BAB 2 LANDASAN TEORI
|
|
|
- Harjanti Chandra
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Defenisi Data, Informasi, dan Knowledge Management Data Menurut Bergeron (2003), yang dimaksud dengan data adalah bilangan, terkait dengan angka-angka atau atribut-atribut yang bersifat kuantitas, yang berasal dari hasil observasi, eksperimen, atau kalkulasi. Sedangkan pengertian data menurut O Brien (2005, p.696) adalah faktafakta atau observasi mengenai fisik atau transaksi bisnis. Lebih secara spesifik lagi, data adalah ukuran objektif dari suatu atribut dengan karakteristik dari suatu entitas, seperti orang-orang, tempat, benda atau kejadian. Selain itu, menurut O Brien (2005, p.38) data merupakan fakta atau observasi mentah yang biasanya banyak data yang menjelaskan kegiatan tersebut Informasi Menurut Bergeron (2003), Informasi merupakan kumpulan data dan terkait dengan penjelasan, interpretasiok, dan berhubungan dengan materi lainnya mengenai obyek, peristiwa-peristiwa atau proses tertentu. Sedangkan pengertian informasi menurut O Brien (2005, p.39), informasi merupakan data yang telah diubah menjadi konteks yang berarti dan berguna bagi pemakai akhir tertentu. 7
2 Knowledge Management Menurut Debowski (2006, p.16), Knowledge Management adalah suatu proses dalam mengidentifikasi, mendapatkan, mengorganisasi, dan menyebarkan aset intelektual yang penting bagi performa jangka panjang suatu organisasi. Sedangkan menurut Turban, et al (2008, p390) mendefinisikan Knowledge Management sebagai sebuah proses yang membantu perusahaan mengidentifikasi, memilih, mengorganisasikan, menyebarkan, dan mentransfer informasi dan keahlian yang penting yang merupakan bagian dari ingatan perusahaan dan yang biasanya berada di dalam perusahaan dalam bentuk yang tidak terstruktur. 2.2 Knowledge Management System Knowledge Pengertian Knowledge menurut Debowski (2006, p.16) adalah suatu proses dalam menerjemahkan informasi dan pengalaman akan masa lalu yang dapat menjadi hubungan bermakna, dimengerti dan diterapkan oleh setiap individu. Jenis Knowledge dibagi menjadi dua macam, yaitu: a. Tacit Knowledge Menurut Debowski (2006, p.18), Tacit Knowledge adalah Knowledge yang terakumulasi dari pengalaman dan pembelajaran seseorang dan sangat sulit untuk direproduksi atau dibagikan dengan orang lain dimana dapat berupa gambar, teks atau dalam bentuk kata-kata. Kelemahan dari Tacit Knowledge adalah sulitnya untuk menerjemahkan Tacit Knowledge menjadi produk yang tangible.
3 9 b. Explicit Knowledge Menurut Debowski (2006, p.17), Explicit Knowledge adalah Knowledge yang dapat dibagikan kepada yang lainnya, didokumentasikan, dikatagorikan, dan disebarkan kepada pihak lain sebagai informasi. Explicit Knowledge merupakan sumber daya utama dalam organisasi dimana fokus dalam pekerjaan dapat berubah menjadi berfokus pada Knowledge yang ada dalam organisasi. Pengetahuan diciptakan melalui konversi antara Tacit Knowledge dan Explicit Knowledge. Model konversi Knowledge menurut Nonaka dan Takeuchi (1995) dalam buku Sangkala (2007, p.84) adalah sebagai berikut: Gambar 2.1 Model Konversi Knowledge (sumber: Sangkala, 2007, p.84) Berikut merupakan penjelasan dari Gambar 2.1, Konversi Knowledge yang dibagi menjadi empat model, antara lain:
4 10 a. Sosialiasi : konversi dari Tacit Knowledge ke Tacit Knowledge Tacit Knowledge disampaikan kepada orang lain melalui proses sosialisasi dalam pelatihan maupun tim kerja, dan juga dapat melalui interaksi sosial dan berbagi pengalaman antara anggota organisasi. Seseorang dapat mempelajari pengetahuan tanpa harus berinteraksi dengan pembimbing ataupun tutornya. Mereka dapat belajar dengan cara mengamati seseorang dan berlatih. b. Eksternalisasi : konversi dari Tacit Knowledge ke Explicit Knowledge Pengetahuan ini diciptakan ketika seseorang memiliki pengetahuan yang ada, kemudian ditambah dengan pengetahuan pribadinya dan mengembangkan sesuatu yang baru dan dapat dibagikan kepada seluruh organisasi. Dengan demikian, eksternalisasi akan muncul disaat seseorang menerjemahkan Tacit Knowledge yang dimilikinya, sehingga dapat dimengerti oleh para karyawan lainnya. c. Kombinasi : konversi dari Explicit Knowledge ke Explicit Knowledge Kombinasi merupakan konsep untuk menciptakan Explicit Knowledge yang terbaru dengan digabung, memberikan kategori, dan mengumpulkan dua ataupun lebih Explicit Knowledge yang ada. d. Internalisasi : konversi dari Explicit Knowledge ke Tacit Knowledge Learning-by-doing merupakan hal dasar dari konversi ini, dimana menunjukkan tingkatan Tacit Knowledge dari Explicit Knowledge Dimana menurut Debowski (2006, p.18), Suatu alasan mendasar organisasi yang sukses adalah keterampilan dan pengalaman pada penciptaan Knowledge dan pemanfaatannya. Penciptaan Knowledge
5 11 dicapai dengan melalui hubungan antara Tacit Knowledge dimana terdiri dari karyawan, pelanggan, pemangku kepentingan, maupun para eksekutif dalam organisasi dan Explicit Knowledge dimana terdiri dari organisasi records dan sistem yang ada. Gambar 2.2 Sumber pengetahuan dari organisasi (Debowski, p.19) Debowski (2006, p.170) menjelaskan mengenai hal penting yang perlu diperhatikan dari Knowledge Management adalah bahwa tujuan dari Knowledge Management adalah untuk mengembangkan strategi pengetahuan yang memfasilitasi akses yang mudah terhadap pengetahuan yang berharga. Oleh karena itu, sangat penting untuk dapat mengklarifikasi apa pengetahuan yang penting sehingga karyawan memiliki kesadaran untuk mengatur pengetahuannya secara tepat sebagai baik itu distributor maupun penggunanya Teori Knowledge Management System Turban, et al (2008, p.400) menjelaskan bahwa Knowledge Management System dikembangkan menggunakan tiga set teknologi,
6 12 yaitu: komunikasi, kolaborasi, dan penyimpanan dan pengambilan. Sedangkan menurut Debowski (2006, p.151), terdapat tiga kriteria yang harus diraih agar implementasi Knowledge Management System dapat berhasil, antara lain: 1. Sistem merefleksikan dan responsif terhadap kebutuhan perusahaan. 2. Sistem merefleksikan prinsip-prinsip Knowledge Management, terutama pendorong untuk kolaborasi dan komunikasi 3. Sistem merefleksikan perhatian yang dalam terhadap individual diseluruh fase pengembangannya. Secara umum, Debowski (2006) menyebutkan ada beberapa tahapan yang harus direncanakan dengan baik agar implementasi sistem sekompleks Knowledge Management System dapat berjalan dengan baik. Tahapan-tahapan tersebut adalah: 1. Merumuskan kebutuhan akan Knowledge Management System. 2. Mengidentifikasi kebutuhan sistem. 3. Mengklarifikasikan spesifikasi sistem. 4. Mengevaluasi sistem-sistem yang potensial. 5. Memilih sistem dan/atau komponennya yang relevan. 6. Mengimplementasikan sistem. 7. Mengevaluasi penerimaan dan adopsi sistem. Menurut Dalkir (2011, p.38) Fungsi atau teori Knowledge Management System memiliki enam langkah cycle. Berikut merupakan cycle dari Knowledge Management System:
7 13 Gambar 2.3 Teori Knowledge Management System, Dalkir (2011, p.38) a) Create Knowledge Pengetahuan tercipta sebagaimana orang menentukan cara untuk melakukan seuatu atau mengembangkan keahlian. Terkadang pengetahuan dari luar telah membawa masuk. b) Capture Knowledge Pengetahuan yang baru haruslah teridentifikasi sebagai sesuatu yang bernilai dan terwakili dengan cara yang wajar. c) Refine Knowledge Pengetahuan baru haruslah ditempatkan dalam suatu konteks sehingga dapat ditindaklanjuti. Disinilah wawasan manusia harus dapat ditangkap. d) Store Knowledge Pengetahuan yang dapat berguna kemudian harus dapat tersimpan dalam format yang wajar pada repository yang ada sehingga orang lain dalam organisasi dapat mengaksesnya.
8 14 e) Manage Knowledge Seperti halnya perpustakaan, pengetahuan harus tetap terjaga dan tersimpan hingga saat ini. Ini harus ditinjau kembali untuk dapat memverifikasi bahwa hal tersebut relevan dan akurat. f) Disseminate Knowledge Pengetahuan yang telah tersimpan dengan baik dan sudah terverifikasi secara keseluruhan dapat mulai dilakukan sosialisasi ataupun menyebarluaskan pengetahuan dalam organisasi. Dalam buku Debowski (2006) menyebutkan terdapat empat (4) komponen dari Knowledge Management System. Kompenen-kompenen itu dapat tergambarkan sebagai berikut: Tabel 2.1 Komponen Knowledge Management System Sumber: Debowski, 2006, p.144
9 15 Berikut merupakan keterangan dari tabel komponen Knowledge Management System: Business Process Management Secara strategis Business Process Management mengarahkan dan mempertajam pembangunan Knowledge Management System dengan membangun strategi perusahaan untuk Knowledge Management. Hal ini secara langsung berpengaruh pada Knowledge Management System dan aspek lain Knowledge Management yang menentukan akses terhadap Knowledge tertentu, Knowledge yang memiliki prioritas tinggi dan bagaimana dukungan terhadap akses Knowledge. Content Management System Terdapat banyak sumber Knowledge yang ditemukan dalam organisasi. Namun sulit untuk mengidentifikasi, mengelola dan mengakses secara efisien. Terdapat sumber yang terstruktur dan tidak terstruktur, official, dinamis dan archive content. Content Management System memastikan effective content dan document management sehingga Knowledge Management System secara efektif menghubungkan end user dengan banyak sumber intelectual content baik dalam maupun luar organisasi. Web Content Management System Web Management System mengoperasikan platform teknologi KMS. Pada level dasar, ini menyediakan kapasitas teknologi untuk menghubungkan KMS dengan user dan sumber Knowledge yang lain yang berada didalam dan diluar organisasi. Adanya server, interface dan KMS portal yang mendukung Web Content Mangement System.
10 16 Knowledge Applications Management Knowledge Application Management menyediakan user dengan kemudahan dan efektivitas Knowledge tools. Fungsi utamanya adalah memfasilitasi pembentukan Knowledge, kolaborasi dan komunikasi. Efektivitas KMS sebagian tergantung pada kapasitas user untuk menciptakan Knowledge baru dan mengelola workflows menggunakan teknologi yang ada dan manajemen aplikasi Knowledge yang mendukung hal ini Komponen Knowledge Management Terdapat 3 komponen Knowledge Management oleh Dilip Bhatt seorang konsultan Knowledge Management dalam artikelnya yang berjudul EFQM Excellence Model and Knowledge, antara lain (Bhatt, D. 2000): Gambar 2.4 People, Process, Technology (Sumber: Bhatt, D. 2000)
11 17 1. People Menurut Debowski (2006, p.47), People adalah orang yang memiliki knowledge, mengatur sistem dan proses, dan berkomitmen terhadap proses strategic knowledge untuk kesuksesan perusahaan. Dijelaskan juga oleh Debowski (2006, p ), human resources merupakan komponen penting didalam proses Knowledge Management, dimana knowledge dan keahlian yang dimiliki oleh People akan menjadi value bagi organisasi. Terdapat 4 bagian area dalam akitivitas management human resources yang memiliki dampak besar dalam Knowledge Management pada organisasi, yaitu: Gambar 2.5 Pendukung struktural untuk Knowledge Management (Sumber: Debowski,2006) a. Organisational Structure Melakukan analisa terhadap struktur organisasi, proses hirarki organisasi, membuat keputusan, komunikasi dan inovasi. b. Staffing Melakukan analisa terhadap proses core competencies karyawan, proses seleksi dan rekruitmen dalam suatu organisasi. c. Performance Management Melakukan analisa terhadap proses penilaian performance karyawan dalam suatu organisasi
12 18 d. Learning & Develompent Melakukan analisa terhadap proses pengembangan dan learning dalam suatu organisasi. e. Organisatuonal Evaluation & Review Melakukan analisa terhadap proses penilaian dan evaluasi organisasi yang mengukur performance organisasi. 2. Process Menurut Debowski (2006, p.47), Process merupakan pengaturan dan alignment dari strategi, prinsip, proses, practice untuk memastikan bahwa Knowledge Management dapat berjalan baik ketika diimplementasikan. Menurut Probst, et al (2000, p29-34) untuk mengatur dan mengelola pengetahuan perusahaan atau organisasi perlu dilakukan pengelompokan dan pengkategorian masalah yang ditemui pada perusahaan tersebut. Core Process Knowledge Management dikategorikan menjadi 6 bagian, hal ini ditujukan agar peranan manajer mampu mengoptimalkan aktifitas Knowledge di dalam area individu ke seluruh area organisasi. Gambar 2.6 Core Process Knowledge Management, Probst et al (2000)
13 19 Knowledge Identification Merupakan proses mengidentifikasi Knowledge, baik yang bersifat tacit maupun explicit. Di dalam pengidentifikasian Knowledge maka dilakukan analisis dan gambaran Knowledge di lingkungan perusahaan. Banyak sekali perusahaan yang kesulitan dalam mengatur gambaran umum data internal dan eksternal, informasi dan kemampuan. Ketidakjelasan inilah mengakibatkan ketidakefisienan, keputusan tidak tersampaikan, dan duplikasi. Maka dari itu, Knowledge Management yang efektif harus memastikan kejelasan internal dan eksternal dan membantu karyawan secara individual untuk menentukan apa yang dibutuhkan. Knowledge Acquisition Proses yang menggambarkan hubungan dengan pihak luar perusahaan, seperti customer, supplier, competitor dan business partner lainnya yang ikut bekerja sama dalam memberikan pengetahuan yang potensial. Perusahaan juga dapat membeli Knowledge yang tidak bisa dibangunnya sendiri dengan merekrut ahli atau memperolehnya dari perusahaan. Knowledge Management yang sistematik harus mampu mengambil kemungkinan ini sebagai sesuatu yang harus diperhitungkan. Knowledge Development Proses dalam pembangunan blok-blok di mana setiap komponennya saling melengkapi dengan Knowledge Acquisition.
14 20 Tahap ini meliputi seluruh usaha manajemen untuk ditujukan pada cara menghasilkan kemampuan yang belum ada di dalam perusahaan atau yang belum ada keberadaannya di dalam atau di luar perusahaan atau yang belum ada keberadaannya di dalam atau di luar perusahaan. Di dalam Knowledge Development ini difokuskan terhadap pembangunan keahlian baru, produk baru, ideide luar biasa dan banyak proses efisiensi lainnya. Knowledge Sharing and Distribution Proses membagi dan menyebarkan pengetahuan yang sudah ada dalam perusahaan. Sehingga dalam tahap ini ditujukan untuk merubah informasi dan pengalaman yang terisolasi menjadi sesuatu, di mana Knowledge tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk kemajuan organisasi. Langkah yang penting dalam pendistribusian Knowledge ini adalah dengan menganalisis peralihan pengetahuan dari individual ke group atau perusahaan. Knowledge Utilization Pada tahap ini, Knowledge harus dipastikan disimpan sebaik mungkin guna mendukung aktivitas atau proses bisnis yang berlangsung di dalam organisasi. Tahap identifikasi dan distribusi yang sukses belum bisa menjamin penggunaan produktifitas yang dihasilkan dalam operasi bisnisnya. Terdapat tantangan yang bisa menjadi penghambat pengunaan pengetahuan dari luar. Maka dari itu langkah-langkah harus diambil guna memastikan bahwa
15 21 kemampuan yang bernilai dan Asset pengetahuan seperti hak paten atau license dapat digunakan secara utuh. Knowledge Retention Dalam tahap ini, termasuk juga aktifitas pemilihan, penyimpanan dan meng-update Knowledge akan sangat bernilai bagi masalah potensial yang ada di organisasi. Jika aktifitas-aktifitas tersebut mampu dilakukan secara maksimal, maka mampu untuk menyimpan keahlian berharga bagi perusahaan. 3. Technology Menurut Debowski (2006, p.258), Technology merupakan peran pendukung yang penting dalam Knowledge Management, dimana dibutuhkan user yang berkompeten dan confident ketika menggunakannya. Sedangkan menurut Dalkir Kimiz (2005, p.219), dalam implementasi Knowledge Management System diperlukan berbagai tools yang cukup beragam untuk dapat ikut terlibat dalam sepanjang siklus Knowledge Management teknologi yang dapat memfasilitasi terutama komunikasi, kolaborasi, dan konten manajemen untuk knowledge capture, sharing, dissemnination, dan application Pilar Knowledge Management Dalam Sebuah Framework yang dikemukakan oleh Stankosky, M. (2000), terdapat empat pilar utama dalam arsitektur Knowledge Management yang sangat mempengaruhi dalam keberhasilan penerapan Knowledge Management pada suatu organisasi, yaitu:
16 22 Gambar 2.7 Empat pilar Knowledge Management menurut Stankosky, M. (2000) 1. Leadership Kepemimpinan mengembangkan strategi yang dibutuhkan untuk keberhasilan dalam sebuah lingkungan. Strategi ini untuk dapat menentukan visi dan harus dapat menyelaraskan Knowledge Management dengan strategi bisnis agar dapat mendorong nilai dari Knowledge Management ke seluruh organisasi. 2. Organization Memperkenalkan Knowledge Management pada seluruh organisasi dimana dibutuhkan perubahan dalam organisasi, Knowledge Management dituntut untuk dapat menjadi katalis dalam budaya perusahaan dan harus terintegrasikan dengan proses bisnis organisasi. 3. Technology Merupakan tools dalam Knowledge Management yang sangat penting untuk dapat menentukan dan mendefinisikan kemampuan IT agar sesuai dan sejalan dengan kebutuhan organisasi.
17 23 4. Learning Pembelajaran dalam organisasi haruslah diarahkan kepada pendekatan seperti peningkatan komunikasi, menjalankan tim yang memiliki beberapa fungsi atau bidang, dan menciptakan komunitas belajar Knowledge Solutions Dalam tahap ini, akan diberikannya usulan untuk pengembangan Knowledge Management yang meliputi People, Process, Technology dimana berdasarkan analisa yang didapat pada tahapan sebelumnya. 2.3 Core Knowledge Menurut Debowski (2006,p.170), Core Knowledge adalah pengetahuan strategic atau operational yang membantu proses atau hasil utama dalam organisasi. Dengan banyaknya perusahaan yang gagal untuk dapat menentukan pengetahuan apa yang penting dalam bisnisnya, hingga dapat menyebabkan dalam organisasi tidak bisa memaksimalkan pengetahuan yang ada. Dengan demikian penentuan Core Knowledge dalam suatu organisasi sangat penting untuk membangun Knowledge Management System. Menurut Debowski (2006,p.171), terdapat tiga fase dalam menentukan core Knowledge dalam suatu organisasi, yaitu phase 1 Clarify core knowledge scope, phase 2 Define core knowledge parameter, phase 3 Develop the core knowledge structure. Berikut merupakan penjelasan dari Core Knowledge:
18 24 Gambar 2.8 Pengembangan Core Knowledge (Debowski, p.171) 1. Clarify core Knowledge scope Fase pertama adalah menentukan pengetahuan yang ada untuk dapat mendukung dalam bisnis utama pada suatu organisasi. Core Knowledge harus ditentukan agar bisa dicari sumbernya dan dapat mengatur agar Knowledge Management System yang dibangun bisa memberikan nilai tambah bagi organisasi. Terdapat tiga kategori dalam fase pertama ini, antara lain: a. Identify core business and its knowledge requirements Yaitu melakukan identifikasi mengenai aktivitas utama organisasi, menentukan pengetahuan yang unik jika ada dan menentukan pengetahuan yang perlu untuk melakukan sharing. b. Define the knowledge domain Yaitu menentukan area pengetahuan yang mendukung strategi bisnis utama organisasi
19 25 c. Review knowledge capabilities Yaitu identifikasi kemampuan yang diinginkan dan sumber-sumber pengetahuan yang berharga 2. Define core knowledge parameter Pada fase ini akan ditentukan policy yang berhubungan dengan knowledge domain pada fase pertama dan menentukan batas-batas core knowledge yang akan didukung dalam Knowledge Management System. Dalam hal ini, user mendapat keuntungan dari petunjuk yang jelas dan siap digunakan serta memudahkan mereka untuk menggunakan sistem dan mengembangkannya pada Knowledge yang ada pada user. Parameter core knowledge harus flexible untuk dapat memenuhi perubahan arah dan prioritas organisasi, dan memiliki content management yang dapat di prediksi dan diatur. Terdapat tiga kategori dalam fase ini, antara lain: a. Define Core Knowledge Yaitu menentukan Core Knowledge dalam organisasi. Terdapat 3 tipe Knowledge yang bisa diidentifikasi: Basic Core Knowledge, yaitu pengetahuan penting dan utama yang dapat dibuat, dibagi, diakses dan diatur oleh semua orang atau individu. Dengan memberikan fokus kepada Knowledge tambahan dan pengayaan, basic core knowledge dapat membangun dasar yang baik untuk bisa menggambarkan kebutuhan pada saat ini. Strategic Core Knowledge, yaitu pengetahuan penting yang berevolusi secara cepat dan tidak bisa diakses oleh semua orang atau hanya individu-individu tertentu dalam organisasi. Knowledge ini
20 26 lebih memfokuskan kepada pembaharuan Knowledge daripada perkembangan Knowledge, dimana merupakan bentuk core Knowledge yang dapat ditemukan pada organisasi. Developmential Core Knowledge, yaitu pengetahuan yang penting bagi organisasi namun masih dalam tahap eksplorasi dan pengujian. b. Develop the core knowledge policy Yaitu menentukan kebijakan dalam Knowledge Management System yang digunakan, menentukan pentingnya Knowledge Management System, dan menentukan aturan-aturan yang berlaku. 3. Develop the core knowledge structure Pada fase ini merupakan sistem dan proses yang akan melakukan pemetaan dan menjelaskan mengenai kategori-kategori pengetahuan dan akan dibangun knowledge repository. a. Map core knowledge Yaitu membuat Knowledge map yang merupakan desain struktural dari Core Knowledge dalam organisasi. b. Build the knowledge repository Yaitu membangun repository sebagai link antara sumber-sumber pengetahuan yang berbeda-beda. 2.4 Knowledge Assets Knowledge Assets tumbuh dalam suatu nilai, seiring dengan digunakan oleh banyak orang untuk dijadikan sebagai standart. Menurut Debowski, 2006, Knowledge Assets merupakan pengetahuan atau keahlian manusia yang
21 27 termodifikasi, tersimpan dalam format digital maupun elektronik. Sedangkan menurut Ichijo, Kazuo dan Ikujiro Nonaka (2007, p.288) menjelaskan bahwa manajemen strategis dari Knowledge Assets harus berfokus pada penciptaan dan penyebaran Knowledge. Penggunanya akan mendapatkan keuntungan dari Knowledge ini dan menaikan nilainya pada saat mereka menambah, menyesuaikan, memperbaiki, memperkaya dan menvalidasinya Knowledge Map Menurut Debowski, 2006, Knowledge Map adalah pemetaan dan pengorganisasian dari pengetahuan inti organisasi. Meliputi pemetaan Knowledge yang ada dalam komunitas dan sistemsistem, yang membantu memberikan kategori, indeks dan label pada Knowledge tersebut Knowledge Domain Menurut Debowski, 2006, Knowledge Domain adalah wilayah Knowledge yang mendukung strategi bisnis utama organisasi. Knowledge Domain memiliki dua tingkatan yaitu elemen-elemen yang harus di-share oleh semua anggota organisasi dan digunakan sebagai dasar pelaksanaan pekerjaan, dan prioritas strategi yang harus dikembangkan dan didukung dari waktu ke waktu Knowlegde Policy Menurut Debowski, 2006, Knowledge Policy adalah sekumpulan aturan yang jelas dan tertulis yang mengatur dan menjadi panduan bagi jalannya proses inti dari Knowledge Management dalam suatu organisasi. Misalnya dengan adanya SOP atau peraturan-peraturan
22 28 yang dibuat oleh organisasi agar dapat berjalannya bisnis organisasi dengan baik Knowledge Requirement Menurut Debowski, 2006, pada saat pertama kali kita melakukan analisa core knowledge pada suatu organisasi harus didahului dengan mengetahui core business dan knowledge requirements untuk bisnis tersebut. Knowledge Requirements adalah pengetahuan-pengetahuan inti yang diperlukan untuk menunjang operasional suatu bisnis agar bisnis tersebut mampu berjalan Knowledge Capabilities Menurut Debowski, 2006, Knowledge Capabilities adalah kemampuan penyebaran Knowledge dalam suatu organisasi. Hal ini berhubungan dengan kemampuan para pekerja atau staf atau individu-individu dalam melakukan penciptaan, manajemen dan distribusi Knowledge yang terkait dengan pekerjaan mereka. 2.5 SWOT Analysis Menurut Pearce et all (2000, p ), analisis SWOT adalah analisis yang digunakan untuk mengevaluasi suatu strategi yang efektif dari sumber daya internal suatu perusahaan ( Strengths dan Weakness), dan sumber daya eksternal suatu perusahaan (Oppportunity dan Threats). Strength Adalah kelebihan-kelebihan sumber daya yang dimiliki oleh suatu organisasi. Seperti keahlian dan keterampilan sumber daya manusia, lokasi
23 29 perusahaan, atau keunggulan lain relatif terhadap pesaing dan kebutuhan pasar yang dilayani atau ingin dilayani oleh perusahaan. Weaknesses Keterbatasan atau kekurangan dalam sumber daya, keterampilan dan kemampuan yang secara serius dapat menghalangi kinerja efektif perusahaan. Keterbatasan dalam fasilitas, sumber daya keuangan, kemampuan management, keterampilan pemasaran merupakan sumber dari kelemahan. Opportunities Adalah kondisi yang baik dimana perusahaan dapat menemukan atau menciptakan suatu keunggulan yang lain dari pesaing, seperti perubahan situasi persaingan, identifikasi segmen pasar yang sebelumnya terabaikan, perubahan teknologi, serta membaiknya hubungan dengan pihak luar dapat memberikan peluang bagi pihak perusahaan. Threats Suatu kondisi yang tidak diinginkan dan menjadi ancaman yang dialami oleh suatu perusahaan. Dengan munculnya pesaing baru, kehilangan pelanggan, kehilangan pangsa pasar, regulasi baru yang diberlakukan merupakan suatu ancaman bagi perusahaan. 2.6 Zack Framework Dalam buku Tiwana (2002, p.102), Zack mengatakan bahwa setiap strategi akan terhubung dengan sekumpulan sumber dan kapasitas Knowledge. Zack meyakini bahwa faktor yang paling penting dalam menuntun Knowledge Management
24 30 adalah strategi bisnis, zack menggambarkan hubungan antara strategi Knowledge dan strategi organisasi. Gambar 2.9 Gap Analysis Zack Framework (Sumber: Tiwana, 2002, p.103) Gap Analysis dilakukan dengan menggunakan Zack Framework dari Michael H. Zack dalam buku Tiwana (2002, p.102), yang membandingkan poin-poin tentang pengetahuan yang dimiliki organisasi terhadap poin-poin tentang apa yang dikerjakan oleh organisasi. Baik pengetahuan maupun apa yang dikerjakan, masing-masing dibagi lagi ke dalam dua kutub, yaitu apa yang telah diketahui atau telah dikerjakan dan apa yang harus diketahui dan dikerjakan. Dari poin-poin yang telah terpisahkan tadi, dapat dianalisa gap yang terjadi baik pada pengetahuan dan pada apa yang dilakukan. 2.7 Mengadakan Sharing Vision Secara Periodik Sharing Vision adalah menjelaskan dan mendiskusikan visi, misi, dan nilai yang ada dalam organisasi, dalam bentuk yang mudah untuk dioperasikan oleh seluruh lapisan organisasi. Selain itu, Sharing Vision memiliki penekanan dalam hal
25 31 membangun dan mengasah kemampuan analisis pada setiap penggunanya. Dengan adanya data dan informasi terbaru dalam perusahaan, sangatlah penting untuk berperan dalam analisis dan tindakan kedepannya. 2.8 Membangun Budaya Sharing Knowledge Dalam organisasi, Knowledge Sharing sangatlah penting dalam hal penerapan Knowledge Management sebagai suatu proses berbagi pengetahuan dalam organisasi, yang paling menentukan terdapatnya Knowledge Sharing adalah sumber daya manusia dan budaya perusahaan itu sendiri. Sedangkan yang lainnya adalah sistem informasi dan strategi informasi serta struktur organisasi. 2.9 Perancangan Sistem Dalam Knowledge Management Menurut O Brien (2005, p.351), perancangan sistem dalam Knowledge Management terdiri dari tiga aktivitas, yaitu: Merancang User Interface, yaitu merancang layar, formulir, dialog box. Merancang Data, yaitu menentukan objek, atribut, relationship, kaidah integritas, dan lain sebagainya. Merancang Proses, yaitu membuat program dan prosedur seperti user services, application services, dan data services. a) Perancangan Layar Selain itu, perancangan layar juga diperlukan dalam perancangan Prototype Knowledge Management System pada Group Quality & Surveillance PT. Indosat Tbk, dimana menurut Dasaratha V, Rama dan
26 32 Frederick L. Jones (2006, p.271), terdapat enam elemen dari tampilan layar, yaitu: 1. Text Boxes Merupakan ruang atas layar yang digunakan untuk memasukan informasi yang ditambahkan pada table atau pada tampilan informasi yang terbaca dari table. 2. Labels Untuk dapat membantu pengguna agar dapat mengerti apakah informasi diperlukan untuk di catat. 3. Look-Up Features Sering ditambahkan pada text boxes yang digunakan untuk memasuki foreign keys. 4. Command Buttons Digunakan untuk dapat melakukan suatu action atau tindakan. 5. Radio Buttons Memungkinkan pengguna untuk dapat memilih salah satu dari beberapa pilihan. 6. Check Boxes Serupa dengan radio buttons, tetapi lebih dari satu pilihan yang dapat dipilih. b) Use Case Diagram Use case adalah kasus yang mendeskripsikan tentang bagaimana sistem akan dipergunakan. Diagram ini juga menunjukan ikhtisar fungsionalitas sistem dari sudut pandang pengguna yang sangat berperan dalam
27 33 penemuan akan kebutuhan sistem. Sebuah Use case dapat memrepresentasikan sebuah interaksi antara aktor dengan sistem, misalnya login ke sistem, membuat sebuah daftar belanja, dan sebagainya. Aktor merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan pengguna aplikasi. Aktor bisa berupa orang, hardware, atau sistem informasi lain yang berinteraksi dengan obyek dalam sistem. Dimana use case menggambarkan perilaku software aplikasi, termasuk didalamnya interaksi antara aktor dengan software aplikasi. Use case dibuat berdasarkan proses-proses yang dilakukan untuk kepentingan aktor untuk menggambarkan apa yang dikerjakan oleh aplikasi tetapi bukan bagaimana aplikasi mengerjakannya. Sebuah Use case dapat juga termasuk fungsionalitas Use case lain sebagai bagian dari proses dalam dirinya. Sebuah Use case juga dapat di include oleh lebih dari satu Use case lainnya, sehingga duplikasi fungsionalitas dapat dihindari dengan cara menarik keluar fungsionalitas yang common. Sebuah use case juga dapat meng-extend Use case lain dengan behaviornya sendiri Desain dan Pengembangan Knowledge Management Desain Infrastruktur dan Arsitektur a) Infrastruktur Menurut Debowski (2006, p35-45), ada tiga tipe infrastruktur yang beroperasi dikebanyakan organisasi, yaitu: a. Managerial Infrastructure
28 34 b. Technological Infrastructure c. Social Infrastructure Untuk dapat mengetahui fungsi dari masing-masing infrastruktur diatas, akan diuraikan sebagai berikut: a. Managerial Infrastructure Pengaruh managerial Infrastructure pada penciptaan Knowledge biasanya tidak akan disadari. Idealnya, managerial Infrastructure menyediakan suatu kerangka pendukung untuk resourcing, pengambilan keputusan dan praktik inovatif, jadi aktivitas dapat dengan sukses dilakukan. Pada umumnya, manager bertanggung jawab untuk keseluruhan performa dari unit operasional yang mereka kepalai. Knowledge Workers mengharapkan otonomi yang signifikan dan kepercayaan dari manager-nya, yang seharusnya beroperasi sebagai supportive agents, menyediakan petunjuk, feedback, dan sumber daya untuk mencapai hasil yang penting. Secara jelasnya, Management yang baik juga bekerja secara erat dengan kepemimpinan yang baik. Knowledge Management yang sukses membutuhkan suatu gaya management yang terbuka dimana mendorong sharing pada organisasi. Pada tingkat makro, cara organisasi mendukung knowledge workers-nya melalui kebijakan untuk karyawan dan praktik juga mempengaruhi kapasitas knowledge workers untuk melakukan aktivitas yang diharapkan.
29 35 b. Technological Infrastructure Technological Infrastructure menyediakan suatu mekanisme dimana orang dapat berbagi dan transfer informasi dan Knowledge. Sistem ini memungkinkan pencatatan, transmisi, dan ekstraksasi dari data untuk tujuan yang berbeda. Perubahan dan modifikasi Knowledge menghasilkan pendekatan yang baru dan lebih baik dari permasalahan dan tantangan-tantangan yang ada. Proses ini mengandalkan kefleksibelan dan kemampuan respon sistem sehingga tantangan Knowledge mungkin untuk di-capture dan dimaintain. Hambatan pun juga dapat berasal dari sistem yang beroperasi pada struktur teknikal yang berbeda, seperti halnya dengan adanya pembatasan akses pada penggunaan sistem. Technological Infrastructure dapat menjadi suatu komponen kunci dari kesuksesan suatu strategi Knowledge Management ataupun penghambat utama, bergantung kepada pendekatan organisasi dan kebijakan Knowledge. Library dan Information Service Organisasi yang besar dapat mengidentifikasi library dan information service sebagai elemen kunci dari strategi Knowledge-nya. Layanan ini berfokus pada dukungan individu kepada user, memungkinkan akses kepada sumber daya yang mendukung penciptaan dan abstraksasi Knowledge. Layanan library akan efektif
30 36 jika harus terhubungkan dengan user-nya, memonitor kebutuhan-kebutuhan perubahan, profil dan prioritas kerja. Selain itu, juga untuk beroperasi sebagai layanan central atau decentralised atau merupakan kombinasi dari kedua pendekatan tersebut. Records Management Perusahaan mempunyai records dalam kuantitas yang sangat besar hingga perlu untuk di-manage, identifikasikan, dibuat catalog dan disimpan sehingga dapat diperoleh kembali ketika dibutuhkan. Dalam organisasi yang kurang terstruktur, data ini biasanya terdapat dalam suatu kotak dibawah meja, tersimpan dalam lemari berkas kecil, ataupun terdapat dalam masing-masing perangkat komputer yang ada. Sedangkan pada lingkungan yang terstruktur dengan baik, dapat berupa kebijakan-kebijakan, karyawan melakukan fungsi records management, dan petunjuk yang jelas atas apa yang boleh dan tidak boleh diakses. Banyak aspek dari penciptaan Knowledge menjadi elemen-elemen dari records di masa yang akan datang. c. Social Infrastructure Social Infrastructure membantu menciptakan suatu hubungan yang kuat diantara proses capturing dan sharing knowledge dengan prioritas strategi perusahaan, membantu
31 37 proses pengarahan dan mendukung interaksi sosial dan professional diantara anggota organisasi dengan kolega, klien dan sebagainya. Social Infrastructure pun membantu menciptakan arti dan tujuan dari aktivitas yang dilakukan, juga memberikan petunjuk atas pemahaman para anggota sebagai prioritas yang penting secara strategi. Infrastructure ini juga menawarkan pemahaman kepada konteks Knowledge, mencakup nilai dan prioritas yang sebaiknya dijalankan. b) Arsitektur Gambar 2.10 Seven layer of Knowledge Management System (Sumber: Tiwana, 2002)
32 38 - Interface layer Ini merupakan penghubung lapisan tertinggi antara orang dengan sistem manajemen pengetahuan yang berfungsi menciptakan, menggunakan, menemukan kembali dan berbagi pengetahuan. - Access and authentication layer Ini merupakan lapisan yang membuktikan keaslian pengguna siapa yang mengakses database ini, menyediakan keamanan untuk mencegah pengakses yang tidak sah dan menyediakan cadangan apabila ada pihak yang akan merusak database tersebut. - Collaborative filtering and intelligence layer Lapisan ini berisi sarana untuk meminta data sesuai permintaan, mencari, mengindeks dan sebagainya. - Application layer Lapisan ini berisi tempat penyimpanan keterampilan, yellow pages, sarana berkolaborasi, piranti keras dan lunak konferensi yang menggunakan video, whiteboard digital, electronic forum dan sebagainya. - Transport layer Lapisan ini memuat teknologi seperti web server, server, pendukung untuk alur video dan audio dan sebagainya. - Middleware and legacy-integration layer Legacy System merupakan mainframe atau sistem komputer yang sudah ada. Middleware dalam hal ini berfungsi menghubungkan format data lama dengan yang baru.
33 Tahapan Implementasi Menurut Turner, G., & Minonne, C. (2010), terdapat lima tahapan dari pengembangan dan implementasi Knowledge Management System, yaitu: Gambar 2.11 Knowledge Maturity model (Sumber: Turner, G., & Minonne, C., 2010) Stage 1 Dalam stage 1 ini, hal yang mendasar dari Knowledge Management telah mulai untuk dapat dimengerti. Perbedaan antara Knowledge Management dengan information Management sudah dapat mulai dipahami dengan jelas oleh beberapa divisi dalam group. Selain itu, satu hal yang bisa didapatkan dari Knowledge Management mulai dibahas dan menjadi perhatian bagi pimpinan group dan jajaran manager dalam group pada setiap divisinya. Pada stage 1 ini, belum terdapat standart pada pengukuran dan metric yang digunakan.
34 40 Stage 2 Dalam stage 2 ini, program Knowledge Management sudah dapat mulai di jalankan secara resmi. Dukungan dari divisi yang terdapat dalam group sudah mulai terlihat, dan model dari Knowledge Management sudah ditetapkan. Kegiatan untuk eksplorasi Knowledge telah mendapatkan dukungan dari pimpinan group, dan mulai di promosikan kepada para pekerja dalam group pada setiap divisinya. Pada stage 2 ini, struktur Knowledge yang ada didalam group sudah mulai terbentuk, dengan harapan akan adanya Knowledge-Knowledge baru yang masuk dalam repository knowledge group. Pada stage 2 ini, beberapa metric pengukuran kualitatif mulai digunakan untuk mengawali implementasi Knowledge Management lebih lanjut didalam group. Stage 3 Dalam stage 3 ini, personil dalam tim Knowledge Management telah ditetapkan, dan dana sudah dapat dialokasikan untuk dapat menjalankan dan mengembangkan proyek Knowledge Management. Dalam stage 3 ini, aktivitas dari pengumpulan Knowledge telah memasuki tahapan dalam Knowledge innovation. Dengan demikian, group mengakomidasikan ideide dan Knowledge baru, asimilasi dari Knowledge-Knowledge yang ada di dalam group, dan penciptaan inovasi-inovasi baru. Dimana pada stage 3 ini, metric pengukuran yang hampir
35 41 semuanya berbentuk kualitatif, ditambah beberapa metric pengukuran kuantitatif digunakan untuk mengukur efektivitas dan efesiensi dari implementasi Knowledge Management. Stage 4 Dalam stage 4 ini, Knowledge Management sudah menjadi bagian dari proses bisnis dalam group. Knowledge dissemination mulai dilaksanakan dan dipromosikan secara aktif dalam group. Fokus dari Knowledge dissemination adalah membangun strategi untuk menyebarkan Knowledge yang tersimpan didalam perusahaan dan bagaimana cara mengubah explicit knowledge yang tersimpan didalam perusahaan menjadi tacit knowledge bagi para staff dalam group. Dalam stage 4 ini, gabungan antara metric pengukuran kualitatif dan kuantitatif digunakan untuk mengukur efektivitas dan efesiensi dari implementasi Knowledge Management. Stage 5 Dalam stage 5 ini, Knowledge Management sudah menjadi bagian dari pengembangan strategi group. Group mulai mengimplementasikan knowledge automation yang menggunakan sistem dan teknologi informasi secara maksimal untuk otomatisasi proses pengembangan Knowledge. Fokus utama dalam stage ini adalah segi ekonomis dan efisiensi dari pemanfaaan sistem Knowledge Management dan peningkatan efisiensi dan efektivitas dari manajemen Asset Knowledge
36 42 group. Metric pengukuran atau dapat dikatakan sebagai Key Performance Indicator (KPI) kualitatif dan kuantitatif yang digunakan untuk mengukur kinerja dari sistem Knowledge Management dan mengukur efektivitas dan efesiensi terhadap strategi Knowledge Management yang telah di implementasikan oleh group Membentuk Team Knowledge Management Pada tahap ini anggota tim KM harus ambil dari berbagai area fungsional dan departemen yang berbeda dari perusahaan Tujuan dari langkah merancang tim Knowledge Management adalah mengidentifikasi stakeholder, menentukan sumber untuk bidang tertentu (expert), memilih project leader yang berpengalaman, mengidentifikasi keterlibatan antara end-user dengan manajemen, dan menyeimbangkan tim manajemen dengan teknologi Knowledge Management System Blueprint Merancang Knowledge Management System secara keseluruhan baik hardware, software, jaringan dan design dari database. Hardware: kebutuhan komputer untuk web server, application server dan database server Software: Platform yang digunakan untuk men-develop Knowledge Management System
37 43 Jaringan yang digunakan: WAN (Wide Area Network), LAN (Local Area Network), MAN (Metropolitan Area Network) Prototype Menurut Mcleod, Schell. (2007), pola pengembangan sistem selalu meninjau kembali dan mengulang pekerjaan tersebut sampai mendapatkan sistem yang memenuhi kebutuhan para penggunanya. Sedangkan definisi menurut Mcleod, Schell. (2007) adalah suatu versi sistem potensial yang disediakan bagi pengemban dan calon pengguna yang dapat memberikan gambaran bagaimana kira-kira sistem tersebut akan berfungsi bila telah disusun dalam bentuk yang lengkap. Proses dalam memproduksi suatu Prototype dapat disebut sebagai Prototyping. Dengan tujuan untuk menghasilkan Prototype secepat mungkin, bahkan dalam satu malam, dan memperoleh umpan balik dari pengguna yang akan memungkinkan Prototype untuk tingkatan secepat mungkin. Proses ini bisa diulang beberapa kali sehingga menghasilkan Prototype yang dianggap sempurna Deployment Perencanaan dalam Deployment suatu Knowledge Management System sangat diperlukan karena banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesannya. Berawal dari tiga inti dari Knowledge Management yaitu People, Process, dan Technology, perencanaan dibuat secara menyeluruh melingkupi ketiga aspek inti tersebut. Tiwana, Amrit (2002), mengatakan bahwa tahapan ini
38 44 merupakan tahapan yang vital karena niat dan teknologi terbaik pun tidak akan mampu menyelamatkan suatu Knowledge Management System dari kegagalan jika tanpa perencanaan Deployment yang baik Evaluasi Knowledge Management Evaluasi merupakan suatu tahapan yang sangat penting untuk semua strategi Knowledge Management. Menurut Debowski (2006, p.273), evaluasi menyediakan kesempatan untuk menganalisis strategi yang sekarang dan memonitor tanggapan dari para pengguna dan efek terhadap bisnis proses dan hasil yang didapatkan. Hal ini dapat diartikan bahwa evaluasi terbagi dalam dua fungsi utama, pertama untuk mengetahui cara dalam menerapkan Knowledge Management yang efektif dan bagaimana meningkatkan efektifitas. Dan yang kedua, evaluasi harus dapat mendokumentasikan pengaruh dan keuntungan dari Knowledge Management untuk memastikan sponsorship terhadap inisiatif Knowledge dapat terus berlanjut Prinsip Dasar Setiap proses utama dalam organisasi haruslah secara regular dilakukan evaluasi. Hal ini dibutuhkan untuk memantau keberhasilan dan untuk mengidentifikasi masalah yang harus segera diselesaikan secepatnya. Hal ini tentu dengan melihat dari dua bagian bentuk evaluation, yaitu Formative evaluation dan Summantive evaluation. Pertama, Debowski (2006, p.273) Formative evaluation dilaksanakan selama proses pengembangan, identifikasi masalah harus diselesaikan kembali atau dikonfirmasikan apakah inisiatifnya harus
39 45 dilanjutkan atau dibatalkan. Selanjutnya yang kedua, Debowski (2006, p.273) Summantive evaluation adalah pelaporan dari hasil yang didapatkan dari semua proses, secara umum untuk tujuan perhitungan. Hal yang perlu diperhatikan dalam evaluasi adalah: Menyediakan waktu dan feedback yang akurat dari efektivitas strategi Knowledge yang berjalan Mendapatkan informasi dari hasil strategi Knowledge Mengidentifikasikan masalah yang harus diselesaikan Melakukan perhitungan dari investasi organisasi dalam Knowledge Management Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan dalam proses evaluasi, adalah: Apa yang harus dievaluasi? Apa yang harus diukur? Bagaimana dan kapan evaluasi dilakukan secara konduktif? Siapalah yang berkontribusi untuk melakukan evaluasi? Bagaimana hasilnya dapat digunakan? Evaluasi Prototype Dengan Kuesioner Menurut Kothari, C.R. (2004, p.100), suatu kuesioner terdiri dari beberapa pertanyaan yang dicetak dengan urutan tertentu pada suatu formulir. Kuesioner diberikan kepada responden yang diharapkan untuk dapat membaca dan mengerti dalam pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dan menuliskan jawaban pada tempat yang telah disediakan untuk
40 46 kegunaan kuesioner itu sendiri. Berikut merupakan beberapa keunggulan dalam pengumpulan data dengan menggunakan teknik kuesioner, yaitu: 1. Biayanya kecil walaupun populasinya besar dan tersebar secara geografis 2. Bebas dari bias seperti interview, bias dimana responden dapat menjawab dengan kalimatnya sendiri. 3. Responden mempunyai cukup waktu untuk memberikan jawabannya. 4. Responden yang tidak mudah dijangkau, dapat dijangkau dengan lebih baik. 5. Sample yang besar dapat digunakan dengan hasil yang didapat lebih handal. Selain hal tersebut, kuesioner juga memiliki kelemahan, antara lain: 1. Tingkat pengembalian yang relative kecil 2. Cenderung digunakan ketika responden diedukasi dan dapat bekerja sama 3. Kontrol dari kuesioner mungkin hilang ketika didistribusikan.
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Definisi Data, Informasi Dan Knowledge Management Organisasi harus memiliki sistem pengelolaan pengetahuan yang baik untuk menghasilkan knowledge yang berkualitas dan berguna
Sharing vision mempunyai penekanan membangun dan mengasah kemampuan. analisis setiap individu. Oleh karena itu, data dan informasi kondisi perusahaan
18 2. Mengadakan sharing vision secara periodik Sharing vision mempunyai penekanan membangun dan mengasah kemampuan analisis setiap individu. Oleh karena itu, data dan informasi kondisi perusahaan yang
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Knowledge Menurut Modi Lakulu, Mohd Hasan Selamat (February 2010) knowledge adalah campuran dari pengalaman, value, informasi kontekstual, dan wawasan yang memberikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kerangka Teori 2.1.1 Pengertian Knowledge Secara umum, terdapat dua jenis pengetahuan yaitu pengetahuan tacit dan pengetahuan eksplisit. Pengetahuan tacit adalah pengetahuan
ANALISA STRATEGIS SI/TI: MENILAI DAN MEMAHAMI KONDISI SAAT INI. Titien S. Sukamto
ANALISA STRATEGIS SI/TI: MENILAI DAN MEMAHAMI KONDISI SAAT INI Titien S. Sukamto Pengantar Dalam proses mencapai keselarasan dan dampaknya, diperlukan adanya pemahaman akan lingkungan bisnis dan teknologi,
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Data Menurut Parker (1993) data merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggal datum atau data-item, kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan nyata.
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Pengertian Dasar Enterprise Arsitektur 3.1.1. Enterprise Architecture Enterprise Architecture atau dikenal dengan arsitektur enterprise adalah deskripsi yang didalamnya termasuk
Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi
Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi IV.1 Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi dengan Val IT Perencanaan investasi TI yang dilakukan oleh Politeknik Caltex Riau yang dilakukan
BAB 2 LANDASAN TEORI
9 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Menurut McLeod (2001, p11), sistem adalah elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud untuk mencari suatu tujuan, dimana unsur-unsur dari sistem meliputi input, tekransformasi,
BAB III METODOLOGI. proses penyusunan perencanaan strategi, terdapat beberapa komponen yang perlu. diperhatikan. Komponen-komponen tersebut adalah :
19 BAB III METODOLOGI 3.1. Komponen Sebuah Perencanaan Penyusunan sebuah perencanaan terdiri atas beberapa komponen. Pada proses penyusunan perencanaan strategi, terdapat beberapa komponen yang perlu diperhatikan.
BAB II LANDASAN TEORI
5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Knowledge Management System Pada point ini membahas mengenai landasan teori knowledge management system yang akan digunakan sebagai acuan dalam pembuatan penulisan ini. 2.1.1.
KNOWLEDGE MANAGEMENT. Implementasi Knowledge Management. Rani Puspita D, M.Kom
KNOWLEDGE MANAGEMENT Implementasi Knowledge Management Rani Puspita D, M.Kom Tujuan Pembelajaran Memahami bagaimana cara penerapan atau implementasi knowledge management terhadap perusahaan atau organisasi.
KNOWLEDGE MANAGEMENT PENGERTIAN DAN MANFAATNYA PADA ORGANISASI. Oleh :
KNOWLEDGE MANAGEMENT PENGERTIAN DAN MANFAATNYA PADA ORGANISASI Disusun sebagai tugas paper MK. Teori Organisasi dan Manajemen Pengetahuan (TOMP) pada Kelas E35-Bogor. 22-Januari 2011 Oleh : Hary Purnama
BAB 1 PENDAHULUAN. yang bermanfaat guna mendukung pengambilan keputusan secara tepat dan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan teknologi yang pesat khususnya di bidang teknologi komunikasi dan informasi membawa perubahan yang besar di berbagai bidang kehidupan. Dalam kemajuan teknologi,
Ringkasan Chapter 12 Developing Business/ IT Solution
TUGAS SISTEM INFORMASI MANAJEMEN Dosen : Dr. Ir. Arif Imam Suroso, M.Sc Ringkasan Chapter 12 Developing Business/ IT Solution Oleh : Shelly Atriani Iskandar P056121981.50 KELAS R50 PROGRAM PASCA SARJANA
BAB 2 TELAAH PUSTAKA 2.1 Manajemen Kinerja
BAB 2 TELAAH PUSTAKA 2.1 Manajemen Kinerja Manajemen kinerja adalah sebuah proses komunikasi yang berkesinambungan dan dilakukan dalam kemitraan antara seorang karyawan dan perusahaan (Bacal,1999). Sebuah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Laurence (Tiwana: 2002) knowledge didefinisikan sebagai berikut :
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1 Knowledge Knowledge bukan hanya pengetahuan, menurut Thomas Davenport dan Laurence (Tiwana: 2002) knowledge didefinisikan sebagai berikut : "Knowledge merupakan campuran dari
Arsitektur Knowledge Management
Arsitektur Knowledge Management Aloysius Airlangga Bajuadji, S.Kom, M.Eng Tujuan & Definisi Arsitektur KM Tujuan penyusunan arsitektur KM adalah untuk menyediakan kerangka dan landasan bagi pengembangan
BAB V PERANCANGAN MOXIE
BAB V PERANCANGAN MOXIE Bab ini berisi penjabaran dari hasil perancangan Moxie. Pembahasan pada bab ini mencakup perancangan arsitektur dan model skenario untuk Moxie. Model skenario merupakan produk dari
PENGUKURAN TINGKAT MATURITY TATA KELOLA SISTEM INFORMASI RUMAH SAKIT DENGAN MENGGUNAKAN FRAMEWORK COBIT VERSI 4.1 (Studi Kasus : Rumah Sakit A )
Media Indormatika Vol. 8 No. 3 (2009) PENGUKURAN TINGKAT MATURITY TATA KELOLA SISTEM INFORMASI RUMAH SAKIT DENGAN MENGGUNAKAN FRAMEWORK COBIT VERSI 4.1 (Studi Kasus : Rumah Sakit A ) Hartanto Sekolah Tinggi
Bab II. Tinjauan Pustaka
Bab II Tinjauan Pustaka Pada bab ini akan dijelaskan mengenai tinjauan pustaka yang digunakan dalam pemodelan Customer Relationship Management. Adapun teori yang akan dijelaskan antara lain adalah Customer
BAB 1 PENDAHULUAN. Penerapan Knowledge Management (KM) di perusahaan sudah menjadi suatu
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penerapan Knowledge Management (KM) di perusahaan sudah menjadi suatu kebutuhan mendasar pada saat ini. Kemampuan perusahaan mengelola knowledge yang ada merupakan
E-Government Capacity Check
EKOJI999 Nomor 146, 1 Februari 2013 E-Government Capacity Check oleh Prof. Richardus Eko Indrajit - [email protected] Artikel ini merupakan satu dari 999 bunga rampai pemikiran Prof. Richardus
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Strategi Definisi strategi secara umum adalah rencana tindakan atau kebijaksanaan yang dibuat untuk mencapai suatu tujuan. Dan menurut beberapa ahli, strategi adalah arah dan
KNOWLEDGE MANAGEMENT. Siklus Knowledge Management. Pertemuan 2
KNOWLEDGE MANAGEMENT Pertemuan 2 : Siklus Knowledge Management Pertemuan 2 Rani Puspita D, M.Kom KM yang efektif mensyaratkan organisasi untuk mengidentifikasi, menghasilkan, memperoleh, menyebar dan menangkap
BAB 2 LANDASAN TEORI
11 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kerangka Teori 2.1.1 Pengertian Knowledge Knowledge atau pengetahuan sendiri adalah informasi yang mengubah sesuatu atau seseorang, sehingga Knowledge yang ada menjadi sebuah
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN Referensi : 1. Management Information Systems : A Managerial End User Perspective, James A. O'Brien 2. Management Information Systems, Raymond McLeod, Jr. Sistem Informasi dan
Taryana Suryana. M.Kom
Knowledge Management Taryana Suryana. M.Kom [email protected] http://kuliahonline.unikom.ac.id 1 Pendahuluan Knowledege dapat didefinisikan sebagai pemahaman terhadap sesuatu melalui proses atau pengalaman
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Universitas merupakan intuisi akademis yang memiliki karakteristik yang sama dengan organisasi pembelajaran. Dimana dalam organisasi ini banyak subsub kegiatan yang
Daftar Pertanyaan Wawancara. 2. Bagaimana struktur organisasi instansi, beserta tugas dan tanggung jawab tiap
L1 Daftar Pertanyaan Wawancara 1. Apa visi dan misi instansi? 2. Bagaimana struktur organisasi instansi, beserta tugas dan tanggung jawab tiap bagian? 3. Bagaimana proses bisnis instansi? 4. Sejak tahun
Knowledge Management Tools
Knowledge Management Tools Ada beberapa faktor yang dapat memotivasi sebuah organisasi untuk membentuk manajemen formal dan pengetahuan sistematis, termasuk keinginan atau kebutuhan untuk : i. mendapatkan
BAB VIII Control Objective for Information and related Technology (COBIT)
BAB VIII Control Objective for Information and related Technology (COBIT) Dikeluarkan dan disusun oleh IT Governance Institute yang merupakan bagian dari ISACA (Information Systems Audit and Control Association)
LAMPIRAN 1. Kuesioner. Domain Bisnis. untuk penyusunan skripsi dengan judul Analisis Investasi Sistem Informasi dengan
L1 LAMPIRAN 1 Kuesioner Domain Bisnis Kuesioner ini dibuat dan disebarkan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk penyusunan skripsi dengan judul Analisis Investasi Sistem Informasi dengan Menggunakan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi informasi dan bisnis merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Teknologi informasi memiliki peranan penting dalam menjalankan sebuah perusahaan. Teknologi
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI A. Simpulan Berdasarkan hasil pembahasan penelitian ini, dapat diambil beberapa simpulan sesuai dengan permasalahan yang diteliti, sebagai berikut: Dukungan kebijakan
MENGEMBANGKAN STRATEGI SI/TI Titien S. Sukamto
MENGEMBANGKAN STRATEGI SI/TI Titien S. Sukamto Pengembangan Strategi SI/TI Mengembangkan sebuah strategi SI/TI berarti berpikir secara strategis dan merencanakan manajemen yang efektif untuk jangka waktu
BAB V HASIL PERANCANGAN AUDIT DAN REKOMENDASI
BAB V HASIL PERANCANGAN AUDIT DAN REKOMENDASI 5.1 Rancangan Audit Sistem Informasi Rancangan audit sistem informasi dapat dilihat dari skor rata-rata dilakukan perhitungan pada bab sebelumnya dari nilai
LAMPIRAN 1 LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN SWOT. Kuesioner ini digunakan untuk mendapatkan nilai yang nantinya berpengaruh terhadap
LAMPIRAN 1 LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN SWOT Kuesioner ini digunakan untuk mendapatkan nilai yang nantinya berpengaruh terhadap strategi di dalam perusahaan. Petunjuk Bobot : Berilah bobot antara 0-1 dengan
PROJECT MANAGEMENT BODY OF KNOWLEDGE (PMBOK) PMBOK dikembangkan oleh Project Management. Institute (PMI) sebuah organisasi di Amerika yang
PROJECT MANAGEMENT BODY OF KNOWLEDGE (PMBOK) PMBOK dikembangkan oleh Project Management Institute (PMI) sebuah organisasi di Amerika yang mengkhususkan diri pada pengembangan manajemen proyek. PMBOK merupakan
SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #9 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS)
SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #9 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS) Mahasiswa mampu menjelaskan dasar, prinsip, struktur dan poin kunci framework TOGAF sebagai pendekatan arsitektur enterprise
METODOLOGI PENELITIAN
III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Penelitian Dalam mengembangkan blueprint Sistem Informasi penerapan SNP di Sekolah Menengah Atas, keseluruhan proses yang dilalui harus melalui beberapa tahapan.
Bab III Analisis Faktor Knowledge Management
Bab III Analisis Faktor Knowledge Management Bab III menjelaskan tahapan analisis faktor-faktor berpengaruh pada KM, yang ditujukan untuk mengidentifikasi komponen pembangun KMS sebagai landasan berpikir
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Perencanaan Strategi Sistem dan Teknologi Informasi 2.1.1 Pengertian Perencanaan Strategis Perencanaan strategis, menurut Ward dan Peppard (2002, p462) adalah analisa
THE DIRECTION PHASE. Titien S. Sukamto
THE DIRECTION PHASE Titien S. Sukamto THE DIRECTION PHASE Fase ini merupakan waktu untuk mengembangkan arah dari SI organisasi, identifikasi dimana SI berada di masa depan untuk memenuhi kebutuhan bisnis.
LAMPIRAN 1. Kuesioner Portfolio Domain Bisnis
L1 LAMPIRAN 1 Kuesioner Portfolio Domain Bisnis Kuesioner ini dibuat dan disebarkan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk penyusunan skripsi dengan judul Evaluasi Investasi Sistem dan Teknologi
Arsitektur Sistem Informasi. Tantri Hidayati Sinaga, M.Kom.
Arsitektur Sistem Informasi Tantri Hidayati Sinaga, M.Kom. Arsitektur Teknologi Informasi Arsitektur teknologi informasi adalah seluruh aspek meliputi piranti keras, piranti lunak, perangkat jaringan dan
BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM
BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Analisis Prosedur Tahap pertama yang harus dilakukan untuk menghasilkan aplikasi yang baik adalah dengan mempelajari bagaimana sistem yang sedang berjalan saat
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Berpikir PT. Tawada Graha yang menjadi obyek dari tulisan kami menjalankan bisnis mereka secara tradisional. Tidak ada perencanaan strategis jangka panjang yang
BAB I PENDAHULUAN. membantu memenuhi kebutuhan informasi seluruh karyawan perusahaan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sekarang ini perkembangan teknologi informasi (IT) telah berkembang dengan pesat, dengan banyak membawa perubahan-perubahan besar yang berpengaruh pada dunia bisnis.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka Pada penelitian sebelumnya yang berjudul Pengembangan Model Arsitektur Enterprise Untuk Perguruan Tinggi dilakukan pengembangan model arsitektur enterprise untuk
BAB III METODOLOGI. Dalam penyusunan thesis ini kerangka berpikir yang akan digunakan adalah untuk
BAB III METODOLOGI 3.1. Kerangka Berpikir Dalam penyusunan thesis ini kerangka berpikir yang akan digunakan adalah untuk menjawab pertanyaan Apakah Strategi TI Bank Indonesia sudah sesuai dan sejalan dengan
PENGUKURAN KESENJANGAN DAN PERENCANAAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI MENGGUNAKAN TOGAF (Studi Kasus : Politeknik Surabaya)
PENGUKURAN KESENJANGAN DAN PERENCANAAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI MENGGUNAKAN TOGAF (Studi Kasus : Politeknik Surabaya) Agus Hermanto [9112205310] Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Hari Ginardi, M.Kom PROGRAM
LAMPIRAN A KUISIONER UNTUK PEMBOBOTAN KORPORAT
LAMPIRAN A KUISIONER UNTUK PEMBOBOTAN KORPORAT Faktor Domain Bisnis 1. Strategic Values 1.1. Strategic Match Dititikberatkan pada tingkat/derajat dimana semua proyek teknologi informasi atau sistem informasi
STRATEGI & PENGUKURAN MANAJEMEN PENGETAHUAN
STRATEGI & PENGUKURAN MANAJEMEN PENGETAHUAN PENDAHULUAN Strategi KM dan kerangka kerja pengukuran sebagai tambahan siklus KM Terintegrasi Strategi KM terkait dengan business objective organisasi keseluruhan
BAB 1 PENDAHULUAN. Persaingan antar perusahaan yang semakin ketat dan kompetitif dewasa ini
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Persaingan antar perusahaan yang semakin ketat dan kompetitif dewasa ini memaksa perusahaan untuk terus berinovasi dan memberikan pelayanan yang terbaik bagi para pelanggan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perkembangan dunia bisnis dalam era informasi ini sangat kompetitif.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan dunia bisnis dalam era informasi ini sangat kompetitif. Informasi merupakan kekuatan vital dalam menentukan jalannya suatu perusahaan, karena informasi
BAB III ANALISIS III.1 Interaksi Sosial sebagai Dasar Knowledge Management
BAB III ANALISIS Pada bab ini dipaparkan analisis yang dilakukan terhadap pengetahuan dan pemahaman dasar mengenai proses KM. Analisis yang dilakukan adalah terkait dengan pemahaman bahwa KM didasari oleh
LAMPIRAN LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN COORPORATE VALUE. Petunjuk: Berilah nilai bobot antara 0-5 dimana:
LAMPIRAN LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN COORPORATE VALUE Petunjuk: Berilah nilai bobot antara - dimana: Tidak berhubungan sama sekali. Sangat sedikit hubungannya. Sedikit hubungannya Cukup berhubungan. Memiliki
Jenis Metode Pengembangan Perangkat Lunak
Jenis Metode Pengembangan Perangkat Lunak by webmaster - Tuesday, January 05, 2016 http://anisam.student.akademitelkom.ac.id/?p=123 Menurut IEEE, Pengembangan software (software engineering ) adalah :
Perancangan Sistem Secara Umum
Perancangan Sistem Secara Umum PERANCANGAN SISTEM Verzello / John Reuter III Tahap setelah analisis dari siklus pengembangan sistem : Pendefinisian dari kebutuhan-kebutuhan fungsional dan persiapan untuk
Wawancara Hubungan Lights- On dan Proyek dengan. Arahan Strategi ( Strategic Intention)
L1 Wawancara Hubungan Lights- On dan Proyek dengan Arahan Strategi ( Strategic Intention) Untuk menjawab pertanyaan dibawah ini menggunakan format skor dengan skala ( 0-5 ) dan lingkari skor yang akan
BAB 4 HASIL PENELITIAN. dijalankan oleh PT. Huabei Petroleum Service. Adapun arahan strategi yang diperoleh adalah sebagai berikut:
BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Rencana Strategi Bisnis Rencana strategis bisnis berisi sekumpulan arahan strategi yang akan dijalankan oleh PT. Huabei Petroleum Service. Adapun arahan strategi yang diperoleh
LAMPIRAN. KUESIONER PEMBOBOTAN KORPORASI PT INDOSAT, Tbk
9 LAMPIRAN KUESIONER PEMBOBOTAN KORPORASI PT INDOSAT, Tbk Kuesioner ini digunakan untuk mendapatkan nilai korporasi perusahaan. Pertanyaan di bawah berhubungan dengan nilai-nilai dan resiko-resiko yang
SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #4 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS)
SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #4 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS) Mahasiswa mampu menjelaskan bahasa, pedoman, dan visualisasi yang digunakan sebagai dasar pembuatan sebuah pemodelan arsitektur
KNOWLEDGE MANAGEMENT. Strategi dan Pengukuran Knowledge Management. Rani Puspita D, M.Kom
KNOWLEDGE MANAGEMENT Strategi dan Pengukuran Knowledge Management Rani Puspita D, M.Kom Tujuan Pembelajaran Memahami lebih jelas mengenai strategi knowledge management. Memahami lebih detail dari mulai
THE VISIONING PHASE. Titien S. Sukamto
THE VISIONING PHASE Titien S. Sukamto KOMPONEN PADA VISIONING PHASE 1. INISIASI DAN PENGELOLAAN PROYEK Penting untuk mengelola proyek perencanaan strategis sama seperti halnya proyek bisnis dan SI lainnya.
Enterprise Resource Planning
MODUL PERKULIAHAN Enterprise Resource Planning Supply Chain Management and Customer Relationship Management Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Sistem Informasi Sistem Informasi 04 MK18046
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pertanian memberikan kontribusi banyak terhadap keberlangsungan hidup masyarakat, terutama kontribusinya sebagai sumber pangan, sumber lapangan pekerjaan bagi sebagian
Manajemen Proyek Perangkat Lunak Minggu 1
Manajemen Proyek Perangkat Lunak Minggu 1 Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng Proyek Kumpulan orang-orang untuk menyelesaikan suatu permasalahan Sebuah aktivitas yang bertujuan untuk menghasilkan sebuah hasil
BAB III LANDASAN TEORI. mengumpulkan (input), memanipulasi (process), menyimpan, dan menghasilkan
BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Sistem Informasi Ialah sebuah set elemen atau komponen terhubung satu sama lain yang mengumpulkan (input), memanipulasi (process), menyimpan, dan menghasilkan (output) data dan
ENTERPRISE RESOURCE PLANNING
ENTERPRISE RESOURCE PLANNING 02- Pemetaan Proses & Siklus ERP PENGELOLAAN PROYEK ERP Lingkungan struktur organisasi dalam implementasi ERP bisa disesuaikan dengan kebutuhan, karena struktur organisasi
Tulisan ini bersumber dari : WikiPedia dan penulis mencoba menambahkan
Tulisan ini bersumber dari : WikiPedia dan penulis mencoba menambahkan Control Objectives for Information and related Technology (COBIT) adalah seperangkat praktik terbaik (kerangka) untuk teknologi informasi
BAB 1 PENDAHULUAN. berbagai sisi kehidupan manusia. Melalui pemanfaatan sistem informasi, maka
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan sistem dan teknologi informasi berkembang sangat pesat dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Melalui pemanfaatan sistem informasi, maka dimungkinkan penerapan
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengenalan Rekayasa Informasi Saat ini banyak perusahaan-perusahaan yang sudah memanfaatkan sistem informasi untuk mendukung aktivitas perusahaan. Sebagian besar pemanfaatan sistem
DASAR SISTEM DALAM BISNIS
DASAR SISTEM DALAM BISNIS SISTEM INFORMASI Sistem adalah satu kesatuan komponen yang saling terhubung dengan batasan yang jelas bekerja bersama-sama untuk mencapai seperangkat tujuan (O Brien dan Marakas
TINJAUAN PUSTAKA Information Technology Infrastructure Library (ITIL) Framework Tujuan Penelitian Ruang Lingkup Penelitian
2 sebanyak 92% pada incident bisnis kritis pada tahun 2003. Dari beberapa fakta di atas terbukti bahwa ITIL framework dapat memberikan solusi penanganan incident di perusahaan. Pada penelitian ini, ITIL
BAB 3 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. serta petunjuk arah yang terbuat dari neon sign maupun billboard.
BAB 3 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 3.1 Sejarah Perusahaan PT. Mega Cipta Mandiri didirikan pada tanggal 6 Februari 1996 di Jakarta. PT. Mega Cipta Mandiri bergerak pada bidang periklanan yaitu billboard. Banyak
BAB 2. Landasan Teori
BAB 2 Landasan Teori 2.1 Pengertian Data, Informasi dan Knowledge 2.1.1 Data Menurut O Brien (2005, p.38) data merupakan fakta atau observasi mentah yang biasanya banyak data yang menjelaskan kegiatan
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. dijalankan oleh PT. Adi Sarana Armada.
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Rencana Strategis Bisnis Rencana strategis bisnis berisi sekumpulan arahan strategi yang akan dijalankan oleh PT. Adi Sarana Armada. Adapun arahan strategi yang diperoleh
III METODOLOGI PENELITIAN
39 III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Permasalahan Dukungan SIMPEG yang berkualitas bagi Badan Litbang Pertanian merupakan suatu keharusan agar mampu menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi stakeholder.
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Latar Belakang CMMI (Capability Maturity Model Integration) Menurut Dennis M. Ahern, Aaron Clouse, dan Richard Turner, dalam buku mereka yang berjudul CMMI Distilled: A Practical
BAB II LANDASAN TEORI. Bab ini akan menjelaskan tentang landasan teori yang menjadi dasar dalam pelaksanaan kegiatan tugas akhir.
BAB II LANDASAN TEORI Bab ini akan menjelaskan tentang landasan teori yang menjadi dasar dalam pelaksanaan kegiatan tugas akhir. 2.1 Knowledge Knowledge adalah informasi yang mengubah sesuatu atau seseorang,
BAB IV PERENCANAAN DAN ANALISIS MOXIE
BAB IV PERENCANAAN DAN ANALISIS MOXIE Pada bab ini akan dibahas hasil dari perencanaan dan analisis pengembangan Moxie. Moxie merupakan sebuah knowledge library yang dikembangkan dengan studi kasus yang
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Pengertian Nilai (Value) Nilai dalam bahasa yunani axia yang berarti berharga, namun ada perbedaan konsep antara harga dan nilai dalam bahasa Indonesia. Nilai bermakna sesuatu
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Mobil Permata Trans yang beralamatkan di Jalan Raflesia J-4, Komplek Mitra
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1. Objek Penelitian Dalam menentukan objek penelitian, penulis melakukannya pada Rental Mobil Permata Trans yang beralamatkan di Jalan Raflesia J-4, Komplek Mitra
Perancangan Aplikasi Basis Data. by: Ahmad Syauqi Ahsan
02 Perancangan Aplikasi Basis Data by: Ahmad Syauqi Ahsan Latar Belakang 2 Metodologi perancangan basis data dapat menggunakan alat bantu seperti Designer 2000 dari Oracle, ERWin, BPWin, dan lain sebagainya.
BAB 4 EVALUASI PENGENDALIAN SISTEM INFORMASI PENJUALAN PADA PT. BANGUNAN JAYA. kematangan penerapan sistem informasi pada PT. Bangunan Jaya.
BAB 4 EVALUASI PENGENDALIAN SISTEM INFORMASI PENJUALAN PADA PT. BANGUNAN JAYA 4.1 Prosedur Evaluasi Evaluasi terhadap sistem informasi penjualan pada PT. Bangunan Jaya adalah merupakan suatu proses evaluasi
BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. terkomputerisasi. Berikut adalah uraian proses dari kegiatan pemesanan makanan
BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 4.1. Analisis Sistem Yang Sedang Berjalan Sistem pemesanan makanan dan minuman yang saat ini sedang berjalan pada Rumah Makan Dapur Runi masih menggunakan cara manual
BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. dimaksudkan untuk menitik beratkan kepada fungsi sistem yang berjalan dengan
BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 4.1. Analisis Sistem yang Sedang Berjalan Kegiatan analisis sistem yang berjalan dilakukan dengan analisis yang berorientasi pada objek-objek yang diperlukan oleh
DAFTAR PERTANYAAN. 1. Apakah kebutuhan pemakai / end-user (dalam kasus ini divisi penjualan) telah
DAFTAR PERTANYAAN EVALUASI SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PENJUALAN DENGAN MENGGUNAKAN FRAMEWORK COBIT Studi Kasus Pada PT. COCA-COLA BOTTLING INDONESIA UNIT JATENG AI1 : Identify Automated Solutions 1. Apakah
BAB II LANDASAN TEORI. teknis yang dikosentrasikan untuk produk atau layanan yang spesifik. Helpdesk
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Helpdesk Menurut Donna Knapp (2004), definisi helpdesk adalah sebuah alat untuk mengatasi persoalan yang didesain dan disesuaikan untuk menyediakan layanan teknis yang dikosentrasikan
BAB 2 LANDASAN TEORI. Sistem adalah suatu kumpulan yang kompleks dan saling berinteraksi apabila
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Sistem Sistem adalah suatu kumpulan yang kompleks dan saling berinteraksi apabila mereka menjadi satu kesatuan (Bennet et al, 2010, p22). Selain itu, O Brien dan Marakas
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Teori Teori Umum 2.1.1. Sistem Informasi Pengertian sistem informasi menurut O brien & Marakas (2010) adalah kombinasi dari orang-orang, hardware, software, jaringan komunikasi,
BAB IV ANALISA FASE TOGAF ADM
BAB IV ANALISA FASE TOGAF ADM 4.1 Analisa Studi Kasus Penerapan sistem informasi dalam fungsi bisnis pada setiap organisasi dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan bahwa untuk menerapkan sistem
BAB III Landasan Teori
BAB III Landasan Teori 3.1 Sistem Informasi Sistem Informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengelolaan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Pemecahan Masalah Gambar 3.1 Diagram Alir Metode Penelitian 88 A B Analisis Sistem Berjalan Membuat Rich Picture dari sistem yang sedang berjalan Perancangan database
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengumpulan Dokumen BSI UMY Penelitian memerlukan dokumen visi dan misi BSI UMY.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengumpulan Dokumen BSI UMY Penelitian memerlukan dokumen visi dan misi BSI UMY. Visi yang dimiliki oleh BSI UMY adalah menjadi Biro yang mampu meningkatkan posisi UMY sebagai
