ABSTRACT. Keywords: onomatope, artificial sounds, animals I. PENDAHULUAN

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS GIONGO DALAM ANIME KAICHOU WA MEIDO-SAMA! (EPISODE 1-10) Dzikry Dzikrullah

BAB I PENDAHULUAN. dapat menyampaikan informasi yang ingin disampaikan kepada orang. salah satunya adalah mempelajari bahasa Asing.

Bab 2. Landasan Teori. Dalam KBBI, definisi dari tanda baca adalah tan da n 1 yang menjadi alamat

BAB II SOFTWERE JLOOK UP. Softwere kamus Jlook up adalah softwere kamus Jepang yang cukup

BAB 1 PENDAHULUAN. Pengertian bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989) adalah sistem

BAB I PENDAHULUAN. Dedi Sutedi, bahasa adalah alat pengungkap pikiran maupun perasaan. Melalui

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008

PROGRAM TAHUNAN. Kompetensi Dasar Materi Pokok Alokasi Waktu. Salam. Mengucapkan salam : おはようございます こんにちは こんばんは. Mengucapkan salam ketika berpisah :

Bab 2. Landasan Teori. perubahan dan dengan sendirinya dapat menjadi predikat. Contoh : 歩く 倒れる 話す.

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2006/2007

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang digunakan untuk

3. Dimasa mendatang, saya bermaksud menjadi pelukis terkenal. ~ つもりです. 4. Sekarang, pertandingan baseball dapat ditonton di televisi.

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN PERCAKAPAN BAGI PENGAJAR BAHASA JEPANG

PDF created with FinePrint pdffactory trial version YUK BELAJAR NIHONGO

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG PARTIKEL GURAI DAN GORO. Menurut Drs. Sugihartono ( 2001:178 ), joshi adalah jenis kata yang tidak

BAB 1 PENDAHULUAN. sosial tidak dapat hidup tanpa adanya komunikasi dengan sesama. seseorang dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat itu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Bab 1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang penting dalam kontak

Bab 2. Landasan Teori

SILABUS. Kegiatan Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. Onomatope yang berasal dari Bahasa Yunani ονοματοποιία adalah kata atau

Fitria Sanimah Rahmawati*Sri Wahyu Widiati**Merri Silvia Basri*** Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang

Bab 2. Landasan Teori. Mengenai definisi kelas kata Jepang (hinshi) Noda (1991 : 38) mengatakan :

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1. Pendahuluan. Bahasa di dalam wacana linguistik diberi pengertian sebagai sistem simbol bunyi

BAB I PENDAHULUAN. sebagai alat komunikasi, membantu manusia menyampaikan atau mengungkapkan

TEMA 5 JADWAL PELAJARAN じかんわり

BAB I PENDAHULUAN. Untuk berkomunikasi, masyarakat sebagai makhluk sosial membutuhkan

BAB 1 PENDAHULUAN. dipelajari sebagai ilmu dasar bagi ilmu-ilmu lain seperti kesusastraan, filologi,

ABSTRACT. Keywords: bushu, kokoro hen, kokoro ashi I. PENDAHULUAN

(Asari-chan buku no: 28, halaman: 40) あさり ガンバレ! bersemangat. Berusaha Asari! Pada situasi di atas, penggunaan katakana ada pada kata ガンバレ.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah 1. Pengertian Giongo / Giseigo dan Gitaigo 2. Jenis Gitaigo dalam Bahasa Jepang

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan hal yang sangat penting dalam berkomunikasi sesuai

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG JOSHI

BAB I PENDAHULUAN. kepribadian seseorang, baik kepribadian tersebut adalah kepribadian yang baik

BAB I PENDAHULUAN. Jodoushi dantei terdiri dari dua buah kata yaitu jodoushi dan dantei. Sudjianto

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. bahasa mempunyai kaidah-kaidah ataupun aturan-aturan masing-masing yang baik dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Seperti yang diketahui komunikasi adalah sesuatu yang telah dilakukan

SILABUS MATA KULIAH PROGRAM STUDI MANAJEMEN RESORT & LEISURE

Bab 2. Landasan Teori. Istilah sintaksis dalam bahasa Jepang disebut dengan togoron 続語論 atau

BAB I PENDAHULUAN. Belajar bahasa lain mungkin menjadi penting dalam aktivitas intelektual manusia

BAB IV KESIMPULAN. Penulis berkesimpulan bahwa di dalam penerjemahan kata tanya doko dan

MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA JEPANG

BAB I PENDAHULUAN. secara lisan maupun tertulis. Dalam komunikasi secara lisan, makna yang

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada keseluruhan penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Setiap bahasa terdiri dari unsur kalimat, klausa, frase dan kata. Salah satu

BAB 1 PENDAHULUAN. kata. Menurut ( Chaer, 2003: 224 ) frasa adalah gabungan kata yang tidak. memiliki makna baru dan dapat disela dengan unsur lain.

BAB I PENDAHULUAN. yang menjadi modal dasar manusia untuk memenuhi kebutuhan sosial di lingkungan

ABSTRACT. Keywords : error anlyze, the fucntion of joshi wa ( は ) and ga ( が ), sakubun I. PENDAHULUAN

Keyword : Speech Act, Refusal,Keigo

ぽん ぼん. Morfem. Kata. Alomorf adalah. morfem. Morfem Bebas. Morfem Terikat 形態素 自由形態素 拘束形態素. Contoh. bagan. Definisi. Alomorf. Contoh.

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi dalam kehidupan sehari-hari manusia sebagai makhluk sosial

ABSTRAK. atau gagasan-gagasan dalam perasaan. Bahasa juga berfungsi sebagai alat

membahas dari penggunaan dan arti tiga kata kerja tersebut,...ok,...he,.,he,.,he,.,.

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan sistem informasi dan sistem komunikasi. Dengan

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Jepang banyak diminati, karena memiliki keunikan tersendiri. Sama

BAB 1. Pendahuluan. Manusia merupakan makhluk sosial, di mana bahasa merupakan alat

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) : X MIA 6 (kelas Eksperimen)

BAB I PENDAHULUAN. karena setiap bahasa di dunia ini pasti memilikinya. Meskipun suatu kata mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. hal ini disebabkan karena keunikan dari bahasa-bahasa tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. ide, atau perasaan tersebut dapat secara harfiah atau metaforis, secara langsung atau tidak

2015 ANALISIS MAKNA ASPEKTUAL HOJODOUSHI TE IKU DAN TE KURU

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan berbahasanya. Salah satunya bahasa Jepang, Dewasa ini semakin

PENERAPAN STUDENT CENTERED LEARNING PADA MATA KULIAH DOKKAI SEMESTER 5 Riri Hendriati Fakultas Sastra / Jurusan Sastra Jepang.

Hasil Technical Meeting Lomba Benron Umum Nihongo no Hi 2018

BAB I PENDAHULUAN. membedakannya dengan bahasa lain. Sehingga tidaklah mengherankan jika

Bab 1. Pendahuluan. Sejak zaman dahulu kala, manusia menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, yaitu

BAB I PENDAHULUAN. kata sifat, kata kerja bantu, partikel, dan kata keterangan.

BAB I PENDAHULUAN. dan informasi serta kebutuhan komunikasi dengan negara Jepang, bahasa Jepang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Bab 2. Landasan Teori. Pada bab ini penulis akan menjabarkan teori-teori yang akan digunakan dalam

BAB 3 ANALISIS DATA. mencoba untuk menganalisis permasalahan-permasalahan yang telah saya temukan

ABSTRACT. Keywords : forbidden expression, sentence, language choice, the context of speech

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Pergi kemana? どこへ行きますか

BAB 3 ANALISIS DATA. instrumen. Dan kemudian akan dilanjutkan dengan pemaparan hasil jawaban setiap soal

ANALISIS PEMAKAIAN PARTIKEL ~NI DAN ~DE DALAM BAHASA JEPANG (Studi kasus pada Mahasiswa Semester III)

BAB I PENDAHULUAN. simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. pikiran, maupun ide kepada lawan bicara.

BAB II GAMBARAN UMUM ANOMATOPE TENTANG GITAIGO BAHASA JEPANG

KEMAMPUAN DALAM MENGGUNAKAN VERBA MEMAKAI PADA SISWA KELAS XI BAHASA SMA NEGERI 3 PROBOLINGGO TAHUN AJARAN 2013/2014 SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. oleh manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa adalah sistem

BAB I PENDAHULUAN. ajektiva (keiyoushi), nomina (meishi), pronomina (rentaishi), adverbia (fukushi), interjeksi

BAB I PENDAHULUAN. lengkap (Chaer, 2007:240). Menurut Widjono (2005:141) kalimat merupakan

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bermasyarakat luas dan dapat juga membantu seseorang untuk

Bab 1. Pendahuluan. Bahasa adalah identitas diri dari suatu negara. Suatu negara dapat kita identifikasikan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Identitas a. Nama Mata Pelajaran : Bahasa Jepang b. Semester : 1 c. Kompetensi Dasar : 3.3 dan 4.3

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah sebuah sistem dari simbol vokal yang arbiter yang

BAB III METODE PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian adalah tatacara bagaimana suatu penelitian dilaksanakan. (method =

Transkripsi:

Analisis Kontrastif Onomatope Suara Hewan Dalam Bahasa Jepang Dan Bahasa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Riau Oleh: Roni Hari 1 Anggota: 1. Arza Aibonotika 2 2. Nana Rahayu 3 Email: theronyea@yahoo.com, No. HP: 085355505985 ABSTRACT In Japanese Language, there is of the so called onomatope that created/made artificial sounds of made of an object or living things sounds deprived of the vocabularies which are frequently used either in daily conversations or various media. As an example of the artificial sounds of non-living things such as: mishimishi (artificial sounds of the cracked wall or other wooden materials); sarasara (artificial sounds of the crashing sand); and as an example of artificial sounds of the living things such as: hisohiso (artificial sounds of whispering), wanwan (artificial of dog s sounds) etc. The animal artificial sounds are usually called giseigo. This study analyzes the form of a change in classes of words, meaning and characteristics in animals onomatopeia from Japanese to Indonesian. The objective of this study is to discover the similarities and differences of the onomatopeia of animals sounds of Japanese into Indonesian. Keywords: onomatope, artificial sounds, animals I. PENDAHULUAN Bahasa terdiri atas tanda-tanda. Tanda itu sendiri terdiri atas 2 aspek yang tidak dapat dipisahkan, yaitu konsep dan citra bunyi. Salah satu bidang cakupan dari simbolisme bunyi adalah onomatope, kata peniru bunyi. Disini kata-kata yang disebut onomatope, lambang bunyinya memberi petunjuk bagi konsep yang dilambangkan. Dalam berbagai kamus umum, linguistik didefinisikan sebagai ilmu bahasa atau studi ilmiah mengenai bahasa. Paradigma Aristoteles berintikan bahwa bahasa adalah thesei atau tidak mirip dengan realitas, kecuali onomatope, disebut arbitrer atau non-ikonis. Onomatope adalah kata-kata yang dinyatakan dengan bunyi bahasa atau disebut juga dengan tiruan bunyi seperti suara hewan, suara manusia yang sedang tertawa atau menangis, bermacam-macam bunyi benda di sekitar kita dan lain-lain. Bahasa yang merupakan peniruan bunyi binatang disebut Giseigo. Giongo dan gitaigo merupakan salah satu aspek bahasa Jepang yang menarik bagi para pembelajar bahasa Jepang yang berbahasa ibu bahasa Indonesia. Namun karena jumlahnya begitu banyak sementara padanannya dalam bahasa Indonesia sangat terbatas, kadang-kadang giongo dan gitaigo ini menjadi salah satu kendala pada saat belajar bahasa Jepang. Giongo biasa disebut juga giseigo, shaongo, onomatope, dan sebagainya yaitu kata-kata yang dinyatakan dengan bunyi bahasa seperti suara tertawa orang, suara tangisan, suara burung, binatang buas, serangga, dan sebagainya, berbagai macam bunyi benda yang keluar di dunia ini, bunyi benda yang keluar secara buatan, bunyi gema, dan sebagainya. Misalnya kata-kata goon gong, wanwan gukguk. 1 Mahasiswa Pend. Bahasa Jepang FKIP Universitas Riau 2 Pembimbing I Dosen Pend. Bahasa Jepang FKIP Universitas Riau 3 Pembimbing II Dosen Pend. Bahasa Jepang FKIP Universitas Riau 1

Iwabuchi Tadasu (1989:73-74) menyebutkan kata seperti wanwan, gatagoto, kachinkachin, dan sebagainya disebut giseigo (giongo). Giseigo berasal dari kata-kata yang menirukan bunyi yang keluar dari benda, suara manusia, dan sebagainya. Kanji gi pada giseigo adalah huruf yang dipakai dalam artian maneru meniru atau niseru meniru/mencontoh/memalsukan. Sebagai kata yang mirip dengan giseigo terdapat kata-kata yang menunjukkan keadaan sesuatu benda seperti fuwafuwa, bon yari, dan sebagainya. Suasana atau perasaan yang memiliki keadaan itu ditunjukkan walaupun kurang jelas. Hal inilah yang disebut gitaigo. Walaupun bunyinya sama, namun kata dondon pada kalimat dondon tataku memukul toktok termasuk giseigo, sedangkan kata dondon pada kalimat dondon susumu maju dengan cepat termasuk gitaigo. Sebagian besar giseigo dan gitaigo termasuk pada fukushi atau gokan pada kelas kata keiyoodooshi. Biasanya giseigo ditulis dengan katakana sedangkan gitaigo ditulis dengan hiragana. Tetapi sering membedakan antara giseigo dengan gitaigo. Oleh karena itu ada juga yang menggabungkan keduanya dan menyebutnya sebagai onomatope. Selain itu, ditemukan juga tiga bentuk hubungan makna antara kata yang berpadanan, yaitu: (a) Onomatope yang mempunyai persamaan dan perbedaan. (b) Onomatope yang mempunyai kesamaan makna seutuhnya. (c) Onomatope yang mempunyai makna yang lebih luas dari onomatope bahasa bandingannya. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Analisis Kontrastif Onomatope Suara Hewan Dalam Bahasa Jepang Dan Bahasa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Riau. Berdasarkan permasalahan di atas terdapat rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Dari beberapa contoh suara hewan tersebut, apa saja makna dan karakteristik onomatope suara hewan dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia. (2) Apakah onomatope suara hewan dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia dapat berubah dalam kelas katanya? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab seluruh permasalahan yang telah dirumuskan di atas. Tujuan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: (a) Untuk mengetahui makna, karakteristik dan juga perubahan dalam kelas kata onomatope suara hewan dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia. (b) Untuk mengetahui perbandingan onomatope suara hewan dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia dari segi analisis kontrastif tersebut. (c) Dapat bermanfaat bagi kajian linguistik pada umumnya, terutama pada simbolisme bunyi. Lebih khusus lagi, hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi ahli tipologi untuk upaya pengelompokkan bahasa-bahasa ke dalam kekhasan ciri fonemik simbolisme bunyi dari aspek morfologi bahasa. Manfaat yang akan diperoleh berdasarkan tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (a) Hasil penelitian ini dapat dijadikan sarana untuk menambah wawasan dalam kajian linguitik, khususnya mengenai onomatope yang menunjukkan suara hewan (giseigo). (b) Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan refensi bagi pembelajar bahasa Jepang untuk mempelajari padanan onomatope dalam bahasa Indonesia. Sehingga pada saat proses pembelajaran tidak mengalami kendala. II. METODOLOGI PENELITIAN Dalam hal ini untuk menjawab seluruh masalah penelitian, penulis menggunakan metode deskriptif dengan memakai pendekatan kontrastif untuk menjawab seluruh masalah dari penelitian, dimana pengertian dari metode deskriptif ini adalah penelitian yang digunakan untuk menggambarkan, menjabarkan, suatu fenomena yang terjadi saat ini dengan menggunakan prosedur ilmiah untuk menjawab masalah secara aktual (Sutedi, 2009: 58). 2

Metode penelitian deskriptif merupakan sebuah metode penelitian yang menggambarkan objek penelitian berupa data-data yang sudah ada. Dalam penelitian deskriptif, peneliti tidak mungkin memanipulasi dan mengontrol data atau variabel penelitian. Dengan demikian, penelitian ini disebut sebagai penelitian non eksperimental karena data yang akan diteliti, baik data saat ini maupun data di masa lalu, sudah ada dan tidak mungkin dimanipulasi. Tujuan utama penelitian ini adalah menggambarkan karakteristik subjek atau pun objek penelitiannya. Mungkin alasan inilah yang membuat metode penelitian ini sangat disukai oleh para peneliti pemula. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini bersifat studi pustaka. Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis data. Penelitian dimulai dengan pengumpulan data giseigo yang merupakan tiruan bunyi makhluk hidup yang dikhususkan pada suara hewan. Kemudian onomatope pada suara hewan tersebut dianalis dengan cara analisis kontrastif. Setelah kedua tahap di atas selesai, maka akan dibandingkan antara onomatope suara hewan dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia. III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berikut ini contoh onomatope suara hewan dalam bahasa Jepang yaitu sebagai berikut: 1. Wanwan : Tiruan suara anjing 2. Nyaanyaa : Tiruan suara kucing 3. Chuuchuu : Tiruan suara tikus 4. Meemee : Tiruan suara kambing 5. Moomoo : Tiruan suara sapi Karakteristik onomatope dalam bahasa Jepang yaitu terdiri dari satu atau dua mora serta terdapat pengulangan kata. Sedangkan karakteristik onomatope dalam bahasa Indonesia yaitu kata diawali dengan suku kata de-, ce-, le-, ci. ke-, ge-, ko-, kecuali tiga kata yang diawali vokal yaitu uek, uik, dan isak. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan antara onomatope dalam bahasa Jepang dan onomatope bahasa Indonesia, di bawah ini akan dibahas perubahan kelas kata onomatope suara hewan tersebut beserta dengan contohnya. 1. わんわん (wanwan) / Tiruan dari suara anjing. Wanwan merupakan kategori giseigo yang menunjukkan suara anjing. Morfo-fonologis dari wanwan ini adalah CVN-CVN (reduplikasi). Wanwan ini merupakan makna leksikal yaitu tiruan suara anjing yang menyalak, merupakan fungsi adverbia (kata keterangan). Adverbia itu sendiri wujudnya menunjukkan kelas kata nomina dan verba. Kata wanwan ini bisa dikategorikan ke dalam kelas kata nomina dan verba. Berikut contoh wanwan yang dikategorikan ke dalam kelas kata nomina dan verba: 1. 玄関に人が来たのか 犬がわんわんほえている Genkan ni hito ga kita no ka, inu ga wanwan hoeteiru (Hinata dan Hibiya, 1995: 10). Anjing menggonggong, apakah ada orang di pintu masuk? 2. ワンワン と白い犬は吠えた Wanwan to shiroi inu wa hoeta (Yutaka, 2002: 199). Gonggong anjing putih menggonggong Dalam contoh kalimat (1) di atas kata wanwan termasuk dalam kelas kata verba. Contoh kalimat (2) wanwan tersebut merupakan kategori adverbia, yang menunjukkan kategori kelas kata nomina. Dalam onomatope bahasa Indonesia terdapat kata gonggong yang mempunyai 3

makna yang sama berupa tiruan suara anjing yaitu wanwan. Kita dapat melihat contoh di bawah ini untuk mengetahui arti dari kata gonggong. 1. Anjing-anjing itu menggonggong orang asing yang hendak membuka pintu halaman itu (Tim Redaksi KBBI, 1990: 282). 2. Lain halnya kalau dengar gonggongan anjing atau ringkikan kuda di malam hari. Berarti mereka ngeliat setan atau maling (Naif, 2008: 27). 3. Tapi belum sampai ke pintu rumah berikutnya, seekor anjing besar menyongsongnya. "Guk, guk, guk, guk, guk," gonggong anjing itu (Beers, 1988: 114). Contoh kalimat (1) di atas menunjukkan suara gonggong sebagai bunyi anjing yang menyalak. Bunyi menyalak anjing ketika orang asing yang hendak membuka pintu. Kata gonggong dapat juga pengertiannya menyalak. Kata menggonggong pada kalimat di atas merupakan kategori verba (kata kerja). Dalam kelas kata, kata gonggong dapat juga digunakan sebagai kategori nomina (kata benda). Dari contoh kalimat (2) di atas menunjukkan kelas kata nomina, terdapat perubahan dari gonggong menjadi gonggongan. Dan contoh kalimat (3) kata gonggong juga sebagai kategori nomina. Dari beberapa contoh kalimat di atas menunjukkan bahwa bunyi giseigo wanwan mempunyai padanan onomatope dengan gonggong. 2. にゃーにゃー (nyaanyaa) / Tiruan dari suara kucing. Nyaanyaa merupakan kategori giseigo yang menunjukkan suara kucing. Morfo-fonologis dari nyaanyaa ini adalah CVV-CVV (reduplikasi). Nyaanyaa merupakan makna leksikal dari suara kucing yang merupakan fungsi adverbia (kata keterangan). Adverbia itu sendiri dapat wujudnya menunjukkan kelas kata nomina dan verba. Kata nyaanyaa ini bisa dikategorikan ke dalam kelas kata nomina dan verba. Berikut contoh nyaanyaa yang dikategorikan ke dalam kelas kata nomina dan verba: 1. 捨てて猫が薄暗いじめじめしたところでにゃーにゃー鳴いていた Sutete neko ga usugurai jimejime shita tokoro de nyaanyaa naite ita (Hinata dan Hibiya, 1995: 10). Di tempat lembab serta agak gelap, kucing yang dibuang mengeong 2. なぜなら ワンワン ニャーニャー は イヌやネコの鳴き声をとつていますから 何らかの意味で鳴き声を彷彿させるわけです Nazenara, wanwan nyaanyaa wa, inu ya neko no nakigoe o totsute imasu kara, nanraka no imi de nakigoe o houfutsu saseru wake desu (Nihonmangagakkai, 2003: 13). Sebab, gonggong meong, karena telah menjadi suara anjing dan kucing, bukanlah mengingatkan suara dalam beberapa pengertian Dalam contoh kalimat (1) di atas kata nyaanyaa termasuk dalam kelas kata verba. Pada contoh kalimat (2) nyaanyaa tersebut merupakan kategori adverbia, yang wujudnya menunjukkan kategori nomina. Pada onomatope suara hewan dalam bahasa Indonesia terdapat juga kata meong yang merupakan makna yang sama dari kata nyaanyaa. Jadi, kita dapat melihat contoh di bawah ini kata meong menunjukkan kelas kata nomina dan verba. 1. Meong... meong... terdengar suara anak kucing dekat semak-semak (Oktriana, 2011: 1). 2. Tiba-tiba, terdengar suara kucing mengeong. Mona langsung menendangnya karena kesal (Kinoysan, 2006: 62). Pada contoh kalimat (1) di atas bahwa kata meong merupakan tiruan suara kucing. Meong adalah kategori kelas kata nomina yang merupakan tiruan dari suara kucing. Dan contoh kalimat (2) di atas dimana kata meong kelas kata verba. Dari beberapa contoh kalimat di atas menunjukkan bahwa bunyi giseigo nyaanyaa mempunyai padanan onomatope dengan meong. 4

3. ちゅーちゅー (chuuchuu) / Tiruan dari suara tikus. Chuuchuu merupakan kategori giseigo yang menunjukkan dari suara tikus. Morfofonologis dari chuuchuu adalah CVV-CVV (reduplikasi). Chuuchuu merupakan makna leksikal yaitu suara tikus yang termasuk dalam fungsi adverbia (kata keterangan). Adverbia itu sendiri wujudnya menunjukkan kelas kata nomina dan verba. Kata chuuchuu ini bisa dikategorikan ke dalam kelas kata nomina dan verba. Berikut contoh giseigo chuuchuu yang dikategorikan ke dalam kelas kata nomina dan verba: 1. ねずみが天井裏でちゅーちゅー鳴いている Nezumi ga tenjou ura de chuuchuu naite iru (Hinata dan Hibiya, 1995: 10). Di balik langit-langit, tikus mencicit 2. チューチュー ネズミが鳴きさわぐのだ Chuuchuu, nezumi ga nakisawagu no da (Suzuki, 1990: 320). Terdengar seperti suara tikus seperti cicit Dalam contoh kalimat (1) di atas kata chuuchuu termasuk dalam kelas kata verba. Contoh kalimat (2) kata chuuchuu tersebut merupakan kategori adverbia, yang menunjukkan kategori nomina. Dalam onomatope bahasa Indonesia, terdapat kata cicit yang sama maknanya dengan chuuchuu. Kata cicit adalah termasuk ke dalam kelas kata nomina. Kata cicit juga bisa berubah kategori menjadi kelas kata verba. Jadi, mari kita lihat contoh di bawah ini dimana kata cicit termasuk dalam kelas kata nomina dan verba. 1. Dan ia bisa mendengar cicit tikus-tikus di bawah sesemakan dan suara kulit kayu jatuh ke tanah; detak jantungnya sendiri terdengar bagai genderang baginya (Paolini, 2005: 532). 2. Para tikus mencicit riang. Lalu tiba-tiba mereka berlari masuk ke dalam lubang mereka (Disney, 2006: 104). Contoh kalimat (1) di atas kata cicit merupakan kelas kata nomina. Contoh kalimat (2) di atas kata mencicit merupakan dari suara tikus. Cicit adalah nomina yang merupakan tiruan suara tikus atau anak burung. Dari beberapa contoh kalimat di atas menunjukkan bahwa bunyi giseigo chuuchuu mempunyai padanan onomatope dengan cicit. IV. KESIMPULAN Dari hasil analisis onomatope suara hewan dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia tersebut, ditemukan adanya persamaan dan perbedaan yaitu: (a) Terdapat persamaan onomatope suara hewan dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia yaitu menunjukkan sumber suara yang sama dan suara yang ditimbulkan dari hewan tersebut, misalnya suara kucing yaitu nyaanyaa dan meong. (b) Ada juga perbedaan onomatope suara hewan dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia yaitu: (1) Sebagian onomatope suara hewan dalam bahasa Jepang merupakan bunyi yang berkesinambungan atau yang disebut sebagai reduplikasi. Misalnya, suara kucing yaitu nyaanyaa menunjukkan suara meong kucing yang berkelanjutan. Sedangkan onomatope suara hewan dalam bahasa Indonesia tidak menunjukkan suara yang berkelanjutan melainkan menunjukkan suara yang keras. Misalnya, pada suara anjing yaitu gonggong yang menunjukkan suara anjing yang keras. (2) Sebagian onomatope suara hewan dalam bahasa Indonesia mempunyai makna yang lebih dari satu. Misalnya, pada kata gonggong yang menunjukkan suara anjing dan rubah. Sedangkan onomatope suara hewan dalam bahasa Jepang sebagian besar mempunyai satu makna. Misalnya, pada gerogero yang menunjukkan suara katak, chunchun yang menunjukkan suara burung gereja, chirichiri yang menunjukkan suara serangga. (3) Pada onomatope suara hewan dalam bahasa Jepang merupakan suatu fungsi adverbia, kategori adverbia itu wujudnya dalam kategori kelas kata nomina dan verba, yang mana tidak merubah makna leksikalnya tetapi dapat memberikan bentuk gramatikal. Sedangkan pada onomatope suara 5

hewan dalam bahasa Indonesia bila terjadi perubahan dalam kategori kelas katanya dapat merubah makna leksikalnya tersebut. V. UCAPAN TERIMA KASIH Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala kebaikan-nya penulis dapat menyelesaikan penulisan jurnal ini. Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang telah membantu dalam pembuatan jurnal ini dan berbagai sumber yang telah penulis gunakan sebagai data dalam penelitian ini. Dengan menyelesaikan penelitian ini penulis mengharapkan banyak manfaat yang dapat dipetik dan diambil dari jurnal ini. Dalam penulisan jurnal ini, penulis telah banyak menerima bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu tidak berlebihan kiranya jika dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada: Arza Aibonotika, S.S, M.Si sensei sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang dan sekaligus sebagai dosen pembimbing I yang telah membantu dan membimbing penulis selama pengerjaan jurnal ini. Selanjutnya kepada Nana Rahayu, B.Com, M.Si sensei sebagai dosen pembimbing II yang telah membantu dan membimbing penulis dalam pengerjaan jurnal ini. Kemudian tak lupa pula kepada senseitachi Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat selama mengikuti perkuliahan. Juga tak henti-hentinya penulis haturkan terimakasih untuk keluarga tercinta yang selalu mendoakan kesuksesan penulis. Serta semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, terima kasih atas dukungannya selama ini. VI. DAFTAR PUSTAKA Aminudin. (2001). Semantik Pengantar Studi Makna. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Arifin, Zainal. 2011. Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Chaer, Abdul. (1997). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. Dzikrullah, Dzikry. (2011). Analisis Giongo dalam Anime Kaichou wa Meido-sama! (episode 1-10). FBPS UNIKOM: tidak diterbitkan. Kridalaksana, Harimurti. (1986). Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. (2008). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia. Lindgren, Astrid. (2002). Musim Ceri di Bullerbyn. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Mardalis. (1999). Metode Penelitian (Suatu Pendekatan Proposal). Jakarta: PT Bumi Aksara. Matsuura, Kenji. (2005). Kamus Jepang-Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Murakami, Haruki. (2008). Kafka On The Shore. [Online]. Tersedia: http://books.google.co.id/books?id=l-q4c-r- XzwC&pg=PA465&dq=gagak+menggaok&hl=id&sa=X&ei=vfXbUOPgCcb3rQeou YCAAg&ved=0CDsQ6AEwAg#v=onepage&q=gagak%20menggaok&f=false Nakai, Masumi. (2007). Aiken no Shitsukenokotsu ga Wakaru Hon. Tokyo: El Publishing Co.Ltd. Riduwan. (2005). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan, dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta. Ryokouki. (2011). Ekuador Ryokouki. [Online]. Tersedia: www6.atpages.jp/viaje/s_america/ecuador/hourou/hourou.html. [21 Juli 2011]. Shigeo, Hinata dan Junko, Hibiya. 1989. Gaikokujin no Tame no Nihongo Reibun Mondai Shiriizu 14 Giongo Gitaigo, Tokyo: 荒竹勉 6

Sudjianto dan Dahidi, Ahmad. (2009). Pengantar Linguistik Bahasa Jepang. Bekasi: Kesaint Blanc. Sutedi, Dedi. (2007). Penelitian Pendidikan Bahasa Jepang. Bandung: Humaniora. (2003). Dasar-dasar Linguistik Bahasa Jepang. Bandung: Humaniora. Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia. (1990). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Zopniez. (2008). Sang Pemimpi. [Online]. Tersedia: http://www.wattpad.com/106520-sangpemimpi?=6. [15 Juli 2011]. 7