BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Harjanti Tanuwidjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PENDAHULUAN Lipid, ester gliserol dengan asam lemak, berdasarkan titik lelehnya dikelompokkan menjadi lemak atau minyak. Lipid pada suhu kamar berwujud padat disebut lemak sedangkan lipid berwujud cair disebut minyak. Monogliserida, lipid yang terbentuk dari satu molekul asam lemak yang terikat pada satu molekul gliserol, banyak digunakan sebagai senyawa pengemulsi serta peningkat konsistensi krim dan losio. Kemampuan monogliserida untuk bertindak sebagai pengemulsi berdasarkan adanya gugus hidrofil dan gugus lipofil. Monolaurin, suatu monogliserida yang terbentuk dalam tubuh, terbukti bersifat antimikroba. Monogliserida dapat diperoleh melalui gliserolisis trigliserida, hidrolisis trigliserida atau esterifikasi langsung gliserol. Esterifikasi langsung gliserol merupakan metode yang dapat menghasilkan monogliserida dengan derajat kemurnian yang tinggi. Reaksi ini bersifat reversibel sehingga untuk memperoleh hasil ester yang tinggi dapat dilakukan dengan menambahkan pereaksi secara berlebih atau menghilangkan salah satu zat yang dihasilkan dari campuran reaksi. Proses produksi monogliserida melalui metode esterifikasi langsung gliserol yang dikatalisis oleh katalis homogen atau basa dapat menghasilkan campuran mono-, di- dan trigliserida dengan perbandingan 40:50:1 (Yu, 2003). Untuk meningkatkan perolehan monogliserida dicoba penggunaan enzim lipase amobil (Watanabe, 2004; Langone, 2005; Ghamgui, 2006), zeolit (Bossaert, 1999; Langone, 2005) dan resin sulfonat berpori (Bossaert, 1999) sebagai katalis. Reaktivitas ketiga gugus hidroksil gliserol hampir sama sehingga digliserida dan trigliserida dapat terbentuk. Peningkatan selektivitas terhadap pembentukan monogliserida dapat dilakukan dengan menggunakan gliserol dengan dua gugus hidroksil terlindung seperti 1,2--isopropilidengliserol dan 1,3-benzilidengliserol (Gunstone, 1967; Kodali, 1987; Serdarevich, 1966; Yu, 2003). Hanya saja, pelepasan pelindung gugus hidroksil yang ada tidak efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mencari suatu proses sintesis monolaurin yang memiliki selektivitas yang tinggi terhadap pembentukan monogliserida melalui proses transesterifikasi yang diikuti hidrolisis gugus pelindung yang efisien. 1
2 BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan dibahas aspek kimiawi monolaurin, berbagai metode sintesis monogliserida, dan metode sintesis monogliserida secara transesterifikasi. 1.1 Aspek Kimiawi Monolaurin Monogliserida dapat berupa 1-monogliserida atau 2-monogliserida. Monogliserida dapat mengalami perpindahan gugus ester dari posisi awal ke posisi hidroksil bebas lain pada senyawa yang sama. Fenomena ini dikenal sebagai interesterifikasi. Interesterifikasi akan berlangsung hingga kesetimbangan tercapai. Pada kondisi setimbang, perbandingan antara 1-monogliserida dan 2-monogliserida adalah 9:1. Kedua isomer ini dapat dipisahkan dengan kristalisasi atau kromatografi. Hanya saja, tanpa adanya perlakuan lebih lanjut, akan terjadi pengaturan kembali sehingga diperoleh komposisi isomer dengan perbandingan 9:1. Proses interesterifikasi ini dikatalisis oleh adanya asam, basa atau pun panas. (Gunstone, 1967) Letak gugus ester pada monogliserida menentukan efek biologi monogliserida tersebut. Monogliserida dengan gugus ester pada posisi satu terabsorpsi ke dalam tubuh sebagai asam lemak bebas sedangkan monogliserida dengan gugus ester pada posisi dua akan diserap dalam bentuk utuh. Posisi gugus ester juga berpengaruh pada monogliserida dengan asam lemak rantai panjang. Asam palmitat atau stearat yang terikat pada posisi satu memiliki koefisien absorpsi yang rendah karena titik leleh asam lemak tersebut berada di atas suhu tubuh, asam-asam lemak ini dapat membentuk garam kalsium. leh karena itu, monogliserida dengan asam lemak jenuh rantai panjang pada posisi satu mempunyai pola absorpsi dan mengalami metabolisme yang berbeda dari monogliserida dengan asam lemak jenuh pada posisi dua yang diabsorpsi dalam bentuk utuh. 1) 1) Kabara.pdf, 19 Agustus
3 3 Monolaurin mempunyai aktivitas antimikroba terhadap Bacillus licheniformis (Mansour, 1999), Staphylococus aureus (Preuss, 2005), Clostridium perfringens (Skrivanova, 2006) dan Listeria monocytogenesis (Sprong, 1999). Bakteri Gram positif lebih sensitif terhadap aktivitas monolaurin daripada bakteri Gram negatif. Kombinasi monolaurin dengan berbagai senyawa seperti EDTA (Skrivanova, 2006) dan nisin (Mansour, 1999) dapat meningkatkan efektivitas monolaurin dalam menghambat pertumbuhan mikroba. Aktivitas antimikroba monolaurin diduga berasal dari kemampuan senyawa tersebut merusak membran sitoplasma mikroba, menghambat sintesis makromolekul, atau mendenaturasi protein dan DNA (Skrivanova, 2006). Secara in vivo, monolaurin efektif dalam menghambat atau memperlambat produksi eksotoksin oleh bakteri Gram positif patogen, menghambat sintesis eksoprotein lain pada saat transkripsi, menghambat ekspresi faktor virulens pada Staphylococcus aureus dan menghambat munculnya resistensi terhadap vancomycin pada Enterococcus faecalis (Preuss, 2005). H H (a) H H Gambar 1.1 (b) Struktur kimia monolaurin, (a) 1-monolaurin, (b) 2-monolaurin 1.2 Sintesis Monogliserida Monogliserida dapat disintesis melalui tiga cara yaitu hidrolisis trigliserida, gliserolisis trigliserida dan esterifikasi langsung gliserol (Langone, 2005). Trigliserida dapat dihidrolisis dengan air pada tekanan dan suhu yang tinggi. Kemampuan air dalam melarutkan berbagai senyawa polar maupun non-polar disebabkan oleh adanya
4 4 perubahan konstanta dielektrik air dari 80 pada suhu kamar menjadi lima pada suhu C dan tekanan 218 atm(holliday, 1997). Proses ini tidak spesifik dalam menghasilkan monogliserida, karena pada proses ini dapat terbentuk digliserida dan asam lemak bebas. Gliserolisis merupakan suatu proses yang rumit dan melibatkan hidrolisis, esterifikasi dan isomerisasi dari monogliserida dan digliserida (Tan, 2005). Gliserolisis merupakan transesterifikasi trigliserida kepada gliserol (Bossaert, 1999). Proses gliserolisis konvensional dilakukan dengan menggunakan katalis basa anorganik pada suhu tinggi ( C) dalam atmosfer gas nitrogen. Proses ini memberikan hasil dengan berbagai kelemahan di antaranya warna kehitaman dan rasa pahit (Damstrup, 2006; Ghamgui, 2006; Langone, 2005; Watanabe, 2004). Damstrup et al, melakukan evaluasi terhadap penggunaan campuran biner pelarut organik terhadap proses gliserolisis yang dikatalisis enzim. Monogliserida yang diperoleh rendah yaitu sekitar 47 56%. Reaksi antara gliserol dan minyak zaitun yang dikatalis oleh lipase amobil telah dilakukan pada suhu 80 0 C dengan menggunakan perbandingan gliserol dan minyak zaitun 3:1 dan 6:1. Tidak ada perbedaan signifikan dari kedua kondisi tersebut. Proses tersebut menghasilkan digliserida sebagai hasil reaksi utama (Coteron, 1998). Metode esterifikasi langsung gliserol sulit diterapkan untuk memperoleh monogliserida tertentu karena reaktivitas ketiga gugus hidroksil gliserol relatif sama. Selektivitas pembentukan monogliserida dapat ditingkatkan melalui penggunaan enzim lipase amobil, zeolit dan asam sulfonat berpori. Zeolit dan lipase akan membawa pereaksi atau substrat pada posisi yang saling berdekatan melalui interaksi ikatan fisik. Pada kedua sistem, interaksi tersebut berpengaruh langsung terhadap reaksi kimia. Zeolit memiliki efek halangan ruang dan selektif terhadap bentuk sehingga selektivitas terhadap pembentukan monogliserida dapat ditingkatkan. Pori-pori zeolit dapat dianggap sebagai mikroreaktor dengan sisi aktif yang stabil, yang dapat diatur sedemikian rupa untuk memperoleh karakteristik khusus. Sisi aktif zeolit sebanding dengan sisi aktif enzim yang merupakan tempat terjadinya aktivitas katalitik yang tergantung pada susunan tiga dimensi gugus fungsi pada rantai samping asam amino (Langone, 2005). Penggunaan zeolit dapat meningkatkan selektivitas terhadap pembentukan monogliserida, hanya saja aktivitas yang rendah dari zeolit akan memberikan perolehan monogliserida yang rendah. Silika berpori sangat mudah dimasuki oleh reaktan
5 5 berukuran besar. Selain itu, silika berpori dapat dimodifikasi untuk meningkatkan selektivitas dan aktivitas silika. Silika dan asam?-toluensulfonat telah dihibridisasi untuk mengkatalisis reaksi organik (Bossaert, 1999). Penggunaan katalis tersebut memberikan selektivitas yang cukup tinggi dalam perolehan monogliserida tetapi dengan adanya pembentukan digliserida dan trigliserida menyebabkan campuran reaksi perlu dimurnikan untuk memperoleh monogliserida saja. Penggunaan 1,2--isopropilidengliserol dan 1,3--benzilidengliserol sebagai sumber alkohol telah dilakukan. Penggunaan kedua jenis gliserol dengan dua gugus hidroksil terlindung tersebut berperan pada sintesis 1-monogliserida dan 2-mongliserida (Kodali, 1987; Serdarevich, 1966). Penggunaan derivat gliserol tersebut akan menyebabkan esterifikasi hanya terjadi pada satu gugus hidroksil saja. Serdarevich et al melakukan esterifikasi dengan mempergunakan asil halida diikuti pelepasan gugus pelindung pada 1,2--isopropilidengliserol dengan asam klorida dalam eter. Hal ini memberikan perolehan 1-monogliserida sebesar 47%. Sintesis 2-monogliserida dilakukan dengan mempergunakan 1,3--benzilidengliserol dan asil halida. Gugus pelindung pada hasil sintesis dihilangkan dengan pembentukan ester borat yang mudah terhidrolisis dalam air. Monogliserida yang diperoleh sekitar 60% dan 2-monogliserida dimurnikan dengan mempergunakan kolom yang diimpregnasi asam borat 10% untuk menghindari terjadinya isomerisasi monogliserida karena 2-monogliserida mengalami isomerisasi lebih cepat bila dibandingkan dengan 1-monogliserida. Penelitian yang dilakukan oleh Kodali menunjukkan proses esterifikasi antara 1,2--isopropilidengliserol dengan asam lemak yang diikuti oleh proses deproteksi dengan mempergunakan dimetilboronbromida memberikan perolehan monogliserida yang tinggi yaitu berkisar antara 70-90%. Akan tetapi, hidrolisis gugus pelindung dengan mempergunakan asam borat tidak efisien karena dibutuhkan 10 bagian asam borat untuk menghidrolisis satu bagian gugus pelindung (Yu, 2003). H H (a) (b) Gambar 1.2 Struktur kimia gliserol dengan dua gugus hidroksil terlindung, (a) 1,2--isopropilidengliserol, (b) 1,3--benzilidengliserol
6 6 Proses hidrolisis gugus asetonida yang lebih efisien dilakukan dengan resin asam??-toluensulfonat dalam etanol 95%. Penggunaan resin menyebabkan hidrolisis yang lebih spesifik pada gugus asetonida karena adanya hambatan ruang pada resin sehingga mengurangi kemungkinan terhidrolisisnya gugus ester asam lemak karena ukuran gugus ester yang cukup meruah (Yu, 2003). 1.3 Metode Sintesis Monogliserida secara Transesterifikasi Transesterifikasi, reaksi penggantian suatu ester menjadi ester yang lain dengan adanya perpindahan gugus alkoksi, merupakan reaksi kesetimbangan dan transformasi gugus ester langsung terjadi ketika dilakukan pencampuran pereaksi. Akan tetapi, keberadaan katalis (biasanya asam kuat atau basa kuat) dapat mempercepat terjadinya transesterifikasi. Selain itu, penggunaan pereaksi yang berlebih dapat meningkatkan hasil reaksi. Pada minyak, transesterifikasi trigliserida kepada alkohol akan membentuk asam lemak alkil ester. Stokiometri reaksi dicapai pada perbandingan trigliserida dan alkohol sebesar 1:3, akan tetapi, penggunaan alkohol berlebih dapat meningkatkan perolehan dari ester dan akan mempermudah pemisahan gliserol yang terbentuk. Transesterifikasi ini dapat dikatalis oleh asam, basa, lipase, basa organik dan katalis heterogen (Schuchardt, 1998). RC CR' + 3R'''H katalis H H + R'''CR R'''CR' CR" H R'''CR" Gambar 1.3 Reaksi antara trigliserida dengan alkohol Proses transesterifikasi yang dikatalisis oleh asam Bronsted, terutama asam sulfonat dan asam sulfur dapat memberikan perolehan ester yang tinggi. Hanya saja, proses tersebut memerlukan waktu reaksi yang lebih dari 3 jam dan suhu di atas C untuk mencapai reaksi yang sempurna. Perbandingan alkohol dan trigliserida berpengaruh pada transesterifikasi. Penggunaan alkohol berlebih akan mempercepat pembentukan asam lemak alkil ester. Akan tetapi penggunaan alkohol berlebih dapat mempersulit proses pemurnian. leh karena itu, kondisi ideal antara perbandingan alkohol dan trigliserida perlu dioptimisasi (Schuchardt, 1998).
7 7 Protonasi oksigen dalam gugus karbonil ester akan menyebabkan terbentuknya karbokation yang dapat diserang oleh alkohol. Setelah terjadi serangan nukleofilik oleh alkohol, akan terbentuk intermediet tetrahedral yang akan mengeliminasi gliserol dan membentuk ester baru serta meregenerasi kembali proton. Keberadaan air akan menghidrolisis ester sehingga terbentuk asam karboksilat. leh karena itu, reaksi transesterifikasi yang dikatalis asam harus dilakukan pada sistem bebas air untuk menghindari terbentuknya asam karboksilat yang dapat mengurangi perolehan ester (Schuchardt, 1998). Mekanisme yang terjadi pada reaksi yang dikatalisis asam dijelaskan pada gambar 1.4. H H R' R" H+ R' R" R' R" R" = H H R' H R" RH Gambar 1.4 H R R' H R" -H + /R"H R' R R' = rantai karbon dari asam lemak R = gugus alkil dari alkohol Mekanisme transesterifikasi trigliserida yang dikatalisis asam Pada penggunaan basa sebagai katalis, mekanisme reaksi yang terjadi meliputi pembentukan alkoksida, serangan nukelofilik alkoksida pada gugus karbonil dalam trigliserida dan proses deprotonasi dari katalis. Secara detail, transesterifikasi yang dikatalisis basa dijelaskan pada gambar 1.5. Tahap pertama dari reaksi merupakan reaksi antara alkohol dengan basa membentuk alkoksida dan basa terprotonasi. Alkoksida yang terbentuk akan menyerang gugus karbonil dalam trigliserida membentuk intermediet tetrahedral, yang kemudian akan membentuk ion digliserida dan alkil ester. Proses deprotonasi dari katalis akan mengaktivasi katalis kembali sehingga katalis dapat bereaksi dengan molekul alkohol lain (Schuchardt, 1998). Basa alkoksida (seperti natrium metoksida yang dipergunakan pada metanolisis) merupakan katalis paling aktif meskipun katalis tersebut diberikan pada konsentrasi rendah. Bagaimana pun juga, reaksi yang dikatalisis oleh basa ini harus berada dalam sistem bebas air sehingga produksi skala besar tidak dapat dilakukan. Penggunaan katalis basa seperti natrium hidroksida dan kalium hidroksida dapat dijadikan alternatif. Hanya
8 8 saja, air yang terbentuk selama reaksi dapat menghidrolisis ester meskipun digunakan alkohol bebas air. Penggunaan natrium karbonat memberikan hasil asam lemak alkil ester yang tinggi dan dapat mengurangi terbentuknya sabun. Hal ini terjadi karena pada penggunaan natrium karbonat sebagai katalis akan menyebabkan terjadinya pembentukan bikarbonat yang tidak menghidrolisis ester (Schuchardt, 1998). RH + B R + BH (1) R'C 2 R'C 2 RC R RC R (2) H 2 C CR" H 2 C CR" R'C 2 R'C 2 RC R RC + RCR" (3) H 2 C CR" H 2 C - R'C 2 RC + BH R'C 2 RC + B (4) H 2 C - H 2 C H Gambar 1.5 Mekanisme transesterifikasi trigliserida yang dikatalisis basa (1) pembentukan alkoksida, (2) serangan alkoksida kepada trigliserida, (3) pembentukan alkil ester dan ion digliserida, (4) deprotonasi katalis Penggunaan enzim lipase dalam transesterifikasi merupakan suatu alternatif yang dapat dipergunakan. Keuntungan dari penggunaan katalis enzim ini adalah adanya kemudahan dalam penangan dan ketersediaan enzim tersebut. Akan tetapi, penggunaan enzim ini tidak sebaik dengan penggunaan basa sebagai katalis (Schuchardt, 1998). Untuk memperoleh kondisi reaksi yang lebih ringan, penggunaan basa organik dapat dijadikan sebagai alternatif. Mekanisme yang terjadi mirip dengan proses katalisis pada
9 9 basa anorganik. Penggunaan guanidin telah dibuktikan sebagai basa paling aktif untuk mengkatalisis reaksi transesterifikasi (Schuchardt, 1998). Guanidin dapat dibuat menjadi katalis heterogen dengan mereaksikan senyawa tersebut pada polimer organik. Hanya saja, penggunaan katalis guanidin heterogen tidak sebaik dengan penggunaan katalis guanidin homogen (Schuchardt, 1998).
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 ASIL PECBAAN DAN PEMBAASAN Transesterifikasi, suatu reaksi kesetimbangan, sehingga hasil reaksi dapat ditingkatkan dengan menghilangkan salah satu produk yang terbentuk. Penggunaan metil laurat dalam
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Katalis Katalis merupakan suatu senyawa yang dapat meningkatkan laju reaksi tetapi tidak terkonsumsi oleh reaksi. Katalis meningkatkan laju reaksi dengan energi aktivasi Gibbs
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian dapat dilaporkan dalam dua analisa, yakni secara kuantitatif dan kualitatif. Data analisa kuantitatif diperoleh dari analisa kandungan gliserol total, gliserol
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PERSIAPAN BAHAN 1. Ekstraksi Biji kesambi dikeringkan terlebih dahulu kemudian digiling dengan penggiling mekanis. Tujuan pengeringan untuk mengurangi kandungan air dalam biji,
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Ketertarikan dunia industri terhadap bahan baku proses yang bersifat biobased mengalami perkembangan pesat. Perkembangan pesat ini merujuk kepada karakteristik bahan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Industri leokimia leokimia adalah bahan kimia yang dihasilkan dari minyak dan lemak, yaitu yang diturunkan dari trigliserida menjadi bahan oleokimia. Secara industri, sebagian
Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triasil gliserol, dengan rumus umum : O R' O C
Lipid Sifat fisika lipid Berbeda dengan dengan karbohidrat dan dan protein, lipid bukan merupakan merupakan suatu polimer Senyawa organik yang terdapat di alam Tidak larut di dalam air Larut dalam pelarut
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biodiesel Biodiesel dapat dibuat dengan empat cara utama, yaitu secara langsung dengan pencampuran, mikroemulsi, pirolisis dan transesterifikasi. Metode yang paling umum digunakan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Selama ini Indonesia masih mengimpor monogliserida dan digliserida yang dibutuhkan oleh industri (Anggoro dan Budi, 2008). Monogliserida dan digliserida dapat dibuat
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan Pada penelitian ini, proses pembuatan monogliserida melibatkan reaksi gliserolisis trigliserida. Sumber dari trigliserida yang digunakan adalah minyak goreng sawit.
BAB I PENDAHULUAN. Isu kelangkaan dan pencemaran lingkungan pada penggunakan bahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Isu kelangkaan dan pencemaran lingkungan pada penggunakan bahan bakar fosil telah banyak dilontarkan sebagai pemicu munculnya BBM alternatif sebagai pangganti BBM
REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK
REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK TUJUAN : Mempelajari proses saponifikasi suatu lemak dengan menggunakan kalium hidroksida dan natrium hidroksida Mempelajari perbedaan sifat sabun dan detergen A. Pre-lab
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pendahuluan Proses pembuatan MCT dapat melalui dua reaksi. Menurut Hartman dkk (1989), trigliserida dapat diperoleh melalui reaksi esterifikasi asam lemak kaprat/kaprilat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Minyak Sawit Sebagai Bahan Baku Biodiesel Tanaman sawit (Elaeis guineensis jacquin) merupakan tanaman yang berasal dari afrika selatan. Tanaman ini merupakan tanaman
Chapter 20 ASAM KARBOKSILAT
Chapter 20 ASAM KARBOKSILAT Pengantar Gugus fungsi dari asam karboksilat terdiri atas ikatan C=O dengan OH pada karbon yang sama. Gugus karboksil biasanya ditulis -COOH. Asam alifatik memiliki gugus alkil
TURUNAN ASAM KARBOKSILAT DAN REAKSI SUBSTITUSI ASIL NUKLEOFILIK
BAB 4 TURUNAN ASAM KARBOKSILAT DAN REAKSI SUBSTITUSI ASIL NUKLEOFILIK Asam karboksilat hanya merupakan salah satu anggota kelas turunan asil, RCOX, di mana substituen X mungkin oksigen, halogen, nitrogen
I. PENDAHULUAN. menghasilkan produk-produk dari buah sawit. Tahun 2008 total luas areal
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Masalah Propinsi Lampung merupakan salah satu daerah paling potensial untuk menghasilkan produk-produk dari buah sawit. Tahun 2008 total luas areal perkebunan kelapa
Kelompok G : Nicolas oerip ( ) Filia irawati ( ) Ayndri Nico P ( )
Kelompok G : Nicolas oerip (5203011028) Filia irawati (5203011029) Ayndri Nico P (5203011040) Mempelajari reaksi esterifikasi Apa sih reaksi esterifikasi itu? Bagaimana reaksi esterifikasi itu? Reaksi
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Journal of Scientific and Applied Chemistry
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi 12 (3) (2009) : 88 92 88 ISSN: 1410-8917 Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi 12 (3) (2009): 1 5 Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Journal of Scientific and Applied hemistry Journal
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebutuhan akan sumber bahan bakar semakin meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk. Akan tetapi cadangan sumber bahan bakar justru
BAB I PENDAHULUAN UKDW. teknologi sekarang ini. Menurut catatan World Economic Review (2007), sektor
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebutuhan akan energi tidak pernah habis bahkan terus meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan berkembangnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini.
Prarancangan Pabrik Biodiesel dari Biji Tembakau dengan Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pada beberapa dekade terakhir ini, konsumsi bahan bakar fosil seperti minyak bumi terus mengalami kenaikan. Hal itu dikarenakan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Katalis Katalis merupakan suatu senyawa yang dapat meningkatkan laju reaksi tetapi tidak terkonsumsi oleh reaksi. Katalis digunakan secara luas baik di alam, laboratorium dan
REAKSI SUBSTITUSI ALFA KARBONIL
BAB 5 REAKSI SUBSTITUSI ALFA KARBONIL Dalam bab ini akan dibahas mengenai reaksi substitusi alfa. Ciri utama dari reaksi ini adalah terjadi melalui pembentukan intermediet enol atau ion enolat. 5.1. Keto-enol
PEMBUATAN ETIL ASETAT MELALUI REAKSI ESTERIFIKASI
PEMBUATAN ETIL ASETAT MELALUI REAKSI ESTERIFIKASI TUJUAN Mempelajari pengaruh konsentrasi katalisator asam sulfat dalam pembuatan etil asetat melalui reaksi esterifikasi DASAR TEORI Ester diturunkan dari
BAB I PENDAHULUAN. dikembangkan khususnya sebagai bahan oleopangan dan oleokimia. bahan oleopangan, minyak kelapa digunakan untuk minyak goreng dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelapa merupakan salah satu sumber minyak nabati yang sangat potensial dikembangkan khususnya sebagai bahan oleopangan dan oleokimia. Sebagai bahan oleopangan, minyak
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Tahap Sintesis Biodiesel Pada tahap sintesis biodiesel, telah dibuat biodiesel dari minyak sawit, melalui reaksi transesterifikasi. Jenis alkohol yang digunakan adalah metanol,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gliserol Biodiesel dari proses transesterifikasi menghasilkan dua tahap. Fase atas berisi biodiesel dan fase bawah mengandung gliserin mentah dari 55-90% berat kemurnian [13].
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK ACARA 4 SENYAWA ASAM KARBOKSILAT DAN ESTER Oleh: Kelompok 5 Nova Damayanti A1M013012 Nadhila Benita Prabawati A1M013040 KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS
SAINS II (KIMIA) LEMAK OLEH : KADEK DEDI SANTA PUTRA
SAINS II (KIMIA) LEMAK OLEH : KADEK DEDI SANTA PUTRA 1629061030 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA PROGRAM PASCASARAJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA 2017 SOAL: Soal Pilihan Ganda 1. Angka yang menunjukkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Perumusan Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lemak dan minyak adalah trigliserida yang berarti triester (dari) gliserol. Perbedaan antara suatu lemak adalah pada temperatur kamar, lemak akan berbentuk padat dan
Protein adalah sumber asam-asam amino yang mengandung unsur-unsur C, H, O, dan N yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat.
PROTEIN Protein adalah sumber asam-asam amino yang mengandung unsur-unsur C, H, O, dan N yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat. Sebagai zat pembangun, protein merupakan bahan pembentuk jaringanjaringan
dapat mencapai hingga 90% atau lebih. Terdapat dua jenis senyawa santalol dalam minyak cendana, yaitu α-santalol dan β-santalol.
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Tanaman Cendana (Santalum album L.) adalah tanaman asli Indonesia yang memiliki aroma yang khas, dimana sebagian besar tumbuh di Propinsi Nusa Tenggara Timur
Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor)
23 Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Penyiapan Sampel Kualitas minyak kastor yang digunakan sangat mempengaruhi pelaksanaan reaksi transesterifikasi. Parameter kualitas minyak kastor yang dapat menjadi
LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA PANGAN LEMAK UJI SAFONIFIKASI
LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA PANGAN LEMAK UJI SAFONIFIKASI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Praktikum Biokimia Pangan Oleh : Nama : Fanny Siti Khoirunisa NRP : 123020228 Kel / Meja : H / 10 Asisten :
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Minyak Nabati Minyak dan lemak adalah triester dari gliserol, yang dinamakan trigliserida. Minyak dan lemak sering dijumpai pada minyak nabati dan lemak hewan. Minyak umumnya
KIMIAWI SENYAWA KARBONIL
BAB 1 KIMIAWI SENYAWA KARBONIL Senyawa karbonil adalah kelompok senyawaan organik yang mengandung gugus karbonil, C=O, gugus fungsional yang paling penting dalam kimia organik. Senyawa karbonil ada di
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakterisasi Minyak Ikan Karakterisasi minyak ikan dilakukan untuk mengetahui karakter awal minyak ikan yang digunakan dalam penelitian ini. Karakter minyak ikan yang diukur
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Penelitian Katalis umumnya diartikan sebagai bahan yang dapat mempercepat suatu reaksi kimia menjadi produk. Hal ini perlu diketahui karena, pada dasarnya
Gugus Fungsi Senyawa Karbon
Gugus Fungsi Senyawa Karbon Gugus fungsi merupakan bagian aktif dari senyawa karbon yang menentukan sifat-sifat senyawa karbon. Gugus fungsi tersebut berupa ikatan karbon rangkap dua, ikatan karbon rangkap
ISOLASI BAHAN ALAM. 2. Isolasi Secara Kimia
ISOLASI BAHAN ALAM Bahan kimia yang berasal dari tumbuhan atau hewan disebut bahan alam. Banyak bahan alam yang berguna seperti untuk pewarna, pemanis, pengawet, bahan obat dan pewangi. Kegunaan dari bahan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS II. 1 Tinjauan Pustaka II.1.1 Biodiesel dan green diesel Biodiesel dan green diesel merupakan bahan bakar untuk mesin diesel yang diperoleh dari minyak nabati
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biodiesel Biodiesel merupakan bahan bakar rendah emisi pengganti diesel yang terbuat dari sumber daya terbarukan dan limbah minyak. Biodiesel terdiri dari ester monoalkil dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Energi merupakan salah satu kebutuhan wajib bagi seluruh masyarakat dunia, khususnya masyarakat Indonesia. Bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan Percobaan 1.3. Manfaat Percobaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring sedang berkembangnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada bidang perindustrian di Indonesia, beragam industri terus melakukan inovasi dan perkembangan
ESTER PROPILENA DIOLEAT SEBAGAI PRODUK DOMESTIK MINYAK LUMAS DASAR SINTETIK UNTUK OLI OTOMOTIF. Roza Adriany
ESTER PROPILENA DIOLEAT SEBAGAI PRODUK DOMESTIK MINYAK LUMAS DASAR SINTETIK UNTUK OLI OTOMOTIF Roza Adriany Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS [email protected]
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aspal adalah material perekat berwarna coklat kehitam hitaman sampai hitam dengan unsur utama bitumen. Aspal merupakan senyawa yang kompleks, bahan utamanya disusun
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 5. Reaksi Transesterifikasi Minyak Jelantah Persentase konversi metil ester dari minyak jelantah pada sampel MEJ 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ
Senyawa Alkohol dan Senyawa Eter. Sulistyani, M.Si
Senyawa Alkohol dan Senyawa Eter Sulistyani, M.Si [email protected] Konsep Dasar Senyawa Organik Senyawa organik adalah senyawa yang sumber utamanya berasal dari tumbuhan, hewan, atau sisa-sisa organisme
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penelitian Pendahuluan (Pembuatan Biodiesel)
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penelitian Pendahuluan (Pembuatan Biodiesel) Minyak nabati (CPO) yang digunakan pada penelitian ini adalah minyak nabati dengan kandungan FFA rendah yaitu sekitar 1 %. Hal ini diketahui
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Reaksi esterifikasi antara asam karboksilat dengan alkohol bersifat reversible, sehingga untuk membuat kesetimbangan reaksi berjalan ke arah pembentukan ester dapat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAULUAN 1.1 Latar Belakang Asam hidroksisitrat telah diketahui memiliki banyak kegunaan, beberapa diantaranya yaitu untuk mengobati obesitas, menaikkan berat badan, mengatasi kelaparan, hiperlipemia
I. PENDAHULUAN. Minyak kelapa sawit merupakan salah satu komoditas pertanian utama dan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Minyak kelapa sawit merupakan salah satu komoditas pertanian utama dan unggulan di Indonesia, serta sebagai pendorong tumbuh dan berkembangnya industri hilir berbasis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 BIDIESEL Biodiesel merupakan sumber bahan bakar alternatif pengganti solar yang terbuat dari minyak tumbuhan atau lemak hewan. Biodiesel bersifat ramah terhadap lingkungan karena
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisasi Sifat Fisikokimia Bahan Baku
40 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisasi Sifat Fisikokimia Bahan Baku Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah destilat asam lemak minyak sawit (DALMS) yang berasal dari Pusat Penelitian Kelapa
Tugas Perancangan Pabrik Kimia Prarancangan Pabrik Amil Asetat dari Amil Alkohol dan Asam Asetat Kapasitas ton/tahun BAB I PENGANTAR
BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Perkembangan industri di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Mulai dari industri makanan, tekstil, kimia hingga farmasi. Dalam proses produksinya, beberapa
SIFAT KIMIA DAN FISIK SENYAWA HIDROKARBON
SIFAT KIMIA DAN FISIK SENYAWA HIDROKARBON Muhammad Ja far Sodiq (0810920047) 1. ALKANA Pada suhu biasa, metana, etana, propana, dan butana berwujud gas. Pentena sampai heptadekana (C 17 H 36 ) berwujud
A. RUMUS STRUKTUR DAN NAMA LEMAK B. SIFAT-SIFAT LEMAK DAN MINYAK C. FUNGSI DAN PERAN LEMAK DAN MINYAK
8 LEMAK DAN MINYAK A. RUMUS STRUKTUR DAN NAMA LEMAK B. SIFAT-SIFAT LEMAK DAN MINYAK C. FUNGSI DAN PERAN LEMAK DAN MINYAK Lipid berasal dari kata Lipos (bahasa Yunani) yang berarti lemak. Lipid didefinisikan
HASIL DAN PEMBAHASAN A. ANALISIS GLISEROL HASIL SAMPING BIODIESEL JARAK PAGAR
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. ANALISIS GLISEROL HASIL SAMPING BIODIESEL JARAK PAGAR Gliserol hasil samping produksi biodiesel jarak pagar dengan katalis KOH merupakan satu fase yang mengandung banyak pengotor.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Crude Palm Oil (CPO) CPO merupakan produk sampingan dari proses penggilingan kelapa sawit dan dianggap sebagai minyak kelas rendah dengan asam lemak bebas (FFA) yang tinggi
TINJAUAN MATA KULIAH MODUL 1. TITRASI VOLUMETRI
iii Daftar Isi TINJAUAN MATA KULIAH MODUL 1. TITRASI VOLUMETRI Kegiatan Praktikum 1: Titrasi Penetralan (Asam-Basa)... Judul Percobaan : Standarisasi Larutan Standar Sekunder NaOH... Kegiatan Praktikum
II. TINJAUAN PUSTAKA. sawit kasar (CPO), sedangkan minyak yang diperoleh dari biji buah disebut
7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Minyak Kelapa Sawit Sumber minyak dari kelapa sawit ada dua, yaitu daging buah dan inti buah kelapa sawit. Minyak yang diperoleh dari daging buah disebut dengan minyak kelapa
(2) kekuatan ikatan yang dibentuk untuk karbon;
Reaksi Subsitusi Nukleofilik Alifatik Reaksi yang berlangsung karena penggantian satu atau lebih atom atau gugus dari suatu senyawa oleh atom atau gugus lain disebut reaksi substitusi. Bila reaksi substitusi
BAB II PUSTAKA PENDUKUNG. Ketersediaan energi fosil yang semakin langka menyebabkan prioritas
BAB II PUSTAKA PENDUKUNG 2.1 Bahan Bakar Nabati Ketersediaan energi fosil yang semakin langka menyebabkan prioritas mengarah kepada penggunaan energi asal tanaman. Energi asal tanaman ini disebut sebagai
LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM BIOKIMIA. (Uji Pembentukan Emulsi Lipid)
LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM BIOKIMIA (Uji Pembentukan Emulsi Lipid) Disusun oleh: NAMA : LASINRANG ADITIA NIM : 60300112034 KELAS : BIOLOGI A KELOMPOK : IV (Empat) LABORATORIUM BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN
METANOLISIS MINYAK KOPRA (COPRA OIL) PADA PEMBUATAN BIODIESEL SECARA KONTINYU MENGGUNAKAN TRICKLE BED REACTOR
Jurnal Rekayasa Produk dan Proses Kimia JRPPK 2015,1/ISSN (dalam pengurusan) - Astriana, p.6-10. Berkas: 07-05-2015 Ditelaah: 19-05-2015 DITERIMA: 27-05-2015 Yulia Astriana 1 dan Rizka Afrilia 2 1 Jurusan
I. PENDAHULUAN (Ditjen Perkebunan, 2012). Harga minyak sawit mentah (Crude Palm
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia dengan volume ekspor minyak kelapa sawit mencapai16,436 juta ton pada tahun
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Analisis XRD Hasil analisis XRD sampel Montmorilonite ditunjukan oleh gambar berikut 9,6Ǻ a 8,9Ǻ b 10Ǻ c Gambar IV.1 Difraktogram XRD (a)montmorillonite, (b)h-montmorillonite,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. akan berlangsung selama sintesis, serta alat-alat yang diperlukan untuk sintesis.
II TINJUN PUSTK 2.1 Rancangan nalisis Dalam sintesis suatu senyawa kimia atau senyawa obat yang baik, diperlukan beberapa persiapan. Persiapan tersebut antara lain berupa bahan dasar sintesis, pereaksi,
Prarancangan Pabrik Metil Ester Sulfonat dari Crude Palm Oil berkapasitas ton/tahun BAB I PENGANTAR
BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia yang begitu pesat telah menyebabkan penambahan banyaknya kebutuhan yang diperlukan masyarakat. Salah satu bahan baku dan bahan penunjang
BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Saat ini pemakaian bahan bakar yang tinggi tidak sebanding dengan ketersediaan sumber bahan bakar fosil yang semakin menipis. Cepat atau lambat cadangan minyak bumi
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisasi Sifat Kimia Bahan baku Analisis bahan baku dilakukan untuk mengetahui mutu minyak yang digunakan dan untuk mengetahui tingkat kerusakan minyak akibat proses penyimpanan
Deskripsi ASAM LAURAT DARI BUAH KELAPA SEBAGAI ANTI BAKTERI HASIL HIDROLISIS ENZIMATIS MENGGUNAKAN LIPASE
1 Deskripsi ASAM LAURAT DARI BUAH KELAPA SEBAGAI ANTI BAKTERI HASIL HIDROLISIS ENZIMATIS MENGGUNAKAN LIPASE Bidang Teknik Invensi Invensi ini berhubungan dengan metode isolasi asam laurat dari endosperm
Bab III Metode Penelitian
Bab III Metode Penelitian Metode yang akan digunakan untuk pembuatan monogliserida dalam penelitian ini adalah rute gliserolisis trigliserida. Sebagai sumber literatur utama mengacu kepada metoda konvensional
BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia, kebutuhan masyarakat untuk mengkonsumsi bahan bakar sangat
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Di Indonesia, kebutuhan masyarakat untuk mengkonsumsi bahan bakar sangat tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari analisis kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) yaitu
B. Struktur Umum dan Tatanama Lemak
A. Pengertian Lemak Lemak adalah ester dari gliserol dengan asam-asam lemak (asam karboksilat pada suku tinggi) dan dapat larut dalam pelarut organik non-polar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Tanaman kelapa (Cocos nucifera L) sering disebut tanaman kehidupan karena bermanfaat bagi kehidupan manusia diseluruh dunia. Hampir semua bagian tanaman
A. Judul Praktikum : Uji Keasaman Minyak (Uji Lipid) B. Tujuan Praktikum : untuk mengetahui sifat Asam dan Basa Minyak. C. Latar Belakang : Lipid
A. Judul Praktikum : Uji Keasaman Minyak (Uji Lipid) B. Tujuan Praktikum : untuk mengetahui sifat Asam dan Basa Minyak. C. Latar Belakang : Lipid adalah senyawa biomolekul yang tidak larut dalam air, sehingga
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (KI2051)
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (KI2051) PERCOBAAN 5 Alkohol dan Fenol: Sifat Fisik dan Reaksi Kimia DIAH RATNA SARI 11609010 KELOMPOK I Tanggal Percobaan : 27 Oktober 2010 Shift Rabu Siang (13.00 17.00
MAKALAH PRAKTIKUM KIMIA DASAR REAKSI-REAKSI ALKOHOL DAN FENOL
MAKALAH PRAKTIKUM KIMIA DASAR REAKSI-REAKSI ALKOHOL DAN FENOL Oleh : ZIADUL FAIEZ (133610516) PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ISLAM RIAU PEKANBARU 2015 BAB I PENDAHULUAN LatarBelakang
Oleh: Dhadhang Wahyu Kurniawan 4/16/2013 1
Oleh: Dhadhang Wahyu Kurniawan 4/16/2013 1 Melibatkan berbagai investigasi bahan obat mendapatkan informasi yang berguna Data preformulasi formulasi sediaan yang secara fisikokimia stabil dan secara biofarmasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perkembangan Industri Kimia Banyak proses kimia yang melibatkan larutan homogen untuk meningkatkan laju reaksi. Namun, sebagian besar pelarut yang digunakan untuk reaksi adalah
Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah
Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah Monogliserida (monoasilgliserol) merupakan senyawa kimia penting dari turunan komersil yang digunakan dalam industri makanan, kosmetik, farmasi, pelumas. Monogliserida
Protein ENZIM Mempercepat reaksi dengan jalan menurunkan tenaga aktivasi Tidak mengubah kesetimbangan reaksi Sangat spesifik
E N Z I M Sukarti Moeljopawiro Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Protein ENZIM Mempercepat reaksi dengan jalan menurunkan tenaga aktivasi Tidak mengubah kesetimbangan reaksi Sangat spesifik ENZIM
BAB I PENDAHULUAN. dibutuhkan. Nilai gizi suatu minyak atau lemak dapat ditentukan berdasarkan dua
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asupan lemak yang dianjurkan adalah sebanyak 30% dari total kalori yang dibutuhkan. Nilai gizi suatu minyak atau lemak dapat ditentukan berdasarkan dua aspek yaitu
A. Sifat Fisik Kimia Produk
Minyak sawit terdiri dari gliserida campuran yang merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang. Dua jenis asam lemak yang paling dominan dalam minyak sawit yaitu asam palmitat, C16:0 (jenuh),
REAKSI PENATAAN ULANG. perpindahan (migrasi) tersebut adalah dari suatu atom ke atom yang lain yang
EAKSI PENATAAN ULANG eaksi penataan ulang adalah reaksi penataan kembali struktur molekul untuk membentuk struktur molekul yang baru yang berbeda dengan struktur molekul yang semula. eaksi ini dapat terjadi
PENGARUH KATALISIS TERHADAP TETAPAN LAJU
PENGARUH KATALISIS TERHADAP TETAPAN LAJU Laju reaksi sering dipengaruhi oleh adanya katalis Contoh : Hidrolisis sukrosa dalam air Suhu kamar lama (bisa beberapa bulan) Namun jika hidrolisis dilakukan dalam
Rangkaian reaksi biokimia dalam sel hidup. Seluruh proses perubahan reaksi kimia beserta perubahan energi yg menyertai perubahan reaksi kimia tsb.
Rangkaian reaksi biokimia dalam sel hidup. Seluruh proses perubahan reaksi kimia beserta perubahan energi yg menyertai perubahan reaksi kimia tsb. Anabolisme = (biosintesis) Proses pembentukan senyawa
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. M yang berupa cairan berwarna hijau jernih (Gambar 4.1.(a)) ke permukaan Al 2 O 3
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sintesis Katalis Katalis Ni/Al 2 3 diperoleh setelah mengimpregnasikan Ni(N 3 ) 2.6H 2 0,2 M yang berupa cairan berwarna hijau jernih (Gambar 4.1.(a)) ke permukaan Al 2
Lipid. Dr. Ir. Astuti,, M.P
Lipid Dr. Ir. Astuti,, M.P Berbeda dengan karbohidrat dan protein, lipid bukan merupakan suatu polimer Suatu molekul dikategorikan dalam lipid karena : mempunyai kelarutan yg rendah di dlm air larut dalam
Soal-Soal. Bab 14. Latihan. Kimia Karbon II: Gugus Fungsi. Alkohol dan Eter. 1. Rumus struktur alkohol ditunjukkan oleh. (A) C 2
Bab 14 Kimia Karbon II: Gugus Fungsi Soal-Soal Latihan Alkohol dan Eter 1. Rumus struktur alkohol ditunjukkan oleh. (A) C 2 (B) -CH (C) -CH(H)-C 2 (D) C 3 H 7 -C- (E) -CH 2. Suatu senyawa dengan rumus
Biodiesel Dari Minyak Nabati
Biodiesel Dari Minyak Nabati Minyak dan Lemak Minyak dan lemak merupakan campuran dari ester-ester asam lemak dengan gliserol yang membentuk gliserol, dan ester-ester tersebut dinamakan trigliserida. Perbedaan
BAB I PENDAHULUAN. ketercukupannya, dan sangat nyata mempengaruhi kelangsungan hidup suatu
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Energi merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak dapat dihindari ketercukupannya, dan sangat nyata mempengaruhi kelangsungan hidup suatu bangsa di masa sekarang
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL PERCBAAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk membuat, mengisolasi dan mengkarakterisasi derivat akrilamida. Penelitian diawali dengan mereaksikan akrilamida dengan anilin sulfat.
BAB II PEMILIHAN DAN URAIAN PROSES. teknologi proses. Secara garis besar, sistem proses utama dari sebuah pabrik kimia
BAB II PEMILIHAN DAN URAIAN PROSES Usaha produksi dalam pabrik kimia membutuhkan berbagai sistem proses dan sistem pemroses yang dirangkai dalam suatu sistem proses produksi yang disebut teknologi proses.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 CRUDE PALM OIL (CPO) Diketahui bahwa Indonesia merupakan negara produsen utama minyak kelapa sawit. Share minyak kelapa sawit Indonesia terhadap total produksi dunia minyak
