SAMPAH DAUN SONOKELING
|
|
|
- Hamdani Hartanto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 VERMICOMPOSTING SAMPAH DAUN SONOKELING (Dalbergia latifolia) MENGGUNAKAN TIGA SPESIES CACING TANAH (Pheretima sp., Eisenia fetida dan Lumbricus rubellus) MUHAMMAD ILYAS SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009
2 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul Vermicomposting Sampah Daun Sonokeling (Dalbergia latifolia) Menggunakan Tiga Spesies Cacing Tanah (Pheretima sp., Eisenia fetida, dan Lumbricus rubellus) adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Agustus 2009 Muhammad Ilyas NRP G
3 ABSTRACT MUHAMMAD ILYAS. Vermicomposting of Sonokeling (Dalbergia latifolia) Leaves Litter Using Three Earthworm Species (Pheretima sp., Eisenia fetida, and Lumbricus rubellus. Under direction of RIKA RAFFIUDIN and TRI HERU WIDARTO. European E. fetida and L. rubellus are the most common earthworm species used in vermicomposting. Pheretima sp. is a native Asian earthworm having capability to decompose organic wastes. Therefore, the aim of the present study was to determine the effectiveness of combination of the three earthworm species in vermicomposting of sonokeling leaves litter by determining (1) their consumption rate, (2) their growth, and (3) their fecundity. Two ratios between earthworms and leaves litter were applied i.e. ratio 1:1 (R1) and ratio 2:1 (R2). The consumption rate was measured by counting the percentage of organic waste consumed by earthworms weekly. Earthworm growth was measured by weighing their biomass weekly. The number of produced cocoons were used to predict their fecundity. The results showed that combination of earthworm species affected the consumption rate significantly in both ratio (P<0.05). In the first week, earthworm biomass increased in R1 ratio, but it tended to decrease in R2 ratio. The highest number of cocoons in R1 ratio was found in L. rubellus, whereas in R2 ratio, it was found in E. fetida in the first week. Cocoon incubation period in Pheretima sp. was faster than the others. The cocoons of L. rubellus showed the highest number of hatchlings (4.2±0.8 individuals) per cocoon. Chemical composition of vermicompost among the three species of earthworms were not different significantly (P>0.05) except in potassium. Keywords: vermicomposting, earthworm, consumption rate, organic waste, C:N ratio.
4 RINGKASAN MUHAMMAD ILYAS. Vermicomposting Sampah Daun Sonokeling (Dalbergia latifolia) Menggunakan Tiga Spesies Cacing Tanah (Pheretima sp., Eisenia fetida, dan Lumbricus rubellus). Dibimbing oleh RIKA RAFFIUDIN dan TRI HERU WIDARTO. Sampah daun berpotensi sebagai sumber nutrisi yang sangat bermanfaat dalam pertanian. Konsumsi sampah daun dapat menyuburkan tanah dan menyediakan nutrisi bagi tumbuhan. Salah satu cara pengelolaan sampah daun adalah dengan proses vermicomposting. Vermicomposting merupakan proses konsumsi bahan organik yang melibatkan kerjasama antara cacing tanah dan mikroorganisme. Hasil akhir proses ini adalah vermikompos. Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus merupakan spesies cacing tanah yang berpotensi untuk mengelola sampah organik melalui proses vermicomposting. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji efektivitas spesies cacing tanah Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus dalam mengelola sampah dedaunan terhadap: (1) laju konsumsi bahan organik, (2) pertumbuhan cacing tanah, dan (3) produktivitas cacing tanah. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap percobaan. Tahap persiapan dilaksanakan dari bulan Maret 2008 sampai bulan Januari Tahap percobaan dilaksanakan pada bulan Februari-April Lokasi penelitian terletak di Bagian Fungsi Hayati dan Perilaku Hewan Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor. Pada tahap persiapan dilakukan penyiapan populasi cacing tanah, media biak, dan wadah percobaan. Cacing tanah yang digunakan pada penelitian ini adalah spesies Pheretima sp., E. fetida dan L. rubellus yang telah berklitelum. Media biak terdiri atas kotoran sapi dan sampah daun sonokeling (Dalbergia latifolia). Kotoran sapi digunakan sebagai starter dan sumber Nitrogen bagi cacing tanah. Sebelum dijadikan sebagai media biak, kotoran sapi dikeringanginkan dan diaduk secara manual setiap hari selama 15 hari untuk menguapkan gas beracun yang ada. Daun sonokeling dihancurkan secara manual hingga mencapai ukuran partikel ± 5 mm. Ke dalam media biak ditambahkan tanah untuk membantu proses pencernaan cacing tanah. Wadah percobaan pada penelitian ini berupa wadah plastik dengan panjang, lebar, dan tinggi 35x31x12.5 cm. Seluruh wadah percobaan dilubangi di bagian bawahnya. Percobaan ini terdiri atas dua perlakuan, yaitu perlakuan spesies cacing tanah tunggal (P, E, L) dan kombinasi (P+E, P+L, E+L, P+E+L), serta perlakuan rasio antara cacing tanah dan sampah daun 1:1 (R1) dan 2:1 (R2). Suhu, kelembaban, dan ph awal media biak di dalam wadah disesuaikan menjadi 25 o C, 65% dan 6.8 berturut-turut. Setiap minggu dilakukan pengukuran terhadap parameter biologi cacing tanah pada seluruh perlakuan. Laju konsumsi bahan organik diukur dengan menimbang seluruh bahan yang terdapat pada media biak menggunakan timbangan digital. Persentase laju konsumsi dihitung dengan mengurangi berat awal bahan media dengan berat bahan media pada waktu pengamatan berikutnya. Selanjutnya dilakukan penambahan sampah daun sonokeling ke dalam media biak sebanyak 210 gr untuk rasio R1 dan 105 gr untuk rasio R2.
5 Pertumbuhan cacing tanah diukur dengan menimbang cacing tanah di atas timbangan digital (82ADAM, d=0.001 g). Produktivitas cacing tanah diukur dengan menghitung jumlah kokon yang diproduksi di dalam seluruh wadah percobaan setiap minggu. Kokon yang diproduksi oleh masing-masing spesies cacing tanah dipisahkan dari media biak dan ditempatkan ke dalam media lain dengan suhu 25 o C. Perkembangan kokon diamati setiap hari sampai menetas untuk mengetahui masa inkubasi kokon. Selanjutnya, jumlah juvenil yang keluar dari tiap kokon dihitung. Vermikompos yang diproduksi oleh masing-masing spesies cacing tanah pada perlakuan rasio R2 ditimbang seberat 100 gr untuk dianalisa. Kandungan C organik dan N total dianalisa dengan metode titrasi dan metode Kjeldahl. Kadar P dan K masing-masing dianalisa menggunakan Spektrofotometri dan Flamefotometer. Analisa unsur-unsur kimia vermikompos dilakukan di laboratorium tanah SEAMEO BIOTROP, Bogor. Berdasarkan pada hasil penelitian, perlakuan spesies tunggal E. fetida dan spesies kombinasi E. fetida + L. rubellus pada rasio R1 dan R2 lebih efektif menkonsumsi sampah dedaunan dibandingkan dengan perlakuan spesies yang lain. Secara ringkas, kecepatan laju konsumsi oleh ketiga spesies cacing tanah pada masing-masing perlakuan adalah: E+L > P+E+L > E > L > P+E > P+L > P. Perbedaan laju konsumsi bahan organik pada cacing tanah disebabkan oleh densitas cacing tanah, kualitas dan kuantitas bahan makanan, serta daya konsumsi spesies spesifik. Semakin tinggi densitas cacing tanah di dalam media biak, maka semakin rendah laju konsumsi. Densitas cacing tanah yang besar menyebabkan peningkatan populasi mikroorganisme di dalam media biak dan saluran pencernaan cacing tanah selama proses vermicomposting. Laju konsumsi yang semakin rendah dikarenakan berkurangnya nutrisi yang berasal dari kotoran sapi sebagai media biak sekaligus sumber Nitrogen dan rendahnya palatabilitas daun sonokeling bagi cacing tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan cacing tanah tertinggi terdapat pada perlakuan spesies tunggal E. fetida dan spesies kombinasi E. fetida + L. rubellus, sedangkan pertumbuhan terendah terdapat pada perlakuan spesies tunggal Pheretima sp dan spesies kombinasi Pheretima sp. + E. fetida pada rasio R1 dan R2. Pertumbuhan cacing tanah bergantung pada ketersediaan dan kualitas bahan makanan, densitas cacing tanah di dalam media biak, serta pola pertumbuhan spesies spesifik. Cacing tanah yang mengkonsumi bahan organik yang lebih banyak dapat tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan cacing tanah yang mengkonsumsi sedikit bahan organik. Perbedaan laju pertumbuhan juga dikarenakan adanya interaksi diantara populasi cacing tanah akibat kombinasi spesies tersebut dalam proses vermicomposting. Cacing tanah lebih memilih bahan makanan berupa kotoran hewan daripada bahan organik tumbuhan. Perlakuan spesies kombinasi E. fetida + L. rubellus memproduksi kokon dengan jumlah terbanyak pada rasio R1. Spesies L. rubellus memproduksi total kokon lebih banyak dibandingkan dengan E. fetida dan Pheretima sp. Seluruh cacing tanah berhenti memproduksi kokon pada minggu keempat. Bentuk dan ukuran kokon ketiga spesies cacing tanah bervariasi. Masa inkubasi kokon Pheretima sp. lebih rendah dibandingkan dengan kokon E. fetida dan L. rubellus. Jumlah juvenil yang dihasilkan tiap kokon cacing tanah L. rubellus lebih banyak daripada kokon cacing tanah lainnya. Produktivitas cacing tanah dipengaruhi oleh
6 jumlah bahan makanan yang tersedia di dalam media biak, tingkat konsumsi bahan makanan oleh cacing tanah, serta jenis dan kualitas bahan makanan. Hasil analisa unsur-unsur kimiawi vermikompos Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus menunjukkan bahwa rasio C:N pada vermikompos lebih rendah daripada substrat awal. Kandungan P dan K meningkat pada vermikompos masing-masing cacing tanah. Vermikompos yang dihasilkan oleh spesies Pheretima sp. mengandung kualitas yang baik. Menurunnya rasio C:N pada vermikompos disebabkan oleh aktivitas cacing tanah dalam proses vermicomposting. Penurunan rasio C:N menunjukkan tingginya humifikasi vermikompos. Peningkatan kandungan mineral P dan K pada vermikompos menunjukkan adanya peningkatan mineralisasi unsur-unsur tersebut yang disebabkan oleh aktivitas enzim dan mikroorganisme di dalam saluran pencernaan cacing tanah. Pelepasan fosfor ke dalam bentuk yang dapat diserap oleh tumbuhan diperantarai oleh fosfat yang dihasilkan di dalam saluran pencernaan cacing tanah, dan selanjutnya pelepasan fosfor dapat dilakukan oleh mikroorganisme di dalam casting setelah dikeluarkan Kata kunci: vermicomposting, cacing tanah, laju konsumsi, bahan organik, rasio C:N.
7 Hak Cipta Milik IPB, tahun 2009 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber. a. Pengutipan untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah. b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.
8 VERMICOMPOSTING SAMPAH DAUN SONOKELING (Dalbergia latifolia) MENGGUNAKAN TIGA SPESIES CACING TANAH (Pheretima sp., Eisenia fetida dan Lumbricus rubellus) MUHAMMAD ILYAS Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Mayor Biosains Hewan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009
9 Judul Tesis : Vermicomposting Sampah Daun Sonokeling (Dalbergia latifolia) Menggunakan Tiga Spesies Cacing Tanah (Pheretima sp., Eisenia fetida, dan Lumbricus rubellus) Nama : Muhammad Ilyas NRP : G Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Rika Raffiudin, M.Si Ketua Ir. Tri Heru Widarto, M.Sc Anggota Diketahui Ketua Mayor Biosains Hewan Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Bambang Suryobroto Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S Tanggal Ujian: 19 Agustus 2009 Tanggal Lulus:
10 PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul Vermicomposting sampah daun sonokeling (Dalbergia latifolia) Menggunakan Tiga Spesies Cacing Tanah (Pheretima sp., Eisenia fetida dan Lumbricus rubellus) dengan baik dan tepat waktu. Tesis ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Biologi, Mayor Biosains Hewan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Tesis ini tidak akan tersusun tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Rika Raffiudin, M.Si dan Ir. Tri Heru Widarto, M.Sc, selaku komisi pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan selama penelitian hingga akhir penulisan tesis; Dr. Ir. Muhadiono, M.Sc, selaku penguji luar komisi pembimbing; Bapak Rudi, selaku peternak cacing tanah yang telah menyediakan cacing tanah sebagai objek penelitian; Hari Nugroho, S.Si, selaku Staf Peneliti di Laboratorium Entomologi, Bidang Zoologi, Puslit Biologi LIPI yang telah membantu penulis dalam mengidentifikasi cacing tanah; Staf Laboratorium Tanah SEAMEO BIOTROP Bogor atas bantuannya menganalisa kandungan kimiawi vermikompos. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Departemen Agama Republik Indonesia yang telah memberikan beasiswa pendidikan Pascasarjana di Institut Pertanian Bogor, Dr. Bambang Suryobroto, Dr. Dedi Duryadi S, DEA, Dr. Achmad Farajallah, M.Si, Dr. RR. Dyah Perwitasari, M.Sc, Dr. Tri Atmowidi, M.Si, Berry Juliandi, S.Si, M.Si, Dra. Taruni Sri Prawasti, dan seluruh staf laboratorium Zoologi yang telah memberikan ilmu dan pengalaman yang sangat bermanfaat. Tidak lupa pula penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh rekan mahasiswa Mayor Biosains Hewan IPB dan keluarga besar Pesantren Ar- Raudhatul Hasanah Medan atas doa, bantuan, dan dukungan yang telah diberikan. Disamping itu, ucapan terima kasih yang sangat dalam penulis sampaikan kepada kedua orang tua tercinta dan seluruh keluarga besar penulis yang telah memberikan doa, bantuan, dan dukungan selama proses pendidikan. Akhirnya penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan tulisan ini. Semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Bogor, Agustus 2009 Muhammad Ilyas
11 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 13 Juni 1981 dari Bapak H. M. Tumin S dan Ibu Hj. Marni. Penulis merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Tahun 1999 penulis lulus dari Madrasah Aliyah Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan, dan pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk Universitas Negeri Medan jurusan Pendidikan Biologi melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Tahun 2007 penulis melanjutkan studi di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Program Studi Biologi, Mayor Biosains Hewan melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah yang diselenggarakan oleh Departemen Agama Republik Indonesia. Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Fungsi Hayati Hewan pada tahun ajaran 2008/2009. Pada tahun 2008 penulis dipilih menjadi peserta terbaik dalam Workshop Pembuatan Media Pendidikan Interaktif (E-book) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Gizi, Institut Pertanian Bogor. Penulis merupakan salah satu staf pengajar mata pelajaran Biologi di Madrasah Aliyah Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan. Pada Tahun menjabat sebagai staf laboratorium Biologi.
12 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... xiv xv xii PENDAHULUAN... 1 Latar Belakang... 1 Tujuan Penelitian... 3 Manfaat Penelitian... 3 TINJAUAN PUSTAKA... 4 Vermicomposting... 4 Faktor-faktor yang mempengaruhi proses vermicomposting... 5 Taksonomi Cacing Tanah... 7 Klasifikasi Cacing Tanah... 7 Biologi Cacing Tanah... 8 Sistem reproduksi... 9 Sistem pencernaan Sistem ekskresi Sistem saraf Distribusi Geografi Cacing Tanah METODE Waktu dan Lokasi Tahap Persiapan Tahap Percobaan Pengukuran Parameter Biologi Cacing Tanah Laju konsumsi bahan organik Pertumbuhan cacing tanah Produktivitas cacing tanah Analisa komposisi kimiawi vermikompos Analisa Data HASIL Laju Konsumsi Bahan Organik Pertumbuhan Cacing Tanah Produktivitas Cacing Tanah Komposisi Kimiawi Vermikompos PEMBAHASAN Laju Konsumsi Bahan Organik Pertumbuhan Cacing Tanah... 32
13 Produktivitas Cacing Tanah Komposisi Kimiawi Vermikompos KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN... 47
14 DAFTAR TABEL Halaman 1 Kuantitas media biak dan cacing tanah yang digunakan dalam percobaan Perbandingan komposisi kimiawi substrat awal dengan vermikompos yang dihasilkan oleh spesies Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus.. 29
15 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Klasifikasi cacing tanah berdasarkan kategori ekologi Reproduksi cacing tanah (a), pembentukan kokon (b), perkembangan kokon (c), dan penetasan kokon menjadi juvenil (d) Spesies cacing tanah yang digunakan dalam penelitian: Pheretima sp. (a), E. fetida (b), dan L. rubellus (c) Budidaya cacing tanah dengan sistem windrow (a) dan bedding (b) Wadah percobaan (a), dan penyusunan wadah percobaan di atas rak (b) Laju konsumsi pada perlakuan spesies yang berbeda dengan rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 1:1 (R1) Laju konsumsi pada perlakuan spesies yang berbeda dengan rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 2:1 (R2) Pertumbuhan spesies Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus pada perlakuan yang berbeda dengan rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 1:1 (R1) Pertumbuhan spesies Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus pada perlakuan yang berbeda dengan rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 2:1 (R2) Jumlah rata-rata kokon yang diproduksi pada perlakuan spesies yang berbeda dengan rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 1:1 (R1) Jumlah rata-rata kokon yang diproduksi pada perlakuan spesies yang berbeda dengan rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 2:1 (R2) Variasi ukuran dan bentuk kokon cacing tanah: Pheretima sp. (a), E. fetida (b), dan L. rubellus (c) Jumlah total kokon yang diproduksi oleh masing-masing spesies cacing tanah dengan rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 1:1 (R1)... 27
16 14 Jumlah total kokon yang diproduksi oleh masing-masing spesies cacing tanah dengan rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 2:1 (R2) Masa inkubasi rata-rata kokon dari tiga spesies cacing tanah pada suhu 25 o C Jumlah rata-rata juvenil yang diproduksi oleh masing-masing kokon cacing tanah pada suhu 25 o C... 28
17 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Hasil analisis laju konsumsi pada perlakuan spesies tunggal dan kombinasi dengan rasio R1 dan R2 setelah 1 minggu Hasil analisis laju konsumsi pada perlakuan spesies tunggal dan kombinasi dengan rasio R1 dan R2 setelah 4 minggu Hasil analisis biomassa cacing tanah pada perlakuan spesies tunggal dan kombinasi dengan rasio R1 dan R2 setelah 1 minggu Hasil analisis biomassa cacing tanah pada perlakuan spesies tunggal dan kombinasi dengan rasio R1 dan R2 setelah 4 minggu Hasil analisis produksi kokon cacing tanah pada perlakuan spesies tunggal dan kombinasi dengan rasio R1 dan R2 setelah 1 minggu Hasil analisis produksi kokon cacing tanah pada perlakuan spesies tunggal dan kombinasi dengan rasio R1 dan R2 setelah 2 minggu Hasil analisis rasio C:N vermikompos yang diproduksi oleh cacing tanah Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus Hasil analisis kadar P vermikompos yang diproduksi oleh cacing tanah Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus Hasil analisis kadar K vermikompos yang diproduksi oleh cacing tanah Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus Data hasil pengukuran parameter biologi cacing tanah setiap minggu Data hasil pengukuran parameter lingkungan setiap minggu... 75
18 PENDAHULUAN Latar Belakang Sampah daun berpotensi sebagai sumber nutrisi yang sangat bermanfaat dalam pertanian. Namun, potensi ini tidak tereksploitasi. Dekomposisi sampah daun dapat menyuburkan tanah dan menyediakan nutrisi bagi tumbuhan. Sampah daun mangga (Mangifera indica) telah didekomposisi menjadi kompos oleh cacing tanah Eudrilus eugeniae (Gajalakshmi et al. 2005). Manimegala et al. (2008) menemukan bahwa sampah daun Leucaena glauca yang dicampur dengan kotoran sapi dapat mendukung pertumbuhan dan produksi kokon pada cacing tanah E. fetida. Sampah daun sonokeling (Dalbergia latifolia) merupakan sampah yang tersebar luas di lingkungan. Namun pengelolaannya menjadi sumber nutrisi yang bermanfaat bagi tanah dan tumbuhan belum dilakukan. Pengelolaan sampah daun dapat dilakukan dengan cara pengomposan. Pengomposan adalah pembusukan sisa-sisa bahan organik secara aerob dengan cara mendegradasi zat organik menjadi CO 2, H 2 O, NH 3, zat-zat anorganik dan bahan organik yang mengandung substansi humus atau kompos (Senesi 1989). Akan tetapi, pengelolaan sampah dengan cara pengomposan tradisional membutuhkan waktu yang cukup lama. Mikroorganisme yang terlibat di dalamnya aktif pada suhu termofilik (45-65 o C) (Dominguez et al. 1997a). Cara alternatif dalam pengelolaan sampah organik adalah dengan vermicomposting. Vermicomposting adalah proses dekomposisi bahan organik yang melibatkan kerjasama antara cacing tanah dan mikroorganisme. Mikroorganisme yang berperan dalam proses vermicomposting terutama bakteri, fungi dan actinomycetes (Dominguez et al. 1997a). Selama proses vermicomposting, zat nutrisi tumbuhan yang penting seperti nitrogen, kalium dan fosfor yang terdapat di dalam bahan makanan diubah melalui aktivitas mikroorganisme menjadi bentuk yang lebih mudah diserap oleh tumbuhan (Ndegwa & Thompson 2001). Laju mineralisasi bahan-bahan organik bertambah cepat (Albanell et al. 1988). Vermicomposting menghasilkan dua manfaat utama, yaitu biomassa cacing tanah dan vermikompos (Sharma et al. 2005).
19 Vermicomposting berbeda dari pengomposan tradisional dalam beberapa hal. Proses vermicomposting lebih cepat dari pada pengomposan tradisional, karena bahan-bahan organik melewati sistem pencernaan cacing tanah yang mengandung banyak aktivitas mikroorganisme yang membantu proses dekomposisi bahan organik (Dominguez et al. 1997a). Vermicomposting mengubah sampah organik menjadi kompos dalam 30 hari, menurunkan rasio C:N dan meningkatkan kandungan N total lebih tingi dari pada pengomposan tradisional (Gandhi et al. 1997; Lazcano et al. 2008). Vermikompos yang dihasilkan dari proses vermicomposting memiliki struktur, porositas, aerasi, drainase dan kapasitas menahan kelembaban yang sangat baik (Dominguez et al. 1997a). Vermikompos mengandung banyak aktivitas, populasi dan keanekaragaman mikroorganisme. Vermikompos juga mengandung beberapa enzim seperti protease, amilase, lipase, selulase, dan kitinase (Subler et al. 1998), serta zat pengatur tumbuh seperti giberelin, sitokinin dan auksin (Tomatti et al. 1988). Subler et al. (1998) menemukan bahwa vermikompos cenderung memiliki nilai ph lebih rendah, konsentrasi nutrisi lebih tinggi, terutama nitrogen dari pada kompos alami. Cacing tanah memiliki peranan yang penting dalam menghancurkan bahan organik sehingga dapat memperbaiki aerasi dan struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur dan penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi baik. Keberadaan cacing tanah dapat meningkatkan populasi mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanaman. Cacing tanah juga dapat mendekomposisi sampah organik menjadi humus (Sharma et al. 2005) Pada umumnya cacing tanah yang digunakan pada proses vermicomposting adalah cacing tanah jenis epigeic. Cacing tanah epigeic merupakan cacing tanah pemakan sampah (Lee 1985). Cacing tanah epigeic memiliki produktivitas tertinggi dibandingkan dengan cacing tanah anecic dan endogeic (Bhattacharjee & Chaudhuri 2002). E. fetida dan L. rubellus merupakan cacing tanah yang tergolong ke dalam kelompok epigeic (Lee 1985), sedangkan Pheretima sp. tidak diketahui statusnya di dalam klasifikasi berdasarkan kategori ekologi.
20 E. fetida dan L. rubellus merupakan spesies cacing tanah epigeic yang sangat toleran terhadap suhu lingkungan (Reinecke et al. 1992). Potensi E. fetida dan L. rubellus dalam mendekomposisi sampah organik telah dipelajari oleh beberapa peneliti (Albanell 1988; Reinecke et al. 1992; Delgado et al. 1995; Gunadi et al. 2003; Garg et al. 2005; Aira et al. 2006a). Spesies cacing tanah dari genus Pheretima yang mendominasi wilayah Indonesia belum diketahui potensinya dalam mengelola sampah organik. Di alam, beberapa spesies cacing tanah yang berbeda dapat hidup pada habitat yang sama, masing-masing cacing tanah menempati relung yang berbeda dan menggunakan substrat yang berbeda sebagai bahan makanan. Oleh karena itu, pemanfaatan campuran beberapa spesies cacing tanah (spesies kombinasi) pada proses vermicomposting kemungkinan dapat mencapai stabilisasi bahan organik yang lebih tinggi daripada spesies tunggal. Kombinasi beberapa spesies cacing tanah dapat mendekomposisi bahan organik lebih efisien (Sinha et al. 2002; Khwairakpam & Bhargava 2009). Akan tetapi, Loehr et al. (1985) menemukan bahwa kombinasi beberapa spesies tidak menunjukkan keunggulan yang signifikan dibandingkan dengan biakan spesies tunggal dalam proses vermicomposting. Tujuan Penelitian Berdasarkan pada latar belakang tersebut, maka tujuan penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas penggunaan spesies cacing tanah Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus dalam mengelola sampah daun baik secara tunggal maupun kombinasi dengan rasio antara cacing tanah dan sampah daun yang berbeda terhadap: (1) laju konsumsi bahan organik, (2) pertumbuhan cacing tanah, dan (3) produktivitas cacing tanah. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pemerintah sebagai bahan masukan dalam pengelolaan sampah dedaunan menggunakan metode vermicomposting.
21 TINJAUAN PUSTAKA Vermicomposting Dominguez et al. (1997a) mendefinisikan vermicomposting sebagai proses dekomposisi bahan organik yang melibatkan kerjasama antara cacing tanah dan mikroorganisme. Mikroorganisme yang berperan dalam proses vermicomposting terutama bakteri, fungi, dan actinomycetes. Selama proses vermicomposting, nutrisi pada tumbuhan yang penting seperti nitrogen, kalium, dan fosfor yang terdapat di dalam bahan makanan diubah melalui aktivitas mikroorganisme menjadi bentuk yang lebih mudah diserap oleh tumbuhan (Ndegwa & Thompson. 2001). Pada proses ini cacing tanah mengubah aktivitas mikroorganisme (Aira et al. 2002), sehingga laju mineralisasi bahanbahan organik bertambah cepat (Albanell et al. 1988). Beberapa enzim yang terlibat di dalam dekomposisi bahan organik adalah dehidrogenase, protease, glukosidase, dan fosfatase (Lazcano et al. 2008). Vermicomposting menghasilkan dua manfaat utama, yaitu biomassa cacing tanah dan vermikompos (Sharma et al. 2005). Vermikompos merupakan bahan organik seperti tanah yang memiliki struktur, porositas, aerasi, drainase, dan kapasitas menahan kelembaban yang sangat baik (Dominguez et al. 1997a). Vermikompos mengandung banyak aktivitas, populasi, dan keanekaragaman mikroorganisme. Vermikompos juga mengandung beberapa enzim seperti protease, amilase, lipase, selulase, dan kitinase (Subler et al. 1998), serta zat pengatur tumbuh seperti giberelin, sitokinin, dan auksin (Tomatti et al. 1988). Syarat-syarat biologi cacing tanah yang digunakan dalam proses vermicomposting terdiri atas: tingkat produksi kokon yang tinggi, waktu perkembangan kokon yang pendek, keberhasilan penetasan kokon yang tinggi, dan memiliki laju reproduksi yang tinggi (Bhattacharjee & Chaudhuri 2002). Selain itu, tingkat konsumsi bahan organik yang tinggi pada cacing tanah dan toleran terhadap perubahan lingkungan yang luas juga merupakan sebagian syarat biologi cacing tanah yang dapat dimanfaatkan untuk mendekomposisi bahan organik (Edwards 1998; Dominguez et al. 2000).
22 Beberapa spesies cacing tanah yang memenuhi syarat biologi dan digunakan dalam proses vermicomposting adalah: E. fetida (Albanell 1988), (Reinecke et al. 1992), (Gunadi et al. 2003), (Garg et al. 2005), (Aira et al. 2006a); E. andrei (Dominguez et al. 2000); L. rubellus (Delgado et al. 1995); L. terrestris, Eudrilus eugeniae (Banu et al. 2008); Perionyx excavatus, dan P. sansibaricus (Suthar 2007a; Suthar & Singh 2008). Faktor-faktor yang mempengaruhi proses vermicomposting Proses vermicomposting dalam kaitannya dengan pertumbuhan dan kelangsungan hidup cacing tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya: suhu, kelembaban, rasio C:N, ph, aerasi, dan makanan. Pengaruh faktor-faktor tersebut bervariasi pada setiap spesies cacing tanah. Suhu pada substrat mempengaruhi pertumbuhan cacing tanah. Pada kisaran suhu o C cacing tanah tumbuh dan berkembang dengan maksimal (Kaplan et al. 1980). Hou et al. (2005) menemukan bahwa laju pertumbuhan cacing tanah tercepat pada suhu 20 o C. Akan tetapi kebutuhan suhu pada masing-masing spesies cacing tanah berbeda-beda. Di awal proses vermicomposting terjadi peningkatan suhu, dan di akhir periode suhu menurun. Berat tubuh cacing tanah terdiri atas 75-90% air (Edwards & Lofty 1972), maka kekurangan air merupakan masalah besar dalam kehidupan cacing tanah. Cacing tanah dapat berpindah ke tanah yang lebih dalam jika permukaan tanah terlalu kering. Kelembaban yang rendah dapat menyebabkan cacing tanah menjadi pasif atau mengalami fase diapause (Gerard 1967). Menurut Reinecke dan Venter (1987), kelembaban substrat yang lebih disukai oleh cacing tanah dewasa berkisar antara 65-75%, tetapi juvenil lebih dapat bertahan hidup pada kelembaban dengan kisaran 65-70%. Laju pertumbuhan cacing tanah tertinggi terdapat pada kelembaban 75% (Gunadi et al. 2003). Dominguez et al. (1997a) menemukan bahwa kisaran kelembaban yang terbaik adalah 80-90%, dengan kisaran optimum sebesar 85%. Kebutuhan cacing tanah akan kelembaban media bervariasi pada berbagai spesies dan daya adaptasi masing-masing spesies tersebut. Kelembaban media dapat dipertahankan dengan penambahan air pada media dan menyediakan bahan makanan yang mengandung banyak air.
23 Rasio C:N pada substrat (media biak yang terdiri atas kotoran ternak dan sampah organik) mencerminkan mineralisasi dan stabilisasi sampah organik selama proses vermicomposting (Suthar & Singh 2008). Laju dekomposisi tertinggi terdapat pada substrat dengan rasio C:N sebesar 20 (Hou et al. 2005). Ndegwa dan Thompson (2000) menemukan bahwa cacing tanah dapat tumbuh lebih baik ketika rasio C:N substrat 25. Cacing tanah lebih memilih sampah organik yang memiliki rasio C:N lebih rendah sebagai makanannya (Moody et al. 1995). Semakin rendah rasio C:N, maka semakin tinggi laju dekomposisi sampah organik (Pramanik et al. 2007). Substrat yang dikonsumsi cacing tanah memliki kisaran nilai ph tertentu. Substrat yang terlalu asam atau basa tidak cocok untuk kelangsungan hidup cacing tanah. Kisaran nilai ph optimum bagi cacing tanah antara 6.5 dan 8.5 (Hou et al. 2005). Pada umumnya spesies cacing tanah lebih memilih substrat yang memiliki ph sekitar 7.0 (Arrhenius 1921). Singh et al. (2005) menemukan bahwa ph substrat awal yang mendekati netral mengoptimalkan stabilisasi bahan organik dalam waktu yang singkat. Substrat awal yang memiliki ph sangat asam tidak sesuai digunakan dalam proses vermicomposting. Proses vermicomposting dapat berlangsung dengan baik dalam kondisi aerob. Cacing tanah memerlukan oksigen untuk bernafas dan sangat sensitif terhadap kondisi anaerob. Laju respirasinya melemah jika konsentrasi oksigen di dalam substrat rendah (Edwards & Bohlen 1996). Pergerakan cacing tanah dapat menciptakan aerasi pada medianya. Untuk meningkatkan aerasi, perlu dilakukan pembalikan substrat. Kualitas dan kuantitas bahan makanan mempengaruhi pertumbuhan dan reproduksi cacing tanah dalam proses vermicomposting (Edwards et al. 1988). Kualitas bahan makanan pada substrat awal sangat mempengaruhi biomassa cacing tanah (Suthar 2007b). Berkurangnya biomassa cacing tanah dapat disebabkan oleh berkurangnya bahan makanan di dalam media biak (Garg et al. 2005). Pertumbuhan cacing tanah dibatasi oleh ketersediaan sumber karbon pada bahan makanannya (Tiunov & Scheu 2004). Cacing tanah yang mengkonsumsi bahan makan dengan rasio C:N rendah, lebih banyak menggunakan energinya untuk pertumbuhan daripada untuk reproduksi (Aira et al. 2006a).
24 Taksonomi Cacing Tanah Cacing tanah adalah invertebrata darat yang termasuk ke dalam Filum Annelida, Kelas Clitellata, Sub Kelas Oligochaeta (Brusca & Brusca 2003). Cacing tanah terbagi ke dalam 5 famili, yaitu Moniligastridae, Megascolecidae, Eudrilidae, Glossoscolecidae, dan Lumbricidae. Klasifikasi Cacing Tanah Spesies cacing tanah yang berbeda memiliki sejarah hidup yang berbeda dan menempati relung ekologi yang berbeda. Lee (1985) mengelompokkan spesies cacing tanah ke dalam tiga kategori ekologi berdasarkan strategi mencari makanan dan membuat liang, yaitu spesies epigeic, endogeic, dan anecic (Gambar 1). Cacing tanah epigeic pada dasarnya merupakan cacing tanah penghuni sampah. Cacing tanah ini hidup di dalam atau dekat permukaan sampah dan memakan sampah organik yang kasar, serta sejumlah sampah yang belum terurai. Cacing tanah epigeic membuat liang ephemeral ke dalam tanah mineral selama periode diapause. Tubuhnya berukuran kecil dan berpigmen. Laju metabolisme dan reproduksinya tinggi. Hal itu menggambarkan daya adaptasinya tinggi terhadap perubahan kondisi lingkungan pada permukaan tanah. Beberapa spesies cacing tanah yang termasuk ke dalam kategori ini adalah L. rubellus, E. fetida, E. andrei, Dendrobaena rubida, Eudrilus eugeniae, Perionyx excavatus, dan Eiseniella tetraedra (Bouche 1977; Lee 1985). Cacing tanah endogeic hidup di dalam tanah yang lebih dalam dan memakan tanah serta kumpulan bahan-bahan organik (Gambar 1). Cacing tanah jenis ini tidak memiliki pigmen tubuh, dan membuat liang horizontal yang bercabang ke dalam. Cacing tanah endogeic tidak memiliki pengaruh yang besar dalam penguraian sampah karena cacing tanah ini memakan bahan-bahan di bawah permukaan tanah. Beberapa spesies cacing tanah yang termasuk ke dalam kategori ini adalah Allolobophora caliginosa, A. rosea, Octolasion cyaneum (Bouche 1977), Metaphire posthuma, dan Octochaetona thurstoni (Ismail 1997).
25 Castings Epigeic Anecic Liang Endogeic Gambar 1 Klasifikasi cacing tanah berdasarkan kategori ekologi (Lee 1985) Cacing tanah jenis anecic hidup di dalam sistem liang vertikal yang lebih permanen, yang dapat meluas beberapa meter ke dalam tanah (Gambar 1). Cacing tanah jenis ini dapat di temukan di dalam liang yang dangkal atau dalam tergantung pada kondisi tanah yang baik sebagai habitatnya. Cacing tanah anecic mengeluarkan sisa pencernaannya (casting) pada permukaan tanah dan muncul di malam hari untuk memakan sampah pada permukaan tanah, kotoran, dan bahan organik lain yang diturunkan ke dalam liangnya. Laju reproduksinya relatif lambat, terbukti dari produksi kokonnya. Cacing tanah anecic memiliki peran yang sangat besar dalam dekomposisi bahan organik, siklus makanan, dan pembentukan tanah (Lavelle 1988). Lumbricus terrestris, Aporrectodea trapezoids, dan Allolobophora longa termasuk dalam kelompok kategori ini. Biologi Cacing Tanah Karakteristik cacing tanah adalah tubuhnya bersegmen, dan memiliki sedikit seta pada seluruh segmen tubuh. Cacing tanah dewasa memiliki klitelum yang terletak di bagian anterior tubuh. Klitelum merupakan bagian kelenjar epidermis segmen tubuh yang mengalami perkembangan, terdiri atas kelenjar epidermis yang menebal, terutama di bagian dorsal dan lateral tubuh. (Edwards & Lofty 1972). Pada umumnya klitelum berwarna lebih cerah daripada segmen yang lain.
26 Sistem reproduksi Cacing tanah bersifat hermafrodit, tetapi fertilisasi tidak dapat terjadi pada diri sendiri. Pada umumnya individu cacing tanah dewasa melakukan reproduksi silang sebelum menghasilkan kokon (Gambar 2a). Beberapa spesies cacing tanah melakukan reproduksi pada permukaan tanah, dan beberapa spesies melakukannya di bawah tanah (Edwards & Lofty 1972). Metode kopulasi untuk seluruh spesies cacing tanah tidak sama. Pada cacing tanah yang tergolong famili Lumbricidae, ketika akan melakukan perkawinan dua spesies cacing tanah saling berdekatan dengan mendeteksi mukus yang dikeluarkan oleh bagian ventral tubuhnya bersama-sama. Ujung kepala cacing tanah terletak pada arah yang berlawanan. Keduanya saling mendekatkan diri pada daerah pembukaan spermateka dimana daerah klitelum salah satu cacing tanah menyentuh permukaan pembukaan spermateka yang lainnya. Pada saat kopulasi, kedua cacing tanah tidak sensitif dalam merespon rangsangan luar seperti sentuhan dan cahaya. Banyak mukus yang disekresikan sehingga masingmasing cacing tanah diselubungi oleh mukus antara segmen sembilan dan sisi posterior klitelum, mukus-mukus tersebut saling melekat (Edwards & Lofty 1972). Sebuah celah semen terbentang dari gonofor jantan sampai klitelum dan nampak seperti benang. Tiap-tiap celah semen merupakan bagian dari dinding luar tubuh yang melekuk ke dalam akibat dari terbentuknya rangkaian pori-pori oleh kontraksi otot yang terbentang pada lapisan otot longitudinal. Kontraksi otot membawa cairan sperma dari gonofor jantan menuju daerah klitelum. Cairan sperma berkumpul di daerah klitelum, dan akhirnya memasuki spermateka cacing tanah lawannya (Edwards & Lofty 1972). Cara pemindahan sel sperma pada seluruh spesies cacing tanah tidak sama. Spesies cacing tanah yang tidak termasuk ke dalam famili Lumbricidae memindahkan sel spermanya secara langsung tanpa membentuk selubung mukus. Tembe dan Dubash (1961) menjelaskan kopulasi Pheretima yang memiliki tiga atau empat pasang spermateka. Gonofor jantan saling bersentuhan dengan sepasang celah spermateka paling belakang dan menyalurkan cairan sperma ke dalamnya. Kemudian masing-masing cacing tanah bergerak ke arah belakang, dan
27 cairan sperma disalurkan ke dalam sepasang spermateka berikutnya sampai seluruhnya terisi. Setelah kopulasi berlangsung selama satu jam, cacing tanah terpisah, dan masing-masing klitelum mengeluarkan getah mukus yang akhirnya mengeras di sekeliling permukaan luarnya. Ketika getah mukus mengeras, cacing tanah bergerak ke arah belakang, kemudian membuat selubung di sekeliling kepalanya, dan ketika cacing tanah terpisah sempurna, ujung selubung menutup untuk membentuk kokon (Gambar 2b). Kokon mengandung cairan albumin yang diproduksi oleh kelenjar klitelum, ovum, dan spermatozoa yang disalurkan ke dalamnya ketika melewati pembukaan spermateka. Kokon terus dibentuk sampai cairan sperma yang tersedia habis. Fertilisasi terjadi secara eksternal tubuh cacing tanah, di dalam kokon (Edwards & Lofty 1972). Produksi kokon dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Keadaan tanah dan jenis cacing tanah yang berbeda menyebabkan perbedaan jumlah kokon yang diproduksi. Cacing tanah memproduksi lebih sedikit kokon pada kondisi tanah yang terlalu kering dan terlalu basah (Gerard 1967). Jenis makanan yang dikonsumsi cacing tanah dewasa juga dapat mempengaruhi produksi kokon. Produksi kokon bergantung pada spesies cacing tanah dan kondisi lingkungan (Evans & Guild 1948). Jumlah kokon yang diproduksi cacing tanah epigeic lebih banyak daripada kokon cacing tanah anecic (Bhattacharjee & Chaudhuri 2002). Warna kokon berubah sesuai dengan perkembangannya (Gambar 2c). Pada saat terbentuk kokon berwarna keputihan, kemudian berubah menjadi kuning, kehijauan dan kecoklat-coklatan (Edwards & Lofty 1972). Kokon yang berwarna kecoklatan mengindikasikan perkembangan yang matang, dan siap untuk menetas. Penetasan kokon dipengaruhi oleh suhu lingkungan (Gerard 1967; Bhattacharjee & Chaudhuri 2002). Suhu yang lebih tinggi dari 25 o C menurunkan masa inkubasi rata-rata kokon cacing tanah epigeic (Reinecke et al. 1992). Jumlah ovum yang dibuahi di dalam setiap kokon berkisar 1-20 untuk cacing tanah Lumbricidae, tapi sering kali hanya satu atau dua yang bertahan hidup dan menetas menjadi juvenil (Gambar 2d) (Stephenson 1930).
28 Kepala Klitelum Klitelum Reproduksi cacing tanah Kepala Klitelum Perpindahan sperma a Liang jantan b Juvenil c d Gambar 2 Reproduksi cacing tanah (a), pembentukan kokon (b), perkembangan kokon (c), dan penetasan kokon menjadi juvenil (d). Sistem pencernaan Sistem pencernaan cacing tanah terdiri atas rongga mulut, faring, esofagus, tembolok, lambung, dan usus. Cacing tanah memperoleh makanan dari bahan organik berupa organ tumbuhan, protozoa, rotifera, nematoda, bakteri, fungi, dan sisa-sisa pembusukan hewan (Edwards & Lofty 1972). Bagian tubuh cacing tanah dikelompokkan ke dalam tiga daerah berdasarkan pada segmen tubuhnya (Gansen 1962). Daerah yang pertama adalah daerah penerimaan, yang terdapat pada segmen Daerah ini terdiri atas mulut yang peka, esofagus, dan kelenjar faring tak berpembuluh yang mensekresi getah asam yang mengandung enzim amilase. Daerah yang kedua adalah daerah sekresi, yang terdapat pada segmen Daerah ini terdiri atas tembolok, yang menuju ke lambung dan usus. Cacing tanah mensekresi dua enzim protease dan satu enzim amilase terutama dari sel piala
29 dinding usus yang mensekresi banyak getah. Beberapa enzim yang berbeda berasal dari daerah ini untuk spesies lain, seperti lipase dan protease (Arthur 1965) serta selulase dan kitinase (Tracey 1951). Makanan yang telah dicerna melintasi aliran darah di sepanjang epithelium usus dan dialirkan ke berbagai bagian tubuh dan jaringan untuk digunakan dalam proses metabolisme dan sebagai cadangan makanan. Daerah yang ketiga terdapat pada segmen 44 sampai ke anus, disebut daerah absorpsi. Pada daerah ini, bahan-bahan makanan yang tidak tercerna di dalam usus diselubungi oleh membran peritrofik yang melapisi usus. Ketika bahanbahan makanan diekskresi, membran tersebut akan membungkus casting (sisa pencernaan/kotoran cacing) (Gansen 1962). Sistem ekskresi Organ ekskresi yang terpenting pada cacing tanah adalah nefridia. Organ tersebut mengekstraksi bahan-bahan limbah dari cairan selom dan mengeluarkannya ke luar tubuh melalui nefridiofor sebagai urin yang mengandung amonia dan urea. Cairan selom yang mengandung material eksresi melintas melalui nefrostom dan dilanjutkan ke tabung nefridia oleh gerakan silia. (Edwards & Lofty 1972). Nefridia berperan sebagai penyaring diferensial. Disebut demikian karena terdapat lebih banyak urea dan amonia, tetapi lebih sedikit kreatinin dan protein di dalam urin yang dihasilkan daripada di dalam cairan selom (Ramsay 1949). Nefridia memiliki tiga fungsi pada proses ekskresi, yaitu filtrasi, reabsorbsi, dan transformasi kimiawi (Bahl 1947). Cacing tanah mengekskresikan zat-zat nitrogen dari dinding tubuh sebagai mukus. Mukus ini berperan sebagai pelumas, mengikat partikel tanah untuk membentuk dinding liang, dan membentuk lapisan pelindung yang melawan bahan-bahan beracun. Sekitar setengah nitrogen total yang diekskresikan per hari terdapat di dalam mukus ini (Edwards & Lofty 1972). Beberapa cacing tanah seperti Pheretima memiliki kelenjar limfa, tempat akumulasi sel-sel ameba. Selsel ameba juga terdapat di dalam darah, beberapa sel ameba tersimpan di dalam
30 dinding usus, dan selanjutnya masuk ke dalam usus untuk diekskresikan bersama feses (Edwards & Lofty 1972). Sistem saraf Sistem saraf cacing tanah terdiri atas sebuah ganglion serebral dorsal, sepasang konektif sirkumentrik dan satu atau lebih tali saraf longitudinal. Ganglion serebral dorsal menyuplai saraf bagian anterior tubuh dan saraf prostomial. Pengontrolan pergerakan tubuh cacing tanah diatur oleh ganglion subenterik. Sedangkan konektif sirkumenterik dan tali saraf longitudinal mengontrol saraf sensoris dan motoris keseluruhan dinding tubuh serta organ di setiap tubuh (Edwards & Lofty 1972). Organ sensoris cacing tanah terdiri atas dua macam, yaitu organ fotoreseptor dan organ sensoris epitel. Di dalam setiap sel organ fotoreseptor terdapat organel optik yang berbentuk lonjong atau memanjang. Permukaan luar organel ini terdiri atas retina, dan permukaan dalam terdiri atas substansi hialin yang transparan. Organ sensoris epitel merupakan kumpulan dari sel-sel yang memanjang dan besar di bagian dasarnya. Ujung distalnya berakhir pada penonjolan rambutrambut sensori sepanjang daerah kutikula yang tipis. Cacing tanah tidak memiliki mata, tetapi spesies ini memiliki sel-sel sensori yang strukturnya seperti lensa di daerah epidermis dan dermis, terutama pada prostomium. Bagian tengah dan prosterior tubuhnya kurang sensitif terhadap cahaya (Laverack 1963). Cacing tanah sangat respon terhadap rangsangan cahaya, terutama jika tibatiba terpapar cahaya setelah berdiam lama dalam kondisi gelap (Laverack 1963). Cacing tanah Lumbricus bersifat fotopositif terhadap sumber cahaya yang sangat lemah, dan fotonegatif terhadap sumber cahaya yang kuat. Akan tetapi cacing tanah tidak terlalu bereaksi terhadap peningkatan intensitas cahaya yang tiba-tiba jika telah teradaptasi dalam waktu yang lama dalam kondisi cahaya yang kuat. Hal itu disebabkan oleh saturasi reseptor cahaya (Hess 1924). Anggota spesies dari genus Pheretima seluruhnya bersifat fotonegatif terhadap intensitas cahaya (Howell 1939). Organ sensoris yang bereaksi terhadap rangsangan kimia (kemoreseptor) terdapat pada prostomium (Laverack 1963). Kemoreseptor berperan penting
31 dalam kehidupan cacing tanah. Kemoreseptor dapat mendeteksi dan mengumpulkan bahan makanan. Kemoreseptor juga dapat digunakan untuk memberi informasi tentang kondisi lingkungan. Disamping itu, kemoreseptor berperan dalam proses perkawinan dengan mendeteksi getah mukus yang dihasilkan oleh cacing tanah yang lain (Smith 1902). Distribusi Geografi Cacing Tanah Distribusi cacing tanah sangat luas di seluruh dunia. Akan tetapi pada daerah gurun, kutub, pegunungan, dan daerah dengan sedikit tanah dan vegetasi cacing tanah jarang ditemukan. Beberapa spesies cacing tanah yang terdistribusi secara luas dikenal dengan istilah perigrin (kosmopolitan), sedangkan spesies yang hanya terdapat pada satu daerah tertentu dikenal dengan istilah endemik (Edwards & Lofty 1972). Spesies perigrin dari famili Lumbricidae menyebar ke beberapa wilayah, terutama di Eropa. Wilayah-wilayah lain yang merupakan daerah penyebaran spesies cacing tanah dari famili ini adalah Chili, Selandia Baru, beberapa daerah di Amerika Serikat, Afrika Barat, India bagian barat laut, dan Australia. Penyebaran Eisenia terdapat di wilayah Eropa, Siberia, Rusia Selatan, Israel, dan Amerika Utara. Sedangkan Lumbricus tersebar ke wilayah Eropa, Siberia, Islandia, dan Amerika Utara. Beberapa spesies perigrin dari genus-genus tersebut terdistribusi di seluruh dunia (Edwards & Lofty 1972; Reynolds 1994). Cacing tanah Megascolecidae genus Pheretima berasal dari Asia Tenggara. Namun cacing tanah ini juga bermigrasi ke beberapa daerah tropik, subtropik, dan daerah beriklim sedang. Beberapa spesies perigrin dari famili Megascolecidae tersebar di Amerika Selatan dan Amerika Pusat serta Hindia Barat. Genus Pheretima juga terdistribusi di Indo-Malaya, Asia Timur, dan Australia (Edwards & Lofty 1972; Reynolds 1994).
32 METODE Waktu dan Lokasi Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap percobaan. Tahap persiapan dilaksanakan dari bulan Maret 2008 sampai bulan Januari Tahap percobaan dilaksanakan pada bulan Februari-April Lokasi penelitian terletak di Bagian Fungsi Hayati dan Perilaku Hewan Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor. Tahap Persiapan Pada tahap ini dilakukan penyiapan populasi cacing tanah, media biak, dan wadah percobaan. Cacing tanah yang digunakan pada penelitian adalah spesies Pheretima sp., E. fetida dan L. rubellus yang telah berklitelum (Gambar 3a-c). Identifikasi spesies cacing tanah dilakukan di Laboratorium Entomologi, Bidang Zoologi Puslit Biologi LIPI, Cibinong. Spesies Pheretima sp. diperoleh dari dalam kotoran sapi yang berasal dari kandang Fakultas Peternakan IPB, sedangkan E. fetida dan L. rubellus diperoleh dari Bapak Rudi Rochmat pada peternakan Kelompok Cacing Tanah Mandiri di Desa Warna Sari, Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung. Ketiga populasi cacing tanah dibudidaya di Bagian Fungsi Hayati dan Perilaku Hewan Departemen Biologi IPB selama 10 bulan. Budidaya bertujuan memperbanyak populasi cacing tanah sehingga dapat dijadikan sebagai stok pada tahap percobaan. Cacing tanah yang dibudidaya pada tahap persiapan sebanyak ± 1 kg untuk spesies E. fetida dan L. rubellus, serta ± 1.5 kg untuk spesies Pheretima sp. Budidaya cacing tanah dilakukan dengan sistem windrow, yaitu sistem budidaya cacing tanah dalam barisan yang disusun sejajar (Gambar 4a), dan bin, yaitu sistem budidaya cacing tanah yang menggunakan wadah (Gambar 4b) Media biak terdiri atas kotoran sapi dan sampah daun dari pohon sonokeling (Dalbergia latifolia). Kotoran sapi diperoleh dari kandang Fakultas Peternakan IPB. Kotoran sapi digunakan sebagai starter untuk menyediakan sumber nitrogen bagi cacing tanah (Muthukumaravel et al. 2008). Sebelum dijadikan sebagai
33 media biak, kotoran sapi dikering-anginkan dan diaduk secara manual setiap hari selama 15 hari untuk menguapkan gas beracun (Garg et al. 2005). Daun pohon sonokeling (D. latifolia) diperoleh dari sekitar Kampus IPB. Daun dihancurkan secara manual hingga mencapai ukuran partikel ± 5 mm. Ke dalam media biak ditambahkan tanah untuk membantu proses pencernaan cacing tanah. Tanah diperoleh dari kebun yang terletak di sekitar Bagian Fungsi Hayati dan Perilaku Hewan Departemen Biologi IPB. Selama masa budidaya, media biak diaduk dan disiram dengan air secukupnya untuk mempertahankan suhu (25 o C) dan kelembaban media (65%). Pengadukan dan penyiraman media biak dilakukan dengan selang waktu tiga hari. Wadah percobaan pada penelitian ini berupa wadah plastik dengan panjang, lebar, dan tinggi 35x31x12.5 cm (Gambar 5a). Seluruh wadah percobaan dilubangi di bagian bawahnya untuk menciptakan aerasi di dalam wadah. Tahap Percobaan Seluruh bahan pada media biak dimasukkan ke dalam masing-masing wadah percobaan. Selanjutnya populasi cacing tanah dimasukkan ke dalam wadah yang telah berisi media biak. Kuantitas media biak dan cacing tanah yang digunakan dalam percobaan ini tertera pada Tabel 1. Seluruh wadah percobaan disusun bertingkat di atas rak (Gambar 5b). Percobaan ini terdiri atas dua perlakuan, yaitu: 1) perlakuan spesies cacing tanah tunggal dan kombinasi, dan 2) perlakuan rasio antara cacing tanah dan sampah daun. Perlakuan spesies cacing tanah tunggal meliputi P, E, dan L, sedangkan spesies cacing tanah kombinasi meliputi P+E, P+L, E+L, dan P+E+L. Perlakuan rasio cacing tanah dan sampah daun terdiri atas 1:1 (selanjutnya disebut rasio R1), dan 2:1 (selanjutnya disebut rasio R2) (Tabel 1). Pada rasio R1, biomassa awal cacing tanah yang digunakan adalah 30 gr. Biomassa tersebut ekivalen dengan ± 50 individu untuk spesies E. fetida, ± 60 individu untuk spesies L. rubellus, dan ± 80 individu untuk spesies Pheretima sp. Bobot awal sampah daun untuk rasio R1 adalah 210 gr. Pada rasio R2, biomassa awal cacing tanah yang digunakan adalah 30 gr dengan bobot awal sampah daun sebesar 105 gr.
34 a b c Gambar 3 Spesies cacing tanah yang digunakan dalam penelitian: Pheretima sp. (a), E. fetida (b), dan L. rubellus (c). Bin a b Gambar 4 Budidaya cacing tanah dengan sistem windrow (a) dan bin (b). a b Gambar 5 Wadah percobaan (a), dan penyusunan wadah percobaan di atas rak (b).
35 Tabel 1 Kuantitas media biak dan cacing tanah yang digunakan dalam percobaan Biomassa Cacing Sampah Daun No Perlakuan* Rasio CT : SD* Tanah (gr) (gr) 1 P E L :1 4 P+E (R1) 5 P+L E+L P+E+L P E L :1 11 P+E (R2) 12 P+L E+L P+E+L *Perlakuan; P: Pheretima sp., E: E. fetida, L: L. rubellus. CT : SD: Cacing Tanah:Sampah Daun. Ke dalam wadah percobaan diletakkan bedding berupa daun pisang untuk mempertahankan kelembaban media. Bedding diletakkan di bagian atas bahanbahan media biak secara terpisah dengan menggunakan kain jala. Suhu, kelembaban, dan ph awal media biak disesuaikan menjadi 25 o C, 65% dan 6.8 berturut-turut. Suhu diukur menggunakan thermometer, sedangkan kelembaban dan ph diukur dengan soil tester. Setiap minggu dilakukan pengukuran terhadap parameter biologi penelitian pada seluruh perlakuan. Pengukuran Parameter Biologi Cacing Tanah Penelitian ini terdiri atas 3 parameter biologi, yaitu (1) laju konsumsi bahan organik, (2) pertumbuhan cacing tanah, dan (3) produktivitas cacing tanah. Seluruh parameter biologi diamati dan diukur setiap 7 hari selama 4 minggu. Pengukuran parameter biologi diawali dengan memisahkan populasi cacing tanah dari media biak.
36 Laju konsumsi bahan organik Laju konsumsi bahan organik diukur dengan menimbang seluruh bahan makanan yang terdapat pada media biak menggunakan timbangan digital (82ADAM, d=0.001 g). Persentase laju konsumsi dihitung dengan persamaan: B- 0 Bt X 100% B 0 Keterangan: B 0 : berat awal bahan makanan B t : berat bahan makanan pada waktu pengamatan ke-t Bahan pada media yang telah ditimbang dimasukkan kembali ke dalam wadah percobaan. Kemudian dilakukan penambahan sampah daun sonokeling setiap minggu ke dalam media biak sebanyak 210 gr untuk rasio R1 dan 105 gr untuk rasio R2. Kuantitas sampah daun yang ditambahkan pada rasio R1 dan R2 diperoleh berdasarkan pengetahuan umum yang menyatakan bahwa cacing tanah dapat mengkonsumsi bahan makanan sebesar bobot tubuhnya dalam waktu 24 jam. Di lain pihak, Haimi dan Huhta (1986) menemukan bahwa cacing tanah dapat mengkonsumsi bahan makanan setengah dari bobot tubuhnya per hari pada kondisi lingkungan yang sesuai. Sampah daun diletakkan secara homogen ke dalam media biak. Pertumbuhan cacing tanah Populasi cacing tanah yang telah dipisahkan secara hand sorting ditimbang sebagai biomassa basah untuk mengetahui pertumbuhannya (Suthar & Singh 2008). Pengukuran biomassa cacing tanah dilakukan mengggunakan timbangan digital (82ADAM, d=0.001 g). Kemudian cacing tanah dimasukkan kembali ke dalam wadah percobaan. Produktivitas cacing tanah Produktivitas cacing tanah diukur dengan menghitung jumlah kokon yang diproduksi di dalam seluruh wadah percobaan setiap minggu (Suthar 2007a). Kokon yang diproduksi oleh masing-masing spesies cacing tanah dipisahkan dari media biak secara hand sorting dan ditempatkan ke dalam media lain (Banu et al. 2008). Kokon masing-masing spesies ditempatkan ke dalam media lain dengan suhu 25 o C.
37 Perkembangan kokon diamati setiap hari sampai menetas untuk mengetahui masa inkubasi kokon. Selanjutnya, jumlah juvenil yang keluar dari tiap kokon dihitung (Bhattacharjee & Chaudhuri 2002). Analisa komposisi kimiawi vermikompos Pada minggu keempat, bahan-bahan organik yang telah terdekomposisi selama masa percobaan disaring untuk memperoleh hasil akhir vermicomposting berupa vermikompos. Vermikompos yang diproduksi oleh masing-masing spesies cacing tanah pada perlakuan rasio R2 ditimbang seberat 100 gr untuk dianalisa. Komposisi kimiawi vermikompos yang dianalisa terdiri atas karbon organik, nitrogen total, fosfor dan kalium. Kandungan C organik dan N total dianalisa dengan metode titrasi dan metode Kjeldahl (Walkey & Black 1934). Nilai rasio C:N diperoleh dengan membagi nilai kandungan C organik dengan N total. Kadar P dan K masing-masing dianalisa menggunakan Spektrofotometri dan Flamefotometer (Jackson 1973). Analisa unsur-unsur kimia vermikompos dilakukan di laboratorium tanah SEAMEO BIOTROP, Bogor. Analisa Data Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial (7 x 2) dengan 4 ulangan. Sebagai faktor pertama adalah spesies cacing tanah tunggal dan kombinasi: P, E, L, P+E, P+L, E+L dan P+E+L. Faktor kedua adalah rasio cacing tanah:sampah: 1:1 dan 2:1, sehingga total percobaan adalah 56 unit percobaan. Data statistik dianalisa menggunakan program SYSTAT 12 for Woindows. Perbedaan diantara beberapa perlakuan dianalisa dengan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Tukey pada tingkat kepercayaan 95%.
38 HASIL Laju konsumsi bahan organik Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 1 minggu laju konsumsi tertinggi pada perlakuan spesies tunggal dengan rasio R1 terdapat pada perlakuan E (19.05%), sedangkan laju konsumsi terendah terdapat pada perlakuan P (13.82%). Pada perlakuan spesies kombinasi, laju konsumsi tertinggi terdapat pada perlakuan E+L (19.84%), sedangkan laju konsumsi terendah terdapat pada perlakuan P+L (14.24%) (Gambar 6). Namun, setelah 4 minggu laju konsumsi tertinggi terdapat pada perlakuan spesies kombinasi P+E+L (36.32%), sedangkan laju konsumsi terendah terdapat pada perlakuan spesies tunggal P (31.56%) (Lampiran 1 & 2). Laju konsumsi dengan rasio R2 menunjukkan pola grafik yang hampir sama dengan rasio R1, akan tetapi persentasenya lebih tinggi. Setelah 1 minggu laju konsumsi tertinggi pada perlakuan spesies tunggal terdapat pada perlakuan E (23.54%), sedangkan laju konsumsi terendah terdapat pada perlakuan P (16.64%). Pada perlakuan spesies kombinasi, laju konsumsi tertinggi terdapat pada perlakuan E+L (28.13%), sedangkan laju konsumsi terendah terdapat pada perlakuan P+L (18.24%) (Gambar 7). Setelah 4 minggu, laju konsumsi tertinggi terdapat pada perlakuan spesies kombinasi E+L (41.08%), sedangkan laju konsumsi terendah terdapat pada perlakuan spesies tunggal P (33.57) (Lampiran 1 & 2). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa laju konsumsi pada rasio R2 lebih tinggi dibandingkan dengan rasio R1 (P<0.05). Selama percobaan vermicomposting, laju konsumsi rata-rata pada masing-masing perlakuan spesies dengan rasio R1 dari persentase tertinggi sampai persentase terendah adalah: E+L (29.67%/minggu), P+E+L (29.09%/minggu), E (28.90%/minggu), L (27.93%/minggu), P+E (26.05%/minggu), P+L (24.18%/minggu), dan P (23.31%/minggu). Adapun laju konsumsi rata-rata pada masing-masing perlakuan spesies dengan rasio R2 adalah: E+L (35.93%/minggu), P+E+L (34.88%/minggu), E (32.92%/minggu), L (31.16%/minggu), P+E (27.67%/minggu), P+L (26.22%/minggu), dan P (26.05%/minggu).
39 Laju konsumsi (%) P E L P + E P + L E + L P + E + L Waktu (minggu) Gambar 6 Laju konsumsi pada perlakuan spesies yang berbeda dengan rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 1:1 (R1). Laju konsumsi (%) P E L P + E P + L E + L P + E + L Waktu (minggu) Gambar 7 Laju konsumsi pada perlakuan spesies yang berbeda dengan rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 2:1 (R2).
40 Pertumbuhan Cacing Tanah Secara umum pertumbuhan cacing tanah pada rasio R1 cenderung menurun (Gambar 8). Setelah 1 minggu pertumbuhan cacing tanah tertinggi pada perlakuan spesies tunggal terdapat pada perlakuan E dengan biomassa rata-rata maksimum 46.8±1.2 gr. Pertumbuhan terendah ditunjukkan pada perlakuan P dengan biomassa rata-rata 29.0±1.1 gr. Pada perlakuan spesies kombinasi, biomassa tertinggi terdapat pada perlakuan E+L (39.7±3.8 gr), sedangkan biomassa terendah terdapat pada perlakuan P+E (33.7±4.8 gr). Gambar 8 menunjukkan biomassa cacing tanah pada seluruh perlakuan bertambah setelah satu minggu, kecuali pada perlakuan spesies tunggal P yang menunjukkan penurunan biomassa (29.0±1.1 gr). Setelah 4 minggu, biomassa tertinggi terdapat pada perlakuan spesies kombinasi E+L (19.6±1.4 gr), sedangkan biomassa terendah terdapat pada perlakuan spesies tunggal P (9.9±0.3 gr) (Lampiran 3 & 4). Seluruh cacing tanah pada rasio R2 mengalami penurunan biomassa sejak minggu pertama (Gambar 9). Pada perlakuan spesies tunggal, biomassa tertinggi setelah 1 minggu terdapat pada perlakuan E (26.1±1.0 gr), sedangkan biomassa terendah terdapat pada perlakuan P (24.7±1.8 gr). Pada perlakuan spesies kombinasi, biomassa tertinggi terdapat pada perlakuan E+L (27.1±1.5 gr), sedangkan biomassa terendah terdapat pada perlakuan P+E (23.1±2.1 gr). Setelah 4 minggu, biomassa tertinggi terdapat pada perlakuan spesies kombinasi E+L (13.1±0.9 gr), sedangkan biomassa terendah terdapat pada perlakuan spesies tunggal P (5.1±0.5 gr) (Lampiran 3 & 4). Berdasarkan pada hasil penelitian, laju pertumbuhan cacing tanah pada rasio R1 lebih tinggi dibandingkan dengan rasio R2 (P<0.05). Pada rasio R1, biomassa rata-rata cacing tanah maksimum sebesar 46.8±1.2 gr, sedangkan pada rasio R2 biomassa rata-rata cacing tanah maksimum sebesar 27.1±1.5 gr.
41 Biomassa rata-rata cacing tanah (gr) P E L P + E P + L E + L P + E + L Waktu (minggu) Gambar 8 Pertumbuhan spesies Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus pada perlakuan yang berbeda dengan rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 1:1 (R1). Biomassa rata-rata cacing tanah (gr) P E L P + E P + L E + L P + E + L Waktu (minggu) Gambar 9 Pertumbuhan spesies Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus pada perlakuan yang berbeda dengan rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 2:1 (R2).
42 Produktivitas Cacing Tanah Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada perlakuan spesies tunggal dengan rasio R1 jumlah rata-rata produksi kokon tertinggi terdapat pada perlakuan L (36.25±17.1 kokon), sedangkan produksi kokon terendah terdapat pada perlakuan P (0.75±0.1 kokon) setelah 1 minggu (Gambar 10). Pada perlakuan spesies kombinasi, jumlah rata-rata produksi kokon tertinggi terdapat pada perlakuan P+E+L (20.5±5.7 kokon), sedangkan produksi kokon terendah terdapat pada perlakuan (2.25±1.5 kokon) (Lampiran 5). Jumlah rata-rata kokon maksimum terdapat pada perlakuan spesies kombinasi E+L (95.75±17.3 kokon) setelah 2 minggu, sedangkan jumlah rata-rata kokon minimum terdapat pada perlakuan P (2±2.83 kokon) (Lampiran 6). Pada minggu ketiga jumlah kokon yang diproduksi oleh seluruh cacing tanah berkurang dari minggu sebelumnya, sedangkan di akhir percobaan tidak ditemukan kokon yang diproduksi pada seluruh perlakuan spesies tunggal dan spesies kombinasi. Jumlah rata-rata kokon tertinggi dengan rasio R2 pada perlakuan spesies tunggal terdapat pada perlakuan E (34±13.7 kokon) setelah 1 minggu, sedangkan jumlah rata-rata kokon terendah terdapat pada perlakuan P (2.25±1.3 kokon) (Gambar 11; Lampiran 5). Pada rasio R2, seluruh perlakuan tidak menunjukkan peningkatan produksi kokon pada minggu kedua (Lampiran6). Produksi kokon berhenti pada perlakuan P dan P+E pada minggu ketiga, dan di akhir masa percobaan tidak ditemukan lagi kokon pada seluruh perlakuan. Kokon-kokon yang diproduksi oleh cacing tanah pada seluruh perlakuan dipisahkan berdasarkan spesiesnya. Kokon yang diproduksi oleh Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus memiliki ukuran dan bentuk yang bervariasi (Gambar 12 a-c). Kokon E. fetida berukuran lebih besar dibandingkan dengan kokon L. rubellus dan Pheretima sp., yaitu 4.85 mm x 2.82 mm, 3.50 mm x 2.46 mm, dan 3.90 mm x 1.85 mm berturut-turut (ukuran: panjang x lebar). Pada rasio R1 spesies L. rubellus memproduksi total kokon yang lebih banyak dibandingkan dengan spesies E. fetida dan Pheretima sp. selama masa percobaan (Gambar 13). Pada rasio R2, jumlah total kokon yang diproduksi oleh spesies E. fetida lebih banyak dibandingkan dengan spesies L. Rubellus dan Pheretima sp. (Gambar 14).
43 Jumlah rata-rata kokon P E L P + E P + L E + L P + E + L Waktu (minggu) Gambar 10 Jumlah rata-rata kokon yang diproduksi pada perlakuan spesies yang berbeda dengan rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 1:1 (R1). Jumlah rata-rata kokon 140 P E 120 L P + E P + L 100 E + L P + E + L Waktu (minggu) Gambar 11 Jumlah rata-rata kokon yang diproduksi pada perlakuan spesies yang berbeda dengan rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 2:1 (R2).
44 a b c Gambar 12 Variasi ukuran dan bentuk kokon cacing tanah: Pheretima sp. (a), E. fetida (b), dan L. rubellus (c). Jumlah total kokon Jumlah total kokon Waktu (minggu) Waktu (minggu) Pheretima sp. E. fetida L. rubellus Gambar 13 Jumlah total kokon yang diproduksi oleh masing-masing spesies cacing tanah dengan rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 1:1 (R1). Pheretima sp. E. fetida L. rubellus Gambar 14 Jumlah total kokon yang diproduksi oleh masing-masing spesies cacing tanah dengan rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 2:1 (R2).
45 Setelah diinkubasi di dalam wadah lain dengan suhu 25 o C, kokon masingmasing spesies cacing tanah menetas pada waktu yang berbeda. Masa inkubasi kokon cacing tanah berkisar hari. Kokon Pheretima sp. lebih cepat menetas daripada kokon E. fetida dan L. rubellus. Secara berurutan, rata-rata waktu yang dibutuhkan kokon untuk menetas adalah 15.6±1.1, 18.6±2.9, dan 19±3.0 hari (Gambar 15). Masing-masing kokon cacing tanah memproduksi juvenil dengan kisaran 1-5 juvenil. Jumlah rata-rata juvenil yang diproduksi oleh kokon L. rubellus lebih banyak dibandingkan dengan kokon E. fetida dan Pheretima sp., yaitu 4.2±0.8, 3.8±0.8, dan 2.6±1.1 juvenil berturut-turut (Gambar 16). Masa inkubasi rata-rata (hari) Pheretima sp. E. fetida L. rubellus Gambar 15 Masa inkubasi rata-rata kokon dari tiga spesies cacing tanah pada suhu 25 o C. 6 Jumlah rata-rata juvenil Pheretima sp. E. fetida L. rubellus Gambar 16 Jumlah rata-rata juvenil yang diproduksi oleh masing-masing kokon cacing tanah pada suhu 25 o C.
46 Komposisi Kimiawi Vermikompos Selama 4 minggu masa percobaan, proses vermicomposting menghasilkan vermikompos. Komposisi kimiawi vermikompos berbeda dari substrat awal (Tabel 2). Namun hasil ini hanya menunjukkan komposisi kimiawi vermikompos pada spesies tunggal dengan rasio R2. Berdasarkan pada hasil analisa, rasio C:N vermikompos lebih rendah dibandingkan dengan substrat awal (P=0.108), sedangkan kadar P dan K vermikompos lebih tinggi dibandingkan dengan substrat yang belum terdekomposisi. Kadar P pada vermikompos yang diproduksi oleh Pheretima sp. berbeda nyata dari substrat awal (P=0.03). Peningkatan kadar K yang nyata terdapat pada vermikompos yang diproduksi oleh Pheretima sp. dan L. rubellus (P<0.05) (Lampiran 12, 13, 14). Proses vermicomposting menggunakan spesies cacing tanah yang berbeda pada umumnya menghasilkan vermikompos dengan komposisi kimiawi yang berbeda. Hasil analisis dengan ANOVA menunjukkan bahwa rasio C:N, kadar P dan K pada vermikompos yang dihasilkan oleh ketiga spesies cacing tanah tidak berbeda nyata (P>0.05). Tabel 2 Perbandingan komposisi kimiawi substrat awal dengan vermikompos yang dihasilkan oleh spesies Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus Spesies Rasio C:N Kadar P (mg/100g) Kadar K (mg/100g) Awal Akhir Awal Akhir Awal Akhir P 12.7 ± 1.2a 10.4 ± 0.2a 29.8 ± 2.2b 39.3 ± 0.7c ± 21.8d ± 29.7e E 12.7 ± 1.2a 12.2 ± 2.5a 29.8 ± 2.2b 37.8 ± 4.1bc ± 21.8d ± 14.3de L 12.7 ± 1.2a 9.4 ± 1.4a 29.8 ± 2.2b 37.0 ± 4.7bc ± 21.8d ± 19.4e Huruf yang sama di belakang angka dalam baris atau kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Tukey pada tingkat kepercayaan 95%.
47 PEMBAHASAN Laju konsumsi bahan organik Berdasarkan pada hasil penelitian, laju konsumsi pada rasio R2 lebih tinggi dibandingkan dengan rasio R1 (Gambar 6 & 7). Secara ringkas, laju konsumsi oleh ketiga spesies cacing tanah pada perlakuan spesies tunggal adalah E > L > P, sedangkan laju konsumsi pada perlakuan kombinasi adalah: E+L > P+E+L > P+E > P+L. Perbedaan laju konsumsi ini disebabkan oleh perbedaan densitas cacing tanah di dalam wadah. Semakin besar densitas cacing tanah, maka semakin cepat aktivitas konsumsi bahan organik. Densitas cacing tanah yang besar meningkatkan laju konsumsi pada permulaan. Ketika makanan berkurang aktivitas cacing tanah semakin rendah. Hasil ini sama seperti penelitian Sinha et al. (2002). Densitas cacing tanah yang besar menyebabkan peningkatan populasi mikroorganisme di dalam media biak dan saluran pencernaan cacing tanah selama proses vermicomposting (Banu et al. 2008). Sebagai dekomposer, cacing tanah dapat meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme. Oleh karena itu, kehadiran cacing tanah dapat menyebabkan volume bahan organik yang dikonsumsi lebih banyak, sehingga pada gilirannya meningkatkan persentase laju konsumsi (Stachell et al 1984). Selain itu, mikroorganisme menghasilkan beberapa enzim di dalam saluran pencernaan cacing tanah. Enzim-enzim tersebut terdiri atas, protease, selulase, kitinase, amilase dan lipase (Edwards & Lofty 1972). Enzim-enzim tersebut menguraikan komponen-komponen makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan untuk digunakan oleh jaringan tubuh cacing tanah. Parle (1963) menemukan bahwa enzim pencernaan seperti selulase lebih banyak terdapat di bagian tengah saluran pencernaan, sedangkan kitinase di bagian belakang. Beberapa mikroorganisme yang berperan dalam mengkonsumsi bahan organik di dalam saluran pencernaan cacing tanah terutama bakteri, actinomycetes, dan fungi (Dominguez et al. 1997a). Populasi actinomycetes dan bakteri dapat berproliferasi selama melintasi saluran pencernaan cacing tanah, sedangkan populasi fungi tidak (Parle 1963). Cacing tanah dapat meningkatkan pertumbuhan fungi melalui aktivitas makannya (Lazcano et al. 2008).
48 Peningkatan biomassa fungi di dalam saluran pencernaan cacing tanah juga ditemukan oleh Aira et al. (2006b). Actinomycetes dan bakteri lebih banyak terdapat di bagian belakang saluran pencernaan dibandingkan dengan bagian tengah dan depan. Jumlah populasi bakteri yang terdapat di seluruh bagian saluran pencernaan cacing tanah lebih banyak daripada actinomycetes (Parle 1963). Jenis dan jumlah mikroorganisme yang berperan di dalam sistem pencernaan setiap spesies cacing tanah berbeda-beda. Marialigeti (1979) menemukan sejumlah bakteri Vibro sp. di dalam saluran pencernaan cacing tanah Eisenia lucens, dan Aeromonas hydrophilia di dalam saluran pencernaan Pheretima sp. Jumlah mikroorganisme yang terdapat di dalam saluran pencernaan cacing tanah yang hidup di permukaan tanah lebih banyak dibandingkan dengan cacing tanah yang hidup pada tanah yang lebih dalam. Kozlovskaya dan Zhdannikova (1961) menemukan bahwa jumlah total bakteri yang terdapat di dalam saluran pencernaan cacing tanah L. rubellus 10 kali lebih banyak daripada yang terdapat di dalam saluran pencernaan cacing tanah Octolasium lacteum. Faktor lain yang dapat mempengaruhi laju konsumsi adalah jenis dan kualitas bahan makanan yang juga merupakan media biak. Pada penelitian ini, media biak dan bahan makanan yang digunakan adalah kotoran sapi dan sampah daun sonokeling (D. latifolia). Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju konsumsi semakin rendah setelah 2 minggu (Gambar 6 & 7). Laju konsumsi yang semakin rendah dikarenakan berkurangnya nutrisi yang berasal dari kotoran sapi sebagai media biak sekaligus sumber Nitrogen dan rendahnya palatabilitas daun sonokeling bagi cacing tanah. Sehubungan dengan hal ini, Sinha et al. (2002) menyatakan bahwa cacing tanah mengkonsumsi sedikit bahan makanannya jika tidak tersedia substrat utama seperti kotoran ternak. Selain itu, cacing tanah memiliki palatabilitas yang rendah terhadap sampah dedaunan (Satchell & Lowe 1967). Bahan makanan masuk ke dalam sistem pencernaan cacing tanah melalui rongga mulut di daerah prostomium. Cacing tanah memiliki organ kemoreseptor yang berfungsi untuk mendeteksi zat kimia pada bahan makanan. Sekitar 5-10 persen bahan makanan yang dimasukkan ke dalam tubuh cacing tanah diabsorpsi kedalam jaringan untuk pertumbuhan dan aktivitas metabolismenya. Sisanya
49 dikeluarkan sebagai vermicast. Vermicast tercampur dengan getah mukus dinding saluran pencernaan cacing tanah dan mikrob, selanjutnya diubah menjadi vermikompos (Edwards & Lofty 1972). Spesies cacing tanah yang digunakan juga dapat mempengaruhi laju konsumsi. Spesies cacing tanah yang digunakan pada penelitian ini adalah Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus. Berdasarkan pada pengamatan, perlakuan spesies tunggal E. fetida mengkonsumsisi bahan makanannya lebih tinggi dibandingkan dengan spesies tunggal L. rubellus dan Pheretima sp. (Gambar 6 & 7), sedangkan pada perlakuan spesies kombinasi, perlakuan E. fetida + L. rubellus menunjukkan laju konsumsi yang lebih tinggi daripada perlakuan kombinasi lainnya. Hal ini dikarenakan karakteristik spesifik spesies cacing tanah yang berbeda-beda. E. fetida dan L. rubellus merupakan spesies cacing tanah epigeic yang pada dasarnya merupakan cacing tanah pemakan sampah dan kotoran pada permukaan tanah (Lee 1985), sehingga daya konsumsinya lebih tinggi daripada Pheretima sp. yang belum teridentifikasi status ekologinya. E. fetida dan L. rubellus merupakan spesies cacing tanah yang paling umum digunakan dalam proses vermicomposting, karena keduanya telah terbukti mendekomposisi sampah organik dengan cepat (Edwards & Lofty 1972). Pertumbuhan Cacing Tanah Berdasarkan pada hasil penelitian, pada minggu pertama biomassa rata-rata cacing tanah bertambah, tetapi pada minggu berikutnya biomassa berkurang pada seluruh perlakuan (Gambar 8). Hal ini mungkin berkaitan dengan jenis makanan yang dikonsumsi cacing tanah pada media biak. Pertumbuhan cacing tanah bergantung pada jenis makanannya (Nauhauser et al. 1980). Berdasarkan pada penelitian ini, biomassa cacing tanah bertambah karena mengkonsumsi kotoran sapi yang masih tersedia di dalam media. Selanjutnya, biomassa cacing tanah berkurang karena jumlah kotoran sapi juga berkurang, sedangkan sampah daun tidak menyebabkan peningkatan biomassa. Dominguez et al. (1997b) menemukan perbedaan laju pertumbuhan cacing tanah pada makanan yang berbeda (kotoran ternak, jerami, daun pakis, daun pohon berkayu). Hasilnya adalah pertumbuhan cacing tanah lebih tinggi ketika memakan kotoran ternak, hal ini sesuai dengan
50 penelitian Barley (1959). Seluruh spesies cacing tanah lebih menyukai bahan makan berupa kotoran hewan atau daun rumput-rumputan yang berair daripada daun pepohonan (Guild 1955). Jenis dan jumlah bahan makanan yang tersedia pada media biak tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan cacing tanah tetapi juga produktivitasnya (Edwards & Lofty 1972). Di lain pihak, pada rasio antara cacing tanah dan sampah dedaunan 2:1 (R2), biomassa cacing tanah pada seluruh perlakuan berkurang sejak minggu pertama (Gambar 9). Fakta ini mengindikasikan bahwa densitas cacing tanah dan ketersediaan bahan makanan di dalam media biak mempengaruhi pertumbuhan cacing tanah. Densitas cacing tanah yang tinggi dan ketersediaan substrat yang tidak mencukupi kebutuhan dapat menurunkan laju pertumbuhan cacing tanah (Nauhauser et al. 1980; Dominguez et al. 1997b; Garg et al. 2005). Pertumbuhan cacing tanah dengan rasio R2 lebih rendah dibandingkan dengan rasio R1 (Gambar 8 & 9). Hal ini disebabkan oleh tingginya densitas cacing tanah pada rasio R2. Densitas cacing tanah yang tinggi pada media biak menyebabkan tingginya kompetisi makanan (Dominguez et al. 1997b), sehingga cacing tanah kekurangan sumber makanan. Reinecke et al. (1992) juga menemukan rendahnya pertumbuhan cacing tanah karena densitasnya yang tinggi. Biomassa cacing tanah berkurang karena berkurangnya bahan makanan yang diterima oleh setiap individu cacing tanah. Pertumbuhan cacing tanah bergantung pada kualitas makanannya. Kualitas bahan organik yang dikonsumsi cacing tanah merupakan salah satu faktor yang menentukan laju pertumbuhan dan reproduksi (Dominguez et al. 2000; Suthar 2007b). Cacing tanah yang mengkonsumsi bahan makanan dengan rasio C:N rendah, lebih banyak menggunakan energinya untuk pertumbuhan daripada reproduksi (Aira et al. 2006a). Oleh karena itu, kualitas bahan makanan yang digunakan dalam proses vermicomposting sangat mempengaruhi biomassa cacing tanah (Suthar 2007a). Pada penelitian ini, pertumbuhan cacing tanah spesies Pheretima sp. lebih rendah daripada E. fetida dan L. rubellus (Gambar 8 & 9). Perbedaan pertumbuhan antara ketiga spesies ini dapat disebabkan oleh pola pertumbuhan spesies spesifik atau dapat dihubungkan dengan palatabilitas makanan pada
51 individu spesies cacing tanah. Hasil ini memperkuat penelitian Suthar dan Singh (2008) yang menemukan perbedaan pertumbuhan cacing tanah Perionyx excavatus dan P. sansibaricus (Megascolecidae) yang mengkonsumsi bahan organik dari sampah rumah tangga. Perbedaan pertumbuhan cacing tanah disebabkan oleh perbedaan spesiesnya (Garg et al. 2005). Selain itu, pertumbuhan yang berbeda pada spesies cacing tanah dapat disebabkan oleh interaksi diantara populasi cacing tanah akibat kombinasi spesies tersebut dalam proses vermicomposting. Berdasarkan pada hasil pengamatan, setiap perlakuan kombinasi yang terdiri atas spesies E. fetida dan L. rubellus menunjukkan pola pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kombinasi yang berisi Pheretima sp. Pada percobaan skala laboratorium, interaksi inter-spesifik dan intra-spesifik diantara populasi cacing tanah L. terrestris, L. rubellus, Aporrectodea longa, dan Allolobophora chlorotica berpengaruh negatif terhadap laju pertumbuhan dan produktivitas. Keberadaan satu spesies dapat menghambat pertumbuhan dan produktivitas spesies yang lain (Lowe & Butt 2002). Hal itu terjadi karena adanya kompetisi antara spesies epigeic dan aneic dalam memperoleh sumber makanan. Produktivitas Cacing Tanah Pada umumnya produktivitas cacing tanah dapat digambarkan dengan laju produksi kokon dan jumlah juvenil yang muncul dari masing-masing kokon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produksi kokon tertinggi terjadi pada minggu kedua pada perlakuan spesies kombinasi E. fetida + L. rubellus (Gambar 10). Hal ini mungkin disebabkan oleh ketersediaan bahan makanan yang cukup dari minggu pertama, dan laju konsumsi yang tinggi dari minggu pertama sampai minggu kedua. Oleh karena itu cacing tanah memiliki energi yang banyak untuk memproduksi kokon. Produksi kokon dipengaruhi oleh jumlah bahan makanan yang tersedia di dalam media biak (Edwards & Lofty 1972). Pada rasio R1 produksi kokon lebih tinggi daripada rasio R2 (Gambar 10 & 11). Tingginya produksi kokon pada rasio R1 disebabkan oleh tingginya konsumsi makanan oleh cacing tanah, sehingga dapat meningkatkan energi cacing tanah untuk memproduksi kokon. Sebagian besar energi cacing tanah dewasa
52 digunakan untuk memproduksi kokon (Garg et al. 2005). Rendahnya produksi kokon pada rasio R2 disebabkan oleh pengaruh densitas cacing tanah pada media biak. Pada rasio R2, densitas cacing tanah tinggi, sehingga jumlah makanan yang dikonsumsi lebih sedikit, akibatnya pertumbuhan menjadi rendah dan produksi kokon berkurang. Densitas cacing tanah yang tinggi menyebabkan adanya kompetisi makanan, sehingga cacing tanah kekurangan energi untuk memproduksi kokon. (Dominguez et al. 1997b). Pada minggu keempat, produksi kokon berhenti pada semua perlakuan (Gambar 10 & 11). Hal ini disebabkan oleh berkurangnya sumber nutrisi berupa Nitrogen bagi cacing tanah yang berasal dari kotoran sapi. Fakta ini membuktikan bahwa ketersediaan makanan pada media biak sangat mempengaruhi produksi kokon. Ketika kokon tidak diproduksi lagi, energi cacing tanah dimanfaatkan untuk pertumbuhan jaringan tubuh (Chaudhari & Bhattacharjee 2002). Berdasarkan pada pengamatan, kokon yang diproduksi oleh ketiga spesies cacing tanah memiliki ukuran dan bentuk yang bervariasi. Kokon E. fetida lebih besar daripada kokon L. rubellus dan Pheretima sp. (Gambar 12 a-c). Chaudhari dan Bhattacharjee (2002) yang meneliti beberapa spesies cacing tanah (Eutyphoeus gammiei, Lampito mauritii, Pontoscolex corethurus, Polypheretima elongata, Drawida napalensis, Perionyx excavatus, dan Dischogaster modiglianii), menemukan bahwa ukuran dan bentuk kokon bervariasi diantara spesies cacing tanah tersebut. Senapati dan Sahu (1993) menemukan hubungan yang positif antara ukuran tubuh cacing tanah dewasa dengan ukuran kokon yang diproduksi. Penemuan ini sesuai dengan hasil pengamatan. Spesies E. fetida berukuran lebih panjang (± 9 cm) dan menghasilkan kokon lebih besar (4.85 mm x 2.82 mm), dibandingkan dengan ukuran tubuh spesies L. rubellus (± 5 cm) yang menghasilkan kokon sebesar 3.50 mm x 2.46 mm. Walaupun demikian, ukuran kokon tidak selalu berhubungan dengan ukuran tubuh cacing tanah dewasa (Edwards & Bohlen 1996). Jumlah kokon total yang dihasilkan oleh spesies L. rubellus dan E. fetida lebih banyak dibandingkan dengan spesies Pheretima sp. (Gambar 13 & 14). Spesies cacing tanah yang berbeda memiliki kemampuan memproduksi kokon yang berbeda. Cacing tanah epigeic memproduksi kokon lebih banyak pada
53 kisaran suhu o C dibandingkan dengan cacing tanah anecic (Bhattacharjee & Chaudhuri 2002). Namun produksi kokon tidak dipengaruhi oleh ukuran tubuh cacing tanah. Senapati dan Sahu (1993) menemukan bahwa ukuran tubuh cacing tanah memperlihatkan hubungan negatif terhadap produksi kokon. Masa inkubasi kokon berbeda-beda pada masing-masing spesies cacing tanah. Masa inkubasi rata-rata kokon Pheretima sp. lebih cepat dibandingkan dengan masa inkubasi kokon E. fetida dan L. rubellus (Gambar 15). Walaupun demikian, masa inkubasi masing-masing kokon cacing tanah pada penelitian ini tidak berbeda nyata (P=0.09). Masa inkubasi kokon dapat dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Pada penelitian ini, kokon diinkubasi pada suhu 25 o C. Masingmasing kokon menetas pada kisaran hari. Suhu yang lebih tinggi daripada 25 o C menurunkan masa inkubasi rata-rata kokon cacing tanah epigeic (Reinecke et al. 1992). Peningkatan suhu menyebabkan peningkatan masa inkubasi pada cacing tanah endogeic dan penurunan masa inkubasi pada cacing tanah epigeic. Pada cacing tanah anecic, masa inkubasi kokonnya panjang (110 hari). Pada cacing tanah endogeic, masa inkubasi kokon pendek (15 hari), sedangkan pada cacing tanah epigeic masa inkubasi kokon sangat pendek (13-14 hari) (Bhattacharjee & Chaudhuri 2002). Jumlah rata-rata juvenil yang diproduksi oleh kokon L. rubellus dan E. fetida cenderung lebih banyak dibandingkan dengan kokon Pheretima sp. (P=0.051), yaitu 4.2±0.8, 3.8±0.8, dan 2.6±1.1 juvenil berturut-turut (Gambar 16). Edwards (1998) menemukan jumlah rata-rata juvenil tiap kokon cacing tanah E. fetida adalah 3.3 juvenil, sedangkan Gunadi et al. (2003) memperoleh 2.4±0.1 juvenil per kokon E. fetida.
54 Komposisi Kimiawi Vermikompos Karakteristik vermikompos bergantung pada karakteristik awal bahan mentahnya. Bahan mentah vermikompos pada penelitian ini adalah kotoran sapi dan sampah daun sonokeling dengan rasio C:N 12.7±1.2, kadar P 29.8±2.2 mg/100g, dan kadar K 207.3±21.8 mg/100g (Tabel 2). Berdasarkan pada hasil analisa, rasio C:N vermikompos lebih rendah daripada substrat awal (Tabel 2), namun perbedaan ini tidak nyata (P=0.10). Hal ini mungkin disebabkan oleh masa vermicomposting yang relatif singkat, sehingga vermikompos yang dihasilkan belum cukup matang. Beberapa peneliti juga menemukan penurunan tingkat rasio C:N vermikompos (Atiyeh et al. 2000; Tripathi & Bhardwaj 2004; Suthar & Singh 2008; Khwairakpam & Bhargava 2009). Rasio C:N pada substrat menggambarkan mineralisasi dan stabilisasi sampah organik selama proses vermicomposting (Suthar & Singh 2008). Rasio C:N menunjukkan tingkat dekomposisi sampah organik. Unsur C dilepaskan sebagai CO 2 selama biooksidasi, sedangkan N dilepaskan pada tingkat yang lebih rendah. Semakin banyak bahan organik yang terdekomposisi, semakin rendah rasio C:N (Pramanik et al. 2007; Lazcano et al. 2008). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rasio C:N merupakan salah satu indikator yang paling sering digunakan untuk mengetahui kematangan vermikompos (Tripathi & Bhardwaj 2004; Loh et al. 2005). Menurunnya rasio C:N pada vermikompos disebabkan oleh aktivitas cacing tanah dalam proses vermicomposting. Penurunan rasio C:N menunjukkan tingginya humifikasi vermikompos (Albanell et al. 1988). Hilangnya karbon sebagai karbon dioksida pada proses respirasi dan produksi mukus serta kotoran bernitrogen dapat menurunkan rasio C:N (Suthar 2007b). Pramanik et al. (2007) menemukan bahwa kotoran sapi dapat menurunkan rasio C:N vermikompos. Rasio C:N pada vermikompos yang diproduksi oleh L. rubellus (9.4±1.4) lebih rendah dibandingkan dengan vermikompos Pheretima sp. (10.4±0.2) dan E. fetida (12.2±2.5) (Tabel 2). Hal ini menunjukkan bahwa L. rubellus lebih efisien meningkatkan mineralisasi bahan organik daripada Pheretima sp. dan E. fetida. Penelitian ini memperkuat hasil penelitian Suthar dan Singh (2008) yang menggunakan spesies Perionyx excavatus dan P. sansibaricus dalam
55 vermicomposting sampah rumah tangga. Elvira et al. (1998) menemukan bahwa sebagian besar bahan organik di dalam substrat awal hilang sebagai CO 2 (antara 20 dan 43% dari C organik total) di akhir periode vermicomposting. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa proses vermicomposting menyebabkan penurunan C organik pada sistem dekomposisi sampah dan mempercepat proses degradasi sampah (Garg & Kaushik 2005; Loh et al. 2005; Lazcano et al. 2008). Pada penelitian ini, kadar Nitrogen total yang terdapat pada vermikompos lebih tinggi daripada substrat awal. Hasil ini sesuai dengan penelitian Atiyeh et al. (2000), Tripathi dan Bhardwaj (2004), Suthar dan Singh (2008), Khwairakpam dan Bhargava (2009). Cacing tanah sangat mempengaruhi transformasi nitrogen di dalam kotoran. Dengan meningkatnya mineralisasi nitrogen, maka mineral nitrogen dapat ditahan dalam bentuk nitrat (Atiyeh et al. 2000). Cacing tanah meningkatkan kadar N pada vermikompos melalui hasil ekskresi amonia, enzim nitrogenase dan cairan mukus (Tripathi & Bhardwaj 2004). Perbedaan kadar N pada vermikompos yang diproduksi oleh ketiga spesies cacing tanah secara langsung disebabkan oleh palatabilitas makanan pada individu spesies cacing tanah, dan secara tidak langsung oleh simbiosis mutualisme antara mikroorganisme dan mukus usus yang bersifat spesifik (Suthar & Singh 2008). Hasil analisa menunjukkan bahwa kadar P dan K pada vermikompos lebih tinggi daripada substrat (Tabel 2). Proses vermicomposting menyebabkan peningkatan kadar P dan K pada vermikompos di akhir periode vermicomposting (Manna et al. 2003; Pramanik et al. 2007; Suthar 2007b; Banu et al. 2008; Suthar & Singh 2008; Khwairakpam & Bhargava 2009). Peningkatan kadar P dan K tertinggi terdapat pada vermikompos Pheretima sp., dan L. rubellus berturut-turut (Tabel 2). Peningkatan kandungan mineral P dan K pada vermikompos menunjukkan adanya peningkatan mineralisasi unsur-unsur tersebut yang disebabkan oleh aktivitas enzim dan mikroorganisme di dalam saluran pencernaan cacing tanah (Albanell et al. 1988; Banu et al. 2008). Ketika bahan organik melintasi saluran pencernaan cacing tanah mengakibatkan perubahan fosfor ke dalam bentuk yang lebih mudah diserap oleh tumbuhan. Pelepasan fosfor ke dalam bentuk yang dapat diserap oleh tumbuhan diperantarai oleh fosfat yang dihasilkan di dalam saluran pencernaan cacing tanah, dan selanjutnya pelepasan
56 fosfor dapat dilakukan oleh mikroorganisme di dalam casting setelah dikeluarkan (Lee 1992). Dampak yang dihasilkan oleh cacing tanah terhadap transformasi fosfor bergantung pada hubungan dekat antara sifat sumber fosfor dan perilaku meliang yang spesifik serta palatabilitas makanan pada cacing tanah (Le Bayon & Binet 2006). Cacing tanah Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus yang digunakan dalam penelitian ini meningkatkan kualitas vermikompos. Manfaat terpenting dari aktivitas cacing tanah adalah mempercepat proses mineralisai bahan-bahan organik dengan perantara mikroorganisme, oleh karena itu cacing tanah sangat effisien dalam stabilisasi bahan organik sampah (Boyle et al. 1997; Suthar 2007b). Aktivitas mikroorganisme dan enzim di dalam saluran pencernaan cacing tanah meningkatkan kandungan mineral pada vermikompos (Banu et al. 2008). Parle (1963) menemukan densitas mikroorganisme di dalam saluran pencernaan cacing tanah dan vermikompos lebih tinggi daripada di dalam bahan segar vermicomposting.
57 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Perlakuan spesies tunggal E. fetida dan spesies kombinasi E. fetida + L. rubellus pada rasio R1 dan R2 lebih cepat mengkonsumsi sampah daun sonokeling. Secara ringkas, tingkat laju konsumsi oleh ketiga spesies cacing tanah pada masing-masing perlakuan adalah: E+L > P+E+L > E > L > P+E > P+L > P. Laju konsumsi bahan organik dipengaruhi oleh densitas cacing tanah, kualitas dan kuantitas bahan makanan Pertumbuhan cacing tanah tertinggi terdapat pada perlakuan spesies tunggal E. fetida dan spesies kombinasi E. fetida + L. rubellus pada rasio R1 dan R2. Pertumbuhan cacing tanah bergantung pada ketersediaan dan kualitas bahan makanan, densitas cacing tanah di dalam media biak, serta pola pertumbuhan spesies spesifik. Perlakuan spesies tunggal L. rubellus memproduksi kokon lebih banyak dibandingkan dengan E. fetida dan Pheretima sp. Perlakuan spesies kombinasi E. fetida + L. rubellus memproduksi kokon dengan jumlah terbanyak. Seluruh cacing tanah berhenti memproduksi kokon pada minggu keempat. Rasio C:N pada vermikompos yang diproduksi oleh Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus lebih rendah daripada substrat awal. Kandungan P dan K meningkat pada vermikompos masing-masing cacing tanah.. Sebagai cacing tanah lokal, spesies Pheretima sp. dapat menghasilkan vermikompos berkualitas tinggi. Saran Berdasarkan pada hasil penelitian, maka disarankan untuk: (1) menggunakan spesies tunggal E. fetida atau spesies kombinasi E. fetida + L. rubellus dengan rasio R2 dalam mengelola sampah organik dengan sistem vermicomposting; (2) meneliti lebih lanjut pengaruh kombinasi spesies cacing tanah terhadap komposisi kimiawi vermikompos; (3) menambahkan kotoran sapi di dalam media biak sesuai dengan percobaan jika ketersediaannya tidak mencukupi kebutuhan hidup cacing tanah.
58 DAFTAR PUSTAKA Aira M, Monroy F, Dominguez J How earthworm density affects microbial biomass and activity in pig manure. Eur J Soil Biol 38:7-10. Aira M, Monroy F, Dominguez J. 2006a. C to N ratio strongly affects population structure of Eisenia fetida in vermicomposting systems. Eur J Soil Biol 42: Aira M, Monroy F, Dominguez J. 2006b. Changes in microbial biomass and microbial activity of pig slurry after the transit through the gut of the earthworm Eudrillus eugeniae. Biol Fertil Soils 42: Albanell E, Plaixats J, Cabrero T Chemical changes during vermicomposting (Eisenia fetida) of sheep manure mixed with cotton industrial waste. Biol Fertil Soils 6: Arrhenius O Influence of soil reaction on earthworms. Ecology 2: Arthur DR Form and function in the interpretation of feeding in Lumbricid worms. Viewpoints in Biol 4: Atiyeh RM, Dominguez J, Subler S, Edwards CA Changes in biochemical properties of cow manure during processing by earthworms (Eisenia andrei Bouche) and the effects on seedling growth. Pedobiologia 44: Bahl KN Excretion in the Oligochaeta. Biol Rev 22: Banu JR, Yeom IT, Esakkiraj S, Kumar N, Logakanthi S Biomanagement of sago-sludge using an earthworm, Eudrilus eugeniae. J Environ Biol 9: Barley KP Consumption of soil and organic matter by the earthworm Allolobophora caliginosa. Aust J Agr Res 10: Bhattacharjee G, Chaudhuri PS Cocoon production, morphology, hatchling pattern and fecundity in seven tropical earthworm species - a laboratory-based investigation. J Biosci 27: Bouche MB Soil organisms as components of ecosystems. Biol Bull 25: Boyle KE, Curry JP, Farrell EP Influence or earthworms on soil properties and grass production in reclaimed cutover peat. Biol Fertil Soils 25: Brusca CR, Brusca GJ Invertebrates. Sunderland: Sinauer Associates, Inc.
59 Chaudhari PS, Bhattacharjee G Capacity of various experimental diets to support biomass and reproduction of Perionyx excavatus. Biores Technol 82: Delgado M, Bigeriego MWI, Calvo R Use of the California red worm in sewage sludge transformation. Turrialba 45: Dominguez J, Edwards CA, Subler S. 1997a. A comparison of vermicomposting and composting. Bio Cycle 38: Dominguez J, Briones MJI, Mato S. 1997b. Effect of diet on growth and reproduction of Eisenia andrei (Oligochaeta, Lumbricidae). Pedobiologia 41: Dominguez J, Edwards CA, Webster M Vermicomposting of sewage sludge: effect of bulking materials on the growth and reproduction of the earthworm Eisenia andrei. Pedobiologia 44: Edwards CA The Use of Earthworms in The Break Down and Management of Organic Wastes. In: Earthworm Ecology. Boca Raton: CRC Pr. Edwards CA, Bohlen PJ Biology and Ecology of Earthworms. London: Chapman & Hall. Edwards CA, Lofty JR Biology of Earthworm. London: Chapman & Hall. Edwards CA, Dominguez J, Neuhauser EF Growth and reproduction of Perionyx excavatus (Perr.) (Megascolecidae) as factors in organic waste management. Biol Fertil Soils 27: Elvira C, Sampedro L, Benitez E, Nogales R Vermicomposting of sludge from paper mill and dairy industries with Eisenia andrei: A pilot scale study. Biores Technol 63: Gajalakshmi S, Ramasamy EF, Abbasi SA Composting-vermicomposting of leaf litter ensuing from the trees of mango (Mangifera indica). Biores Technol 96: Gandhi M, Sangwan V, Kapoor KK, Dilbaghi N Composting of household wastes with and without earthworms. Environ Ecol 15: Gansen PS van Structures et Functions du Tube Digestif du Lombricien Eisenia foetida Savigny. Bruxelles: Imp Med Sci. Garg VK, Chand S, Chhillar A, Yadav A Growth and reproduction of Eisenia fetida in various animal wastes during vermicomposting. Appl Ecol Environ Res 3:51-59.
60 Garg VK, Kaushik P Vermistabilization of textile mill sludge spiked with poultry droppings by an epigeic earthworm Eisenia fetida. Biores Technol 96: Gerard BM Factors affecting earthworms in pastures. J Anim Ecol 36: Guild WJ Earthworm and Soil Structure. London: Butterworths. Gunadi B, Edwards CA, Blount C The influence of different moisture levels on the growth, fecundity and survival of Eisenia fetida (Savigny) in cattle and pig manure solids. Eur J Soil Biol 39: Haimi J, Huhta V Capacity of various organic residues to support adequate earthworm biomass in vermicomposting. Biol Fertil Soils 2: Hess WN Reaction to light in the earthworm, Lumbricus terrestris. J Morph 40: Hou J, Qiao Y, Liu G, Renjie D The influence of temperature, ph and C/N ratio on the growth and survival of earthworms in municipal solid waste. CIGR E-J 7:1-6. Howell CD The responses to light in the earthworm, Pheretima agrestis Goto and Hatai, with special reference to the function of the nervous system. J Exp Zool 81: Ismail SA Vermicology: The Biology of Earthworms. Chennai: Orient Longman. Jackson M.L Soil Chemical Analysis. New Delhi: Prentice Hall Private Ltd. Kaplan DL, Hartenstein R, Neuhauser EF, Malechi MR Physicochemical requirements in the environment of the earthworm Eisenia fetida. Soil Biol Biochem 12: Khwairakpam M, Bhargava R Vermitechnology for sewage sludge recycling. J Hazardous Mat 161: Kozlovskaya LS, Zhdannikova EN Joint action of earthworms and microflora in forest soils. Dokl Akad Nauk 139: Lavelle P Earthworm activities and the soil system. Biol Fertil Soils 6: Laverack MS The Physiology of Earthworms. New York: Pergamon Pr.
61 Lazcano C, Brandon MG, Dominguez J Comparison of the effectiveness of composting and vermicomposting for the biological stabilization of cattle manure. Chemosphere 72: Le Bayon RC, Binet F Earthworm changes the distribution and availability of phosphorus in organic substrates. Soil Biol Biochem 38: Lee KE Earthworms: Their Ecology and Relationship with Soils and Land Use. Sydney: Academic Pr. Lee KE Some trends opportunities in earthworm research or: Darwin s children. The future of our discipline. Soil Biol Biochem 24: Loehr RC. Neuhauser EF. Malecki MR Factors affecting the fermistabilization process. Water Res 19: Loh TC, Lee YC, Liang JB, Tan D Vermicomposting of cattle and goat manures by Eisenia fetida and their growth and reproduction preference. Biores Technol 96: Lowe CN, Butt KR Growth of hatchling earthworm in the presence of adults: interaction in laboratory culture. Biol Fertil Soils 35: Manimegala et al Role of Leucaena glauca leaf litter on the growth and reproduction of earthworms Eisenia fetida Savigny. CMU J Nat Sci 7: Manna MC, Jha S, Ghosh PK, Acharya CL Comparative efficiency of three epigeic earthworms under different deciduous forest litters decomposition. Biores Technol 88: Marialigeti K On the community structure of gut-microbiota of Eisenia lucens (Annelida, Oligochaeta). Pedobiologia 19: Moody SA, Briones MJI, Piearce TG, Dighton J Selective consumption of decomposing wheat straw by earthworms. Soil Biol Biochem 27: Muthukumaravel K, Amsath A, Sukumaran M Vermicomposting of vegetable waste using cow dung. E-J Chem 5: Nauhauser EF, Hartenstein R, Kaplan DL Growth of the earthworm Eisenia fetida in relation to population density and food rationing. OIKOS 35: Ndegwa PM, Thompson SA Effect of C and N ratio on vermicomposting in the treatment and bioconversion of biosolids. Biores Technol 76:7-12. Ndegwa PM, Thompson SA Integrating composting and vermicomposting in the treatment of bioconversion of biosolids. Biores Technol 76:
62 Parle JN Micro-organisms in the intestine of earthworms. J Gen Microbiol 31:1-11. Pramanik P, Ghosh GK, Ghosal PK, Banik P Changes in organic C, N, P and K and enzyme activities in vermicompost of biodegradable organic waste under liming and microbial inoculants. Biores Technol 98: Ramsay JA The osmotic relations of the earthworm. J Exp Biol 26: Reinecke AJ, Venter JM Moisture preference, growth and reproduction of the compost worm Eisenia fetida (Oligochaeta). Biol Fertil Soils 3: Reinecke AJ, Viljoen SA, Saayman RJ The suitability of Eudrillus euginae, Perionyx excavatus and Eisenia fetida (Oligochaeta) for vermicomposting in southern Africa in terms of their temperature requirements. Soil Biol Biochem 24: Reynolds J Earthworms of the world. Global Biodiversity 4: Satchell JE, Lowe DG Selection of Leaf Litter by Lumbricus terrestris. Amsterdam: North Holland Pub. Senapati BK, Sahu SK Reproductive biology (cocoon morphology, live cycle pattern and life table analysis) in earthworms. Calcutta 1: Senesi N Composted materials as organic fertilizers. Sci Total Environ 81: Sharma S, Pradhan K, Satya S, Vasudevan P Potentiality of earthworms for waste management and in other uses. J Am Sci 1:4-16. Singh NB, Khare AK, Bhargava DS, Bhattacharya S Effect of initial substrate ph on vermicomposting using Perionyx excavatus (Perrier, 1872). Appl Ecol Environ Res 4: Sinha RK, Herat S, Agarwal S, Asadi R, Carretero E Vermiculture and waste management: study of action of earthworms Eisenia feetida, Eudrilus euginae and Perionyx excavatus on biodegradation of some community wastes in India and Australia. The Environmentalist 22: Smith AC The influence of temperature, odors, light and contact on the movements of the earthworm. Am J Physiol 6: Stachell JK, Martin K, Krishnamorthy RV Stimulation of microbial phospatase production by earthworm activity. Soil Biol Biochem 16: Stephenson J The Oligochaeta. Oxford: Oxford Univ Pr.
63 Subler S, Edwards CA, Metzger J Comparing vermicomposts and composts. Bio Cycle 39: Suthar S. 2007a. Influence of different food sources on growth and reproduction performance of composting epigeic: Eudrilus eugeniae, Perionyx excavatus and Perionyx sansibaricus. Appl Ecol Environ Res 5: Suthar S. 2007b. Vermicomposting potential of Perionyx sansibaricus (Perrier) in different waste materials. Biores Technol 97: Suthar S, Singh S Vermicomposting of domestic waste by using two epigeic earthworms (Perionyx excavatus and Perionyx sansibaricus). Int J Environ Sci Tech 5: Tembe VB, Dubash PJ The earthworms: a review. J Bombay Nat Hist Soc 58: Tiunov AV, Scheu S Carbon availability control the growth of detritivores (Lumbricidae) and their effect on nitrogen mineralization. Oecologia 138: Tomatti U, Grapelli A, Galli E The hormone like effect of earthworm casts on plant growth. Biol Fertil Soils 5: Tracey MV Cellulose and chitinase in worms. Nature 167: Tripathi G, Bhardwaj P Decompositon of kitchen waste amended with cow manure using epigeic species (Eisenia fetida) and anecic species (Lampito mauritii). Biores Technol 92: Walkey A, Black IA Determination of organic carbon in soil. Soil Science 37:29-38.
64 Lampiran 1 Hasil analisis laju konsumsi pada perlakuan spesies tunggal dan kombinasi dengan rasio R1 dan R2 setelah 1 minggu Tabel ANOVA Sumber Perlakuan df Kwadrat TengahRasio Fp-value RASIO SPESIES SPESIES*RASIO Error RASIO 1-1:1 2-2:1 SPESIES 1- P 2- E 3- L 4- P + E 5- P + L 6- E + L 7- P + E + L
65 Tabel Uji Tukey dengan tingkat kepercayaan 95% SPESIES(i) SPESIES(j) p-value P E P L P P + E P P + L P E + L P P + E + L E L E P + E E P + L E E + L E P + E + L L P + E L P + L L E + L L P + E + L P + E P + L P + E E + L P + E P + E + L P + L E + L P + L P + E + L E + L P + E + L RASIO(i) RASIO(j) p-value 1:1 2: SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value P * 1:1 P * 2: P * 1:1 E * 1: P * 1:1 E * 2: P * 1:1 L * 1: P * 1:1 L * 2: P * 1:1 P + E * 1: P * 1:1 P + E * 2: P * 1:1 P + L * 1: P * 1:1 P + L * 2: P * 1:1 E + L * 1: P * 1:1 E + L * 2:
66 SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value P * 1:1 P + E + L * 1: P * 1:1 P + E + L * 2: P * 2:1 E * 1: P * 2:1 E * 2: P * 2:1 L * 1: P * 2:1 L * 2: P * 2:1 P + E * 1: P * 2:1 P + E * 2: P * 2:1 P + L * 1: P * 2:1 P + L * 2: P * 2:1 E + L * 1: P * 2:1 E + L * 2: P * 2:1 P + E + L * 1: P * 2:1 P + E + L * 2: E * 1:1 E * 2: E * 1:1 L * 1: E * 1:1 L * 2: E * 1:1 P + E * 1: E * 1:1 P + E * 2: E * 1:1 P + L * 1: E * 1:1 P + L * 2: E * 1:1 E + L * 1: E * 1:1 E + L * 2: E * 1:1 P + E + L * 1: E * 1:1 P + E + L * 2: E * 2:1 L * 1: E * 2:1 L * 2: E * 2:1 P + E * 1: E * 2:1 P + E * 2: E * 2:1 P + L * 1: E * 2:1 P + L * 2: E * 2:1 E + L * 1: E * 2:1 E + L * 2: E * 2:1 P + E + L * 1: E * 2:1 P + E + L * 2: L * 1:1 L * 2: L * 1:1 P + E * 1: L * 1:1 P + E * 2: L * 1:1 P + L * 1: L * 1:1 P + L * 2: L * 1:1 E + L * 1: L * 1:1 E + L * 2: L * 1:1 P + E + L * 1:
67 SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value L * 1:1 P + E + L * 2: L * 2:1 P + E * 1: L * 2:1 P + E * 2: L * 2:1 P + L * 1: L * 2:1 P + L * 2: L * 2:1 E + L * 1: L * 2:1 E + L * 2: L * 2:1 P + E + L * 1: L * 2:1 P + E + L * 2: P + E * 1:1 P + E * 2: P + E * 1:1 P + L * 1: P + E * 1:1 P + L * 2: P + E * 1:1 E + L * 1: P + E * 1:1 E + L * 2: P + E * 1:1 P + E + L * 1: P + E * 1:1 P + E + L * 2: P + E * 2:1 P + L * 1: P + E * 2:1 P + L * 2: P + E * 2:1 E + L * 1: P + E * 2:1 E + L * 2: P + E * 2:1 P + E + L * 1: P + E * 2:1 P + E + L * 2: P + L * 1:1 P + L * 2: P + L * 1:1 E + L * 1: P + L * 1:1 E + L * 2: P + L * 1:1 P + E + L * 1: P + L * 1:1 P + E + L * 2: P + L * 2:1 E + L * 1: P + L * 2:1 E + L * 2: P + L * 2:1 P + E + L * 1: P + L * 2:1 P + E + L * 2: E + L * 1:1 E + L * 2: E + L * 1:1 P + E + L * 1: E + L * 1:1 P + E + L * 2: E + L * 2:1 P + E + L * 1: E + L * 2:1 P + E + L * 2: P + E + L * 1:1 P + E + L * 2:
68 Lampiran 2 Hasil analisis laju konsumsi pada perlakuan spesies tunggal dan kombinasi dengan rasio R1 dan R2 setelah 4 minggu Tabel ANOVA Sumber Perlakuan df Kwadrat TengahRasio Fp-value RASIO SPESIES SPESIES*RASIO Error RASIO 1-1:1 2-2:1 SPESIES 1- P 2- E 3- L 4- P + E 5- P + L 6- E + L 7- P + E + L
69 Tabel Uji Tukey dengan tingkat kepercayaan 95% SPESIES(i) SPESIES(j) p-value P E P L P P + E P P + L P E + L P P + E + L E L E P + E E P + L E E + L E P + E + L L P + E L P + L L E + L L P + E + L P + E P + L P + E E + L P + E P + E + L P + L E + L P + L P + E + L E + L P + E + L RASIO(i) RASIO(j) p-value 1:1 2: SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value P * 1:1 P * 2: P * 1:1 E * 1: P * 1:1 E * 2: P * 1:1 L * 1: P * 1:1 L * 2: P * 1:1 P + E * 1: P * 1:1 P + E * 2: P * 1:1 P + L * 1: P * 1:1 P + L * 2: P * 1:1 E + L * 1: P * 1:1 E + L * 2:
70 SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value P * 1:1 P + E + L * 1: P * 1:1 P + E + L * 2: P * 2:1 E * 1: P * 2:1 E * 2: P * 2:1 L * 1: P * 2:1 L * 2: P * 2:1 P + E * 1: P * 2:1 P + E * 2: P * 2:1 P + L * 1: P * 2:1 P + L * 2: P * 2:1 E + L * 1: P * 2:1 E + L * 2: P * 2:1 P + E + L * 1: P * 2:1 P + E + L * 2: E * 1:1 E * 2: E * 1:1 L * 1: E * 1:1 L * 2: E * 1:1 P + E * 1: E * 1:1 P + E * 2: E * 1:1 P + L * 1: E * 1:1 P + L * 2: E * 1:1 E + L * 1: E * 1:1 E + L * 2: E * 1:1 P + E + L * 1: E * 1:1 P + E + L * 2: E * 2:1 L * 1: E * 2:1 L * 2: E * 2:1 P + E * 1: E * 2:1 P + E * 2: E * 2:1 P + L * 1: E * 2:1 P + L * 2: E * 2:1 E + L * 1: E * 2:1 E + L * 2: E * 2:1 P + E + L * 1: E * 2:1 P + E + L * 2: L * 1:1 L * 2: L * 1:1 P + E * 1: L * 1:1 P + E * 2: L * 1:1 P + L * 1: L * 1:1 P + L * 2: L * 1:1 E + L * 1: L * 1:1 E + L * 2: L * 1:1 P + E + L * 1:
71 SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value L * 1:1 P + E + L * 2: L * 2:1 P + E * 1: L * 2:1 P + E * 2: L * 2:1 P + L * 1: L * 2:1 P + L * 2: L * 2:1 E + L * 1: L * 2:1 E + L * 2: L * 2:1 P + E + L * 1: L * 2:1 P + E + L * 2: P + E * 1:1 P + E * 2: P + E * 1:1 P + L * 1: P + E * 1:1 P + L * 2: P + E * 1:1 E + L * 1: P + E * 1:1 E + L * 2: P + E * 1:1 P + E + L * 1: P + E * 1:1 P + E + L * 2: P + E * 2:1 P + L * 1: P + E * 2:1 P + L * 2: P + E * 2:1 E + L * 1: P + E * 2:1 E + L * 2: P + E * 2:1 P + E + L * 1: P + E * 2:1 P + E + L * 2: P + L * 1:1 P + L * 2: P + L * 1:1 E + L * 1: P + L * 1:1 E + L * 2: P + L * 1:1 P + E + L * 1: P + L * 1:1 P + E + L * 2: P + L * 2:1 E + L * 1: P + L * 2:1 E + L * 2: P + L * 2:1 P + E + L * 1: P + L * 2:1 P + E + L * 2: E + L * 1:1 E + L * 2: E + L * 1:1 P + E + L * 1: E + L * 1:1 P + E + L * 2: E + L * 2:1 P + E + L * 1: E + L * 2:1 P + E + L * 2: P + E + L * 1:1 P + E + L * 2:
72 Lampiran 3 Hasil analisis biomassa cacing tanah pada perlakuan spesies tunggal dan kombinasi dengan rasio R1 dan R2 setelah 1 minggu Tabel ANOVA Sumber Perlakuan df Kwadrat TengahRasio Fp-value RASIO SPESIES SPESIES*RASIO Error RASIO 1-1:1 2-2:1 SPESIES 1- P 2- E 3- L 4- P + E 5- P + L 6- E + L 7- P + E + L
73 Tabel Uji Tukey dengan tingkat kepercayaan 95% SPESIES(i) SPESIES(j) p-value P E P L P P + E P P + L P E + L P P + E + L E L E P + E E P + L E E + L E P + E + L L P + E L P + L L E + L L P + E + L P + E P + L P + E E + L P + E P + E + L P + L E + L P + L P + E + L E + L P + E + L RASIO(i) RASIO(j) p-value 1:1 2: SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value P * 1:1 P * 2: P * 1:1 E * 1: P * 1:1 E * 2: P * 1:1 L * 1: P * 1:1 L * 2: P * 1:1 P + E * 1: P * 1:1 P + E * 2: P * 1:1 P + L * 1: P * 1:1 P + L * 2: P * 1:1 E + L * 1: P * 1:1 E + L * 2:
74 SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value P * 1:1 P + E + L * 1: P * 1:1 P + E + L * 2: P * 2:1 E * 1: P * 2:1 E * 2: P * 2:1 L * 1: P * 2:1 L * 2: P * 2:1 P + E * 1: P * 2:1 P + E * 2: P * 2:1 P + L * 1: P * 2:1 P + L * 2: P * 2:1 E + L * 1: P * 2:1 E + L * 2: P * 2:1 P + E + L * 1: P * 2:1 P + E + L * 2: E * 1:1 E * 2: E * 1:1 L * 1: E * 1:1 L * 2: E * 1:1 P + E * 1: E * 1:1 P + E * 2: E * 1:1 P + L * 1: E * 1:1 P + L * 2: E * 1:1 E + L * 1: E * 1:1 E + L * 2: E * 1:1 P + E + L * 1: E * 1:1 P + E + L * 2: E * 2:1 L * 1: E * 2:1 L * 2: E * 2:1 P + E * 1: E * 2:1 P + E * 2: E * 2:1 P + L * 1: E * 2:1 P + L * 2: E * 2:1 E + L * 1: E * 2:1 E + L * 2: E * 2:1 P + E + L * 1: E * 2:1 P + E + L * 2: L * 1:1 L * 2: L * 1:1 P + E * 1: L * 1:1 P + E * 2: L * 1:1 P + L * 1: L * 1:1 P + L * 2: L * 1:1 E + L * 1: L * 1:1 E + L * 2: L * 1:1 P + E + L * 1:
75 SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value L * 1:1 P + E + L * 2: L * 2:1 P + E * 1: L * 2:1 P + E * 2: L * 2:1 P + L * 1: L * 2:1 P + L * 2: L * 2:1 E + L * 1: L * 2:1 E + L * 2: L * 2:1 P + E + L * 1: L * 2:1 P + E + L * 2: P + E * 1:1 P + E * 2: P + E * 1:1 P + L * 1: P + E * 1:1 P + L * 2: P + E * 1:1 E + L * 1: P + E * 1:1 E + L * 2: P + E * 1:1 P + E + L * 1: P + E * 1:1 P + E + L * 2: P + E * 2:1 P + L * 1: P + E * 2:1 P + L * 2: P + E * 2:1 E + L * 1: P + E * 2:1 E + L * 2: P + E * 2:1 P + E + L * 1: P + E * 2:1 P + E + L * 2: P + L * 1:1 P + L * 2: P + L * 1:1 E + L * 1: P + L * 1:1 E + L * 2: P + L * 1:1 P + E + L * 1: P + L * 1:1 P + E + L * 2: P + L * 2:1 E + L * 1: P + L * 2:1 E + L * 2: P + L * 2:1 P + E + L * 1: P + L * 2:1 P + E + L * 2: E + L * 1:1 E + L * 2: E + L * 1:1 P + E + L * 1: E + L * 1:1 P + E + L * 2: E + L * 2:1 P + E + L * 1: E + L * 2:1 P + E + L * 2: P + E + L * 1:1 P + E + L * 2:
76 Lampiran 4 Hasil analisis biomassa cacing tanah pada perlakuan spesies tunggal dan kombinasi dengan rasio R1 dan R2 setelah 4 minggu Tabel ANOVA Sumber Perlakuan df Kwadrat TengahRasio Fp-value RASIO SPESIES SPESIES*RASIO Error RASIO 1-1:1 2-2:1 SPESIES 1- P 2- E 3- L 4- P + E 5- P + L 6- E + L 7- P + E + L
77 Tabel Uji Tukey dengan tingkat kepercayaan 95% SPESIES(i) SPESIES(j) p-value P E P L P P + E P P + L P E + L P P + E + L E L E P + E E P + L E E + L E P + E + L L P + E L P + L L E + L L P + E + L P + E P + L P + E E + L P + E P + E + L P + L E + L P + L P + E + L E + L P + E + L RASIO(i) RASIO(j) p-value 1:1 2: SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value P * 1:1 P * 2: P * 1:1 E * 1: P * 1:1 E * 2: P * 1:1 L * 1: P * 1:1 L * 2: P * 1:1 P + E * 1: P * 1:1 P + E * 2: P * 1:1 P + L * 1: P * 1:1 P + L * 2: P * 1:1 E + L * 1: P * 1:1 E + L * 2:
78 SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value P * 1:1 P + E + L * 1: P * 1:1 P + E + L * 2: P * 2:1 E * 1: P * 2:1 E * 2: P * 2:1 L * 1: P * 2:1 L * 2: P * 2:1 P + E * 1: P * 2:1 P + E * 2: P * 2:1 P + L * 1: P * 2:1 P + L * 2: P * 2:1 E + L * 1: P * 2:1 E + L * 2: P * 2:1 P + E + L * 1: P * 2:1 P + E + L * 2: E * 1:1 E * 2: E * 1:1 L * 1: E * 1:1 L * 2: E * 1:1 P + E * 1: E * 1:1 P + E * 2: E * 1:1 P + L * 1: E * 1:1 P + L * 2: E * 1:1 E + L * 1: E * 1:1 E + L * 2: E * 1:1 P + E + L * 1: E * 1:1 P + E + L * 2: E * 2:1 L * 1: E * 2:1 L * 2: E * 2:1 P + E * 1: E * 2:1 P + E * 2: E * 2:1 P + L * 1: E * 2:1 P + L * 2: E * 2:1 E + L * 1: E * 2:1 E + L * 2: E * 2:1 P + E + L * 1: E * 2:1 P + E + L * 2: L * 1:1 L * 2: L * 1:1 P + E * 1: L * 1:1 P + E * 2: L * 1:1 P + L * 1: L * 1:1 P + L * 2: L * 1:1 E + L * 1: L * 1:1 E + L * 2: L * 1:1 P + E + L * 1:
79 SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value L * 1:1 P + E + L * 2: L * 2:1 P + E * 1: L * 2:1 P + E * 2: L * 2:1 P + L * 1: L * 2:1 P + L * 2: L * 2:1 E + L * 1: L * 2:1 E + L * 2: L * 2:1 P + E + L * 1: L * 2:1 P + E + L * 2: P + E * 1:1 P + E * 2: P + E * 1:1 P + L * 1: P + E * 1:1 P + L * 2: P + E * 1:1 E + L * 1: P + E * 1:1 E + L * 2: P + E * 1:1 P + E + L * 1: P + E * 1:1 P + E + L * 2: P + E * 2:1 P + L * 1: P + E * 2:1 P + L * 2: P + E * 2:1 E + L * 1: P + E * 2:1 E + L * 2: P + E * 2:1 P + E + L * 1: P + E * 2:1 P + E + L * 2: P + L * 1:1 P + L * 2: P + L * 1:1 E + L * 1: P + L * 1:1 E + L * 2: P + L * 1:1 P + E + L * 1: P + L * 1:1 P + E + L * 2: P + L * 2:1 E + L * 1: P + L * 2:1 E + L * 2: P + L * 2:1 P + E + L * 1: P + L * 2:1 P + E + L * 2: E + L * 1:1 E + L * 2: E + L * 1:1 P + E + L * 1: E + L * 1:1 P + E + L * 2: E + L * 2:1 P + E + L * 1: E + L * 2:1 P + E + L * 2: P + E + L * 1:1 P + E + L * 2:
80 Lampiran 5 Hasil analisis produksi kokon cacing tanah pada perlakuan spesies tunggal dan kombinasi dengan rasio R1 dan R2 setelah 1 minggu Tabel ANOVA Sumber Perlakuan df Kwadrat TengahRasio Fp-value RASIO SPESIES SPESIES*RASIO Error RASIO 1-1:1 2-2:1 SPESIES 1- P 2- E 3- L 4- P + E 5- P + L 6- E + L 7- P + E + L
81 Tabel Uji Tukey dengan tingkat kepercayaan 95% SPESIES(i) SPESIES(j) p-value P E P L P P + E P P + L P E + L P P + E + L E L E P + E E P + L E E + L E P + E + L L P + E L P + L L E + L L P + E + L P + E P + L P + E E + L P + E P + E + L P + L E + L P + L P + E + L E + L P + E + L RASIO(i) RASIO(j) p-value 1:1 2: SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value P * 1:1 P * 2: P * 1:1 E * 1: P * 1:1 E * 2: P * 1:1 L * 1: P * 1:1 L * 2: P * 1:1 P + E * 1: P * 1:1 P + E * 2: P * 1:1 P + L * 1: P * 1:1 P + L * 2: P * 1:1 E + L * 1: P * 1:1 E + L * 2:
82 SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value P * 1:1 P + E + L * 1: P * 1:1 P + E + L * 2: P * 2:1 E * 1: P * 2:1 E * 2: P * 2:1 L * 1: P * 2:1 L * 2: P * 2:1 P + E * 1: P * 2:1 P + E * 2: P * 2:1 P + L * 1: P * 2:1 P + L * 2: P * 2:1 E + L * 1: P * 2:1 E + L * 2: P * 2:1 P + E + L * 1: P * 2:1 P + E + L * 2: E * 1:1 E * 2: E * 1:1 L * 1: E * 1:1 L * 2: E * 1:1 P + E * 1: E * 1:1 P + E * 2: E * 1:1 P + L * 1: E * 1:1 P + L * 2: E * 1:1 E + L * 1: E * 1:1 E + L * 2: E * 1:1 P + E + L * 1: E * 1:1 P + E + L * 2: E * 2:1 L * 1: E * 2:1 L * 2: E * 2:1 P + E * 1: E * 2:1 P + E * 2: E * 2:1 P + L * 1: E * 2:1 P + L * 2: E * 2:1 E + L * 1: E * 2:1 E + L * 2: E * 2:1 P + E + L * 1: E * 2:1 P + E + L * 2: L * 1:1 L * 2: L * 1:1 P + E * 1: L * 1:1 P + E * 2: L * 1:1 P + L * 1: L * 1:1 P + L * 2: L * 1:1 E + L * 1: L * 1:1 E + L * 2: L * 1:1 P + E + L * 1:
83 SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value L * 1:1 P + E + L * 2: L * 2:1 P + E * 1: L * 2:1 P + E * 2: L * 2:1 P + L * 1: L * 2:1 P + L * 2: L * 2:1 E + L * 1: L * 2:1 E + L * 2: L * 2:1 P + E + L * 1: L * 2:1 P + E + L * 2: P + E * 1:1 P + E * 2: P + E * 1:1 P + L * 1: P + E * 1:1 P + L * 2: P + E * 1:1 E + L * 1: P + E * 1:1 E + L * 2: P + E * 1:1 P + E + L * 1: P + E * 1:1 P + E + L * 2: P + E * 2:1 P + L * 1: P + E * 2:1 P + L * 2: P + E * 2:1 E + L * 1: P + E * 2:1 E + L * 2: P + E * 2:1 P + E + L * 1: P + E * 2:1 P + E + L * 2: P + L * 1:1 P + L * 2: P + L * 1:1 E + L * 1: P + L * 1:1 E + L * 2: P + L * 1:1 P + E + L * 1: P + L * 1:1 P + E + L * 2: P + L * 2:1 E + L * 1: P + L * 2:1 E + L * 2: P + L * 2:1 P + E + L * 1: P + L * 2:1 P + E + L * 2: E + L * 1:1 E + L * 2: E + L * 1:1 P + E + L * 1: E + L * 1:1 P + E + L * 2: E + L * 2:1 P + E + L * 1: E + L * 2:1 P + E + L * 2: P + E + L * 1:1 P + E + L * 2:
84 Lampiran 6 Hasil analisis produksi kokon cacing tanah pada perlakuan spesies tunggal dan kombinasi dengan rasio R1 dan R2 setelah 2 minggu Tabel ANOVA Sumber Perlakuan df Kwadrat TengahRasio Fp-value RASIO SPESIES SPESIES*RASIO Error RASIO 1-1:1 2-2:1 SPESIES 1- P 2- E 3- L 4- P + E 5- P + L 6- E + L 7- P + E + L
85 Tabel Uji Tukey dengan tingkat kepercayaan 95% SPESIES(i) SPESIES(j) p-value P E P L P P + E P P + L P E + L P P + E + L E L E P + E E P + L E E + L E P + E + L L P + E L P + L L E + L L P + E + L P + E P + L P + E E + L P + E P + E + L P + L E + L P + L P + E + L E + L P + E + L RASIO(i) RASIO(j) p-value 1:1 2: SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value P * 1:1 P * 2: P * 1:1 E * 1: P * 1:1 E * 2: P * 1:1 L * 1: P * 1:1 L * 2: P * 1:1 P + E * 1: P * 1:1 P + E * 2: P * 1:1 P + L * 1: P * 1:1 P + L * 2: P * 1:1 E + L * 1: P * 1:1 E + L * 2:
86 SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value P * 1:1 P + E + L * 1: P * 1:1 P + E + L * 2: P * 2:1 E * 1: P * 2:1 E * 2: P * 2:1 L * 1: P * 2:1 L * 2: P * 2:1 P + E * 1: P * 2:1 P + E * 2: P * 2:1 P + L * 1: P * 2:1 P + L * 2: P * 2:1 E + L * 1: P * 2:1 E + L * 2: P * 2:1 P + E + L * 1: P * 2:1 P + E + L * 2: E * 1:1 E * 2: E * 1:1 L * 1: E * 1:1 L * 2: E * 1:1 P + E * 1: E * 1:1 P + E * 2: E * 1:1 P + L * 1: E * 1:1 P + L * 2: E * 1:1 E + L * 1: E * 1:1 E + L * 2: E * 1:1 P + E + L * 1: E * 1:1 P + E + L * 2: E * 2:1 L * 1: E * 2:1 L * 2: E * 2:1 P + E * 1: E * 2:1 P + E * 2: E * 2:1 P + L * 1: E * 2:1 P + L * 2: E * 2:1 E + L * 1: E * 2:1 E + L * 2: E * 2:1 P + E + L * 1: E * 2:1 P + E + L * 2: L * 1:1 L * 2: L * 1:1 P + E * 1: L * 1:1 P + E * 2: L * 1:1 P + L * 1: L * 1:1 P + L * 2: L * 1:1 E + L * 1: L * 1:1 E + L * 2: L * 1:1 P + E + L * 1:
87 SPESIES(i)*RASIO(i) SPESIES(j)*RASIO(j) p-value L * 1:1 P + E + L * 2: L * 2:1 P + E * 1: L * 2:1 P + E * 2: L * 2:1 P + L * 1: L * 2:1 P + L * 2: L * 2:1 E + L * 1: L * 2:1 E + L * 2: L * 2:1 P + E + L * 1: L * 2:1 P + E + L * 2: P + E * 1:1 P + E * 2: P + E * 1:1 P + L * 1: P + E * 1:1 P + L * 2: P + E * 1:1 E + L * 1: P + E * 1:1 E + L * 2: P + E * 1:1 P + E + L * 1: P + E * 1:1 P + E + L * 2: P + E * 2:1 P + L * 1: P + E * 2:1 P + L * 2: P + E * 2:1 E + L * 1: P + E * 2:1 E + L * 2: P + E * 2:1 P + E + L * 1: P + E * 2:1 P + E + L * 2: P + L * 1:1 P + L * 2: P + L * 1:1 E + L * 1: P + L * 1:1 E + L * 2: P + L * 1:1 P + E + L * 1: P + L * 1:1 P + E + L * 2: P + L * 2:1 E + L * 1: P + L * 2:1 E + L * 2: P + L * 2:1 P + E + L * 1: P + L * 2:1 P + E + L * 2: E + L * 1:1 E + L * 2: E + L * 1:1 P + E + L * 1: E + L * 1:1 P + E + L * 2: E + L * 2:1 P + E + L * 1: E + L * 2:1 P + E + L * 2: P + E + L * 1:1 P + E + L * 2:
88 Lampiran 7 Hasil analisis rasio C:N vermikompos yang diproduksi oleh cacing tanah Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus Tabel ANOVA Sumber df Kwadrat TengahRasio Fp-value SAMPEL Error
89 Lampiran 8 Hasil analisis kadar P vermikompos yang diproduksi oleh cacing tanah Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus Tabel ANOVA Sumber df Kwadrat TengahRasio Fp-value SAMPEL Error Tabel Uji Tukey dengan tingkat kepercayaan 95% SAMPEL(i) SAMPEL(j) p-value Substrat Pheretima sp Substrat E. fetida Substrat L. rubellus Pheretima sp.e. fetida Pheretima sp.l. rubellus E. fetida L. rubellus 0.987
90 Lampiran 9 Hasil analisis kadar K vermikompos yang diproduksi oleh cacing tanah Pheretima sp., E. fetida, dan L. rubellus Tabel ANOVA Sumber df Kwadrat TengahRasio Fp-value SAMPEL Error Tabel Uji Tukey dengan tingkat kepercayaan 95% SAMPEL(i) SAMPEL(j) p-value Substrat Pheretima sp Substrat E. fetida Substrat L. rubellus Pheretima sp.e. fetida Pheretima sp.l. rubellus E. fetida L. rubellus 0.343
91 Lampiran 10 Data hasil pengukuran parameter biologi cacing tanah setiap minggu Laju konsumsi (%) No Perlakuan Minggu I Minggu II Minggu III Minggu IV Rata-rata/minggu R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 1 P E L P + E P + L E + L P + E + L TOTAL Biomassa Cacing Tanah (gr) No Perlakuan Minggu I Minggu II Minggu III Minggu IV Rata-rata/minggu R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 1 P E L P + E P + L E + L P + E + L TOTAL Produksi Kokon Cacing Tanah No Perlakuan Minggu I Minggu II Minggu III Minggu IV Rata-rata/minggu R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 1 P E L P + E P + L E + L P + E + L TOTAL
92 Lampiran 11 Data hasil pengukuran parameter lingkungan setiap minggu Suhu ( o C) No Perlakuan Minggu 0 Minggu I Minggu II Minggu III Minggu IV Rata-rata/ minggu R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 1 P E L P + E P + L E + L P + E + L Kelembaban (%) No Perlakuan Minggu 0 Minggu I Minggu II Minggu III Minggu IV Ratarata/minggu R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 1 P E L P + E P + L E + L P + E + L ph No Perlakuan Minggu 0 Minggu I Minggu II Minggu III Minggu IV Ratarata/minggu R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 1 P E L P + E P + L E + L P + E + L
TINJAUAN PUSTAKA Vermicomposting
TINJAUAN PUSTAKA Vermicomposting Dominguez et al. (1997a) mendefinisikan vermicomposting sebagai proses dekomposisi bahan organik yang melibatkan kerjasama antara cacing tanah dan mikroorganisme. Mikroorganisme
TINJAUAN PUSTAKA. Proses Vermicomposting dan vermikompos
TINJAUAN PUSTAKA Proses Vermicomposting dan vermikompos Konsep vermicomposting dimulai dari pengetahuan tentang spesies cacing tanah tertentu yang memakan sisa bahan organik, mengubah sisa bahan organik
TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 Cacing tanah E. fetida (a), L. rubellus (b). (Sumber: Kinderzeichnungen 2005).
TINJAUAN PUSTAKA Pengenalan Cacing Tanah Cacing tanah E. fetida dan L. rubellus termasuk ke dalam filum Annelida. Kedua spesies cacing tanah ini banyak dijumpai di tempat yang lembab, dan hidup dalam kotoran
II TINJAUAN PUSTAKA. Limbah adalah bahan atau material berlebih yang dihasilkan dari suatu proses
7 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Limbah Ternak Limbah adalah bahan atau material berlebih yang dihasilkan dari suatu proses (Merkel, 1981). Dalam dunia peternakan limbah merupakan bahan yang disekresikan oleh
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Media terhadap Pertambahan biomassa Cacing Tanah Eudrilus eugeniae.
Pertambahan bobot (gram) BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Media terhadap Pertambahan biomassa Cacing Tanah Eudrilus eugeniae. Pengambilan data pertambahan biomassa cacing tanah dilakukan
Nama : Siti Pramitha Retno Wardhani TINJAUAN PUSTAKA
Nama : Siti Pramitha Retno Wardhani NRP : G34051261 Species : Lumbricid rubellus Klasifikasi Cacing Tanah TINJAUAN PUSTAKA Cacing tanah dalam sistem taksonomi hewan termasuk kedalam kingdom :Animalia,
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bobot (gram) BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Kombinasi Media Serbuk Gergaji Batang Pohon Kelapa dan Onggok Aren terhadap Pertumbuhan Cacing Eisenia foetida Salah satu indikator untuk
Kompos Cacing Tanah (CASTING)
Kompos Cacing Tanah (CASTING) Oleh : Warsana, SP.M.Si Ada kecenderungan, selama ini petani hanya bergantung pada pupuk anorganik atau pupuk kimia untuk mendukung usahataninya. Ketergantungan ini disebabkan
TINJAUAN PUSTAKA. A. Karakter Sludge Limbah Organik Saus. Proses pengolahan air limbah secara biologis dengan sistem biakan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Karakter Sludge Limbah Organik Saus Proses pengolahan air limbah secara biologis dengan sistem biakan tersuspensi telah digunakan secara luas diseluruh dunia untuk pengolahan air
II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Suwardjo dan Dariah (1995) mulsa adalah berbagai macam bahan seperti
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mulsa Menurut Suwardjo dan Dariah (1995) mulsa adalah berbagai macam bahan seperti jerami, sebuk gergaji, lembaran plastik tipis, tanah lepas-lepas dan sebagainya yang dihamparkan
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Salah satu kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia adalah
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia adalah kebutuhan akan pangan. Seiring meningkatnya permintaan masyarakat akan pemenuhan pangan, maka banyak industri
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman Padi. tunggang yaitu akar lembaga yang tumbuh terus menjadi akar pokok yang
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Padi Menurut Aak (1990) klasifikasi tanaman padi adalah sebagai berikut Kingdom Divisio Sub Divisio Class Ordo Famili Genus : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledonae
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Cacing Tanah Cacing tanah merupakan organisme heterotrof, bersifat hermaprodit-biparental, termasuk kelompok filum Annelida, kelas Clitellata dan ordo Oligochaeta. Tubuh cacing
PENURUNAN KANDUNGAN KROMIUM (Cr) SLUDGE PT.SIER SECARA VERMIKOMPOSTING
41 Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Vol. 5 No. 2 PENURUNAN KANDUNGAN KROMIUM (Cr) SLUDGE PT.SIER SECARA VERMIKOMPOSTING Triana dan Okik Hendriyanto Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil
BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini dilakukan mulai. Bahan dan Alat Penelitian
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Biologi Tanah Fakultas Pertanian, Medan. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Maret sampai Mei 2008. Bahan dan Alat
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Penelitian pembuatan pupuk organik cair ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Limbah Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Secara
BAB I PENDAHULUAN. kotoran manusia atau hewan, dedaunan, bahan-bahan yang berasal dari tanaman
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Limbah organik adalah limbah yang berasal dari makhluk hidup seperti kotoran manusia atau hewan, dedaunan, bahan-bahan yang berasal dari tanaman dan lain-lain. Limbah
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisasi awal blotong dan sludge pada penelitian pendahuluan menghasilkan komponen yang dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Karakteristik blotong dan sludge yang digunakan
PENDAHULUAN. padat (feses) dan limbah cair (urine). Feses sebagian besar terdiri atas bahan organik
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan sapi perah selain menghasilkan air susu juga menghasilkan limbah. Limbah tersebut sebagian besar terdiri atas limbah ternak berupa limbah padat (feses) dan limbah
HASIL DA PEMBAHASA. Tabel 5. Analisis komposisi bahan baku kompos Bahan Baku Analisis
IV. HASIL DA PEMBAHASA A. Penelitian Pendahuluan 1. Analisis Karakteristik Bahan Baku Kompos Nilai C/N bahan organik merupakan faktor yang penting dalam pengomposan. Aktivitas mikroorganisme dipertinggi
rv. HASIL DAN PEMBAHASAN
17 rv. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman (cm) Hasil sidik ragam parameter tinggi tanaman (Lampiran 6 ) menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kascing dengan berbagai sumber berbeda nyata terhadap tinggi
BAB II KAJIAN TEORI. eugeniae sering disebut cacing Afrika, atau ANC (African Night Crawler).
BAB II KAJIAN TEORI A. Cacing tanah Eudrilus eugeniae 1. Klasifikasi Cacing tanah Eudrilus eugeniae tergolong pada kelompok binatang lunak karena tidak memiliki tulang belakang (avertebrata). Eudrilus
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Tanaman kedelai (Glycine max L. Merrill) memiliki sistem perakaran yang
17 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tanaman kedelai (Glycine max L. Merrill) memiliki sistem perakaran yang terdiri dari akar tunggang, akar sekunder yang tumbuh dari akar tunggang, serta akar cabang yang
VERMIKOMPOS (Kompos Cacing Tanah) PUPUK ORGANIK BERKUALITAS DAN RAMAH LINGKUNGAN
VERMIKOMPOS (Kompos Cacing Tanah) PUPUK ORGANIK BERKUALITAS DAN RAMAH LINGKUNGAN INSTALASI PENELITIAN DAN PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN (IPPTP) MATARAM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN 2001
BAB I PENDAHULUAN. tersebut memudahkan hewan tanah khususnya cacing untuk hidup di. sebagai pakan ayam dan itik. Para peternak ikan juga memanfaatkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia dengan iklim tropik basahnya memberikan keuntungan terhadap kesuburan tanah. Beraneka ragam jenis tumbuhan dapat ditanami. Adanya hujan menyebabkan tanah tidak
PENGARUH PENGGUNAAN CACING TANAH (Lumbricus rubellus) SEBAGAI AKTIVATOR TERHADAP BENTUK FISIK DAN HARA VERMIKOMPOS DARI FESES SAPI BALI SKRIPSI
PENGARUH PENGGUNAAN CACING TANAH (Lumbricus rubellus) SEBAGAI AKTIVATOR TERHADAP BENTUK FISIK DAN HARA VERMIKOMPOS DARI FESES SAPI BALI SKRIPSI RITA WAHYUNI E10013162 FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS JAMBI
I. PENDAHULUAN. banyak ditemukan pada 0 sampai 10 cm (Kuhnelt et al, 1976). Kelompok hewan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hewan tanah merupakan bagian dari tanah. Sebagian besar organisme tanah itu hidup pada lapisan tanah bagian atas, karena memang tanah bagian atas merupakan media yang
KINETIKA AKTIVITAS REDUKSI NITRAT BAKTERI NITRAT AMONIFIKASI DISIMILATIF DARI MUARA SUNGAI PADA KONSENTRASI OKSIGEN (O 2 ) YANG BERBEDA TETI MARDIATI
KINETIKA AKTIVITAS REDUKSI NITRAT BAKTERI NITRAT AMONIFIKASI DISIMILATIF DARI MUARA SUNGAI PADA KONSENTRASI OKSIGEN (O 2 ) YANG BERBEDA TETI MARDIATI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
CACING TANAH (Lumbricus terrestris)
CACING TANAH (Lumbricus terrestris) Kode MPB2b Fapet I. TUJUAN PRAKTIKUM Setelah menyelesaikan praktikum mahasiswa praktikan dapat: a. Menyebutkan karakteristik Lumbricus terrestris b. Menunjukkan apparatus
Setelah menyelesaikan praktikum mahasiswa praktikan dapat:
Cacing Tanah (Lumbricus terrestris) I. TUJUAN PRAKTIKUM Setelah menyelesaikan praktikum mahasiswa praktikan dapat: a. Menyebutkan karakteristik Lumbricus terrestris b. Menunjukkan apparatus digestorius
II. TINJAUAN PUSTAKA. Daphnia sp. digolongkan ke dalam Filum Arthropoda, Kelas Crustacea, Subkelas
6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Morfologi Daphnia sp. digolongkan ke dalam Filum Arthropoda, Kelas Crustacea, Subkelas Branchiopoda, Divisi Oligobranchiopoda, Ordo Cladocera, Famili Daphnidae,
Metode Penelitian Kerangka penelitian penelitian secara bagan disajikan dalam Gambar 4. Penelitian ini dipilah menjadi tiga tahapan kerja, yaitu:
15 METODOLOGI Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di lapang pada bulan Februari hingga Desember 2006 di Desa Senyawan, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (Gambar 3). Analisis
TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman bawang merah berakar serabut dengan sistem perakaran dangkal
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Bawang Merah Tanaman bawang merah berakar serabut dengan sistem perakaran dangkal dan bercabang terpencar, pada kedalaman antara 15-20 cm di dalam tanah. Jumlah perakaran
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Keilmuan 1. Limbah Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah
Annelida. lembab terletak di sebelah atas epithel columnar yang banyak mengandung sel-sel kelenjar
Annelida Karakteristik 1.Bilateral simetris, memiliki tiga lapisan sel (triploblastik), tubuhnya bulat dan memanjang biasanya dengan segmen yang jelas baik eksternal maupun internal. 2.Appendages kecil
Assalamu alaikum Wr. Wb. Biologi Task Identification of Annelida. By : Anjar Wicitra Wening Khalikul Haqqur Rahman Taufiqurrahman
Assalamu alaikum Wr. Wb. Biologi Task Identification of Annelida By : Anjar Wicitra Wening Khalikul Haqqur Rahman Taufiqurrahman Ciri-ciri Annelida : ⱷ Tubuhnya tersusun atas cincin-cincin (gelang-gelang)
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di Green House Jurusan Biologi Fakultas
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Green House Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo selama 3.minggu dan tahap analisis
II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Bawang Merah. yang merupakan kumpulan dari pelepah yang satu dengan yang lain. Bawang
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Bawang Merah Bawang merah termasuk dalam faimili Liliaceae yang termasuk tanaman herba, tanaman semusim yang tidak berbatang, hanya mempunyai batang semu yang merupakan kumpulan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kondisi tanah pada lahan pertanian saat sekarang ini untuk mencukupi kebutuhan akan haranya sudah banyak tergantung dengan bahan-bahan kimia, mulai dari pupuk hingga
II. TINJAUAN PUSTAKA. Vermikompos adalah pupuk organik yang diperoleh melalui proses yang
7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Vermikompos Vermikompos adalah pupuk organik yang diperoleh melalui proses yang melibatkan cacing tanah dalam proses penguraian atau dekomposisi bahan organiknya. Walaupun sebagian
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kerangka Teoritis 2.1.1. Botani dan Klasifikasi Tanaman Gandum Tanaman gandum dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Kelas : Monokotil Ordo : Graminales Famili : Graminae atau
I. PENDAHULUAN. Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang populer di masyarakat karena
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang populer di masyarakat karena harganya terjangkau dan sangat bermanfaat bagi kesehatan. Pisang adalah buah yang
BAB I PENDAHULUAN. beberapa pengolahan yang dapat dilakukan adalah pengolahan sampah organik
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sampah organik masih menjadi masalah polusi tanah, air, dan udara, untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu pengolahan sampah organik yang efektif, beberapa pengolahan
PEMANFAATAN LIMBAH CAIR TAPIOKA UNTUK PENGHASIL BIOGAS SKALA LABORATORIUM. Mhd F Cholis Kurniawan
PEMANFAATAN LIMBAH CAIR TAPIOKA UNTUK PENGHASIL BIOGAS SKALA LABORATORIUM Mhd F Cholis Kurniawan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN TESIS DAN MENGENAI SUMBER INFORMASI
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman penting sebagai penghasil
8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Tebu Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman penting sebagai penghasil gula dan lebih dari setengah produksi gula berasal dari tanaman tebu (Humbert, 1968 dalam
BAB I PENDAHULUAN. mudah dibudidayakan, media dan pakannya mudah diperoleh sehingga. dapat berkesinambungan ketersediaannya serta memiliki kandungan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Cacing tanah merupakan hewan yang cepat berkembangbiak, mudah dibudidayakan, media dan pakannya mudah diperoleh sehingga dapat berkesinambungan ketersediaannya
IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian pengaruh nisbah C/N campuran feses sapi perah dan jerami
34 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan N-NH 4 Hasil penelitian pengaruh nisbah C/N campuran feses sapi perah dan jerami padi terhadap kandungan N vermicompost dapat dilihat
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Salah satu masalah yang timbul akibat meningkatnya kegiatan manusia
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu masalah yang timbul akibat meningkatnya kegiatan manusia adalah beban pencemaran yang melampaui daya dukung lingkungan. Pencemaran di Indonesia telah menunjukan
TINJAUAN PUSTAKA. memiliki empat buah flagella. Flagella ini bergerak secara aktif seperti hewan. Inti
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Biologi Tetraselmis sp. Tetraselmis sp. merupakan alga bersel tunggal, berbentuk oval elips dan memiliki empat buah flagella. Flagella ini bergerak secara aktif
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi Cacing Tanah Cacing tanah termasuk hewan tingkat rendah karena tidak mempunyai tulang belakang (invertebrata) yang digolongkan dalam filum Annelida dan klas Clitellata,
VERMIKOMPOS A. Pengertian Vermikompos B. Keunggulan Vermikompos
VERMIKOMPOS A. Pengertian Vermikompos Salah satu cara untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman dan sekaligus menjaga ketersediaan unsur hara di dalam tanah, petani selalu menggunakan pupuk. Pada mulanya
II. TINJAUAN PUSTAKA. utama MOL terdiri dari beberapa komponen yaitu karbohidrat, glukosa, dan sumber
5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mikroorganisme Lokal (MOL) Mikroorganisme lokal (MOL) adalah mikroorganisme yang dimanfaatkan sebagai starter dalam pembuatan pupuk organik padat maupun pupuk cair. Bahan utama
TULISAN PENDEK. Beberapa Catatan Tentang Aspek Ekologi Cacing Tanah Metaphire javanica (Kinberg, 1867) di Gunung Ciremai, Jawa Barat.
Jurnal Biologi Indonesia 4(5):417-421 (2008) TULISAN PENDEK Beberapa Catatan Tentang Aspek Ekologi Cacing Tanah Metaphire javanica (Kinberg, 1867) di Gunung Ciremai, Jawa Barat Hari Nugroho Bidang Zoologi,
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Tahap 1. Pengomposan Awal. Pengomposan awal diamati setiap tiga hari sekali selama dua minggu.
Suhu o C IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Tahap 1. Pengomposan Awal Pengomposan awal bertujuan untuk melayukan tongkol jagung, ampas tebu dan sabut kelapa. Selain itu pengomposan awal bertujuan agar larva kumbang
PEMBUATAN KOMPOS DARI LIMBAH PADAT ORGANIK YANG TIDAK TERPAKAI ( LIMBAH SAYURAN KANGKUNG, KOL, DAN KULIT PISANG )
PEMBUATAN KOMPOS DARI LIMBAH PADAT ORGANIK YANG TIDAK TERPAKAI ( LIMBAH SAYURAN KANGKUNG, KOL, DAN KULIT PISANG ) Antonius Hermawan Permana dan Rizki Satria Hirasmawan Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik,
AKTIVITAS UREASE DAN FOSFOMONOESTERASE ASAM, SERTA PRODUKTIVITAS KACANG TANAH DENGAN PEMBERIAN PUPUK ORGANIK KURTADJI TOMO
AKTIVITAS UREASE DAN FOSFOMONOESTERASE ASAM, SERTA PRODUKTIVITAS KACANG TANAH DENGAN PEMBERIAN PUPUK ORGANIK KURTADJI TOMO PROGRAM STUDI BIOKIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT
Menurut Syariffauzi (2009), pengembangan perkebunan kelapa sawit membawa dampak positif dan negatif Dampak positif yang ditimbulkan antara lain
n. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Dystrudepts Jenis tanah Kebun percobaan Fakukas Pertanian Universitas Riau adalah Dystmdepts. Klasifikasi tanah tersebut termasuk kedalam ordo Inceptisol, subordo Udepts, great
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman tebu merupakan tanaman semusim dari Divisio Spermathophyta dengan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Tebu Tanaman tebu merupakan tanaman semusim dari Divisio Spermathophyta dengan klasifikasi sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisio : Spermatophyta Kelas : Monocotyledonae
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4. Kandungan Unsur Hara Makro pada Serasah Daun Bambu. Unsur Hara Makro C N-total P 2 O 5 K 2 O Organik
digilib.uns.ac.id BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Unsur Hara Makro Serasah Daun Bambu Analisis unsur hara makro pada kedua sampel menunjukkan bahwa rasio C/N pada serasah daun bambu cukup tinggi yaitu mencapai
II. TINJAUAN PUSTAKA. Pupuk dibedakan menjadi 2 macam yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pupuk Pupuk merupakan bahan alami atau buatan yang ditambahkan ke tanah dan dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan menambah satu atau lebih hara esensial. Pupuk dibedakan menjadi
PERFORMA REPRODUKSI CACING TANAH Lumbricus rubellus YANG MENDAPAT PAKAN SISA MAKANAN DARI WARUNG TEGAL
PERFORMA REPRODUKSI CACING TANAH Lumbricus rubellus YANG MENDAPAT PAKAN SISA MAKANAN DARI WARUNG TEGAL SKRIPSI ENHA DIKA PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PRODUKSI TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Biosaintifika 5 (1) (2013) Biosantifika. Berkala Ilmiah Biologi.
Biosaintifika 5 (1) (2013) Biosantifika Berkala Ilmiah Biologi http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/biosaintifika KARAKTER MORFOLOGI DAN PERTUMBUHAN TIGA JENIS CACING TANAH LOKAL PEKANBARU PADA DUA
ISOLASI, SELEKSI DAN OPTIMASI PERTUMBUHAN GANGGANG MIKRO YANG POTENSIAL SEBAGAI PENGHASIL BAHAN BAKAR NABATI
ISOLASI, SELEKSI DAN OPTIMASI PERTUMBUHAN GANGGANGG MIKRO YANG POTENSIAL SEBAGAI PENGHASIL BAHAN BAKAR NABATI YOLANDA FITRIA SYAHRI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Tanah Tanah adalah kumpulan benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara,
TINJAUAN PUSTAKA. A. Kompos Kulit Buah Jarak Pagar
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kompos Kulit Buah Jarak Pagar Kompos merupakan bahan organik yang telah menjadi lapuk, seperti daundaunan, jerami, alang-alang, rerumputan, serta kotoran hewan. Di lingkungan alam,
BAB I PENDAHULUAN. Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari bahan-bahan makhluk hidup
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari bahan-bahan makhluk hidup atau makhluk hidup yang telah mati, meliputi kotoran hewan, seresah, sampah, dan berbagai produk
PRODUKTIVITAS SERASAH DAN LAJU DEKOMPOSISI DI KEBUN CAMPUR SENJOYO SEMARANG JAWA TENGAH SERTA UJI LABORATORIUM ANAKAN MAHONI
PRODUKTIVITAS SERASAH DAN LAJU DEKOMPOSISI DI KEBUN CAMPUR SENJOYO SEMARANG JAWA TENGAH SERTA UJI LABORATORIUM ANAKAN MAHONI ( Swietenia macrophylla King ) PADA BERAGAM DOSIS KOMPOS YANG DICAMPUR EM4 Sita
AKTIVITAS REDUKSI NITRAT BAKTERI AMONIFIKASI DISIMILATIF PADA SUMBER KARBON BERBEDA AHADIYANTO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
AKTIVITAS REDUKSI NITRAT BAKTERI AMONIFIKASI DISIMILATIF PADA SUMBER KARBON BERBEDA AHADIYANTO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik, populasi ternak
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Populasi Kerbau dan Sapi di Indonesia Menurut Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik, populasi ternak kerbau tersebar merata di seluruh pulau di Indonesia dengan
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. dicotyledoneae. Sistem perakaran kailan adalah jenis akar tunggang dengan
18 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tanaman kailan adalah salah satu jenis sayuran yang termasuk dalam kelas dicotyledoneae. Sistem perakaran kailan adalah jenis akar tunggang dengan cabang-cabang akar
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. diikuti oleh akar-akar samping. Pada saat tanaman berumur antara 6 sampai
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Pada saat jagung berkecambah, akar tumbuh dari calon akar yang berada dekat ujung biji yang menempel pada janggel, kemudian memanjang dengan diikuti oleh akar-akar samping.
STUDI KOMPARATIF METABOLISME NITROGEN ANTARA DOMBA DAN KAMBING LOKAL
STUDI KOMPARATIF METABOLISME NITROGEN ANTARA DOMBA DAN KAMBING LOKAL SKRIPSI KHOERUNNISSA PROGRAM STUDI NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSITUT PERTANIAN BOGOR 2006 RINGKASAN KHOERUNNISSA.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Kandungan (%) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Produk Fermentasi Fermentasi merupakan teknik yang dapat mengubah senyawa kompleks seperti protein, serat kasar, karbohidrat, lemak dan bahan organik lainnya
PENDAHULUAN. lahan dan populasi cacing tanah menurun. aplikasi cacing endogeik merupakan
PENDAHULUAN Latar Belakang Peningkatan intensitas pengelolaan lahan menyebabkan produktivitas lahan dan populasi cacing tanah menurun. aplikasi cacing endogeik merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan
I PENDAHULUAN. Hal tersebut menjadi masalah yang perlu diupayakan melalui. terurai menjadi bahan anorganik yang siap diserap oleh tanaman.
1 I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Salah satu limbah peternakan ayam broiler yaitu litter bekas pakai pada masa pemeliharaan yang berupa bahan alas kandang yang sudah tercampur feses dan urine (litter broiler).
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanah marginal merupakan tanah yang potensial untuk pertanian. Secara alami
8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanah Ultisol dan Permasalahan Kesuburannya Tanah marginal merupakan tanah yang potensial untuk pertanian. Secara alami kesuburan tanah marginal tergolong rendah. Hal ini ditunjukan
KEANEKARAGAMAN DAN FREKUENSI KUNJUNGAN SERANGGA PENYERBUK SERTA EFEKTIVITASNYA DALAM PEMBENTUKAN BUAH Hoya multiflora Blume (ASCLEPIADACEAE)
KEANEKARAGAMAN DAN FREKUENSI KUNJUNGAN SERANGGA PENYERBUK SERTA EFEKTIVITASNYA DALAM PEMBENTUKAN BUAH Hoya multiflora Blume (ASCLEPIADACEAE) LILIH RICHATI CHASANAH SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Berikut ini adalah hasil penelitian dari perlakuan perbedaan substrat menggunakan sistem filter undergravel yang meliputi hasil pengukuran parameter kualitas air dan
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Salah satu masalah yang timbul akibat meningkatnya kegiatan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu masalah yang timbul akibat meningkatnya kegiatan manusia adalah beban pencemaran yang melampaui daya dukung lingkungan. Pencemaran di Indonesia telah menunjukkan
PENDAHULUAN. Buah melon (Cucumis melo L.) adalah tanaman buah yang mempunyai nilai
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Buah melon (Cucumis melo L.) adalah tanaman buah yang mempunyai nilai komersial tinggi di Indonesia. Hal ini karena buah melon memiliki kandungan vitamin A dan C
DISTRIBUSI DAN PREFERENSI HABITAT SPONS KELAS DEMOSPONGIAE DI KEPULAUAN SERIBU PROVINSI DKI JAKARTA KARJO KARDONO HANDOJO
DISTRIBUSI DAN PREFERENSI HABITAT SPONS KELAS DEMOSPONGIAE DI KEPULAUAN SERIBU PROVINSI DKI JAKARTA KARJO KARDONO HANDOJO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2006 PERNYATAAN MENGENAI TESIS
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Isolasi Bakteri Penitrifikasi Sumber isolat yang digunakan dalam penelitian ini berupa sampel tanah yang berada di sekitar kandang ternak dengan jenis ternak berupa sapi,
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Penanaman rumput B. humidicola dilakukan di lahan pasca tambang semen milik PT. Indocement Tunggal Prakasa, Citeurep, Bogor. Luas petak yang digunakan untuk
HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kompos Ampas Aren. tanaman jagung manis. Analisis kompos ampas aren yang diamati yakni ph,
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kompos Ampas Aren Analisis kompos merupakan salah satu metode yang perlu dilakukan untuk mengetahui kelayakan hasil pengomposan ampas aren dengan menggunakan berbagai konsentrasi
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Kadar Oksigen Terlarut Hasil pengukuran konsentrasi oksigen terlarut pada kolam pemeliharaan ikan nila Oreochromis sp dapat dilihat pada Gambar 2. Dari gambar
Volume IV. Nomor 1. Januari-Juni 2013 Page 38
3 KOLEKSI DAN IDENTIFIKASI CACING TANAH DI HUTAN PENELITIAN DARMAGA, BOGOR Oleh: Rita Oktavia M.Si Dosen Program Studi Pendidikan Biologi STKIP Bina Bangsa Meulaboh ABSTRAK Cacing tanah telah diketahui
Prosiding Seminar Nasional Biotik 2015 ISBN:
Prosiding Seminar Nasional Biotik 2015 ISBN: 978-602-18962-5-9 PENGARUH JENIS DAN DOSIS BAHAN ORGANIK PADA ENTISOL TERHADAP ph TANAH DAN P-TERSEDIA TANAH Karnilawati 1), Yusnizar 2) dan Zuraida 3) 1) Program
I. PENDAHULUAN. berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi untuk tanaman dan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran tanaman. Secara kimiawi tanah berfungsi sebagai
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman Singkong (Manihot utilissima) adalah komoditas tanaman pangan yang
7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Tanaman Singkong Tanaman Singkong (Manihot utilissima) adalah komoditas tanaman pangan yang cukup potensial di Indonesia selain padi dan jagung. Tanaman singkong termasuk
PENGARUH KOMBINASI MEDIA SERBUK GERGAJI BATANG POHON KELAPA
447 Jurnal Prodi Biologi Vol 6 No 8 Tahun 2017 PENGARUH KOMBINASI MEDIA SERBUK GERGAJI BATANG POHON KELAPA (Cocos nucifera, L.) DAN ONGGOK AREN (Arenga pinnata, Merr.) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI
MODEL DISTRIBUSI PERTUMBUHAN EKONOMI ANTARKELOMPOK PADA DUA DAERAH ADE LINA HERLIANI
MODEL DISTRIBUSI PERTUMBUHAN EKONOMI ANTARKELOMPOK PADA DUA DAERAH ADE LINA HERLIANI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Vegetasi Hutan Hutan merupakan ekosistem alamiah yang sangat kompleks mengandung berbagai spesies tumbuhan yang tumbuh rapat mulai dari jenis tumbuhan yang kecil hingga berukuran
PRODUKSI DAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH DAUN MANGROVE API-API
PRODUKSI DAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH DAUN MANGROVE API-API (Avicennia marina Forssk. Vierh) DI DESA LONTAR, KECAMATAN KEMIRI, KABUPATEN TANGERANG, PROVINSI BANTEN Oleh: Yulian Indriani C64103034 PROGRAM
II. TINJAUAN PUSTAKA. mempunyai fungsi penting dari ekosistem darat yang menggambarkan
11 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Olah Tanah Tanah merupakan benda alam yang bersifat dinamis, sumber kehidupan, dan mempunyai fungsi penting dari ekosistem darat yang menggambarkan keseimbangan yang
PERAN MODEL ARSITEKTUR RAUH DAN NOZERAN TERHADAP PARAMETER KONSERVASI TANAH DAN AIR DI HUTAN PAGERWOJO, TULUNGAGUNG NURHIDAYAH
PERAN MODEL ARSITEKTUR RAUH DAN NOZERAN TERHADAP PARAMETER KONSERVASI TANAH DAN AIR DI HUTAN PAGERWOJO, TULUNGAGUNG NURHIDAYAH SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI
ANNELIDA (Annulus=cincin, Oidos=bentuk)
ANNELIDA (Annulus=cincin, Oidos=bentuk) By Luisa Diana Handoyo, M.Si. Christmas tree fanworm LANGKAH KERJA Ambil cacing yg paling besar Letakkan cacing di bak parafin Kedua ujung di tahan dengan jarum
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Syarat Tumbuh Tanaman Selada (Lactuca sativa L.)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Syarat Tumbuh Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) Tanaman selada (Lactuca sativa L.) merupakan tanaman semusim yang termasuk ke dalam famili Compositae. Kedudukan tanaman selada
II KAJIAN KEPUSTAKAAN. tersebut serta tidak memiliki atau sedikit sekali nilai ekonominya (Sudiarto,
8 II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1. Limbah Ternak 2.1.1. Deksripsi Limbah Ternak Limbah didefinisikan sebagai bahan buangan yang dihasilkan dari suatu proses atau kegiatan manusia dan tidak digunakan lagi pada
