibat jangka panjang dari pemakaian pupuk

Harga tiap varietas dan ukuran Ikan Maskoki berbeda-beda. Namun yang paling menentukan

I. PENDAHULUAN. Sumber :

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan selama 13 minggu, pada 12 Mei hingga 11 Agustus 2012

BAB I PENDAHULUAN. Tahun (juta orang)

TERNAK AYAM KAMPUNG PELUANG USAHA MENGUNTUNGKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam pembibit adalah ayam penghasil telur tetas fertil yang digunakan

KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Usaha Ternak Sapi Perah

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN Latar Belakang

Lampiran 1 Kuisioner Peternak Pemasok Susu Segar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

KEMENTERIAN PERTANIAN BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN MAGELANG JURUSAN PENYULUHAN PETERNAKAN 2013

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Sapi Bakalan

Pujianto, SE DINAS PERINKOP DAN UMKM KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2015

Tipe Kandang Itik TIPE KANDANG ITIK. Dalam budidaya itik dikenal 3 tipe kandang. 60 cm. 60 cm

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Salah satu kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia adalah

Bab XIII STUDI KELAYAKAN

TEKNOLOGI JERAMI FERMENTASI SEBAGAI PAKAN TERNAK Oleh: Masnun, S.Pt., M.Si Widyaiswara Muda

MATERI DAN METODE. Metode

I. PENDAHULUAN. populasi kambing di Provinsi Lampung pada tahun 2009 baru mencapai

PEMERINTAH KABUPATEN SIAK KECAMATAN BUNGARAYA DESA BUNGARAYA PERATURAN DESA BUNGARAYA KECAMATAN BUNGARAYA KABUPATEN SIAK NOMOR 07 TAHUN 2012 TENTANG

Transkripsi:

TEMPAT PENJUALAN HEWAN Pemenuhan kebutuhan hewan kurban di wilayah Provinsi Jawa Barat umumnya berasal dari hewan yang didatangkan dari berbagai daerah dan diperdagangkan di wilayah Provinsi Jawa Barat. Masih banyak tempat penjualan hewan berada di lokasi yang tidak diperuntukkan sebagai tempat penjualan hewan. Fasilitas tempat penjualan hewan terkadang tidak memenuhi persyaratan, padahal umumnya hewan yang diperdagangkan berada di tempat penjualan lebih dari 1 minggu. Penanganan dan kondisi hewan kurban di tempat penjualan hewan juga sering tidak diperhatikan dengan baik. 1 Lokasi, Fasilitas, dan Kondisi Tempat Penjualan Hewan a. Tempat penjualan hewan berada di tempat yang tidak mengganggu ketertiban umum, misalnya tidak di atas trotoar atau di tengah pemukiman yang padat (Gambar 2). Gambar 2 Hewan tidak boleh dijual di trotoar jalan atau tempat yang mengganggu ketertiban umum lainnya

b. Penjualan hewan dilakukan di tempat penjualan yang resmi atau di tempat yang diijinkan oleh Dinas terkait. c. Tempat penjualan mampu melindungi hewan dari pengaruh cuaca yang ekstrim, seperti panas matahari dan hujan (Gambar 3). Gambar 3 Tempat penjualan hewan mampu melindungi hewan dari pengaruh cuaca ekstrim d. Kapasitas tempat penjualan hewan disesuaikan dengan jumlah dan jenis hewan yang akan dijual. Luas tempat penjualan hewan minimal 1 m 2 /ekor untuk domba atau kambing dan 2 m 2 /ekor untuk sapi atau kerbau. e. Hewan ditempatkan pada kandang yang bersih dan kering (Gambar 4).

Gambar 4 Tempat penjualan hewan harus bersih dan kering serta diberi pembatas yang kuat f. Tempat penjualan hewan diberi pembatas/pagar yang kuat dan tidak terdapat bagian yang bisa menyebabkan hewan terluka/cedera atau sakit, serta tidak memungkinkan hewan untuk melarikan diri. g. Terdapat akses jalan dan fasilitas yang memudahkan penurunan dan pengangkutan hewan sesuai dengan jenis hewan. Gambar 5 Lantai tidak boleh licin, basah, becek, dan terdapat genangan air

h. Lantai tidak licin, dibuat miring agar air tidak menggenang, dan diberi alas yang memadai sehingga hewan tidak langsung kontak dengan lantai yang basah dan atau kotor (Gambar 5). i. Terdapat saluran atau fasilitas pembuangan limbah sehingga kotoran hewan tidak mencemari lingkungan dan menimbulkan bau busuk/menyengat. j. Terdapat tempat pakan dan tempat minum yang terjaga kebersihannya, mencukupi jumlahnya, dan mudah dijangkau hewan. 2 Penerimaan dan Penanganan Hewan a. Hewan yang baru tiba diperiksa kondisinya. Jika hewan terlihat sakit/cacat/cedera dipisahkan dan dilaporkan kepada petugas kesehatan hewan di kecamatan/suku dinas/dinas yang membidangi fungsi kesehatan hewan. Hewan sakit/cacat tidak dijual sebagai hewan kurban. b. Hewan dari jenis (ras) dan ukuran yang berbeda tidak dicampur dalam satu kandang, contoh: sapi tidak dicampur dengan domba dalam satu kandang. Bila memungkinkan sapi kecil tidak dicampur dengan sapi besar. c. Hewan yang agresif dipisahkan dari hewan yang lain. d. Bila hewan diikat, panjang tali masih memungkinkan hewan leluasa bergerak, istirahat/berbaring dan makan/minum. Harus dipastikan agar tali tidak mencekik dan tidak menjerat hewan tersebut dan hewan lain di sekitarnya (Gambar 6). e. Kondisi hewan harus dipantau minimal 2 kali sehari untuk memastikan kondisi hewan tetap baik.

f. Tidak boleh memberi perlakuan yang dapat menyebabkan hewan tertekan/stres, sakit, atau panik, seperti memukul, mencambuk, atau perlakuan kasar lainnya. Gambar 6 Panjang tali yang digunakan untuk mengikat hewan masih memungkinkan hewan leluasa bergerak, istirahat/berbaring dan makan/minum 3 Ketersediaan Pakan dan Minum a. Pakan untuk hewan disediakan secara cukup dan air minum yang tidak terbatas. Pakan sapi berupa rumput sebanyak 20 kg/ekor/hari dan atau konsentrat sebanyak 5 kg/ekor/hari. Pakan kambing/domba berupa rumput sebanyak 3 kg/ekor/hari dan atau konsentrat sebanyak 0,5 kg/ekor/hari. b. Khusus untuk pakan yang basah dan mudah berbau/basi, sisa pakan pada hari sebelumnya dibuang sebelum pemberian pakan yang baru. c. Air minum dipastikan dalam kondisi bersih, tidak keruh, dan tidak berbau.

4 Penanganan Hewan Sakit a. Bila terdapat hewan sakit, pisahkan hewan tersebut dari hewan sehat. Segera laporkan hewan sakit ke petugas kesehatan hewan di kecamatan/suku dinas/dinas yang membidangi fungsi kesehatan hewan. b. Hewan sakit atau dalam masa pengobatan dengan obat yang dapat meninggalkan residu yang merugikan kesehatan konsumen, seperti antibiotik, tidak boleh dijual untuk disembelih sebagai hewan kurban.