T E C H N I C A L R E V I E W
|
|
|
- Susanti Tedjo
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Konsorsium PETUAH (Perguruan Tinggi untuk Indonesia Hijau) Pengetahuan Hijau Berbasis Kebutuhan dan Kearifan Lokal untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan (Green Knowledge with Basis of Local Needs and Wisdom to Support Sustainable Development) T E C H N I C A L R E V I E W CoE PLACE TR No. 2 March 2016 PEATLAND RESTORATION: PEMANFAATAN LAHAN GAMBUT Latar Belakang Hutan alami merupakan sumberdaya alam yang mampu menyediakan layanan lingkungan yang lengkap, antara lain sebagai gudang karbon, hidrologi, polinisasi, kesehatan, dan ekoturisme (Ferraro et al., 2011) dengan ketersediaan yang sangat tinggi dan berkelanjutan, Disisi lain, pada bentang lahan dataran rendah dan pantai, kasus di wilayah Provinsi Sumatera Selatan, dibawah hutan terdapat deposit bahan organik yang sangat tebal dan terbentuk berjuta tahun yang lalu dan merupakan cadangan karbon dikenal sebagai sebagai gambut (Prayitno, 2014). Keberadaan gambut secara alami pada bentang lahan dataran rendah dan pantai sebagai ekosistem rawa basah yang mempunyai nilai tinggi dan akan terus lestari jika tidak ada intervensi manusia. Keberadaan gambut akan terusik dan bahkan menjadi bencana apabila terjadi perubahan kondisi hutan dan perlakuan yang bersifat mengurangi air pada bentang lahan tersebut. Sebaran lahan gambut di Sumetera Selatan disajikan pada Gambar 1 dan Tabel 1. No Tabel 1. Luas Lahan Gambut di Provinsi Sumatera Selatan Sebaran lahan gambut di Kabupaten Luas ha % 1 Banyuasin ,7 2 Muara Enim ,2 3 Musi Banyuasin ,7 4 Musi Rawas ,7 5 Ogan Komering Ilir ,7 TOTAL ,0 Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan (2015) dan WBH (2015) Lahan gambut di Sumatera Selatan saat ini telah berubah dari hutan primer rawa gambut menjadi bentuk lainnya sebagi akibat dari alih fungsi lahan. Tutupan lahan gambut di sumatera Selatan disajikan pada Tabel 2. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kegiatan pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh Pemerintah dan pihak lain telah berdampak pada kondisi tutupan lahan. Perkembangan kegiatan perkebunan, kususnya agroekosistem kelapa sawit dan hutan tanaman, cukup tinggi menggantikan hutan rawa gambut. Gambar 1. Peta Sebaran Lahan Gambut di Provinsi Sumatera Selatan (Sumber: JICA-Bappeda Provinsi Sumatera Selatan, 2014). KONSORSIUM PETUAH PERGURUAN TINGGI UNTUK INDONESIA HIJAU MCA INDONESIA Page 1
2 Policy Recommendations kondisi yang diperlukan: (a) harus mendukung vegetasi asli seperti Tumeh & Jelutong untuk tumbuh kembali; (b) harus melakukan pembasahan lahan gambut dengan refunctioning mekanisme pengisian air alami & buatan manusia. kondisi yang cukup: (a) Perlu dilakukan sebagai upaya kemitraan sosial; (b) harus dalam satu atau lain cara menjadikan lahan gambut memberikan sumber pendapatan secara ekologis bagi masyarakat setempat. upaya berkelanjutan untuk menjaga benfits ekonomi ekologi lanskap untuk tiga pihak yaitu: (a) investor sudah ada di zona lahan gambut; (b) Masyarakat di desa-desa di sekitarnya; (c) Pemerintah daerah sebagai fasilitator asli. manajemen tata ruang yang akan dijalankan oleh lembaga tingkat makro (tingkat provinsi & kabupaten) & lembaga agribisnis tingkat mikro di setiap desa seperti yang tersirat dalam UU Pemerintah No.6 tahun Tabel 2. Tutupan Lahan Gambut di Wilayah Provinsi Sumatera Selatan No Tutupan lahan gambut Luas ha % 1 Hutan Manggrove Primer 717 0,05 2 Hutan Manggrove sekunder ,11 3 Hutan rawa sekunder ,93 4 Hutan tanaman ,23 5 Perkebunan ,61 6 Pemukiman ,62 7 Pertambangan 574 0,04 8 Pertanian lahan kering ,16 9 Pertanian lahan kering campuran ,50 10 Rawa ,06 11 Rumput kering dan rumput rawa Sawah ,66 13 Semak belukar ,79 14 Sema belukar rawa ,86 15 Tambak ,60 16 Tanah terbuka ,36 17 Tubuh air ,07 TOTAL ,00 KONSORSIUM PETUAH PERGURUAN TINGGI UNTUK INDONESIA HIJAU MCA INDONESIA Page 2
3 Perubahan tata guna lahan gambut menjadi peruntuka lainnya khusunya kegiatan pertanian dan perkebunan merubah kondisi hidrologi lahan. Pembuatan kanal atau saluran drainase mempunyai dampak pada penurunan muka air tanah dan mendorong proses evaporasi sangat tinggi, sehingga potensi kekeringan dan kebakaran lahan gambut cenderung tinggi. Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dan khususnya Sumatera Selatan yang terjadi setiap tahun selama 18 tahun terakhir dengan puncaknya tahun 2015 telah menciptakan kondisi lahan gambut semakin terdegradasi. Sebaran hotspot dari tahun 2003 sampai 2015 di Provinsi Sumatera Selatan disajikan pada Tabel 3 dan Sebaran kebakaran pada kawasan tutupan lahan pada tahun 2015 disajikan pada Tabel 4. KENDALA DAN PERMASALAHAN pemanfaatan lahan gambut dengan restorasi lahan gambut yang telah rusak atau terbakar memiliki kendala dan permasalahan sebagai berikut : 1) Kendala yang didapati adalah data lahan gambut yang akan direstorasi dan legalitas kepemilikan lahan gambut 2) Permasalahan yang akan dihadapi secara konseptual lahan gambut menjadi rentan terhadap kebakaran ketika 5 karakteristik ekologis rusak karena campur tangan manusia menghilangkan vegetasi pada kubah gambut sehingga rawa api: a. Proses perubahan evapo-tranpirasi menjadi evaporasi akan menyebabkan kubah gambut tidak lagi basah sedangkan proses evaporasi tetap, dan CH4 & O2 kapiler dibuka; b. Proses Hidro-orological sedang down (curah hujan rendah/musim kering), menyebabkan permukaan air bawah permukaan turun; c. Fungsi resapan air dari kubah akan turun dan sangat mudah untuk menjadi kering; d. Bio-geophisically lebih buruk ketika daerah tersebut telah menjadi konsesi perusahaan, meskipun ini mungkin pada saat yang sama memberikan upaya rehabilitasi dengan semacam kesempatan keuangan e. Dalam setiap zona lahan gambut yang rusak rakyat yang terkena dampak cenderung pasif untuk menanggapi program pemerintah. Tabel 3. Sebaran hotspot dari tahun 2003 sampai 2015 di Provinsi Sumatera Selatan No Kab/Kota * 1 Banyuasin Lahat Lubuk Linggau Muara Enim Musi Banyuasin Musi Rawas OKU OKUS OKUT Ogan Ilir OKI Pagar Alam Palembang Prabumulih Empat Lawang PALI Muratara TOTAL Sumber: Satelit Terra Aqua MODIS NASA. * = Data sampai Nopember 2015 KONSORSIUM PETUAH PERGURUAN TINGGI UNTUK INDONESIA HIJAU MCA INDONESIA Page 3
4 Tabel 4. Sebaran Kebakaran Lahan Gambut dalam Ijin Konsesi No Tutupan lahan gambut Luas ha % 1 Hutan Manggrove sekunder 138 0,06 2 Hutan rawa sekunder ,79 3 Hutan tanaman ,68 4 Perkebunan ,73 5 Pemukiman 10 0,00 6 Pertambangan 30 0,01 7 Pertanian lahan kering ,16 8 Pertanian lahan kering campuran ,61 9 Rawa ,17 10 Rumput kering dan rumput rawa 538 0,22 11 Sawah 653 0,27 12 Semak belukar 13,075 5,35 13 Sema belukar rawa ,57 14 Tanah terbuka ,34 15 Tubuh air 92 0,04 TOTAL ,00 Dari sebaran gambut di Provinsi Sumatera Selatan tersebut terjadi kebakaran tahun 2015: pada peat dome ha (59,8%), peat land ha (40,2%), total ha. Jumlah hotspot tahun 2015 sebanyak titik yang tersebar di lahan gambut titik (70,6%) dan non lahan gambut titik (29,4%) Luas kebakaran lahan gambut pada ijin lahan konsesi ha (27%) dari luas ijin konsesi pada lahan gambut ha STATE OF THE ART (TERKAIT PERMASALAHAN DAN STRATEGY PENYELESAIAN) kedalaman gambut sekitar 4 hingga 5 meter, disajikan pada Gambar 5a dan 5b. RESTORASI LAHAN GAMBUT (STUDI KASUS: LAHAN GAMBUT BENTANG LAHAN KAYUAGUNG, KABUPATEN OKI Perkembangan dan Karakteristik Kondisi Lahan Gambut Kayuagung, Kabupaten OKI Bentang lahan gambut Kayuagung merupakan hutan rawa primer yang membentang dari Kecamatan Pedamaran hingga Tulung Selapan yang mempunyai jarak sekitar 40 kilometer, atau dari Kecamatan Kayuagung hingga Pampangan dengan jarak relative sama (Gambar 2). Perubahan lahan gambut terjadi dimulai dengan adanya kegitaan HPH dari tahun 1980 hingga 2000 dan dilanjutkan dengan penebangan tidak terkendali oleh masyarakat dan pihak lain dengan menebang pohon tanpa kendali. Kondisi vegetasi lahan telah berubah didominasi oleh tumbuhan pioneer (Gambar 3 dan 4). Gambar 2. Bentang Lahan Gambut Kayuagung Kabupaten OKI (SSFFMP, 2004) Tahun 2005 SSFFMP (south Sumatra forest fire management Project) berinisiasi melakukan kegiatan survai karakteristik gambut, dengan hasil adalah KONSORSIUM PETUAH PERGURUAN TINGGI UNTUK INDONESIA HIJAU MCA INDONESIA Page 4
5 Gambar 3. Kondisi Tanaman Pioner pada Lahan Gambut Terbakar, Kab OKI (Photografer: Prayitno, 2004) Gambar 4. Kondisi Vegetasi pada Lahan Gambut Terbakar, Kab OKI (Photografer: Prayitno, 2004) Titik Pengamatan ,00 Kedalaman Gambut (meter) -1,00-2,00-3,00-4,00-5,00-6,00-7,00-8,00 Gambar 5a. Kedalaman Gambut Pada Lintasan 1 sampai 54, Jalur Air Sugihan-Lebung Gajah Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (PPMAL Unsri, 2005). Kedalaman Gambut (meter) 0,00-1,00-2,00-3,00-4,00-5,00-6,00 Titik Pengamatan Gambar 5b. Kedalaman Gambut Pada Lintasan 59 sampai 96, Jalur Penyabungan-Lebung Hitam Kecamatan Tulung Selapan Kabupaten Ogan Komering Ilir (PPMAL Unsri, 2005). KONSORSIUM PETUAH PERGURUAN TINGGI UNTUK INDONESIA HIJAU MCA INDONESIA Page 5
6 Pemanfaatan Lahan Gambut Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir Kondisi lahan gambut Kayuagung yang telah terdegradasi cenderung akan selalu terjadi kebakaran lahan pada setiap tahunnya, karena tidak adanya vegetasi sebagai penahan panas sinar matahari dan juga terjadinya penurunan air dari bentang lahan menuju titik terendah lahan gambut. Proses pengeringan lahan gambut terjadi pada musim kemarau. Sekitar tahun 2005 bentang lahan gambut kayuagung belum ada kegiatan pertanian dan perkebunan. Namun Seiring dengan perkembangan waktu, bentang lahan gambut Kayuagung sebagian besar telah berubah sebagian besar menjadi lahan perkebunan kelapa sawit dan sebagian kecil menjadi lahan pertanian (Gambar 6a dan 6b). Disisi lain, kedalaman gambut pada bentang lahan gambut Kayuagung adalah lebih dari 3 meter Gambar 7. Restorasi Lahan Gambut di lahan Gambut Kayuagung, OKI Upaya Restorasi Lahan Gambut Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir Upaya terbaik dalam kegiatan restorasi gambut adalah 1). mengidentifikasi karaktersitk lahan gambut, 2) Sosialisasi Kebakaran lahan dan dampaknya, 3). Kegiatan Rewetting Lahan Gambut dan 4). Revegetasi pada Lahan Gambut Non Agroekosistem Kelapa Sawit dan HTI 1. Identifikasi Karakteristik Lahan Gambut Gambar 6a. Tanaman kelapa sawit di lahan Gambut, Kab OKI (Photografer: Prayitno, 20013) Kegiatan identifikasi karakteristik bentang lahan gambut pada suatu lokasi adalah sangat penting dan berpengaruh terhadap kegiatan kegiatan dalam restorasi lahan gambut. Kegiatan yang perlu dilakukan adalah 1. Penyediaan peta lokasi dan luasan gambut oleh instansi yang telah ditunjuk oleh pemerintah, 2. Membuat peta kedalaman gambut dalam skala detail, 3. Membuat peta hidrologi dalam skala detail, 4. Membuat peta tata guna lahan dalam skala detail, 5. Penetapan kerusakan lahan gambut oleh pemerintah/instansi tentang status kondisi lahan gambut (tingkat kerusakan/degradasi) dan perlakuan yang dilakukan pada lahan gambut tersebut. 2. Sosialisasi tentang Kebakaran Hutan dan Lahan serta Dampaknya terhadap Masyarakat sekitar Hutan dan Stakeholder pengguna Lahan Gambut Gambar 6b. Tanaman Karet di Lahan Gambut, Kab OKI (Photografer: Prayitno, 2134) Restorasi lahan lahan gambut di Sumatera Selatan dilakukan oleh BPK Palembang tahun 2010 seluas 4 hektar untuk kebun konservasi plasma nutfah ramin (Gonystylus bancanus) dan budidaya pola campuran ramin dan jelutung (Dyera lowii). a. Kegiatan restorasi lahan gambut perlu disosialisakian kepada masyarakat dan sebaiknya segala kegiatan restorasi melibatkan masyarakat. Masyarakat ikut bertanggung jawab dan memiliki. b. Kegiatan restorasi gambut sebaiknya sejalan dengan kegiatan masyarakat yang tergantung pada hutan/lahan gambut, dan tidak mematikan kegiatan masyarakat. c. Kegiatan utama dalam restorasi gambut terutama pada upaya peningkatan muka air tanah (rewetting) dengan kegiatan penyekatan sungai dan kanal harus didiskusikan atau bermusyawarah dengan masyarakat setempat KONSORSIUM PETUAH PERGURUAN TINGGI UNTUK INDONESIA HIJAU MCA INDONESIA Page 6
7 3. Rewetting (Pembasahan Lahan Gambut) pada Lahan Gambut dengan Agroekosistem Kelapa Sawit: pintu air terkendali. Kegiatan yang perlu dilakukan adalah: 1. Upaya meningkatkan kemampuan untuk menampung air (sumber air hujan/sungai) pada lahan dan meninimalkan kehilangan air dari lahan, 2. Penyekatan sungai untuk meningkatkan muka air tanah. 3. Menambahan pintu air pada kanal/saluran (primer/sekunder/tersier) untuk meningkatkan muka air tanah. Bila dimungkinkan terdapat individual manajemen air setiap blok. 4. Desain teknik sekat/tabak spesifik lokasi untuk Sungai/kanal/saluran yang ada di lahan berdasarkan panjang, lebar dan dalam dari sungai atau saluran. 5. Desain sekat/tabat/pintu air dapat dipilih sesuai dengan keperluan pada lokasi setempat. Beberapa desain pintu yang dapat digunakan adalag Multiple flap gate dan stop log. Material yang digunakan juga dapat disesuaikan dengan fungsinya. 6. Design WATER MANAGEMENT pada lahan agroekosistem kelapa sawit sebagai satu kesatuan. 3.b. Rewetting (Pembasahan Lahan Gambut) Lahan Gambut Non HTI/Agroekosistem Kelapa sawit. Kegiatan yang perlu dilakukan adalah: 1. Upaya meningkatkan kemampuan untuk menampung air (sumber air hujan/sungai) pada lahan dan meninimalkan kehilangan air dari lahan, 2. Penyekatan sungai dan kanal untuk mencegah illegal logging dan meningkatkan muka air tanah. mendapatkan persetujuan masyarakat, terkait fungsi sungai sebagai sarana tansportasi, ekonomi masyarakat. Resikonya adalah akan dibongkar masyarakat, boikot dan permasalahan di lapangan. 3. Peningkatan muka air tanah dengan penyekatan sungai, dimungkinkan digunakan untuk budidaya ikan setempat yang telah beradaptasi dan dapat berkembang biak. Budidaya ikan tersebut dapat memenuhi kebutuhan pangan dan bahkan dapat menciptakan aktivitas ekonomi masyarakat. 4. Design WATER MANAGEMENT untuk suatu bentang lahan yang terdiri dari beberapa lahan agroekosistem kelapa sawit menjadi satu KESATUAN HIDROLOGI GAMBUT 5. Data potensi air hujan dan debit sungai sebagai sumber air perlu dihitung setiap bulan selama periode tertentu disediakan. 6. Data potensial kehilangan air dari lahan tiap bulan selama periode tertentu. 7. Data prakiraan potensi jumlah air yang tertampung pada bentang lahan setiap bulan selama periode tertentu. 3.c. Jenis Teknik Penyekatan/Tabat 1. Sekat kayu satu lapis yang dilapisi plastik atau bahan geotextile (Baba dan Sidiq, 2009) 2. Sekat isi dua lapis (composite dam) (Baba dan Sidiq, 2009) 3. Bendungan system tabat atau tabat beringkat. 4. Revegetasi (Penanaman Kembali dengan Tanaman Konservasi-tahunan atau agroforestri) pada Lahan Gambut Non HTI/ Agroekosistem Kelapa sawit. Kegiatan yang perlu dilakukan adalah: 1. Perencanaan/penataan areal revegetasi, memperhatikan: a. Pemilihan jenis tanaman (tahunan/ hutan/ Agroforestri) mengikuti kebijakan yang berlaku. b. Penentuan lokasi penanaman tanaman tahunan/hutan atau agroforesti berdasarkan karakteristik gambut (kedalaman gambut), ketinggian muka air tanah dan ketinggian tanah pada lahan. 2. Penataan pola tanam pada kegiatan revegetasi (tahunan/hutan/agroforestri) perlu memperhatikan: a. Aksesibilitas Masyarakat b. Jenis tanaman yang diperlukan masyarakat (untuk keperluan hidup) c. Jenis tanaman yang tidak disukai hama dan satwa (pada lokasi teretntu) d. Disesuaikan dengan kondisi karakteristik lahan (tanah dan air lahan) 5. Pemilihan Jenis Tanaman memperhatikan: a. Memilih tanaman cepat tumbuh untuk menciptakan iklim mikro yang baik dan mudah tumbuh, b. Setelah iklim mikro tercipta dapat dikombinasikan tanaman cepat dan lambat tumbuh c. Pemilihan tanaman yang mudah tumbuh dan mudah dirawat, bukan pertanian intensif d. Jenis tanaman yang dapat mendukung ketahanan pangan KESIMPULAN/REKOMENDASI Rekomendasi yang diberikan yaitu harus ada komitmen yang kuat untuk memenuhi kondisi berikut: 1) kondisi yang diperlukan: (a) harus mendukung vegetasi asli seperti Tumeh & Jelutong untuk tumbuh kembali; (b) harus melakukan pembasahan lahan gambut dengan refunctioning mekanisme pengisian air alami & buatan manusia. 2) kondisi yang cukup: (a) Perlu dilakukan sebagai upaya kemitraan sosial; (b) harus dalam satu atau lain cara menjadikan lahan gambut memberikan KONSORSIUM PETUAH PERGURUAN TINGGI UNTUK INDONESIA HIJAU MCA INDONESIA Page 7
8 sumber pendapatan secara ekologis bagi masyarakat setempat. 3) upaya berkelanjutan untuk menjaga benfits ekonomi ekologi lanskap untuk tiga pihak yaitu: (a) investor sudah ada di zona lahan gambut; (b) Masyarakat di desa-desa di sekitarnya; (c) Pemerintah daerah sebagai fasilitator asli. 4) manajemen tata ruang yang akan dijalankan oleh lembaga tingkat makro (tingkat provinsi & kabupaten) & lembaga agribisnis tingkat mikro di setiap desa seperti yang tersirat dalam UU Pemerintah No.6 tahun ACKNOWLEDGMENT This Technical Review produced by Konsorsium PETUAH Perguruan Tinggi untuk Indonesia Hijau and funded by the Millenium Challenge Account (MCA) Indonesia Kelapa Sawit di Lahan Gambut. Disertasi. Program Studi Doktor Ilmu Pertanian FP Unsri. Suryadiputra, I N.N., Alue Dohong, Roh, S.B. Waspodo, Lili Muslihat, Irwansyah R. Lubis, Ferry Hasudungan, dan Iwan T.C. Wibisono Panduan Penyekatan Parit dan Saluran di Lahan Gambut Bersama Masyarakat. Proyek Climate Change, Forests and Peatlands in Indonesia. Wetlands International Indonesia Programme dan Wildlife Habitat Canada. Bogor. South Sumatra Forest Fire management Project Laporan Survai Karaktersitik Gambut Kayuagung OKI. Tidak dipublikasi. REFERENSI Baba S. Barkah dan M. Sidiq Panduan Penyekatan Parit/Kanal dan Pengelolaannya Bersama Masyarakat Di areal Hutan Rawa Gambut MRPP Kabupaten Musi Banyuasin. Report No. 20.TA. FINAL / SOP. No. 03. PSF Rehabilitation. Ferraro, P. J., Kathleen Lawlory, Katrina L. Mullanz, and Subhrendu K. Pattanayak Forest Figures: Ecosystem Services Valuation and Policy Evaluation in Developing CountriesReview of Environmental Economics and Policy, pp doi: /reep/rer019. Najiyati, S., Lili Muslihat dan I Nyoman N. Suryadiputra Panduan pengelolaan lahan gambut untuk pertanian berkelanjutan. Proyek Climate Change, Forests and Peatlands in Indonesia. Wetlands International Indonesia Programme dan Wildlife Habitat Canada. Bogor. Indonesia Prayitno, M.B Neraca Karbon pada Agroekosistem Authors Dr. Muh. Bambang Prayitno Department of Soil Science Agriculture Faculty Sriwijaya University The Konsorsium PETUAH PerguruanTinggiuntuk Indonesia Hijau MCA Indonesia policy briefs present research-based information in a brief and concise format targeted policy makers and researchers. Readers are encouraged to make reference to the briefs or the underlying research publications in their own publications. ISSN XXXX-XXXX Title: Peatland Restoration: Pemanfaatan Lahan Gambut Konsorsium PETUAH Perguruan Tinggi untuk Indonesia Hijau MCA Indonesia KONSORSIUM PETUAH PERGURUAN TINGGI UNTUK INDONESIA HIJAU MCA INDONESIA Page 8
T E C H N I C A L R E V I E W
Konsorsium PETUAH (PerguruanTinggi untuk Indonesia Hijau) Pengetahuan Hijau Berbasis Kebutuhan dan Kearifan Lokal untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan (Green Knowledge with Basis of Local Needs and
P O L I C Y B R I E F
Konsorsium PETUAH (Perguruan Tinggi untuk Indonesia Hijau) Pengetahuan Hijau Berbasis Kebutuhan dan Kearifan Lokal untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan (Green Knowledge with Basis of Local Needs and
PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN GAMBUT DI INDONESIA
PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN GAMBUT DI INDONESIA Pendekatan MCA-Indonesia Indonesia memiliki lahan gambut tropis terluas di dunia, dan lahan gambut menghasilkan sekitar sepertiga dari emisi karbon negara
P O L I C Y B R I E F
Konsorsium PETUAH (PerguruanTinggi untuk Indonesia Hijau) Pengetahuan Hijau Berbasis Kebutuhan dan Kearifan Lokal untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan (Green Knowledge with Basis of Local Needs and
BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
22 BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 3.1 Luas dan Lokasi Wilayah Merang Peat Dome Forest (MPDF) memiliki luas sekitar 150.000 ha yang terletak dalam kawasan Hutan Produksi (HP) Lalan di Kecamatan
Kata kunci: hutan rawa gambut, degradasi, rehabilitasi, kondisi hidrologi, gelam
Program : Penelitian dan Pengembangan Produktivitas Hutan Judul RPI : Pengelolaan Hutan Gambut Koordinator : Ir. Atok Subiakto, M.Apl.Sc Judul Kegiatan : Teknologi Rehabilitasi Hutan Rawa Gambut Terdegradasi
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
BAB I PENDAHULUAN. Hutan bagi masyarakat bukanlah hal yang baru, terutama bagi masyarakat
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan bagi masyarakat bukanlah hal yang baru, terutama bagi masyarakat yang masih memiliki nilai-nilai dan kultur tradisional. Sejak jaman dahulu, mereka tidak hanya
ULASAN KEBIJAKAN PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT
ULASAN KEBIJAKAN PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT Pendekatan MCA-Indonesia Indonesia memiliki lahan gambut tropis terluas di dunia, dan lahan gambut menghasilkan sekitar sepertiga dari emisi
Dr. EDWARD Saleh FORUM DAS SUMATERA SELATAN 2013
Disampaikan pada Seminar Nasional dan Kongres VIII MKTI Di Palembang 5-7 November 2013 Dr. EDWARD Saleh FORUM DAS SUMATERA SELATAN 2013 Permasalahan Pengelolaan SDA Sampah Pencemaran Banjir Kependudukan
TEKNIK REHABILITASI (REVEGETASI) LAHAN GAMBUT TERDEGRADASI Sumbangsih Pengalaman dan Pembelajaran Restorasi Gambut dari Sumatera Selatan dan Jambi
TEKNIK REHABILITASI (REVEGETASI) LAHAN GAMBUT TERDEGRADASI Sumbangsih Pengalaman dan Pembelajaran Restorasi Gambut dari Sumatera Selatan dan Jambi Oleh Bastoni dan Tim Peneliti Balai Litbang LHK Palembang
Oleh: PT. GLOBAL ALAM LESTARI
Izin Usaha Pemanfaatan Penyerapan Karbon dan/atau Penyimpanan Karbon (PAN-RAP Karbon) Nomor: SK. 494/Menhut-II/2013 Hutan Rawa Gambut Tropis Merang-Kepayang Sumatera Selatan, Indonesia Oleh: PT. GLOBAL
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah aliran sungai (DAS) merupakan sistem yang kompleks dan terdiri dari komponen utama seperti vegetasi (hutan), tanah, air, manusia dan biota lainnya. Hutan sebagai
IMPLEMENTASI PP 57/2016
PAPARAN BRG TENTANG IMPLEMENTASI PP 57/2016 Jakarta, 25 April 2017 PEMBENTUKAN BADAN CLICK RESTORASI EDIT GAMBUT MASTER TITLE STYLE Dibentuk dalam rangka percepatan pemulihan kawasan dan pengembalian fungsi
Restorasi Ekosistem Gambut HARMONISASI PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN RESTORASI GAMBUT
Restorasi Ekosistem Gambut HARMONISASI PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN RESTORASI GAMBUT Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut upaya sistematis dan terpadu untuk melestarikan fungsi mencegah terjadinya
P O L I C Y B R I E F
Konsorsium PETUAH (Perguruan Tinggi Untuk Indonesia Hijau) Pengetahuan Hijau Berbasis Kebutuhan dan Kearifan Lokal untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan (Green Knowledge With Basis Of Local Needs And
Teknologi rehabilitasi hutan rawa gambut terdegradasi
Teknologi rehabilitasi hutan rawa gambut terdegradasi Teknologi Rehabilitasi Hutan Rawa Gambut Ujicoba Teknik Rehabilitasi Hutan Alam Rawa Gambut Bersulfat Masam Dengan Jenis Melaleuca leucadendron Ujicoba
Pemanfaatan canal blocking untuk konservasi lahan gambut
SUMBER DAYA AIR Indonesia memiliki potensi lahan rawa (lowlands) yang sangat besar. Secara global Indonesia menempati urutan keempat dengan luas lahan rawa sekitar 33,4 juta ha setelah Kanada (170 juta
III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 3. 1 Luas dan Lokasi Hutan Gambut Merang terletak dalam kawasan Hutan Produksi Lalan di Kecamatan Bayung Lencir Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatra Selatan dengan
Latar Belakang. Gambar 1. Lahan gambut yang terbakar. pada lanskap lahan gambut. Di lahan gambut, ini berarti bahwa semua drainase
1 2 Latar Belakang Gambar 1. Lahan gambut yang terbakar. Banyak lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan telah terbakar dalam beberapa tahun terakhir ini. Kebakaran gambut sangat mudah menyebar di areaarea
POTRET GAMBUT KALIMANTAN
POTRET GAMBUT KALIMANTAN Disusun Oleh: 1) Firman Dermawan Yuda, S.Hut., M.Sc. (Kasubbid Hutan dan Hasil Hutan Pada Bidang Perencanaan Pengelolaan SDA dan LH P3E Kalimantan) 2) Riza Murti Subekti, S.Hut.,
T E C H N I C A L R E V I E W
Konsorsium PETUAH (PerguruanTinggi untuk Indonesia Hijau) Pengetahuan Hijau Berbasis Kebutuhan dan Kearifan Lokal untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan (Green Knowledge with Basis of Local Needs and
Oleh : Sri Wilarso Budi R
Annex 2. The Training Modules 1 MODULE PELATIHAN RESTORASI, AGROFORESTRY DAN REHABILITASI HUTAN Oleh : Sri Wilarso Budi R ITTO PROJECT PARTICIPATORY ESTABLISHMENT COLLABORATIVE SUSTAINABLE FOREST MANAGEMENT
BAB III PROBLEM LINGKUNGAN DI SUMATERA SELATAN. penjelasan mengenai keterlibatan INGO World Agroforestry Centre (ICRAF) di Indonesia
BAB III PROBLEM LINGKUNGAN DI SUMATERA SELATAN Provinsi Sumatera Selatan memiliki masalah terkait dengan lingkungannya yang disebabkan dan menyebabkan banyak masalah lain yang melanda Sumatera Selatan
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Lahan gambut merupakan salah satu tipe ekosistem yang memiliki kemampuan menyimpan lebih dari 30 persen karbon terestrial, memainkan peran penting dalam siklus hidrologi serta
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.17/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN NOMOR P.12/MENLHK-II/2015
Pengukuran Biomassa Permukaan dan Ketebalan Gambut di Hutan Gambut DAS Mentaya dan DAS Katingan
Pengukuran Biomassa Permukaan dan Ketebalan Gambut di Hutan Gambut DAS Mentaya dan DAS Katingan Taryono Darusman 1, Asep Mulyana 2 dan Rachmat Budiono 3 Pendahuluan Lahan gambut merupakan ekosistem lahan
Sumatera Selatan. Jembatan Ampera
Laporan Provinsi 169 Sumatera Selatan Jembatan Ampera Jembatan Ampera adalah sebuah jembatan di Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota,
Kondisi Hutan (Deforestasi) di Indonesia dan Peran KPH dalam penurunan emisi dari perubahan lahan hutan
Kondisi Hutan (Deforestasi) di Indonesia dan Peran KPH dalam penurunan emisi dari perubahan lahan hutan Iman Santosa T. ([email protected]) Direktorat Inventarisasi dan Pemantauan Sumberdaya Hutan
Teknologi rehabilitasi hutan rawa gambut
Teknologi rehabilitasi hutan rawa gambut UjI COBA TEKNIK BIO REMEDIASI BERBAGAI KONDISI HUTAN ALAM RAWA GAMBUT TERDEGRADASI DI SUMSEL Rehabilitasi Hutan Rawa Gambut Sulfat Masam dengan Jenis Melaleuca
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk
Title : Analisis Polaruang Kalimantan dengan Tutupan Hutan Kalimantan 2009
Contributor : Doni Prihatna Tanggal : April 2012 Posting : Title : Analisis Polaruang Kalimantan dengan Tutupan Hutan Kalimantan 2009 Pada 19 Januari 2012 lalu, Presiden Republik Indonesia mengeluarkan
KATA PENGANTAR. Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan publikasi prakiraan musim hujan ini.
KATA PENGANTAR Penyajian Prakiraan Musim Hujan 2016/2017 di Provinsi Sumatera Selatan ditujukan untuk memberi informasi kepada masyarakat, disamping publikasi buletin agrometeorologi, analisis dan prakiraan
LAPORAN TRIWULAN BADAN RESTORASI GAMBUT RI KEPADA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA JULI SEPTEMBER 2016
LAPORAN TRIWULAN BADAN RESTORASI GAMBUT RI KEPADA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA JULI SEPTEMBER 2016 01 SK PENETAPAN PETA INDIKATIF RESTORASI 1 SK.05/BRG/Kpts/2016 telah diterbitkan pada 14 September 2016.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan
Rehabilitasi dan Pengelolaan Lahan Gambut Bekelanjutan
Rehabilitasi dan Pengelolaan Lahan Gambut Bekelanjutan Dr. Muhammad Syakir, MS Kepala Kongres Nasional VII Perkumpulan Masyarakat Gambut Indonesia (HGI) dan Seminar Pengelolaan Lahan Sub-optimal Secara
BAB I PENDAHULUAN. penambat (sequester) karbon. Lahan gambut menyimpan karbon pada biomassa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Dalam keadaan hutan yang alami, lahan gambut berfungsi sebagai penambat (sequester) karbon. Lahan gambut menyimpan karbon pada biomassa tanaman, seresah di bawah hutan
Restorasi Gambut Harus Berpihak Kepada Ajas Manfaat
Restorasi Gambut Harus Berpihak Kepada Ajas Manfaat Oleh Momon Sodik Imanudin Lahan gambut adalah lahan dengan kondisi alami memiliki daya menampung air besar,selalu jenuh air, mengandung bahan serasah
L E G E N D A TELUK BANGKA J A M B I SUMATRA SELATAN B E N G K U L U S A M U D E R A H I N D I A L A M P U N G. Ibukota Propinsi.
JAPAN INTERNATIONAL COOPERATION AGENCY (JICA) D i r e k t o r a t J e n d e r a l S u m b e r D a y a A i r D e p a r t e m e n P e m u k i m a n d a n P r a s a r a n a W i l a y a h R e p u b l i k I
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5. Sebaran Hotspot Tahunan BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi kebakaran hutan dan lahan yang tinggi di Provinsi Riau dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: penggunaan api, iklim, dan perubahan tata guna
Konservasi dan Rehabilitasi Lahan dan Hutan Gambut di Area PT Hutan Amanah Lestari Barito Selatan dan Barito Timur
Konservasi dan Rehabilitasi Lahan dan Hutan Gambut di Area PT Hutan Amanah Lestari Barito Selatan dan Barito Timur Program Skala Kecil ICCTF Tahun 2016 Universitas Muhammadiyah Palangkaraya Mitigasi Berbasis
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Provinsi Sumatera Selatan memiliki lahan yang cukup luas dengan sungai yang banyak dan besar. Hal ini memberikan potensi yang besar bagi pengembangan lahan pertanian
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan
Ekologi Padang Alang-alang
Ekologi Padang Alang-alang Bab 2 Ekologi Padang Alang-alang Alang-alang adalah jenis rumput tahunan yang menyukai cahaya matahari, dengan bagian yang mudah terbakar di atas tanah dan akar rimpang (rhizome)
No baik hayati berupa tumbuhan, satwa liar serta jasad renik maupun non-hayati berupa tanah dan bebatuan, air, udara, serta iklim yang saling
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI No. 5460 SDA. Rawa. Pengelolaan. Pengawasan. Pencabutan. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 180) PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
DISAMPAIKAN PADA ACARA PELATIHAN BUDIDAYA KANTONG SEMAR DAN ANGGREK ALAM OLEH KEPALA DINAS KEHUTANAN PROVINSI JAMBI
PERAN EKOSISTEM HUTAN BAGI IKLIM, LOKAL, GLOBAL DAN KEHIDUPAN MANUSIA DINAS KEHUTANAN PROVINSI JAMBI DISAMPAIKAN PADA ACARA PELATIHAN BUDIDAYA KANTONG SEMAR DAN ANGGREK ALAM OLEH KEPALA DINAS KEHUTANAN
Ringkasan Eksekutif. RAD-GRK Provinsi Sumsel RAN-GRK SRAN-REDD+
Ringkasan Eksekutif Upaya menekan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor kehutanan dan lahan gambut di Provinsi Sumatera Selatan dilakukan terutama denganmengatasi deforetasi, degradasi hutan, dan perubahan
West Kalimantan Community Carbon Pools
Progress Kegiatan DA REDD+ Mendukung Target Penurunan Emisi GRK Kehutanan West Kalimantan Community Carbon Pools Fauna & Flora International Indonesia Programme Tujuan: Pengembangan proyek REDD+ pada areal
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penggunaan Lahan
4 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penggunaan Lahan Menurut Lillesand dan Kiefer (1997) penggunaan lahan berkaitan dengan kegiatan manusia pada bidang lahan tertentu. Penggunaan lahan juga diartikan sebagai setiap
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil 5.1.1 Penutupan Lahan Penutupan lahan yang terdapat di Kalimantan Tengah terdiri atas 18 jenis penutupan lahan. Tabel 1 menyajikan penutupan lahan di Kalimantan Tengah.
Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan
Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya juga memiliki
I. PENDAHULUAN Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia terjadi setiap tahun dan cenderung meningkat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Peningkatan kebakaran hutan dan lahan terjadi
BAB 4 PERMASALAHAN DALAM PENGELOLAAN AIR. 4.1 Identifikasi Permasalahan yang Ditemui Saat Ini
Studi Pengeloaan Air Secara Menyeluruh Laporan Utama BAB 4 PERMASALAHAN DALAM PENGELOLAAN AIR 4.1 Identifikasi Permasalahan yang Ditemui Saat Ini Permasalahan dan kebutuhan yang teridentifikasi dalam studi
PENDAHULUAN. Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Hutan tropis di Indonesia meliputi areal seluas 143 juta hektar dengan berbagai tipe dan peruntukan (Murdiyarso dan Satjaprapdja, 1997). Kerusakan hutan (deforestasi) masih
KEBERLANGSUNGAN FUNGSI EKONOMI, SOSIAL, DAN LINGKUNGAN MELALUI PENANAMAN KELAPA SAWIT/ HTI BERKELANJUTAN DI LAHAN GAMBUT
KEBERLANGSUNGAN FUNGSI EKONOMI, SOSIAL, DAN LINGKUNGAN MELALUI PENANAMAN KELAPA SAWIT/ HTI BERKELANJUTAN DI LAHAN GAMBUT Dr. David Pokja Pangan, Agroindustri, dan Kehutanan Komite Ekonomi dan Industri
TATA PENGELOLAAN BANJIR PADA DAERAH REKLAMASI RAWA (STUDI KASUS: KAWASAN JAKABARING KOTA PALEMBANG)
TATA PENGELOLAAN BANJIR PADA DAERAH REKLAMASI RAWA (STUDI KASUS: KAWASAN JAKABARING KOTA PALEMBANG) Ishak Yunus Dosen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Bina Darma Palembang Pengurus Himpunan Ahli
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.209, 2014 LINGKUNGAN HIDUP. Ekosistem gambut. Perlindungan. Pengelolaan.(Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
SINTESIS RPI 5 : PENGELOLAAN HUTAN RAWA GAMBUT
SINTESIS RPI 5 : PENGELOLAAN HUTAN RAWA GAMBUT KOORDINATOR : DR. HERMAN DARYONO Bogor, Maret 2015 Tim pelaksana : Cut Rizlani, Bastoni, Adi Kunarso, Syahban, Taulana Sukandi, Sukaesih Pradjadinata, Hesti
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyusunan Rencana Kerja (Renja) merupakan bagian dari Rencana Strategis dan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor
PENDAHULUAN. daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam
11 PENDAHULUAN Latar Belakang Hutan, termasuk hutan tanaman, bukan hanya sekumpulan individu pohon, namun merupakan suatu komunitas (masyarakat) tumbuhan (vegetasi) yang kompleks yang terdiri dari pohon,
Hesti Lestari Tata Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi, KLHK
Hesti Lestari Tata Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi, KLHK Seminar Hasil Penelitian Penguatan Aksi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Jakarta, 17 Januari
POTENSI HIDROLOGI DANAU DAN LAHAN GAMBUT SEBAGAI SUMBERDAYA AIR (STUDI KASUS: DANAU AIR HITAM, PEDAMARAN, OKI)
POTENSI HIDROLOGI DANAU DAN LAHAN GAMBUT SEBAGAI SUMBERDAYA AIR (STUDI KASUS: DANAU AIR HITAM, PEDAMARAN, OKI) Muh Bambang Prayitno dan Sabaruddin Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya
BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1. Aspek Geografi Kabupaten Musi Rawas merupakan salah satu Kabupaten dalam Provinsi Sumatera Selatan yang secara geografis terletak
Dampak moratorium LoI pada hutan alam dan gambut Sumatra
Dampak moratorium LoI pada hutan alam dan gambut Sumatra - Analisa titik deforestasi Riau, Sumatra- 16 Maret 2011 oleh Eyes on the Forest Diserahkan kepada : Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto, Kepala Unit
Model Pengembangan Lahan Gambut Berkelanjutan 1
Page 1 of 5 Model Pengembangan Lahan Gambut Berkelanjutan 1 Oleh: Dedi Kusnadi Kalsim 2 Abstrak Akhir-akhir ini diberitakan sedang terjadi polemik antara Polisi (Polda Riau) dengan Departemen Kehutanan
TERM OF REFERENCE REHABILITASI HUTAN LINDUNG GAMBUT (HLG) LONDERANG DESA RAWASARI, KECAMATAN BERBAK, KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR PROYEK MCA-I RIMBA
TERM OF REFERENCE REHABILITASI HUTAN LINDUNG GAMBUT (HLG) LONDERANG DESA RAWASARI, KECAMATAN BERBAK, KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR PROYEK MCA-I RIMBA A. DASAR PELAKSANAAN Component 2: The demonstration
FOREST LANDSCAPE RESTORATION
FOREST LANDSCAPE RESTORATION Indonesia Disampaikan dalam Workshop di Wanagama, 7-8 Desember 2009 Forest Landscape Restoration? Istilah pertama kali dicetuskan pada tahun 2001 oleh para ahli forest landscape
REKALKUKASI SUMBER DAYA HUTAN INDONESIA TAHUN 2003
REKALKUKASI SUMBER DAYA HUTAN INDONESIA TAHUN 2003 KATA PENGANTAR Assalaamu alaikum Wr. Wb. Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas karunia-nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Buku
Edisi 1 No. 1, Jan Mar 2014, p Resensi Buku
Resensi Buku Edisi 1 No. 1, Jan Mar 2014, p.33-38 Judul Buku: : Rencana Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN) Tahun 2011-2030 Penyunting Akhir : Ir. Basoeki Karyaatmadja, M.Sc., Ir. Kustanta Budi Prihatno,
GREEN PROSPERITY PROJECT PERTEMUAN MITRA JENDELA-2 PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM BERBASIS MASYARAKAT
GREEN PROSPERITY PROJECT PERTEMUAN MITRA JENDELA-2 PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM BERBASIS MASYARAKAT Bogor, 23-24 Januari 2018 PEMBELAJARAN RESTORASI LAHAN GAMBUT BERBASIS MASYARAKAT MELALUI PENDEKATAN 3R
BAB I PENDAHULUAN. pada lahan gambut di Indonesia ha (18% dari seluruh luas gambut).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemanfaatan lahan gambut diwujudkan pada suatu penggunaan lahan. Lahan gambut di Indonesia dominan digunakan sebagai lahan pertanian. Luas lahan pertanian pada lahan
KRITERIA DAN STANDAR IJIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU HUTAN TANAMAN PADA HUTAN PRODUKSI
LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : 21/Kpts-II/2001 Tanggal : 31 Januari 2001 KRITERIA DAN STANDAR IJIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU HUTAN TANAMAN PADA HUTAN PRODUKSI No KRITERIA STANDAR
HASIL DAN PEMBAHASAN
46 HASIL DAN PEMBAHASAN A Verifikasi Data Hotspot Verifikasi data hotspot dilakukan terhadap data hotspot Bulan Januari sampai Bulan Mei 2005 yang bersumber dari stasiun pengamat kebakaran JICA (Japan
PERKEMBANGAN IPM 6.1 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA. Berdasarkan perhitungan dari keempat variabel yaitu:
PERKEMBANGAN IPM Angka IPM Kabupaten OKU Selatan dari tahun ke tahun terus meningkat. Akan tetapi karena nilai percepatan capaian (reduksi shortfall) setiap tahunnya kecil maka pada tahun 2011 peringkat
1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rusa timor (Rusa timorensis Blainville 1822) merupakan salah satu jenis satwa liar yang hidup tersebar pada beberapa wilayah di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa sampai
Pemantauan Pembakaran Hutan dan Lahan di Perkebunan PT Bertuah Aneka Yasa Oktober 2015
Pemantauan Pembakaran Hutan dan Lahan di Perkebunan PT Bertuah Aneka Yasa Oktober 2015 A. Penjelasan Izin PT Bertuah Aneka Yasa Kabupaten/Provinsi; Indragiri Hulu/Riau. Izin (luas); SK Bupati Indragiri
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Isu lingkungan tentang perubahan iklim global akibat naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menjadi
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Isu lingkungan tentang perubahan iklim global akibat naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menjadi prioritas dunia saat ini. Berbagai skema dirancang dan dilakukan
VI. REKOMENDASI KEBIJAKAN
158 VI. REKOMENDASI KEBIJAKAN Pengelolaan lahan gambut berbasis sumberdaya lokal pada agroekologi perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Bengkalis dilakukan berdasarkan atas strategi rekomendasi yang
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,
dampak perubahan kemampuan lahan gambut di provinsi riau
dampak perubahan kemampuan lahan gambut di provinsi riau ABSTRAK Sejalan dengan peningkatan kebutuhan penduduk, maka kebutuhan akan perluasan lahan pertanian dan perkebunan juga meningkat. Lahan yang dulunya
BAB V PERBANDINGAN REGIONAL
BAB V PERBANDINGAN REGIONAL 47 Analisis perbandingan PDRB Kabupaten Empat Lawang dengan kabupaten/ kota lain yang ada di wilayah Sumatera Selatan ini difokuskan dengan menggunakan teknik analisis Tipologi
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan hasil evaluasi komoditas pertanian pangan di kawasan budiddaya di Kecamatan Pasirjambu, analisis evaluasi RTRW Kabupaten Bandung terhadap sebaran jenis pertanian
KINERJA PENGENDALIAN PEMANFAATAN LAHAN RAWA DI KOTA PALEMBANG TUGAS AKHIR. Oleh: ENDANG FEBRIANA L2D
KINERJA PENGENDALIAN PEMANFAATAN LAHAN RAWA DI KOTA PALEMBANG TUGAS AKHIR Oleh: ENDANG FEBRIANA L2D 306 007 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008 ABSTRAK
OLEH: LALU ISKANDAR,SP DINAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH
MANAJEMEN PENGELOLAAN HUTAN DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH OLEH: LALU ISKANDAR,SP KEPALA DINAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH DISAMPAIKAN PADA LOKAKARYA REDD+ KOICA-FORDA-CIFOR SENGGIGI,
PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE DAN EKOSISTEM PANTAI
SINTESIS RPI 4 PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE DAN Koordinator Endro Subiandono Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi Bogor, 2015 Luaran RPI-4 dan Strategi Pencapaiannya Melalui berbagai Kegiatan Penelitian
2 menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia tentang Rawa; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 t
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.797, 2015 KEMEN PU-PR. Rawa. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.6/Menhut-II/2010 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.6/Menhut-II/2010 TENTANG NORMA, STANDAR, PROSEDUR DAN KRITERIA PENGELOLAAN HUTAN PADA KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG (KPHL) DAN KESATUAN PENGELOLAAN
MODEL IMPLENTASI KEBIJAKAN PENGELOLAAN MANGROVE DALAM ASPEK KAMANAN WILAYAH PESISIR PANTAI KEPULAUAN BATAM DAN BINTAN.
MODEL IMPLENTASI KEBIJAKAN PENGELOLAAN MANGROVE DALAM ASPEK KAMANAN WILAYAH PESISIR PANTAI KEPULAUAN BATAM DAN BINTAN Faisyal Rani 1 1 Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Riau 1 Dosen
PERENCANAAN PENGELOLAAN DAS TERPADU. Identifikasi Masalah. Menentukan Sasaran dan Tujuan. Alternatif kegiatan dan implementasi program
Konsep Perencanaan Pengelolaan DAS Terpadu, dengan ciri-ciri sebagai berikut (1) hutan masih dominant, (2) satwa masih baik, (3) lahan pertanian masih kecil, (4) belum ada pencatat hidrometri, dan (5)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lahan merupakan sumber daya yang sangat penting untuk menunjang segala kebutuhan hidup semua mahluk hidup. Sehingga dalam pengelolaannya, lahan tersebut harus sesuai
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Letak dan Luas. Komponen fisik
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Letak dan Luas Daerah penelitian mencakup wilayah Sub DAS Kapuas Tengah yang terletak antara 1º10 LU 0 o 35 LS dan 109 o 45 111 o 11 BT, dengan luas daerah sekitar 1 640
PENATAAN HIDROLOGI LAHAN GAMBUT DALAM KERANGKA MENGURANGI KEBAKARAN DAN KABUT ASAP
LESTARI BRIEF LESTARI Brief No. 04 I 27 Juli 2016 USAID LESTARI PENATAAN HIDROLOGI LAHAN GAMBUT DALAM KERANGKA MENGURANGI KEBAKARAN DAN KABUT ASAP Penulis: Christopher Bennett Editor: Suhardi Suryadi PENGANTAR
I. PENDAHULUAN Latar Belakang. dan hutan tropis yang menghilang dengan kecepatan yang dramatis. Pada tahun
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring dengan perkembangan teknologi dan peningkatan kebutuhan hidup manusia, tidak dapat dipungkiri bahwa tekanan terhadap perubahan lingkungan juga akan meningkat
Pemetaan Keanekaragaman Hayati Dan Stok Karbon di Tingkat Pulau & Kawasan Ekosistem Terpadu RIMBA
Pemetaan Keanekaragaman Hayati Dan Stok Karbon di Tingkat Pulau & Kawasan Ekosistem Terpadu RIMBA Arahan Dalam EU RED Terkait Sumber Biofuel Ramah Ligkungan - Penggunaan biofuel harus bersumber dari penggunaan
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang selain merupakan sumber alam yang penting artinya bagi
