BAB III METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II KAJIAN PUSTAKA. underachievement atau berprestasi di bawah kemampuan ialah jika ada

BAB III METODE PENELITIAN. perencanaan dan pelaksanaan penelitian sesuai metode penelitian. Metode

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian

III. METODE PENELITIAN. relibilitas, dalam bab ini dikemukakan hal-hal yang menyangkut identifikasi

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen, dengan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Dalam peneltian ini digunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan

Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Melalui Bimbingan Kelompok Pada Siswa

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

Tabel 3 Desain Penelitian Nonequivalent Control Group Design (Sugiyono, 2011) Kelompok Pretest Perlakuan Posttest Eksperimen O1 X O2 Kontrol O3 - O4

METODE PENELITIAN. Adapun desain yang dipilih adalah pre-experimental designs (nondesign). Desain

PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KARIR TERHADAP PILIHAN STUDI LANJUT SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 PRINGKUKU TAHUN PELAJARAN 2014/2015

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. kelompok eksperimen adalah siswa yang diberikan perlakuan (treatment) dengan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Bandar Sribhawono yang berlokasi

PENGARUH PENERAPAN METODE BRAINSTORMING

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen semi pendekatan kuantitatif.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. diawasi agar terlaksana secara efektif dan efisien. Rusman (2012:4) mengemukakan proses

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam pelaksanaanya, penulis membuat dua kelompok yang pertama yaitu

BAB III METODE PENELITIAN. Research). Penelitian eksperimen adalah penelitian yang digunakan untuk

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VII SMPN 3 Tegineneng pada

PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK TERHADAP PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI DALAM MENGEMUKAKAN DAN MEMPERTAHANKAN PENDAPAT PADA SISWA KELAS

BAB III METODE PENELITIAN

VARIASI PENGATURAN TEMPAT DUDUK SISWA DALAM UPAYA MENINGKATKAN MINAT DAN MOTIVASI BELAJAR PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS IV DI SD NEGERI 1 SAWAHAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penilitian ini adalah penelitian kuantitatif. Berdasarkan pada Variabel yang

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif. Menurut azwar (2005 : 5)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Populasi adalah totalitas dari semua objek atau individu yang memiliki

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 29

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono (2013: 107) metode penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. diperoleh akan diolah dengan menggunakan teknik kuantitatif yaitu

BAB III METODE PENELITIAN. (hubungan kausalitas) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakkan seluruh subjek dalam kelompok belajar untuk diberi perlakuan

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam melaksanakan suatu penelitian, tentunya akan diperlukan sejumlah

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan di SMP Trimulya Kecamatan Tanjung Bintang. semester genap tahun pelajaran 2014/2015.

BAB III METODE PENELITIAN. penelitiannya. Hal ini berarti metode penelitian mempunyai kedudukan yang

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap orang termasuk peserta didik memiliki rasa ingin tahu (curiousity),

METODOLOGI PENELITIAN. pendekatan penelitian, desain penelitian, faktor-faktor yang diamati, rencana

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional yaitu penelitian yang

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Populasi penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas VII di SMPN 2 Way Tenong

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen semu (experimental

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen. Penulisan

BAB III METODE PENELITIAN.

BAB III METODE PENELITIAN. kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang menggunakan data

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian Eksperimen. Eksperimen ini dilakukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. yang digunakan adalah eksperimen semu (quasi eksperiment) yaitu

BAB III METODE PENELITIAN

SUYUT ADIN FEBRIANTO NPM

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

SKALA SELF EFFICACY KARIR

III. METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

JURNAL OLEH : INDAH CHOIRUN NISA NPM : Dibimbing Oleh: 1. Dr. Hj. Sri Panca Setyawati, M.Pd. 2. Yuanita Dwi Krisphianti, M.Pd.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah kuantitatif karena

BAB III METODE PENELITIAN. Identifikasi variabel penelitian diuraikan berdasarkan hipotesis, yaitu:

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan adalah merupakan penelitian eksperimen semu.

III. METODOLOGI PENELITIAN. memecahkan, dan mengantisipasi masalah. Oleh karena itu dalam bab tiga ini

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Identifikasi variable penelitian diuraikan berdasarkan hipotesis, yaitu

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dapat dilaksanakan melalui proses belajar mengajar yang

BAB III METODE PENELITIAN

Jamidar Kepala SMP Negeri 2 Sirenja Kab. Donggala Sulawesi Tengah ABSTRAK

Transkripsi:

39 BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel dan Definisi Operasional 1. Variabel X (Teknik Konseling Kelompok) Konseling Kelompok adalah suatu proses antar pribadi yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang disadari. Proses itu mengandung ciri-ciri terapeutik seperti pengungkapan pikiran dan perasaan secara leluasa, orientasi pada kenyataan, pembukaan diri mengenai perasaan-perasaan mendalam yang dialami, saling percaya, saling perhatian, saling pengertian, dan saling mendukung. Tahap konseling kelompok, yaitu: (1) Tahap pembentukan (awal), tahap ini tahap pengenalan dan keterlibatan anggota kedalam kelompok dengan tujuan agar anggota kelompok memahami maksud bimbingan kelompok. Pemahaman anggota kelompok memungkinkan anggota kelompok aktif berperan dalam kegiatan bimbingan kelompok yang selanjutnya dapat menumbuhkan minat pada diri mereka untuk mengikutinya. Pada tahap ini bertujuan untuk saling menumbuhkan suasana saling mengenal, percaya, menerima dan membantu temanteman yang ada dalam anggota kelompok. Kegiatan dilakukan pada tahap ini adalah pengungkapan pengertian dan tujuan kegiatan kelompok dalam rangka pelayanan Bimbingan kelompok; menjelaskan cara-cara dan azas kegiatan kelompok; anggota kelompok saling memperkenalkan diri dan 29

40 mengungkapkan diri; dan melakukan permainan keakraban. (2) Tahap peralihan, tahap ini transisi dari pembentukan ketahap kegiatan. Dalam menjelaskan kegiatan apa yang harus dilaksanakan pemimpin kelompok dapat menegaskan jenis kegiatan Bimbingan Kelompok yaitu tugas dan bebas. Setelah jelas kegiatan apa yang harus dilakukan maka tidak akan muncul keraguan atau belum siapnya anggota dalam melaksanakan kegiatan dan manfaat yang diperoleh setiap anggota kelompok. (3) Tahap kegiatan, tahap ini merupakan tahap inti dari kegiatan Bimbingan kelompok dengan suasana yang akan dicapai, yaitu terbahasnya secara tuntas permasalahan yang dihadapi anggota kelompok dan terciptanya suasana untuk mengembangkan diri, baik menyangkut pengembangan kemampuan berkomunikasi maupun menyangkut tentang pendapat yang dikemukakan oleh anggota kelompok melalui kegiatan bermain. Kegiatan dilakukan pada tahap ini untuk topik tugas adalah pemimpin kelompok mengemukakkan topik untuk dibahas oleh kelompok, kemudian tejadi tanya jawab antara anggota kelompok dan pemimpin kelompok tentang hal-hal yang belum jelas mengenai topik yang akan dikemukakan oleh pemimpin kelompok. Selanjutnya anggota membahas topik tersebut secara mendalam dan tuntas, serta dilakukan kegiatan selingan bila diperlukan. Sedangkan untuk Bimbingan kelompok topik bebas, kegiatan yang akan dilakukan adalah masing- masing anggota secara bebas mengemukakan topik bahasan, menetapkan topik yang akan dibahas dulu, kemudian anggota membahas secara mendalam dan tuntas, serta diakhiri kegiatan

41 selingan bila perlu. (4) Tahap pengakhiran, pada tahap ini terdapat dua kegiatan yaitu penilaian (evaluasi) dan tindak lanjut (follow Up). Tahap ini merupakan tahap penutup dari serangkaian kegiatan Bimbingan kelompok dengan tujuan telah tuntasnya topik yang dibahas oleh kelompok tersebut. Dalam kegiatan kelompok berpusat pada pembahasan dan penjelasan tentang kemampuan anggota kelompok untuk menetapkan hal-hal yang telah diperoleh melalui layanan Bimbingan kelompok dalam kehidupan sehari- hari. Oleh karena itu pemimpin kelompok berperan untuk memberikan penguatan (reinforcement) terhadap hasil-hasil yang telah dicapai oleh kelompok tersebut. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri, pemimpin kelompok dan anggota mengemukakan pesan dan kesan dari hasil kegiatan, membahas kegiatan lanjutan dankemudian mengemukakan pesan dan harapan. Apa yang harus dilakukan maka tidak akan muncul keraguan atau belum siapnya anggota dalam melaksanakan kegiatan dan manfaat yang diperoleh setiap anggota kelompok. Konseling kelompok dilaksanakan sesuai dengan modul konseling kelompok dengan tahapan tersebut. 2. Variabel Y (Motivasi Berprestasi) Motivasi berprestasi adalah suatu keinginan untuk berhasil, meraih sukses dan menjadi yang terbaik dengan bekerja sebaik mungkin dengan

42 usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapai sebuah standar keunggulan dan mencurahkan usaha untuk mengungguli. Motivasi berprestasi diukur di SMPN 2 Menganti Gresik sesuai dengan indikator: resiko pemilihan tugas, membutuhkan timbal balik, tanggung jawab, ketekunan, kesempatan untuk unggul, dan berprestasi. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Dalam penelitian kuantitatif ini data yang diperoleh dianalisis dan digambarkan dengan jelas, sehingga mendapatkan hasil penelitian yang sesuai yaitu menggambarkan keadaan yang sebenarnya tentang Peningkatan Motivasi Berprestasi Siswa Underachiever Melalui Teknik Konseling Kelompok Pada Siswa SMP Negeri 2 Menganti Gresik. B. Subjek Penelitian Dalam penelitian ini subjek menggunakan purposive sampling yaitu pengambilan sampel secara sengaja sesuai dengan persyaratan sampel yang diperlukan atau dengan kata lain secara sengaja mengambil sampel tertentu sesuai persyaratan sifat-sifat, karakteristik, ciri, kriteria (Sugiono, 2008). Maka subjek yang diambil dari kelas VIII yang berjumlah 5 kelas yang tiap kelas ada siswa yang dalam kriteris undrachiver. Untuk menentukan karakteristik subjek, peneliti dibantu oleh guru BK untuk memilah hasil tes IQ pada tiap anak. Setelah dipilah barulah peneliti mencari anak yang mempunyai IQ tinggi namun prestasi di sekolah rendah. Jadi total keseluruhan subjek yang memiliki IQ tinggi namun prestasi rendah yang digunakan untuk penelitian yaitu berjumlah

43 15 siswa di SMP Negeri 2 Menganti Gresik. Maka subjek dari penelitian ini adalah keseluruhan, yaitu 15 siswa underachiever. C. Desain Eksperimen Desain one-group Pretest-Posttest O 1 X O 2 Keterangan : O 1 X : Nilai pre-test : Eksperimen (Perlakuan) O 2 : Nilai Post-test (Sugiyono, 2008) D. Prosedur Eksperimen Tahap-tahap Konseling Kelompok a. Tahap pembentukan ( awal ) Tahap ini tahap pengenalan dan keterlibatan anggota kedalam kelompok dengan tujuan agar anggota kelompok memahami maksud konseling kelompok. Pemahaman anggota kelompok memungkinkan anggota kelompok aktif berperan dalam kegiatan konseling kelompok yang selanjutnya dapat menumbuhkan minat pada diri mereka untuk mengikutinya. Pada tahap ini bertujuan untuk saling menumbuhkan suasana saling mengenal, percaya, menerima dan membantu teman-teman yang ada dalam anggota kelompok. Kegiatan dilakukan pada tahap ini adalah pengungkapan pengertian dan tujuan kegiatan kelompok dalam rangka pelayanan konseling kelompok; menjelaskan cara-cara dan azas kegiatan

44 kelompok; anggota kelompok saling memperkenalkan diri dan mengungkapkan diri; dan melakukan permainan keakraban. b. Tahap Peralihan Tahap ini transisi dari pembentukan ketahap kegiatan. Dalam menjelaskan kegiatan apa yang harus dilaksanakan pemimpin kelompok dapat menegaskan jenis kegiatan Bimbingan Kelompok yaitu tugas dan bebas. Setelah jelas kegiatan c. Tahap Kegiatan Tahap ini merupakan tahap inti dari kegiatan Bimbingan kelompok dengan suasana yang akan dicapai, yaitu terbahasnya secara tuntas permasalahan yang dihadapi anggota kelompok dan terciptanya suasana untuk mengembangkan diri, baik menyangkut pengembangan kemampuan berkomunikasi maupun menyangkut tentang pendapat yang dikemukakan oleh anggota kelompok melalui kegiatan bermain. Kegiatan dilakukan pada tahap ini untuk topik tugas adalah pemimpin kelompok mengemukakkan topik untuk dibahas oleh kelompok, kemudian tejadi tanya jawab antara anggota kelompok dan pemimpin kelompok tentang hal-hal yang belum jelas mengenai topik yang akan dikemukakan oleh pemimpin kelompok. Selanjutnya anggota membahas topik tersebut secara mendalam dan tuntas, serta dilakukan kegiatan selingan bila diperlukan. Sedangkan untuk Bimbingan kelompok topik bebas, kegiatan yang akan dilakukan adalah masing- masing anggota secara bebas mengemukakan topik

45 bahasan, menetapkan topik yang akan dibahas dulu, kemudian anggota membahas secara mendalam dan tuntas, serta diakhiri kegiatan selingan bila perlu. d. Tahap Pengakhiran Pada tahap ini terdapat dua kegiatan yaitu penilaian (evaluasi) dan tindak lanjut (follow Up). Tahap ini merupakan tahap penutup dari serangkaian kegiatan konseling kelompok dengan tujuan telah tuntasnya topik yang dibahas oleh kelompok tersebut. Dalam kegiatan kelompok berpusat pada pembahasan dan penjelasan tentang kemampuan anggota kelompok untuk menetapkan hal-hal yang telah diperoleh melalui layanan Bimbingan kelompok dalam kehidupan sehari- hari. Oleh karena itu pemimpin kelompok berperan untuk memberikan penguatan (reinforcement) terhadap hasil-hasil yang telah dicapai oleh kelompok tersebut. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri, pemimpin kelompok dan anggota mengemukakan pesan dan kesan dari hasil kegiatan, membahas kegiatan lanjutan dankemudian mengemukakan pesan dan harapan. Apa yang harus dilakukan maka tidak akan muncul keraguan atau belum siapnya anggota dalam melaksanakan kegiatan dan manfaat yang diperoleh setiap anggota kelompok.

46 JADWAL PERLAKUAN a. Pertemuan 1 Tujuan : Menumbuhkan semangat belajar Tema : Semangat belajar Tahap konseling kelompok: 1) Tahap awal Pada pertemuan pertama pemimpin kelompok menekankan pada tahap permulaa dengan saling memperkenalkan diri dan memberikan penjelasan mengenai kegiatan konseling kelompok. Pada tahap awal ini pemimpin kelompok dan anggota kelompok saling memberikan pertanyaan untuk saling mengenal satu sama lain. 2) Tahap peralihan Dalam tahap peralihan topik yang dibahas adalah Menumbuhkan Semangat Belajar. 3) Tahap kegiatan Pemberian kegiatan atau topik tersebut bertujuan untuk menumbuhkan semangat belajar dalam diri siswa serta mengetahui seberapa besar semangat belajar anggota kelompok dan menumbuhkannya. 4) Tahap pengakhiran Dalam tahap pengakhiran pemimpin kelompok menyampaikan hasil kesimpulan dari tahap kegiatan yang telah dilakukan dan menginformasikan pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok lanjutan yang akan segera dilaksanakan.

47 Dapat diambil kesimpulan bahwa siswa mengetahui bagaimana pentingnya menumbuhkan semangat belajar serta mengetahui seberapa besar semangat belajar anggota kelompok. b. Pertemuan 2 Tujuan : Tugas kemandirian belajar Tema : Kemandirian belajar Tahap konseling kelompok: 1) Tahap awal Pada tahap ini diawali dengan ucapan salam dan sapaan kepada para anggota kelompok Pemberian materi dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi. 2) Tahap peralihan Pada pertemuan kedua ini peneliti melaksanakan layanan konseling kelompok dengan topik tugas kemandirian belajar. Pemberian kegiatan untuk menjelaskan pengertian, tujuan, manfaat serta asas-asas kemudian memberikan permainan barisan berurutan agar anggota kelompok merasa senang dan tidak tegang selama mengikuti layanan konseling kelompok ini. 3) Tahap kegiatan Masuk pada tahap kegiatan pemimpin kelompok memberitahukan pada anggota kelompok topik yang akan dibahas pada pertemuan kali ini adalah kemandirian belajar. 4) Tahap pengakhiran

48 Dalam tahap pengakhiran pemimpin kelompok menyampaikan hasil kesimpulan dari tahap kegiatan yang telah dilakukan dan menginformasikan pelaksanaan kegiatan konseling kelompok lanjutan yang akan segera dilaksanakan. Dapat diambil kesimpulan bahwa siswa memiliki kepercayaan diri yang sangat dibutuhkan dan proses pembelajaran selanjutnya, serta siswa bisa mendapat kesempatan berlatih secara konsisten mengerjakan sesuatu sendiri atau membiasakan melakukan tugas-tugas yang sesuai dengan usianya. c. Pertemuan 3 Tujuan : Mengetahui lingkungan belajar yang baik Tema : Lingkungan belajar Tahap konseling kelompok: 1) Tahap awal Pada tahap permulaan, pemimpin kelompok masih menjelaskan pengertian, tujuan, manfaat serta asas-asas. Hal ini bertujuan agar anggota kelompok semakin paham mengenai kegiatan layanan konseling kelompok. 2) Tahap peralihan Pada tahap peralihan, pemimpin kelompok menanyakan kesiapan anggota kelompok untuk masuk pada tahap kegiatan. Semua anggota kelompok menjawab dengan bersemangat untuk melanjutkan kegiatan. 3) Tahap kegiatan

49 Pada tahap kegiatan, topik yang dibahas yaitu lingkungan belajar. Tujuan dari pembahasan topik ini, yaitu agar anggota kelompok mengetahui lingkungan belajar yang baik untuk dirinya dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari yang kaitannya dengan belajar. 4) Tahap pengakhiran Dalam tahap pengakhiran pemimpin kelompok menyampaikan hasil kesimpulan dari tahap kegiatan yang telah dilakukan dan meminta anggota kelompok untuk mengisi skala motivasi berprestasi (pre-test 1) guna mengetahui tingkat motivasi berprestasi anggota kelompok khususnya yang tergolong underachiever. Dapat diambil kesimpulan bahwa siswa mengetahui lingkungan belajar mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk dirinya sendiri dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari yang kaitannya dengan belajar. d. Pertemuan 4 Tujuan : Pengaruh kepercayaan diri terhadap prestasi akademik siswa Tema : kepercayaan diri Tahap konseling kelompok: 1) Tahap awal Pada tahap permulaan, pemimpin kelompok menjelaskan sekilas tentang pengertian, tujuan, manfaat serta asas-asas. Hal ini dilakukan dengan maksud agar anggota kelompok semakin paham mengenai kegiatan layanan bimbingan kelompok yang dibahas. Kemudian

50 pemimpin kelompok memberikan permainan kata berantai. Hal ini bertujuan untuk memberikan semangat pada anggota kelompok dalam pelaksanaan layanan bimbingan kelompok. 2) Tahap peralihan Pada tahap peralihan, anggota kelompok sangat antusias dan siap untuk melanjutkan ke tahap kegiatan. 3) Tahap kegiatan Pada tahap kegiatan, topik yang dibahas yaitu pengaruh kepercayaan diri terhadap prestasi akademik siswa. Tujuan dari pembahasan topik ini yaitu untuk menanamkan rasa percaya diri dalam belajar kepada anggota kelompok. Pada kegiatan ini pemimpin kelompok menanyakan kepada anggota kelompok tentang kepercayaan diri. Selanjutnya pemimpin kelompok menayangkan video motivasi yang berkaitan dengan kepercayaan diri kepada para anggota kelompok. Setelah tayangan selesai maka pemimpin kelompok menanyakan kepada anggota kelompok mengenai apa yang dapat dipahami anggota kelompok pada video tersebut. Dalam tahap ini terlihat semua anggota kelompok aktif dan mampu berpendapat. 4) Tahap pengakhiran Pada tahap pengakhiran pemimpin kelompok menanyakan pada anggota kelompok apa yang telah diperoleh dari pelaksanaan kegiatan layanan bimbingan kelompok pada pertemuan ini. Selanjutnya

51 memberikan kesimpulan dari topik yang telah dibahas yaitu tentang sikap kepercayaan diri dalam belajar. Dapat diambil kesimpulan bahwa siswa mampu menanamkan rasa kepercayaan diri dalam belajar serta siswa selalu optimis dalam menjalani semua hal dan tidak akan ragu dalam melakukan sesuatu. e. Pertemuan 5 Tujuan : Memotivasi siswa agar giat belajar Tema : Motivasi belajar Tahap konseling kelompok: 1) Tahap awal Pada tahap permulaan, pemimpin kelompok masih menjelaskan pengertian, tujuan, manfaat, serta asas-asas bimbingan. Hal ini dilakukan dengan maksud agar anggota kelompok semakin paham mengenai kegiatan layanan bimbingan kelompok yang dibahas. 2) Tahap peralihan Pada tahap peralihan, topik yang dibahas yaitu motivasi belajar. Tujuan dari pembahasan topik ini, yaitu untuk memberikan pemahaman dan mengembangkan kepada anggota kelompok mengenai pentingnya memiliki hasrat dan keinginan untuk berhasil dan dorongan terhadap kebutuhan belajar. 3) Tahap kegiatan Pada kegiatan ini pemimpin kelompok menanyakan kepada anggota kelompok tentang pengertian motivasi belajar.

52 4) Tahap pengakhiran Pada tahap pengakhiran pemimpin kelompok menanyakan pada anggota kelompok apa yang telah diperoleh dari pelaksanaan kegiatan layanan bimbingan kelompok pada pertemuan ini. Selanjutnya memberikan kesimpulan dari topik yang telah dibahas yaitu tentang motivasi belajar. Dapat diambil kesimpulan bahwa siswa mengetahui betapa pentingnya hasrat dan keinginan untuk berhasil dan dorongan terhadap kebutuhan berprestasi serta siswa menyadari memiliki tanggung jawab lebih secara pribadi pada kinerjanya. f. Pertemuan 6 Tujuan : Menumbuhkan kreativitas dalam belajar Tema : Kreativitas Tahap konseling kelompok: 1) Tahap awal Pada tahap permulaan, pemimpin kelompok masih menjelaskan pengertian, tujuan, manfaat, serta asas-asas bimbingan kelompok. Hal ini dilakukan dengan maksud agar anggota kelompok semakin paham mengenai kegiatan layanan bimbingan kelompok yang dibahas. Kemudian pemimpin kelompok memberikan permainan membuat menara. Hal ini bertujuan untuk memberikan semangat pada anggota kelompok dalam pelaksanaan konseling kelompok.

53 2) Tahap peralihan Pada tahap ini, topik yang dibahas yaitu kreativitas dalam belajar. 3) Tahap kegiatan Tujuan dari pembahasan topik ini, yaitu untuk memberikan pemahaman dan mengembangkan anggota kelompok mengenai pentingnya kreativitas belajar agar kegiatan belajar tidak membosankan. 4) Tahap pengakhiran Pada tahap pengakhiran pemimpin kelompok menanyakan pada anggota kelompok apa yang telah diperoleh dari pelaksanaan kegiatan layanan bimbingan kelompok pada pertemuan ini. Selanjutnya memberikan kesimpulan dari topik yang telah dibahas yaitu tentang kreativitas. Dapat diambil kesimpulan bahwa siswa berani tampil didepan orang banyak dan siswa berani melakukan diskusi dengan kelompoknya. E. Instrumen Penelitian Instrumen adalah alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian (Maksum, 2008). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes menggunakan angket motivasi siswa untuk siswa underachiever yang dimulai dari pre-test dan post-test.

54 1. Alat Ukur Alat ukur dalam penelitian ini adalah skala motivasi berprestasi yang disajikan dalam bentuk angket. Menurut Walgito (2010), kuesioner atau angket merupakan suatu metode penelitian dengan menggunakan daftar pertanyaan yang harus dijawab oleh orang yang dikenai atau disebut responden. Sedangkan menurut Maksum (2008) Dalam mengukur sikap siswa digunakan kuesioner berupa lembar pengamatan sikap dan angket sikap yaitu serangkaian pertanyaan yang digunakan untuk mengungkap informasi, baik menyangkut fakta maupun pendapat. Sebelum angket dan lembar pengamatan sikap disebarkan ke subjek penelitian, maka angket dan lembar pengamatan sikap diuji terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat validitas dan reabilitasnya. 2. Validitas dan Reliabilitas a) Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkattingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi, sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah, (Arikunto, 2006). Sedangkan menurut Maksum (2006), validitas merujuk kepada sejauh mana suatu alat ukur mengukur apa yang ingin diukur, atau dengan kata lain apakah suatu alat ukur sesuai untuk mengukur

55 apa yang hendak diukur. Untuk menguji validitas menggunakan penghitungan SPSS versi 16. b) Reliabilitas Reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Arikunto, 2006). Menurut Uyanto Alfa Cronbach merupakan salah satu kofisien rehabilitas yang paling sering digunakan. Skala pengukuran yang reliabel sebaiknya memiliki nilai Alfa Cronbach minimal 0,60. Untuk menguji reliabilitas digunakan SPSS versi 16. F. Teknik Analisis Data Teknik analisis data ini menggunakan uji paired sampel t test dan Peningkatan untuk mengetahui pengaruh Motivasi Berprestasi Siswa Underachiever Melalui Teknik Konseling Kelompok Pada Siswa SMP Negeri 2 Menganti Gresik. Rumus dari teknik analisis data menggunakan penghitungan manual dan SPSS 16.