Kinerja Satu Tahun Kementerian Pertanian

dokumen-dokumen yang mirip
Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014

CAPAIAN INDIKATOR KINERJA KEGIATAN (IKK)

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN

ARAHAN MENTERI PERTANIAN PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN NASIONAL (MUSRENBANGTANNAS) 2015 JAKARTA, 3-4 JUNI 2005

Terwujudnya Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan Petani

inside front cover FA_PENAS book.indd 2 5/1/17 11:09 PM

Produksi Padi Tahun 2005 Mencapai Swasembada

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha pada Tahun * (Miliar Rupiah)

KEMENTERIAN PERTANIAN

ARAHAN MENTERI PERTANIAN PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN NASIONAL 2015

STRATEGI DAN PROGRAM PRIORITAS PENGUATAN EKONOMI MASYARAKAT KABUPATEN PASER BIDANG INDUSTRI TANAMAN PANGAN TAHUN 2018

POLICY BRIEF DINAMIKA SOSIAL EKONOMI PERDESAAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA PADA BERBAGAI AGROEKOSISTEM

PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI (ANGKA TETAP 2014 DAN ANGKA RAMALAN I 2015)

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Data Kandungan Nutrisi Serealia per 100 Gram

PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI (Angka Ramalan II Tahun 2014)

PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Tetap 2013 dan Angka Ramalan I 2014)

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016

MEWUJUDKAN KEDAULATAN PANGAN NASIONAL

Gambar 3.6: Hasil simulasi model pada kondisi eksisting

PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Ramalan II 2015)

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

PEMBANGUNAN SEKTOR UNGGULAN

Perkembangan Produksi dan Kebijakan dalam Peningkatan Produksi Jagung

PRODUKSI PADI, JAGUNG DAN KEDELAI DI PROVINSI SULAWESI SELATAN (ANGKA TETAP 2013 DAN ANGKA RAMALAN I 2014)

BAB I PENDAHULUAN. penduduk Indonesia. Bagi perekonomian Indonesia kacang kedelai memiliki

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang

PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Tetap 2014 dan Angka Ramalan I 2015)

KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM BIDANG PERTANIAN UNTUK MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN PANGAN DAN ENERGI BERBASIS PERTANIAN

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

CAPAIAN INDIKATOR KINERJA (IKK)

PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI (ANGKA RAMALAN II TAHUN 2015)

I. PENDAHULUAN. sektor yang mempunyai peranan yang cukup strategis dalam perekonomian

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia memiliki potensi alamiah yang berperan positif dalam

KAJIAN DAYA TAHAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP GANGGUAN FAKTOR EKSTERNAL DAN KEBIJAKAN YANG DIPERLUKAN. Bambang Sayaka

I. PENDAHULUAN. Salah satu sasaran pembangunan nasional adalah pertumbuhan ekonomi dengan

CAPAIAN INDIKATOR KINERJA (IKK)

tersedianya pangan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau (UU No.7 tahun 1996 tentang Pangan).

PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Tetap Tahun 2015)

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROV. SULAWESI TENGAH 2016

I PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian

I. PENDAHULUAN. Tanaman pangan yang antara lain terdiri atas padi, jagung, kedelai, kacang tanah,

TUJUAN & SASARAN 4/26/17 PENDEKATAN PEMBANGUNAN. Misi 2 :

PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI (ANGKA SEMENTARA TAHUN 2015)

PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Sementara Tahun 2014)

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

CAPAIAN INDIKATOR KINERJA KEGIATAN (IKK)

DATA STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2014

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor peternakan merupakan bagian integral dari. pembangunan pertanian dan pembangunan nasional. Sektor peternakan di

BERITA RESMI STATISTIK BPS KABUPATEN DEMAK

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL Dalam Mendukung KEMANDIRIAN PANGAN DAERAH

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian merupakan suatu tindakan untuk mengubah kondisi

PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Sementara Tahun 2015)

STUDI KASUS PERMASALAHAN KOMODITAS KEDELAI DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

PRODUKSI PADI, JAGUNG DAN KEDELAI DI PROVINSI SULAWESI SELATAN (ANGKA RAMALAN II 2014)

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH

PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI (ANGKA SEMENTARA TAHUN 2014)

PENCAPAIAN SURPLUS 10 JUTA TON BERAS PADA TAHUN 2014 DENGAN PENDEKATAN DINAMIKA SISTEM (SYSTEM DYNAMICS)

ANALISIS RUMAH TANGGA, LAHAN, DAN USAHA PERTANIAN DI INDONESIA : SENSUS PERTANIAN 2013

PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI (ANGKA TETAP TAHUN 2015)

PRODUKSI PADI, JAGUNG, KEDELAI, UBI KAYU DAN UBI JALAR (TAHUN 2014: ANGKA TETAP, 2015 : ARAM I)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

LAMPIRAN: Surat No.: 0030/M.PPN/02/2011 tanggal 2 Februari 2011 B. PENJELASAN TENTANG KETAHANAN PANGAN

PROFIL PANGAN DAN PERTANIAN

ARAH DAN STRATEGI KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM MENDUKUNG KEMANDIRIAN PANGAN DAERAH

Industrialisasi Sektor Agro dan Peran Koperasi dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Kementerian Perindustrian 2015

PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN PEMANFAATAN DANA KUMK SUP-005 UNTUK MEMBIAYAI SEKTOR PERTANIAN

PENCAPAIAN TARGET SWASEMBADA JAGUNG BERKELANJUTAN PADA 2014 DENGAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIS

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi tanaman bahan makanan di

PRODUKSI PADI, JAGUNG DAN KEDELAI DI PROVINSI SULAWESI SELATAN (ANGKA TETAP 2014 DAN ANGKA RAMALAN I 2015)

PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Tetap Tahun 2012 dan Angka Ramalan I Tahun 2013)

KEBIJAKAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN PERTANIAN (REFOCUSING PROGRAM)

DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN

BPS PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Peranan Pertanian di Dalam Pembangunan Ekonomi. Perekonomian Indonesia

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA ( ANGKA TETAP 2014 DAN ANGKA RAMALAN I 2015)

Laporan Tahunan KATA PENGANTAR

RANGKUMAN HASIL RAKOR PANGAN NASIONAL, FEED INDONESIA FEED THE WORLD II JAKARTA, 26 JULI 2011

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian berperan penting dalam pembangunan ekonomi nasional.

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan kebutuhan yang mendasar (basic need) bagi setiap

PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI (ANGKA TETAP 2014 DAN ANGKA RAMALAN I 2015)

ANGKA TETAP TAHUN 2013 DAN ANGKA RAMALAN 1 TAHUN 2014 PADI DAN PALAWIJA SULAWESI UTARA

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah

RUMUSAN RAPAT KOORDINASI PANGAN TERPADU SE KALTIM TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi

V. KEBIJAKAN, STRATEGI, DAN PROGRAM

ANALISIS DESKRIPTIF PENETAPAN HARGA PADA KOMODITAS BERAS DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. memiliki dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau. paling terasa perubahannya akibat anomali (penyimpangan) adalah curah

I. PENDAHULUAN. titik berat pada sektor pertanian. Dalam struktur perekonomian nasional sektor

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn)

BAB I PENDAHULUAN. Isu strategis yang kini sedang dihadapi dunia adalah perubahan iklim

KAJIAN KEBIJAKAN HPP GABAH DAN HET PUPUK MENDUKUNG PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN DAN PENDAPATAN PETANI

PRODUKSI PADI dan PALAWIJA (ANGKA RAMALAN III TAHUN 2011)

Perkiraan Ketersediaan Dan Kebutuhan Pangan Strategis Periode Hbkn Puasa Dan Idul Fithri 2017 (Mei-Juni)

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Rancangan Awal RENCANA KERJA PEMERINTAH (RKP) 2018 Prioritas Nasional Ketahanan Pangan

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

K A B I N E T K E R J A Kinerja Satu Tahun Kementerian Pertanian Oktober 2014 - Oktober 2015 Kabinet Kerja dalam satu tahun telah menghasilkan capaian kinerja di sektor pertanian meliputi: (1) tingginya peningkatan produksi pangan strategis, (2) tidak ada impor beras dan penghematan devisa Rp52 triliun melalui kebijakan pengendalian rekomendasi impor dan mendorong ekspor, (3) mulai modernisasi pertanian, dan (4) mulai bangkitnya investasi di sektor pertanian. Sesuai dengan target Nawacita 2015-2019, saat ini telah direalisasikan pembangunan/ rehabilitasi jaringan irigasi tersier 1,56 juta ha atau 52% dari target 3,0 juta ha; pembangunan 1.000 Desa Mandiri Benih sudah 100% dan pada tahun 2016 dimantapkan, penyiapan 1.000 Desa Organik, serta cetak sawah 23.000 ha. 1

1. Produksi pangan strategis meningkat tinggi Sejak Oktober 2014 hingga kini Pemerintah fokus mewujudkan kedaulatan pangan dengan mengembangkan pangan strategis, yaitu: padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, daging sapi, dan gula. Capaian kinerja produksi pangan 2015 meningkat signifikan. Produksi padi, jagung, dan kedelai meningkat sekaligus dalam waktu bersamaan yang belum pernah terjadi selama ini dan berkontribusi terhadap nilai tambah ekonomi Rp29,94 triliun. Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai Tahun 2014-2015 No. Komoditas Produksi (000 ton) ATAP 2014 ARAM 2015 1 Padi 70.846 75.551 2 Jagung 19.008 20.667 3 Kedelai 955 999 Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah) Data Angka Ramalan-I (ARAM-I) BPS menunjukkan produksi padi tahun 2015 sebesar 75,55 juta ton GKG atau naik 4,70 juta ton (6,64%) dibandingkan Angka Tetap (ATAP) tahun 2014. Produksi jagung 20,67 juta ton pipilan kering atau naik 1,66 juta ton (8,72%) dan kedelai 998,87 ribu ton biji kering atau naik 43,87 ribu ton biji kering (4,59%). Peningkatan produksi padi 4,70 juta ton GKG mampu memberikan kontribusi ekonomi sekitar Rp24,28 triliun. Produksi padi ini merupakan produksi tertinggi selama sepuluh tahun terakhir. Peningkatan produksi bersumber dari peningkatan produktivitas 52,80 ku/ha atau naik 1,45 ku/ha (2,82%) dan luas panen 512 ribu ha (3,71%). Kinerja luas tambah tanam padi Januari-Agustus 2015 sebesar 645.210 ha dibandingkan 2014. Provinsi dengan luas tambah tanam padi tertinggi berturut-turut JawaTimur 127.683 ha, Sulawesi Selatan 107.308 ha, Sumatera Selatan 85.293 ha, Jawa Tengah 78.409 ha, dan Lampung 73.727 ha. Produksi padi ini setara dengan beras 43,3 juta ton dan bila dihitung kebutuhan konsumsi beras 33,3 juta ton, maka neraca beras mencapai surplus 9,96 juta ton yang tersebar di pedagang, gudang penggilingan, dan di masyarakat. Peningkatan produksi terjadi juga pada komoditi jagung. Produksi jagung yang tinggi terjadi karena produktivitas 51,70 ku/ha atau naik 2,16 ku/ha (4,36%) dan luas panen meningkat 160 ribu ha (4,18%), dibandingkan 2014. Peningkatan produksi jagung 1,66 juta ton ini memberi nilai tambah ekonomi Rp5,31 triliun merupakan produksi tertinggi selama lima tahun. Neraca jagung menunjukkan surplus 817 ribu ton setelah dikurangi untuk memenuhi kebutuhan industri pakan ternak 8,25 juta ton, pakan ternak lokal 6,34 juta ton, industri pangan 3,92 juta ton, rumah tangga 0,39 juta ton, benih dan lainnya. Kinerja produksi kedelai meningkat melalui peningkatan produktivitas 15,60 ku/ ha atau naik 0,9 ku/ha (0,58%) dan luas panen yang meningkat 25 ribu ha (4,01%). Peningkatan produksi kedelai 43,8 ribu ton (4,59%) berkontribusi terhadap ekonomi Rp0,35 triliun. Hal ini merupakan peningkatan tertinggi dari rerata lima tahun terakhir. Sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan industri, produksi kedelai 2015 harus ditingkatkan lagi fokus dikembangkan pada lokasi yang mempunyai keunggulan komparatif untuk mencukupi kebutuhan domestik. Prognosa produksi gula tahun 2015 sebesar 2,72 juta ton atau meningkat 3,65% dibandingkan tahun 2014 sebesar 2,63 juta ton. Guna memenuhi kebutuhan gula konsumsi langsung, industri rumah tangga dan kebutuhan khusus produksi gula didorong melalui perluasan lahan pada 15 Pabrik Gula (PG) eksisting dan membangun 19 PG baru. 2 3

Solusi permanen guna mengatasi gejolak harga pangan, di samping ditetapkan kebijakan Harga Pembelian pemerintah (HPP), juga dibangun Pasar Tani Indonesia (TTI). Pada tahun 2015 sudah terealisasi 38 TTI dan tahun 2016 akan dibangun minimal 1.000 TTI. Produksi daging karkas sapi/kerbau 2015 diperkirakan 409 ribu ton, meningkat 5,23% dibandingkan 2014. Untuk memenuhi kebutuhan komsumsi daging domestik akan dikembangkan sentra pembibitan dan penggemukan sapi pada lahan 1,0 juta ha oleh 9 investor. Produksi sayuran juga mengalami peningkatan, untuk aneka cabai (cabai merah dan rawit) diperkirakan 2,01 juta ton atau naik 7,41% dibandingkan 2014, sementara kebutuhan konsumsi cabai 1,96 juta ton, yang berarti neraca cabai surplus 52,2 ribu ton. Kondisi surplus menyebabkan pemerintah tidak melakukan impor. Lokasi sentra cabai besar: Garut, Cianjur, Karo, Batubara, Solok, Magelang, Malang dan cabai rawit di: Garut, Boyolali, Kediri, Blitar, Lombok Timur dan lainnya. Produksi bawang merah 1,26 juta ton atau naik 2,51%. Sedangkan kebutuhan konsumsi domestik 947 ribu ton yang berarti ketersediaan surplus 313 ribu ton. Kondisi surplus bawang merah ini sebagian (1.500 ton) telah diekspor ke luar negeri. Sentra bawang merah ada di Brebes, Demak, Nganjuk, Probolinggo, Cirebon, Enrekang, dan Bima. Berbagai capaian kinerja peningkatan produksi pangan strategis merupakan hasil dari terobosan kebijakan/regulasi yang ditempuh, meliputi: (1) merevisi prosedur pengadaan dari Lelang menjadi Penunjukan Langsung untuk pengadaan benih dan pupuk (Perpres 172/2014) dan e-catalogue untuk pengadaan alat dan mesin pertanian (Alsintan), sehingga penyediaan benih, pupuk dan alsintan menjadi tepat waktu, sesuai musim tanam; (2) refocusing anggaran Rp 4,1 triliun dari pos perjalanan dinas, rapat/ seminar menjadi perbaikan irigasi dan penyediaan alsintan, sehingga setiap rupiah APBN berdampak terhadap output dan outcome; (3) bantuan saprodi/benih tidak di lokasi existing, sehingga menambah luas tanam; (4) kebijakan tidak dialokasikan anggaran pada tahun berikutnya bagi daerah yang produksi padi, jagung dan kedelai menurun; (5) bekerja secara sinergis dan melepaskan ego-sektoral, sehingga terpadu mulai aspek hulu sampai hilir; (6) melakukan pengawalan dan pendampingan Upsus secara masif, melibatkan 51.000 TNI-AD, 8.610 Mahasiswa, 25.437 penyuluh PNS, 19.503 THL-TBPP, dan 10 ribu KTNA, (7) mengevaluasi serapan secara harian/mingguan dan (8) melakukan antisipasi dini terhadap dampak perubahan iklim melalui penanganan banjir, kekeringan serta serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara terpadu. Implikasi kebijakan dan realisasi fisik kegiatan turut memberi kontribusi pada produksi pangan. Realisasi kegiatan tahun 2015 meliputi: (1) membangun/rehab jaringan irigasi tersier; optimasi lahan dan jalan usaha tani realisasi 2,08 juta ha (57,1%) dari target; (2) menyalurkan subsidi pupuk 6,38 juta ton (66,8 %); (3) menyalurkan benih padi, jagung Adanya fluktuasi harga cabai dan bawang merah di tingkat konsumen diperlukan intervensi pasar oleh Pemerintah melalui Bulog dengan cara membeli langsung ke petani dan dijual ke sentra konsumen, sehingga rantai tata niaga diperpendek dari 7-8 rantai menjadi 3-4 rantai dan disparitas harga konsumen dengan produsen diperkecil. Distribusi 300 pompa air sungai Bengawan Solo di Bojonegoro untuk 10.128 ha. 4 5

dan kedelai total 1,56 juta ton (43,4 %); serta (4) menyalurkan 48.102 unit alat dan mesin pertanian (77,3 %). Seluruh kegiatan diselesaikan 100 persen sebelum akhir tahun 2015. Kondisi kekeringan tahun 2015 lebih kuat dari tahun 1997. Pada tahun 1998 Indonesia melakukan impor beras sebanyak 7,1 juta ton. Berkat antisipasi dini dan penanganan kekeringan secara masif, maka selama setahun kabinet kerja 2014-2015 tidak ada impor beras. Antisipasi dini dan penanganan kekeringan/el-nino dilakukan sejak Oktober tahun 2014 dengan mendistribusikan 21.953 unit pompa air, rehabilitasi irigasi tersier, membangun 2.000 sumur dangkal di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Grobogan, membangun 100 unit embung dan dam-parit, bekerjasama dengan BNPB melakukan hujan buatan, memberikan asuransi usaha tani untuk 1,0 juta ha. Hasilnya adalah penyelamatan dari ancaman puso sejak Oktober 2014 hingga September 2015 sebesar 114.707 ha dan telah disiapkan bantuan benih dan pupuk 105 ribu ha sebagai kompensasi bagi petani terkena puso. Dalam rangka melindungi petani dari risiko usaha tani akibat banjir, kekeringan, serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), maka telah diluncurkan asuransi pertanian khususnya padi dengan target 2015 seluas 1,0 juta ha, sehingga bila terjadi kegagalan panen, petani mendapat klaim ganti rugi Rp6 juta/ha. 2. Pengendalian impor pangan dan menghemat devisa Rp52 triliun Kebijakan pengendalian rekomendasi impor dan mendorong ekspor pada tahun 2015 telah menunjukkan hasil. Pada tahun 2014 terdapat impor beras medium, berkat pengendalian impor, maka sejak Januari 2015 tidak ada impor beras medium sehingga telah menghemat devisa US$ 374 juta. Produksi jagung tahun 2015 yang naik 8,72% diikuti dengan peningkatan ekspor Jagung terutama dari pelabuhan di Sumbawa dan Gorontalo sehingga memperoleh devisa US$102 juta dan pada sisi lain juga mengendalikan impor jagung,sehingga menghemat devisa US$483 juta. Demikian pula pengendalian terhadap impor cabai, bawang merah, dan gula putih serta terobosan ekspor kacang hijau dari Gresik ke Filipina, bawang merah dari Bima, dan telur tetas ke Myanmar telah meningkatkan devisa. Tahun No. Komoditas (ton) 2014 2015 Ekspor Impor Ekspor Impor 1 Beras 3.026 815.307 1.215-2 Jagung 44.843 3.296.106 400.000 1.600.000 3 Kedelai 51.184 5.786.446 6.938 3.642.471 4 Bawang Merah 4.439 74.903 1.500-5 Cabe 12.125 26.162 7.181-6 Kacang Tanah 6.291 254.323 5.284 129.475 7 Kacang Hijau 34.928 82.957 6.181 32.991 8 Sapi Hidup - 246.509-113.732 9 Daging Sapi 3 76.858 2 24.199 10 Gula Putih 85 213.501 2-11 Gula Tebu 939.898 2.965.624 74.008 1.847.541 Keterangan: *) data 2015 kumulatif s.d Agustus Sumber: Badan Pusat Statistik (2014-2015) - Data impor di atas (beras, jagung, bawang merah, gula putih) tidak termasuk industri dan pembibitan - Menurut data BPS ekspor jagung sebesar +198.000 dan sedangkan menurut data lapangan ekspor jagung sebesar 400.000 ton. Nilai devisa yang bisa dihemat dari pengendalian impor dan peningkatan ekspor pangan sejak Januari hingga Agustus 2015 senilai US$4,03 miliar. Hemat devisa ini setara Rp52 triliun bila menggunakan kurs Rp13.000/US$. Di samping menghemat devisa, kebijakan ini berdampak pada harga yang dinikmati petani. Pengendalian impor jagung telah berdampak pada harga di petani naik dari Rp1.500/kg menjadi Rp3.200/kg setara dengan nilai Rp34,0 triliun. Demikian pula tidak ada impor beras sehingga harga gabah di petani meningkat dan petani menikmati surplus Rp43,3 triliun. Secara keseluruhan dampak kebijakan ini berkontribusi terhadap perekonomian nasional Rp215 triliun yang dinikmati petani dan pelaku usaha lainnya. 3. Tahun mulai bangkitnya modernisasi pertanian Modernisasi pertanian melalui mekanisasi merupakan solusi yang efisien untuk menggantikan pola usaha tani manual dan mengatasi keterbatasan jumlah tenaga kerja. Minat generasi muda pada pertanian meningkat seiring pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan). Mekanisasi ini sudah lama dilakukan, namun dalam jumlah terbatas. Pada 2014 hanya mampu menyediakan alsintan kurang dari 10 ribu unit. Mulai tahun 2015 dilakukan mekanisasi besar-besaran dengan alsintan 62.221 unit dan tahun 2016 akan disediakan lebih banyak lagi. Alsintan meliputi: Rice Transplanter, Combine Harvester, Dryer, Power Thresher, Corn Sheller, Rice Milling Unit (RMU), traktor, dan pompa air. Mekanisasi ini menghemat biaya produksi ±30% dan menurunkan susut panen 10%. Mekanisasi mampu menghemat biaya olah tanah, biaya tanam, dan biaya panen sebesar Rp2,2 juta/ha dari pola manual Rp7,3 juta/ha. Dengan demikian total biaya produksi menjadi Rp5,1 juta/ha. 6 7

Bila mengolah tanah secara manual memerlukan 20 orang hari kerja/ha dan biaya Rp2,5 juta/ha, jika menggunakan traktor, satu orang mampu menyelesaikan 3 ha per hari dengan biaya Rp1,8 juta/ha. Pada APBN tahun 2015 didistribusikan 26.100 traktor roda-2 dan roda-4 kepada kelompok tani. Mekanisasi tidak hanya dilakukan untuk mengolah tanah, namun juga untuk menanam padi dengan menggunakan rice transplanter. Alat ini mampu menghemat tenaga dari pola manual 19 orang/ha menjadi 7 orang/ha dan biaya tanam menurun dari Rp1,72 juta/ha menjadi Rp1,1 juta/ha. Pada APBN tahun 2015 didistribusikan 5.563 unit rice transplanter kepada kelompok tani. Mekanisasi untuk menyiang rumput (power weeder) mampu menghemat tenaga kerja dari pola manual 15 orang/ha menjadi 2 orang/ha dan biaya menyiang turun dari Rp1,2 juta/ha menjadi Rp510 ribu/ha. Alat mekanisasi untuk panen padi, yaitu combine harvester mampu menghemat tenaga kerja dari pola manual 40 orang/ha menjadi 7,5 orang/ha dan biaya panen dapat ditekan dari Rp2,8 juta/ha menjadi Rp2,2 juta/ha. Dengan alat ini mampu menekan kehilangan hasil (lossis) dari 10,2% menjadi 2%. 4. Tahun 2015 ditandai mulai bangkitnya investasi di sektor pertanian Sektor pertanian memberikan peluang usaha dan nilai tambah yang tinggi bagi pelakunya. Komoditas komersial bernilai ekonomi tinggi seperti: kelapa sawit, karet, kakao, tebu, sapi, jagung dan lainnya sangat potensial dikembangkan di Luar Jawa. Usaha pro-aktif meningkatkan investasi telah menunjukkan hasil. Investasi yang sudah berjalan didominasi subsektor perkebunan terutama kelapa sawit, karet, kopi, tebu, teh dan sebagian komoditas pada subsektor peternakan dan hortikultura. Pada tahun 2015 mulai bangkit investasi untuk tebu/gula, jagung, dan sapi. Terdapat kesiapan 15 Pabrik Gula (PG) existing untuk memperluas kebun tebu 200 ribu ha dan 19 PG baru akan mengembangkan lahan 500 ribu ha yang mampu membuka lapangan kerja baru bagi 3,87 juta jiwa. Investasi PG sudah mulai konstruksi dan berproduksi 2019. Apabila dihitung secara nasional dengan produksi 2014 sebesar 70,8 juta ton, berarti potensi kehilangan hasil 7 juta ton atau setara Rp24,5 triliun. Dengan menggunakan combine harvester, maka dapat menyelamatkan potensi kehilangan hasil Rp17 triliun rupiah. Pada tahun 2015, didistribusikan 2.790 unit combine harvester kepada kelompok tani. Penyiapan mekanisasi secara masif dan berkelanjutan ini telah dirasakan manfaatnya bagi petani, sehingga pada saat Kunjungan Kerja Menteri Pertanian 21 April 2015 di Kabupaten Tulangbawang, Bupati mengusulkan agar Menteri Pertanian dinobatkan sebagai Bapak Modernisasi Pertanian. Dengan adanya mekanisasi secara besarbesaran, maka dapat dikatakan tahun 2015 sebagai tahun dimulainya Modernisasi Pertanian. Intinya modernisasi membuat usaha pertanian lebih efisien, produktif, berdaya saing, pendapatan tinggi, dan meningkatkan nilai tambah. 8 9

Terdapat komitmen 9 investor siap mengembangkan pembibitan dan penggemukan sapi dengan di lahan sawit dan membuka lahan hutan 1,0 juta ha dengan 650.000 sapi indukan yang akan melibatkan 50 ribu tenaga kerja. Pada tahun 2015 ini beberapa investor sudah tahap konstruksi dan sebagian beroperasi dengan target produksi 2019 sekitar 150 ribu ton. Tahun 2015 terdapat empat investor siap mengembangkan jagung pakan ternak pada lahan hutan 500 ribu ha dan lahan Perhutani 265 ribu ha, target nilai investasi Rp4,1 triliun dan menyerap 817 ribu tenaga kerja. Target produksi 2019 sebesar 5 juta ton sehingga kebutuhan jagung untuk industri pakan ternak dapat terpenuhi. Terdapat 9 investor mengembangkan pembibitan dan penggemukan sapi dengan target produksi 2019 sebesar 150.000 ton daging. Pada bulan Oktober-November 2015 ini terdapat empat investasi pertanian dalam tahap konstruksi sudah siap untuk diresmikan, berupa: (1) PG Tambora Sugar Estate saat ini konstruksi 62,9% dan giling pertama April 2016 dengan kapasitas 5,000-10.000 TCD; (2) pembangunan sentra pembibitan dan penggemukan sapi potong 20.000 ha di Sumba Timur, (3) investasi terpadu sapi dan budidaya jagung untuk pakan ternak 5,0 ribu ha di Maros; serta (4) pembangunan kebun tebu dan operasional satu Pabrik Gula (PG) di Lamongan dan telah tes giling pada 28 September 2015 dengan target tebu rakyat mitra dan tebu rakyat bebas seluas 18,0 ribu ha di Jawa Timur. Investasi tidak terbatas pada tebu/gula, jagung dan sapi, tetapi juga didorong untuk hilirisasi kelapa sawit dan bio-diesel berbahan baku CPO, industri kakao, industri tepung tapioka maupun di bidang hortikultura. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa tahun 2015 merupakan tahun dimulainya investasi besar-besaran di sektor pertanian. Kebijakan dalam rangka akselerasi pertumbuhan ekonomi dan mendorong investasi pertanian tersebut, antara lain: (1) deregulasi untuk penyediaan dan penyiapan lahan 2,2 juta ha; (2) menyederhanakan persyaratan perijinan pendaftaran produk Terdapat 4 investor mengembangkan jagung pakan ternak dengan target produksi 5 juta ton. 10 11

Pabrik Gula di Lamongan telah tes giling pada 28 September 2015 dengan target tebu rakyat mitra dan tebu rakyat bebas seluas 18,0 ribu ha. benih, pupuk, pestisida, dan menerapkan perijinan satu pintu; (3) debotlenecking dalam rekomendasi perijinan investasi;(4) deregulasi bea-masuk sapi indukan dari 5% menjadi nol persen dan biaya karantina Rp2,5 juta/ekor ditanggung Pemerintah; (5) menyiapkan pulau karantina untuk sapi; (6) mengefektifkan penggunaan bio-diesel berbahan baku CPO sehingga 2015 mencapai target 15%,selama ini penggunaannya baru mencapai kurang dari 5%; (7) pembebasan PPN 10% pada industri Modified Cassava Flour (MOCAF); dan (8) menerbitkan PP tentang Pembiayaan Pertanian dan PP tentang Usaha Agrowisata sebagai tindak lanjut UU 23/2010 tentang Hortikultura. 12