BAB V ANALISIS HASIL PERCOBAAN DAN DISKUSI
|
|
|
- Fanny Budiman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB V ANALISIS HASIL PERCOBAAN DAN DISKUSI Dari hasil percobaan dan uji sampel pada bab IV, yang pertama dilakukan adalah karakterisasi reaktor. Untuk mewakili salah satu parameter reaktor yaitu laju sintesis diartikan sebagai hubungan antara temperatur dan debit aliran udara (gas). Selanjutnya adalah diskusi hasil sintesis partikel nanostruktur dengan metoda Spray Drying dan Spray Pyrolysis. 5.1 Karakteristik Sistem Reaktor Daerah Kerja Pemanas Dari hasil uji kerja pemanas menunjukan pemanas mampu memberikan proses pemanasan yang sangat baik dan stabil terlihat dari grafik yang memperlihatkan hubungan antara temperatur setting dan temperatur tertinggi yang dihasilkan dan memiliki error setting temperatur sebesar 0.5 % hal ini sangat baik sekali dalam proses pabrikasi. Pemilihan panjang reaktor sangat berpengaruh terhadap proses pemanasan. Pada temperatur setting berada daerah o C sebuah droplet membutuhkan waktu penguapan air selama sekon. Dengan waktu penguapan diatas dan dengan debit aliran udara sebesar 2 liter/min panjang reaktor pemanas yang dibutuhkan dalam proses pemanasan kurang dari 1cm. Pemilihan sistem reaktor pemanas sepanjang 1 m agar pengaturan temperatur lebih mudah dan temperatur pemanasan lebih stabil berada pada temperatur setting. Selain itu dalam proses sintesis dalam metoda Spray Drying dibutuhkan terjadinya sintering antara partikel penyusun sehingga akan terbentuk material nanostruktur Laju Deposisi Pendekatan numerik yang dilakukan Goering (persamaan 12) memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai proses penguapan air dari dalam droplet. 32
2 Sekilas terdapat perbedaan mendasar persamaan 12 dengan persamaan penguapan air ideal dimana penguapan air tidak dipengaruhi oleh suhu tetapi oleh massa air dan tetapan penguapan. Pada dasarnya persamaan 12 lebih menekankan pada proses transfer panas dan efek thermoporetik didalam droplet sehingga akan didapatkan hubungan antara temperatur dan kecepatan maksimum produksi. Proses sintesis nanomaterial dengan metoda spray sangat bergantung pada temperatur pemanasan dan kecepatan aliran gas pembawa (carrier gas) dan keduanya memiliki berhubungan dijelaskan oleh persamaan 20. Secara umum persamaan 20 lebih menerangkan hubungan aliran gas maksimum yang diberikan agar proses penguapan air dari droplet berlangsung sempurna dan nilai besarannya sangat dipengaruhi oleh temperatur pemanasan, pengaturan aliran gas yang lebih rendah memberikan waktu pemanasan material yang lebih lama dan diperkirakan mengakibatkan terjadinya proses sintering antara partikel/zat penyusun material nanostruktur. Tetapi dengan aliran udara yang lambat menjadikan proses produksi menjadi lambat jadi dapat disimpulkan terdapat hubungan saling keterkaitan antara temperatur, besar aliran udara dan kecepatan produksi partikel nanostruktur. Tetapi dengan melihat waktu penguapan yang sangat cepat sekali ( s) dengan mengambil asumsi waktu ini dapat diabaikan dan debit aliran udara selalu berada jauh dibawah debit aliran udara (persamaan 20) maka kecepatan produksi berhubungan langsung dengan debit aliran udara dan produksi droplet oleh Ultrasonic Nebulizer. Pada akhirnya produksi partikel dibatasi oleh hasil produksi droplet oleh Ultrasonic Nebulizer karena ada beberapa kondisi dimana dengan debit aliran udara sangat kecil maka tidak semua droplet yang akan menjadi partikel dan pada kondisi aliran udara sangat besar sedangkan produksi droplet tetap maka droplet yang terbawa oleh aliran udara tetap pada nilai maksimum yangdihasilkan oleh Ultrasonic Nebulizer. 5.2 Perolehan Material Nanostruktur 33
3 5.2.1 Perolehan Material Nanostruktur Dengan Metoda Spray Drying Berikut ini adalah gambar hasil SEM (Scanning Electron Microscope) hasil percobaan 1 dan 2 menggunakan metoda Spray Drying. Gambar 16. Material Nanostruktur yang terbentuk pada percobaan 1 dengan temperatur 400 o C perbesaran a) X dan b) X 34
4 Gambar 17. Material nanostruktur pada percobaan 1 pada temperatur 400 o C dan perbesaran SEM a) X dan b) X 35
5 Gambar 16 diatas menujukan hasil pembentukan material pada temperatur 400 o C bentuk material yang didapatkan tidak menunjukan bentuk bulat sempurna dan antar bulatan material tidak terdapat pemisahan yang telihat jelas. Ukuran material yang didapatkan berkisar antara 6-7 µm, ukuran material didapatkan dengan cara mengukur diameter material dari beberapa sisi yang diperkirakan bulat. Gambar 17 adalah gambaran mengenai partikel-partikel nanostruktur yang menyusun material bulat yang dihasilkan ukuran partikel yang menyusun material diatas diperkirakan berukuran 150nm ukuran didapatkan dengan pengukuran manual sama dengan mengukur material nanostruktrur sebelumnya. Melihat hasil diatas dapat disimpulkan bahwa material diatas memiliki karakeristik yang sama dengan hipotesis yang ditawarkan dimana proses penguapan air akan membentuk material nanostruktur yang tersusun dari pertikel-partikel terlarut yang berukuran nanometer. Secara teori proses penentukan sangat dapat dipengaruhi kestabilan proses pemanasan. Melihat hasil diatas yang tidak menunjukan bulatan material nanostruktur yang sempurna. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah parameter temperatur, parameter ini akan berpengaruh terhadap proses pemanasan droplet. Dimana penguapan droplet akan sangat cepat sehingga dengan proses yang sangat cepat ini menjadi pembnetukan material nanostruktur tidak seimbang antara proses penguapan dan difusi partikel didalam droplet. Sehingga dapat disimpulkan pada suhu yang sangat tinggi partikel yang dihasilkan tidak memiliki bentuk belat sempurna. Dari hasil material nanostruktur yang didapatkan terlihat permukaan yang cenderung berbentuk acak atau disebut amorf. Bentuk ini dapat dikarenakan proses penguapan sangat cepat sehingga menjadikan sebelum partikel dapat menempel pada posisi yang tepat (permukaan bola) penguapan yang terjadi telah selesai sehingga partikel tidak menempel sempurna. Dan proses pemanasan yang sangat tinggi menjadikan material memiliki energi termal dan energi kinetik yang tinggi, energi ini menyebabkan materil yang telah bulat akan saling bergabung kembali dengan bulatan-bulatan material yang lain. Sehingga menghasilkan material yang tidak memiliki batasan bulatan secara sempurna. 36
6 Gambar 18. Material Nanostruktur yang terbentuk pada percobaan 2 dengan temperatur 300 o C perbesaran a) X dan b) X 37
7 Gambar 19. Partikel nanostruktur pada percobaan 2 pada temperatur 400 o C dan perbesaran SEM a) X dan b) X 38
8 Gambar 18, diatas menunjukan hasil pembentukan material pada temperatur 400 o C bentuk material yang didapatkan menunjukan bentuk bulat sempurna dan antar bulatan material terdapat pemisahan yang telihat jelas. Ukuran material yang didapatkan berkisar antara 7-8 µm. ukuran material didapatkan dengan cara mengukur diameter material dari beberapa sisi yang diperkirakan bulat. Gambar 18 adalah gambaran mengenai partikel-partikel nanostruktur yang menyusun material bulat yang dihasilkan, ukuran partikel yang menyusun material diatas diperkirakan berukuran 150nm. Ukuran didapatkan dengan pengukuran manual sama dengan mengukur diameter material nanostruktur yang terlihat. Hasil diatas sangat mengembirakan karena bentuk yang dihasilakan berbentuk bulatan sempurna dan permukaan material yang yang lebih teratur dan partikel tertata dengan sangat baik. Hubungan antar partikel terlihat sangat baik sehingga antar saling terikat sempurna hal ini dikarenakan proses pemanasan pada suhu sedang menghasilkan proses hidrodinamika yang lebih stabil dan mampu menjadikan material nanostruktur memiliki bentuk bulatan sempurna dan permukaan yang lebih tertata sempurna. Dengan melihat hasil diatas dapat disimpulkan bahwa material diatas memiliki karakeristik yang sama dengan hipotesis yang ditawarkan dimana proses penguapan air akan membentuk material nanostruktur yang tersusun dari pertikel-partikel terlarut yang berukuran nanometer. Ukuran tersebut sangat memungkinkan terbentuk hal ini dikarenakan asumsi diambil adalah ukuran material nanostrukur yang terbentuk akan memiliki ukuran yang lebih kecil dari ukuran droplet. Hal ini dapatkan karena ukuran droplet yang seragam dan konstrasi larutan yang dipakai sama maka hasil yang didapatkan akan memiliki ukuran yang sama besar secara morfologi. Kedua partikel nanostrukur pembentuk kedua material tidak mengalami perubahan bentuk atau perubahan ukuran peristiwa ini dikarenakan pemakaian pelarut air yang tidak merubah strukur partikel atau proses pemanasan tidak merubah morfologi partikel nanostrukur. 39
9 5.2.2 Perolehan Material Nanostruktur Dengan Metoda Spray Pyrolysis Berikut ini adalah gambar hasil SEM (Scanning Electron Microscope) hasil percobaan 1 menggunakan metoda Spray Pyrolysis. Gambar 21. Partikel Nanostruktur dengan metoda Spray Pyrolysis pada temperatur 400 o C dan perbesaran SEM a) X dan b) X 40
10 Gambar 22. Material Nanostruktur dengan metoda Spray Pyrolysis pada temperatur 400 o C dan perbesaran SEM a) X dan b) X Pemilihan bahan Y 2 O 3 :Eu dalam metoda ini didasarkan pada sifat luminisense bahan Y2O3:Eu sangat dipengaruhi oleh ukuran partikel nanostruktur. Untuk memperoleh hasil SEM digunakan material hasil akhir yang mampu 41
11 menghasilkan perpendaran berwarna merah agar meyakinkan partikel yang terbentuk adalah partikel Y 2 O 3 : Eu. Gambar diatas adalah hasil akhir pembentukan partikel nanostrukur dengan mengunakan metoda Spray Pyrolysis. Dari hasil diatas dapat disimpulkan metoda Spray Pyrolysis mampu membentuk partikel nanostruktur yang sangat baik hal ini terlihat dari hasil akhir dimana semua partikel memiliki bentuk bulat bola dan dengan permukaan partikel yang rata. Seperti dijelaskan dalam teori evaporasi hasil akhir penguapan air sangat mempengaruhi efek hidrodinamika dipengaruhi oleh gradien suhu yang terbentuk dipermukaan droplet dan proses difusi partikel. Didalam droplet terdapat zat kimia Y(NO 3 ) 3.6H 2 O dan Eu(NO 3 ) 3.6H 2 O pada kondisi terlarut dan karena adanya ikatan ionik mengasilkan ion Y 3+, ion Eu 3+, ion NO - 3 dan H 2 O (air) akibat adanya proses pemanasan maka zat Y 3+ tersebut akan mengalami reaksi oksidasi sehingga terbentuk partikel Y 2 O 3 :Eu. Reaksi kimia tersebut berlangsung pada permukaan droplet hal ini terjadi karena terjadi kontak antara Oksigen dengan ion Y 3+ dan dengan bantuan energi aktivasi dari proses pemanasan reaksi oksidasi dapat terjadi. Temperatur pemanasan akan mengakibatkan proses penguapan semakin cepat dan mengakibatkan reaksi oksidasi berlangsung sangat cepat dan proses difusi tidak mampu mengimbangi proses pembentukan partikel sehingga akan terbentuk kerak zat Y 2 O 3 :Eu pada permukaan droplet. Melihat hasil yang didapatkan sangat mengembirakan, karena ketika dikenai sinar-uv material nanostruktur yang dihasil mampu memancarkan sinar berwarna merah. Berdasaran gambar grafik diatas didapatkan ukuran partikel nanostruktur antara 100 nm 3 µm. Dan memiliki ukuran terkecil dan ukuran rata-rata partikel sebesar 100 nm dan 400 nm. Selain itu grafik 1 menunjukan ukuran partikel memiliki fraksi jumlah yang sangat dominan pada ukuran sekitar 400 nm. Ukuran partikel sangat dipengaruhi oleh ukuran droplet dan konsentrasi yng dikandungnya pada reaktor Spray Pyrolysis alat untuk menghasilkan droplet adalah Ultrasonic Nebulizer yang memiliki spesifikasi frekuensi yang tetap pada nilai sekitar 0.8 MHz sehingga dapat memungkinkan ketika droplet yang dihasilkan sekitar 8 µm maka akan menghasilkan partikel yang besar. Dengan asumsi droplet yang dihasilkan mampu membawa larutan dengan molaritas yang 42
12 sama dengan larutan awal maka pada konsentrasi larutan rendah akan menghasilkan ukuran partikel yang kecil (nanometer) dan ketika konsentrasi lebih tinggi maka ukuran partikel akan lebih besar. a) b) Gambar 23. Kerusakan (deffect) berupa lubang pada permukaan material. a) b) c) d) Gambar 24. Kerusakan (deffect) berupa bentuk partikel tidak bulat sempurna. 43
13 Semakin tinggi pemakaian temperatur, bagaimanapun dapat menyebabkan semakin cepat laju penguapan droplet. Selain itu proses pemanasan dapat berdampak terhadap proses difusi partikel nanostrukur dan penguapan air didalam droplet. Secara teori pada proses penguapan air yang sangat lambat maka akan terbentuk material nanostrukur yang padat hal ini dikarenakan adanya proses difusi zat dan proses penguapan air yang seimbang. Gambar 26. Pengaruh laju penguapan Tetapi akan telihat sangat kontras jika proses penguapan zat sangat cepat maka material nanostrukur yang terbentuk akan seperti lapisan-lapisan bola, hal ini dikarenakan proses penguapan yang sangat cepat dikarenakan temperatur yang sangat tinggi menjadikan pada permukaan droplet akan mengalami proses penguapan yang sangat cepat sehingga pada permukaan droplet akan terbentuk lapisan-lapisan nanopartikel. Selain itu pada kondisi lapisan-lapisan nanopartikel sangat tebal menjadikan uap air didalam terjebak dan mendesak cangkang partikel sehingga material nanostruktur membelah dikarenakan tekanan uap yang terbentuk dan tidak terbentuk partikel nanostruktur berbentuk bola bulat. 44
BAB IV RANCANGAN PENELITIAN SPRAY DRYING DAN SPRAY PYROLYSIS. Rancangan penelitian ini dibagi menjadi tiga tahapan utama :
BAB IV RANCANGAN PENELITIAN SPRAY DRYING DAN SPRAY PYROLYSIS Rancangan penelitian ini dibagi menjadi tiga tahapan utama : a. Uji kerja pemanas, pada penelitiaan ini akan dilihat kemampuan pemanas dan konsistensi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Spray Drying dan Spray Pyrolysis adalah metoda yang sangat umum digunakan dibanyak industri. Metoda ini diinisiasi oleh atomizer/penyemprotan larutan dalam bentuk droplet kedalam
BAB III RANCANG BANGUN REAKTOR SPRAY DRYING DAN SPRAY PYROLYSIS
BAB III RANCANG BANGUN REAKTOR SPRAY DRYING DAN SPRAY PYROLYSIS 3.1 Pemilihan Sistem Pada umumnya sistem Spray Drying/Spray Pyrolysis untuk memproduksi partikel ukuran mikro mengunakan sistem atomizer
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan IV.1 Pengaruh Arus Listrik Terhadap Hasil Elektrolisis Elektrolisis merupakan reaksi yang tidak spontan. Untuk dapat berlangsungnya reaksi elektrolisis digunakan
RANCANG BANGUN REAKTOR SPRAY DRYING DAN SPRAY PYROLYSIS MENGUNAKAN ULTRASONIC NEBULIZER DAN PEMANAS BERTINGKAT
RANCANG BANGUN REAKTOR SPRAY DRYING DAN SPRAY PYROLYSIS MENGUNAKAN ULTRASONIC NEBULIZER DAN PEMANAS BERTINGKAT TUGAS AKHIR Sebuah laporan tugas akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi yang semakin maju dalam beberapa dekade ini
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi yang semakin maju dalam beberapa dekade ini mengalami peralihan dari teknologi mikro (microtechnology) ke generasi yang lebih kecil yang dikenal
HASIL DAN PEMBAHASAN. Struktur Karbon Hasil Karbonisasi Hidrotermal (HTC)
39 HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur Karbon Hasil Karbonisasi Hidrotermal (HTC) Hasil karakterisasi dengan Difraksi Sinar-X (XRD) dilakukan untuk mengetahui jenis material yang dihasilkan disamping menentukan
HASIL DAN PEMBAHASAN. didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 20%, 30%, 40%, dan 50%. Kemudian larutan yang dihasilkan diendapkan
6 didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 3.3.3 Sintesis Kalsium Fosfat Sintesis kalsium fosfat dalam penelitian ini menggunakan metode sol gel. Senyawa kalsium fosfat diperoleh dengan mencampurkan serbuk
2014 PEMBUATAN BILAYER ANODE - ELEKTROLIT CSZ DENGAN METODE ELECTROPHORETIC DEPOSITION
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebutuhan listrik dunia semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Hal ini tentu disebabkan pertumbuhan aktivitas manusia yang semakin padat dan kebutuhan
4 Hasil dan Pembahasan
4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Padatan TiO 2 Amorf Proses sintesis padatan TiO 2 amorf ini dimulai dengan melarutkan titanium isopropoksida (TTIP) ke dalam pelarut etanol. Pelarut etanol yang digunakan
Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Kopresipitasi
Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Kopresipitasi NURUL ROSYIDAH Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember Pendahuluan Kesimpulan Tinjauan Pustaka
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda eksperimen.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda eksperimen. Penelitian dilakukan dengan beberapa tahapan yang digambarkan dalam diagram alir
Bab IV. Hasil dan Pembahasan
Bab IV. Hasil dan Pembahasan Bab ini memaparkan hasil sintesis, karakterisasi konduktivitas listrik dan struktur kirstal dari senyawa perovskit La 1-x Sr x FeO 3-δ (LSFO) dengan x = 0,2 ; 0,4 ; 0,5 ; 0,6
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan di Kelompok Bidang Bahan Dasar PTNBR-
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian yang dilakukan di Kelompok Bidang Bahan Dasar PTNBR- BATAN Bandung meliputi beberapa tahap yaitu tahap preparasi serbuk, tahap sintesis dan tahap analisis. Meakanisme
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN BaTiO 3 merupakan senyawa oksida keramik yang dapat disintesis dari senyawaan titanium (IV) dan barium (II). Proses sintesis ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu, tekanan,
BAB IV DATA HASIL PENELITIAN
BAB IV DATA HASIL PENELITIAN 4.1. PENGAMATAN VISUAL bab ini. Data hasil proses anodisasi dengan variabel pada penelitian ini terurai pada Gambar 4.1. Foto permukaan sampel sebelum dianodisasi (a) (b) (c)
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang yang berada dikawasan Asia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara berkembang yang berada dikawasan Asia Tenggara. Sebagai negara berkembang, Indonesia melakukan swasembada diberbagai bidang, termasuk
I. PENDAHULUAN. Nanopartikel saat ini menjadi perhatian para peneliti untuk pengembangan dalam
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nanopartikel saat ini menjadi perhatian para peneliti untuk pengembangan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahan material dalam skala nano yang dapat meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ketersediaan sumber energi merupakan masalah yang harus segera diselesaikan oleh masing-masing negara termasuk Indonesia. Untuk itu perlu dikembangkan suatu teknologi
2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Polimer. 2.2 Membran
2 Tinjauan Pustaka 2.1 Polimer Polimer (poly = banyak, meros = bagian) merupakan molekul besar yang terbentuk dari susunan unit ulang kimia yang terikat melalui ikatan kovalen. Unit ulang pada polimer,
Sintesis Komposit TiO 2 /Karbon Aktif Berbasis Bambu Betung (Dendrocalamus asper) dengan Menggunakan Metode Solid State Reaction
Sintesis Komposit TiO 2 /Karbon Aktif Berbasis Bambu Betung (Dendrocalamus asper) dengan Menggunakan Metode Solid State Reaction Yuliani Arsita *, Astuti Jurusan Fisika Universitas Andalas * [email protected]
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
15 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pembuatan Arang Aktif dari Sekam Padi Arang sekam yang telah diaktivasi disebut arang aktif. Arang aktif yang diperoleh memiliki ukuran seragam (210 µm) setelah
Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam
Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam klorida 0,1 N. Prosedur uji disolusi dalam asam dilakukan dengan cara
BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang. Secara umum ketergantungan manusia akan kebutuhan bahan bakar
BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang Secara umum ketergantungan manusia akan kebutuhan bahan bakar yang berasal dari fosil dari tahun ke tahun semakin meningkat, sedangkan ketersediaannya semakin berkurang
I. PENDAHULUAN. komposit. Jenis material ini menjadi fokus perhatian karena pemaduan dua bahan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini salah satu jenis material aplikasi yang terus dikembangkan adalah komposit. Jenis material ini menjadi fokus perhatian karena pemaduan dua bahan atau lebih
Bab IV Hasil dan Pembahasan
33 Bab IV Hasil dan Pembahasan Pada bab ini dilaporkan hasil sintesis dan karakterisasi dari senyawa yang disintesis. Senyawa disintesis menggunakan metoda deposisi dalam larutan pada temperatur rendah
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. hal ini memiliki nilai konduktifitas yang memadai sebagai komponen sensor gas
31 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis material konduktor ionik MZP, dilakukan pada kondisi optimum agar dihasilkan material konduktor ionik yang memiliki kinerja maksimal, dalam hal ini memiliki nilai
Deskripsi METODE UNTUK PENUMBUHAN MATERIAL CARBON NANOTUBES (CNT)
1 Deskripsi METODE UNTUK PENUMBUHAN MATERIAL CARBON NANOTUBES (CNT) Bidang Teknik Invensi Invensi ini berhubungan dengan metode untuk penumbuhan material carbon nanotubes (CNT) di atas substrat silikon
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimen. Pembuatan serbuk CSZ menggunakan cara sol gel. Pembuatan pelet dilakukan dengan cara kompaksi dan penyinteran dari serbuk calcia-stabilized
Bab III Metodologi Penelitian
Bab III Metodologi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Kimia Analitik, Program Studi Kimia FMIPA ITB sejak September 2007 sampai Juni 2008. III.1 Alat dan Bahan Peralatan
BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini dunia elektronika mengalami kemajuan yang sangat pesat, hal ini
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada saat ini dunia elektronika mengalami kemajuan yang sangat pesat, hal ini terlihat dari banyaknya komponen semikonduktor yang digunakan disetiap kegiatan manusia.
MAKALAH ALAT INDUSTRI KIMIA ABSORPSI
MAKALAH ALAT INDUSTRI KIMIA ABSORPSI Disusun Oleh : Kelompok II Salam Ali 09220140004 Sri Dewi Anggrayani 09220140010 Andi Nabilla Musriah 09220140014 Syahrizal Sukara 09220140015 JURUSAN TEKNIK KIMIA
BAB IV ANALISA. Gambar 4.1. Fenomena case hardening yang terjadi pada sampel.
BAB IV ANALISA 4.1 FENOMENA DAN PENYEBAB KERUSAKAN KUALITAS PRODUK 4.1.1 Fenomena dan penyebab terjadinya case hardening Pada proses pengeringan yang dilakukan oleh penulis khususnya pada pengambilan data
BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN
30 BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN 3.1 PENDAHULUAN Baterai seng udara merupakan salah satu bentuk sumber energi secara elektrokimia yang memiliki peluang sangat besar untuk aplikasi sumber energi masa depan.
BAB 4 DATA DAN ANALISIS
BAB 4 DATA DAN ANALISIS 4.1. Kondisi Sampel TiO 2 Sampel TiO 2 disintesa dengan memvariasikan jenis pelarut, block copolymer, temperatur kalsinasi, dan kelembaban relatif saat proses aging. Kondisi sintesisnya
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1. KARAKTERISTIK BATUBARA Sampel batubara yang digunakan dalam eksperimen adalah batubara subbituminus. Dengan pengujian proksimasi dan ultimasi yang telah dilakukan oleh
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Preparasi 4.1.1 Sol Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan ZrOCl 2. 8H 2 O dengan perbandingan mol 1:4:6 (Ikeda, et al. 1986) dicampurkan
BAB V HASIL PENELITIAN. peralatan sebagai berikut : XRF (X-Ray Fluorecense), SEM (Scanning Electron
BAB V HASIL PENELITIAN Berikut ini hasil eksperimen disusun dan ditampilkan dalam bentuk tabel, gambar mikroskop dan grafik. Eksperimen yang dilakukan menggunakan peralatan sebagai berikut : XRF (X-Ray
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Nanoteknologi adalah ilmu yang mempelajari, menciptakan dan merekayasa material berskala nanometer dimana terjadi sifat baru. Kata nanoteknologi berasal dari
1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN Saat ini nanomaterial seperti nanotubes, nanowires, nanofibers, dan nanobelts banyak mendapatkan perhatian karena nanomaterial tersebut dapat diaplikasikan di berbagai
a. Pengertian leaching
a. Pengertian leaching Leaching adalah peristiwa pelarutan terarah dari satu atau lebih senyawaan dari suatu campuran padatan dengan cara mengontakkan dengan pelarut cair. Pelarut akan melarutkan sebagian
BAB III EKSPERIMEN & KARAKTERISASI
BAB III EKSPERIMEN & KARAKTERISASI Pada bab ini dibahas penumbuhan AlGaN tanpa doping menggunakan reaktor PA- MOCVD. Lapisan AlGaN ditumbuhkan dengan variasi laju alir gas reaktan, hasil penumbuhan dikarakterisasi
BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN
BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN 4.1 SINTESIS SBA-15 Salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan material mesopori silika SBA-15 melalui proses sol gel dan surfactant-templating. Tahapan-tahapan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KOMPOSISI SAMPEL PENGUJIAN Pada penelitian ini, komposisi sampel pengujian dibagi dalam 5 grup. Pada Tabel 4.1 di bawah ini tertera kode sampel pengujian untuk tiap grup
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Karakterisasi Awal Serbuk ZrSiO 4 dan ZrO 2 Serbuk ZrSiO 4 dan ZrO 2 sebagai bahan utama membran merupakan hasil pengolahan mineral pasir zirkon. Kedua serbuk tersebut
wanibesak.wordpress.com
1. Diberikan beberapa pernyataan 1) katalis dapat mempercepat laju reaksi dengan cara menaikan energi aktivasi 2) tahap penentu laju reaksi adalah tahap reaksi yang berlangsung paling lambat 3) laju reaksi
PENGARUH SUHU FURNACE DAN RASIO KONSENTRASI PREKURSOR TERHADAP KARAKTERISTIK NANOKOMPOSIT ZnO-SILIKA
PENGARUH SUHU FURNACE DAN RASIO KONSENTRASI PREKURSOR TERHADAP KARAKTERISTIK NANOKOMPOSIT ZnO-SILIKA Pembimbing:» Prof. Dr. Ir. Sugeng Winardi, M.Eng» Dr. Widiyastuti, ST. MT Penyusun:» Wahyu Puspitaningtyas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi alternatif telah mendorong minat yang besar pada device dan material dengan skala nanometer beberapa tahun terakhir ini. Material berskala nano
HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan menggunakan kamera yang dihubungkan dengan komputer.
10 dengan menggunakan kamera yang dihubungkan dengan komputer. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil sintesis paduan CoCrMo Pada proses preparasi telah dihasilkan empat sampel serbuk paduan CoCrMo dengan komposisi
PEMBUATAN ALUMINIUM BUSA MELALUI PROSES SINTER DAN PELARUTAN SKRIPSI
PEMBUATAN ALUMINIUM BUSA MELALUI PROSES SINTER DAN PELARUTAN SKRIPSI Oleh AHMAD EFFENDI 04 04 04 004 6 DEPARTEMEN METALURGI DAN MATERIAL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA GENAP 2007/2008 PEMBUATAN
c. Suhu atau Temperatur
Pada laju reaksi terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju reaksi. Selain bergantung pada jenis zat yang beraksi laju reaksi dipengaruhi oleh : a. Konsentrasi Pereaksi Pada umumnya jika konsentrasi
BAB I PENDAHULUAN. Batu bara + O pembakaran. CO 2 + complex combustion product (corrosive gas + molten deposit
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pemadaman listrik yang dialami hampir setiap daerah saat ini disebabkan kekurangan pasokan listrik. Bila hal ini tidak mendapat perhatian khusus dan penanganan
MODUL PRAKTIKUM SATUAN OPERASI II
MODUL PRAKTIKUM SATUAN OPERASI II PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA I. PENGERINGAN A. PENDAHULUAN Pengeringan adalah proses pengeluaran
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1. Hasil Ekstasi BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Ekstrasi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol diikuti dengan penguapan menghasilkan ekstrak kental berwarna coklat
kimia LAJU REAKSI 1 TUJUAN PEMBELAJARAN
KTSP & K-13 kimia K e l a s XI LAJU REAKSI 1 TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut. 1. Memahami konsep molaritas. 2. Memahami definisi dan faktor-faktor
BAB VI PEMBAHASAN. hasil pelapisan Ni-Cr menggunakan thermal spray powder coating terhadap
BAB VI PEMBAHASAN Pembahasan hasil penelitian berikut ini diarahkan kepada efek (pengaruh) hasil pelapisan Ni-Cr menggunakan thermal spray powder coating terhadap kekerasan dan keausan. 6.1 Mikrostruktur
V. HASIL UJI UNJUK KERJA
V. HASIL UJI UNJUK KERJA A. KAPASITAS ALAT PEMBAKAR SAMPAH (INCINERATOR) Pada uji unjuk kerja dilakukan 4 percobaan untuk melihat kinerja dari alat pembakar sampah yang telah didesain. Dalam percobaan
III. METODE PENELITIAN. : Motor Bensin 4 langkah, 1 silinder Volume Langkah Torak : 199,6 cm3
III. METODE PENELITIAN A. Alat dan Bahan Dalam pengambilan data untuk laporan ini penulis menggunakan mesin motor baker 4 langkah dengan spesifikasi sebagai berikut : Merek/ Type : Tecumseh TD110 Jenis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seperti nanowire, nanotube, nanosheet, dsb. tidak terlepas dari peranan penting
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sebagaimana yang telah dipaparkan pada latar belakang, material nano seperti nanowire, nanotube, nanosheet, dsb. tidak terlepas dari peranan penting katalis yang berfungsi sebagai
Bab III Metodologi Penelitian
Bab III Metodologi Penelitian III. 1. Tahap Penelitian Penelitian ini terbagai dalam empat tahapan kerja, yaitu: a. Tahapan kerja pertama adalah persiapan bahan dasar pembuatan LSFO dan LSCFO yang terdiri
DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR ISTILAH DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG BAB I
DAFTAR ISI ABSTRAK... Error! Bookmark not ABSTRACT... Error! Bookmark not KATA PENGANTAR... Error! Bookmark not DAFTAR ISI... i DAFTAR GAMBAR... iii DAFTAR TABEL... iv DAFTAR ISTILAH... v DAFTAR SINGKATAN
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Alat - Panci tahan panas Cosmo - Cawan porselen - Oven Gallenkamp - Tanur Thermolyne - Hotplate stirrer Thermo Scientific - Magnetic bar - Tabung reaksi - Gelas ukur Pyrex
Pilihan ganda soal dan jawaban teori kinetik gas 20 butir. 5 uraian soal dan jawaban teori kinetik gas.
Pilihan ganda soal dan jawaban teori kinetik gas 20 butir. 5 uraian soal dan jawaban teori kinetik gas. A. Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat! 1. Partikel-partikel gas ideal memiliki sifat-sifat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Preparasi Awal Bahan Dasar Karbon Aktif dari Tempurung Kelapa dan Batu Bara
23 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bab hasil dan pembahasan ini akan diuraikan mengenai hasil preparasi bahan dasar karbon aktif dari tempurung kelapa dan batu bara, serta hasil karakterisasi luas permukaan
BAB I PENDAHULUAN. Bergesernya selera masyarakat pada jajanan yang enak dan tahan lama
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bergesernya selera masyarakat pada jajanan yang enak dan tahan lama dalam penyimpanannya membuat salah satu produk seperti keripik buah digemari oleh masyarat. Mereka
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode eksperimen.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode eksperimen. 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat yang Digunakan Alat yang akan digunakan dalam
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Optimasi pembuatan mikrokapsul alginat kosong sebagai uji
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN 1. Optimasi pembuatan mikrokapsul alginat kosong sebagai uji pendahuluan Mikrokapsul memberikan hasil yang optimum pada kondisi percobaan dengan
Analisis Struktural Seng Oksida (ZNO) Dari Limbah Dross Galvanisasi
Analisis Struktural Seng Oksida (ZNO) ari Limbah ross Galvanisasi Rizqy Novid 1, Amalia Sholehah 1, M. Ikhlasul Amal 2 (1) Jurusan Teknik Metalurgi, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Cilegon-Banten,
BAB 4 HASIL & ANALISIS
BAB 4 HASIL & ANALISIS 4.1 PENGUJIAN KARAKTERISTIK WATER MIST UNTUK PEMADAMAN DARI SISI SAMPING BAWAH (CO-FLOW) Untuk mengetahui kemampuan pemadaman api menggunakan sistem water mist terlebih dahulu perlu
4. Hasil dan Pembahasan
4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Metoda Sintesis Membran Kitosan Sulfat Secara Konvensional dan dengan Gelombang Mikro (Microwave) Penelitian sebelumnya mengenai sintesis organik [13] menunjukkan bahwa jalur
HEAT TRANSFER METODE PENGUKURAN KONDUKTIVITAS TERMAL
HEAT TRANSFER METODE PENGUKURAN KONDUKTIVITAS TERMAL KELOMPOK II BRIGITA O.Y.W. 125100601111030 SOFYAN K. 125100601111029 RAVENDIE. 125100600111006 JATMIKO E.W. 125100601111006 RIYADHUL B 125100600111004
UN SMA IPA 2011 Fisika
UN SMA IPA 2011 Fisika Kode Soal Doc. Name: UNSMAIPA2011FIS999 Doc. Version : 2012-12 halaman 1 1. Sebuah benda bergerak dengan lintasan seperti grafik berikut : Perpindahan yang dialami benda sebesar.
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Serbuk Awal Membran Keramik Material utama dalam penelitian ini adalah serbuk zirkonium silikat (ZrSiO 4 ) yang sudah ditapis dengan ayakan 400 mesh sehingga diharapkan
BAB IV HASIL PENELITIAN
BAB IV HASIL PENELITIAN Pada penelitian ini, baja HSLA 0.03% Nb digunakan sebagai benda uji. Proses pemanasan dilakukan pada benda uji tersebut dengan temperatur 1200 0 C, yang didapat dari persamaan 2.1.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. metode freeze drying kemudian dilakukan variasi waktu perendaman SBF yaitu 0
37 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini sampel komposit hidroksiapatit-gelatin dibuat menggunakan metode freeze drying kemudian dilakukan variasi waktu perendaman SBF yaitu 0 hari, 1 hari, 7 hari
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Absorpsi dan stripper adalah alat yang digunakan untuk memisahkan satu komponen atau lebih dari campurannya menggunakan prinsip perbedaan kelarutan. Solut adalah komponen
3.5 Karakterisasi Sampel Hasil Sintesis
7 konsentrasi larutan Ca, dan H 3 PO 4 yang digunakan ada 2 yaitu: 1) Larutan Ca 1 M (massa 7,6889 gram) dan H 3 PO 4 0,6 M (volume 3,4386 ml) 2) Larutan Ca 0,5 M (massa 3,8449) dan H 3 PO 4 0,3 M (volume
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan penelitian ini maka dipilih
20 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan penelitian ini maka dipilih metode eksperimen. 3.2 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap diazinon, terlebih dahulu disintesis adsorben kitosan-bentonit mengikuti prosedur yang telah teruji (Dimas,
1 BAB I BAB I PENDAHULUAN
1 BAB I BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Zirkonium dioksida (ZrO 2 ) atau yang disebut dengan zirkonia adalah bahan keramik maju yang penting karena memiliki kekuatannya yang tinggi dan titik lebur
BATERAI BATERAI ION LITHIUM
BATERAI BATERAI ION LITHIUM SEPARATOR Membran polimer Lapisan mikropori PVDF/poli(dimetilsiloksan) (PDMS) KARAKTERISASI SIFAT SEPARATOR KOMPOSIT PVDF/POLI(DIMETILSILOKSAN) DENGAN METODE BLENDING DEVI EKA
l. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
l. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Udara merupakan salah satu komponen penting yang dibutuhkan pada proses pembakaran. Udara mengandung banyak gas seperti nitrogen, oksigen, hydrogen, uap air, karbon dioksida,
4 Hasil dan pembahasan
4 Hasil dan pembahasan 4.1 Karakterisasi Awal Serbuk Bentonit Dalam penelitian ini, karakterisasi awal dilakukan terhadap serbuk bentonit. Karakterisasi dilakukan dengan teknik difraksi sinar-x. Difraktogram
III.METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan terhitung pada bulan Februari Mei
17 III.METODELOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan terhitung pada bulan Februari Mei 2012. Adapun tempat pelaksanaan penelitian ini
I. PENDAHULUAN. aktifitas yang diluar kemampuan manusia. Umumnya mesin merupakan suatu alat
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembuatan mesin pada awalnya bertujuan untuk memberikan kemudahan dalam aktifitas yang diluar kemampuan manusia. Umumnya mesin merupakan suatu alat yang berfungsi untuk
4 Hasil dan Pembahasan
4 Hasil dan Pembahasan Bab ini terdiri dari 6 bagian, yaitu optimasi pembuatan membran PMMA, uji kinerja membran terhadap air, uji kedapat-ulangan pembuatan membran menggunakan uji Q Dixon, pengujian aktivitas
BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen yang dilakukan di
BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen yang dilakukan di lab. Fisika Material, Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi Faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah sebagai berikut. Konsentrasi Jika konsentrasi suatu larutan makin besar, larutan akan mengandung jumlah partikel
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Analisis difraksi sinar X serbuk ZrSiO 4 ZrSiO 4 merupakan bahan baku utama pembuatan membran keramik ZrSiO 4. Untuk mengetahui kemurnian serbuk ZrSiO 4, dilakukan analisis
BAB IV ANALISA DATA & PEMBAHASAN
BAB IV ANALISA DATA & PEMBAHASAN Variasi kecepatan stiring 800 rpm, variasi temperatur sintering 700, 800, 900 C Variasi temperatur 700 C = struktur kristal tetragonal, fase nya anatase, no PDF 01-086-1156,
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Isolat Actinomycetes Amilolitik Terpilih 1. Isolat Actinomycetes Terpilih Peremajaan isolat actinomycetes dilakukan dengan tujuan sebagai pemeliharaan isolat actinomycetes agar
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Korosi merupakan salah satu permasalahan penting yang harus dihadapi oleh berbagai macam sektor industri di Indonesia terutama industri perkapalan. Tidak sedikit
HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengelompokan tanaman
29 HASIL DAN PEMBAHASAN Pengelompokan tanaman Hasil pengamatan yang telah dilakukan terhadap sampel daun untuk mengetahui ukuran stomata/mulut daun, dapat dilihat pada tabel 3. Pada tabel 3 ditunjukkan
OLIMPIADE SAINS NASIONAL Manado September 2011 LEMBAR JAWABAN. Ujian Praktikum. Bidang Kimia. 13 September 2011.
OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2011 Manado 11-16 September 2011 LEMBAR JAWABAN Ujian Praktikum Bidang Kimia 13 September 2011 Waktu 270 menit Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Managemen Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Nanopartikel merupakan suatu partikel dengan ukuran nanometer, yaitu sekitar 1 100 nm (Hosokawa, dkk. 2007). Nanopartikel menjadi kajian yang sangat menarik, karena
HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis Partikel Magnetik Terlapis Polilaktat (PLA)
10 1. Disiapkan sampel yang sudah dikeringkan ± 3 gram. 2. Sampel ditaburkan ke dalam holder yang berasal dari kaca preparat dibagi dua, sampel ditaburkan pada bagian holder berukuran 2 x 2 cm 2, diratakan
BAB III METODE PENELITIAN
17 BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini akan dibahas diagram alir proses penelitian, peralatan dan bahan yang digunakan, variabel penelitian dan prosedur penelitian. Penelitian dilakukan di Laboratorium
BAB I PENDAHULUAN. luar biasa dalam penerapan nanosains dan nanoteknologi di dunia industri. Hal ini
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan sains dan teknologi pada bidang material dewasa ini sedang mengarah pada revolusi nanopartikel dimana dalam periode ini tejadi percepatan luar
PEMISAHAN MEKANIS (mechanical separations)
PEMISAHAN MEKANIS (mechanical separations) sedimentasi (pengendapan), pemisahan sentrifugal, filtrasi (penyaringan), pengayakan (screening/sieving). Pemisahan mekanis partikel fluida menggunakan gaya yang
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai dengan Juni 2013 di
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai dengan Juni 2013 di Laboratorium Fisika Material FMIPA Unila, Laboratorium Kimia Instrumentasi
