BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Hartono Budiono
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Responden 37 orang tua muda yang memiliki anak usia 4-6 tahun di Jakarta Barat Tabel Umur Orang Tua umur Ibu Bapak Tabel Pekerjaan Orang Tua Pekerjaan Ibu pekerjaan Bapak IRT 13 Karyawan 21 Guru 4 Buruh 3 Buruh 3 Guru 3 Wirausaha 4 PNS 2 Perawat 1 Akuntan Tabel Pendidikan Orang Tua pendidikan Ibu Bapak SD 1 2 SMP 4 2 SMA Sederajat D1 dan D3 3 2 Pramugari 1 Kontraktor 1 Dokter gigi 1 wirausaha 3 Karyawan 10 security 1 Dubber 1 OB 1 S S
2 4.2 Gambaran Umum Hasil Penelitian Hasil Penelitian Dari Pihak Ibu Cara Mengasuh Seperti Yang Sesuai Dengan Anak Usia 4-6 Tahun Gambar Cara Mengasuh Yang Sesuai Menurut Ibu mendidik / meberi pendidikan kasih sayang memberikan hal positif sabar ajaran agama bebas dalam memilih mengajarkan kebersihan disiplin mandiri perhatian memberikan asupan gizi cinta Berdasarkan diagram di atas dapat di katakan bahwa cara pengasuhan yang sesuai adalah dengan memberikannya pendidikan formal ataupun informal di lihat dari banyaknya yang menjawab seperti menyekolahkannya, mengajarinya sambil bermain atau bernyanyi, memberikan les, mengenal huruf, abjad, hitungan, bentuk, warna atau cara membacanya, yang kedua adalah memberikan kasih sayang kepada anak mereka dengan sepenuh hati, ketiga orang tua yang memberikan hal positif kepada anaknya seperti 39
3 berperilaku yang baik, berbicara halus dan baik agar anak mengikuti yang baiknya. Selanjutnya, orang tua harus sabar dalam menghadapi anak mereka sehingga terhindarnya tindakan kekerasan, lalu ada orang tua mengajarkan ilmu agama seperti mengaji, sholat berjamaah, mengenal huruf Al-Quran, moral, selanjutnya membiarkan anak bebas memilih keinginan atau apa yang ingin mereka lakukan selagi orang tua bisa memantau, hal itu akan membuat anak bebas untuk bergerak dan mengeksplor lingkungannya, lalu ada mandiri dan disiplin di mana orangtua mengajarkan anak untuk bisa melakukan banyak hal sendiri seperti mandi, makan, mencuci tangan, berpakaian sendiri dan melakukan hal dengan tepat waktu dan sesuai aturan, selanjutnya ada perhatian, memberikan asupan gizi dan cinta. Orang tua selain memberikan kasih sayang sepenuh hati juga mereka harus merawat dengan penuh cinta dan memberikan asupan gizi yang sesuai untuk anak mereka agar anak mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Indikator lain yang tidak ada di dalam diagram karena hanya sedikit ibu yang menjawabnya seperti orang tua memberikan arahan kepada anaknya mana yang baik atau buruk untuk di lakukan mereka, untuk membentuk karakter atau kepribadian anak, menerapkan kejujuran, tanggung jawab, aturan untuk kurang dalam bermain gadged, memberikan motivasi dalam berinisiatif dan berimaginasi, menjadi sosok yang teladan, tegas, konsisten 40
4 dalam memberikan hukuman dan hadiah, mengikuti bakat yang di miliki anak dan menjadikan orang tua sebagai seorang sahabat Apa Yang Sudah Orang Tua Terapkan Dalam Pengasuhan Gambar Yang Sudah di lakukan Ibu ajaran agama mendidik terapkan reward dan punishment memberikan contoh displin berbuat baik (tidak nakal) memberikan yang terbaik mengajarkan kebersihan mendukung kegiatan anak Bedasarkan diagram diatas, dapat dijabarkan bahwa hampir seluruh ibu sudah menerapkan ajaran atau pendidikan agama seperti mengaji, baca doa setiap melakukan apapun, solat kepada anak mereka lalu dimemberikan pendidikan atau mendidik anak mereka seperti melakukan permainan daya ingat dan hitungan, mengenal abjad dengan gambar dan lagu, mengenal bentuk, warna dan binatang, menyekolahkan, mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan, menyiapkan tas, lebih memberitahu anak untuk berbuat baik 41
5 seperti tidak nakal dan jail ketika main, tidak main yang aneh-aneh, lalu orang tua juga memberikan contoh yang positif kepada anaknya seperti menggunakan kata-kata yang mudah di mengerti anak, sopan santun terhadap sesama dan orang yang lebih tua, selalu memberikan yang terbaik untuk anak dalam hal apapun, menerapkan punishment dan reward yang sesuai dan wajar serta konsisten, selalu mendukung kegiatan anak seperti melakukan hobi atau bakatnya, menemani bermain atau aktifitas anak yang lain, dan mengajarkan disiplin, mandiri dan menjaga kebersihan seperti merapikan mainan sendiri, merapikan buku, hidup sehat, cuci tangan dan olahraga. Indikator lain yang tidak ada di diagram tetapi disebutkan oleh ibu di antaranya memberikan waktu dan perhatian yang cukup, memberikan nutrisi yang cukup, bangun pagi untuk ke sekolah, bertanggung jawab, tidur tidak malam, selalu tepati janji, membebaskan anak untuk memilih, mengakui kesalahan, pola asuh yang di terapkan, mendengar dan merespon anak, memberikan arahan berupa apa yang baik dan buruk bagi anak, melakukan kegiatan di luar rumah seperti bermain, berwisata alam, lalu di ajarkan untuk belajar berbagi kesesama, di ajarkan untuk lebih tenang, dan memberikan fasilitas dan kebutuhan sehari-hari. 42
6 4.2.2 Hasil Penelitian Dari Pihak Bapak Cara Mengasuh Seperti Apa Yang Sesuai Untuk Anak Usia 4-6 Tahun Gambar Cara Mengasuh Yang Sesuai Menurut Bapak bersosialisasi membebaskan anak bereksplorasi contoh yang baik sopan santun kasih sayang pendidikan ajaran agama Bedasarkan diagram di atas dapat di jabarkan bahwa hampir keseluruhan bapak berpendapat konsep yang paling sesuai untuk anak usia 4-6 tahun adalah yang paling banyak dengan mengajarkan ajaran agama seperti mengaji, solat, mengenal huruf Al-Quran, menghormati agamanya, lalu memberikan pendidikan lain seperti menyekolahkan, selanjutnya ada memberikan kasih sayang dengan sepenuh hati, lalu ada mengajarkannya sopan santun seperti menghormati orang tua, memiliki tata krama dalam 43
7 berbicara dan bertindak, lalu ada orang tua memberikan contoh yang baik seperti mengucapkan kata-kata yang positif, bertanggung jawab, disiplin dan mandiri, lalu membiarkan anak untuk bebas bereksplorasi lingkungan dan hal yang belum pernah anak lakukan dan mengajarkan dan membiarkan anak bersosialisasi dengan teman-temannya dan lingkungannya. Hal-hal lain yang tidak di tampilkan dalam diagram adalah orangtua memberikan kehidupan yang layak untuk anaknya, adanya cinta kasih orang tua, menjaga pola makan dan minumnya, menafkahi, memiliki kedekatan dan keterlibatan orang tua dalam kegiatan anak, luangkan waktu mereka untuk anaknya, menerapkan punishment dan reward secara adil, terbuka dalam berpendapat dan selalu memberikan penjelasan disetiap arahan atau larangan. 44
8 Apa Yang Sudah Di Terapkan Dalam Pengasuhan Gambar Yang Sudah di lakukan Bapak mencukupi kebutuhannya 3 kasih sayang 5 sopan santun 6 menjadi mandiri 9 pendidikan 10 ajaran agama 15 Berdasarkan data yang ada di diagram, dapat di jabarkan bahwa hampir seluruh bapak sudah melakukan dalam pengsuhan dengan memberikan ajaran ajaran-ajaran agama seperti solat, mengaji, menghafal doa-doa pendek kepada anaknya, lalu ada memberikan pendidikan untuk anaknya seperti menyekolahkan, mengenalkan angka dan abjad, menggambar, di les-kan, lalu ada menjadikan anak mandiri dengan melakukan hal-hal kecil sendiri seperti memakai baju, makan, merapikan mainan, mandi, lalu ada mengajarkan sopan santun seperti mengucapkan salam, mengucapkan terima kasih, menggunakan bahasa sopan, memanggil orang tua dengan santun, 45
9 selanjutnya ada memberikan kasih sayang kepada anak dan mencukupi semua kebutuhan anak. Hal lain yang disebutkan oleh bapak tapi tidak ada di dalam diagram antaranya menjadi teman diskusi, memberi anak kepercayaan untuk berbuat sesuatu, membimbing dan mengarahkan anak, memberikan contoh yang baik kepada anak seperti disiplin, bangun pagi, bertanggung jawab, berani, memahami dan mengerti anak, menjadi teman bermain, menyayangi sesama dan mahluk hidup lain, membiarkan anak berekslporasi seperti mengenal alam dan lingkungannya, menerapkan punishment dan reward, dan selalu melakukan pendekatan yang intensif. 4.3 Pembahasan Hasil Penelitian Berdasarkan data sebelumnya, dapat di analisa berdasarkan perpertanyaan yang ada di dalam questioner menurut ibu dan bapak yang sesuai dengan aspek-aspek praktik pengasuhan. Berdasarkan hasil yang di dapat di temukan bahwa adanya kesamaan dengan aspek praktik pengasuhan menurut Marı a Jose Rodrigo, Sonia Byrne, dan Beatriz Rodrı guez (2014) yaitu adanya nurturing, structuring, stimulation, recognition, empowerment dan free from violence. 46
10 4.3.1 Menurut Pendapat Ibu Cara Mengasuh Yang Sesuai Untuk Anak 4-6 Tahun Dalam pertanyaan ini, ibu berpendapat bahwa cara yang sesuai adalah adanya proses nurturing, menerapkan structuring, memberikan stimulation, lalu ada recognition dari orang tua, adanya kuasa (empowerment) orang tua dalam memberikan pengaruh ke anak mereka dan tidak melibatkan kekerasan di dalamnya. Cara mengasuh yang sesuai menurut ibu untuk anak 4-6 tahun adalah adanya merawat dengan sabar, penuh kasih sayang cinta, makan atau memberikan asupan gizi secara teratur dan hindarkan kotoran seperti mandi sehari tiga kali. harus menjaga dan melihat selagi anak sedang main takutnya mainannya berbahaya (EUS) makan teratur, mandi 3x sehari, hindari dari kotoran (KR) merawat dengan sabar, memberikan kasih sayang kepada anak saya, pengasuh juga harus bersih supaya anak saya juga mengikuti pengasuh yang selalu bersih (GBY) 47
11 Adanya structuring atau penataan, di mana ibu berpendapat bahwa cara mengasuh yang tepat juga menerapkan kebiasaan dan keseharian yang baik sesuai dengan aturan dan batasan yang jelas seperti di antaranya ada konsisten dalam menerapkan hukuman dan pemberian hadiah, mengajarkan kemandirian, sopan santun, tidak boros, jujur, disiplin dan bertanggung jawab Diajarkan untuk mandiri, diajarkan untuk jujur (RTN) Tegas, tetap ikuti yang dia mau, konsisten dan sabar (NL) Disiplin dalam hal apapun (KKM) Adanya stimulation atau stimulasi yaitu memberikan dukungan pembelajaran informal dan formal untuk anak-anak seperti mengajarkan anak belajar sambil bermain dan bernyanyi, memberikan pengarahan (boleh dan tidak boleh), terampil dalam bersosialisasi, memberikan les. untuk usia 4-6 tahun masih dalam tahap bermain sambil belajar (SK) 48
12 menstimulasi anak dengan memberi beberapa kegiatan diluar sekolah/les (FR) Memberitahu mana yang boleh dan tidak dan memberikan penjelasan dan pengarahan (RN) Memberikan kesempatan anak di stimulasi seperti memberikan pelajaran formal dan informal yang akan merangsang kemampuan kognitif, sosial, anak akan belajar untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa dan akan mengasah kemampuan yang ada diri anak itu sendiri. Adanya recognition atau pengakuan dari orang tua atas dunia yang di miliki anak mereka seperti memberanikan anak untuk berpendapat, memberikan motivasi kepada anak dan adanya diskusi antara orang tua dengan anak. konsep keterbukaan: anak diajarkan untuk memberikan pendapat dan orangtua mendengarkan (SS) 49
13 memberikan motivasi untuk berinisiatif dan berimajinasi (S) Recognition pada orang tua menimbulkan anak merasa di respon dan di perhatikan oleh orang tua meraka, merasa di akui dan di terima. Hal ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa saling menghargai dalam keluarga. Anak tidak akan takut untuk menunjukan keinginan dan ketertarikan pada suatu hal jika orang tua mereka menerima hal baik itu dengan terbuka. Adanya empowerment atau pemberdayaan. Orang tua menampilkan diri bahwa mereka mempunya pengaruh besar untuk perkembangan terutama kemampuan atau kekuatan yang anak miliki untuk di kembangkan lebih jauh. memberikan kesempatan anak untuk mengeksplor lingkungan (FR) Mengikuti bakat anak tanpa membatasinya, karena diusia ini banyak yang ingin anak coba, kita mendukungnya dengan positif. (DSY) Memberikan kesempatan pada anak untuk dapat menggali bakat dan kemampuan dirinya dengan cara orang tua membebaskan anak untuk bereksplor dan memperdalam bakatnya membuat anak lebih aktif dan 50
14 memiliki rasa untuk bisa bersaing dengan yang lainnya dan juga menumbuhkan otonomi diri mereka. Pengasuhan yang sehat adalah pengasuhan yang tidak melibatkan kekerasan di dalamnya dan hal tersebut sesuai dengan pernyataan yang di berikan oleh ibu yaitu berbicara dengan kata-kata yang baik dan halus terhadap anak (FR) merawat dengan sabar, memberikan kasih sayang kepada anak saya (GB) Menciptakan suasana mengasuh dengan tidak menggunakan kata-kata dan tindakan kasar kepada anak, melindungi hak dan martabat meraka sebagai seorang manusia dengan memberikan perlindungan jauh dari kekerasan serta contoh untuk tidak melakukan kekerasan terhadap orang lain dan menghargai diri mereka sendiri. Hal lain yang tidak sesuai dengan aspek-aspek di atas tetapi masuk kedalam aspek lainnya adalah ibu menerapkan pola pengasuhan demokratis untuk anaknya dan mengajarkan untuk cinta tanah air dan bangsa. 51
15 Hal lain yang tidak dapat masuk kedalam aspek manapun adalah tidak berlebihan dalam memenuhi kebutuhan anak, memberikan tauladan atau contoh yang baik, nasihat yang baik, memberikan kebutuhan dasar dan mengenal hal baik adalah contoh dari sebagian jawaban yang kurang jelas dan tidak dapat cocok pada aspek manapun Yang Sudah Orang Tua Lakukan Dalam Pengasuhan antaranya Hal-hal yang sudah ibu lakukan dalam melakukan proses pengasuhan Adanya memenuhi kebutuhan seperti gizi dan pendidikan, saling menyayangi, selalu menemani aktivitas anak, memperhatikan anak ketika bermain dan melindungi anak. memperhatikan kebiasaan bermain anak sehari-hari (SZN) selama ini saya menerapkan sebisa mungkin selalu menemani setiap aktifitas dan kegiatan anak saya dan saya sendiri yang selalu memberikan semua asupan nutrisi untuk anak saya (IK) Para ibu sudah menerapkan dalam hal mengasuh seperti menemani aktivitas dan memperhatikan anak mereka, memberikan asupan nutrisinya. Pernyataan tersebut cocok untuk aspek praktik pengasuhan yaitu nurturing 52
16 atau mengasuh yaitu didalamnya terdapat adanya perasaan cinta yang positif, penerimaan orangtua dan sukacita terhadap anak. Ibu berusaha untuk memberikan kasih sayang dan cinta mereka serta waktu mereka untuk memperhatikan, mengurus, melindungi dan mendampingi disetiap aktivitas mereka. Menjadikan anak merasa aman, percaya diri, rasa memiliki dan sehat secara fisik dan emosi. Selain adanya proses mengasuh, praktik pengasuhan yang sudah ibu lakukan adalah structuring atau penataan yaitu menciptakan lingkungan dengan kebiasaan atau rutinitas yang baik. Semua hal yang berhubungan dengan kebiasaan atau rutinitas yang baik yang akan ibu terapkan kepada anak mereka. Bangun pagi untuk pergi kesekolah, mengaji dan tidur jangan terlalu malam (JHR) Saya menerapkan tentang aturan agama seperti sholat, doa - doa pendek serta menerapkan hidup sehat yaitu cuci tangan, berolahraga agar selalu sehat contohnya ngajak jalan pagi (AML) 53
17 Anak harus dapat melakukan merapikan mainannya sendiri, merapikan buku - bukunya; mengakui kesalahannya (RTN) Dalam hal ini, ibu lebih banyak untuk mengajarkan anak melakukan hal-hal yang dapat dilakukannya setiap hari, menjadikan anak mengenal kegiatan-kegiatan apa saja yang baik untuk mereka lakukan dan dijadikan sebagai suatu kebiasaan. Stimulation atau stimulasi adalah aspek berikutnya yang menurut ibu penting ada didalam pengasuhan yaitu memberikan dukungan pembelajaran formal dan informal untuk anak mereka, didalamnya terdapat adanya dukungan untuk perkembangan kognitif, emosi dan sosial kompeten. kami melakukan game/permainan daya ingat, hitungan dan mengenal abjad dengan menggunakan gambar dan lagu (SK) pemberian kasih sayang oleh kedua orangtua, pengenalan warna, bentuk, binatang, apapun yang ada di lingkungannya, pembelajaran moral/agama yang sesuai dengan usianya (RW) Ibu mencoba untuk memperkenalkan sejumlah pengetahuan kepada anak mereka seperti menghitung, membaca atau mengenal abjad, angka, 54
18 binatang dan warna. Menyekolahkan anak mereka juga untuk mendapatkan lebih banyak pengetahuan. Hal lain yang ibu ajarkan kepada anak mereka adalah dengan 1. membiarkan bermain diluar dengan teman-temannya agar bisa bersosialisasi, 2. mengaji mengenal agama sejak dini, 3. berwisata alam bebas, 4. belajar berbagi (H) Anak dibiarkan untuk berteman dengan seusianya untuk bersosialisasi, mengenal agama dan alam dengan berwisata dialam bebas agar kemampuan sosial mereka berkembang. Recognition atau pengakuan dari orangtua terhadap dunia anaknya yaitu aspek selanjutnya yang ibu berpendapat bahwa hal ini penting karena adanya ketertarikan orangtua atas dunia yang dimiliki anak dan mencoba memberikan anak kesempatan untuk bisa mengambil keputusan dalam keluarga. membebaskan anak untuk berpendapat (S) saya berusaha untuk selalu mendengarkan dan merespon apa yang anak katakan (FR) 55
19 selama ini saya menerapkan sebisa mungkin selalu menemani setiap aktifitas dan kegiatan anak saya (IK) Pernyataan tersebut cocok dengan aspek recognition karena adanya ketertarikan kepada dunia anak yaitu selalu menemani aktivitas yang anak lakukan, merespon apa yang anak katakana dan anak juga diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya dalam keluarga. Hal ini akan membuat anak menjadi lebih percaya diri, merasakan adanya rasa saling menghargai didalam keluarga dan anak juga tidak malu atau takut untuk menunjukan keinginan atau kemampuan mereka kepada orangtua mereka. Empowerment atau pemberdayaan yang dimaksud adalah orang tua mempunyai kuasa untuk bisa mengembangkan kemampuan anak mereka untuk bisa lebih aktif dan bisa bersaing dengan teman-temannya adalah aspek selanjutnya yang ada dalam aspek praktik pengasuhan menurut ibu. Terus mendukung bakat yang sudah mulai terlihat dan kita coba arahkan (DSY) 56
20 saya memberikan aktivitas untuk hobi untuk mengisi waktu luangnya (FR) Dalam hal ini ibu mencoba untuk memberi kesempatan anak untuk bisa mengembangkan bakat atau hobi yang mereka miliki agar anak memiliki kemampuan dan menumbuhkan rasa dapat bersaing dengan yang lainnya. saya berusaha untuk selalu mendengarkan dan merespon apa yang anak katakan, saya meberikan hadiah untuk hal baik yang ia lakukan, saya memberikan kesempatan pada anak untuk memperbaiki kesalahan walau sesekali juga diikuti dengan hukuman, saya kurang memberi kebebasan anak dalam beraktivitas dengan hal yang bersifat kotor/berantakan, saya memberikan aktivitas untuk hobi untuk mengisi waktu luangnya, saya selalu berusaha menepati janji pada anak (FR) Pernyataan diatas juga termasuk kedalam empowerment karena orangtua memberikan kesempatan pada anak untuk mengetahui yang benar dan salah dan mengajarkan anak juga untuk bisa menepati janji. Banyak dari jawaban ibu yang tidak hanya masuk kedalam satu aspek tetapi diaspek yang lain juga karena adanya kemiripan arti dari indikator untuk bisa dimasukan kedalam satu aspek tertentu. Indikator lain yang tidak 57
21 dapat dimasukan kedalam aspek adalah memberikan uang jajan yang cukup kepada anak. Pada bagian ini (yang sudah diterapkan) ibu tidak mennyinggung tentang dalam pengasuhan tidak boleh adanya tindak kekerasan verbal maupun fisik pada anak tetapi ibu menyinggungnya pada pertanyaan cara mengasuh yang cocok untuk anak usia 4-6 tahun. Hal ini adalah perbedaan yang cukup terlihat antara apa yang ibu pikirkan dengan apa yang sudah ibu lakukan dalam pengasuhan Menurut Pendapat Bapak Cara Mengasuh Yang Sesuai Untuk Anak 4-6 Tahun Pada pertanyaan ini, aspek praktik pengasuhan yang muncul yaitu adanya nurturing, structuring, stimulation, recognition, empowerment. Dalam nurturing atau mengasuh pada jawaban bapak terdapat adanya kasih sayang, perhatian terutama ketika anak sakit, cinta, kedekatan dengan anak, sabar, memberikan asupan gizi, menjaga dari makanan dan penyakit, luangkan waktu. memberikan kasih sayang dan perlindungan serta perhatian kepada anak seperti merawat anak ketika sakit (IKN) 58
22 luangkan waktu yang lebih dan perhatian kepada anak (SH) anak selalu diperhatikan dan dijaga dari pola makan dan minumnya (DD) Pernyataan tersebut cocok untuk aspek nurturing atau mengasuh karena didalam nurturing terdapat perasaan cinta yang positif (kasih sayang), penerimaan orangtua atas anaknya (memberikan perlindungan, perhatian, merawat ketika sakit dan dijaga dalam hal pola makan dan minum serta rasa sukacita terhadap anak (meluangkan waktu lebih mereka untuk anak). Structuring atau penataan adalah aspek selanjutnya. Aspek ini pada bapak merupakan aspek yang paling banyak disebutkan dalam memilih cara yang sesuai untuk anak 4-6 tahun. menanamkan kebiasaan bertanggung jawab atas dirinya sendiri (mandi, belajar dll), menanamkan ajaran agama yang baik (mengaji, sholat dll) (ABA) tata krama dalam berbicara dan kedisiplinan (SKN) 59
23 Disiplin, rajin, dan jujur (AR) Pernyataan tersebut cocok pada aspek structuring karena structuring adalah menciptakan rutinitas dan kebiasaan yang baik yang didalamnya mengandung nilai-nilai dan norma. Pada pernyataan tersebut, bapak membiasakan anak untuk bisa bertanggung jawab untuk bisa melakukan halhal sederhana seperti mandi dan belajar sendiri, mengenalkan ajaran agama seperti mengajarinya mengaji dan sholat, anak memiliki tata karma dalam berbicara dan kedisiplinan, rajin dan jujur pada apa yang dia lakukan. Stimulation atau stimulasi adalah aspek berikutnya yaitu adanya proses pembelajaran dari pendidikan formal dan informal. bermain sambil belajar (DAP) Menjaga kemandirian, menciptakan keberanian dan memunculkan kepercayaan diri (AGN) perbanyak bermain (usia 4-6 tahun adalah masa bermain) (AR) 60
24 Pernyataan tersebut cocok pada aspek stimulation karena ketiga pernyataan tersebut mengacu pada pendidikan informal yang orangtua kasih kepada anak mereka. Pendidikan itu akan meningkatkan perkembangan kognitif, sosial kompetensi yang dibutuhkan anak untuk bisa bersosialisasi dengan lingkungan dan teman-temannya. Recognition atau pengakuan adalah aspek selanjutnya yaitu adanya pengakuan dari orangtua terhadap anaknya dengan ditandai adanya ketertarikan orangtua pada dunia atau kegiatan anak dan memberikan kesempatan kepada anak untuk bisa memberikan pendapat mereka dalam keluarga. konsep keterbukaan: anak diajarkan untuk memberikan pendapat dan orangtua mendengarkan (HQ) interaksi langsung dengan kedua orang tua tanpa dipengaruhi oleh orang lain (HP) mengikuti kemauan anak jika tidak sesuai diarahkan ke hal yang seharusnya dilakukan (HR) 61
25 Pernyataan tersebut cocok untuk aspek recognition karena adanya interaksi antara orangtua dan anak tanpa dipengaruhi orang lain. Jawaban itu menyatakan bahwa orangtua mengakui anak mereka dengan berinteraksi langsung kepada anak mereka. Mengikuti kemauan anak walaupun tidak secara spesifik mengikuti seperti apa tapi hal itu termasuk kedalam ketertarikan orangtua kepada apa yang anak lakukan dan memberikan kesempatan kepada anak untuk memberikan pendapat mereka dalam keluarga, hal ini menyatakan bahwa orangtua memberikan respon kepada anak untuk bisa terbuka. Empowerment atau pemberdayaan adalah aspek selanjutnya yaitu orangtua memiliki kuasa atas anak mereka untuk bisa meningkatkan kemampuan yang anak mereka miliki. tidak melarang tindakan yang belum anak coba, punishment dan reward yang adil dan wajar (RV) biarkan ia bereksplorasi namun tetap diberikan arahan yang baik (YD) 62
26 perbanyak bermain (usia 4-6 tahun adalah masa bermain), tidak memaksakan keinginan orangtua (AR) Pernyatan tersebut cocok pada aspek empowerment yaitu tidak melarang tindakan anak yang belum dicoba dengan arti membiarkan anak bereksplorasi dan orangtua tidak memekasakan kehendak mereka kepada anak mereka agar anak lebih aktif dalam mengembangkan kemampuan mereka dan dapat bersaing dengan teman atau dengan orang lainnya. Indikator lain yang disebutkan oleh pihak bapak tetapi tidak bisa masuk kedalam aspek praktik pengasuhan diantaranya agamais dan memberi nafkah, karena tidak secara spesifik menyebutkan agamais dan nafkah seperti apa yang orangtua maksud. Mendidik tanpa kekerasan merupakan jawaban yang tidak bisa dimasukan kedalam aspek free from violence karena tidak dijelaskan lebih jauh kekerasan dan didikan seperti apa yang pihak bapak maksudkan Yang Sudah Diterapkan Dalam Pengasuhan Pada pertanyaan ini, aspek yang muncul sama dengan cara mengasuh yang sesuai untuk anak prasekolah yaitu adanya nurturing, structuring, stimulation, recognition dan empowerment. 63
27 Hal-hal yang sudah pihak bapak lakukan dalam pengasuhan adalah yang pertama pada nurturing adanya kasih sayang. kasih sayang, moral/agama (dasar), bersahabat teman seusianya (HS) Indikator yang sesuai dengan aspek nurturing adalah memberikan kasih sayang terhadap anak. Hal itu sesuai dengan pernyataan diatas, hanya kasih sayang yang muncul dari jawaban pihak bapak dalam nurturing ini karena banyak jawaban tidak memberikan keterangan lebih jelas tindakan seperti apa yang telah bapak lakukan dalam proses pengasuhan seperti memberikan perhatian, melindungi dan mendampingi anak, memahami dan mengerti sesuai keinginannya. Structuring atau penataan adalah aspek selanjutnya yang muncul pada jawaban dari pihak bapak dalam apa yang telah mereka lakukan dalam pengasuhan. membiasakan anak bertanggung jawab dengan dirinya sendiri (mandi, sekolah dll), mendorong anak untuk menjalankan ajaran agama (sholat dan mengaji) (ABA) 64
28 Anak ikut shalat berjamaah, memanggil orang tua dengan santun dan menyelesaikan pr dari sekolah. (SKN) Bangun pagi, mengaji, dan baca doa sebelum tidur (GWN) Karena saya kerja gak banyak yang saya terapkan secara langsung paling kalo lagi dirumah nerapin buat ngajarin sholat, mengajarkan dia buat selalu tanggung jawab kalo lagi dikasih pr dari sekolah, jangan nakal dan harus jadi anak baik dirumah, disekolah atau dimanapun (MR) Pernyataan tersebut cocok dengan aspek structuring atau penataan karena structuring adalah menciptakan lingkungan dengan rutinitas dan kebiasaan yang baik seperti membiasakan untuk bertanggung jawab mengerjakan pr dari sekolah, sholat berjamaah, bangun pagi, mengaji dan selalu baca doa sebelum tidur, memanggil orangtua dengan sopan dan santun, dan jangan menjadi anak yang nakal. Anak diberi pengetahuan tentang hal baik yang harus mereka lakukan yaitu dengan menanamkan nilai dan norma seperti yang sudah dijelaskan diatas. 65
29 Stimulation atau stimulasi adalah aspek berikutnya yaitu memberikan pembelajaran pada anak tentang pendidikan formal dan informal. Disekolahkan, di prifat kan (pelajaran tambahan), mengaji (R) mengenalkan angka dan abjad dan mengajarkan menggambar (SH) Selalu salam ketika bertemu orang lain, selalu ucapkan terima kasih jika menerima sesuatu, selalu berdoa sesudah dan sebelum makan (DK) Belajar mandi sendiri, memakai baju sendiri, merapikan mainannya, pengenalan kepada orang lain (AGN) Pernyataan tersebut cocok dengan aspek stimulation karena orangtua (bapak) sudah memberikan pendidikan formal maupun informal kepada anak mereka yang akan berdampak pada kemampuan kognitif, emosional dan sosial kompetensi anak dan anak juga diberi kesempatan untuk bisa melakukan hal yang orang dewasa lakukan yaitu mandi, berpakaian sendiri. 66
30 Recognition atau penngakuan adalah aspek selanjutnya yaitu menunjukan rasa ketertarikan pada dunia anak dan memberikan kesempatan kepada anak untuk bisa memberikan pendapatnya dalam keluarga. menjadi teman bermain dan pendidik bagi anak (AS) menjadi teman untuk berdiskusi, diberikan kepercayaan untuk berbuat sesuatu (RV) Pernyataan tersebut cocok dengan aspek recognition karena orang tua berusaha untuk menjadi sosok teman mainnya, teman untuk berdiskusi dan seorang pendidik bagi anak adalah perbuatan menunjukan bahwa orangtua mengakui dan tertarik dengan aktivitas anak dan anak merasa diterima oleh orangtuanya dengan selalu merespon tindakan dan pendapatnya. Hal itu akan membuat anak menjadi sosok yang penuh percaya diri, menghargai sesama anggota keluarga. Empowerment atau pemberdayaan adalah aspek terakhir yang muncul dari jawaban yang pihak bapak berikan yaitu orangtua mempunyai pengaruh atau kuasa atas anak mereka untuk bisa meningkatkan kemampuan anak dan menjadikan anak lebih aktif dalam melakukan kegiatan-kegitannya. 67
31 mengenalkan alam dan lingkungan (A) membebaskan anak untuk bermain (AR) Jangan larang, biarkan ia bereksplorasi namun tetap diberikan arahan yang baik (YD) Pernyataan tersebut cocok dengan aspek empowerment yaitu meningkatkan kemampuan anak dengan membebaskan anak untuk mengeksplor lingkungan dan alam, membebaskan anak untuk bisa bersosialisasi dengan temannya. Hal itu akan menjadikan anak sosok yang mandiri, mempunyai kesempatan untuk bisa bersaing dengan yang lain dan timpulnya regulasi diri pada anak. Indikator lain yang muncul tetapi tidak cocok dengan aspek praktik pengasuhan adalah mencari nafkah, imam keluarga dan permainan ketangkasan. Secara keseluruhan jawaban dari pihak bapak, banyak jawaban yang tidak cocok dengan aspek yang ada karena tidak secara spesifik menjelaskan seperti apa hal itu, contohnya memberikan yang terbaik, mencukupi dan menyiapkan kebutuhannya, melindungi dan mendampingi anak adalah sebagian jawaban yang kurang jelas dalam mendekripsikannya sehingga tidak 68
32 bisa cocok kedalam aspek praktik pengasuhan. Jawaban bapak pun kurang sesuai antara konsep yang mereka pikirkan dengan apa yang telah mereka terapakan kepada anak mereka. Perbedaan paling mencolok antara cara yang sesuai dengan perilaku yang sudah dilakukan terletak pada nurturing atau mengasuh, dalam cara yang sesuai bapak berpendapat bahwa mengasuh itu adanya kasih sayang, perhatian, cinta, kesabaran, meluangkan waktu mereka, menjaga pola makan dan asupan gizi anak tetapi pada perilaku yang sudah dilakukan mereka hanya menyinggung tentang kasih sayang saja. Tetapi hal itu juga terjadi karena sebagian jawaban tidak menjelaskan secara detail seperti apa perilakunya sehingga tidak dapat dimasukan atau dicocokan pada aspek nurturing Perbedaan Hasil Antar Pertanyaan Pada ibu perbedaan pertama terlihat pada letak urutan empowerment dan recognition. Pada pertanyaan cara mengasuh yang sesuai posisi recognition terlebih dahulu lalu empowerment dan pada pertanyaan apa yang sudah mereka lakukan empowerment dahulu lalu recognition, lalu perbedaan kedua pada pertanyaan cara mengasuh yang sesuai ibu menyebutkan free from violence tetapi pada pertanyaan apa yang telah mereka lakukan tidak ada free from violence. sedangkan urutan yang lainnya sama yaitu pertama structuring, kedua stimulation, ketiga nurturing, terakhir aspek lain. 69
33 Pada bapak terlihat dari perbedaan urutan terpenting setelah structuring. Pertanyaan cara mengasuh yang sesuai memiliki urutan terpenting seperti nurturing, stimulation, recognition, empowerment, aspek lain, sedangkan pertanyaan apa yang sudah mereka lakukan memiliki urutan seperti stimulation, recognition, aspek lain, empowerment, nurturing. Pada bapak tidak ada menyinggung tentang kekerasan atau free from violence Perbandingan Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja Secara keseluruhan ibu yang bekerja dan yang tidak bekerja tidak memiliki perbedaan, karena didapat bahwa cara mengasuh yang sesuai menurut ibu yang utama adalah dengan adanya pendidikan karakter atau pemberian peraturan dan kebiasaan baik untuk anak (structuring), lalu disusul dengan ada nurturing atau mengasuh dengan kasih sayang, cinta, perhatian dan lainnya, pemberian pendidikan formal dan informal (stimulation), empowerment atau usaha orang tua dalam memberikan pengaruh pada anak, pengakuan terhadapa anak (recognition), tidak adanya kekerasan (free from violence), terakhir aspek lain (memberikan pola asuh yang baik). 70
34 4.3.5 Perbandingan Pendidikan Orang Tua Muda Secara keseluruhan dapat di lihat bahwa pendidikan yang di miliki orang tua tidak terlalu berpengaruh pada bagaimana mereka memilih cara yang tepat untuk mengasuh anak mereka. Pendidikan ibu dan bapak pada penelitian ini memiliki variasi yaitu dari tingkat SD, SMP, SMA/SMK/STM, D3/D1, S1, S2. Pihak ibu di lihat dari seluruh variasi pendidikan di dapat bahwa semua ibu berpendapat menamakan pendidikan karakter atau kebiasaan dan peraturan yang baik adalah hal yang mereka anggap sesuai untuk di berikan kepada anak mereka (4-6 tahun) adalah hal yang paling penting di lihat dari banyaknya jawaban tentang structuring ini, tetapi jika di lihat secara kualitas masing-masing orang tua memiliki kualitas tersendiri dalam mendidik anaknya terutama dalam pemberian structuring, ibu yang berpendidikan SD hanya menghawatirkan anaknya nakal ketika bermain dengan temannya kalau diluar gak boleh nakal, jangan jail, kalau main diam dan gak main anehaneh Hal ini berbeda di bandingkan dengan jawaban ibu yang memiliki pendidikan D3 lebih mengajari anak untuk mengenal aturan agama, hidup sehat. Saya menerapkan tentang aturan agama seperti sholat, doa - doa pendek serta menerapkan hidup sehat yaitu cuci tangan, berolahraga agar selalu sehat contohnya ngajak jalan pagi 71
35 Perbedaan tersebut terlihat sekali bahwa ibu yang berpendidikan SD hanya berfokus pada melarang si anak untuk tidak melakukan tindakann yang tidak diinginkan, berbeda dengan ibu yang berpendidikan D3, dia memberi kesempatan anak untuk mengetahui dan menjalani kegiatan yang bermanfaat untuk dirinya. Hal berikutnya yang menurut ibu penting berbeda bedasarkan variasi pendidikan, seperti tingkatan SMP ibu menempatkan stimulation setelah structuring. Stimulation pada ibu yang berpendidikan SMP memiliki kualitas yang berbeda dengan ibu tingkat pendidikan S1. bermain sambil belajar (SMP) kami melakukan game/permainan daya ingat, hitungan dan mengenal abjad dengan menggunakan gambar dan lagu (S1) Perbedaan terlihat dari kegiatan yang dilakukan bahwa ibu yang berpendidikan SMP hanya memberikan pelajaran sambil bermain tetapi pada ibu yang berpendidikan S1 memberikan kegiatan bermain game yang merangsang daya ingat, mencoba untuk mengenal hitungan dan abjad lewat metode gambar dan lagu yang disukai oleh anak-anak sehingga anak mudah untuk mengerti. Tingkat SMA posisi setelah structuring ada empowerment (memberikan pengaruh kepada anak). Empowerment pada ibu berpendidikan SMA sama dengan ibu yang berpendidikan S2. 72
36 Terus mendukung bakat yang sudah mulai terlihat dan kita coba arahkan (SMA) Anak saya izinkan bebas memilih dalam batasan yang jelas (S2) Ibu berpendidikan SMA dan S2 memiliki kesamaan yaitu mendukung yang anak inginkan dan mencoba untuk meningkatkan kemampuan yang anak miliki. nurturing dan stimulation, recognition, terakhir aspek lain (cinta terhadap tanah air dan bangsa) pada ibu tingkat pendidikan SMA, pada tingkat D3/D1 ada nurturing. Kualitas Nurturing pada ibu berpendidikan D3/D1 sedikit berbeda dengan ibu yang berpendidikan S1. saling menyayangi sesama saudara (D1/D3) merawat dengan sabar, memberikan kasih sayang kepada anak saya, pengasuh juga harus bersih supaya anak saya juga mengikuti pengasuh yang selalu bersih (S1) Ibu yang berpendidikan D1/D3 hanya memikirkan memberikan kasih sayang dalam keluarga, sedangkan ibu yang berpendidikan S1 memikirkan bagaimana memberikan kasih sayang juga merawat dan menjaga kebersihan anak agar terjaga kesehatannya. dan free from violence pada ibu D1/D3 sama dengan ibu S1 merawat dengan sabar (S1) 73
37 mendidik tanpa kekerasan (D1/D3) Pernyataan tersebut sama karena kedua ibu berpikir bahwa merawat dan mendidik dengan sabar dan tidak dengan kekerasan adalah hal penting didalam pengasuhan. Tingkat S1 ada nurturing, stimulation, empowerment, recognition. Recognition pada ibu S1 berbeda dengan ibu SMA memberikan kesempatan anak berpendapat (S1) merespon dan mendengarkan anak, menjadi sahabat bagi anak dan melakukan diskusi dengan anak (SMA) Ibu S1 hanya membiarkan anak untuk bisa berpendapat dalam keluarga tetapi tidak berusaha untuk menjadi sosok yang dekat dengan anak dan melakukan diskusi untuk mengetahui pemikiran masing-masing yang ibu SMA lakukan, dan setelah recognition ada free from violence, tingkat S2 ada empowerment setelah structuring. Pihak bapak variasi pendidikan dari SD sampai S1 berpendapat bahwa structuring adalah cara yang paling penting dalam mengasuh anak, sedangkan pada tingkatan S2 berpendapat bahwa recognition adalah cara yang paling sesuai dalam pengasuhan untuk anak mereka. 74
38 Structuring pada bapak berpendidikan SD dengan SMA sangat berbeda. kalau main gak boleh nakal terus gak boleh cengeng sama temen sama-sama gak boleh berantem dan merebut main punya temen (SD) belajar untuk tanggung jawab, belajar untuk menyayangi sesama dan mahluk hidup lainnya (SMA) Pada bapak berpendidikan SD kualitas structuring-nya hanya pada larangan anak tidak melakukan tindakan yang tidak diinginkan, sedangkan pada bapak SMA kualitas structuring-nya berfokus pada membuat anak menjadi pribadi yang lebih baik dengan mengajarkan anak untuk bisa mulai bertangung jawab, menyayangi sesama. Hal lain yang sesuai dalam mengasuh anak 4-6 tahun menurut bapak dilihat dari tingkat pendidikan adalah pada tingkat SD ada nurturing, nurturing bapak tingkat SD berbeda dengan bapak tingkat SMA memberikan kasih sayang dan perlindungan serta perhatian kepada anak seperti merawat anak ketika sakit (SD) anak selalu diperhatikan dan dijaga dari pola makan dan minumnya (SMA) Pernyataan tersebut menandakan perbedaan kualitas nurturing bahwa bagi bapak tingkat SD memberi pengasuhan yaitu memberikan kasih sayang, perhatian dan perlindungan yang berarti bahwa bapak memperhatikan kualitas kesejahteraan batin si anak tetapi bagi bapak tingkat SMA memberi pengasuhan 75
39 hanya dengan memperhatikan dan menjaga pola makan dan minum, hal ini hanya melihat pada kesehatan fisik si anak saja. dan aspek lain (mencari nafkah) pada bapak berpendidikan SD, pada tingkat SMP ada stimulation, stimulation pada bapak tingkat SMP berbeda dengan bapak tingkat S1 dan tingkat SMA mengenalkan angka, abjad, mengambar dan menyekolahkan (SMA) menyekolahkan (S1) bermain sambil belajar (SMP) Pernyataan tersebut terlihat bahwa tingkat pendidikan bapak tidak menjamin kualitas dari stimulation yang diberikan. Bapak tingkat SMA berpikir bahwa memberikan stimulation tidak hanya memberikan pendidikan formal anak tetapi juga orang tua khususnya bapak membantu memberikan pendidikan informal kepada anak. Berbeda dengan bapak tingkat S1 yang berpikir bahwa memberikan stimulation pada anak hanya dengan menyekolahkan atau memberikan pendidikan formal pada anak. Sedangkan bapak tingkat SMP berpikir bahwa memberikan stimulation pada anak yaitu dengan metode belajar sambil bermain. lalu pada tingkat SMA ada stimulation, nurturing, empowerment, recognition, aspek lain (menafkahi, agamais, cinta tanah air), lalu pada tingkatan D3 ada nurturing dan empowerment, empowerment pada bapak tingkat D3 memiliki sedikit kesamaan dengan tingkat SMA dan S2 tetapi berbeda dengan S1 tidak memaksakan keinginan orang tua, dan membebaskan untuk bermain (D3) 76
40 tidak melarang tindakan yang belum dicoba anak (S2) tidak berorientasi pada nilai dan mengenalkan alam dan lingkungan (S1) jangan larang anak, biarkan ia bereksplorasi namun diarahkan (SMA) Bapak pada tingkat D3, SMA, dan S2 memiliki kesamaan yaitu tidak melarang dan membebaskan anak untuk mengeksplor tindakan yang belum pernah dilakukannya. Tetapi pada bapak S1 berbeda yaitu mencoba untuk mengenalkan anak pada hal yang belum dia tau dan tidak berorientasi pada nilai. Pada tingkatan S1 ada nurturing, stimulation, empowerment, recognition. Recognition pada bapak tingkat S1 berbeda dengan bapak tingkat SMA dan S2 teman diskusi dan teman bermain, terbuka dalam berpendapat dan berinteraksi langsung dengan kedua orang tua (S2) anak dibiarkan berpendapat (S1) pendekatan yang intensif kepada anak, (SMA) Kualitas recognition antar bapak berdasarkan pendidikan terlihat bagaimana bapak pada tingkat S2 berusaha untuk menjadi sosok yang selalu ada untuk anaknya dan memberikan kesempatan anak untuk bisa terbuka kepada orang tuanya, tetapi pada bapak pada tingkat S1 hanya membiarkan anak untuk bisa memberikan pendapatnya dikeluarga dan untuk bapak dengan tingkat SMA hanya melakukan pendekatan intensif dengan anak mereka agar lebih dekat dan aspek 77
41 lain (permainan ketangkasan), pada tingkatan S2 ada structuring, nurturing, empowerment dan aspek lain Perbandingan Antara Ibu dan Bapak Secara keseluruhan pertanyaan dan jawaban antara ibu dan bapak didapat bahwa ibu dan bapak memiliki kesamaan pada aspek structuring atau penataan yaitu menerapkan kebiasaan dan rutinitas yang baik termasuk di dalamnya ada peraturan yang orangtua terapkan, kebiasaan-kebiasaan yang harus anak lakukan dalam kesehariannya dengan kata lain memberikan pendidikan karakter kepada anak karena structuring paling mendominasi diantara aspek yang lainnya. Perbedaan antara bapak dan ibu yang paling terlihat adalah pada ibu terdapat aspek free from violence ( berbicara dengan halus, baik dan merawat dengan sabar ) sedangkan pada bapak tidak. Perbedaan lainnya terletak pada urutan aspek terpenting menurut ibu dan bapak dilihat dari banyaknya jawaban yang cocok pada aspek tersebut yaitu menurut bapak urutan kedua ada pada aspek nurturing (kasih sayang, kehangatan dan cinta), lalu ada recognition (pengakuan orangtua dan ketertarikan terhadap dunia anak), selanjutnya ada empowerment (memberikan pengaruh kepada anak), ada aspek lainnya (menafkahi, suatu pekerjaan, imam keluarga), selanjutnya stimulation (pendidikan formal dan informal). Sedangkan pada ibu urutan kedua ada stimulation (pendidikan formal dan informal), ketiga nurturing (kasih sayang, kehangatan dan cinta), lalu yang 78
42 ada keempat recognition (pengakuan orangtua dan ketertarikan terhadap dunia anak), kelima empowerment (memberikan pengaruh kepada anak), aspek lainnya (cinta tanah air dan bangsa, menyamakan pola asuh, pekerjaan dan pembelajaran yang tidak berkesudahan) dan yang terakhir ada aspek free from violence (berbicara dengan halus, baik dan merawat dengan sabar). Gambar Perbedaan Antar Ibu dan Bapak ibu bapak
BAB I PENDAHULUAN. ini melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yaitu pendidikan yang ditujukan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada hakikatnya belajar berlangsung sepanjang hayat. Untuk menciptakan generasi yang berkualitas, pendidikan harus dilakukan sejak usia dini dalam hal ini
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. Deskripsi Data Data yang disajikan dalam penelitian ini merupakan hasil wawancara, dokumentasi dan observasi atau pengamatan langsung terhadap bimbingan beragama dalam
KISI KISI ANGKET. : RAHMI YULIA : AID : Dr.Drs. H.Hendra Sofyan, MSi : Dr. K.A. Rahman, M.Pd.I
99 KISI KISI ANGKET Judul Skripsi Devenisi Operasional : Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Kemandirian Anak Usia Dini dalam Belajar di TK Al- Falah 1 Kota Jambi. : Pola Asuh adalah gambaran yang dipakai
BAB III PENYAJIAN DATA
47 BAB III PENYAJIAN DATA Upaya Pembimbing Dalam Mengatasi Perilaku Menyimpang Pada Anak Asuh Dipanti Asuhan Ar-Rahim Kota Pekanbaru. Sesuai dengan judul skripsi yang diajukan dalam Bab ini, penulis akan
Sudah berkembang dengan baik Term 1. SC DIPERCAYA Mensyukuri nikmat Allah atas dirinya. Tahsin Al-Qur'an sesuai target
Nama : Wan Muhammad Rayhan Arwindra Kelas : X A NIS/NISN : 151610052 / 0001462592 RAPOR PERKEMBANGAN KARAKTER SMA ISLAM SINAR CENDEKIA Semester Ganjil, Tahun Ajaran 2015-2016 1 16 Penilaian No Pokok Karakter
BAB IV ANALISIS PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DALAM KELUARGA NELAYAN DI DESA PECAKARAN KEC.WONOKERTO KAB. PEKALONGAN
BAB IV ANALISIS PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DALAM KELUARGA NELAYAN DI DESA PECAKARAN KEC.WONOKERTO KAB. PEKALONGAN A. Analisis Tujuan Pendidikan Akhlak Anak dalam Keluarga Nelayan di Desa Pecakaran Kec. Wonokerto.
BAB I PENDAHULUAN. anak. Usia dini juga sering disebut sebagai masa keemasan (golden age), yaitu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Usia dini merupakan momen yang amat penting bagi tumbuh kembang anak. Usia dini juga sering disebut sebagai masa keemasan (golden age), yaitu masa dimana semua
BE SMART PARENTS PARENTING 911 #01
BE SMART PARENTS PARENTING 911 #01 Coffee Morning Global Sevilla School Jakarta, 22 January, 2016 Rr. Rahajeng Ikawahyu Indrawati M.Si. Psikolog Anak dibentuk oleh gabungan antara biologis dan lingkungan.
BAB IV ANALISIS PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK KARAKTER SMP NEGERI 1 WONOPRINGGO
BAB IV ANALISIS PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK KARAKTER SMP NEGERI 1 WONOPRINGGO A. Analisis Karakter Siswa SMP Negeri 1 Wonopringgo Untuk mengetahui perkembangan karakter siswa di SMP
Pendidikan Keluarga (Membantu Kemampuan Relasi Anak-anak) Farida
Pendidikan Keluarga (Membantu Kemampuan Relasi Anak-anak) Farida Manusia dilahirkan dalam keadaan yang sepenuhnya tidak berdaya dan harus menggantungkan diri pada orang lain. Seorang anak memerlukan waktu
BAB I PENDAHULUAN. semua aspek perkembangan anak, meliputi perkembangan kognitif, bahasa,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan anak usia dini ( PAUD ) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang sekolah dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak
BAB I PENDAHULUAN. dimana seorang anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang
14 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak usia dini ialah anak yang baru dilahirkan sampai dengan usia 6 tahun. Usia dini merupakan usia yang sangat fundamental dalam menentukan pembentukan karakter
BAB I PENDAHULUAN. pengawasan orang tua terhadap kehidupan sosial anak, kondisi lingkungan anak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan sosial yang sering terjadi di masyarakat membuktikan adanya penurunan moralitas, kualitas sikap serta tidak tercapainya penanaman karakter yang berbudi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kemandirian Anak TK 2.1.1 Pengertian Menurut Padiyana (2007) kemandirian adalah suatu sikap yang memungkinkan seseorang untuk berbuat bebas, melakukan sesuatu atas dorongan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kemampuan Sosialisasi Anak Prasekolah 1. Pengertian Sosialisasi Sosialisasi menurut Child (dalam Sylva dan Lunt, 1998) adalah keseluruhan proses yang menuntun seseorang, yang
BAB I PENDAHULUAN. perkembangannya, dan terjadi pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak usia dini sering disebut anak prasekolah, memiliki masa peka dalam perkembangannya, dan terjadi pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespons
BAB I PENDAHULUAN. menetap dari hasil interaksi dan pengalaman lingkungan yang melibatkan proses
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Belajar merupakan kegiatan yang fundamental dalam pendidikan, dimana dalam belajar terjadi tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap
DEFENISI Keluarga : Unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di b
PENGARUH KELUARGA TERHADAP TUMBUH KEMBANG ANAK DEFENISI Keluarga : Unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah
BAB II KAJIAN TEORI. sehari-hari. Perilaku sosial mempengaruhi penyesuaian sosial individu. Individu yang
BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Hakikat Perilaku Sosial Anak 2.1.1) Pengertian Perilaku Sosial Anak Hakikat manusia adalah mahluk sosial yang selalu berhubungan dan membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Sebagai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 yang dimaksud Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi
PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER. Dr. Wuri Wuryandani, M.Pd. Universitas NegeriYogyakarta
PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER Dr. Wuri Wuryandani, M.Pd. Universitas NegeriYogyakarta Pentingnya Pendidikan Karakter Karakter terkait dengan perilaku manusia. menjelaskan bahwa karakter berhubungan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anak Usia Prasekolah 1. Pengertian Anak prasekolah adalah mereka yang berusia antara tiga sampai enam tahun (Patmonodewo, 1995). Anak prasekolah adalah pribadi yang mempunyai
BAB I PENDAHULUAN. memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga.
(Elisabeth Riahta Santhany) ( )
292 LAMPIRAN 1 LEMBAR PEMBERITAHUAN AWAL FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS INDONUSA ESA UNGGUL JAKARTA Saya mengucapkan terima kasih atas waktu yang telah saudara luangkan untuk berpartisipasi dalam penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang masalah. Pendidikan merupakan faktor utama yang sangat penting dalam
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah Pendidikan merupakan faktor utama yang sangat penting dalam pengembangan kepribadian manusia seiiring berkembangnya ilmu teknologi dan komunikasi yang semakin
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kemandirian anak usia prasekolah 1. Pengertian Subrata (1997), berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kemandirian anak pasekolah yaitu kemampuan anak untuk melakukan aktivitas
BAB I PENDAHULUAN. pemerintah bahkan sekolah dewasa ini di bangun oleh pemerintah agar anak-anak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan sebagai kunci peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah hal yang perlu diperhatikan lagi di negara ini. Pendidikan juga dibuat oleh pemerintah
Membangun Sosial Emosi Anak. di Usia 4-6 tahun SERI BACAAN ORANG TUA
15 SERI BACAAN ORANG TUA Membangun Sosial Emosi Anak di Usia 4-6 tahun Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. yang berkualitas dan diharapkan akan menjadi pelaku dalam pembangunan suatu
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam pembangunan suatu negara, karena pendidikan dapat memberdayakan sumber daya manusia yang berkualitas dan diharapkan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang pada masa itu secara khusus memperlakukan wanita secara. konservatif. Meskipun banyak rintangan, Montessori adalah wanita
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Metode Montessori 2.1.1. Sejarah Maria Montessori lahir pada tahun 1870 di Italia, sebuah negara yang pada masa itu secara khusus memperlakukan wanita secara konservatif. Meskipun
LAMPIRAN CODING SHEET 1 TRANSKIP INTERVIEW
LAMPIRAN CODING SHEET 1 TRANSKIP INTERVIEW TRANSKIP WAWANCARA KEY INFORMAN 1 (BERLIANA) NO KATEGORI PERTANYAAN JAWABAN 1 Alasan menjadi Sudah berapa lama Saya jadi pengajar di pengajar menjadi guru/ pengajar
BAB III PENYAJIAN DATA
BAB III PENYAJIAN DATA Dalam bab ini penulis akan menyajikan data yang telah diperoleh dengan menganalisa hasil wawancara dan observasi dengan responden dan menganalisa dokumen yang terdapat di Panti Asuhan
BAB IV ANALISIS POLA ASUH ORANG TUA DALAM PEMBELAJARAN AKHLAK AL-KARIMAH DI LINGKUNGAN KELUARGA TIDAK MAMPU DESA BULAKPELEM KEC. SRAGI KAB.
BAB IV ANALISIS POLA ASUH ORANG TUA DALAM PEMBELAJARAN AKHLAK AL-KARIMAH DI LINGKUNGAN KELUARGA TIDAK MAMPU DESA BULAKPELEM KEC. SRAGI KAB. PEKALONGAN A. Analisis Profil Keluarga Tidak Mampu Masyarakat
BAB IV ANALISIS PERAN GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PEMBINAAN KEDISIPLINAN SISWA DI SMP NEGERI 3 WARUNGASEM KABUPATEN BATANG
BAB IV ANALISIS PERAN GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PEMBINAAN KEDISIPLINAN SISWA DI SMP NEGERI 3 WARUNGASEM KABUPATEN BATANG A. Analisis Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di SMP Negeri 3 Warungasem
BAB I PENDAHULUAN. sehingga masayarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat percaya bahwa
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat. Guru dapat dihormati oleh masyarakat karena kewibawaannya, sehingga masayarakat tidak meragukan figur
BAB V PEMBAHASAN. mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat
BAB V PEMBAHASAN Menurut Ratna Megawangi, pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga
BAB I PENDAHULUAN. anak-anak terus bekerja, dan daya serap anak-anak tentang dunia makin meningkat.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia kognitif anak-anak ialah kreatif, bebas dan penuh imajinasi. Imajinasi anak-anak terus bekerja, dan daya serap anak-anak tentang dunia makin meningkat.
BAB III PENYAJIAN DATA. Dalam Bab ini, penulis menyajikan data yang diperoleh dari lokasi
BAB III PENYAJIAN DATA Dalam Bab ini, penulis menyajikan data yang diperoleh dari lokasi penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah wawancara, observasi, dan dokumentasi.wawancara dilakukan
INVENTORI TUGAS PERKEMBANGAN SISWA SD. Berikut ini 50 rumpun pernyataan, setiap rumpun terdiri atas 4 pernyataan
L A M P I R A N 57 INVENTORI TUGAS PERKEMBANGAN SISWA SD Berikut ini 50 rumpun pernyataan, setiap rumpun terdiri atas 4 pernyataan Anda diminta untuk memilih 1 (satu) pernyataan dari setiap rumpun yang
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan seseorang memasuki masa dewasa. Masa ini merupakan, masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa.
2016 IMPLEMENTASI NILAI-NILAI KEDISIPLINAN SISWA DALAM MEMATUHI NORMA TATA TERTIB SEKOLAH
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latarbelakang Penelitian Sekolah merupakan salah satu lembaga sosial yang memiliki peranan penting dalam mengembangkan pendidikan di dalam masyarakat. Sekolah sebagai organisasi
BAB I PENDAHULUAN. begitu saja terjadi sendiri secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa anak merupakan masa yang menyenangkan, karena sebagian besar waktunya untuk bermain. Anak dapat berkembang dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Lingkungan
SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 58 TAHUN 2009 TANGGAL 17 SEPTEMBER 2009 STANDAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 58 TAHUN 2009 TANGGAL 17 SEPTEMBER 2009 STANDAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI III. STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Pendidik anak usia dini
Yuk Parenting Ala Anti Mainstream!
Parenting merupakan suatu perjalanan dalam membentuk ikatan yang sangat bernilai antara orang tua dan anak. Sangatlah penting untuk mengerti kebutuhan dan keunikan anak dan tidak sekedar mengikuti tren
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Identitas Subjek Penelitian Nama Subjek S (p) S.R E.N N S (l) J Usia 72 Tahun 76 Tahun 84 Tahun 63 Tahun 68 Tahun 60 Tahun Jenis Perempuan Perempuan
BAB I PENDAHULUAN. dengan adanya fitrah yang suci. Sebagaimana pendapat Chotib (2000: 9.2) bahwa
26 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling penting dalam perkembangan manusia. Pada fase inilah seorang pendidik dapat menanamkan prinsip-prinsip yang
BAB I PENDAHULUAN. pada usia dini merupakan masa keemasan dimana pada masa ini setiap aspek
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa menentukan masa depan bangsa itu sendiri. Pendidikan sangat perlu diberikan sejak dini karena anak pada usia
HUBUNGAN POLA ASUH ORANGTUA DENGAN DISIPLIN ANAK DI KOMPLEK MENDAWAI KOTA PALANGKA RAYA
HUBUNGAN POLA ASUH ORANGTUA DENGAN DISIPLIN ANAK DI KOMPLEK MENDAWAI KOTA PALANGKA RAYA Oleh: Elisabeth Fransisca S.S 1) dan Titis Oktaviyanti 2) Program Studi PG-PAUD FKIP Universitas Palangka Raya Kampus
Pendekatan Umum Menuju Pemulihan
Pendekatan Umum Menuju Pemulihan P roses terjadinya gangguan jiwa berlangsung secara pelan pelan dan bertahap. Prosesnya bisa berlangsung berminggu-minggu hingga bertahun-tahun. Sering gejala awal dimulai
ABSTRAK. Kata kunci: Peran ibu dalam pemenuhan kebutuhan dasar anak, perkembangan anak usia prasekolah
ABSTRAK Yunita Mohamad. 2014. Hubungan Peran Ibu dalam Pemenuhan Kebutuhan Dasar Anak Dengan Perkembangan Anak Usia Prasekolah Di Tk Aisyiyah Bustanul Atfal 3 Kelurahan Bugis Kecamatan Dumbo Raya Kota
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan upaya pembinaaan dan pengasuhan yang ditujukan kepada anak sejak lahir hingga anak usia 6 tahun, meskipun sesungguhnya
STUDI TENTANG IMPLEMENTASI NILAI-NILAI BUDI PEKERTI SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 21 PEKANBARU
STUDI TENTANG IMPLEMENTASI NILAI-NILAI BUDI PEKERTI SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 21 PEKANBARU DRS. AHMAD EDDISON, M.Si. Dosen Program Studi PPKn FKIP Universitas Riau, Pekanbaru, Riau E-mail: [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. Anak adalah seseorang yang akan menjadi penerus bagi orang tua,
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Anak adalah seseorang yang akan menjadi penerus bagi orang tua, keluarga bahkan negara. Maka seorang anak sudah seharusnya di jaga dan di asuh dengan baik. Pengasuhan
INSTRUMEN PENELITIAN. Implementasi Penanaman Nilai-Nilai Religius Siswa Di MTs Nurul Huda Dempet Demak
INSTRUMEN PENELITIAN Implementasi Penanaman Nilai-Nilai Religius Siswa Di MTs Nurul Huda Dempet Demak Lampiran 1 PEDOMAN OBSERVASI No Indikator Uraian Observasi 1. Profil a. Sejarah MTs Nurul Huda b. Susunan
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan Nasional, anak usia dini adalah anak usia 0 (Sejak Lahir) sampai usia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional, anak usia dini adalah anak usia 0 (Sejak Lahir) sampai usia 6 tahun. Secara alamiah perkembangan
BAB IV HASIL PEMBAHASAN PENELITIAN
BAB IV HASIL PEMBAHASAN PENELITIAN A. Desain Kurikulum di TKIT Nurul Qomar Pedurungan Semarang Kurikulum di TKIT Nurul Qomar Pedurungan Semarang dipadukan antara: 1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN 2.1 Latar Belakang Lembaga Pendidikan Al-Hikmah Kelompok bermain adalah salah satu bentuk pendidikan pra sekolah yang menyediakan program dini bagi anak usia tiga
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA A. Deskripsi Data Pendidikan karakter dalam pembelajaran Akidah Akhlak kelas rendah di MI Al-Mubarokah, memiliki suatu tujuan yaitu meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil
BAB III KARAKTER TANGGUNG JAWAB ANAK YANG BERADA DI SANGGAR GENIUS CEU WITA YATIM MANDIRI
BAB III KARAKTER TANGGUNG JAWAB ANAK YANG BERADA DI SANGGAR GENIUS CEU WITA YATIM MANDIRI Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup sendiri mereka membutuhkan orang di sekitar untuk membantu dalam
MANAJEMEN BUDAYA DAN LINGKUNGAN BERBASIS SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR
MANAJEMEN BUDAYA DAN LINGKUNGAN BERBASIS SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR Rahmania Utari, M.Pd. Disampaikan dalam Workshop Tim Pengembang Bimtek MBS di Sekolah Dasar Tingkat Kabupaten/Kota Hotel Ros In, Bantul
2015 KONTRIBUSI POLA ASUH ORANG TUA DI DALAM KELUARGA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA SD KELAS III
BAB I A. Latar Belakang Penelitian PENDAHULUAN Pada jaman sekarang ini manusia dituntut untuk tidak hanya cerdas dalam intelektual, tapi dituntut juga untuk berkarakter, sebab karakter sebagai kepribadian
tempat umum gambar 1
tema 4 di biasanya berlaku aturan aturan juga berlaku di rumah dan di sekolah bagaimana menerapkan aturan di masyarakat berikut kalian pelajari tata tertib dan aturannya coba kalian lihat gambar 1 anak
BAB I PENDAHULUAN. Departemen Kesehatan RI pada tahun 2010 jumlah anak usia dini (0-4 tahun) di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak usia dini merupakan saat seseorang mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang sangat pesat dalam kehidupannya. Perkembangan dan pertumbuhan pada anak usia
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan karena pendidikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan karena pendidikan merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Pendidikan merupakan tongkat estafet majunya
SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Sarjana (S-1) Psikologi
HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN DIRI DENGAN KOMPETENSI INTERPERSONAL PADA REMAJA PANTI ASUHAN SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Sarjana (S-1) Psikologi Diajukan oleh:
WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 60 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA SATUAN PENDIDIKAN
WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 60 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA SATUAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA, Menimbang :
MENGENAL MODEL PENGASUHAN DAN PEMBINAAN ORANGTUA TERHADAP ANAK
Artikel MENGENAL MODEL PENGASUHAN DAN PEMBINAAN ORANGTUA TERHADAP ANAK Oleh: Drs. Mardiya Selama ini kita menyadari bahwa orangtua sangat berpengaruh terhadap pengasuhan dan pembinaan terhadap anak. Sebab
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. laku spesifik yang bekerja secara individu dan bersama sama untuk mengasuh
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Pola Asuh 1.1 Definisi Pengasuhan adalah kegiatan kompleks yang mencakup berbagai tingkah laku spesifik yang bekerja secara individu dan bersama sama untuk mengasuh anak (Darling,
BAB IV ANALISIS PERANAN ORANG TUA DALAM MENGEMBANGKAN PENGAMALAN IBADAH ANAK DALAM KELUARGA DI DESA KEMASAN KECAMATAN BOJONG KABUPATEN PEKALONGAN
BAB IV ANALISIS PERANAN ORANG TUA DALAM MENGEMBANGKAN PENGAMALAN IBADAH ANAK DALAM KELUARGA DI DESA KEMASAN KECAMATAN BOJONG KABUPATEN PEKALONGAN Atas dasar hasil penelitian yang telah dipaparkan pada
PELATIHAN BASIC HYPNOPARENTING BAGI AWAM
PROGRAM PENGABDIAN PADA MASYARAKAT BAGIAN PSIKOLOGI KLINIS FAKULTAS PSIKOLOGI UNDIP BEKERJASAMA DENGAN RS. HERMINA BANYUMANIK SEMARANG PELATIHAN BASIC HYPNOPARENTING BAGI AWAM SEMARANG, 23 AGUSTUS 2014
RETNONINGSIH SUHARNO, S.Pd
RETNONINGSIH SUHARNO, S.Pd BIODA TA My name is Achmad Sopian, S.Pd. I Was born in Jakarta, 30 Juni 1982 I live in Kebonjeruk Jakarta Barat I Work for Pusdiklat Kependudukan dan KB BKKBN Pusat Telp. 081281665572
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. tergolong cukup (48.51%). Komitmen afektif masih tergolong cukup dikarenakan
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil analisis dan pemaparan maka diperoleh simpulan sebagai berikut: Komitmen Afektif guru di SMP Negeri Kecamatan Tanah Jawa mayoritas tergolong
BAB I PENDAHULUAN. Salah satu komponen dalam sistem pendidikan adalah adanya siswa, siswa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu komponen dalam sistem pendidikan adalah adanya siswa, siswa merupakan komponen yang sangat penting dalam sistem pendidikan, sebab seseorang tidak bisa dikatakan
BAB IV ANALISIS PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH PADA REMAJA DI DUSUN KAUMAN PETARUKAN PEMALANG
77 BAB IV ANALISIS PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH PADA REMAJA DI DUSUN KAUMAN PETARUKAN PEMALANG A. Analisis Tentang Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam
BAB V PENUTUP. maka kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Nilai-nilai yang bisa di dapat dalam budaya Shalawat Albanjari yang
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Nilai-nilai yang bisa di dapat dalam budaya
BAB IV ANALISIS KURIKULUM TAMAN KANAK-KANAK RELEVANSINYA DENGAN PERKEMBANGAN PSIKIS ANAK DI TK AL HIDAYAH NGALIYAN SEMARANG
BAB IV ANALISIS KURIKULUM TAMAN KANAK-KANAK RELEVANSINYA DENGAN PERKEMBANGAN PSIKIS ANAK DI TK AL HIDAYAH NGALIYAN SEMARANG A. Analisis relevansi kurikulum dengan perkembangan sosial Perkembangan sosial
BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Sisdiknas Nomor 2 Tahun Dalam Undang-Undang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam konteks kenegaraan, penyelenggaraan pendidikan diatur dalam Undang-Undang Sisdiknas Nomor 2 Tahun 2004. Dalam Undang-Undang tersebut, pendidikan diartikan
KOMPETENSI PENDIDIK (GURU PAUD, GURU PENDAMPING, GURU PENDAMPING MUDA) 1 KOMPETENSI GURU PAUD
LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 137 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI KOMPETENSI PENDIDIK (GURU PAUD, GURU PENDAMPING, GURU
BAB I PENDAHULUAN. mempelajari dan menjalani kehidupan. Era ini memiliki banyak tuntutantuntutan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada era global yang terus berkembang menuntut manusia untuk lebih dapat beradaptasi serta bersaing antara individu satu dengan yang lain. Dengan adanya suatu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang DwiMurtiningsih,2014
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dunia anak adalah dunia bermain. Melalui kegiatan bermain, anak belajar banyak hal, bermain merupakan bagian yang amat penting dalam tumbuh kembang anak untuk menjadi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menjadi orang yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Setiap manusia harus
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sarana untuk menjadikan seseorang atau individu menjadi orang yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Setiap manusia harus mendapatkan
BAB II IDENTIFIKASI DAN PRIORITAS MASALAH
BAB II IDENTIFIKASI DAN PRIORITAS MASALAH 2.1 Permasalahan Keluarga Berbicara tentang permasalahan keluarga, setiap keluarga pastilah memiliki permasalahan tersendiri dalam membina rumah tangga. Tidak
BAB IV ANALISIS PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK DI SD NEGERI TEGALSARI 01 KANDEMAN BATANG
BAB IV ANALISIS PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK DI SD NEGERI TEGALSARI 01 KANDEMAN BATANG Setelah memperoleh data berdasarkan hasil penelitian, selanjutnya akan
BAB IV ANALISIS STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA DI SMP WAHID HASYIM PEKALONGAN
BAB IV ANALISIS STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA DI SMP WAHID HASYIM PEKALONGAN A. Analisis Strategi Guru PAI dalam membentuk karakter siswa di SMP Wahid Hasyim Pekalongan.
BAB IV ANALISIS PEMBIASAAN SEBAGAI PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA-SISWI MIS NGALIAN TIRTO PEKALONGAN
BAB IV ANALISIS PEMBIASAAN SEBAGAI PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA-SISWI MIS NGALIAN TIRTO PEKALONGAN A. Analisis Pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan Siswa-siswi MIS Ngalian Tirto Pekalongan di Madrasah. Berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah Meta Nurlaela, 2014 Meningkatkan kedisiplinan anak melalui pemberian teknik token
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah Pendidikan anak usia dini memiliki peranan sangat penting untuk mengembangkan kepribadian anak serta mempersiapkan mereka memasuki jenjang pendidikan selanjutnya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Pola Asuh Orangtua a. Pengertian Dalam Kamus Bahasa Indonesia pola memiliki arti cara kerja, sistem dan model, dan asuh memiliki arti menjaga atau merawat dan
BAB I PENDAHULUAN. sesuai dengan yang dia lihat. Istilah yang sering didengar yaitu chidren see children
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak adalah titipan yang Maha Kuasa kepada setiap orang tua yang sudah diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk menjaganya. Anak akan senantiasa mengalami pertumbuhan
BAB I PENDAHULUAN. Lembaga pendidikan dan guru dewasa ini dihadapkan pada tuntutan. yang semakin berat terutama untuk mempersiapkan anak didik agar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lembaga pendidikan dan guru dewasa ini dihadapkan pada tuntutan yang semakin berat terutama untuk mempersiapkan anak didik agar mampu menghadapi dinamika perubahan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat, akan tetapi mempunyai pengaruh yang besar bagi bangsa dan negara. Dari keluarga akan terlahir generasi
BAB IV ANALISIS DATA. A. Faktor-Faktor Penyebab Anak Terkena Epilepsi di Gubeng
BAB IV ANALISIS DATA A. Faktor-Faktor Penyebab Anak Terkena Epilepsi di Gubeng Klingsingan Surabaya Faktor penyebab klien terkena epilepsi terjadi karena faktor eksternal. Yaitu faktor yang terjadi bukan
MENGENALI POLA ASUH YANG TEPAT. Rita Eka Izzaty 1
MENGENALI POLA ASUH YANG TEPAT Rita Eka Izzaty 1 Pada dasarnya semua anak didunia adalah anak-anak cerdas, mempunyai bakat, baik, dan hebat. Namun, dewasa ini banyak sekali anak-anak melakukan tindakan-tindakan
BAB I PENDAHULUAN. atau interaksi dengan orang lain, tentunya dibutuhkan kemampuan individu untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah mahluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk berinteraksi timbal-balik dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Memulai suatu hubungan atau
: Guru Mata Pelajaran PKn di SMA N 1 Cangkringan. 1. Seperti kita ketahui bahwa komponen dari PKn yaitu Civic Knowladge
201 Nama : Bapak Eka Mundiharta S.Pd Tahap Pertama : Kamis, 7 Maret 2013 Pukul 10.00-11.30 Tahap Pertama : Rabu, 15 Mei 2013 Pukul 09.00-10.30 Perkerjaan : Guru Mata Pelajaran PKn di SMA N 1 Cangkringan
I. PENDAHULUAN. yang mereka lahirkan. Dalam kelompok ini, arus kehidupan di kemudikan oleh
I. PENDAHULUAN A..Latar Belakang Keluarga sebagai kelompok masyarakat terkecil terbentuk oleh ikatan dua orang dewasa yang berlainan jenis kelamin, wanita dan pria serta anak-anak yang mereka lahirkan.
Konsep Diri Rendah di SMP Khadijah Surabaya. baik di sekolah. Konseli mempunyai kebiasaan mengompol sejak kecil sampai
BAB IV ANALISIS ISLAMIC COGNITIVE RESTRUCTURING DALAM MENANGANI KONSEP DIRI RENDAH SEORANG SISWA KELAS VIII DI SMP KHADIJAH SURABAYA A. Analisis Faktor-Faktor Penyebab Seorang Siswa Kelas VIII Mengalami
