4. Hasil dan Pembahasan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "4. Hasil dan Pembahasan"

Transkripsi

1 4. Hasil dan Pembahasan 4.1. Sintesis Polistiren Sintesis polistiren yang diinginkan pada penelitian ini adalah polistiren yang memiliki derajat polimerisasi (DPn) sebesar 500. Derajat polimerisasi ini adalah jumlah unit ulang pada tiap rantai polimer. Dalam percobaan ini DPn diperkirakan berdasarkan perbandingan jumlah mol monomer terhadap jumlah mol inisiator yang digunakan. Saat mencampurkan benzoil peroksida dan stiren ke dalam labu bundar, keadaan saat pencampuran dibuat vakum agar tidak ada oksigen dan uap air yang terlarut dalam campuran. Sebelum polimerisasi dilakukan campuran dalam reaktor polimerisasi didegasing sebanyak 3 kali dengan cara pendinginan larutan dengan nitrogen cair, kemudian udara yang ada dihisap dengan pompa vakum dan campuran dibiarkan sambil diaduk dengan magnetit stirer. Setelah larutan tersebut sudah benar-benar terbebas dari udara, larutan tersebut dipanaskan pada suhu 80 0 C selama 24 jam agar reaksi berjalan sempurna sampai terbentuk polimer. Reaksi yang terjadi pada proses ini adalah reaksi polimerisasi adisi. Polistiren yang dihasilkan berupa padatan. Polistiren yang terbentuk dilarutkan dengan kloroform kemudian dimurnikan dengan metanol. Dari hasil perhitungan didapatkan polistiren hasil sintesis dengan % rendemen 96,57%. Persen rendemen tidak mencapai 100% karena kemungkinan pada saat pemurnian polistiren dengan pelarut metanol masih terdapat stiren yang belum mengalami reaksi polimerisasi. Polistiren hasil sintesis dikarakterisasi untuk menentukan massa molekul. Penentuan massa molekul polistiren (PS) dilakukan dengan metode viskositas Ostwald. Dalam metode ini yang dihitung adalah nilai viskositas dari larutan polimer yang dibandingkan dengan viskositas pelarut (1). Massa molekul dari polimer ini didapatkan dari persamaan Mark- Houwink (Persamaan 5). Dengan menggunakan persamaan tersebut massa molekul PS hasil sintesis diperoleh sebesar g/mol. 27

2 Polistiren hasil sintesis juga dikarakterisasi menggunakan FTIR. Spektrum IR polistiren ditunjukkan pada Gambar 4.1: 100 %T PS /cm Gambar 4.1 Spektrum IR polistiren Spektrum IR polistiren menunjukkan adanya gugus monosubstitusi benzena pada bilangan gelombang sekitar 696,30 cm -1 dan 756,10 cm -1, yaitu adanya etilen yang tersubstitusi pada cincin benzena. Puncak serapan pada bilangan gelombang 1448,54, 1492,90, dan 1597,06 cm -1 menunjukkan vibrasi dari ikatan rangkap C=C dari cincin benzena. Puncak serapan pada 2920,23 cm -1 menunjukkan adanya ikatan C-H alifatik dari gugus etilen dan pada 3026,31 cm -1 menunjukkan adanya ikatan C-H aromatik. Dari hasil ini dapat dinyatakan bahwa sintesis polistiren telah berhasil dilakukan Sintesis Polistiren Tersulfonasi Polistiren tersulfonasi dibuat dengan mereaksikan polistiren dengan suatu agen sulfonasi. Agen sulfonasi yang digunakan pada percobaan ini adalah asetil sulfat. Asetil sulfat dibuat dengan mereaksikan diklorometana, asam sulfat, dan anhidrida asetat. Diklorometana pada reaksi ini berfungsi sebagai pelarut, anhidrida asetat ditambahkan ke dalam larutan untuk menghindari terbentuknya air saat reaksi terjadi, karena anhidrida asetat ini higrokopis sehingga dapat mengikat air. 28

3 Reaksi pembentukkan asetil sulfat : H 3 C O O ( ) 2 O + H 2 SO 4 CH 3 COOH + H 3 C C C OSO 3 H Reaksi pembentukan asetil sulfat harus dalam keadaan inert. Oleh karena itu saat pembentukan asetil sulfat perlu dialirkan gas nitrogen. Suhu saat pembuatan asetil sulfat dibuat menjadi 0 0 C yang bertujuan untuk mencegah terjadinya bumping saat penambahan asam sulfat. Selain itu penurunan suhu ini dilakukan untuk mencegah penguapan diklorometana karena reaksinya adalah eksoterm. Polistiren pada sintesis PSS ini divariasikan waktu sulfonasinya agar memungkinkan diperoleh PSS dengan derajat sulfonasi yang berbeda-beda. Suasana saat reaksi sulfonasi ini dibuat inert dengan mengalirkan gas nitrogen. Reaksi pembentukan Polistiren tersulfonasi adalah sebagai berikut: ( HC CH2 ) + H 3 C O C O SO 3 H HC CH 2 HC CH 2 CH 3 COOH + Reaksi sulfonasi dihentikan dengan dengan penambahan 2-propanol oleh karena itu PSS yang telah disintesis dimurnikan dengan menggunakan air mendidih untuk menghilangkan 2- propanol. Padatan PSS yang telah dimurnikan berwarna putih. PSS bersifat sangat higroskopis, maka PSS dikeringkan dan disimpan dalam desikator. SO 3 H Penentuan Massa Molekul Polistiren Tersulfonasi PSS hasil sintesis dikarakterisasi untuk menentukan massa molekulnya. Penentuan massa molekul dilakukan dengan menggunakan alat viskometer Ostwald. Massa molekul hasil sintesis diperoleh sebesar ,5 g/mol. Hasil tersebut menunjukkan adanya penurunan berat molekul polimer setelah waktu sulfonasi selama 20 menit. Penurunan berat molekul dapat diakibatkan karena proses sulfonasi yang menggunakan pemanasan. Polimer dapat mengalami pemutusan ikatan akibat pemanasan, semakin tinggi suhu kemungkinan terjadinya pemutusan rantai pada polimer besar (11). Selain oleh suhu, pemutusan ikatan juga dapat disebabkan karena adanya degradasi mekanik akibat proses stiring saat proses sulfonasi. 29

4 Analisis Gugus Fungsi Spektrum IR dari PSS ditunjukkan oleh Gambar 4.2: 100 %T PSS 20 menit /cm (a) 97.5 %T PSS /cm (b) Gambar 4.2 (a) Spektrum IR PSS1 (waktu sulfonasi 20 menit) (b) Spektrum IR PSS4 (waktu sulfonasi 120 menit) Polistiren tersulfonasi memiliki spektrum IR yang hampir sama dengan spektrum polistiren, hanya saja puncak serapan pada bilangan gelombang 696,30 cm -1 dan 756,10 cm -1 yang 30

5 merupakan gugus monosubstitusi benzena tidak muncul dan digantikan dengan spektrum pada bilangan gelombang 883,40 cm -1 yang menunjukkan adanya substitusi benzena pada posisi 1,4. Pada spektrum PSS ini juga mucul puncak serapan baru yaitu pada bilangan gelombang 1178,51 cm -1 yang menunjukkan adanya vibrasi simetrik O=S=O dari gugus sulfonat. Puncak serapan vibrasi gugus sulfonat ini mendekati 1040 dan 1180 cm -1. Selain itu, muncul juga puncak serapan pada bilangan gelombang sekitar 3400 cm -1. Puncak ini menunjukkan adanya ikatan hidrogen O-H yang muncul dari molekul air karena PSS bersifat higroskopis. Hasil analisis FT-IR untuk PSS 1 (waktu sulfonasi 20 menit) dan PSS 4 (waktu sulfonasi 120 menit) menunjukkan kedua polimer tersebut memiliki puncak serapan yang sama, akan tetapi intensitasnya atau % transmitannya berbeda terutama pada bilangan gelombang cm -1 yang menunjukkan adanya vibrasi simetrik O=S=O, PSS4 memiliki intensitas yang lebih tinggi dibandingkan PSS1, artinya gugus sulfonat pada PSS4 lebih banyak dibandingkan dengan gugus sulfonat yang berada pada PSS1. Secara kualitatif dapat disimpulkan bahwa semakin lama waktu sulfonasi, gugus sulfonat yang tersubstitusi pada PS akan semakin banyak Derajat Sulfonasi dan Swelling Derajat sulfonasi pada PS ditentukan dengan cara titrasi. Derajat sulfonasi menunjukkan banyaknya gugus sulfonat yang tersubstitusi dalam struktur PS saat proses sulfonasi. Dari Tabel 4-1 memperlihatkan bahwa besarnya derajat sulfonasi (%DS) meningkat dengan lamanya waktu proses sulfonasi. Hal ini berarti semakin lama waktu sulfonasi, gugus sulfonat yang tersubstitusi pada polistiren semakin banyak. Tabel 4.1 Hasil karakterisasi PS, PSS1, PSS2, PSS3, dan PSS4 No Waktu (menit) Membran DS (%) Swelling (%) 1 0 PS 0 1, PSS1 8,48 15, PSS2 13,45 13, PSS3 24,90 11, PSS4 38,15 5,14 31

6 Pada Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa dengan adanya gugus sulfonat akan meningkatkan nilai swelling dari membran. Hal ini disebabkan karena gugus sulfonat merupakan gugus yang bersifat hidrofil, sehingga membran PSS akan lebih suka terhadap air. Akan tetapi hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak gugus sulfonat ternyata nilai swelling semakin menurun. Faktor yang menyebabkan menurunnya nilai swelling dengan meningkatnya derajat sulfonasi pada polistiren adalah karena terjadi penurunan berat molekul pada polistiren setelah sulfonasi dan bisa juga terjadi ikatan silang antar rantai PSS yang semakin meningkat dengan meningkatnya derajat sulfonasi polistiren. Berat molekul ini ada hubungannya dengan panjang rantai. Semakin panjang rantai PSS semakin banyak ruang yang bisa ditempati oleh molekul air. Jika terjadi penurunan berat molekul maka panjang rantai akan semakin pendek dan ruang yang ditempati oleh molekul air akan semakin sedikit. Terjadinya penurunan berat molekul polistiren setelah sulfonasi dibuktikan dari analisa massa molekul polimer sebelum dan sesudah proses sulfonasi. Ikatan silang berpengaruh pada besarnya swelling. Semakin banyak ikatan silang, ruang yang bisa ditempati oleh molekul air akan semain sedikit Lignin Lignin diisolasi dari limbah pabrik kertas dengan menggunakan H 2 SO 4 10%. Setelah penambahan asam, lignin akan mengendap. Hal ini dikarenakan adanya pemutusan ikatan kovalen dari lignin akibat adanya hidrolisis lignin dari karbohidrat (6). Lignin hasil isolasi kemudian dikarakterisasi dengan menggunakan FTIR. Spektrum IR lignin ditunjukkan oleh Gambar %T Lignin /cm Gambar 4.3 Spektrum IR lignin 32

7 Dari gambar spektrum IR tersebut dapat dilihat bahwa puncak karakteristik dari spektrum lignin adalah pada bilangan gelombang sekitar 3400 cm -1 yang menunjukkan adanya ikatan O-H. Gambar 4.4 menunjukkan spektrum IR lignin tersulfonasi. Dapat terlihat bahwa muncul pucak serapan pada bilangan gelombang sekitar 3400 cm-1 yang menunjukkan vibrasi gugus OH dari lignin, selain itu juga muncul puncak serapan pada bilangan gelombang sekitar cm-1 yang menunjukkan adanya vibrasi gugus O=S=O dari gugus sulfonat pada lignin. 100 %T Lignin tersulfonasi /cm Gambar 4.4 Spektrum IR lignin tersulfonasi Jika dibandingkan spektrum lignin dan lignin tersulfonasi ternyata pada lignin juga muncul puncak serapan pada bilangan gelombang cm -1, hal ini menunjukkan bahwa lignin hasil isolasi memiliki gugus sulfonat pada strukturnya Poliblend PSS-lignin Poliblend dibuat dengan mencampurkan PSS dan lignin dengan pelarut DMF. Poliblend PSS-lignin merupakan poliblend heterogen (immiscible polymer blend) sehingga diperlukan suatu pemanassan agar kedua polimer saling larut. Larutan poliblend diuapkan hingga didapatkan suatu endapan seperti gel. Gel ini ditekan pada tekanan 100 kg/cm 2 sampai terbentuk membran. Membran yang didapat tidak homogen hal ini dikarenakan poliblend 33

8 PSS-lignin merupakan poliblend heterogen sehingga film yang terbentuk mengandung dua fasa dari komponen masing-masing Analisis Gugus Fungsi Spektrum FTIR untuk poliblend PS-lignin memperlihatkan adanya puncak serapan dari kedua molekul penyusun poliblend. Pada bilangan gelombang 3400 cm -1 menunjukkan adanya gugus OH dari lignin. Pada spekrum IR untuk PS-lignin muncul spektrum pada bilangan gelombang yang menunjukkan adanya vibrasi simetrik O=S=O dari lignin. Spektrum IR PS-lignin ditunjukkan oleh Gambar 4.5: Gambar 4.5 Spektrum IR poliblend PS-lignin 34

9 Spektrum IR untuk poliblend PSS1-lignin ditunjukkan oleh Gambar 4.6: 97.5 %T PSS lignin 20 menit /cm Gambar 4.6 Spektrum IR poliblend PSS1-lignin Spektrum IR PSS1-lignin menunjukkan adanya perubahan intensitas serapan pada bilangan gelombang sekitar 3400 cm -1 yang menunjukkan adanya vibrasi gugus OH dari lignin dan juga perubahan intensitas pada bilangan gelombang cm -1 yang menunjukkan adanya kontribusi vibrasi gugus O=S=O yang berasal gugus sulfonat pada lignin Uji Swelling, IEC, dan Konduktivitas Proton Tabel 4-2 menunjukkan data hasil analisis swelling, kapasitas penuakar ion (IEC), dan konduktivitas proton. Dari Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa dengan penambahan lignin besarnya swelling semakin tinggi. Hal ini diakibatkan karena lignin hasil isolasi memiliki gugus sulfonat yang telah dibuktikan melaui spektrum IR lignin. Dengan adanya gugus sulfonat pada lignin maka nilai swelling akan semakin meningkat. Karakterisasi untuk menentukan % swelling ini sangat penting karena akan berkaitan dengan konduktivitas proton. Suatu membran untuk dapat menghantarkan proton harus dalam keadaan terhidrasi, jika membran kering maka membran sulit untuk menghantarkan proton sehingga tidak akan terjadi aliran elektron. Nilai swelling tidak boleh terlalu besar, karena kemungkinan membran akan menglami suatu cross over terhadap metanol. Oleh karena itu penambahan lignin yang merupakan senyawa hidrofobik dapat digunakan untuk mengatur air dalam membran. % Swelling yang paling optimal dari data Tabel 4.2 adalah membran PSS1-lignin 35

10 sebesar 33,56%. % Swelling ini hampir sama besarnya dengan % swelling membran Nafion 115 yaitu sebesar 31% Selain uji swelling, pada membran poliblend juga dilakukan karakterisasi nilai IEC (ion exchange capacity). IEC ini mengindikasikan sejumlah besar dari gugus yang terdapat dalam membran mampu untuk menukarkan ion dan hal ini berkaitan dengan kemampuan transfer proton. Semakin banyak gugus dalam membran yang mampu menukarkan ion menyebabkan nilai IEC semakin besar. Dari data tersebut nilai IEC yang paling optimal adalah membran poliblend PSS1-lignin dengan nilai IEC sebesar 3,1032 meq/gram. Jika nilai ini dibandingkan dengan Nafion yang memiliki nilai IEC 0,9 meq/gram, maka IEC membran PSS1-lignin memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan Nafion. Karakterisasi selanjutnya adalah konduktivitas proton. Konduktivitas proton merupakan sifat yang paling penting dimiliki oleh membran untuk bisa diaplikasikan dalam PEMFC. Terdapat 2 jenis mekanisme transfer proton pada membran yaitu (14) : 1. jump mechanism : pada mekanisme ini proton lompat dari satu gugus ke gugus lainnya dengan adanya air. 2. vehicle mechanism : pada mekanisme ini terjadi kombinasi antara proton dengan pelarut H 2 O membentuk kompleks H 3 O + dan terdifusi melewati membran. Data dari Tabel 4-2 menunjukkan bahwa dengan adanya gugus sulfonat nilai konduktivitas membran bertambah. Nilai konduktivitas proton yang paling optimal diperoleh pada membran poliblend PSS4-lignin sebesar 2,53 x10-3 S/m sedangkan konduktivitas proton untuk PSS1-lignin sebesar 1,35x10-3 S/m. Konduktivitas proton dari poliblend tidak bisa dibandingkan dengan konduktivitas proton dari Nafion karena metode dan peralatan yang digunakan untuk mengukur konduktivitas protonnya berbeda. Tabel 4.2 Hasil karakterisasi % Swelling, IEC, dan konduktivitas proton membran poliblend PS/PSS-lignin No Membran poliblend Swelling (%) IEC (meq/gram) konduktivitas proton membran (S/m) 1 PS-lignin 13,44 0,5149 9,7 x PSS1-lignin 33,56 3,1032 1,35x PSS2-lignin 15,08 1,1664 1,32x PSS3-lignin 26,91 2,6932 4,17x PSS4-lignin 10,85 0,9448 2,53x

11 Uji Tarik Salah satu karakteristik yang penting dari membran untuk aplikasi PEMFC adalah memiliki kekuatan mekanik yang memadai. Karakterisasi uji tarik dilakukan untuk mengetahui kekuatan mekanik dari membran. Data Tabel 4.3 menunjukkan bahwa semakin tinggi derajat sulfonasi PSS yang digunakan pada membran kekuatan tarik cenderung menurun, begitu juga dengan strain (regangan) cenderung semakin menurun. Akan tetapi sebaliknya modulus Young saat terjadinya pemutusan semakin meningkat dengan bertambahnya derajat sulfonasi PSS. Artinya adanya gugus sulfonat membuat membran semakin kaku, faktor yang menyebabkannya adalah kemungkinan terbentuknya ikatan silang antar rantai PSS saat proses sulfonasi berlangsung Tabel 4.3 Hasil karakterisasi uji tarik membran poliblend PS/PSS-lignin No Membran poliblend Uji tarik Stress(kgf/mm 2 ) Strain (%) E(kgf/mm2) 1 PS-lignin 0,8037 1,55 0,518 2 PSS1-lignin 0,774 1,25 0,619 3 PSS2-lignin 0,9245 1,3 0,711 4 PSS3-lignin 0, ,825 5 PSS4-lignin 0,7146 0,75 0, Analisis Termal TGA/DTA Karakteristik membran penukar proton yang penting untuk aplikasi PEMFC adalah membran harus memiliki ketahanan termal yang tinggi. Dari termogram TGA/DTA pada Gambar 4.7 dapat terlihat terjadinya penurunan berat dari poliblend. Untuk PS-lignin pada suhu C terjadi pengurangan berat sebesar 20,8% sedangkan termogram TGA/DTA untuk PSS1- lignin memperlihatkan pada suhu 233,5 0 C pengurangan berat pada membran hanya 6,7%. Tabel berikut menunjukkan hasil keseluruhan % pengurangan berat membran. Pengurangan berat tahap pertama ini menunjukkan persen lignin pada poliblend yang terdekomposisi. Data tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.4: 37

12 Tabel 4.4 Perbandingan berat lignin dan PS/PSS yang terdekomposisi Membran % lignin dalam % PS/PSS dalam % lignin yang % PS/PSS yang poliblend poliblend poliblend terdekomposisi terdekomposisi PS-lignin PSS1-lignin PSS2-lignin PSS3-lignin PSS4-lignin Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa secara keseluruhan terdapat kesesuaian antara jumlah polimer dengan jumlah polimer yang terdekomposisi kecuali untuk PSS1-lignin. Dari tabel juga dapat terlihat bahwa adanya gugus sulfonat pada membran dapat meningkatkan kestabilan termal membran yang ditunjukkan dengan sedikitnya % pengurangan berat membran saat temperatur dekomposisi pertama. Dari Gambar 4.7 juga dapat terlihat bahwa terdapat dua titik dekomposisi. Dekomposisi awal terjadi pada suhu 212,0 0 C C yang menunjukkan temperatur dekomposisi dari lignin. Dekomposisi kedua terjadi pada suhu 416,2 0 C - 429,6 0 C yang merupakan temperatur dari PS/PSS. (a) (b) Gambar 4.7 Termogram TGA/DTA (a) PS-lignin, (b) PSS1-lignin 38

13 Hasil analisis sampel secara keseluruhan adalah dapat dilihat padatabel 4.5: Tabel 4.5 Hasil analisis TGA/DTA membran poliblend PS/PSS-lignin No Membran Temperatur Sisa sampel pada poliblend dekomposisi ± C ( 0 C) 1 PS-lignin 416,2 0,8 2 PSS1-lignin 422,2 15,4 3 PSS2-lignin 425,4 2,3 4 PSS3-lignin 426,2 2,0 5 PSS4-lignin 429,6 1,8 Data Tabel 4.5 menunjukkan bahwa temperatur dekomposisi (T d ) PS-lignin lebih kecil dibandingkan T d PSS-lignin. T d PSS-lignin sendiri nilainya tidak berbeda jauh untuk setiap komposisi. Dari tabel tersebut dapat dilihat sisa sampel yang paling banyak saat suhu mendekati C terjadi pada PSS1-lignin dengan % sisa sampel sebanyak 15,4%, sehingga dapat disimpulkan membran PSS1-lignin memiliki ketahanan termal yang lebih baik dibandingkan membran poliblend PSS-lignin lainnya. 39

4. Hasil dan Pembahasan

4. Hasil dan Pembahasan 4. Hasil dan Pembahasan 4.1. Sintesis Polistiren (PS) Pada proses sintesis ini, benzoil peroksida berperan sebagai suatu inisiator pada proses polimerisasi, sedangkan stiren berperan sebagai monomer yang

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polistiren Polistiren disintesis dari monomer stiren melalui reaksi polimerisasi adisi dengan inisiator benzoil peroksida. Pada sintesis polistiren ini, terjadi tahap

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polistiren Polistiren disintesis melalui polimerisasi dari monomer (stiren). Polimerisasi ini merupakan polimerisasi radikal, dengan pusat aktif berupa radikal bebas.

Lebih terperinci

3. Metode Penelitian

3. Metode Penelitian 3. Metode Penelitian 3.1. Alat dan Bahan Penelitian 3.1.1. Alat Umumnya peralatan yang digunakan pada penelitian ini berada di Labotaorium Kimia Fisik Material, sedangkan untuk FTIR digunakan peralatan

Lebih terperinci

3. Metodologi Penelitian

3. Metodologi Penelitian 3. Metodologi Penelitian 3.1. Tahapan Penelitian Secara Umum Secara umum, diagram kerja penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut : Monomer Inisiator Limbah Pulp POLIMERISASI Polistiren ISOLASI

Lebih terperinci

3 Metodologi Penelitian

3 Metodologi Penelitian 3 Metodologi Penelitian Penelitian tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium Kimia Fisik Material dan Laboratorium Kimia Analitik Program Studi Kimia ITB, serta di Laboratorium Polimer Pusat Penelitian

Lebih terperinci

4 Hasil dan pembahasan

4 Hasil dan pembahasan 4 Hasil dan pembahasan 4.1 Sintesis dan Pemurnian Polistiren Pada percobaan ini, polistiren dihasilkan dari polimerisasi adisi melalui reaksi radikal dengan inisiator benzoil peroksida (BPO). Sintesis

Lebih terperinci

Kata Kunci : styrofoam, polistyren, polistyren tersulfonasi, amilosa, polibled

Kata Kunci : styrofoam, polistyren, polistyren tersulfonasi, amilosa, polibled KAJIAN FISIKA KIMIA LIMBAH STYROFOAM DAN APLIKASINYA Ni Ketut Sumarni 1, Husain Sosidi 2, ABD Rahman R 3, Musafira 4 1,4 Laboratorium Kimia Fisik Fakultas MIPA, Universitas Tadulako 2,3 Laboratorium Kimia

Lebih terperinci

2. Tinjauan Pustaka Polymer Electrolyte Membran Fuel Cell (PEMFC) Gambar 2.1 Diagram Polymer Electrolyte Membrane Fuel Cell (PEMFC)

2. Tinjauan Pustaka Polymer Electrolyte Membran Fuel Cell (PEMFC) Gambar 2.1 Diagram Polymer Electrolyte Membrane Fuel Cell (PEMFC) 2. Tinjauan Pustaka 2.1. Polymer Electrolyte Membran Fuel Cell (PEMFC) Polymer Electrolyte Membran Fuel Cell (PEMFC) adalah salah satu tipe fuel cell yang sedang dikembangkan. PEMFC ini bekerja mengubah

Lebih terperinci

4. Hasil dan Pembahasan

4. Hasil dan Pembahasan 4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Analisis Sintesis PS dan Kopolimer PS-PHB Sintesis polistiren dan kopolimernya dengan polihidroksibutirat pada berbagai komposisi dilakukan dengan teknik polimerisasi radikal

Lebih terperinci

3 Metodologi Penelitian

3 Metodologi Penelitian 3 Metodologi Penelitian 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat 1. Pada tahap sintesis, pemurnian, dan sulfonasi polistiren digunakan peralatan gelas, alat polimerisasi, neraca analitis, reaktor polimerisasi, oil

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 asil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polistiren Sintesis polistiren dilakukan dalam reaktor polimerisasi dengan suasana vakum. al ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kontak dengan udara karena stiren

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Distanoksan Sintesis distanoksan dilakukan dengan mencampurkan dibutiltimah(ii)oksida dan dibutiltimah(ii)klorida (Gambar 3.2). Sebelum dilakukan rekristalisasi, persen

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polistirena Polistirena disintesis melalui polimerisasi adisi radikal bebas dari monomer stirena dan benzoil peroksida (BP) sebagai inisiator. Polimerisasi dilakukan

Lebih terperinci

4. Hasil dan Pembahasan

4. Hasil dan Pembahasan 4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Metoda Sintesis Membran Kitosan Sulfat Secara Konvensional dan dengan Gelombang Mikro (Microwave) Penelitian sebelumnya mengenai sintesis organik [13] menunjukkan bahwa jalur

Lebih terperinci

3 Metodologi penelitian

3 Metodologi penelitian 3 Metodologi penelitian 3.1 Peralatan dan Bahan Peralatan yang digunakan pada penelitian ini mencakup peralatan gelas standar laboratorium kimia, peralatan isolasi pati, peralatan polimerisasi, dan peralatan

Lebih terperinci

3 Percobaan. 3.1 Alat dan Bahan Alat Bahan

3 Percobaan. 3.1 Alat dan Bahan Alat Bahan 3 Percobaan 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat Alat gelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat gelas yang umum digunakan di laboratorium kimia, seperti gelas kimia, gelas ukur, cawan petri, labu

Lebih terperinci

Hasil dan Pembahasan

Hasil dan Pembahasan Bab 4 asil dan Pembahasan 4.1 Pembuatan dan Kitosan Kulit udang yang digunakan sebagai bahan baku kitosan terdiri atas kepala, badan, dan ekor. Tahapan-tahapan dalam pengolahan kulit udang menjadi kitosan

Lebih terperinci

3. Metodologi Penelitian

3. Metodologi Penelitian 3. Metodologi Penelitian 3.1 Alat dan bahan 3.1.1 Alat Pada umumnya peralatan yang digunakan berada di Laboratorium Kimia Fisik Material, sedangkan untuk FTIR digunakan peralatan yang berada di Laboratorium

Lebih terperinci

2. Tinjauan Pustaka Fuel Cell (Sel Bahan Bakar) Polymer Electrolyte Membrane Fuel Cell (PEMFC)

2. Tinjauan Pustaka Fuel Cell (Sel Bahan Bakar) Polymer Electrolyte Membrane Fuel Cell (PEMFC) 2. Tinjauan Pustaka 2.1. Fuel Cell (Sel Bahan Bakar) Fuel cell (sel bahan bakar) merupakan alat pengkonversi energi elektrokimia. Sel ini menghasilkan energi listrik dari berbagai macam jenis sumber bahan

Lebih terperinci

Hasil dan Pembahasan

Hasil dan Pembahasan Bab 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polimer Benzilkitosan Somorin (1978), pernah melakukan sintesis polimer benzilkitin tanpa pemanasan. Agen pembenzilasi yang digunakan adalah benzilklorida. Adapun

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebutuhan akan sumber bahan bakar semakin meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk. Akan tetapi cadangan sumber bahan bakar justru

Lebih terperinci

2 Tinjauan Pustaka. Gambar 2. 1 Struktur stiren

2 Tinjauan Pustaka. Gambar 2. 1 Struktur stiren 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Stiren Stiren atau vinyl benzen merupakan senyawa organik yang dapat disintesis dari benzena dan etena. Stiren merupakan monomer yang paling banyak digunakan karena memiliki kestabilan

Lebih terperinci

3 Percobaan. 3.1 Tahapan Penelitian Secara Umum. Tahapan penelitian secara umum dapat dilihat pada diagram alir berikut :

3 Percobaan. 3.1 Tahapan Penelitian Secara Umum. Tahapan penelitian secara umum dapat dilihat pada diagram alir berikut : 3 Percobaan 3.1 Tahapan Penelitian Secara Umum Tahapan penelitian secara umum dapat dilihat pada diagram alir berikut : Gambar 3. 1 Diagram alir tahapan penelitian secara umum 17 Penelitian ini dibagi

Lebih terperinci

Pengaruh Waktu Sulfonasi terhadap Karakteristik Polistiren dan Polyblend-nya dengan Kitosan

Pengaruh Waktu Sulfonasi terhadap Karakteristik Polistiren dan Polyblend-nya dengan Kitosan Pengaruh Waktu Sulfonasi terhadap Karakteristik Polistiren dan Polyblend-nya dengan Kitosan SKRIPSI Lelly Dwi Ambarini NIM 10504018 PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT

Lebih terperinci

Bab III Metodologi. III.1 Alat dan Bahan. III.1.1 Alat-alat

Bab III Metodologi. III.1 Alat dan Bahan. III.1.1 Alat-alat Bab III Metodologi Penelitian ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu isolasi selulosa dari serbuk gergaji kayu dan asetilasi selulosa hasil isolasi dengan variasi waktu. Kemudian selulosa hasil isolasi dan

Lebih terperinci

Metode Penelitian. 3.1 Alat dan Bahan Penelitian Daftar alat

Metode Penelitian. 3.1 Alat dan Bahan Penelitian Daftar alat Bab 3 Metode Penelitian Penelitian ini terdiri atas tahap pembuatan kitin dan kitosan, sintesis karboksimetil kitosan dari kitin dan kitosan, pembuatan membran kitosan dan karboksimetil kitosan, dan karakterisasi.

Lebih terperinci

3 Metodologi Penelitian

3 Metodologi Penelitian 3 Metodologi Penelitian Prosedur penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, tahap pertama sintesis kitosan yang terdiri dari isolasi kitin dari kulit udang, konversi kitin menjadi kitosan. Tahap ke dua

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Polimer Emulsi 2.1.1 Definisi Polimer Emulsi Polimer emulsi adalah polimerisasi adisi terinisiasi radikal bebas dimana suatu monomer atau campuran monomer dipolimerisasikan

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor)

Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor) 23 Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Penyiapan Sampel Kualitas minyak kastor yang digunakan sangat mempengaruhi pelaksanaan reaksi transesterifikasi. Parameter kualitas minyak kastor yang dapat menjadi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN 22 BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Produksi Furfural Bonggol jagung (corn cobs) yang digunakan dikeringkan terlebih dahulu dengan cara dijemur 4-5 hari untuk menurunkan kandungan airnya, kemudian

Lebih terperinci

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab IV asil Penelitian dan Pembahasan IV.1 Isolasi Kitin dari Limbah Udang Sampel limbah udang kering diproses dalam beberapa tahap yaitu penghilangan protein, penghilangan mineral, dan deasetilasi untuk

Lebih terperinci

3 Metodologi Penelitian

3 Metodologi Penelitian 3 Metodologi Penelitian 3.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di laboratorium Kelompok Keilmuan (KK) Kimia Analitik, Program Studi Kimia FMIPA Institut Teknologi Bandung. Penelitian dimulai dari

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. hal ini memiliki nilai konduktifitas yang memadai sebagai komponen sensor gas

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. hal ini memiliki nilai konduktifitas yang memadai sebagai komponen sensor gas 31 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis material konduktor ionik MZP, dilakukan pada kondisi optimum agar dihasilkan material konduktor ionik yang memiliki kinerja maksimal, dalam hal ini memiliki nilai

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Kopolimer Akrilonitril-Glisidil metakrilat (PAN-GMA) Pembuatan kopolimer PAN-GMA oleh peneliti sebelumnya (Godjevargova, 1999) telah dilakukan melalui polimerisasi radikal

Lebih terperinci

Analisis Sifat Kimia dan Fisika dari Maleat Anhidrida Tergrafting pada Polipropilena Terdegradasi

Analisis Sifat Kimia dan Fisika dari Maleat Anhidrida Tergrafting pada Polipropilena Terdegradasi Analisis Sifat Kimia dan Fisika dari Maleat Anhidrida Tergrafting Reni Silvia Nasution Program Studi Kimia, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia [email protected] Abstrak: Telah

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Poliuretan Pada penelitian ini telah dilakukan sintesis poliuretan dengan menggunakan monomer diisosianat yang berasal dari toluena diisosianat (TDI) dan monomer

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April sampai September 2015 dengan

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April sampai September 2015 dengan III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April sampai September 2015 dengan tahapan isolasi selulosa dan sintesis CMC di Laboratorium Kimia Organik

Lebih terperinci

SINTESIS POLIVINIL ASETAT BERBASIS PELARUT METANOL YANG TERSTABILKAN OLEH DISPONIL SKRIPSI

SINTESIS POLIVINIL ASETAT BERBASIS PELARUT METANOL YANG TERSTABILKAN OLEH DISPONIL SKRIPSI SINTESIS POLIVINIL ASETAT BERBASIS PELARUT METANOL YANG TERSTABILKAN OLEH DISPONIL SKRIPSI 7 AGUSTUS 2014 SARI MEIWIKA S. NRP. 1410.100.032 Dosen Pembimbing Lukman Atmaja, Ph.D Pendahuluan Metodologi Hasil

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Pelaksanaan penelitian dimulai sejak Februari sampai dengan Juli 2010.

BAB III METODE PENELITIAN. Pelaksanaan penelitian dimulai sejak Februari sampai dengan Juli 2010. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Pelaksanaan penelitian dimulai sejak Februari sampai dengan Juli 2010. Sintesis cairan ionik, sulfonasi kitosan, impregnasi cairan ionik, analisis

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Preparasi 4.1.1 Sol Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan ZrOCl 2. 8H 2 O dengan perbandingan mol 1:4:6 (Ikeda, et al. 1986) dicampurkan

Lebih terperinci

2. Tinjauan Pustaka Sel Bahan Bakar (Fuel Cell)

2. Tinjauan Pustaka Sel Bahan Bakar (Fuel Cell) 2. Tinjauan Pustaka 2.1 2.1 Sel Bahan Bakar (Fuel Cell) Sel bahan bakar merupakan salah satu solusi untuk masalah krisis energi. Sampai saat ini, pemakaian sel bahan bakar dalam aktivitas sehari-hari masih

Lebih terperinci

Gambar IV 1 Serbuk Gergaji kayu sebelum ekstraksi

Gambar IV 1 Serbuk Gergaji kayu sebelum ekstraksi Bab IV Pembahasan IV.1 Ekstraksi selulosa Kayu berdasarkan struktur kimianya tersusun atas selulosa, lignin dan hemiselulosa. Selulosa sebagai kerangka, hemiselulosa sebagai matrik, dan lignin sebagai

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Mensintesis Senyawa rganotimah Sebanyak 50 mmol atau 2 ekivalen senyawa maltol, C 6 H 6 3 (Mr=126) ditambahkan dalam 50 mmol atau 2 ekivalen larutan natrium hidroksida,

Lebih terperinci

2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Proton Exchange Membrane Fuel Cell (PEMFC)

2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Proton Exchange Membrane Fuel Cell (PEMFC) 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Proton Exchange Membrane Fuel Cell (PEMFC) Proton Exchange Membrane Fuel Cell (PEMFC) merupakan salah satu jenis fuel cell, yaitu sistem penghasil energi listrik, yang bekerja berdasarkan

Lebih terperinci

Pembuatan Membran Poliblend PSS-lignin dan Karakterisasinya untuk Aplikasi Sel Bahan Bakar

Pembuatan Membran Poliblend PSS-lignin dan Karakterisasinya untuk Aplikasi Sel Bahan Bakar Pembuatan Membran Poliblend PSS-lignin dan Karakterisasinya untuk Aplikasi Sel Bahan Bakar SKRIPSI Luchana Lamierza Yusup 10504037 PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT

Lebih terperinci

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM ANORGANIK PERCOBAAN 1 TOPIK : SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NATRIUM TIOSULFAT

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM ANORGANIK PERCOBAAN 1 TOPIK : SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NATRIUM TIOSULFAT LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM ANORGANIK PERCOBAAN 1 TOPIK : SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NATRIUM TIOSULFAT DI SUSUN OLEH : NAMA : IMENG NIM : ACC 109 011 KELOMPOK : 2 ( DUA ) HARI / TANGGAL : SABTU, 28 MEI 2011

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kitosan dihasilkan dari kitin dan mempunyai struktur kimia yang sama

BAB I PENDAHULUAN. Kitosan dihasilkan dari kitin dan mempunyai struktur kimia yang sama BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kitosan dihasilkan dari kitin dan mempunyai struktur kimia yang sama dengan kitin, terdiri dari rantai molekul yang panjang dan berat molekul yang tinggi. Adapun perbedaan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut :

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut : BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut : - Hot Plate Stirer Coming PC 400 D - Beaker Glass Pyrex - Hot Press Gotech - Neraca Analitik Radwag

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan Kualitas minyak dapat diketahui dengan melakukan beberapa analisis kimia yang nantinya dibandingkan dengan standar mutu yang dikeluarkan dari Standar Nasional Indonesia (SNI).

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini telah disintesis tiga cairan ionik

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini telah disintesis tiga cairan ionik BAB IV HASIL DA PEMBAHASA Pada penelitian ini telah disintesis tiga cairan ionik berbasis garam benzotriazolium yaitu 1,3-metil oktadesil-1,2,3-benzotriazolium bromida 1, 1,3- metil heksadesil-1,2,3-benzotriazolium

Lebih terperinci

4. Hasil dan Pembahasan

4. Hasil dan Pembahasan 4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Pembuatan Asap Cair Asap cair dari kecubung dibuat dengan teknik pirolisis, yaitu dekomposisi secara kimia bahan organik melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan 19 Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Biodiesel Minyak jelantah semula bewarna coklat pekat, berbau amis dan bercampur dengan partikel sisa penggorengan. Sebanyak empat liter minyak jelantah mula-mula

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 PEMANFAATAN LIMBAH STYROFOAM UNTUK MEMBRAN SEL BAHAN BAKAR (FUEL CELL) Nida Mariam, Indah Dewi Puspitasari, Ali Syari ati. Pembimbing: Prof. Dr. I Made Arcana. Institut Teknologi Bandung. 2011 PENDAHULUAN

Lebih terperinci

3. Metodologi Penelitian

3. Metodologi Penelitian 3. Metodologi Penelitian 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian telah dilakukan di Laboratorium Kimia Fisik Material, Kelompok Keilmuan Kimia Anorganik dan Fisik, Program Studi Kimia ITB dari bulan

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN PENELITIAN

BAB III RANCANGAN PENELITIAN BAB III RANCANGAN PENELITIAN 3.1. Metodologi Penelitian Surfaktan methyl ester sulfonat (MES) dibuat melalui beberapa tahap. Tahapan pembuatan surfaktan MES adalah 1) Sulfonasi ester metil untuk menghasilkan

Lebih terperinci

Daftar Pustaka. Morimoto, M. et al, (2002), Control of Functions of Chitin and Chitosan by Chemical Modification, 14(78),

Daftar Pustaka. Morimoto, M. et al, (2002), Control of Functions of Chitin and Chitosan by Chemical Modification, 14(78), Daftar Pustaka Bilmeyer, F. W., (1971), Textbook of Polymer Science.2 nd New York, 264-265, 395-397 Edition, Wiley-Interscience Inc., Chen, S.L. et al., (2004), Ion exchange resin/polystyrene sulfonate

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. 3.1 Alat Alat Adapun alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah: Alat-alat Gelas.

BAB 3 METODE PENELITIAN. 3.1 Alat Alat Adapun alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah: Alat-alat Gelas. 18 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Alat Alat Adapun alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah: Nama Alat Merek Alat-alat Gelas Pyrex Gelas Ukur Pyrex Neraca Analitis OHaus Termometer Fisher Hot Plate

Lebih terperinci

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. IV.1 Sintesis dan karaktrisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. IV.1 Sintesis dan karaktrisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan IV.1 Sintesis dan karaktrisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O Garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O telah diperoleh dari reaksi larutan kalsium asetat dengan

Lebih terperinci

REAKSI AMOKSIMASI SIKLOHEKSANON MENGGUNAKAN KATALIS Ag/TS-1

REAKSI AMOKSIMASI SIKLOHEKSANON MENGGUNAKAN KATALIS Ag/TS-1 REAKSI AMOKSIMASI SIKLOHEKSANON MENGGUNAKAN KATALIS Ag/TS-1 Oleh: Dyah Fitasari 1409201719 Pembimbing: Dr. Didik Prasetyoko, S.Si, M.Sc Suprapto, M.Si, Ph.D LATAR BELAKANG Sikloheksanon Sikloheksanon Oksim

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan, dimulai dari bulan

BAB III METODE PENELITIAN. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan, dimulai dari bulan 25 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan, dimulai dari bulan Januari 2011. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fisika Material jurusan

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I PERCOBAAN III SIFAT-SIFAT KIMIA HIDROKARBON

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I PERCOBAAN III SIFAT-SIFAT KIMIA HIDROKARBON LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I PERCOBAAN III SIFAT-SIFAT KIMIA HIDROKARBON OLEH NAMA : HABRIN KIFLI HS. STAMBUK : F1C1 15 034 KELOMPOK ASISTEN : VI (ENAM) : HERIKISWANTO LABORATORIUM KIMIA FAKULTAS

Lebih terperinci

4006 Sintesis etil 2-(3-oksobutil)siklopentanon-2-karboksilat

4006 Sintesis etil 2-(3-oksobutil)siklopentanon-2-karboksilat NP 4006 Sintesis etil 2-(3-oksobutil)siklopentanon-2-karboksilat CEt + FeCl 3 x 6 H 2 CEt C 8 H 12 3 C 4 H 6 C 12 H 18 4 (156.2) (70.2) (270.3) (226.3) Klasifikasi Tipe reaksi dan penggolongan bahan Adisi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. selulosa Nata de Cassava terhadap pereaksi asetat anhidrida yaitu 1:4 dan 1:8

BAB III METODE PENELITIAN. selulosa Nata de Cassava terhadap pereaksi asetat anhidrida yaitu 1:4 dan 1:8 34 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini diawali dengan mensintesis selulosa asetat dengan nisbah selulosa Nata de Cassava terhadap pereaksi asetat anhidrida yaitu 1:4 dan 1:8

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL PERCBAAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk membuat, mengisolasi dan mengkarakterisasi derivat akrilamida. Penelitian diawali dengan mereaksikan akrilamida dengan anilin sulfat.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada pembuatan dispersi padat dengan berbagai perbandingan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada pembuatan dispersi padat dengan berbagai perbandingan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 1. Pembuatan Serbuk Dispersi Padat Pada pembuatan dispersi padat dengan berbagai perbandingan dihasilkan serbuk putih dengan tingkat kekerasan yang berbeda-beda. Semakin

Lebih terperinci

3.1 Alat dan Bahan Alat

3.1 Alat dan Bahan Alat Bab III Metodologi 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi peralatan gelas yang umum digunakan di laboratorium kimia. Adapun peralatan lain yang khusus digunakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 6 HASIL DAN PEMBAHASAN Karboksimetil selulosa (CMC) merupakan salah satu turunan selulosa yang disebut eter selulosa (Nevell dan Zeronian 1985). CMC dapat larut di dalam air dingin dan air panas dan menghasilkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Prarancangan Pabrik Dietil Eter dari Etanol dengan Proses Dehidrasi Kapasitas Ton/Tahun Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN. 1 Prarancangan Pabrik Dietil Eter dari Etanol dengan Proses Dehidrasi Kapasitas Ton/Tahun Pendahuluan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dietil eter merupakan salah satu bahan kimia yang sangat dibutuhkan dalam industri dan salah satu anggota senyawa eter yang mempunyai kegunaan yang sangat penting.

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. mengoksidasi lignin sehingga dapat larut dalam sistem berair. Ampas tebu dengan berbagai perlakuan disajikan pada Gambar 1.

PEMBAHASAN. mengoksidasi lignin sehingga dapat larut dalam sistem berair. Ampas tebu dengan berbagai perlakuan disajikan pada Gambar 1. PEMBAHASAN Pengaruh Pencucian, Delignifikasi, dan Aktivasi Ampas tebu mengandung tiga senyawa kimia utama, yaitu selulosa, lignin, dan hemiselulosa. Menurut Samsuri et al. (2007), ampas tebu mengandung

Lebih terperinci

4028 Sintesis 1-bromododekana dari 1-dodekanol

4028 Sintesis 1-bromododekana dari 1-dodekanol 4028 Sintesis 1-bromododekana dari 1-dodekanol C 12 H 26 O (186.3) OH H 2 SO 4 konz. (98.1) + HBr (80.9) C 12 H 25 Br (249.2) Br + H 2 O (18.0) Klasifikasi Tipe reaksi dan penggolongan bahan Substitusi

Lebih terperinci

MAKALAH PENDAMPING : PARALEL B PENGARUH DERAJAT SULFONASI TERHADAP DEGRADASI TERMAL POLISTIRENA TERSULFONASI

MAKALAH PENDAMPING : PARALEL B PENGARUH DERAJAT SULFONASI TERHADAP DEGRADASI TERMAL POLISTIRENA TERSULFONASI MAKALAH PENDAMPING : PARALEL B SEMINAR NASIONAL KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA IV Peran Riset dan Pembelajaran Kimia dalam Peningkatan Kompetensi Profesional Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan PMIPA FKIP

Lebih terperinci

PEMBUATAN BAHAN IPN MENGGUNAKAN CAMPURAN POLIMETILMETAKRILAT DAN POLISTIREN

PEMBUATAN BAHAN IPN MENGGUNAKAN CAMPURAN POLIMETILMETAKRILAT DAN POLISTIREN PEMBUATAN BAHAN IPN MENGGUNAKAN CAMPURAN POLIMETILMETAKRILAT DAN POLISTIREN Oleh Netty Kamal Interpenetrating Polymer Network (IPN) adalah polimer campuran yang unik, dimana jaringan yang terbentuk dari

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar air = Ekstraksi

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar air = Ekstraksi 2 dikeringkan pada suhu 105 C. Setelah 6 jam, sampel diambil dan didinginkan dalam eksikator, lalu ditimbang. Hal ini dilakukan beberapa kali sampai diperoleh bobot yang konstan (b). Kadar air sampel ditentukan

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli sampai bulan Oktober 2011 di

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli sampai bulan Oktober 2011 di 20 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli sampai bulan Oktober 2011 di Laboratorium Instrumentasi Jurusan Kimia FMIPA Unila. B. Alat dan Bahan

Lebih terperinci

PENGARUH TEMPERATUR PADA PROSES PEMBUATAN ASAM OKSALAT DARI AMPAS TEBU. Oleh : Dra. ZULTINIAR,MSi Nip : DIBIAYAI OLEH

PENGARUH TEMPERATUR PADA PROSES PEMBUATAN ASAM OKSALAT DARI AMPAS TEBU. Oleh : Dra. ZULTINIAR,MSi Nip : DIBIAYAI OLEH PENGARUH TEMPERATUR PADA PROSES PEMBUATAN ASAM OKSALAT DARI AMPAS TEBU Oleh : Dra. ZULTINIAR,MSi Nip : 19630504 198903 2 001 DIBIAYAI OLEH DANA DIPA Universitas Riau Nomor: 0680/023-04.2.16/04/2004, tanggal

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. sol-gel, dan mempelajari aktivitas katalitik Fe 3 O 4 untuk reaksi konversi gas

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. sol-gel, dan mempelajari aktivitas katalitik Fe 3 O 4 untuk reaksi konversi gas IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengantar Penelitian ini pada intinya dilakukan dengan dua tujuan utama, yakni mempelajari pembuatan katalis Fe 3 O 4 dari substrat Fe 2 O 3 dengan metode solgel, dan mempelajari

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 14 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Pembuatan glukosamin hidroklorida (GlcN HCl) pada penelitian ini dilakukan melalui proses hidrolisis pada autoklaf bertekanan 1 atm. Berbeda dengan proses hidrolisis glukosamin

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DESKRIPSI PROSES

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DESKRIPSI PROSES BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DESKRIPSI PROSES 2.1 Sodium Stirena Sulfonat Sodium stirena sulfonat merupakan senyawa jenis polimer turunan dari stirena yang mudah larut dalam air, tidak larut dalam alkohol

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK PERCOBAAN II SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA OGANIK

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK PERCOBAAN II SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA OGANIK LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK PERCOBAAN II SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA OGANIK OLEH NAMA : ISMAYANI NIM : F1F1 10 074 KELOMPOK : III ASISTEN : SYAWAL ABDURRAHMAN, S.Si. LABORATORIUM FARMASI FAKULTAS

Lebih terperinci

Bab III Metodologi Penelitian

Bab III Metodologi Penelitian Bab III Metodologi Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu, tahap isolasi kitin yang terdiri dari penghilangan protein, penghilangan mineral, tahap dua pembuatan kitosan dengan deasetilasi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Pembuatan Pulp dari Serat Daun Nanas

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Pembuatan Pulp dari Serat Daun Nanas BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pembuatan Pulp dari Serat Daun Nanas Pembuatan pulp dari serat daun nanas diawali dengan proses maserasi dalam akuades selama ±7 hari. Proses ini bertujuan untuk melunakkan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel Akar tumbuhan akar wangi sebanyak 3 kg yang dibeli dari pasar

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel Akar tumbuhan akar wangi sebanyak 3 kg yang dibeli dari pasar IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Persiapan Sampel Sampel Akar tumbuhan akar wangi sebanyak 3 kg yang dibeli dari pasar Bringharjo Yogyakarta, dibersihkan dan dikeringkan untuk menghilangkan kandungan air yang

Lebih terperinci

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam klorida 0,1 N. Prosedur uji disolusi dalam asam dilakukan dengan cara

Lebih terperinci

OLIMPIADE KIMIA INDONESIA

OLIMPIADE KIMIA INDONESIA OLIMPIADE KIMIA INDONESIA OLIMPIADE SAINS NASIONAL SELEKSI KABUPATEN / KOTA UjianTeori Waktu 2 Jam Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Managemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Polistiren adalah salah satu contoh polimer adisi yang disintesis dari monomer stiren. Pada suhu ruangan, polistirena biasanya bersifat termoplastik padat dan dapat

Lebih terperinci

5004 Asetalisasi terkatalisis asam 3-nitrobenzaldehida dengan etanadiol menjadi 1,3-dioksolan

5004 Asetalisasi terkatalisis asam 3-nitrobenzaldehida dengan etanadiol menjadi 1,3-dioksolan 5004 Asetalisasi terkatalisis asam 3-nitrobenzaldehida dengan etanadiol menjadi 1,3-dioksolan H O O O NO 2 + HO HO 4-toluenesulfonic acid + NO 2 O H 2 C 7 H 5 NO 3 C 2 H 6 O 2 C 7 H 8 O 3 S. H 2 O C 9

Lebih terperinci

3 Metodologi Penelitian

3 Metodologi Penelitian 3 Metodologi Penelitian 3.1 Alat Peralatan yang digunakan dalam tahapan sintesis ligan meliputi laboratory set dengan labu leher tiga, thermolyne sebagai pemanas, dan neraca analitis untuk penimbangan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN BaTiO 3 merupakan senyawa oksida keramik yang dapat disintesis dari senyawaan titanium (IV) dan barium (II). Proses sintesis ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu, tekanan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. teknologi elektronika. Alternatif yang menarik datang dari fuel cell, yang

BAB I PENDAHULUAN. teknologi elektronika. Alternatif yang menarik datang dari fuel cell, yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Konsumsi dunia terhadap energi listrik kian meningkat seiring pesatnya teknologi elektronika. Alternatif yang menarik datang dari fuel cell, yang diharapkan

Lebih terperinci

Penambatan kompleks pada silika Oksidasi alkohol sekunder HASIL DAN PEMBAHASAN Penyiapan silika terfungsionalisasi

Penambatan kompleks pada silika Oksidasi alkohol sekunder   HASIL DAN PEMBAHASAN Penyiapan silika terfungsionalisasi 3 sehingga suhu meningkat menjadi 70 C. Selanjutnya, campuran tersebut ditambahkan asam asetat glasial (1 ml, 17.5 mmol) sehingga suhu reaksi meningkat menjadi 90 C. Suspensi putih yang terbentuk diaduk

Lebih terperinci

OLIMPIADE SAINS NASIONAL CALON PESERTA INTERNATIONAL CHEMISTRY OLYMPIAD (IChO) Yogyakarta Mei Lembar Jawab.

OLIMPIADE SAINS NASIONAL CALON PESERTA INTERNATIONAL CHEMISTRY OLYMPIAD (IChO) Yogyakarta Mei Lembar Jawab. Hak Cipta Dilindungi Undang-undang OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2015 CALON PESERTA INTERNATIONAL CHEMISTRY OLYMPIAD (IChO) 2016 Yogyakarta 18-24 Mei 2015 Lembar Jawab Kimia TEORI Waktu: 240 menit KEMENTERIAN

Lebih terperinci

5013 Sintesis dietil 2,6-dimetil-4-fenil-1,4-dihidropiridin-3,5- dikarboksilat

5013 Sintesis dietil 2,6-dimetil-4-fenil-1,4-dihidropiridin-3,5- dikarboksilat NP 5013 Sintesis dietil 2,6-dimetil-4-fenil-1,4-dihidropiridin-3,5- dikarboksilat NH 4 HC 3 + + 2 C 2 C 2 C 2 H CH 3 H 3 C N CH 3 H + 4 H 2 + C N 3 C 7 H 6 C 6 H 10 3 C 19 H 23 4 N C 2 (79.1) (106.1) (130.1)

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Analisa 4.1 Ekstraksi likopen dari wortel dan pengukurannya dengan spektrometer NIR

Bab IV Hasil dan Analisa 4.1 Ekstraksi likopen dari wortel dan pengukurannya dengan spektrometer NIR Bab IV Hasil dan Analisa 4.1 Ekstraksi likopen dari wortel dan pengukurannya dengan spektrometer NIR Ekstraksi likopen dari tomat dilakukan dengan menggunakan pelarut aseton : metanol dengan perbandingan

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada bulan September 2013 sampai bulan Maret 2014

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada bulan September 2013 sampai bulan Maret 2014 25 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan September 2013 sampai bulan Maret 2014 yang dilakukan di Laboratorium Kimia Organik Fakultas MIPA Unila, dan

Lebih terperinci

3. Metodologi Penelitian

3. Metodologi Penelitian 3. Metodologi Penelitian 3.1 Alat dan bahan 3.1.1 Alat Peralatan gelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah gelas kimia, gelas ukur, labu Erlenmeyer, cawan petri, corong dan labu Buchner, corong

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Prarancangangan Pabrik HPAM dari Monomer Acrylamide Kapasitas ton/tahun

BAB I PENDAHULUAN. Prarancangangan Pabrik HPAM dari Monomer Acrylamide Kapasitas ton/tahun BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Untuk mencapai suatu struktur ekonomi yang kuat diperlukan pembangunan industri untuk menunjang kebutuhan masyarakat akan berbagai jenis produk. Selain berperan dalam

Lebih terperinci

4. Hasil dan Pembahasan

4. Hasil dan Pembahasan 4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Isolasi Kitin dan Kitosan Isolasi kitin dan kitosan yang dilakukan pada penelitian ini mengikuti metode isolasi kitin dan kitosan dari kulit udang yaitu meliputi tahap deproteinasi,

Lebih terperinci

4005 Sintesis metil 9-(5-oksotetrahidrofuran-2-il)nonanoat

4005 Sintesis metil 9-(5-oksotetrahidrofuran-2-il)nonanoat NP 4005 Sintesis metil 9-(5-oksotetrahidrofuran-2-il)nonanoat H 3 C (CH 2 ) 8 + I CH 2 CH 3 H 3 C (CH 2 ) 8 + CH 3 CH 2 I C 12 H 22 2 C 4 H 7 I 2 C 14 H 24 4 C 2 H 5 I (198.3) (214.0) (63.6) (256.3) (156.0)

Lebih terperinci