Dasar Elektronika Analog dan Digital

dokumen-dokumen yang mirip
Dalam materi pembelajaran ini akan dibatas tiga komponen passif yakin

A. SISTEM DESIMAL DAN BINER

Bab 1. Semi Konduktor

DASAR DIGITAL. Penyusun: Herlambang Sigit Pramono DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN

KATA PENGANTAR. Karanganyar, Juli 2011 Penyusun. Modul_KK1_RPL/SMKN2Kra/2011 Hal 1

DASAR DIGITAL ELK-DAS JAM

KOMPONEN PASIF. Penyusun : TIM FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Atom silikon dan germanium masingmempunyai empat elektron valensi. Oleh karena itu baik atom silikon maupun atom germanium disebut juga dengan atom

BAB III KOMPONEN ELEKTRONIKA

Konduktor dan isolator

Dioda Semikonduktor dan Rangkaiannya

SOAL UJIAN PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN DAN PRAKARYA REKAYASA TEKNOLOGI (ELEKTRONIKA)

Pengenalan Komponen dan Teori Semikonduktor

BAHAN AJAR SISTEM DIGITAL

Rangkuman Materi Teori Kejuruan

ELEKTRONIKA. Bab 2. Semikonduktor

ELEKTRONIKA DASAR. Kode matkul : 727 SKS : 4 SKS Waktu : 180 menit

Sistem Bilangan & Kode Data

TUGAS AKHIR CALCULATOR RESISTOR BERDASARKAN WARNA BERBASIS IC TTL

Elektronika Dasar. Materi PERANTI ELEKTRONIKA (Resistor) Drs. M. Rahmad, M.Si Ernidawati, S.Pd. M.Sc. Oleh. Peranti/mrd/11 1

TS.001 SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN TEKNIK TELEKOMUNIKASI

KOMPONEN AKTIF. Resume Praktikum Rangkaian Elektronika

Dioda-dioda jenis lain

BAB I DASAR KOMPUTER DIGITAL

PERTEMUAN KE 3 KOMPONEN ELEKTRONIKA. Create : Defi Pujianto, S,Kom

ELEKTRONIKA DASAR. Oleh : ALFITH, S.Pd, M.Pd

Hukum Ohm. Fisika Dasar 2 Materi 4

1. Perhatikan gambar komponen elektronik di atas, merupakan simbol dari komponen. a. b. c. d. e.

Sistem DIGITAL. Eka Maulana., ST, MT, M.Eng

BAB II LANDASAN TEORI

Pertemuan 10 A. Tujuan 1. Standard Kompetensi: Mempersiapkan Pekerjaan Merangkai Komponen

Sistem Bilangan. Rudi Susanto

Tabel 1.1 Nilai warna pada cincin resistor

KOMPETENSI DASAR : MATERI POKOK : Sistem Bilangan URAIAN MATERI 1. Representasi Data

BAB II SISTEM-SISTEM BILANGAN DAN KODE

SEMIKONDUKTOR oleh: Ichwan Yelfianhar dirangkum dari berbagai sumber

KODE MODUL EL.006 SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN TEKNIK ELEKTRONIKA PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK AUDIO VIDEO. Elektronika Analog

Pokok Pokok Bahasan :

SISTEM BILANGAN. B. Sistem Bilangan Ada beberapa sistem bilangan yang digunakan dalam sistem digital, diantaranya yaitu

Resistor. Gambar Resistor

ARITMATIKA ARSKOM DAN RANGKAIAN DIGITAL

Representasi Data. M. Subchan M

Transistor Bipolar. oleh aswan hamonangan

Transistor Bipolar. III.1 Arus bias

2.1 Desimal. Contoh: Bilangan 357.

GERBANG LOGIKA. Keadaan suatu sistem Logika Lampu Switch TTL CMOS NMOS Test 1 Tinggi Nyala ON 5V 5-15V 2-2,5V TRUE 0 Rendah Mati OFF 0V 0V 0V FALSE

KONSEP RANGKAIAN LISTRIK

BAB II ARITMATIKA DAN PENGKODEAN

Jenis-jenis Komponen Elektronika, Fungsi dan Simbolnya

SISTEM DIGITAL 1. PENDAHULUAN

KOMPONEN DASAR ELEKTRONIKA. Prakarya X

Dasar Elektronika Analog dan Digital

BAB III ALJABAR BOOLE (BOOLEAN ALGEBRA)

PENGENALAN SISTEM DIGITAL

BAB I KONSEP RANGKAIAN LISTRIK

SISTEM BILANGAN DAN KONVERSI BILANGAN. By : Gerson Feoh, S.Kom

ELEKTRONIKA DAN INSTRUMENTASI. Ketua kelas: Lutfi: Ario : Souma: Yusriadi: Irul :

RESISTOR DAN HUKUM OHM

SILABUS MATA KULIAH MICROPROCESSOR I Nama Dosen: Yulius C. Wahyu Kurniawan, S.Kom.

2. Dasar dari Komputer, Sistem Bilangan, dan Gerbang logika 2.1. Data Analog Digital

TEORI DASAR DIGITAL OTOMASI SISTEM PRODUKSI 1

BAB II KOMPONEN MULTIVIBRATOR MONOSTABIL. Didalam membuat suatu perangkat elektronik dibutuhkan beberapa jenis

KISI KISI SOAL UKA TEKNIK ELEKTRONIKA (532)

TM - 2 LISTRIK. Pengertian Listrik

Semikonduktor. Prinsip Dasar. oleh aswan hamonangan

Penggunaan RLC Meter Dalam Pengukuran

BAB III GERBANG LOGIKA BINER

Bab 1 Bahan Semikonduktor. By : M. Ramdhani

Sistem Bilangan dan Pengkodean -2-

ELEKTRONIKA DASAR 105J

KOMPONEN ELEKTRONIKA. By YOICETA VANDA, ST., MT.

BAB V GERBANG LOGIKA DAN ALJABAR BOOLE

Pertemuan 2. sistem bilangan

BAB V b SISTEM PENGOLAHAN DATA KOMPUTER (Representasi Data) "Pengantar Teknologi Informasi" 1

I. Tujuan Praktikum. Mampu menganalisa rangkaian sederhana transistor bipolar.

PERTEMUAN 2 TEORI DASAR (DIODA)

Hubungan antara hambatan, tegangan, dan arus, dapat disimpulkan melalui hukum berikut ini, yang terkenal sebagai [[hukum Ohm:

BAB IV HASIL KERJA PRAKTEK. perlu lagi menekan saklar untuk menyalakan lampu, sensor cahaya akan bernilai 1

PRAKTIKUM INSTRUMENTASI SENSOR CAHAYA (ALARM CAHAYA) Oleh :

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

OPERASI DALAM SISTEM BILANGAN

BAB 2 DASAR-DASAR KELISTRIKAN

Oleh: Yasinta Friska Ratnaningrum XII.IPA 1 / 36

GERBANG LOGIKA. Percobaan 1. Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY Tujuan :

SMPK 6 PENABUR JAKARTA ULANGAN AKHIR SEMESTER

GERBANG LOGIKA & SISTEM BILANGAN

1. Perpotongan antara garis beban dan karakteristik dioda menggambarkan: A. Titik operasi dari sistem B. Karakteristik dioda dibias forward

BAB III LANDASAN TEORI

ANALISIS LANJUTAN. Tingkat Energi & Orbit Elektron. Pita Energi Semikonduktor Intrinsik. Pita Energi Pada Semikonduktor Ter-Doping

BAB II SISTEM BILANGAN DAN KODE BILANGAN

MODUL TEKNIK DIGITAL MODUL II ARITMATIKA BINER

SMPK 6 PENABUR ULANGAN AKHIR SEMESTER 2 ( )

struktur dua dimensi kristal Silikon

BAB I TEORI RANGKAIAN LISTRIK DASAR

BAB V RANGKAIAN ARIMATIKA

KOMPONEN-KOMPONEN ELEKTRONIKA

PERCOBAAN DIGITAL 01 GERBANG LOGIKA DAN RANGKAIAN LOGIKA

SISTEM BILANGAN DAN FORMAT DATA

Struktur atom merupakan satuan dasar materi yang terdiri dari inti atom beserta awan elektron bermuatan negatif yang mengelilinginya.

REPRESENTASI DATA. Pengantar Komputer Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Gunadarma

Transkripsi:

Dasar Elektronika nalog dan Digital

. Teori tom dan Molekul Operasi komponen elektronika benda padat seperti dioda, LED, Transistor Bipolar dan FET serta Op-mp atau rangkaian terpadu lainnya didasarkan atas sifat-sifat semikonduktor. Semikonduktor adalah bahan yang sifat-sifat kelistrikannya terletak antara sifat-sifat konduktor dan isolator. Sifat-sifat kelistrikan konduktor maupun isolator tidak mudah berubah oleh pengaruh temperatur, cahaya atau medan magnit, tetapi pada semikonduktor sifat-sifat tersebut sangat sensitive. Elemen terkecil dari suatu bahan yang masih memiliki sifat-sifat kimia dan fisika yang sama adalah atom. Suatu atom terdiri atas tiga partikel dasar, yaitu: neutron, proton, dan elektron. Dalam struktur atom, proton dan neutron membentuk inti atom yang bermuatan positip, sedangkan elektron-elektron yang bermuatan negatip mengelilingi inti. Elektron-elektron ini tersusun berlapis-lapis. Struktur atom dengan model Bohr dari bahan semikonduktor yang paling banyak digunakan adalah silikon dan germanium. Seperti ditunjukkan pada Gambar atom silikon mempunyai elektron yang mengorbit (mengelilingi inti) sebanyak 4 dan 2

atom germanium mempunyai 32 elektron. Pada atom yang seimbang (netral) jumlah elektron dalam orbit sama dengan jumlah proton dalam inti. Muatan listrik sebuah elektron adalah: -.62-9 C dan muatan sebuah proton adalah: +.62-9 C. Gambar. Struktur tom (a) Silikon; (b) Germanium Gambar. Struktur tom (a) Silikon; (b) Germanium Elektron yang menempati lapisan terluar disebut sebagai elektron valensi. tom silikon dan germanium masing mempunyai empat elektron valensi. Oleh karena itu baik atom silikon maupun atom germanium disebut juga dengan atom tetra-valent (bervalensi empat). Empat elektron valensi tersebut terikat dalam struktur kisi-kisi, sehingga setiap elektron valensi akan membentuk ikatan kovalen dengan elektron valensi dari atom-atom yang bersebelahan. Struktur kisi-kisi kristal silikon murni dapat digambarkan secara dua dimensi pada Gambar 2 guna memudahkan pembahasan. 3

Si Si Si elektron valensi ikatan kovalen Si Si Si Si Si Si Gambar 2. Struktur Kristal Silikon dengan Ikatan Kovalen Meskipun terikat dengan kuat dalam struktur kristal, namun bisa saja elektron valensi tersebut keluar dari ikatan kovalen menuju daerah konduksi apabila diberikan energi panas. Bila energi panas tersebut cukup kuat untuk memisahkan elektron dari ikatan kovalen maka elektron tersebut menjadi bebas atau disebut dengan elektron bebas. Pada suhu ruang terdapat kurang lebih.5 x elektron bebas dalam cm 3 bahan silikon murni (intrinsik) dan 2.5 x 3 elektron bebas pada germanium. Semakin besar energi panas yang diberikan semakin banyak jumlah elektron bebas yang keluar dari ikatan kovalen, dengan kata lain konduktivitas bahan meningkat. 4

.2 Komponen Pasif.2.. Resistor Resistor disebut juga dengan tahanan atau hambatan, berfungsi untuk menghambat arus listrik yang melewatinya. Satuan harga resistor adalah Ohm. ( MW (mega ohm) = KW (kilo ohm) = 6 W (ohm)). Resistor terbagi menjadi dua macam, yaitu : a Resistor tetap yaitu resistor yang nilai hambatannya relatif tetap, biasanya terbuat dari karbon, kawat atau paduan logam. Nilainya hambatannya ditentukan oleh tebalnya dan panjangnya lintasan karbon. Panjang lintasan karbon tergantung dari kisarnya alur yang berbentuk spiral. Gambar simbol dan bentuk resistor tetap dapat dilihat pada gambar 8. (a) (b) atau Gambar 9. (a) Resistor tetap; (b) Simbol resistor tetap b Resistor variabel atau potensiometer, yaitu resistor yang besarnya hambatan dapat diubah-ubah. Yang termasuk kedalam potensiometer ini antara lain : Resistor KSN (koefisien suhu negatif), Resistor LDR (light dependent resistor) dan Resistor VDR (Voltage Dependent Resistor). Gambar simbol dan bentuk resistor variabel dapat dilihat pada gambar. 5

(a) (b) Gambar. (a) Resistor Variabel / Potensiometer; (b) Simbol resistor variabel/potensiometer Menentukan Kode Warna pada Resistor Kode warna pada resistor menyatakan harga resistansi dan toleransinya. Semakin kecil harga toleransi suatu resistor adalah semakin baik, karena harga sebenarnya adalah harga yang tertera ± harga toleransinya. Terdapat resistor yang mempunyai 4 gelang warna dan 5 gelang warna seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini : 8 Gambar. Resistor dengan 4 Gelang dan 5 Gelang Warna. 6

Warna Tabel. Kode Warna pada Resistor 4 Gelang Gelang (ngka pertama) Gelang 2 (ngka ked ua) Gelang 3 (Faktor pengali) Gelang 4 (Tolerans i /%) Hitam - - Coklat Merah 2 2 2 2 Oranye 3 3 3 3 Kuning 4 4 4 4 Hijau 5 5 5 5 Biru 6 6 6 6 Ungu 7 7 7 7 buabu 8 8 8 8 Putih 9 9 9 9 Emas - - - 5 Perak - - -2 Tanpa warna -3 - - 2 Contoh : Sebuah resistor dengan 4 gelang. Gelang pertama cokelat, gelang kedua cokelat, gelang ketiga orange dan gelang keempat emas. Tentukan nilai tahanan resistor! Nilai tersebut : Resistor Gelang (cokelat) =; Gelang 2(cokelat)=; Gelang 3(orange)= 3 ; Gelang 4 (emas) = 5 % Sehingga nilai tahanan resistor adalah x 3 W ± 5 % atau K W dengan toleransi 5 % Kode Huruf Resistor Resistor yang mempunyai kode angka dan huruf biasanya adalah resistor lilitan kawat yang diselubungi dengan keramik/porselin, seperti terlihat pada gambar di bawah ini : 7

Gambar 2. Resistor dengan Kode ngka dan Huruf rti kode angka dan huruf pada resistor dengan kode 5 W 22 R J adalah sebagai berikut : 5 W berarti kemampuan daya resistor besarnya 5 watt 22 R berarti besarnya resistansi 22 W Dengan besarnya toleransi 5%.2.2. Kapasitor Kapasitor atau kondensator adalah suatu komponen listrik yang dapat menyimpan muatan listrik. Kapasitas kapasitor diukur dalam F (Farad) = -6 mf (mikro Farad) = -9 (nano Farad) = -2 pf (piko Farad). Kapasitor elektrolit mempunyai dua kutub positif dan kutub negatif (bipolar), sedangkan kapasitor kering misal kapasitor mika, kapasitor kertas tidak membedakan kutub positif dan kutub negatif (non polar). Bentuk dan simbol kapasitor dapat dilihat pada gambar di bawah ini: nf (a) 8

(b) ± + Gambar 3. (a) Kapasitor; (b) Simbol kapasitor Gambar 4. Kode Warna pada Kapasitor rti kode angka dan huruf pada kapasitor dapat dilihat pada tabel 2 di bawah. Warna Gelang (ngka) Tabel 2. Kode Warna pada Kapasitor Gelang 2 (ngka) Gelang 3 (Pengali) Gelang 4 (Toleransi ) Gelang 5 (Teganga n Kerja) Hita m - - - - Coklat - - Mera h 2 2 2 2 25 V 6 V Jingga 3 3 3 3 - - Kuning 4 4 4 4 4 V 2 V Hijau 5 5 5 5 - - Biru 6 6 6 6 63 V 22 V Ung u 7 7 7 7 - - bu-ab u 8 8 8 8 - - Putih 9 9 9 9 - - 9

Tabel 3. Kode ngka dan Huruf pada Kapasitor Kode angka Gelang (ngka pertama) Gelang 2 (ngka kedua) Gelang 3 (Faktor pengali) Kode huruf (Toleransi %) - B C 2 2 2 2 D 3 3 3 3 F = 4 4 4 4 G = 2 5 5 5 5 H = 3 6 6 6 6 J = 5 7 7 7 7 K = 8 8 8 8 M = 2 9 9 9 9 Contoh : - kode kapasitor = 562 J V artinya : besarnya kapasitas = 56 x 2 pf = 56 pf; besarnya toleransi = 5%; kemampuan tegangan kerja = Volt..2.3. Induktor Induktor adalah komponen listrik yang digunakan sebagai beban induktif. Simbol induktor seperti pada gambar di bawah ini : (a) (b) Gambar 5. (a) Induktor ; (b) Simbol Induktor

Kapasitas induktor dinyatakan dalam satuan H (Henry) = mh (mili Henry). Kapasitas induktor diberi lambang L, sedangkan reaktansi induktif diberi lambang X L. X L = 2 p. f. L (ohm).... () dimana : X L = reaktansi induktif (W) p = 3,4 f = frekuensi (Hz) L = kapasitas induktor (Henry).3. Komponen ktif.3.. DIOD SEMIKONDUKTOR Dioda semikonduktor dibentuk dengan cara menyambungkan semi-konduktor tipe p dan semikonduktor tipe n. Pada saat terjadinya sambungan (junction) p dan n, hole-hole pada bahan p dan elektron-elektron pada bahan n disekitar sambungan cenderung untuk berkombinasi. Hole dan elektron yang berkombinasi ini saling meniadakan, sehingga pada daerah sekitar sambungan ini kosong dari pembawa muatan dan terbentuk daerah pengosongan (depletion region). (a) (b) Gambar 7 (a) Dioda Semikonduktor ;(b) Simbol Dioda

.3.2. TRNSISTOR Transistor merupakan peralatan yang mempunyai 3 lapis N-P-N atau P-N-P. Dalam rentang operasi, arus kolektor I C merupakan fungsi dari arus basis I B. Perubahan pada arus basis I B memberikan perubahan yang diperkuat pada arus kolektor untuk tegangan emitor-kolektor V CE yang diberikan. Perbandingan kedua arus ini dalam orde 5 sampai. Simbol untuk transistor dapat dilihat pada Gambar 2a dan Gambar 2b. berikut ini. (a) (b) Gambar 2. (a) Transistor ; (b). Simbol Transistor Pada umumnya transistor berfungsi sebagai suatu switching (kontak on-off). dapun kerja transistor yang berfungsi sebagai switching ini, selalu berada pada daerah jenuh (saturasi) dan daerah cut off (bagian yang diarsir pada Gambar 2). Transistor dapat bekerja pada daerah jenuh dan daerah cut off-nya, dengan cara melakukan pengaturan tegangan V b dan rangkaian pada basisnya (tahanan R b ) dan juga tahanan bebannya (R L ). Untuk mendapatkan on-off yang 2

bergantian dengan periode tertentu, dapat dilakukan dengan memberikan tegangan Vb yang berupa pulsa, seperti pada Gambar 24..4. Sistem Bilangan dan ritmatika Biner.4.) Sistem desimal dan biner Dalam sistem bilangan desimal, nilai yang terdapat pada kolom ketiga pada Tabel, yaitu, disebut satuan, kolom kedua yaitu B disebut puluhan, C disebut ratusan, dan seterusnya. Kolom, B, C menunjukkan kenaikan pada eksponen dengan basis yaitu =, =, 2 =. Dengan cara yang sama, setiap kolom pada sistem bilangan biner, yaitu sistem bilangan dengan basis, menunjukkan eksponen dengan basis 2, yaitu 2 =, 2 = 2, 2 2 = 4, dan seterusnya. Tabel 2. Nilai Bilangan Desimal dan Biner Kolom desimal C B 2 = = = (ratusan) (pul uhan) (satuan) Kolom biner C B 2 2 = 4 2 = 2 2 = (empatan) (duaan) (satuan) Setiap digit biner disebut bit; bit paling kanan disebut least significant bit (LSB), dan bit paling kiri disebut most significant bit (MSB). Tabel 3. Daftar Bilangan Desimal dan Bilangan Biner Ekivalensinya Desimal 2 3 4 5 6 7 C (MSB) (4) Biner B (2) (LSB) () 3

Untuk membedakan bilangan pada sistem yang berbeda digunakan subskrip. Sebagai contoh 9 menyatakan bilangan sembilan pada sistem bilangan desimal, dan 2 menunjukkan bilangan biner. Subskrip tersebut sering diabaikan jika sistem bilangan yang dipakai sudah jelas. Tabel 4. Contoh Pengubahan Bilangan Biner menjadi Desimal Biner Kolom biner 32 6 8 4 2 - - - - - - Desimal 8 + 4 + 2 = 4 8 + 2 + = 6 + 8 + = 25 6 + 4 + 2 + = 23 32 + 6 + 2 = 5 4

Konversi Desimal ke Biner Cara untuk mengubah bilangan desimal ke biner adalah dengan pembagian. Bilangan desimal yang akan diubah secara berturut-turut dibagi 2, dengan memperhatikan sisa pembagiannya. Sisa pembagian akan bernilai atau, yang akan membentuk bilangan biner dengan sisa yang terakhir menunjukkan MSBnya. Sebagai contoh, untuk mengubah 52 menjadi bilangan biner, diperlukan langkah-langkah berikut : 52 : 2 = 26 sisa, LSB 26 : 2 = 3 sisa 3 : 2 = 6 sisa 6 : 2 = 3 sisa 3 : 2 = sisa : 2 = sisa, MSB Sehingga bilangan desimal 52 akan diubah menjadi bilangan biner. Cara di atas juga bisa digunakan untuk mengubah sistem bilangan yang lain, yaitu oktal atau heksadesimal..4.2) Bilangan Oktal Bilangan Oktal adalah sistem bilangan yang berbasis 8 dan mempunyai delapan simbol bilangan yang berbeda :,,2,.,7. Teknik pembagian yang berurutan dapat digunakan untuk mengubah bilangan desimal menjadi bilangan oktal. Bilangan desimal yang akan diubah secara berturut-turut dibagi dengan 8 dan sisa pembagiannya harus selalu 5

dicatat. Sebagai contoh, untuk mengubah bilangan 589 ke oktal, langkah-langkahnya adalah : 589 : 8 = 727, sisa 3, LSB 727 : 8 = 9, sisa 7 9 : 8 =, sisa 2 : 8 =, sisa 3 : 8 =, sisa, MSB Sehingga 589 = 3273 8 Bilangan Oktal dan Biner Setiap digit pada bilangan oktal dapat disajikan dengan 3 digit bilangan biner, lihat Tabel.5. Untuk mengubah bilangan oktal ke bilangan biner, setiap digit oktal diubah secara terpisah. Sebagai contoh, 3527 8 akan diubah sebagai berikut: 3 8 = 2, MSB 5 8 = 2 2 8 = 2 7 8 = 2, LSB Sehingga bilangan oktal 3527 sama dengan bilangan. Sebaliknya, pengubahan dari bilangan biner ke bilangan oktal dilakukan dengan mengelompokkan setiap tiga digit biner dimulai dari digit paling kanan, LSB. Kemudian, setiap kelompok diubah secara terpisah ke dalam bilangan oktal. Sebagai contoh, bilangan 2 akan dikelompokkan menjadi, sehingga. 2 = 3 8, MSB 2 = 6 8 6

2 = 3 8 2 = 8, LSB Jadi, bilangan biner apabila diubah menjadi bilangan oktal akan diperoleh 363 8..4.3) Bilangan Hexadesimal Bilangan heksadesimal, sering disingkat dengan hex, adalah bilangan dengan basis 6, dan mempunyai 6 simbol yang berbeda, yaitu sampai dengan 5. Bilangan yang lebih besar dari 5 memerlukan lebih dari satu digit hex. Kolom heksadesimal menunjukkan eksponen dengan basis 6, yaitu 6 =, 6 = 6, 6 2 = 256, dan seterusnya. Sebagai contoh : 52B 6 = ( x 6 3 ) + (5 x 6 2 ) + (2 x 6 ) + ( x 6 ) = x 496 + 5 x 256 + 2 x 6 + x = 496 + 28 + 32 + = 549 Sebaliknya, untuk mengubah bilangan desimal menjadi bilangan heksadesimal, dapat dilakukan dengan cara membagi bilangan desimal tersebut dengan 6. Sebagai contoh, untuk mengubah bilangan 348 menjadi bilangan heksadesimal, dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : 349/6 = 23, sisa = 6, LSB 23/6 = 3, sisa 5 = 5 6 3/6 =, sisa 3 = D 6, MSB Sehingga, 349 = D5 6. Bilangan Hexadesimal dan Biner Setiap digit pada bilangan heksadesimal dapat disajikan dengan empat buah bit. Untuk mengubah bilangan heksadesimal menjadi bilangan biner, setiap digit dari bilangan heksadesimal 7

diubah secara terpisah ke dalam empat bit bilangan biner. Sebagai contoh, 25C 6 dapat diubah ke bilangan biner sebagai berikut. 2 6 =, MSB 6 = 5 6 = C 6 =, LSB Sehingga, bilangan heksadesimal 25C akan diubah menjaid bilngan biner. Sebaliknya, bilangan biner dapat diubah menjadi bilangan heksadesimal dengan cara mengelompokkan setiap empat digit dari bilangan biner tersebut dimulai dari sigit paling kanan. Sebagai contoh, 2 dapat dikelompokkan menjadi. Sehingga: 2 = 4 6, MSB 2 = F 6 2 = 5 6 2 = E 6, LSB Dengan demikian, bilangan 2 = 4F5E 6..4.4) Bilangan Biner Pecahan Dalam sistem bilangan desimal, bilangan pecahan disajikan dengan menggunakan titik desimal. Digit-digit yang berada di sebelah kiri titik desimal mempunyai nilai eksponen yang semakin besar, dan digit-digit yang berada di sebelah kanan titik desimal mempunyai nilai eksponen yang semakin kecil. Sehingga. = - = /. = -2- = /.2 = 2 x. = 2 x -, dan seterusnya. 8

Cara yang sama juga bisa digunakan untuk menyajikan bilangan biner pecahan. Sehingga,. 2 = 2 - = ½, dan. 2 = 2-2- = ½ 2 = ¼ Sebagai contoh,. 2 = ½ + ¼ + /8 =.5 +.25 +.25 =.875. 2 = 4 + + + ½ + + /8 = 5 +.625 = 5.625 Pengubahan bilangan pecahan dari desimal ke biner dapat dilakukan dengan cara mengalihkan bagian pecahan dari bilangan desimal tersebut dengan 2, bagian bulat dari hasil perkalian merupakan pecahan dalam bit biner. Proses perkalian diteruskan pada sisa sebelumnya sampai hasil perkalian sama dengan atau sampai ketelitian yang diinginkan. Bit biner pertama yang diperoleh merupakan MSB dari bilangan biner pecahan. Sebagai contoh, untuk mengubah.625 menjadi bilangan biner dapat dilaksanakan dengan.625 x 2 =.25, bagian bulat = (MSB), sisa =.25.25 x 2 =.5, bagian bulat =, sisa =.5.5 x 2 =., bagian bulat = (LSB), tanpa sisa Sehingga,.625 =. 2.4.5) Sistem Bilangan BCD Sampai saat ini kita hanya melihat pengubahan dari bilangan desimal ke bilangan biner murni. Pada beberapa aplikasi, misalnya sistem berdasar mikroprosesor, seringkali 9

lebih sesuai apabila setiap digit bilangan desimal diubah menjadi 4 digit bilangan biner. Dengan cara ini, suatu bilangan desimal 2 digit akan diubah menjadi dua kelompok empat digit bilangan biner, sehingga keseluruhannya menjadi 8 bit, tidak bergantung pada nilai bilangan desimalnya sendiri. Hasilnya sering disebut sebagai binarycoded decimal (BCD). Penyandian yang sering digunakan dikenal sebagai sandi 842 BCD. Selain penyandian 842 BCD, juga dikenal sejumlah penyandian yang lain. Contoh Ubah 25 menjadi bilangan BCD Penyelesaian 2 = dan 5 = Sehingga, 25 = BCD.4.6) ritmatika Biner a) Penjumlahan Biner Penjumlahan bilangan biner serupa dengan penjumlahan pada bilangan desimal. Dua bilangan yang akan dijumlahkan disusun secara vertikal dan digit-digit yang mempunyai signifikansi sama ditempatkan pada kolom yang sama. Digit-digit ini kemudian dijumlahkan dan jika dijumlahkan lebih besar dari bilangan basisnya ( untuk desimal, dan 2 untuk biner), maka ada bilangan yang disimpan. Bilangan yang disimpan ini kemudian dijumlahkan dengan digit di sebelah kirinya, dan seterusnya. Dalam penjumlahan bilangan biner, penyimpanan akan terjadi jika jumlah dari dua digit yang dijumlahkan adalah 2. 2

Berikut adalah aturan dasar untuk penjumlahan sistem bilangan biner. + = + = + = + =, simpan pada Tabel 4. menunjukkan perbandingan antara penjumlahan pada sistem bilangan desimal dan sistem bilangan biner, yaitu 823 + 238 dan 2 + 2. Tabel 5. Penjumlahan a. Penjumlahan desimal 3 2 () () () () 8 2 3 2 3 8 Simpan Jumlah 6 b. Penjumlahan Biner 2 5 2 4 2 3 2 2 2 2 (32) (6) (8) (4) (2) Simpan Jumlah Marilah kita perhatikan penjumlahan biner dengan lebih seksama. Kolom satuan : + =, simpan Kolom 2-an : + = yang disimpan =, simpan Kolom 4-an : + yang disimpan = Kolom 8-an : + =, simpan Kolom 6-an : + yang disimpan =, simpan Kolom 32-an : yang disimpan = 2

Jika lebih dari dua buah digit biner dijumlahkan, ada kemungkinan yang disimpan lebih besar dari. Sebagai contoh, + =, simpan + + =, simpan Contoh berikut menunjukkan penjumlahan dengan penyimpanan lebih besar dari. + + + = ( + ) + ( + ) = (, simpan ) + (, simpan ) =, simpan 2; + + + + = + ( + ) + ( + ) =, simpan 2 + yang disimpan 2 =, simpan + yang disimpan 2 =, simpan 2, dan seterusnya. b) Pengurangan Biner Pada bagian ini hanya akan ditinjau pengurangan bilangan biner yang memberikan hasil positif. Dalam hal ini, metode yang digunakan adalah sama dengan metode yang digunakan untuk pengurangan pada bilangan desimal. Dalam pengurangan bilangan biner jika perlu dipinjam dari kolom di sebelah kirinya, yaitu kolom yang mempunyai derajat lebih tinggi. turan umum untuk pengurangan pada bilanagan biner adalah sebagai berikut : = = = =, pinjam Contoh : Kurangilah 2 dengan 2 Penyelesaian 22

Susunlah dua bilangan di atas ke dalam kolom sebagai berikut : 2 3 2 2 2 2 (8) (4) (2) () Hasil (tidak ada yang dipinjam) Secara lebih rinci, dimulai dari LSB (2 = ) Kolom 2 = Kolom 2 = Kolom 2 2 = Kolom 2 3 = Sehingga, 2 2 = 2 Contoh Kurangilah 2 dengan 2 Penyelesaian 2 3 2 2 2 2 (8) (4) (2) () Pinjam à(2 2 ) Hasil Secara lebih terinci, dimulai dari LSB (2 = ) Kolom 2 = Kolom 2 = Dalam kasus ini kita harus meminjam dari bit pada kolom 2 2. Karena datang dari kolom 2 2, maka nilainya 2 kali nilai pada kolom 2. Sehingga, (bernilai 2 2 ) (bernilai 2 ) = (bernilai 2 ). Bila meminjam dari kolom di sebelah kiri maka berlaku aturan umum =. 23

Kolom 2 2 = Nilai dari kolom 2 diubah menjadi nol karena sudah dipinjam seperti yang ditunjukkan dengan anak panah. Kolom 2 3 = Sehingga, 2 2 = 2 c) Bilangan Biner Bertanda Sejauh ini kita hanya melihat bilangan biner positif atau bilangan biner tak bertanda. Sebagai contoh bilangan biner 8-bit dapat mempunyai nilai antara: 2 = dan 2 = 255 yang semuanya bermilai positif, tanda - diletakkan di sebelah kiri bilangan desimal, misalnya 25. Dalam sistem bilangan biner, tanda bilangan (yaitu negatif) juga disandikan dengan cara tertentu yang mudah dikenal dengan sistem digital. Untuk menyatakan bilangan negatif pada bilangan biner, bit yang dikenal dengan bit tanda bilangan (sign bit) ditambah di sebelah kiri MSB. Bilangan biner yang ditulis dengan cara di atas menunjukkan tanda dan besarnya bilangan. Jika bit tanda ditulis, maka bilangan tersebut positif, dan jika ditulis, bilangan tersebut adalah bilangan negatif. Pada bilangan biner bertanda yang terdiri dari 8-bit, bit yang paling kiri menunjukkkan besarnya. Perhatikan contoh berikut : Bit 7 6 5 4 3 2 Bit 26 25 24 23 22 2 2 tanda (64) 932) (6) (8) (4) (2) Maka, = +(64+32+4+2+) = +3 = -(64+6+4+2) = - 85 = -(6 + ) = -9 = +(64+32+6+8+4+2+) = +27 = -(64+32+6+8+4+2+) = - 27 24

= - = = + = Dari contoh diatas dapat dilihat, bahwa hanya karena tujuh bit yang menunjukkan besarnya, maka bilangan terkecil dan terbesar yang ditunjukan bilangan biner bertanda yang terdiri dari 8-bit adalah : [] 2 = - 27 dan [] 2 = + 27 Dengan bit dalam kurung menunjukkan bit tanda bilangan. Secara umum, bilangan biner tak bertanda yang terdiri dari n-bit mempunyai nilai maksimum M = 2 n. Sementara itu, untuk bilangan bertanda yang terdiri dari n-bit mempunyai nilai maksimum M = 2 n-. Sehingga, untuk register 8-bit di dalam mikroprosesor yang menggunakan sistem bilangan bertanda, nilai terbesar yang bisa disimpan dalam register tersebut adalah: M = 2 (n-) = 2 (8-) = 2 7 - = 28 = 27 sehingga mempunyai jangkauan 27 sampai +27. d) Perkalian Perkalian pada bilangan biner mempunyai aturan sebagai berikut : x = x = x = x = 25

Perkalian bilangan biner dapat dilakukan seperti perkalian bilangan desimal. Sebagai contoh, untuk mengalikan 2 = 4 dengan 2 = 3 langkah-langkah yang harus ditempuh adalah : Biner Desimal 4 3 ----------------------------- ---------- 4 2 4 ----------------------------------- + -------------- + 8 2 Perkalian juga bisa dilakukan dengan menambah bilangan yang dikalikan ke bilangan itu sendiri sebanyak bilangan pengali. Contoh di atas, hasil yang sama akan diperoleh dengan menambahkan 2 ke bilangan itu senidiri sebanyak 2 atau tiga belas kali. e) Pembagian Pembagian pada sistem bilangan biner dapat dilakukan sama seperti contoh pembagian pada sistem bilangan desimal. Sebagai contoh, untuk membagi (disebut bilangan yang dibagi) dengan (disebut pembagi), langkah-langkah berikut perlu dilakukan. 26

Hasil Pembagi ------------------ ----------------- Sisa Sehingga hasilnya adalah 2, dan sisa pembagian adalah 2. Pembagian bisa juga dilakukan dengan cara menjumlahkan secara berulang kali bilangan pembagi dengan bilangan itu sendiri sampai jumlahnya sama dengan bilangan yang dibagi atau setelah sisa pembagian yang diperoleh lebih kecil dari bilangan pembagi. c. Rangkuman 6 ) Bilangan desimal adalah sistem bilangan yang berbasis dan mempunyai sembilan simbol bilangan yang berbeda :,,2,3,4...,9. 2) Bilangan biner adalah sistem bilangan yang berbasis 2 dan mempunyai 2 simbol bilangan yang berbeda: dan 3) Bilangan octal adalah sistem bilangan yang berbasis 8 dan mempunyai 8 simbol bilangan yang berbeda:,,2,3,...,7 4) Bilangan hexa desimal adalah sistem bilangan yang berbasis 6 dan mempunyai simbol bilangan yang berbeda:,,2,3,...9,a,b,c,d,e,f. 5) Setiap digit biner disebut bit; bit paling kanan disebut least significant bit (lsb), dan bit paling kiri disebut most significant bit (msb). d. Tes Formatif 6 ) Ubah bilangan biner berikut ini menjadi bilangan desimal. (a) (b) (c) 27

2) Ubah bilangan desimal berikut ini menjadi bilangan biner. (a) 5 (b) 7 (c) 42 (d) 3 3) Ubah bilangan oktal berikut ini menjadi bilangan biner (a) 27 8 (b) 2 8 (c) 55 8 4) Ubah bilangan biner berikut ini menjadi bilangan oktal (a) (b) 5) Kurangilah 2 dengan 2! 6) Bagilah 2 dengan 2! 7) Kalikanlah 2 dengan 2! 28

e. Kunci Jawaban Tes Formatif 6 ) Hasil pengubahan bilangan biner menjadi bilangan desimal yaitu: a. 6 b. 4 c. 45 2) Hasil pengubahan bilangan desimal menjadi bilangan biner yaitu: a. b. c. d. 3) Hasil pengubahan bilangan oktal menjadi bilangan biner yaitu: a. b. c. 4) Hasil pengubahan bilangan biner menjadi bilangan oktal yaitu: a. 2 b. 5 5) Hasil pengurangannya adalah 2 6) Hasil Pembagiannya adalah 2 sisa 2 7) Hasil perkaliannya 2 atau 82 29

.5. Gerbang Logika.5.) Gerbang dasar Gerbang logika adalah piranti dua keadaan, yaitu mempunyai keluaran dua keadaan: keluaran dengan nol volt yang menyatakan logika (atau rendah) dan keluaran dengan tegangan tetap yang menyatakan logika (atau tinggi). Gerbang logika dapat mempunyai beberapa masukan yang masing-masing mempunyai salah satu dari dua keadaan logika, yaitu atau. macam-macam gerbang logika dasar adalah gerbang OR, ND, NOT. a) Gerbang OR Jenis gerbang pertama yang kita pelajari adalah gerbang OR. Gerbang OR diterjemahkan sebagai gerbang TU artinya sebuah gerbang logika yang keluarannya berlogika jika salah satu atau seluruh inptunya berlogika. Jika ada dua input maka tabel kebenarannya dapat digambarkan seperti tabel 5. Tabel 5 tabel kebenaran gerbang OR Input Output B Y / L (off) (off) (on) (on) (off) (on) (off) (on) (padam) (nyala) (nyala) (nyala) 3

Gambar 3 model dan simbol atau lambang gerbang OR. (a) B V L (b) B Y Gambar 3 (a) Model rangkaian Gerbang OR (b) simbol gerbang OR dan B adalah masukan (input) sedangkan Y adalah keluaran (outpit). Pada tabel kebenaran diatas, diperlihatkan kondisi masukan dan keluaran gerbang OR. Kajilah tabel ini secara seksama dan ingatlah hal- hal berikut ini: gerbang OR memberikan keluaran bila salah satu input atau B atau kedua-duanya adalah. Begitupun halnya dengan yang tiga kondisi masukan. Keluarannya jika ketiga kondisi masukan, selain itu keluarannya. b) Gerbang ND gerbang ND merupakan jenis gerbang digital keluaran jika seluruh inputnya. Gerbang ND diterjemahkan sebagai gerbang DN artinya sebuah gerbang logika yang keluarannya berlogika jika input dan input B 3

dan seterusnya berlogika. Jika ada dua input maka tabel kebenarannya dapat digambarkan seperti tabel 6. Tabel 6 tabel kebenaran gerbang ND Input Output B Y /L (off) (off) (on) (on) (off) (on) (off) (on) (padam) (padam) (padam) (nyala) Gambar 32 model dan simbol atau lambang gerbang OR. B (a) V L (b) B Y Gambar 32 (a) Model rangkaian Gerbang ND (b) simbol gerbang ND c) Gerbang NOT Jenis rangkaian digitall dasar yang lain adalah gerbang NOT. Gerbang NOT ini disebut inverter (pembalik). Rangkaian ini mempunyai satu masukan dan satu keluaran. Gerbang NOT bekerja membalik sinyal masukan, jika masukannya rendah, maka keluarannya 32

tinggi, begitupun sebaliknya.simbol gerbang NOT ditunjukkan pada gambar 33. Gambar 33. Simbol gerbang NOT Tabel 7. Tabel kebenaran gerbang NOT Masukan Keluaran *.5.2) Gerbang kombinasional a) Gebang NOR Gerbang NOR adalah gerbang kombinasi dari gerbang NOT dan gerbang OR. Dalam hal ini ada empat kondisi yang dapat dianalisis dan disajikanpada tabel kebenaran. Sedangkan untuk simbol gerbang NOT, diperlihatkan pada gambar 34. B F=+B B F=+B Gambar 34. Simbol gerbang NOR Tabel 8 tabel kebenaran gerbang NOR Input Output B F 33

b) Gerbang NND Gerbang NND adalah gerbang kombinasi dari gerbang NOT dan gerbang ND. Dalam hal ini ada empat kondisi yang dapat dianalisis dan disajikan pada tabel kebenaran. Sedangkan untuk simbol gerbang NND, diperlihatkan pada gambar 35. B F=. B B Gb. 35 Simbol gerbang NND F=. B Gambar 35. simbol gerbang ND Tabel 9 tabel kebenaran gerbang NND Input Output B Y c) Gerbang Ex-OR Gerbang Ex-OR (dari kata exclusive-or) akan memberikan keluaran jika kedua masukannya mempunyai keadaan yang berbeda. Dalam hal ini ada empat kondisi yang dapat dianalisis dan disajikan pada tabel kebenaran. Sedangkan untuk simbol gerbang Ex- OR, diperlihatkan pada gambar 36. 34

B F= B + B F= + B Gambar 36. simbol gerbang Ex-OR B F= + B Gambar 37. Ekivaken gerbang Ex-OR Tabel tabel kebenaran gerbang Ex-OR Input Output B F d) Gerbang Ex-NOR (Eksklusif NOR) Ex-NOR dibentuk dari kombinasi gerbang OR dan gerbang NOT yang merupakan inversinya atau lawan Ex-OR, sehingaa dapat juga dibentuk dari gerbang Ex-OR dengan gerbang NOT. Dalam hal ini ada empat kondisi yang dapat dianalisis dan disajikan pada tabel kebenaran. Sedangkan untuk simbol gerbang Ex-OR, diperlihatkan pada gambar 38 35

B F= B + B F= + B Gambar 38. simbol gerbang EX-NOR B F= + B Gambar 39. rangkaian ekivalen Ex-OR Tabel. tabel kebenaran gerbang Ex-NOR Input Output B F e) Ungkapan Boole Keluaran dari satu atau kombinasi beberapa buah gerbang dapat dinyatakan dalam suatu ungkapan logika yang disebut ungkapan Boole. Teknik ini memanfaatkan aljabar Boole dengan notasi-notasi khusus dan aturanaturan yang berlaku untuk elemen-elemen logika termasuk gerbang logika. ljabar Boole mempunyai notasi sebagai berikut : i) Fungsi ND dinyatakan dengan sebuah titik (dot,.). sehingga, sebuah gerbang ND yang mempunyai dua 36

masukan dan B keluarannya bisa dinyatakan sebagai F =.B atau F = B.. Dengan dan B adalah masukan dari gerbang ND. Untuk gerbang ND tiga-masukan (,B dan C), maka keluarannya bisa dituliskan sebagai : F =.B.C Tanda titik sering tidak ditulis, sehingga persamaan di atas bisa ditulis sebagai F =B (tau B) dan G = BC. ii) Fungsi OR dinyatakan dengan sebuah simbol plus (+). Sehingga gerbang OR dua-masukan dengan masukan dan B, keluarannya dapat dituliskan sebagai : F = + B atau F = B + iii) Fungsi NOT dinyatakan dengan garis atas (overline) pada masukannya. Sehingga, gerbang NOT dengan masukan mempunyai keluaran yang dapat dituliskan sebagai : F = (dibaca sebagai not atau bukan ). iv) Fungsi XOR dinyatakan dengan simbol Å. Untuk gerbang XOR dua-masukan, keluarannya bisa dituliskan sebagai: F = Å B Notasi NOT digunakan untuk menyajikan sembarang fungsi pembalik (ingkaran). Sebagai contoh, jika keluaran dari gerbang ND diingkar untuk menghasilkan fungsi NND, ungkapan Boole dapat dituliskan sebagai : F =.B atau F =B Ungkapan Boole untuk fungsi NOR adalah : F = +B 37

Tabel 5. Notasi Boole Fungsi ND OR NOT EX-OR NND NOR Notasi Boole. B + B Å B. B +B c. Rangkuman 7 ) Output dari gerbang OR akan selalu apabila salah satu inputnya 2) Output dari gerbang ND akan selalu apabila kedua masukan 3) Output gerbang NOT selalu berkebalikan dengan input 4) Output gerbang NOR akan apabila kedua inputnya 5) Output gerbang NND akan satu apabila salah satu inputnya 6) Output gerbang Ex-OR akan satu apabila inputnya beda 7) Output gerbang Ex-NOR akan satu apabila inputnya sama 8) Keluaran dari satu atau kombinasi beberapa buah gerbang dapat dinyatakan dalam suatu ungkapan logika yang disebut ungkapan boole 9) Notasi aljabar bole adalah sebagai berikut: Fungsi ND OR NOT EX-OR NND NOR Notasi Boole. B + B Å B. B +B 38

d. Tugas 7 mbilah IC TTL seri 748 (ND), 744 (NOT), dan 7432 (OR) masing-masing satu buah kemudian gambar penampangnya. e. Tes Formatif 7 ) Sebutkan 3 macam gerbang digital dasar! 2) Gambarkan simbol gerbang OR dan tabel kebenarannya! 3) Gambarkan simbol gerbang ND dan tabel kebenarannya! 4) Gambarkan simbol gerbang NOT dan tabel kebenarannya! 5) Gambarkan simbol gerbang NND, NOR, Ex-OR dan Ex- NOR! 39

f. Kunci Jawaban Tes Formatif 7 ) 3 macam gerbang logika dasar, yaitu OR, ND, NOT 2) Simbol gerbang OR dan Tabel kebenarannya B Y Tabel kebenaran Input Output B Y 3) Simbol gerbang ND dan tabel kebenaran B Y Tabel kebenaran Input Output B Y 4) Simbol gerbang NOT dan tabel kebenaran Masukan Keluaran 4

5) Simbol gerbang NND, NOR, Ex-OR dan Ex-NOR Y Y F= B + B F= B + B B B B B NND NOR Ex-OR Ex-NOR 4

42