1 PENDAHULUAN Latar Belakang
|
|
|
- Shinta Muljana
- 7 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi Indonesia menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi ekonomi yang cukup kuat di Asia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh pada tingkat konsumsi energi domestik yang tinggi meskipun krisis global melanda dunia beberapa tahun terakhir ini. Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini belum didukung oleh ketersediaan infrastruktur yang memadai, dan apabila dipaksakan untuk tumbuh tanpa adanya dukungan infrastruktur penunjang yang memadai, maka akan terjadi gejala overheat dalam perekonomian, yang artinya sisi permintaan dalam perekonomian tumbuh sangat cepat dan lebih tinggi dari kapasitas produksi nasional. Overheat dalam perekonomian adalah keadaan di mana perekonomian suatu negara bertumbuh dalam tingkatan yang tinggi tanpa adanya dukungan faktor-faktor penunjang, yang mengakibatkan turunnya pertumbuhan ekonomi dan melemahnya perekonomian (Susamto 2014). Pembangunan infrastruktur merupakan aspek penting dalam mempercepat proses pembangunan nasional, meningkatkan kemampuan daya saing dalam era globalisasi dan memegang peranan penting sebagai roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Gerak laju pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan infrastruktur seperti sarana transportasi, sistem ketenagalistrikan, sistem telekomunikasi, sistem penyediaan air bersih dan irigasi. Hal tersebut dapat dilihat bahwa daerah yang memiliki kelengkapan sistem infrastruktur yang lebih baik, mempunyai tingkat laju pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik pula, dan sebaliknya, daerah yang mempunyai kelengkapan infrastruktur yang terbatas, mempunyai tingkat laju pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang buruk. Salah satu kelemahan yang signifikan dalam penyediaan infrastruktur di Indonesia adalah sistem ketenagalistrikan yang belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Kelemahan ini dapat dilihat dari masih rendahnya jangkauan dan kapasitas sarana dan prasarana ketenagalistrikan, di mana rasio elektrifikasi nasional 84.4% pada tahun 2014 (PT PLN 2015). Proyeksi prakiraan kebutuhan listrik periode tahun dapat dilihat pada Tabel 1. Pada periode tahun kebutuhan listrik diperkirakan akan meningkat dari TWh pada tahun 2015 menjadi TWh pada tahun 2024, atau tumbuh rata-rata 8.7% per tahun. Untuk wilayah Jawa-Bali pada periode yang sama, kebutuhan listrik akan meningkat dari TWh pada tahun 2015 menjadi TWh pada tahun 2024 atau tumbuh rata-rata 7.8% per tahun. Wilayah Indonesia Timur tumbuh dari 22.6 TWh menjadi 57.1 TWh atau tumbuh rata-rata 11.1% per tahun. Wilayah Sumatera tumbuh dari 31.2 TWh pada tahun 2015 menjadi 82.8 TWh pada tahun 2024 atau tumbuh rata-rata 11.6% per tahun.
2 2 Tabel 1 Prakiraan kebutuhan listrik, angka pertumbuhan dan rasio elektrifikasi Uraian Satuan Kebutuhan Listrik Twh - Indonesia Jawa Bali Indonesia Timur Sumatera Pertumbuhan % - Indonesia Jawa Bali Indonesia Timur Sumatera Rasio Elektrifikasi % - Indonesia Jawa Bali Indonesia Timur Sumatera Sumber: RUPTL (PT PLN 2015) Kebutuhan tenaga listrik pada suatu daerah didorong oleh dua faktor utama, yang pertama yaitu pertumbuhan ekonomi yang dalam pengertian sederhananya adalah proses meningkatkan output barang dan jasa, kemudian faktor kedua adalah program elektrifikasi di mana rasio elektrifikasi menandakan perbandingan jumlah penduduk yang menikmati listrik dengan jumlah total penduduk di suatu wilayah. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang dikeluarkan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) Persero, untuk memenuhi pertumbuhan ekonomi 6.7%, pertumbuhan kebutuhan listrik 8.8% dan rasio elektrifikasi 97.4% pada tahun 2019 maka dibutuhkan pembangunan infrastruktur sistem ketenagalistrikan yang meliputi pembangkit, jaringan transmisi dan jaringan distribusi. Total nilai investasi untuk mengembangkan sistem ketenagalistrikan di Indonesia secara keseluruhan yang diasumsikan dibangun oleh PT PLN (Persero) dan produsen listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP) adalah USD miliar selama , seperti terlihat pada Tabel 2. Tabel 2 Total investasi listrik di Indonesia PT PLN (Persero) + IPP (juta USD) Item Total Pembangkit Jaringan transmisi Jaringan distribusi Total Sumber: RUPTL (PT PLN 2015) Berdasarkan Tabel 2 di mana potensi bisnis yang luar biasa besar pada proyek pembangunan sistem ketenagalistrikan di Indonesia khususnya pembangkit listrik membuat XYZ Group sebagai perusahaan multinasional yang bergerak di bidang energi, peralatan minyak dan gas (migas), konstruksi besi baja dan telekomunikasi ingin berkontribusi dan berpartisipasi secara aktif dalam proyek sistem ketenagalistrikan tersebut. Manajemen XYZ Group selalu
3 3 berkomitmen untuk melakukan perbaikan secara berkesinambungan dalam menciptakan organisasi yang efisien, ekonomis serta berdaya saing tinggi sehingga mampu melanjutkan inovasi maupun ekspansi ke sektor-sektor yang menjanjikan peluang usaha dan menguntungkan di masa yang akan datang. XYZ Group melakukan pengembangan bisnis tersebut melalui PT XYZ yang merupakan salah satu dari sembilan unit bisnis strategis yang dimiliki oleh XYZ Group. PT XYZ memiliki bisnis inti di bidang peralatan penunjang migas yang memproduksi berbagai jenis produk seperti pumping unit, gear reducer, mud tank, mud gas separator, mooring system, off shore platform, dan drilling rig equipments sejak tahun 1986 dengan standar kualitas dari American Petroleum Institute (API). PT XYZ juga melayani pengerjaan fabrikasi konstruksi dan pemeliharaan pada industri migas. PT XYZ berhasil memperoleh kontrak pembangunan pembangkit listrik sebesar 83 Mega Watt (MW) beserta fasilitas penunjangnya pada tahun Total pendapatan yang diperoleh PT XYZ baik dari migas dan non migas (pembangunan pembangkit listrik) pada tahun 2014 mencapai 40% dari total pendapatan XYZ Group. Proyek pembangunan pembangkit listrik adalah proyek turnkey dengan lingkup pekerjaan engineering, procurement, construction, installation, dan comissioning. Proyek pembangunan pembangkit listrik merupakan proyek dengan tingkat kerumitan dan kompleksitas yang tinggi. Hal tersebut dikarenakan saling ketergantungan antar aktivitas pekerjaan yang ada, besarnya potensi overlap pada masing-masing aktivitas pekerjaan, pemecahan aktivitas pekerjaan menjadi aktivitas-aktivitas pekerjaan yang lebih detail, kompleksitas struktur organisasi, durasi pelaksanaan proyek secara keseluruhan dan tingkat kesulitan dalam penyusunan jadwal pekerjaan dan anggaran biaya selama masa pelaksanaan proyek. Pada Tabel 3 dapat dilihat perbedaan antara proyek migas dan non migas (pembangunan pembangkit listrik) yang ada di PT XYZ. Tabel 3 Perbedaan proyek migas dan non migas pada PT XYZ No Proyek Lingkup pekerjaan Durasi pekerjaan 1 Migas Engineering, procurement, 1 4 production, maintenance bulan 2 Non migas Engineering, procurement, (pembangunan construction, installation, bulan pembangkit comissioning listrik) Sumber: PT XYZ (2015) Sistem pembayaran 100% setelah barang terkirim Progres pekerjaan Pendapatan PT XYZ secara keseluruhan bertambah dengan adanya proyek pembangunan pembangkit listrik, akan tetapi hal tersebut tidak diikuti dengan strategi pengembangan dan model bisnis yang tepat. PT XYZ mengalami permasalahan teknis, komersial dan operasional dalam mengerjakan proyek pembangunan pembangkit listrik yang mengakibatkan peningkatan biaya operasional, waste material yang berlebih, keterlambatan progres pekerjaan konstruksi, penalty dari pelanggan, berkurangnya laba serta mengganggu cash flow dan proses bisnis peralatan penunjang migas yang sudah stabil dan mapan. PT XYZ perlu mengidentifikasi, mengevaluasi, merumuskan alternatif strategi dan menentukan prioritas strategi pengembangan sehingga didapat
4 4 model bisnis yang tepat yang merupakan perbaikan dan penyempurnaan dari model bisnis saat ini. Pendekatan model bisnis yang saat ini cukup populer digunakan adalah Business Model Canvas (BMC) yang dikembangkan oleh Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur pada tahun Model ini merupakan visualisasi dari sembilan elemen, yaitu customer segments, value proposition, channels, customer relationships, revenue streams, key resources, key activities, key partners, cost structure. Kesembilan elemen tersebut mencakup empat bidang utama dalam bisnis, yaitu pelanggan, penawaran, infrastruktur dan kelangsungan finansial. Model bisnis bagaikan cetak biru sebuah strategi yang diterapkan melalui struktur organisasi, proses dan sistem (Osterwalder dan Pigneur 2012). Perumusan Masalah Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk merealisasikan penyediaan pembangkit listrik sebesar MW dalam jangka waktu lima tahun ( ). Pemerintah bersama PT PLN (Persero) dan swasta akan membangun 109 pembangkit, masing masing terdiri 35 proyek oleh PT PLN (Persero) dengan total kapasitas MW dan 74 proyek oleh produsen listrik swasta atau IPP dengan total kapasitas MW. Sistem ketenagalistrikan sebesar MW tersebut membutuhkan dana USD miliar (PT PLN 2015). XYZ Group merupakan perusahaan multinasional yang sudah berpengalaman mengerjakan berbagai proyek infrastruktur baik di dalam maupun luar negeri. XYZ Group melalui PT XYZ melakukan pengembangan bisnisnya yaitu dengan melakukan ekspansi pada proyek pembangunan pembangkit listrik sebagai kontraktor utama; meningkatkan penjualan pada bisnis intinya di bidang peralatan penunjang migas. Pengembangan bisnis lainnya adalah melakukan investasi di sektor ketenagalistrikan sebagai produsen listrik swasta berbasis energi baru terbarukan. Komposisi pendapatan PT XYZ yang relatif sama antara proyek migas sebesar 48% dan proyek non migas (pembangunan pembangkit listrik) sebesar 52% pada tahun 2014 membuat manajemen PT XYZ dituntut untuk lebih fokus dalam mengelola dan mengerjakan semua proyek yang didapat agar lebih efektif, efisien, tepat waktu dan mendapatkan laba maksimal. Berdasarkan uraian tersebut maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana model bisnis PT XYZ yang diterapkan saat ini dengan pendekatan business model canvas? 2. Bagaimana merumuskan alternatif strategi pengembangan bisnis PT XYZ? 3. Bagaimana menentukan prioritas strategi masing-masing pengembangan bisnis untuk pembuatan model bisnis yang tepat bagi PT XYZ? Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mengidentifikasi model bisnis PT XYZ yang diterapkan saat ini dengan pendekatan business model canvas.
5 5 2. Merumuskan alternatif strategi pengembangan bisnis PT XYZ. 3. Menentukan prioritas strategi masing-masing pengembangan bisnis untuk pembuatan model bisnis yang tepat bagi PT XYZ. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Masukan bagi manajemen PT XYZ dalam melakukan perbaikan model bisnis. 2. Sarana bagi penulis dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama mengikuti kegiatan perkuliahan dan untuk memperluas wawasan berfikir dalam menganalisis suatu model bisnis. 3. Referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang model bisnis. 4. Masukan bagi pemerintah dalam program percepatan pembangunan sistem ketenagalistrikan di Indonesia. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini disusun berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian yang fokus pada PT XYZ. Penelitian ini difokuskan pada analisis strategi pengembangan dan model bisnis PT XYZ. Analisis tersebut sangat penting dilakukan setelah PT XYZ melakukan pengembangan bisnisnya pada proyek sistem ketenagalistrikan di Indonesia. 2 TINJAUAN PUSTAKA Kerangka Teoritis Strategi dan Manajemen Strategi Strategi adalah rencana tindakan yang menuntut keputusan manajemen puncak dan semua sumber daya organisasi untuk merealisasikan tujuan dan mempengaruhi perkembangan organisasi dalam jangka panjang (biasanya untuk lima tahun kedepan). Strategi selalu berorientasi pada masa depan, mempunyai konsekuensi multifungsional atau multidivisional dan dalam perumusannya selalu mempertimbangkan faktor-faktor internal maupun eksternal yang dihadapi oleh organisasi (David 2009). Wheelen dan Hunger (2010) menjelaskan bahwa terdapat tiga level hirarki strategi dalam analisis strategi, yaitu strategi korporasi, strategi bisnis dan stategi fungsional. Dalam perusahaan, ketiga level hirarki strategi tersebut akan terintegrasi dengan baik dan berinteraksi secara berkelanjutan untuk membangun kesuksesan sebuah perusahaan. Berikut penjelasan ketiga level hirarki strategi tersebut: 1. Strategi korporasi. Strategi korporasi berhubungan dengan pengalokasian dan pengelolaan sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk mencapai misi dan tujuannya dengan menyatukan unit-unit bisnis yang berbeda menjadi satu kesatuan strategi perusahaan yang komprehensif. Strategi korporasi menggambarkan
6 Untuk Selengkapnya Tersedia di Perpustakaan SB-IPB
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Value Chain Value chain menurut Porter adalah alat bantu yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi cara menciptakan customer value lebih bagi pelanggan. Dijelaskan bahwa setiap
Materi Paparan Menteri ESDM Strategi dan Implementasi Program MW: Progres dan Tantangannya
Materi Paparan Menteri ESDM Strategi dan Implementasi Program 35.000 MW: Progres dan Tantangannya Bandung, 3 Agustus 2015 Kementerian ESDM Republik Indonesia 1 Gambaran Umum Kondisi Ketenagalistrikan Nasional
BAB I LATAR BELAKANG
1 BAB I LATAR BELAKANG 1.1. Latar Belakang Dalam pengalokasian sumber dana untuk pelaksanaan proyek, material merupakan sumber daya yang mengadopsi terbesar sumber dana proyek. Manajemen material di bidang
Materi Paparan Menteri ESDM
Materi Paparan Menteri ESDM Rapat Koordinasi Infrastruktur Ketenagalistrikan Jakarta, 30 Maret 2015 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Energi Untuk Kesejahteraan Rakyat Gambaran Umum Kondisi Ketenagalistrikan
BAB I PENDAHULUAN. 11,47 Triliun atau tumbuh sebesar 25,1% dibandingkan laba akhir tahun 2015 sebesar Rp.
BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Kinerja Bank BUMN PT. XYZ pada tahun 2016 mencatat laba bersih sebesar Rp. 11,47 Triliun atau tumbuh sebesar 25,1% dibandingkan laba akhir tahun 2015 sebesar Rp. 9,07
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dalam perekonomian di Indonesia. UKM memiliki peranan penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. Dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional, penyediaan tenaga listrik di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional, penyediaan tenaga listrik di Indonesia tidak hanya semata-mata dilakukan oleh PT PLN (Persero) saja, tetapi juga dilakukan
1 PENDAHULUAN. Latar Belakang 7,3 6,5 11,0 9,4 10,2 9,6 13,3 12,0 9,6 9,0 12,9 10,4 85,3 80,4 78,1 83,6 74,4 75,9 65,5 76,6 71,8 74,0 61,2 73,5
1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Proyeksi permintaan energi listrik di Indonesia tumbuh pesat setiap tahunnya. Sebagaimana dipublikasikan oleh PT. Perusahaan Listrik Negara (persero) dalam Rencana Usaha
BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu keharusan yang harus dipenuhi. Ketersediaan energi listrik yang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Banyumas khususnya kota Purwokerto dewasa ini banyak melakukan pembangunan baik infrastuktur maupun non insfrastuktur dalam segala bidang, sehingga kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN. Industri minyak dan gas bumi merupakan salah satu sektor penting dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri minyak dan gas bumi merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan nasional guna memenuhi kebutuhan energi dan bahan baku industri, menggerakkan roda
PRESS RELEASE PAPARAN PUBLIK 2015 PT KMI WIRE AND CABLE Tbk 11 AGUSTUS 2015
PRESS RELEASE PAPARAN PUBLIK 2015 PT KMI WIRE AND CABLE Tbk 11 AGUSTUS 2015 PENJUALAN TAHUN 2014 Pada tahun 2014 Perusahaan membukukan penjualan sebesar Rp. 2.384 milyar, turun sebesar 7% dari penjualan
a home base to excellence Mata Kuliah : Rancangan Bisnis (Kewirausahaan Lanjut) Kode : LSE 304 Review BMC Pertemuan - 1
a home base to excellence Mata Kuliah : Rancangan Bisnis (Kewirausahaan Lanjut) Kode : LSE 304 SKS : 3 SKS Review BMC Pertemuan - 1 a home base to excellence Tujuan Instruksional Umum : Mahasiswa dapat
KEBIJAKAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEBIJAKAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK Insider Forum Series Indonesia Energy Roadmap 2017 2025 Jakarta, 25 Januari 2017 I Kondisi
BAB 1 PENDAHULUAN. Delta Rekadaya Mandiri. PT Delta Rekadaya Mandiri didirikan di Jakarta
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian PT Rekadaya Elektrika merupakan perusahaan yang bergerak di bidang ketenagalistrikan di Indonesia, pada awal berdiri perusahaan ini bernama PT Delta Rekadaya
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perubahan lingkungan bisnis akan terjadi setiap saat, umumnya berupa gerak perubahan dari salah satu atau gabungan faktor-faktor lingkungan luar perusahaan, baik pada skala
I. PENDAHULUAN. Di Indonesia, industri kreatif dibagi menjadi 15 subsektor, diantaranya: mode,
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Industri kreatif merupakan salah satu faktor yang menjadi penggerak perekonomian nasional. Industri kreatif Indonesia semakin berkembang dan diminati pasar global. Di
BAB I PENDAHULUAN. Republika.co.id, Jakarta)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pada era globalisasi ini, persaingan bisnis semakin ketat. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya bisnis serupa didirikan yang menawarkan produk barang dan/
BAB I PENDAHULUAN. setiap pelaku bisnis di berbagai sektor industri. Era globalisasi memungkinkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Persaingan era globalisasi menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari oleh setiap pelaku bisnis di berbagai sektor industri. Era globalisasi memungkinkan suatu proses
BAB 1 PENDAHULUAN. Wilayah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ketersediaan listrik merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan berbagai kegiatan dapat dilakukan dengan adanya peralatan
1. PENDAHULUAN. perusahaan energi berkelas dunia yang berbentuk Perseroan, yang mengikuti
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan visi menjadi perusahaan energi berkelas dunia yang berbentuk Perseroan, yang mengikuti Peraturan Pemerintah
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat modern saat ini tidak bisa dilepaskan dari energi listrik.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Peningkatan kebutuhan tenaga listrik dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa energi listrik memiliki peran yang strategis dalam mendukung kehidupan
RENCANA USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK (RUPTL) DAN PROGRAM PEMBANGUNAN PEMBANGKIT MW. Arief Sugiyanto
RENCANA USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK (RUPTL) 2015-2024 DAN PROGRAM PEMBANGUNAN PEMBANGKIT 35.000 MW Arief Sugiyanto Divisi Perencanaan Sistem, PT PLN (Persero) [email protected] S A R I Pembangunan
1 Universitas Indonesia
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor ketenagalistrikan menjadi bagian yang menyatu dan tak terpisahkan dari pertumbuhan ekonomi suatu negara, juga merupakan komponen yang sangat penting bagi pembangunan
1. BAB I PENDAHULUAN
1 1. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peningkatan kebutuhan tenaga listrik dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan ekonomi dan penduduk di Indonesia. Kebutuhan tenaga listrik meningkat setiap tahun. Berdasarkan
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DIREKTORAT JENDERAL ENERGI BARU, TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI. Disampaikan oleh
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DIREKTORAT JENDERAL ENERGI BARU, TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI REGULASI DAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN ENERGI ANGIN Disampaikan oleh Abdi Dharma Saragih Kasubdit
BAB I PENDAHULUAN. perkapita sebuah negara meningkat untuk periode jangka panjang dengan syarat, jumlah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ekonomi adalah proses yang dapat menyebabkan pendapatan perkapita sebuah
BAB 3 METODOLOGI. 1. Identifikasi business model saat ini : dimana penulis akan malakukan
BAB 3 METODOLOGI 3.1 Kerangka Pikir Business Plan Kerangka pikir penulis untuk model bisnis ini terdiri dari delapan langkah yaitu diantaranya berupa : 1. Identifikasi business model saat ini : dimana
Tuangkan Ide Bisnis mu di Business Model Canvas
PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN BUSINESS MODEL CANVAS Tuangkan Ide Bisnis mu di Business Model Canvas Apa itu business model canvas [BMC]??? BMC adalah model bisnis yang memaparkan 9 elemen bisnis secara singkat
Financial Support in in Sustainable Renewable Energy Across Indonesia (Case : Electricity)
Financial Support in in Sustainable Renewable Energy Across Indonesia (Case : Electricity) Disampaikan oleh : Edi Pujiyanto Vice President PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Sekilas Bank Mandiri Jaringan dan
Coffee Morning dengan Para Pemangku Kepentingan Sektor Ketenagalistrikan
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN () Coffee Morning dengan Para Pemangku Kepentingan Sektor Ketenagalistrikan Ruang Samaun Samadikun Lt.
DAFTAR ISI Bab I Pendahuluan. Bab II Landasan Teori...
DAFTAR ISI Halaman Judul.. i Halaman Pengesahan ii Halaman Pernyataan. iii Kata Pengantar.. iv Daftar Isi... vi Daftar Tabel.. ix Daftar Gambar.. xi Daftar Lampiran... xiii Intisari.. xiv Abstract xv Bab
KATA PENGANTAR. Terima kasih. Tim Penyusun. Penyusunan Outlook Pembangunan dan Indeks Daya Saing Infrastruktur
KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karunia- Nya, dapat menyelesaikan Executive Summary Penyusunan Outlook Pembangunan dan Indeks Daya Saing
PAPARAN PUBLIK PT Elnusa Tbk
PAPARAN PUBLIK PT Elnusa Tbk Graha Elnusa, 18 Desember 2012 Agenda 1 2 Perbaikan Kinerja Elnusa Tahun 2012 Rencana Pengembangan Bisnis Elnusa 2 1 Perbaikan Kinerja Elnusa Tahun 2012 Paparan Publik Elnusa,
BAB I PENDAHULUAN. Tabel I.1 Jumlah Unit Usaha di Indonesia Tahun (unit) (unit) 99,99 2. Usaha Besar (unit) (orang) (orang)
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan salah satu bagian yang memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan perekonomian masyarakat, terutama masyarakat pada
BAB I PENDAHULUAN. Hongkong, dan Australia. Selama periode Januari-November 2012, data
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Industri fashion di Indonesia saat ini berkembang dengan sangat pesat. Kondisi tersebut sejalan dengan semakin berkembangnya kesadaran masyarakat akan fashion yang
KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN ENERGI NASIONAL
VISI: Terwujudnya pengelolaan energi yang berdasarkan prinsip berkeadilan, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan guna terciptanya kemandirian energi dan ketahanan energi nasional untuk mendukung pembangunan
1 PENDAHULUAN. Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan bisnis perbankan di Indonesia terus mengalami kemajuan yang sangat pesat. Bank-bank dituntut untuk menjadi lebih dinamis terhadap perubahan agar siap bersaing
BAB 1 PENDAHULUAN. Besarnya konsumsi listrik di Indonesia semakin lama semakin meningkat.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Besarnya konsumsi listrik di Indonesia semakin lama semakin meningkat. Kenaikan konsumsi tersebut terjadi karena salah satu faktornya yaitu semakin meningkatnya jumlah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek penelitian Sejarah Resto Rumah Soto Padang Gambar 1. 1 Logo Resto Rumah Soto Padang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek penelitian 1.1.1 Sejarah Resto Rumah Soto Padang Resto Rumah Soto Padang merupakan sebuah restoran dengan menu khas soto yang berdiri pada 20 November 2013 di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perekonomian Indonesia saat ini berada dalam situasi yang bergejolak, berubah sangat cepat, dan sulit untuk diprediksi. Keadaan ini merupakan kelanjutan
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Energi merupakan suatu komponen penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia saat ini. Peranan penting energi dalam kehidupan sosial, ekonomi serta lingkungan
BAB I PENDAHULUAN. Dalam era persaingan global seperti saat ini, dunia perekonomian mengalami
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era persaingan global seperti saat ini, dunia perekonomian mengalami persaingan yang semakin ketat. Globalisasi membuat pasar dan perusahaan tumbuh melampaui
I. PENDAHULUAN. daerah, masalah pertumbuhan ekonomi masih menjadi perhatian yang penting. Hal ini
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam menilai keberhasilan pembangunan dan upaya memperkuat daya saing ekonomi daerah, masalah pertumbuhan ekonomi masih menjadi perhatian yang penting. Hal ini dikarenakan
DAFTAR ISI. Lembar Judul... i Lembar Pengesahan... ii. Lembar Pernyataan... iii Kata Pengantar... iv Daftar isi... v
DAFTAR ISI Lembar Judul... i Lembar Pengesahan... ii Lembar Pernyataan... iii Kata Pengantar... iv Daftar isi... v Daftar Tabel... ix Daftar Gambar... xi Daftar Lampiran... xiii Intisari... xiv Abstract...
BAHAN MENTERI DALAM NEGERI PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) REGIONAL KALIMANTAN TAHUN 2015
BAHAN MENTERI DALAM NEGERI PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) REGIONAL KALIMANTAN TAHUN 2015 BALAI SIDANG JAKARTA, 24 FEBRUARI 2015 1 I. PENDAHULUAN Perekonomian Wilayah Pulau Kalimantan
Paparan Publik Tahunan. Jakarta, 11 Agustus 2015
Paparan Publik Tahunan Jakarta, 11 Agustus 2015 KAPASITAS PRODUKSI 2015 Produk Peleburan Metric Ton/Tahun Kawat Tembaga 15,000 MT Kawat Aluminium 12,000 MT Produk Kabel Kabel Listrik Tembaga 26,000 MT
BAB 1 PENDAHULUAN. signifikan. Indonesia, sebagai salah satu negara dengan sumber bahan bakar fosil yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Konsumsi energi dunia setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Indonesia, sebagai salah satu negara dengan sumber bahan bakar fosil yang cukup besar
PUBLIC EXPOSE. PT SUPREME CABLE MANUFACTURING & COMMERCE Tbk. 31 Mei 2016
PUBLIC EXPOSE PT SUPREME CABLE MANUFACTURING & COMMERCE Tbk 31 Mei 2016 TENTANG PERSEROAN 9 November 1970 : Perseroan didirikan 2 Oktober 1972 : Perseroan memulai produksi komersial dengan memproduksi
MENGENAL BUSSINESS MODEL CANVAS (BMC) DALAM DUNIA START UP
MENGENAL BUSSINESS MODEL CANVAS (BMC) DALAM DUNIA START UP PEPEN AANDRIAN SYAH [email protected] Abstrak Business Model Canvas atau yang biasa disingkat dengan BMC mulai mendapatkan ketenaran di Indonesia.
PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SEKTOR ESDM
REPUBLIK INDONESIA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SEKTOR ESDM Bahan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Pada Acara Mandiri Investment Forum (MIF) 2015- Infrastructure: Executing The Plan KEMENTERIAN ENERGI
BAB I PENDAHULUAN. sektor minyak dan gas bumi. Pengusahaan kekayaan alam ini secara konstitusional
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki sumber pendapatan dari sektor minyak dan gas bumi. Pengusahaan kekayaan alam ini secara konstitusional didasarkan
ADLN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB I PENDAHULUAN. terus dilaksanakan. Pembangungan Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU), Pusat
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sejak bulan Juni 2010 pemerintah Indonesia telah mencanangkan program Indonesia bebas dari pemadaman bergilir. Sehingga kehadiran industri tenaga listrik
BAB I TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN
1 BAB I TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN 1.1 LATAR BELAKANG PERUSAHAAN Kerja Praktik dilaksanakan di PT. Rekadaya Elektrika, sebuah perusahaan EPC Nasional yang bergerak di sektor energi khususnya ketenagalistrikan
BAB I PENDAHULUAN. Organisasi bisnis saat ini telah mendapat tantangan besar dari persainganusaha
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Organisasi bisnis saat ini telah mendapat tantangan besar dari persainganusaha yang semakin ketat. Para pelaku usaha dituntut untuk dapat menjalankan usaha
STRATEGI KEN DALAM MEWUJUDKAN KETAHANAN ENERGI NASIONAL
STRATEGI KEN DALAM MEWUJUDKAN KETAHANAN ENERGI NASIONAL SEMINAR OPTIMALISASI PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN MENUJU KETAHANAN ENERGI YANG BERKELANJUTAN Oleh: DR. Sonny Keraf BANDUNG, MEI 2016 KETAHANAN
I. PENDAHULUAN. alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan minyak bumi dan gas alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam strategis tidak terbarukan,
BAB I PENDAHULUAN. wilayah Indonesia dan terletak di pulau Jawa bagian tengah. Daerah Istimewa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salah satu provinsi dari 33 provinsi di wilayah Indonesia dan terletak di pulau Jawa bagian tengah. Daerah Istimewa Yogyakarta di
DAFTAR ISI. 1.1 Latar Belakang Rumusan Masalah Pertanyaan Penelitian Tujuan dan Kegunaan Penelitian 11
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.. i HALAMAN PENGESAHAN ii HALAMAN PERNYATAAN iii KATA PENGANTAR iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR.. xiii INTISARI xv ABSTRACT xvi BAB I PENDAHULUAN.. 1 1.1 Latar
BAB I PENDAHULUAN. yang dimulai dengan bangkrutnya lembaga-lembaga keuangan di Amerika
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada saat ini dunia diperhadapkan pada masalah krisis ekonomi global yang dimulai dengan bangkrutnya lembaga-lembaga keuangan di Amerika sehingga akan berdampak buruk
POKOK-POKOK PENGATURAN PEMANFAATAN BATUBARA UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK DAN PEMBELIAN KELEBIHAN TENAGA LISTRIK (Permen ESDM No.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral POKOK-POKOK PENGATURAN PEMANFAATAN BATUBARA UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK DAN PEMBELIAN KELEBIHAN TENAGA LISTRIK (Permen ESDM No. 19 Tahun 2017) Direktur Pembinaan
DEPUTI MENTERI NEGARA BIDANG USAHA PERTAMBANGAN, INDUSTRI STRATEGIS, ENERGI DAN TELEKOMUNIKASI
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA YANG DIWAKILI OLEH: ROES ARYAWIJAYA DEPUTI MENTERI NEGARA BIDANG USAHA PERTAMBANGAN, INDUSTRI STRATEGIS, ENERGI DAN TELEKOMUNIKASI Kondisi Pengelolaan Energi, Ketenagalistrikan
Menteri Perindustrian Republik Indonesia PENGARAHAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA FORUM DIALOG DENGAN PIMPINAN REDAKSI JAKARTA, 30 JUNI 2015
Menteri Perindustrian Republik Indonesia PENGARAHAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA FORUM DIALOG DENGAN PIMPINAN REDAKSI JAKARTA, 30 JUNI 2015 Yth. : Para Pimpinan Redaksi dan hadirin yang hormati;
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Analisa faktor..., Esther Noershanti, FT UI, 2009
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Aktivitas kegiatan investasi eksplorasi minyak dan gas yang dilakukan memiliki risiko dimana terdapat kemungkinan tidak ditemukannya sumber minyak dan gas baru,
BAB I PENDAHULUAN. sarana jasa pengiriman. Bisnis jasa pengiriman di dalam negeri beberapa tahun
17 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Saat ini banyak muncul industri-industri yang menawarkan serta memasarkan sarana jasa pengiriman. Bisnis jasa pengiriman di dalam negeri beberapa tahun terakhir
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 8 TAHUN 2009 SERI : E NOMOR : 2
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 8 TAHUN 2009 SERI : E NOMOR : 2 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH KABUPATEN KEBUMEN DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN
BAB I PENDAHULUAN. sehari-hari. Selain itu ketenagalistrikan akan mempengaruhi laju perekonomian dari berbagai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Listrik merupakan salah satu kebutuhan pokok yang berperan penting dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu ketenagalistrikan akan mempengaruhi laju perekonomian dari
BAB I PENDAHULUAN. Gambar I.1 Indeks Beberapa Konsumsi Kelompok Barang/Jasa Triwulan III-2015 (BPS Jawa Barat, 2015)
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pada era modern seperti sekarang ini, pengaruh dari globalisasi berdampak pada sudut pandang masyarakat terhadap gaya berbusana. Masyarakat modern tidak lagi melihat
Menyusun Model Bisnis dengan Puzzle (1/2)
Menyusun Model Bisnis dengan Puzzle (1/2) Oleh Sapri Pamulu, Ph.D. Manager SMO PT Wiratman Menurut Kaplan & Norton (2012) dalam dunia bisnis sekarang yang keberhasilannya sangat ditentukan oleh sumber
BAB I PENDAHULUAN. prinsip-prinsip efektifitas dan efisiensi. Kebutuhan tenaga listrik di suatu wilayah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemenuhan kebutuhan energi listrik merupakan salah satu aspek penting dalam aktivitas manusia. Oleh karena itu, penyediaan tenaga listrik harus menjadi prioritas dalam
KEBIJAKAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI
KEBIJAKAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI J. PURWONO Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Disampaikan pada: Pertemuan Nasional Forum
PERCEPAT PROYEK MW, PEMERINTAH LAKUKAN BERBAGAI CARA
PERCEPAT PROYEK 35.000 MW, PEMERINTAH LAKUKAN BERBAGAI CARA www.detik.com Untuk mempercepat realisasi proyek pembangkit listrik 35.000 megawatt (mw), pemerintah melakukan berbagai cara. Saat memimpin rapat
BAB I PENDAHULUAN. suatu perusahaan harus memperhatikan faktor-faktor internal dan eksternal yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pada era globalisasi saat ini, persaingan usaha semakin kompetitif dan kreatif. Untuk dapat bertahan dalam persaingan usaha yang ketat, pihak manajemen dalam
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS SKRIPSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS SKRIPSI IMPLEMENTASI SISTEM PENILAIAN KINERJA UNTUK PUSAT-PUSAT PERTANGGUNGJAWABAN (Studi Kasus Pada PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatera Barat) Oleh : NUZULLIANA WINERY
DI INDONESIA TAHUN Pada bagian ini akan diuraikan mengenai gambaran umum kelistrikan di
IV. GAMBARAN UMUM KELISTRIKAN DAN KEMISKINAN DI INDONESIA TAHUN 1990-2010 Pada bagian ini akan diuraikan mengenai gambaran umum kelistrikan di Indonesia pada periode tahun 1990-2010 seperti produksi dan
Pulau Ikonis Energi Terbarukan sebagai Pulau Percontohan Mandiri Energi Terbarukan di Indonesia
TEKNOLOI DI INDUSTRI (SENIATI) 2016 Pulau Ikonis Energi Terbarukan sebagai Pulau Percontohan Mandiri Energi Terbarukan di Indonesia Abraham Lomi Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Nasional Malang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Peningkatan kebutuhan akan energi di Indonesia terus meningkat karena makin bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kegiatan serta pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN. Sumber daya energi adalah segala sesuatu yang berguna dalam. membangun nilai di dalam kondisi dimana kita menemukannya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumber daya energi adalah segala sesuatu yang berguna dalam membangun nilai di dalam kondisi dimana kita menemukannya. Untuk itu sumber daya energi adalah aset untuk
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam pembangunan nasional, industri jasa konstruksi mempunyai peran
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pembangunan nasional, industri jasa konstruksi mempunyai peran yang penting dan strategis, mengingat jasa konstruksi menghasilkan produk akhir berupa bangunan
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kondisi kelistrikan nasional berdasarkan catatan yang ada di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral hingga akhir 2014 menunjukkan total kapasitas terpasang pembangkit
BAB I PENDAHULUAN. Negara berkembang seperti Indonesia sedang melakukan pembangunan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara berkembang seperti Indonesia sedang melakukan pembangunan di segala aspek kehidupan. Contoh konkrit dapat dilihat dari berbagai bangunan yang berdiri
BAB I PENDAHULUAN. listrik yang semakin meningkat sehingga diperlukan energy alternatif untuk energi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tenaga listrik merupakan sumber energy yang sangat penting bagi kehidupan manusia baik untuk kegiatan industry, kegiatan komersial, maupun dalam kehidupan sehari hari
LAMPIRAN 1 DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA BUSINESS MODEL. business model canvas untuk melihat kondisi instansi saat ini :
LAMPIRAN 1 DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA BUSINESS MODEL Berikut adalah pertanyaan yang diajukan penulis dalam melengkapi business model canvas untuk melihat kondisi instansi saat ini : 1. Siapa saja yang
BAB I PENDAHULUAN. serta alasan penulis memilih obyek penelitian di PT. X. Setelah itu, sub bab
BAB I PENDAHULUAN Bab pendahuluan dalam tesis ini menguraikan latar belakang dilakukannya penelitian dimana akan dibahas mengenai potensi sumber daya panas bumi di Indonesia, kegiatan pengembangan panas
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Dunia perbankan nasional belakangan ini menghadapi kondisi lingkungan perekonomian yang kompleks dan fluktuatif, salah satunya ancaman menyebarnya dampak negatif krisis keuangan
