Anton Talok Program Studi Sistem Komputer, Universitas Bina Nusantara,
|
|
|
- Iwan Chandra
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 SISTEM PENYETIMBANG HELIKOPTER EMPAT BALING-BALING MENGGUNAKAN MEKANISME PID Anton Talok Program Studi Sistem Komputer, Universitas Bina Nusantara, John Reigton Hartono Program Studi Sistem Komputer, Universitas Bina Nusantara, Rudy Susanto Program Studi Sistem Komputer, Universitas Bina Nusantara, ABSTRAK Robot terbang sudah banyak digunakan dewasa ini, perkembangan robot terbang membutuhkan dua hal yang sangat vital, kebutuhan akan data yang aktual, juga sistem penyeimbangan yang cepat merespon. Untuk mendapatkan data yang aktual dibutuhkan filter yang baik. Filter yang digunakan penulis diteliti dengan membandingkan data filter dan data tanpa filter, juga data filter dan kenyataan. Untuk sistem penyetimbang, sistem pengaturan penulis, dibandingan dengan sistem yang telah dikembangkan, dalam waktu penyetimbangan. Dengan membandingkan filter maka penelitian ini dapat mengetahui kemampuan filter dan dengan membandingkan sistem penyetimbang maka dapat diketahui perkembangan yang dibuat oleh sistem yang telah diperbaharui. Sistem yang telah dibuat menggunakan filter yang sederhana tetapi memiliki tingkat ketelitian dibawah 2% pada kondisi diam dan sistem penyetimbang dapat menyeimbangkan dalam waktu sekitar 1 detik. Dari percobaan yang dilakukan diketahui bahwa sistem yang dibuat mampu memperbaiki waktu penyetimbangan dari peneliti sebelumnya. Ketelitian filter masih dapat ditingkatkan lagi. Waktu terbang yang terbatas membuat pengambilan data lebih sulit. Kata kunci: data, aktual, ketelitian, penyetimbangan, waktu, memperbaiki. PENDAHULUAN Dewasa ini perkembangan teknologi mengubah setiap sendi kehidupan manusia dan lingkungannya. Banyak dari teknologi itu yang berakibat buruk, digunakan untuk perang dan perbuatan keji lainnya, tetapi tidak sedikit pula yang digunakan untuk kebaikan bersama. Mulai dari yang memudahkan kehidupan kita sampai yang diperuntukan untuk menyelamatkan jiwa. Perkembangan dunia robotika tentu saja juga ikut bersama perkembangan teknologi. Salah satunya adalah perkembangan robot udara. Sejak tahun 2009 sebuah grup yang terdiri dari mahasiswa dan pembimbingnya dari University of Pennsylvania telah mengembangkan robot udara berukuran kecil yang mampu berkoordinasi satu sama lain untuk membuat suatu kerja sama yang rumit (Michael, Mellinger, Lindsey, & Kumar, 2010). Tahun 2011 saudara-saudara kita di Jepang baru saja diserang gempa dan tsunami yang diikuti bencana nuklir terbesar setelah Chernobyl. Dalam upaya pemulihan salah satu generator nuklirnya, Jepang menggunakan robot untuk masuk ke dalam generator tersebut. Penggunaan robot ditempat tempat seperti inilah yang menjadi sasaran utama pengembang teknologi. Teknologi untuk membantu kehidupan manusia. (Fujita, 2012) (Wakamiya, 2012) Salah satu kebutuhan untuk menangani bencana alam di Indonesia adalah kebutuhan akan pencarian korban selamat di tempat-tempat yang sulit dijangkau oleh tim SAR. Di sinilah robot udara mengambil bagian, penggunaan robot udara dalam operasi pencarian korban akan menghemat waktu yang membuat peluang para korban untuk bertahan hidup makin besar. Sebenarnya sudah banyak Micro
2 Unmanned Aerial Vehichle (MAV) yang ada, baik dengan tujuan komersial maupun tujuan penelitian, salah satunya adalah GARSP oleh Daniel Mellinger, Michael Shomin, dan Vijay Kumar (Mellinger, Lindsey, Shomin, & Kumar, 2011) Robot udara yang memiliki kemampuan seperti ini salah satunya adalah Quadrotor, atau sebuah helicopter dengan empat baling-baling. Penelitian tentang robot jenis ini telah dilakukan sejak lama, tetapi salah satu penyusun yang terus berkembang adalah algoritma untuk membuat robot ini tetap seimbang di udara. Salah satunya menggunakan sistem pengaturan menggunakan PD Stabilization of a Four Rotor UAV ( National Information and Communications Technology Australia, Hugo Meric, 2009) (Meric, 2009) pada penelitian ini didapatkan ternyata sistem cukup stabil tetapi waktu untuk melakukan penyetimbangan cukup lama, ada juga yang mengunakan Linear Quadratic Gaussian (LQG) yang merupakan gabungan LQR atau Linear Quadratic Regulator dan Kalman Filter, Quadrotor Prototype (Universidade Técnica de Lisboa, Jorge Miguel Brito Domingues, 2009) (Domingues, 2009) pada penelitian ini peneliti mengalami kesulitan dalam menangkap perilaku robot meskipun sudah menggunakan sensor yang mencukupi tetapi kadang sensor masih mengalami kesalahan. Keduanya menyarankan penggunaan sensor yang lebih banyak untuk lebih baik untuk penelitian lebih lanjut. Dari kedua penelitian sebelumnya muncul ide untuk membuat sebuah sistem dengan menggunakan PID dan penambahan sensor untuk membuat sistem lebih cepat dalam penyetimbangan dan menambahkan perlindungan disekitar sensor karena pembacaan sensor dirasa kurang baik. Serta menggunakan filter yang mudah untuk terus dikembangkan, yakni filter yang dapat digunakan untuk semua sistem, dalam hal ini filter untuk mendapatkan nilai sudut yang akurat dari nilai sensor. Penelitian ini dibuat untuk mengatasi masalah pengaturan keseimbangan helikopter empat baling-baling agar dapat menjadi salah satu ujung tombak pada saat dibutuhkan di area bencana. Penggunaan catu daya sebagai penganti minyak bumi pada pesawat aeromodeling membuatnya mudah untuk diisi kembali dan lebih ramah lingkungan, yang menambah nilai postif dari penelitian ini. Helikopter empat baling-baling atau Quadcopter, merupakan pesawat udara yang mendapatkan gaya ungkitnya dari empat buah baling-baling. Gambar 1. Konfigurasi baling-baling tampak atas Baling-baling diposisikan seperti pada Gambar 1. Satu pasang baling-baling diposisikan bersebrangan, dengan putaran searah jarum jam, dan satu pasang yang lain dengan putaran berlawanan arah jarum jam, berada tegak lurus terhadap pasangan baling-baling yang lain. Adanya gaya rekasi dari perputaran baling-baling yang berlawanan arah dari putaran itu sendiri, membuat konfigurasi ini diperlukan, dengan menerapkan perputaran yang sama di setiap baling-baling, maka gaya ini akan ditiadakan oleh masing-masing pasangan baling-baling. Ada 3 manuver dasar yang dapat dilakukan oleh quadcopter, yakni bergerak secara horizontal, bergerak kecara vertikal, dan berotasi terhadap sumbu vertikal. Gerakan vertikal dilakukan dengan menerapkan putaran yang sama kepada semua baling-baling. Gerakan horizontal dilakukan dengan memiringkan quadcopter ke arah yang dinginkan,bila quadcopter ingin bergerak ke arah baling-baling 1, maka baling-baling 1 akan diperlambat, dan baling-baling 3 akan dipercepat, untuk mempertahankan besar gaya reaksi, sedangkan baling-baling 2 dan 4 tetap. Gerakan rotasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan gaya reaksi, untuk bergerak serah jarum jam, maka baling-baling dengan perputaran berlawanan jarum jam harus dipercepat. untuk dapat melakukan semua gerakan ini tentu saja dibutuhkan sistem pengaturan yag baik. Definisi sistem pengaturan menurut Princeton yaitu Sebuah sistem untuk mengatur kerja dari sistem lain. Sistem pengaturan memiliki banyak variasi, tetapi bagian yang pasti ada dalam sebuah
3 proses pengaturan adalah, input sebagai nilai yang inginkan untuk terjadi, sistem pengaturan itu sendiri, sistem yang ingin diatur atau plant, dan output sebagai nilai yang terjadi. Salah satu sistem pengaturan yang ada adalah sistem pengaturan PID Pada sistem pengaturan PID diperlukan umpan balik dari hasil akhir sistem yang akan digunakan sebagai nilai error, nilai yang kemudian akan dimanipulasi dan dikalikan dengan konstanta PID, hasil dari operasi ini kemudian akan dikirimkan kepada plant. Kadang kala nilai dari sebuah sistem pengaturan PID masih kurang baik dalam mengatur plant. Ada pendekatan berupa sistem pengaturan PID di dalam sistem pengaturan PID yang lain, atau nested PID. Sistem pengaturan nested PID digunakan karena dengan menggunakan lebih dari sistem pengaturan PID membuat respon terhadap nilai error yang besar mendapat respon yang agresif, karena adanya dua kali proses, dan pada saat nilai error kecil, sistem akan merespon dengan lebih konservatif. Kedua hal ini diakibatkan oleh sifat dari PID yang satu diperbesar oleh PID yang lain. Sistem pengaturan seperti PID atau nested PID dapat bekerja dengan baik bila umpan balik yang akan dijadikan acuan, merupakan nilai yang baik, untuk mendpatkan nialai umpan balik yang baik, tidak didominasi oleh noise, maka dibutuhkan sebuah filter untuk hilangkan noise tersebut. Complementary filter merupakan filter yang digunakan untuk menggabungkan dua buah data dengan karakter derau atau noise yang berbeda, satu data dengan frekuensi derau tinggi dan satu lagi dengan frekuensi derau rendah. Kedua data ini akan olah dengan filter low-pass untuk yang memiliki frekuensi derau tinggi dan high-pass untuk yang memiliki frekuensi derau rendah. Hasil olahan dua data ini kemudian akan kombinasikan untuk membentuk nilai yang lebih baik. Rumus di atas merupakan contoh complementary filter yang diterapkan untuk menggabungkan data dari accelerometer yang memiliki frekuensi derau tinggi dan gyroscope yang memiliki frekuensi derau rendah. Nilai a merupakan konstanta filter yang ditentukan oleh time constant dari filter, time constant merupakan kerangka waktu dimana filter bekerja, yang juga dipengaruhi oleh dt atau sampling rate. Baik sistem pengaturan maupun filter dimaksudkan untuk menyelesaikan 2 masalah, yakni data dari sensor yang memiliki derau, dan waktu penyetimbangan yang masih bisa dipersingkat. Kedua masalah inilah yang coba diselesaikan penulis melalui penelitian ini. METODE PENELITIAN Metode yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan pertama membuat quadcopter itu sendiri. Sensor accelerometer dan gyroscope digunakan sebagai pemantau gerakan quadcopter, ATmega2560 digunakan sebagai pusat pemrosesan, ini adalah dua komponen utama, selain dua komponen ini ada pula remote control sebagai pemberi input, beberapa sensor lainnya untuk pengembangan sensor dikemudian hari. Dari sisi peranti lunak digunakan Arduino pada Quadcopter, dan untuk mengamati nilai yang dihasilkan oleh quadcopter digunakan Qt pada komputer.secara umum blok diagram dari sistem adalah sebagai berikut
4 Gambar 2. Blok Diagram Sistem Blok diagram di atas menggambarkan sistem yang dibangun, terbagi menjadi 3 bagian, input, proses dan output. Di mana input sistem adalah sensor dan remote control. Pada mikrokontroller terdapat beberapa bagian penting yang mempengaruhi kestabilan sistem di mana terdapat 2 PID yang mengontrol sistem dengan input sudut yang dihasilkan oleh complimentary filter. Complimentary filter menghasilkan nilai sudut sistem dari nilai sensor accelerometer dan gyroscope. Nilai kontrol yang dihasilkan oleh PID disimpan ke dalam variable motor command yang kemudian ditranslasikan menjadi sinyal PWM dan diteruskan ke ESC. ESC yang mendapat input sinyal PWM akan menggerakkan motor sesuai kecepatan yang dikirimkan oleh mikrokontroller. Sedangakan untuk diagram alir dari program pada mikrokontroler dapat dilihat sebagai berikut. Gambar 3. Diagram alir program Mikrokontroller akan melakukan inisialisasi kondisi sistem awal, variabel, timer, PWM dan sensor pada saat pertama kali dijalankan. Pada rutin program utama, dimanfaatkan variabel F sebagai flag yang menetukan pergantian berjalannya rutin-rutin sekunder yang menunjang kebutuhan stabilisasi.
5 Dengan memanfaatkan fungsi timer, mikrokontroller akan melakukan rutin utama setiap 10ms (100Hz) di mana akan dilakukan pengambilan nilai sensor dan menghitung orientasi sistem. Nilai orientasi sistem kemudian akan menjadi input PID controller sebagai current value. Hasil output PID kemudian digunakan untuk memanipulasi kecepatan motor pada sumbu yang akan diubah besar sudutnya. Nilai kecepatan motor yang didapat kemudian ditranslasikan menjadi sinyal PWM yang dikeluarkan ke pin mikrokontroller dan terhubung ke ESC. Pada akhir rutin utama dilakukan penambahan nilai flag F dengan nilai 1. Mikrokontroller akan memeriksa nilai flag F dan memutuskan rutin yang akan dilakukan selanjutnya. Pada rutin kedua yang dilakukan setiap 200ms (50Hz), mikrokontroller akan mengambil nilai dari remote control yang akan menjadi input PID controller sebagai desired value. Mikrokontroller juga akan membaca nilai sensor barometer dan melakukan penahanan ketinggian sistem. Pada rutin ketiga akan dilakukan setiap 100ms (10Hz) di mana mikrokontroller akan melakukan penjagaan arah hadap sistem dan pembacaan perintah dari PC melalui komunikasi serial.penjagaan arah hadap sistem dan pembacaan perintah dari PC melalui komunikasi serial. Setelah sistem terbangun, maka dilakukan penelitian pada perubahan yang telah dilakukan oleh penulis, penelitian ini dibagi menjadi dua, mengacu pada dua masalah yang ingin diselesaikan diawal. Masalah pertama yakni derau yang sanagat menggaunggu dicoba untuk diselesaikan dengan complementary filter maka percobaan pertama yang dilakukan adalah mengetahui apakah filter ini bekerja dengan baik. Setelah diketahui bahwa filter bekerja, maka akan dilakukan percobaan untuk mengetahui tingkat kesalahan dari filter itu sendiri.percobaan ini enting untuk mengetahui tingkat keabsahan (valid) data yang akan digunakan setelah ini. Setelah filter dirasa sudah cukup baik, maka akan dilanjutkan dengan percobaan untuk sistem pengaturan. Percobaan mengenai sistem pengaturan dibagi menjadi 4 bagian, bagian pertama mengecek nilai pengaturan kecepatan terhadap perubahan sudut, dicoba untuk mengetahui apakah sistem pengaturan bekerja. Setelah mengetahui bahwa sistem pengaturan bekerja maka dilakukan penyesuaian nilai PID. Setelah pengaturan dirasa sudah maksimal, maka langkah kedua adalah membandingan 2 grafik sudut dari PID dan nested PID. Dicoba untuk mengetahui adanya perkembangan dari sistem terdahulu yang menggunakan hanya PID, dan apakah sistem berhasil menyeimbangkan diri dengan baik. Membandingkan waktu penyetimbangan sistem dengan sistem-sistem terdahulu (Meric, 2009) (Domingues, 2009). Setelah sistem sudah dibandingkan dengan sistem terdahulu, langkah selanjutnya adalah melihat sistem secara umum dengan membandingan sudut yang dinginkan dengan sudut yang didapat, dites, agar mengetahui apakah sistem sudah bekerja dengan baik. IMPLEMENTASI DAN ANALISIS
6 Gambar 4. Perbandingan sudut diam Gambar 4 menunjukan potongan data dimana sistem seharusnya dalam kondisi datar, tetapi ternyata ada kemiringan 0,5 derajat pada bidang di mana sistem diletakan. Pada gambar terlihat nilai sudut dari accelerometer sangat berderau meski telah diberikan low-pass filter, sedangkan nilai sudut dari gyroscope terlihat sangat baik, tetapi seiring dengan berjalannya waktu terjadi pergeseran pada nilainya. Nilai pada complimentary filter terlihat jauh lebih baik dari kedua nilai yang lain karena nilainya paling mendekati dengan keadaan sebenarnya. Gambar 5. Perbandingan sudut bergerak Pada gambar 5 ini sangat jelas terlihat keunggulan menggunakan complemenary filter dari pada menggunakan satu data sensor. Dan juga terlihat akibat dari low-pass filter pada accelerometer, yang membuat data accelerometer agat terlambat merespon perubahan sudut yang mendadak. Sedangkan untuk nilai dari gyroscope tetap terjadi pergeseran, meski sempat mendekati nilai yang benar saat ada pertambahan sudut. Nilai accelerometer yang digunakan di sini telah sebelumnya dilakukan low-pass filter karena nilainya terlalu acak bila tidak, sedangkan untuk gyroscope, karena derau yang tidak banyak berubah, maka tidak digunakan low-pass filter. Untuk menghitung tingkat akurasi dari complementary filter sistem dimiringkan sejauh 60 derajat, dan dibandingkan dengan hasil perhitungan pada complementary filter. Gambar 6. Perbandingan kesalahan sudut
7 Nilai yang didapat adalah 61 derajat atau terjadi kesalah sebesar 1 derajat Nilai ini terbilang sangat kecil, dan dapat diterima jika mengingat, hasil dari accelerometer yang naik turun penuh noise dengan simpangan sampai 2 derajat pada kondisi diam. Dan gyroscope yang mengalami pergeseran nilai yang sangat besar hampir 0.2 derajat per detik, yang tentu saja sangat mengkhawatirkan jika digunakan untuk penerbangan lebih dari 1 menit. Dari percobaan ini terbukti bahwa complementary filter cukup baik dalam menghasilkan nilai sudut dari sensor yang berderau, nilai ini belum dikurangi dengan kemungkinan kesalahan dalam membentuk bidang 60 derajat Setelah mengetahui bahwa referensi sudut yang digunakan cukup memuaskan maka berikutnya yang perlu dites adalah apakah sistem dapat melakukan perhitungan dan menghasilkan nilai pengaturan akan kemiringan sistem yang terjadi. Gambar 7. Nilai Pengaturan perubahan drastis Terlihat pada gambar 7 bila ada perubahan sedikit saja pada kemiringan sistem, sistem langsung dapat meresponnya dengan baik, dalam hal ini terlihat saat sistem mendongak hampir 30 derajat, dihasilkan nilai pengaturan sekitar 150, dengan motor depan dikurangi kecepatannya, dan motor belakang dipercepat, hal ini dilakukan untuk memberikan daya ungkit balik agar sistem dapat stabil. Nilai ini terus dipertahankan oleh sistem selama adanya perbedaan sudut input dengan sudut aktual. Terlihat pada awal saat sudut aktual menunjukan 0 derajat, terdapat perbedaan kecepatan hampir 50 dari kedua motor atau nilai pengaturan sebesar 25 Hal ini terjadi kerena input dari remote control pada saat itu tidak menunjukan sekarang nilai 0 tetapi nilai yang berbeda. Hal ini di mungkinkan karena remote control tidak selalu mengeluarkan nilai yang pas. Tetapi dapat dihilangkan dengan trimming remote control atau menggeser nilai 0 pada remote control untuk mengatasi kekurangan remote control tersebut
8 S u d ut (d er aj at Roll Pitch Waktu(detik) Gambar 8. Hasil percobaan penyeimbangan rotasi pada sumbu x terhadap sumbu y(pitch) Pada percobaan ini sistem dicoba untuk menyeimbangkan kembali kemiringan sebesar 44,07 yang diselesaikan dalam 0,9 detik. Lebih cepat dari simulasi yang dibuat oleh Hugo Meric yakni 2 detik (Meric, 2009) atau pun dari hasil pengaplikasian LQG oleh Jorge Miguel Brito Domingues, yakni 5 detik. (Domingues, 2009). Nilai yang digunakan adalah PID accel atau PID luar dengan nilai PID secara berturut 4; 0; 0, dan PID gyro atau PID dalam dengan nilai PID berturut-turut 100; 0; Roll Pitch S ud ut (d er Waktu(s) Gambar 9. Hasil percobaan penyeimbangan rotasi pada sumbu y terhadap sumbu x(roll) Gambar 9 kembali sistem dicoba secara detail dengan simpangan 35,46, tetapi ada osilasi sebesar 1,5 derajat yang ternyata pada fisiknya tidak berpengaruh. Waktu penyetimbangan sekitar 1 detik, sistem ini kembali lebih cepat dari simulasi Hugo Meric selama 2 detik (Meric, 2009). Dengan hasil ini maka untuk respon roll dari sistem ini lebih cepat 50% dari simulasi Hugo Meric atau lebih cepat 1 detik. (Meric, 2009) Dan untuk respon pitch dari sistem ini lebih cepat 50% atau 1 detik dari simulasi Hugo Meric, dan lebih cepat 80% atau 8 detik dari Jorge Miguel Brito Domingues. (Meric, 2009) (Domingues, 2009)
9 Roll Pitch Gambar 10. Hasil percobaan dengan PID dalam saja Pada PID biasa menggunakan PID dalam saja, bukan menggunakan nested PID seperti sebelumnya. Terjadi perubahan yang sangat signifikan, sistem yang asalnya mengacu pada sudut dan pergerakan, sekarang hanya mengawasi pergerakan, hal ini membuat sistem tidak dapat merespon gangguan yang terus menerus, seperti perubahan sudut pada bagian pertama, sistem setelahnya hanya bisa menahan posisi miring tersebut. Hal itu terus berulang meski sistem sudah di kembalikan ke posisi awal, dan kemudian diberikan gangguan lain. Maka dari itu lebih baik menggunakan nested PID karena nilai yang di jadikan acuan ada dua, yakni nilai sudut itu sendiri dan nilai pergerakannya. Gambar 11. Respon Sudut Terlihat bahwa sistem membutuhkan waktu sekitar 1 detik untuk mengaktualkan respon yang diberikan oleh remote control, pada saat menaikan sudut terlihat bahwa sistem dapat merespon dengan baik, kesalahan mulai terlihat pada saat sistem diperintahkan untuk membentuk sudut negatif, hal ini dikarenakan motor 3 pada saat pengujian sebelumnya drivernya mengalami kerusakan, kemungkinan motor mengalami gangguan dan performanya tidak sama dengan yang lain, yang mengakibatkan terjadi perbedaan. SIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan yang didapat dari penelitian di atas adalah: 1. Pengaturan dengan menggunakan nested PID terbukti lebih baik dibanding dengan menggunakan PID biasa. Dilihat dari percobaan menggunakan PID saja, yang tidak berhasil menyetimbangkan, hanya berhasil menahan posisi apakah itu seimbang atau tidak. Sedangkan nested PID berhasil menyeimbangkan dalam waktu sekitar 1 detik
10 2. Penggunaan nested PID dan complementary filter terbukti cukup memperbaiki waktu penyetimbangan sistem, dibanding dengan peneliti terdahulu pada (Meric, 2009) 2 detik dan (Domingues, 2009) 5 detik. Sistem yang disusun peneliti berhasil menyeimbangkan dalam waktu sekitar 1 detik. 3. Penyetimbangan pada sumbu x dan y terbukti cukup menggunakan dua buah sensor yakni accelerometer dan gyroscope. Karena menghasilkan tingkat kesalahan 1,6%. Penggunaan filter yang lebih baik disarankan. 4. Pada praktiknya complementary filter memiliki kesalahan yang lebih besar daripada saat pengujian. Kadang mencapai 10% pada gerapan maksimal 90, di luar 90 tidak diujikan. 5. Dibutuhkan filter yang lebih presisi dalam menghitung sudut, dan memiliki beban kumputasi yang tidak besar. Dengan tingkat kesalahan pada posisi diam di bawah 1,6% dan pada saat bergerak di bawah 6. Penggunaan XBEE sebagai media transfer data terbukti kurang efektif karena data sering terputus yang membuat pengawasan nilai menjadi sulit, pada penelitian ini tidak dilampirkan data dari XBEE karena alasan dia atas. 7. Lama waktu percobaan sangat terbatas dan menghambat pengambilan data, dikarenakan kapasitas baterai yang kecil 8. Nilai PID yang digunakan pada PIDpitch adalah Accel P : 4 I : 0 D : 0 Gyro P : 100 I : 0 D : Nilai PID yang digunakan pada PIDroll adalah Accel P : 4 I : 0 D : 0 Gyro P : 100 I : 0 D : -350 Untuk penelitian tentang quadcopter disarankan 1. Menggunakan filter selain kalman filter dan complementary filter, karena kalman filter memiliki beban komputasi tinggi, dan complementary filter kurang teliti, disarankan menggunakan filter berbasis quarterion, 2. Memberikan pelindung di sekitar motor dan baling-baling 3. Menggunakan baterai dengan kapasitas yang lebih besar. 4. Menambahkan battery monitor. DAFTAR PUSTAKA Domingues, J. M. (2009). Quadrotor prototype. Master's Thesis, Universidad Técnica de Lisboa, Instituto Superior Técnico, Lisboa. Fujita, T. (2012, Desember 8). Hitachi unveils robot to help cleanup at Fukushima plant. Retrieved Januari 01, 2013, from The Asahi Shimbun: Mellinger, D., Lindsey, Q., Shomin, M., & Kumar, V. (2011, September 25-30). Design, Modeling, Estimation and Control for Aerial Grasping and Manipulation. International Conference onintelligent Robots and Systems, Meric, H. (2009). Stabilization of a four rotors UAV. Master's Thesis, Institut Supérieur de l'aéronautique et de l'espace & National ICT Australia, Toulouse & Canberra. Michael, N., Mellinger, D., Lindsey, Q., & Kumar, V. (2010, September). The GARSP Multiple Micro UAV Testbed. IEEE Robotic And Automastion Magazine, 17(3), Wakamiya, Y. (2012, Desember 08). New robot designed for use in high radiation environments. Retrieved Januari 01, 2013, from The Asahi Shimbun:
BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan teknologi mengubah setiap sendi kehidupan manusia
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini perkembangan teknologi mengubah setiap sendi kehidupan manusia dan lingkungannya. Banyak dari teknologi itu yang berakibat buruk, digunakan untuk perang
BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Internasional Batam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesawat terbang model UAV (Unmanned Aerial Vehicle) telah berkembang dengan sangat pesat dan menjadi salah satu area penelitian yang diprioritaskan. Beberapa jenis
SISTEM KENDALI DAN MUATAN QUADCOPTER SEBAGAI SISTEM PENDUKUNG EVAKUASI BENCANA
1022: Ahmad Ashari dkk. TI-59 SISTEM KENDALI DAN MUATAN QUADCOPTER SEBAGAI SISTEM PENDUKUNG EVAKUASI BENCANA Ahmad Ashari, Danang Lelono, Ilona Usuman, Andi Dharmawan, dan Tri Wahyu Supardi Jurusan Ilmu
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS Pada skripsi ini dilakukan beberapa pengujian dan percobaan untuk mendapatkan hasil rancang bangun Quadcopter yang stabil dan mampu bergerak mandiri (autonomous). Pengujian
BAB IV PENGUJIAN SISTEM DAN ANALISIS
BAB IV PENGUJIAN SISTEM DAN ANALISIS Pada bab ini akan ditampilkan dan penjelasannya mengenai pengujian sistem dan dokumuentasi data-data percobaan yang telah direalisasikan sesuai dengan spesifikasi yang
BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1. Letak CoM dan poros putar robot pada sumbu kartesian.
BAB II DASAR TEORI Pada bab ini akan dibahas beberapa teori pendukung yang digunakan sebagai acuan dalam merealisasikan sistem yang dirancang. Teori-teori yang digunakan dalam realisasi skripsi ini antara
Sudut VS Waktu Sampling (a=0.95)
BAB IV HASIL PENGUJIAN DAN ANALISA 1.1. Pengujian Accelerometer dan Low Pass Filter Pengujian ini dilakukan dengan mengganti nilai koefisien low pass filter, dari pergantian nilai tersebut akan terlihat
Pembuatan Model Quadcopter yang Dapat Mempertahankan Ketinggian Tertentu
Jurnal Teknik Elektro, Vol. 9, No. 2, September 26, 49-55 ISSN 4-87X Pembuatan Model Quadcopter yang Dapat Mempertahankan Ketinggian Tertentu DOI:.9744/jte.9.2.49-55 Wili Kumara Juang, Lauw Lim Un Tung
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Mikrokontroller AVR Mikrokontroller adalah suatu alat elektronika digital yang mempunyai masukan serta keluaran serta dapat di read dan write dengan cara khusus. Mikrokontroller
Sistem Kendali Penerbangan Quadrotor Pada Keadaan Melayang dengan Metode LQR dan Kalman Filter
IJEIS, Vol.7, No., April 207, pp. 49~60 ISSN: 2088-374 49 Sistem Kendali Penerbangan Quadrotor Pada Keadaan Melayang dengan Metode LQR dan Kalman Filter Andi Dharmawan*, Ivan Fajar Arismawan 2 Department
BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. (secara hardware).hasil implementasi akan dievaluasi untuk mengetahui apakah
BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Pelaksanaan dari perancangan telah dibuat dan dijelaskan pada Bab 3, kemudian perancangan tersebut diimplementasi ke dalam bentuk yang nyata (secara hardware).hasil implementasi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN BAB 1. 1.1 Latar Belakang Gerak terbang pada pesawat tanpa awak atau yang sering disebut Unmanned Aerial Vehicle (UAV) ada berbagais macam, seperti melayang (hovering), gerak terbang
BAB 3 PERANCANGAN SISTEM
BAB 3 PERANCANGAN SISTEM 3.1 Perancangan Sistem Secara Umum Sistem pada penelitian ini akan menyeimbangkan posisi penampang robot dengan mengenal perubahan posisi dan kemudian mengatur kecepatan. Setiap
BAB IV HASIL DAN ANALISA
BAB IV HASIL DAN ANALISA 4.1 Hasil Perancangan Hasil perancangan pada sistem ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu hasil perancangan quadrotor, embedded system dan ground control. 4.1.1 Hasil Perancangan
Rancang Bangun Sistem Takeoff Unmanned Aerial Vehicle Quadrotor Berbasis Sensor Jarak Inframerah
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1 (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271 F-50 Rancang Bangun Sistem Takeoff Unmanned Aerial Vehicle Quadrotor Berbasis Sensor Jarak Inframerah Bardo Wenang, Rudy Dikairono, ST., MT.,
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau biasa disebut pesawat tanpa awak saat ini sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat di dunia. Penggunaan UAV dikategorikan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Unmanned aerial vehicles (UAVs) atau wahana tanpa awak merupakan wahana terbang tanpa ada yang mengendalikan penerbangan wahana tersebut. Sebuah UAV dapat berupa pesawat
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam melakukan pengambilan gambar di udara, banyak media yang bisa digunakan dan dengan semakin berkembangnya teknologi saat ini terutama dalam ilmu pengetahuan, membuat
BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN PEMBAHASAN
BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN PEMBAHASAN 4.1 Uji Coba Alat Dalam bab ini akan dibahas mengenai pengujian alat yang telah dibuat. Dimulai dengan pengujian setiap bagian-bagian dari hardware dan software yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang robotika pada saat ini berkembang dengan sangat cepat. Teknologi robotika pada dasarnya dikembangkan dengan tujuan untuk
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sudah menjadi trend saat ini bahwa pengendali suatu alat sudah banyak yang diaplikasikan secara otomatis, hal ini merupakan salah satu penerapan dari perkembangan teknologi dalam
BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN ALAT
BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN ALAT 4.1 Umum Robot merupakan kesatuan kerja dari semua kerja perangkat penyusunnya. Perancangan robot dimulai dengan menggali informasi dari berbagai referensi, temukan ide,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas wilayah daratan Indonesia lebih dari 2.012.402 km 2 dan luas perairannya lebih dari 5.877.879 km 2 yang menjadikan
BAB II SISTEM KENDALI GERAK SEGWAY
BAB II SISTEM KENDALI GERAK SEGWAY Sistem merupakan suatu rangkaian beberapa organ yang menjadi satu kesatuan. Maka sistem kendali gerak adalah suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen pengendali
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan sistem ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat di abad ke- 21 ini, khususnya dalam bidang penerbangan. Pada dekade terakhir dunia penerbangan mengalami
I. PENDAHULUAN. UAV (Unnmaned Aerial Vehicle) secara umum dapat diartikan sebuah wahana udara
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang UAV (Unnmaned Aerial Vehicle) secara umum dapat diartikan sebuah wahana udara jenis fixed-wing, rotary-wing, ataupun pesawat yang mampu mengudara pada jalur yang ditentukan
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 3. 1. Spesifikasi Sistem Pada tugas akhir ini, penulis membuat sebuah prototype dari kendaraan skuter seimbang. Skuter seimbang tersebut memiliki spesifikasi sebagai
IMPLEMENTASI SISTEM KENDALI LEPAS LANDAS QUADROTOR MENGGUNAKAN PENGENDALI PROPORSIONAL-INTEGRAL-DERIVATIF (PID)
IMPLEMENTASI SISTEM KENDALI LEPAS LANDAS QUADROTOR MENGGUNAKAN PENGENDALI PROPORSIONAL-INTEGRAL-DERIVATIF (PID) Adnan Rafi Al Tahtawi Program Studi Teknik Komputer, Politeknik Sukabumi [email protected]
Dhanny Tandil Ivander Sharon Manuel Siahaan Yansen Wilyanto
PENGAPLIKASIAN KALMAN FILTER DAN KENDALI PID SEBAGAI PENYEIMBANG ROBOT RODA DUA SKRIPSI Oleh Dhanny Tandil 1200981844 Ivander Sharon Manuel Siahaan 1200981850 Yansen Wilyanto 1200991391 Universitas Bina
Studi Perancangan Sistem Kontrol Kinematik Dan Dinamik Non Linier Watanabe Pada Wahana Nirawak Quadrotor
Studi Perancangan Sistem Kontrol Kinematik Dan Dinamik Non Linier Watanabe Pada Wahana Nirawak Quadrotor Abstrak Steven Aurecianus, Estiyanti Ekawati dan Endra Joelianto Program Studi Teknik Fisika Institut
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengenalan Pengaturan keseimbangan robot merupakan suatu cara agar robot dapat setimbang. Dengan menggunakan 2 roda maka akan lebih efisien dalam hal material dan juga karena tidak
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI KONTROLER PID UNTUK AUTONOMOUS MOVING FORWARD MANUEVER PADA QUADCOPTER
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI KONTROLER PID UNTUK AUTONOMOUS MOVING FORWARD MANUEVER PADA QUADCOPTER By : Zam Yusuf / 10105063 Dosen Pembimbing : Ir. Ali Fatoni,MT. AGENDA PRESENTASI 1. Pendahuluan. Perancangan
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS Pada bab ini akan dibahas mengenai pengujian alat serta analisis dari hasil pengujian. Tujuan dilakukan pengujian adalah mengetahui sejauh mana kinerja hasil perancangan wireless
PERANCANGAN PENGENDALI PID UNTUK GERAKAN PITCH DAN ROLL PADA QUADCOPTER
PERANCANGAN PENGENDALI PID UNTUK GERAKAN PITCH DAN ROLL PADA QUADCOPTER Rosalia H. Subrata, Raymond Tarumasely & Calvin Dwianto S. Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Trisakti
PERANCANGAN STABILISASI SUDUT ORIENTASI PITCH PADA REMOTELY OPERATED VEHICLE (ROV) DENGAN METODE KONTROL PROPORSIONAL INTEGRAL DERIVATIF
PERANCANGAN STABILISASI SUDUT ORIENTASI PITCH PADA REMOTELY OPERATED VEHICLE (ROV) DENGAN METODE KONTROL PROPORSIONAL INTEGRAL DERIVATIF Agung Imam Rahmanto *), Aris Triwiyatno, and Budi Setiyono Jurusan
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA Pengujian dan analisa sistem merupakan tahap akhir dari realisasi pengendali PID pada pendulum terbalik menggunakan mikrokontroller ATmega8 agar dapat dilinearkan disekitar
ABSTRAK. Inverted Pendulum, Proporsional Integral Derivative, Simulink Matlab. Kata kunci:
PROJECT OF AN INTELLIGENT DIFFERENTIALY DRIVEN TWO WHEELS PERSONAL VEHICLE (ID2TWV) SUBTITLE MODELING AND EXPERIMENT OF ID2TWV BASED ON AN INVERTED PENDULUM MODEL USING MATLAB SIMULINK Febry C.N*, EndraPitowarno**
ANTISWING WIRELESS OVERHEAD CRANE MENGGUNAKAN METODE KOMBINASI FUZZY LOGIC DAN PD SYSTEM
ANTISWING WIRELESS OVERHEAD CRANE MENGGUNAKAN METODE KOMBINASI FUZZY LOGIC DAN PD SYSTEM SISTEM KENDALI POSISI DAN SUDUT SWING PADA OVERHEAD CRANE Luluk Anjar Rahmawati 1), Ekki Kurniawan 2), Agung Surya
Penggunaan Sensor Kesetimbangan Accelerometer dan Sensor Halangan Ultrasonic pada Aplikasi Robot Berkaki Dua
Volume 1 Nomor 2, April 217 e-issn : 2541-219 p-issn : 2541-44X Penggunaan Sensor Kesetimbangan Accelerometer dan Sensor Halangan Ultrasonic pada Aplikasi Robot Berkaki Dua Abdullah Sekolah Tinggi Teknik
JURUSAN TEKNIK KOMPUTER POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 2014
IMPLEMENTASI PID KONTROL UNTUK MENGONTROL KESTABILAN POSISI QUADCOPTER GUNA MENGIDENTIFIKASI OBJEK DARI KETINGGIAN MAKSIMAL 6 METER Laporan Akhir Laporan Akhir ini disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) kini menjadi suatu kebutuhan di dalam kehidupan untuk berbagai tujuan dan fungsi. Desain dari
DAFTAR ISI. LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING... Error! Bookmark not defined. LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN... iii. LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI...
DAFTAR ISI COVER...i LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING... Error! Bookmark not defined. LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN... iii LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI... iv HALAMAN PERSEMBAHAN... v HALAMAN MOTTO... vi KATA PENGANTAR...
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesawat udara tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) adalah sebuah pesawat terbang yang dapat dikendalikan secara jarak jauh oleh pilot atau dengan mengendalikan
Sistem Kontrol Altitude Pada UAV Model Quadcopter Dengan Metode PID
The 14 th ndustrial Electronics Seminar 2012 (ES 2012) Electronic Engineering Polytechnic nstitute of Surabaya (EEPS), ndonesia, October 24, 2012 Sistem Kontrol Altitude Pada UAV Model Quadcopter Dengan
PENGENDALI LAJU KECEPATAN DAN SUDUT STEERING PADA MOBILE ROBOT DENGAN MENGGUNAKAN ACCELEROMETER PADA SMARTPHONE ANDROID
Mikrotiga, Vol 1, No. 2 Mei 2014 ISSN : 2355-0457 19 PENGENDALI LAJU KECEPATAN DAN SUDUT STEERING PADA MOBILE ROBOT DENGAN MENGGUNAKAN ACCELEROMETER PADA SMARTPHONE ANDROID Muhammad Ariansyah Putra 1*,
PERANCANGAN PENGENDALI POSISI LINIER UNTUK MOTOR DC DENGAN MENGGUNAKAN PID
PERANCANGAN PENGENDALI POSISI LINIER UNTUK MOTOR DC DENGAN MENGGUNAKAN PID Endra 1 ; Nazar Nazwan 2 ; Dwi Baskoro 3 ; Filian Demi Kusumah 4 1 Jurusan Sistem Komputer, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas
Perancangan dan Implementasi Kontroler PID Gain Scheduling untuk Gerakan Lateral Way-to-Way Point pada UAVQuadcopter
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Prin B-234 Perancangan dan Implementasi Kontroler PID Gain Scheduling untuk Gerakan Lateral Way-to-Way Point pada UAVQuadcopter Tri
BAB III METODE PERANCANGAN DAN PEMBUATAN. Blok diagram penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada gambar berikut.
BAB III METODE PERANCANGAN DAN PEMBUATAN 3.1 Diagram Alur Penelitian Blok diagram penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada gambar berikut. Perancangan Pengumpulan Informasi Analisis Informasi Pembuatan
BAB 3 PERANCANGAN KONTROL DENGAN PID TUNING
8 BAB 3 PERANCANGAN KONTROL DENGAN PID TUNING 3. Algoritma Kontrol Pada Pesawat Tanpa Awak Pada makalah seminar dari penulis dengan judul Pemodelan dan Simulasi Gerak Sirip Pada Pesawat Tanpa Awak telah
metode pengontrolan konvensional yaitu suatu metode yang dapat melakukan penalaan secara mandiri (Pogram, 2014). 1.2 Rumusan Masalah Dari latar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Quadrotor adalah sebuah pesawat tanpa awak atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle) yang memiliki kemampuan lepas landas secara vertikal atau VTOL (Vertical Take off Landing).
A364. JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print)
A364 Sistem Restorasi Gerak Sendi Siku Menggunakan Functional Electrical Stimulation Erwin Setiawan Widjaja, Achmad Arifin, Fauzan Arrofiqi dan Mohammad Nuh Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Industri,
Pengaruh Sudut Roll Terhadap Perubahan Sudut Pitch Pada Sensor Accelerometer
Pengaruh Sudut Roll Terhadap Perubahan Sudut Pitch Pada Sensor Accelerometer Abdurrahman Nurhakim 1, Hendri Maja Saputra 2, Nanang Ismail 3 1,3 Jurusan Teknik Elektro Fakultas Sains dan Teknologi UIN SGD
BAB I PENDAHULUAN Tujuan. Merancang dan merealisasikan pesawat terbang mandiri tanpa awak dengan empat. baling-baling penggerak.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Tujuan Merancang dan merealisasikan pesawat terbang mandiri tanpa awak dengan empat baling-baling penggerak. 1.2. Latar Belakang Pesawat terbang tanpa awak atau UAV (Unmanned Aerial
Perancangan dan Implementasi Sistem Kendali PID untuk Pengendalian Gerakan Hover pada UAV Quadcopter
JRNAL TEKNIK POMITS Vol., No., (22) -5 Perancangan dan Implementasi Sistem Kendali PID untuk Pengendalian Gerakan Hover pada AV Quadcopter Ardy Seto Priambodo, Katjuk Astrowulan, Joko Susila Teknik Elektro,
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS Bab ini akan membahas mengenai pengujian serta analisis masing-masing modul dari spesifikasi sistem secara keseluruhan. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui apakah
RANCANG BANGUN QUADCOPTER DENGAN KENDALI PID
RANCANG BANGUN QUADCOPTER DENGAN KENDALI PID 1) Agus Sehatman Saragih 2) Viktor Handrianus Pranatawijaya 3) Widiatry 4) Vincentius Abdi Gunawan 1 Teknik Informatika, Universitas Palangka Raya email: [email protected]
RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI KECEPATAN KURSI RODA LISTRIK BERBASIS DISTURBANCE OBSERVER
RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI KECEPATAN KURSI RODA LISTRIK BERBASIS DISTURBANCE OBSERVER Firdaus NRP 2208 204 009 PROGRAM MAGISTER BIDANG KEAHLIAN TEKNIK ELEKTRONIKA TEKNIK ELEKTRO Fakultas Teknologi Industri
SISTEM KENDALI POSISI MOTOR DC Oleh: Ahmad Riyad Firdaus Politeknik Batam
SISTEM KENDALI POSISI MOTOR DC Oleh: Ahmad Riyad Firdaus Politeknik Batam I. Tujuan 1. Mampu melakukan analisis kinerja sistem pengaturan posisi motor arus searah.. Mampu menerangkan pengaruh kecepatan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi di bidang transportasi terus berkembang pesat. Hal ini ditandai dengan bermunculannya kendaraan yang modern dan praktis
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
2 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini teknologi di bidang penerbangan sudah sangat maju. Pesawat terbang sudah dapat dikendalikan secara jarak jauh sehingga memungkinkan adanya suatu pesawat
IMPLEMENTASI SISTEM KESEIMBANGAN ROBOT BERODA DUA DENGAN MENGGUNAKAN KONTROLER PROPORSIONAL INTEGRAL DIFERENSIAL
IMPLEMENTASI SISTEM KESEIMBANGAN ROBOT BERODA DUA DENGAN MENGGUNAKAN KONTROLER PROPORSIONAL INTEGRAL DIFERENSIAL Muhammad Miftahur Rokhmat Teknik Elektro Universitas Brawijaya Dosen Pembimbing: 1. Purwanto,
PERANCANGAN KONTROL NON-LINIER UNTUK KESTABILAN HOVER PADA UAV TRICOPTER DENGAN SLIDING MODE CONTROL
Presentasi Tesis PERANCANGAN KONTROL NON-LNER UNTUK KESTABLAN HOVER PADA UAV TRCOPTER DENGAN SLDNG MODE CONTROL RUDY KURNAWAN 2211202009 Dosen Pembimbing: DR. r. Mochammad Rameli r. Rusdhianto Effendie
BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA
BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA 4.1 Tujuan Tujuan dari pengujian alat pada tugas akhir ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kinerja sistem yang telah dibuat dan untuk mengetahui penyebabpenyebab ketidaksempurnaan
BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA
BAB IV Pengujian Alat dan Analisa BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA 4. Tujuan Pengujian Pada bab ini dibahas mengenai pengujian yang dilakukan terhadap rangkaian sensor, rangkaian pembalik arah putaran
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebuah Unmanned Aerial Vehicle (UAV) merupakan pesawat tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh atau diterbangkan secara mandiri yang dilakukan pemrograman terlebih
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA RANGKAIAN
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA RANGKAIAN Dalam bab ini penulis akan mengungkapkan dan menguraikan mengenai persiapan komponen dan peralatan yang dipergunakan serta langkah langkah praktek, kemudian menyiapkan
BAB III PERANCANGAN ALAT
BAB III PERANCANGAN ALAT Pada bab ini akan dijelaskan mengenai perancangan dan realisasi dari perangkat keras, serta perangkat lunak dari alat peraga sistem pengendalian ketinggian air. 3.1. Gambaran Alat
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA RANGKAIAN
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA RANGKAIAN Dalam bab ini penulis akan mengungkapkan dan menguraikan mengenai persiapan komponen dan peralatan yang dipergunakan serta langkah langkah praktek, kemudian menyiapkan
SISTEM KENDALI GERAK SEGWAY BERBASIS MIKROKONTROLER
Sistem Kendali Gerak Segway Berbasis Mikrokontroler Lukas B. Setyawan, Deddy Susilo, Dede Irawan SISTEM KENDALI GERAK SEGWAY BERBASIS MIKROKONTROLER Lukas B. Setyawan 1, Deddy Susilo 2, Dede Irawan 3 Program
BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA
BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA 4.1 Tujuan Tujuan dari pengujian alat pada tugas akhir ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kinerja sistem yang telah dibuat dan untuk mengetahui penyebabpenyebab ketidaksempurnaan
Sistem Kendali dan Pemantauan Kursi Roda Elektrik
Jurnal Teknik Elektro, Vol. 9, No. 2, September 2016, 43-48 ISSN 1411-870X DOI: 10.9744/jte.9.2.43-48 Sistem Kendali dan Pemantauan Kursi Roda Elektrik Daniel Christian Yunanto, Handry Khoswanto, Petrus
Perancangan dan Implementasi Gerakan Hover pada Tricopter
Jurnal ELEMENTER. Vol. 1, No. 1, Mei 2015 33 Jurnal Politeknik Caltex Riau http://jurnal.pcr.ac.id Perancangan dan Implementasi Gerakan Hover pada Tricopter Safagianjar 1, Jupri Yanda Zaira 2 dan Made
JOBSHEET 5. Motor Servo dan Mikrokontroller
JOBSHEET 5 Motor Servo dan Mikrokontroller A. Tujuan Mahasiswa mampu merangkai motor servo dengan mikrokontroller Mahasiswa mampu menggerakkan motor servo dengan mikrokontroller B. Dasar Teori MOTOR SERVO
PENGATURAN KESEIMBANGAN ROBOT BERODA DENGAN FUZZY LOGIC
PENGATURAN KESEIMBANGAN ROBOT BERODA DENGAN FUZZY LOGIC Darmawan Dwi Putra Program Studi Sistem Komputer, Universitas Bina Nusantara, [email protected] Brian Staphen Program Studi Sistem Komputer, Universitas
Pengaturan Gerakan Hover dan Roll pada Quadcopter dengan Menggunakan Metode PI Ziegler-Nichols dan PID Tyreus-Luyben
Prosiding ANNUAL RESEARCH SEMINAR Desember, Vol No. ISBN : 979-587-- UNSRI Pengaturan Gerakan Hover dan Roll pada Quadcopter dengan Menggunakan Metode PI Ziegler-Nichols dan PID Tyreus-Luyben Huda Ubaya,
Makalah Seminar Tugas Akhir BALANCING ROBOT BERODA DUA MENGGUNAKAN METODE KENDALI PROPORSIONAL INTEGRAL
Makalah Seminar Tugas Akhir BALAING ROBOT BERODA DUA MENGGUNAKAN METODE KENDALI PROPORSIONAL INTEGRAL Andra Laksana, Iwan Setiawan, Sumardi Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu perkembangan teknologi yang popular adalah teknologi bidang robotika. Robot mengambil peran yang penting dalam menangani tugas-tugas yang biasanya ditangani
LAPORAN PENELITIAN PENINGKATAN PUBLIKASI DAN ANGKA PARTISIPASI
LAPORAN PENELITIAN PENINGKATAN PUBLIKASI DAN ANGKA PARTISIPASI SISTEM KONTROL T2-FUZZY SEBAGAI STABILISATOR MAV OLEH: HENDI WICAKSONO AGUNG D, S.T, M.T. LABORATORIUM OTOMASI dan SISTEM EMBEDDED TEKNIK
Aplikasi Prinsip Gyroscope untuk Mempertahankan Kesetimbangan Sebuah Sistem Sederhana
Aplikasi Prinsip Gyroscope untuk Mempertahankan Kesetimbangan Sebuah Sistem Sederhana Liya Kholida 1,a), Rizqa Sitorus 1,b), Alfian Inzia Fusiari 1,c), Nurrohman 1d) dan Dwi Irwanto 2,e) 1 Magister Pengajaran
BAB III ANALISA SISTEM
BAB III ANALISA SISTEM 3.1 Gambaran Sistem Umum Pembuka pintu otomatis merupakan sebuah alat yang berfungsi membuka pintu sebagai penganti pintu konvensional. Perancangan sistem pintu otomatis ini merupakan
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS SISTEM
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS SISTEM 4.1 Analisis dan Pengujian Analisis merupakan hal penting yang harus dilakukan untuk mengetahui bagaimana hasil dari sistem yang telah dibuat dapat berjalan sesuai
RANCANG BANGUN SISTEM AUTOTRACKING UNTUK ANTENA UNIDIRECTIONAL FREKUENSI 2.4GHZ DENGAN MENGGUNAKAN MIKROKONTOLER ARDUINO
RANCANG BANGUN SISTEM AUTOTRACKING UNTUK ANTENA UNIDIRECTIONAL FREKUENSI 2.4GHZ DENGAN MENGGUNAKAN MIKROKONTOLER ARDUINO Ryandika Afdila (1), Arman Sani (2) Konsentrasi Teknik Telekomunikasi, Departemen
SELF-STABILIZING 2-AXIS MENGGUNAKAN ACCELEROMETER ADXL345 BERBASIS MIKROKONTROLER ATmega8
SELF-STABILIZING 2-AXIS MENGGUNAKAN ACCELEROMETER ADXL345 BERBASIS MIKROKONTROLER ATmega8 I Nyoman Benny Rismawan 1, Cok Gede Indra Partha 2, Yoga Divayana 3 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas
Perancangan dan Implementasi Embedded Fuzzy Logic Controller Untuk Pengaturan Kestabilan Gerak Robot Segway Mini. Helmi Wiratran
Perancangan dan Implementasi Embedded Fuzzy Logic Controller Untuk Pengaturan Kestabilan Gerak Robot Segway Mini 1 Helmi Wiratran 2209105020 2 Latarbelakang (1) Segway PT: Transportasi alternatif dengan
Desain dan Implementasi Automatic Flare Maneuver pada Proses Landing Pesawat Terbang Menggunakan Kontroler PID
Desain dan Implementasi Automatic Flare Maneuver pada Proses Landing Pesawat Terbang Menggunakan Kontroler PID Mokhamad Khozin-2207100092 Bidang Studi Teknik Sistem Pengaturan, Jurusan Teknik Elektro,
Aktuator Berkaki pada Robot Pencari Korban Bencana Tsunami Sub judul : Algoritma Reinforcement Learning
Aktuator Berkaki pada Robot Pencari Korban Bencana Tsunami Sub judul : Algoritma Reinforcement Learning Adnan Rachmat Anom Besari, Dr.Ir. Son Kuswadi Jurusan Elektronika- Politeknik Elektronika Negeri
BAB IV PENGUJIAN SISTEM DAN ANALISA
54 BAB IV PENGUJIAN SISTEM DAN ANALISA 4.1 Pengujian Output PIO Dengan cara memberikan data output pada ketiga alamat PIO, kemudian dilakukan pengukuran level output tegangan pada kondisi high 1 dan low
3. Perancangan Alat Perancangan alat yaitu mendesain konsep yang sudah dibuat, meliputi perancangan mekanis robot, elektronis robot dan pemrograman
BAB I Bab I merupakan pendahuluan usulan proyek akhir. Pendahuluan memaparkan latar belakang dan permasalahan dari proyek akhir serta tujuan dan manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan proyek akhir. A.
BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan videografi saat ini sangat dituntut untuk dapat menghasilkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan videografi saat ini sangat dituntut untuk dapat menghasilkan gambar atau rekaman video yang rapi dan stabil. Namun untuk menghasilkan rekaman video yang stabil
Perancangan dan Implementasi Kontroler PID Optimal Untuk Tracking Lintasan Gerakan Lateral Pada UAV(Unmanned Aerial Vehicle)
Perancangan dan Implementasi Kontroler PID Optimal Untuk Tracking Lintasan Gerakan Lateral Pada UAV(Unmanned Aerial Vehicle) Rahmat Fauzi 2209106077 Pembimbing : Surabaya, 26 Januari 2012 Ir. Rusdhianto
UNIVERSITAS INDONESIA PERANCANGAN DAN SIMULASI PENGENDALIAN SISTEM GERAK ROTASI QUADROTOR MENGGUNAKAN QUADRATIC GAUSSIAN (LQG) TESIS
UNIVERSITAS INDONESIA PERANCANGAN DAN SIMULASI PENGENDALIAN SISTEM GERAK ROTASI QUADROTOR MENGGUNAKAN LINEAR QUADRATIC GAUSSIAN (LQG) TESIS SUPRIYONO 8642475 FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO
BAB III PERANCANGAN SISTEM
BAB III PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini akan dijelaskan mengenai perancangan sistem dari perangkat keras, serta perangkat lunak robot. 3.1. Gambaran Sistem Sistem yang direalisasikan dalam skripsi ini
TUGAS AKHIR - TE
TUGAS AKHIR - TE 091399 PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI KONTROLER PID UNTUK PENGATURAN ARAH DAN PENGATURAN HEADING PADA FIXED-WING UAV (UNMANNED AERIAL VEHICLE) Hery Setyo Widodo NRP. 2208100176 Laboratorium
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pesawat tanpa awak atau pesawat nirawak (Unmanned Aerial Vehicle atau disingkat UAV), adalah sebuah mesin
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pesawat tanpa awak atau pesawat nirawak (Unmanned Aerial Vehicle atau disingkat UAV), adalah sebuah mesin terbang yang berfungsi dengan kendali jarak jauh oleh pilot
DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN LEMBAR PERNYATAAN HALAMAN PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR. Abstract. viii BAB I PENDAHULUAN 1
DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN ii LEMBAR PERNYATAAN iii HALAMAN PERSEMBAHAN iv KATA PENGANTAR v DAFTAR ISI viii DAFTAR TABEL xi DAFTAR GAMBAR xii Intisari xvii Abstract xviii BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar
BAB 1 PENDAHULUAN. wahana terbang tanpa awak, teknologi tersebut disebut Unmanned Aerial Vehicle
1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN Seiring perkembangan teknologi telekomunikasi dan dirgantara menghasilkan suatu teknologi yang menggabungkan antara informasi suatu keadaan lokasi tertentu
