PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG"

Transkripsi

1 PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG Aspek Teknis Pemilihan Pohon Induk Divisi pemuliaan merupakan salah satu bagian dari penelitian kelapa sawit yang ada di PT. BSM kebun Surya Adi. Divisi pemuliaan memiliki peranan penting dalam kegiatan pemuliaan kelapa sawit. Tujuan program pemuliaan kelapa sawit yaitu untuk meningkatkan produksi, ukuran dan rendemen minyak kelapa sawit melalui perakitan varietas unggul. Menurut Lubis (2008) tujuan lain program pemuliaan yaitu mendapatkan varietas kelapa sawit yang pertumbuhan meningginya lambat, lebih toleran terhadap penyakit, toleran terhadap kondisi marginal, lebih respon terhadap pemupukan, bobot tandan tinggi, komposisi buah dan minyak lebih baik, stalk lebih pendek sehingga panen mudah, adaptasi baik dan lain-lain. Divisi pemuliaan memiliki beberapa kegiatan diantaranya program persilangan, pembibitan, pengamatan karakter vegetatif, pengamatan karakter generatif, dan analisis tandan. Metode pemuliaan yang digunakan di PT. BSM yakni metode Reciprocal Reccurent Selection (RRS). Melalui metode RRS dapat dilakukan perbaikan secara serentak daya gabung dari dua populasi dasar yaitu populasi dari grup Dura dan populasi dari grup Pisifera serta memungkinkan untuk melaksanakan eksploitasi persilangan terbaik dengan cepat. Hasil wawancara dengan asisten pemuliaan yakni pokok seleksi yang ada di kebun PT. BSM saat ini semuanya didatangkan dari Kostarika. Pohon seleksi yang didatangkan bukan jenis Dura dan Pisifera saja tapi hasil persilangan dari Dura X Pisifera juga didatangkan. Pengamatan dilakukan pada pokok D X P selama kurang lebih 10 tahun. Pengamatan yang dilakukan yakni pengamatan vegetatif, pengamatan generatif dan pengamatan crown deseases. PT. BSM saat ini sedang mengembangkan varietas semiklonal. Varietas semiklonal adalah varietas yang salah satu tetuanya dari benih dan yang satunya lagi berasal dari kultur jaringan. PT. BSM mengembangkan varietas semiklonal dengan pohon induk betina berasal dari benih dan pohon induk jantan dari kultur jaringan.

2 20 Pengelolaan Pohon Induk Betina dan Pohon Induk Jantan Pengelolaan pohon induk betina dan pohon induk jantan dilakukan oleh divisi kebun benih. Divisi kebun benih merupakan salah satu divisi di bagian produksi benih yang bertugas menghasilkan tandan benih yang baik dan benar untuk diproses lebih lanjut. Pembungkusan bunga betina. Bunga yang siap dibungkus adalah bunga yang telah memenuhi kriteria untuk dibungkus. Kriteria bunga yang siap untuk dibungkus yakni bunga dalam kondisi yang sehat, normal, pada pohon induk betina yang terseleksi, dan seludang bunga sudah membuka 5-15 % atau diperkirakan bunga akan reseptif dalam 8-15 hari. Bagian pangkal pelepah terlebih dahulu dilakukan sedikit pemotongan agar pelepah sedikit menurun sehingga terdapat ruang untuk melakukan pembungkusan. Duri yang terdapat pada pelepah dibersihkan. Seludang bunga dibersihkan sehingga seluruh bagian bunga terlihat. Pada bagian stalk dibalut dengan kapas yang diberi furadan, hal ini bertujuan untuk menghindari masuknya serangga ketika telah dibungkus. Bunga disemprot menggunakan insektisida yang bertujuan untuk membunuh serangga yang ada di dalam dan sekitar bunga. Bunga disemprot dengan larutan formalin konsentrasi 10 % untuk mematikan serbuk sari liar. Bunga dibungkus menggunakann terrylene polyester dengan posisi jendela berada tepat ditengah bagian depan. Pembungkus diikat menggunakan tali dari karet ban bekas pada dasar bunga sebanyak 3 kali lilitan. Dasar bunga dililitkan kembali kapas yang berisi furadan. Disekitar pembungkus disemprot insektisida dan formalin. Terakhir dilakukan penulisan nomor referensi, tanggal pembungkusan dan inisial petugas isolator. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pembungkusan ± 15 menit. Petugas pembungkusan melakukan pembungkusan bunga betina sebanyak 5-11 bunga/hk tergantung kemampuan petugas pembungkusan. Pekerja juga bertugas membersihkan pohon seleksi dan mempersiapkan bahan-bahan pembungkusan. Kegiatan yang dilakukan mengikuti proses pembungkusan bunga betina yakni melakukan proses pembungkusan satu buah bunga betina.

3 21 Masalah yang dialami dalam proses pembungkusan bunga betina terutama untuk petugas yang belum berpengalaman yakni sulitnya menentukan bunga betina yang siap untuk dibungkus. Masalah ini disebabkan keadaan pohon induk betina yang sudah tinggi sehingga menyulitkan petugas untuk memanjat pohon induk betina dan melihat apakah pada pohon tersebut terdapat bunga betina yang siap dibungkus. Pihak perusahaan telah melakukan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut yakni dengan pemasangan tangga pada pohon induk betina. Pembungkusan bunga jantan. Pembungkusan tandan bunga jantan dilakukan 8-15 hari sebelum bunga antesis. Pembungkus dan cara pembungkusan bunga jantan sama seperti pembungkusan bunga betina. Pohon induk jantan tidak mengeluarkan bunga jantan selama pelaksanaan magang di divisi kebun benih sehingga tidak ada kegiatan pembungkusan bunga jantan. Kegiatan yang dilakukan hanya perawatan pohon induk. Parit dibuat dipinggir piringan pohon induk jantan. Perlakuan tersebut dilakukan agar pohon induk jantan mengalami stres, sehingga pada pohon induk jantan muncul bunga jantan. Panen bunga jantan. Kegiatan panen dilakukan apabila bunga yang telah dibungkus telah antesis sebanyak 75 %. Ditandai dengan bau wangi yang keluar dari bunga dan adanya serangga penyerbuk yang mengerumuni bungkusan tandan. Standar lain panen yaitu bunga berumur 8-15 hari setelah pembungkusan, bunga dapat dipanen. Pemanenan tandan dilakukan secara hati-hati. Pemanenan tidak dijatuhkan tapi dipanggul. Pengamatan terhadap bunga yang akan dipanen dilakukan setiap hari terutama menjelang antesis. Pengeringan tandan bunga jantan. Tandan yang diterima dari lapangan diperiksa kondisinya. Tandan diafkir jika bunga jantan busuk, kering, abnormal, masa reseptif bunga jantan kurang dari 7 hari dan pembungkus rusak. Ciri-ciri tandan abnormal yakni jika pada tandan tersebut terdapat bunga betina. Tandan jantan yang kondisinya baik digantung di dalam pollen drying cabinet I dengan suhu C selama 6 sampai 24 jam. Tandan dikeluarkan dari kabinet lalu ditepuk-tepuk dengan tangan. Salah satu sudut pembungkus digunting, lalu

4 22 serbuk tepung sari dimasukkan ke dalam amplop. Amplop yang telah berisi tepung sari dimasukkan ke dalam pollen drying cabinet II C selama 6 sampai 24 jam. Tepung sari selanjutnya diayak menggunakan ayakan kemudian diletakkan diwadah plastik yang telah diberi identitas tandan jantan. Tepung sari dimasukkan ke dalam desikator selama 24 jam. Kegiatan yang dilakukan selama melaksanakan magang dibagian Persiapan Tepung Sari yakni melakukan pengeringan tandan bunga jantan sebanyak satu buah tandan. Tepung sari yang dihasilkan sebanyak 62 g dengan viabilitas 95 %. Pengujian viabilitas dan penyimpanan tepung sari. Pengujian viabilitas tepung sari dilakukan secara sederhana dengan menghitung tepung sari yang tumbuh pada media khusus melalui mikroskop. Media yang digunakan untuk satu petridish pengujian viabilitas yaitu: air destilasi 20 ml, sukrosa 2.2 g, dan agar 0.1 g. Media dan tepung sari diletakkan pada petridish, kemudian petridish ditutup dan disimpan selama 20 jam. Preparat tepung sari selanjutnya diamati di bawah mikroskop. Tepung sari yang hidup dan mati akan terlihat jelas di bawah mikroskop. Tepung sari yang hidup dicirikan dengan bentuk yang memanjang seperti ekor dan bagian kepalanya tidak berwarna hitam. Tepung sari yang sudah mati tidak memiliki ekor dan bagian kepalanya berwarna hitam. Persentase tepung sari yang hidup dapat dihitung dengan rumus : Persentase viabilitas = T / (T + M) x 100% T = tepung sari yang tumbuh M = tepung sari yang mati Pengamatan dilakukan sebanyak tiga kali pada area yang berbeda-beda untuk satu kali perhitungan. Perhitungan dilakukan sebanyak dua kali untuk diambil rata-ratanya. Tepung sari yang memiliki viabilitas 50 % dimusnahkan sedangkan > 50 % disimpan. Pengujian viabilitas juga dilakukan untuk tepung sari yang akan digunakan. Ada dua wadah penyimpanan tepung sari yang digunakan yakni dengan menggunakan ampul film dan ampul kaca. Tepung sari dimasukkan kedalam ampul. Ampul yang telah berisi tepung sari kemudian dimasukkan ke dalam kotak plastik yang berisi silika gel. Kotak plastik disimpan di dalam freezer dengan suhu C sampai C.

5 23 Tepung sari yang diuji yakni tepung sari yang telah disimpan dan akan digunakan untuk penyerbukan. Hasil pengamatan viabilitas tepung sari selama kegiatan magang dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil pengujian viabilitas tepung sari No. Referensi Tanggal panen Tanggal pengujian viabilitas Viabilitas (%) P P P P P Sumber : Data primer Pengamatan viabilitas tepung sari sulit dilakukan karena masih menggunakan mikroskop cahaya yang tidak terintegrasi ke layar monitor. Penggunaan mikroskop tersebut menyulitkan dalam pengamatan tepung sari yang viabel dan tepung sari yang mati. Sulitnya melakukan pengamatan dapat diatasi dengan cara menggunakan mikroskop yang telah teringrasi ke layar monitor. Penggunaan mikroskop ini akan memudahkan pengamat dalam menghitung jumlah tepung sari viabel dan tepung sari yang mati. Hasil pengamatan viabilitas tepung sari menunjukkan bahwa tepung sari yang dikoleksi oleh PT. BSM viabilitasnya dari %. Hasil tersebut menunjukkan tepung sari yang digunakan PT. BSM merupakan tepung sari dengan kualitas yang baik. Persiapan tepung sari. Tepung sari yang digunakan untuk dosis satu kali penyerbukan yakni 0.05 sampai 0.1 g sedangkan talkum powder sebanyak 2 g. Satu dosis tepung sari dimasukkan ke dalam tabung kaca. Tabung ditutup dengan sumbat karet yang sudah terdapat 2 tabung L yang ujungnya sudah ditutup dengan kapas. Pada tabung diberi label yang bertuliskan nomor pohon induk jantan yang digunakan. Petugas yang mempersiapkan tepung sari setelah apel pagi pukul WIB langsung bekerja untuk mempersiapkan tepung sari karena tepung sari akan digunakan oleh polinator pada pukul WIB. Satu pekerja setiap pagi biasanya mampu mempersiapkan tepung sari sebanyak 40 tabung tepung sari. Kegiatan yang dilakukan selama magang di bagian persiapan tepung sari yakni

6 24 mempersiapkan tepung sari untuk penyerbukan sebanyak 8-15 tabung setiap pagi. Kesulitan dalam mepersiapkan tepung sari yakni jumlah tepung sari yang dibutuhkan sangat kecil jadi membutuhkan ketelitian dalam melakukan penimbangan tepung sari. Boks manipulasi untuk mencampur tepung sari dan talkum powder tidak besar sehingga ruang gerak untuk melakukan penimbangan tidak bebas. Penyerbukan. Penyerbukan dilakukan apabila sebagian besar kepala putik telah membuka dan berwarna putih atau bila 65 % dari bunga sudah reseptif dan tidak perlu menunggu bunga reseptif sampai 100 % karena sisanya dalam 1-2 hari kemudian akan reseptif. Masa penyerbukaan telah lewat bila kepala putik telah berubah warnanya menjadi merah muda atau merah. Penyerbukan dapat dilakukan 2 kali apabila diperlukan penyerbukan ulang. Proses penyerbukan dimulai dengan pengecekan kondisi pembungkus. Tujuannya untuk mengetahui apakah ada serangga yang masuk ke dalam pembungkus. Jendela pada pembungkus disemprot menggunakan alkohol. Jendela pembungkus yang telah disemprot dilap menggunakan kapas dan dibuat lubang pada jendela menggunakan cutter. Kapas (tutup) pada lubang pipa penyemprot dibuka dan dimasukkan pada jendela pembungkus. Campuran tepung sari dan talkum powder disemburkan merata keseluruh bagian bunga. Lubang pada jendela pembungkus ditutup kembali dengan plester anti air. Pembungkus dibuka 21 hari setelah penyerbukan. Pemasangan label dilakukan setelah pembungkus dilepas, kawat label ditancapkan diantara spikelet. Pada kegiatan penyerbukan di PT. BSM terdapat kegiatan blank pollination yakni penyerbukan tanpa serbuk sari atau hanya menggukan bedak talkum. Blank pollination dilakukan sebanyak 1 % dari total keseluruhan penyerbukan. Penetapan blank pollination dilakukan secara acak dan tanpa sepengetahuan petugas penyerbukan. Blank pollination bertujuan untuk menguji sterilitas pada alat serbuk, proses pembungkusan dan proses penyerbukan. Kegiatan yang dilakukan selama magang di bagian penyerbukan yakni melakukan penyerbukan bunga betina sebanyak satu kali. Kegiatan lainnya yakni membuat rencana penyerbukan dengan membuat daftar pohon-pohon induk betina yang diperkiran akan reseptif pada keesokan harinya (Lampiran 4). Petugas

7 25 penyerbukan tidak memiliki batasan jumlah bunga yang harus diserbuk karena banyaknya penyerbukan tergantung pada jumlah bunga betina yang reseptif. Petugas harus tetap melakukan proses penyerbukan walaupun hari libur atau turun hujan karena masa reseptif bunga bentina hanya 1 2 hari saja. Penundaan penyerbukan akan menyebabkan fruit set yang terbentuk tidak akan maksimal. Kesulitan dalam proses penyerbukan terjadi jika pada pagi hari turun hujan. Kondisi lahan dan pohon induk betina yang licin akibat diguyur hujan menyebabkan petugas harus berhati-hati dan kesulitan dalam melakukan penyerbukan. Pemanenan tandan benih. Kegiatan panen merupakan kegiatan akhir pada divisi kebun benih. Tandan benih yang siap dipanen berumur antara bulan atau hari setelah penyerbukan. Pemanenan dilakukan dengan cara didodos atau dipanjat. Tandan yang abnormal dan fruit set dibawah 20 % diafkir dan dilaporkan dalam berita acara. Panen tandan benih dilakukan oleh dua tim. Setiap tim teridiri dari 2 orang. Satu orang bertugas sebagai pemanen dan satu orang lagi bertugas membungkus tandan dengan karung dan mengangkutnya menggunakan angkong ke pinggir jalan produksi. Panen menggunakan sistem hanca giring. Satu tim panen biasanya bisa memanen tandan tergantung pada jumlah tandan yang siap dipanen di lahan. Kegiatan yang dilakukan selama mengikuti kegiatan pemanenan yakni memanen satu buah tandan dan mengankut ke mobil pick up. Jumlah tandan yang dipanen pada saat mengikuti kegiatan pemanenan adalah 38 tandan benih. Tandan dari lapangan diangkut menuju divisi persiapan benih dengan menggunakan mobil pick up. Masalah yang dihadapi pada proses pemanenan yakni sistem hanca yang digunakan yakni hanca giring dan tidak adanya petugas yang melakukan sensus tandan benih yang siap dipanen. Kedua hal tersebut menyebabkan petugas pemanen harus mengelilingi blok dan dalam satu hari bisa lebih dari satu blok yang harus dikelilingi oleh pemanen. Masalah tersebut dapat diatasi dengan cara memperkerjakan petugas untuk melakukan sensus. Petugas pemanen dapat langsung menuju pohon-pohon induk betina yang terdapat tandan yang siap

8 dipanen dan tidak perlu memeriksa satu persatu pokok induk jika ada petugas sensus panen. 26 Persiapan Benih Divisi persiapan benih bertugas mempersiapkan benih sebelum benih diproses untuk dikecambahkan. Kegiatan yang dilakukan oleh divisi persiapan benih yakni penerimaan tandan, pencacahan, pemipilan, pengupasan, perlakuan fungisida, pembersihan, pengeringan, penanganan (seleksi, penghitungan, dan pengemasan) benih, pemberian label identitas benih, dan penyimpanan benih. Penerimaan tandan. Kegiatan penerimaan tandan merupakan proses serah terima tandan benih dari lapangan yakni dari divisi kebun benih ke divisi persiapan benih untuk diolah menjadi benih. Tandan benih yang datang dari lapangan diterima untuk diperiksa kebenarannya. Pemeriksaan meliputi kondisi label tandan tertancap kokoh di antara spikelet, identitas label harus sesuai dengan data panen yaitu nomor referensi, tanggal pollinasi, tanggal pembungkusan, petugas pembungkusan, petugas penyerbukan, nomor pokok, nomor tepung sari yang digunakan. Tandan yang telah diperiksa identitasnya, kemudian ditimbang dan dicatat beratnya. Kegiatan yang dilakukan saat melakukan magang dibagian persiapan benih yakni melakukan pemeriksaan label, identitas tandan, dan penimbangan tandan. Hasil pengamatan penerimaan tandan pada hari pertama jumlah tandan yang diterima 45 tandan, hari kedua 41 tandan dan hari ketiga 41 tandan (Lampiran 5). Pencacahan. Pencacahan merupakan proses pemisahan spikelet dari stalk. Pencacahan dilakukan sehari setelah tandan diterima dari lapangan. Alat yang digunakan dalam pencacahan yaitu kampak, kaca mata pelindung, dan sarung tangan. Pencacahan dilakukan di tempat khusus yaitu bak bersekat dengan satu sisi terbuka. Penggunaan bak bersekat dilakukan untuk menjaga kemurnian benih agar tiap persilangan tidak bercampur dengan yang lainnya. Label tandan dikaitkan diboks penampung spikelet tandan. Pekerja pencacahan hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 10 menit. Pekerja melakukan pencacahan 20

9 27 tandan/hk. Proses pencacahan membutuhkan tingkat kehati-hatian yang tinggi (Gambar 1). Persentase buah rusak akan tinggi karena terkena kampak jika pencacahan tidak dilakukan dengan hati-hati. Kondisi fisik dan fisiologi pekerja sangat mempengaruhi hasil pencacahan. (a) (b) Gambar 1. Proses pencacahan : (a) pencacahan dan (b) hasil pencacahan Pemipilan. Pemipilan merupakan proses pemisahan berondolan dengan spikelet. Pemipilan dilakukan untuk mempermudah proses selanjutnya. Proses pemipilan dilakukan secara manual yakni dengan menggunakan alat berupa pisau atau pukul kayu (Gambar 2). Pukul kayu digunakan saat tandan sudah sangat masak sehingga berondolan mudah lepas dari spikelet. Kegiatan yang dilakukan di bagian pemipilan yakni membantu pekerja melakukan pemipilan. Pekerja pemipil akan mengalami kesulitan dalam melakukan pemipilan jika spikelet yang harus dipipil belum benar-benar masak. Terkadang pekerja diliburkan atau dipindahkan ke bagian lain untuk menunggu spikelet menjadi lunak agar memudahkan proses pemipilan. Gambar 2. Proses pemipilan Pengupasan. Berondolan yang telah terpisah dari spikelet selanjutnya dikupas daging buahnya dengan menggunakan mesin depericarper. Pengupasan bertujuan untuk menghilangkan mesokarp sehingga diperoleh benih kelapa sawit

10 28 yang sempurna. PT. BSM memiliki 3 mesin depericarper jenis vertikal. Proses pengupasan berlangsung kurang lebih 10 sampai 25 menit, tergantung jumlah dan tingkat kematangan berondolan. Satu hari kerja setiap unit depericarper mampu mengolah 20 tandan benih. Kecepatan putaran mesin depericarper yang digunakan yakni 1,450 rpm. Pengupasan dilakukan terpisah untuk setiap persilangan. Dipastikan pada mesin tidak ada benih yang tertinggal dari pengupasan sebelumnya. Kegiatan yang dilakukan selama magang di bagian pengupasan buah yakni membantu memasukkan buah ke dalam mesin dan mengeluarkan buah hasil pegupasan (Gambar 3) kemudian membawanya ke bagian pembersihan benih. Proses pengupasan mengalami kesulitan jika buah yang dikupas belum benarbenar masak karena membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memprosesnya. Hasil dari pengupasan juga tidak bersih, masih terdapat serabut yang menempel pada benih jika buah yang dikupas belum benar-benar masak. (a) (b) (c) Gambar 3. Proses pengupasan : (a) mesin depericarper tampak samping, (b) mesin depericarper tampak atas, dan (c) benih hasil pengupasan. Pembersihan benih dan perlakuan fungisida. Pengupasan daging buah yang dilakukan oleh mesin depericarper tidak 100 % bersih, masih ada sisa serabut pada benih. Pembersihan sisa-sisa serabut yang masih ada pada benih dilakukan secara manual yakni dengan menggunakan alat pisau cutter. Benih yang telah benar-benar bersih selanjutnya dicuci dengan menggunakan deterjen. Konsentrasi deterjen yang digunakan yakni 0.05 %. Pencucian dengan deterjen bertujuan untuk menghilangkan minyak dan kotoran yang menempel pada benih. Benih yang telah dibersihkan direndam di dalam larutan desinfektan dengan konsentrasi 1.25 % selama kurang lebih 3 menit (Gambar 4). Tujuan perendaman pada desinfektan yakni untuk membunuh bakteri yang ada pada benih. Benih juga

11 29 direndam di dalam larutan fungisida mancozeb dengan konsentrasi 0.25 %. Peredaman dengan mancozeb berfungsi mencegah terjadi serangan jamur pada benih saat penyimpanan. Kegiatan yang dilakukan selama magang di bagian pembersihan benih yakni melakukan pembersihan benih sebanyak satu keranjang benih atau satu persilangan. Kegiatan lainnya yakni melakukan pencucian benih dengan deterjen dan perendaman benih di dalam larutan fungisida dan disinfektan. Pekerja diharuskan membersihkan benih dalam satu hari sebanyak 20 keranjang benih. Pekerjaan pembersihan benih ini akan mengalami kesulitan jika hasil dari pengupasan benih tidak sempurna, masih banyak serabut yang menempel pada benih. (a) (b) (c) (d) Gambar 4. Proses pembersihan benih dan perlakuan fungisida: (a) pembersihan, (b) pencucian, (c) bak perendaman fungisida, (d) bak perendaman desinfektan. Pengeringan benih. Benih yang telah dibersihkan dan telah direndam dengan desinfektan dan mancozeb dimasukkan ke dalam ruangan pengeringan. Benih disusun diatas rak-rak yang terbuat dari kawat kasa (Gambar 5). Pengeringan benih dilakukan dengan menggunakan kipas angin dan pendingin ruangan AC (Air Conditioning) dengan suhu ± 22 0 C sebagai pengatur kelembaban. Benih dikeringkan selama kurang lebih 24 jam. Gambar 5. Pengeringan benih di atas rak pengeringan.

12 30 Kegiatan yang dilakukan selama magang di bagian pengeringan benih yakni melakukan proses pengeringan benih dengan cara menyusun benih di atas rak-rak. Benih dengan jumlah yang banyak penyusunannya dibagi menjadi dua rak agar pengeringan benih bisa merata. Selain melakukan kegiatan pengeringan, kegiatan lainnya yakni melakukan pengamatan terhadap serangan jamur. Hasil pengamatan menunjukkan hasil bahwa selama proses pengeringan setelah pembersihan benih tidak terdapat serangan jamur. Penanganan dan penyimpanan benih. Benih yang telah kering diseleksi, dihitung jumlahnya, dikemas, dan pemasangan label identitas benih. Benih yang diafkir yakni benih kecil yang beratnya kurang dari 2 g, benih bercangkang putih, benih rusak, dan benih terserang jamur (Gambar 6). Benih dihitung dengan menggunakan alat bantu ram. Benih yang telah dihitung dikemas ke dalam plastik yang telah dilubangi sisinya. Satu kantong plastik berisi kurang dari benih. Benih dipisah menjadi dua kantong plastik jika jumlah benih lebih dari benih. Benih yang telah dihitung jumlahnya diberi label identitas benih dan label barcode. Benih yang telah dikemas kemudian dimasukkan ke dalam ruang penyimpanan sementara. Suhu ruang simpan dikontrol pada suhu 20 0 C ± 2. Kelembaban udara di dalam ruang penyimpanan juga dikontrol dengan menggunakan dehumidifier. Kegiatan yang dilakukan yakni membantu dalam melakukan seleksi benih dan penghitungan benih. Satu hari melakukan seleksi sebanyak 5-10 hasil persilangan. Perusahaan mengeluarkan kebijakan yakni untuk benih bercangkang putih dan benih kecil yang bobotnya kurang dari 2 g dan lebih dari 1.5 g tidak diafkir tapi digunakan oleh internal perusahaan. Kebijakan ini diambil perusahaan karena tingginya produksi benih putih dan rendahnya produksi benih normal dengan bobot 2 g, sehingga sangat disayangkan jika benih putih dan benih normal yang bobotnya kurang dari 2 g dan lebih dari 1.5 g jika harus diafkir. Kebijakan ini menambah pekerjaan untuk pekerja karena pekerja harus menimbang satu persatu-satu benih yang diperkirakan berada pada selang tersebut. Pekerja harus lebih teliti untuk melakukan seleksi dan penghitungan sementara tidak ada premi untuk para pekerja. Kegiatan lainnya yakni melakukan

13 pengamatan terhadap jumlah benih normal, jumlah benih putih, dan jumlah benih kecil, dan benih rusak. Hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel Tabel 4. Hasil seleksi benih pada divsi persiapan benih Jumlah benih (butir/tandan) No. Kode Normal Kecil Putih Rusak Total Total Persentase Sumber : Data primer Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tingkat kerusakan dari kegiatan persiapan benih rendah. Tingkat kerusakan yang dihasilkan dibawah 1 % yakni sebesar 0.36 %. Hal ini mengindikasikan bahwa proses pengolahan benih di bagian persiapan benih telah dilakukan dengan baik dan sesuai prosedur yang telah ditetapkan perusahaan. (a) (b) (c) (d) Gambar 6. Seleksi benih : (a) benih normal, (b) benih kecil, (c) benih putih, dan (d) benih pecah. Pengiriman benih ke unit prosessing benih. Pengiriman benih ke unit prosessing benih akan dilakukan setelah stok benih cukup dan ada permintaan benih dari unit prosessing benih. Jumlah benih yang dikirim setiap satu kali pengiriman kurang lebih sebanyak butir. Packing list pengiriman benih terlebih dahulu dibuat sebelum benih dikirim dan sekaligus pemeriksaan ulang label benih. Benih dikirim setelah packing list dan pengecekan selesai.

14 32 Pengiriman menggunakan mobil boks yang dilengkapi AC dengan suhu yang sama seperti penyimpanan sementara yakni 20 0 C ± 2. Mobil boks pengiriman disegel untuk mencegah terjadinya kecurangan selama pengiriman benih. Kegiatan yang dilakukan yakni membantu melakukan pembuatan packing list pengiriman (Lampiran 6). Prosessing Benih Benih yang diterima oleh divisi prosessig benih adalah benih yang telah diolah oleh divisi persiapan benih. Unit prosessing benih memproses benih menjadi kecambah siap salur. Penerimaan, penyimpanan, dan penandaan benih. Pemeriksaan dokumen pengiriman dilakukan saat penerimaan benih dari kebun. Dokumen pengiriman dicocokkan dengan nomor kotak benih, nomor referensi pada label identitas dan jumlah kantong benih. Benih disimpan di ruang penyimpanan dengan suhu 18 0 C C setelah proses pengecekan selesai. Benih terlebih dahulu diberi tanda dengan menggunakan mesin seed printing (Gambar 7) sebelum benih diproses. Penandaan benih bertujuan untuk mencegah terjadinya pemalsuan dan tertukarnya benih antar varietas. Kegiatan yang dilakukan pada saat magang yakni melakukan kegiatan penandaan benih dengan menggunakan mesin seed printing. Jumlah benih yang ditandai sebanyak lima kantong atau persilangan. Varietas yang diberi tanda yakni varietas Sriwijaya 1. Gambar 7. Proses penandaan benih. Perendaman I. Perendaman I bertujuan untuk menaikkan kadar air benih menjadi %. Pada perendaman I benih dipindah dari kantong plastik ke dalam kantong jaring dan direndam dalam bak perendaman selama tujuh hari (Gambar 8). Selama proses perendeman digunakan aerator agar selalu tersedia

15 33 oksigen untuk benih. Air rendaman diganti setiap hari untuk menghilangkan jamur dan partikel-partikel yang menempel pada benih. Kegiatan yang dilakukan selama magang yakni melakukan perendaman I sebanyak satu kali karena selama magang di bagian pematahan dormansi hanya ada satu kali proses perendaman I. Jumlah katong yang yang direndam sebanyak 64 kantong. Perendaman dilakukan pada tanggal 11 Mei 2012 dan diangkat pada tanggal 18 Mei (a) Gambar 8. Perendaman benih: (a) bak perendaman dan (b) benih yang sedang direndam. (b) Pengeringan I. Benih dikeluarkan dari bak perendaman setelah benih direndam selama tujuh hari, kemudian dicuci bersih dengan menggunakan air. Benih yang telah dicuci bersih, kemudian dibilas dengan larutan hypocloride berkonsentrasi 0.15 %. Benih direndam di dalam larutan fungisida mancozeb dengan konsentrasi 0.15 % dan benomil 0.05 % selama tiga menit untuk mencegah kontaminasi jamur (Gambar 9). Benih dikeringanginkan selama jam pada rak-rak pengeringan sampai tidak terlihat basah. Pengeringan dilakukan dengan bantuan kipas angin. Kegiatan yang dilakukan pada pengeringan I yakni menyiapkan larutan hypocloride dan membilas benih dengan larutan hypocloride. Kegiatan lain yakni melakukan penebaran benih ke atas rak-rak pengeringan benih. (a) (b) Gambar 9. Proses pengeringan (a) pencucian dan perlakuan fungisida dan (b) penebaran benih di rak pengeringan.

16 34 Pemanasan. Benih disimpan dalam tray setelah benih cukup kering. Setiap tray diisi benih sebanyak butir. Setiap persilangan dapat terbagi menjadi beberapa tray. Benih kemudian dimasukkan ke dalam ruang pemanas selama hari pada suhu o C (Gambar 10). Benih dikeluarkan dari ruang pemanas untuk dianginkan, diseleksi benih yang terserang jamur, dan penyemprotan aquades setiap minggu. Penyemprotan dilakukan agar KA benih tetap pada kisaran %, sehingga enzim-enzim glukosa pada benih dapat aktif. Kegiatan pemanasan yang dilakukan selama magang sebanyak satu kali proses pemanasan. Kegiatan yang dilakukan yakni memindahkan benih dari rakrak pengeringan ke dalam tray. Tray diberi nomor urut tray dan nomor urut Prosessing. Tray yang telah diberi nomor urut dimasukkan ke dalam ruang pemanas. Kegiatan lainnya yang dilakukan yakni melakukan penganginan. Penganginan yang dilakukan sebanyak tray. Kendala yang dihadapi pada kegiatan pemanasan yakni kelembaban udara di ruang pemanas yang rendah. Hal ini menyebabkan kadar air benih menurun. Wadah yang berisi air ditempakan ke dalam ruang pemanas untuk mengatasi masalah tersebut agar kelembaban di dalam ruangan tinggi. (a) (b) Gambar 10. Proses pemanasan : (a) benih di dalam ruang pemanas dan (b) proses penganginan. Perendaman II. Perendaman II dilakukan sama seperti perendaman I, yang membedakan hanya lama perendaman yaitu hanya empat hari. Tujuan perendaman II adalah untuk menaikkan kadar air dari 18 % menjadi %. Peningkatan kadar air ini dilakukan untuk mempermudah proses imbibisi pada benih. Tidak ada kegiatan perendaman II selama melakukan kegiatan magang di bagian pematahan dormansi.

17 35 Pengeringan II. Pengeringan II sama seperti pada pengeringan I. Benih dikeringkan dengan menggunakan kipas angin selama ± 3 jam sehingga secara visual tampak 1/3 basah, yaitu apabila digenggam terasa lembab namun air tidak sampai membasahi tangan. Benih kemudian disimpan kembali pada tray dan siap dikirim ke ruang inkubasi. Label benih harus selalu terpasang pada tray. Kegiatan yang dilakukan dalam proses pengeringan II yakni membilas benih dengan larutan hypocloride dan merendam benih dalam larutan fungisida. Selain itu juga melakukan penebaran benih ke rak-rak pengeringan dan melakukan pemindahan benih dari rak-rak ke dalam tray setelah ± 3 jam. Kegiatan lainnya yakni melakukan penimbangan bobot benih setelah pengeringan II dan penomoran tray kemudian membawa tray ke dalam ruangan inkubasi. Inkubasi benih. Benih yang secara visual telah tampak 1/3 basah hasil pengeringan II disusun di tray-tray lalu dimasukkan ke dalam ruang inkubasi (Gambar 11). Kondisi suhu ruang inkubasi dipertahankan pada kisaran o C. Kisaran hari ke-3 sampai ke-7 setelah benih diinkubasi, benih dikeluarkan dari ruangan inkubasi lalu dilakukan penyemprotan benih dengan menggunakan larutan fungisida berkonsentrasi 0.1 %. Penyemprotan dilakukan untuk mencegah serangan jamur dan agar KA benih tetap pada kisaran % selama berada di dalam ruang inkubasi. Seleksi dilakukan terhadap benih yang terserang jamur pada saat penyemprotan. Benih terserang jamur dipisahkan dan diafkir. Benih yang telah disemprot larutan fungisida dimasukkan kembali ke ruang inkubasi. Gambar 11. Ruang inkubasi Kegiatan penyemprotan benih yang dilakukan selama magang sebanyak 15 tray. Kendala yang terjadi pada proses inkubasi yakni sulitnya mempertahankan suhu ruang inkubasi. Suhu ruang inkubasi pada malam hari

18 dapat turun dibawah 27 0 C. Sebab mesin pemanas ruangan masih manual, sehingga suhu ruang inkubasi harus terus dikontrol. 36 Seleksi kecambah. Seleksi ke-1 dilakukan pada hari ke-9 setelah benih dimasukkan ke dalam ruang inkubasi. Seleksi ke- 2 dan seterusnya sampai seleksi ke-9 dilakukan setiap 4 ± 2 hari. Penyemprotan mancozeb 0.1 % menggunakan hand sprayer dilakukan setiap seleksi untuk mencegah kecambah kering dan serangan jamur (Gambar 12). Seleksi dilakukan untuk memisahkan kecambah normal, kecambah patah, kecambah abnormal, dan kecambah terserang jamur (Gambar 13). Kriteria kecambah normal yang diseleksi yakni (1) kecambah berbentuk T dilihat dari tempurung, (2) kecambah berwarna putih atau kuning gading dengan panjang radikula tidak lebih dari 20 mm, (3) tidak patah, tidak kerdil dan sehat (tidak terserang jamur atau busuk), (4) dapat dibedakan antara radikula dan plumula. Kriteria kecambah yang di afkir yakni (1) kecambah membentuk huruf U atau V dilihat dari tempurung, (2) kecambah patah atau kerdil, (3) kecambah terserang jamur. Kecambah normal hasil seleksi dimasukkan ke dalam kantong plastik. Satu kantong plastik berisi 100 kecambah. Kantong kemasan kecambah digembungkan supaya tersedia cukup oksigen untuk kecambah. Bagian atas kantong diikat kemudian diberi label benih dan barcode. Satu kantong hanya boleh satu varietas. Kantong kecambah yang telah berisi 100 kecambah dimasukkan ke dalam boks kardus. Satu boks berisi 26 kantong kecambah. Kegiatan seleksi dilakukan selama magang sebanyak 3 kali yakni pada seleksi 1, 5 dan 9 (Tabel 5). Kegiatan yang dilakukan pada proses seleksi yakni seleksi kecambah dengan kriteria 3 mm radikula dan 1 mm plumula. Tabel 5. Hasil seleksi kecambah divisi prosesing benih Tanggal seleksi Seleksi ke- Jumlah kecambah Normal Abnormal Jamur Sumber : Data primer

19 37 Hasil seleksi kecambah dicatat diformulir seleksi kecambah dan label identitas benih. Kegiatan lainnya yakni membuat label identitas kecambah dan memasang label barcode yang sebelumnya telah dibuat oleh mandor seleksi pada kantong kecambah. Proses seleksi membutuhkan ketelitian yang tinggi sehingga pada bagian seleksi rata-rata pekerja wanita. Pekerja wanita dianggap lebih teliti dibandingkan pria. (a) (b) Gambar 12. Proses seleksi: (a) seleksi kecambah dan (b) penghitungan kecambah. (a) (b) (c) (d) Gambar 13. Perkecambahan : (a) kecambah normal, (b) kecambah abnormal, (c) kecambah undifferent, dan (d) kecambah busuk. Pengemasan kecambah. Kecambah hasil seleksi akan dikemas jika ada permintaan pengiriman kecambah dari bagian pemasaran perusahaan. Kecambah yang belum dikemas disimpan di ruang penyimpanan kecambah kelapa sawit. Suhu ruangan di pertahankan pada kisaran C. Kecambah yang akan dikemas dikeluarkan dari katong. Kantong diisi dengan busa kurang lebih 1/3 kantong dan busa disemprot dengan fungisida mancozeb 0.1 %. Kecambah disemprot dengan fungisida mancozeb 0.1 % sebelum dimasukkan ke dalam kantong yang telah berisi busa. Penyemprotan fungisida bertujuan agar kecambah tidak terserang jamur dan agar kecambah tetap segar selama pengiriman.

20 38 Kecambah dimasukkan ke dalam kantong dengan bantuan corong plastik. Kecambah diletakkan ditengah-tengah kantong. Busa ditambahkan disekitar kecambah sampai kecambah terlindung penuh oleh busa. Kecambah disemprot lagi dengan fungisida sebelum kantong diikat. Kantong kecambah disusun di boks kardus yang telah ditulis nomor boks, jenis varietas, tanggal kirim, dan alamat pembeli. Boks yang telah berisi kantong kecambah ditimbang lalu diikat dengan tali straiper dan dipasang seal segel pada boks (Gambar 14). Pembuatan packing list, Germinated Seeds Delivery Letter, Berita Acara Serah Terima Kecambah, Delivery Order, dan sertifikat kecambah dilakukan setelah semua kecambah selesai dikemas. Kecambah siap dikirim setelah semua dokumen lengkap. Kegiatan yang dilakukan pada saat magang pada bagian pengemasan kecambah yakni membantu melakukan pengemasan kecambah dan melakukan penyusunan kantong kecambah yang telah dikemas ke dalam boks pengiriman. (a) (b) Gambar 14. Pengepakan kecambah : (a) kantong kecambah dan (b) kardus pengepak. Quality Control Quality control (QC) atau quality assurance (QA) merupakan divisi yang lingkup kerjanya melakukan pengawasan dan verifikasi proses pada hampir semua divisi yang dibawahi oleh unit produksi benih. Sasaran mutu dan verifikasi divisi quality control adalah kontrol pada setiap tahap proses produksi bahan tanam kelapa sawit. Kegiatan pengamatan hasil pembungkusan dilakukan oleh petugas QC setiap hari kerja. Kegiatan yang dilakukan yakni mengecek kondisi pembungkus, nomor referensi, dan kebersihan pohon induk betina. Sampel pengamatan sebanyak 10 % dari total pembungkusan. Hasil pengamatan pembungkusan saat

21 39 mengikuti kegiatan pengamatan bersama petugas QC semua sampel yang diamati dalam kondisi baik. Kegiatan pengamatan hasil penyerbukan dilakukan dengan sampel 10 % dari total penyerbukan. Hasil pengamatan menunjukkan terdapat satu hasil penyerbukan yang rusak dimasuki serangga, sehingga tandan tersebut harus diafkir. Petugas melakukan pengecekan bobot tandan dan nomor referensi pada proses pencacahan. Hasil pengecekan yang dilakukan bersama petugas QC menunjukkan bahwa tidak ada kesalahan dalam proses pencacahan tandan benih. Sampel pengamatan sebanyak 10 % dari total panen. Pengecekan nomor referensi, konsentrasi deterjen, konsentrasi desinfektan, konsentrasi fungisida, benih pecah, dan kebersihan benih dari mesokarp dilakukan oleh petugas QC pada saat proses pembersihan benih dan perlakuan fungisida. Hasil pengecekan masih terdapat benih yang belum bersih dari mesokarp. Pekerja mendapat teguran dari petugas QC agar lebih teliti dalam membersihkan mesokarp. Sampel pengecekan sebanyak 1 tandan benih setiap 20 tandan yang diproses. Pengecekan nomor referensi, lama pengeringan, dan kondisi benih dilakukan sebelum pengeringan benih. Hasil pengecekan menunjukkan lama pengeringan benih yakni jam. Hal ini masih sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan perusahaan. Kondisi benih yang dikeringkan sudah kering secara merata. Benih sudah dapat dikemas untuk selanjutnya dikirim ke Unit Prosessing Benih. Sampel pengecekan sebanyak 1 tandan benih setiap 20 tandan yang diproses. Petugas melakukan penghitungan ulang jumlah benih pada proses penanganan benih. Jumlah sampel penghitungan ulang sebanyak 1 kantong benih setiap pekerja penanganan benih. Kegiatan yang dilakukan yakni membantu petugas QC menghitung ulang benih hasil penghitungan pekerja. Hasil penghitungan ulang terdapat satu orang pekerja yang hasil hitungannya salah. Pekerja tersebut langsung mendapat teguran dari petugas QC agar lebih teliti. Pengecekan kondisi segel, packing list, penimbangan ulang kantong benih, dan penghitungan ulang jumlah benih dilakukan oleh petugas QC pada saat benih diterima dari kebun. Kegiatan yang dilakukan pada saat magang yakni

22 40 penghitungan ulang jumlah benih. Hasil penghitungan menunjukkan tidak ada selisih jumlah benih dengan hasil penghitungan di bagian persiapan benih dan prosessing benih. Sampel penghitungan ulang sebanyak 10 % dari total penerimaan benih. Benih sebelum diproses di unit prosessing benih terlebih dahulu dilakukan pengujian embrio. Pengujian embrio yang dilakukan pada saat magang 1 sampel. Hasil pengamatan menunjukkan semua embrio dalam sampel tersebut termasuk embrio normal. Sampel pengujian sebanyak 10 % dari total persilangan, setiap persilangan diambil 5 butir benih. Pengujian kadar air benih dilakukan setelah pengeringan I dan II. Pengamatan hasil penghitungan kadar air setelah pengeringan I dan II tidak dilakukan selama magang. Kegiatan yang dilakukan hanya pengambilan sampel dan proses pengovenan benih. Sampel pengujian sebanyak 10 % dari total persilangan, setiap persilangan diambil 10 butir benih. Petugas QC harus mengawasi dan mencatat jumlah benih dan kecambah afkir pada saat akan melakukan pemusnahan kecambah dan benih. Aspek Manajerial Pendamping Mandor Mandor merupakan karyawan tingkat non staf yang bertugas membantu jalannya pekerjaan di lapangan dan administrasi di kantor. Mandor merupakan penghubung antara asisten divisi dengan karyawan yang bertugas langsung di lapangan. Mandor mempunyai peranan yang penting dalam pelaksanaan tugas di lapangan. Mandor bertugas mengatur karyawan yang dibawahinya. Mandor juga harus mempunyai pengetahuan tentang tugas yang akan dikerjakan oleh karyawannya, mulai dari prosedur pekerjaan, prestasi kerja, kondisi lapangan yang dihadapi. Selain itu mandor juga bertugas mencatat hasil pekerjaan pada hari tersebut. Mandor bertanggung jawab langsung kepada asisten divisi. Mandor wajib mengikuti kegiatan apel pagi pada pukul WIB dan sudah harus berpakaian lengkap dan rapi setiap hari kerja. Kegiatan yang dilakukan selama magang sebagai pendamping mandor yakni menjadi pendamping mandor I yang merangkap sebagai mandor pembungkusan

23 41 dan penyerbukanasi, dan mandor panen. Kegiatan yang dilakukan pada saat bekerja sebagai mandor I setiap apel pagi melakukan absensi pekerja di divisi kebun benih. Pengawasan proses pembungkusan, penyerbukan dan pembersihan pokok seleksi juga dilakukan saat menjadi pendamping mandor I. Jumlah tenaga kerja penyerbukan dan pembungkusan yang diawasi masing-masing 11 orang. Kegiatan lainnya yakni melakukan pengawasan pada pelatihan pekerja pembungkusan sebanyak 6 orang. Sebagai pendamping mandor juga harus melakukan pembuatan rencana kerja pembungkusan dan penyerbukan serta membuat laporan harian hasil pembungkusan dan penyerbukan. Contoh laporan harian mandor pembungkusan dapat dilihat pada Lampiran 7. Contoh laporan harian mandor penyerbukan dapat dilihat pada Lampiran 8. Kegiatan yang dilakukan pada saat bekerja sebagai pendamping mandor panen yakni mengawasi pekerja yang melakukan pemanenan. Jumlah tim panen yang diawasi yakni 1 tim, satu tim terdiri dari dua orang. Mandor harus terus memotivasi pekerja agar pekerja tetap semangat dalam melakukan pemanenan, karena pada saat bertindak sebagai pendamping mandor tandan yang siap panen sedikit sehigga pekerja banyak yang bermalas-malasan. Kegiatan lainnya yakni harus melakukan serah terima tandan kepada divisi persiapan benih. Sama seperti pendamping mandor penyerbukan dan pembungkusan, sebagai mandor panen juga harus membuat laopran harian, rencana dan realisasi panen tandan benih. Contoh laporan harian mandor panen dapat dilihat pada Lampiran 9. Pendamping Asisten Suatu perkebunan biasanya terdiri dari manajer kebun, senior asisten, asisten dan kepala administrasi. Seluruh staf bertanggung jawab penuh selama 24 jam dalam menjaga dan mengelola kebun. Asisten adalah orang yang memimpin di suatu divisi yang terdapat dikebun. Asisten bertugas untuk mengelola divisi yang dipimpin yang dibantu oleh mandor. Asisten bertanggung jawab kepada manajer terhadap kondisi di dalam divisi yang dipimpin. Seorang asisten juga bertugas mengelola administrasi divisi dengan teratur. Asisten juga bertugas menyusun program, rencana kerja dan budget divisi yang dipimpinnya. Asisten juga harus mengetahui kondisi dan permasalahan yang dihadapi divisi yang dipimpin baik di lapangan, kantor, maupun keadaan sosial karyawan

24 42 yang dipimpin. Seorang staf harus mampu berpikir level kebun yakni mampu mengetahui kebijakan manajemen yang telah ditetapkan berupa visi dan misi perusahaan. Seorang asisten juga harus mampu membina hubungan yang baik dengan masyarakat agar pendirian kebun mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Kegiatan yang dilakukan sebagai pendamping asisten antara lain melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kerja harian pembungkusan, penyerbukan, dan panen. Pengamatan terhadap kondisi lapang juga dilakukan saat menjadi pendamping asisten. Hasil kegiatan pengamatan kondisi pohon bersama asisten kebun benih yakni kondisi pohon induk betina di lapang cukup terawat meskipun pada beberapa pohon perlu perawatan. Pohon induk jantan yang diamati semuanya dalam kondisi terawat dengan baik. Kegiatan lainnya yang dilakukan selama menjadi pendamping asisten yakni mempelajari dan membantu kegiatan administrasi pada divisi kebun benih.

VI.SISTEM PRODUKSI BENIH

VI.SISTEM PRODUKSI BENIH VI.SISTEM PRODUKSI BENIH UNTUK PRODUKSI BENIH MAKA HARUS TERSEDIA POHON INDUK POPULASI DURA TERPILIH POPULASI PISIFERA TERPILIH SISTEM REPRODUKSI TANAMAN POLINASI BUATAN UNTUK PRODUKSI BENIH PERSIAPAN

Lebih terperinci

No. Tanggal Kegiatan Divisi/Lokasi Pembimbing 1 16/02/2012 Tiba dilokasi magang. Bapak Khusnu Penjelasan teknis mengenai pelaksanaan magang

No. Tanggal Kegiatan Divisi/Lokasi Pembimbing 1 16/02/2012 Tiba dilokasi magang. Bapak Khusnu Penjelasan teknis mengenai pelaksanaan magang LAMPIRAN 60 Lampiran 1. Jurnal harian kegiatan magang No. Tanggal Kegiatan Divisi/Lokasi Pembimbing 1 16/02/2012 Tiba dilokasi magang Bapak Khusnu Penjelasan teknis mengenai pelaksanaan magang Bapak Edwin

Lebih terperinci

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG PRODUKSI DAN PEMASARAN BENIH KELAPA SAWIT Pemuliaan Kelapa Sawit Program pemuliaan kelapa sawit memiliki tujuan utama untuk memperoleh individu-individu superior dalam hal produktivitas

Lebih terperinci

PENGOLAHAN TANDAN BENIH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) MENJADI BENIH SIAP SALUR DI PT. BINA SAWIT MAKMUR, SUMATERA SELATAN

PENGOLAHAN TANDAN BENIH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) MENJADI BENIH SIAP SALUR DI PT. BINA SAWIT MAKMUR, SUMATERA SELATAN PENGOLAHAN TANDAN BENIH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) MENJADI BENIH SIAP SALUR DI PT. BINA SAWIT MAKMUR, SUMATERA SELATAN Oleh : AGRY WIDYA PRADIPTA A24080070 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. Posisi PPKS sebagai Sumber Benih di Indonesia

PEMBAHASAN. Posisi PPKS sebagai Sumber Benih di Indonesia 57 PEMBAHASAN Posisi PPKS sebagai Sumber Benih di Indonesia Hasil pertemuan yang dilakukan pengusaha sumber benih kelapa sawit yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Perkebunan pada tanggal 12 Februari 2010,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu 25 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Kegiatan penelitian dilaksanakan di PPKS Marihat, Pematang Siantar, Sumatera Utara. Penelitian dilakukan selama 5 bulan, dimulai tanggal 1 Maret hingga 24 Juli 2010.

Lebih terperinci

Program Lay ut Medan Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention Medan Toba Lake Niagara Hotel Parapat Pematang Siantar Marihat Parapat Colloquium Location Field Clinic Location 1. Teknik Hatch

Lebih terperinci

Lampiran 1. Jurnal Mingguan Kegiatan Magang PPKS Marihat

Lampiran 1. Jurnal Mingguan Kegiatan Magang PPKS Marihat LAMPIRAN 71 72 Lampiran 1. Jurnal Mingguan Kegiatan Magang PPKS Marihat No Tanggal Uraian Kegiatan Divisi/ Lokasi Pembimbing 1 01/03/10-05/03/10 Tiba di PPKS Marihat, Sumatera Utara. Penjelasan mengenai

Lebih terperinci

METODE MAGANG. Tempat dan Waktu

METODE MAGANG. Tempat dan Waktu 10 METODE MAGANG Tempat dan Waktu Kegiatan magang dilaksanakan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Unit Usaha Marihat, Provinsi Sumatera Utara selama 4 bulan yang dimulai dari tanggal 1 Maret 2010

Lebih terperinci

TEKNOLOGI PRODUKSI TSS SEBAGAI ALTERNATIF PENYEDIAAN BENIH BAWANG MERAH

TEKNOLOGI PRODUKSI TSS SEBAGAI ALTERNATIF PENYEDIAAN BENIH BAWANG MERAH TEKNOLOGI PRODUKSI TSS SEBAGAI ALTERNATIF PENYEDIAAN BENIH BAWANG MERAH Budidaya bawang merah umumnya menggunakan umbi sebagai bahan tanam (benih). Pemanfaatan umbi sebagai benih memiliki beberapa kelemahan

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi, Divisi Persuteraan Alam, Ciomas, Bogor. Waktu penelitian dimulai

Lebih terperinci

Pengolahan Tandan Benih Kelapa Sawit (Elaeis guiinensis Jacq) di Pusat Penelitian Kelapa Sawit Marihat, Sumatera Utara

Pengolahan Tandan Benih Kelapa Sawit (Elaeis guiinensis Jacq) di Pusat Penelitian Kelapa Sawit Marihat, Sumatera Utara Pengolahan Tandan Benih Kelapa Sawit (Elaeis guiinensis Jacq) di Pusat Penelitian Kelapa Sawit Marihat, Sumatera Utara Processing of Oil Palm (Elaeis guiinensis Jacq.) Seed Bunch in Pusat Penelitian Kelapa

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PERUSAHAAN Sari Sehat Multifarm didirikan pada bulan April tahun 2006 oleh Bapak Hanggoro. Perusahaan ini beralamat di Jalan Tegalwaru No. 33 di

Lebih terperinci

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG Sistem Pengadaan Bahan Tanaman Kelapa Sawit Pusat Penelitian Kelapa Sawit merupakan salah satu produsen terbesar bahan tanaman kelapa sawit di Indonesia. Bahan tanaman unggul

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian ± 32 meter di

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian ± 32 meter di 14 BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih, Fakultas Pertanian,, Medan dengan ketinggian ± 32 meter di atas permukaan laut, pada

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian

III. METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2015 sampai bulan Januari 2016 di kebun salak Tapansari, Candibinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Luas

Lebih terperinci

Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering. Alat yang digunakan dipilih dengan

Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering. Alat yang digunakan dipilih dengan Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering. Alat yang digunakan dipilih dengan tepat untuk mengurangi terbawanya bahan atau tanah

Lebih terperinci

PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1

PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1 PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1 Wahyu Asrining Cahyowati, A.Md (PBT Terampil Pelaksana) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya I. Pendahuluan Tanaman kakao merupakan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas 24 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan September 2012 sampai bulan Januari 2013. 3.2 Bahan

Lebih terperinci

PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG

PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG Oleh : Sugeng Prayogo BP3KK Srengat Penen dan Pasca Panen merupakan kegiatan yang menentukan terhadap kualitas dan kuantitas produksi, kesalahan dalam penanganan panen dan pasca

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) berasal dari Afrika dan termasuk famili Aracaceae (dahulu: Palmaceae). Tanaman kelapa sawit adalah tanaman monokotil

Lebih terperinci

TEKNIK SELEKSI BIJI PEPAYA

TEKNIK SELEKSI BIJI PEPAYA TEKNIK SELEKSI BIJI PEPAYA Oleh : Elly Sarnis Pukesmawati, SP., MP Untuk mendapatkan benih (biji) pepaya yang baik, yaitu yang memiliki kadar kemurnian benih cukup tinggi, harus dilakukan pemilihan atau

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Kelapa Sawit 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan/industri berupa pohon batang lurus dari famili Arecaceae. Tanaman tropis ini dikenal sebagai penghasil minyak sayur yang berasal

Lebih terperinci

Uji mutu fisik dan fisiologis benih sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen)

Uji mutu fisik dan fisiologis benih sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen) Standar Nasional Indonesia Uji mutu fisik dan fisiologis benih sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen) ICS 65.020.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman jagung termasuk dalam keluarga rumput-rumputan dengan spesies Zea. sistimatika tanaman jagung yaitu sebagai berikut :

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman jagung termasuk dalam keluarga rumput-rumputan dengan spesies Zea. sistimatika tanaman jagung yaitu sebagai berikut : II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Jagung Tanaman jagung termasuk dalam keluarga rumput-rumputan dengan spesies Zea mays L. Secara umum, menurut Purwono dan Hartanto (2007), klasifikasi dan sistimatika tanaman

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. Produksi Serbuk Sari. Tabel 5. Jumlah dan Persentase Produksi Serbuk Sari. Progeni Nigeria Ghana Ekona Avros Dami Yangambi

PEMBAHASAN. Produksi Serbuk Sari. Tabel 5. Jumlah dan Persentase Produksi Serbuk Sari. Progeni Nigeria Ghana Ekona Avros Dami Yangambi 34 PEMBAHASAN Produksi Serbuk Sari Ketersediaan serbuk sari yang berkualitas merupakan salah satu faktor penting dalam proses produksi benih. Ketersediaan serbuk sari menentukan keberlangsungan produksi

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Pemuliaan

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Pemuliaan 14 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Pemuliaan Tanaman Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro pada tanggal 27 Maret 2017-23 Mei

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Produktivitas Tanaman Kelapa Sawit Potensi produksi tanaman kelapa sawit ditentukan oleh beberapa faktor sebagai berikut.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Produktivitas Tanaman Kelapa Sawit Potensi produksi tanaman kelapa sawit ditentukan oleh beberapa faktor sebagai berikut. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Produktivitas Tanaman Kelapa Sawit Potensi produksi tanaman kelapa sawit ditentukan oleh beberapa faktor sebagai berikut. A. Jenis atau Varietas Kelapa Sawit Jenis (varietas)

Lebih terperinci

TI JAUA PUSTAKA Botani Tanaman Kelapa Sawit

TI JAUA PUSTAKA Botani Tanaman Kelapa Sawit 4 TI JAUA PUSTAKA Botani Tanaman Kelapa Sawit Dalam dunia botani, semua tumbuhan diklasifikasikan untuk memudahkan dalam identifikasi secara ilmiah. Metode pemberian nama ilmiah (latin) ini dikembangkan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan berupa pohon batang lurus dari famili Palmae yang berasal dari Afrika. Kelapa sawit pertama kali diintroduksi ke Indonesia

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENELITIAN. dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau.

PELAKSANAAN PENELITIAN. dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau. 21 PELAKSANAAN PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 (dua) tahap, pertama pertumbuhan dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau. Tahap I. Pengujian Karakter Pertumbuhan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Manajemen Agribisnis Kelapa Sawit Syarat Tumbuh Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA Manajemen Agribisnis Kelapa Sawit Syarat Tumbuh Kelapa Sawit 3 TINJAUAN PUSTAKA Manajemen Agribisnis Kelapa Sawit Agribisnis kelapa sawit membutuhkan organisasi dan manajemen yang baik mulai dari proses perencanaan bisnis hingga penjualan crude palm oil (CPO) ke

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kakao unggul dalam pembudidayaan tanaman kakao (Mertade et al., 2011).

I. PENDAHULUAN. kakao unggul dalam pembudidayaan tanaman kakao (Mertade et al., 2011). I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang berperan penting dalam perekonomian Indonesia yang terus mendapat perhatian untuk dikembangkan.upaya

Lebih terperinci

Penelitian ini dilaksanakan pada Juni sampai Oktober 2014 di Rumah Kaca. Lapangan Terpadu dan Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman

Penelitian ini dilaksanakan pada Juni sampai Oktober 2014 di Rumah Kaca. Lapangan Terpadu dan Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada Juni sampai Oktober 2014 di Rumah Kaca Lapangan Terpadu dan Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

PETUNJUK LAPANGAN 3. PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG

PETUNJUK LAPANGAN 3. PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG PETUNJUK LAPANGAN 3. PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG 1. DEFINISI Panen merupakan pemetikan atau pemungutan hasil setelah tanam dan penanganan pascapanen merupakan Tahapan penanganan hasil pertanian setelah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit 4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Taksonomi kelapa sawit yang dikutip dari Pahan (2008) adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisi : Embryophyta Siphonagama Kelas : Angiospermeae Ordo : Monocotyledonae

Lebih terperinci

Benih kelapa dalam (Cocos nucifera L. var. Typica)

Benih kelapa dalam (Cocos nucifera L. var. Typica) Standar Nasional Indonesia Benih kelapa dalam (Cocos nucifera L. var. Typica) ICS 65.020 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah dan definisi...

Lebih terperinci

II. PENGAWETAN IKAN DENGAN PENGGARAMAN & PENGERINGAN DINI SURILAYANI

II. PENGAWETAN IKAN DENGAN PENGGARAMAN & PENGERINGAN DINI SURILAYANI II. PENGAWETAN IKAN DENGAN PENGGARAMAN & PENGERINGAN DINI SURILAYANI 1. PENGERINGAN Pengeringan adalah suatu proses pengawetan pangan yang sudah lama dilakukan oleh manusia. Metode pengeringan ada dua,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Ketinggian tempat

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Ketinggian tempat III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan di UPT-Kebun Bibit Dinas di Desa Krasak Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Ketinggian tempat berada 96

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian,, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai dari bulan April 2016 hingga Mei

Lebih terperinci

HASIL PELAKSA AA KEGIATA MAGA G

HASIL PELAKSA AA KEGIATA MAGA G 21 HASIL PELAKSA AA KEGIATA MAGA G Kegiatan yang dilakukan penulis selama melaksanakan magang di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) meliputi : (1) mengikuti orientasi mengenai divisi-divisi yang ada

Lebih terperinci

Benih panili (Vanilla planifolia Andrews)

Benih panili (Vanilla planifolia Andrews) Standar Nasional Indonesia Benih panili (Vanilla planifolia Andrews) ICS 65.020 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah dan definisi... 1 3

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah di laksanakan di Rumah Kaca Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Jalan Bina Widya KM 12,5 Simpang Baru Kecamatan Tampan Pekanbaru yang berada

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian produksi benih dilaksanakan di Kebun Percobaan Politeknik Negeri

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian produksi benih dilaksanakan di Kebun Percobaan Politeknik Negeri III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian produksi benih dilaksanakan di Kebun Percobaan Politeknik Negeri Lampung mulai dari bulan Maret sampai Juni 2009. Pengujian viabilitas benih

Lebih terperinci

Dalam proses ekstraksi tepung karaginan, proses yang dilakukan yaitu : tali rafia. Hal ini sangat penting dilakukan untuk memperoleh mutu yang lebih

Dalam proses ekstraksi tepung karaginan, proses yang dilakukan yaitu : tali rafia. Hal ini sangat penting dilakukan untuk memperoleh mutu yang lebih BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Ekstraksi Tepung Karaginan Dalam proses ekstraksi tepung karaginan, proses yang dilakukan yaitu : 1. Sortasi dan Penimbangan Proses sortasi ini bertujuan untuk memisahkan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan Kebun Percobaan BPTP Natar,

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan Kebun Percobaan BPTP Natar, 17 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan Kebun Percobaan BPTP Natar, Lampung Selatan mulai Maret 2013 sampai dengan Maret 2014. 3.2 Bahan dan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) 4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Kelapa sawit termasuk tanaman monokotil yang secara taksonomi diklasifikasikan ke dalam ordo Palmales, Famili Palmae, Subfamili Cocoidae,

Lebih terperinci

INSTRUKSI KERJA PENANGANAN PASCAPANEN MANGGA GEDONG GINCU

INSTRUKSI KERJA PENANGANAN PASCAPANEN MANGGA GEDONG GINCU PENANGANAN PENDAHULUAN Instruksi kerja merupakan dokumen pengendali yang menyediakan perintah-perintah untuk pekerjaan atau tugas tertentu dalam penanganan pascapanen mangga Gedong Gincu. 1. Struktur kerja

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Gedung Hortikultura Universitas Lampung

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Gedung Hortikultura Universitas Lampung 25 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Gedung Hortikultura Universitas Lampung dengan dua kali percobaan yaitu Percobaan I dan Percobaan II. Percobaan

Lebih terperinci

PELAKSANAAN MAGANG. Pengadaan Bahan Tanam Kelapa Sawit

PELAKSANAAN MAGANG. Pengadaan Bahan Tanam Kelapa Sawit 18 PELAKSANAAN MAGANG Pengadaan Bahan Tanam Kelapa Sawit Proses kegiatan di PPKS Marihat dimulai dari Divisi Breeding Research and Development (BRD), yaitu penentuan populasi dasar tanaman kelapa sawit.

Lebih terperinci

PANEN DAN PASCA PANEN DURIAN

PANEN DAN PASCA PANEN DURIAN PANEN DAN PASCA PANEN DURIAN Oleh : drh. Linda Hadju Widyaiswara Madya BALAI PELATIHAN PERTANIAN JAMBI 2012 PANEN DAN PASCA PANEN DURIAN Oleh : drh. Linda Hadju Widyaiswara Madya BALAI PELATIHAN PERTANIAN

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Sejarah Yayasan Paguyuban Ikhlas Usaha jamur tiram putih di Yayasan Paguyuban Ikhlas didirikan oleh bapak Hariadi Anwar. Usaha jamur tiram putih ini merupakan salah

Lebih terperinci

III.TATA CARA PENELITIAN

III.TATA CARA PENELITIAN III.TATA CARA PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan November 2015 sampai bulan Maret 2016 di Green House dan Lahan Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Mei 2015.

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Mei 2015. III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian di laksanakan di Sumatera Kebun Jamur, Budidaya Jamur, di Jalan, Benteng Hilir, No. 19. Kelurahan, Bandar Khalifah. Deli Serdang. Penelitian

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Riau Jalan H.R Subrantas Km 15 Simpang Baru Panam. Penelitian ini berlangsung

MATERI DAN METODE. Riau Jalan H.R Subrantas Km 15 Simpang Baru Panam. Penelitian ini berlangsung III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan di lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada 5 o 22 10 LS dan 105 o 14 38 BT dengan ketinggian

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca dan laboratorium Ilmu Tanah Fakultas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca dan laboratorium Ilmu Tanah Fakultas 21 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di rumah kaca dan laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian. Waktu penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April hingga

Lebih terperinci

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG 20 PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG Aspek Teknis Kegiatan teknis yang dilakukan pada saat magang meliputi kegiatan budidaya sayuran aeroponik dan DFT serta kegiatan pemasaran. Kegiatan budidaya tanaman sayuran

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Timur Kabupaten Semarang dan di Laboratorium Penelitian Fakultas Pertanian

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Timur Kabupaten Semarang dan di Laboratorium Penelitian Fakultas Pertanian III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian telah dilaksanakan di lahan kering daerah Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang dan di Laboratorium Penelitian Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

MATERI PEMBELAJARAN MANAJEMEN PANEN DAN PASCA PANEN KELAPA SAWIT

MATERI PEMBELAJARAN MANAJEMEN PANEN DAN PASCA PANEN KELAPA SAWIT MATERI PEMBELAJARAN MANAJEMEN PANEN DAN PASCA PANEN KELAPA SAWIT Tujuan manajemen budidaya kelapa sawit adalah untuk menghasilkan produksi kelapa sawit yang maksimal per hektar areal dengan biaya produksi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Kelapa Sawit 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Kelapa Sawit Kelapa sawit merupakan tanaman yang berasal dari Afrika. Tanaman yang merupakan subkelas dari monokotil ini mempunyai habitus yang paling besar. Klasifikasi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Rancangan yang

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Rancangan yang 33 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Rancangan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan lima kali

Lebih terperinci

Benih panili (Vanilla planifolia Andrews)

Benih panili (Vanilla planifolia Andrews) Standar Nasional Indonesia Benih panili (Vanilla planifolia Andrews) ICS 65.020 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah dan definisi... 1 3

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau, Jalan Bina Widya Km 12,5 Kelurahan Simpang Baru Kecamatan Tampan Kota

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN V-34 BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Perusahaan PT.PN III (PT. Perkebunan Nusantara III) Kebun Rambutan merupakan salah satu unit PT. PN III yang memiliki 8 wilayah kerja yang dibagi berdasarkan

Lebih terperinci

Benih kelapa genjah (Cocos nucifera L var. Nana)

Benih kelapa genjah (Cocos nucifera L var. Nana) SNI 01-7158-2006 Standar Nasional Indonesia Benih kelapa genjah (Cocos nucifera L var. Nana) ICS 65.020 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah

Lebih terperinci

TATA LAKSANA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu. Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di

TATA LAKSANA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu. Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di III. TATA LAKSANA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di laboratorium fakultas pertanian UMY. Pengamatan pertumbuhan tanaman bawang merah dan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Percobaan ini dilaksanakan di rumah plastik, dan Laboratorium Produksi

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Percobaan ini dilaksanakan di rumah plastik, dan Laboratorium Produksi III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan ini dilaksanakan di rumah plastik, dan Laboratorium Produksi Perkebunan Fakultas Pertanian, Universitas Lampung Bandar Lampung,

Lebih terperinci

BAB VI PRODUKSI BENIH (SEED) TANAMAN

BAB VI PRODUKSI BENIH (SEED) TANAMAN SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN AGRIBISNIS PERBENIHAN DAN KULTUR JARINGAN TANAMAN BAB VI PRODUKSI BENIH (SEED) TANAMAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT

Lebih terperinci

Gambar. Diagram tahapan pengolahan kakao

Gambar. Diagram tahapan pengolahan kakao PENDAHULUAN Pengolahan hasil kakao rakyat, sebagai salah satu sub-sistem agribisnis, perlu diarahkan secara kolektif. Keuntungan penerapan pengolahan secara kolektif adalah kuantum biji kakao mutu tinggi

Lebih terperinci

III BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan. Kabupaten Pesawaran dari Oktober 2011 sampai April 2012.

III BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan. Kabupaten Pesawaran dari Oktober 2011 sampai April 2012. III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran dari Oktober 2011 sampai April 2012. 3.2 Bahan dan alat Bahan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pemuliaan dan Teknologi Benih

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pemuliaan dan Teknologi Benih III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pemuliaan dan Teknologi Benih Universitas Lampung pada bulan April 2012 sampai dengan Mei 2012. 3.2 Bahan dan Alat Bahan

Lebih terperinci

Lampiran 1 : Deskripsi Varietas Kedelai

Lampiran 1 : Deskripsi Varietas Kedelai Lampiran 1 : Deskripsi Varietas Kedelai VARIETAS ANJASMORO KABA SINABUNG No. Galur MANSURIAV395-49-4 MSC 9524-IV-C-7 MSC 9526-IV-C-4 Asal Seleksi massa dari populasi Silang ganda 16 tetua Silang ganda

Lebih terperinci

TEKNIK PENYEMAIAN CABAI DALAM KOKER DAUN PISANG Oleh : Elly Sarnis Pukesmawati, SP., MP Widyaiswara Muda Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Jambi

TEKNIK PENYEMAIAN CABAI DALAM KOKER DAUN PISANG Oleh : Elly Sarnis Pukesmawati, SP., MP Widyaiswara Muda Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Jambi TEKNIK PENYEMAIAN CABAI DALAM KOKER DAUN PISANG Oleh : Elly Sarnis Pukesmawati, SP., MP Widyaiswara Muda Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Jambi Benih cabai hibrida sebenarnya dapat saja disemaikan dengan

Lebih terperinci

TEKNOLOGI PENANGANAN PANEN DAN PASCAPANEN UNTUK MENINGKATKAN MUTU JAGUNG DITINGKAT PETANI. Oleh: Ir. Nur Asni, MS

TEKNOLOGI PENANGANAN PANEN DAN PASCAPANEN UNTUK MENINGKATKAN MUTU JAGUNG DITINGKAT PETANI. Oleh: Ir. Nur Asni, MS TEKNOLOGI PENANGANAN PANEN DAN PASCAPANEN UNTUK MENINGKATKAN MUTU JAGUNG DITINGKAT PETANI Oleh: Ir. Nur Asni, MS Jagung adalah komoditi penting bagi perekonomian masyarakat Indonesia, termasuk Provinsi

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan UD. Tiga Bawang merupakan sebuah industri kecil menengah yang bergerak dibidang pembuatan keripik dengan bahan baku ubi kayu. UD. Tiga Bawang adalah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Kelapa sawit diperkirakan berasal dari Afrika Barat dan Amerika Selatan. Tanaman ini lebih berkembang di Asia Tenggara. Bibit kelapa sawit pertama kali masuk ke Indonesia

Lebih terperinci

Lampiran 1. Anak Daun Normal dan anak Daun Menggulung

Lampiran 1. Anak Daun Normal dan anak Daun Menggulung LAMPIRA 64 65 Lampiran 1. Anak Daun Normal dan anak Daun Menggulung Anak daun menggulung a. Anak daun menggulung Anak daun normal b. Anak Daun Normal 66 Lampiran 2. Varietas Kelapa Sawit Unggul PPKS 1.

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di dua tempat yaitu, di Laboratorium PKHT IPB, Baranangsiang untuk pengujian kadar air dan penyimpanan dengan perlakuan suhu kamar dan suhu rendah.

Lebih terperinci

METODE MAGANG. Tempat dan Waktu

METODE MAGANG. Tempat dan Waktu METODE MAGANG Tempat dan Waktu Kegiatan magang dilaksanakan selama tiga bulan, yaitu dimulai dari tanggal 13 Februari 2012 sampai 12 Mei 2012 di Teluk Siak Estate (TSE) PT. Aneka Intipersada, Minamas Plantation,

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Tempat dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Sumatera Kebun Jamur, Budidaya Jamur, di Kecamatan Percut Sei TuanKabupaten Deli Serdang, Pemilihan lokasi di

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian

III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 7 bulan pada bulan Mei sampai bulan Desember 2015 di kebun salak Tapansari, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Salak yang

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE 24 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dimulai dari Maret sampai dengan Mei 2013. 3.2 Bahan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Unit Pelayanan Teknis (UPT), Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau. Pelaksanaannya dilakukan pada bulan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Teknis Panen

TINJAUAN PUSTAKA. Teknis Panen 3 TINJAUAN PUSTAKA Teknis Panen Panen merupakan rangkaian kegiatan terakhir dari kegiatan budidaya kelapa sawit. Pelaksanaan panen perlu dilakukan secara baik dengan memperhatikan beberapa kriteria tertentu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kelapa sawit terletak pada keuntungan yang berlimpah karena kelapa sawit masih

I. PENDAHULUAN. kelapa sawit terletak pada keuntungan yang berlimpah karena kelapa sawit masih I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang dewasa ini sangat diminati untuk dikelola atau ditanam, baik oleh pihak BUMN, perkebunan swasta nasional dan asing, maupun

Lebih terperinci

Metode Penelitian. commit to user 100% 13,33% 50% 26,67% 30% 46,67% 25% 60,00% 15% 66,67% 10% 73,33% 4% 80,00% 2% 86,67%

Metode Penelitian. commit to user 100% 13,33% 50% 26,67% 30% 46,67% 25% 60,00% 15% 66,67% 10% 73,33% 4% 80,00% 2% 86,67% III. Metode Penelitian A. Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober 2013 bertempat di Desa Karanggeneng, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca dan di laboratorium dan rumah

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca dan di laboratorium dan rumah III. TATA CARA PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di rumah kaca dan di laboratorium dan rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Februari

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Jagung (Zea mays) adalah tanaman semusim yang berasal dari Amerika

II. TINJAUAN PUSTAKA. Jagung (Zea mays) adalah tanaman semusim yang berasal dari Amerika 4 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman jagung Jagung (Zea mays) adalah tanaman semusim yang berasal dari Amerika Tengah (Meksiko Bagian Selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini, lalu teknologi

Lebih terperinci

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Lahan Percobaan Fakultas

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Lahan Percobaan Fakultas III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan dilaksanakan pada bulan Juli

Lebih terperinci

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH PASCA

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH PASCA AgroinovasI TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH PASCA Dalam menghasilkan benih bermutu tinggi, perbaikan mutu fisik, fisiologis maupun mutu genetik juga dilakukan selama penanganan pascapanen. Menjaga mutu fisik

Lebih terperinci

PEMBAHASA. Proses Pengadaan Bahan Tanaman

PEMBAHASA. Proses Pengadaan Bahan Tanaman 51 PEMBAHASA Proses Pengadaan Bahan Tanaman Pengadaan Bahan Tanaman Secara Konvensional. Teknik pengadaan bahan tanaman secara konvensional di PPKS melalui penyerbukan bantuan (assisted pollination) oleh

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan gambut Desa Rimbo Panjang

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan gambut Desa Rimbo Panjang III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan gambut Desa Rimbo Panjang Kecamatan Kampar dengan ketinggian tempat 10 meter di atas permukaan laut selama 5 bulan,

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA BAHAN ALAM. Herbarium

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA BAHAN ALAM. Herbarium LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA BAHAN ALAM I. II. NOMOR PERCOBAAN NAMA PERCOBAAN : : I (Satu) Pengumpulan Contoh Tumbuhan dan Herbarium III. TUJUAN PERCOBAAN : IV. DASAR TEORI Mengumpulkan beberapa contoh tumbuhan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret Oktober 2014 di

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret Oktober 2014 di III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2014 - Oktober 2014 di Laboratorium Hama Tumbuhan, Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan, Laboratorium Penelitian

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan, Laboratorium Penelitian III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan, Laboratorium Penelitian dan Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 15 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca dan laboratorium silvikultur Institut Pertanian Bogor serta laboratorium Balai Penelitian Teknologi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Kelapa Sawit Pohon kelapa sawit terdiri dari pada dua spesies Arecaceae atau famili palma yang digunakan untuk pertanian komersial dalam pengeluaran minyak kelapa sawit.

Lebih terperinci