4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "4. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 35 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Indeks Panen dan Produksi Tanaman Indeks panen menunjukkan distribusi bahan kering dalam tanaman yang menunjukkan perimbangan bobot bahan kering yang bernilai ekonomis dengan total bobot bahan kering tanaman pada saat panen. Nilai indeks panen tinggi menunjukkan varietas mampu mendistribusikan asimilat lebih banyak ke dalam polong. Nilai indeks panen berbeda nyata antar varietas yang diteliti pada MT (Tabel 6). Varietas Garuda 3, Gajah dan Jerapah tampak mempunyai nilai indeks panen lebih tinggi dibandingkan Pelanduk, Sima, Turangga dan Kidang. Nilai indeks panen rendah yang ditunjukkan Pelanduk, Sima, Turangga dan Kidang menunjukkan bahwa varietas-varietas ini lebih banyak mengakumulasikan bahan keringnya dalam tajuk dibandingkan dalam polong. Tabel 6. Nilai indeks panen kacang tanah pada dua musim tanam Varietas MT-2007 MT-2010 Badak 0.50 bc 0.34 Gajah 0.53 ab 0.32 Garuda a 0.31 Jerapah 0.54 ab 0.25 Kancil 0.47 bc 0.32 Kelinci 0.50 bc 0.24 Kidang 0.37 d 0.23 Mahesa 0.49 bc 0.25 Panter 0.49 bc 0.32 Pelanduk 0.41 cd 0.24 Sima 0.40 cd 0.25 Turangga 0.40 cd 0.25 KK Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5% Pada MT-2010, nilai indeks panen tidak berbeda antar varietas dan nilainya juga lebih rendah daripada MT Pada MT-2010, kondisi cuaca lebih basah dan lama penyinaran lebih sedikit (Tabel 3), populasi dan jarak tanam yang digunakan lebih rapat ( tanaman/ha) dibandingkan pada MT-2007 ( tanaman/ha). Populasi yang lebih rapat ditambah kondisi cuaca yang basah ini tampaknya mendorong persaingan tajuk antar tanaman untuk

2 36 mendapatkan cahaya sehingga asimilat lebih banyak diakumulasikan ke tajuk. Hasil uji ragam gabungan dua lokasi pada karakter Indeks Panen menunjukkan pengaruh genetik (varietas) lebih kuat daripada pengaruh lingkungan (Lampiran 6). Walaupun terdapat perbedaan dalam pendistribusian bahan kering tetapi berdasarkan hasil sidik ragam tidak ditemukan adanya perbedaan produktivitas polong dan biji antar varietas-varietas kacang tanah yang diuji baik pada MT-2007 dan 2010 (Tabel 7). Perbedaan tidak ditemukan, baik pada hasil polong dan biji per tanaman maupun dugaan produktivitasnya, yang merupakan konversi hasil ubinan ke dalam hasil per hektar. Tabel 7. Hasil polong dan biji kacang tanah berdasarkan bobot keringnya pada MT-2007 dan MT-2010 Varietas MT-2007 MT-2010 Polong Biji Polong Biji Polong Biji Polong Biji t/ha..per tanaman.. t/ha..per tanaman.. Badak Gajah Garuda Jerapah Kancil Kelinci Kidang Mahesa Panter Pelanduk Sima Turangga KK Produktivitas tanaman merupakan puncak dari berbagai proses yang terjadi dalam siklus hidup tanaman (Khanna-Chopra 2000). Setiap fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman berpengaruh terhadap produksi. Berikut ini disajikan kapasitas dan aktivitas source dan sink tanaman untuk mendapatkan gambaran mengenai karakter-karakter yang mempengaruhi hasil polong dan pengisian biji kacang tanah.

3 Source Source merupakan bagian tanaman yang berkontribusi dalam menyediakan asimilat untuk pengisian biji. Varietas-varietas kacang tanah yang diuji dibandingkan kapasitas dan aktivitas sourcenya selama fase pengisian biji. Secara umum, data menunjukkan adanya perbedaan antara varietas kacang tanah dalam kapasitas source tetapi tidak dalam aktivitasnya Kapasitas Source Pengamatan kapasitas source meliputi nilai Indeks Luas Daun, bobot kering tajuk, yang terdiri dari bobot batang dan daun, kandungan klorofil, kerapatan stomata serta tinggi batang utama dan percabangan. Tinggi batang utama dan percabangan termasuk kedalam kapasitas source karena selain batang dan cabang dapat berfungsi sebagai sink temporal pada pengisian biji juga dapat mempengaruhi pertambahan luas daun dan efektifitas fotosintesis kanopi Indeks Luas Daun (ILD) Daun merupakan source utama tanaman penghasil asimilat. Luasan daun dapat menggambarkan besarnya kapasitas source tanaman. Luas daun merefleksikan kapasitas fotosintesis dan produksi bahan kering (El Hafid et al. 1998; Anyia and Herzog 2004). Luas daun per unit luas area dimana tanaman tumbuh dikenal dengan istilah Indeks Luas Daun (ILD). ILD, laju fotosintesis kanopi dan sudut daun merupakan penentu produksi bahan kering (Yoshida 1972). Tabel 8 menyajikan data rata-rata Indeks Luas Daun kacang tanah tiap fase tumbuh pada MT-2007 dan MT Hasil uji ragam MT-2007 menunjukkan adanya perbedaan antar varietas pada luasan daun per unit area tumbuh hanya pada periode lanjut menjelang panen (91 HST), sedangkan pada MT-2010 perbedaan antar varietas ditemukan pada periode awal pembentukan ginofor (42 HST). Kondisi ini diduga karena pertanaman hanya diberi pestisida hingga 70 HST sehingga setelah 70 HST nilai ILD bertumpu pada ketahanan varietas terhadap serangan hama penyakit. Kondisi agroklimat pada MT-2011 lebih basah daripada MT-2007 dengan tingkat keawanan tinggi dan lama penyinaran yang lebih rendah diduga mempengaruhi pertumbuhan tajuk. Nilai ILD pada MT-2007

4 38 lebih kecil daripada MT-2010, hal ini diduga karena perbedaan dalam metode pengukuran luas daun. Pada MT-2007, pengukuran ILD menggunakan 20 daun contoh, sedangkan pada MT-2010 pengukuran menggunakan seluruh daun yang ada dalam tanaman. Dugaan nilai ILD yang diperoleh pada MT-2007 diduga lebih kecil dari nilai ILD sesungguhnya, sedangkan nilai ILD pada MT-2010 diduga lebih mendekati nilai sesungguhnya. Tabel 8. Rata-rata Indeks Luas Daun kacang tanah tiap fase tumbuh pada MT-2007 dan MT-2010 Varietas MT-2007 MT-2010 ILD 42 HST ILD 70 HST ILD 91 HST ILD 42 HST ILD 56 HST ILD 70 HST ILD 84 HST Badak bcd 1.45 bc Gajah bcd 3.27 ab Garuda d 3.79 a Jerapah cd 3.10 ab Kancil cd 2.96 abc Kelinci bcd 1.27 c Kidang abc 2.83 abc Mahesa bcd 2.72 abc Panter a-d 1.88 bc Pelanduk bcd 2.94 abc Sima a 2.11 abc Turangga ab 1.88 bc KK Keterangan:angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5% Tanaman kacang tanah akan dapat menerima 95% sinar matahari apabila tanaman mempunyai ILD melebihi nilai kritisnya yang berkisar 3 4 (McCloud et al. 1980). Kiniry et al. (2005) menemukan bahwa nilai ILD antara 5-6 dan nilai k 0,60-0,65 merupakan nilai yang lebih tepat untuk kacang tanah. Dari Tabel 8, pada MT-2010 tampak bahwa nilai ILD Badak, Kelinci, Panter dan Turangga pada periode awal pembentukan polong (42 HST) belum mencapai atau baru mendekati nilai 3. Kelinci dan Panter pada awal pengisian polong (56 HST) rataan indeks luas daunnya juga belum mencapai nilai 5. Dari hasil uji korelasi Pearson pada MT-2010 (Lampiran 9) didapatkan bahwa ILD tidak berkorelasi dengan hasil/bobot polong, akan tetapi ILD pada 42

5 39 dan 56 HST nyata berkorelasi positif dengan kualitas polong (persentase polong penuh) dengan nilai r masing-masing 0,66 dan Pada 70, 84 dan 91 HST, ILD nyata berkorelasi negatif dengan persentase polong penuh dan Indeks Panen (Lampiran 8 dan 9). Adanya korelasi ini mengindikasikan bahwa luas daun pada fase awal pertumbuhan merupakan hal penting yang menentukan pengisian dan kualitas polong kacang tanah, sedangkan luasan daun hijau yang tinggi pada periode setelah puncak pengisian polong cenderung mengurangi kualitas polong Bobot Kering Tajuk Tabel 9 dan 10 menyajikan bobot kering batang dan daun pada MT-2007 dan Berdasarkan hasil uji ragam didapatkan adanya perbedaan kemampuan akumulasi bahan kering dan pembagiannya antar varietas-varietas kacang tanah. Pada MT-2007, beberapa varietas secara statistik menunjukkan perbedaan kemampuan akumulasi bahan kering dalam batang dan daun pada periode pembentukan polong (42 HST), pengisian polong (70 HST) dan pemasakan biji (91 HST). Setelah fase pengisian biji (70 91 HST), rata-rata bobot kering daun pada sebagian besar varietas menurun, sedangkan bobot kering batang konstan dan bobot kering polong terus meningkat. Pada Sima, Turangga dan Kidang, ratarata bobot kering daun setelah periode pengisian biji hingga menjelang panen masih lebih baik daripada varietas lain. Hal ini menunjukkan masih banyak daun hijau pada saat menjelang panen. Pada MT-2010, perbedaan akumulasi bahan kering dalam batang didapatkan berbeda antar varietas hanya pada 84 HST, yang merupakan akhir periode pengisian biji dan awal periode pemasakan biji. Perbedaan akumulasi bahan kering dalam daun berbeda antar varietas pada 42 HST, 70 HST dan 84 HST. Akumulasi bahan kering dalam polong pada 70 HST nyata berbeda antar varietas pada MT-2007, akan tetapi menjelang panen (91 HST) bahan kering dalam polong tidak berbeda antar varietas. Pada MT-2010, akumulasi bahan kering dalam polong tidak ditemukan berbeda antar varietas pada semua periode tumbuh (Tabel 9 dan 10).

6 40 Tabel 9. Bobot kering batang dan daun kacang tanah pada beberapa periode tumbuh pada MT-2007 BATANG DAUN....gram.... Varietas 42 HST 70 HST 91 HST 42 HST 70 HST 91 HST Badak 2,36 c 8,91 f cd 2,00 5,50 c 6.18 c-f Gajah 3,88 bc 14,27 b-e cd 2,85 7,49 bc 5.99 c-f Garuda3 3,89 bc 11,58 def d 2,82 5,11 c 1.52 g Jerapah 3,99 bc 12,12 def a-d 2,91 6,32 bc 3.83 f Kancil 4,46 ab 15,79 bcd a-d 2,73 6,51 bc 4.42 ef Kelinci 3,53 bc 10,13 ef bcd 2,55 7,67 bc 6.85 cde Kidang 6,06 a 20,83 a a 3,63 8,66 abc abc Mahesa 4,51 ab 12,44 b-f a-d 2,66 5,96 c 4.70 def Panter 3,70 bc 13,29 b-f abc 2,95 10,37 ab 8.31 bcd Pelanduk 3,03 bc 12,45 b-f abc 2,12 6,11 c 7.13 cde Sima 4,82 ab 18,30 ab ab 4,10 12,29 a a Turangga 4,56 ab 16,80 abc abc 3,63 12,20 a ab KK Keterangan : Angka-angka dalam satu kolom yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak beda nyata menurut uji DMRT pada taraf 0,05. Tabel 10. Bobot kering batang dan daun kacang tanah pada beberapa periode tumbuh pada MT-2010 Varietas BATANG DAUN..gram.. 42HST 56HST 70HST 84HST 42HST 56HST 70HST 84HST Badak 2,8 6,5 11,4 9,9 c 3,1 b 5,3 9,0 bc 6,2 de Gajah 6,6 11,5 12,5 13,7 bc 9,1 a 7,4 8,4 c 6,4 cde Garuda3 4,7 10,2 11,0 8,9 c 5,3 b 7,5 7,9 c 5,0 e Jerapah 4,9 11,9 13,3 12,7 bc 6,1 ab 8,8 8,6 c 6,5 cde Kancil 4,5 10,0 17,0 14,0 bc 6,1 ab 6,8 10,2 bc 6,8 b-e Kelinci 2,6 7,2 11,5 10,1 c 4,7 b 5,8 10,6 bc 5,6 e Kidang 5,3 13,6 16,0 16,5 b 5,6 b 8,7 11,6 ab 8,9 a-d Mahesa 5,0 11,4 16,4 17,2 b 5,9 ab 9,0 12,1 abc 9,2 abc Panter 3,4 9,0 10,6 10,6 c 3,8 b 6,6 10,3 bc 6,2 de Pelanduk 5,5 12,0 22,2 22,4 a 5,9 ab 8,6 16,3 a 11,3 a Sima 2,8 12,2 16,7 16,3 b 3,5 b 9,8 14,2 ab 9,4 ab Turangga 3,8 10,2 13,5 13,9 bc 4,3 b 8,0 10,9 bc 7,3 b-e KK Keterangan : Angka-angka dalam satu kolom yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak beda nyata menurut uji DMRT pada taraf 0,05.

7 bpol daun bat bpol70 daun70 Bat Turangga Sima Pelanduk Panter Mahesa Kidang Kelinci Kancil Jerapah Garuda3 Gajah Badak Turangga Sima Pelanduk Panter Mahesa Kidang Kelinci Kancil Jerapah Garuda3 Gajah Badak (a) bpol84 bpol daun daun84 bat bat (b) Gambar 3 Perbandingan bobot kering polong, daun dan batang pada (a) 70 dan 91 HST (MT-2007) dan (b) 70 dan 84 HST (MT-2010). Turangga Sima Pelanduk Panther Mahesa Kidang Kelinci Kancil Jerapah Garuda3 Gajah Badak Turangga Sima Pelanduk Panther Mahesa Kidang Kelinci Kancil Jerapah Garuda3 Gajah Badak

8 42 Beberapa varietas setelah fase puncak pengisian polong/biji (70 HST) masih terus mengakumulasikan bahan kering dalam tajuk sambil terus mengisi bahan kering untuk polong (Gambar 3a). Varietas tersebut contohnya adalah Badak, Kidang, Panter, Pelanduk, Sima dan Turangga. Varietas yang lain seperti Gajah, Garuda3, Jerapah, Kancil, Kelinci dan Mahesa cenderung menambah bobot polong setelah 70 HST dengan bobot tajuk yang hampir tetap, bahkan ada yang menurun. Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya proses remobilisasi asimilat untuk pengisian polong/biji. Gambar 3b menunjukkan adanya kecenderungan yang sama pada MT-2010, tetapi karena pengukuran hanya sampai 84 HST perbedaan bahan keringnya belum terlalu tampak. Namun demikian, berdasarkan uji korelasi Pearson (Lampiran 7 dan 8) tidak ditemukan adanya korelasi antara bobot kering daun dan batang dengan bobot/hasil polong tanaman sehingga penurunan bobot kering tajuk pada periode ini tidak berpengaruh terhadap pengisian polong Kandungan Klorofil Dan Kerapatan Stomata Aktivitas fotosintesis juga dapat diukur secara tidak langsung dengan mengukur kandungan klorofil pada MT-2007 dan kerapatan stomata pada MT- 2010, dimana keduanya merupakan apparatus fotosintesis. Tabel 11 menyajikan data kadar klorofil dan kerapatan stomata dari 12 varietas kacang tanah yang diuji. Varietas tidak menunjukkan perbedaan pada kadar klorofil, baik pada fase pembentukan polong (42 HST) maupun pada akhir pengisian biji (70 HST). Kandungan klorofil (mg) per gram berat basah daun dan per satuan luas daun pada 70 HST berkorelasi negatif dengan persentase polong penuh yang ditunjukkan dengan nilai r berturut-turut sebesar -0,58 dan dan berkorelasi positif dengan jumlah polong cipo (r = 0.45). Hasil ini mengindikasikan bahwa varietas yang daunnya tetap hijau hingga akhir fase pengisian biji menghasilkan lebih banyak polong yang kurang terisi penuh (keriput) dan cipo. Stomata penting bagi keluar masuknya CO 2 dan air yang dibutuhkan tanaman dalam proses fotosintesis. Pada kacang tanah, stomata terdapat di permukaan atas dan bawah daun. Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya perbedaan antar varietas pada kerapatan stomata permukaan atas dan bawah daun.

9 43 Rata-rata kerapatan stomata dari varietas-varietas yang diuji berkisar dari stomata/mm 2. Jumlah ini masih dibawah rata-rata jumlah stomata kacang tanah hasil menurut Bhagsari dan Brown (1976) yang mencapai /mm 2. Kerapatan stomata bawah berkorelasi positif dengan jumlah polong/tanaman, jumlah polong penuh/tanaman dan jumlah polong cipo/tanaman yang ditunjukkan oleh nilai r berturut turut sebesar 0,55; 0,53 dan 0,54. Tabel 11. Kadar klorofil dan kerapatan stomata kacang tanah Kadar klorofil (mg/g bobot basah daun) Kerapatan stomata Varietas 42HST 70HST (mm 2 ) Badak Gajah Garuda Jerapah Kancil kelinci Kidang Mahesa Panter Pelanduk Sima Turangga KK Tinggi Batang Utama Dan Percabangan Jumlah cabang dan tinggi batang utama hanya diamati pada MT Jumlah cabang dihitung pada beberapa periode tumbuh, sedangkan tinggi batang utama hanya diukur pada saat panen. Tabel 12 menyajikan data rata-rata jumlah cabang dan tinggi batang utama kacang tanah pada MT Pada tabel ini terlihat bahwa perbedaan percabangan antara varietas ditemukan pada periode lanjut (70 dan 84 HST). Hal ini menunjukkan beberapa varietas masih mengalami pertumbuhan bagian vegetatif yang tinggi pada periode pengisian biji. Beberapa varietas ada yang membentuk maksimal 5 cabang, beberapa varietas lain ada yang memiliki hingga 8 cabang. Percabangan yang muncul pada periode lanjut ini merupakan cabang-cabang yang tidak produktif.

10 44 Tabel 12. Rata-rata jumlah cabang dan tinggi batang utama kacang tanah pada MT-2010 Jumlah Percabangan Tinggi Varietas 42HST 56HST 70HST 84HST (cm) Badak d 5.3 cde 75.6 ab Gajah a-d 6.7 abc 65.6 bc Garuda ab 6.3 a-d 55.1 c Jerapah abc 7.2 a 66.1 bc Kancil a 7.0 a 65.1 bc Kelinci d 5.5 b-e 72.4 ab Kidang bcd 6.8 ab 68.1 bc Mahesa bcd 7.3 a 61.0 bc Panter d 4.8 e 77.1 ab Pelanduk a 7.5 a 75.9 ab Sima bcd 5.2 de 87.9 a Turangga cd 5.0 de 75.2 ab KK Keterangan:angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5% Berdasarkan uji F diperoleh bahwa tinggi batang utama berbeda nyata antar varietas. Sima merupakan varietas dengan tinggi batang utama tertinggi dan Garuda3 adalah yang terendah. Umumnya varietas yang tinggi menghasilkan jumlah cabang yang rendah. Dengan menggunakan uji korelasi Pearson didapatkan bahwa jumlah cabang menunjukkan kecenderungan berkorelasi negatif dengan tinggi batang utama. Varietas dengan jumlah cabang banyak juga nyata berkorelasi positif dengan ILD 42 dan 56 HST. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan tanaman yang bercabang menghasilkan lebih banyak daun pada fase awal pengisian biji. Banyaknya cabang pada awal fase pembentukan ginofor dan pengisian memungkinkan pembentukan lebih banyak ginofor pada 42 dan 56 HST, ini ditunjukkan dengan adanya korelasi positif antara jumlah cabang dengan jumlah ginofor (Lampiran 9). Hal ini diduga adanya cabang memungkinkan lebih banyak ginofor terbentuk pada buku-buku yang dekat dengan permukaan tanah. Tinggi batang utama berkorelasi positif dengan jumlah bunga, jumlah ginofor pada 70 dan 84 HST. Hal ini dapat menyebabkan distribusi asimilat untuk pengisian polong menjadi terganggu. Alasan ini dikuatkan dengan hasil korelasi antara tinggi batang utama dengan persentase polong penuh yang negatif dan

11 45 dengan jumlah cipo dan persentase polong setengah penuh yang positif. Walaupun demikian, tinggi batang utama berkorelasi nyata dengan hasil polong (jumlah dan bobot polong/tanaman) dengan nilai r sebesar 0,56 dan 0, Aktivitas Source Biomassa atau bahan kering tanaman merupakan produk laju fotosintesis bersih per unit luas daun dan total area yang aktif berfotosintesis (Khanna-Chopra 2000). Kemampuan tanaman menghasilkan asimilat diamati melalui laju pertambahan luas daun, laju asimilasi bersih dan laju pertambahan bahan kering Laju Pertambahan Luas Daun Untuk mengamati pertambahan luas daun digunakan data luas daun pada MT-2010 karena hasilnya diduga lebih mendekati rata-rata luas daun sesungguhnya. Gambar 4 menyajikan pertambahan luas daun dari varietasvarietas yang diuji. Pertambahan luas daun disajikan dalam dua gambar, yaitu Gambar 4a dan Gambar 4b, untuk memudahkan pengamatan. Pada MT-2010, rata-rata luas daun tanaman pada tiap varietas terus meningkat hingga 70 HST, kemudian kecepatan pertambahannya menurun setelah periode tersebut. Varietas seperti Gajah, Kancil, Badak (Gambar 4a) dan Kidang, Mahesa, Turangga (Gambar 4b) relatif tidak menunjukkan pertambahan luas daun hijau setelah 70 HST, tetapi Kelinci (Gambar 4a) dan Sima, Panter (Gambar 4b) masih menunjukkan pertambahan. Pertanaman kacang tanah mendapat penyemprotan pestisida hingga 70 HST, sehingga kemampuan varietas menghadapi serangan OPT setelah 70 HST tergantung pada ketahananan varietas tersebut. Jerapah, Garuda3 (Gambar 4a) dan Pelanduk (Gambar 4b) setelah 70 HST luasan daun hijau cenderung menurun. Hal ini diduga karena varietas tidak mampu menahan serangan penyakit bercak daun. Rata-rata nilai ILD Sima pada MT-2007 dan 2010 masih bertambah setelah 70 HST (Tabel 8 dan Gambar 4b). Hal ini menunjukkan varietas ini masih banyak mendistribusikan asimilat untuk pembentukan daun baru hingga menjelang panen.

12 (a) Indeks Luas Daun HST 56HST 70HST 84HST Badak Gajah Garuda3 Jerapah Kancil Kelinci 12.0 (b) Indeks Luas Daun HST 56HST 70HST 84HST Kidang Mahesa Panther Pelanduk Sima Turangga Gambar 4 Pertambahan luas daun pada duabelas varietas kacang tanah (a dan b) pada MT Laju Asimilasi Bersih (LAB) Akumulasi bahan kering merupakan Laju Asimilasi Bersih (LAB) menggambarkan efisiensi fotosintesis daun/tajuk dalam menghasilkan bahan kering (Gardner et al. 1991). Nilai LAB tinggi terjadi pada saat tanaman masih muda dan sebagian besar tajuknya mendapatkan sinar matahari langsung. Nilai LAB menurun seiring dengan pertambahan jumlah/luasan daun yang mengakibatkan makin banyak daun saling menaungi. Daun-daun yang ternaungi tidak dapat berfotosintesis dengan baik, apabila hal ini terjadi pada saat tanaman memasuki periode pengisian biji, maka suplai asimilat untuk pengisian biji dapat terganggu.

13 47 Tabel 13. Rata-rata Laju Asimilasi Bersih kacang tanah pada MT-2007 dan MT Varietas MT2007 MT2010 LAB HST LAB HST LAB HST LAB HST LAB HST LAB HST Badak Gajah Garuda Jerapah Kancil Kelinci Kidang Mahesa Panter Pelanduk Sima Turangga KK Pada Tabel 13 terlihat bahwa tidak ditemukan perbedaan antar varietas dalam nilai LAB. Hal ini menunjukkan adanya efisiensi tajuk (kanopi) dalam menghasilkan bahan kering tidak berbeda antar varietas. Luasan daun yang makin meningkat dan tidak ditunjang dengan tata letak daun yang memungkinkan penetrasi cahaya yang lebih baik menyebabkan efisiensi tajuk dalam menghasilkan bahan kering tidak meningkat Laju Akumulasi Bahan Kering Laju akumulasi/pertambahan bahan kering tanaman per unit luas area per unit waktu atau Laju Tumbuh Tanaman (LTT g/m 2 /hari) diukur dari selisih bobot bahan kering yang dikumpulkan tanaman pada saat panen dengan bobot bahan kering pada fase pengisian biji (42 dan 70 HST). Nilai LTT pada MT-2007 dan MT-2010 disajikan pada Tabel 14. Pada MT-2007 terdapat perbedaan antar varietas dalam kecepatan mengumpulkan bahan kering, tetapi pada MT-2010 perbedaan tersebut tidak tampak secara signifikan. Varietas Sima pada periode 42 HST hingga panen menunjukkan akumulasi bahan kering yang lebih cepat daripada Garuda3, Badak, Gajah, Jerapah, Kelinci dan Mahesa. Nilai LTT pada periode 70 HST hingga

14 48 panen tampak lebih kecil daripada LTT periode 42 HST hingga panen. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman tidak banyak menambah bahan kering setelah 70 HST hingga panen. Pada MT-2010, nilai LTT pada periode 70 HST hingga panen lebih tinggi daripada LTT periode 42 HST hingga panen yang menunjukkan semua varietas setelah 70 HST masih terus menambah bahan kering dalam jumlah yang cukup besar. Tabel 14. Laju Tumbuh Tanaman pada dua periode tumbuh kacang tanah pada MT-2007 dan MT-2010 Varietas MT-2007 MT-2010.(g/m 2 /hari) LTT 42-panen LTT 70-panen LTT 42-panen LTT 70-panen Badak 6.45 bc Gajah 6.65 bc Garuda c Jerapah 6.30 bc Kancil 7.42 abc Kelinci 6.84 bc Kidang 9.32 ab Mahesa 6.38 bc Panter 7.51 abc Pelanduk 8.62 ab Sima a Turangga 8.85 ab KK Rata-rata 7.4± ± ± ±12.5 Keterangan: angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5% Nilai rata-rata LTT pada MT-2007 yang diperoleh dari periode 42 HST hingga panen hanya mencapai 7,4±1,66 g/m 2 /hari. Nilai LTT ini lebih rendah daripada nilai rata-rata LTT kacang tanah menurut Ketring et al. (1982), yaitu sebesar 19,8±4,2 g/m 2 /hari. Hal ini menunjukkan rendahnya bahan kering yang mampu diakumulasikan oleh tanaman. Pada MT-2010, laju pertambahan bahan keringnya sangat tinggi (40.1 ± 8.0 g/m 2 /hari dan 52.8±12.5). Populasi tanaman yang lebih banyak dan kondisi agroklimat tampaknya mengakibatkan tanaman mampu menghasilkan bahan kering yang lebih banyak.

15 49 Walaupun nilai LAB, kandungan klorofil dan kerapatan stomata tidak menunjukkan adanya perbedaan antar varietas, akan tetapi nilai LTT berbeda nyata antar varietas. Hal ini diduga karena LAB, kandungan klorofil dan kerapatan stomata hanya mengukur kemampuan fotosintesis daun tunggal, sedangkan LTT menunjukkan kemampuan kanopi menghasilkan bahan kering. Nilai LTT pada periode 42 HST dan periode 70 HST hingga panen berkorelasi negatif dengan indeks panen yang ditunjukkan dengan nilai r sebesar dan Hal ini mengindikasikan adanya kecenderungan bahwa makin cepat laju akumulasi bahan kering, makin banyak asimilat untuk pertumbuhan tajuk dan semakin sedikit bahan kering yang didistribusikan ke dalam polong/biji Sink Dalam penelitian ini sink produktif yang diamati adalah bobot polong dan biji/tanaman. Untuk memahami dan membandingkan kemampuan varietasvarietas kacang tanah dalam menghasilkan sink tersebut dilakukan dengan mengamati kemampuan menghasilkan sink reproduktif, kapasitas sink, aktivitas sink dan kekuatan sink. Kapasitas sink diartikan sebagai ukuran sink yang dapat diisi oleh asimilat. Aktivitas sink diartikan sebagai laju pengisian polong/biji atau Laju Tumbuh Polong (LTP). Kekuatan sink menggambarkan dominansi sink untuk mendapatkan asimilat Sink Reproduktif Sink reproduktif merupakan sink yang berpotensi untuk menjadi sink produktif. Bagian tanaman yang masuk dalam kategori sink reproduktif adalah bunga dan ginofor. Pengamatan yang dilakukan meliputi jumlah bunga dan ginofor, waktu berbunga, lamanya periode reproduktif dan laju pertambahan ginofor. Pada MT-2007 pengamatan bunga tidak dilakukan Bunga Tabel 15 menyajikan data waktu bunga muncul dan saat 50% populasi berbunga. Banyaknya bunga yang muncul dihitung setiap hari mulai 26 HST hingga 70 HST. Waktu bunga muncul tidak berbeda nyata antar varietas. Rata-

16 50 rata bunga muncul adalah pada 27,8 HST. Masing-masing varietas membutuhkan waktu yang berbeda untuk mencapai 50% populasi berbunga, dimana Mahesa paling lama mencapai 50% populasi berbunga, yaitu pada hari ke-33 setelah tanam. Selisih waktu antara periode bunga dengan waktu panen menggambarkan waktu pengisian polong/biji. Waktu pengisian yang pendek dapat mengakibatkan polong-polong menjadi kurang terisi. Waktu bunga muncul berkorelasi negatif dengan persentase polong penuh (r = -0,65) dan berkorelasi positif dengan persentase polong kurang terisi penuh (r = 0,59), tetapi tidak ditemukan adanya korelasi antara waktu 50% populasi berbunga dengan hasil dan kualitas polong per tanaman. Hal ini dapat diartikan bahwa varietas yang lambat memunculkan bunga cenderung menghasilkan persentase polong penuhnya lebih rendah daripada varietas yang lebih cepat memunculkan bunga. Tabel 15. Waktu bunga muncul, waktu 50% populasi berbunga, periode reproduktif dan persentase polong penuh kacang tanah pada MT-2010 Varietas Bunga muncul (HST) 50% populasi berbunga (HST) Periode Reproduktif (a) % polong penuh Badak abc 69.0 abc 66.7 Gajah c 71.0 ab 72.8 Garuda bc 70.7 ab 71.3 Jerapah c 72.0 a 79.2 Kancil c 72.0 a 73.7 Kelinci ab 68.0 bc 65.7 Kidang c 72.0 a 75.7 Mahesa a 67.0 c 72.3 Panter bc 71.3 a 64.1 Pelanduk c 71.0 ab 68.3 Sima abc 69.0 abc 60.1 Turangga abc 69.0 abc 67.7 KK Keterangan:angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5% (a) dihitung dari selisih waktupanen 100HST dengan waktu 50% populasi berbunga Periode reproduktif dimulai dari saat populasi mencapai 50% berbunga hingga panen (Jogloy et al. 2011). Berdasarkan hasil uji F diperoleh bahwa lamanya periode reproduktif berbeda nyata antar varietas. Mahesa merupakan

17 51 varietas dengan periode reproduktif paling pendek dibandingkan varietas lain, meskipun perbedaannya hanya terpaut 5 hari. Berdasarkan rataan jumlah bunga yang muncul pada setiap varietas yang dihitung dari 26 HST hingga 68 HST diperoleh bahwa periode terbanyak menghasilkan jumlah bunga/tanaman adalah pada kisaran HST, seperti yang terjadi pada Badak, Garuda3, Jerapah, Kancil, Pelanduk, Gajah, Kidang dan Panter (Lampiran 2). Pada varietas Kelinci, Mahesa, Turangga dan Sima bungabunga awal terbentuk lebih lambat dan periode pembentukan pembungaan sedikit lebih panjang (pada kisaran HST) dibandingkan dengan varietas lain. Pembentukan bunga terus berjalan walaupun tanaman memasuki periode pengisian biji. Pertambahan jumlah bunga meningkat cepat pada kisaran HST, kemudian laju pertambahannya mulai berkurang pada saat memasuki periode pembentukan dan pengisian polong. Pada varietas Gajah, Jerapah, Kancil, Kidang, Mahesa, Pelanduk dan terutama Garuda3, hampir tidak terjadi penambahan laju jumlah bunga selama periode pembentukan polong dan pengisian biji (42-70 HST) (Gambar 5a). Laju pertambahan bunga pada Badak, Kelinci, Panter, Sima dan Turangga baru mulai terjadi pada awal periode pengisian polong (56 HST), walaupun mulai melambat, pertambahan jumlah bunganya masih cukup besar (Gambar 5b). Jumlah bunga Gajah Garuda3 Jerapah Kancil Kidang Mahesa Pelanduk HST Jumlah bunga HST Badak Kelinci Panter Sima Turangga (a) (b) Gambar 5 Pertambahan jumlah bunga duabelas varietas kacang tanah pada MT-2010.

18 52 Berdasarkan hasil uji ragam (Lampiran 5), diperoleh bahwa jumlah bunga yang dihasilkan kacang tanah di pengaruhi oleh sifat genetiknya. Pelanduk menghasilkan rata-rata jumlah bunga/tanaman yang lebih tinggi daripada sebagian besar varietas lain, sementara Mahesa menghasilkan rata-rata bunga total per tanaman paling sedikit. Pelanduk menghasilkan bunga paling banyak, tetapi persentase bunga yang tumbuh menjadi polong hanya 26,3%, sedangkan pada Mahesa sejumlah 34,6% dari total bunga yang dihasilkan tumbuh menjadi polong. Persentase bunga yang menjadi polong untuk semua varietas rata-rata hanya sebesar 25,4 %. Efisiensi pembungaan kacang tanah memang rendah, yaitu hanya 10-20% (Cahaner dan Ashri 1974). Tabel 16 menyajikan data rata-rata jumlah bunga tiap periode, persentase bunga yang menjadi polong dan jumlah polong/tanaman pada MT Jumlah bunga berkorelasi positif dengan tinggi batang utama (r = 0.74), yang berarti bahwa tanaman yang habitusnya tinggi akan cenderung menghasilkan lebih banyak bunga daripada yang rendah. Lebih banyak bunga berarti ada kemungkinan menghasilkan lebih banyak ginofor. Tidak semua bunga menjadi ginofor dan tidak semua ginofor menjadi polong. Tabel 16. Rata-rata jumlah bunga tiap periode, persentase bunga yang menjadi polong dan jumlah polong per tanaman pada MT-2010 Varietas Jumlah bunga %bunga Jumlah 42 HST 56 HST 68 HST jadi polong polong /tanaman Badak 32.0 b-e a-e Gajah 38.3 b-e de Garuda a-d de Jerapah 39.1 b-e b-e Kancil 48.3 abc a-d Kelinci 22.0 e cde Kidang 49.3 ab a-d Mahesa 27.9 de e Panter 35.5 b-e abc Pelanduk 57.9 a a Sima 30.9 cde ab Turangga 30.0 de a-e KK Keterangan:angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%

19 53 Ginofor yang berkembang menjadi polong kebanyakan adalah yang terbentuk dari bunga-bunga awal (Cahaner dan Ashri 1974) atau pada awal pembentukan ginofor, yaitu pada 42 HST (Trustinah 1993). Waktu yang dibutuhkan untuk pembungaan hingga polong masak adalah sekitar 2 bulan (Trustinah 1993; Maria 2000). Berdasarkan peubah bunga yang muncul setiap hari, persentase bunga jadi polong dan jumlah polong/tanaman, maka diduga polong-polong yang dihasilkan berasal dari bunga yang mekar dari awal berbunga hingga HST. Bunga dan ginofor yang muncul setelah periode tersebut kemungkinan tidak berkembang menjadi polong sempurna Ginofor Pada MT-2007 terdapat perbedaan yang nyata antar varietas pada peubah jumlah ginofor dan polong yang terbentuk, akan tetapi berat kering yang diakumulasi dalam ginofor dan polong tidak berbeda nyata. Hal ini mengindikasikan bahwa varietas mampu menggantikan jumlah polong yang sedikit dengan ukuran yang lebih besar Hari Sesudah Tanam Badak Gajah Garuda3 Jerapah Kancil Kelinci Kidang Mahesa Panter Pelanduk Sima Turangga Gambar 6 Pertambahan jumlah ginofor per tanaman pada MT Gambar 6 menyajikan data pertambahan jumlah ginofor/tanaman kacang tanah pada MT Dari gambar ini terlihat bahwa varietas Panter dan Kelinci memiliki keunggulan dalam pembentukan sink reproduktif yaitu lebih banyak

20 54 ginofor dibandingkan varietas lainnya. Beberapa varietas tampak masih menambah jumlah ginofornya pada periode akhir pengisian biji (70-91 HST) seperti Panter, Kelinci, Sima, Badak dan Gajah. Penambahan jumlah ginofor pada periode ini berdampak pada berkurangnya asimilat untuk pengisian biji, bahkan walaupun polong terbentuk, pengisian biji tidak maksimal karena waktu pengisian yang tidak mencukupi. Pada MT-2010 tidak ditemukan adanya perbedaan antar varietas dalam menghasilkan ginofor. Varietas Mahesa, yang menghasilkan total bunga paling sedikit, menghasilkan rataan jumlah ginofor yang lebih banyak dibandingkan varietas lain. Gambar 7 memperlihatkan data persentase bunga yang menjadi ginofor. Banyaknya ginofor yang dihasilkan ternyata tidak selalu menghasilkan polong yang banyak, karena rataan jumlah polong/tanaman Mahesa tidak lebih baik daripada varietas lain (lihat juga Tabel 16) Badak Gajah Garuda3 Jerapah Kancil Kelinci Kidang Mahesa Panter Hari Sesudah Tanam Pelanduk Sima Turangga Gambar 7 Pertambahan jumlah ginofor per tanaman pada MT Jumlah ginofor yang dihasilkan pada MT-2010 cenderung lebih banyak daripada MT-2007, akan tetapi persentase ginofor yang menjadi polong pada MT lebih kecil (Tabel 17). Apabila jumlah polong/tanaman dibandingkan dengan total jumlah ginofor pada 42 HST, maka rata-rata ginofor yang kemudian menjadi polong pada MT-2007 sebesar 46,2%, sedangkan pada MT-2010 hanya sebesar 22,8%. Rata-rata persentase bunga yang menjadi ginofor pada MT-2010 sekitar 88,2 %.

21 55 Tabel 17. Persentase ginofor jadi polong pada MT-2007 dan MT-2010 Varietas MT-2007 MT-2010 Badak a-d Gajah a Garuda a-d Jerapah a Kancil a-d Kelinci bcd Kidang a-d Mahesa abc Panter cd Pelanduk ab Sima a-d Turangga d KK Keterangan:angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5% Untuk mendapatkan produksi polong dan biji yang maksimal, maka bunga dan ginofor kacang tanah harus banyak terbentuk pada periode awal periode generatif sehingga ada cukup waktu untuk melakukan pengisian biji. Akan tetapi, seperti juga tanaman kacang-kacang lainnya, tidak semua bunga yang terbentuk menjadi ginofor dan tidak semua ginofor menjadi polong. Sehingga peubah jumlah bunga dan ginofor sulit digunakan sebagai indikator keberhasilan produksi kacang tanah Kapasitas Sink Kapasitas sink menggambarkan jumlah dan ukuran sink yang harus diisi. Pengamatan kapasitas sink meliputi jumlah polong, bobot polong dan bobot 100 biji Jumlah dan Bobot Polong Jumlah bunga yang muncul menunjukkan adanya perbedaan antar varietas. tetapi jumlah ginofor yang dihasilkan pada fase awal pembentukan ginofor (42 HST) tidak ditemukan adanya perbedaan antar varietas. Perbedaan jumlah ginofor muncul pada fase pengisian biji (70 HST) dan menjelang panen (91 HST). Walaupun terdapat perbedaan dalam ginofor yang dihasilkan, akan tetapi jumlah

22 56 polong yang dihasilkan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (Tabel 18). Sementara itu, bobot polong antara varietas berbeda hanya pada 70 HST, namun perbedaan ini tidak ditemukan lagi pada saat menjelang panen (91 HST) dan saat panen. Hal ini mengindikasikan adanya perbedaan antar varietas dalam kecepatan pengisian biji dan waktu panen. Varietas yang cepat mengisi polong atau biji diduga akan memiliki waktu panen yang juga lebih cepat. Pada MT-2007, komponen hasil tanaman yang berupa jumlah polong total, polong penuh, cipo dan persentase polong penuh per tanaman tidak menunjukkan perbedaan antar varietas (Tabel 19). Pada Tabel 19 terlihat bahwa tidak semua varietas mampu menghasilkan rata-rata 15 polong/tanaman. Rata-rata jumlah polong/tanaman hanya mencapai polong, kecuali Badak yang dapat menghasilkan rata-rata jumlah polong/tanaman sebesar polong. Rata-rata jumlah polong/tanaman yang kurang dari 15 ditemukan pada varietas Sima, yaitu sebesar polong/tanaman. Rata-rata persentase polong cipo adalah 3.5% dari jumlah polong total per tanaman. Tabel 18. Rataan jumlah ginofor, jumlah polong dan bobot polong per tanaman pada MT-2007 Varietas Jumlah ginofor Jumlah polong Bobot polong (g) 42 HST 70 HST 91 HST 70 HST 91 HST 70 HST 91 HST Badak abc a d Gajah abc 9.67 cd ab Garuda bcd a-d a Jerapah cd 6.17 d a-d Kancil cd a-d abc Kelinci ab ab abc Kidang cd a-d a-d Mahesa cd bcd cd Panter a abc ab Pelanduk d bcd a-d Sima abc a-d a-d Turangga a-d ab bcd KK Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5% Kecepatan pengisian polong/biji mengindikasikan adanya perbedaan antar varietas. Varietas yang cepat mengisi polong/biji akan menghasilkan lebih

23 57 banyak jumlah polong yang terisi penuh daripada varietas yang lebih lambat dalam pengisian polong/biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase polong penuh hanya cenderung berbeda (Pr>F 0.06) antar varietas. Jerapah, Mahesa, Kancil dan Pelanduk hanya cenderung berbeda persentase polong penuhnya dengan Kelinci dan Sima (Tabel 19). Pada MT-2010, varietas yang diuji menunjukkan perbedaan dalam menghasilkan ginofor pada awal fase pembentukan ginofor (42 HST) dan fase pengisian (70 HST), akan tetapi jumlah polong yang terbentuk tidak berbeda antar varietas (Tabel 20). Varietas hanya menunjukkan kecenderungan perbedaan jumlah polong pada 56 dan 70 HST (Pr>F 0.08 dan 0.06), akan tetapi pada fase lanjut/fase akhir pengisian (84 HST) ditemukan perbedaan antar varietas. Pada 84 HST, varietas Pelanduk dan Mahesa menghasilkan lebih banyak jumlah polong/tanaman daripada Badak, Kelinci, Sima dan Garuda3. Walaupun jumlah polong/tanaman berbeda antar varietas, tetapi bobot polong pada tiap fase tidak menunjukkan perbedaan antar varietas. Hal ini diduga bahwa varietas dengan jumlah polong lebih sedikit mengisi sink dengan ukuran yang lebih besar. Tabel 19. Rata-rata jumlah polong total, polong penuh, cipo dan persentase polong penuh per tanaman kacang tanah pada MT-2007 Varietas Jumlah polong total Jumlah polong penuh Jumlah polong cipo Persentase polong Penuh Badak Gajah Garuda Jerapah Kancil Kelinci Kidang Mahesa Panter Pelanduk Sima Turangga KK Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%

24 58 58 Tabel 20. Rataan jumlah ginofor, jumlah polong dan bobot polong per tanaman pada MT-2010 Varietas Jumlah Ginofor Jumlah Polong Bobot polong (g) 42HST 56HST 70HST 84HST 56HST 70HST 84HST 56HST 70HST 84HST Badak bc abc cd Gajah a bc bcd Garuda ab c d Jerapah ab c bcd Kancil bc bc a-d Kelinci bc abc cd Kidang abc bc a-d Mahesa abc bc ab Panther bc ab abc Pelanduk abc a a Sima 6.83 c abc cd Turangga bc ab a-d KK Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%

25 59 Pada MT-2007 ditemukan bahwa tidak semua polong terisi penuh biji. Untuk mengetahui proses pengisian, maka pada MT-2010 dilakukan pengamatan polong yang terisi biji tetapi tidak penuh, yang disebut dengan polong setengah penuh. Kriteria polong penuh, setengah penuh dan cipo dapat dilihat pada Lampiran 2. Polong cipo merupakan polong yang pada saat kering berkerut tidak berisi, sedangkan polong setengah penuh adalah polong yang saat kering bentuk polongnya sempurna, tetapi pada saat dibuka biji tidak mengisi polong dengan penuh. Adanya polong setengah penuh menggambarkan proses pengisian biji yang belum selesai. Tabel 21. Rata-rata jumlah polong total, polong penuh, ½ penuh, cipo, persentase polong penuh dan polong setengah penuh per tanaman kacang tanah pada MT2010 Varietas Jumlah polong total Jumlah polong penuh Jumlah polong ½ penuh Jumlah polong cipo Persentase polong penuh Persentase polong ½ penuh Badak a 3.3 a-d 66.7 bc 12.9 ab Gajah cd 2.2 bcd 72.8 ab 6.9 bcd Garuda bcd 1.7 d 71.3 abc 9.4 a-d Jerapah d 1.7 d 79.2 a 3.5 d Kancil d 2.4 bcd 73.7 ab 4.8 cd Kelinci a-d 2.9 a-d 65.8 bc 9.7 a-d Kidang d 1.9 cd 75.7 ab 4.3 cd Mahesa bcd 2.4 bcd 72.3 ab 7.3 a-d Panter abc 3.4 abc 64.1 bc 10.8 abc Pelanduk a-d 4.2 a 68.3 abc 7.7 a-d Sima ab 3.5 ab 60.1 c 13.8 a Turangga bcd 2.2 bcd 67.7 abc 9.9 a-d KK Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5% Pada MT-2010, rata-rata jumlah polong total per tanaman pada saat panen mencapai polong/tanaman. Beberapa varietas dapat mencapai rataan lebih dari 19 polong/tanaman, dan beberapa varietas lainnya tidak mencapai rataan 15 polong/tanaman (Tabel 21). Walaupun jumlah polong/tanaman pada 84bHST nyata berbeda antar varietas, tetapi jumlah polong/tanaman saat panen tidak berbeda antar varietas. Kondisi yang sama terjadi pula pada MT-2007, sehingga

26 60 dapat disimpulkan bahwa tidak ditemukan adanya perbedaan antar varietas dalam menghasilkan banyaknya polong/tanaman. Berdasarkan hasil uji ragam gabungan dua musim tanam diperoleh bahwa jumlah polong/tanaman merupakan karakteristik genetik (Lampiran 6). Jumlah polong yang mampu dihasilkan tanaman merupakan kapasitas sink, sehingga perlu diupayakan agar potensi genetik ini dapat dimaksimalkan pada periode pembentukan polong. Jumlah polong/tanaman pada semua varietas relatif sama, tetapi banyaknya polong yang terisi penuh biji berbeda antar varietas. Keadaan ini dapat dijadikan indikator perbedaan varietas dalam mendistribusikan asimilat ke dalam sink. Selain itu, persentase polong penuh per tanaman sebagian besar dipengaruhi oleh faktor genetik Bobot 100 Butir Ukuran biji menentukan banyaknya asimilat yang didistribusikan untuk pengisian polong. Bobot 100 butir biji dapat digunakan untuk menentukan besar kecilnya ukuran biji. Semakin tinggi bobot 100 butir biji, semakin besar kapasitas yang harus diisi untuk setiap sink. Tabel 22. Bobot 100 biji kacang tanah pada dua musim tanam Varietas MT-2007 MT-2010 gram. Badak 37.2 d 40,0 Gajah 60.0 a 41,6 Garuda cd 45,6 Jerapah 54.8 ab 41,7 Kancil 54.5 ab 49,6 Kelinci 41.0 cd 38,0 Kidang 53.1 abc 52,0 Mahesa 53.4 abc 40,5 Panter 38.5 d 38,2 Pelanduk 56.0 ab 43,2 Sima 43.9 bcd 35,1 Turangga 42.0 cd 35,1 KK Keterangan:angka yang diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%

27 61 Tabel 22 menyajikan data bobot 100 butir biji pada dua musim tanam. Pada tabel ini dapat dilihat bahwa bobot 100 butir biji nyata berbeda antar varietas pada MT-2007, sedangkan pada MT-2010 tidak ditemukan perbedaan antar varietas. Pada MT-2007, varietas Gajah, Jerapah, Kancil dan Pelanduk mempunyai bobot 100 biji yang lebih tinggi daripada Panter, Badak, Kelinci dan Garuda3, sedangkan pada MT-2010 ukuran biji semua varietas relatif hamper sama. Kondisi ukuran biji pada MT-2010 diduga dapat mempengaruhi banyaknya asimilat yang dapat disimpan dalam biji, sehingga mempengaruhi ukuran biji yang dihasilkan Aktivitas Sink Laju akumulasi bahan kering dalam polong per unit area per unit waktu atau Laju Tumbuh Polong diukur dari selisih bobot polong pada saat panen dengan bobot ginofor dan polong pada 42 HST (MT-2007) atau pada 56 HST (MT-2010). Pada MT-2010, LTP dihitung dari awal pembentukan polong (56 HST) hingga panen. Perhitungan ini dilakukan karena pada 42 HST sebagian besar tanaman belum membentuk polong sehingga LTP belum dapat dihitung. Tabel 23 menyajikan nilai LTP dari pertanaman pada MT-2007 dan MT Tabel 23. Laju Tumbuh Polong kacang tanah pada MT-2007 dan MT-2010 Varietas LTP42-panen (MT-2007) LTP 56-panen (MT-2010)..g/m2/hari.. Badak a Gajah bc Garuda bc Jerapah c Kancil bc Kelinci bc Kidang c Mahesa c Panter ab Pelanduk abc Sima abc Turangga bc Rataan 3.5± ±2.2 KK Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%

28 62 Pada MT-2007, laju akumulasi bahan kering dalam polong tidak berbeda antar varietas, sedangkan pada MT-2010 laju akumulasi bahan kering dalam polong berbeda antar varietas. Pada MT-2010, varietas Badak dan Panter menunjukkan laju akumulasi bahan kering dalam polong lebih baik daripada varietas-varietas lain, kecuali dengan Pelanduk dan Sima (Tabel 23). Nilai Laju Tumbuh Tanaman merupakan penjumlahan laju akumulasi bahan kering tajuk dan laju akumulasi bahan kering dalam polong. Perbandingan rata-rata LTP dengan rataan LTT pada periode yang sama (Tabel 14) menunjukkan bahwa akumulasi bahan kering dalam tajuk pada MT2007 tidak mendominasi akumulasi bahan kering dalam polong (LTT=7.4±1.7; LTP=3.5±0.3), sedangkan pada MT-2010 laju akumulasi bahan kering dalam tajuk jauh lebih besar daripada nilai LTP (LTT=40.1±8.0; LTP=5.7±2.2). Hubungan LTP pada periode 42 dan 56 HST hingga panen dengan bobot polong dan bobot biji/tanaman memiliki korelasi positif. Kekuatan hubungan antara LTP dengan bobot polong sebesar 0.99 dan 0.96, sedangkan dengan bobot biji/tanaman sebesar 0.77 dan 0.60 (Lampiran 11 dan 12). Nilai LTP periode 56 HST hingga panen berkorelasi negatif dengan persentase polong penuh (r = ), tetapi pada MT-2007, LTP periode 42 HST hingga panen tidak berkorelasi dengan persentase polong penuh. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak tanaman mengakumulasi bahan kering dalam polong, maka hasil polong dan biji cenderung meningkat, akan tetapi terdapat pula kecenderungan jumlah polong penuhnya menurun. Penurunan jumlah polong penuh ini diduga karena asimilat ditempatkan dalam banyak sink (polong/biji) Kekuatan Sink (Sink Strength) Kekuatan sink menunjukkan kemampuan sink untuk mendapatkan asimilat. Dalam penelitian ini kekuatan sink diamati melalui perbandingan laju akumulasi bahan kering dalam polong atau LTP dengan LTT, serta dari persentase polong penuh yang dihasilkan pertanaman.

29 Partition Coefficient Duncan et al. (1978) memperkenalkan koefisien partisi (PC = Partitioning Coefficient) yang merupakan rasio antara Pod Growth Rate (LTP) dan Crop Growth Rate (LTT). Apabila nilai koefisien partisi 1 berarti laju pertambahan berat kering polong lebih besar atau sama dengan laju pertambahan berat kering tanaman. Semakin tinggi nilai koefisien partisi menunjukkan semakin banyak asimilat didistribusikan ke bagian ekonomis. Tabel 24 menyajikan data nilai koefisien pembagian asimilat (PC) antara polong dan total bahan kering tanaman saat panen pada tiap varietas. Pada tabel ini ditunjukkan bahwa nilai koefisien partisi, baik pada MT-2007 (PC periode 42 HST-panen) maupun MT-2010 (PC periode 56-panen), tidak berbeda antar varietas. Hal ini menguatkan dugaan bahwa tidak ada perbedaan antar varietas kacang tanah dalam mendistribusikan bagian asimilat yang diperuntukkan untuk mengisi polong/biji. Nilai PC pada MT-2007 lebih besar daripada MT-2010, akan tetapi bahan kering yang dihasilkan pada MT-2010 lebih besar daripada MT Tabel 24 Nilai koefisien partisi (PC) kacang tanah pada MT-2007 (PC42-panen) dan MT-2010 (PC56-panen) Varietas PC 42-panen PC 56-panen Badak Gajah Garuda Jerapah Kancil Kelinci Kidang Mahesa Panter Pelanduk Sima Turangga KK Besarnya bagian asimilat yang didistribusikan untuk polong sejak periode 42 HST dan 56 HST hingga panen (PC 42-panen dan PC 56-panen) nyata berkorelasi positif dengan Indeks Panen (r = 0.86 dan 0.61). Pada MT-2010, PC

30 64 56-panen juga berkorelasi positif dengan bobot polong/tanaman (r = 0.76), artinya semakin tinggi laju akumulasi bahan kering dalam polong semakin besar kemungkinan tanaman menghasilkan bobot polong/tanaman yang tinggi Persentase pengisian polong Trustinah (1993) menyatakan bahwa pada saat panen tidak semua polong yang dihasilkan tanaman terisi biji, tanaman akan menghasilkan polong mature, polong immature, polong cipo dan ginofor. Keserempakan pembentukan dan pengisian polong akan menghasilkan lebih banyak polong yang terisi penuh biji, sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil dan kualitas polong. Tabel 25 Persentase polong penuh kacang tanah pada dua musim tanam Varietas MT-2007 MT-2010 Jumlah ginofor 42 HST Jumlah polong /tanaman Polong penuh (%) Jumlah ginofor 42 HST Jumlah polong /tanaman Polong penuh (%) Badak a bc bc Gajah ab a ab Garuda ab ab abc Jerapah ab ab a Kancil ab bc ab Kelinci ab bc bc Kidang ab abc ab Mahesa ab abc ab Panter ab bc bc Pelanduk ab abc abc Sima ab c c Turangga b bc abc KK Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5% Rata-rata persentase polong yang terisi penuh pada MT-2007 lebih besar dibandingkan pada MT Persentase polong penuh pada MT-2007 tidak berbeda antar varietas, sedangkan pada MT-2010 terdapat perbedaan antar varietas. Varietas Jerapah, Kidang, Kancil, Gajah dan Mahesa memiliki persentase polong penuh lebih baik daripada varietas Badak, Kelinci, Panter dan Sima (Tabel 25).

31 65 Pada MT-2010, polong yang dihasilkan tanaman diduga banyak yang berasal dari ginofor yang terbentuk hingga 42-HST, kecuali pada Badak, Kelinci, Panter dan Sima. Ketiga varietas ini masih perlu menambah polong lagi, yang berakibat waktu pengisian berkurang sehingga polong cenderung banyak yang kurang terisi. Rata-rata persentase polong penuh dari Badak, Kelinci, Panter dan Sima tampak lebih rendah daripada beberapa varietas lainnya. Peningkatan populasi tanaman pada MT-2010 tampaknya meningkatkan pembentukan lebih banyak sink potensial (bunga dan ginofor) per tanaman, tetapi jumlah polong yang dapat diisi lebih sedikit. Kondisi ini sesuai dengan yang dilaporkan Cahaner dan Ashri (1974), dimana pada kerapatan tanaman yang lebih tinggi, bunga dan ginofor lebih banyak dihasilkan tetapi hasil polong tidak meningkat, bahkan ditemukan lebih banyak immature pod atau polong setengah penuh. Hal ini dikarenakan bahan kering yang dihasilkan harus didistribusikan ke lebih banyak polong sehingga tidak cukup untuk pengisian maksimal. Keadaan ini mengindikasikan sink-sink yang ada tidak cukup kuat untuk mendapatkan lebih banyak asimilat (sink limited). Pada MT-2007, banyak varietas yang masih perlu menambah polong setelah 42 HST, tetapi pertanaman menghasilkan lebih sedikit asimilat/bahan kering. Sedikitnya bahan kering ini mengakibatkan perkembangan tajuk, bunga, dan ginofor terhambat, sehingga polong-polong yang sudah terbentuk dapat menjadi sink yang kuat dalam mendapatkan asimilat. Persentase pengisian polong pada sebagian besar varietas pada MT-2007 lebih baik daripada MT Persentase polong penuh tinggi dapat diperoleh dari jumlah polong total yang relatif lebih sedikit atau karena jumlah polong penuh relatif lebih banyak. Kidang merupakan varietas dengan persentase polong penuh tinggi, tetapi dicapai dengan rata-rata jumlah polong total/tanaman yang rendah. Keadaan ini mengindikasikan adanya kekurangan asimilat untuk pengisian biji pada Kidang. Sementara pada Kancil, persentase polong penuhnya relatif tinggi, hal ini dikarenakan rataan jumlah polong penuh/tanaman relatif banyak dan polong cipo serta ½ penuhnya yang sedikit (Tabel 21 dan 25).

32 Translokasi asimilat Pengamatan translokasi asimilat dilakukan hanya pada MT-2007 dengan mengukur kandungan TNC dalam daun dan batang pada periode pembentukan polong (42 HST) dan akhir pengisian polong (70 HST) Kadar Total Non-structural Carbohydrate (TNC) Asimilat yang ditranslokasikan dari source ke sink pada prinsipnya adalah karbon dan nitrogen (Atkins dan Smith 2007). Zheng et al (2001) menyatakan bahwa bentuk asimilat yang diekspor daun kacang tanah dan ditranslokasikan antara source dan sink kemungkinan besar adalah fruktosa. Sukrosa diduga disintesa di batang, akar dan polong. Karbohidrat non-struktural adalah bentuk karbohidrat yang mampu menyediakan energi untuk pertumbuhan. Karbohidrat yang terdapat dalam kelompok Non-structural Carbohydrate terutama terdiri atas pektin, gula dari jenis glukosa, fruktosa, sukrosa dan pati. Streeter dan Jeffers (1979) menyatakan bahwa polong, batang dan petiole merupakan sumber utama karbohidrat untuk pengisian biji kedelai, sedangkan kandungan TNC dalam daun tidak digunakan untuk mendukung perkembangan biji. Dalam percobaan ini pengamatan kadar TNC dalam daun dan batang hanya diukur pada pertanaman MT-2007 dan hanya pada 6 varietas kacang tanah yang berbeda pola pertumbuhannya yaitu Badak, Sima, Gajah, Jerapah, Kidang dan Kelinci. Tabel 26. Kadar TNC dalam daun dan batang pada 42 dan 70 HST Varietas Daun Batang.gram per100 gram bahan.. 42 HST 70 HST Selisih 42 HST 70 HST Selisih Badak 23,94 c 33,98 b ,29 31, Gajah 39,26 a 30,26 b (-) ,04 33, Jerapah 25,32 bc 34,83 b ,38 38, Kelinci 35,01 ab 27,37 b (-) ,18 31,27 (-)5.91 Kidang 34,12 abc 48,55 a ,66 42, Sima 26,94 bc 28,76 b ,62 32,75 (-)1.88 KK Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5% Tabel 26 menyajikan data kadar TNC dalam daun dan batang pada 42 dan 70 HST. Pada tabel ini ditunjukkan bahwa kadar TNC dalam daun pada 42 dan

33 67 70 HST berbeda antar varietas, sedangkan kadar TNC dalam batang tidak terdapat perbedaan antar varietas. Selisih kadar TNC antara 42 dan 70 HST dalam daun tidak berbeda antar varietas, tetapi selisih kadar TNC dalam batang berbeda antar varietas. Apabila antara kadar TNC pada periode pengisian biji dengan jumlah atau persentase polong penuh berkorelasi nyata positif, maka terdapat kemungkinan aliran asimilat untuk pengisian polong/biji. Kadar TNC batang saat 70 HST ditemukan hanya cenderung berkorelasi positif dengan jumlah polong penuh (P>0,06; r = 0.44). Kadar TNC dalam daun dan batang pada 70 HST umumnya masih meningkat, sehingga diduga asimilat untuk pengisian biji lebih banyak diperoleh dari kegiatan fotosintesis pada periode pengisian polong/biji daripada retranslokasi asimilat. Pada varietas Kidang, Badak, Jerapah dan Gajah terdapat selisih positif antara kadar TNC 42 dan 70 HST dalam batang, sedangkan pada Sima dan Kelinci, kadar TNC pada 70 HST lebih rendah daripada saat 42 HST, sehingga nilai selisihnya negatif (Tabel 26). Persentase polong penuh pada Sima dan Kelinci berada di bawah 70%. Nilai ini lebih rendah daripada persentase polong penuh keempat varietas lainnya. Kondisi ini menimbulkan dugaan bahwa menurunnya kandungan asimilat batang pada 70 HST mengakibatkan penurunan asimilat menuju polong yang berakibat sebagian polong kurang atau tidak terisi Translokasi 13 C Pengamatan translokasi karbon dilakukan dengan menggunakan gas isotop 13 C sebagai penjejak. Varietas kacang tanah yang digunakan adalah Sima dan Jerapah. Dua varietas ini dipilih karena keduanya memiliki perbedaan dalam bahan kering yang diakumulasikan, hasil polong dan pengisian polong. Pada setiap kondisi PAR, varietas Sima mempunyai kemampuan fotosintesis yang lebih tinggi daripada Jerapah. Nilai CER dari kedua varietas mencapai maksimum sekitar µmolco 2 /m 2 /s dengan rata-rata 4,3 µmolco 2 /m 2 /s pada Sima dan 3,3 µmolco 2 /m 2 /s pada Jerapah (Tabel 27). Nilai ini lebih rendah dari yang dicapai oleh varietas kacang tanah yang digunakan Senoo dan Isoda (2003), yang mencapai 8,8 10,4 µmolco 2 /m 2 /s. Hasil CER yang dicapai oleh kedua varietas ini menunjukkan rendahnya fotosintesis kacang tanah

34 68 yang akan berkontribusi pada rendahnya kemampuan mengakumulasi bahan kering dan produktivitas tanaman. Cuaca pada saat pengukuran tergolong cerah berawan dengan rata-rata PAR sekitar 990,3 µmolco 2 /m 2 /s. Tabel 27. Rata-rata hasil pengukuran kondisi umum tanaman kacang tanah pada fase reproduktif Varietas Suhu udara Suhu daun CER Konduktivitas stomata Transpirasi. o C. µmolco 2 /m 2 /s mmol/ m 2 /s mmol/ m 2 /s Sima 35,8 34,0 4,3 0,3 9,6 Jerapah 36,6 34,6 3,3 0,3 10,3 Selama proses feeding berlangsung, suhu dan kelembaban udara di dalam rak plastik dicatat. Suhu di dalam rak plastik tercatat cukup tinggi, yaitu mencapai o C dengan kelembaban udara rata-rata antara %. Kondisi di dalam rak plastik ini akan mempengaruhi kecepatan laju pertukaran CO 2 tanaman. Pada Gambar 8 ditunjukkan bahwa peningkatan suhu daun menyebabkan penurunan CER, dengan nilai CER = Tdaun (r 2 = 52.9). Apabila suhu daun mencapai 40 o C, maka CER hanya berkisar 1.27 µmol/m2/s. 7 6 CER = Tdaun S R-Sq 52.9% R-Sq(adj) 50.7% CER (mmol/m2/s) Temperatur daun Gambar 8 Hubungan meningkatnya suhu daun (T) dengan laju CER. Pada akhirnya rendahnya laju CER ini berdampak pada akumulasi bahan kering tanaman. Rata-rata berat kering tanaman yang diakumulasikan pada umur 10 MST mencapai 25.6 g/tanaman untuk Sima dan 24.2 g/tanaman untuk Jerapah. Hasil ini cukup rendah apabila dibandingkan dengan berat kering tanaman umur

35 69 10 MST yang dapat dicapai kedua varietas ini pada percobaan-percobaan sebelumnya (tahun 2007 dan 2008). Pada percobaan sebelumnya, berat kering Sima per tanaman pada umur 10 MST dapat mencapai g, sedangkan Jerapah mencapai g/tanaman. Rendahnya berat kering yang dihasilkan tanaman ini diduga karena tanaman mendapat perlakuan pindah tanam (transplanting) dan karena tanaman diletakkan di lokasi yang tidak mendapat sinar matahari langsung selama 2 minggu dengan maksud untuk mengurangi deraan stress akibat pindah tanam. Data pengukuran kadar 13 C dalam tiap bagian tanaman pada 1, 2 hingga 4 hari setelah feeding diperoleh hasil disajikan pada Tabel 28. Satu hari setelah feeding, 13 C ditemukan di semua bagian tanaman. Rata-rata rasio 13 C/ 12 C (δ 13 C) dan nilai % 13 C atom excess pada varietas Jerapah lebih tinggi daripada Sima. Tanaman memfiksasi karbon dari CO 2 udara dalam proses fotosintesis untuk diubah menjadi senyawa berkarbon. Sebagian besar unsur karbon (98,894%) di atmosfir memiliki berat atom 12, akan tetapi secara alami atmosfir juga mengandung karbon dengan berat atom 13 (1,106%). Untuk melihat kandungan atom 13 C dalam tanaman dapat diperoleh dengan mengukur selisih kandungan atom 13 C dalam tanaman dengan kandungan atom 13 C dalam atmosfir yang disebut dengan 13 C % atom excess. Gambar 9 memperlihatkan nilai 13 C % atom excess varietas Sima dan Jerapah. Kedua gambar tersebut menunjukkan bahwa nilai 13 C % atom excess pada kedua varietas menurun dengan lamanya hari pengamatan. Penurunan nilai isotop 13 C excess dapat disebabkan oleh: (1) tanaman melakukan fotosintesis, sehingga konsentrasi 12 C dalam tanaman meningkat; (2) sejumlah karbon ditranslokasikan ke dalam batang, akar dan polong sehingga mengurangi kadar 13 C di dalam daun; (3) kegiatan respirasi. Atom isotop 13 C juga ditemukan dalam akar, keadaan ini menunjukkan bahwa akar mendapat suplai karbon hasil fotosintesis dari tajuk. Laju penurunan δ 13 C pada akar jauh lebih kecil dibandingkan bagian tanaman lain dan nilainya relatif sebanding pada Sima dan Jerapah.

36 Batang (a) % 13 C atom excess Daun Akar Polong hari (b) % 13 C atom excess Batang Daun Akar Polong hari Gambar 9 Nilai % 13 C atom excess dalam tanaman kacang tanah varietas Sima (a) dan Jerapah (b). Adanya translokasi karbon, misalnya dari daun ke batang, maka akan menambah nilai 13 C % atom excess dalam batang sehingga mengurangi laju penurunannya. Translokasi atom isotop 13 C mengakibatkan laju penurunan pada pengamatan 2-4 hari setelah feeding lebih kecil daripada laju penurunan pada pengamatan 1-2 hari. Pada varietas Sima (Gambar 9a), sebagian 13 C ditranslokasikan dari daun ke batang dan kemudian ke akar dan polong sehingga laju penurunan 13 C % atom excess pada batang dan polong melambat. Penurunan 13 C % atom excess seperti yang ditunjukkan Sima mirip dengan penurunan 13 C % atom excess pada penelitian Inanaga dan Yoshihara (1997), meskipun dengan varietas yang berbeda. Kandungan 13 C % atom excess pada daun lebih rendah daripada batang dan polong. Hal ini dikarenakan daun memindahkan hasil fotosintesis ke batang, akar dan polong serta melakukan respirasi.

37 71 Tabel 28. Nilai 13 C % atom excess dan selisih perubahannya dalam tiap bagian tanaman Varietas Waktu Batang Daun Akar Polong Pengamatan % 13 C Δ % 13 C Δ % 13 C Δ % 13 C Δ Sima 1 hari 0,44 0,27 0,14 0,31 2 hari 0,36 0,08 0,15 0,11 0,12 0,02 0,20 0,10 4 hari 0,32 0,04 0,10 0,05 0,10 0,01 0,17 0,03 Jerapah 1 hari 0,64 0,43 0,13 0,32 2 hari 0,52 0,12 0,37 0,05 0,10 0,02 0,27 0,05 4 hari 0,29 0,23 0,31 0,06 0,09 0,01 0,19 0,08 Perubahan 13 C dalam bagian tanaman dapat dilihat pula dengan menggunakan perhitungan kandungan 13 C berdasarkan berat (gram), seperti disajikan pada Gambar 10. Pada Gambar 10a, kadar 13 C dalam daun, batang dan polong Sima meningkat pada pengamatan hari ke 2, walaupun perbandingan 13 C dan 12 C (% atom 13C excess) menurun. Pada pengamatan hari ke 4, kadar 13 C dalam kandungan karbon daun, batang dan polong Sima berkurang. Hal ini mengindikasikan adanya translokasi 13 C antara daun, batang dan polong, akan tetapi karena tidak ada penambahan 13 C lagi, maka pada hari ke 4 kandungan 13 C menurun. Kandungan 13 C dalam batang Sima sedikit lebih tinggi daripada polongnya. Keadaan ini menunjukkan bahwa batang masih merupakan pesaing polong dalam mendapatkan asimilat dari daun. Pada akar Sima, kadar 13 C dalam kandungan karbonnya terus menurun, yang kemungkinan dikarenakan kegiatan respirasi. Pada varietas Jerapah, laju penurunan nilai 13 C % atom excess pada batang dan polong pengamatan hari 2-4 hampir 2 kali lebih tinggi daripada laju penurunan hari 1-2 (Gambar 10b). Kadar 13 C di dalam karbon daun, batang, akar dan polong Jerapah terus meningkat selama pengamatan (Gambar 10b). Kandungan 13 C dalam polong Jerapah lebih tinggi daripada batang walaupun pada pengamatan hari ke 4 kandungan 13 C dalam polong dan batang hampir sama. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa translokasi 1 3C antar bagian masih terus terjadi, dan bagian bawah tanaman (akar dan polong) mampu mendapatkan 13 C lebih banyak.

38 72 (a) Kadar 13 C (g) hari Batang Daun Akar Polong (b) Kadar 13 C (g) hari Batang Daun Akar Polong Gambar 10 Kandungan 13 C (g) dalam bagian tanaman kacang tanah varietas Sima (a) dan Jerapah (b). Hasil dari percobaan ini menunjukkan bahwa aktivitas fotosintesis selama periode pengisian biji merupakan penyuplai utama kebutuhan asimilat untuk pengisian biji kacang tanah, baik pada Sima maupun Jerapah. Perbedaan pola penurunan kadar 13 C kemungkinan lebih disebabkan Jerapah memiliki lebih banyak cabang dan tinggi batang utamanya lebih rendah dibandingkan Sima Peran Source dan Sink dalam Mendukung Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedua belas varietas kacang tanah yang diuji kemudian dibandingkan berdasarkan karakter-karakter yang ditunjukkan pada dua MT. Data gabungan dari kedua MT yang memiliki ragam homogen, hasil korelasi dan analisis ragam gabungan seperti yang disajikan pada Lampiran 6 dan 7 digunakan sebagai acuan untuk menentukan karakter-karakter yang akan diperbandingkan. Karakter produksi tanaman yang digunakan adalah bobot polong/tanaman, Indeks Panen dan persentase polong penuh. Terdapat korelasi nyata positif antara bobot polong

39 73 dan bobot biji/tanaman (r = 0.78), tetapi tidak ditemukan adanya korelasi antara karakter produksi lainnya Perbandingan Varietas Berdasarkan Bobot Polong Per Tanaman Bobot polong/tanaman diketahui berkorelasi positif dengan karakter kapasitas sink yaitu jumlah polong, jumlah polong penuh, dan bobot biji/tanaman dengan koefisien korelasi berturut-turut 0.83, 0.72 dan 0.78 (Lampiran 7). Karakter jumlah polong/tanaman berkorelasi negatif dengan ILD 42 HST (r = ) dan berkorelasi positif dengan jumlah polong penuh (r = 0.86), sedangkan bobot biji/tanaman berkorelasi positif dengan jumlah polong pada 70 HST (r = 0.71). Hasil sidik ragam dari karakter ILD 42 HST dan jumlah polong/tanaman dari dua musim tanam menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan perbedaan antar varietas (Pr>F dan 0.074) (Lampiran 6). Tabel 29 menyajikan data rataan nilai ILD 42 HST, jumlah polong, bobot polong dan bobot biji/tanaman dari dua musim tanam. Tabel 29. Rata-rata nilai ILD 42 HST, jumlah polong per tanaman, bobot polong dan bobot biji per tanaman dari dua musim tanam Varietas ILD 42 HST Jumlah polong 70HST Jumlah polong /tanaman Bobot polong /tanaman Bobot biji /tanaman Badak cd Gajah a-d Garuda a-d Jerapah a-d Kancil a Kelinci abc Kidang a-d Mahesa d Panter abc Pelanduk ab Sima bcd Turangga bcd KK Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%

40 74 Dengan menggunakan kriteria jumlah polong/tanaman sebesar 15 polong, varietas-varietas kacang tanah dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok pertama terdiri atas Badak, Pelanduk, Kancil, Sima dan Panter yang menghasilkan rata-rata jumlah polong/tanaman diatas 15 polong, dan kelompok kedua terdiri atas Kelinci, Jerapah, Gajah, Mahesa, Kidang, Garuda3 dan Turangga, yang rata-rata jumlah polongnya kurang dari 15 polong. Gambar 11 menunjukkan bahwa, semakin banyak jumlah polong/tanaman, maka semakin baik produksi polong/tanaman. Varietas-varietas kelompok pertama juga menghasilkan bobot polong antara gram/tanaman, sedangkan kelompok kedua menghasilkan antara gram, sehingga dapat dikatakan varietas-varietas kelompok pertama memiliki kapasitas sink lebih baik daripada varietas-varietas kelompok kedua. Jumlah polong/tanaman Jerapah Mahesa Kidang Garuda3 Turangga Badak Pelanduk Kancil Panter Sima Kelinci Gajah Bobot polong/tanaman (gram) 18 Gambar 11 Perbandingan varietas berdasarkan bobot dan jumlah polong per tanaman. Dari hasil uji ragam diperoleh bahwa tidak terdapat pengaruh varietas/genetik terhadap karakter bobot polong/tanaman, akan tetapi dari karakter-karakter yang mempengaruhi bobot polong/tanaman diketahui bahwa karakter jumlah polong/tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik (Lampiran 6). Hal ini berarti banyaknya polong yang dapat dihasilkan tanaman jumlahnya dikendalikan secara genetik. Salah satu kriteria seleksi kacang tanah untuk

41 75 mendapatkan galur-galur baru yang selalu digunakan adalah jumlah polong/tanaman (>15 20 polong/tanaman) (Rais, A 2007, komunikasi pribadi). 19 Badak 18 Pelanduk Jumlah polong/tanaman Kelinci Panter Sima Turangga Kancil Jerapah Mahesa Kidang Gajah Garuda ILD 42 HST Gambar 12 Perbandingan varietas berdasarkan ILD 42 HST dan jumlah polong per tanaman. Apabila rataan ILD yang dicapai tanaman pada 42 HST diatas 1.7 digunakan sebagai kriteria batas pengelompokkan, maka varietas yang termasuk dalam kelompok dengan bobot polong dan jumlah polong per tanaman tinggi dan mempunyai ILD 42 HST diatas 1.7 adalah Pelanduk dan Kancil. Sima, Panter dan Badak tergolong menghasilkan ILD 42 HST yang rendah. Dari kelompok dengan bobot polong rendah didapatkan Garuda3, Gajah, Jerapah, Kidang dan Mahesa tergolong menghasilkan ILD 42 HST tinggi, sedangkan Turangga dan Kelinci tergolong menghasilkan ILD 42 HST yang rendah (Gambar 12). Nilai ILD 42 HST berkorelasi positif dengan bobot kering batang dan daun pada 42 HST (r = 0.54 dan 0.83) (Lampiran 9), sehingga varietas dengan ILD 42HST yang tinggi dapat diduga menghasilkan bobot kering batang dan daun pada 42 HST yang juga tinggi, begitupun sebaliknya (Gambar 13). Varietas dengan nilai ILD dan bobot kering tajuk pada 42 HST yang tinggi dapat dikelompokkan sebagai varietas dengan kapasitas source pada fase awal pembentukan dan pengisian biji yang tinggi, sebaliknya varietas dengan nilai ILD dan bobot kering tajuk pada 42 HST yang rendah dikelompokkan sebagai varietas dengan kapasitas source rendah. Luas dan bobot kering daun merupakan karakter

42 76 yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, walaupun pada karakter bobot kering batang 42 HST terdapat pengaruh genetik hanya saja nilainya kecil (11.6%). 12 Bobot kering tajuk 42HST (gram) Kelinci Turangga Sima Panter Gajah Kidang Mahesa Kancil Pelanduk Jerapah Garuda3 5 Badak ILD 42 HST Gambar 13 Perbandingan varietas berdasarkan ILD 42 HST dan bobot kering tajuk (batang dan daun) per tanaman 42 HST. Tanaman membutuhkan kesiapan source/tajuk untuk dapat menghasilkan banyak asimilat, sehingga polong yang dihasilkan dapat diisi dengan maksimal. Dari kelompok dengan varietas yang memiliki kapasitas source tinggi pada periode awal pembentukan dan pengisian biji (42 HST) hanya varietas Kancil dan Pelanduk yang termasuk menghasilkan bobot polong/tanaman relatif tinggi. ILD, bobot batang dan daun pada 42 HST tidak berkorelasi dengan ILD, bobot batang dan daun pada 70 HST (Lampiran 9). Berdasarkan korelasi ini diduga terdapat varietas yang pertumbuhan awalnya lambat, akan tetapi pada saat memasuki fase pembentukan polong dan pengisian biji, pertumbuhannya terus meningkat dan menghasilkan polong dan biji yang hasilnya setara dengan varietas yang pertumbuhan awal generatif relatif lebih cepat. Hasil polong dan biji/tanaman dalam penelitian ini tidak menunjukkan adanya perbedaan antar varietas, akan tetapi dilihat dari nilai rataannya tampak bahwa kelompok yang menghasilkan bobot polong lebih baik tidak selalu hasil bijinya juga tinggi. Hal ini dikarenakan bobot biji dipengaruhi oleh genetik. Terdapat varietas yang secara genetik dapat menghasilkan bobot biji besar atau sebaliknya. Badak merupakan satu-satunya varietas dalam kelompok pertama yang bobot bijinya rendah, sedangkan Gajah merupakan satu-satunya varietas dari

43 77 kelompok kedua yang hasil biji/tanaman termasuk tinggi (Gambar 14). Bobot 100 biji Badak tergolong kecil dan Gajah tergolong besar (Tabel 18). Bobot biji besar berarti dibutuhkan asimilat untuk pengisian biji yang lebih banyak pada jumlah sink yang sama. 18 Badak Pelanduk Bobot polong/tanaman (gram) Kidang Mahesa Turangga Garuda3 Kelinci Jerapah Gajah Sima Panter Kancil Bobot biji/tanaman (gram) Gambar14 Perbandingan varietas berdasarkan bobot polong per tanaman dan bobot biji per tanaman Perbandingan Varietas Berdasarkan Indeks Panen Indeks panen kacang tanah pada dua lokasi tanam berkorelasi negatif dengan ILD pada 70 HST (r = -0.86) (Lampiran 9). Ini berarti semakin tinggi ILD pada periode akhir pengisian biji (70 HST), semakin rendah Indeks Panennya atau dapat diartikan makin sedikit proporsi bahan kering yang dialokasikan untuk pengisian biji/polong. Tabel 30 menyajikan data rataan bobot kering tajuk dan ILD pada 70 HST serta nilai Indeks Panen kacang tanah dari dua musim tanam. Karakter Indeks Panen dipengaruhi oleh genetik (Lampiran 6). Dalam penelitian ini, Indeks Panen pertanaman kacang tanah mencapai kisaran 0.38 ± Hasil ini lebih baik dari yang dilaporkan oleh Bell dan Wright (1997), yang menyebutkan rata-rata Indeks Panen kacang tanah di Indonesia rata-rata hanya mencapai Dalam penelitian ini, varietas Garuda3, Gajah, Badak menunjukkan rata-rata nilai Indeks Panen dari dua musim tanam yang nyata lebih tinggi daripada Sima, Turangga, Pelanduk dan Kidang.

44 78 Tabel 30. Rata-rata bobot kering tajuk (batang dan daun) 70 HST, ILD 70 HST dan Indeks Panen kacang tanah dari dua musim tanam Var BK batang 70 HST BK daun 70 HST ILD 70 HST Indeks Panen Badak e 7.22 de ab Gajah b-e 7.95 cde ab Garuda de 6.52 e a Jerapah cde 7.49 cde abc Kancil abc 8.34 b-e abc Kelinci e 9.11 b-e a-d Kidang a a-d d Mahesa a-e 9.01 b-e bcd Panter cde a-d abc Pelanduk ab abc cd Sima ab a cd Turangga a-d ab cd KK Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5% Pada 70 HST rataan ILD dari seluruh varietas yang diuji sudah mencapai 4.7 ± Kiniry et al. (2005) menemukan ILD kacang tanah pada berbagai lokasi di Texas USA pada satu musim berkisar antara 5 6. Apabila nilai ILD 70 HST mencapai 5 digunakan sebagai standar pengelompokkan maka dari kelompok pertama dengan kapasitas sink tinggi, varietas Sima dan Pelanduk termasuk yang menghasilkan nilai ILD pada 70 HST yang tinggi, sedangkan Panter, Kancil dan Badak menghasilkan ILD 70 HST kurang dari 5 (Gambar 15). Dari kelompok kedua, Turangga, Kidang dan Jerapah termasuk yang menghasilkan ILD 70 HST yang tinggi, sedangkan Gajah dan Garuda3 termasuk yang menghasilkan ILD 70 HST rendah. Mahesa dan Kelinci merupakan anggota kelompok kedua yang menghasilkan ILD 70 HST dan Indeks Panen yang tergolong rendah.

45 Garuda3 Indeks Panen Badak Kancil Gajah Panter Kelinci Mahesa Jerapah TuranggaSima Kidang Pelanduk ILD70 HST Gambar 15 Perbandingan varietas berdasarkan ILD 70 HST dan nilai Indeks Panen kacang tanah. Berdasarkan Lampiran 8 dan 9, nilai ILD 70 HST berkorelasi positif dengan bobot batang dan daun pada 70 HST ( r = 0.57, 0.94, 0,74, 0.67), sehingga varietas-varietas yang menghasilkan nilai ILD 70 HST tinggi dapat digolongkan memiliki kapasitas source pada periode akhir pengisian biji (70 HST) yang tinggi. Dari kelompok dengan kapasitas source pada 42 HST yang rendah, Sima dan Turangga merupakan varietas yang pada saat memasuki periode pembentukan dan pengisian biji juga mengakumulasi bahan kering dalam tajuk yang tinggi sehingga pada akhir periode pengisian biji (70 HST) kapasitas sourcenya tergolong lebih tinggi daripada varietas lain. Varietas Kancil, Garuda3 dan Gajah yang pada saat 42 HST tergolong varietas dengan kapasitas source tinggi, pada periode akhir pengisian kapasitas sourcenya relatif lebih rendah daripada varietas lainnya. Hal ini mengindikasikan adanya penekanan akumulasi bahan kering dalam tajuk. Varietas Badak, Panter dan Kelinci tergolong varietas dengan kapasitas source rendah pada awal periode pembentukan dan pengisian biji (42 HST) dan kapasitas sourcenya tetap tergolong rendah pada periode akhir pengisian biji (70 HST).

46 Perbandingan Varietas Berdasarkan Persentase Polong Penuh Per Tanaman Karakter persentase polong penuh nyata berkorelasi positif dengan karakter kapasitas source bobot kering batang pada 42 HST (r = 0.68) dan sangat nyata berkorelasi negatif dengan karakter kapasitas sink jumlah ginofor pada 70 HST (r = -0.86) (Lampiran 7). Dengan demikian kemampuan tanaman untuk mengisi polong dapat dilihat dari peubah karakter persentase polong penuh, bobot batang 42 HST dan jumlah ginofor 70 HST. Walaupun nilainya kecil, karakterkarakter ini dipengaruhi oleh genetik (Lampiran 6). Hasil uji ragam gabungan pada dua musim tanam didapatkan adanya perbedaan antara varietas pada peubah persentase polong penuh, bobot batang 42 HST dan jumlah ginofor 70 HST (Tabel 31). Apabila 70 persen polong yang dihasilkan tanaman saat panen terisi penuh dan bobot kering batang 42 HST mencapai 4.0 digunakan sebagai kriteria, maka 8 varietas tergolong menghasilkan rata-rata persentase polong penuh diatas 70% dengan bobot kering batang yang relatif tinggi pada 42 HST. Hanya 4 varietas yang persentase polong penuhnya dibawah 70% dan bobot kering batangnya pada 42 HST rendah (Gambar 16). Tabel 31. Rata-rata nilai bobot batang pada 42 HST, jumlah ginofor pada 70 HST dan persentase polong penuh kacang tanah pada dua musim tanam Varietas Bobot batang 42 HST Jumlah ginofor 70 HST % polong penuh Badak 2.56 d abc b-e Gajah 5.22 ab bcd bcd Garuda abc d a-d Jerapah 4.45 abc d a Kancil 4.48 abc bcd ab Kelinci 3.07 cd ab de Kidang 5.65 a bcd a-d Mahesa 4.76 abc cd abc Panter 3.54 bcd a cde Pelanduk 4.28 abc ab a-d Sima 3.81 bcd abc e Turangga 4.18 a-d abc bcde KK Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%

47 81 Pada MT-2010, bobot batang 42 HST nyata berkorelasi positif dengan jumlah cabang (Lampiran 9). Ini berarti terdapat kecenderungan tanaman dengan jumlah cabang banyak memiliki bobot batang tinggi. Inanaga dan Yoshihara (1997) menyatakan bahwa daun-daun dalam batang utama merupakan penyuplai asimilat untuk pengisian biji, sedangkan daun-daun pada cabang menghasilkan asimilat untuk kebutuhan akar dan bintil akar. Kondisi ini diduga yang menyebabkan adanya hubungan korelasi positif antara bobot batang 42 HST dengan persentase polong penuh. Polong-polong pada varietas dengan bobot batang tinggi dan jumlah cabang banyak pada awal pembentukan ginofor (42 HST) akan mendapatkan cukup asimilat untuk mengisi tanpa harus bersaing dengan bagian tanaman yang lain. 85 Jerapah 80 Kancil Mahesa %-ase polong penuh Badak Kelinci Panter Pelanduk Garuda3 Turangga Gajah Kidang Sima Bobot Kering Batang 42HST Gambar 16 Perbandingan varietas berdasarkan bobot kering batang 42 HST dan persentase polong penuh per tanaman. Badak, Sima, Kelinci dan Panter, selain memiliki bobot kering 42 HST yang rendah, varietas-varietas ini juga menghasilkan jumlah ginofor pada 70 HST yang lebih banyak daripada varietas-varietas yang menghasilkan persentase polong lebih dari 70% (Gambar 17). Pelanduk merupakan satu-satunya varietas dengan bobot batang 42 HST, yang jumlah ginofor pada 70 HST dan persentase polong penuhnya tergolong tinggi.

48 82 85 Jerapah 80 Kancil Mahesa %-ase polong penuh Garuda3 Gajah Kidang Turangga Badak Pelanduk Kelinci Panter Sima Jumlah ginofor 70HST Gambar 17 Perbandingan varietas berdasarkan jumlah ginofor 70 HST dan persentase polong penuh per tanaman. Bunga dan ginofor kacang tanah terbentuk terus dengan pertambahan umur tanaman. Dalam hierarki sink, polong yang sudah terbentuk lebih dahulu merupakan sink yang kuat (Wardlaw 1990), sedangkan ginofor yang muncul kemudian kemungkinan tidak akan membentuk polong (Trustinah 1993). Banyaknya ginofor tampaknya akan menjadi masalah karena menjadi pesaing bagi polong yang sedang mengisi. Hal ini dimungkinkan karena letak polong di dalam tanah dan berada pada buku-buku yang lebih bawah daripada ginofor yang lebih muda. Wardlaw (1990) menyebutkan bahwa akar merupakan kompetitor asimilat yang lemah, walaupun beberapa umbi menunjukkan sebagai sink dominan Matrik Perbandingan Varietas Berdasarkan perbandingan varietas, keduabelas varietas yang diuji kemudian dimasukkan dalam suatu matrik dan hasilnya ditampilkan dalam Tabel 32. Varietas dengan bobot polong/tanaman yang relatif lebih baik ditandai dengan kemampuan menghasilkan jumlah polong/tanaman lebih dari 15 polong. Varietas-varietas ini ada yang mampu mendistribusikan bahan kering lebih banyak ke dalam polong (Indeks Panen tinggi), atau menghasilkan bahan kering yang lebih besar dengan jumlah dan bobot polong yang relatif sama dengan varietas yang IP-nya tinggi (Indeks Panen rendah).

49 83 Empat dari lima varietas, yaitu Badak, Panter, Sima dan Pelanduk, yang memiliki rataan bobot polong dan jumlah polong/tanaman relatif lebih baik daripada ketujuh varietas lainnya, menghasilkan jumlah ginofor pada periode akhir pengisian biji (70 HST) yang tinggi pula. Polong-polong yang terbentuk lebih dahulu telah menjadi sink yang dominan sehingga tanaman hanya mampu menghasilkan bunga dan ginofor. Badak, Panter dan Sima dengan jumlah ginofor yang tinggi, menunjukkan persentase pengisian polong penuh yang tergolong rendah. Hal ini dikarenakan ginofor yang terus terbentuk selama periode pengisian biji akhirnya menjadi pesaing bagi polong yang sedang mengisi untuk mendapatkan asimilat. Kancil dan Pelanduk menunjukkan pola pertumbuhan yang berbeda dengan ketiga varietas lainnya karena kedua varietas ini tergolong mampu cepat tumbuh mengumpulkan bahan kering pada awal fase generatif (ILD dan bobot batang 42 HST), sehingga diduga dapat segera mengisi polong yang sudah terbentuk. Lamanya fase pengisian polong mengakibatkan lebih banyak polong yang dapat terisi penuh. Hal ini dikarenakan lamanya periode pengisian polong merupakan salah satu karakter yang menentukan hasil polong (Duncan et al. 1978; Ketring et al. 1982). Tanaman yang mendistribusikan asimilat lebih banyak ke dalam polong (indeks panen tinggi) tidak berarti persentase polong penuhnya tinggi. Dua dari lima varietas yang nilai indeks panennya tinggi, yaitu Badak dan Panter, memiliki persentase polong penuh rendah. Hal ini diduga karena kedua varietas ini tidak tergolong varietas yang memiliki kemampuan source yang tinggi (kapasitas dan aktivitas), tetapi mampu menghasilkan banyak polong, sehingga terkendala asimilat yang dapat didistribusikan untuk pengisian polong (source limited).

50 84 84 Tabel 32. Matrik perbandingan karakter dua belas varietas kacang tanah Varietas Bobot Kering Batang 42 HST ILD 42 HST ILD 70 HST Jumlah ginofor 70 HST Jumlah polong /tanaman Persentase Polong penuh Indeks Panen Bobot polong /tanaman Badak O O O T T O T T Gajah T T O O O T T O Garuda3 T T O O O T T O Jerapah T T T O O T O O Kancil T T O O T T T T Kelinci O O O T O O O O Kidang T T T O O T O O Mahesa T T T O O T O O Panter O O O T T O T T Pelanduk T T T T T T O T Sima O O T T T O O T Turangga T O T T O T O O Keterangan : T = tinggi O = rendah

51 85 Tanaman yang cepat menghasilkan ILD tinggi pada awal fase generatif berarti mampu menghasilkan bahan kering tinggi yang kemudian tersimpan dalam batang dan daun. Terdapat tujuh varietas yang menghasilkan bobot kering batang tinggi pada 42 HST dan menunjukkan persentase pengisian polong penuh yang tinggi, akan tetapi karena banyak yang tidak mampu menghasilkan jumlah polong yang banyak maka hasil polongnya relatif rendah. Hanya Kancil dan Pelanduk dari ketujuh varietas tersebut, yang menghasilkan bobot batang pada awal generatif tinggi, menghasilkan jumlah polong dan bobot polong relatif lebih baik dengan persentase polong penuh yang tinggi. Pengisian polong pada Pelanduk diduga masih terkendala oleh persaingan asimilat dengan tajuk yang terus tumbuh cepat hingga akhir fase pengisian (ILD dan jumlah ginofor 70 HST), sedangkan Kancil lebih efisien dilihat dari nilai IP-nya yang tinggi. Terdapat varietas yang cenderung lambat pertumbuhannya pada fase awal generatif, tetapi kemudian pertambahan bahan kering terus terjadi dengan cepat bahkan hingga akhir fase pengisian, ditunjukkan dengan tingginya nilai ILD, bobot kering batang dan daun serta jumlah ginofor pada 70 HST. Sima dan Turangga menunjukkan pola pertumbuhan tersebut tetapi Sima menghasilkan bobot polong/tanaman lebih baik dari Turangga karena jumlah polong/tanaman Sima lebih baik. Besarnya bahan kering yang dihasilkan Sima tidak mampu didistribusikan dengan lebih baik ke dalam polong-polong yang tersedia, menunjukkan polong-polong kacang tanah bukan sink yang cukup kuat untuk mendapatkan asimilat. Letak sink (polong) yang berada dibawah permukaan tanah diduga merupakan penyebabnya. Pola translokasi asimilat dari source ke sink mengikuti pola kedekatan lokasi source dan sink, perkembangan organ dan hubungan pembuluh (Wardlaw 1990; Taiz dan Zeiger 2002). Tajuk, bunga dan ginofor yang terus muncul menjadi pesaing polong untuk asimilat, lokasi polong diduga membuat polong menjadi lebih sulit mendapatkan asimilat dibandingkan misalnya polong kedelai yang tumbuh di batang. Taiz dan Zeiger (2002) juga menyatakan bahwa mengurangi daun-daun dibagian bawah dapat memaksa daun-daun bagian atas untuk mentranslokasikan lebih banyak asimilat ke bagian akar.

52 86 Dari keduabelas varietas yang diuji hanya Kelinci yang karakter-karakter pertumbuhan dan hasilnya relatif lebih rendah daripada varietas lainnya. Varietas ini cenderung lambat mengumpulkan bahan kering pada awal fase generatif tetapi pertambahan bahan keringnya hingga akhir fase pengisian juga tergolong rendah. Rata-rata jumlah polong yang dihasilkan Kelinci 14.5 polong/tanaman tetapi diduga karena kemampuan menghasilkan bahan kering kurang ditambah persaingan dari ginofor yang jumlahnya tinggi mengakibatkan banyak polong kurang terisi penuh dan bobot polong tergolong rendah. Varietas kacang tanah dengan bobot polong tinggi terutama ditentukan oleh jumlah polongnya yang tinggi, sedangkan kualitas pengisian polong yang baik (persentase polong penuh >70%) ditentukan oleh kemampuan tanaman menghasilkan ILD tinggi pada awal fase generatif (42 HST) atau distribusi asimilat (indeks panen) tinggi. Dari pengamatan dapat dikatakan bahwa, produktivitas kacang tanah nasional, salah satunya, lebih ditunjang oleh peningkatan jumlah polong/tanaman daripada peningkatan indeks panen Sidik Lintas Bagaimana karakter-karakter pertumbuhan mempengaruhi produksi dapat dipelajari dengan mengukur besarnya pengaruh atau hubungan karakter tersebut terhadap karakter hasil tanaman. Menggunakan koefisien korelasi Pearson saja tidak cukup untuk menerangkan hubungan antara karakter-karakter pertumbuhan dengan produksi tanaman, karena korelasi Pearson hanya menjelaskan tingkat keeratan antara karakter-karakter yang diuji tidak menjelaskan hubungan sebab akibat dari kekeratan hubungan karakter-karakter tersebut (Rohaeni 2010). Untuk itu karakter-karakter yang diduga mempengaruhi hasil/produksi polong tanaman disusun dan dianalisis menggunakan analisis sidik lintas sehingga menjadi suatu model yang diharapkan dapat menerangkan apakah suatu karakter dalam model tersebut berpengaruh langsung atau tidak terhadap produksi tanaman. Pada analisis sidik lintas, produksi tanaman berupa bobot polong/tanaman, bobot biji/tanaman, Indeks Panen dan persentase polong penuh ditempatkan secara bergantian sebagai variabel tak bebas sedangkan komponen karakter yang lain menjadi variabel bebas. Komponen karakter yang menjadi variabel bebas

53 87 yang digunakan adalah karakter-karakter yang memiliki korelasi nyata dengan karakter variabel tak bebas berdasarkan uji Pearson. Pemahaman mengenai karakter yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap produksi tanaman dibutuhkan, misalnya untuk menentukan karakter yang dapat digunakan secara efektif untuk melakukan seleksi atau untuk digunakan sebagai subjek yang dieksploitasi dalam perbaikan teknik produksi tanaman untuk menjamin peningkatan produksi Sidik Lintas Bobot Polong Per Tanaman Lampiran 12 menyajikan hasil sidik lintas yang menunjukkan karakterkarakter yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap hasil polong/tanaman (bobot polong/tanaman) dengan pengaruh sisaan yang tidak dapat dijelaskan dengan model tersebut, sebesar 1.1 %. Dengan hanya mengambil karakter-karakter yang nilai korelasinya tinggi maka tampak pada Gambar 18 bahwa bobot polong/tanaman dipengaruhi langsung positif oleh banyaknya polong yang dihasilkan tanaman (jumlah polong/tanaman), bobot 100 butir biji dan jumlah ginofor pada 70 HST. Bobot kering batang pada 42 HST merupakan karakter yang mempengaruhi bobot polong/tanaman secara positif melalui pengaruhnya terhadap bobot 100 biji, akan tetapi bobot kering 42 HST juga dapat menekan bobot polong/tanaman (walaupun nilai koefisien/nilai pengaruhnya kecil) melalui jumlah ginofor yang muncul pada 70 HST. Bobot kering batang berkorelasi positif sangat nyata dengan jumlah cabang (Lampiran 8), sehingga dapat dikatakan bahwa tanaman yang bercabang banyak cenderung bobot batangnya tinggi. ILD dan bobot kering daun pada 42 HST juga merupakan karakter yang mempengaruhi bobot polong/tanaman dengan nilai koefisien yang negatif melalui pengaruhnya terhadap jumlah polong/tanaman. Dalam jumlah yang sama biji yang berukuran besar (bobot 100 biji tinggi) menunjukkan kebutuhan asimilat yang lebih banyak daripada biji yang berukuran kecil, sehingga dapat dikatakan biji besar kekuatan sinknya lebih tinggi daripada biji kecil. Tanaman dengan banyak cabang pada awal fase generatif (40 HST) cenderung menghasilkan jumlah/luasan daun yang banyak. Karena daun-daun

54 88 belum saling menutupi sehingga dapat diduga asimilat yang dihasilkan juga cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengisi polong/biji yang sudah terbentuk pada fase tersebut. Tanaman dengan karakter biji besar diduga membutuhkan bentuk tanaman yang bercabang sehingga suplai asimilat untuk kebutuhan pengisian dapat dipenuhi oleh source sejak awal fase pengisian, karena periode pengisian biji untuk biji berukuran besar diduga juga lebih lama daripada biji kecil. Apabila asimilat distribusinya terganggu dengan adanya bunga dan ginofor pada fase pengisian maka pengisian biji terganggu dan produksi tanaman menjadi rendah. Varietas dengan ukuran biji besar apabila mampu menenghasilkan jumlah polong yang banyak maka produksi tanaman juga akan tinggi seperti yang ditunjukkan oleh varietas Kancil. Varietas Gajah yang juga berbiji besar jumlah polong/tanaman yang dihasilkan rata-rata lebih sedikit daripada Kancil sehingga produksi varietas Gajah lebih rendah daripada Kancil. ILD42 Jgin42 Jgin daun Jpoltan 0.76 Bobot polong /tanaman Bat B100 Sisaan 1.1% Gambar 18 Karakter-karakter yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap bobot polong/tanaman kacang tanah. Banyaknya ginofor mampu mempengaruhi bobot polong/tanaman. Jumlah ginofor yang banyak pada awal fase generatif (42 HST) cenderung menurunkan bobot polong/tanaman, sebaliknya jumlah ginofor pada akhir fase pengisian (70 HST) cenderung meningkatkan hasil polong. Akumulasi bahan kering tajuk dan ILD pada 42 HST yang tinggi cenderung meningkatkan jumlah ginofor 42 HST (Lampiran 12). Kondisi ini diduga karena tanaman yang menghasilkan banyak

55 89 ginofor pada awal fase generatif (42 HST) akan membutuhkan banyak asimilat untuk pembentukan dan pengisian polong/biji. Apabila tanaman belum membentuk cukup tajuk yang mampu menghasilkan asimilat yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut, proses pembentukan dan pengisian polong akan terganggu atau bersaing dengan tajuk, dan untuk selanjutnya mengganggu hasil polong dan biji. Diantara varietas-varietas yang tergolong menghasilkan bobot tajuk 42 HST tinggi yaitu Gajah, Jerapah, Garuda3, Kancil, Kidang dan Mahesa (Gambar 13) hanya Kancil yang termasuk kelompok dengan bobot polong/tanaman tinggi (Gambar 11). Hal ini diduga karena Kancil tergolong bobot 100 butir tinggi (Tabel 22), mampu menghasilkan jumlah polong tinggi (Tabel 29), termasuk kelompok dengan nilai ILD 70 HST rendah (Gambar 16), dan terutama menghasilkan jumlah polong/tanaman lebih dari 15 polong. Jumlah ginofor 70 HST juga dapat meningkatkan bobot polong tanaman melalui karakter jumlah polong/tanaman. Hal ini dapat diartikan bahwa varietas/tanaman kacang tanah yang menghasilkan jumlah polong tinggi dapat dilihat dari jumlah ginofornya pada 70 HST. Nilai ILD 42 HST dari varietas-varietas dengan bobot tajuk 42 HST tinggi lebih dari 3 pada MT-2010 (Tabel 8). McCloud et al. (1980) menyatakan tanaman kacang tanah dapat meng-intersepsi 95% cahaya matahari pada saat ILD mencapai 3, tetapi karena kacang tanah terus tumbuh setelah berbunga maka nilai ILD 3 ini lebih baik tidak segera tercapai pada fase awal pembentukan polong, karena daun-daun baru akan tumbuh sehingga dapat saling menaungi dan mengganggu suplai asimilat untuk pengisian. Nilai ILD mencapai 3 tampaknya lebih baik tercapai pada awal fase pengisian polong 56 HST untuk menunjang kebutuhan asimilat pada periode tersebut Sidik Lintas Indeks Panen Karakter-karakter yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap indeks panen ditunjukkan pada Lampiran 13 dan ringkasannya ditampilkan pada Gambar 19. Nilai sisaan yang diperoleh dari model ini adalah 18%.

56 90 Karakter source dan sink yang berpengaruh langsung positif pada nilai indeks panen dengan nilai koefisien yang tinggi adalah bobot batang dan daun pada 42 HST, bobot biji/tanaman dan jumlah polong/tanaman. Karakter source dan sink yang berpengaruh langsung negatif pada nilai indeks panen dengan nilai koefisien tinggi adalah ILD 70 HST dan bobot 100 butir. Karakter-karakter yang berpengaruh langsung positif nilai koefisiennya lebih kecil daripada karakterkarakter yang berpengaruh langsung negatif terhadap indeks panen ILD Jgin70 B Bat Bat Indeks Panen 0.27 daun Daun42 Bkbiji/tanaman 0.15 Jpoltan Sisaan 18 % Gambar 19 Karakter-karakter yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap Indeks Panen kacang tanah. Bobot batang dan daun pada 42 HST berpengaruh langsung positif terhadap Indeks Panen. Hal ini menunjukkan tanaman yang pertumbuhan tajuknya cukup baik pada awal fase generatif akan mampu menyuplai asimilat untuk pembentukan dan pengisian polong/biji lebih awal, yang kemudian berdampak pada peningkatan proporsi asimilat untuk polong/biji saat panen. Akan tetapi ada kecenderungan yang lebih besar yaitu bobot batang 42 HST berpengaruh negatif terhadap Indeks Panen dengan nilai korelasi yang lebih besar daripada pengaruh langsungnya yang positif walaupun hubungan pengaruh ini tidak langsung tetapi melalui pengaruh bobot batang 42 HST pada bobot 100 biji. Diduga pada varietas dengan karakter jumlah cabang banyak (bobot batang tinggi) dan ukuran biji besar (bobot 100 biji tinggi) akan membutuhkan asimilat yang tinggi untuk pengisian biji sehingga untuk ketersediaan asimilat ini tanaman akan

57 91 berusaha mempertahankan tajuk besar sehingga pada saat panen nilai Indeks Panen rendah. Karakter varietas ini ditunjukkan oleh Pelanduk dan Kidang. Varietas yang banyak mengakumulasi bahan kering dalam tajuk pada 70 HST akan mengakibatkan Indeks Panennya menurun. Varietas kacang tanah seperti Pelanduk, Sima dan Turangga pada awal berbunga kapasitas sourcenya tergolong rendah tetapi tanaman terus tumbuh selama fase pembentukan dan pengisian sehingga pada fase akhir pengisian kapasitas source tergolong tinggi (Tabel 30 dan Gambar 16). Pada tanaman kacang tanah dengan indeks panen yang rendah tidak berarti kemampuan menghasilkan polong rendah. Apabila tanaman mampu menghasilkan jumlah polong yang tinggi (>15 polong) maka asimilat yang dihasilkan oleh tajuk/source yang tinggi dapat digunakan untuk mengisi polong. Hal ini ditunjukkan oleh Sima dan Pelanduk. Perhatian khusus untuk varietas Badak yang kemampuan menghasilkan source relatif lebih kecil daripada varietas lainnya tetapi mampu menghasilkan dan mengisi lebih banyak polong/tanaman sehingga nilai indeks panen tinggi (>0.40) dan tergolong kelompok yang menghasilkan bobot polong tinggi (Gambar 11, Tabel 30, Tabel 31). Diduga selama fase pengisian varietas Badak mampu mempertahankan luasan daun hijau dengan aktivitas fotosintesis tinggi tanpa menambah tajuk baru Sidik Lintas Persentase Polong Penuh Per Tanaman Karakter yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap pengisian polong hasil analisis sidik lintas ditunjukkan pada Lampiran 13 dan ringkasannya ditampilkan dalam Gambar 20 berikut. Model ini menghasilkan sisaan 3.4% data yang tidak dapat dijelaskan dengan menggunakan model ini. Karakter yang berpengaruh langsung meningkatkan persentase polong penuh dengan nilai koefisien relatif tinggi yaitu jumlah polong/tanaman, bobot 100 biji dan ILD 70 HST. Tingginya jumlah cipo berarti menurunkan persentase polong yang terisi penuh. Bobot kering batang 42 HST berpengaruh positif terhadap persentase polong penuh melalui pengaruhnya terhadap bobot 100 butir dan jumlah cipo/tanaman. ILD 42 HST berpengaruh positif terhadap persentase polong penuh melalui jumlah cipo dan berpengaruh negatif melalui jumlah

58 92 polong/tanaman. Jumlah ginofor 70 HST cenderung menurunkan persentase polong penuh melalui pengaruhnya terhadap jumlah cipo. ILD B %polong penuh ILD Jpoltan Bat Jcipo Sisaan 3.4% Jgin Bpoltan Gambar 20 Karakter-karakter yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap persentase polong penuh kacang tanah. Varietas yang bercabang banyak pada awal fase generatif (bobot batang tinggi) dengan ukuran biji (sink) besar cenderung mampu menghasilkan cukup asimilat untuk pengisian banyak polong/biji karena adanya kecenderungan daundaun pada batang utama menyuplai asimilat untuk pengisian biji, sedangkan daundaun pada cabang menyuplai kebutuhan asimilat akar dan bintil akar (Inanaga dan Yoshihara 1997). Akan tetapi banyaknya cabang memungkinkan tanaman untuk menghasilkan banyak bunga (jumlah cabang berkorelasi positif dengan jumlah bunga, Lampiran 9), yang kemudian dapat berkembang menjadi ginofor dan polong. Adanya dominansi dari polong-polong yang terbentuk dan mengisi lebih dahulu mengakibatkan ginofor tidak dapat berkembang lebih lanjut dan apabila sudah terbentuk polong menjadi tidak terisi (cipo). Gambar 35 menunjukkan hasil polong/tanaman dapat berpengaruh langsung positif terhadap persentase polong penuh melalui jumlah polong/tanaman, yang berarti makin tinggi bobot hasil tanaman cenderung meningkatkan persentase polong penuhnya apabila jumlah polong tanaman tinggi. Varietas Pelanduk dan Kancil menunjukkan karakter ini. Hasil polong/tanaman juga dapat berpengaruh negatif terhadap persentase polong penuh melalui jumlah cipo/tanaman, yang berarti persentase polong penuh yang tinggi dapat karena

59 93 rendahnya jumlah cipo/tanaman atau rendahnya jumlah polong/tanaman (Lampiran 14). Hal ini ditunjukkan oleh varietas Mahesa, Kidang, Jerapah dan Garuda3, yang bobot polongnya tergolong rendah Pembahasan Umum Secara umum, sebelum dan selama fase pengisian biji hingga panen, keduabelas varietas kacang tanah yang diuji menunjukkan perbedaan antara varietas dalam karakter kapasitas source, tetapi aktivitas sourcenya relatif tidak berbeda. Laju akumulasi bahan kering pada MT-2007 memang menunjukkan perbedaan antara varietas tetapi perbedaan hanya pada laju akumulasi bahan kering dalam tajuk dan bukan dalam polong/biji. Hal ini menunjukkan adanya varietas yang mampu menghasilkan source yang lebih tinggi daripada varietas lain tetapi peningkatan kapasitas source ini tidak berdampak pada peningkatan asimilat untuk sink produktif. Berdasarkan perbandingan karakter kapasitas sourcenya pada awal periode pembentukan dan pengisian polong (42HST) kedua belas varietas kacang tanah dapat dibagi menjadi varietas dengan kapasitas source tinggi yaitu Kancil, Pelanduk, Gajah, Kidang, Mahesa, Jerapah dan Garuda3, dan varietas dengan kapasitas source rendah yaitu Badak, kelinci, Panter, Sima dan Turangga. Selama periode pengisian biji tanaman kacang tanah masih terus mengakumulasi bahan kering dalam tajuk, tetapi ada beberapa varietas yang lebih tinggi akumulasi bahan keringnya dan ada beberapa varietas yang pertambahan bahan kering tajuk sedikit tertekan. Varietas dengan akumulasi bahan kering yang tinggi pada periode pengisian biji (kapasitas source tinggi pada 70 HST) adalah Sima, Turangga, Pelanduk, Kidang, Jerapah dan Mahesa. Varietas dengan pertambahan bahan kering tajuk terbatas pada periode pengisian biji (kapasitas source rendah pada 70 HST) adalah Garuda3, Gajah, Kancil, Badak, Panter dan Kelinci. Pada kacang tanah jumlah polong/tanaman merupakan karakter yang dipengaruhi oleh genetik dan relatif stabil. Jumlah polong, yang merupakan kapasitas sink, sudah ditentukan banyaknya sebelum periode pengisian biji (sebelum ± 40HST). Jumlah polong merupakan karakter kapasitas sink yang

60 94 mempengaruhi hasil/bobot polong, bobot biji, Indeks Panen maupun kualitas produksi (persentase polong penuh) tanaman. Banyaknya polong yang dapat terbentuk sebelum 40 HST dalam penelitian ini tidak banyak ditentukan oleh banyaknya bunga yang terbentuk pada periode tersebut. Semua varietas yang diuji menghasilkan cukup bunga untuk menghasilkan 15 polong/tanaman sebelum 40 HST, walaupun terdapat perbedaan antar varietas dalam pola pembungaan, akan tetapi perhatian perlu ditujukan pada pembentukan ginofor menjadi polong karena proses ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tumbuh. Berdasarkan perbandingan karakter kapasitas sinknya (jumlah dan bobot polong/tanaman), varietas Badak, Pelanduk, Kancil, Sima dan Panter dapat dikelompokkan sebagai varietas dengan kapasitas sink tinggi, sedangkan varietas Garuda3, Kidang, Turangga, Kelinci, Gajah, Mahesa dan jerapah termasuk kelompok dengan kapasitas sink rendah. Dari penelitian ini didapatkan adanya tujuh pola hubungan source dan sink pada kacang tanah. Ketujuh pola hubungan source dan sink itu adalah : 1. Tanaman dengan kapasitas dan aktivitas source tinggi sejak awal pertumbuhannya, mampu menghasilkan bahan kering tinggi pada awal fase pembentukan dan pengisian polong/biji, luasan daun hijau terus ditingkatkan selama fase pengisian untuk mempertahankan aktivitas source tinggi pada fase pengisian hingga masuk fase pemasakan biji. Ginofor banyak yang menjadi polong pada awal fase pembentukan dan pengisian biji sehingga jumlah polong/tanaman saat panen lebih dari 15 polong, ginofor juga masih banyak dihasilkan tanaman hingga akhir fase pengisian biji. Tingginya bahan kering yang dihasilkan tanaman mengakibatkan tanaman mampu mengisi lebih banyak polong sehingga disamping menghasilkan bobot polong/tanaman tinggi dan persentase polong penuh >70% tetapi Indeks Panen rendah. Tipe ini ditunjukkan oleh varietas Pelanduk. 2. Tanaman dengan kapasitas dan aktivitas source tinggi sejak awal pertumbuhannya, mampu menghasilkan bahan kering tinggi pada awal fase pembentukan dan pengisian polong/biji, luasan daun hijau terus ditingkatkan selama fase pengisian untuk mempertahankan aktivitas source tinggi pada fase pengisian hingga masuk fase pemasakan biji dan menghasilkan banyak

61 95 ginofor selama fase pengisian. Kapasitas sink tergolong rendah karena kemampuan menghasilkan bunga dan ginofor yang menjadi polong pada awal fase pembentukan dan pengisian polong/biji rendah. Karena jumlah polong sedikit persentase polong penuh >70% dengan Indeks Panen sedang. Tipe ini ditunjukkan oleh varietas Kidang, Mahesa dan Jerapah. 3. Tanaman dengan kapasitas dan aktivitas source tinggi sejak awal pertumbuhan, mampu menghasilkan bahan kering tinggi pada awal fase pembentukan dan pengisian polong/biji. Kapasitas sink tergolong tinggi karena mampu menghasilkan banyak bunga dan ginofor yang menjadi polong pada awal fase pembentukan dan pengisian polong/biji. Kapasitas source dan pembentukan ginofor pada fase pengisian biji terbatas, tanaman mampu mempertahankan luasan daun yang ada tetap hijau. Indeks Panen tinggi, menghasilkan bobot polong/tanaman tinggi, persentase polong penuh >70% dan bobot 100 biji tinggi. Tipe ini ditunjukkan oleh varietas Kancil. 4. Tanaman dengan kapasitas dan aktivitas source tinggi sejak awal pertumbuhan, mampu menghasilkan bahan kering tinggi pada awal fase pembentukan dan pengisian polong/biji. Kapasitas sink tergolong rendah karena kemampuan menghasilkan ginofor menjadi polong yang rendah pada awal fase pembentukan polong sehingga jumlah polong sedikit. Indeks Panen tinggi, persentase polong penuh >70% dan bobot 100 biji tinggi. Tipe ini ditunjukkan oleh varietas Gajah dan Garuda3. 5. Tanaman dengan kapasitas dan aktivitas source pada awal pertumbuhan yang cenderung lambat. Kapasitas dan aktivitas source terus meningkat dengan cepat selama fase pengisian hingga masuk fase pemasakan biji. Tanaman menghasilkan ginofor dan polong tinggi sejak fase pembentukan ginofor dan polong sehingga pada saat panen jumlah polong/tanaman dapat lebih dari 15 polong, ginofor juga masih banyak muncul pada fase pengisian. Indeks Panen dan persentase polong penuh rendah karena distribusi asimilat ke dalam polong terganggu kebutuhan untuk meningkatkan luasan daun hijau serta pembentukan bunga dan ginofor. Tipe ini ditunjukkan oleh varietas Sima.

62 96 6. Tanaman dengan kapasitas dan aktivitas source pada awal pertumbuhan yang cenderung lambat. Kapasitas dan aktivitas source terus meningkat dengan cepat selama fase pengisian hingga masuk fase pemasakan. Kemampuan sink rendah karena menghasilkan ginofor menjadi polong kurang serempak, ginofor terus terbentuk selama fase pengisian. Indeks panen rendah, persentase pengisian yang relatif rendah sehingga produksi polong juga rendah. Tipe ini ditunjukkan oleh varietas Turangga. 7. Tanaman dengan kapasitas dan aktivitas source yang lebih rendah daripada varietas lainnya pada awal fase generatif, pertambahan bahan kering tidak terlalu cepat sehingga pada akhir fase pengisian akumulasi bahan kering relatif sedang. Tanaman mampu menghasilkan banyak ginofor dan polong sehingga jumlah polong/tanaman lebih dari 15 polong. Distribusi asimilat kedalam polong tidak banyak terganggu oleh persaingan asimilat dengan tajuk sehingga persentase polong penuh dan Indeks Panen tinggi (>0,38). Tipe ini ditunjukkan oleh varietas Badak, Panter dan Kelinci. Tanaman kacang tanah membutuhkan kapasitas dan aktivitas source tinggi untuk menghasilkan banyak asimilat. Daun-daun kacang tanah harus tahan penyakit yang menyerang daun seperti bercak daun, karat daun dan virus, terutama pada periode pengisian biji hingga HST. Munculnya penyakit dapat menyebabkan produksi asimilat terganggu dan pada akhirnya mengganggu pengisian biji. Selama periode utama pengisian biji (56-70 HST), fotosintesis selama periode ini merupakan penyedia utama asimilat untuk pengisian biji. Selama periode ini tanaman juga masih terus meningkatkan akumulasi bahan kering dalam tajuk. Adanya peningkatan jumlah dan luasan daun apabila terlalu besar menjadi tidak menguntungkan karena daun-daun akan saling menaungi yang menyebabkan daun-daun bagian bawah tidak lagi aktif berfotosintesis dan hanya berfungsi sebagai pesaing asimilat bagi polong yang sedang mengisi. Untuk dapat menghasilkan asimilat tinggi dan meminimalkan daun-daun yang saling menaungi maka luasan daun perlu diperhatikan. Tanaman kacang tanah diharapkan menghasilkan ILD pada fase awal generatif (42 HST) mencapai 2, memasuki fase pengisian (56HST) diharapkan kanopi sudah menutup dan ILD

63 97 mencapai nilai 3-4 sehingga sebagian besar daun dapat menerima radiasi matahari secara maksimal. Pertambahan tajuk baru selama fase pengisian tidak diharapkan karena akan mengurangi asimilat untuk pengisian biji, akan tetapi karena sifat tanaman kacang tanah yang semideterminate maka nilai ILD mencapai 5-6 pada akhir fase pengisian biji (70 HST) sudah cukup baik. ILD 5-6 diharapkan cukup baik untuk mempertahankan kebutuhan asimilat pada fase-fase selanjutnya Polong dan biji kacang tanah terbentuk di dalam tanah. Lokasi yang relatif jauh dari tajuk (source) sehingga, tajuk yang terus tumbuh dapat menjadi kompetitor kuat bagi polong dan biji dalam memperebutkan asimilat. Karena polong dan biji tidak dapat menjadi kompetitor asimilat yang kuat bagi tajuk, diduga mengakibatkan tajuk terus tumbuh selama fase pengisian biji, yang kemudian berakibat banyak daun menjadi saling menutupi, dan pada akhirnya distribusi asimilat ke polong dan biji makin terganggu. Untuk mencegah pertumbuhan tajuk yang terlalu dominan sebaiknya tinggi batang utama kacang tanah diupayakan untuk tidak terlalu tinggi. Tampaknya tinggi batang utama yang mencapai 70 cm sudah mencukupi. Pembatasan tinggi batang utama ini diharapkan dapat menekan pertumbuhan daun, bunga dan ginofor baru sehingga tidak menjadi pesaing asimilat bagi polong/biji yang sedang mengisi. Varietas yang menghasilkan jumlah polong tinggi sebagian besar ditandai pula dengan kemampuan menghasilkan ginofor yang tinggi. Varietas-varietas ini cenderung memiliki habitus tinggi tegak/kurang bercabang. Pada tanaman kacang tanah, bunga dan ginofor terus muncul selama pertumbuhan tanaman kacang tanah, padahal ginofor merupakan kompetitor asimilat pula. Apabila ginofor terbentuk pada lokasi yang terlalu jauh dari permukaan tanah akibatnya ginofor ini tidak akan terbentuk menjadi polong. Sumarno dan Slamet (1993) menyatakan apabila tangkai ginofor tumbuh lebih dari 15 cm, maka ginofor akan berhenti tumbuh dan tidak akan membentuk polong. Munculnya ginofor pada fase pengisian akan menjadi pesaing bagi polong yang sedang mengisi dalam mendapatkan asimilat. Akan tetapi hasil sidik lintas menunjukkan bahwa, ada hubungan pengaruh langsung positif karakter jumlah ginofor dengan karakter produksi (bobot polong/tanaman). Hal ini memunculkan dugaan bahwa terbentuknya bunga dan ginofor mengakibatkan lebih banyak asimilat disediakan

64 98 oleh source untuk menyuplai kebutuhan ke bagian bawah tanaman (pengisian polong) daripada ke bagian atas tanaman untuk pertumbuhan tunas. Diduga pada tanaman yang habitus tinggi dan kurang bercabang munculnya banyak bunga dan ginofor yang terbentuk pada fase pengisian akan lebih menguntungkan untuk pengisian polong/biji. Varietas yang membentuk percabangan sejak awal fase pertumbuhannya cenderung cepat menghasilkan daun yang dapat digunakan untuk menopang kebutuhan asimilat untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman seawal mungkin. Ginofor banyak terbentuk pada buku-buku batang utama yang dekat permukaan tanah sehingga memudahkan ginofor untuk masuk kedalam tanah membentuk polong. Karena polong banyak terbentuk pada batang utama maka daun-daun pada batang utama merupakan penyuplai utama asimilat untuk pengisian polong/biji. Daun-daun yang tumbuh pada cabang merupakan penyuplai asimilat utuk kebutuhan sink-sink lain selain biji. Polong dan biji dapat menjadi sink yang kuat sehingga hanya sedikit bunga dan ginofor terbentuk pada periode pengisian biji terutama pada puncak pengisian yaitu sekitar HST. Hasil sidik lintas menunjukkan bahwa tanaman dengan bobot batang pada awal fase generatif (42 HST) berpengaruh walaupun tidak langsung terhadap bobot polong/tanaman dan persentase polong penuh. Tanaman yang bercabang banyak bobot batangnya juga tinggi karena jumlah cabang berkorelasi positif dengan bobot batang, dan data juga menunjukkan bahwa varietas kacang tanah yang bercabang pengisian polong/bijinya lebih baik daripada tanaman yang sedikit bercabang, lebih banyak polong terisi penuh dengan bobot 100 butir tinggi. Hal ini karena polong tidak banyak bersaing dengan tajuk dan ginofor selama fase pengisian. Walaupun demikian terdapat kekurangan dari tanaman bercabang yaitu apabila bunga, ginofor dan polong tidak terbentuk cukup serempak sehingga hanya sedikit polong yang dapat terbentuk. Polong yang terbentuk lebih dahulu ini akan menjadi sink kuat dan mengakibatkan perkembangan ginofor dan polong yang terbentuk kemudian menjadi terhambat. Apabila diharapkan butir kacang tanah yang besar (bobot 100 butir > 50 gram) dan kualitas polong yang baik (polong penuh terisi biji), tanaman kacang tanah sebaiknya bercabang karena asimilat untuk pertumbuhan dan perkembangan

65 99 polong dan biji tidak banyak terbagi oleh kebutuhan sink-sink lain. Jumlah cabang maksimal 5-6 cabang pada 42-56HST sehingga dapat menopang banyak bunga dan ginofor pada awal fase generatif. Tinggi batang utama saat panen tidak terlalu tinggi 65-70cm, untuk menjamin ruang tumbuh tanaman tidak terlalu rimbun sehingga daun masih cukup mendapat radiasi matahari dan menghambat pembentukan bunga dan ginofor baru. Banyaknya polong yang dapat dipanen sudah ditentukan sebelum periode pengisian biji (sebelum ± 40HST). Oleh karena itu untuk menghasilkan banyak polong, bunga diharapkan muncul serempak membentuk ginofor dan sebanyak mungkin ginofor serempak membentuk polong muda yang siap untuk diisi. Bunga kacang tanah muncul pada HST dan sebaiknya dalam waktu 2-3 hari 50% populasi berbunga tercapai sehingga didapatkan periode waktu pengisian polong yang cukup (56-60 hari). Dari data yang diperoleh 60% bunga dari total bunga sudah muncul sebelum 40HST. Untuk menjamin jumlah polong/tanaman ±20 polong pada saat panen maka jumlah ginofor ±10 hari setelah berbunga mencapai ginofor. Indeks Panen varietas-varietas kacang tanah yang diperoleh dalam penelitian ini lebih baik dari Indeks Panen varietas kacang tanah Indonesia seperti yang dilaporkan Bell dan Wright (1997). Beberapa varietas bahkan dapat mencapai rata-rata Indeks Panen yang menunjukkan besarnya asimilat yang didistribusikan untuk pengisian polong/biji. Indeks Panen ditemukan tidak berkorelasi dengan produksi tanaman kemungkinan hal ini disebabkan varietasvarietas kacang tanah yang dikembangkan masih bertumpu pada peningkatan produksi biomassa untuk mencapai produksi tinggi. Berdasarkan hasil sidik lintas, bobot batang dan daun yang tinggi pada fase awal generatif berpengaruh langsung terhadap Indeks Panen. Diduga tanaman dengan pertumbuhan tajuk yang tinggi pada awal generatif dibutuhkan untuk mendapatkan cukup asimilat yang diperlukan untuk menghasilkan banyak ginofor menjadi polong (Tabel 6 dan 17). Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan karakter yang mampu meningkatkan Indeks Panen. Ada indikasi terjadinya remobilisasi asimilat pada beberapa varietas untuk pengisian biji yang terjadi setelah periode utama pengisian biji (setelah 70 HST

66 100 hingga panen). Hal ini ditandai dengan meningkatnya bobot polong disertai dengan penurunan bobot batang dan daun, seperti yang terjadi pada varietas Garuda3, atau dengan bobot batang dan daun yang relatif tetap seperti terjadi pada varietas Gajah, Jerapah, Mahesa dan Kelinci. Masih perlu diteliti lebih lanjut faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya remobilisasi ini. Berdasarkan penjelasan karakter-karakter source dan sink tadi maka disusunlah satu tipe keragaan ideal tanaman kacang tanah yang diharapkan mampu berproduksi tinggi dengan persentase pengisian biji yang tinggi. Ideotype tanaman kacang tanah ini diharapkan memiliki karakter : Mempunyai kapasitas dan aktifitas source tinggi sehingga mampu menghasilkan bahan kering yang besar dengan bobot 100 biji > 50 gram Ukuran daun kecil, relatif tegak dengan sudut daun sempit, kemampuan menghasilkan asimilat tinggi. ILD pada fase awal generatif (42HST) mencapai 2, memasuki fase pengisian (56HST) mencapai 3-4, dan pada akhir fase pengisian ILD mencapai 5-6. ILD pada fase-fase selanjutnya dipertahankan 5-6 untuk pemasakan polong. Tanaman membentuk percabangan (maksimal 5-6 cabang) pada 42-56HST sehingga dapat menopang banyak bunga dan ginofor pada awal fase generatif. Tinggi batang utama saat panen tidak terlalu tinggi ± 70cm Bunga muncul serempak pada 28HST dan dalam waktu 2-3 hari 50% populasi berbunga tercapai. Enam puluh persen bunga dari total bunga sudah muncul sebelum 40HST. Jumlah ginofor 10 hari setelah berbunga mencapai ginofor. Hal ini untuk menjamin jumlah polong/tanaman lebih dari 20 polong pada saat panen. Bunga dan ginofor tidak terbentuk pada periode puncak pengisian (56-70HST) Indeks panen tanaman mencapai ±

SOURCE DAN SINK PADA TANAMAN KACANG TANAH

SOURCE DAN SINK PADA TANAMAN KACANG TANAH SOURCE DAN SINK PADA TANAMAN KACANG TANAH Heni Purnamawati 1) dan Achmad Ghozi Manshuri 2) 1) Staf pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB, Bogor. 2) Balai Penelitian Tanaman

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kacang tanah merupakan komoditas kacang-kacangan kedua yang ditanam secara luas di Indonesia setelah kedelai. Produktivitas kacang tanah di Indonesia tahun 1986 tercatat

Lebih terperinci

Lampiran 1 Deskripsi duabelas varietas kacang tanah

Lampiran 1 Deskripsi duabelas varietas kacang tanah LAMPIRAN 109 110 Lampiran 1 Deskripsi duabelas varietas kacang tanah Nama Varietas : Gajah Tahun : 1950 Tetua : Seleksi keturunan persilangan Schwarz-21 Spanish 18-38 Potensi Hasil : 1,8 ton/ha Mulai berbunga

Lebih terperinci

Peningkatan Produktivitas Kacang. Keseimbangan Source dan Sink

Peningkatan Produktivitas Kacang. Keseimbangan Source dan Sink Peningkatan Produktivitas Kacang Tanah Melalui Perbaikan Keseimbangan Source dan Sink Iskandar Lubis A.Ghozi Manshuri Sri Astuti Rais Heni Purnamawati Aries Kusumawati KKP3T 2009 Latar Belakang Produktivitas

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu 14 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB, Dramaga, Bogor pada ketinggian 250 m dpl dengan tipe tanah Latosol. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan ini dilakukan mulai bulan Oktober 2007 hingga Februari 2008. Selama berlangsungnya percobaan, curah hujan berkisar antara 236 mm sampai dengan 377 mm.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lahan penelitian yang digunakan merupakan lahan yang selalu digunakan untuk pertanaman tanaman padi. Lahan penelitian dibagi menjadi tiga ulangan berdasarkan ketersediaan

Lebih terperinci

PERAKITAN KULTIVAR KACANG TANAH TAHAN PENYAKIT KAPASITAS SOURCE-SINK SEIMBANG UNTUK

PERAKITAN KULTIVAR KACANG TANAH TAHAN PENYAKIT KAPASITAS SOURCE-SINK SEIMBANG UNTUK PERAKITAN KULTIVAR KACANG TANAH TAHAN PENYAKIT BERCAK DAUN DENGAN KAPASITAS SOURCE-SINK SEIMBANG UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS Tim peneliti: Yudiwanti Wahyu EK (IPB) Heni Purnamawati (IPB) Sri Astuti

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Upaya peningkatan produksi ubi kayu seringkali terhambat karena bibit bermutu kurang tersedia atau tingginya biaya pembelian bibit karena untuk suatu luasan lahan, bibit yang dibutuhkan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Hasil Analisis Tanah di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB

Lampiran 1. Hasil Analisis Tanah di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB LAMPIRAN 34 35 Lampiran 1. Hasil Analisis Tanah di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB Data analisa Kandungan Kriteria (*) ph (H 2 O 1:1) 5.20 Masam C-organik (%) 1.19 Rendah N-Total 0.12 Rendah P (Bray 1) 10.00

Lebih terperinci

PEMBAHASAN UMUM Hubungan Karakter Morfologi dan Fisiologi dengan Hasil Padi Varietas Unggul

PEMBAHASAN UMUM Hubungan Karakter Morfologi dan Fisiologi dengan Hasil Padi Varietas Unggul 147 PEMBAHASAN UMUM Hubungan Karakter Morfologi dan Fisiologi dengan Hasil Padi Varietas Unggul Karakter morfologi tanaman pada varietas unggul dicirikan tipe tanaman yang baik. Hasil penelitian menunjukkan

Lebih terperinci

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan IV. Hasil dan pembahasan A. Pertumbuhan tanaman 1. Tinggi Tanaman (cm) Ukuran tanaman yang sering diamati baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Uji t digunakan untuk membandingkan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Syarat Tumbuh

TINJAUAN PUSTAKA. Syarat Tumbuh 3 TINJAUAN PUSTAKA Syarat Tumbuh Tanah Jenis tanah yang sesuai untuk pertumbuhan kacang tanah adalah lempung berpasir, liat berpasir, atau lempung liat berpasir. Keasaman (ph) tanah yang optimal untuk

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penanaman dilakukan pada bulan Februari 2011. Tanaman melon selama penelitian secara umum tumbuh dengan baik dan tidak ada mengalami kematian sampai dengan akhir penelitian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Perlakuan kadar air media (KAM) dan aplikasi paclobutrazol dimulai pada saat tanaman berumur 4 bulan (Gambar 1a) hingga tanaman berumur 6 bulan. Penelitian yang dilakukan

Lebih terperinci

PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP HASIL PADI VARIETAS UNGGUL

PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP HASIL PADI VARIETAS UNGGUL 99 PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP HASIL PADI VARIETAS UNGGUL Effect of Plant Spacing on Yield of Various Types of Rice Cultivars Abstrak Penelitian yang bertujuan mempelajari pengaruh jarak tanam terhadap

Lebih terperinci

3. BAHAN DAN METODE 3.1. Percobaan Kapasitas Source dan Sink Pada Beberapa Varietas Kacang Tanah Waktu dan Lokasi Penelitian

3. BAHAN DAN METODE 3.1. Percobaan Kapasitas Source dan Sink Pada Beberapa Varietas Kacang Tanah Waktu dan Lokasi Penelitian 23 3. BAHAN DAN METODE Penelitian ini terbagi atas dua percobaan. Percobaan pertama dimaksudkan untuk mendapatkan informasi mengenai kapasitas dan aktivitas source dan sink dengan mengamati beberapa varietas

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan 10 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Babakan Sawah Baru, Darmaga Bogor pada bulan Januari 2009 hingga Mei 2009. Curah hujan rata-rata dari bulan Januari

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per

HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa kombinasi pupuk Urea dengan kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per tanaman, jumlah buah per tanaman dan diameter

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN. Hasil analisis statistika menunjukkan adaptasi galur harapan padi gogo

BAB V HASIL PENELITIAN. Hasil analisis statistika menunjukkan adaptasi galur harapan padi gogo 26 BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Adaptasi Galur Harapan Padi Gogo Hasil analisis statistika menunjukkan adaptasi galur harapan padi gogo berpengaruh nyata terhadap elevasi daun umur 60 hst, tinggi tanaman

Lebih terperinci

BAB VI PEMBAHASAN. lambat dalam menyediakan unsur hara bagi tanaman kacang tanah, penghanyutan

BAB VI PEMBAHASAN. lambat dalam menyediakan unsur hara bagi tanaman kacang tanah, penghanyutan 49 BAB VI PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara dosis pupuk kandang sapi dengan varietas kacang tanah tidak berpengaruh nyata terhadap semua variabel pertumbuhan, kompenen hasil

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang ditampilkan pada bab ini terdiri dari hasil pengamatan selintas dan pengamatan utama. Pengamatan selintas terdiri dari curah hujan, suhu udara, serangan

Lebih terperinci

Percobaan 3. Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Kacang Tanah pada Populasi Tanaman yang Berbeda

Percobaan 3. Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Kacang Tanah pada Populasi Tanaman yang Berbeda Percobaan 3. Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Kacang Tanah pada Populasi Tanaman yang Berbeda Latar Belakang Untuk memperoleh hasil tanaman yang tinggi dapat dilakukan manipulasi genetik maupun lingkungan.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Stabilitas Galur Sidik ragam dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap karakter pengamatan. Perlakuan galur pada percobaan ini memberikan hasil berbeda nyata pada taraf

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah Dramaga, keadaan iklim secara umum selama penelitian (Maret Mei 2011) ditunjukkan dengan curah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Keadaan tanaman cabai selama di persemaian secara umum tergolong cukup baik. Serangan hama dan penyakit pada tanaman di semaian tidak terlalu banyak. Hanya ada beberapa

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian Tanjung Selamat, Kecamatan Tuntungan, Kabupaten Deli Serdang

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian Tanjung Selamat, Kecamatan Tuntungan, Kabupaten Deli Serdang BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di UPT Balai Benih Induk (BBI) Palawija Dinas Pertanian Tanjung Selamat, Kecamatan Tuntungan, Kabupaten Deli Serdang Medan,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan Juli 2013. Pada awal penanaman sudah memasuki musim penghujan sehingga mendukung pertumbuhan tanaman. Penyiraman

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. menunjukkan bahwa penggunaan jenis mulsa dan jarak

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. menunjukkan bahwa penggunaan jenis mulsa dan jarak IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Tinggi Tanaman (cm ) Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penggunaan jenis mulsa dan jarak tanam yang berbeda serta interaksi antara kedua perlakuan

Lebih terperinci

Akumulasi dan Distribusi Bahan Kering pada Beberapa Kultivar Kacang Tanah. Accumulation and Distribution of Plant Dry Matter in Peanut Cultivars

Akumulasi dan Distribusi Bahan Kering pada Beberapa Kultivar Kacang Tanah. Accumulation and Distribution of Plant Dry Matter in Peanut Cultivars Akumulasi dan Distribusi Bahan Kering pada Beberapa Kacang Tanah Accumulation and Distribution of Plant Dry Matter in Peanut Cultivars Heni Purnamawati 1*, Roedhy Poerwanto 1, Iskandar Lubis 1, Yudiwanti

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Data penelitian yang diperoleh pada penelitian ini berasal dari beberapa parameter pertumbuhan anakan meranti merah yang diukur selama 3 bulan. Parameter yang diukur

Lebih terperinci

Jumlah Hari Hujan Gerimis Gerimis-deras Total September. Rata-rata Suhu ( o C) Oktober '13 23,79 13,25 18, November

Jumlah Hari Hujan Gerimis Gerimis-deras Total September. Rata-rata Suhu ( o C) Oktober '13 23,79 13,25 18, November BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang disajikan dalam bab ini adalah pengamatan selintas dan utama. 4.1. Pengamatan Selintas Pengamatan selintas merupakan pengamatan yang hasilnya tidak diuji

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Perkecambahan Benih Penanaman benih pepaya dilakukan pada tray semai dengan campuran media tanam yang berbeda sesuai dengan perlakuan. Kondisi kecambah pertama muncul tidak seragam,

Lebih terperinci

KACANG HIJAU. 16 Hasil Utama Penelitian Tahun 2013 PERBAIKAN GENETIK

KACANG HIJAU. 16 Hasil Utama Penelitian Tahun 2013 PERBAIKAN GENETIK KACANG HIJAU PERBAIKAN GENETIK Kacang hijau semakin menjadi pilihan untuk dibudi dayakan, karena secara teknis agronomis efisien terhadap air dibanding padi atau tanaman palawija lain. Masalah utama budi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Panjang Tongkol Berkelobot Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan umur panen memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang tongkol berkelobot. Berikut

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 9 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Karakteristik Lokasi Penelitian Luas areal tanam padi adalah seluas 6 m 2 yang terletak di Desa Langgeng. Secara administrasi pemerintahan Desa Langgeng Sari termasuk dalam

Lebih terperinci

KARAKTER MORFOLOGI DAN AGRONOMI PADI VARIETAS UNGGUL

KARAKTER MORFOLOGI DAN AGRONOMI PADI VARIETAS UNGGUL 35 KARAKTER MORFOLOGI DAN AGRONOMI PADI VARIETAS UNGGUL Morphological and Agronomy Characters Of Various Types of Rice Cultivars Abstrak Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari karakter morfologi dan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Kualitatif Karakter kualitatif yang diamati pada penelitian ini adalah warna petiol dan penampilan daun. Kedua karakter ini merupakan karakter yang secara kualitatif berbeda

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Benih kedelai dipanen pada dua tingkat kemasakan yang berbeda yaitu tingkat kemasakan 2 dipanen berdasarkan standar masak panen pada deskripsi masing-masing varietas yang berkisar

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. ternyata dari tahun ke tahun kemampuannya tidak sama. Rata-rata

PENDAHULUAN. ternyata dari tahun ke tahun kemampuannya tidak sama. Rata-rata PENDAHULUAN Latar Belakang Tanaman kedelai merupakan tanaman hari pendek dan memerlukan intensitas cahaya yang tinggi. Penurunan radiasi matahari selama 5 hari atau pada stadium pertumbuhan akan mempengaruhi

Lebih terperinci

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Pertumbuhan. Variabel pertumbuhan tanaman Kedelai Edamame terdiri atas tinggi tanaman, jumlah daun,

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Pertumbuhan. Variabel pertumbuhan tanaman Kedelai Edamame terdiri atas tinggi tanaman, jumlah daun, I. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Variabel Pertumbuhan Variabel pertumbuhan tanaman Kedelai Edamame terdiri atas tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar tajuk, bobot kering tajuk, bobot segar akar, dan bobot

Lebih terperinci

KAPASITAS FOTOSINTESIS LIMA VARIETAS KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PRODUKTIVITAS NI WAYAN SINDRA JULIARINA A

KAPASITAS FOTOSINTESIS LIMA VARIETAS KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PRODUKTIVITAS NI WAYAN SINDRA JULIARINA A KAPASITAS FOTOSINTESIS LIMA VARIETAS KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PRODUKTIVITAS NI WAYAN SINDRA JULIARINA A24080010 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN

Lebih terperinci

BAHAN METODE PENELITIAN

BAHAN METODE PENELITIAN BAHAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl, dilaksanakan pada

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Keadaan Umum Penelitian Tanah yang digunakan pada penelitian ini bertekstur liat. Untuk mengurangi kelembaban tanah yang liat dan menjadikan tanah lebih remah, media tanam

Lebih terperinci

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. cendawan MVA, sterilisasi tanah, penanaman tanaman kedelai varietas Detam-1.

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. cendawan MVA, sterilisasi tanah, penanaman tanaman kedelai varietas Detam-1. IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan, yakni perbanyakan inokulum cendawan MVA, sterilisasi tanah, penanaman tanaman kedelai varietas Detam-1. Perbanyakan inokulum

Lebih terperinci

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Tinggi Tanaman. Hasil penelitian menunjukan berbagai kadar lengas tanah pada stadia

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Tinggi Tanaman. Hasil penelitian menunjukan berbagai kadar lengas tanah pada stadia IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Tinggi Tanaman Hasil penelitian menunjukan berbagai kadar lengas tanah pada stadia pertumbuhan yang berbeda memberikan pengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kandungan Hara Tanah Analisis kandungan hara tanah pada awal percobaan maupun setelah percobaan dilakukan untuk mengetahui ph tanah, kandungan C-Organik, N total, kandungan

Lebih terperinci

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung Manis. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang dialami oleh setiap

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung Manis. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang dialami oleh setiap IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung Manis Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang dialami oleh setiap jenis makhluk hidup termasuk tanaman. Proses ini berlangsung

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Tanah Sebelum Pemadatan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Tanah Sebelum Pemadatan 18 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Tanah Sebelum Pemadatan Hasil analisis sifat kimia tanah Podsolik Jasinga disajikan pada Tabel 5. Berdasarkan kriteria Balai Penelitian Tanah (2005), tanah Podsolik

Lebih terperinci

Lampiran 1 Pengaruh perlakuan terhadap pertambahan tinggi tanaman kedelai dan nilai AUHPGC

Lampiran 1 Pengaruh perlakuan terhadap pertambahan tinggi tanaman kedelai dan nilai AUHPGC LAMPIRAN 38 38 Lampiran 1 Pengaruh perlakuan terhadap pertambahan tinggi tanaman kedelai dan nilai AUHPGC Perlakuan Laju pertambahan tinggi (cm) kedelai pada minggu ke- a 1 2 3 4 5 6 7 AUHPGC (cmhari)

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara Lampiran 1. Tabel Rataan Tinggi Tanaman (cm) 2 MST W0J0 87,90 86,60 86,20 260,70 86,90 W0J1 83,10 82,20 81,00 246,30 82,10 W0J2 81,20 81,50 81,90 244,60 81,53 W1J0 78,20 78,20 78,60 235,00 78,33 W1J1 77,20

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 14 4.1. Tinggi Tanaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil analisis ragam dan uji BNT 5% tinggi tanaman disajikan pada Tabel 1 dan Lampiran (5a 5e) pengamatan tinggi tanaman dilakukan dari 2 MST hingga

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian telah dilaksanakan di Green House Fakultas Pertanian UMY dan

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian telah dilaksanakan di Green House Fakultas Pertanian UMY dan III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian telah dilaksanakan di Green House Fakultas Pertanian UMY dan Laboratorium Penelitian pada bulan Januari sampai April 2016. B. Bahan dan

Lebih terperinci

II. METODE PENELITIAN

II. METODE PENELITIAN 9 II. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober 2015 sampai bulan Desember 2015 yang bertempat di di Pusat Penelitian dan Pengembangan Lahan Kering

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 21 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Intensitas Serangan Hama Penggerek Batang Padi (HPBP) Hasil penelitian tingkat kerusakan oleh serangan hama penggerek batang pada tanaman padi sawah varietas inpari 13

Lebih terperinci

Menimbang Indeks Luas Daun Sebagai Variabel Penting Pertumbuhan Tanaman Kakao. Fakhrusy Zakariyya 1)

Menimbang Indeks Luas Daun Sebagai Variabel Penting Pertumbuhan Tanaman Kakao. Fakhrusy Zakariyya 1) Menimbang Indeks Luas Daun Sebagai Variabel Penting Pertumbuhan Tanaman Kakao Fakhrusy Zakariyya 1) 1) Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB Sudirman 90 Jember 68118 Daun merupakan salah satu

Lebih terperinci

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida, PEMBAHASAN PT National Sago Prima saat ini merupakan perusahaan satu-satunya yang bergerak dalam bidang pengusahaan perkebunan sagu di Indonesia. Pengusahaan sagu masih berada dibawah dinas kehutanan karena

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Pemadatan Tanah

TINJAUAN PUSTAKA. Pemadatan Tanah 3 TINJAUAN PUSTAKA Pemadatan Tanah Hillel (1998) menyatakan bahwa tanah yang padat memiliki ruang pori yang rendah sehingga menghambat aerasi, penetrasi akar, dan drainase. Menurut Maryamah (2010) pemadatan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman. antara pengaruh pemangkasan dan pemberian ZPT paklobutrazol. Pada perlakuan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman. antara pengaruh pemangkasan dan pemberian ZPT paklobutrazol. Pada perlakuan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman Dari (tabel 1) rerata tinggi tanaman menunjukkan tidak ada interaksi antara pengaruh pemangkasan dan pemberian ZPT paklobutrazol. Pada perlakuan pemangkasan menunjukan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. lingkungan atau perlakuan. Berdasarkan hasil sidik ragam 5% (lampiran 3A)

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. lingkungan atau perlakuan. Berdasarkan hasil sidik ragam 5% (lampiran 3A) IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman 1. Tinggi tanaman Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang mudah untuk diamati dan sering digunakan sebagai parameter untuk mengukur pengaruh dari lingkungan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga Agustus 2009 di Kebun Karet Rakyat di Desa Sebapo, Kabupaten Muaro Jambi. Lokasi penelitian yang digunakan merupakan milik

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Timur Kabupaten Semarang dan di Laboratorium Penelitian Fakultas Pertanian

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Timur Kabupaten Semarang dan di Laboratorium Penelitian Fakultas Pertanian III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian telah dilaksanakan di lahan kering daerah Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang dan di Laboratorium Penelitian Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap

HASIL DAN PEMBAHASAN. Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian yang dilakukan terbagi menjadi dua tahap yaitu pengambilan Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap pengambilan Bio-slurry dilakukan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1. Pengaruh Perendaman Benih dengan Isolat spp. terhadap Viabilitas Benih Kedelai. Aplikasi isolat TD-J7 dan TD-TPB3 pada benih kedelai diharapkan dapat meningkatkan perkecambahan

Lebih terperinci

HASIL DA PEMBAHASA. Percobaan 1. Pengujian Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Viabilitas Benih Padi Gogo Varietas Towuti dan Situ Patenggang

HASIL DA PEMBAHASA. Percobaan 1. Pengujian Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Viabilitas Benih Padi Gogo Varietas Towuti dan Situ Patenggang HASIL DA PEMBAHASA 21 Percobaan 1. Pengujian Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Viabilitas Benih Padi Gogo Varietas Towuti dan Situ Patenggang Tabel 1 menunjukkan hasil rekapitulasi sidik ragam pengaruh

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat 16 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor mulai bulan Desember 2009 sampai Agustus 2010. Areal penelitian memiliki topografi datar dengan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 14 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tinggi Tanaman Hasil analisis sidaik ragam yang ditunjukkan pada Lampiran 3 menunjukkan bahwa jarak tanam dan interaksi antara keduanya tidak memberikan pengaruh yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Benih Indigofera yang digunakan dalam penelitian ini cenderung berjamur ketika dikecambahkan. Hal ini disebabkan karena tanaman indukan sudah diserang cendawan sehingga

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 13 4.1 Tinggi Tanaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisa sidik ragam untuk parameter tinggi tanaman pada 1, 2, 3 dan 4 minggu setelah tanam (MST) yang disajikan pada Lampiran 3a, 3b, 3c dan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Tanaman Caisin Tinggi dan Jumlah Daun Hasil uji F menunjukkan bahwa perlakuan pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun caisin (Lampiran

Lebih terperinci

HUBUNGAN KARAKTER FISIOLOGI DENGAN KOMPONEN HASIL DAN HASIL PADI VARIETAS UNGGUL

HUBUNGAN KARAKTER FISIOLOGI DENGAN KOMPONEN HASIL DAN HASIL PADI VARIETAS UNGGUL 57 HUBUNGAN KARAKTER FISIOLOGI DENGAN KOMPONEN HASIL DAN HASIL PADI VARIETAS UNGGUL Relationship of Physiological Characters with Yield Component and Yield of Various Types of Rice Cultivars Abstrak Percobaan

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI LIMA VARIETAS KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) Oleh INNE RATNAPURI A

KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI LIMA VARIETAS KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) Oleh INNE RATNAPURI A KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI LIMA VARIETAS KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) Oleh INNE RATNAPURI A34103038 PROGRAM STUDI AGRONOMI FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 KARAKTERISTIK

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Vegetatif Dosis pupuk kandang berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman (Lampiran 5). Pada umur 2-9 MST, pemberian pupuk kandang menghasilkan nilai lebih

Lebih terperinci

Jurnal Cendekia Vol 12 No 1 Januari 2014 ISSN

Jurnal Cendekia Vol 12 No 1 Januari 2014 ISSN PENGARUH DOSIS PUPUK AGROPHOS DAN JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN CABAI (Capsicum Annum L.) VARIETAS HORISON Pamuji Setyo Utomo Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Kadiri (UNISKA)

Lebih terperinci

PENGARUH PENGELOLAAN HARA NITROGEN TERHADAP HASIL PADI VARIETAS UNGGUL

PENGARUH PENGELOLAAN HARA NITROGEN TERHADAP HASIL PADI VARIETAS UNGGUL 117 PENGARUH PENGELOLAAN HARA NITROGEN TERHADAP HASIL PADI VARIETAS UNGGUL Effects of Nitrogen Management on Yield of Various Types of Rice Cultivars Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 14 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tinggi Tanaman Tinggi tanaman jagung manis nyata dipengaruhi oleh jarak tanam. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam pada Lampiran 2 sampai 8 dan rataan uji BNT 5% pada

Lebih terperinci

ANALISIS POTENSI HASIL KACANG TANAH DALAM KAITAN DENGAN KAPASITAS DAN AKTIVITAS SOURCE DAN SINK HENI PURNAMAWATI

ANALISIS POTENSI HASIL KACANG TANAH DALAM KAITAN DENGAN KAPASITAS DAN AKTIVITAS SOURCE DAN SINK HENI PURNAMAWATI ANALISIS POTENSI HASIL KACANG TANAH DALAM KAITAN DENGAN KAPASITAS DAN AKTIVITAS SOURCE DAN SINK HENI PURNAMAWATI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan studi populasi tanaman terhadap produktivitas dilakukan pada dua kali musim tanam, karena keterbatasan lahan. Pada musim pertama dilakukan penanaman bayam

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di lahan kering dengan kondisi lahan sebelum pertanaman adalah tidak ditanami tanaman selama beberapa bulan dengan gulma yang dominan sebelum

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Hasil analisis tanah sebelum perlakuan dilakukan di laboratorium Departemen Ilmu Tanah Sumberdaya Lahan IPB. Lahan penelitian tergolong masam dengan ph H O

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara perlakuan pemberian pupuk akar NPK dan pupuk daun memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil dan pembahasan penelitian sampai dengan ditulisnya laporan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil dan pembahasan penelitian sampai dengan ditulisnya laporan 14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan penelitian sampai dengan ditulisnya laporan kemajuan ini belum bias penulis selesaikan dengan sempurna. Adapun beberapa hasil dan pembahasan yang berhasil

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN

TATA CARA PENELITIAN III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Tamantirto, Kasihan, Kabupaten Bantul, D.I.Y.

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian 8 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian yang dilakukan terdiri dari (1) pengambilan contoh tanah Podsolik yang dilakukan di daerah Jasinga, (2) analisis tanah awal dilakukan di Laboratorium

Lebih terperinci

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang disajikan dalam bab ini adalah pengamatan selintas dan pengamatan utama. 1.1. Pengamatan Selintas Pengamatan selintas merupakan pengamatan yang hasilnya

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 12 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Ragam Analisis ragam dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap karakter-karakter yang diamati. Hasil rekapitulasi analisis ragam (Tabel 2), menunjukkan adanya

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. jumlah bunga, saat berbunga, jumlah ruas, panjang ruas rata-rata, jumlah

HASIL DAN PEMBAHASAN. jumlah bunga, saat berbunga, jumlah ruas, panjang ruas rata-rata, jumlah III. HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter yang diamati terdiri dari tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah bunga, saat berbunga, jumlah ruas, panjang ruas rata-rata, jumlah buku, dan panjang tangkai bunga. Hasil

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian

TATA CARA PENELITIN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian III. TATA CARA PENELITIN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di areal perkebunan kelapa sawit rakyat di Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhanbatu Utara, Provinsi Sumatera Utara.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam terhadap pertumbuhan jagung masing-masing menunjukan perbedaan yang nyata terhadap tinggi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pertanaman Musim Pertama

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pertanaman Musim Pertama HASIL DAN PEMBAHASAN Per Musim Pertama Tinggi Tanaman Tinggi untuk musim pertama terbagi menjadi dua kategori berdasarkan kriteria Deptan (2007) yaitu tinggi (>68 86 cm) untuk Tanggamus, KH 71, Wilis,

Lebih terperinci

UJI ADAPTASI BEBERAPA VARIETAS JAGUNG HIBRIDA PADA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN DI KABUPATEN TAKALAR

UJI ADAPTASI BEBERAPA VARIETAS JAGUNG HIBRIDA PADA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN DI KABUPATEN TAKALAR Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian, 2013 UJI ADAPTASI BEBERAPA VARIETAS JAGUNG HIBRIDA PADA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN DI KABUPATEN TAKALAR Amir dan M. Basir Nappu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan berbagai

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan berbagai IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Variabel Hama 1. Mortalitas Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan berbagai fase dan konsentrasi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap mortalitas hama

Lebih terperinci

V2K1 V3K0 V2K3 V2K2 V3K2 V1K3 V2K1 V2K0 V1K1

V2K1 V3K0 V2K3 V2K2 V3K2 V1K3 V2K1 V2K0 V1K1 Lampiran1. Bagan Penelitian Percobaan c BLOK I a BLOK II BLOK III V2K1 V3K0 V2K3 V2K2 V3K2 V2K2 V1K2 V3K1 b V1K3 V1K2 V3K1 V3K0 V2K0 V1K1 V2K1 V3K3 V2K0 V2K3 V1K3 V1K0 V2K0 V3K2 V2K1 V1K2 V2K2 V3K2 V1K1

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian dilakukan dari April Juli 2007 bertepatan dengan akhir musim hujan, yang merupakan salah satu puncak masa pembungaan (Hasnam, 2006c), sehingga waktu penelitian

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1 Tinggi Tanaman kacang hijau pada umur 3 MST Hasil pengamatan tinggi tanaman pada umur 3 MST dan sidik ragamnya disajikan pada tabel lampiran 2. Hasil analisis

Lebih terperinci

Lampiran 1. Deskripsi Tanaman Kedelai Varietas Argomulyo VARIETAS ARGOMULYO

Lampiran 1. Deskripsi Tanaman Kedelai Varietas Argomulyo VARIETAS ARGOMULYO Lampiran 1. Deskripsi Tanaman Kedelai Varietas Argomulyo VARIETAS ARGOMULYO Asal : Introduksi dari Thailand oleh PT. Nestle Indonesia tahun 1988 dengan nama asal Nakhon Sawan I Nomor Galur : - Warna hipokotil

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2009 sampai Oktober 2009. Suhu rata-rata harian pada siang hari di rumah kaca selama penelitian 41.67 C, dengan kelembaban

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani dan Morfologi Kacang Tanah

TINJAUAN PUSTAKA. Botani dan Morfologi Kacang Tanah TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Kacang Tanah Kacang tanah tergolong dalam famili Leguminoceae sub-famili Papilinoideae dan genus Arachis. Tanaman semusim (Arachis hypogaea) ini membentuk polong dalam

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENELITIAN

PELAKSANAAN PENELITIAN PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Lahan Disiapkan lahan dengan panjang 21 m dan lebar 12 m yang kemudian dibersihkan dari gulma. Dalam persiapan lahan dilakukan pembuatan plot dengan 4 baris petakan dan

Lebih terperinci