PENDUKUNG KEGIATAN (ACTIVITY SUPPORT ) Adi Sasmito *) Abstrak

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pengertian Kota. Pengertian Kota (kamus)

ARTIKEL PUBLIKASI PENGEMBANGAN KAWASAN KAMPUS UMS SEBAGAI DESTINASI WISATA KREATIF BERBASIS EDUKASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 06 KODE / SKS : KK / 4 SKS. Sub Pokok Bahasan dan Sasaran Belajar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Kesimpulan dari penelitian dinamika aktifitas di ruang pejalan kaki di Jalan

Dr.Ir. Edi Purwanto, MT

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

PERANCANGAN ARSITEKTUR dan PERANCANGAN KOTA

BAB VI KESIMPULAN. kemudian didapatkan temuan penelitian. Temuan-temuan penelitian ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dari pemahaman mengenai citra suatu kawasan. Adapun teori yang berhubungan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

PENETAPAN LOKASI PENDATAAN ANALISIS KAWASAN DAN WILAYAH PERENCANAAN PENYUSUNAN KONSEP PENYUSUNAN RENCANA UMUM DAN PANDUAN RANCANGAN

PENATAAN KORIDOR JALAN LETJEN S. PARMAN SEBAGAI KAWASAN PERDAGANGAN DI PURWOKERTO

Kepentingan Ruang Terbuka di dalam Kota

LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

PENATAAN DAN PENGEMBANGAN SENTRA BATIK & TENUN DI PEKALONGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN SUSTAINABLE SETTLEMENT

ELEMEN FISIK PERANCANGAN ARSITEKTUR KOTA

BAB I MENGENAL ARSITEKTUR KOTA, BENTUK DAN DINAMIKANYA

BAB IV PENGAMATAN PERILAKU

KAJIAN PERSEPTUAL TERHADAP FENOMENA DAN KARAKTERISTIK JALUR PEDESTRIAN SEBAGAI BAGIAN DAR1 RUANG ARSITEKTUR KOTA

REVIEW PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DI KAWASAN SANGKURUN KOTA KUALA KURUN

PENDEKATAN DESAIN PENCAHAYAAN FASADE BANGUNAN BERSEJARAH

AR 6142 Desain dalam Konteks Transformasi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

IDENTITAS KOTA, FENOMENA DAN PERMASALAHANNYA

Kajian Hubungan Antar Fungsi Pada Kawasan Cihampelas Walk Bandung

OUTDOOR LIBRARY DI DEPOK. Subhi Jamaludin Nizam

KAJIAN TERHADAP KONSEP ELEMEN ALAMI DALAM PEMBANGUNAN DAERAH TEPIAN PANTAI

area publik dan privat kota, sehingga dihasilkan ekspresi rupa ruang perkotaan khas Yogyakarta. Vegetasi simbolik ini dapat juga berfungsi sebagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian & Sistem Sirkulasi

BAB III: GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI

MALL DENGAN KONSEP CITY WALK DI SEMARANG

ANALISIS KESELAMATAN DAN KENYAMANAN PEMANFAATAN TROTOAR BERDASARKAN PERSEPSI DAN PREFERENSI PEJALAN KAKI DI PENGGAL JALAN M.T. HARYONO KOTA SEMARANG

Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2)

PERANCANGAN KOTA BAB IV ANALISA ALUN ALUN KABUPATEN WONOGIRI MENURUT 8 ELEMEN KOTA HAMID SHIRVANI. 4.1 Analisa Tata Guna Lahan Alun alun Wonogiri

Carmona, M., Heath, T., Oc, T., Tiesdell, S., 2003, Public Places - Urban Spaces, Architectural Press, Oxford.

Pertemuan I ARSITEKTUR LANSEKAP (TR 438)

ALTERNATIF DESAIN ARSITEKTUR HIJAU PADA PERSIL BANGUNAN UNTUK MEMPERKUAT KARAKTER GARDEN CITY DI KAWASAN KOTABARU DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Ir. Drs. Budi Tjahjono, M.T. Staf Pengajar Program Studi Arsitektur - Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon ABSTRAKSI

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Ruang terbuka Publik berasal dari bahasa latin platea yang berarti jalur

BAB I PENDAHULUAN. : Merupakan kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Pusat pemerintahan. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di selatan dan barat¹.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

L I N K A G E. Mata Kuliah Arsitektur Kota. Teori Urban Desain

BAB I PENDAHULUAN I-1

Penerapan Budaya Sunda dalam Perancangan Pasar Rakyat Kasus: Pasar Sederhana, Bandung

BAGIAN 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proyek

BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA)

IDENTIFIKASI FAKTOR FAKTOR PRIORITAS PENGEMBANGAN TAMAN RONGGOWARSITO SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK DI TEPIAN SUNGAI BENGAWAN SOLO TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN 6. 1

Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang

Pentingnya Ruang Terbuka di dalam Kota

Evaluasi dan Perancangan Visual Display Penunjang Wayfinding yang Ergonomis di Kampung Gajah Wonderland

Identifikasi Ragam Aktivitas Outdoor : Karakteristik Pedestrian Mall di Jalan Dalem Kaum, Bandung

Keberadaan Fungsi Bangunan Sekitar dalam Membentuk Pemanfaatan Ruang Koridor Jalan di Pusat Kota Pasuruan

BAB III METODE PENELITIAN

Kajian Karakteristik Fisik Kawasan Komersial Pusat Kota

LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

Rancangan Sirkulasi Pada Terminal Intermoda Bekasi Timur

PENATAAN KORIDOR JALAN PASAR BARU JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN

Perencanaan Kota TEORI URBAN DESIGN 3 (LINGKUNGAN DAN PENUNJANG)

TEORI PERANCANGAN KOTA. Pengantar Perancangan Perkotaan

BAB I PENDAHULUAN. sebelum manusia mengenal makna arsitektur itu sendiri, namun pada saat ini signage

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TELENG RIA DI PACITAN

POLA PEMANFAATAN DAN PELAYANAN ALUN-ALUN KOTA PATI BERDASARKAN PERSEPSI DAN PREFERENSI PENGUNJUNG TUGAS AKHIR TKPA 244

BAB I PENDAHULUAN. :Pengembangan adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, dan konseptual. -pengembangan.

Citra Kota Bandung: Persepsi Mahasiswa Arsitektur terhadap Elemen Kota

HIRARKI ANTARA PERENCANAAN WILAYAH KAB/KOTA DENGAN PERANCANGAN KOTA

Evaluasi Tingkat Kenyamanan Penghuni Pasca Perubahan Fungsi Taman Parang Kusumo Semarang

Tengah berasal dari sebuah kota kecil yang banyak menyimpan peninggalan. situs-situs kepurbakalaan dalam bentuk bangunan-bangunan candi pada masa

LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR HOTEL RESORT DI KAWASAN CANDI PRAMBANAN

GERAK DAN POLA SOSIALISASI MANUSIA DI DALAM RUANG UNTUK MELINDUNGI TERITORIAL LINGKUNGANNYA

KONSEP dan TEKNIK PENYAJIAN GAMBAR PADA PROYEK ARSITEKTUR KOTA (URBAN DESIGN)

BAB III TINJAUAN KHUSUS

PENEMPATAN POHON PADA JALUR PEJALAN KAKI BERBASIS PANAS MATAHARI DI KOTA SEMARANG

BAB III METODE PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN. yang dominan berupa tampilan gedung-gedung yang merupakan karya arsitektur dan

LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR KAWASAN WISATA SELO, BOYOLALI JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

mendefinisikan ruang arsitektural yaitu pohon beringin pada Bangsal Sewakapraja namun karena letaknya berada pada halaman, elemen ini hanya dapat

VI. PERENCANAAN LANSKAP PEDESTRIAN SHOPPING STREET

BAB III METODE PERANCANGAN Ruang Lingkup Penelitian Untuk Rancangan. Penelitian tentang upaya Perancangan Kembali Pasar Karangploso

PENATAAN RUANG PEDESTRIAN PADA FUNGSI PERDAGANGAN SUPERBLOK JOHAR SEMARANG

MALL DI KABUPATEN TANGERANG DENGAN KONSEP CITY WALK

BAB 3 METODOLOGI PERANCANGAN

5 elements IMAGES OF THE CITY ( KEVIN A. LYNCH )

V. KONSEP Konsep Dasar Pengembangan Konsep

HILLSIDE HOTEL DI SEMARANG Penekanan Desain Arsitektur Neo Vernakular

Teori lokasi (Place Theory) Mata Kuliah Arsitektur Kota. Teori Urban Desain

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

STUDI RUANG PARKIR UNIVERSITAS SULTAN FATAH (UNISFAT) DEMAK

Prosiding Perencanaan Wilayah dan Kota ISSN:

Transkripsi:

PENDUKUNG KEGIATAN (ACTIVITY SUPPORT ) Adi Sasmito *) Abstrak Sebuah kota terbentuk dan berkembang secara bertahap sesuai dengan peningkatan kegiatan manusia, dimana manusia sebagai pelaku kegiatan saling berinteraksi dalam kehidupannya. Dalam hal ini kota terbentuk sebagai fungsi dari aktifitas manusia yang luas dan kompleks, yang terakumulasi dari waktu ke waktu (urban artifact) dalam skala besar, yang terbentuk dan terakumulasi dari waktu ke waktu pula (Aldo Rossi,1992,) dan kota juga tidak tumbuh dalam bentuk fisik saja, tetapi tumbuh bersamaan dengan masyarakatnya ( Spreiregen, 1985 ). Kota dapat berupa konsentrasi elemen-elemen fisik yang intensitas kegiatan dan pembangunan fisik kota tumbuh dan berkembang dari bagian pusat kota ( sebagai bagian pusat kota ) kearah pinggiran pinggiran. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kearah bagian pusat kota semakin tinggi intensitasnya dan semakin beragam pula fungsifungsi kegiatannya, sedangkan kegiatan yang ada dapat berupa suatu interaksi ekonomi ( pusat pertokoan, toko serba ada, kantor jasa, hotel) atau suatu bentuk organisasi social dan keagamaan ( rumah sakit, masjid dll) atau kegiatan pemerintahan ( kantor pemerintahan) dan fasilitas lain seoerti fasilitas rekreasi dan ruang terbuka. Daerah pusat kota yang baik adalah daerah yang mencakup konsentrasi pelayanan terbesar untuk seluruh komunitas ( Speiregen,1985,) Kehadiran atau existensi Pendukung Kegiatan (activity support) adalah suatu keterkaitan antara fasilitas ruang-ruang umum kota dengan kegiatan yang berlangsung didalamnya, yang pada prinsipnya adalah kegiatan-keiatan penunjang yang menghubungkan dua atau lebih pusat-pusat kegiatan umum yang berada di kota dengan tujuan menciptakan kehidupan kota yang lebih baik melalui melalui intensitas penggunaan yang beragam. Pendukung kegiatan ( activity support) dapat berperan sebagai komunikator agar tercapainya dialog atau kualitas ruang kota yang menerus antara fungsi kegiatan yang satu dengan fungsi kegiatan lainnya sekaligus dapat memberikan citra visual yang spesifik pada kawasan kota tertentu. Semakin dekat dengan pusat kota, keberadaan Pendukung Kegiatan sangat diperlukan, karena semakin tinggi keberagaman kegiatannya perlu adanya integrasi dan koordinasi potensi yang ada. Kata Kunci : Kota, pendukung kegiatan, masyarakat 1.1.Pengertian Pendukung (support) atau penyokong adalah yang mendukung atau menyokong sesuatu.kegiatan (activity) atau aktifitas secara mendasar mengarah *) Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Pandanaran 1

kepada sesuatu pergerakan. Pendukung Kegiatan ( Activity Support) berarti potensi/elemen yang mendukung kegiatan sesuatu. Dalam hubungannya dengan perancangan kota, pendukung kegiatan berarti suatu elemen kota yang mendukung dua atau lebih pusat kegiatan umum yang berada dikawasan pusat kota yang mempunyai konsentrasi pelayanan yang cukup besar ( Hamid Shirvani, 1985:37) Antara pusat kegiatan umum yang satu dengan pusat kegiatan yang lain mempunyai keterkaitan penting, sehingga timbul elemen kota yang disebut : Pendukung Kegiatan atau Activity Support. 1.2.Tinjauan Historis. Kota selain memiliki kenyamanan, juga harus indah dipandang. Elememelemen yang ada tidak hanya harus berfungsi tetapi juga harus menampakkan keindahannya. Apabila elemen-elemen digabung semuanya harus menghasilkan suatu komposisi yang memuaskan. Kota adalah arsitektur, yaitu obyek hasil karya fisik dan hasil karya manusia. Sebagai produk manusia kota adalah hasil cipta kultural dan hasil cipta sosial. Sebagai hasil cipta kultural kota merupakan realitas hasil transformasi alam dan cerminan cara manusia menghadapi realitas itu. Sebagai hasil cipta sosial, kota adalah tempat segala dimensi kehidupan manusia. Menurut Aldo Rossi, 1982 dalam bukunya The Arcitecture of the city, kota dipandang sebagai obyek buatan manusia dan sebuah arsitektur yaitu berupa konsentrasi elemen fisik special yang selalu tumbuh dan berkembanga. Elemen-elemen fisik tersebut terbentuk karena adanya fungsi-fungsi kegiatan yang berlangsung dalam suatu kota seperti kegiatan mekanisme ekonomi, sosisal budaya dll. Dalam hal ini kota terbentuk sebagai fungsi dari aktifitas manusia yang luas dan kompleks dan disisi lain kota dapat dilihat sebagai bentukan fisik buatan manusia yang terbentuk dari waktu ke waktu, dan kota juga tidak tumbuh dan bentuk fisik saja, tetapi tumbuh bersamaan dengan masyarakatnya.. (Spreiregen, 1985). Dengan demikian berkembangnya suatu kota juga bersamaan dengan berkembangnya tuntutan masyarakat sebagai pelaku kegiatan. Dan ini berarti 2

secara fisik dan fungsional, intensitas dan kualitas kegiatan selalu berubah. Dengan melihat kenyataan diatas bahwa kota selalu tumbuh dan berkembang, gejala yang ditimbulkannya bersifat menyeluruh dan alamiah dan mulai berkembang dari pusat kota kedaerah pinggiran kota, dimana faktor yang mempengaruhinya adalah perkembangan penduduk dan pola sosial ekonomi (jasa dan perdagangan). Fenomena diatas menunjukkan bahwa intensitas kegiatan dipusat kota dengan keragaman yang tinggi tidak ditata dengan baik akan menimbulkan masalah dan konflik kepentingan, apakah kepentingan pribadi atau kepentingan umum. Dengan demikian diperlukan alat pengendali yang memadai hingga mampu mereduksi konflik kepentigan para pengguna ruang fisik kota. Apabila tidak dilengkapi alat pengendali maka ada kemungkinan terjadi penurunan kualitas fisik dan fungsional. Pada dasarnya perangkat kendali ini untuk menyatukan dan mengkoordinasikan setiap fungsi-fungsi kegiatan yang beragam, sehingga setiap fisik ruang kota dapat terkoordinasikan dan terintegrasika dalam satu kesatuan yang menerus. Didalam kegiatan perancangan kota, perangkat kendali tersebut merupakan salah satu elemen kota yang disebut Pendukung Kegiatan (Activity Support ) yang diharapkan dapat sebagai elemen penyatu yang mampu mendukung dan menghidupkan setiap fungsi kegiatan yang ada ( Hamid Shirvani, 1985) 1.3.Landasan Teori 1.3.1 Definisi Pendukung Kegiatan Pendukung kegiatan (Activity Support) adalah meliputi seluruh pengguanaan dan aktifitas yang membantu memperkuat ruang-ruang umum kota, karena aktifitas dan fisik ruang selalu saling melengkapi satu sama lain. Bentuk, lokasi, dan karakteristik suatu areal tertentu akan menarik fungsi, penggunaan dan aktifitas spesifik (Hamid Shirvani, 1985) Pendukung kegiatan tidak hanya meliputi penyediaan plasa dan jalan pejalan kaki saja, namun huga mempertimbangkan elemen penggunaan ruang dan fungsional dari kota yang membangkitakan aktifitas. Hal ini meliputi mall 3

yang menghubungkan minimal 2 simpul aktifitas yang berbeda. Sasaranya adalah aktifitas utama ditempat yang fungsional mencampurkan dengan penggunaan yang saling melengkapi, menghubungkan satu sama lain dengan sistim perubahan/pergerakan pejalan kaki yang aman, dibuat yang menarik untuk kebutuhan pejalan kaki. Pola-pola aktifitas pada kota-kota yang lebih luas terjadi sebagai serangkaian poros sumbu, dengan memperhatikan tingkat kemampuan berjalan dari duatu tempat ketempat lain. Satu patokan untuk fungsi yang efektif adalah poros-poros tersebut merupakan hubungan dari areal yang berbeda baik lama maupun baru., dengan memberikan tingkat pencampuran yang bervariasi dengan fasilitas-fasilitas yang saling melengkapi. Type penggunaan bermacam-macam ini akan meningkatkan keanekaragaman dan intensitas penggunaan (Speiregen 1965:80). 1.3.2. Bentuk Pendukung Kegiatan Adapun bentuk dari pendukung kegiatan yaitu kegiatan penunjang yang menghubungkan dua atau lebih pusat-pusat kegiatan umum yang ada dikota, antara lain berupa ruangterbuka atau bangunan yang diperuntukan bagi kepentingan umum Ruang terbuka, bentuk fisiknya dapat berupa taman rekresasi, taman kota, plaza-plaza, taman budaya, kawasan pedagang kaki lima, jalur pedestrian, kumpulan pedagang penjual barang-barang seni lainnya. Yang berwujud bangunan/ruang tertutup adalah seperti kelompok pertokoan eceran(grosir), pusat pemerintahan, pusat jasa dan kantor department store, dan lainnya. Dari uraian diatas, terlihat bahwa pendukung kegiatan dapat merupakan ruang bebas untuk manusia, sebagaimana jalan sebagai ruang yang bebas untuk mobil, hanya disini diperlukan untuk istirahat, misalnya tempat duduk, fasilitas untuk berteduh dan lainnya. Hal ini akan memberikan kesan visual tersendiri sebagai identitas kawasan tersebut. 4

1.3.3. Fungsi Pendukung Kegiatan Fungsi utama dari pendukung kegiatan dalah menghubungkan dua atau lebih pusat-pusat kegiatan umum dan menggerakkan fungsi kegiatan utama kota menjadi lebih hidup, menerus,dan damai. Disamping itu untuk memperkuat ruang-ruang umum kota saling melengkapi satu sama lainnya (Hamid Shirvani, 1985) 1.3.4. Kriteria Desain Pendukung Kegiatan Untuk menghadirkan ciri dari lingkungan kota yang ada hendaknya kriteria desain dari bentuk dan fungsi pendukung kegiatan ini juga melihat aspek konstektual dan serasi dengan lingkungannya. Disamping itu juga perlu menghadirkan identitas /ciri khas melalui pemahanan tentang kultur dan pola kehidupan sosial yang memiliki makna dan arti kontekstual. Jiwa dan karakteristik suatu tempat perlu dipertahankan sebagai identitas suatu lingkungan. Beberapa criteria yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan didalam perancangan Pendukung Kegiatan adalah sebagai berikut: Untuk terciptanya dialog yang menerus dan memiliki karakter lokal dalam menarik para pemakai / pengunjung, perlu adanya keragaman dan intensitas kegiatan yang dihadirkan dalam ruang tersebut. Untuk menggerakkan dan memberikan dan memberikan kehidupan yang lebih ramai di dalam kegiatan utama kota, perlu adanya koordinasi antar kegiatan dengan lingkungan sekitar. Memperhatikan kultur dan pola kehidupan sosial kota. Memperhatikan jarak antar pusat kegiatan dengan skala pejalan kaki. 1.3.5. Penerapan Desain Pendukung Kegiatan Keberadaan pendukung kegiatan adalah membuat suatu tempat mempunyai kegiatan yang beragam yang berkesinambungan antara tempat yang satu dengan yang lainnya sebagai serangkaian poros sumbu pergerakan. Pergerakan kegiatan yang terjadi disini timbul karena adanya interaksi manusia dengan lingkungan. 5

Sebagai contoh penerapan pendukung aktifitas yang berhasil adalah di Malioboro Yogyakarta.Perangcangan ruang arcade yang ada si jalan Malioboro dengan bentuk menerus, dengan didalamnya terdapat kegiatan pedagang kaki lima yang menjual barang-barang cindera mata, makanan dan minuman, kerajinan kulit dan pakaian jadi. Disamping itu sebagian tempat untuk pejalan kaki baik dengan tujuan jalan kaki maupun belanja dan rekreasi.dan di ruang terbuka sepanjang kawasan pedestrian untuk kegiatan pedagang kaki lima dengan memakai kereta dorong menjual makanan dan minuman. 1.4 Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan Keberadaan Pendukung Kegiatan sebagai salah satu elemen penghidup kegiatan kota dengan diwarnai karakter lingkungan yang terdiri dari berbagai fungsi dan keaneka ragaman kegiatan. Semakin dekat dengan pusat kota, semakin tinggi konsentrasi pelayanan, intensitas dan keberagaman kegiatan, dan demakin dibutuhkan Pendukung Kegiatan, karena keberadaannya dapat mengintegrasikan kegiatan yang berlainan dan sebagai penghubung antar kegiatan yang berada di lingkungan lain 2. Saran Keberadaan Pendukung Kegiatan sangat penting didalam perancangan kota, akan tetapi di perancangannya perlu dipertimbangkan karakteristik kegiatan maupun daerah yang bersangkutan. Mengenai pedagang kaki lima merupakan ciri khas bentuk pendukung kegiatan di kota-kota Indonesia tetap dipertahankan dengan memperhatikan penataannya tidak mengganggu tempat pejalan kaki. 6

DAFTAR PUSTAKA Appleyard,Donald,1981, Liveable Streets,, Los Angels, University of California Press. Attoe, Wayne, Donn Logen, 1989, American Urban Architecture, London, England, Univercity of California Press. Becthel, Robert B et al,1987, Methods in Environmental and Behavioral Research, New York Van Nonstrand Reinhold Co. B. Michael,William, 1985, Handbook in Research and Evaluation, Los Angels, California, Edits Publishers. Budihardjo, Eko, 1990, Architecture Concervation in Bali, Yogyakarta, Gajah Mada University Press. Cresswell,Roy,1979, Quality in Urban Planning and Design, London-Boston, Newnes Butterworths. Dobby, Allan,1978, Concervation and Planning, London, The Anchor Press Ltd. Sage Publication. Krie, Rob, 1979, Urban Pace, London, Academy Editions. Lang, John, 1974, Architecture and Behavior Sciences, United States of America. Lang, John, 1974, Creating Architectureal Theory, New York, Van Nonstrand Reinhold. Lynch, Kevin, 1971, The Image of City, MIT Press, Massachusetts. Lynch, Kevin,1984, Good City Form, MIT Press, Massachusetts. Michelson, William, (ed), 1975, Methods in Environmental and Behavioral Research, Pennsylvania, Dowden, Hutchinson & Ross. 7