MULTIKULTURALISME DI INDONESIA MENGHADAPI WARISAN KOLONIAL

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. kenyataan yang tak terbantahkan. Penduduk Indonesia terdiri atas berbagai

BAB II PEMBAHASAN. A. Pengertian Identitas Nasional

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang majemuk secara etnik, agama, ras dan golongan.

BAB I PENDAHULUAN. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika secara de facto mencerminkan multi budaya

VISI DAN STRATEGI PENDIDIKAN KEBANGSAAN DI ERA GLOBAL

2015 PERISTIWA MANGKOK MERAH (KONFLIK DAYAK DENGAN ETNIS TIONGHOA DI KALIMANTAN BARAT PADA TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. keyakinan dan kepercayaannya. Hal tersebut ditegaskan dalam UUD 1945

BAB I PENDAHULUAN. suatu persamaan-persamaan dan berbeda dari bangsa-bangsa lainnya. Menurut Hayes

RUANG LINGKUP MATA KULIAH PANCASILA

ARTIKEL ILMIAH POPULER STUDY EXCURSIE

2) Sanggupkah Pancasila menjawab berbagai tantangan di era globalisasi tersebut?

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Bangsa yang majemuk, artinya Bangsa yang terdiri dari beberapa suku

I. PENDAHULUAN. Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Repubik Indonesia,

Faktor-faktor Pendukung Kelahiran Identitas Nasional

BAB I PENDAHULUAN. budaya. Pada dasarnya keragaman budaya baik dari segi etnis, agama,

BAB V. Kesimpulan. Studi mengenai etnis Tionghoa dalam penelitian ini berupaya untuk dapat

BAB I PENDAHULUAN. memiliki perbedaan. Tak ada dua individu yang memiliki kesamaan secara

Schulte Nordholt (2009) ini merupakan kritik atas penelitian Geertz (1980) atas negara teater dalam masyarakat Bali pra-kolonial yang menunjukkan

BAB I (Times New Roman 16, Bold) PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. tersebut terkadang menimbulkan konflik yang dapat merugikan masyarakat itu. berbeda atau bertentangan maka akan terjadi konflik.

REVITALISASI PERAN ORGANISASI KEMASYARAKATAN DALAM MENEGAKKAN NILAI-NILAI BHINNEKA TUNGGAL IKA. Fakultas Hukum Universitas Brawijaya

Bab 1. Pendahuluan. berasal dari nama tumbuhan perdu Gulinging Betawi, Cassia glace, kerabat

TINJAUAN PUSTAKA. A. Politik Identitas. Sebagai suatu konsep yang sangat mendasar, apa yang dinamakan identitas

BAB VII RAGAM SIMPUL

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Sejalan dengan meningkatnya ketergantungan ekonomi,

Eksistensi Pancasila dalam Konteks Modern dan Global Pasca Reformasi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah , 2014 Nilai-Nilai Budaya Gotong Royong Etnik Betawi Sebagai Sumber Pembelajaran IPS

Agen-Agen Perubahan dan Aksi Tanpa Kekerasan

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

PERAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM MENGATASI GERAKAN RADIKALISME. Oleh: Didik Siswanto, M.Pd 1

No kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, berasaskan Pancasila. Peran optimal ini dapat diwujudkan dengan menjadikan perguruan tin

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang kaya akan berbagai macam etnis,

TUGAS KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA PANCASILA DALAM KONTEKS SEJARAH

MEMBANGUN INTEGRASI NASIONAL DENGAN BINGKAI BHINNEKA TUNGGAL IKA

Wawasan Kebangsaan. Dewi Fortuna Anwar

KONFLIK HORIZONTAL DAN FAKTOR PEMERSATU

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Negara Republik Indonesia (NRI) memiliki wilayah yang sangat luas

PENGAMALAN PANCASILA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DAN REFORMASI

Waktu : 6 x 45 Menit (Keseluruhan KD)

PENGUATAN SISTEM DEMOKRASI PANCASILA MELALUI INSTITUSIONALISASI PARTAI POLITIK Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya)

Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokaatuh Salam sejahtera bagi kita semua;

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara majemuk yang memiliki beragam suku bangsa,

STRUKTUR KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA DAN SMK/MAK

19. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SMP/MTs

KOMPARASI PENDEKATAN ETNIS DAN AGAMA PERPEKTIF CLEM McCARTNEY 1 DENGAN PERSPEKTIF FRANZ MAGNIS SUSENO. Oleh : Any Rizky Setya P.

Para filsuf Eropa menyebut istilah akhir sejarah bagi modernisasi yang kemudian diikuti dengan perubahan besar.

PANCASILA MENGATASI KONFLIK IDEOLOGI-IDEOLOGI NEGARA

Identitas Nasional Dan Pembangunan Stabilitas Nasional

BAB I PENDAHULUAN. satu negara multikultural terbesar di dunia. Menurut (Mudzhar 2010:34)

NILAI-NILAI DAN NORMA BERAKAR DARI BUDAYA BANGSA INDONESIA

PERUBAHAN SOSIAL DI PERDESAAN BALI

I. PENDAHULUAN. Banyak istilah yang diberikan untuk menunjukan bahwa bangsa Indonesia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kebiasaan, bahasa maupun sikap dan perasaan (Kamanto Sunarto, 2000:149).

PERUBAHAN KEDUA UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

PARADIGMA PANCASILA DILINGKUNGAN MASYARAKAT

2. SILABUS MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

KEWARGANEGARAAN INTEGRASI NASIONAL : PLURALITAS MASYARAKAT. Modul ke: 14Fakultas FASILKOM. Program Studi Teknik Informatika

BAB I PENDAHULUAN. sesamanya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menjalankan kehidupannya

PENDIDIKAN PANCASILA. Pancasila Sebagai Ideologi Negara. Modul ke: 05Fakultas EKONOMI. Program Studi Manajemen S1

PLEASE BE PATIENT!!!

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Dinamika Multikulturalisme Kanada ( ). Kesimpulan tersebut

KELAS: X. 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

PLURALISME-MULTIKULTURALISME DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sudah setengah abad lebih Indonesia merdeka, masyarakat Indonesia yang merupakan bangsa yang multi

PERUBAHAN KEDUA UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH/ SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN/MADRASAH ALIYAH KEJURUAN (SMA/MA/SMK/MAK)

II. PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

BAB I PENDAHULUAN. dari hasil pemekaran Kabupaten Pasaman berdasarkan UU No.38 Tahun dasar Bhineka Tunggal Ika, memiliki makna yang tinggi.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Identitas pertama kali diperkenalkan oleh Aristoteles dan dipakai oleh para

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

IDENTITAS NASIONAL Pengertian Identitas Jenis Identitas Atribut Identitas

Peraturan Daerah Syariat Islam dalam Politik Hukum Indonesia

Kewarganegaraan dan Hak Asasi Manusia

Pemahaman Multikulturalisme untuk Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia

PENDIDIKAN PANCASILA. Pendahuluan. Ramdhan Muhaimin, M.Soc.Sc. Teknik Sipil. Modul ke: Fakultas. Program Studi.

BAB I PENDAHULUAN. menyebut dirinya dengan istilah Hokkian, Tiochiu, dan Hakka. Kedatangan

BAB I PENDAHULUAN. ras, suku, agama dan yang lainnya. Keberagaman ini merupakan sesuatu yang

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIAH (SMP/MTs)

Title? Author Riendra Primadina. Details [emo:10] apa ya yang di maksud dengan nilai instrumental? [emo:4] Modified Tue, 09 Nov :10:06 GMT

BAB I PENDAHULUAN. Kanada merupakan salah satu negara multikultur yang memiliki lebih

K E T E T A P A N MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR V/MPR/2000 TENTANG PEMANTAPAN PERSATUAN DAN KESATUAN NASIONAL

1. Pancasila sbg Pandangan Hidup Bangsa

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang mempunyai beragam suku, agama dan budaya, ada

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI BANGSA

POKOK PIKIRAN TANWIR MUHAMMADIYAH 2012

C. Partisipasi Kewarganegaraan sebagai Pencerminan Komitmen terhadap Keutuhan Nasional

MENJAGA INDONESIA YANG PLURAL DAN MULTIKULTURAL

Assalamu alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh, Salam Sejahtera Untuk Kita Semua,

2015 DAMPAK DOKTRIN BREZHNEV TERHADAP PERKEMBANGAN POLITIK DI AFGHANISTAN

PENTINGNYA PEMIMPIN BERKARAKTER PANCASILA DI KALANGAN GENERASI MUDA

Pengembangan Budaya memiliki empat Konteks: 2. Melestarikan dan menghargai budaya

Bab Satu Pendahuluan. Ciptaan: NN.

Dikdik Baehaqi Arif, M.Pd

BAB I PENDAHULUAN. plural. Pluralitas masyarakat tampak dalam bentuk keberagaman suku, etnik,

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PENGEMBANGAN ETIKA DAN MORAL BANGSA. Dr. H. Marzuki Alie KETUA DPR-RI

BAB IV ANALISIS TENTANG TOLERANSI MASYARAKAT ISLAM TERHADAP KEBERADAAN GEREJA PANTEKOSTA DI DESA TELAGABIRU

Transkripsi:

Seminar Dies ke-22 Fakultas Sastra Pergulatan Multikulturalisme di Yogyakarta dalam Perspektif Bahasa, Sastra, dan Sejarah MULTIKULTURALISME DI INDONESIA MENGHADAPI WARISAN KOLONIAL oleh Hilmar Farid Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 27 April 2015

MULTIKULTURALISME DI INDONESIA MENGHADAPI WARISAN KOLONIAL Hilmar Farid Meletakkan Sudut Pandang Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk. Penduduknya terdiri atas beragam kelompok etnik dengan agama dan sistem yang beragam pula. Keadaan masyarakat seperti ini dibentuk oleh perjalanan sejarah yang sangat panjang dan berliku, mengingat adanya beberapa gelombang migrasi dalam kurun dua ribu tahun terakhir. Identitas etnik seperti halnya identitas agama pada dasarnya adalah produk sejarah yang sangat dinamis dan cenderung berubah dari waktu ke waktu, dan membawa kita pada pertanyaan sangat mendasar: apakah kelompok etnik atau kelompok penganut agama bisa kita bedakan secara jelas satu sama lain? Atau sesungguhnya perbedaan itu bersifat elusive? Multikulturalisme adalah cara pandang mengenai bagaimana kita sebaiknya menangani perbedaan dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia. Mengapa perbedaan perlu ditangani? Tidak lain karena, setidaknya dalam beberapa dekade terakhir, perbedaan ini menjadi sumber ketegangan dan konflik yang menghambat perkembangan masyarakat. Konflik sektarian yang merebak sejak 1990an adalah contoh yang gamblang tentang bagaimana perbedaan etnik dan agama bisa berkembang sedemikian rupa, mengoyak social fabric dan akhirnya mengancam kelangsungan hidup masyarakat itu sendiri. Multikulturalisme dianggap sebagai bentuk intervensi yang tepat untuk menangkal konflik seperti itu. Saya tidak yakin dengan keampuhan multikulturalisme dalam menangkal konflik apalagi untuk menjawab masalah yang menjadi penyebab konflik itu karena alasan konseptual maupun politik. Will Kymlicka, pemikir liberal yang mengusung konsep multikulturalisme, mengatakan bahwa di samping hak asasi manusia yang melekat pada individu, ada pula group differentiated rights yang melekat pada kelompok masyarakat. Masalahnya pengertian budaya di sini bersifat statis sebagai syarat untuk merumuskan budaya tersebut dalam kerangka hak atau rights dan cenderung reified. Konsekuensi politiknya kemudian sangat serius karena budaya yang reified justru mempertajam perbedaan yang coba diatasi. Reifikasi praktik kebudayaan menjadi esensi kebudayaan, menurut saya, adalah masalah utama dari multikulturalisme. Jika memang ingin menjembatani atau mengelola konflik karena perbedaan maka hal yang harus dicegah adalah tafsir tunggal yang a-historis terhadap kenyataan historis. Di Eropa saat ini pemerintah yang semula antusias mendorong multikulturalisme seperti Inggris dan Jerman, juga sudah mulai meninggalkan konsep dan praktek multikulturalisme karena terbukti tidak dapat mengatasi krisis. Di Indonesia kita juga memerlukan perangkat konseptual dan agenda aksi baru, dan uraian singkat berikut saya harap bisa memberi kontribusi pada upaya tersebut. 2 s e m i n a r d i e s k e - 2 2 f a k u l t a s s a s t r a 2 7 a p r i l 2 0 1 5

Akar Masalah: Krisis Sosial-Ekologi Multikulturalisme berusaha mengelola dan menjembatani perbedaan budaya sehingga tidak berkembang menjadi konflik. Tapi apakah benar sumber konflik adalah perbedaan budaya atau perbedaan cara hidup? Pertanyaan ini penting agar kita mengenali locus dari masalah yang ingin diurus. Perbedaan memang bisa menjadi sumber konflik, tapi mengapa mesti perbedaan budaya? Bagaimana dengan perbedaan sosial lainnya seperti kelas atau gender? Hubungan antar etnik dan antar agama dalam banyak masyarakat sudah berlangsung selama ratusan tahun dan senantiasa mengalami pasang surut, tapi apakah ada kualitas tertentu yang melekat pada kebudayaan sehingga cenderung mengarah pada konflik? Saya berpendapat sumber konflik di Indonesia, dan juga banyak belahan dunia lain, yang nampak seperti konflik etnik atau agama sesungguhnya adalah konflik sosial di sekitar perebutan sumberdaya. Pergeseran kepemilikan tanah dan penggusuran yang masif, menurunnya tingkat pendapatan akibat inflasi, berkurangnya subsidi yang membuat orang semakin rentan, menyempitnya ruang sosial di perkotaan kesemuanya adalah bagian dari krisis sosial-ekologis yang lebih luas termasuk sumber konflik utama di Indonesia selama sekitar duapuluh tahun terakhir. Tapi masalahnya bukan pada krisis itu sendiri melainkan pada cara masyarakat mencari jawaban terhadap krisis. Kampanye kekerasan sektarian dalam konteks ini adalah jawaban yang diberikan sebagian orang terhadap krisis sosial-ekologis di atas. Pertanyaannya kemudian mengapa identitas etnik dan agama menjadi menonjol? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu memahami apa disebut colonial time bomb yang ditinggalkan oleh penguasa kolonial setelah kemerdekaan dan belum berhasil dijinakkan sampai sekarang. Pembagian Ras dan Etnik Sebagai Warisan Kolonial Sejak pertengahan abad kesembilan belas penguasa kolonial mulai membuat klasifikasi penduduk berdasarkan ras dan etnik dalam rangka memudahkan pengawasan dan pengaturan dalam masyarakat. Orang Tionghoa, Arab dan India misalnya cenderung hidup berkelompok dan dikendalikan oleh seorang pemimpin yang diberi pangkat militer oleh penguasa kolonial, seperti mayor, kapten dan letnan. Pangkat itu menunjukkan fungsi mereka sebagai pemimpin dan penegak hukum sekaligus. Orang pribumi diperlakukan sama sebagai orang pribumi. Baru pada awal abad keduapuluh muncul kesadaran untuk memetakan perbedaan etnik di kalangan orang pribumi. Pada 1925 terbit Volkenkaart van Nederlandsch Indie yang menandai batas-batas etnik secara geografis. 3 s e m i n a r d i e s k e - 2 2 f a k u l t a s s a s t r a 2 7 a p r i l 2 0 1 5

Peta ini yang kemudian menjadi dasar bagi penguasa kolonial dan juga kalangan terpelajar pribumi untuk berpikir tentang penyebaran kelompok etnik secara spasial di Indonesia. Perbedaan etnik yang mungkin dirasakan secara konkret dalam kehidupan sehari-hari diabstraksi dan dianggap sebagai sebuah kenyataan 'objektif'. Inilah colonial time bomb yang detaknya masih terus kita rasakan sampai sekarang misalnya dalam gejala pemekaran daerah yang masif sejak adanya UU Otonomi pada 1999. Sejak UU itu keluar sekurangnya sudah ada tujuh provinsi, 173 kabupaten dan 35 kota baru. Klaim para pendukung pemekaran wilayah ini kadang berlandaskan pada sentimen etnik dan/atau klan yang mengacu pada sejarah. Penguasa kolonial menggunakan sistem indirect rule artinya menguasai penduduk dengan menggunakan tangan para penguasa pribumi. Sistem hukum yang digunakan untuk mengatur masyarakat bersangkutan juga adalah apa yang disebut sebagai 'hukum adat'. Tapi karena praktik 'hukum adat' ini begitu bervariasi maka terjadilah proses abstraksi: penguasa kolonial membentuk apa yang disebut adatrechtskringen atau lingkaran hukum adat dengan mengambil elemen-elemen yang mirip untuk disatukan dan selanjutnya dikodifikasi menjadi 'hukum'. Dan hukum inilah yang kemudian digunakan untuk mengatur hubungan sosial dalam masyarakat. Pemisahan sosial berdasarkan ras dan etnik ini berkait-kelindan dengan pemisahan sosial dan spasial. Orang Tionghoa misalnya semakin kukuh sebagai sebuah komunitas yang berbeda dari orang pribumi dan bahkan orang Asia lainnya. Mereka memiliki aturan hukum sendiri, perilaku sosial dan kultural sendiri, dan juga lembaga pendidikan serta pranata sosial sendiri. Secara spasial mereka tinggal di perkampungan yang disebut Pecinan, yang agak eksklusif, dan bahkan menjalankan kegiatan ekonomi yang mirip pula. Kenyataan historis yang spesifik ini kemudian melahirkan berbagai stereotip yang dianggap sebagai kenyataan umum. Republik Menjawab Di hadapan sidang BPUPKI 1 Juni 1945 Sukarno menjelaskan landasan filosofis dari negara Indonesia yang merdeka. Dalam pidato yang kemudian diberi judul 'Lahirnya Pancasila' Sukarno mengatakan bahwa masyarakat Indonesia terdiri atas beragam suku bangsa dengan latar belakang berbeda-beda pula. Syarat untuk menjadi sebuah bangsa menurutnya ada tiga hal, yakni (1) adanya pengalaman yang sama, (2) adanya kehendak untuk bersatu dan (3) adanya kesatuan antara orang dan 4 s e m i n a r d i e s k e - 2 2 f a k u l t a s s a s t r a 2 7 a p r i l 2 0 1 5

tempat/ruang. Tapi syarat ini hanya bisa mewujud menjadi kenyataan jika ada kerja yang menerjemahkan pengalaman, kehendak dan kenyataan spasial itu. Dalam kerja itu, yang disebutnya gotong-royong, perbedaan bisa diatasi dan membentuk kesatuan. Ini adalah esensi dari semboyan bhinneka tunggal ika. Konsep kerja/karya untuk mengatasi perbedaan sangat signifikan dan sesuai dengan konsep kebudayaan sebagai sesuatu yang dinamis dan terus berubah. Persatuan dicapai bukan karena adanya titik-titik singgung dari entitas yang berbeda-beda tapi karena adanya kontribusi terhadap sebuah project bersama yang disebut Indonesia. Fokus perhatian dengan begitu berpindah dari kualitas yang melekat pada seseorang atau sebuah kelompok menjadi pada apa yang dapat dan mungkin dilakukan bersama. Perbedaan etnik dan agama dengan begitu tidak lagi menonjol dan bahkan tidak signifikan dalam keseluruhan project. Tentu cara pandang seperti ini tidak berkembang begitu saja. Ada syarat dasar yang memungkinkan cara pandang ini berkembang yakni keadilan sosial. Ketimpangan sosial adalah sumber perbedaan sosial dan salah satu alat identifikasi perbedaan yang paling mudah adalah apa yang melekat pada seseorang. Multikulturalisme dalam hal ini tidak membantu mengalihkan proses identifikasi tersebut tapi justru mempermudah proses tersebut. Tapi sebaliknya saya juga tidak setuju dengan prinsip asimilasi yang ingin mengaburkan dan melebur perbedaan. Cara pandang seperti itu juga a-historis karena berusaha menutup mata terhadap perbedaan yang nyata. Perbedaan bagaimanapun harus diakui, dipahami dan ditangani dengan tujuan untuk memperkuat kolektivitas yang lebih besar, yakni bangsa, sehingga dapat membawa keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Perjuangan Keadilan Sosial Di jantung perjuangan untuk merawat masyarakat majemuk seperti Indonesia adalah perjuangan untuk menegakkan keadilan sosial karena sumber dari konflik sektarian yang mencabik social fabric tidak lain adalah ketimpangan sosial. Dalam konteks Indonesia sekarang kerja keras untuk mengatasi kesenjangan, ketimpangan dan ketidakadilan sosial adalah bagian penting, jika bukan yang terpenting, dari keinginan untuk melahirkan masyarakat yang lebih toleran dan beradab. Perjuangan ini juga perlu ditempatkan dalam konteks historis yang lebih luas karena masalah yang ingin ditangani tidak lain adalah warisan dari masa kolonial yang belum berhasil diselesaikan oleh republik. 5 s e m i n a r d i e s k e - 2 2 f a k u l t a s s a s t r a 2 7 a p r i l 2 0 1 5