ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI MINYAK GORENG DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA OLEH: NURLAELA WIJAYANTI H

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI MINYAK GORENG DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA OLEH: NURLAELA WIJAYANTI H

ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI MINYAK GORENG DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA OLEH: NURLAELA WIJAYANTI H

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor

Boks 1. TABEL INPUT OUTPUT PROVINSI JAMBI TAHUN 2007

VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI MALUKU Sektor-Sektor Ekonomi Unggulan Provinsi Maluku

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. 2.1 Definisi dan Ruang Lingkup Sektor Pertanian

III. KERANGKA PEMIKIRAN. sektor produksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. sektor, total permintaan Provinsi Jambi pada tahun 2007 adalah sebesar Rp 61,85

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Volume dan Nilai Ekspor Minyak Sawit Indonesia CPO Turunan CPO Jumlah. Miliar)

II. TINJAUAN PUSTAKA. Jadi, dengan menggunakan simbol Y untuk GDP maka Y = C + I + G + NX (2.1)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Distribusi Input dan Output Produksi

III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS

III. METODE PENELITIAN. deskriptif analitik. Penelitian ini tidak menguji hipotesis atau tidak menggunakan

Analisis Input-Output (I-O)

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten

ANALISIS PENINGKATAN INVESTASI PEMERINTAH DI SEKTOR KONSTRUKSI TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA: ANALISIS INPUT-OUTPUT SISI PERMINTAAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kamus Lengkap Ekonomi Collins (1997) dalam Manaf (2000),

RINGKASAN ISVENTINA. DJONI HARTONO

ANALISIS PERANAN JASA PARIWISATA DAN SEKTOR PENDUKUNGNYA DALAM PEREKONOMIAN PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (Analisis Input-Output)

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan suatu Negara yang mempunyai kekayaan yang

V. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Hotel dan Restoran Terhadap Perekonomian Kota Cirebon Berdasarkan Struktur Permintaan

ANALISIS MODEL INPUT-OUTPUT

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

DAMPAK RESTRUKTURISASI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN JAWA BARAT (ANALISIS INPUT-OUTPUT)

I. PENDAHULUAN. Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya. bertahap. Pembangunan adalah suatu proses multidimensional yang meliputi

DAMPAK INVESTASI SWASTA YANG TERCATAT DI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN JAWA TENGAH (ANALISIS INPUT-OUTPUT)

III. KERANGKA PEMIKIRAN

DAMPAK KEBIJAKAN PERDAGANGAN DI SEKTOR INDUSTRI CPO TERHADAP KESEIMBANGAN PASAR MINYAK GORENG SAWIT DALAM NEGERI OLEH WIDA KUSUMA WARDANI H

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013

ANALISIS PERANAN DAN DAMPAK INVESTASI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN PROVINSI JAWA TIMUR: ANALISIS INPUT-OUTPUT

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

II. TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISIS PERAN SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN TERHADAP PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA UTARA OLEH OKTAVIANITA BR BANGUN H

ANALISA KETERKAITAN SEKTOR EKONOMI DENGAN MENGGUNAKAN TABEL INPUT - OUTPUT

TUGAS MODEL EKONOMI Dosen : Dr. Djoni Hartono

V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010

ANALISIS INPUT-OUTPUT KOMODITAS KELAPA SAWIT DI INDONESIA

I. PENDAHULUAN. dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan

ANALISIS PENGARUH SEKTOR PARIWISATA TERHADAP PEREKONOMIAN KOTA BOGOR OLEH: FITRI RAHAYU H

III. METODE PENELITIAN

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ACEH TAMIANG

ANALISIS PERANAN DAN DAMPAK INVESTASI INFRASTRUKTUR TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA: ANALISIS INPUT-OUTPUT OLEH CHANDRA DARMA PERMANA H

I. PENDAHULUAN. Minyak goreng merupakan salah satu dari sembilan kebutuhan pokok

VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN MALUKU UTARA

gula (31) dan industri rokok (34) memiliki tren pangsa output maupun tren permintaan antara yang negatif.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA DOMESTIK MINYAK SAWIT (CPO) DI INDONESIA TAHUN Oleh HARIYANTO H

III. METODE PENELITIAN

ANALISIS POTENSI SEKTOR PARIWISATA UNTUK MENINGKATKAN KESEMPATAN KERJA DAN PENDAPATAN MASYARAKAT PROVINSI BALI. Oleh ARISA SANTRI H

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO

I. PENDAHULUAN. Distribusi Persentase PDRB Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun


ANALISIS IDENTIFIKASI SEKTOR UNGGULAN DAN STRUKTUR EKONOMI PULAU SUMATERA OLEH DEWI SAVITRI H

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH INVESTASI SEKTOR PERTANIAN DAN INDUSTRI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN DI PROVINSI SULAWESI TENGAH

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi

BAB I PENDAHULUAN. mengatur masuk dan keluarnya perusahaan dari sebuah indutri, standar mutu

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Secara fisik Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia

ANALISIS KENAIKAN EKSPOR DI SEKTOR PERIKANAN TERHADAP PENDAPATAN SEKTOR-SEKTOR PEREKONOMIAN DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN RUMAH TANGGA DI INDONESIA

Sumber : Tabel I-O Kota Tarakan Updating 2007, Data diolah

INDONESIA OLEH H

GAMBARAN UMUM SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI (SNSE) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR

IV. GAMBARAN UMUM. Sumber : WTRG Economics

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

VII. KESIMPULAN DAN SARAN

III. METODE PENELITIAN. Data yang digunakan adalah data sekunder yang sebagian besar berasal

I. PENDAHULUAN. (BPS 2012), dari pertanian yang terdiri dari subsektor tanaman. bahan makanan, perkebunan, perternakan, kehutanan dan perikanan.

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia memiliki potensi alamiah yang berperan positif dalam

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISIS PERMINTAAN DAN PENAWARAN INDUSTRI KECAP DI INDONESIA OLEH RINA MARYANI H

RINGKASAN DWITA MEGA SARI. Analisis Daya Saing dan Strategi Ekspor Kelapa Sawit (CPO) Indonesia di Pasar Internasional (dibimbing oleh HENNY REINHARDT

ANALISIS KETERKAITAN DAN DAMPAK PENGGANDA SEKTOR PERIKANAN PADA PEREKONOMIAN JAWA TENGAH : ANALISIS INPUT OUTPUT

PERTUMBUHAN EKONOMI WILAYAH KABUPATEN KARAWANG PERIODE Penerapan Analisis Shift-Share. Oleh MAHILA H

ANALISIS KETERKAITAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP SEKTOR-SEKTOR LAIN DAN PENGARUHNYA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA (Analisis Input Output)

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN IV/2012 DAN TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN. Tahun (juta orang)

PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN PROVINSI BANGKA BELITUNG (ANALISIS INPUT OUTPUT) Oleh: SIERA ANINDITHA CASANDRI PUTRI H

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

BAB 4 ANALISIS PENENTUAN SEKTOR EKONOMI UNGGULAN KABUPATEN KUNINGAN

Tabel 1. Standar Mutu Minyak Goreng, SII. Sumber : Departemen Perindustrian. dalam SII tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Indikator.

DAMPAK KENAIKAN HARGA BBM TERHADAP KINERJA SEKTORAL (Analisis Tabel I-O Indonesia Tahun 2005) OLEH TRI ISDINARMIATI H

BAB 4 METODE PENELITIAN

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

RINGKASAN ISVENTINA. DJONI HARTONO

Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bogor, Dinas Pertanian Kota Bogor,

Sebagai suatu model kuantitatif, Tabel IO akan memberikan gambaran menyeluruh mengenai: mencakup struktur output dan nilai tambah masingmasing

DAMPAK OTONOMI DAERAH TERHADAP PEMEKARAN PROVINSI BANTEN OLEH CITRA MULIANTY NAZARA H

Boks 1. DAMPAK PENGEMBANGAN KELAPA SAWIT DI JAMBI: PENDEKATAN INPUT-OUTPUT

PENGARUH KEBIJAKAN PAJAK EKSPOR TERHADAP PERDAGANGAN MINYAK KELAPA SAWIT KASAR (Crude Palm Oil) INDONESIA. Oleh : RAMIAJI KUSUMAWARDHANA A

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO

VI. PERANAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN KABUPATEN SIAK

BAB I PENDAHULUAN. sawit, serta banyak digunakan untuk konsumsi makanan maupun non-makanan.

ANALISIS PENURUNAN PAJAK TAK LANGSUNG PRODUK-PRODUK PANGAN STRATEGIS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA (MODEL INPUT-OUTPUT SISI PENAWARAN)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR MEBEL DAN KERAJINAN ROTAN INDONESIA KE JEPANG OLEH IKA VIRNARISTANTI H

Transkripsi:

ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI MINYAK GORENG DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA OLEH: NURLAELA WIJAYANTI H14101038 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

RINGKASAN NURLAELA WIJAYANTI. Analisis Input-Output Peranan Industri Minyak Goreng Dalam Perekonomian Indonesia dibawah bimbingan ARIEF DARYANTO. Suatu negara yang mengalami proses pembangunan ekonomi secara jangka panjang akan membawa perubahan yang mendasar dalam struktur ekonomi negara itu sendiri. Salah satu indikator dari perubahan tersebut adalah bergesernya struktur ekonomi tradisional yang menitikberatkan pada sektor pertanian ke arah struktur ekonomi modern yang lebih didominasi oleh sektor industri sebagai roda penggerak dari pertumbuhan ekonomi. Begitu juga yang terjadi dalam struktur ekonomi Indonesia, peranan sektor industri semakin besar dan mengalami pertumbuhan yang paling cepat jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Sektor industri, khususnya industri pengolahan mampu berperan sebagai penyumbang terbesar dalam pembentukan Produk Domestik Bruto. Industri minyak goreng Indonesia dari tahun ke tahun semakin pesat perkembangannya. Hal ini diperlihatkan dengan meningkatnya angka produksi minyak goreng tiap tahunnya. Kebutuhan minyak goreng untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang pesat sejalan dengan peningkatan konsumsi per kapita. Selain penggunannya oleh rumah tangga, minyak goreng juga diperlukan sebagai input antara dalam industri pangan. Sebagai input antara, ketersediaan minyak goreng dalam jumlah yang cukup dan dengan harga yang bersaing sangatlah perlu untuk mendorong peningkatan input-input industri terkait. Di samping itu, pada proses produksi minyak goreng dibutuhkan berbagai sarana dan prasarana produksi. Sarana dan prasarana produksi ini sebagian berasal dari industri minyak goreng itu sendiri dan sebagian besar lainnya dihasilkan oleh industri lain. Dengan demikian peningkatan produksi minyak goreng akan dapat meningkatkan produk industri-industri yang menggunakan minyak goreng sebagai input dalam proses produksinya. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji peranan industri minyak goreng di Indonesia dalam pembentukan output, permintaan antara dan permintaan akhir, menganalisis keterkaitan industri minyak goreng dengan sektor lainnya, menganalisis pengaruh industri minyak goreng terhadap sektor lainnya berdasarkan indeks penyebaran ke depan dan ke belakang, menganalisis dampak industri minyak goreng terhadap perekonomian Indonesia berdasarkan efek multiplier output, multiplier pendapatan dan multiplier tenaga kerja. Hasil penelitian menunjukkan Industri minyak goreng merupakan salah satu industri yang mempunyai keterkaitan yang besar terhadap sektor-sektor lain dalam penyediaan input. Hal ini terlihat dari dominasi input antara dalam struktur input industri minyak goreng. Dalam hal output, kontribusi industri minyak

goreng dalam perekonomian baik secara keseluruhan maupun dalam sektor industri masih kurang. Dari analisis keterkaitan baik langsung maupun langsung, industri minyak goreng memiliki keterkaitan ke belakang yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan keterkaitan ke depannya. Hal ini disebabkan industri minyak goreng mempunyai keterkaitan yang kuat dengan sektor perdagangan dan kelapa sawit. Nilai keterkaitan yang rendah tersebut diakibatkan oleh penggunaan output dari industri minyak goreng yang lebih banyak dikonsumsi langsung oleh rumah tangga daripada digunakan sebagai input antara oleh sektor produksi lainnya. Dari hasil analisis koefisien penyebaran dapat disimpulkan bahwa industri minyak goreng adalah industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan industri hulunya. Hasil analisis kepekaan penyebaran, industri minyak goreng merupakan industri yang mempunyai kemampuan yang kurang dalam menarik pertumbuhan sektor hilirnya. Hal ini sesuai dengan analisis keterkaitan, dimana nilai keterkaitan ke belakang lebih besar daripada keterkaitan ke depannya. Namun dari ke dua analisis tersebut industri minyak goreng merupakan industri yang layak untuk dikembangkan. Jika dilihat dari analisis multiplier, industri minyak goreng merupakan industri yang memiliki nilai multiplier yang cukup tinggi baik dilihat dari segi output, pendapatan dan tenaga kerja. Hal tersebut berarti bahwa industri minyak goreng merupakan industri penting yang mampu meningkatkan output, pendapatan dan lapangan kerja di sektor-sektor lainnya. Hasil simulasi dari dampak penerapan kebijakan pengurangan volume ekspor CPO yang mengakibatkan kenaikan pasokan minyak goreng domestik, dialami juga dampaknya oleh sektor-sektor dalam perekonomian dimana output akan bertambah sebesar Rp 4,029 miliar. Sedangkan dari sisi pendapatan penambahan pasokan minyak goreng akan meningkatkan pendapatan total sektor perekonomian sebesar Rp 0,661 miliar. Dan untuk tenaga kerja akan mengalami pertambahan sebesar 98,73 ribu orang. Dampak kenaikan pasokan minyak goreng terhadap perubahan output sektoral, industri minyak goreng merupakan industri yang menerima dampak paling besar. Nilai perubahan output yang disebabkan adanya kenaikan pasokan minyak goreng sebesar Rp 2,025 miliar akan meningkatkan output industri minyak goreng sebesar lebih dari Rp 2,840 miliar atau sekitar 70,50 persen dari total output perekonomian. Perubahan dalam pembentukan pendapatan rumah tangga yang disebabkan oleh kenaikan pasokan minyak goreng terbesar terdapat pada sektor industri minyak goreng sebesar Rp 0,472 miliar atau 71,46 persen dari total pendapatan rumah tangga seluruh perekonomian. Pertambahan pasokan minyak goreng juga memberikan pengaruh dalam penyerapan jumlah tenaga kerja. Sektor yang paling besar responnya jika diberlakukan kebijakan tersebut adalah sektor kelapa sawit, dimana akibat kebijakan tersebut menyebabkan pertambahan jumlah penyerapan tenaga kerja pada sektor kelapa sawit sebesar 29,387 ribu orang atau sebesar 29,765 persen dari penyerapan total seluruh sektor perekonomian.

ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI MINYAK GORENG TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA Oleh: NURLAELA WIJAYANTI H14101038 Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

KATA PENGANTAR Alhamdulillah. Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi berjudul ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI MINYAK GORENG DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA. Minyak goreng merupakan salah satu komponen dari sembilan bahan pokok yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Sehingga dalam pengendalian harga dan pasokannya perlu campur tangan pemerintah. Perkembangan industri minyak goreng juga relatif pesat dari tahun ke tahun. Disamping itu, skripsi ini juga merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya, terutama kepada Bapak Dr.Ir. Arief Daryanto, M.Ec yang telah memberikan bimbingan baik secara teknis maupun teoritis dalam proses pembuatan skripsi ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan terimakasih juga penulis tujukan kepada Bapak Ir. Idqan Fahmi, M.Ec yang bersedia untuk menguji karya ilmiah ini. Semua kritik dan saran beliau merupakan hal yang sangat berharga dalam penyempurnaan skripsi ini. Selain itu penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Tanti Novianti, S.P, M.Si selaku wakil dari komisi pendidikan, terutama atas perbaikan tata cara penulisan skripsi ini. Meskipun demikian, segala kesalahan yang terjadi dalam penelitian ini, sepenuhnya tanggung jawab penulis. Penulis juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak (alm) dan Ibu tercinta serta saudara-saudara penulis. Do a, pengertian dan dukungan mereka begitu berarti dalam proses penyelesaian skripsi ini.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan juga untuk Ciwaluya 22 crew, ALIANTIC crew, teman-teman Ekbang 38 dan terakhir untuk seseorang yang selalu menjadi sahabat dalam kehidupan penulis. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pihak yang membutuhkan pada umumnya. Bogor, Juni 2006 Nurlaela Wijayanti H14101038

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh, Nama Mahasiswa : Nurlaela Wijayanti Nomor Registrasi Pokok : H14101038 Program Studi : Ilmu Ekonomi Judul Skripsi : Analisis Input-Output Peranan Industri Minyak Goreng Dalam Perekonomian Indonesia dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Menyetujui, Dosen Pembimbing, Dr.Ir. Arief Daryanto, M.Ec NIP.131 644 945 Mengetahui, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi, Dr.Ir. Rina Oktaviani, MS NIP. 131 846 872 Tanggal Kelulusan:

PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA APAPUN Bogor, Juni 2006 Nurlaela Wijayanti H14101038

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan pada tanggal 1 Agustus 1983 di Indramayu, sebuah kota kecil di Jawa Barat dengan nama Nurlaela Wijayanti. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Tapsir (alm) dan Wurjaningsih. Penulis mengawali pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah Persatuan Umat Islam (PUI) Sindang Indramayu, kemudian melanjutkan ke SLTP Negeri 2 Sindang Indramayu dan lulus pada tahun 1998. Pada tahun yang sama penulis diterima di SMU Negeri I Sindang Indramayu dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2001. Pada tahun 2001 juga, penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadi pilihan penulis dalam melanjutkan pendidikannya. Melalui Jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) penulis diterima sebagai mahasiswa Departemen Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen.

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR GAMBAR... i DAFTAR TABEL... ii I. PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Perumusan Masalah... 6 1.3. Tujuan... 8 1.4. Ruang Lingkup... 8 1.5. Manfaat Penelitian... 9 II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN... 10 2.1. Tinjauan Pustaka... 10 2.1.1. Definisi dan Klasifikasi Minyak Goreng... 10 2.1.2. Gambaran Umum Industri Minyak Goreng Indonesia... 12 2.2. Kerangka Teori... 15 2.2.1. Model Input-Output... 15 2.2.2. Asumsi dan Keterbatasan Tabel Input-Output... 17 2.2.3. Struktur Tabel Input-Output... 19 2.2.4. Analisis Input-Output... 22 2.2.4.1. Analisis Keterkaitan... 22 2.2.4.2. Analisis Dampak Penyebaran... 23 2.2.4.3. Analisis Multiplier... 23 2.3. Penelitian-Penelitian Terdahulu... 27 2.3.1. Studi Pustaka Minyak Goreng...27 2.3.2. Studi Pustaka Input-Output... 29 2.4. Kerangka Pemikiran Konseptual Penelitian... 31 III. METODE PENELITIAN... 32 3.1 Waktu dan Wilayah Penelitian... 32 3.2. Jenis dan Sumber Data... 32 3.3. Metode Analisis Input-Ouput... 33

3.2.1 Koefisien Input... 33 3.2.2. Analsis Keterkaitan... 35 3.2.3. Analisis Dampak Penyebaran... 37 3.2.4. Analisis Multiplier... 39 3.4. Definisi Operasional Data... 40 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 45 4.1 Peranan Industri Minyak Goreng Dalam Perekonomian Indonesia... 45 4.2 Analisis Keterkaitan... 47 4.2.1. Keterkaitan Langsung Beberapa Sektor Perekonomian... 48 4.2.2. Keterkaitan Langsung Dan Tidak Langsung Beberapa Sektor Perekonomian Indonesia... 50 4.2.3. Keterkaitan Ke Depan Industri Minyak Goreng Terhadap Beberapa Sektor Perekonomian Indonesia... 53 4.2.4. Keterkaitan Ke Belakang Industri Minyak Goreng Terhadap Beberapa Sektor Perekonomian Indonesia... 54 4.3. Analisis Dampak Penyebaran... 55 4.4. Analisis Multiplier... 58 4.4.1. Multiplier Output Sektor Perekonomian Indonesia... 58 4.4.2. Multiplier Pendapatan Sektor Perekonomian Indonesia... 59 4.4.3. Multiplier Tenaga Kerja Sektor Perekonomian Indonesia... 60 4.4.4. Multiplier Output Sub Sektor Industri Minyak Goreng... 62 4.4.5. Multiplier Pendapatan Sub Sektor Industri Minyak Goreng... 63 4.4.6. Multiplier Tenaga Kerja Sub Sektor Industri Minyak Goreng... 64 4.5. Analisis Multiplier Menurut Dampaknya... 65 4.6. Dampak Kenaikan Pasokan Minyak Goreng Terhadap Perekonomian Indonesia... 70 4.7. Implikasi Kebijakan Pengembangan Industri Minyak Goreng Indonesia... 73 V. KESIMPULAN DAN SARAN... 77 5.1. Kesimpulan... 77 5.2. Saran... 78 DAFTAR PUSTAKA... 80 LAMPIRAN... 82

DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1.1. Grafik Perkembangan Produksi Minyak Goreng Indonesia... 3 1.2. Grafik Konsumsi Per Kapita Minyak Goreng Indonesia... 5 2.1. Kerangka Pemikiran Konseptual Penelitian... 31

DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1.1. Produk Domestik Bruto Indonesia Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku... 1 1.2. Neraca Perdagangan Luar Negeri Minyak Goreng Periode 1996-2002... 4 2.1. Klasifikasi Minyak Goreng Nabati Menurut Klasifikasi Komoditi Indonesia...11 2.2. Produsen Minyak Goreng Menurut Status Operasional... 13 2.3. Market Size dan Market Value Minyak Goreng Menurut Merek, Tahun 2002... 14 2.4. Bentuk Umum Tabel Transaksi Input-Output... 19 3.1. Rumus Multiplier Output, Pendapatan dan Tenaga Kerja... 39 4.1. Komposisi Besaran Input Industri Minyak Goreng... 46 4.2. Kontribusi Industri Minyak Goreng Dalam Perekonomian Indonesia... 46 4.3. Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian Indonesia... 49 4.4. Keterkaitan Ke Depan Industri Minyak Goreng Terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Indonesia... 53 4.5. Keterkaitan Ke Belakang Industri Minyak Goreng Terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Indonesia... 55 4.6. Dampak Penyebaran Berbagai Sektor Perekonomian Indonesia... 57 4.7. Multiplier Output, Pendapatan dan Tenaga Kerja Masing-Masing Sektor Perekonomian Indonesia... 59 4.8. Total Peringkat Multiplier Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia... 62 4.9. Kontribusi Terbesar Industri Minyak Goreng Terhadap Pembentukan Output Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia... 63 4.10. Kontribusi Terbesar Industri Minyak Goreng Terhadap Peningkatan Pendapatan Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia.... 64 4.11 Kontribusi Terbesar Industri Minyak Goreng Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia.... 65 4.12. Simulasi Dampak kenaikan Pasokan Minyak Goreng Terhadap Perubahan Jumlah Output, Pendapatan dan Tenaga Kerja... 72

DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000... 83 2. Tabel Input-Output Transaksi Domestik 26 x 26 Sektor... 89 3. Tabel Koefisien Teknis Transaksi Domestik 26 x 26 Sektor... 93 4. Tabel Matriks Kebalikan Leontief Terbuka Transaksi Domestik 26 x 26 Sektor... 97 5. Tabel Matriks Kebalikan Leontief Tertutup Transaksi Domestik 26 x 26 Sektor...100 6. Tabel Multiplier Output Transaksi Domestik Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000...103 7. Tabel Multiplier Output Transaksi Domestik Sub Sektor Industri Minyak Goreng Indonesia Tahun 2000...103 8. Tabel Multiplier Pendapatan Transaksi Domestik Sektor -Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000...104 9. Tabel Multiplier Pendapatan Transaksi Domestik SubSektor Industri Minyak Goreng Indonesia Tahun 2000...104 10. Tabel Multiplier Tenaga Kerja Transaksi Domestik Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000...106 11. Tabel Multiplier Tenaga Kerja Transaksi Domestik SubSektor Industri Minyak Goreng Indonesia Tahun 2000...106

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Suatu negara yang mengalami proses pembangunan ekonomi secara jangka panjang akan membawa perubahan yang mendasar dalam struktur ekonomi negara itu sendiri. Salah satu indikator dari perubahan tersebut adalah bergesernya struktur ekonomi tradisional yang menitikberatkan pada sektor pertanian ke arah struktur ekonomi modern yang lebih didominasi oleh sektor industri sebagai roda penggerak dari pertumbuhan ekonomi. Begitu juga yang terjadi dalam struktur ekonomi Indonesia, peranan sektor industri semakin besar dan mengalami pertumbuhan yang paling cepat jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Tabel 1.1. Produk Domestik Bruto Indonesia Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Yang Berlaku (dalam milliar rupiah) No Lapangan Usaha 2000 2001 2002 2003 2004 2005 1 Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 433.662,8 526.655,6 594.634,1 651.307,6 663.106 731.119,2 2 Pertambangan dan 323.838,6 349.903,2 330.643,4 319.975,6 370.579,2 543.611,2 Penggalian 3 Industri 1.102.514 1.455.615 1.677.607 429.513 1.830.092 2.163.916 Pengolahan 4 Listrik, Gas dan 8.393,6 10.854,7 14.714,2 19.540,82 22.066,7 24.993,2 Air Bersih 5 Bangunan 76.573,3 89.298,9 99.366,1 112.571,3 143.052,3 173.440,6 6 Perdagangan, Hotel 263.898 311.345,7 383.729,1 412.045,2 450.609,4 523.463,6 dan Restoran 7 Pengangkutan dan 130.024,3 154.375,3 195.940,5 236.534,7 284.584 361.937,4 Komunikasi 8 Keuangan, 230.926,7 270.739,6 30.7716,2 348.647,3 388.858,6 456.275,8 Persewaan dan Jasa Perusahaan 9 Jasa Lainnya 259.507,6 30.4515,9 328.384,6 396.138,6 469.240,8 551.281,8 PDB 2.820.945 3.473.303 3.932.735 6.794.274 4.622.189 5.530.039 Sumber: Bank Indonesia (2005)

2 Sektor industri, khususnya industri pengolahan mampu berperan sebagai penyumbang terbesar dalam pembentukan Produk Domestik Bruto. Rata-rata nilai kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto indonesia sebesar 44,27 peresen. Dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 164,27 persen. Peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2003 (Tabel 1.1). Industri minyak goreng merupakan salah satu komponen dari sistem industri pengolahan pertanian yang sangat luas, mulai dari usaha pertanian kelapa dan kelapa sawit sebagai bahan baku dari minyak goreng hingga industri yang menggunakan minyak goreng sebagai salah satu dari faktor produksinya maupun pedagang yang memasarkan minyak goreng untuk konsumsi rumah tangga. Selain itu, industri pengolahan pertanian di Indonesia merupakan satu dari beberapa sektor yang mampu bertahan dalam menghadapi goncangan ekonomi, seperti yang terjadi saat krisis ekonomi tahun 1997-1998. Hal tersebut dikarenakan bahan baku dalam industri pengolahan pertanian merupakan produk-produk pertanian yang tidak perlu diimpor. Bahkan dengan mengekspor produk-produk tersebut dapat meningkatkan nilai tambah akibat selisih nilai dolar terhadap rupiah. Selisih nilai mata uang tersebut yang menyebabkan produk industri pengolahan pertanian mampu bersaing di pasar luar negeri karena secara relatif harganya akan lebih murah. Industri minyak goreng Indonesia dari tahun ke tahun semakin pesat perkembangannya. Hal ini diperlihatkan dengan meningkatnya angka produksi minyak goreng tiap tahunnya. Berdasarkan informasi yang terdapat pada Gambar 1.1, selama periode 1998-2005 peningkatan produksi minyak goreng sebesar

3 14,15 persen per tahunnya. Pada tahun 1998 total produksi minyak goreng Indonesia mencapai angka 2,18 juta ton dan untuk tahun selanjutnya produksi minyak goreng relatif meningkat hingga mencapai 6,43 juta ton pada tahun 2005. Peningkatan tersebut disebabkan oleh semakin bertambahnya permintaan akan minyak goreng itu sendiri baik di tingkat domestik maupun luar negeri (www.wartaekonomi.com, 2006). 6,43 5,17 5,76 3,73 4,11 4,43 2,18 2,5 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Gambar 1.1 Grafik Perkembangan Produksi Minyak Goreng Indonesia (juta ton) Sumber: www.wartaekonomi.com, 2006 Berdasarkan Tabel 1.2, dapat dilihat bahwa pada periode 1996-2002 neraca perdagangan luar negeri minyak goreng Indonesia relatif meningkat. Pada periode tersebut, peningkatan rata-rata volume ekspor minyak goreng mencapai 11,1 persen per tahun. Nilai rata-rata ekspor meningkat 11,6 persenn pada tahun 1996 sebesar dari 736,0 ribu ton (US$ 565,6 juta) menjadi 1,3 juta ton (US $565,6 juta) pada 2002. Jika dilihat dari nilai dan volume impor, selama periode1996-2002 meningkat rata-rata 565,7 persen dan 23,9 persen per tahun. Volume impor pada tahun 1996 sebesar 3,3 ribu ton (US $3,7 juta) meningkat

4 menjadi 14,9 ribu ton (US $8,5 juta) pada tahun 2002. Peningkatan tersebut akibat adanya kenaikan kapasitas ekspor dari Crude Palm Oil (CPO) sebagai bahan baku yang lebih sering dipakai dalam proses produksi pabrik minyak goreng, sehingga kekurangan tersebut ditutup dengan membuka kran impor minyak goreng (CIC, 2003). Tabel 1.2 Neraca Perdagangan Luar Negeri Minyak Goreng 1996-2002 Tahun Ekspor Impor Volume (Ton) Trend ( % ) Nilai (US $ ribu) Trend ( % ) Volume (Ton) Trend ( % ) Nilai (US $ ribu) 1996 736.028 369.726 3.267 3.746 Trend ( % ) 1997 985.177 33,85 490.001 32,53 2.296 (29,7) 3.163 (15,6) 1998 1.241.342 26,01 622.047 26,95 9.618 318,8 7.785 146,1 1999 1.309.778 5,51 508.100 (18,32) 8.707 (9,5) 6.195 (20,4) 2000 1.111.781 (15,12) 373.673 (26,46) 10.120 16,2 6.528 5,4 2001 1.271.908 14,40 350.052 (6,32) 13.893 36,7 7.166 9,8 2002 1.296.366 1,92 565.589 61,57 14.922 7,8 8.479 18,3 Ratarata 1.136.054,29 11,1 468.169,71 11,69 8974.71 56,7 6151.71 23,9 Sumber: Corinthian Infopharma Corpora (2003) Minyak goreng dikonsumsi hampir seluruh masyarakat, baik itu di tingkat rumah tangga maupun industri makanan. Fungsi minyak goreng di kedua tingkat konsumen pada umumnya bukan sebagai bahan baku namun hanya sebagai bahan pembantu. Fungsi minyak goreng sangat penting dalam menciptakan aroma, rasa, warna, daya simpan dan dalam beberapa hal juga dapat sebagai alat peningkat gizi. Kebutuhan minyak goreng untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang pesat sejalan dengan peningkatan konsumsi perkapita. Kecenderungan meningkatnya rata-rata konsumsi per kapita tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk, perubahan

5 pola konsumsi penduduk, pendapatan dan sedikit banyak dipengaruhi pula oleh perkembangan dalam budaya masak memasak. Menurut hasil riset Warta Ekonomi (2006) yang dijelaskan dalam Gambar 1.2, selama periode 1998-2005 konsumsi minyak goreng per kapita masyarakat Indonesia relatif meningkat dari tahun ke tahunnya. Peningkatan paling besar terjadi pada tahun 2000. Konsumsi perkapita pada tahun tersebut sebesar 14,2 kg, sedangkan tahun 1999 sebesar 12,1 kg dan konsumsi rata-rata sebesar 12,5 kg. 14,2 14,9 15 15,4 16 16,5 10,7 12,1 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Gambar 1.2. Grafik Konsumsi Per Kapita Minyak Goreng Indonesia (kg) Sumber: www.wartaekonomi.com (2006) Minyak goreng juga merupakan salah satu dari komponen sembilan bahan pokok yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Hampir semua masyarakat Indonesia mengkonsumsinya. Minyak goreng digunakan untuk keperluan rumah tangga. Selain itu industri juga memerlukannya sebagai salah satu bahan pendukung dalam proses produksinya. Industri yang memerlukan minyak goreng tersebut yaitu industri pangan baik itu industri yang skalanya kecil maupun besar

6 seperti industri fast food, snack food dan biskuit. Selain itu dilihat dari bahan bakunya, industri minyak goreng merupakan industri yang memegang peranan penting sebagai pengguna output industri hulunya. Industri hulu yang dimaksud yaitu industri minyak kelapa sawit, industri minyak kelapa dan industri lainnya yang dari produknya dapat dihasilkan produk turunan sebagai bahan baku minyak goreng. Indonesia merupakan salah satu penghasil minyak kelapa dan minyak kelapa sawit terbesar di dunia setelah Malaysia. Hal ini merupakan salah satu faktor yang dapat membantu dalam mengembangkan industri minyak goreng nasional. 1.2 Perumusan Masalah Minyak goreng adalah salah satu komoditas yang cukup strategis. Minyak goreng dapat berpengaruh baik dari segi sosial, politik maupun ekonomi, sehingga sangat diperlukan sekali intervensi pemerintah dalam pemantauan kestabilan harga dan ketersediaan pasokannya di pasar (Amang, 1996). Alasan utama pemantauan dan pengelolaan harga dan pasokan minyak goreng yaitu untuk menjaga agar inflasi tetap pada tingkat yang diharapkan dan konsumen dalam hal ini masyarakat luas dapat membayar dengan harga yang wajar. Diharapkan dengan pengendalian terhadap laju inflasi tersebut dapat mengurangi beban masyarakat akibat kenaikan harga komoditas lainnya. Selain penggunannya oleh rumah tangga, minyak goreng juga diperlukan sebagai input antara dalam industri pangan. Sebagai input antara, ketersediaan minyak goreng dalam jumlah yang cukup dan dengan harga yang bersaing

7 sangatlah perlu untuk mendorong peningkatan input-input industri terkait. Di samping itu, pada proses produksi minyak goreng dibutuhkan berbagai sarana dan prasarana produksi. Sarana dan prasarana produksi ini sebagian berasal dari industri minyak goreng itu sendiri dan sebagian besar lainnya dihasilkan oleh industri lain. Dengan demikian peningkatan produksi minyak goreng akan dapat meningkatkan produk industri-industri yang menggunakan minyak goreng sebagai input dalam proses produksinya. Seperti halnya sub sektor agroindustri atau industri hasil pertanian lainnya, produk minyak goreng mempunyai sifat keterkaitan industrial ke depan dan ke belakang yang cukup tinggi. Industri hilir minyak goreng yang cukup strategis dan menyangkut hajat hidup orang banyak adalah industri pengolahan makanan dan minuman, sehingga pemerintah perlu menaruh perhatian yang tinggi terhadap struktur pasar domestik minyak goreng. Tetapi serangkaian kebijakan pemerintah tersebut masih terlalu memfokuskan pada CPO dan melupakan seperangkat permasalahan pada struktur industri minyak goreng. Setelah memperhatikan uraian yang telah dipaparkan diatas, maka permasalahan yang akan dikemukakan dalam penelitian ini antara lain: 1. Berapa besar peranan sektor industri minyak goreng dalam pembentukan output, nilai tambah bruto, permintaan antara dan permintaan akhir di Indonesia?

8 2. Berapa besar keterkaitan antara sektor industri minyak goreng dengan sektor-sektor lainnya di Indonesia baik keterkaitan dari sisi output maupun dari sisi input? 3. Berapa besar dampak penyebaran sektor industri minyak goreng dan bagaimana pengaruhnya? 4. Berapa besar dampak yang ditimbulkan oleh sektor industri minyak goreng dilihat berdasarkan efek multiplier output, pendapatan dan tenaga kerja? 1.3 Tujuan Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengkaji peranan industri minyak goreng di Indonesia dalam pembentukan output, permintaan antar dan permintaan akhir. 2. Menganalisis keterkaitan industri minyak goreng dengan sektor lainnya. 3. Menganalisis pengaruh industri minyak goreng terhadap sektor lainnya berdasarkan indeks penyebaran kedepan dan kebelakang. 4. Menganalisis dampak industri minyak goreng terhadap perekonomian Indonesia berdasarkan efek multiplier output, multiplier pendapatan dan multiplier tenaga kerja. 1.4 Ruang Lingkup Pada dasarnya kebijaksaan pengelolaan dan pengembangan industri minyak goreng haruslah dipandang sebagai salah satu dari sekian bentuk

9 kebijaksaan pembangunan secara umum. Oleh karena itu, pemerintah sebagai pengambil kebijakan baik dalam hal pengelolaan maupun pengembangan industri minyak goreng harus memperhatikan apakah pengembangan industri tersebut sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dalam konteks upaya pencapaian sasaran pembangunan nasional secara keseluruhan. Berdasarkan hal tersebut, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi dan mengevaluasi peranan industri minyak goreng dalam perekonomian nasional. Beberapa peranan penting industri minyak goreng yaitu (1) pengeluaran konsumsi dan pemenuhan gizi rumah tangga; (2) stabillitas perekonomian; (3) produksi nasional dan penciptaan nilai tambah; (4) penyedia lapangan kerja; serta (5) penopang dan pendorong industri nasional. Penulis membatasi ruang lingkup penelitian terbatas hanya pada peranan industri minyak goreng dalam hal produksi nasional dan penciptaan nilai tambah, penyediaan lapangan pekerjaan serta penopang dan pendorong industri nasional. 1.5 Manfaat Penelitian Berdasarkan uraian pada sub bab sebelumnya, penelitian ini bermanfaat dalam pengembangan kebijakan pembangunan khususnya yang berkaitan dengan kebijakan pembangunan industri minyak goreng, serta dalam hal implementasi kebijakan industri pada umumnya dengan menciptakan koordinasi yang baik antar sektor khususnya sektor industri sehingga tercapai kesejatheraan rakyat dengan jalan pembangunan yang adil dan merata.

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Definisi dan Klasifikasi Minyak Goreng CIC (2003) menyatakan bahwa minyak goreng atau cooking oil didefiniskan sebagai minyak yang diperoleh dengan cara memurnikan minyak nabati. Pemurnian tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan kandungan logam, bau, asam bebas dan zat-zat warna. Berdasarkan Amang (1996), minyak goreng dapat dikelompokkan menurut bahan bakunya menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah minyak yang dihasilkan dari hewan yang secara awam sering diistilahkan sebagai lemak (fat). Penggunaan minyak hewani untuk konsumsi langsung rumah tangga sebagai bahan pangan relatif terbatas. Biasanya minyak hewani sebagai bahan pangan lebih bersifat tidak langsung yakni ikutan dari konsumsi daging. Pengggunaan minyak goreng hewani masih terbatas hanya pada kalangan masyarakat tertentu saja. Hal ini dikarenakan kandungan lemak pada minyak goreng jenis ini sangat tinggi, sehingga dapat membahayakan kesehatan. Kelompok kedua adalah minyak nabati, yakni minyak yang dihasilkan dari ekstrak kandungan asam lemak dari tumbuh-tumbuhan. Minyak nabati yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia adalah hasil olahan dari ekstrak minyak yang berasal dari sawit, kelapa, kacang tanah, kedelai, jagung, bunga matahari dan lobak. Di Indonesia, lebih dari 95 persen minyak goreng berasal dari minyak nabati adalah berasal dari sawit dan kelapa. Murahnya harga bahan baku dan

11 ketersediaan yang relatif stabil merupakan salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut. Menurut Klasifikasi Komoditi Indonesia (1999), minyak goreng nabati diklasifikasikan dalam tiga kelompok. Pertama adalah kelompok Industri minyak goreng dari kelapa dengan kode KKI 15143. Kelompok selanjutnya, kode 15144 untuk minyak goreng dari kelapa sawit dan yang terakhir minyak goreng nabati lainnya dari bahan nabati dengan kode 15145 (Tabel 2.1). Tabel 2.1 Klasifikasi Minyak Goreng Nabati Menurut Klasifiskasi Komoditi Indonesia No KKI Keterangan No. HS Comodity Description 1 15143.01xx Industri Minyak goreng dari minyak Kelapa - 0100 2 15144.01xx - 0101-0102 3 15145.01xx - 0101-0102 - 0103-0104 - 0105-0106 - 0107-0108 - 0109 Minyak Goreng Kelapa 1513.19.000 Other Copra Oil Industri Minyak Goreng dari Minyak kelapa sawit Minyak Goreng Kelapa Sawit 1511.90.000 Minyak Goreng Inti Kelapa sawit 1513.29.000 Minyak Goreng lainnya dari bahan nabati Minyak Bekatul Minyak Goreng Jagung Minyak Goreng Kacang Kedelai Dinetralkan dan Dikelantang Lain-lain Minyak Goreng Kacang Tanah Minyak Goreng Biji Bunga Matahari Minyak Goreng Biji Kapas Minyak Goreng wijen Minyak Goreng Biji Kapuk Sumber: Biro Pusat Statistik (1999) Minyak Goreng Lainnya dari nabati 1515.90.900 1515.29.000 1507.90.000 1507.90.100 1507.90.900 1508.90.000 1512.19.000 1512.29.000 1515.50.000 1515.90.120 1515.90.900 Other Palm Oil Other Palm Kernel Oil Other Fixed Vegetable Fats Other Maize Oil Other Soya Bean Oil Neutralized and Bleached Oil Other Other Ground Nut Oil Other Sunflower Oil or Sunflower Seed Oil Other Cotton Seed Oil Sesame Oil and Its Fraction Refined of Kapok Seed Oil Other Fixed Vegetable fats and Oil

12 2.1.2 Gambaran Umum Industri Minyak Goreng Indonesia Industri minyak goreng di Indonesia umumnya menggunakan bahan baku minyak kelapa dan minyak kelapa sawit. Minyak goreng kelapa dahulu lebih banyak dipakai tapi sekarang kedudukannya telah digeser oleh minyak kelapa sawit, karena diperkirakan sebagai penyebab penyakit jantung koroner. Selain itu, minyak kelapa sawit mempunyai keunggulan dibandingkan minyak kelapa. Harga minyak kelapa relatif lebih murah, juga lebih jernih warnanya sehingga lebih aman bagi kesehatan. Bagi masyarakat yang sudah paham pentingnya kesehatan mereka lebih memilih minyak goreng yang berbahan baku minyak kelapa sawit. Pada awal masa perkembangannya, industri minyak goreng Indonesia dimulai dari skala rumah tangga dengan menggunakan bahan baku yang berasal dari minyak kelapa. Sistem perdagangan minyak goreng saat itu dilakukan dalam bentuk minyak goreng curah, dan selanjutnya mulailah bermunculan minyak goreng bermerek seperti Barco dan Vetco yang merupakan pelopor minyak goreng kemasan bermerek. Sejalan dengan diperkenalkannya tanaman kelapa sawit sebagai salah satu tanaman perkebunan di Indonesia, minyak kelapa mulai tergeser posisinya sebagai bahan baku minyak goreng oleh minyak kelapa sawit. Minyak kelapa sawit mendominasi penggunannya sebagai bahan baku industri minyak goreng nasional. Pergeseran posisi tersebut dikarenakan minyak sawit mentah yang berasal dari pohon kelapa sawit lebih mudah dibudidayakan. Budidaya kelapa sawit tidak tergantung musim tertentu, lebih tahan hama dan dapat diusahakan dalam skala besar sehingga dapat mencapai skala ekonomi tertentu.

13 Pangsa pasar produk minyak goreng saat ini diperebutkan oleh sekitar 120 produsen lokal yang masih aktif berproduksi (in production) dengan kapasitas produksi sebesar 8,5 juta ton. Sementara 119 produsen lainnya tidak dapat dikonfirmasikan atau Utl (Unable to located) dengan kapasitas sekitar 580,8 ribu ton, 16 produsen (822,0 ribu ton) yang telah menghentikan operasi produksi minyak gorengnya (Stop Operation) serta 5 produsen (612,0 ribu ton) yang berinvestasi dalam industri minyak goreng (Tabel 2.2). Tabel 2.2. Produsen Minyak Goreng Menurut Status Operasional, 2002 Total Status Operasional Jumlah Kapasitas (ribu ton) Minyak Goreng Kelapa Sawit Jumlah Kapasitas (ribu ton) Minyak Goreng Kelapa Jumlah Kapasitas (ribu ton) Minyak Goreng Nabati Lainnya Jumlah Kapasitas (ribu ton) Produksi 120 8.527.583 53 7.217.885 60 1.157.101 7 152.000 Utl (Unable to Located) 119 580.802 10 474.825 109 105.977 0 0 Rencana 1.079.360 7 806.152 9 273.208 0 0 (Planed) 16 Tidak 48 822.015 14 666.408 33 146.607 1 9.000 Produksi (Stop Operation) Investasi baru 5 612000 2 522.000 3 90.000 0 0 Sumber: Corinthian Infopharma Corpora (2003) Seperti yang telah disebutkan pada uraian sebelumnya, minyak kelapa sawit lebih banyak digunakan sebagai bahan baku dalam proses produksi minyak goreng, maka banyak konglomerat yang terjun dalam bisnis perkebunan dan pengolahan kelapa sawit, diantaranya sepert Salim grup, Sinar Mas grup, Astra grup, Bakrie grup, Musim Mas grup, Hasil Karsa grup, Bukit Kapur grup dan Raja Garuda Mas. Kelompok di atas memiliki industri terpadu mulai dari perkebunan sawit, pengolahan CPO dan pabrik minyak goreng. Sebagian produsen dalam industri minyak goreng berafiliasi dengan grup perkebunan

14 kelapa sawit, seperti Grup salim (produsen Bimoli), Grup Sinarmas (produsen Filma). Saat ini produsen telah banyak memenuhi pasar minyak goreng kemasan bermerek. Beberapa diantaranya merupakan pemain lama dan sudah dikenal oleh masyarakat, seperti Bimoli, yang memiliki market size paling tinggi diantara yang lainnya (307.687 ton). Disusul ditempat kedua oleh Filma dengan market size sebesar 179.945 ton. Untuk share dari market size dan market value minyak goreng tidak bermerek (curah) cukup besar yaitu masing-masing sebesar 43,1 persen dan 31,5 persen (Tabel 2.3). Hal ini berarti minyak goreng curah masih menjadi pilihan dalam mengkonsumsi minyak goreng. Tabel 2.3. Market Size dan Market Value Minyak Goreng Menurut Merek, Tahun 2002 No Merek Market Size Share Market Value Share (Ton) (%) (Rp Juta) (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Bimoli Filma Sania Tropical Kunci Mas Avena 999 Sunrise Vetco Mas Cap Sendok Delima Camar Tawon Palma Damai Spesial Marunda Ratu Masak Tani Fortune Merek Lainnya 307.687 179.945 137.366 119.778 98.704 86.460 74.768 73.261 66.368 54.003 46.344 33.907 25.111 20.986 18.250 16.938 16.800 16.473 12.804 99.863 11,6 6,8 5,2 4,5 3,7 3,3 2,8 2,8 2,5 2,0 1,8 1,3 0,9 0,8 0,7 0,6 0,6 0,6 0,5 3,8 2.187.684 1.229.080 937.698 808.939 670.85 692.611 518.760 548.544 483.015 360.017 283.100 157.889 129.000 141.189 86.231 79.186 76.104 73.387 56.595 446.894 15,3 8,6 6,6 5,7 4,7 3,6 2,7 3,8 3,4 2,5 2,0 1,1 0,9 1,0 0,6 0,6 0,5 0,5 0,4 3,1 Tidak Bermerek 1.140.528 43,1 4.505.084 31,5 Total 2.646.342 100 14.306.557 100 Sumber: Corinthian Infopharma Corpora (2003)

15 2.2 Kerangka Teori 2.2.1 Model Input-Output Input-Output merupakan suatu teknik perencanaan yang diperkenalkan oleh Prof. Wassily W. Leontief pada tahun 1930-an. Teknik ini dipergunakan untuk menelaah hubungan antar industri dalam rangka memahami saling ketergantungan dan kompleksitas perekonomian serta kondisi untuk mempertahankan keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Tehnik ini juga dikenal sebagai "analisis antar industri" (Nasution, 2002). Input-Output menunjukan bahwa di dalam perekonomian secara keseluruhan terjadi interaksi saling berhubungan dan saling ketergantungan industrial. Input suatu industri merupakan output industri lainnya, dan sebaliknya, sehingga hubungan tersebut membawa kearah ekuilibrium antara penawaran dan permintaan di dalam perekonomian secara keseluruhan. Sebagian besar kegiatan ekonomi memproduksi barang-barang antara (input) untuk digunakan lebih lanjut dalam pembuatan barang-barang akhir (output). Pada hakikatnya, analisis inputoutput mengandung arti bahwa dalam keadaan ekuilibrium, jumlah output agregat dari keseluruhan perekonomian harus sama dengan jumlah input antar industri dan jumlah output antar industri (Nasution, 2002). Pengaruh timbal balik yang terjadi antar satu industri dengan industri lain dapat dikelompokkan menjadi: 1. Hubungan langsung, yaitu pengaruh yang secara langsung dirasakan oleh sektor yang menggunakan masukan dari keluaran sektor yang bersangkutan. Contohnya jika industri makanan menaikkan produksinya sebesar dua kali

16 lipatnya, maka permintaan akan minyak goreng, tepung dan gula juga akan naik lebih kurang dua kali lipat. 2. Hubungan tak langsung, yaitu pengaruh terhadap industri yang outputnya tidak digunakan sebagai input bagi output industri yang bersangkutan. Contohnya, pengaruh industri minyak goreng terhadap pengangkutan. 3. Hubungan sampingan, yaitu pengaruh tak langsung yang lebih panjang lagi jangkauannya daripada pengaruh langsung tersebut diatas. Contoh peningkatan produksi pada sektor industri terjadilah peningkatan pendapatan buruh industri, atau peningkatan jumlah buruh yang berarti pula peningkatan pendapatan sejumlah buruh tersebut. Peningkatan pendapatan ini dapat meningkatkan permintaan atas kebutuhan beras. Menurut BPS (2000), pengertian Tabel Input-Output adalah tabel yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa antar sektor ekonomi dengan bentuk penyajian berupa matriks. Isian sepanjang baris Tabel I-O menunjukkan komposisi penciptaan nilai tambah sektoral, sedangkan isian sepanjang kolom menunjukkan struktur input yang digunakan oleh masingmasing sektor dalam proses produksi, baik yang berupa input antara maupun input primer. Sebagai metode kuantitatif, tabel ini memberikan gambaran menyeluruh tentang: 1. Struktur perekonomian suatu wilayah yang mencakup output dan nilai tambah masing-masing sektor. 2. Struktur input antara yaitu transaksi penggunaan barang dan jasa antar sektorsektor produksi.

17 3. Struktur penyediaan barang dan jasa, baik berupa produksi dalam negeri maupun barang impor atau yang berasal dari luar wilayah tersebut. 4. Struktur permintaan barang dan jasa, baik berupa permintaan oleh berbagai sektor produksi maupun permintaan untuk konsumsi, investasi dan ekspor. Beberapa tahun belakangan ini, model I-O telah dikembangkan untuk keperluan yang lebih luas dalam analisis ekonomi. Beberapa kegunaan analisis I- O menurut BPS (2000), antara lain: 1. Memperkirakan dampak permintaan akhir terhadap output, nilai tambah, impor, penerimaan pajak dan penyerapan tenaga kerja diberbagai sektor produksi. 2. Melihat komposisi penyediaan dan penggunaan barang dan jasa terutama dalam analisis terhadap kebutuhan impor dan kemungkinan substitusinya. 3. Mengetahui sektor-sektor yang berpengaruh paling dominan terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor-sektor yang peka terhadap pertumbuhan perekonomian. 4. Menganalisis perubahan harga, yaitu dengan melihat pengaruh langsung dan tidak langsung dari perubahan harga input terhadap output. 5. Menggambarkan perekonomian suatu wilayah dan mengidentifikasikan karakteristik struktural suatu perekonomian wilayah. 2.2.2 Asumsi dan Keterbatasan Tabel Input-Output Data yang disajikan dalam tabel I-O merupakan informasi rinci tentang input dan output sektoral yang mampu menggambarkan keterkaitan antar sektor dalam kegiatan perekonomian. Sesuai dengan asumsi dasar yang digunakan dalam

18 proses penyusunannya, model input ouput bersifat statis dan terbuka. Dalam BPS (2000), asumsi dasar dalam penyusunan tabel I-O adalah: 1. Keseragaman (Homogenity) Masing-masing sektor memproduksi suatu input melalui satu cara dengan struktur input tertentu serta tidak ada substitusi diantara masing-masing input atau output tersebut. 2. Kesebandingan (Proporsionality) Input antara bagi suatu sektor merupakan fungsi linear terhadap tingkat output yang bersangkutan. Dengan kata lain, jumlah input yang digunakan oleh suatu sektor akan meningkat atau berkurang secara proporsional linear terhadap kenaikan atau penurunan output sektor yang bersangkutan. 3. Penjumlahan (Additivity) Asumsi bahwa total efek dari kegiatan produksi di berbagai sektor merupakan penjumlahan dari efek masing-masing kegiatan. Berdasarkan asumsi tersebut, maka tabel I-O sebagai model kuantitatif memiliki keterbatasan, yaitu koefisien teknis diasumsikan tetap (konstan) selama periode analisis atau proyeksi. Karena koefisien teknis dianggap konstan, maka teknologi yang digunakan oleh sektor-sektor ekonomi dalam proses produksipun dianggap konstan. Akibatnya perubahan kuantitas dan harga input akan selalu sebanding dengan perubahan kuantitas dan harga output. Begitu juga dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan dalam penyusunan tabel I-O dengan metode survey serta semakin banyak agregasi

19 terhadap sektor-sektor yang ada maka semakin banyak informasi ekonomi yang terperinci tidak terungkap dalam analisanya. 2.2.3 Struktur Tabel Input-Output Format dari tabel I-O terdiri dari suatu kerangka matriks berukuran n x n dimensi yang terbagi menjadi empat kuadran yang tiap kuadran menggambarkan transaksi antar komponen-komponen suatu perekonomian pada satu titik tertentu.(nazara, 1997) Tabel 2.4. Bentuk Umum Tabel Transaksi Input-Output Susunan Input Alokasi Output Permintaan Antara Sektor Produksi 1 2. n Input x 12. x 1n a x 22. x 2n n t a r a Sektor p r o d u k s i 1 2...... n x 11 x 21...... x n1 x n2. x nn Permintaan Akhir F 1 F 2...... F n Total Output X 1 X 2 X n Jumlah Input Primer V 1 V 2. V n Jumlah input X 1 X 2. X n Sumber: Biro Pusat Statistik (2000) Pada Tabel 2.4, isian angka-angka pada seluruh baris menunjukkan pengalokasian output suatu sektor, baik itu untuk memenuhi permintaan antara (intermediate demand) maupun untuk memenuhi permintaan akhir (final demand). Isian sepanjang kolom menggambarkan penggunaan input antara maupun input primer yang disediakan oleh sektor lain untuk kegiatan produksi suatu sektor. Tabel 2.4 dapat digambarkan dalam persamaan aljabar sebagai berikut:

20 x 11 + x 12 +.+ x 1n + F 1 = X 1 x 21 + x 22 +.+ x 2n + F 2 = X 2 : : : : :..... x n1 + x n2 + + x nn + F n = X n (Persamaan 1) Secara matematis persamaan tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut: dimana: n j= 1 x i j + F i = X i ; untuk i = 1, 2,..., n X i : Total output sektor i x ij : Besarnya output sektor i yang digunakan sebagai input oleh sektor j F i : Permintaan akhir sektor ke-i Sektor dalam kolom menunjukkan penggunaan input yang disediakan oleh sektor lain untuk aktivitas produksi, maka persamaan aljabar menurut kolom dapat dituliskan menjadi: x 11 + x 12 +.+ x 1n + V 1 = X 1 x 21 + x 22 +.+ x 2n + V 2 = X 2 : : : : :..... x n1 + x n2 + + x nn + V n = X n (Persamaan 2) dan secara ringkas dituliskan dalam persamaan: n i= 1 x ij + V j = X j ; untuk j = 1,2...,n

21 Dimana: X j : Total input sektor j x ij : Besarnya output sektor i yang digunakan sebagai input oleh sektor j V j : Input primer sektor ke-j Secara umum matriks dalam Tabel I-O di bagi menjadi 4 kuadran, yaitu: a. Kuadran 1 (Intermediate Quadrant) Setiap sel pada Kuadran 1 merupakan transaksi antara, yaitu transaksi barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi. Kuadran ini memberikan informasi mengenai saling ketergantungan antar sektor produksi dalam suatu perekonomian. Dalam analisa I-O, kuadran ini memiliki peranan yang sangat penting karena kuadran inilah yang menunjukkan keterkaitan antar sektor ekonomi dalam melakukan proses produksinya. b. Kuadran 2 (Final Demand Quadrant) Menunjukkan penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektorsektor perekonomian untuk memenuhi permintaan akhir. Permintaan akhir adalah suatu sektor yang langsung dipergunakan oleh rumah tangga, pemerintah, pembentukan modal tetap, perubahan stok, dan ekspor. c. Kuadran 3 (Primary Input Quadrant) Menunjukkan pembelian input yang dihasilkan di luar sistem produksi oleh sektor-sektor dalam kuadran antara. Kuadran ini terdiri dari pendapatan rumah tangga (upah / gaji), pajak tak langsung, surplus usaha, penyusutan serta

22 impor. Jumlah keseluruhan nilai tambah ini akan menghasilkan Produk Domestik Bruto yang dihasilkan oleh wilayah tersebut. d. Kuadran 4 (Primary Input-Final Demand Quadrant) Merupakan kudran input primer permintaan akhir yang menunjukkan transaksi langsung antara kuadran input-primer dengan permintaan akhir tanpa melalui sistem produksi atau kuadran antara. 2.2.4 Analisis Input-Output 2.2.4.1 Analisis Keterkaitan Nazara (1999) mengungkapkan bahwa konsep keterkaitan biasa digunakan dalam perumusan kebijakan pembangunan ekonomi dengan melihat keterkaitan antara sektor dalam suatu perekonomian. Konsep keterkaitan tersebut antara lain meliputi keterkaitan ke belakang (backward linkage) yang mendeskripsikan hubungan keterkaitan antar sektor dalam pembelian terhadap total pembelian input yang digunakan dalam proses produksi dan keterkaitan ke depan (forward linkage) yang menunjukkan penjualan terhadap total penjualan output yang dihasilkannya. Berdasarkan konsep ini dapat diketahui besarnya pertumbuhan suatu sektor yang dapat menstimulir pertumbuhan sektor lainnya melalui proses induksi. Keterkaitan langsung antar sektor perekonomian dalam pembelian dan penjualan input antara ditunjukkan oleh koefisien langsung, sedangkan keterkaitan langsung dan tidak langsungnya ditunjukkan oleh Matriks Kebalikan Leontief. Matriks Kebalikan Leontief (alfa) disebut sebagai koefisien keterkaitan, karena matriks ini

23 mengandung informasi yang penting tentang struktur perekonomian yang dipelajari dengan menggunakan tingkat keterkaitan antar sektor. 2.2.4.2 Analisis Dampak Penyebaran Analisis dampak penyebaran sebenarnya merupakan pengembangan dari analisis keterkaitan terutama keterkaitan langsung dan tidak langsung karena analisis ini membandingkan nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung yang telah dikalikan dengan jumlah sektor yang ada dengan total nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung di semua sektor. Analisis ini terdapat dua macam yaitu koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran. Kepekaan penyebaran digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan suatu sektor dalam mendorong peretumbuhan sektor hulunya. Sedangkan kepekaan penyebaran digunakan dalam untuk mengetahui seberapa besar keamampuan suatu sektor dapat dalam mendorong pertumbuhan sektor sektor hilirnya. Adapun dalam penelitian yang akan dilakukan diharapkan dapat mengetahui besarnya kemampuan industri minyak goreng dalam mendorong sektor-sektor hulu maupun hilir. 2.2.4.3. Analisis Multiplier Analisis multiplier digunakan dalam menghitung dampak yang ditimbulkan akibat peningkatan suatu sektor terhadap sektor lainnya. Pada kasus multiplier input-output, pendorong perubahan ekonomi pada umumnya diasumsikan sebagai peningkatan penjualan sebesar satu satuan mata uang kepada permintaan akhir suatu sektor. Pendorong ekonomi yang sering dimaksud adalah dapat berupa pendapatan atau kesempatan kerja

24 1. Multiplier Output Multiplier output dihitung dalam per unit perubahan output sebagai efek awal (initial effect), yaitu peningkatan atau penurunan output sebesar satu unit satuan moneter. Semua komponen dari matriks kebalikan Leontif (matriks invers) α menunjukkan total pembelian input baik tidak langsung maupun langsung dari sektor i yang disebabkan adanya peningkatan penjualan dari sektor i sebesar satu satuan unit moneter ke permintaan akhir. 2. Multiplier Pendapatan Peningkatan pendapatan akibat adanya perubahan output dalam perekonomian diukur dengan multiplier pendapatan. Pendapatan disini hanya mencakup penerimaan rumah tangga yang berasal dari gaji dan upah, tidak termasuk penerimaan yang berasal dari bunga bank dan deviden atas saham yang dimiliki. Multiplier pendapatan menunjukkan bahwa jika terjadi kenaikan permintaan akhir pada suatu sektor sebesar satu unit akan mengakibatkan kenaikan pendapatan rumah tangga sebesar multiplier totalnya. Dalam multiplier pendapatan tipe I, kenaikan pendapatan tenaga kerja yang bekerja di sektor yang bersangkutan sebesar Rp 1,00 akan meningkatkan pendapatan rumah tangga di semua sektor perekonomian sebesar nilai multiplier tipe 1, baik secara langsung maupun tak langsung dengan rumah tangga sebagai eksogenus model. Untuk multiplier pendapatan tipe 2, pada intinya sama dengan mutiplier tipe 1, tetapi dalam multiplier tipe 2 ini efek induksi konsumsi rumah tangga juga diperhitungkan.

25 3. Multiplier Tenaga Kerja Multiplier tenaga kerja menunjukkan bagaimana perubahan output akan mempengaruhi perubahan tenaga kerja. Pada tabel I-O, terdapat komponen tenaga kerja, sehingga untuk memperoleh nilai multiplier tenaga kerja harus ditambahkan terlebih dahulu pada baris terbawah informasi berapa besar jumlah tenaga kerja pada tiap sektor yang ada dalam perekonomian negara tersebut. Penambahan baris ini untuk mendapatkan koefisien tenaga kerja (e i ). Koefisien tenaga kerja didapatkan dengan membagi setiap jumlah tenaga kerja masing-masing sektor dengan jumlah total ouput dari masing-masing sektor tersebut. Besarnya lapangan kerja yang tercipta jika output suatu sektor meningkat sebesar satu satuan, dapat diketahui dengan menggunakan multiplier tenga kerja tipe I. Multiplier tenaga kerja tipe 2 digunakan untuk mengetahui dampak dari penyerapan tenaga kerja di suatu sektor sebesar satu unit terhadap peningkatan lapangan kerja di seluruh sektor perekonomian. 4. Multiplier Tipe I dan II Multiplier Tipe I dan II digunakan dalam pengukuran dampak yang ditimbulkan dari output, pendapatan dan tenaga kerja pada masing-masing sektor perekonomian akibat adanya perubahan dalam jumlah output, pendapatan dan tenaga kerja yang ada dalam suatu wilayah. Klasifikasi efek dari multiplier output, pendapatan dan tenaga kerja adalah sebagai berikut: