2011, No BAB 9 FORMAT

dokumen-dokumen yang mirip
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

INFORMASI NILAI GIZI

8.9 VITAMIN, MINERAL DAN ZAT GIZI LAIN

Pedoman Pencantuman Informasi Nilai Gizi Pada Label Pangan

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG ACUAN LABEL GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR:HK TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2013 TENTANG ANGKA KECUKUPAN GIZI YANG DIANJURKAN BAGI BANGSA INDONESIA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2014 TENTANG

LAMPIRAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PENGAWASAN FORMULA PERTUMBUHAN

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

Berikut adalah beberapa istilah dan definisi yang digunakan dalam Pedoman ini.

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PENGAWASAN FORMULA PERTUMBUHAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA BAHAN AJAR PENGUJIAN BAHAN PANGAN

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

PERSYARATAN KEAMANAN, MUTU DAN GIZI FORMULA LANJUTAN. 1.1 Ketentuan ini berlaku untuk Formula Lanjutan dalam bentuk cair atau bubuk.

SOSIALISASI PERATURAN KEPALA BADAN POM BIDANG PANGAN 2011

SPESIFIKASI PENGADAAN BARANG PROYEK PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT TAHUN 2011 UNTUK BALITA KURANG GIZI

BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga mampu

Lampiran 1. Decision tree kelompok pelanggaran umum. A. Larangan Iklan Pangan Berkaitan dengan Penggunaan Kata-Kata atau Ilustrasi yang Berlebihan

Lampiran 1. Checklist Survei Pencantuman Label pada Produk Susu Formula dan Makanan Bayi

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 224/Menkes/SK/II/2007 TENTANG SPESIFIKASI TEKNIS MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI)

TINJAUAN PUSTAKA Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI )

2016, No Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Ne

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Gizi selama Kehamilan dan Menyusui

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

II. TINJAUAN PUSTAKA

2016, No Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Neg

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

LAMPIRAN Lampiran 1. Daftar Lembaga Pemberi Kode Halal Asing yang Disahkan Oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI)

- Beri tanda (X) pada pilihan jawaban yang anda anggap paling tepat. - Pertanyaan berupa isian, harap dijawab dengan singkat dan jelas

a. terdapat dalam jumlah yang berarti yaitu lebih dari 2 % AKG per sajian; dan atau b. mencantumkan pernyataan (klaim) tentang zat besi.

PENGAWASAN FORMULA BAYI DAN FORMULA BAYI UNTUK KEPERLUAN MEDIS KHUSUS

STATUS GIZI, ANGKA KECUKUPAN GIZI, DAN PENILAIAN KONSUMSI PANGAN

KLAIM PENURUNAN RISIKO PENYAKIT

Grup I- Label Pangan

Sejumlah zat gizi wajib dicantumkan dalam Informasi Nilai Gizi berkenaan dengan beberapa kondisi berikut :

Keterangan mengenai takaran saji merupakan informasi pertama yang tercantum dalam format Informasi Nilai Gizi.

Lampiran 1. Kuesioner Penelitian

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR PRODUK SUPLEMENTASI GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

ADDENDUM DOKUMEN PENGADAAN

BAB I PENDAHULUAN. buahan juga bersifat spesifik lokasi, responsif terhadap teknologi maju, produk

BAB I PENDAHULUAN. kembang bayi dan anak, baik pada saat ini maupun masa selanjutnya.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1999 TENTANG LABEL DAN IKLAN PANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. kuning melalui proses fermentasi jamur yaitu Rhizopus oryzae, Rhizopus stolonifer, atau Rhizopus oligosporus. Tempe dikenal sebagai

KLAIM KANDUNGAN ZAT GIZI RENDAH ATAU BEBAS. Rendah 40 kkal (170 kj) per 100 g (dalam bentuk padat) atau 20 kkal (80 kj) per 100 ml (dalam bentuk cair)

2. Spesifikasi MRS Broth (merk Merck )

BAB I PENDAHULUAN. asli Indonesia. Daerah asalnya adalah India dan Afrika Tengah. Tanaman ini

UJI F Tabel transformasi arcsin data kelangsungan hidup larva ikan nilem. Perlakuan Ulangan Jumlah Kuadrat Perlakuan (JKP) =

KAJIAN KESESUAIAN PRODUK MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI) DENGAN STANDAR NASIONAL INDONESIA DAN KONTRIBUSI TERHADAP KECUKUPAN GIZI BAYI/ANAK

KONSEP ILMU GIZI DAN PENGELOMPOKAN ZAT-ZAT GIZI. Fitriana Mustikaningrum S.Gz., M.Sc

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK TENTANG KETENTUAN POKOK PENGAWASAN PANGAN FUNGSIONAL

Lampiran 1. Desk Analysis Bahan Baku Serbuk Bayam Merah. Desk Analysis. Air (gr) 66,37 17,2 4,05 87,62. Energi (Kkal) 30,9 9,8 2,95 43,65

LAMPIRAN 1 DESKRIPSI DAN PETA LOKASI PETERNAK SAPI PERAH

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

Apakah Diet Makanan Saja Cukup Sebagai Obat Diabetes Alami?

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1999 TENTANG LABEL DAN IKLAN PANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LOGO VITAMIN DAN MINERAL

Veni Hadju Nurpudji Astuti

BAB 1 PENDAHULUAN. macam komoditi pangan pertanian, tetapi kemampuan produksi pangan di

I PENDAHULUAN. Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Peneltian.

BAB 1 PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh keadaan gizi (Kemenkes, 2014). Indonesia merupakan akibat penyakit tidak menular.

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BAB 2 PRODUK DAN JASA

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan adalah produk fermentasi berbasis susu. Menurut Bahar (2008 :

PENDAHULUAN. Bidang teknologi pangan terus mengalami perkembangan dari tahun ke

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK TAHUN 2011 TENTANG PENDAFTARAN PANGAN OLAHAN

Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Bahan utama pembuatan biskuit pada umumnya adalah dengan

I PENDAHULUAN. dapat diperoleh di pasar atau di toko-toko yang menjual bahan pangan. Abon dapat

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Seiring dengan berkembangnya zaman, masyarakat semakin

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: HK TENTANG PENGAWASAN PANGAN OLAHAN ORGANIK

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.480,2014 BADAN POM. Formula Bayi. Pengawasan. Keperluan Medis. Khusus. Perubahan.

BAB I PENDAHULUAN. Allah SWT dengan kekuasaan dan kehendak-nya telah menumbuhkan. berbagai macam tumbuh-tumbuhan di muka bumi ini yang di dalamnya

2 2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik I

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2017, No Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 99, Tambahan Lembaran Negara

I. PENDAHULUAN. nilai gizi yang sempurna ini merupakan medium yang sangat baik bagi

TELUR ASIN PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. sangat beragam dan tergolong ke dalam jenis buah tropis seperti rambutan, nanas,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN. protein berkisar antara 20% sampai 30%. Kacang-kacangan selain sumber protein

PENJELASAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1999 TENTANG LABEL DAN IKLAN PANGAN

PERBEDAAN KANDUNGAN PROTEIN, ZAT BESI DAN DAYA TERIMA PADA. PEMBUATAN BAKSO DENGAN PERBANDINGAN JAMUR TIRAM (Pleurotus

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. zaman dahulu jus buah dijadikan minuman raja-raja untuk menjaga kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. lodeh, sayur asam, sup, dodol, dan juga manisan. Selain itu juga memiliki tekstur

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1999 TENTANG LABEL DAN IKLAN PANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

MENU BERAGAM BERGIZI DAN BERIMBANG UNTUK HIDUP SEHAT. Nur Indrawaty Liputo. Bagian Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

I. PENDAHULUAN. dan siap untuk dimakan disebut makanan. Makanan adalah bahan pangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tumbuhan berklorofil. Dilihat dari ukurannya, rumput laut terdiri dari jenis

Transkripsi:

5 LAMPIRAN I PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.23.11.11. TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR HK.00.06.51.0475 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PENCANTUMAN INFORMASI NILAI GIZI PADA LABEL PANGAN BAB 9 FORMAT Format Informasi Nilai Gizi pada label pangan yang diuraikan berikut ini meliputi antara lain bentuk, susunan informasi dan cara pencantumannya. Berdasarkan luas permukaan label pangan, format Informasi Nilai Gizi dikelompokkan atas: 1. Format Vertikal, untuk kemasan dengan luas permukaan label lebih dari cm 2 ; 2. Format Horizontal, untuk kemasan dengan luas permukaan label kurang dari atau sama dengan cm 2 ; 3. Format untuk kemasan pangan dengan luas permukaan label kurang dari atau sama dengan 30 cm 2 ; dan 4. Jika luas permukaan label lebih dari cm 2, namun bentuk kemasan tidak dapat mengakomodasi format vertikal, maka pencantuman Informasi Nilai Gizi dapat menggunakan format horizontal. Informasi lain yang tidak wajib dicantumkan pada label tidak menjadi pertimbangan dalam menentukan kecukupan luas permukaan label. Format Vertikal terdiri dari beberapa model sesuai dengan peruntukan masingmasing yaitu: a. Umum; b. Pangan yang ditujukan bagi bayi/anak usia 6 sampai 24 bulan; c. Pangan yang ditujukan bagi anak usia 2 sampai 5 tahun; d. Pangan yang berisi 2 atau lebih pangan yang dikemas secara terpisah dan dimaksudkan untuk dikonsumsi masing-masing; e. Pangan yang berbeda dalam hal rasa, aroma atau warna; f. Pangan yang biasa dikombinasikan dengan pangan lain sebelum dikonsumsi; dan

6 g. Pangan yang harus diolah terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Format Horizontal terdiri dari: a. Format tabular; dan b. Format linier. KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA, KUSTANTINAH

7 LAMPIRAN II PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.23.11.11.09605 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR HK.00.06.51.0475 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PENCANTUMAN INFORMASI NILAI GIZI PADA LABEL PANGAN BAB 10 INFORMASI NILAI GIZI UNTUK FORMULA BAYI Dibandingkan dengan format lainnya, format informasi nilai gizi untuk formula bayi ditampilkan lebih sederhana. Memperhatikan peranannya yang sangat spesifik serta muatan informasi yang wajib dicantumkan, format Informasi Nilai Gizi untuk formula bayi dibedakan dari pangan lainnya. Kandungan zat gizi dicantumkan dalam ukuran per g, per kkal dan per ml. Uraian zat gizi diawali dengan protein, lemak dan karbohidrat, diikuti dengan asam linoleat dan diakhiri dengan kelompok vitamin dan mineral. Zat gizi lain yang ditambahkan pada label, harus dicantumkan pada Informasi Nilai Gizi, sesuai dengan kelompok zat gizi tersebut. Format Informasi Nilai Gizi untuk Formula Bayi Jumlah Informasi Nilai Gizi Satuan g kkal ml Protein Lemak Karbohidrat Asam Linoleat Asam α-linolenat g g g

8 Informasi Nilai Gizi Satuan Vitamin: g Jumlah kkal ml Vitamin A Vitamin D3 Vitamin E Vitamin K Vitamin B1 (Tiamin) Vitamin B2 (Riboflavin) Vitamin B3 (Niasin) Vitamin B5 (Asam Pantotenat) Vitamin B6 (Piridoksin) Asam Folat Vitamin B12 (Kobalamin) Vitamin C Biotin Kolin Myo-Inositol L-Karnitin RE α-te

9 Informasi Nilai Gizi Satuan Mineral: g Jumlah kkal ml Kalsium Fosfor Magnesium Besi Seng Mangan Tembaga Iodium Natrium Kalium Klorida Selenium KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA, KUSTANTINAH

10 LAMPIRAN III PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.23.11.11.09605 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR HK.00.06.51.0475 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PENCANTUMAN INFORMASI NILAI GIZI PADA LABEL PANGAN BAB 11 BATAS TOLERANSI HASIL ANALISIS ZAT GIZI 11.1 Pengertian a. Pangan olahan adalah makanan atau minuman hasil proses dengan cara atau metode tertentu dengan atau tanpa bahan tambahan. b. Batas toleransi hasil analisis zat gizi adalah nilai kisaran yang dapat diterima dari hasil analisis zat gizi dibandingkan dengan nilai yang dicantumkan pada informasi nilai gizi. c. Klaim yang dimaksud dalam Ketentuan ini termasuk namun tidak terbatas pada Klaim Gizi dan Kesehatan. d. Kepala Badan adalah Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang tugas dan tanggungjawabnya dibidang pengawasan obat dan makanan. 11.2 Ruang Lingkup Ketentuan ini berlaku untuk pangan olahan yang mencantumkan informasi nilai gizi pada label. Informasi nilai gizi harus dibuktikan dengan hasil analisis zat gizi. 11.3 syaratan 11.3.1 Pangan Olahan Wajib Fortifikasi, Pangan Olahan yang Mencantumkan Klaim dan Pangan Olahan Tertentu a. Hasil analisis zat gizi untuk pangan olahan wajib fortifikasi, pangan yang mencantumkan klaim dan pangan olahan tertentu sekurang-kurangnya sama dengan nilai yang tercantum dalam informasi nilai gizi ( %). Kecuali diatur dalam aturan lain. b. Pangan olahan wajib fortifikasi sebagaimana dimaksud pada huruf a merupakan program nasional dalam rangka

11 pencegahan timbulnya gangguan gizi, pemeliharaan dan perbaikan status gizi masyarakat. c. Hasil analisis zat gizi tertentu yaitu energi, lemak, lemak jenuh, kolesterol, asam lemak trans, gula dan natrium, tidak boleh lebih dari 120% dari nilai yang tercantum pada informasi nilai gizi. 11.3.2 Pangan Olahan selain 11.3.1 a. Pangan olahan selain yang dimaksud dalam 11.3.1 dapat mencantumkan informasi nilai gizi. b. Hasil analisis zat gizi untuk pangan olahan sebagaimana dimaksud pada huruf a sekurang-kurangnya 80% dari nilai yang tercantum dalam informasi nilai gizi. c. Hasil analisis zat gizi tertentu yaitu energi, lemak, lemak jenuh, kolesterol, asam lemak trans, gula dan natrium, tidak boleh lebih dari 120% dari nilai yang tercantum pada informasi nilai gizi. 11.3.3 Pangan Olahan yang Memiliki syaratan Batas Maksimum dan/atau Minimum Hasil analisis zat gizi untuk pangan olahan yang memiliki persyaratan batas maksimum dan/atau minimum harus memenuhi persyaratan batas maksimum dan/atau minimum sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 11.4 Pengujian a. Informasi nilai gizi yang dicantumkan pada label pangan harus dibuktikan dengan hasil analisis zat gizi dari laboratorium pemerintah atau laboratorium lain yang telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional. b. Khusus untuk pangan yang dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia, hasil analisis dapat diterbitkan oleh laboratorium dari negara asal yang telah mempunyai perjanjian saling pengakuan baik secara bilateral maupun multilateral sesuai ketentuan yang berlaku. KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA, KUSTANTINAH